Kumpulan Cerita Silat

05/01/2008

Duke of Mount Deer (03)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:44 pm

Duke of Mount Deer (03)
Oleh Jin Yong

“Tidak jadi masalah!” sahut si bocah yang tetap ugal-ugalan. “Kelak, meskipun kau berlutut dan menyembah padaku sampai ratusan kali bahkan dengan suara meratap-ratap, tetap saja aku tidak sudi menjadi muridmu. Kalau aku menjadi muridmu, berarti dalam hal apa pun aku harus menuruti kata-katamu, mana enak? Tidak! Aku tidak mau belajar ilmu silat!”

Mau Sip-pat mendongkol sekali. Hatinya juga mulai marah.

“Baiklah. Urusanmu sendiri mau belajar silat atau tidak. Tetapi kalau kau sampai tertangkap lawan dan disiksa sehingga hidup tidak mati pun tidak, waktu itu kau jangan menyesal!”

“Apa yang harus disesalkan? Lagipula, apa hebatnya belajar ilmu silat darimu? Buktinya kau bisa dililit oleh Su Siong begitu saja, dan ketika melihat dua bocah dari keluarga Bhok, kau langsung ketakutan. Aku tidak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak ketakutan seperti kau. Hal ini membuktikan bahwa bisa ilmu silat saja belum tentu hebat!”

Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat benar-benar meluap. Tanpa dapat mengendalikan emosinya lagi, dia melayangkan tangannya menampar pipi Siau Po keras-keras. Tetapi bocah itu bukannya menangis kesakitan malah tertawa terbahak-bahak. Benar-benar anak yang kuat, juga bandelnya tidak ketulungan!

“Nah, benar kan? Aku sudah membuka rahasia hatimu sehingga kau menjadi marah dan melampiaskan kekesalan pada diriku. Coba kalau kau benar-benar tidak takut, tentu kau tidak akan begini marah hanya karena ucapanku tadi!”

Sip-pat membungkam. Dia benar-benar kehabisan akal menghadapi bocah yang satu ini. Ditegur salah, dihajar kasihan. Ingin meninggalkannya begitu saja, dia tidak sampai hati. Padahal adatnya juga keras sekali, tetapi kali ini dia terpaksa mengekang diri.

“Huh!” Dia hanya mendengus satu kali, kemudian berdiri termangu-mangu.

Siau Po yang melihat keadaannya juga turut berdiam diri. Pikirannya melayang-layang, dia ingat ibunya di rumah pelesiran. Sejak mengenal Mau Sip-pat, dia bertekad untuk menjadi orang gagah, ternyata tidak mudah. Dia juga tahu hilang sudah kesempatan baginya untuk belajar silat, tapi dia tidak menyesal. Dia meraba-raba mukanya yang bengap. Darah di sudut bibirnya sudah kering. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, pikirnya dalam hati.

‘Tidak apa-apa aku tidak jadi belajar ilmu silat darimu. Yang penting aku bisa ikut terus mengembara. Pasti aku bisa memperhatikan gerak-gerikmu ketika kau berkelahi, apa aku tidak bisa menirunya sedikit demi sedikit? Bahkan aku bisa melihat gerakan musuh. Dengan demikian aku bukan hanya belajar ilmu silatmu saja, ilmu silat orang lain juga bias kucuri belajar. Dengan demikian kepandaian beberapa orang sekaligus, bukankah lama kelamaan aku bisa mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari padamu? Hm!’

Sementara itu, Mau Sip-pat merasa perutnya lapar sekali.

“Mari kita pergi!” katanya sambil langsung mengangkat tubuh Siau Po.

Siau Po tidak membantah. Mereka mencari tempat untuk beristirahat. Keduanya mengisi perut, membersihkan tubuh, mengganti pakaian juga mengoles obat.

Kemudian, untuk melanjutkan perjalanan, Sip-pat menyewa kereta. Kakinya terluka, gerakannya tidak leluasa. Kedua ekor kuda rampasannya ditinggalkan begitu saja. Dengan menumpang kereta, dirinya juga tidak mudah terlihat orang. Bukankah dia seorang pelarian dari kota Yang Ciu?

Tujuan mereka tetap utara. Pada suatu siang, mereka sampai di propinsi Soa Tang. Ketika mereka menempuh perjalanan, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, Siau Po melongokkan kepalanya. Dia melihat tiga kereta mendatangi dengan perlahan. Pada bagian depan kereta terdapat sehelai bendera kecil atau panji yang warna dasarnya putih dan tepiannya bersulamkan benang biru. Di tengah-tengahnya tertera huruf ‘Sou’ Persis sama dengan bendera kecil yang mereka lihat tempo hari. Tanpa berpikir panjang lagi, Siau Po segera membangunkan Mau Sip-pat yang sedang tidur.

“Coba lihat!”

Mau Sip-pat membuka matanya. Ketika melihat kereta dengan benderanya itu, wajahnya menyiratkan ketegangan. Sekejap kemudian, kereta itu telah melewati mereka dan terus melaju menuju selatan. Tampak Mau Sip-pat menghela nafas lega.

“Apakah yang lewat barusan juga kereta keluarga Bhok dari In Lam?” tanya Siau Po.

“Mengapa kau bisa mempunyai dugaan itu?”

“Karena aku melihat semangatmu seperti terbang melihat kereta itu. Itulah sebabnya aku bisa menduga demikian.”

“Kapan semangatku terbang? Jangan sembarangan mengoceh!” bentak Mau Sip-pat.

Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi Sip-pat menyadari bahwa suaranya rada bergetar.

“Kau tidak takut, aku justru sebaliknya,” sahut Siau Po.

“Apa yang kau takutkan?”

“Aku takut kau tidak sanggup menahan perasaan terkejut sehingga sakit parah,” sahut Siau Po seenaknya. “Bisa juga kau mati kaget. Kalau hal itu sampai terjadi, bagaimana dengan aku?”

“Celaka! Gawat!” Terdengar Mau Sip-pat menggerutu. Dia tidak menggubris ucapan Siau Po. Mungkin telinganya sudah kebal. Dia hanya menggumam seorang diri. “Keluarga Sou pun berangkat ke selatan. Pasti di sana telah terjadi sesuatu yang hebat!”

“Apa sebenarnya arti huruf ‘Sou’ itu?” tanya Siau Po penasaran.

“Di samping huruf ‘Sou’ masih ada tiga huruf lainnya, yakni huruf ‘Lau’, ‘Pui’ dan ‘Pek’. Mereka adalah nama keluarga yang menjadi Ke Ciang bagi keluarga Bhok. Sedangkan keluarga Bhok itu keluarga bangsawan, tingkat Kim Kok-kong.”

“Kim Kok-kong itu sejenis makhluk aneh atau hantu?”

“Tampaknya mulutmu memang harus dicuci biar bersih. Di dalam dunia kangouw, nama Kim Kok-kong bahkan lebih menciutkan nyali dari pada makhluk aneh atau hantu apa pun.”

“Oh, begitu rupanya.”

“Hm…” kata Mau Sip-pat. “Pada waktu Baginda Beng Tay-cou mengerahkan angkatan perangnya menentang kerajaan Goan, Bhok ongya, Bhok Eng telah membuat jasa besar, sebab dia berhasil merampas propinsi In Lam. Karena itu Sri Baginda mengangkatnya sebagai penguasa di wilayah In Lam turun temurun. Setelah dia meninggal, dia dianugerahkan gelar kehormatan Raja Muda Kim Lengong, sedangkan keturunannya mendapat gelar kehormatan Kim Kok-kong.

“Di zaman akhir pemerintahan Kerajaan Beng, ketika Kaisar Kui-ong menyingkir ke In Lam, Kim Kok-kong Bhok Tian Po dengan setia melindunginya. Kim Kok-kong bahkan mengajak Kui-ong menyingkir ke Birma.”

“Celakanya di sana Kui-ong dibunuh oleh orang jahat, sehingga Kim Kok-kong turut menjadi korban. Jarang ada panglima merangkap menteri yang demikian setia kepada junjungannya.”

“Oh…. Kalau begitu yang dipanggil loya Bhok Tian Po itu merupakan cucu Bhok Eng seperti yang dikisahkan dalam cerita Eng Liat Toan. Memang Bhok ongya itu gagah sekali dan menjadi panglima kesayangan Baginda Raja.”

Siau Po dapat mengatakan hal itu karena dia sudah terlalu sering mendengar legenda-legenda tukang cerita seperti Eng Liat Toan yang di dalamnya dikisahkan para pemeran utaraanya, yakni Bhok Eng, Ci Tat, Siang Oi Cun, dan Oh Toa Hay. Mereka semua terdiri dari para panglima yang perkasa.

“Aih! Kenapa kau tidak menjelaskannya dari semula?” gerutu Siau Po seakan menyalahkan Sip-pat.

“Kalau aku tahu keluarga Bhok dari In Lam itu masih keturunan Bhok ongya, Bhok Eng. Tentu aku akan bersikap lebih sopan sedikit. Coba kau ceritakan orang-orang seperti apakah keempat keluarga Lau, Pek, Pui dan Sou itu?”

“Mereka adalah para Ke Ciang dari keluarga Bhok. Leluhur mereka turut mengambil bagian ketika Kim Leng-ong menaklukkan In Lam dan ketika Kim Kok-kong Bhok Tian Po melindungi raja menyingkir ke Birma, hampir seluruh keturunan para Ke Ciang itu ikut tewas. Hanya beberapa yang sempat meloloskan diri. Di kemudian hari keturunan dari keempat keluarga itu dihadiahkan masing-masing sebuah panji kecil berwarna putih dengan alas biru oleh Tan Ho cu dari Tian-te hwe sebagai lambang. Siapa pun tokoh persilatan yang melihat panji kecil itu, wajib memberikan bantuan atau pun melindungi mereka. Itulah sebabnya aku juga menaruh hormat melihat panji kecil itu. Bukan takut, hanya sungkan. kalau aku sampai membuat kesalahan, tentu aku akan menjadi orang terhina di dunia ini!” sahut Mau Sip-pat yang tampaknya senang menerangkan secara panjang lebar.

“Oh, begitu. Memang benar, bila bertemu dengan keturunan panglima atau menteri yang setia, sudah selayaknya kita berlaku hormat.”

“Sejak berkenalan dengan kau, baru kali ini aku mendengar ucapan yang tepat!” kata Sip-pat sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Aku sendiri, entah kapan pernah mendengar kau mengucapkan kata-kata yang pantas seperti sekarang ini!” sahut Siau Po tidak mau kalah. “Siapakah yang tidak menghormati Bhok ongya yang hanya dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan dengan sebatang panah api dapat membunuh gajah?”

Mau Sip-pat kebingungan mendengar ucapannya. Diperhatikannya bocah itu lekat-lekat.

“Apa yang dimaksud dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan dengan sebatang panah api dapat membunuh gajah?”

Siau Po tertawa lebar.

“Kau cuma tahu bagaimana harus menghormati keluarga Bhok, tetapi kau tidak tahu sampai di mana kegagahannya. Tahukah kau ada hubungan apa antara Bhok ongya dengan Sri Baginda Raja?”

“Siapa yang tidak tahu bahwa dialah panglimanya Raja.”

“Panglima? Ya, ya betul. Memang panglima,” kata Siau Po dengan nada mengejek. “Panglima juga bukan sembarang panglima! Kau tahu, di bawah raja ada enam orang Ong atau Raja Muda. Tentu-nya kau pernah mendengar Tiong San-ong Ci Tat serta Kay Peng-ong Siang Gi Cun bukan? Tetapi tahukah kau siapa Raja Muda lainnya?”

Sip-pat paling buta soal riwayat kerajaan. Dia memang pernah mendengar orang menyebut nama Ci Tat maupun Siang Gi Cun, tetapi dia tidak tahu bahwa mereka juga termasuk Raja Muda. Apalagi bahwa mereka mendapat gelar Tiong San-ong dan Kay Peng-ong.

Lain halnya dengan Siau Po yang sering mendengar legenda atau sejarah si tukang cerita. Dia menatap Mau Sip-pat dengan perasaan puas karena menganggap dirinya lebih banyak tahu.

“Empat Raja Muda lainnya ialah Ki Yang-ong Lie Bun Tiong, Leng Ho-ong Teng Ji, Tong Au-ong Tung Ho yang merupakan sahabat karibnya Tay cou, tapi usianya lebih tua. Teng Ji sudah lama mengenal Sri Baginda. Dia selalu mengambil bagian dalam setiap peperangan. Lie Bun Tiong adalah keponakan luar Sri Baginda. Sedangkan Bhok Eng adalah anak angkatnya, karena itu dia diijinkan memakai she rangkap.”

“Oh… begitu rupanya! Lalu apa artinya terompet tembaga dan panah api yang kau katakan tadi?” tanya Sip-pat.

“Belakangan hanya tinggal Raja Muda Lian-ong dari In Lam dan Kui Ciu yang belum tertaklukkan. Liang-ong itu bernama Colikuluhua. Dia keponakan Goan Sun-te, yakni Kaisar terakhir dari kerajaan Goan.”

Sebetulnya Siau Po hanya mendengar kisah yang dituturkan oleh tukang cerita. Nama Raja Muda itu terlalu aneh sehingga dia tidak dapat mengingatnya. Karena itu dia sembarangan menciptakan sebuah nama, padahal nama Raja Muda itu Pacalawaerlmi. Untung saja Mau Sip-pat memang tidak tahu apa-apa.

“Tay cou gusar sekali karena Raja Muda itu masih belum mau takluk juga. Akhirnya dia mengirim pasukan perang besar berjumlah tiga puluh laksa jiwa untuk menumpasnya. Panglimanya ialah Bhok ongya yang bersama Kwe Eng dan Yu Tek serta Lie Giok Eng dari In Lam. Angkatan perang itu bertemu dengan pasukan Goan yang dipimpin Jenderal Talima. Panglima itu memiliki tubuh yang tingginya mencapai sepuluh tombak dan kepalanya sebesar kuali….”

“Mana ada orang yang tingginya sepuluh tombak?” tukas Mau Sip-pat.

Siau Po mencibirkan bibirnya.

“Orang Tatcu memang jauh lebih jangkung dari pada bangsa kita, bangsa Han,” katanya tak mau kalah. “Jenderal Talima mengenakan seragam besi dan bertombak panjang. Di tepi sungai Pek Sek di wilayah Tiok Ceng itu, dia berteriak bagai guntur. Kemudian terdengar suara jeburan air dan percikannya muncrat ke mana-mana. Kau tahu apa sebabnya?”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

“Suara tawa itu terdengar sampai ke tepi sungai lainnya. Belasan prajurit Beng tak sanggup mendengar suara itu. Mereka terkejut setengah mati dan roboh terjungkal dari kudanya kemudian terjebur sungai. Bhok ongya sempat kebingungan. Gawat kalau suara itu diperdengarkan terus, bisa-bisa seluruh tentaranya roboh dan kalah dengan mengenaskan.Dia segera mencari akal untuk mengatasinya. Begitulah, ketika Talima mau membuka mulut lagi, Bhok ongya segera memanahnya. Dia lihay sekali, dengan sebat dia menghindar. Memang dia berhasil menyelamatkan diri, tapi di belakangnya terdengar suara jeritan saling susul menyusul. Jenderal Talima terkejut setengah mati. Kiranya anak panah Bhok ongya telah menembus badannya puluhan perwira sehingga tewas seketika.”

“Ah, mana mungkin ada tenaga yang demikian tangguh,” kata Sip-pat.

“Tapi kau harus ketahui, Bhok ongya merupakan bintang di langit yang menjelma ke dunia untuk mendampingi Tay cou. Jadi dia bukan manusia sembarangan. Panahnya saja bernama Coan In-ciang (Panah penembus langit).”

“Kemudian bagaimana?” tanya Sip-pat yang sebetulnya ragu-ragu dengan cerita itu.

“Talima merasa penasaran. Dia balas memanah, tapi Bhok ongya berhasil menangkap panah itu dengan kedua jari tangannya. Tepat pada saat itu, di angkasa terbang serombongan burung belibis yang mendatangi. Rombongan burung itu terbang di atas kepala mereka. Bhok ongya mengatakan akan memanah mata sebelah kiri burung yang ketiga. Jenderal Talima tidak percaya. Untuk memanah burung yang ketiga saja sukar, apalagi matanya yang sebelah kiri. Bhok ongya segera memanah, bukan ke arah burung tetapi ke arah Jenderal Talima.”

“Bagus!” seru Sip-pat sambil menepuk pahanya. “Itu yang dinamakan siasat bersuara di timur, menyerang di barat!”

“Masih terhitung bagus nasib Jenderal Talima. Mata kirinya tertembus panah, tubuhnya langsung terjungkal di atas tanah. Dengan demikian panah kedua dan ketiga hanya mengenai bawahannya. Delapan belas perwira orang Tatcu berbulu tubuhnya. Pasukan tentara Beng menamakan mereka Mau-ciang dan Mau-peng, yakni prajurit dan tentara berbulu. Akhirnya pihak Tatcu kehilangan delapan belas orangnya. Lantas ada sebutan yang mengatakan dengan tiga batang anak panah, Bhok ongya membunuh Mau Sip-pat!”

Mau Sip-pat langsung tertegun. “Apa katamu?” Hampir dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Mau Sip-pat yang diucapkan Siau Po artinya ‘delapan belas si berbulu’ tapi nadanya sama dengan namanya sendiri.

Siau Po memberikan penjelasan sampai beberapa kali. Akhirnya Mau Sip-pat tertawa terbahak-bahak. Biar bagaimana, itu merupakan sindiran baginya. Mau Sip-pat mendelikkan matanya sambil menggerutu.

“Ngaco! Ada juga Bhok ongya memanah ke seberang, yang kena Wi Siau Po.” Siau Po tertawa terbahak-bahak. . “Waktu peristiwa itu terjadi, aku masih belum lahir, bagaimana Bhok ongya bisa memanah aku?” Sip-pat juga tertawa.

“Lalu bagaimana kelanjutannya setelah panglima musuh terpanah mata kirinya?”

“Tentara musuh jadi kalang kabut setelah panglima dan perwira-perwiranya terluka. Bhok ongya ingin mengejar ke seberang sungai. Tiba-tiba dari seberang terdengar suara riuh terompet. Rupanya bala bantuan musuh telah tiba. Mereka langsung menyerang dengan anak panah. Waktu itu malam telah tiba. Bhok ongya kembali mencari akal. Empat panglima bawahannya diperintahkan membawa pasukan tentara ke hilir. Dengan diam-diam mereka menyeberang secara memutar. Sesampainya di sana, mereka diperintahkan untuk membunyikan terompet tembaga dengan riuh.”

“Keempat panglima itu pasti Lau, Pek, Pui dan Sou, bukan?”

Sebetulnya Siau Po tidak tahu siapa keempat panglima itu, tetapi dia tidak ingin Mau Sip-pat menebaknya dengan tepat, karena itu dia berkata:

“Bukan. Mereka adalah Ciu, Go, Tan dan Ong. Sedangkan Lau, Pek, Pui dan Sou selalu mengiringi Bhok ongya!”

“Oh, begitu,” sahut Sip-pat yang kena dibodohinya.

“Sampai di situ, Bhok ongya menitahkan si Lau berempat memberi titah kepada para tentaranya agar berteriak-teriak dengan bising. Di lain pihak, seribu prajurit telah disiapkan dan diperintahkan menyeberangi sungai dengan rakit serta sampan.”

“Musuh melihat mereka, yang mana lantas memanah secara serabutan. Wah, entah berapa banyak ikan dan udang yang mati terpanah!”

“Ngaco! Ikan masih bisa dipanah, udang mana mungkin? Ukurannya terlalu kecil!”

“Kalau kau tidak percaya, coba kau ke pasar beli ikan, udang dan kepiting, kau gantungkan dengan disusun lalu kau panah, coba mati apa tidak?”

“Sip-pat tahu Siau Po hanya sembarangan mengoceh, tetapi dia tetap ingin tahu kelanjutannya.

“Lalu bagaimana akhirnya?”

“Akhirnya tentara Bhok ongya mengambil delapan belas ekor ikan yang terpanah. Ikan-ikan itu dipanggang lalu dimakan beramai-ramai, habis!” sahut si bocah yang cerdik.

“Dasar setan cilik, kutu kupret! Kau memang pandai menyindir orang dengan cerita yang diputar balikkan!” gerutu Mau Sip-pat sambil tertawa. “Hayo cepat katakan bagaimana keterusannya mengenai Bhok ongya dapat menyeberangi sungai?”

“Bhok ongya menunggu sampai si Ciu dan kawan-kawan sudah sampai di belakang musuh dan membunyikan terompet tembaga, baru dia menyeberangi sungai. Bersama sisa pasukannya, dia naik rakit dan sampan, tangan masing-masing menggenggam sebuah perisai, dengan demikian panah musuh tidak bisa mengenai mereka. Sementara itu bangsa Tatcu sudah kekurangan anak panah karena tadinya terlalu dihambur-hamburkan. Mereka kena dilabrak sehingga lari kocar-kacir. Di antara musuh ada seseorang yang rebah di atas punggung kuda serta dilindungi para perwira. Diduga, dialah Jenderal Talima. Bhok ongya mengejar sambil menyerukan agar Talima menyerah, tetapi pihak musuh menyangkal bahwa orang itu adalah Jenderal Talima. Namun ia tetap dapat dikenali karena di mata kirinya masih menancap anak panah. Kemudian orang itu diringkus oleh si Lau berempat. Dengan demikian bangsa Tatcu pun menderita kekalahan. Banyak prajuritnya yang mati, sebagian di darat, sebagian lagi di air. Yang di air menjadi santapan ikan-ikan….”

“Lalu?”

“Kemudian Bhok ongya dari Kiok Ceng maju terus sampai di luar tembok kota raja. Musuh menggantungkan pengumuman agar peperangan ditunda. Permintaan itu diterima baik karena tidak ingin timbulnya banyak korban. Malam harinya, ketika Bhok ongya sedang membaca kitab Cun Ciu, tiba-tiba terdengar suara yang bising dan aneh dari dalam kota. Bukan suara harimau ataupun serigala, Bhok ongya terkejut setengah mati sehingga berteriak….”

“Suara apa itu?” tanya Sip-pat.

“Coba kau tebak!”

“Tentunya suara jeritan Jenderal Talima dan anak buahnya!”

“Bukan. Bhok ongya segera mengadakan rapat darurat. Lau Ciang Kun diperintahkan membawa serdadunya yang berjumlah tiga ribu orang malam itu juga untuk mencari tikus sawah. Siapa yang tidak berhasil mendapatkan akan diberi hukuman, sebaliknya yang bisa mendapatkan akan diberi hadiah….”

“Untuk apa tikus sawah?” tanya Sip-pat bingung.

“Bhok ongya seorang ahli siasat perang. Rahasianya tidak boleh sembarangan dibeberkan. Orang pun tidak boleh bertanya apa-apa. Kalau dia sampai marah, seandainya kau adalah bawahannya, maka delapan belas batok kepalamu akan diremukkan seketika.”

“Masa bertanya saja tidak boleh?”

“Tidak dalam keadaan seperti itu. Setelah itu, Bhok ongya menitahkan Pek ciangkun membawa dua laksa serdadunya pergi ke tembok kota sejauh lima li untuk menggali tanah sepanjang satu li. Dalamnya tiga tombak. Penggalian itu harus sudah selesai dalam waktu satu malam. Kemudian kubu-kubu pertahanan dimundurkan sejauh satu li, jadi jaraknya dengan tembok kota kurang lebih enam li.”

“Aneh sekali! Untuk apa lubang sepanjang dan sedalam itu?” .

“Hm! Kalau siasat perang Bhok ongya dapat diterka olehmu, maka Bhok ongya bisa berubah menjadi Mau Sip-pat dan Mau Sip-pat berubah saja menjadi Bhok ongya.”

Sip-pat membungkam. Lagi-lagi Siau Po menyindirnya.

“Keesokan subuhnya, kedua panglima pulang dengan membawa laporan masing-masing, bahwa sudah didapatkan tikus sawah sebanyak satu laksa lebih, dan penggalian tanah pun sudah selesai. Bhok ongya mengatakan ‘bagus!’ lalu beberapa mata-matanya dikirim untuk mengintai gerak-gerik musuh. Siang harinya, di dalam kota terdengar suara riuh rendah, terutama suara tambur perang. Si mata-mata segera lari pulang menyampaikan berita. Tingkahnya panik sekali dan berkali-kali menyerukan celaka. Bhok ongya menjadi gusar dan membentaknya sambil menggebrak meja. Dia menanyakan apa yang telah terjadi. Mata-mata itu segera melaporkan bahwa musuh telah membuka gerbang sebelah utara dan dari sana muncul beberapa ratus kerbau siluman. Dikatakan siluman sebab hidungnya panjang, kawanan binatang itu sedang menyerbu datang.”

“Binatang apa itu?” tanya Bhok ongya tersenyum. “Mustahil ada kerbau berhidung panjang. Coba kau selidiki sekali lagi. Cepat!”

Mata-mata itu mengiakan lalu berlalu menjalankan perintah Bhok ongya. Walaupun memberikan perintah demikian, tetapi Bhok ongya tetap memimpin pasukannya maju ke depan. Dia mengawasi dari kejauhan sehingga dia dapat melihat debu-debu beterbangan dari pihak musuh. Setelah itu beberapa ratus ekor ‘kerbau berhidung panjang’ seperti yang dilaporkan oleh mata-matanya datang menerjang. Kiranya yang dimaksud adalah ratusan ekor gajah yang di bagian kepalanya dikaitkan golok yang tajam. Gajah-gajah itu menerjang datang seperti kalap, sebab di bagian ekornya diikat obor api yang menyala! Liang-ong membeli beberapa ratus ekor gajah itu dari Birma dan menjadikannya pasukan gajah api untuk menyerbu lawan. Obor itu terbuat dari kayu cemara, saking kagetnya gajah-gajah itu kabur ketakutan. Gajah binatang yang besar dan kuat, kulitnya tebal, anak panah hanya dapat melukainya karena sulit membunuhnya. Kalau tentara Beng sampai kena diserbu pasukan gajah itu, mereka pasti akan menderita kekalahan. Malah para tentara Beng yang asalnya dari Utara itu, boleh dibilang mereka tidak pernah melihat gajah, itulah sebabnya hati mereka pun tercekat.” “Pasukan gajah memang hebat sekali!” “Tetapi Bhok ongya tidak gentar. Bahkan sikapnya tenang sekali.

Begitu pasukan gajah itu mendekat, Bhok ongya segera memerintahkan bawahannya untuk melepaskan semua tikus hasil tangkapan tadi malam. Dalam sekejap mata ribuan bahkan laksaan ekor tikus sawah lari serabutan ke segala penjuru. Gajah tidak takut harimau, singa ataupun beruang, tetapi takut tikus. Melihat binatang kecil yang suka seradak-seruduk itu, kawanan gajah tersebut jadi terkejut. Semua lantas membalikkan tubuhnya menerjang ke arah pasukan bangsa Tatcu sendiri. Kacaulah tentara musuh. Sebaliknya, setiap gajah yang sampai di lubang penggalian, semua tercebur roboh tanpa berdaya. Setelah itu Bhok ongya mengeluarkan perintah lagi, yakni melepaskan panah api. Dengan demikian di udara segera terlihat ribuan percikan api yang meleset ke arah musuh.”

“Bagaimana panah bisa berapi?” tanya Mau Sip-pat penasaran. Siau Po tersenyum.

“Namanya saja panah api, sebetulnya bukan panah. Sejenis mesiu yang ditembakkan dengan meriam dan terselubung sehingga suaranya bising dan melesatnya jauh sekali. Gajah-gajah jadi ketakutan dan lari serabutan. Sementara itu Bhok ongya memerintahkan pasukannya menyerbu masuk ke kota raja pihak musuh. Saat itu Lian-Ong dan permaisurinya sedang berpesta, mereka sedang menantikan berita kemenangan dalam peperangan tersebut. Tidak disangkanya bahwa yang datang menyerbu justru tentara musuh. Bukan main terkejutnya hati Lian-Ong dan permaisurinya. Dia berteriak sekeras-kerasnya “Kuluaputuliwa! Kuluaputuliwa!”

“Apa artinya?” tanya Sip-pat kebingungan.

“Tentu saja yang digunakan adalah bahasa bangsa Tatcu yang artinya ‘Celaka, pasukan gajah berontak!’ Dengan panik dia menyeret tangan permaisurinya melompati tembok kota dan lari. Dia melihat sebuah sumur dan tanpa berpikir panjang lagi dia langsung terjun ke dalamnya. Ternyata lubang sumur itu terlalu kecil sehingga hanya sepasang kakinya yang masuk, sedangkan tubuhnya tertahan di luar. Dengan demikian, Bhok ongya jadi mudah meringkusnya.”

“Bocah, ceritamu bagus sekali!” kata Mau Sip-pat sambil tersenyum. Dia tidak perduli cerita Siau Po benar atau tidak, yang penting hatinya merasa senang dan perjalanan pun tidak begitu membosankan.

Mau Sip-pat menggunakan kesempatan ini untuk menceritakan segala sesuatu yang berkaitan tentang dunia kangouw kepada Siau Po, terutama mengenai apa saja yang tidak pantas dilakukan.

“Kau tidak mengerti ilmu silat, tidak mungkin orang melakukan kekejaman atas dirimu, tetapi jangan sekali-sekali kau berpura-pura, akibatnya malah gawat!”

Siau Po hanya tersenyum. “Aku kail Siau Pek-liong Wi Siau Po, aku bisa menyelam dalam air selama tiga hari tiga malam dan makan ikan serta udang mentah-mentah.”

Sip-pat tertawa. Sahabat ciliknya itu memang lucu sekali.

Sepanjang jalan, tidak pernah mereka bertemu lagi dengan keluarga Bhok. Selama itu pula luka di kaki Mau Sip-pat berangsur-angsur sembuh. Setibanya di Pe King, yakni kota raja, Mau Sip-pat kembali memperingatkan Siau Po agar berhati-hati. “Aku tidak takut, kaulah yang harus waspada!”

Mereka menuju ke Se Sia, sebelah barat kota. Kemudian mereka masuk ke sebuah rumah makan. Ketika mereka sedang menikmati hidangan, mereka melihat masuknya dua tamu lain. Yang satu sudah tua, usianya sekitar enam puluh tahun lebih. Sedangkan yang satunya, bocah berusia sebelas atau dua belas tahun.

Siau Po merasa heran, karena dia melihat pakaian mereka aneh sekali. Sip-pat yang sudah banyak pengalaman segera mengetahui bahwa kedua orang itu merupakan para thaykam (pelayan istana yang dikebiri). Si thaykam tua berwajah kekuning-kuningan, pucat dan tubuhnya bungkuk. Tak henti-hentinya dia mengeluarkan suara batuk. Tampaknya orang itu sedang menderita sakit. Si thaykam cilik memapahnya. Mereka duduk di meja sebelah timur.

“Bawakan arak!” kata si thaykam tua yang ternyata suaranya tajam sekali.

Pelayan bergegas datang dan melayani dengan hormat. Tampaknya dia gentar menghadapi kedua thaykam tersebut. Si thaykam tua lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dan membukanya. Isinya semacam bubuk. Dia mengendus bubuk itu lalu dengan jari tangan diambilnya sedikit kemudian dimasukkan ke dalam arak. Perlahan-lahan dia meneguk araknya itu.

Tak lama kemudian, mendadak thaykam itu menggigil seperti orang kedinginan. Pelayan rumah makan itu terkejut setengah mati dan menanyakan dengan panik.

“Ada apa? Ada apa?”

“Minggir!” hardik si thaykam cilik. “Buat apa kau mengoceh di sini?”

Kedua belah tangan thaykam tua itu memegangi meja. Giginya gemerutukan, tubuhnya semakin bergetar. Bahkan sejenak kemudian, meja pun ikut bergetar, sampai-sampai cawan arak dan sumpit berjatuhan ke lantai.

Si cilik jadi kebingungan. “Makan obat lagi…” katanya. “Kongkong, makan obat lagi saja!”

“Tidak usah, tidak usah!” sahut si thaykam tua. Suaranya masih setajam tadi, tapi wajahnya menyiratkan ketegangan.

Si thaykam cilik berdiri mematung dengan tangan masih menggenggam bungkusan obat. Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang ramai,. muncullah tujuh orang laki-laki bertubuh kekar. Mereka semua bertelanjang dada. Tubuh mereka berminyak, dari muka sampai ke kaki. Tubuh mereka juga berotot, sedang di bagian dada dipenuhi bulu hitam;. Tangan mereka kasar dan besar-besar. Mereka segera duduk memenuhi dua buah meja dan berteriak meminta arak serta daging. “Cepat!” teriak beberapa orang. “Ya! Ya! Tuan ingin memesan sayur apa saja?” “Dasar budek!” bentak salah satunya. Bahkan seorang rekannya yang lain langsung menyambar pinggang pelayan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Pelayan itu meronta-ronta sambil berkaok-kaok.

Ketujuh orang itu tertawa terbahak-bahak, kemudian tubuh pelayan itu dilempar keluar sehingga jatuh terbanting dan menjerit kesakitan. Orang-orang itu kembali menertawakannya.

“Itulah ilmu gulat!” bisik Sip-pat kepada Siau Po. “Setelah lawan tercekal kemudian diangkat ke atas, lalu dibanting dengan keras agar lawan tidak bisa segera membalas menyerang.”

“Apakah kau mengerti ilmu itu?” tanya Siau Po penasaran.

“Tidak! Ilmu semacam itu tidak ada gunanya bagi seorang ahli silat.”

“Dapatkah kau melawan mereka?”

“Tidak ada gunanya!”

“Seorang diri melawan mereka bertujuh, pasti kau kalah.”

“Mereka bukan tandinganku!”

Sifat ugal-ugalan Siau Po timbul lagi, tiba-tiba dia berteriak kepada ketujuh orang itu.

“Eh, sahabat! Kawanku ini mengatakan bahwa kalian bertujuh bukan tandingannya!”

Mau Sip-pat terkejut setengah mati.

“Jangan mengacau!” cegahnya.

Sip-pat tidak tahu bahwa hati Siau Po penasaran sekali melihat pelayan itu dibanting tanpa melakukan kesalahan apa-apa. Dia merasa ketujuh orang itu perlu diajar adat.

Mendengar teriakannya, ketujuh orang itu menolehkan kepalanya serentak.

“Eh, bocah cilik. Apa yang kau katakan barusan?” tegur salah satunya.

“Kata kawanku ini, seenaknya kalian menghina pelayan itu, kelakuan kalian itu bukan perbuatan orang-orang gagah!” sahut Siau Po. “Kalau kalian memang berani, lawanlah dia!”

“Benarkah katamu itu, manusia hina?” salah seorang lantas maju memukul.

Sebetulnya Mau Sip-pat tidak berniat mencari keributan, tetapi hatinya panas melihat kegarangan orang-orang itu. Apalagi dia memang benci sekali kepada bangsa Boan ciu, teguran itu pun membuatnya gusar. Dia langsung mengangkat tangannya menangkis sehingga orang ituu menjerit kesakitan karena tulang lengannya patah.

Seorang lainnya menjadi gusar. Dia langsung menerjang ke arah Sip-pat untuk melakukan serangan, tetapi dia langsung disambut dengan sebuah tendangan yang mengenai perutnya, tubuhnya langsung terpental dan rubuh bergulingan.

Kelima orang lainnya langsung kalap. Mereka mencaci maki dengan kalang kabut. Serentak mereka maju menerjang. Sip-pat menyambut dengan gerakan Kim Na hoat, dengan mudah dia dapat merobohkan mereka. Salah satu di antaranya langsung diangkat ke atas, diputar-putar dan baru kemudian dilemparkan ke depan. Kepalanya jatuh karena posisi jatuhnya memang di bagian kepala dulu.

Seorang lainnya maju menerjang tapi dia juga disambut dengan sebuah tendangan di dadanya, nafasnya jadi sesak kemudian memuntahkan darah segar. Ketika ada lagi yang maju, Sip-pat menghajar lengan orang itu sampai patah!

Tanpa menunda waktu lagi, Sip-pat segera menarik tangan Siau Po.

“Lagi-lagi kau menimbulkan keonaran, mari kita pergi!”

Tentu saja Siau Po mengerti. Dia pun mandah saja ditarik oleh Mau Sip-pat. Di luar dugaan, tepat di depan pintu rumah makan itu mereka sudah dihadang oleh si thaykam tua.

Sip-pat mengulurkan tangannya dengan maksud mendorong agar orang memberi jalan untuknya, tetapi saat tangannya menyentuh tubuh orang itu, hatinya langsung tercekat. Tubulmya tergetar kemudian terhuyung-huyung. Kakinya sampai menyurut mundur dua tindak. Pinggangnya membentur meja sehingga terbalik. Bahkan Siau Po sampai ikut terpental dan jatuh ke dalam gentong air!

Si thaykam tua sendiri masih berdiri tegak di tempat semula. Hanya suara batuknya yang tidak berhenti-henti.

Saat itu juga, Mau Sip-pat menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi. Bahkan mungkin mengerti ilmu gaib. Kalau tidak, tak mungkin dia kena terhantam balik oleh tenaga pantulannya sedemikian rupa. Mau Sip-pat dapat merasakan gelagat yang kurang baik, cepat-cepat dia mengangkat tubuh Siau Po dari dalam gentong air terus membawanya lari lewat bagian belakang rumah makan itu. Baru saja melangkah tiga tindak, dia sudah terkejut setengah mati. Tahu-tahu thaykam tua itu sudah menghadang di hadapannya.

Suara batuknya masih belum berhenti. Mau Sip-pat penasaran sekali. Dia menabrak thaykam tua itu, namun kembali tubuhnya terpental ke belakang sehingga dia harus berjungkir balik di udara untuk menjaga keseimbangan agar tidak terguling jatuh. Sementara itu, tangannya masih tetap membopong Siau Po.

Baru saja kaki Mau Sip-pat mendarat di atas tanah, dia merasa punggungnya seperti tersentuh sedikit. Di saat dia. bermaksud menepis tangan itu, keadaan sudah kasip. Tubuhnya langsung roboh, untung saja dia jatuh di atas tubuh kedua lawannya tadi sehingga tidak sampai menderita sakit.

Kedua orang Boan ciu itu patah kakinya, tapi tangannya. masih kuat sebagaimana halnya para pegulat. Mereka langsung mencekal Mau Sip-pat erat-erat. Sip-pat mencoba mengadakan perlawanan, tetapi tenaganya punah karena totokan si thaykam tua.

Tubuhnya ditekan ke bawah dalam posisi tengkurap sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa, tetapi telinganya masih mendengar suara batuk si thaykam tua yang tidak berhenti-henti.

“Kau terus menyuruhku minum obat, berarti kau memang menginginkan aku cepat mampus, bukan?” bentaknya pada si thaykam cilik. “Kalau kau menambah setengah bungkus lagi saja, aku bisa mati konyol. Aih! Anak, kau benar-benar ceroboh!”

“Anak… anak benar-benar tidak tahu,” sahut si thaykam kecil gugup. “Lain kali tidak akan terulang lagi!”

“Lain kali?” kata si thaykam tua sambil tertawa getir. “Anak, kau toh tahu hidupku tidak akan lama lagi!”

“Kongkong, siapa orang ini? Mungkinkah salah seorang pemberontak, atau pembangkang Kerajaan?”

Si thaykam tidak menyahut, dia malah bertanya kepada rombongan pegulat.

“Kalian ini fuku dari mana?”

“Kami dari istana The ongya. Terima kasih, Kongkong. Apabila tidak ada bantuan dari Kongkong, kami pasti sudah kehilangan muka.”

“Hm! Hanya kebetulan saja!”

Orang Boan ciu gemar bergulat, setiap Pwe lek atau pangeran biasa memelihara pegulat yang dinamakan fuku. Begitu pula The ongya.

“Jangan menimbulkan keributan lagi. Sekarang kalian bawa laki-laki serta bocah ini ke Tay lwe, Siang Sian Kam. Katakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Hay kongkong!”

“Baik, Kongkong,” sahut beberapa fuku itu. Mereka segera membereskan mayat-mayat teman mereka dan dibawanya sekalian bersama Mau Sip-pat dan Siau Po.

“Mengapa kau masih diam saja?” tanya thaykam kepada bocah cilik itu. “Bukannya cepat panggilkan joli, kau kan tahu aku tidak bisa berjalan!”

“Ya, ya, Kongkong!” sahut si thaykam cilik sambil berlari keluar.

Thaykam tua itu kembali mendekam di atas meja sambil terbatuk-batuk. Sementara itu, Siau Po dan Mau Sip-pat benar-benar tidak berdaya. Malah Siau Po kena batunya, ketika dia berusaha meloloskan diri, tahu-tahu betisnya terserang sebatang sumpit sehingga dia terguling jatuh. Dalam hati dia mencaci maki.

‘Bapaknya Jin! Setan tua itu pasti menggunakan ilmu siluman! Mungkin dia memang jelmaan siluman kura-kura yang hampir mampus!’ Sebetulnya Siau Po memang ingin kabur secara diam-diam, dia ingat tukang cerita di tempat tinggalnya sering mengatakan ‘Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar’.

Tidak lama kemudian, si thaykam cilik sudah kembali dengan sebuah joli. Kemudian si thaykam tua digotong pergi, batuknya masih belum reda juga.

Di lain pihak, Siau Po dan Mail Sip-pat juga diangkut ke atas joli lainnya. Tubuh mereka diikat erat-erat dan mulut mereka juga disumpal dengan kain. Bahkan Siau Po sudah dihajar beberapa kali karena tadinya mulut bocah itu tidak hentinya memaki-maki.

Joli itu ditutup dengan tirai hitam sehingga orang di dalamnya tidak dapat melihat apa-apa. Beberapa kali joli dihentikan, kemudian terdengar suara orang bertanya, namun akhirnya joli itu diberi jalan setelah salah seorang fuku menjawab.

“Kami mendapat perintah Hay kongkong dari Siang Sian Kam!”

Siau Po bingung. Dia tidak tahu apa itu Siang Sian Kam. Tapi dia dapat menduga bahwa thaykam tua itu raempunyai pengaruh yang kuat di dalam istana kerajaan Boan.

Seumur hidupnya, baru dua kali Siau Po naik joli. Yang pertama ketika dia ikut dengan ibunya bersembahyang di kelenteng. Saat itu dia hampir tertidur pulas, ia merasa joli dihentikan dan salah seorang fuku berkata.

“Orang yang dibutuhkan Hay kongkong sudah tiba!”

“Ya,” sahut seorang bocah cilik. “Hay kongkong sedang beristirahat. Biarkan saja orang itu menunggu di sini!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: