Kumpulan Cerita Silat

04/01/2008

Perguruan Sejati (02)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:25 pm

Perguruan Sejati (02)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Tiga penunggang kuda melarikan tunggangannya demikian cepat, dan menghentikan mendadak sekali. Mau tak mau kuda itu mengangkat kaki depannya, debu beterbangan. Empat pengawal memaki-maki, tapi tak dihiraukan tiga pendatang itu, serentak merentangkan tangan, senjata bertebaran menembus debu, pengawal tidak siap sedia akan seraangan mendadak ini.

Antaranya dua segera terjungkal dari kuda, melihat serangannya berhasil tiga pendatang menghunus senjata menerjang kearah kereta. Kejadian ini berlangsung sekejap mata.

Siaw Eng dan Siaw Hong serentak menghadang dua penyerang, sedangkan yang seorang menggunakan kesempatan lompat dari kudanya menerjang kepintu kereta. Matanya memancar tajam, saat ini Tiong Giok mengenali penyerang ini, bukan lain pemuda she Yo yang dijumpainya dipenginapan Hong Sing. Pemuda she Yo itu, segera membuka pintu kereta matanya memancarkan napsu membunuh. Tiong Giok tahu kedatangannya tidak bermaksud baik, tapi sebelum ia bisa berbuat apa-apa, merasakan pundaknya dicengkeram orang dan sedikitpun idak bisa bergerak lagi. Adapun manusia yang mematikan jalan darahnya itu Pang Hui adanya! Dikata cepat juga tepat, tiba-tiba saja tubuhnya pemuda she Yo itu gemetar dan pedang ditangannya menjadi jatuh. Lalu terjungkel dari kereta tanpa berkutik lagi.

“Pang Heng lepaskan lenganmu, apa-apaan ini?”

“Aduh, maaf…maaf saking takut kupegangi pundakmu… untung pek Kounio turun tangan tepat pada waktunya!”

“Hm, bilang saja terlalu cepat sedikit!” kata In tiong Giok. Dilihatnya Pek Wan Jie berada tujuh delapan meter dari keretanya, lengannya menghunus pedang wajahnya terlihat guram. Disamping kereta menggeletak pemuda She Yo, tubuhnya tidak berkutik lagi, mati terbunuh senjata rahasia.

Sedangkan dua penyerang lainnya, sudah dibikin satu mati satu menderita luka, yang luka itu adalah seorang tua bearjanggut putih. Karena tak kuat melawan lagi ia leloloskan diri sekuat-kuatnya. Pek Wan Jie mencegah melakukan pengejaran, ia memeriksa dua pengawal yang terkena senjata rahasia, untung tidak terkena bagian yang mematikan hanya menderita luka parah. Lalu ia menghampiri kekereta: ” Kuharap Jiewie Kongcu tidak usah berkecil hati atas peristiwa ini, kejadian didunia Kang Auw sudah lumrahnya bunuh membunuh. Ada aku sebagai pengawal, Jiewie pasti akan tiba dengan selamat.”

“Ya mereka seharusnya melakukan pengejaran ke Pok Tian Pang jika benar-benar gagah berani, kenapa mau membunuhku yang tak berdaya apa-apa?” kata In Tiong Giok.

“Karena mereka ingin mencegah Jiwie bekerja pada Pok Tian Pang,” kata Pek Wan Jie, “tapi kelakuan yang tak tahu diri ini,hanya mendatangkan kematian bagi mereka.”

Pang Hui diam saja, matanya seperti berkaca-kaca, entah terharu mendengar kata-kata Pek Wan Jie. Sedangkan Tiong Giok tidak alang kepalang geregetannya pada orang She Pang itu, tapi didiamkan saja dalam hati tanpa dikentarakan. Tak selang lama mereka melanjutkan perjalanan.

Hari ketiga mereka tiba kota pedesaan, Pek Wan Jie menyuruh kereta kembali, empat pengawal tidak turut pulang. Tampaknya mereka gembira dan tidak kesal sekali, seolah-olah sudah tiba ditempat sendiri.

In Tiong Giok menanyakan kenapa kereta disuruh pulang. “Maju lagi kemuka sudah daerah pegunungan, kereta tidak bisa digunakan lagi. Kongcu kepaksa harus berkuda,” jawab Pek Wan Jie.

“Bukankah Kounio mengatakan harus menempuh empat sampai lima hari perjalanan?”

“Ya kalau berkereta,” jawab Pek Wan Jie, “tapi perjalanan mengitar makan waktu dan berbahaya, kupikir untuk secepatnya tiba di tujuan memotong jalan saja. Esok Kongcu harus berkuda dan pasti meletihkan, nah sebaiknya istirahat siang-siang.”

Tengah malam Tiong Giok bangun dari tidurnya, ia merasa kerongkongannya terasa haus sekali. Ia tahu akibat terlalu banyak minum arak waktu siangnya. Cepat-cepat ia bangun dari pembaringan dan mengambil teh, begitu menuangkan the dari teko, timbul curiga, dan hatinya berpikir: “kenapa the ditengah malam masih hangat sekali!”

Diambilnya sebatang jarum perak dan dicelupkan ke air, ia jadi kaget, sebab jarum perak menjadi hitam, tanda air beracun. Ia berpikir sejenak, lalu naik lagi kepembaringan tanpa mengeluarkan suara, pura-pura nyenyak.

Tiba-tiba dari balik jendela erlihat sesosok bayangan hitam, sejali lihat dapat dikenali, tak lain dari Pang Hui adanya.

“Saudara In! Saudara In!” Pang Hui memanggil-manggil.

In Tiong Giok pura-pura tidur terus tanpa menjawab.

Setelah memanggil lagi beberapa kali, tanpa mendapat jawaban, Pang Hui membuka jendela tubuhnya mencelat masuk dengan ringan sekali tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Melihat ilmu meringankan tubuh yang demikian lihay Tiong Giok merasa kaget.

“Hmm, kurang ajar, kau pura-pura berlaku bodoh, tak tahunya berilmu silat tinggi! Tapi jangan dikira aku sebagai oang lemah, segala akal kejimu untuk mencelakakan diriku sebenarnya untuk tujuan apa?

Begitu masuk kekamar, Pang Hui berlaku hati-hati dan cermat tubuhnya dirapatkan ke dinding sekian lamanya. Dan memanggil lagi pada Tiong Giok beberapa kali sambil mendekat pembaringan. Tiong Giok diam-diam sudah siap dengan ilmu Hiat ce lengnya. Sungguhpun tiada niatnya membunuh Pang Hui, tapi kesiap siagaan untuk menjaga kalau –kalau merupakan yang wajar untuk membela diri.

Pang Hui tidak langsung kepembaringan, ia membuka tutup teko dulu. Begitu dilihatnya air masih penuh, wajahnya membayang niat membunuh dengan menyala-nyala. Tubuhnya berputar, belati segera terhunus…” Tok…Tok…Tok…” terdengar pintu diketuk dari arah luar disusul dengan suara In Hok. “Kongcu…kongcu sudah tidurkah?”

Pang Hui dengan cepat menyembunyikan belati dibalik lengannya dan mencelat kepojokan yang lebih gelap.

“Oh siapa?”

“Aku In Hok, Kongcu cepat buka pintu!”

“Malam-malam begini mau perlu apa?”

“Kulihat Kongcu banyak minum arak waktu siang, kupikir kalau mendusin tengah malam akan haus, maka kubawakan air teh hangat!”

In Tiong Giok merasa lucu, kenapa orang tua ini datang secara tepat pada waktunya, bila terlambat sedikit, dikamar ini mungkin terjadi peristiwa pembunuhan. Begitu pintu dibuka Tiong giok menunjuk ke atas meja,”aku masih ada air the hangat yang belum diminum”

“Malam ini terakhir diperjalanan, pengawal-pengawal mengatakan penjagaan diperketat. Kongcu tidur harus menyalakan lampu, dan jangan sembarangan makan atau minum yang disediakan pelayan-pelayan hotel ini, kuatir diracun…….”

“Apakah engkau melihat Pek Kounio?”

“Barusan ada di belakang, mungkin tak lama lagi ia memeriksa sampai kesini,” sambil bekata ia menyalakan pelita. Begitu keadaan terang, Tiong Giok memandang sekeliling ruangan, bayangan Pang Hui entah sejak kapan tiada di situ lagi!

Keesokannya Tiong giok bertemu Pang Hui di meja makan, begitu bertemu saling mengucapkan selamat pagi dan saling tersenyum. Pang Hui seperti biasa saja, seolah-olah tadi malam tidak terjadi apa-apa.

Tak selang lama dari luar terlihat seorang brpakaian kuning diiriingi enam pengawal berpakaian hitam yang serupa dengan pengawal dari Ngo Liu Cung. Lelaki itu lebih kurang berusia empat puluh tahun, tubuhnya jangkung, kurus, matanya yang besar memancar tajam, pinggangnya menyoren pedang! Bajunya berkilatan tersulam benang emas, tampaknya agak angker sekali.

Pek Wan Jie dan lelaki berdiri menyambut kedatangan orang itu sambil memberi hormat: “Lie Congleng (komandan pengawal) kebetulan datang, kemarin diperjalanan terjadi perkelahian, membuatku cemas dan kuatir, bahkan dua peengawal menderita luka-luka”.

“Pek Kounio perjalanan ini tentu membuatmu sengsara saja!”

“Ah bekrja untuk Lo Cucang (kakek moyang) mana bisa dihitung sengsara!”

“Kenapa pengawal-pengawal ini tidak berguna sekali!” kata Lie Congleng dengan wajah ditekuk.

“Tidak bisa menyalahkan mereka, karena penyerangpun menyamar mengenakan pakaian hitam yang serupa dengan pengawal kita, kata Pek Wan Jie sambil tersenyum. Lalu ia memperkenalkan Pang dan In. “Inilah kedua ahli bahasa Sangsekerta yang dibutuhkan, “juga memperkenalkan Lie Congleng yang bernama Lie Kee Cie kepada Pang dan In.

Dengan sepasang matanya yang tajam Lie Kee Cie menatap In Tiong Giok dan Pang Hui serta In Hok. Sungguhpun ia tersenyum, pancaran sinar matanya yang tajam membuat orang menjadi gentar. Pang Hui menundukkan kepala

Dengan cepat Lie Kee Cie menegurnya: “Pang Siangkong, seolah-olah kita pernah bertemu muka entah dimana?”

“Benarkah? Dimana, sedikitpun aku tak bisa ingat lagi.” Jawab Pang Hui terbata-bata.

“Aku mempunyai suatu kebiasaan, yakni paling bisa mengingat seorang yang mengesankan sungguhpun baru sekali melihatnya. Lebih kurang setengah tahun yang lalu, aku pergi ke propinsi An, disitulah kuberjumpa dengan Pang siangkong!”

“Ah tidak! Mungkin Lie Heng salah lihat…”

“Tidak bisa salah” selak Lie Kee Cie dengan tegas. “Kuingat waktu itu Pang siangkong mengenakan pakaian sastrawan seperti sekarang, coba ingat-ingat.”

“Mungkinkah…tapi…ah tidak bisa kuingat lagi…”

“Jelasnya saat itu Pang Siangkong sedang berada disebuah rumah makan, sedang membuat sajak dengan asyiknya, tiba-tiba datang seorang pengemis bertekuk lutut dan menyodorkan tangan meminta-minta, agaknya kedatangan pengemis itu mengganggu keasyikan Siangkong dan menghilangkan ilham yang sudah ada. Dengan kesal Siangkong mengusir mereka sambil melemparkan satu tail perak tamu-tamu lain menganggap Siangkong terlalu bodoh dan menghambur-hamburkan uang, untukku keroyalan Siangkong memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan, sehingga mau tidak mau merasa kagum! Saat itu Siangkong tidak mungkin memperhatikan dieiku, karena disamping belum berkenalan juga konsentrasi Siangkong berada pada sajak-sajak!”

Pang Hui agak terkejut, lalu ia tertawa sambil mengangggukkan kepala: “Oh, benar…benar…jika tidak dijelaskan kejadian itu hampir-hampir kulupakan!”

Lie Kee Cie pun tertawa, sehingga suasana jadi meriah, akan tetapi alangkah cepatnya keadaan berubah, tiba-tiba saja Lie Kee Cie mengerlingkan mata pada pengawalnya seraya berseru: “Ciduk budak She Pang ini!”

Kejadian ini mengherankan sekalian yang hadir, mereka berbareng berdiri sambil mengawasi kearah Lie Kee Cie, dan sedangkan pengawal yang di perintah telah menghunus senjata mengurung Pang Hui.

“Orang She Pang nyalimu sungguh besar,” kata Lie Kee Cie, menggunakan kesempatan sebagai ahli bahasa sangsekerta, engkau berani menyelusup ke pusat Pok Tian Pang….? Hmm, saying nasibmu sial betul, boleh-boleh bertemu denganku!”

“Apa alasanmu berkata begini?” Tanya Pang Hui dengan wajah berubah.

“Hm, baik kuterangkan, apa yang kukatakan tadi hanya karangan belaka, karena hampir setahun lamanya tak pernah aku meninggalkan pusat Pok Tian Pang? Tak kira engkau yang menganggap diri pintar, nyata pintar kebelinger!”

“Hm, beruntunglah Pok Tian Pang mempunyai orang semacammu,” kata Pang Hui,” tapi engkau jangan bergirang dulu, banyak orang bulim yang tidak menyerah pada Pok Tian Pang, sedangkan buku yang ingin kalian terjemahkan jangan harap terlaksana untuk selama-lamanya…” Sehabis berkata tubuhnya mencelat meninggalkan kursi menyerang pengawal yang mengurungnya dengan belati di tangan. Ia tidak melarikan diri, melainkan menggunakan kesempatan didesak, langkahnya mundur ke arah In Tiong Giok, lau mengayunkan belati pada pemuda kita dengan mendadak.

Sekali-kali Tiong Giok tidak memikir Pang Hui akan mencelatkan dirinya, orang-orang Pok Tian Pang tidak bisa melakukan pertolongan, karena kejadian terlalu tiba-tiba. Sebenarnya Tiong Giok bisa mengengoskan diri dengan ilmu Kiu Coan Bie Cong To secara mudah. Tapi dengan demikian segala rahasia dirinya akan terbuka. Dalam keadaaan bingung, ia merasakan kakinya seperti didorong orang dan tubuhnya terjerunuk kemuka lalu jatuh tengkurap.

Serangan Pang Hui mengenai angin. Siau Eng dan Siau Hong menggunakan kesempatan menyelamatkan In Tiong Giok, sedangkan Pang Hui segera terkurung lagi. Menghadapi keadaan buruk baginya Pang Hui berlaku nekad, belatinya dittikamkan kerongkongannya sendiri, tapi niatnya itu batal, sebab Lie Kee Cie mengebaskan lengan, tenaga pukulannya membuat belati menceng, Pang hui hanya luka ringan. Berbareng dengan itu lengannya merambes cepat, belati ditangan Pang Hui sudah pindah kelengannya, ia tidak brhenti disitu, sekalipun lengan satunya lagi melakukan totokan, membuat Pang Hui mati kutu dan tak berkutik.

“Bawa mereka kepusat dan jangan diapa-apakan dulu!” kata Lie Kee Cie pada anak buahnya.

“In Tiong Giok jika engkau menterjemahkan buku mereka, sampai mati dan menjadi satupun jiwamu tidak akan kuampuni!”

“Oh kiranya berulang kali ia akan mencelakai diriku, semata-mata mencegah aku menjadi penterjemah buku Pok Tian Pang!” piker In Tiong Giok.

“Oh, kelakuannya yang licin, membuat aku terpedaya, untung Lie Tongleng datang kalau tidak, bisa-bisa celaka!”

“Sebelum menerangkan pada Kounio sudah kuciduk orang ini, harap maaf saja! Nah, sekarang bolehlah kita melanjutkan perjalanan lagi!” kata Lie Kee Cie.

“Bukankah Lie Conglengpun harus memeriksa keadaan diriku?”

“Tidak usah! Barusan serangan Pang Hui kepadamu, sudah mewakili aku bertanya denga jelas!”

“Untung In Kongcu bukan mata-mata, jika tidak bukan saja perjalanan ini sia-sia belaka, akupun akan menerima dampratan dari Lo Cucong!” kata Pek Wan Jie.

“Mana siorang tua itu, kenapa tak kelihatan” Tanya Lie Kee Cie.

In Tiong Giok celingukan, benar saja tidak terlihat bayangan In Hok. Belum pula ia mencari, dari kolong meja In Hok merayap keluar dengan bermandikan keringat. Wajahnya pucat, tubuhnya masih menggetar, rasa kagetnya belum hilang dari otaknya.

Tiba-tiba Tiong Giok ingat barusan seperti ada yang mendorong dirinya dari bawah, disambung mengingat ketebatan In Hok mengantar air wakltu malam, timbul rasa anehnya, mungkinkah semua ini In Hok yang… tapi pikirannya cepat berubah, dan ia yakin jongos tua itu yang sudah puluhan tahun bekerja pada ayahnya hanya manusia biasa yang tidak berkepandaian sama sekali. Maka tertawalah ia melihat siorang tua yang baru keluar dari kolong itu, sedangkan Lie Kee Cie dengan pandangan tajam mengawasi dan berpaling kearah In Tiong Giok: “Siapa orang tua ini?”

“Ia adalah pengikutku namanya In Hok!

“Keadaan dipusat Pok Tian Pang lain seperti disini, tidak sembarangan orang boleh datang kesitu, menurut hematku sebaiknya orang tua ini diam saja disini tak perlu ikut serta!”

“Kongcu, kejadian diperjalanan selalu berbahaya, sebaiknya pulang saja, untuk apa harus bekerja, dirumah segala cukup bukan?” kata In Hok.

In Tiong Giok menganggukkan kepala lalu berkata pada Lie Kee Cie: “Ia disuruh kedua orang tuaku mengikutiku keluar rumah, bukan sembarang orang yang tidak dipercaya. Jika Congleng tidak mengijinkannya ikut serta akupun tidak mau pergi, mau pulang saja!”

“Lie Congleng, ijinkan saja ia ikut serta, jangan membuat In Kongcu menjadi susah hati!” kata Pek Wan Jie.

“Aku tidak mengatakan tidak boleh seratus persen, jika Kounio menyuruh aku menurut saja!” kata Lie Kee Cie.

Dengan cepat rombongan itu meninggalkan penginapan dan berjalan keatas pegunungan. Pang Hui terikat dan ditaruh dipelana kuda, sedangkan empat pengawal dari Ngo Liu Cung disuruh pulang. Tak selang lama Lie Kee Cie menyuruh rombongan berhenti, dan dari sakunya mengeluarkan dua kerudung hitam. “Kupersilahkan Jiewie mengenakan ini.”

“Untuk apa menggunakan belongsong ini?”
Tanya In Tiong Giok dengan heran.

“Ini peraturan perkumpulan kami, setiap tamu yang datang kepusat hrus mengenakan belongsong, agr sesuatu mengenai keadaan dipusat tidak bisa dibocorkan keluar!”

“Aku adalah tamu undangan untuk bekerja, bukan datang atas kehendakku sendiri,” kata Tiong Giok merasa tersinggung.

“In Kongcu jangan gusar,” kata Pek Wan Jie, “peraturan yang dikeluarkan Lo Cucong berlaku pada siapapun, bukan pada Kongcu sendiri, dulu sewaktu Siaw Eng dan Siaw Hong pertama kali datang, merakapun dikenakan kerudung hitam, hanya anggauta Pok Tian Pang tidak terkena peraturan ini!”

In Tiong Giok dengan terpaksa mengenakan jiga belongsong hitam itu, pandangannya menjadi gelap, hanya dibagian mulut dan hidung ada liangnya dan bisa bernapas maupun berkata-kata dengan bebas.

Lie Kee Cie memeriksa belongsong itu ada yang pecah atau tidak, setelah itu menitahkan Siau Eng dan Siau Hong menjaga In Tiong Giok, sedangkan In Hok dituntun dua pengawalnya.

In Tiong Giok tidak bisa melihat keadaan, hanya mengandalkan kedua telinganya dan perasaannya untuk mengira-ngira sudah berjalan berapa jauh dari rumah penginapan yang disinggahi terakhir.

Iapun merasakan keadaan yang sejuk, dan turun naiknya jalanan, serta terdengar suara aliran sungai. Perhatiannya kini dipusatkan pada letaknya sungai mengalir hingga belongsong yang membuatnya seperti berada didalam kegelapan tidak terasa lagi, jadi biasa.

Setelah berjalan lama sekali, suara sungai tidak terdengar lagi, rombongan membelok ke kanan dan terus kedepan. Kira-kira sepermakanan nasi meraka berhenti, terdengar suara Lie Kee Cie bercakap dengan ramah tamah, agaknya bertemu denga patroli Pok Tian Pang. Mereka segera turun dari kuda, Siau Eng membuka belongsong Tiong Giok. Membuat pemuda kita menarik napas lega. Pandangan matanya bebas, dan bisa melihat keadaan dirinya berada dilereng gunung, talk berapa jauh farinya terlihat bebrapa rumah batu, disitu terlihat dua puluh pengawal berpakaian hitam dan seorang tua kira-kira berusia llima puluh tahun berbaju biru.

“Inilah Kwee Fut Hoat (penasehat) Kim lo Cianpwee,” kata Pek Wan Jie memperkenalkan kim Fut Hoat itu menggoyangkan tangan tak berapa mau meladeni.

“Kim Fut Hoat tidak berapa suka bicara, tambahan bahasa Tionghoanya tidak lancar, ia orang asing!”

“Dari mana asal negaranya!” Tanya In Tiong Giok.

“Ia adalah orang-orang yang di bawah Lo Cucong dari Korea, namanya Kim Can! dua lagi bernama Wang wang Can dan Pu Ka Lun, mereka sebagai penasehat yang selalu mendampingi Lo cucong….”

In Tiong Giok memperhatikan Kim Tak Can, dan mendapatkan kesan bahwa orang itu sangat kasar perawakannya, pipinya penuh berewok, sekali pandangpun bisa tahu orang ini bengis dan berkepandaian” tinggi. Apakah yang dipanggil Lo Cucong itu ketua Pok Tian Pang?”

“Bukan!” kata Pek Wan Jie, “Lo Cucong adalah Sucouw (kakek guru) ku sedangkan Suhuku barulah ketua Pok Tian Pang! Hal ini tidak akan bisa dijelaskan dalam sepatah dua patah! Nanti engkau akan tahu sendiri!”

“Apakah yang dimaksud pusatg disini tempatnya?” Tanya in Tiong Giok.

“bukan, ini merupakan pintu gerbang pertama, kesana masih jauh sekali! Disini kita makan dan mengaso, juga sampai disini engkau tak usah mengenakan lagi belongsong hitam untuk seterusnya!”

“Tidakkah kalian kuatir rahasia disini dibocori orang?” Tanya Tiong giok. Belum pula Wan Jie menjawab, Lie Kee Cie sudah mendahului: “In Kongcu terus terang saja sesampainya disini, jika tidak mendapat ijin dari kami, siapapun tidak bisa meloloskan diri dari sini!”

“Kenapa begitu?” tanya In Tiong Giok keheranan.

“Nah coba lihat!” kata Lie Kee Cie menggapaikan tangannya. Tiong Giok menghampiri. “Cobalah lihat kbawah!”

Begitu mata memandang, baru sadarlah ia berada disuatu bukit yang terpisah dari bukit-bukit lain, begitu tinggi rasanya. Kebawah hanya yang bisa dapat terlihat batu-batu cadas-cadas gunung yang runcing dan terjal.

Ia menganggukan kepala dan memuji: “Tempat ini luar biasa dan sukar didatangi orang, tapi rasanya tadi seperti naik tangga datang kemari? Dimana tangga itu berada?”

“Ha ha ha.” Lie Kee Cie tertawa dengan senangnya, “dimana ada tangga? Tadi kita naik melalui sebuah tangga baja yang dikerek dari atas setelah tak terpakai disimpan lagi. Pendeknya kita terpisah dari dunia luar, tiada jalan sama sekali, kecuali dengan tangga baja tadi.”

Melihat keadaan ini Tiong Giok diam-diam merasa kaget: “Aku bisa datang kemari tapi untuk pulang tiada harapan lagi.”

Sedang otaknya berpikir, seorang pengawal datang memberikan laporam bahwa makanan sudah disediakan. Dengan tersenyum Pek Wan Jie mengajak tamunya kesebuah rumah batu yang agak besar. Didalam ruangan diterangi sebuah lampu besar, ditengah-tengah terlihat meja bulat yang penuh barang hidangan, siorang berbaju biru sudah duduk ditengah-tengah. Tiong Giok duduk diantara Kee Cie dan Wan Jie. Tanpa menawari lagi Kim Tak Can menegak arak tiga cawan besar juga tanpa mengucapkan sepatah kata, berlalu kedalam ruangan belakang seorang diri.

Kepergiannya Kim Tak Can membuat Lie Kee Cie menarik napas panjang, kini Siaw Eng dan Siaw Hong baru diajak makan bersama-sama.

“Kenapa kim Fut Hoat hanya minum dan tidak makan?” tanya Tiong Giok.

“Jangan banyak bertanya, kalau dikelaskan bisa-bisa kita tak napsu makan!” kata Pek Wan Jie.

“Memang kenapa?” Tiong Giok semakin mau tahu.

“Ia tidak makan barang matang, setiap hari ia makan lima kati daging sapi, dua kelinci dan tiga empat ayam atau bebek, semuanya dalam keadaan mentah-mentah; suka juga makan darah mentah sebagai kuah! Maka itu ia suka makan sendiri.”

“Orang biadab kalu begitu!” kata Tiong Giok.

“Ssst, bukan biadab tapi setengah biadab!” kata Wan Jie.

Sesudah makan mereka mengaso sejenak lalu melanjutkan perjalanan dengan berkuda lagi. Kim Tak Can sudah menantikan mereka dimulut gua yang berjeruji besi. Setiap yang melalui gua harus mengeluarkan tanda pengenal. Lie Kee Cie dan Wan Jie pun tidak terkecuali. Ia berlaku tegas dan keras menjalankan tugasnya. Tiong Giok dan Pang Hui mempunyai kartu undangan sebagai tamu, tapi In Hok tidak, maka ditahan dan tidak diijinkan masuk.

“Ia adalah pengikutnya In Kongcu, dan sudah ada izin masuk kedalam!” kata Lie Kee Cie.

“Pokoknya kartu tamu hanya dua berlaku untuk dua orang, bagaimanapun tak boleh masuk.” Kata Kim Tak Can dengan dingin.

“Bagaimana kalau kartu tamu menyusul belakangan?” Tanya Lie Kee Cie.

“Pendeknya tiada kartu tamu, tak boleh masuk!” kata Kim Tak Can kukuh.

“Kongcu…..bagaimana?” kata In Hok dengan wajah ketakutan.

“Kalau begitu kunantikan saja sampai ada kartu undangan untuk In Hok baru masuk,” kata In Tiong Giok.

“Mana bisa, karena Pangcu sudah tahu saat kapan Kongcu tiba, pasti sedang menantikan…” kata Pek Wan Jie.

“Mana boleh menyalahkan aku, semua ini karena peraturan Pok Tian Pang yang kelewat baras!”

“Kim Siok-siok berilah ia masuk dulu, aku yang bertanggung jawab, kartu tamu segera menyusul, bolehkah?” mohon Wan Jie.

“Satu kartu untuk seorang, tidak ada tawar menawar lagi!” Kim Tak Can tetap pada pendiriannya.

Untung Wan Jie bisa berpikir cepar, ditunda Pang Hui pada penjaga, lalu diajaknya in Hok masuk, Kim Tak Can tidak memperdulikan yang lain-lain tahunya satu kartu untuk seorang tidak perduli orang itu siapa. Mereka masuk kedalam gua yang lebar, panjangnya lebih tiga meter, setiap sepuluh meter terdapat sinar terang dari atas, membuat keadaan tidak gelap sekali. Selewatnya terowongan, pandangan mata menjadi luas, tampak gunung-gunung mengitari air terjun dari gunung berkumpul kelembah, karena tiada jalan keluar air itu menjadi sebuah danau besar, tak ubahnya seperti laut, ditengah-tengah terlihat tiga pulau. Pemandangan yang indah itu tak ubahnya dalam lukisan saja.

Disini mereka menemui lagi penjaga yang dikepalai seorang tua berbaju biru juga, wajahnya tersungging senyum, beda denga Kim Tak Can tadi, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun, tapi masih gagah sekali. “Aha Cuwie kenapa terlambat, Pang Cu sudah dua kali menanyakan Cuwie sudah datang apa belum, sudah kesal menunggu.” kata orang tua itu.

“Hei” kata Tiong Giok pada Wan Jie, siapa dia, kenapa tidak kau perkenalkan dia dengan aku?”

“Rupanya engkau senang dengan raut wajahnya yang selalu tersenyum.” tanya Wan Jie tidak menjawab.

“Ya benar, lain dengan Kim Fut Hoat tadi yang begitu bengis.

“Tapi kalau aku disuruh memilih diantara dua orang ini menjadi teman, pasti kupilih Kim Fut Hoat”, kata Wan Jie.

“Kenapa begitu?”

“Jangan melihat paras luarnya, kekejamannya luar biasa sekali, kalau engkau pernah mendengar namanya pasti akan kaget sendiri!”

“Siapa namanya?”

“Sebenarnya seorang pelajar sepertimu kujelaskan juga tak berguna,” kata Pek Wan Jie, “untuk tidak penasaran baik kuterangkan, didunia persilatan terdapat tiga belas manusia ajaib yang lazim disebut Bulim Cap Sa Kie.

Antaranya ada yang disebut tiga besar dari selatan atau Thian Lam Sam Kui, nah dia ini seorang dari iblis itu yang bernama Tok Kay Tong dengan gelar Bin Busiang, iblis bersenyum.

“Ya aku tak pernah mendengar soal tiga belas manusia ajaib.” kata In Tiong Giok ,” dapatkah kuketahui yang dua belas lagi?”

“Mudah saja jika mau mengetahui mereka asal bisa mengingat Jiak, Sie Koey, Sih, Sian, Yauw, Mo, Jui, penjelasan selanjutnya nanti saja kalau ada waktu!”

Dari mulut terowongan mereka turun melalui tangga batu sampai dipinggir danau yang luas mereka naik sebuah perahu yang sudah disediakan dan terus meluncur ketengah menuju kesalah satu pulau. Tak berapa lama mereka sampai disebuah tempat yang menyerupai palabuhan pulau itu. Disini terlihat dua puluh perahu yang ditambat, perlahan-lahan sampan menepi kepantai, didarat terlihat sepuluh pengawal berpakaian hitam sedang menantikan, begitu melihat perahu segera menyongsong.

Sesudah mendengar Lie Kee Cie berkata pada Pek Wan Jie: “Pek Kounio, karena harus mengambil kartu undangan untuk Pang Hui aku akan kembali lagi kesana sedangkan soal In Kongcu kuserahkan pada Kounio!”

Pek Wan Jie menganggukkan kepala, lalu menyuruh Siau Eng dan Siau Hong mengajak in Hok ketempat beristirahat, ia sendiri mengajak In Tiong Giok ke istana Pok Thian Pang dengan kereta. Sebelum itu ia memerintahkan pada seorang pengawal, untuk melaporkan bahwa ia dan In Kongcu akan menghadap pangcu.

“Engkau tak perlu khawatir menemui Pangcu atau suhuku, ia sangat baik dan ramah tamah!” kata Wan Jie.

Dengan cepat mereka telah tiba, Wan Jie mengajak tamunya kedalam sebuah bangunan besar. Inilah yang disebut istana Pok Thian Pang pikir Tiong Giok. Begitu mewah dan indah, sebelum masuk kedalam aula, mereka terhalang sehelai horden. Disini Wan Jie memberi hormat, diikuti In Tiong Giok.

“Jangan sungkan, silahkan masuk,” terdengar suara dari balik horden yang segera terbuka. Tiong Giok mula pertama berpikir Pok Thian Pang yang ambisius untuk menguasai dunia persilatan tentu dipimpin seorang gagah berwajah bengis. Tapi begitu mendengar suara garing yang halus membuatnya tertegun dan pandangannya terbuka, herannya bertambah-tambah, karena… Pangcu itu adalah seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun. Pangcu itu melihat In Tiong Giok yang begitu tampan kaget pula, matanya mengawasi dengan tajam penuh keheranan. Pek Wan Jie mempersilahkan tamunya duduk, lalu mendekati pangcunya sambil menuturkan soal bagaimana Pang Hui berniat jahat dan kena di pecahkan siasatnya oleh Lie Kee Cie secara singkat.

Wanita berbaju merah itu mendengari sambil tersenyum, sedikitpun tidak menunjukkan rasa marah, bahkan ia berkata:

“Sebagai pohon perserikatan kita ini semakin besar, maka itu angin yang ingin merobohkan bertiup semakin besar juga, itu soal biasa! Beritahu pada Lie Kee Cie jangan menyiksa Pang Hui, kalau bisa tundukkan dengan lemah lembut, dan taruh di istana pencuci otak, perlakukan baik-baik!” Dengan tetap tersenyum iapun menyapa In Tiong Giok: “Kudengar In Kongcu mengetahui pengetahuan yang luas, tentu mendapat didikan di bawah guru yang pandai. Kami sangat menghargai kepandaian Kongcu, untuk sementara Kongcu boleh istirahat dulu beberapa hari, jangan sungkan dan likat, anggap bagai rumah sendiri.”

“Terima kasih atas kebaikan Pangcu!” jawab In Tiong Giok seraya memberi hormat.

“Bolehkah kutahu berapa usia Kongcu tahun ini?” Tanya Pangcu.

“Dua puluh tahun.”

“Orang tuamu tentunya dalam keadaan sehat-sehat saja.”

“Terima kasih atas perhatian Pangcu.”

“Wan Jie sebentar malam engkau gantikan aku menjamu In Kongcu, anak muda bertemu anak muda lebih cocok bukan?”

Wan Jie menjadi merah mukanya. “Dimanakah In Kongcu malam ini harus bermalam suhu?”

“Sementara di Villa tenang saja!”

“Bukankah lebih baik di villa bamboo saja?”

“In Kongcu adalah pelajar, tentu lebih senang ditempat sunyi, lain dengan engkau yang berlaku ugal-ugalan,” kata Pangcu itu dengan tetap senyum. Sehabis berkata ia bangun, dan dengan diiringi delapan pelayan berbaju kuning ia masuk ruang belakang.

Pek Wan Jie mengajak Tiong Giok keluar, jelas wajahnya terlihat sedikit murung. “Villa tenang,” gerutunya tak puas.

“Kounio, gurumu begitu cantik dan masih muda, benar diluar dugaanku… Ya caranya menempatkan engkau di villa tenanglah diluar perkiraanku!

“Memang kenapa?”

“Engkau tidak tahu villa Tenang dan Asmara Bambu di mana kutinggal letaknya jauh sekali…..”

“Jauh dekat tak jadi soal bukan?”

“Hm, sangat penting, engkau…” Tiba-tiba saja Wan Jie menghentikan kata-katanya, dan lalu menundukkan kepala, sedangkan dua bayangan merah tertera di kedua belah pipinya.

Tiong Giok merasakan juga goncangan hatinya dan mengerti apa tujuan kata-kata gadis itu, diam-diam ia tertawa geli dan berkata:

“Biar jauh diseberang lautan, tetap dekat pikiran, kenapa Kounio harus…”

“In Kongcu jangan salah artikan, maksudku ini,” ia menekan suaranya semakin perlahan, maksudku tidak engkau memikirkan soal nasibmu sendiri?”

“Soal nasibku?” Tanya In Tiong Giok menegasi. “Pendeknya engkau harus ingat, disini penjagaan amat keras, gerak-gerikmu harus hati-hati, jangan sembarangan pergi kemana, sukar aku menjelaskan.”

“Terima kasih atas perhatian dan nasehat Kounio!”

Mereka berkereta lagi menyusuri jalan kecil dan masuk kessebuah tempat sunyi, disitu terdapat villa yang terkurung pepohonan, kelihatannya tenang sekali. Villa itu terdiri dari lima kamar, tiga kamar sangat terang karena sinar matahari masuk sedangkan yang dua agak gelap. Semuanya teratur rapih dan bersih.

“Mungkin dulunya di sini ada yang tinggal bukan?”

Wan Jie menganggukkan kepala perlahan.

“Coba, apa yang masih rasa kurang, boleh kutitahkan Siau Hong membawanya ke sini. Aku piker budak itu sebaiknya tinggal di sini agar bisa merawatmu dengan baik!”

“Aku rasa semua sudah cukup, Siau Hong tak usah repot-repot mengurusku, untukku In Hok sudah cukup!” Tiong Giok melihat-lihat buku yang berada di lemari, lalu mengambilnya sejilid: “Buku-buku ini sangat antik dan sukar di dapat, mungkin penghuninya dulu seorang pelajar tinggi, saying aku tidak jodoh menemuinya!”

Wan Jie seperti tidak mendengar apa yang diucapkan Tiong Giok, ia terpekur diam seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.

Walaupun Tiong Giok bergaul baru tiga hari, ia sudah kenal sifat Wan Jie yang periang, tetapi timbullah herannya, waktu mendengar Pangcunya menetapkan dirinya diam di villa tenang, terus menerus berwajah murung.

“In Kongcu,” tiba-tiba Wan Jie menegur, “terus terang saja, apakah engkau benar-benar bisa bahasa Sangsekerta?”

“Sejak kecil aku sudah mempelajari bahasa itu,” jawab Tiong Giok, “apakah Kounio meragukan akan kebiasaanku? Jangan samakan diriku dengan Pang Hui!”

“Aku tak berpikir atau curiga seujung rambut padamu. Tetapi jika engkau tidak paham bahasa Sangsekerta dan datang hanya sebagai mata-mata, mungkin itu lebih baik sedikit.”

“Aku tak mengerti maksud Kounio!”

“Baiklah kujelaskan, susul-menyusul disini pernah itnggal sastrawan yang benar-benar pandai bahasa Sangsekerta. Kedatangan mereka atas undangan Pangcu sepertimu juga. Tapi setiap baru mau bekerja, entah bagaimana satu persatu mati terbunuh!”

Tiong Giok merasa kaget: “Disini banyak pengawal, mungkinkah bisa terjadi peristiwa semacam itu?”

“Ya, mungkin didalam Pok Thian Pang sendiri ada penghianat,” kata Wan Jie. “Setelah kejadian itu Lo Cucong marah besar, sampai tiga Tongleng di bunuhnya, belum juga diketahui siapa penjahatnya!”

“Kalau begitu jiwaku dalam keadaan bahaya dan Pok Thian Pang tidak bisa melindungi bukan?”

“Tapi setelah terjadi tiga kali peristiwa itu penjagaan sudah diperkuat lipat ganda, tambahan Lie Kee Cie adalah seorang yang cerdas dan lihay, juga tak seberapa jauh dari sini, adalah Suhengku, jika terjadi sesuatu, ia bisa memberikan bantuan, mungkin sekali ini tidak akan terulang kejadian seperti dulu!”

Belum pula suara Wan Jie hilang dari pendengaran, dijendela berkelebat sosok bayangan hitam. Dengan cepat Wan Jie menegur: “Siapa?” tidak ada jawaban. Mereka keluar rumah, dilihatnya seorang muda berbaju merah lebih kurang berusia tujuh belas tahun, wajahnya tampan, hanya sedikit merah, pucat sedang berdiri ditaman bunga. “Oh, kiranya Suheng, membuat kami kaget saja!”

Pemuda itu tidak menjawab hanya mengangguk kecil, sedangkan matanya dengan penuh keangkuhan memandang kepada In Tiong Giok.

“Suheng kemari, kukenalkan dengan In Kongcu….”

Tanpa memperdulikan sedang diajak bicara ia ngeloyor pergi dengan wajah sinis. Wan Jie merasa jengah sendiri tak diladeni…..

“Siapa dia?” Tanya In Tiong Giok.

“Ia adalah putera tunggal guruku, namanya Pek Kim Kiam Hong, tuh tinggalnya diperkampungan Awan Putih.

“Dilihatnya macamnya seperti tak senang padaku,” kata in Tiong Giok.

“Tidak!” bantah Wan Jie, ” memang sudah wataknya demikian ia selalu menyendiri dan tidak dengan siapapun!”

“Mungkin Siau Pangcu tidak ada kepuasaan dalam hidupnya?”

“Tidak bisa disalahkan, seorang anak tidak berbapak mana bisa hidupnya bahagia ……

“Memang ayahmu kemana?”

“Tidak kutahu, ini merupakan teka-teki, mungkin di dunia hanya guruku dan Lo Cucong yang mengetahui, tapi mereka merahasiakan sekali.”

“Apakah Suhengmu tidak menanyakan juga?”

“Ditanyakan tidak berguna, suhu selalu membelokkan pertanyaan kesoal lain, agaknya berat untuk menjelaskan kandungan hatinya. Lebih-lebih Lo Cucong bukannya menjawab malahan memaki-maki.” Lain kali jangan engkau tanya-tanya lagi soal ini, ayahmu adalah manusia berbudi rendah dan sangat memalukan, sebelum engkau lahir ia sudah mati!”

“Lalu kenapa ia memakai She Pek?”

“Ia ikut She ibunya, suhuku bernama Pek Cin Nio!”

“Alangkah kasiannya Suhengmu itu, sampai soal ayahnya sendiri tidak diketahuinya, tak heran kelakuannya suka menyendiri dan berwajah kecut, sungguhpun demikian jika ada kesempatan ingin aku berkenalan dengannya!”

Ia bersifat dingin sekali, sebaiknya engkau jangan dekat-dekat dengannya!”

Tak selang lama Siau Hong datang mengajak In Hok, mereka memberesi rumah: Wan Jie meminta disediakan makan dan minuman untuk menjamu tamunya.

Waktu makan Wan Jie mengusulkan lagi agar Tiong Giok suka memakai Siau Hong, tapi dengan halus ditolaknya. Wan Jie tidak memaksa terus perjamuan ini berjalan tawar, masing-masing mempunyai pikiran sendiri-sendiri, waktu malam mendatang mereka berpisah.

Sehabis mandi Tiong Giok menyuruh In Hok tidur, ia sendir sambil berpangku tangan berjalan perlahan-lahan keluar rumah. Taman bunga dalam keadaaan tenang, dan dari jauh terdengar suara berkericok air. Disebelah kiri terdapat Pek In Sancung (perkampungan awan putih). Sebelah kanan terlihat tembok penjara dengan pengawal-pengawal yang mondar mandir tak henti-hentinya. Dari keadaan ini dapat dilihat jika orang jahat ingin masuk ke villa tenang, sukar melalui jalan kiri dan kanan, hanya dari muka dan belakang rumah dimana terdapat bukit kecil musuh bisa masuk, maka tempat inilah sepatutnya mendapat perhatian.

“Pok Thian Pang berdaya upaya buku berbahasa Sangsekerta yang dimilikinya dapat diterjemahkan, sebaliknya banyak pula kaum rimba persilatan yang mati-matian mencegahnya. Di villa ini sudah tiga penerjemah yang mati, dan waktu ditengah jalan Pang Hui berusaha mencelakakan dirinya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan buku itu penting sekali. Sebenarnya dia datang untuk menterjemahkan buku itu, tapi keanehan buku itu sudah memikat hatinya, dan ingin ia bisa secepatnya melihat buku itu. Ia mundar-mandir, sedangkan malam semakin larut, keadaan benar-benar tenang sekali dan sunyi senyap, tiada terdengar suara apa-apa, sampai suara bernapas In Hok yang tidur dapat terdengar tegas!

Perlahan-lahan ia masuk kekamar, tak siang kepalang kagetnya, begitu kakinya melangkah pintu kamar, karena ia melihat sesosok tubuh di kursi malas sedang menyandar dan mengangkat kaki seenaknya!

“Siapa kau!” bentak Tiong Giok.

Tidak ada jawaban, seolah-olah orang itu tidak mendengar, keruan saja Tiong Giok jadi degdegkan, sambil berlaku waspada ia membentak lagi: “Siapa kau, dan apa maumu datang kemari?”

Orang itu dengan perlahan menarik kakinya sehingga wajahnya terlihat tegas, kiranya bukan lain dari Lie Kee Cie adanya. Semua ini diluar dugaan Tiong Giok, cepat-cepat ia memberi hormat: “Kiranya Lie Tongleng, maafkan kekurang ajaranku!”

“In Kongcu malam-malam masih jalan-jalan keluar, tak ubahnya seperti seniman pengagum alam saja,” Lie Kee Cie menyindir dingin.

“Ya untuk orang baru, segala yang baru menarik perhatian, maka itu biarpun diwaktu malam tetap menarik juga!”

Tiba-tiba saja sepasang mata Lie Kee Cie yang memancarkan sinar tajam dan dingin menyapu wajah sipemuda. “Apakah In Kongcu mengetahui kejadian dan segala perubahan di rumah ini?”

“Yang kudengar soal bagaimana matinya tiga penterjemah dirumah ini dari Pek Kounio!”

“Apakah hal ini tidak membuat Kongcu takut?”

“Ya sejujurnya tabiatku tidak takut pada setan atau iblis!”

“Soal setan atau iblis adalah abstrak, yang benar tiga penterjemah mati terbunuh! Tapi yang menurunkan tangan jahat dapat berbuat begitu cermat dan tidak meninggalkan jejak untuk bahan pengusutan, sehingga kejadian itu tetap gelap.” Ia berhenti sejenak, sepasang matanya mengawasi terus pada In Tiong Giok, sudah selang lama ia berkata: “Kongcu adalah penterjemah yang keempat datang ke sini, maka itu kuminta Kongcu bisa berlaku hati-hati, dan bekerjasama denganku!”

“Harus bagaimana aku ini Lie Tongleng?”

“Maksudku engkau kujadikan umpan untuk memancing penjahat keluar!”

“Ah terlalu bahaya, salah-salah jiwaku bisa melayang!”

“Jangan kuatir, sebelum engkau beres menterjemahkan buku, tak bisa kami membiarkan engkau gampang-gampang mati!”

Sebaliknya bagaimana kalau pekerjaanku sudah selesai…..”

“Mungkin Pangcu dan lo Cucong bisa memberi kesempatan Kongcu masuk menjadi anggota?”

“Jika aku tak mau menjadi anggota?”

“Kongcu pasti mau, karena jalan satu-satunya untuk hidup!” Sehabis berkata Lie Kee Cie segera berlalu.

Perkataan terakhir dari Tongleng itu membuat Tiong Giok tertegun, tak terasa lagi badannya jadi bergidik. Tak heran kalau Wan Jie mengatakan, jika engkau tidak bisa bahasa Ssangsekerta dan hanya sebagai mata-mata akan lebih baik lagi. Bukankah dengan begitu sinona menjelaskan setelah pekerjaannya selesai dirinya akan dibunuh untuk menutup mulut? Lebih-lebih melihat keadaan kini, bagaimana Lie Tongleng keluar masuk kedalam kamarnya dengan leluasa membuat hatinya semakin ciut. Otaknya berkecamuk tak keruan, akhirnya keberaniannyapun timbul dan berkata dalam hati secara pasti: “Tujuan mereka tidak baik, jangan aku bekerja dengan baik pula, ya harus berdaya upaya untuk meloloskan diri secepatnya!” Akibatnya terlalu banyak berpikir sampai malam hari ia tidak tidur!

Pagi-pagi Wan Jie sudah datang, begitu melihat mata Tiong Giok yang merah karena tak tidur segera bertanya dengan heran: “Mungkin malam tak tidur ya? Apakah tempat ini terlalu sepi dan mendatangkan ketidak betahanmu?”

“Aku tidak, justeru karena tempat ini terlalu indah sehingga membuatku tak dapat tidur!”

“Keadaan tempat kami ini terpisah-pisah dari dunia luar, sepanjang tahun keadaan alam tidak berubah, pemandangan selalu indah, jika engkau senang aku bersedia menjadi penunjuk jalan, keliling keempat penjuru, memuaskan pandangan mata!”

“Mungkinkah aku diijinkan untuk meninjau dan pesiar ditempat ini?”

“Siapa bilang tidak? Bahkan suhu sudah memesan agar aku menemani engkau dlam beberapa hari ini kemana engkau suka, yah mari kita berjalan-jalan!” Tanpa menunggu jawaban, lengan Tiong Giok ditariknya dan diajak jalan-jalan.

In Tiong Giok mengerti inilah siasat Pok Thian Pang yang sengaja menjadikan dirinya sebagai umpan, dan dipamerkan supaya semua orang tahu dirinya sebagai penterjemah. Guna menarik perhatian untuk semua orang-orang yang bermaksud buruk: Sebaliknya ia sendiri menggunakan kesempatan ini untuk mencari jalan meloloskan diri!”

Mereka berjalan-jalan dengan enaknya, tanpa terasa lagi seluruh pulau kena dikelilingi. Sepanjang jalan Wan Jie tak jeemu-jemunya memberitahu nama-nama tempat. Semakin jalan perasaan Tiong Giok merasa kesal, kaena melihat dimana-mana penjagaan sangat keras sekali, bagaimanapun untuk mencari kesempatan lari tak mungkin bisa lari.

Senja hari mereka baru kembali, dengan alas an letih Tiong Giok membuat Wan Jie berlalu, ia sendiri naik kepembaringan, begitu lesu dan lemas, segala harapan untuk lari menjadi hilang dan tinggal angan-angan saja! Akhirnya akibat keletihan yang berlebih-lebihan, ia tertidur pulas.

Waktu malam Tiong Giok terbangun dengan kaget, karena pintu rumah digedor dari luar. Dilihatnya In Hok tergesa-gesa membuka pintu dari luar masuk Lie Kee Cie dan seorang laki-laki beralis tebal, dilihat dari seragamnya menandakan ia wakil Tongleng.

“Cuwie dimalam hari datang kesini ada keperluan apa?” tegur In Tiong Giok.

Lie Kee Cie dengan pancaran mata yang tajam menyapu keliling ruangan, lalu berkata: “Bukan soal apa-apa, hanya menjenguk In Kongcu saja, karena ada seorang mata-mata didaerah sini!”

“Tapi disini aman tak kurang sesuatu apa-apa!”

“Mata-mata itu mencoba mencuri perahu, tapi kepergok dan lari kesini!” kata Lie Kee Cie. “Tapi kami tidak merasakan ada yang masuk kesini.” Jawab In Tiong Giok.

“Demi keselamatan Kongcu, maka ijinkanlah kami melakukan penggeledahan seisi rumah!”

“Silahkan! Silahkan! Jika benar berada disini, ini bukan main-main!”

lie Kee Cie menganggukkan kepala dan menoleh kepada laki-laki beralis kereng: “Suruhlah pengawal-pengawal melakukan penggeledahan!”

Belasan pengawal dengan obor terang memeriksa kesetiap ruangan. Suasana menjadi hiruk pikuk. Saat inilah Wan Jie dengan dua pengikutnyapun datang, membantu memeriksa dan mencari penjahat biarpun sudah diperiksa dengan teliti tidak juga ditemui penjahat yang dimaksudkan.

Laki-laki beralis kereng merasa penasaran, diambilnya onor dari pengawal dan dia masuki kamar Tiong Giok dan In Hok, kolong-kolong diperiksa, dan lemari-lemari dibuka, tapi hasilnya nihil. Heran, mungkinkah ia bisa menghilang?” gerutunya perlahan.

“Apakah kalian benar-benar melihat tegas penjahat itu masuk kesini?” tanya Wan Jie.

“Pasti tidak salah,” kata Lie Kee Cie dengan suara mantap.

“Apakah taman bunga dan perkampungan Awan Putih sudah diperiksa juga, siapa tahu penjahat itu bersembunyi disana.” Kata Pek Wan Jie.

“Perkataan Pek Kounio memang benar, disana lebih banyak gunung-gunung yang cocok untuk menyembunyikan badan” kata Lie Kee Cie yang segera permisi berlalu sambil membawa anak buahnya.

“Kata apa?” kata Pek Wan Jie, “keadaanmu selalu dalam bahaya, bagaimana jika benar penjahat datang, sedangkan kalian tidak bisa bersilat. Mau tidak engkau menrima Siau Hong sebagai pelindung?”

“Menurut Lie Tongleng penjahat itu berniat merampas perahu dan bukan untuk mencelakan aku, dari sini dapat ditarik kesimpulan itu bukan mata-mata melainkan ada seseorang didalam Pok Thian Pang yang ingin melarikan diri dan berhianat pada perserikatan!”

“Engkau tidak bisa melihat keadaan baik dan buruk, maksudku menaruh Siau Hong disini demi keselamatanmu, tapi engkau seperti takut padanya, ia toh tidak bisa memakanmu bukan?”

“Lie Tongleng seorang cerdik dan tangkas adanya dia sebagai penjaga hatiku merasa tentram! Soal Siau Hong bukan apa-apa hanya…seorang pelajar aku merasa kikuk tinggal bersama-sama dengan seorang gadis!”

“Ah engkau benar-benar pandai menggoyang lidah, membuatku tak berdaya! kata Pek Wan Jie, seraya mengajak kedua pengikutnya berlalu.

Dengan cepat dua hari telah berlalu, selama ini In Tiong Giok kurang tidur, malam inipun tidak terkecuali, perasaannya amat risau. Ia berjalan kejendela memandang keadaan ,alam, waktu baru tengah malam masih jauh kepagi. Untuk menghilangkan kesalnya ia membaca buku, untuk ini ia harus menyalakan lampu, malang baginya minyak pelita sudah kering. Maka dipanggilnya In Hok, tapi tidak mendapat jawaban, hal ini mengherankannya. Biasanya orang tua itu sekali dipanggil sudah menyahut, kenapa malam ini bisa tidur nyenyak sekali. Dihampirinya kamar pembantu itu, ia jadi melongo karena In Hok tidak ada dikamar!

Saat inilah dari arah jauh terdengar kentongan bahaya, dalam sekejap suasana jadi ramai dari teriakan para pengawal. Tiba-tiba dari luar berkelebat sesosok bayangan yang segera membuka baju dan terus naik ke ranjang makai selimut. Kejadian ini berlangsung hanya sekilas mata saja, menandakan orang ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Tapi Tiong Giok mengenali orang itu bukan lain dari In Hok adanya!

Penemuan yang tidak disengaja ini membuatnya menggigil tak keruan, hampir-hampir ia berseru kaget, untung tertahan. In Hok adalah pembantu ayahnya puluhan tahun, tak mungkin sebagai seorang lihay yang menyembunyikan kepandaian sekian lamanya tanpa ketahuan.

Diluar rumah sudah terdengar langkah-langkah pengawal, Tiong Giok buru-buru masuk keranjangnya dan pura-pura tidur! lalu dengan gaya sepeerti barubangun dipanggilnya In Hok membuka pintu, karena pintu sudah diketuk dari luar.

In Hok benar-benar seperti baru bangun sambil memakai baju ia membuka pintu.

Lie Tongleng dan wakilnya tersenyum sinis melangkah masuk dengan sepuluh pengawal. “Untuk ketiga kalinya aku mengganggu, tapi sekali ini tidak akan salah lagi, dengan mata kepala sendiri kulihat ada yang masuk kedalam rumah!” Tanpa permisi lagi ia mengeluarkan perintah pada anak buahnya: “Periksa!”

Laki-laki beralis kereng dengan cerfmat melakukan pemeriksaan demikian juga dengan anak buahnya, tapi hasilnya tetap nihil!

Lie Tongleng wajahnya menjadi masam, dengan tajam ia memandang kepada In Hok. Sedangkan yang diawasi sikapnya sangat wajar dan layu, masih mengantuk. Begitu lama Lie Tongleng mengawasi, belum juga membuka mulut, membuat In Tiong Giok kaget dan cepat berkata memecahkan kesunyian: ” Cuwie tentu amat letih bertugas sepanjang malam, mari mengaso dulu, In Hok lekas sediakan the dan jangan membengong saja disini!”

In Hok segera ngeloyor pergi.

“Tidak usah,” kata lie Tongleng, kami masih sedang bertugas, tidak bisa lama-lama berada disini, atas kejadian ini harap jangan merasa terganggu, semua ini untuk keselamatan Kongcu!”

“Terima kasih atas kebaikan Tongleng!” kata In Tiong Giok sambil merangkapkan tangan. ”

“Bolehkah aku menanyaorang tua ini sudah berapa lama menjadi pembantu dirumahmu?” kata Lie Tongleng.

Diam-diam Tiong Giok menjadi kaget, tapi parasnya tetap tenang dan menjawab secara wajar: “Sejak umur belasan tahun ia membantu ayahku sampai sekarang!”

“Ia pengawal lama dan orang kepercayaan ayahmu, maka itu kesetiaannya tak usah diragukan lagi bukan?”

Perkataan Lie Tongleng tidak berarti apa-apa, tapi Tiong Giok sudah mengenal wataknya yang cerdik, maka iapun menjawab seenaknya: “Ya, memang ia orang kepercayaan ayahku!”

“Ia begitu setia dan bekerja sudah puluhan tahun, apakah sudah berkeluarga?”

“Ini…” belum pula Tiong Giok berkata habis, In Hok sudah mendahului: “Anakku sudah sebesar Tongleng!” Jawaban ini hampir-hampir membuat sekalian pengawal tertawa dibuatnya.

“In Kongcu katamu belum selesai,” kata Lie Tongleng dengan cepat.

“Ini terjadi sebelum aku lahir!” jawab Tiong Giok dengan cepat pula. “Untuk apa Tongleng bertanya hal ini?”

“Memang seperti tidak berguna tapi bermanfaat besar bagiku, tunggu saja nanti, aku bisa memberikan laporan yang benar-benar bisa mengejutkan Kongcu, nah sekarang sudah lama kami mengganggu dan permisi!” Dengan sekali menggoyang tangan sekalian pengawal mengiringinya keluar.

In Tiong Giok masih terpekur, setelah langkah-langkah para pengawal menjauh ia baru merasa lega. Cepat ditutupnya pintu, lalu dipanggilnya in Hok: “Engkau sebenarnya siapa, lekas bilang!”

“Kongcu masakan sama aku si budak tua tidak kenal? Aku In Hok!”

“Sampai sekarang In Hok belum berkeluarga sebaliknya terus terang saja siapa dirimu? Dan In Hok telah engkau apakan?”

“In Hok tiba-tiba tertawa: “Harap Kongcu tenang, pengikutmu itu tidak kurang suatu apa dan sudah pulang dengan selamat kerumahmu!”

“Untuk apa engkau menyamar sebagai In Hok, terangkan lekas, jangan sampai aku berteriak dan membuatmu nanti mati secara sia-sia.”

“Manusia tidak mau mencelakakan Harimau, sebaliknya harimau mau mencelakakan manusia”, kata In Hok palsu, “tidakkah Kongcu ingat dua kali terlepas bahaya berkat pertolonganku?” Berbareng dengan habisnya bicara, lengannya dengan cepat menjambak dada In Tiong Giok.

Dengan tangkas pemuda kita menggunakan ilmu menggeser tubuh Kiu toan bie cong pou, tubuhnya berkelebat dan lolos daro serangan.

“Ih, kiranya ada permainannya juga,” kata In Hok sambil mengebaskan tangan membuat pelita padam. Lalu tubuhnya merendah dan melancarkan serangan Kui ong tan jiau (raja setan mengcengkeram) kearah ketiak lawan. Tapi dengan cepat dan gusar Tiong Giok melancarkan serangan balasan kearah jalan darah musuh. Serangannya yang cepat dan tepat membuat In Hok kaget, dan menarik tangannya sambil berseru: “Ih Siong liong ciu (ilmu menangkap naga)!”

“Hemm, kau kenal juga, nah ini apa!” kata In Tiong Giok seraya mengumpulkan tenaga untuk melancarkan ilmu mautnya. Tapi dengan tiba-tiba ia ingat pesan gurunya dan buru-buru membatalkan niatnya.

Tapi gerakannya saja sudah dikenali In Hok orang tua itu jadi tersenyum. “Hm, tahan dulu si kutu buku itu apamu?”

“Aku tidak kenal siapa si kutu buku!”

“Lalu siapa yang memberikan pelajaran Sing Liong ciu dan Hiat cie leng padamu?”

“Sudah tentu guruku!”

“Siapa gurumu?”

“Penunggang Hiu dari daerah Honglay, pelajar miskin dari Pegunungan Salju!”

“In Hok menarik nafas panjang, lalu menyalakan pelita. Dibawah sinar lampu. “In Hok telah bersalin rupa: Rambutnya putih, matanya memancar tajam, usianya lebih tua dari In Hok asli, tapi wajahnya kemerah-merahan seperti gadis remaja!

“Engkau siapa?”

“Ha ha ha budak cilik, lihatlah yang tegas!” Orang tua itu tertawa dan mengusap wajahnya, warna kemerah-merahan menjadi hilang berubah kecoklat-coklatan, sikapnya penuh wibawa, dialah Ngo Liu Cungcu Tan Toa Tiau. In Tiong Giok menyedot nafas, mengumpulkan tenaga siap dengan Hiat Cie Leng.

“Jangan kesusu, lihat lagi yang tegas,” Lagi-lagi si orang tua bersalin rupa persis seperti Lie Kee Cie.

In Tiong Giok kebingungan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas: “Engkau sebenarnya siapa? Setan atau manusia?”

Orang tua itu mengeset selaput tipis dari wajahnya, menampakkan kembali wajah aslinya yang kemerah-merahan seperti anak gadis remaja. Ia tertawa puas: “Lohu adalah setengah manusia setengah setan, ketemu manusia jadi orang ketemu setan jadi iblis! Bocah, belum kenal juga padaku?”

In Tiong Giok menjadi bingung: “Hari-hari belum pernah ketemu mana kukenal engkau siapa, lagi pula yang mana wajah aslimu!”

“Ah benar-benar celaka sampai orang sendiri tidak dikenal. Menurut tingkatan engkau harus memanggil Siok-siok (paman) padaku, tak kira berbalik dijadikan pelayanmu!”

“Sebenarnya engkau ini siapa?”

“Gurumu si kutu buku itu adalah kawan karibku dari banyak tahun,” kata si orang tua. “Dalam hal menulis dan membuat sajak aku tak memadai kepandaiannya, tapi dalam hal minum arak dan menggerogot daging anjing aku lebih lihai darinya! Jika engkau mewarisi kepandaiannya dan menjadi muridnya, tentu kenal siapa aku?”

“Suhu tak pernah menceritakan orang-orang Kang Ouw, bahkan sampai namanya sendiri tak pernah dikatakan!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: