Kumpulan Cerita Silat

06/01/2008

Duke of Mount Deer (04)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:45 pm

Duke of Mount Deer (04)
Oleh Jin Yong

Dari suaranya, Siau Po segera mengetahui bahwa yang berbicara barusan adalah si thaykam cilik. Lalu dia merasa jolinya diangkat dan digotong menuju suatu tempat kemudian berhenti lagi. Terdengar seseorang berkata:

“Kami akan pulang sekarang. Akan kami laporkan urusan ini kepada The ongya, pasti ongya akan mengirimkan wakilnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Hay kongkong!” . Terdengar lagi sahutan si thaykam cilik.

“Kalian melakukan hal yang tepat. Memang kalian harus melaporkan urusaan ini kepada The ongya dan. Tolong sampaikan salam kongkong kepadanya.”

Sementara itu, hidung Siau Pojuga mengendus bau obat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Setan tua itu tampaknya sudah parah sekali penyakitnya, tapi mengapa dia tidak cepat-cepat mampus saja? Celakanya kami justru sudah terjatuh ke dalam genggamannya.’

Ruangan itu begitu hening. Hanya sekali-sekali terdengar suara batuk Hay kongkong. Siau Po kesal sekali, dia merasa urat tangan dan kakinya mulai kaku. Dia juga tidak dapat bersuara karena mulutnya tersumpal. Sedangkan Hay kongkong seperti sudah lupa kepada mereka berdua.

Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara panggilan si thaykam tua. “Siau Kui cu!” Segera terdengar sahutan si thaykam cilik.

Siau Po berpikir dalam hati. “Ah… dia juga memakai huruf Siau di depan namanya, sama dengan namaku!”

“Lepaskan ikatan mereka. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan!” perintah Hay kongkong.

Siau Kui cu segera melaksanakan perintah itu, tidak lama kemudian penutup mata Mau Sip-pat dan Siau Po telah dibuka, mereka melihat bahwa mereka berada dalam sebuah ruangan yang besar, tapi perabotannya sedikit sekali. Yang ada hanya sebuah meja dan kursi. Di atas meja tersusun beberapa jilid buku. Hay kongkong duduk di atas kursi dengan posisi setengah menyandar, kedua pipinya cekung, matanya setengah dipejamkan.

Sumpalan kain di mulut Sip-pat dilepaskan, ketika Siau Kui cu akan melepaskan sumpalan pada mulut Siau Po, Hay kongkong segera mencegahnya.

“Tunggu dulu, mulut bocah itu kotor sekali. Biar tersumbat agak lama!”

Siau Po hanya dapat memaki kalang kabut dalam hati. Ikatan kedua tangannya telah dibebaskan, tetapi dia tidak berani melepaskan sumpal mulutnya sendiri karena dia tahu thaykam tua itu lihay sekali, usahanya pasti sia-sia. Dia hanya dapat memperhatikan sembari memasang telinga mendengarkan.

“Ambil kursi dan suruh dia duduk!” perintah Hay kongkong.

Siau Kui cu segera menuruti perintah. Diambilnya sebuah kursi dari ruangan sebelah kemudian dipersilahkannya Sip-pat untuk duduk. Siau Po tidak disediakan kursi. Tanpa sungkan lagi dia duduk di atas tanah.

“Kalau tidak salah tuan ini she Mau dan ahli ilmu Ngo-houw toan bun to, bukan?” tanya Hay kongkong.

Di dalam hatinya, Mau Sip-pat terkejut setengah mati. ‘Rupanya thaykam tua ini sudah mengetahui siapa diriku!’ Karena itu dia juga merasa tidak perlu berdusta lagi.

“Benar!” sahutnya tanpa ragu. “Menurut selentingan yang kudengar, katanya tuan melakukan perampokan di kota Yang Ciu dan akhirnya setelah tertangkap, kau buron dari penjara setelah membunuh beberapa hamba kerajaan. Banyak juga perbuatan onar yang telah kau terbitkan, ya?”

“Memang benar!” sahut Sip-pat. Dia mengagumi kepandaian si thaykam tua yang tinggi, karena itu dia tidak mau berlaku kurang sopan.

“Sekarang tuan telah sampai di kota raja, dapatkah tuan memberitahukan apa keperluanmu?” tanya Hay kongkong kembali.

“Aku toh sudah terjatuh dalam genggamanmu, mau bunuh, mau siksa silahkan. Aku orang she Mau adalah seorang laki-laki sejati, tak bakal aku mengerutkan keningku. Tapi kalau kau bermaksud mencari keterangan dari mulutku, sasaranmu salah!”

Hay kongkong tersenyum.

“Siapa yang tidak tahu Mau Sip-pat adalah seorang laki-laki sejati? Untuk memaksa kau, tentu aku orang tua tidak berani, tapi menurut kabar yang kuterima, katanya kau ini orangnya Peng Si-ong….”

Belum selesai ucapan Hay kongkong, Mau Sip-pat sudah menukas dengan marah.

“Siapa yang mengatakan bahwa aku orangnya Go-sam Kui si pengkhianat bangsa? Kata-katamu itu sungguh menghina!”

Peng Si-ong adalah pangkatnya Go-sam Kui, yakni seorang Raja Muda yang menaklukkan wilayah barat.

Thaykam tua itu terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian tersenyum lagi.

“Peng Si-ong telah berjasa besar terhadap kerajaan Ceng yang maha agung. Sri Baginda sangat mengandalkannya. Kalau tuan memang orangnya Peng Si-ong, sebaiknya katakan terus terang saja. Dengan memandang muka raja muda itu, aku orang tua juga tidak akan memperpanjang persoalan.”

“Bukan! Mau Sip-pat dengan jahanam Go-sam Kui tidak ada hubungannya sedikit pun!” teriak Mau Sip-pat. “Aku tidak sudi memperoleh keuntungan dari keparat itu. Kalau kau memang mau membunuh aku, silahkan. Jangan membuat keluarga Mau sial karena tuduhanmu itu!”

Wi Siau Po juga pernah mendengar nama Peng Si-ong Go-sam Kui, orang itu yang membawa pasukan bangsa Boan ciu memasuki gerbang perbatas-an sehingga dinasti Beng jatuh. Sejak itu pula kerajaan Ceng berkuasa di daratan cina. Dia maklum mengapa Mau Sip-pat marah sekali dikatakan orangnya Peng Si-ong, sebab Go-sam Kui dikenal sebagai pengkhianat bangsa Han atau Han Kan.

Sebetulnya ia kurang setuju dengan sikap Mau Sip-pat, pikirnya dalam hati.

“Si kura-kura tua ini pasti sedang membujuk sahabatku ini untuk mengaku. Mengapa dia tidak mengakuinya saja, dengan demikian bukankah kita kan dibebaskan? Sesudah bebas kita dapat memikirkan akal untuk melarikan diri dari kota raja. Sekarang saudara Mau malah berkeras. Bagaimana kalau dia sampai disiksa? Bukankah dia hanya mencari penyakit? Sesudah bebas, kita bisa mencaci maki pengkhianat itu!”

Sejak dibebaskan, Siau Po dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa. Hanya mulutnya yang tetap tersumpal. Diam-diam dia mengangkat tangannya ke atas untuk melepaskan sumpal mulutnya itu.

Hay kongkong sedang berbicara dengan Sip-pat, dia tidak memperhatikan tingkah si bocah, bibirnya malah menyunggingkan senyuman mendengar suara Sip-pat yang semakin keras.

“Tadinya aku mengira tuan datang ke kota raja atas perintah Peng Si-ong, rupanya aku keliru,” katanya.

“Biarlah aku katakan terus terang padamu. Kedatanganku ke kota raja ini sebetulnya untuk mencari Go Pay. Aku dengar dia adalah tokoh nomor satu dari bangsa Boan Ciu, katanya dia dapat membunuh seekor kerbau gila dengan kepalannya. Mendengar cerita itu, aku tidak puas. Aku sengaja mencarinya untuk mengadu kepandaian!.”

Hay kongkong menarik nafas panjang mendengar kata-kata Mau Sip-pat.

“Kau hendak mengadu kepandaian dengan Goa siau-po? Sekarang kedudukannya tinggi sekali, di bawah satu orang tetapi di atas laksaan orang. Bagaimana mungkin dia dapat bertanding denganmu?”

Sementara itu, otak Sip-pat bekerja keras. Dia sudah dikalahkan oleh thaykam tua ini. Kalau Hay Kongkong saja dia tidak dapat menandingi apalagi Go Pay? Bukankah Go Pay dikenal sebagai orang kuat nomor satu bagi bangsa Boan ciu? Sementara itu, secara diam-diam dia juga telah membebaskan dirinya dari totokan Hay kongkong.

Dia berpikir dalam hati, apakah dirinya sanggup melawan thaykam tua ini? Padahal ketika di Tek Seng San, dia tidak mempunyai rasa gentar sedikit pun. Setelah berdiam diri sekian lama, terdengar Hay kongkong menarik nafas panjang kembali.

“Tuan, apakah kau masih berniat mengadu kepandaian dengan Go Pay?”

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan terlebih dahulu. Bagaimana sebenarnya kepandaian Go Pay itu? Kalau dibandingkan dengan kau orang tua, berapa tingkat kemenangannya?”

Hay kongkong tersenyum.

“Go Pay adalah seorang menteri yang sangat dihormati. Di dalam rumah, tugasnya menjadi menteri, di luar dia dapat merangkap menjadi panglima besar. Kekayaannya jangan ditanyakan lagi. Pangkatnya juga hampir tiada tandingannya. Berbeda dengan aku, kedudukanku di istana sangat rendah. Apabila dibandingkan dengan Go siau-po, ibarat bintang di langit dengan pasir di tanah!”

Thaykam tua itu sepertinya mengelakkan pertanyaan Sip-pat dengan membicarakan soal lainnya, tapi Sip-pat tetap penasaran.

“Kalau kepandaian Go Pay ada setengahnya darimu saja dapat dipastikan bahwa aku bukanlah lawannya!”

“Tuan terlalu merendah,” kata Hay kongkong sambil tersenyum. Tampaknya sikap orang tua ini sangat ramah. “Sekarang aku tanyakan dulu kepadamu, menurut penglihatanmu, bagaimana ilmu silatku kalau dibandingkan dengan Tan Eng Hoa?”

Mau Sip-pat terperanjat setengah mati.

“Apa katamu?”

“Aku menanyakan tentang hiocu tertinggi dari partai kalian. Aku mendengar Tan hiocu telah mempelajari ilmu tenaga dalam Liong-kian Kong Khi (Naga menggulung hawa) yang hebat sekali. Sayangnya, aku yang rendah tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya.”

Sip-pat merasa heran. Semakin lama, thaykam tua ini semakin membingungkan. Dia bukan hanya mengetahui siapa dirinya, tapi juga banyak tahu tentang Tan Eng Hoa, ketua Tian-te Hwe. Mulutnya melongo, sampai sekian lama dia tidak sanggup.mengatakan apa-apa.

Kembali Hay kongkong menarik nafas panjang. Tampaknya dia memang paling ahli dalam menarik nafas dan batuk-batuk.

“Saudara Mau, sejak semula aku sudah tahu bahwa kau adalah seorang laki-laki sejati. Ilmumu cukup tinggi, mengapa kau tidak mengabdi saja pada Sri Baginda kami? Tidak sulit bagimu mendapatkan kedudukan Te-tok atau ciangkun. Tapi kau justru mengikuti Tan hiocu mengadakan perlawanan… aih!”

Tampak Hay kongkong menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian menambahkan kembali. “Kau akan mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. Karena itu, dengan hati tulus aku menasehatimu. Lebih baik. kau pertimbangkan kembali dan rubah pendirianmu sebelum semuanya terlambat, undurkan diri dari Tian-te Hwe….”

“Tian-te Hwe…? Aku tidak tahu apa-apa tentang partai itu…” sahut Sip-pat, tetapi pada dasarnya dia seorang jujur yang tidak pernah berdusta sekalipun. Tingkahnya jadi gugup. Akhirnya dia menjadi nekad. Dia tahu orang pasti tidak akan mempercayai kata-katanya. “Tidak salah! Aku memang anggota Tian-te Hwe! Kami telah bersatu hati serta jiwa untuk membangun kembali kerajaan Beng. Mana mungkin aku mengabdi kepada bangsa Boan? Bukankah aku akan menjadi seorang Han-kan? Nah, sekarang semuanya sudah jelas bagimu. Terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku!”

Hay kongkong tidak ada maksud membunuhnya. Dia malah berkata dengan nada sabar.

“Kalian orang-orang Han memang merasa tidak senang karena bangsa Boan telah merampas negaramu. Pendapat kalian itu keliru sekali. Karena itulah aku menghargai kegagahanmu yang cinta pada negara. Sekarang begini saja, aku tidak akan membunuhmu, tetapi tolong sampaikan kata-kataku kepada Tan hiocu bahwa Hay kongkong ingin sekali bertemu dengannya. Dengan demikian aku bisa menguji sampai di mana ketinggian ilmunya. Lian-kian Kong Khi. Aku harap dia datang secepatnya ke kota raja. Aih! Umurku tidak seberapa lama lagi, itulah sebabnya, bila Tan hiocu tidak lekas datang, aku tentu tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Sungguh harus disesalkan bila aku mati tanpa sempat bertemu dengan orang yang demikian gagah!”

Sip-pat benar-benar bingung dengan sikap thaykam tua itu. Bukan saja dia akan membebaskan mereka, dia juga berani menentang Tan hiocu. Hampir saja dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia berdiri dari tempat duduknya, tetapi tetap berdiri di tempat. Dia merasa ragu untuk melangkah.

“Apa lagi yang kau tunggu? Mengapa masih belum pergi?” tanya Hay kongkong.

“Baik!” sahut Mau Sip-pat sembari membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Siau Po. Bibirnya bergerak-gerak, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang tercetus dari mulutnya.

Hay kongkong menarik nafas panjang.

“Percuma kau menjadi orang kangouw sampai berpuluh tahun lamanya. Masa kau tidak tahu peraturan sedikit pun? Apakah kau akan meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa meninggalkan apa-apa sebagai tanda mata?”

Sip-pat menggigit bibirnya keras-keras.

“Benar. Aku orang she Mau sampai melupakan hal itu. Saudara cilik, pinjam pisaumu sebentar. Aku akan mengutungkan tangan kiriku sebagai tanda mata!” katanya.

Ucapan Mau Sip-pat ditujukan kepada si thaykam cilik yang menggenggam sebilah pisau belati sepanjang delapan dim yang tadi digunakan untuk memutuskan tali pengikat mereka berdua.

“Tangan kiri saja masih belum cukup!” kata Hay kongkong.

Wajah Mau Sip-pat langsung merah padam saking gusarnya.

“Kau menginginkan tangan kananku juga?”

Hay kongkong menggelengkan kepalanya. “Dua belah tangan dan dua biji mata!”

Sip-pat tercekat hatinya. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menindak mundur dua langkah. Cekalannya pada Siau Po dilepaskan. Dengan gerakan cepal tangan kanan dan tangan kirinya bergerak sereniak. Tangan kiri diangkat ke atas, tangan kanan bergerak ke samping. Itulah jurus ‘Ti gu Bong Goat’ (Badak menengadah menghadap rembulan). Dalam hatinya dia berpikir: ‘Bagaimana mungkin kau menginginkan kedua belah tangan dan kedua biji mataku? Tanpa lengan dan mata, apa gunanya aku menjadi manusia? Lebih baik aku mengadu jiwa, biarlah aku mati di tanganmu!”

Hay kongkong tidak menolehkan kepalanya atau memperhatikan gerak-gerik Mau Sip-pat, dia sibuk mengurus batuknya yang semakin lama semakin menjadi-jadi, nafasnya seperti sesak. Hay kongkong berdiri sambil mcmegangi tenggorokannya seperti ingin mengurut-urut agar pernafasannya menjadi lega.

Melihat penderitaan taykam tua itu, Mau Sip-pat berpikir dalam hati.
‘Kalau tidak lari sekarang, mau kapan lagi?’ Tubuhnya langsung bergerak, bukan untuk menyerang thaykam tua itu, tetapi untuk menarik tangan Siau Po agar dapat diajaknya berlari bersama.

Tepat pada saat tubuh Sip-pat bergerak, Hay kongkong menurunkan tangan dan kedua jarinya seperti memotes ujung meja, potongan meja itu disambitkannya ke depan.

Sip-pat baru sampai di ambang pintu ketika potongan kayu itu menghajar betis kanannya, tepat di jalan darah Hok-tut hiat. Tenaganya punah seketika, kemudian ia terjatuh dalam posisi bertekuk lutut. Satu serangan lain mengenai betis kirinya sehingga Siau Po pun ikut terguling jatuh.
Sementara itu, suara batuk Hay kongkong masih terdengar terus. Terdengar pula Siau Kui cu berkata:

“Makan lagi obatnya setengah bungkus, mungkin batuknya bisa reda..”

Terdengar sahutan si thaykam tua.

”Baik, baik. Tambah sedikit tidak apa. Tetapi kalau lebih bisa membahayakan….”

“Baiklah.” Terdengar Siau Kui cu berkata. Thaykam cilik itu merogoh sakunya untuk mengambil obat, kemudian dia menuju ke dalam untuk mengambil secawan arak. Sesaat kemudian dia sudah kembali lagi, dibukanya bungkusan obat itu lalu dikoreknya sedikit dengan ujung kelingking.

“Ter.. lalu ba… nyak….”

“Baik,” sahut Siau Kui cu. Dia menuangkan kembali setengah bubuk itu ke dalam bungkusannya. Matanya menatap Hay kongkong seakan ingin menanyakan apakah takarannya sudah cukup.

Hay kongkong menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba punggungnya membungkuk, batuknya semakin menjadi-jadi. Kemudian mendadak saja tubuhnya roboh tengkurap. di lantai, tubuhnya kelojotan.

Siau Kui cu terkejut setengah mati. Dia menubruk Hay kongkong kemudian memapahnya bangun.

“Kongkong! Kongkong!” panggilnya berkali-kali. “Kenapa kau, kongkong?”

“Panas… panas…” kata Hay kongkong kalang kabut. “Papah aku ke dalam gentong air itu, aku ingin berendam….”

“Ya!” sahut Siau Kui cu yang langsung mengerahkan tenaganya untuk membimbing Hay kongkong. Sesaat kemudian terdengar: Burrr! Tubuh thaykam tua itu pun dicemplungkan ke gentong air.

Semua itu diperhatikan oleh Siau Po. Diam-diam dia berdiri lalu berjalan menuju meja. Dengan ujung kelingking dia mengorek obat dari bungkusan tadi dan lalu menuangkannya ke dalam cawan arak. Setelah mengorek tiga kali, Siau Po khawatir dosisnya masih kurang keras, dia menambah dua korekan lagi.

Dari dalam kamar terdengar suara Sau Ku cu.

“Kong kong, apakah kau sudah merasa baikan? Jangan berendam terlalu lama!”

“Baik… baik!” sahut si thaykam tua. “Panas… panas seperti terbakar api.”

Sementara itu Siau Po melihat pisau belati di atas meja. Diambilnya pisau itu, kemudian ia rebah kembali di samping Mau Sip pat dalam posisi semula. Terdengarlah suara air dari dalam kamar, kemungkinan Hay kongkong sudah selesai berendam. Dia keluar dengan dipapah oleh Siau Kui cu. Suara batuknya masih belum berhenti.

Siau Kui cu mengambil cawan arak kemudian membawanya ke dekat mulut Hay kongkong. Orang tua itu masih terbatuk-batuk sehingga dia tidak dapat meminum arak itu. Siau Po memperhatikan dengan seksama. Hatinya tegang bukan main. Jantungnya berdebar-debar. Dia berharap Hay kongkong meneguk arak itu.

“Lebih baik tidak usah minum obat, tidak usah minum obat…” kata Hay kongkong.

“Ya…” sahut Siau Kui cu. Diletakkannya cawan arak di atas meja, kemudian dia membungkus rapi obat tadi dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

Masih saja thaykam tua itu terbatuk-batuk. Akhirnya dia menunjuk ke arah cawan arak di atas meja. Siau Kui cu segera mengambilnya dan kembali membawanya ke depan mulut Hay kongkong. Kali ini si thaykam meneguk seluruh isinya hingga kering.

Sementara itu Mau Sip-pat sudah habis kesabarannya. Mulutnya mengeluarkan erangan sedikit.

“Kau berharap… dapat… hidup terus, bukan?” tanya Hay kongkong.

Baru dia selesai bertanya, tiba-tiba terdengar suara : Buk! Kursi yang didudukinya rubuh terguling. Tangannya sempat memegangi ujung meja, tetapi tekanannya terlalu keras, sehingga meja itu tidak kuat bertahan. Tubuh Hay kongkong pun bergulingan di atas tanah.

“Kongkong! Kongkong!” panggil Siau Kui cu yang terkejut sekali. Serta merta dia menghambur ke depan untuk memapah tubuh orang tua itu. Posisinya sekarang memunggungi Mau Sip-pat dan Siau Po.

Wi Siau Po maklum apa yang harus dia lakukan. Wataknya memang berani sekali. Dia bangkit dan tiba-tiba dia menerjang ke arah Siau Kui cu. Sebelum thaykam cilik itu menyadari apa yang sedang terjadi, punggungnya sudah tertikam pisau belati di tangan Siau Po. Hanya satu kali dia sempat menjerit, kemudian tubuhnya roboh terguling. Otomatis tubuh Hay kongkong pun jatuh kembali.

Siau Po menghampiri thaykam tua itu. Pisau belati masih digenggamnya erat-erat. Dia
bermaksud menikam orang tua itu, tetapi tiba-tiba Hay kongkong membuka matanya dan berkata kepada pelayannya.

“Eh, eh…. Siau Kui cu, kok, rasanya obat ini kurang beres…?”

Siau Po terkejut sekali. Dia batal menikam. Hay kongkong tidak hanya bertanya, dia memutar tubuhnya sambil mengulurkan tangannya. Tangannya malah membentur pergelangan tangan Siau Po yang mana langsung dicekalnya.

“Siau Kui cu, a… pakah… barusan kau tidak salah menakar obat?”

“Ti… dak sa… lah!” sahut Siau Po dengan membuat suaranya kurang jelas. Dia merasa cekalan pada tangannya nyeri sekali sehingga rasa sakitnya menghebat, tetapi dia tidak berani menjerit karena takut suaranya dikenali.

“Cepat… cepat nyalakan lilin!” seru Hay kongkong gugup. “Gelap sekali, apa pun tidak terlihat!” Siau Po bingung sekali. Api lilin menyala dengan terang, mengapa thaykam tua itu mengatakan keadaannya gelap gulita. Suatu ingatan melintas dalam benaknya. ‘Jangan-jangan matanya menjadi buta sehingga yang dilihatnya hanya kegelapan?’ Siau Po ingin mendapatkan kepastian.

“Lilin masih menyala, Kong kong, apakah kau tidak melihatnya?”

Suaranya Siau Po berbeda dengan suara Siau Kui cu. Hal ini karena Siau Po orang Yang ciu, sedangkan Siu Kui cu adalah bangsa Boan ciu, tetapi dia berusaha menirukan suaranya, agar tidak dikenali oleh Hay kongkong.

“Aku tidak melihatnya…” sahut Hay kongkong. “Siapa bilang lilin itu dalam keadaan menyala? Lekas sulut!” teriaknya sambil melepaskan cekalan pada tangan Siau Po.

“Ya… ya!” sahut Siau Po. Cepat-cepat dia menjauhkan diri. Dia berjalan menuju dinding dan sengaja membenturkan tubuhnya satu kali agar bersuara. “Lilin telah dinyalakan!”

“Apa? Ngaco! Kenapa kau masih belum menyalakan lilinnya?”

Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba tubuhnya terguling jatuh kembali. Hay kongkong rebah dalam posisi terlentang. Melihat keadaan itu, Siau Po segera memberi isyarat dengan tangan agar Mau Sip-pat segera meninggalkan tempat itu, tetapi Sip-pat justru menggapaikan tangannya karena dia ingin mengajak Siau Po.

Bocah cilik itu berpikir dalam hatinya. ‘Dua orang minggat bersama lebih berbahaya. Mudah dipergoki orang. Lebih baik mereka memencarkan diri’, karena itu dia memberi isyarat kepada kawannya agar lari terlebih dahulu.

Mau Sip-pat sempat bimbang sejenak. Terdengar Hay kongkong merintih.

“Siau… Kui… cu…. Siau… Kui… cu!”

“Ya, aku di sini,” sahut Siau Po sambil mengibaskan tangannya menyuruh Mau Sip-pat meninggalkan tempat itu.

Mau Sip-pat tidak bisa kabur, kedua kakinya masih tertotok. Dengan kedua tangannya dia memijit dan mengurut bagian pinggang dan kedua betisnya. Sebegitu jauh, dia masih belum berhasil.

‘Aku tak dapat berjalan. Memang tidak mudah aku mengajak Siau Po. la masih kecil tapi juga cerdik sekali. Mungkin dengan mudah dia dapat meloloskan diri, tetapi kalau kita lari bersama, lebih gawat lagi kalau kita dihadang oleh para pengikut Hay kongkong yang lainnya,’ pikirnya dalam hati.

Membawa pikiran demikian, Mau Sip-pat pun merayap meninggalkan tempat itu. Sebelumnya dia memberi isyarat kepada Siau Po. Dengan kedua tangan dia menyeret tubuh serta kakinya.

Hay kongkong masih merintih terus, Siau Po tidak berani meninggalkannya. Dia sadar, apabila Hay kongkong mengetahui bahwa Siau Kui cu sudah mati, orang tua itu pasti akan berteriak sekeras-kerasnya sehingga orang-orang berdatangan dan pada saat itu, tamatlah riwayat Siau Po.

‘Mau toako kena masalah karena ulahku. Kedua kakinya terluka. Entah sampai kapan baru bisa sembuh dan bagaimana caranya meloloskan diri dari tempat ini. Lebih baik aku menunggu di sini saja. Yang penting si tua bangka ini tidak tahu kalau aku bukan Siau Kui cu. Keadaannya parah sekali, kalau dia pingsan, aku bunuh saja sekalian, baru melarikan diri,’ pikir Siau Po.

Beberapa saat kemudian terdengar suara kentungan dipukul satu kali. Hal ini menandakan bahwa saat itu sudah masuk kentungan pertama. Tampak sinar lilin berkelebat. Siau Po menolehkan kepalanya. Rupanya salah satu lilin di ruangan itu sudah tersulut habis. Dan saat itu juga dia melihat mayat Siau Kui cu masih menggeletak di sana. Tiba-tiba saja perasan bocah itu jadi takut.

‘Aku yang membunuhnya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia menjadi setan dan minta pertanggungan jawab dariku?’ pikirnya dalam hati.

Siau Po berdiam diri sejenak. Kemudian dia mengambil keputusan untuk melarikan diri selagi masih tengah malam. Suara rintihan Hay kongkong masih terdengar. Membuktikan bahwa thaykam tua itu tidak pingsan.

Biarpun nyali Siau Po cukup besar, tetapi dia tidak berani terlalu dekat thaykam tua itu untuk menikamnya. Dia sadar ilmu orang tua itu tinggi sekali, salah sedikit saja dia pasti mengetahui apa yang akan dilakukannya. Bila dia menggerakkan kaki atau tangannya saja, celakalah Siau Po. Apalagi kalau bagian kepalanya yang kena, bisa-bisa remuk karena tenaga dalam thaykam tua yang kuat sekali itu.

Tidak lama kemudian, padamlah dua batang lilin yang lainnya. Pandangan mata Hay kongkong sudah rusak. Ada lilin atau tidak tentu bukan persoalan lagi baginya. Berbeda dengan Siau Po. Hatinya semakin kebat-kebit mengingat mayat Siau Kui cu dan bisa tersentuh apabila dia mengulurkan tangannya.

‘Ah, sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari tempat ini,’ pikirnya kembali.

Tiba-tiba terdengar suara rintihan Hay kongkong.

“Siau Kui… cu… Siau…. Kui… cu, di mana kau?”

“Aku di sini!” sahut Siau Po sambil perlahan-lahan melangkah ke pintu.

“Siau Kui cu, kau… hendak… ke mana?”

“Aku… ingin buang air… kecil.”

“Kenapa tidak di kamar saja?” tanya Hay kong-kong kembali.

“Ya… ya…” sahut Siau Po. Dia pun lalu pergi ke dalam kamar. Baru berjalan dua tindak, tiba-tiba kepalanya membentur daun pintu.

“Eh, Siau Kui cu, ada apa?” tanya Hay kongkong bercuriga.

“Ti… tidak apa-apa.” Kepala Siau Po terasa sakit. Dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan peletekan api. Dia melihat beberapa batang lilin di atas meja. Diambilnya sebatang kemudian dinyalakannya lilin itu sehingga suasana kamar itu menjadi terang kembali.

Di dalam terdapat dua buah tempat tidur. Yang satu ukurannya besar dan yang satunya lagi kecil. Siau Po tahu itu merupakan tempat tidurnya si thaykam tua dan Siau Kui cu. Ada sebuah meja dan sebuah lemari, juga beberapa peti, entah apa isinya. Sebuah kamar yang perabotannya sederhana sekali. Di sebelah kanan ada sebuah gentong besar dan airnya bercipratan ke mana-mana.

‘Apakah sebaiknya aku kabur lewat jendela saja?’ pikir Siau Po dalam hatinya.

Tiba-tiba dia mendengar suara Hay kongkong bertanya kembali.

“Eh, Siau Kui cu, kenapa kau masih belum buang air juga?”

‘Heran. Tidak henti-hentinya dia menanyakan aku. Apakah dia sudah curiga kalaHi aku bukan Siau Kuicu?’

Siau Po menjadi khawatir. Dia segera mengambil pispot dari kolong tempat tidur. Sementara itu, matanya mengawasi jendela yang tertutup rapat dengan kertas tempelan, mungkin khawatir Hay kongkong yang batuk-batuk terus bisa masuk angin kalau dibiarkan terbuka.

‘Kalau aku membuka jendela dengan paksa, suaranya pasti berisik dan si tua bangka itu pasti akan mendengarnya. Dia pun akan masuk ke dalam kamar untuk meringkus aku,’ pikirnya lagi.

Siau Po menguras otaknya habis-habisan, tapi dia tidak menemukan jalan lain. Di dekat kolong tempat tidur Siau Kui cu ada seperangkat pakaian baru. Melihat itu, tiba-tiba Siau Po mendapat sebuah ingatan. Cepat-cepat dia membuka bajunya sendiri, lalu menggantinya dengan pakaian itu.

“Siau Kui cu, sedang apa kau?” tanya Hay kongkong kembali.

“Tidak apa-apa.” Siau Po bergegas mengancingi bajunya dan berjalan ke luar. Dia sempat meraih kopiah Siau Kui cu dan mengenakannya sekalian.

“Lilinnya mati lagi,” katanya. “Aku mau ambil lagi satu batang.” la kembali ke kamar, diambilnya dua batang lilin sekalian merenggut bajunya sendiri.

Hay kongkong menarik nafas dalam-dalam agar dadanya lega.

“Benarkah kau sudah menyalakan lilin?”

“Benar. Apakah kongkong tidak melihatnya?” tanya Siau Po.

Thaykam tua itu tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa kali dia terbatuk-batuk akhirnya baru berkata.

“Sejak dulu aku sadar obat itu tidak boleh diminum terlalu banyak. Rasanya pahit sekali. Ya, memang makannya sedikit-sedikit, tetapi lama-lama kan menjadi bukit. Setelah bertahun-tahun racunnya mulai memperlihatkan reaksi sehingga timbullah efek sampingannya di mata….”

Mendengar ucapannya, perasaan Siau Po menjadi agak lega. Hal ini membuktikan bahwa orang tua itu benar-benar sudah buta. ‘Untung dia tidak tahu bahwa aku yang menambah takaran obatnya, dalam anggapannya dia sudah minum obat itu terlalu lama dan banyak….’

“Siau Kui cu!” Tiba-tiba orang tua itu memanggil pula. “Bagaimana aku metnperlakukan dirimu selama ini?”

“Baik sekali,” sahut Siau Po. Dia tidak tahu bagaimana sikap Hay kongkong terhadap Siau Kui cu sehari-harinya, tetapi dia merasa jawaban itu paling aman.

“Aih! Sekarang mata Kong kong sudah buta. Di dalam dunia ini hanya kau seorang yang dapat kuandalkan untuk merawat aku. Maukah kau untuk tidak meninggalkan aku? Bagaimana kalau suatu hari nanti kau tidak memperdulikan aku lagi?” suaranya terdengar pilu dan mengenaskan.

“Tidak akan, Kong kong….”

“Sungguh?”

“Sungguh!” sahut Siau Po. Otaknya memang cerdas sekali. Dia dapat memberikan jawaban dengan cepat dan pandai berpura-pura pula, nada suaranya begitu tegas sehingga orang tidak akan mengetahui apakah dia serius atau memang berdusta. “Kong kong, kau toh tidak memiliki orang lain lagi untuk melayanimu, kalau bukan aku yang menemanimu, siapa lagi? Aku yakin lewat beberapa hari mata Kong kong pasti akan sembuh kembali. Kong kong tidak usah khawatir.”

“Tidak, Siau Kui cu. Mataku ini tidak mungkin bisa sembuh lagi!” Hay kongkong termenung sesaat. Kemudian baru berkata lagi. “Apakah orang she Mau itu sudah kabur?”

“Iya, Kongkong.”

“Bocah yang bersamanya itu telah kau bunuh bukan?”

Siau Po heran bagaimana Hey kongkong bisa mengetahuinya. Mungkinkah suara jeritan tertahan dari Siau Kui cu dikira orang tua itu sebagai suaranya sendiri? Tapi dia menjawab juga.

“Ya, kongkong. Bagaimana dengan mayatnya?”

“Aih! Kalau ketahuan kita membunuh orang di dalam kamar, urusannya bisa jadi panjang. Siau Kui cu, ambil peti obatku!”

“Iya,” sahut Siau Po sambil langsung masuk ke kamar, tetapi dia tidak tahu di mana letak peti obat. Lemari dibukanya, dia menarik setiap laci yang ada.

Tidak disangka-sangka, karena perbuatanriya Hay kongkong tiba-tiba saja menjadi marah.

“Siau Kui cu, apa yang kau lakukan?” bentak orang tua itu, “Mengapa kau membuka lemari dan laci? Siapa yang menyuruhmu?”

Siau Po terkesiap, jantungnya berdebar-debar.

‘Rupanya kotak-kotak ini tidak boleh sembarangan dibuka,’ pikirnya. Cepat-cepat dia menjawab. “Aku lagi mencari peti obat, entah di mana letaknya?”

“Ngaco! Masa peti obat saja kau lupa di mana letaknya?” bentak Hay kongkong.

“Kong kong, mungkin aku baru saja membunuh orang sehingga pikiranku menjadi kacau. Apalagi mata kongkong sekarang sudah buta,” sahut Siau Po. Selesai berkata, terdengarlah suara tangisannya yang terisak-isak.

“Aih! Anak, apa artinya membunuh orang? Kau toh sudah biasa melihat orang dibunuh? Peti obatku ada di dalam kotak pertama yang besar!”

“Ya… ya!” sahut Siau Po. “Aku… hanya takut….” Selesai berkata, dia segera memperhatikan tumpukan kotak yang jumlahnya ada dua dan terkunci. Entah di mana anak kuncinya. Siau Po menghampiri kotak itu dan iseng-iseng menggerakkan tangannya, ternyata kotak itu tidak terkunci.

‘Bagus. Aku harus hati-hati agar setan tua itu tidak mencurigaiku!’

Dia segera membuka peti itu. Isinya terdiri dari berbagai jenis barang, tetapi peti kecil yang berisi obat ada di sebelah kiri. Siau Po segera mengeluarkannya.

“Ambil sedikit bubuk Hoa sihun, lalu taburkan pada bocah itu agar tubuhnya lumer dan musnah!”

“Iya!” Siau Po segera membuka peti obat di mana di dalamnya terdapat botol-botol kecil dengan berbagai warna, tetapi tidak ada satu pun yang bertulisan. Siau Po menjadi bingung, yang mana bubuk Hoa si-hun?

“Botolnya yang mana?” tanyanya kemudian.

“Bagaimana sih kau hari ini? Apa benar pikiranmu begitu kacau?”

Hay kongkong balik bertanya.

“Aku takut, kongkong,” sahut Siau Po pura-pura bergetar. “Apakah matamu benar-benar tidak dapat disembuhkan lagi?” kata-kata itu penuh perhatian. Si thaykam tua itu jadi terharu. Dia mengusap-usap kepala Siau Po.

“Botol itu bentuknya segi tiga, warnanya hijau berbintik-bintik putih. Obat itu sangat manjur, sedikit saja sudah cukup.”

“Ya, ya…” sahut Siau Po yang langsung mengambil botol yang disebutkan tadi. Dibukanya tutup botol itu, kemudian dari dalam laci diambilnya sehelai kertas. Obat itu dituangkannya sedikit ke atas kertas, kemudian dituangkannya ke tubuh Siau Kui cu.

Sampai beberapa saat kemudian tidak ada perubahan apa-apa. Siau Po merasa heran, sedangkan Hay kongkong menunggu laporan darinya.

“Bagaimana?” Akhirnya Hay kongkong tidak sabaran.

“Tidak ada perubahan apa-apa,” sahut Siau Po jujur.

“Di mana kau taburkan bubuk itu? Bukan di darahnya?” tanya orang tua itu.

“Oh, aku lupa!” kata Siau Po yang segera menuangkan lagi bubuk obat itu ke luka Siau Kui cu yang masih berdarah.

“Hari ini tingkahmu agak janggal,” kata Hay kongkong sambil menggelengkan kepalanya. “Sampai-sampai suaramu ikut berubah!”

Tepat pada saat itu terdengar suara peletekan dari tubuh Siau Kui cu, kemudian tampak asap mengepul, lalu keluar semacam nanah yang terus mengalir. Setiap kali asap mengepul semakin tinggi, nanahnya pun keluar semakin banyak. Sedangkan bagian yang terluka juga menguak semakin lebar.

Heran Siau Po menyaksikan perubahan itu. Dia memperhatikan dengan seksama. Dia dapat melihat bahwa daging di tubuh Siau Kui cu yang terkena rembesan nanah itu langsung musnah. Bahkan baju dan celananya pun perlahan-lahan termakan habis. Cepat-cepat Siau Po melemparkan baju luarnya sendiri ke cairan itu. la juga membuka sepatunya sendiri untuk ditukar dengan sepatu Siau Kui cu.

Kurang lebih satu jam kemudian, habislah seluruh tubuh Siau Kui cu, yang tersisa hanya cairan berwarna kuning.

‘Kalau si tua bangka ini pingsan, bagus sekali. Sekalian saja kububuhkan obat ini agar tubuhnya juga lumer seperti mayat Siau Kui cu tadi,’ pikir Siau Po dalam hati.

Hay kongkong masih terbatuk-batuk. Berulang kali dia menarik nafasnya dalam-dalam, tetapi tidak pernah jatuh pingsan.

Sementara itu, di jendela terlihat sinar matahari mulai menyorot. Tandanya sang fajar telah menyingsing. Ternyata waktu berlalu tanpa terasa.

‘Sekarang aku telah mengganti pakaian, rasanya tidak perlu takut lagi untuk keluar berjalan-jalan. Siapa yang akan mengenali aku?’ pikir Siau Po kembali dalam hatinya.

“Siau Kui cu!” tiba-tiba Hay kongkong memanggilnya. “Hari sudah terang, bukan?”

“Ya,” sahut Siau Kui cu palsu ini dengan cepat.

“Kalau begitu, cepat kau ambil air dan bersihkan cairan kuning itu. Baunya tidak enak sekali!”

Siau Po mengiakan. Dia bekerja dengan gesit. Sejenak kemudian cairan kuning di atas lantai tidak bersisa lagi.

“Sebentar lagi, habis sarapan, kau boleh berjudi dengan mereka…” kata Hay kongkong.

Siau Po merasa heran. Hatinya bertanya-tanya.

“Berjudi? Aku tidak mau! Matamu sudah buta. Mana bisa aku meninggalkanmu hanya untuk bermain-main?” sahutnya.

“Bermain-main? Siapa bilang bermain-main?” tegur Hay kongkong marah. “Kau lupa apa yang aku pesankan? Berbulan-bulan aku mengajarimu, berapa ratus tail uang yang telah kau habiskan. Semuanya demi urusan besar kita. Apakah kau tidak mau mendengar perintahku lagi?”

“Bukan… bukan begitu….” Siau Po benar-benar bingung. Dia hanya dapat mengikuti perkembangannya saja. “Kesehatanmu sedang terganggu. Batukmu semakin menjadi-jadi. Kalau aku pergi, siapa yang akan merawatmu?”

“Kau harus menyelesaikan tugas yang aku perintahkan itu. Urusan ini lebih penting dari segalanya!” kata Hay kongkong. “Sekarang coba kau main lagi!”

“Bagaimana caranya?” tanya Siau Po.

“Bagaimana? Ambil dadunya!” kata Hay kongkong sengit. “Kau membantah saja, hal ini raembuktikan bahwa selama ini kau tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Sudah begitu lama kau belajar, mengapa masih belum juga terlihat kemajuan apa-apa?”

Mendengar disebutnya tentang dadu, hati Siau Po langsung tertarik. Selama di Yang Ciu, dia sudah kenal baik dengan permainan ini, bahkan merupakan salah satu permainan favoritnya, selain mendengarkan kisah-kisah pahlawan-pahlawan besar si tukang cerita.

“Wah, kacau. Di mana lagi disimpannya dadu itu?’ pikirnya bingung. Lalu dia berkata kepada Hay kongkong. “Aduh, mengapa otakku hari ini kacau sekali? Di mana ya kusimpan dadu itu?”

“Benar-benar manusia tidak berguna!” bentak Hay kongkong. “Kenapa kau takut bermain dadu? Taruh kata kau kalah, toh bukan uangmu yang dipertaruhkan! Dadu itu disimpan dalam peti!”

“Aku sendiri tidak mengerti!” sahut Siau Po sambil menghampiri peti yang dimaksud dan dia mendapatkan dadu itu tersimpan dalam sebuah guci kaca. Dia sampai mengeluarkan seruan gembira. Siau Po menganggap dadu sebagai sahabatnya dan dia cepat-cepat memberikan dadu itu kepada si thaykam tua.

“Benarkah kongkong mengharapkan aku berjudi?” tanyanya meminta penegasan. “Apakah kalau aku pergi, kongkong tidak akan kesepian?”

“Sudahlah, jangan cerewet!” bentak Hay kongkong. “Aku jamin, kalau aku yang mengajari, kau akan pandai sekali bermain dadu!”

“Ya… ya!” sahut Siau Po. Baginya permainan dadu di mana pun sama saja. Toh, buahnya hanya empat. Dia mencoba melemparkan dadu itu dan dia mendapatkan empat dadu angka enam! “Bagus!” katanya. “Aku mendapat empat dadu angka enam!”

“Coba aku periksa!” kata Hay kongkong. Matanya sudah buta, dia tidak bisa melihat sehingga terpaksa merabanya dengan tangan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: