Kumpulan Cerita Silat

05/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (01)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:40 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (01)
Oleh Gu Long

Angin dingin menyayat, awan tebal berlapis-lapis memenuhi langit. Suasana di pantai Pohay terlebih seram, dipandang dari kejauhan hanya terlihat langit bersentuhan dengan laut, dalam kegelapan ombak bergemuruh memukul batu karang.

Sekonyong-konyong sebatang tiang layar terdampar ke atas karang, “prak”, tiang layar patah menjadi beberapa bagian, waktu ombak menyurut, sekilas di dalam laut berkelebat sinar mata yang tajam.

Waktu ombak mendampar kembali dan menyurut lagi, sinar mata itu sudah lebih mendekat pantai dan samar-samar kelihatan wajahnya.

Bahwa di tengah malam gelap dan dingin, di bawah gemuruh ombak mendampar itu dari balik gelombang laut itu bisa muncul satu orang, hal ini sungguh sukar untuk dipercaya.

Namun setelah belasan kali ombak mendampar, akhirnya benar-benar sesosok bayangan orang muncul dari dasar laut, selangkah demi selangkah menuju ke pesisir di samping batu karang.

Mendadak petir menyambar dan guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat di tengah gumpalan awan tebal, terlihat bayangan orang itu berambut panjang terurai di pundak dan setengah menutupi wajahnya, kedua tangan menggenggam sebatang pedang panjang berbentuk aneh dan bersarung hitam. Urat hijau tampak merongkol pada punggung tangan orang itu, dia seperti rela kehilangan segalanya daripada melepaskan pedang itu.

Melihat gelagatnya, agaknya sesudah kapalnya karam, lalu ia gunakan pedang panjang itu sebagai tongkat dan selangkah demi selangkah ia berjalan di dasar laut dan akhirnya mencapai pantai. Gemuruh ombak raksasa itu ternyata tidak dapat membuatnya jera, dan tidak mampu memukulnya mundur.

Setelah mendarat, ia melangkah lagi beberapa tindak, lalu ambruk. Tapi sebelum ambruk, tubuhnya tetap menegak, sinar matanya juga tetap kemilau serupa sinar kilat.

Malam panjang mulai lalu, gumpalan awan pun mulai menipis, remang subuh sudah mulai menerangi bumi raya ini, orang yang tidur lelap di pesisir itu mendadak melompat bangun, dengan tangan kiri pegang pula pedang panjang itu dengan erat, betapa cepat dan gesit gerakannya sungguh sukar dilukiskan.

Namun ia pun tidak mau membuang tenaga percuma, begitu tubuh menegak segera otot daging sekujur badan mengendur, perawakannya kelihatan tidak kekar, tapi dari kepala sampai ke kaki terasa sangat serasi pertumbuhannya, tiada setitik daging lebih. Kulit badannya telah berjemur hingga berwarna kuning legam, sekilas pandang mirip patung perunggu. Kedua alisnya panjang tebal, hidung mancung, usianya seperti baru 30-an tapi juga serupa mendekati setengah abad.

Bajunya belum lagi kering, sekujur badan berlepotan pasir, namun dia tidak mengebutnya, tapi dari dalam baju lantas dikeluarkan satu bungkusan minyak, di dalam bungkusan ada peta yang tertulis dengan sangat jelas, ada pula sejilid buku yang penuh tercatat nama dan alamat orang.

Ia asyik membaca sejenak, lalu bergumam, “Lo-san … Hui-ho-bun … Jing-ho Liu Siong ….”

Ia simpan kembali bungkusannya, dengan pedang terhunus ia melangkah ke arah barat. Tampaknya dia melangkah dengan lambat, tapi dalam sekejap sudah pergi jauh, hanya tertinggal sebaris tapak kakinya di pesisir, jarak setiap tapak kakinya itu sama dua kaki, biarpun dicetak dengan ukuran juga tak lebih tepat daripada jarak tapak kakinya itu.

Jing-ho (si tangan hijau) Liu Siong, seorang tokoh persilatan di timur provinsi Soatang, sedikitnya sudah 40 tahun namanya terkenal karena ilmu pukulan Hoa-ho-ciang, ke-17 jurus cakar bangau yang disebut Ho-jiau-cap-jit-ciau, dan Ho-ih-ciam atau jarum bulu bangau, ketiga macam Kungfu itu merupakan kepandaian khas andalan Liu Siong.

Sejak Hui-ho-bun atau perguruan si bangau terbang didirikan Liu Siong, selama ini dia dihormat dan disegani sebagai seorang guru besar ilmu silat. Rumah keluarga Liu di kaki gunung Lo-san cukup luas dan megah.

Menjelang magrib, tiba-tiba datang seorang dari jurusan timur dengan berbaju putih kain belacu, kening sebatas alis memakai ikat kepala kain putih belacu pula, rambut panjang terurai, pedang panjang tersandung pada punggungnya.

Nyata orang inilah si tokoh aneh yang muncul dari dasar laut itu. entah sejak kapan ia telah berganti pakaian, namun langkahnya tetap tegap, tetap berjarak dua kaki, tidak kurang dan tidak lebih.

Dengan kalem ia menaiki undak-undakan batu gedung keluarga Liu, meski daun pintu gerbang sudah tertutup rapat, namun dia seperti tidak melihatnya, ia masih terus melangkah ke depan.

“Brak”, begitu tubuh menyentuh daun pintu tanpa berhenti ia sudah melangkah ke dalam, daun pintu gerbang yang bercat hitam itu telah bertambah sebuah lubang besar berbentuk tubuh manusia. Sepotong papan yang persis bentuk tubuh orang itu ambruk ke depan, ketika kaki orang itu menginjak papan, seketika papan hancur menjadi bubuk.

Air muka si baju putih tidak berubah sedikit pun, daun pintu itu dianggapnya serupa buatan dari kertas belaka dan setiap orang sanggup menerobosnya.

Beberapa lelaki kekar yang berada di bawah pohon di dalam halaman sama menjerit kaget menyaksikan kejadian itu, namun si baju putih seperti tidak menghiraukannya, ia tetap melangkah ke depan dan berseru sekata demi sekata, “Di mana Liu Siong? Suruh dia keluar!”

Suaranya jelas dan tegas, namun kedengarannya kaku dan aneh.

Sementara itu sang surya sudah terbenam, cahaya senja yang remang-remang menyinari tubuhnya yang kuning legam dengan rambut panjang terurai, dan air mukanya yang dingin serta sorot matanya yang tajam, semua itu menambah seram dan misterius.

Semua orang sama melongo dan tidak sanggup bersuara, mendadak mereka membalik tubuh dan berlari serentak. Padahal orang-orang ini adalah jago Hui-ho-bun yang tangguh, biasanya urusan berkelahi, bunuh-membunuh dan mengucurkan darah dipandang seperti santapan sehari-hari, tapi sekarang mereka dibuat ketakutan oleh pendatang ini, sungguh peristiwa yang belum pernah terjadi.

Sekonyong-konyong terdengar seorang membentak, “Ada urusan apa? Kenapa ketakutan?”

Suaranya lantang dan menggetar anak telinga orang. Seorang kakek berjubah satin dan berambut putih tampak muncul dari ruangan tengah.

Dengan muka pucat beberapa lelaki kekar tadi melapor, “Su … Suhu, coba lihat, keparat itu entah … entah setan atau manusia ….”

“Omong kosong?!” bentak si kakek dengan kening bekernyit. Namun ketika melihat sikap aneh si baju putih, tidak urung ia pun terkejut.

Segera ia memberi hormat dan menegur, “Siapakah sahabat ini? Ada keperluan apa?”

Ia bicara dengan suara keras menggetar anak telinga, jelas dia sengaja pamer kekuatan terhadap si baju putih.

Siapa tahu, si baju putih seperti tidak mendengar, selangkah demi selangkah ia mendekati si kakek, lalu bersuara, “Kamu ini Liu Siong?”

“Betul,” jawab si kakek.

“Baik, keluarkan senjatamu dan ayo mulai!” kata si baju putih.

Liu Siong melengak, tanyanya, “Bilakah sahabat bermusuhan denganku?”

“Tidak ada!” jawab si baju putih.

“Kalau tidak ada permusuhan, selamanya kita pun tidak kenal, untuk apa kita harus berkelahi?” tanya Liu Siong.

“Habis siapa suruh kamu menjadi guru silat terkenal?” kata si baju putih.

Kembali Liu Siong melenggong, “Memangnya asalkan tokoh Bu-lim terkenal pasti akan kau tantang untuk bertempur?”

Tersembul senyuman aneh pada ujung mulut si baju putih, ucapnya perlahan, “Betul, menantang setiap tokoh Bu-lim di dunia ini memang menjadi maksud tujuan kedatanganku ini.”

Suaranya memang aneh, ditambah lagi senyuman yang misterius, Liu Siong merinding dibuatnya, tapi ia coba menjawab dengan bergelak, “Hah, hanya dengan kekuatan sendirian hendak menantang seluruh kesatria sejagat, apakah engkau tidak … tidak bergurau?”

Air muka si baju putih yang dingin itu tidak memperlihatkan sesuatu emosi, dingin dan kaku serupa patung, tambah ngeri perasaan Liu Siong, ia terkekeh beberapa kali dan tidak sanggup meneruskan lagi.

“Nah, lekas mulai!” ucap si baju putih sekata demi sekata.

Sekilas pandang Liu Siong melihat anak muridnya sudah banyak yang memburu tiba, berpuluh pasang mata sedang mengikuti apa yang terjadi.

Liu Siong tahu tidak bisa tidak harus turun tangan, segera ia tepuk tangan, segera anak buahnya menyodorkan sepasang senjata berbentuk cakar bangau berwarna hitam gilap.

Lebih dulu ia katakan kegunaan senjata sendiri, sedikit pun ia tidak mau menarik keuntungan.

“Kudengar dalam dunia persilatan daerah Tionggoan akhir-akhir ini bertambah lagi 13 macam senjata aneh, tak terduga pertarunganku yang pertama setiba di sini lantas bertemu dengan salah satu senjata aneh yang dimaksud.” kata si baju putih.

“Silakan memberi petunjuk!” bentak Liu Siong mendadak, serentak senjata menyambar lebih dulu dan yang kanan menyambar belakangan, berbareng ia terus berputar dengan cepat.

Akan tetapi apa pun gerak serangannya, si baju putih tetap berdiri tegak di tempatnya, sedikit pun tidak bergeser. Bukan saja pedang tidak dilolosnya, malahan seakan-akan terpejam, serupa kaum Hwesio yang semadi.

Selama hidup Jing-ho atau si bangau hijau Liu Siong entah berapa kali bertempur dengan orang dan entah berapa banyak pula jiwa lawan yang melayang di bawah 17 jurus cakar bangau andalannya ini. Tapi sekarang demi tangan memegang senjatanya yang dingin dan keras ini, tanpa terasa jari pun rada gemetar.

Sudah tentu gejala ini tidak cocok dengan namanya sebagai tokoh termasyhur, sedapatnya ia membangkitkan semangat, kedua cakar dibenturkan hingga menerbitkan suara nyaring, ia pasang gerak pembukaan dengan cakar bangau berselang, lalu berkata, “Senjataku ini selain 17 jurus cakar yang banyak gerak perubahannya, di dalamnya juga tersembunyi jarum bulu bangau yang khusus digunakan menyerang Hiat-to, hendaknya kamu hati-hati!”

Dengan cepat Liu Siong sudah berputar 17 lingkaran, beberapa kali cakarnya bermaksud menyerang, tapi sikap tenang lawan membuatnya tidak berani sembarangan turun tangan.

Cuaca tambah gelap, bayangan si baju putih tampak semakin seram, meski dekat musim dingin kening Liu Siong sudah penuh butiran keringat. Anak muridnya yang menonton di samping sama melongo cemas.

Sekonyong-konyong Liu Siong bersuit panjang serupa bunyi bangau yang terbang di udara, cakar bangau terpentang, dua jalur hitam gilap berputar cepat, sekali serang tujuh tempat, serentak berbagai Hiat-to maut di tubuh lawan diserangnya.

Anak murid Hui-ho-bun tahu betapa lihai jurus serangan ini, biasanya tidak pernah meleset dan selalu menang, selagi mereka hendak bersorak, siapa duga dalam sekejap itu tiba-tiba selarik sinar hijau berkelebat, bayangan kedua orang merapat terus berpisah lagi.

Dengan cepat Liu Siong berputar dan menyurut mundur hampir setombak jauhnya, sebaliknya si baju putih tetap berdiri tegap tanpa bergeming, cuma pedang yang tersandung di punggung sudah dilolosnya, ujung pedang menuding miring ke arah Liu Siong, tertampak titik darah segar menetes perlahan dari ujung pedang.

Hanya sejenak kemudian tubuh Liu Siong mendadak roboh terjengkang, di tengah kegelapan malam terlihat kedua matanya mendelik, satu garis darah mulai dari kening terus menurun melalui hidung, bibir, tenggorokan hingga dada, garis darah itu tepat di tengah-tengah tubuh dan beberapa senti dalamnya, jelas biarpun dewa turun dari kahyangan pun sukar menyelamatkan nyawa Liu Siong.

Menyaksikan musuh cuma satu jurus serangan saja sudah menewaskan guru mereka, berpuluh pasang mata anak murid Hui-ho-bun itu sama melotot kaget, tiada seorang pun tahu cara bagaimana si baju putih menyerang dengan pedangnya.

Saking takutnya semuanya lupa menjerit dan juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Selang sejenak ujung pedang si baju putih perlahan diturunkan dan tiada tetesan darah lagi. Sinar matanya yang terlebih tajam daripada pedangnya menyapu pandang sekejap kepada semua orang, tertampil senyum ejeknya seakan-akan hendak berkata, “Hm, kalau cuma kalian saja tidak sesuai bagiku untuk turun tangan.”

Ia terus membalik tubuh dan melangkah keluar pintu gerbang, langkahnya tetap tegap dalam jarak tertentu serupa datangnya tadi.

Sekonyong-konyong seorang membentak, “Bangsat, bayar … bayar kembali nyawa guruku!”

Orang ini adalah murid tertua Hui-ho-bun, meski hati merasa takut, mana dia dapat menyaksikan musuh pembunuh guru pergi begitu saja, cuma di antara suara bentakannya terasa agak gemetar juga, langkahnya juga kurang mantap.

Empat murid Hui-ho-bun lain yang bernyali lebih besar serentak ikut memburu maju bersama Toasuheng mereka, kelimanya sudah nekat, sekaligus mereka melancarkan pukulan.

Meski beberapa murid Hui-ho-bun ini bukan jago kelas satu, namun Kungfunya juga tidak lemah. Pukulan mereka cukup kuat dan tidak boleh diremehkan.

Namun si baju putih sama sekali tidak menoleh, pedang panjang mendadak menyabat ke belakang, di bawah kelebat pedang beberapa kali, terdengar serentetan jeritan ngeri, kelima murid Hui-ho-bun sama terjungkal dengan luka panjang dari dahi sampai dada.

Meski serangan pedang si baju putih sekaligus mengincar lima orang, namun caranya seperti dilakukan dengan lima pedang dan kelima orang terluka berbareng dan menjerit bersama, sebab itulah kedengarannya seperti jeritan panjang.

Keruan anak murid Hui-ho-bun yang lain sama kaget dan beramai ikut memburu keluar. Namun terlihat si baju putih sedang melangkah ke depan dengan tegap, kini sudah puluhan tombak jauhnya, bekas tetesan darah tampak mengikuti bekas kakinya yang berjarak sama itu, kelima kawannya sama terkapar di situ.

Nyali semua anak murid Hui-ho-bun serasa rontok, kaki terasa lemas, mana mereka berani mengejar lagi.

Tanpa menoleh di baju putih melanjutkan perjalanan hingga dua-tiga li jauhnya, lalu dikeluarkannya peta dan buku catatan, dibacanya perlahan, “Tanggal tujuh Jing-ho Liu Siong, tanggal delapan Siang-goan Tio Jit-hong, tanggal sembilan Pat-sian-kiam Li Jing-hong, tanggal sepuluh Pat-jiu-pio Kim Tai-hui, tanggal sebelas giliran tiba ajal Ce-lam Pek Sam-kong!”

Angin dingin meniup, tiba-tiba hujan pun menitik, seakan-akan langit pun ikut berduka bagi malapetaka yang menimpa dunia Kangouw ini ….

Tanggal sebelas bulan sepuluh, cuaca di kota Ce-lam mendung dan lembap, seperti mau hujan tapi belum hujan.

Belasan lelaki kekar berbaju belacu berkabung mengiringi empat kereta jenazah dengan empat peti mati datang dari timur dan menyelusuri jalan raya serta berhenti di depan sebuah gedung yang megah.

Delapan lelaki berbaju hitam cepat membuka pintu gerbang dan menyambut kedatangan jenazah dengan kepala tertunduk dan berduka.

Peti mati diusung ke dalam rumah. Terlihat seorang tua berbaju panjang warna hitam, berjenggot panjang, wajah kereng dan berdiri diam di depan ruangan.

Melihat si orang tua, serentak belasan orang yang membawa peti mati itu berhenti, peti mati diturunkan, serentak mereka berlutut dan meratap, “Pek-locianpwe, mohon sudi mengingat persahabatan dengan guru kami dan sukalah membalaskan sakit hati guru kami.”

Wajah si kakek baju hitam kelihatan kelam masam, perlahan ia menuruni undak-undakan batu, waktu ia memberi tanda, serentak ada orang membuka tutup peti mati dan tertampaklah empat sosok mayat orang tua, semuanya mati dengan wajah beringas, mata mendelik murka, jelas pada waktu mendekati ajal penuh diliputi rasa kejut dan gusar. Luka yang menyebabkan kematian mereka juga serupa, yaitu terdiri dari satu jalur luka dimulai dari kening menurun sampai dada.

“Tutup pintu gerbang, jaga ketat, sembarang orang dilarang masuk,” segera si kakek memberi perintah.

Beberapa pemuda kekar berpedang mengiakan dengan hormat dan berlari keluar, pintu gerbang hitam lantas ditutup rapat.

Si kakek berbaju hitam berjalan mondar-mandir di halaman, ucapnya dengan menyesal, “Jing-ho Liu Siong, Siang-goan Tio Jit-hong, Pat-sian-kiam Li Jing-hong, Pat-jiu-pio Kim Tai-hui ternyata tewas semuanya dalam sehari terbunuh secara keji, ai, bilamana tidak menyaksikan sendiri kejadian ini, siapa yang mau percaya? ….”

Si kakek baju hitam ini bukan lain daripada pendekar pedang Pek Sam-kong, ketua perserikatan guru silat di provinsi Soatang.

Pek Sam-kong bersama Liu Siong dan lain-lain adalah sahabat karib sehidup semati, sebab itulah sesudah Liu Siong dan lain-lain tewas, anak muridnya segera membawa peti jenazah guru masing-masing dan mendatangi Pek Sam-kong serta mohon bantuannya agar membalaskan sakit hati sang guru.

Maka terdengarlah suara ramai orang yang penuh tanda tanya itu, mereka sama tukar informasi tentang tokoh aneh si baju putih yang keji itu, tentang tindak tanduknya yang nyentrik dan ilmu pedangnya yang mengejutkan.

Kecuali anak murid Hui-ho-bun yang sempat mendengar beberapa patah kata ucapan tokoh aneh itu, anak murid perguruan lain paling-paling cuma mendengar tokoh itu bertanya, “Benarkah kamu si ….” Dan ucapan “ayo mulai”, selebihnya tidak ada, juga tidak terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya, dan begitu bertempur, kecuali kemenangan yang dituju, segala urusan lain sama sekali tidak dihiraukannya.

Makin lama makin berat perasaan Pek Sam-kong mendengar berbagai keterangan, ia bergumam, “Sejurus saja mematikan orang? Kungfu macam apakah itu ….”

Dalam pada itu kedelapan anak murid yang berjaga di luar pintu melihat dari ujung jalan sana muncul seorang berbaju putih.

Seketika hati mereka berdebar, mereka saling pandang dengan waswas, sementara itu si baju putih sudah mendekati, bagai sinar kilat tokoh aneh itu memandang sekejap kedelapan murid itu lalu berucap. “Suruh Pek Sam-kong keluar!”

Sama sekali dia tidak mau membuang tenaga percuma, maka pada waktu berjalan tidak mau menggunakan Ginkang, bila bicara juga tidak mengerahkan tenaga.

Kedelapan murid Jing-peng-bun tidak kenal kelihaian orang, karena suara orang yang tidak memperlihatkan sesuatu kekuatan itu, mereka pikir betapa tinggi Kungfu orang masakah mampu menahan serangan kami berdelapan?

Kedelapan orang berpikiran sama, setelah saling pandang sekejap, segera murid pertama Bok Put-kut mendengus, “Sahabat ingin bertemu dengan guru kami, untuk itu perlu menerobos dulu rintangan kami ini.”

Belum lenyap suaranya, terdengar gemerantang nyaring, serentak mereka melolos pedang. Selain cepat gerak kedelapan orang, juga dilakukan secara serentak. Terlihat cahaya pedang berkelebat menyilaukan mata, bilamana jago silat biasa saja pasti sudah rontok nyalinya melihat gerak melolos pedang mereka yang hebat ini.

Namun sorot mata si baju putih kembali memperlihatkan sikap mengejek, mendadak ia menyurut mundur beberapa tindak, sinar pedang berkelebat, tahu-tahu pedang sudah masuk sarungnya lagi. Caranya melolos pedang, memutar pedang dan menebas, tiga gerakan dilakukan sekaligus dalam sekejap.

Waktu anak murid Jing-peng-bun sama memandang ke sana, pada tangan si baju putih sudah bertambah sepotong ranting kayu kering, kiranya dia melolos pedang tadi hanya untuk memotong sepotong ranting kayu ini.

“Ini, perlihatkan kepada gurumu,” kata si baju putih dengan perlahan, lalu ia melangkah ke sana dan duduk di atas batu di bawah pohon dan tidak bersuara lagi serupa orang yang sedang semadi.

Kedelapan murid Jing-peng-bun sama melongo bingung. Bok Put-kut mengambil ranting kayu yang dikatakan si baju putih tadi, gumamnya, “Apa-apaan ini?”

“Jangan-jangan dia jeri terhadap kita?” ucap Kim Put-wi, murid kedua.

Orang ini tinggi delapan kaki, bahu lebar, seorang lelaki kasar tapi perkasa.

Setelah berpikir, murid ketiga Sun Put-ti ikut berkata, “Urusan ini tidak sederhana, kita harus lapor dulu kepada Suhu.”

Perawakan orang ini kurus kecil, namun paling cerdik, Pek Sam-kong sengaja memberi nama “Put-ti” (kurang akal) padanya justru menganjurkan dia agar selalu berpikir secara bijaksana dan jangan terlampau memakai akal licik.

Bok Put-kut memandang si baju putih sekejap lalu mengangguk dan berkata, “Ya, memang harus diperlihatkan kepada Suhu.”

Cepat ia membuka pintu dan menyelinap ke dalam.

Melihat gerak-gerik muridnya yang gugup itu segera Pek Sam-kong tahu tamu yang ditunggu itu sudah datang, dengan air muka berubah ia tanya, “Di mana dia?”

“Di luar,” jawab Put-kut, “dia tidak berani bergebrak dengan Tecu berdelapan, juga tidak berani menerjang masuk, tapi menebas sepotong ranting kayu ini dan minta diperlihatkan kepada Suhu.”

Dengan kening bekernyit Pek Sam-kong menerima ranting kayu itu, semula hanya dipandangnya beberapa kejap tanpa acuh, akan tetapi mendadak sorot matanya mencorong, bagian ranting kayu terpotong itu ditatapnya dengan terkesiap.

Melihat sikap sang guru yang aneh, seperti sangat kagum, prihatin dan juga jeri itu, akhirnya bahkan tangannya kelihatan rada gemetar, tentu saja Bok Put-kut terheran-heran, tanyanya tidak tahan, “Suhu, apakah orang itu perlu kami usir saja?”

Mendadak Pek Sam-kong menarik muka, ucapnya dengan gusar, “Apakah kalian ingin mampus?”

“Tapi … tapi …” Bok Put-kut gelagapan.

“Dia merasa tidak sudi bergebrak dengan kalian, kalau tidak, mustahil jiwa kalian dapat bertahan sampai sekarang?” ucap Pek Sam-kong.

Bok Put-kut menunduk dan tidak berani bicara lagi, namun dalam hati merasa sangat penasaran.

“Ai, percuma kau belajar silat kalian sekian lama, ternyata punya mata tapi tidak dapat melihat gelagat,” ucap Pek Sam-kong dengan gegetun. “Sudahlah, panggil masuk saja para Sutemu.”

“Tapi … tapi keparat itu ….” Bok Put-kut merasa sangsi.

“Jika dia mau masuk, memangnya kalian mampu merintanginya?” kata Pek Sam-kong dengan gusar. “Ayolah, jika dia mau menunggu berarti tidak perlu khawatir dia akan menerjang masuk kemari. Nah, lekas buka pintu.”

Terpaksa Bok Put-kut menurut dan membuka pintu gerbang, ketujuh Sutenya dipanggil masuk. Namun si baju putih tetap duduk diam saja di bawah pohon, senyum ejeknya tampak tetap menghiasi ujung mulutnya.

Pek Sam-kong lantas menuju ke ruang belakang, dengan cepat ia menulis sepucuk surat, berikut sepotong ranting kayu itu dibungkusnya dalam sampul surat.

Kedelapan anak muridnya menunggu dengan cemas, ketika melihat sang guru muncul kembali dengan memegang sampul surat dan air muka kelihatan kelam, semuanya sama diam saja.

Di bawah gemerdep cahaya lampu Pek Sam-kong memandang sekejap anak muridnya itu, mendadak ia membentak, “Berlutut semua!”

Kedelapan murid utamanya itu sama melengak, tapi serentak mereka pun berlutut memenuhi lantai.

“Apa larangan ketiga peraturan perguruan kita?” tanya Pek Sam-kong.

Disiplin Jing-peng-bun sangat ketat, anak murid Pek Sam-kong biasanya juga sangat patuh, tanpa pikir mereka sama menjawab, “Perintah guru laksana gunung, yang membangkang akan terkutuk!”

Dengan suara berat Pek Sam-kong berkata pula, “Pertempuran hari ini, apakah gurumu akan menang atau kalah, yang penting kalian sama sekali tidak boleh ikut turun tangan!”

“tapi Suhu ….” Seketika anak muridnya merasa panik.

Kembali Pek Sam-kong membentak sehingga muridnya tidak berani bersuara lagi, katanya pula, “Inilah perintah guru, yang membangkang akan terkutuk! Kalian mau omong apa lagi?”

Para murid sama menunduk dan tidak berani bicara.

“Pokoknya bila hari ini gurumu gugur dalam pertempuran, maka Put-kut bertujuh orang hendaknya membagi tugas menuju ke Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Tiam-jong, Kong-tong, Hoa-san dan Wi-yang-pay, ketujuh perguruan besar ini ada persahabatan karib dengan kita, tentu mereka akan menerima kalian. Hendaknya kalian belajar lebih giat dan tidak perlu pikirkan urusan lain, hanya … hanya kau saja ….”

Sorot matanya tertuju kepada murid kedelapan yang paling muda, yaitu Oh Put-jiu, lalu menyambung pula, “Hanya tugasmu yang terberat, selanjutnya mungkin kamu sukar hidup dengan tenang, entah kamu sanggup menerima tugas mahaberat ini atau tidak?”

Tanpa ragu Oh Put-jiu menjawab, “Sekuat tenaga Tecu laksanakan ….”

Oh Put-jiu ini berkepala besar dan bertubuh pendek, dahi lebar, wajah selalu membawa senyum meski tidak tersenyum. Mulutnya sehari-hari lebih sering digunakan makan daripada untuk bicara. Di antara kedelapan murid utama Jin-peng-bun tampaknya dia paling tidak berguna, namun sekarang Bok Put-kut bertujuh menyaksikan sang guru menyerahkan tugas paling berat kepadanya, tentu saja mereka penasaran.

Segera Bok Put-kut berseru, “Bila ada urusan harap Suhu serahkan kepadaku atau Kongsun-samte ….”

Mendadak Pek Sam-kong menarik muka, dampratnya, “Di sini bukan tempatnya bagimu untuk bicara, lekas menyingkir!”

Lalu ia menyerahkan surat yang sudah ditulisnya kepada Oh Put-jiu, katanya pula, “Jika gurumu kalah dalam pertarungan nanti, hendaklah cepat kau datang ke ruang belakang dan bawalah pergi Po-ji, datangi alamat menurut apa yang tertulis di atas sampul, serahkan surat dan Po-ji kepada penerima surat, urusan selanjutnya harus tunduk kepada segala perintahnya.”

Tanpa membaca Oh Put-jiu menerima dan menyimpan sampul surat yang disodorkan sambil mengiakan.

Air muka Pek Sam-kong tampak rada tenang kembali, katanya, “Setiba di tempat tujuan, kejadian aneh apa yang kau lihat janganlah terkejut. Nah, sekarang juga bolehlah kau berangkat.”

Ia tidak menghiraukan lagi muridnya, diambilnya pedang pribadinya di atas meja, lalu menuju keluar dengan langkah lebar. Ketika melewati keempat peti mati, ia merandek sejenak, perlahan ia meraba peti mati yang terdekat, mendadak ia menengadah dan tergelak, katanya, “Hah, seorang pesilat memang harus mati di medan laga, hidup atau mati adalah kejadian biasa, kenapa mesti takut? ….”

Di tengah gelak tertawanya ia terus mendekat si baju putih, tegurnya, “Anda tidak segan membunuh orang demi menjunjung tinggi ilmu silat, aku tidak gentar mati bertempur demi menegakkan kebenaran ilmu silat, kita berlain jalan tapi mempunyai tujuan sama, biarpun sebentar kau bunuh diriku juga takkan kusalahkanmu.”

Perlahan si baju putih berdiri, tiba-tiba ia membungkuk tubuh sebagai tanda hormat.

Tentu saja Pek Sam-kong heran, katanya, “Untuk apa Anda melakukan penghormatan padaku?”

Tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan si baju putih menjawab, “Engkau adalah pesilat sejati satu-satunya yang kutemui sejak kedatanganku di daratan sini, adalah pantas kuberi hormat.”

“O, terima kasih,” kata Pek Sam-kong dengan khidmat.

“Nah, mulai!” kata si baju putih singkat.

“Sret”, segera Pek Sam-kong melolos pedang, sarung pedang dilemparkan, ujung pedang lurus ke depan setengah terangkat, katanya, “Silakan!”

Begitu kata “silakan” terucap, seketika suasana berubah sunyi senyap, meski para penonton berpuluh orang jumlahnya, namun tiada seorang pun bersuara, bernapas pun tidak berani keras, andaikan jarum jatuh pun terdengar.

Segera Jing-peng-kiam-kek, si pendekar pedang santai Pek Sam-kong mengangkat pedangnya, mata menatap tajam pada ujung pedang, mendadak pedang menebas ke depan.

Anak murid Liu Siong, To Jit-hong dan lain-lain pernah menyaksikan guru masing-masing menghadapi si baju putih, semuanya berlari mengitari si baju putih, habis itu lantas menyerang. Tapi sekarang Pek Sam-kong justru berdiri berhadapan tanpa bergerak dan menebas dengan cepat dengan jurus serangan yang sangat umum, sedikit pun tidak memperlihatkan kelihaiannya.

Keruan semua orang terkesiap, mereka mengira asalkan pedang si baju putih bergerak, seketika mayat Pek Sam-kong akan terkapar.

Siapa tahu jurus serangan yang sangat umum itu justru membuat si baju putih menyurut mundur selangkah, sama sekali tidak balas menyerang.

Segera Pek Sam-kong mendesak maju, pedang berputar kembali, suatu tebasan lurus ke depan dilancarkan lagi. Dengan cara yang sama si baju putih juga lantas menyurut mundur pula.

Tentu saja anak murid Liu Siong dan lain-lain sama heran dan bingung, pikir mereka, “Meski guruku melancarkan jurus serangan paling lihai, tidak urung dalam satu jurus saja terbunuh oleh musuh. Padahal jurus serangan Jing-peng-kiam-kek tiada sesuatu yang berarti, entah mengapa si baju putih ini malah terdesak mundur?!”

Mereka tidak tahu bahwa dua jurus serangan Pek Sam-kong yang sangat umum itu sebenarnya mengandung gerak ikutan yang sangat rapat untuk bertahan, sebab dari rekan-rekannya yang menjadi korban keganasan musuh diketahui lukanya dimulai dari kening menurun ke dada. Maka dia mencurahkan perhatiannya untuk menjaga rapat bagian kening.

Kini si baju putih terdesak mundur dua kali, seketika semangat Pek Sam-kong terbangkit, sekali pedang berputar, jurus ketiga lantas dilontarkan lagi.

Anak murid Pek Sam-kong yakin serangan ketiga sang guru ini tentu jauh lebih lihai daripada serangan yang lalu dan bukan mustahil musuh dapat dirobohkan. Maka begitu sinar pedang berkelebat, serentak mereka bersorak memberi semangat.

Siapa tahu, baru saja suara sorak mereka bergema, sekonyong-konyong cahaya perak menyilaukan menyambar dari belakang si jubah putih, terdengar suara “cring” perlahan, selarik sinar hijau meluncur ke sana dan “crak”, menancap di batang pohon, itulah setengah potong pedang, sedang pedang yang dipegang Pek Sam-kong tahu-tahu tersisa setengah potong, bahkan kelihatan dia menyurut mundur dengan sempoyongan sambil berucap dengan meringis, “Sungguh heb ….”

Belum sempat kata “hebat” terucapkan ia lantas roboh terjengkang dengan kening berlumur darah.

Pedang panjang yang dipegang si baju putih tampak bergetar, darah segar menitik dari ujung pedangnya, sorot matanya yang dingin menatap titik darah yang menetes, rambutnya yang panjang terurai bertebaran tertiup angin, sikapnya kelihatan kaku dingin menambah seram suasana.

Semua orang sama melenggong sekian lama barulah ada orang menjerit, Bok Put-kut bertujuh lantas menubruk tubuh sang guru yang menggeletak tak bernyawa lagi dan menangis sedih.

Hanya Oh Put-jiu saja yang diam-diam menyingkir jauh ke sana, dari kejauhan ia berlutut dan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah sang guru, air mata pun berlinang, segera ia berlari ke ruang belakang meninggalkan hiruk-pikuk di depan berhubung dengan terbunuhnya Pek Sam-kong.

Suasana di halaman belakang hening dan kelam, keramaian di depan sama sekali tidak memengaruhi ketenangan di ruang belakang.

Di atas sebuah dipan tampak bertiarap seorang anak berusia 1-1 tahun dengan baju satin mentereng, anak itu asyik membaca, di sebelahnya tertaruh sepiring buah-buahan yang lupa dimakannya.

Waktu Oh Put-jiu berlari tiba, pada punggungnya sudah bertambah ransel, melihat anak yang sedang membaca itu, segera ia menegur, “Po-ji ….”

Berulang ia memanggil tiga kali, namun anak itu seperti lagi memusatkan perhatian pada buku yang dibacanya sehingga sama sekali tidak mendengar.

Oh Put-jiu menghela napas, ia mendekat dan menarik lengan anak itu.

Baru sekarang anak itu mendongak, ucapnya dengan kening bekernyit, “Aih, orang lagi asyik membaca, untuk apa kau ganggu diriku? Lekas pergi berlatih ilmu silatmu!”

Wajah anak itu masih hijau pelonco, namun cara bicaranya serupa orang tua, seakan-akan lebih tua daripada Oh Put-jiu.

“Eh, Gwakongmu (kakek luarmu) menyuruhku membawamu pesiar keluar, masa kamu tidak senang?” ucap Oh Put-jiu dengan suara lembut.

Kiranya anak ini bernama Pui Po-ji, anak tunggal Pek Man-sah, putri kesayangan Pek Sam-kong.

Pek Man-sah dan suaminya Pui Su-hiap suka berkelana menjelajahi dunia, sejak kecil Po-ji dititipkan di rumah sang kakek.

Anak kecil umumnya tentu akan kegirangan bila mendengar akan diajak pesiar, namun Pui Po-ji justru menggeleng kepala dan menjawab, “Tidak, aku tidak mau!”

Habis bicara kembali ia asyik membaca.

Oh Put-jiu kenal watak anak ini agak kepala batu, bahkan banyak tipu akalnya dan suka berbuat aneh-aneh, siapa pun bila ingin memaksa dia melakukan sesuatu yang tidak disukainya, maka akibatnya pasti akan cari susah sendiri.

Tiba-tiba ia mendapat akal, katanya, “Kata orang kuno, membaca selaksa kitab, menempuh jalan selaksa li. Tapi kamu cuma baca melulu, masakah kamu tidak mau pesiar keluar untuk mencari pengalaman?”

Po-ji mendongak pula sambil berpikir, katanya kemudian, “Ehm, betul juga ucapanmu. Baik, kuikut pesiar keluar bersamamu, tapi kan perlu juga berbenah seperlunya baru berangkat.”

Oh Put-jiu khawatir anak itu takkan tahan menyaksikan kejadian sedih di ruangan depan sana, maka ia sengaja berolok-olok, “Huh, seorang lelaki sejati sekali bicara berangkat harus segera angkat kaki, hanya orang yang suka omong kosong saja pakai berbenah segala!”

Muka Pui Po-ji tampak merah, ucapnya kurang senang, “Baik, boleh berangkat sekarang juga. Asalkan kau berani pergi, ke mana pun aku berani!”

“Nah, inilah baru lelaki sejati,” ujar Oh Put-jiu dengan tertawa. “Baik, mari ikut padaku!”

Segera Oh Put-jiu membawa Po-ji keluar melalui pintu belakang. Meski dalam hati cemas dan gelisah, namun terpaksa Oh Put-jiu bersenda gurau dengan anak itu.

Meski sudah dekat musim dingin, tapi setelah menempuh dua-tiga li jauhnya, Po-ji telah mandi keringat, mendadak ia berhenti dan berkata dengan serius, “Paman kepala besar, tampaknya engkau bersifat serupa anak kecil, kalau bekerja sesuatu hanya memikirkan diri sendiri tanpa urus orang lain. Mestinya kau tahu orang biasa sekolah dan membaca, mana dapat berjalan cepat serupa kalian?”

Melihat anak kecil yang berlagak orang tua dan mengomeli dirinya, sama sekali Oh Put-jiu tidak merasa geli, sebaliknya malah timbul kasih sayangnya, pikirnya, “Ayah bunda anak ini entah ke mana perginya, satu-satunya anggota keluarga terdekat, yaitu kakeknya sekarang …. Ai, jika bukan aku siapa lagi yang akan menjaga dia?”

Segera ia menuding sebuah warung di kejauhan dan berkata, “Jika kamu lelah, bolehlah kita istirahat dulu di sana.”

“Nah, seharusnya sejak tadi kau katakan demikian,” ucap Po-ji.

Setiba di warung tepi jalan itu barulah Oh Put-jiu mengeluarkan surat yang diterimanya dari Pek Sam-kong itu, ia pura-pura mau kencing dan menyingkir untuk membaca surat itu. Dilihatnya pada sampul surat itu tertulis: “Supaya dibaca oleh Put-jiu”.

Cepat ia membuka sampul dan membacanya, ternyata isi surat itu berbunyi:

Put-jiu,

Waktu surat ini kau baca, tentu gurumu sudah binasa di tangan musuh. Ketika kulihat bagian ranting kayu yang terpotong segera kutahu ilmu pedang orang ini beberapa kali lebih hebat daripadaku, tokoh Bu-lim zaman ini pun tidak ada yang sanggup menandinginya.

Menurut pengakuannya, kedatangannya ke daratan sini bermaksud menempur setiap tokoh persilatan terkemuka, dari ilmu pedangnya yang ganas agaknya hatinya diliputi dendam kesumat dan pasti tak kenal ampun terhadap siapa pun.

Apabila tokoh dunia persilatan Tionggoan tidak ada yang mampu mengalahkan dia, maka sukar diramalkan entah berapa banyak jago terkemuka yang akan binasa di bawah pedangnya.

Musibah segera akan tiba, gurumu tidak boleh melarikan diri di garis depan, maka aku sudah bertekad akan gugur sebagai pesilat, sayang aku tidak mampu membela kaum sesamanya menghindarkan malapetaka ini, jalan satu-satunya adalah menyuruhmu ke pantai timur, intai di sepanjang pantai, asalkan melihat kapal besar berlayar pancawarna, hendaknya dengan jalan apa pun kamu harus berusaha naik ke atas kapal tersebut dan serahkan ranting kayu dalam sampul kepada nakhoda kapal itu.

Tentu kamu akan ditanya, maka bolehlah kau ceritakan apa yang terjadi, sama sekali tidak boleh bohong. Lalu boleh kau tunggu jawabannya.

Hanya nakhoda kapal pancawarna itulah satu-satunya orang di dunia ini yang ada harapan akan dapat menaklukkan tokoh aneh si baju putih.

Usahamu inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia persilatan, hendaknya kamu bertindak hati-hati dan tugas harus terlaksana dengan baik. Ingat, jangan lengah!

Melihat tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya, Oh Put-jiu jadi terkenang kepada wajah sang guru, saking sedihnya air matanya berlinang.

Mendadak terdengar suara Pui Po-ji menegurnya dari belakang. “Paman kepala besar, kenapa engkau tidak duduk dan minum dulu? Ai, dasar pesilat!”

Sedapatnya Oh Put-jiu menahan air mata, ucapnya dengan tersenyum sembari berpaling, “Memangnya kenapa kalau pesilat?”

Wajah Po-ji yang masih polos dan kekanak-kanakan itu mendadak timbul semacam rasa duka orang dewasa, ia menunduk dan tidak bicara lagi.

Dengan kening bekernyit Oh Put-jiu menukas, “Melihat gerak-gerikmu, memangnya selama hidupmu takkan belajar silat lagi? Sesungguhnya apa sebabnya?”

Po-ji menghela napas, ucapnya, “Biar kukatakan juga engkau takkan paham. Ayolah berangkat!”

Diam-diam ia membatin dengan menyesal, “Urusan sudah telanjur begini, biarpun kamu tidak mau belajar silat juga tidak boleh lagi.”

Segera ia ambil ancang-ancang jurusan, lalu menuju ke pantai timur.

Waktu itu sudah musim dingin, perjalanan jauh memang sudah cukup sulit, apa lagi keberangkatan Oh Put-jiu dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga tidak membawa sangu yang cukup. Maka belasan hari kemudian, sisa uang dalam sakunya sudah tersisa tak seberapa.

Menurut perkiraan Oh Put-jiu, sisa sangu itu mungkin dapat bertahan hingga mencapai pantai timur, tapi entah kapan baru dapat menemukan kapal layar pancawarna itu, bagiku tidak menjadi soal hidup sehematnya, tapi Po-ji masih kecil, mana ia tahan menderita?

Karena pikiran itu, meski dia bernama Put-jiu atau tidak sedih, tidak urung merasa sedih secara diam-diam.

Suatu hari sampailah mereka di pantai timur, pemandangan laut yang tidak pernah dilihatnya itu membuat Po-ji sangat tertarik dan berkeplok gembira.

Saking isengnya Oh Put-jiu justru duduk jauh di batu karang sana untuk memancing.

Po-ji tidak tahu tujuan memancing Put-jiu itu selain hendak mencari ikan sekadar isi perut, sekaligus juga mengawasi bayangan kapal layar yang mungkin akan muncul.

“Paman kepala besar, asyik juga tampaknya engkau memancing ikan?” tegur Po-ji dengan tertawa.

Oh Put-jiu hanya menyengir saja tanpa menjawab, sampai larut malam ia berhasil memancing beberapa ekor ikan segar, segera ia membuat api unggun, ikan dibakar dan dimakan.

Bintang berkelip di angkasa raya, ombak mendebur, api unggun di pantai laut, Po-ji merasa dirinya serupa berada di alam dongeng. Sampai ikan bakar yang berbau amis itu pun dirasakannya seperti makanan yang paling lezat, sekaligus ia habiskan tiga ekor, lalu berkata dengan tertawa, “Menurut kitab, habis makan kenyang baru bisa tidur nyenyak. Sekarang lekas kita mencari hotel untuk tidur.”

Oh Put-jiu diam saja, sejenak kemudian baru menjawab, “Seterusnya kita tidak dapat tinggal lagi di hotel.”

Po-ji menunduk dan berpikir, katanya dengan tertawa, “Aha, tidak tinggal di hotel juga baik, biarlah kita gunakan langit sebagai ranjang, kehidupan seperti ini juga cukup menarik.”

“Kehidupan seperti ini apakah tahan bagimu?” tanya Put-jiu.

“Memangnya mau apa tahan atau tidak?” ujar Po-ji dengan tertawa. “Yang jelas uang sangu yang kau bawa sudah habis, tanpa duit cara bagaimana bisa tinggal di hotel?”

Oh Put-jiu melenggong, katanya kemudian dengan sambil menyengir dan menggeleng, “Ai, sungguh anak yang cerdik. Bila bicara denganmu, terkadang aku tidak percaya kamu ini baru anak yang berusia dua belasan.”

“Di sinilah manfaatnya orang bersekolah dan banyak membaca, maka aku ….”

Belum lanjut ucapan Pui Po-ji, mendadak dilihatnya muka Oh Put-jiu rada berubah dan mendesis, “Ssst, ada orang datang. Entah bagaimana maksud kedatangan orang ini, sebaiknya kita berlaku hati-hati.”

Benar juga, dari kejauhan sana tampak berlari datang dua sosok bayangan orang, terdengar seorang di antaranya sedang berkata, “Belum tiba waktunya, cahaya api juga tidak cocok, kubilang bukan di sini tempatnya, tapi kamu ngotot dan mengajak ke sini.”

Kawannya menjawab, “Apa pun juga, kan boleh juga kita istirahat dulu di sini … wah, lihat, malahan terdapat ikan panggang ….”

Ia tidak melanjutkan, begitu berhadapan ia terus duduk di samping Oh Put-jiu, tanpa permisi seekor ikan panggang dicomotnya terus dimakan dengan lahapnya, seperti ikan ini memang miliknya, Oh Put-jiu dan Pui Po-ji dipandang serupa orang mampus saja, sama sekali tidak dihiraukan.

Mata P-ji mendelik, tegurnya dengan gusar, “Hei, kawan, hendaknya tahu sopan sedikit ….”

Belum habis ucapannya Oh Put-jiu lantas mencengkeram lengannya dan membentak, “Kedua tuan ini sudi makan ikan panggang kita kan suatu kehormatan bagi kita, anak kecil tahu apa?”

Sembari mengomel ia pun mengedipi Po-ji, lalu ia menoleh dan berkata dengan tertawa, “Silakan kedua tuan makan saja, masih ada, biar kupanggang lagi!”

“Hm, mendingan orang kasar seperti dirimu ini bisa melihat orang, kalau tidak ….” Belum lanjut ucapan lelaki sebelah kanan segera kawannya menukas, “kalau tidak, bisa jadi kamu berdua yang akan kami panggang ….”

Po-ji menahan gusarnya dengan menggereget, di bawah gemerdep api unggun terlihat lelaki yang sebelah kiri berwajah putih pucat, tubuh kurus, memakai baju satin warna merah jambon, baju dengan potongan indah, dari wajahnya dapat diterka orang ini pasti peminum dan gemar main perempuan.

Sedang lelaki sebelah kanan bertubuh tinggi besar dan bercambang, pada punggung kedua orang sama menggembol sebuah ransel besar, keduanya juga sama membawa golok.

Sekaligus si lelaki berewok makan dua ekor ikan panggang, sebaliknya si baju merah hanya memandangya dengan kening bekernyit, ucapnya sambil menggeleng, “Buat apa ….”

Baru berucap demikian, mendadak ia melompat bangun dan memegang golok sembari membentak, “Siapa itu yang datang?!”

Suaranya melengkung tajam dan berkumandang jauh memecah malam sunyi.

Segera seorang menjawab dalam kegelapan sana, “It-tin-hong dari Kangpak, datang tanpa bayangan, pergi tanpa bekas!”

Sesosok bayangan lantas melayang tiba mengikuti suaranya dan hinggap di depan api unggun, ternyata seorang pemuda kurus berbaju hitam ringkas, di punggung juga menggembol sebuah ransel.

Si berewok membuang tulang ikan dan bergelak tertawa, “Haha, kukira siapa, rupanya Hong-lote adanya. Eh, mari, mari, silakan duduk dan makan ikan panggang!”

Pemuda baju hitam terkekeh, jawabnya, “Dari jauh kulihat cahaya api, semula kusangka Leng-kong-sin-hwe (api ajaib neraka), maka kususul kemari, siapa tahu kalian Piu dan Hou berdua saudara yang berada di sini.”

Air muka si jambon yang pucat kelihatan tambah pucat, desisnya, “Jangan-jangan Hong-heng juga menerima Sin-bok-leng (perintah kayu sakti) dan mengantar sesajen ke sini?”

Ia bicara sambil celingukan seakan-akan khawatir didengar orang.

“Ya, kemarin dulu kuterima Sin-bok-leng,” jawab si baju hitam dengan tertawa. “Maka dalam dua hari sekaligus kurampok 23 keluarga hartawan, akhirnya berhasil mengumpulkan sekadar sesajen ini.”

Si baju jambon tertawa, katanya, “Sudah lama kudengar It-tin-hong dalam semalam menghabisi seribu keluarga, sehari menyikat seratus rumah, dan kenyataan memang tidak bernama kosong. Dan kuyakin kado yang Hong-heng bawa pasti jauh berharga daripada kepunyaan kami.”

Si baju hitam menjawab, “Ah, jangan sungkan. Siapa yang tidak tahu Hun-piu (macan jambon) dan Thi-hou (harimau baja), bilamana kalian mau, harta benda di dunia ini kan serupa isi kantong kalian berdua.

Pui Po-ji melongo mengikuti pembicaraan mereka, diam-diam ia menarik Oh Put-jiu dan membisikinya, “Buset, kiranya ketiga orang ini adalah bandit.”

Muka Oh Put-jiu tampak prihatin, waktu ketiga orang itu asyik bicara barulah ia membisiki Po-ji pula, “Ketiga orang ini bukan sembarang bandit, mereka adalah neneknya bandit, nama mereka termasyhur dan biasa membunuh orang tanpa berkedip. Kedua orang yang datang lebih dulu masing-masing bernama Hun-piu dan Thi-hou, Gwakang mereka sangat menonjol, sarang mereka terletak di Pek-ma-san. Dan It-tin-hong (angin lesus) yang datang belakangan itu adalah bandit yang beroperasi sendirian.”

Po-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Mengapa ketiga bandit besar ini tanpa berjanji bisa datang ke tempat terpencil ini, jangan-jangan di sini akan datang seorang hartawan besar?”

Oh Put-jiu menggeleng, “Tidak, dari pembicaraan mereka tadi, agaknya mereka menerima perintah dari seorang tokoh mahalihai yang disebut Sin-bok-leng dan mereka diharuskan cepat mengantar kado ke sini. Tentunya mereka telah diberi tahu akan menggunakan cahaya api sebagai tanda, sebab itulah ketika melihat cahaya api unggun kita, ketiga orang ini lantas memburu ke sini, siapa tahu mereka salah alamat. Ai, ketiga orang ini adalah tokoh yang sukar direcoki, maka dapat dibayangkan orang yang memerintahkan mereka ke sini pasti tokoh yang terlebih hebat.”

“Mau apa kalau lebih hebat?” ucap Po-ji. Paling-paling juga cuma bandit yang suka rampok dan main bunuh …”

belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terlihat It-tin-hong, Hun-piu dan Thi-hou bertiga serentak berdiri, tiga pasang mata sama menatap jauh ke depan, berbareng mereka menegur, “Siapa itu?!”

Suara mereka bertiga berbeda-beda, ada yang kasar, ada yang halus, ada pula yang melengkung, maka gabungan tiga macam suara mereka itu membuat orang yang mendengarnya merasa tidak enak.

Anak telinga Oh Put-jiu dan Pui Po-ji juga mendengung tergetar, namun selang sekian lama tetap tiada suara jawaban dalam kegelapan. Yang terdengar cuma suara keresek orang berjalan dengan langkah yang berat.

Langkah orang berkumandang dari jauh dan semakin dekat, agaknya pendatang melangkah dengan lambat dan seenaknya.

Seketika ketiga orang yang duduk di tepi api unggun menjadi tegang, “sret”, Thi-hou lantas melolos golok dan membentak, “Siapa itu yang datang, jika tetap tidak bersuara, jangan menyesal bila kami ….”

Di tengah bentakan dari kegelapan sana sudah muncul sesosok bayangan, ternyata seorang perempuan tua gemuk pendek, rambutnya putih seluruhnya dan hampir mendekati botak, berbaju longgar dari kain kasar, anehnya bajunya penuh saku, sedikitnya ada belasan buah. Tangan memegang tongkat panjang yang hampir sekali lebih panjang daripada tubuhnya. Dengan napas terengah ia mendekat, melihat cahaya api unggun ia menghela napas lega dan berucap, “Hangat sekali di sini, bolehkah kududuk di sini dan ikut menghangatkan badan?”

Po-ji melihat muka nenek ini bulat serupa bulan dan senantiasa tersenyum simpul ramah, suaranya juga lemah lembut, diam-diam ia khawatir bagi orang tua ini, khawatir akan dibikin susah oleh ketiga bandit tadi.

Siapa tahu Hun-piu bertiga tetap diam saja, bahkan demi melihat perempuan tua ini mereka pun terkesiap dan melenggong.

Setelah duduk di samping api unggun, dari salah satu saku bajunya si nenek meraba keluar satu biji manisan cermai, lebih dulu diendus beberapa kali, seperti merasa berat untuk dimakan, tapi juga sangat ingin makan, akhirnya manisan perlahan dijejalkan ke mulut, sambil menghela napas perlahan ia nikmati manisan cermai itu, asyik dan nikmat sekali caranya makan sehingga ketiga lelaki kekar bersenjata yang duduk di sampingnya sama sekali tidak dihiraukannya.

It-tin-hong bertiga saling pandang beberapa kali, mendadak mereka sama berlutut dan menyembah dengan wajah kejut dan takut, sampai sekian lama mereka bersujud dan tidak berani menegak.

Si nenek tetap anggap tidak melihat kelakuan mereka, sekaligus ia habiskan tiga biji manisan cermai, lalu dikeluarkan lagi sepotong Siopia dari saku lain, seperti tadi, lebih dulu diendus-endus, habis itu dengan rasa berat baru dimakan dengan nikmat.

Melihat kelakuan nenek itu, Po-ji merasa geli juga heran. Ia geli karena belasan saku baju si nenek ternyata berisi penganan dan jajanan melulu. Ia terkejut melihat ketiga bandit besar yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip itu ternyata sedemikian hormat dan jeri terhadap nenek rakus ini, entah apa sebabnya?

Akhirnya terdengar Thi-hou berkata dengan tergegap, “Terima … terimalah hormat kami, Ban-lohujin!”

Dengan mulut penuh makanan, si nenek memandang sekejap dengan mata menyipit, lalu tertawa cerah dan berkata, “Aha, anak baik, lekas bangun! Dasar sudah tua, mataku sudah hampir lamur, sejak tadi tidak tahu kalian berada di sini, maaf ya?”

Kepala Thi-hou bertiga menunduk terlebih rendah, ucap Hun-piu, “Semoga Ban-tayhiap juga baik-baik saja selama ini.”

“Siapa itu Ban-tayhiap (pendekar besar tua Ban)?” kata Ban-lohujin dengan tertawa, “kan sudah lama temanku yang tua bangka itu meninggal dunia …. Ah, barang kali kau maksudkan putraku yang tidak becus itu? Ya, baik, baik, dia sangat baik, cuma ada sedikit kurang berbakti kepada orang tua, setelah punya bini lantas lupa kepada ibu.”

Ia bicara dengan tersenyum, kedengaran agak ceriwis serupa nenek umurnya. Melihat kelakuannya itu, tanpa terasa Pui Po-ji lantas terkenang kepada neneknya sendiri.

Sebaliknya muka Oh Put-jiu tampak sangat prihatin, ia sedang bergumam, “Ban-tayhiap … jangan-jangan dia ibu In-bong-tayhiap Ban Cu-liong?”

Sementara itu Thi-hou bertiga sudah berdiri, dengan tertawa Ban-lohujin lantas berkata pula, Melihat kelakuan kalian, jangan-jangan kalian datang membawakan kado atas perintah Sin-bok-leng?”

“Betul” jawab Thi-hou.

Ia menjawab terlampau cepat sehingga tidak keburu dicegah oleh Hun-piu.

“Ai, pemilik Sin-bok-leng itu sungguh hebat sekali,” ucap Ban-lohujin dengan menghela napas, “meski sudah menghilang sekian tahun, namun wibawanya sebagai ketua perserikatan masih tetap bertahan, begitu dia memberi perintah, cepat-cepat kalian bertiga mengantar hadiah baginya. Sesungguhnya hadiah berharga apa yang kalian antar untuk dia, bolehkah kulihat?”

It-tin-hong bertiga saling pandang sekejap, tertampil rasa sulit mereka.

“Masa kulihat saja tidak boleh?” ucap Ban-lohujin pula dengan suara lembut.

“Jika … jika Ban-lohujin menghendaki demikian, mana kami berani menolak,” kata Hun-piu dengan gugup.

Serentak mereka bertiga membuka ransel masing-masing, isi ransel berserakan di tanah.

Seketika pandangan menjadi silau oleh gemerlap batu permata sehingga cahaya api unggun pun kalah terang.

It-tin-hong melirik isi ransel sendiri dan menampilkan rasa bangga. Sebaliknya Hun-piu cepat membungkus kembali ranselnya.

“Ban-lohujin,” kata Thi-hou dengan tertawa. “Menurut penilaian Lohujin, apakah hadiah yang kami bawa ini cukup memenuhi syarat?”

Ban-lohujin tersenyum, katanya, “Barang seperti ini jika dipersembahkan kepada raja mungkin masih bolehlah, tapi ….”

“Tapi apa?” tanya Thi-hou.

“Tapi jika hendak dipersembahkan kepada pemegang Sin-bok-leng itu, kukira tidak cukup,” tutur Ban-lohujin perlahan.

Kalimat yang pertama membuat It-tin-hong merasa puas dan senang, tapi kalimat kemudian serupa air dingin yang menyiram mukanya dan membuat rasa senangnya berubah menjadi rasa kecut.

“Masa tidak cukup? Hadiah yang kami bawa ini tidak memadai?” Thi-hou menegas dengan terbelalak.

Ban-lohujin menggeleng, katanya, “Ya, tidak cukup, kecuali … kecuali hadiah kalian bertiga digabung menjadi satu sebagai hadiah seorang saja. Kalau tidak, bila pemegang Sin-bok-leng marah, wah, bisa runyam.”

Ia ambil sepotong permen kacang dan dimakan pula dengan nikmatnya dengan mata terpejam tanpa memandang Hun-piu dan lain-lain lagi.

Serentak Hun-piu bertiga meraih ransel masing-masing dan menyurut mundur satu tindak, mendadak It-tin-hong tergelak dan berseru, “Wah, jika demikian anjuran Ban-lohujin, kan lebih baik barang yang kalian bawa itu diberikan padaku saja dan tentu aku akan berterima kasih padamu.”

“Sialan, kamu berani mengincar barang kami?” damprat Thi-hou dengan gusar.

It-tin-hong menyeringai, katanya, “Bukan maksudku mengincar barang kalian, tapi kalian tentu tahu, lebih baik kubunuh kalian daripada bersalah kepada pemegang Sin-bok-leng.”

“Kentut,” jawab Thi-hou dengan gusar. “Boleh coba saja, apakah kamu dapat membunuh kami atau kami yang akan mampuskan dirimu.”

Di tengah bentakannya golok Thi-hou dan Hun-piu lantas terhunus, It-tin-hong tidak tinggal diam, senjata andalannya, yaitu tombak berantai juga segera disiapkan.

Ban-lohujin tetap duduk tenang di tempatnya, tetap dengan tersenyum ramah sambil menikmati jajanan yang dibawanya.

Semua ini dapat disaksikan Oh Put-jiu dengan jelas, diam-diam ia membatin nenek yang kelihatan lemah lembut dan welas asih ini sungguh sangat licin dan keji, hanya beberapa patah kata saja dia sudah dapat mengadu domba It-tin-hong bertiga dan ia sendiri tetap tenang saja.

Karena mengemban tugas berat, Oh Put-jiu tidak berani ikut campur urusan orang, ia cuma menonton saja tanpa ikut bicara.

Tak terduga, baru saja ia berpikir begitu, tiba-tiba Pui Po-ji berseru, “Eh, nenek, bukankah kedatanganmu juga hendak mengantar kado?”

Kedua mata Ban-lohujin terbuka sedikit, ucapnya dengan suara halus, “Anak sayang, kau bilang apa?”

“Oo, tidak ada apa-apa,” jawab Po-ji dengan tersenyum dan menggeleng.

Namun ucapan Po-ji itu justru menggugah pikiran Thi-hou bertiga, mereka terhitung tokoh Kangouw yang sudah berpengalaman, seketika mereka pun menyadari maksud tujuan si nenek.

Mestinya Hun-piu akan menyerang, tapi segera diurungkan, ia tergelak dan berseru, “Aha, sungguh lucu dan menggelikan!”

“Menggelikan? Dan apa yang lucu?” tanya Thi-hou.

“Memang betul,” tukas It-tin-hong. “Kita ini sungguh sudah keblinger, sama sekali tidak ingat bahwa kedatangan Ban-lohujin ini juga untuk memenuhi perintah Sin-bok-leng, sampai kita harus diingatkan oleh seorang anak kecil, kan lucu dan menggelikan?”

“Ya, cuma kedatangan Ban-lohujin ini agak tergesa-gesa dan tidak membawa kado,” sambung Hun-piu, “sebab itulah dia sengaja mengadu domba kita agar kita sama menggeletak dan Ban-lohujin dapat mengambil barang kita untuk dijadikan kadonya.”

Sembari bicara mereka bertiga sudah berdiri berjajar dengan senjata terhunus sambil menyurut mundur.

Ban-lohujin menghela napas perlahan, ucapnya lembut, “Ai, ucapan kalian terasa sangat merendahkan diriku. Coba kalian lihat apa ini?”

Dari sebuah sakunya ia mengeluarkan serenceng kalung mutiara warna ungu gelap, setiap biji mutiara itu sebesar gundu.

Sudah sekian lama Thi-hou bertiga berkelana di dunia Kangouw dan banyak melihat benda mestika aneh, namun belum pernah terlihat mutiara sebesar ini dan berwarna ungu gelap seperti ini.

Dengan sendirinya mereka sangat tertarik dan ingin lebih jelas, tanpa terasa mereka sama melangkah maju.

“Mutiara kristal ungu seperti ini, cukup satu biji saja sudah merupakan mestika yang sukar dicari, apa lagi serenceng kalung, umpama dipersembahkan kepada raja akhirat juga akan diterimanya dengan senang hati,” demikian kata Ban-lohujin. “Nah, jika aku sudah memiliki benda berharga ini, untuk apa kuambil barang kalian yang tidak ada artinya itu?”

Thi-hou bertiga sama terbelalak memandangi kalung mutiara itu, mereka merasa kagum dan juga malu.

“Mutiara sebagus ini mungkin kalian belum pernah lihat bukan?” kata si nenek dengan tertawa. “Nah, kalau ingin lihat jelas, silakan periksa lebih dekat.”

Tanpa terasa Thi-hou bertiga bergeser pula ke depan.

“Kita memang sia-sia berkelana sekian lama di dunia Kangouw, benda mestika seperti ini jangankan melihat, mendengar saja tidak pernah ….” It-tin-hong bergumam dengan gegetun.

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kalung mutiara yang dipegang Ban-lohujin berputar dan berubah menjadi berpuluh larik sinar hitam dan menyambar ke depan, mengincar berbagai Hiat-to Thi-hou bertiga. Tangan si nenek merogoh saku pula, dikeluarkannya bermacam makanan kecil dan disambitkan serabutan. Betapa cepat gerak serangannya sungguh sukar dibayangkan.

Sama sekali Thi-hou bertiga tidak menyangka si nenek akan menyerangnya begitu saja, terlebih tidak menduga makanan kecil dalam sakunya dapat digunakan sebagai Am-gi atau senjata rahasia.

Selagi ketiganya silau dan bingung oleh berhamburnya senjata rahasia, tahu-tahu dada, perut dan bagian lain telah tertimpuk, terdengar jeritan mereka, ketiganya roboh terjungkal, di tubuh masing-masing sedikitnya terhinggap tujuh-delapan biji Am-gi yang terdiri dari biji lengkeng, cermai dan lain sebagainya, semuanya amblas ke dalam daging seperti lengket.

Hanya Thi-hou saja yang bertubuh tinggi besar, dia tidak mati seketika, dengan suara parau ia sempat berteriak, “Engkau sudah … sudah punya mutiara ungu sebanyak itu, buat apa … buat apa mengincar barang kami ….”

“Ai, anak bodoh, di dunia ini mana ada mutiara ungu?” ucap Ban-lohujin sambil menggeleng.

Thi-hou melengak, butiran keringat sebesar kacang menghiasi dahinya, dengan menahan sakit ia meronta dan berteriak pula, “Habis barang … barang apakah itu?”

Si nenek tersenyum, katanya, “Ini sejenis anggur, kalian sudah lama berkelana, masakah buah anggur begini saja tidak kenal?”

Tergetar tubuh Thi-hou, kedua matanya melotot, teriaknya parau, “Oo, mati aku ….”

Belum lanjut ucapannya, terdengar kerongkongannya berbunyi “krok”, seketika pula putus napas. Sungguh dia mati penasaran.

Memandangi mayat mereka, dengan suara lembut Ban-lohujin berucap, “Ai, sayang, sungguh sayang!”

Po-ji terkesima menyaksikan semua kejadian itu, sekarang ia pun mendongkol demi mendengar gumam si nenek, pikirnya, “Kalau sayang, kenapa kau bunuh orang?”

Didengarnya Ban-lohujin berucap pula dengan menyesal, “Sayang barang makananku sebanyak ini terbuang percuma oleh ketiga manusia tak becus ini.”

Dengan tongkatnya ia mendekati ketiga sosok mayat itu, ia berjongkok dan mengorek keluar semua makan kecil yang terjepit di tubuh mereka itu, digosoknya makanan itu pada baju mereka untuk menghilangkan noda darah, lalu sebiji demi sebiji dimasukkan kembali ke dalam saku.

Baru sekarang Po-ji tahu yang disayangkan si nenek bukanlah manusianya, melainkan makanannya. Menyaksikan kelakuan orang tua itu, kaki dan tangan Po-ji terasa dingin dan mual pula, tak tertahan lagi ikan panggang yang dimakannya tadi sama tertumpah keluar.

Karena ucapan Po-ji tadi, semula Oh Put-jiu mengira anak itu akan menimbulkan malapetaka, tapi kejadian selanjutnya berlangsung dengan cepat dan membuatnya terkesima juga.

Sekarang ia baru saja menenangkan diri, pada saat si nenek berdiri menghadap ke sana, cepat ia angkat Po-ji yang sedang tumpah itu terus hendak dibawa kabur.

Siapa tahu, baru saja ia bergerak, tahu-tahu Ban-lohujin sudah berdiri di depannya dengan gelak tertawa, katanya sambil menuding Po-ji, “Ini anak siapa? Sungguh pintar dan cerdik.”

Oh Put-jiu tidak menjawab, sekali berputar segera ia melompat ke arah lain dan segera hendak lari pula.

Tapi baru saja ia geser tempat, tahu-tahu si nenek mengadang lagi di depannya dan menegur dengan tertawa, “Untuk apa kau lari? Anak sepintar ini, masa nenek sampai hati mencelakai dia?”

Oh Put-jiu tidak tahu cara bagaimana nenek itu bergerak, tapi tahu-tahu sudah berada di depannya serupa hantu, ia tahu sukar lagi kabur, ia berbalik tenang dan mencari akal untuk menghadapi orang.

Po-ji meronta sekuatnya untuk turun, lalu berteriak, “Hei, jika engkau tidak sampai hati mencelakaiku, tapi juga tidak melepaskan kami pergi, sesungguhnya ada apa?”

Ban-lohujin tertawa lembut, katanya, “Orang tua serupa nenek ini, bila melihat anak yang pintar tentu akan sayang dan berat melepaskannya. Nah, anak sayang, akan nenek beri permen dan manisan.”

Benar juga, segera ia mengeluarkan sebiji manisan cermai.

Melihat di atas manisan itu masih ada bekas darah, kembali Po-ji mual dan tumpah pula.

“Anak sayang, kamu tidak berani makan? Ai, padahal manisan cermai berdarah ini jauh lebih manis daripada makanan apa pun,” ucap Ban-lohujin dengan tertawa.

Meski yang diperbuatnya jelas hal-hal yang paling keji dan kejam, namun air mukanya justru senantiasa dihiasi senyuman yang paling lembut dan paling asih.

Po-ji terus mendamprat, “Perempuan siluman tua bangka, nenek kejam, makhluk tua bangka, pada suatu hari akhirnya darahmu pasti juga akan diminum orang serupa air teh.”

Oh Put-jiu tidak menyangka anak ini bernyali sebesar ini sehingga berani mencaci maki nenek yang memandang nyawa manusia serupa mainan anak kecil ini, keruan ia ketakutan. Segera ia bermaksud memburu maju untuk membelanya, tapi lantas terpikir sesuatu, segera ia duduk malah di tanah seperti tidak ada yang perlu ditakuti lagi, sedikit pun tidak khawatir bagi anak itu.

Terdengar Ban-lohujin berkata pula dengan tersenyum, “Anak baik, kau berani memaki diriku, memangnya tidak kau lihat cara bagaimana ketiga orang tadi mati?”

“Mati ya mati, memangnya aku takut?” jawab Po-ji dengan bersitegang leher.

“Ai, anak bodoh,” ucap si nenek dengan gegetun. “Masa benar kamu tidak takut mati? Hendaknya ingat, setiap manusia cuma punya satu nyawa dan tidak ada nyawa serep, kan sayang bila nyawa amblas secara sia-sia? …. Ai, jika nenek membuatmu merasakan bagaimana orang yang mati tidak dan hidup pun tidak, nah, kamu baru tahu betapa berharganya nyawa.”

Mendadak ia turun tangan, sekaligus tiga Hiat-to di tubuh Po-ji ditutuknya, lalu dikempitnya anak itu.

Waktu ia menoleh, dilihatnya Oh Put-jiu masih duduk tenang dengan tersenyum, sedikit pun tidak khawatir atau cemas. Biarpun licik dan licin, melihat sikap Oh Put-jiu itu mau tak mau nenek itu terheran-heran, tanyanya dengan tertawa, “Hei bocah kepala besar, apakah kau datang bersama anak kecil ini?”

“Betul,” jawab Oh Put-jiu dengan tertawa.

Perlahan Ban-lohujin membelai rambut Pui Po-ji, ucapnya lembut, “Sekali anak ini kubawa pergi, apakah kau kira dia akan pulang menemuimu dengan hidup?”

“Kukira takkan begitu,” jawab Oh Put-jiu dengan tertawa.

“Jika begitu, kenapa sama sekali kamu tidak cemas?” tanya pula si nenek.

Put-jiu menjawab dengan tersenyum, “Jika dia kau bawa pergi, tentu ada orang yang akan mencarimu untuk minta kembali anak itu. bila kau bunuh dia, dengan sendirinya juga ada orang akan menuntut balas padamu. Untuk apa aku merasa cemas?”

“Menuntut balas padaku?” kata Ban-lohujin dengan tertawa. “Ha, nenek reyot macam diriku memang sudah bosan hidup dan kuharapkan ada orang akan mencariku untuk membalas dendam, paling baik kalau aku dapat dibunuhnya agar aku tidak hidup merana sendirian di dunia fana ini. Cuma sayang, ai, selama berpuluh tahun ini, tidak sedikit orang yang mati di tanganku, sebaliknya tiada seorang pun berani menuntut balas padaku.”

“Orang lain tidak berani, orang ini pasti berani,” ucap Put-jiu dengan santai.

“Hahaha, jika kau pun kubunuh sekalian, siapa pula yang tahu bagaimana nasib anak ini di tanganku?” seru si nenek dengan tergelak. “Huh, anak kepala besar seperti dirimu ini tampaknya pintar, kenapa urusan kecil ini tidak kau pikir?”

Oh Put-jiu tersenyum, tambah acuh sikapnya, katanya, “Orang lain mungkin tidak tahu, tapi orang ini pasti tahu. Jika engkau tidak percaya, boleh saja kau coba.”

“Wah, caramu bicara, orang itu kau gambarkan sedemikian sakti, aku justru ingin tahu sesungguhnya tokoh macam apakah orang yang kau maksud itu?”

Mendadak Oh Put-jiu berdiri, dengan hati-hati ia mengeluarkan potongan ranting kayu itu, katanya, “Orang itu memotong ranting ini dengan pedangnya, boleh coba kau periksa.”

Si nenek menerima ranting kayu itu dan diamat-amati ke tepi api unggun, setelah memandang beberapa kejap, air mukanya yang semula tersenyum mendadak lenyap, lalu timbul rasa kejut dan jeri, ucapnya dengan parau, “Siapakah gerangan yang memiliki ilmu pedang setinggi ini? Jangan … jangan Ngo ….”

“Betul, ialah Ngo-sik-bang-cun-cu (nakhoda kapal layar pancawarna)!” tukas Oh Put-jiu dengan hambar.

Ban-lohujin menyurut mundur dua langkah, mendadak ia lepaskan Pui Po-ji, dengan kedua tangan ia kembalikan ranting kayu itu kepada Oh Put-jiu, bibirnya bergerak seperti mau bicara, tapi urung. Sekali tongkatnya mengentak, tubuhnya yang buntak itu terus melayang miring ke udara, hanya beberapa kali berkelebat dalam kegelapan, lalu menghilang.

Melihat orang sudah pergi jauh, segera Oh Put-jiu memburu ke arah P-ji, tapi baru melangkah ia lantas ambruk.

Kiranya ia tahu dirinya bukan tandingan si nenek, dalam keadaan putus asa ia mendapat akal, yaitu coba menggertak si nenek dengan nama nakhoda kapal layar pancawarna dengan memperlihatkan bekas tebasan pada ranting kayu itu.

Put-jiu memang cerdik, ia menduga pada bekas tebasan ranting kayu itu pasti terdapat tanda ilmu pedang yang mahatinggi dan mungkin dapat membuat gentar si nenek.

Usahanya ternyata berhasil, demi melihat ranting kayu itu, seketika terunjuk rasa jeri Ban-lohujin. Ia tidak tahu dunia persilatan Tionggoan baru saja kedatangan seorang jago pedang berbaju putih dari lautan timur, maka dengan sendirinya yang terpikir adalah nakhoda kapal layar pancawarna, ditambah lagi Oh Put-jiu lantas menyebut nama nakhoda itu, kontan nenek itu dibuat ketakutan dan cepat kabur.

Pada lahirnya saja Oh Put-jiu kelihatan tenang, padahal dalam hati juga sangat khawatir bilamana usahanya gagal, saking ketakutan hingga kedua kaki sama lemas. Maka begitu ia memburu maju seketika ia jatuh terduduk. Cepat ia merangkak bangun lagi, Po-ji diangkatnya terus dibawa lari cepat beberapa li jauhnya, habis itu barulah ia berani berhenti.

Di tengah malam gelap terlihat tempat ini adalah sebuah lereng bukit kecil, sekitar penuh batu padas tandus, dalam kegelapan malam terasa seram.

Oh Put-jiu mencari sebuah gua karang yang agak tinggi dan coba menyusup ke situ, lalu dibukanya Hiat-to Po-ji yang tertutuk.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: