Kumpulan Cerita Silat

05/01/2008

Perguruan Sejati (03)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:37 pm

Perguruan Sejati (03)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Ah benar heran, sedang main apa si kutu buku itu… tapi sedikitnya engkau pernah mendengar apa yang dinamai Bulim Cap sa kie bukan?”

“Oh yang engkau maksudkan dengan Jiak sie to koey kay sin sian yauw mo kui itu? aku baru tahu beberapa hari saja dari Pek Kounio, artinya sama sekali tidak jelas!”

“Ya ketiga belas orang ini empat puluh tahun yang lalu merupakan jago dunia persilatan yang tiada taranya!”

“Aku heran sepuluh huruf itu kenapa bisa jadi tiga belas orang?”

“Antaranya yang disebut Yauw ialah Hekpek Siangyauw suami istri, atau dua jejadian hitam dan putih. Sedangkan To adalah penganut Taois dari Lau Tze bernama Thay Cin Tojin dari pegunungan Hengsan. Kui artinya gadis, yang dimaksud adalah Liap In Eng yang bergelar Piau Hio Kiam atau sipedang semerbak: Sin mewakili Tong Cian Lie yang bergelar Lui Sin atau malaikat petir: Sian adalah Gan Kong Hu dengan gelar Sit bok-sian ong atau dewa bermata hijau, sedangkan Sie mewakili Biku yakni Kay Kong Kiansu: Mo adalah Hiat Mo setan berdarah Kim Kay, sedangkan kui atau setan mewakili Thian Lam Sam Mo, tiga iblis dari daerah selatan yang terdiri dari Siau bin Busiang (iblis tersenyum) , Tok Kay fong, Kiucie Busiang (iblis berjeriji sembilan) Kam Peng Hoo dan Tokpit Busiang (iblis bertangan satu) Ciau Cie Hiong….”

“Engkau hanya menjelaskan artinya delapan huruf, masih ada Jiak dan Kay yang belum dijelaskan!”

“Kedua orang itu sebenarnya tak perlu dijelaskan engkau harus tahu sendiri!” kata si orang tua sambil mengangkat –angkat pundak. “Kelihatannya engkau pintar, nyatanya bodoh dan harus dikasihani: Jiak adalah pelajar, yakni gurumu si kutu buku Han Bun Siang dengan gelar Lo-to sen (sipelajar miskin) dan Kay atau pengemis adalah aku Cu lit dengan gelar manis yakni Cian Bin Sin Kay atau pengemis seribu muka!”

Kaget dan girang bercampur dijiwa Tiong Giok, cepat-cepat ia membungkukkan badan memberi hormat: “Tak kukira bahwa Lo Cianpwee dan guruku adalah Bulim Cap sakie. Boanpwee benar-benar tidak tahu dan maaf atas kekuranganku.

“Sudah jangan berkata begitu,” kata Cian Bin Sin Kay,”Sejujurnya dulu bulim capsahkie namanya tenar, tapi untuk kini telah berubah menjadi Bulim Capsahkie Siu (tiga belas keburukan)… untuk apa?”

Bocah apakah engkau tahu kedatanganku ke sini?”

“Boanpwee tidak tahu,” jawab In Tiong Giok.

“Aku ingin mencari seseorang yang tidak imannya…” mendadak ia diam dan memiringkan kepala mendengari sesuatu. “Sst jangan bersuara dibelakang rumah datang seseorang berkepandaian tinggi!” Hm, ingin kulihat manusia macam apa dia itu!”

Cepar-cepat selaput tipis dikenakan kemukanya, membuatnya menjadi In Hok kembali.

“Lo Cianpwee jangan lupa, pura-pura tidak pandai silat, agar tak ketahuan,” kata In Tiong Giok.

“Ya engkau benar, hampir-hampir kulupa dan terbongkar rahasia kita!”

Berdua-dua mereka berdiam dipojok ruangan ssmbil menahan napas, tak perlu lama-lama mereka menanti, dibelakang rumah terdengar suara berkeresek… Cianbin Sinkay dengan ilmu Toan Im (mengirim suara) berbisik pada kawannya “Binatang ini bermaksud tidak baik, dalam keadaan terpaksa akan kutindak, engkau tetap saja berlagak bodoh!”

Sesosok bayangan hitam masuk kedalam, tubuhnya kurus dan mengenakan pakaian warna kelabu, wajahnya tertutup kedok, hanya matanya saja terbuka memancar tajam. Ia bersenjata, gerakannya ringan, dugaan sipengemis tidak salah, tamu tak diundang ini berkepandaian tinggi. Tiong Giok memperhatikan terus gerak gerik orang itu. Sibaju kelabu seolah-olah mengenal baik keadaan rumah, ia menuju ke kamar In Tiong Giok. Pintu memang setengah terbuka, tubuhnya memiring dan mencelos masuk tanpa bersuara. Tapi dengan cepat pula is keluar lagi dari dalam kamar.

“Kawan!” tegur In Tiong Giok, sambil menerkam dan melancarkan serangan Cesiu Puliong (dengan tangan menjirat naga) mencengkeram kearah pundak. Tanpa menoleh, sibaju kelabu tiba-tiba mengengos dan menyerosotkan kakinya, tubuhnya sudah berpisah satu meter, lalu berbalik melepaskan tamparan!

Tiong Giok menyerang tergesa-gesa, cepat-cepat tubuh bagian atas diputar, dan menarik tangan kanannya, kembali menyiapkan seangannya itu yang dikeluarkan dengan jurus In Liong Sian Jiau (naga memperlihatkan kuku diawan), tapi gamparan musuh mengandung kekuatan hebat, tubuhnya hampir terpukul jika tidak ada Cianbin Sinkay yang menalang menangkis! Sungguh begitu tak urung terhuyung-huyung tiga empat langkah. Sibaju kelabu menggunakan kesempatan ini melompat peergi dan terus hilang kearah jendela. Cianbin Sinkay menyusul dengan cepat, tapi kehilangan jejak, ia merasa kagum, sambil menggoyang-goyang kepala ia kembali kerumah. “Engkau menyuruh aku menyembunyikan kepandaian, kenapa engkau sendiri tak tahan menghadapi keadaan?”

“Sebab dia bukan orang Pok Thian Pang!”

“Bagaimana engkau tahu?”

Ia berkepandaian tinggi dan tidak bersenjata, begitu masuk lantas kekamarku tapi ia segera keluar lagi, karena mengetahui kamar kosong. Dari sini kupikir tentu dia orangnya yang tiga kali berturut-turut membunuh penterjemah bahasa Sangsekerta. Tujuannya dari pembunuhan untuk mencegah jangan sampai buku yang berada ditangan orang-orang Pok Thian Pang diterjemahkan, sungguhpun kelakuannya sangat telengas ia berniat melindungi juga kaum bulim, saying kita tidak berhasil membekuknya!”

“Tapi disini hanya aku dan engkaulah yang terhitung orang luar, jika orang itu bukan anggota Pok Thian Pang kenapa bisa masuk kesini!”

“Bisa saja, didunia ini apa yang tidak mungkin?” kata In Tiong Giok. “Buktinya seperti Locianpwee bisa salin wajah, mungkin dia juga demikian!”

“Ilmu salin rupaku dapat dikatakan tidak ada duanya diatas dunia ini, sehingga mendapat julukan Cianbin, sungguhpun begitu harus menjadi budakmu dulu baru bisa datang kesini!”

“Tujuannya orang itu mencegah aku menterjemahkan buku, jika kita belum meninggalkan tempat ini pasti dia akan datang lagi! Untuk kedua kalinya kita harus berhasil menangkapnya, mungkin dia itu bisa dijadikan kawan baik!” kata In Tiong Giok, lalu ia ingat perkataan siorang tua tadi: “Locianpwee ingin mencari orang yang tak kuat imannya itu siapa?”

“Dia adalah salah seorang Bulim Capsahkie, entash kenapa terdengar diluaran namanya tercantum sebagai anggota Pok Thian Pang kalau benar terbukti, dengan tangan ini akan kubunuh dia!”

“Maksudmu Thian Lam Sam Kui?”

“Sam Kui termasuk orang apa? Yang kumaksud adalah Thay Cin Tojin dari Thay Hengsan!”

“Apa? Dia juga jadi anggota Pok Thian Pang….. ah mana mungkin!”

“Ini kuketahui dari anggota Pok Thian Pang diluaran, bahkan ia berada diistana “sorga” menikmati segalanya, sayang usahaku merampas perahu tidak berhasil. Jika tidak, hmm!”

In Tiong Giok turut sedih mendengar itu, karena orang yang dimaksud itu, justeru yang hendak diketemukannya, jika sampai benar-benar Thay Cin Tojin jadi anggota Pok Thian Pang bagaimana baiknya? Biarfpun ia seoarang yang pintar menghadapi keadaan begini jadi hilang pendapat. Dipegangnya surat kulit kambing di sakunya dengan bengong, tapi tidak dikeluarkannya untuk diberi tahu pada Cian Bin Sin Kay. “Perkataan sebelah pihak belum tentu benar biarlah nanti kuselidiki untuk mencari kebenaran!”

“Menyelidiki tidak ada gunanya juga, yang baik kau berusaha mendapatkan sebuah perahu!”

“Ya akan kuusahakan sedapat mungkin, tapi waktu sangat mendesak sekali!”

“Engkau boleh mengulur waktu!”

“Tapi gerak gerik Locianpwee sudah mendatangkan kecurigaan Lie Kee Cie, asal ia mengirim pos ke Ngo Liu Cung untuk memeriksa keadaan rumahku, segala kebohongan yang diucapkan Locianpwee bukanlah terbongkar semua?”

“Aku tak berpikir sampai kesitu, mungkinkah Lie Kee Cie secermat engkau?”

“Ia licin dan cerdik, buktinya Pang Hui kena dibongkar rahassianya,” kata In Tiong Giok, lebih-lebih Locianpwee yang berturut-turut dua malam mengganggu mereka, pasti mendatangkan kecurigaan!”

“Andaikata ia berbuat seperti yang engkau duga, paling sedikit masih ada waktu lima hari. Waktu ini cukup lama, andaikata ketahuan sekuat tenaga kulindungi engkau sampai berhasil lolos dari sini, lalu kutempur mereka mati-matian, bagaimana mereka tidak bisa berbuat apa-apa padaku.”

Waktu berjalan dengan cepat, sementara mereka bercakap-cakap, fajar sudah menyingsing. Tak terasa sudah siang Kongcu sebaiknya istirahat dulu, Lohu akan masak nasi!”

“Ah ada-ada saja, yang pantas Boanpwee menyediakan untuk Locianpwee!”

Biar masih ada lima hari, sandiwara ini sebaiknya berjalan terus, duduklah dan akan kubuatkan masakan “Ayam pengemis” untukmu!”

In Tiong Giok mengawasi Cu Lit kedapur, perubahan malam ini biarpun sudah membuka sebagian tabir asap, tapi mendatangkan lagi tabir baru. Bagaimanapun rahasia Cu Lit tidak bisa bertahan lama. Jangka waktu lima hari dalam sekejap mata akan berlalu, sampai saatnya, dengan cara apa bisa meloloskan diri dari tempat berbahaya ini?” Karena merasa risau ia keluar rumah berjalan-jalan di taman sambil menghirup hawa segar. Ia melangkah perlahan sambil menundukkan kepala, waktu ia dongkak lagi nampak seorang muda berbaju merah sedang berdiri disekat gunung-gunungan terpekur dan memandang ketempat jauh.

“Nah, ini Pek Kian Hong,” pikirnya, ia berjalan mendekati!

Pek Kiam Hong tetap berdiri tegak memandang kearah jauh sambil berpangku tangan, seolah-olah ia tidak tahu kedatangan In Tiong Giok, juga seperti tahu tapi tidak meladeninya. Melihat keadaan ini Tiong Giok menghentikan langkah dan niat mundur.

“Pagi benar In Heng bangun?” tiba-tiba pemuda itu menegur dengan nada dingin.

Cepat In Tiong Giok memberi hormat: “Selamat pagi Siau Pangcu!”

“Untukku sudah tak pagi lagi,” jawabnya kasar, aku berdiri dan berdiri setiap hari ditempat ini sebelum surya terbit, tanpa terasa sudah sepuluh tahun, selama itu belum pernah absen seharipun!”

In Tiong Giok tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, ia tertawa dan berkata: “Ya sepuluh tahun seperti sehari, kemantapan Siau Pangcu dan daya tahan yang luar biasa membuatku kagum.

Seperti tertawa Pek Kiam Hong berkata: “In Heng menganggap kelakuanku aneh dan enggan bergaul bukan?”

“Tidak, sedikitpun ridak mengandung maksud begitu, hanya saja.”

“Hanya saja engkau telah dipengaruhi perkataan Pek Sumoy soal diriku yang aneh bukan?”

“Sebenarnya Pek Kounio tidak mengatakan apa-apa, hanya dengan baik hati ia memesan jangan mengganggu ketenangan dari Siau Pangcu.”

“Yang dikatakan memang benar, tapi ia tidak mengetahui kepenatan hatiku, perasaan hati yang terbenam dan tidak diutarakan pada orang lain, sama dengan memelihara adat sendiri dan timbul keanehan untuk orang lain, sehingga sukar bergaul.”

“Perkataan Siau Pangcu memang benar, masing-masing orang mempunyai tabiat sendiri-sendiri. Bagaimanapun kita tertawa untuk menggembirakan orang lain, tidak berarti kegirangan bagi diri sendiri. Tapi begitu kita sedikit pendiam dianggap sombong dan menyendiri, ah memang jadi orang tidak mudah!”

Perkataan ini mendatangkan suatu kesenangan bagi Kiam Hong, matanya yang memancar tajam menatap pada Tiong Giok: “Apakah In Heng mempunyai juga kandungan hati yang tak bisa diutarakan pada orang lain?”

“Tidak, tapi aku mengerti apa yang dirasakan Siau Pangcu!”

“Apa yang pernah diucapkan Pek Sumoy kepadamu?”

“Ia menuturkan secara ringkas hal ikhwal Siau Pangcu…” belum pula Tiong Giok habis berkata, wajah Kiam Hong sudah ditekuk lagi.

“Ah Pek Sumoy terlalu bawel, kenapa ia berkata begitu pada orang luar!”

“Biarpun aku orang luar, apa yang kukatakan adalah kejujuran, harap Siau Pangcu tidak gusar.”

Agaknya Pek Kiam Hong menjadi malu hati atas kejujuran Tiong Giok, dilihatnya pemuda kita, parasnya berubah baik, tapi dengan tiba-tiba saja ia berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menarik napas panjang melihat sikap si pemuda itu. Tapi dalam perasaan hatinya bisa menilai bahwa pemuda itu tidak seaneh dan dingin seperti yang dibicarakan Wan Jie, tapi ia menyesal percakapan berakhir dengan tak sedap. Sekembalinya kerumah Cu Lit sudah selesai dengan “ayam pengemisnya” yang menebarkan. “Lekas dicicipi bagaimana rasanya buah tanganku, sudah banyak tahuntak turun tangan sendiri, entah masih boleh entah tidak!”

Dengan sungkan-sungkan Tiong Giok menggerogoti ayam itu, dalam sebentar saja sudah tinggal separuh, nyatanya kelezatannya luar biasa sekali. Setelah ayam itu habis semua, baru ingat bahwa orang tua itu belum makan.

“Tak apa-apa masih ada empat lagi, mari kita makan sepuasnya, lewat lima hari lagi sulit mencari makan…”

Tiba-tiba dari luar terdengar suara tertawa dari Siau Hong dan Siau Eng:

“Hm, harum benar! In Kongcu beruntung betul pagi-pagi sudah makan panggang ayam, bolehkah kami mencoba?”

“Masih banyak, mari makan,” kata Cu Lit, dan jangan lupa bawakan sebelah untuk Pek Kounio!”

“Mengapa Pek Kounio tidak turut serta?” Tanya In Tiong Giok.

“Tiap hari bertemu muka, mungkinkah merasa kangen?” Tanya Siau Eng.

“Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengannya, bukan main…”

“Kebetulan Kouniopun menyuruh kami menjemput Kongcu kesana!” kata Siau Hong.

“Dimana dia?”

“Di aula belakang istana!”

In Tiong Giok kaget tapi tak menanyakan lebih lanjut, cepat-cepat ia mengenakan baju, sebelum keluar ia sempat memesan Cu Lit.

“Siapkan ayam, mungkin aku akan makan siang bersama Kounio disini.”

“Lebih baik kami yang mengambil, karen kemungkinan besar Kounio menahan Kongcu makan diistana!”

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan keluar dari villa Tenang bersama-sama kedua pelayan wanita itu. Diluar telah tersedia kereta, Siau Eng mempersilahkan Tiong Giok masuk. Begitu ia berada didalam hatinya jadi girang, karena ada Wan Jie! Sedangkan Siau Eng dan Siau Hong naik di depan mengendarai kuda.

“Jalan perlahan-lahan,” pesan Wan Jie.

“Ya, nona,”jawab pelayan itu. Benar saja kereta jalannya tak ubah seperti kura-kura merayap.

Di dalam kereta terasa sangat harum dan membuat In Tiong Giok heran, dicekalnya lengan si gadis, begitu dingin dan sedikit bergetar. Hal ini membuatnya jadi bergetar juga, dilihatnya si gadis menatap sayu kearahnya, disekalnya lengan si gadis bertambah erat.

“In Kongcu sejak bertemu di Ngo Liu Cung aku sangat menghargaimu, tapi ada satu hal yang aku minta kejujuranmu, benar-beanrkah engkau bisa berbahasa Sangsekerta?”

“Mengapa Kounio bertanya lagi, jika tidak mampu apa gunanya aku kemari?”

“Aku percaya padamu, tetapi suhu dan Lo Cucong merasa curiga, karena mereka mendengar tadi malam terjadi sesuatu di villa Tenang, benarkah?”

“Benar, bahkan Lie Tongleng telah melakukan pemeriksaan!”

“Ya, biang kerok justru Lie Tongleng adannya,” kata Pek Wan Jie, “ia melaporkan pada Pangcu bahwa mata-mata itu In Hok adanya, bahkan engkaupun dicurigai pula.”

“Bagaimana ia boleh sembarngan menfitnah orang baik?”

“Menurut dia dengan mata kepala sendiri melihat penjahat masuk kedalam villa, dan potongan tubuhnya mirip In Hok, tetapi waktu memeriksa tak ada bukti. Juga waktu ia menanya In Hok kau melindunginya!”

“Aneh… biasanya penjahat mendatangkan malapetaka bagi penterjemah,” kata In Tiong Giok. “Lie Tongleng seharusnnya mengoreksi diri sendiri, Karena sebagai petugas tak berhasil menjalankan kewajiban, kenapa berbalik menfitnah kami sebagai mata-mata. In Hok adalah pengikut ayahku dari puluhan tahun, sedikitpun tak bisa silat, mana bisa jadi penjahat! Ini terang-terang ia tak bisa bekerja! Apakah Pangcu percaya ocehannya?”

“Pangcu sebenarnya tak percaya, dan membentaknya buat membuktikan! Tapi Lo Cucong yang mengetahui kejadian ini, dia segera memerintahkan mengirim merpati pos, meminta Ngo Liu Cung menyelidiki sampai kedasarnya, lalu menyuruh aku mengundangmu untuk dites…”

“ini cara yang baik, bagaimanapun emas murni tidak takut dibakar!” kata In Tiong Giok memegat pembicaraannya.

“Semoga apa yang kau ucapkan benar semua, ketahuilah Lo Cucong tabiatnya jelek, waktu menjawab segala pertanyaan harus hati-hati…..ah, hatiku sangat risau, jika dipikir membuatku kuatir sekali…”

“Apa yang engkau kuatirkan?”

“Ada pirasat seolah-olah kita akan berpisah!” kata Pek Wn Jie dengan suara sedikit bergetar. “Entah apa sebabnya, hatiku kuatir berpisah denganmu, kemudian hari entah masih bisa bertemu entah tidak…” Ia terdiam air matanya berderai turun.

Tergetar sanubari Tiong Giok: “Wan Jie engkau menangis?”

Wan Jie menggeleng kepala, tapi isak tangisnya keluar tanpa dirasa.

Dengan perasaan saying, Tiong Giok merangkul pundak sigadis dan bertanya: “Wan Jie engkau kenapa begitu baik kepadaku, kenapa?”

Dengan lemah sigadis menyandarkan tubuhnya kedalam dada Tiong Giok: “Tak dapat kukatakan kenapa mungkin memang sudah nasib, mau ketemu di Ngo Liu Cung, begitu melihatmu lantas… ia tidak meneruskan.

“Kounio! Sudah sampai!” terdengar suara Siau Hong.

Wan Jie melepaskan diri dari Tiong Giok, cepat-cepat menyeka air mata, pintu kereta sudah dibuka Siau Eng. Kedua orang turun di sebuah taman yang besar dengan beraneka ragam bunga indah. Dengan merapikan baju Wan Jie membuka jalan diikuti tamunya dari belakang. Meeka melewati taman bunga dan naik keundakan tangga, dua penjaga dengan senjata terhunus berdiri tegak, diam tak bertanya. Setibanya mereka didalam, terlihat dua orang berpakaian biru, satu tinggi satu pendek.

“Kedua orang ini adalah Wang Fut Hoat dan Pu Fut Hoat dari Korea!” kata Wan Jie.

“Tiong Giok merangkapkan tangan memberi hormat: “Yang rendah adalah In Tiong Giok.”

Kedua Fut Hoat itu tidak membalas hormat, dan tidak berkata sepatah katapun, yang jangkung dengan tiba-tiba saja mencekal kedua tangan Tiong Giok sedangkan yang pendek melakukan penggeledahan. Setelah itu sijangkung mengangguk kepada Wan Jie, mengizinkan masuk.

Kelakuan ini membuat Tiong Giok tersinggung.

“Sabar,” kata Wan Jie, yang terus melangkah kesebuah kamar. Begitu masuk benar-benar diluar dugaan, karena Pek Cin Nio berada disitu, kedua Fut Hoat entah kemana tidak terlihat lagi.

Sang Pangcu duduk dikursi bersarapkan kulit harimau, dikiri kanannya tidak terlihat seorang pelayanpun. Wajahnya sangat cantik tersenyum manis, begitu ramah seperti kemarin-kemarin. “In Kongcu silahkan duduk, mari kita membicarakan sesuatu mengenai pekerjaan menterjemahkan buku Sangsekerta itu.”

Wan Jie berdiri dibelakang gurunya, sedangkan Tiong Giok mengambil tempat duduk di bagian selatan. Diam-diam Wan Jie memberi kode dengan memoncongkan mulut ke arah utara, dimana terdapat pintu yang tertutup kain tipis. Seolah-olah menyuruhnya berhati-hati.

Pertama-tama Pangcu menanyakan soal keluarga Tiong Giok, yang dijawab dengan sejujurnya. Disamping menjawab iapun memperhatikan kearah utara, kini ia sadar, kiranya dibalik kain tipis, samar-samar terlihat bayangan orang. Mungkin itulah yang disebut Lo Cucong dengan kedua Fut Hoat tadi. Antara pintu berkain tipis dan dimana Tiong Giok duduk saling berhadapan. Orang-orang dibalik kain tipis itu pasti dapat melihat dengan tegas pemuda kita, sebaliknya Tiong Giok hanya melihat bayangan-bayangan saja dan tidak bisa melihat wajah mereka.

“In Kongcu untuk menyingkat waktu, baiklah kita mulai dengan pekerjaan menterjemahkan itu.” kata Sang Pangcu , seraya menyerahkan sehelai kertas tipis. “Nah Kongcu coba lihat apa artinya tulisan ini?”

Dengan kedua tangan Tiong Giok menyambut kertas itu, dan melihat sejenak lalu menyerahkan kembali dan menjelaskan: “Maknanya dari kata-kata itu bersangkutan denganilmu silat, Hauw Sian adalah nama dari sipenulis, Ciu Lok tulisan tangan. “Keng Thian Cit Su” nama dari ilmu itu yang berarti: “Tujuh gerakan menjangkau langit.”

Sang Pangcu mendengari tenang-tenang wajahnya menunjukkan sinar puas. “Kongcu adalah pemuda berbakat dan berpengetahuan dalam bisa mendapat bantuanmu, peerkumpulan kami marasa bangga dan beruntung!” Ia tersenyum kearah Wan Jie, sigadis mengerti apa yang dimaksud gurunya, maju menerima kertas dari gurunya dan melangkah masuk kedalam pintu berkain tipis.

Bayangan-bayangan orang dibalik kain tipis terlihat bergerak-gerak dan berkata-kata dengan perlahan, sesudaah itu terlihatlah Wan Jie keluar, ditangannya membawa sehelai kertas lain. Sang Pangcu menerima dan memberikan pada Tiong Giok sambil berkata: “Silahkan Kongcu membacakannya, apa artinya tulisan di kertas ini?”

Setelah membaca sebentar Tiong Giok berkata: “Oh ini prakata dari buku Keng Thian Cit Su, yang menjelaskan keistimewaan ilmu pedang tujuh gerakan menjangkau langit. Sungguhpun bernama tujuh jurus, sesungguhnya mencakup keseluruhan ilmu pedang, yang dapat berubah tak terpanai banyaknya. Maka itu orang-orang yang kurang cerdas dilarang mempelajari seorang diri, karena bisa tersesat dan gila. Karena pelajaran ini terdiri dari dua jilid, pertama dan kedua. Untuk dipelajari berdua dan dimainkan berdua juga, dengan bersatu padunya pemain, kelihayan dan kekuatan ilmu pedang ini baru dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang tiada taranya.

Perbedaan besar dengan ilmu pedang biasa yakni setiap yang mempelajari harus sungguh-sungguh dan tekun…” Tiba-tiba saja dari balik kain tipis berdehemnya suara halus.

“Kongcu benar-benar dikurniakan yang Maha Kuasa kepintaran yang melebihi orang lain!” kata sang pangcu dengan tersenyum, “untuk mengingat kata-kata ini terlalu panjang, maka itu kuminta Kongcu untuk menuliskannya dibuku” Ia menoleh pada Wan Jie “sediakan alat-alat tulis!”

Ia bangun dan masuk kedalam, bayangan-bayangan dibagian kain tipispun bergerak dan hilang. Wan Jie menarik napas panjang, dan tersenyum kearah Tiong Giok: Senyumnya mengandung, girang, haru, bersyukur dan banyak-banyak yang tak dapat dituliskan. “Sekarang engkau percaya padaku?” tegur in Tiong Giok.

“Hm.” Wan Jie mendelik dan terus masuk kedalam mengambil alat-alat tulis, dengan cepat ia kembali lagi. Diambilnya pit dan ia menulis dimeja: “Jangan terlalu jujur mengeluarkan keahlian atau kepintaran, kamu pura-pura seperti menghadapi kesulitan, makin lambat makin baik. Wan Jie cepat-cepat menghapusnnya lagi tulisan itu.

Tak selang lama Sang Pangcu datang lagi dan mengawasi Tiong Giok bekerja, gerak geriknya demikian ramah dan selalu tersenyum-senyum, sekali-sekali iapun bertanya keistimewaan dari Sangsekerta kelakuan ini begitu wajar dan bebas, tak ubahnya seperti seorang ibu sedang mendampingi anaknya.

In Tiong Giok menurut permintaan Wan Jie pura-pura menggigit seperti berpikir, dan menulis dengan perlahan-lahan. Sampai tengah hari, ia baru berhasil menterjemahkan satu halaman. Sang Pangcu meneliti hasil teerjemahan iotu, dengan puas dimasukinya kedalam saku: “In Kongcu, kepandaianmu ini mendatangkan penghargaan Lo Cucong, ia menghadiahkan semeja makanan dan minuman sebagai imbal jasa jerih payahmu hari ini: Wan Jie temani In Kongcu makan disini! Sesudah itu ajaklah berperahu, agar kepenatan hari ini tersapu bersih, dan bisa memelihara semangat untuk hari esok….. tapi, disebabkan terjadinya dua keributan dimalam hari, kuminta kalian pergi disiang hari. Dan pekerjaan ini dilakukan pada malam hari!”

Sepuluh pelayan datang membawa hidangan dan minuman, begitu banyak dan harum-harum. Pangcu sebagai tanda hormatnya, memberikan secawan arak pada Tiong Giok baru berlalu.

Wan Jie makan dengan bernafsu, karena segala kerisauan pikirannya dalam beberapa hari, sudah hilang pergi berikut perginya sang Pangcu. Sedangkan In Tiong Giok disamping rasa girang tidak luput timbul rasa kagetnya: yang menggirangkan adalah Sang Pangcu memberi ijin berperahu, yang mengagetkan pekerjaan menterjemahkan harus dilakukan pada malam hari. Dengan begini bisa menghambat usahanya bersama Cu Lit untuk melarikan diri. Kemungkinan disiang hari bisa meloloskan diri. Ya, biar bagaimana tinggi kepandaian Cian Bin Sin Kay, dengan berdua saja.

“Eh, bagaimana engkau? Maukah main perahu?”

“Sudah tentu, siapa mau melewatkan kesempatan ini!”

Wan Jie cepat-cepat meminta kartu perahu dari Pangcu dengan girang ia mengajak Tiong Giok keluar istana.

“Main perahu paling enak mengayuh sendiri, maka kuminta perahu kecil yang muat dua orang saja!”

“Hm,” dengus Wan Jie dengan pipi merah,” kutahu engkau mempunyai maksud tak baik! Nah kuserahkan kartu ini dan engkau pillih sendiri perahunya! Coba saja lihat, Siau Hong dan Siau Eng bisa marah-marah!”

In Tiong Giok tidak memperdulikan, ia memilih perahu kecil. Siau Eng danSiau Hong bertolak pinggang dengan mangkel karena mengerti bakalan tak diajak. “Kalian atak usah menunggu kami bisa pulang sendiri,” kata Tiong Giok yang terus mengajak Wan Jie naik perahu. Dengan pesatnya perahu lalu menerjang air membiru, makin lama makin kecil dan hilang dari pandangan mata.

Wan Jie duduk diburitan, mengemudikan perahu, sedangkan Tiong Giok duduk berhadapan sambil mengayuh perahu. “Kita pergi melihat air terjun dulu, lalu mampir ditempat pemerahan sapi, minum susu segar, bagaimana?” Tanya Wan Jie. Tiong Giok menggelengkan kepala. “Kalau begitu kita pergi dulu kepasir putih, mencari kerang, bagaimana?” In Tiong Giok menggelengkan kepala lagi. “Baiklah kuajak kesuatu tempat, dimana banyak pepohonan yang rindang, perahu kita tambat dan pergi kehutan mendengari kicauan burung….”In Tiong Giok sudah geleng kepala lagi. “Ih habis mau kemana, jangan goyang kepala saja!”

“Kuingin pergi kepulau itu, disana kulihat ada rumah seperti dipulau ini setujukah?” kata In Tiong Giok.

“Tidak bisa!” kata Wan Jie dengan tegas, “kemana saja boleh engkau pergi, hanya kedua pulau itu terlarang untukmu!”

“Kenapa?”

“Pokoknya tidak boleh!”

“Sedikitnya harus kuketahui alasannya, kenapa tidak boleh?”

“Baiklah kujelaskan padamu, dikedua pulau itu terdapat dua isstana yang bernama “Sorga” dan “Hayal”…….”

“Menarik benar nama kedua istana itu, alangkah senangnya kalau aku bisa mengunjunginya kesana!”

“Kedua istana itu khusus untuk menjamu tamu-tamu terhormat!” kata Wan Jie dengan terpaksa, sedangkan kedua pipinya menjadi merah. “Disana adalah tempat menjijikkan, guruku melarang gadis-gadis pergi kesana, mengertikah?”

“Asal pikiran kita benar, melihatpun tidak menjadi soal……..”

“Pokoknya bagaimana engkau maupun tidak kuijinkan!” kata Wan Jie, “lebih-lebih kalau sampai guruku tahu, bisa didamprat habis-habisan dan membuatku menaruh muka dimana lagi?”

“Ya tidak boleh ya sudah! Marilah kita lihaat air terjun!”

“Perahu laju kearah tujuaan, suara air terjun semakin dekat semakin terdengar. Begitu membisingkan sekali, jika dongak ke atas, terlihat air itu tak putus-putusnya dari puncak-puncak terjun kebawah dan terjadilah percikan air tak ubahnya seperti kabut pagi. In Tiong Giok jagum melihat air terjun ini, tapi tidak menyenangkannya, karena pikirannya masih tetap mengingat “Istana Sorga” dan “Istana Hayal”. Tiba-tuba saja terpikir olehnya sesuatu akal, ia pura-pura memandang keindahan alam sekitarnya dan terus berkata: “Tadi engkau mengatakan dimana terdapat hutan untuk mendengari burung berkicau?”

“Disebelah barat, nah lihatlah, burung-burung beterbangan disana!’ kata Wan Jie sambil menunjuk.

“Jauh sekali, rasa-rasanya tak kuat aku mengayuh kesana!”

“Ah, dasar pelajar lemah,” kata Wan Jie, dengan sebelah tangan aku masih sanggup mengayuh pulang pergi, kalau begitu engkau saja yang pegang kemudi!”

In Tiong Giok tak menampik, segera tukar tempat. “Sebagai pelajar, aku kurang bergerak badan, tidak seperti engkau yang belajar silat” Ia tak dapat melanjutkan kata-katnya, sebab dengan terjadinya pertukaran tempat, membuat perahu oleng. Tapi dengan ilmu Cian kin tui (menindih dengan seribu kati) Wan Jie membuat perahu tak bergerak. Sedangkan In Tiong Giok puntang panting tak keruan, dan baru bisa diam sesudah tangannya memegang tubuh si gadis yang berdiri tegak.

Entah disengaja atau tidak, dari memegang tahu-tahu menjadi memeluk. “Eh, kira-kira…jangan main-main disini, jika sampai dilihat parng-orang pulau itu, bisa dijadikan bahan tertawaan!” Iapun segera melepaskan diri dan mengayuh sedang Tiong Giok mengemudi.

Wan Jie hati-hatinya berdebar karena pelukan tadi, maka itu ia mengayuh tanpa menoleh kanan kiri, melainkan tunduk, karena merasa likat dipandang terus si pemuda. Kesempatan ini dipergunakan Tiong Giok sebaik-baiknya, perahu itu dikemudikan kearah pulau terlarang.

“Eh…, mengapa engkau diam saja?” Tanya In Tiong Giok, “maukah engkau mendengar ceritaku?”

“Mau” kata Wan Jie dengan tersenyum. Sekali-kali ia tidak mengetahui maksud Tiong Giok, dengan cerita perhatiannya jadi teralih sedangkan perahu berjalan terus kearah dua pulau.

Waktu aku masih kecil, pernah terserang penyakit keras. Sepanjang haritak makan dan tak munum juga tak bicara, penyakitnya aneh sekali sampai melihatpun tak bisa mengenali siapa-siapa! Kedua orang tuaku menjadi cemas segala tabib yang pandai diunangnya dari segala tempat, satupun tak ada yang tahu aku sakit apa, perkiraan mereka aku tidak tertolong lagi ”

Orang tuaku bersedih hati, pikiran mereka kematianku takkan lama lagi, maka itu segala keperluan mati sudah di siapkan. Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang Tojin kerumah aku, sambil nyanyi bagai orang gila.

“Jangan kuatir, jangan susah hati, yang harus mati tak hidup, yang wajib hidup tidak mati, asal tuan dsan nyonya mau menjamu aku rasanya masih ada harapan untuk menolongnya ” kata Tojin itu. Permintaan itu, saat itu juga dikabulkan, dan Tojin itu makan dengan lahapnya, sesudah kenyang, dengan tertawa-tawa ia menghampiri aku dan menepuk jidat aku tiga kali dan menjejali sebutir pil kemulut, lalu membalik badan dan pergi.

Pil itu membuatku mules, waktu buang air tak ada kotoran hanya puluhan cacing hitam yang keluar. Penyakitkupun menjadi baik…”

“Tojin itu tak ubahnya seperti dewa saja, tidakkah orang tuamu menanyakan namanya?”

“Oh…, sudah tentu, ia bernama Thay Heng Thay Cin Tojin…”

“Apa?” Tanya Wan Jie terkejut terus bangun membuat perahu goyang. Tiong Giok menggunakan kesempatan ini pura-pura mau menolong sigadis: “Duduk! Nanti perahu terbalik” Tak ampun lagi perahu itu benar-benar terbalik, kedua-duanya masuk ke dalam air.

Wan Jie berlaku sebat, cepat-cepatlah ia mencelat dari air dan melompat keperahu yang sudah terbalik. Dengan tajam ia memandang sekeliling mencari kawannya. Tiba-tiba terlihat In Tiong Giok yang tenggelam timbul, segera ia terjun memberi pertolongan. Anehnya sudah dekat, tubuh pemuda itu hilang entah kemana, membuat cemas sekali. “Kongcu! Kongcu! Kongcu! Dimana engkau!” teriaknya keras-keras. Sedikitpun ia tidak menduga pelajar lemah itu, sejak kecil biasa mandi dikali dan pandai berenang. In Tiong Giok muncul lagi beberapa meter dari sigadis, dengan pura-pura kelelap timbul. Tetapi setiap Wan Jie sampai, ia menghilang. Dengan begini tanpa terasa sudah mendekat pulau. Sesudah menghitung dengan cepat, begitu sigadis datang lagi untuk menolongnya, In Tiong Giok mencekal lengan si gadis kuat-kuat, cara ini memang tepat! Sedikitpun tidak mendatangkan kecurigaan sigadis, dan tak membuatnya sulit, karena kepandaiannya lihay, ditotok dulu pemuda itu, baru dibawanya kedarat.

Dengan cepatTiong Giok ditengkurupi dan diangkat perutnya, kasian pemuda itu tidak memuntahkan air, tapi terus diurut, sampai yang ada dikantong nasinya semua keluar melalui mulut.

XXXXX

Saat ini terlihat empat enam orang datang ke arah mereka, dibawah pimpinan seorang laki-laki tua berewokan. Mereka adalah pengawal-pengawal pulau, begitu melihat Wan Jie siberewokan segera tersenyum: “Angin apa yang membawa nona kesini?”

“Kam Lo Cianpwee ia adalah seorang pelajar kau lihat perahu kami terbalik?” kata Wan Jie.

“Oh terbalik?” kata siberewok, “dan siapa itu?”

“Dia adalah penterjemah yang diundang Pangcu, namanya In Tiong Giok!”

“Oh kiranya tamu terhormat,” katanya sambil bergelak-gelak, kedatangannya membuat istana disini bertambah terang. Ia memanggil kedua pengawalnya untuk membawa Tiong Giok.

“Kam Lo Cianpwee, ia adalah seorang pelajar lemah, asal engkau dapat menyediakan baju kering sudah cukup, tak perlu mendapatkan segala “servis”….

“Ya baju Kouniopun basah, apa salahnya mampir dulu dan tukar pakaian.”

“Hm, siapa mau memakai pakaian busuk mereka,” kata Wan Jie sambil menggelengkan kepala, angkat perahu kami, segera beangkat lagi”

Agaknya si berewok itu menghormat betul pada Wan Jie, disuruhnya beberapa pengawal mengambil perahu, juga memaksa sigadis datang ketempatnya beristirahat. Sedangkan Wan Jie menggelengkan kepala terus.

In Tiong Giok pura-pura siuman dari pingsannya dan berkata perlahan: “Aduh, perutku sakit, ada air jahe tidak, ambilkan aku secawan.”

“Badan In Kongcu lemah, jangan birakan ia kena inflensa, lekaslah bawa ke istana untuk pengobatan selanjutnya,” kata si berewok. “Jika Kounio menganggap perempuan-perempuan disini kotor, kami bisa memerintahkan mereka diam dikamar dan tak boleh berkeliaran!”

Sesudah berpikir sejenak, akhirnya Wan Jie menganggukkan kepala.

Lelaki tua itu membuka jalan, mereka melalui taman-taman yang indah, belok kekanan dan kiri denagn rumitnya, mendatangkan kesan bagi Tiong Giok, tak sembarang orang bisa datang kesini, kepemasakan nasi berlalu, mereka sampai disepan sebuah istana.

“Sebaiknya aku tak masuk,” kata Wan Jie.

“Kounio harus tahu orang-orang yang berada di istana “Sorga” ini adalah jago-jago Bulim kelas wahid, mereka tak berani berlaku tak sopan kepada Kounio?” kata si berewok, dan iapun memerintahkan kepada bawahannya membersihkan loteng dan membuatkan pakaian baru untuk Wan Jie.

Atas perlakuannya yang telaten ini Wan Jie terpaksa takmenolak lagi, dan ikut masuk ke dalam. Terus naik keatas loteng yang terhias rapi dan indah, dari sini bisa memandang kepantai, dan menghirup hawa sejuk, membuat Wan Jie senang juga.

Tak selang lama terlihat seorang perempuan pertengahan tahun atang keloteng membawa pakaian. Begitu ia melihat Wan Jie segera bertekuk lutut memberikan hormat. “Pek Kounio sudah sepuluh tahun tidak terlihat, masih ingatkah dengan aku yang rendah ini?”

“Ih, Hoo Hoa kenapa engkau bisa ada disini?” Tanya Wan Jie keheranan.

“Kounio tentu tahu, sejak terjadi peristiwa hari itu, Lo Cucong memberikan hukuman mati padaku dan Teng Pauw masih tetap sebagai pengawal sedangkan aku membantu Thay Cin Tojin mengurus kamar-kamar. Budi kebaikan gurumu, seumur hidup takkan kami lupakan…” Habis berkata air matanya berderai turun.

“Ah Pek Kounio pertama kali datang kesini engkau jangan membuat hatinya risau dan sedih!” kata si berewok.

“Jangan perdulikan dia Hoo Hoa, kita bicara urusan kita!” kata Wan Jie, bagaimana selama sepuluh tahun ini …”

Si berewok hanya tersenyum dan menemui Tiong Giok.

“Kam Lo Cianpwee, jangan engkau mengajak In Kongcu ketempat kotor, sudah salin pakaian ajak lagi kesini, kami segera berangkat!”

“Jangan kuatir! Disini tidak ada harimau yang bisa memakan orang!” kata si berewok dan terus berpaling kearah Tiong Giok. “Penyakitnya perempuan, senang sekali bertemu teman lama, tak putusnya bercerita, tapi tak lupa mengasi lelaki. Ha ha ha.”

“Maaf Lo Cianpwee, dapatkah kutahu namamu yang besar?”

“Namaku Kam Kong, pengurus istana Sorga.”

In Tiong Giok ingat nama itu, tambahan melihat jeriji orang yang kurang satu. Dialah satu dari tiga iblis dari selatan yang bergetar, Kiu cie hu siang. Sungguhpun tampangnya kejam dan jelek tapi kata-katanya lucu dan menarik. Dengan tersenyum Tiong Giok berkata: “Sudah lama kudengar nama besar Lo Cianpwee, dapatkah kiranya mengijinkan aku meninjau keadaan Istana Sorga ini?”

“Kutahu engkau pasti mempunyai keinginan kesitu,” kata Kam Kong dengan bergerak gerik, lelaki memang bersifat mata keranjang dan senang pelisiran: lebih-lebih keadaan istana Sorga yang luar biasa hebatnya, pasti memberikan suatu kepuasan padamu. Tapi ingat jangan sampai dia tahu!”

In Tiong Giok tidak memperdulikan kata-kata orang, ia salin pakaian dan memeriksa sakunya, untung surat kulit kambing itu tidak basah. Lalu mengikuti Kam Kong meninjau istana Sorga.

“In Kongcu sebaiknya meninjau istana ini silakukan seorang diri, agar kau bebas bergerak seenak-enaknya!” kata Kam Kong.

“Tapi soalnya aku tak tahu peraturan istana ini…”

Disini tempat bebas, tidak ada peraturan, perempuan-peempuan yang ada semuanya sebagai pelayan. Yang datang kesini adalah tamu-tamu terhormat dari Pok Thian Pang, mereka boleh bertindak sesuka hatinya, tidak perlu memikirkan segala ikatan atau peraturan untuk mengekang diri. Pokoknya engkau boleh pergi keistana luar itu, itu khusus untuk kaum Fut Hoat mencuci otak. Ia tersenyum dan mengeluarkan palu kecil dari sakunya, dipukulnya genta kecil tiga kali. Suara genta memecah kesunyian, segera terlihat pintu terbuka, wewangian menyerang hidung, terlihat dua perempuan muda yang cantik menghadap ke arah mereka.

“Kongcu ini adalah tamu terhormat. San San Ting Ting! Hati-hatilah mengajak Kongcu!” kata Kam Kong.

Dengan hormat kedua pelayan itu mengampit Tiong Giok. Mari Kongcu, ” kat amereka hampir berbareng. Dengan likat In Tiong Giok menoleh kearah Kam Kong, tapi orang tua itu sudah lari entah kemana.

Tiong Giok diajak masuk kedalam ruangan yang indah sekali dan besar, dikiri kanan terlihat pintu-pintu kamar yang berhorden kain tipis dn jarang. Ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah kolam dan air mancur yang menerbarkan wewangian. Sebuah patung nud yang memegang kendi, menumpahkan cairan kuning mengucur kedalam kolam, menebarkan harumnya arak.

Disekitar kolam terdapat permadani, disitu terlihat belasan perempuan-perempuan muda, ada yang melonjor, ada yang rebahan, ada yang duduk dan macam-macam. Semuanya cantik dan menggiurkan, membuat seorang berada dalam mimpi.

Perempuan-perempuan itu dengan kerlingan tajam mengawasi pemuda kita, dengan keheran-heranan. “Sejak istana ini dibangun, kaum tamu terdiri dari orang-orang tua melulu, orang semacam Kongcu adlah yang pertama kali, tak heran menimbulkan keanehan pelayan-pelayan disini,” kata san san.

Ting Ting mengebutkan lengan bajunya, sebagai sambutan terdengar irama halus yang mengasyikkan. “Kongcu mau mendengarkan nyanyian merekakah? Atau minum-minum anggur dengan mereka?

“Tidak! Tidak! kedatanganku hanya meninjau, asal melihat-lihat ya sudah.” Kata Tiong Giok.

“Kongcu tak usah ketakutan tak keruan, disini lain dengan istana Hayal, disini bersifat pasif!”

In Tiong Giok menyaksikan belasan dara-dara cantik, hanya mengerlingkan mata dan bergerak-gerak untuk mendapat perhatian, tapi tak seorangpun yang mendekatinya membuat Tiong Giok merasa tenang.

San San menuju kolam dan menyendok airnya. “Kongcu coba minum, bagaimana rasanya air kolam ini?”

Tiong Giok meminumnya, merasakan harum dan segar, itu bukan air tapi anggur yang enak. “alangkah harumnya anggur ini ” pujinya.

“Jika Kongcu tidak senang melihat tarian dan mendengar nyanyian, mari kuajak kekolam Merpati?” ajak San San.

Belum pula Tiong Giok menjawab, tiba-tiba mendengar suara tertawa yang keras menyusul terlihat salah satu pintu kamar terbuka dan keluarlah tiga orang. Yang ditengah adalah seorang tua kurus berpotongan seperti Tojin, usianya lebih dari tujuh puluh tahun, lengan kiri dan kanannya menggandeng dara-dara cantik usia belasan tahun, mulutnya menyanyi-nyanyi jalannya terhuyung-huyung, mukanya penuh senyuman cabul, benar-benar tidak senonoh.

Dara-dara yang berada dipinggiran kolam begitu melihat orang tua ini, dulu mendahului memeluk, ada yang menarik janggutnya, ada yang membuka bajunya, segala kemaksiatan dilakukan dengan penuh kekotoran, dalam sekejap orang tua itu hilang dibawah timbunan dara-dara cantik.

Betapa muaknya Tiong Giok menyaksikan kejadian ini. “Siapa orang tua itu? Kenapa tua-tua tidak tahu malu?” Tanya Tiong Giok.

“Oh dia? Ia terkenal sebagai Tojin gila, setiap hari tidak ketinggalan arak dan perempuan, pelayan-pelayan disini sudah biasa gila-gilaan menghadapinya, tapi kalau disebutkan namanya, bisa mengagetkan yang mendengar!”

“Siapa namanya?”

“Thay Heng Thay Cin Tojin!”

“Apa?” tanya Tiong Giok kaget, dikucek-kucek matanya dan menegasi: “Dia Thay Cin Tojin?”

“Benar!” jawab San San, jangan dilihat ia gila-gila dulunya adalah salah seorang jago Rimba Hijau yang terkenal, tapi sekarang ia menjabat sebagai ketua Fut Hoat di Pok Thian Pang!”

In Tiong Giok hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri, karena orang yang dicari ini didapati dengan mudah, tapi ia menyesal orang yang dicari ini, tak lebih dari seorang tua bangka yang gila-gilaan dan bejat moralnya.

Saat ini dara-dara cantik telah menggotong sang tojin kesebuah balai-balai, sepatunya dicopot, rame-rame mengurutnya, sedang kedua tangan Tojin itu tak pernah nganggur, memeluk ini, meraba sana, tak ubahnya sudah sekarat dn memuaskan nafsu hati sebelum mati.

In Tiong Giok menghampiri, dengan wajah muram ia berkata: “Numpang bertanya apakah Lo Cianpwee benar Thay Cin dari Thay Heng san?”

“He he he, kawan cilik aku memang Thay Cin Tojin, ada perlu apa mencaari Lohu, mari duduk!”

“Boanpwee bernama In Tiong Giok ada sedikit keperluan dengan Locianpwee, bisakah menyediakan sedikit waktu untuk bicara dengan empat mata?”

“Mau bicara, silahkan bicara, tak usah empat mata segala! Mereka boleh menyanyi dan menari engkau boleh berkata-kata, apa salahnya?”

“Locianpwee adalah seorang ternama, tapi tak kira bisa berbuat sesat sedalam ini, tidakkah kuatir jika halini keluar bisa merusak namamu yang besar?”

“Anak muda apa yang engkau tahu? Saatnya bersuka ria harus bergirang hati, saatnya sedih harus menangis, bukankah begitu? Kehidupan di dunia ini jangan terikat oleh nama kosong, aku mengerti dulu sebagai salah seorang Bulim Cap sahkie dan terkenal kemana-mana, atas itu aku bangga dan senang, tapi segalanya itu jika dibanding dengan sekarang, hanya nama kosong yang tak berarti bukan?”

“Sebagai seorang yang kenamaan apakah engkau hidup dipiara orang semacam ini? Biarpun aku bodoh, tapi bisa menilai perbuatan Tojin ini tidak ada harganya dan rendah dipandang umum!”

“Dipiara? Ha ha ha ha!”

“Kira Locianpwee perkataanku lucu dan patut ditertawakan?”

“Bukan saja harus ditertawakan, juga boleh dikasihani,” kata Thay Cin Tojin. “Anak muda sebagaimu saatnya mempergunakan waktu sebaik-baiknya, kenapa harus mempunyai pikiran setolol ini? Ha ha ha!”

“Oh dengan ini kenallah aku siapa sebenarnya Locianpwee,” kata In Tiong Giok, “sejujurnya yang harus ditertawakan dan dikasihani bukannya aku, tapi adalah seorang kawan lama Locianpwee!” sehabis berkata ia mengeluarkan surat kulit kambing dari sakunya dan melemparkan ke lantai.

“Ha ha ha seorang Tojin mana mempunnyai kawan atau saudara lagi?” katanya tanpa melihat apa yang dilempar sianak muda.

San san memunggut surat kulit kambing itu dan membuka, ia hanya melihat sebuah gambar sebatang pohon cemara menjulang tinggi sampai keawan, dibawahnya terlihat bibit cemara yang baru tumbuh, tak jauh dari pohon tampak seorang petani menyiram tunas yang baru tumbuh itu. San san tak mengerti apa yang dimaksud dengan gambar itu. “Heran tidak ada sepotong suratpun hanya sebuah lukisan, apa artinya ini?”

Thay Cin Tojin hanya melirik sebentar, lalu merampasnya dari San San dan menyobek-nyobek sampai hancur. “Segala gambar setan apa bagusnya! Ambil arak lekas, kita minum-minum dan menyanyi baru betul!”

In Tiong Giok terkesiap menyaksikan perbuatan si Tojin, tapi tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia berjingkat keluar.

Ia berdaya uapaya sampai ke Istana Sorga, tapi bukannya kegembiraan yang diperoleh, melainkan kekesalan dan kemendongkolan. Maka itu waktu kembali dari pulau ia termenung, tanpa bersuara ia mengayuh perahu, sedangkan Wan Jie berhadapan, dengannyapun tampak diam saja seperti tak gembira.

“Eh kenapa diam saja, tak senangkah? Apa dongkol kepadaku?” Tanya Tiong Giok.

“Jangan banyak pikiran tak karuan, aku sedang memikirkan satu hal.”

“Bolehkah kutahu soal itu?”

“Apakah engkau tahu Teng Jiso tadi siapa?”

“Bukankah ia bernama Hoo Hoa, seperti yang dia sebutkan tadi?”

“Ya benar, kalau diceritakan nasibnya kasihan sekali,” kata Wan Jie, dulunya dia adalah pelayan dari Soat Kouw, waktu kecil ia sering memomongku, entah kenapa pada suatu saat ia sangat intim dengan seorang pengawal bernama Peng Pauw, diam-diam mereka mengadakan pertemuan digoa-goa yang terdapat ditaman bunga, hal ini diketahui orang dan membuat Lo Cucong marah besar dan menjatuhkan mereka hukuman mati, untung ada Soat Kouw dan guruku yang memintakan ampun, kalau tidak siang-siang mereka sudah mati….”

“Siapa Soat Kouw itu, tak pernah kulihat dia!”kata In Tiong Giok.

“Soat Kouw adalah adik seperguruan suhuku,” kata Wan Jie, waktu suhu jadi Pangcu ia menjadi wakilnya atau Hupangcu. Lima tahun yang lalu ia menerima tugas dari Lo Cucong, sejak itu ia tidak kembali lagi!”

“Oh, kata In Tiong Giok, ia heran kenapa sebagai Hupangcu, selama tahun tidak diutarakan ia hanya berkata. Sekarang Teng Jieso tidak kurang suatu apa, untuk apa memikirkannya lagi?”

“Bukan soal dia yang kupikirkan, dan engkau tak mengerti, jika bukan sesama anggota, tak diijinkan menikah!”

“itu sudah tentu, apa herannya. Agar sesuatu rahasia Pok Thian Pang tidak sampai bocor, kata In Tiong Giok, tapi Teng Pauw dan Hoo Hoa sesama anggota kenapa dilarang menikah dan dihukum?”

“Hm, cuma-cuma engkau hidup selama dua puluh tahun, sampai soal itu tidak mengeerti!” bentak Wan Jie marah.

Tiong Giok diam saja, karena benar-benar tidak mengerti. Mereka bicara perahu laju terus tanpa terasa mereka telah mendarat. Sesampainya di villa Tenang Wan Jie berkata dengan tawar: “Besok aku datang, agar engkau dapat berpikir menjadi pintar. Malam kukirim kereta menjemputmu untuk menterjemahkan buku.”

“Apa yang harus kupikirkan?”

“Memikirkan soal yang engkau tak mengerti!” Tanpa menunggu jawaban lagi Wan Jie berlalu. In Tiong Giok mengantar kepergian gadis itu dengan pandangan matanya, ia tidak mengerti disaat mana berlaku salah, kepala digelengkan dan membalik badan masuk dalam rumah.

Banyak soal yang terbenam dihatinya, cepat-cepat dicarinya Cu Lit untuk menuturkan kandungan hatinya, “Lo Cianpwee,” serunya.

“Kongcu baru pulang, ada tamu yang menunggumu!” kata Cu Lit sambil menunjuk kedalam dengan serius sekali.

Tak ia mengira tamunya itu adalah pemuda aneh bernama Pek Kiam Hong. Begitu melihat tuan rumah masuk, Pek Kiam Hong segera memberi hormat dan berkata dengan manis: “Siapa yang In Heng maksud Lo Cianpwee?” tegurnya.

Tiong Giok cukup tangkas menjawab: “Tidak! Kumaksud Lo Cianpwee seorang yang patut dihormat. Barusan setelah bekerja sebentar ia menitahkan Wan Jie menemaniku keliling danau, sehingga baru pulang, sudah lamakah?”

“Oh, dasar peruntunganmu sangat baik, mendapat hadiah makan dan jalan-jalan dengan perahu, aku sendiri belum pernah diundang makan bareng sekalipun.”

“In Hok sediakan minuman dan makanan,” kata Tiong Giok.

“Tak usah, barusan dua ekor ayam panggang In Heng telah kumakan, kelezatannya luar biasa sekali, atas kelancanganku ini harap In Heng maafkan!”

“Oh tidak apa-apa,” kata In Tiong Giok. Ia merasa heran juga pemuda ini bisa berubah sangat ramah tamah dan tidak seperti kemarin-kemarin.

“Apakah In Heng heran atas kedatanganku yang tidak diundang?”

“Siau Pangcu tentu mempunyai sesuatu soal barangkali?” Tanya Tiong Giok.

“Sebenarnya bukan soal apa-apa yang maha penting,” kata Pek Kiam Hong, “tadi pagi setelah bertemu In Heng aku termenung dan merasakan apa yang kulakukan sangat salah, maka itu datang kesini meminta maaf.”

“Oh, begitu, sejujurnya aku yang harus meminta maaf kaerna berkata tanpa beerpikir-pikir!”

“In Heng, sejak sekarang maukah engkau menjadi kawanku?”

“Aku sebagai pelajar lemah…”

“Soal berkawan bukan dari kedudukan seseorang,” kata Pek Kiam Hong, “aku kagum atas kejujuran In Heng, dan patut dijadikan kawan. Sejujurnya apa yang harus kubanggakan sebagai Siau Pangcu? Tujuh belas tahun hidup menyendiri, dengan pakaian mentereng ini, tak ubahnya diriku seperti boneka hidup, atau sebagai mayat hidup dalam bahasa kasarnya…”

“Siau Pangcu jangan berkata begitu…”

“Sudah tujuh belas tahun kata-kata ini terbenam dalam benakku,” kata Pek Kiam Hong, “tapi belum bisa diutarakan kepada orang lain, karena tidak ada sahabat maupun saudara, diriku ini seorang tak berayah yang patut dikasihani!”

“Bukan Siau Pangcu seorang saja yang belum pernah melihat ayah sendiri, didunia ini banyak yang bernasib begitu!”

“Tapi sebagai anak ingin aku melihat ayahku, bagaimana potongan badannya, raut mukanya…..semua ini hanya hayalan belaka….aku hanya tahu dulunya ayahku seorang jago persilatan, tapi terbunuh orang sebelum aku lahir.”

“siapa yang membunuhnya?”

“Mana kutahu!”

“Jika tidak tahu, kenapa tahu ayahmu terbunuh orang?”

“Ibuku yang menceritakan,” kata Pek Kiam Hong, “pembunuh itu sudah dua puluh tahun hilang tanpa kerana, mungkin sudah mati!”

“Jika begitu sakit hati ini seumur hidup takkan terbalas!”

“Biar dia sudah mati aku bisa menuntut balas pada anak istrinya,” kata Pek Kiam Hong, beberapa tahun Pok Thian Pang mengejar dan mencari terus seorang muda yang mempunyai tanda luka dipundak kirinya…”

“Apakah pemuda yang bertanda dipundak kiri itu sebagai anaknya pembunuh ayahmu?”

“Benar”

“Kenapa anak itu bisa mempunyai tanda dipundaknya?”

“Tujuh belas tahun yang lalu, soal ayahku diselakakan orang tersiar luas, ibuku dan Soat Kouw mengajak jago-jago lainnya mengejar pembunuh itu, sungguhpun dikerubuti penjahat itu dapat meloloskan diri, tapi anaknya yang digendong dan diajak bertempur itu, terkena bacokan, jika tidak mati pasti ada tandanya!”

“Tujuh belas tahun yang lalu anak itu baru setahun, terkena bacokan golok kurasa lebih banyak matinya dari pada hidupnya, jika ayah dan anaknya sudah mati, sama dengan dendam habis sudah. Maka menurutku Siau Pangcu tak usah memikirkan lagi soal itu, masih banyak pekerjaan menantikan kita lakukan, kenapakah harus berkecamuk terus di dalam soal dendam selalu.”

“Perkataan In Heng memang benar, tetapi sakit hati orang tua itu beratnya laksana gunung, dalam seperti lautan, walau bagaimana sebagai anaknya harus membereskan soal ini menurut Kang Ouw!”

“Ya begitupun tak salahnya, tapi hari-hari berkesal hati, tak ada gunanya bukan?”

“Benar,” kata Pek Kiam Hong. Entah bagaimana hari ini, sipemuda aneh berubah banyak dan terus bicara panjang lebar dengan pemuda kita, sampai malam mendatang ia baru pulang.

XXXXX

Seberlalunya Pek Kiam Hong, Tiong Giok baru bisa menuturkan apa yang di alaminya hari ini kepada Cian Bin Sin Kay.

“Tidakkah engkau melihat salah, buku yang diterjemahkan itu bernama Keng Thian Cit Su?”

“Mana bisa salah lihat,” kata In Tiong Giok.

:Itu adalah buku luar biasa barangkali!”

“Heran kenapa buku itu bisa jatuh ditangan mereka,” kata Cu Lit. “Ah, waktu sangat mendesak, biar bagaimana harus meloloskan diri biarlah Tojin keparat hidup beberapa lama lagi.”

“Burung pos sudah dikirim, dan aku harus mengerjakan buku itu, bagaimana baiknya?”

“Biar bagaimana buku itu tidak boleh engkau terjemahkan,” kata Cu Lit denagn bersungguh-sungguh. “Sebab menyangkut luas kaum persilatan, jika jatuh ditangan mereka dan dipelajari, tak ada lagi kekuatan untuk menentang sepak terjang orang-orang Pok Thian Pang!”

“Ya, bagaimana menolak pekerjaan ini?”

“sedapatnya engkau dapatkan itu lalu kita kabur!”

“Mana semudah itu, begitu ketat sekali….. mana mungkin bisa lolos?”

“Asal engkau bisa memperoleh buku itu, pokoknya aku bisa berdaya keluar dari sini!”

“Sejujurnya aku tak sanggup mendapatkannya…”

“Ah kenapa bodoh betul! Engkau sediakan sehelai kertas dan tulisan dalam huruf Ssangsekerta. Selesai menterjemahkan berikan tulisanmu itu dan ambil yang asli!”

“Memang benar, tapi lama kelamaan bisa ketahuan juga!” Disamping itu merekapun mendapatkan apa yang diterjemahkan, sedikitpun tidak dirugikan bukan?”

“Menurutmu tidak bisa, hm, lihatlah kerjaanku sebentar malam!” sehabis berkata ia mengeluarkan kedoknya dan mulai mengolah dengan tekun.

“Apa maksud Lo Cianpwee menyamar sebagai boanpwee?”

“Benar! Untuk mendapatkan buku itu menyamar sebagai perempuanpun akan kulakukan!”

“Terlalu berbahaya, jika ketahuan hanya kematian yang menantikan!”

“Hm, kau kira mendapat gelar manis sebagai pengemis berwajah seribu itu mudah? Pokonya kau diam-diam dan tahu beres,” Disuruhnya sipemuda menulis bahasa sangsekerta dan begitu selesai diolahnya kertas itu menjadi serupa yang seperti Tiong Giok lihat.

Waktu malamnya segala persiapan sudah beres, Cu Lit menyamar sebagai Tiong Giok dan yang belakangan sebagai In Hok. Dengan tenang dinantinya kereta penjemput. In Tiong Giok tidak bisa mencegah kemauan Cu Lit, ia hanya berdoa agar orang tua itu sukses menjalankan rolnya.

Tak selang lama Siau Eng datang menjemput. “Hm, baru kesini saja engkau sudah tak sabar, tadi seharian engkau main perahu membuat kami kesal menanti!”

“Sudahlah, jangan banyak cerita mari kita berangkat!” kata Cu Lit.

In Tiong Giok memandang kepergian mereka dengan berdoa terus. Da terus mundar mandir dengan kuatir. Ia tidak tidur barang sekejap setiap kentongan peronda berbunyi, hatinya dak dik duk tak keruan, kuatir rahasia Cu Lit diketahui orang. Dalam keadaan semacam pikiran selalu berbayang kearah buruknya saja!”

Tiba-tiba hatinya yang sedang risau berdebar semakin keras, karena telinganya mendengar ketoprakan suara kuda. Pikirnya segala rahasia Cu Lit sudah terbongkar, dengan cepat ia mematikan lampu, dan siap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan Hiat Ci Lengnya. Ia tidak mau sampai ketangkap hidup-hidup, pikirannya ini sudah mantap, ia mau mengadu jiwa. Sementara itu suara ketoprakan kuda sudah sampai di depan rumah. Disusuli dengan ketuknya pintu dan suara orang yang memanggil-manggil. “In Hok, lekas buka pintu!”

Hatinya semakin tak keruan rasa, itulah suara Wan Jie. Tapi ia menjawab juga dengan berat. “Mau apa malam-malam datang kesini!”

“Lekas buka! Kongcu jatuh sakit, aku mengantarnya pulang!”

Sakit? Benarkah Cu Lit sakit? Cepat ia menyalakan api dan membuka pintu. Tampak Wan Jie dengan kedua pelayannya berwajah masam dua pengawal memondong Cu Lit, masuk kedalam. Orang tua itu terlihat meram, lengannya menekap perut, dan merintih terus. Tiong Giok tak mengerti apa yang terjadi dengan penuh perhatian ia memegang jidat Cu Lit, yang disebut belakangan menggunakan kesempatan ini membuka mata dan mengedipkannya. “Tak apa bawa aku keranjang, sebentar lagipun….aduh….perutku seperti diiris-iris….aduh…..”

Lekas letakkan In Kongcu dipembaringan, hati-hati jangan menyentuh perutnya,” perintah Wan Jie.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: