Kumpulan Cerita Silat

04/01/2008

Duke of Mount Deer (02)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:41 pm

Duke of Mount Deer (02)
Oleh Jin Yong

Keesokan paginya ketika dia terbangun, Siau Po melihat Mau Sip-pat sedang berdiri menghadap matahari terbit. Sepasang telapak tangannya merangkap di depan dada dan nafasnya teratur sekali. Kemungkinan dia sedang melatih diri untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Sampai cukup lama Mau Sip-pat melakukan hal itu. Ketika membuka mata, dia melihat Siau Po sedang memandanginya dengan terkesima. Bibirnya langsung menyunggingkan seulas senyuman.

“Kau sudah bangun?”

Siau Po menganggukkan kepalanya.

“Sekarang kau seret dulu mayat kedua orang itu ke balik pohon besar itu. Kemudian asahlah ketiga batang golok itu agar menjadi tajam,” kata Mau Sip-pat selanjutnya.

Siau Po mengiakan. la melakukan perintah sahabatnya dengan gesit. Saat ini dia baru memperhatikan dengan jelas bahwa usia Mau Sip-pat sekitar empat puluhan tahun. Tubuhnya kekar, tampangnya gagah.

Setelah selesai mengasah golok, Siau Po berkata: “Aku akan pergi membeli bakpau.”

“Di mana kau bisa membeli bakpau di tempat seperti ini?”

“Tidak jauh di bawah sana ada sebuah kedai makanan. Mau toako, kau kan mempunyai uang, bolehkah aku pinjam sedikit?”

“Kita sudah menjadi saudara satu dengan lainnya. Milikku adalah milikmu juga. Mengapa harus menyebut kata-kata pinjam?”

Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati. “Dia sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, meskipun ada hadiah sebesar tiga ribu tail, tidak boleh aku melaporkan keberadaannya kepada pembesar negeri. Tapi bagaimana kalau nilainya satu laksa tail, pusing juga mengambil keputusan. Dia begitu baik kepadaku. Tidak! Aku tidak boleh mengkhianatinya!

Karena itu, Siau Po segera menerima uang yang disodorkan Mau Sip-pat sambil bertanya: “Mau toako, apakah aku perlu membelikan obat luka untukmu?”

“Tidak usah. Aku punya,” sahut Sip-pat.

“Baiklah. Aku pergi dulu,” kata Siau Po. “Mau toako, kau tidak perlu khawatir. Seandainya aku sampai tertangkap, meskipun batok kepalaku ini akan dipenggal, aku tidak akan mengaku di mana adanya engkau.”

Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya. Dia percaya penuh dengan ucapan Siau Po. Terdengar Wi Siau Po seperti menggumam seorang diri.

“Mau toako masih mempunyai dua orang sahabat yang akan datang. Sebaiknya aku membeli sepoci arak dan beberapa kati daging rebus.”

Mau Sip-pat senang sekali mendengarnya.

“Bagus sekali. Paling cocok kalau ada arak dan daging, sesudah perut kenyang, berkelahi pun jadi penuh semangat!”

“Berkelahi? Mengapa kau harus berkelahi?” tanya Siau Po bingung.

“Kau kira untuk apa aku datang kemari tanpa juntrungan? Justru aku berjanji dengan orang untuk bertanding di bukit Tek Seng san ini!”

“Ah! Mau toako sedang terluka, bagaimana bisa berkelahi? Tidak bisakah kau menundanya sampai lukamu itu sembuh? Atau pihak sana yang tidak bersedia mengundurkan waktunya?”

“Aih. Kau tidak tahu,” sahut Mau Sip-pat.

“Pihak sana terdiri dari orang-orang gagah, mana mungkin mereka tidak setuju apabila tahu aku sedang terluka. Justru aku yang tidak ingin menunda waktunya.”

Mau Sip-pat merenung sejenak, kemudian baru melanjutkan kata-katanya kembali: “Hari ini bulan tiga tanggal dua puluh bukan? Janji hari ini sudah kami tetapkan sejak setengah tahun yang lalu. Sempat aku tertangkap oleh pembesar negeri dan dipenjara. Tapi aku terus mengingat perjanjian itu. Janji yang sudah diucapkan oleh seorang laki-laki sejati tidak boleh diingkari. Karena itulah aku kabur dari penjara untuk datang kemari. Selagi melarikan diri, aku sempat membunuh beberapa orang petugas, itulah sebabnya kota Yang Ciu jadi gempar dan para pembesar negeri pun mencari aku. Akhirnya kau tentu sudah tahu, yakni terjadi keributan di rumah pelesiran itu. Celakanya aku jadi terluka gara-gara urusan itu.”

Siau Po diam saja mendengarkan. Setelah Mau Sip-pat menyelesaikan kata-katanya, baru dia membuka suara.

“Baiklah. Aku akan pergi sekarang juga dan kembali selekasnya agar kau sempat mengisi perut sampai kenyang.” Wi Siau Po langsung membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu.

Pasar atau kedai makanan yang dimaksudkannya terletak pada jarak kurang lebih tujuh delapan li. Sebentar saja dia sudah sampai di sana, tetapi otaknya terus digelayuti tentang apa yang dikatakan sahabatnya. ‘Aih! Mau toako sedang terluka, mana bisa dia berkelahi dengan orang? Jalan saja sukar. Tetapi, apa akalku untuk membantunya?’

Dengan pikiran melayang-layang, Siau Po membeli belasan butir bakpau dan delapan cakwe, harganya hanya dua puluh bun lebih. Di sakunya masih tersisa banyak uang. Jangan kata memilikinya, memegangnya saja baru sekarang ini. Hatinya jadi bingung bagaimana harus menggunakan uang sebanyak itu. Siau Po pergi ke toko daging, Dia membeli sekati daging kerbau yang sudah matang dan seekor bebek panggang. Sebotol arak Hong ciu. Sisa uangnya masih cukup banyak.

Akhirnya sebuah ingatan melintas di benak Wi Siau Po.

‘Akh… sebaiknya aku membeli tambang. Nanti aku akan membuat jerat untuk dibentangkan di atas tanah. Apabila pihak sana kurang berhati-hati ketika berkelahi, dia bisa tersandung jatuh, sehingga Mau toako mudah mengalahkannya.’

Siau Po teringat akan cerita dongeng yang sering didengarnya, yakni menjatuhkan atau membuat kuda musuh terjungkal oleh tali panjang yang direntangkan. Itulah sebabnya ia cepat-cepat menuju toko kelontong.

Di depan toko itu, Siau Po melihat empat buah guci besar. Yang pertama berisi beras, yang kedua berisi kacang kedelai, yang ketiga berisi garam dan yang terakhir berisi semen.

Melihat bubuk semen itu, Siau Po teringat suatu peristiwa yang sempat dilihatnya tahun lalu. Dia berpikir dalam hati: ‘Di tepi jembatan Sian li Ki waktu itu terjadi pertempuran antara para penyelundup garam dari dua sindikat yang berlainan. Salah satu pihak menggunakan timpukan semen sehingga dari keadaan kalah dia menjadi menang. Kenapa aku tidak mengingat akal itu sejak tadi?’

Membawa pikiran itu, Siau Po tidak jadi membeli tambang. Sebaliknya ia membeli dua kantong semen yang lantas dibawanya ke bukit Tek Seng San di mana Mau Sip-pat menunggu.

Mau Sip-pat sedang tertidur nyenyak ketika Siau Po kembali. Mendengar suara langkah kaki, dia langsung tersentak bangun. Tanpa berbasa-basi lagi dia meraih botol arak dan meneguk isinya beberapa kali.

“Arak bagus!” pujinya. “Apakah kau sendiri tidak merasa haus?”

Sebetulnya Siau Po tidak biasa minum arak, tapi untuk menjaga gengsinya sebagai orang gagah, dia menyambut juga botol yang disodorkan oleh Mau Sip-pat dan meneguk isinya satu kali. Serangkum hawa panas yang seperti api membakar tenggorokannya. Tanpa dapat ditahan lagi Siau Po terbatuk-batuk. Mau Sip-pat tertawa terbahak-bahak.

“He, enghiong cilik, kau belum cukup mahir minum arak!” katanya menggoda.

Tepat pada saat itu terdengar sebuah suara menyapa.

“Hai, Sip-pat heng, sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabarmu sejak perpisahan kita?”

Sip Pat memalingkan kepalanya.

“Oh, rupanya Go heng dan Ong heng sudah datang,” sahutnya. “Tentunya kalian berdua sehat-sehat saja bukan?”

Siau Po yang mendengar tegur sapa itu merasa terkejut sekali. Untuk sesaat dia jadi tertegun sampai-sampai bakpau di tangannya pun lupa dicaploknya.

Cepat dia menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat dua orang tengah mendatangi dengan cepat. Anehnya, mereka tidak berlari, hanya melangkah tapi gerakan mereka bagaikan kilat. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di depan Mau Sip-pat dan Siau Po.

Yang satu merupakan seorang tua, kumis dan janggutnya panjang sekali menjuntai sampai di depan dada. Wajahnya belum keriput, bahkan kulitnya berwarna kemerah-merahan seperti anak gadis berusia lima enam belasan tahun. Sedangkan yang satu lagi berusia kurang lebih empat puluhan tahun. Tubuhnya pendek dan buntek. Kepalanya botak dengan kuncir kecil yang lucu sekali.

Mau Sip-pat menjura sambil tetap mendeprok di atas tanah.

“Kakiku ini sedang kurang leluasa, tidak bisa memberi hormat sebagaimana layaknya,” katanya.

Si botak sepertinya kurang puas dengan tindakan Mau Sip-pat, tapi rekannya segera berkata. “Tidak apa-apa, jangan sungkan.”

Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati. ‘Mau toako terlalu jujur, kakinya sedang terluka pun diberitahukan kepada pihak lawan.’

Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali. “Di sini kebetulan ada arak dan daging, maukah kalian mencicipinya sedikit?”

“Maaf kalau kami telah mengganggu keasyikan Mau heng…” kata si orang tua langsung ikut mendeprok di sisi Mau Sip-pat dan mengulurkan tangan menyambuti botol arak.

Menyaksikan hal itu, hati Siau Po menjadi girang. Tadinya dia masih bingung dan khawatir.

‘Oh kiranya mereka ini sahabat-sahabat Mau toako. Kedatangan mereka bukan untuk berkelahi. Bagus sekali. Dengan demikian Mau toako berarti mendapat bantuan dua tenaga apabila sebentar lagi lawannya datang. Sayangnya mereka tidak membawa senjata. Eh, apakah mereka mengerti ilmu silat atau tidak ya?’

Si orang tua mengangkat botol arak ke dekat mulutnya. Ketika dia ingin meneguknya, terdengar si botak berkata.

“Go toako, sebaiknya kau jangan minum arak itu!”

Suaranya keras sekali sehingga Siau Po terperanjat. Tanpa dapat nienahan diri lagi, kakinya menyurut mundur dua langkah.

Orang tua itu sempat tertegun sejenak, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Tidak perlu berprasangka buruk. Sip-pat heng adalah seorang laki-laki sejati. Tak nanti dia menaruh racun dalam arak.” la terus meneguk arak itu sebanyak dua kali. Kemudian dia menyodorkan botol itu ke hadapan rekannya. “Kalau kau tidak sudi meneguk arak ini, berarti kau tidak menghargai sahabatmu.”

Si botak ragu-ragu sejenak, tapi tampaknya dia tidak berani menentang ucapan si orang tua. Tangannya segera menjulur ke depan untuk menyambut botol arak, tapi baru saja dia hendak meneguknya, botol arak itu sudah direbut oleh Mau Sip-pat.

“Araknya kurang banyak.Lagipula Ong heng tidak gemar minum, lebih baik hemat sedikit untuk diriku sendiri!” katanya sambil menenggak habis isi botol itu.

Wajah si botak menjadi merah padam seketika. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Diambilnya sepotong daging lalu dikunyahnya. Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali.

“Tuan-tuan, mari aku kenalkan dulu pada sahabat baikku ini!” tangannya menunjuk kepada si orang tua kemudian berkata lagi kepada Siau Po. “Ini tuan Go Tay Peng, orang kangouw menjulukinya Mo In-Jiu (tangan meraba mega/awan), ilmu silatnya tinggi sekali hampir tanpa tandingan.”

Si orang tua yang bernama Go Tay Peng langsung tertawa lebar.

“Mau heng, kau sungguh pandai membuat kepalaku besar!” tetapi ketika memperhatikan keadaan sekitarnya, dia menjadi heran karena di terapat itu tidak ada orang lain kecuali Mau Sip-pat dan rekannya yang she Ong. Lalu siapa sahabat yang dimaksudkannya?

Sip-pat kembali menunjuk kepada si botak.

“Yang ini Ong suhu yang bernama tunggal Tan. Beliau mendapat julukan Siang Pit Kay-San (sepasang pit pembuka gunung), ilmunya lihay sekali.”

“Mau heng hanya berkelakar saja. Justru aku pernah dikalahkan olehmu dan hal itu membuat aku malu sekali….”

“Saudara Ong tidak perlu merendah,” tukas Mau Sip-pat. Dia terus menunjuk ke arah Siau Po dan berkata kembali. “Inilah sahabat baruku….”

Go Tay Peng dan Ong Tan jadi tertegun serentak. Sesaat kemudian tampak keduanya saling pandang, mereka benar-benar bingung. Setelah itu mereka menolehkan kepalanya memperhatikan si bocah laki-laki yang usianya paling banter dua belas tahun itu. Tubuhnya kurus kering pula.

‘Siapakah bocah ini?’ pikir mereka dalam hati.

Sementara itu, terdengar Mau Sip-pat melanjutkan kata-katanya.

“Sahabat kecilku ini she Wi, namanya Siau Po. Orang kangouw menjulukinya….”

Mau Sip-pat menghentikan kata-katanya sejenak seakan sedang berpikir.

“Siau pek-liong (Si Naga putih yang kecil). Ilmu berenangnya istimewa sekali. Dia sanggup menyelusup di dalam air selama tiga hari tiga malam. Untuk mengisi perut dia makan udang dan ikan mentah!”

Sengaja Mau Sip-pat berkata demikian, walaupun dia tahu Siau Po tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Kedua sahabatnya merupakan tokoh-tokoh dunia kangouw yang ilmunya tinggi sekali, tentu saja tidak mudah dikelabui. Tapi kedua orang itu tidak bisa berenang, karena itu dia memakai alasan itu untuk meninggikan derajat Wi Siau Po. Dengan demikian mereka juga sukar membuktikan kebenaran kata-katanya.

“Nah, aku harap kalian bertiga dapat mengikat persahabatan yang kekal.”

Go Tay Peng dan Ong Tan segera menjura kepada Wi Siau Po sambil berkata: “Telah lama kami mendengar nama besarmu, saudara muda.”

Siau Po tidak mau kalah. Sembari membalas hormat, dia pun berkata: “Aku juga sudah lama mengagumi kalian.”

Dalam hati Siau Po justru mengeluh. ‘Mau toako bisa saja. Orang seperti aku ini mana pantas disebut tokoh kangouw? Lagipula aku tidak bisa berenang, bagaimana kalau hal ini ketahuan kelak?’

Perjamuan istimewa itu pun dilanjutkan. Sampai akhirnya arak habis, daging serta bakpau tidak bersisa lagi. Ong Tan mula-mula yang paling malu, tapi belakangan dia yang justru paling banyak gegares.

Mau Sip-pat menyeka mulutnya dengan ujung bajunya, kemudian berkata: “Go loya cu, sahabat cilikku ini pandai berenang dan menyelam. Tetapi dia tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Karena itu, dalam pertempuran kali ini, hanya satu lawan dua. Hal ini bukan semata-mata karena aku memandang rendah kalian berdua….”

Go Tay Peng memperhatikan Mau Sip-pat lekat-lekat.

“Aku rasa sebaiknya perkelahian ini kita tunda setengah tahun lagi saja.”

“Kenapa?” tanya Mau Sip-pat heran.

“Kau sedang terluka, Mau heng. Tentu kau tidak bisa mengerahkan ilmumu dengan baik,” sahut Go Tay Peng.

“Andaikata aku si orang tua meraih kemenangan, tidak ada yang dapat kubanggakan. Tetapi kalau aku sampai kalah, habislah pamorku selama ini.”

“Bagiku, terluka atau tidak, tak banyak bedanya,” kata Mau Sip-pat sambil tertawa terbahak-bahak. “Kalau kita harus menunggu setengah tahun, apakah usus kita tidak jadi melilit dan putus?”

Dengan tangan kiri menopang pada batang pohon dan tangan kanan menggunakan golok sebagai tongkat, Mau Sip-pat berdiri perlahan-lahan.

“Go loya cu, kau memang selamanya tidak pernah menggunakan senjata. Saudara Ong, keluarkanlah andalanmu itu!” katanya.

“Baik!” seru Ong Tan sambil mengeluarkan sepasang boankoan pit dari selipan pinggangnya Senjata inilah yang membuat nama orang ini jadi terkenal dan mendapat julukan Siang Pit Kay-San.

“Baiklah, Mau heng, bila kau tetap memaksakan kehendakmu. Ong te, kau bersiap sedia saja. Sebentar kalau aku menderita kekalahan, baru kau maju.”

Sebagai seorang tokoh dunia kangow yang sudah mempunyai nama, Go Tay Peng tidak mau menghadapi lawan dengan cara mengeroyok.

“Baik!” sahut Ong Tan kemudian menyurut mundur tiga langkah.

Go Tay Peng sudah bersiap sedia, pergelangan tangannya memutar. Tangan kanannya melingkar, terus diluncurkan kepada lawan. Dia menyerang sambil melindungi dirinya sendiri.

Serrr! Sip-pat menebaskan goloknya. Dia tidak menangkis atau menebas tangan kanan lawan, yang diincarnya justru tangan kiri!

Sungguh suatu serangan balasan yang hebat sekali!

Go Tay Peng menangis dengan tangan kirinya. Kepala dan bahunya dimiringkan sedikit. Gerakannya bukan hanya menghindarkan diri dari serangan lawan, tapi tangan kirinya sekaligus menyambar ke arah tangan kanan Mau Sip-pat yang menggenggam golok.

Mau Sip-pat menghindar dengan memutar tubuhnya, pukulan lawannya mengenai batang pohon. Terasa getaran yang kuat dan dedaunan dari pohon itu pun rontok sebagian.

“Pukulan yang hebat!” puji Mau Sip-pat. Diam-diam dia mengakui bahwa julukan lawannya bukan nama kosong belaka.

Mau Sip-pat sendiri bukan hanya memuji, dia juga maju menyerang, menebas pinggang lawan dengan goloknya. Go Tay Peng menutulkan sepasang kakinya di atas tanah sehingga dengan gerakan indah tubuhnya mencelat ke atas. Bahkan jenggotnya sampai melambai-lambai karena hembusan angin.

Sungguh di luar dugaan, meskipun usianya sudah lanjut, gerakan Mo In-Jiu Go Tay Peng ternyata masih demikian lincah dan gesit. Wi Siau Po merasa kagum sekali. Seumur hidup dia belum pernah melihat perkelahian yang demikian seru.

Namun dia juga mengkhawatirkan keadaan Mau Sip-pat. Diam-diam dia berpikir, ‘Bisa celaka kalau Mau toako sampai terhajar pukulannya yang lihai itu.’

Pertempuran berlangsung semakin sengit, go-lok Mau Sip-pat memutar ke sana-kemari sehingga timbul cahaya yang berkilauan. Semua serangan lawan dapat dihadapinya dengan baik.

Tepat pada saat pertarungan masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda. Keempat orang itu menoleh serentak. Mereka melihat belasan penunggang kuda sedang mendatangi dan begitu tiba di dekat mereka lantas memencarkan diri mengambil posisi mengepung.

Dari pakaian seragamnya, dapat diketahui bahwa mereka terdiri dari tentara Boan. Sedangkan orang yang menjadi pimpinannya segera berteriak dengan lantang.

“Berhenti semua! Kami mendapat perintah menangkap penjahat besar Mau Sip-pat. Kalian yang tidak ada sangkut pautnya, harap segera mengundurkan diri!”

Mendengar kata-kata itu, Go Tay Peng menghentikan serangannya kemudian mencelat mundur. Sikap Mau Sip-pat berani sekali. Dia segera berkata kepada rekannya.

“Go loya cu, kawanan kuku garuda ini muncul lagi. Tujuan mereka kemari hanya mencari aku, sebaiknya kau tidak usah perdulikan mereka. Kita lanjutkan saja pertarungan kita!”

Go Tay Peng tidak menggubris ucapan Mau Sip-pat. Dia menatap para tentara itu dengan mengedarkan pandangan matanya kemudian berkata kepada si pemimpin.

“Mau Sip-pat adalah seorang rakyat jelata, bagaimana kalian bisa menganggapnya sebagai penjahat besar? Mungkinkah kalian mencari orang yang salah?”

Si perwira tertawa dingin. “Dia rakyat jelata?” Sikapnya seperti mengejek. “Kalau orang seperti dia dapat disebut rakyat yang baik-baik, entah berapa banyak orang baik di dunia ini?” Matanya melirik ke arah Mau Sip-pat kemudian melanjutkan kata-katanya kembali. “Sahabat Mau, bukankah kau telah menerbitkan keonaran besar di kota Yang Ciu? Seorang yang gagah pasti bertanggung jawab atas hasil perbuatannya. Sebaiknya secara baik-baik saja kau turut dengan kami!”

“Boleh kau tunggu dulu sebentar,” sahut Mau Sip-pat seenaknya. “Kau saksikan dulu bagaimana aku melayani Go loya cu ini sampai ada yang menang atau kalah!” Kemudian dia menoleh kepada Go Tay Peng sambil berkata pula: “Go loya cu, biar bagaimanapun, hari ini kita harus bertempur sampai ada hasilnya. Kalau kita menunda lagi sampai setengah tahun lamanya, siapa yang berani memastikan di saat itu Mau Sip-pat masih bernafas?”

Si perwira yang mendengar ocehannya mulai kehabisan rasa sabar.

“Kamu bertiga, kalau kalian memang bukan sekongkolan Mau Sip-pat, sebaiknya lekas tinggalkan tempat ini! Jangan mencari penyakit bagi diri kalian sendiri!”

Mau Sip-pat gusar sekali. Tanpa takut sedikit pun dia mendamprat. “Nenek nyinyir! Buat apa kau begitu bawel?”

Si perwira semakin gusar. Dia mengalihkan pandangannya kepada Go Tay Peng dan Ong Tan. “Kalian berdua bertarung dengannya. Hal ini membuktikan bahwa kalian bukan konconya. Dan kau, Loya cu, janggutmu sudah memutih dan wajahmu bersemu dadu, apakah kau ini yang mendapat julukan Mo In-Jiu, Go Tay Peng?”

“Tak berani aku menerima pujian saudara yang demikian tinggi. Tapi memang benar, akulah Go Tay Peng!” sahutnya merendah.

Si perwira menunjuk lagi ke arah Ong Tan. “Dan itu yang kepalanya botak, pasti saudara Ong yang mendapat julukaa Siang Pit Kay-San, bukan?”

“Hm!” Ong Tan menjawab dengan singkat.

Sementara itu, Go Tay Peng memperhatikan si perwira dengan seksama. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Suaranya cukup lantang, menandakan tenaga dalamnya yang cukup kuat. Diam-diam Go Tay Peng merasa aneh bahwa di dalam pimpinan ketentaraan Boan ada orang pandai seperti dia. Sedangkan rekan-rekannya yang lain juga tampaknya bukan orang sembarangan.

Kemudian dia melihat si perwira menggunakan senjata joanpian, yakni semacam ruyung yang lunak mirip cambuk yang dapat dilipat dan di pinggang kirinya bergelantung sebuah senjata seperti bola yang berduri. Dengan demikian dia langsung dapat menduga siapa adanya perwira itu. Terdengar dia berkata.

“Kabarnya Hek Liong-pian Su Siong adalah seorang tokoh yang mencintai kegagahan di dunia kangouw, entah sejak kapan menjadi hamba pemerintah musuh?”

Memang benar, perwira itu bukan lain dari Hek Liong-pian Su Siong atau si Cambuk Naga Hitam. Wajahnya menjadi merah padam mendengar sindiran Go Tay Peng.

“Go Siau-Po yang ada di kota Pe King sangat bijaksana. Dia juga mempunyai pergaulan yang luas serta pandai menghormati orang-orang pintar dan gagah. Aku yang bodoh saja telah diundangnya untuk menjadi perwira bagi Sri Baginda Raja. Dan beberapa sahabatku ini juga merupakan undangan Go Siau-Po.”

Hek Liong-Pian menghentikan kata-katanya sejenak. “Kami dari kota raja yang jauh sengaja datang kemari karena mendapat tugas untuk mengajak pulang sahabat Mau ini ke kota Pe King. Siapa sangka, sahabat ini telah melakukan keonaran di kota Yang Ciu, bahkan melarikan diri dari penjara. Sungguh kebetulan kita dapat berjumpa di sini!”

“Begitu rupanya,” sahut Go Tay Peng tawar.

Terdengar Mau Sip-pat berkata.

“Go Pay mengaku dirinya sebagai jago nomor satu dari suku bangsa Boan-ciu, sebetulnya sampai di mana tingginya ilmu silat orang itu?”

“Go siau-po mempunyai tenaga alamiah, kekuatannya hebat sekali,” sahut Su Siong. “Ilmu silatnya memang patut disebut nomor satu di dunia ini. Pernah satu kali di kota Pe King dia membunuh seekor kerbau dengan menghantamkan kepalannya. Bukankah kau yang seorang penjahat besar pun sudah mengetahuinya?”

Mau Sip-pat marah sekali diejek sebagai penjahat besar.

“Makmu! Aku tidak percaya Go Pay sedemikian lihay. Aku justru ingin pergi ke Pe King untuk menghadapinya!”

Su Siong tertawa dingin.

“Orang semacam kau hendak melawan Go siau-po? Hm! Asal kena tinjunya satu kali saja, kau pasti akan terkapar mampus di atas tanah!”

Hek Liong-pian menoleh kepada Go Tay Peng dan Ong Tan.

“Go loya cu, saudara Ong, harap kalian menggeser sedikit!”

Tiba-tiba Ong Tan yang sejak tadi diam saja berkata.

“Apa yang kau katakan tadi mengenai kepalaku? Bukankah kau mengejek aku sebagai si botak?”

Sejak muda Ong Tan paling keki kalau orang mengungkit soal kepalanya yang botak. Kepekaannya langsung tergores.

“Oh… tidak,” sahut Su Siong sambil tertawa. “Aku tidak ber….”

Semakin meluap kemarahan Ong Tan. Hek Liong-pian bukannya minta maaf malah tertawa.

“Lalu, apa maksudmu? Mengapa kau tertawa barusan?” bentak Ong Tan.

“Mengapa aku tidak boleh tertawa. Yang botak kan kau sendiri, apa urusannya dengan kami?”

Rasanya seperti ada bara api yang berkobar di dada Ong Tan. Langsung saja dia mengirirakan sebuah serangan ke depan. Jurus yang diguna-kannya adalah ilmu totokan yang istimewa, yakni ‘Ular naga mencelat ke atas, burung Hong terbang di udara’.

Su Siong tertawa terbahak-bahak. Kakinya menyurut mundur dan dengan secepat kilat Joan piannya sudah tercekal di tangan. Senjatanya yang istimewa itu melayang ke pinggang lawan. Ong Tan menghindarkan diri sarabil dengan Boan-koan pit kirinya. Kedua senjata itu langsung beradu. Sementara itu, duri-duri yang tajam dari Joanpian Hek Liong-pian mengancam bagian belakang kepala Ong Tan sehingga terpaksa dia menangkis pula dengan Boan-koan pit kanannya.

Su Siong segera menarik senjatanya ke belakang, tetapi sekejap kemudian dia mengasongkan kembali ke muka lawan. Dia tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya menggerakkannya ke depan dan kemudian ditarik kembali, lalu diselipkan di pinggangnya. Dalam segebrakan dia sudah membuat Ong Tan kerepotan.

Melihat kehebatannya, para pengikutnya langsung memberi sambutan yang meriah.

“Saudara Su, ternyata ilmumu memang hebat sekali. Jurus yang kau gunakan barusan tentunya Sin-liong Sam-pa bwe (Naga sakti menggoyangkan ekornya).”

“Tak berani aku menerima pujian setinggi itu. Harap jangan ditertawakan,” sahut Hek Liong-pian.

Sementara itu, Ong Tan masih ragu apakah harus meneruskan serangannya atau tidak. Su Siong sendiri tidak menggubris Ong Tan lagi. Sembari tertawa lebar dia memalingkan kepalanya kepada Mau Sip-pat.

“Orang she Mau, bangunlah! Ikut kami meninggalkan tempat ini!”

“Tidak demikian mudah, sahabat!” Sahut Mau Sip-pat dengan datar. “Kalian berjumlah tiga belas orang, sedangkan aku hanya sendiri. Meskipun rasanya tidak masuk akal satu sanggup melawan tiga belas orang, tapi aku ingin mencobanya juga.”

Mendengar kata-katanya Go Tay Peng langsung tersenyum.

“Mau heng, mengapa kau menganggap kami ini seperti orang luar saja? Kau bukan melawan mereka seorang diri, tetapi empat melawan tiga belas!”

Mau Sip-pat tertegun sejenak, kemudian dia menoleh kepada Ong Tan.

“Saudara Ong, kau membantu pihak yang mana?”

“Sudan tentu aku berpihak padamu!” sahut Ong Tan tegas.

“Tuan berdua, harap kalian jangan ceroboh. Siapa yang berani melawan pemerintah yang agung, urusannya bisa gawat sekali!”

Go Tay Peng kembali tersenyum, dia berkata.

“Dikatakan memberontak, tentu kami tidak berani. Yang benar, menentang pihak yang sewenang-wenang!”

“Apa bedanya? Orang she Go, apakah kau sudah bertekad untuk membantu pemberontak ini?”

“Harap tuan jangan salah duga. Sebaiknya kau memaklumi dulu duduk persoalannya. Setengah tahun yang lalu, saudara Mau dan saudara Ong ini sudah mengikat perjanjian untuk melakukan pertandingan persahabatan hari ini. Di dalam urusan ini, aku yang rendah juga telah diikutsertakan. Tetapi nyatanya, apa yang terjadi kemudian? Pembesar negeri benar-benar memperlihatkan kesan yang kurang baik. Mereka telah menangkap saudara Mau, kemudian memenjarakannya. Sedangkan Mau adalah seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia mengingkari janjinya sendiri. Bisa-bisa jatuh nama baiknya di dunia kangouw dan dianggap sebagai pengecut. Untuk menghindarkan hal yang tidak diinginkan, terpaksa Mau heng melarikan diri dari penjara guna memenuhi perjanjian ini. Dalam hal ini, pembesar negerilah yang memaksa rakyat memberontak. Sekarang, jika saudara sudi memandang mukaku, silahkan kau menarik pasukanmu dari tempat ini. Biarkan kami menyelesaikan dulu urusan ini. Besok kau boleh kembali lagi. Pada saat itu kau hendak menawan Mau heng atau tidak, bukan urusan kami lagi!”

“Tidak bisa!” sahut Su Siong tegas.

Salah seorang rekannya segera maju ke depan dan berkata dengan suara keras.

“Sahabat Su, buat apa banyak bicara?” Orang itu menghunus goloknya. Setibanya di depan Go Tay Peng, dia langsung mengirimkan serangan.

Tentu saja Go Tay Peng mendongkol sekali. Dia segera menggeser kakinya ke samping kemudian mencelat ke atas. Sebelah tangannya menjulur ke depan, dalam sekejap mataMia sudah berhasil mencengkeram orang yang masih duduk di atas kuda itu dan membantingnya dengan keras ke tanah.

“Pemberontak! Pemberontak!” Para prajurit lainnya segera berteriak sambil mencelat turun dari kuda masing-masing dengan kalang kabut. Mereka segera mengepung Go Tay Peng dan yang lainnya.

Dengan demikian, terpaksa Go Tay Peng dan Ong Tan melakukan perlawanan. Tidak terkecuali Mau Sip-pat, meskipun keadaannya masih terluka dan terpaksa melawan dengan punggung bersandar pada sebatang pohon, tetapi serangannya lihai sekali. Dua orang musuh yang menerjang ke arahnya langsung tertebas bagian pinggangnya sehingga menemui ajal seketika.

Su Siong masih belum turun tangan. Dia menyaksikan jalannya pertempuran dari atas kudanya. Sementara itu, Wi Siau Po yang cerdik mengerahkan akalnya. Diam-diam dia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit sehingga keluar dari kancah pertempuran.

Rupanya karena dia hanya seorang bocah cilik, pihak lawan tidak begitu memperhatikannya. Lagipula sejak perdebatan terjadi, dia sudah menyembunyikan diri di belakang sebatang pohon yang jaraknya kurang lebih satu tombak. Di sana diam-diam dia berpikir. ‘Sebaiknya aku kabur saja atau menonton terus jalannya pertempuran?’ Hatinya diliputi kebimbangan.

‘Mau toako cuma bertiga, sedangkan lawan jauh lebih banyak. Mana mungkin mereka bertahan terus, bisa-bisa malah tewas di tangan para prajurit ini. Apakah perwira itu akan melepaskan aku kalau yang lainnya sudah mati? Tapi, Mau toako sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya. Lagipula aku sendiri yang mengatakan senang dan susah dicicipi bersama. Kalau sekarang aku diam-diam kabur, tentu aku malu pada diriku sendiri. Tidak pantas lagi aku disebut sebagai sahabat sejati!’

Tepat pada saat itu, terdengar suara bentakan Go Tay Peng, seorang lawannya roboh binasa karena terbantam pukulannya. Sementara itu, Ong Tan masih dikeroyok tiga orang lainnya.

Mau Sip-pat sendiri sudah berhasil menebas kutung kaki salah seorang lawannya yang kini terkulai di atas tanah, merintih kesakitan sembari mencaci maki dengan kata-kata yang kotor.

Tidak urung hati Su Siong tercekat juga melihat keadaan ini. Dua orangnya sudah tidak berdaya dan tiga lainnya sudah binasa. Sekarang sisanya tinggal tujuh orang lagi. Memang kalau ditilik dari keadaannya, posisi mereka masih di atas angin, tapi siapa yang berani menjamin apa yang akan terjadi nanti?

“Tidak boleh aku berdiam diri terlalu lama!” katanya dalam hati. Terdengar dia mengeluarkan suara bentakan keras lalu melompat turun dari kudanya. Yang diincarnya sudah barang tentu Mau Sip-pat. Begitu sampai di hadapan orang itu, dia langsung menyerang dengan gencar.
Mau Sip-pat mengadakan perlawanan dengan goloknya. Setiap serangan dihadapinya dengan hati-hati, dia mengerahkan jurus Ngo-Houw Toan Bun To (Ilmu golok lima harimau).

Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara bentakan Go Tay Peng yang disusul dengan robohnya seorang lawan lagi. Dengan demikian pihak prajurit kerajaan itu berkurang satu tenaga lagi.

Ong Tan masih kelabakan menghadapi tiga lawannya. Pahanya telah terluka karena bacokan golok musuh, tapi dia tetap mempertahankan diri. Tiga lawan Go Tay Peng lainnya mempunyai kepandaian yang lumayan. Itulah sebabnya mereka masih sanggup bertarung terus. Beberapa kali serangan Go Tay Peng dapat mereka hadapi dengan baik.

Sementara itu, diam-diam Su Siong merasa kagum melihat kepandaian Mau Sip-pat. Musuhnya itu sedang terluka, kedua kakinya tidak dapat bergerak dengan leluasa pula, tapi serangan tangannya lihai sekali. Terutama tangan kanan yang menggenggam golok. Sampai sekian lama, belum sempat Joan-pian lawan mengenai tubuhnya.

‘Untung saja kakinya terluka, kalau tidak tentu sejak tadi aku sudah berhasil dikalahkan olehnya,’ pikir Su Siong dalam hatinya. Segeralah ia menguras otaknya mencari akal untuk menghadapi lawan. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya. Dengan jurus Pek-Coa Tou Sin (Ular putih menyemburkan racun) ia menyambar bahu kanan lawannya. Mau Sip-pat langsung menangkis. Tidak dinyana, ternyata serangan itu hanya tipuan belaka. Tangan lawan berubah saat itu juga. Dengan menggunakan siasat ‘Bersuara di timur, menyerang dari barat, Hek Liong-pian menyerang kembali dengan jurus ‘Giok-Tai Wi Yau’ (Sabuk kumala melilit pinggang)’

Joan-pian bergerak dari kiri ke kanan mengincar pinggang lawan. Seandainya sepasang kaki Mau Sip-pat dapat digerakkan, pasti dia akan bergerak maju ke depan atau mencelat mundur ke belakang.

Tetapi keadaannya justru tidak mengijinkan, mau tidak mau dia terpaksa menyambut serangan lawannya dengan kekerasan!

Gerakan tubuh Su Siong cepat sekali. Ujung senjatanya tidak dapat tersentuh oleh golok lawan. Malah dia berhasil melilit tubuh lawannya sehingga melingkar tiga kali sehingga terikat di batang pohon. Kemudian dia mengirimkan serangan ke arah dada lawan.

Mau Sip-pat terperanjat setengah mati, dadanya tertusuk oleh duri-duri yang terdapat di ujung Joan-pian.

Ketika mendapatkan perintah dari atasannya, Su Siong sudah dipesan wanti-wanti untuk membawa Mau Sip-pat dalam keadaan hidup. Biar bagaimana dia harus menuruti perintah itu.

Sekarang, setelah berhasil melumpuhkan Mau Sip-pat, dia akan membantu rekannya membereskan Go Tay Peng dan Ong Tan. Dengan demikian tugasnya sudah selesai dan dia dapat kembali ke kota raja dengan tenang.

Itulah sebabnya dia segera membungkuk dengan maksud mengambil golok Mau Sip-pat dan mengutungkan lengan kanannya sehingga menjadi cacat untuk selamanya.

Tentunya niat perwira itu sudah kesampaian, apabila tiba-tiba tidak meluncur bayangan putih yang melesat ke arahnya sehingga dia jadi terkesiap dan panik.

Ternyata bayangan putih itu adalah sejenis bubuk yang langsung menerpa matanya sehingga tidak dapat dibuka. Ada sebagian pula yang tersedot ke dalam hidung dan masuk atau tertelan ke dalam mulut, sehingga tenggorokannya bagai tercekat. Tapi yang paling hebat justru bubuk yang masuk ke dalam kelopak matanya. Bukan saja dia tidak bisa melek, namun juga merasa perih sekali, sedangkan mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara sedikit pun disebabkan tenggorokannya yang tersumbat.

Terpaksa Su Siong membatalkan niatnya untuk memungut golok. Dia mengucek-ucek matanya, semakin dikucek semakin perih. Saat itulah Su Siong sadar bahwa musuh sudah menyerangnya dengan bubuk semen. Hanya dia tidak dapat menduga musuh mana yang membokongnya.

Hatinya juga terkejut setengah mati. Sebab dia ingat bahwa semen tidak dapat dibersihkan dengan air, karena semakin melarut dan dapat mengakibatkan kebutaan. Justru di saat pikirannya sedang bingung. Dia merasa ada suatu benda dingin yang masuk ke dalam perutnya, lalu rasa perih yang tidak terkirakan menyerangnya.

Rupanya sebatang golok telah ditikam ke dalam perut orang itu!

Mau Sip-pat yang mengetahui tubuhnya terlilit senjata lawan merasa terkesiap. Bagian dadanya langsung terasa perih karena duri-duri joanpian yang menusuk bagian dadanya.

Di saat hatinya masih dilanda kebingungan, tiba-tiba dia melihat ada semacam bubuk putih yang menyerang mata lawannya, sehingga lawan langsung mengucek-kucek matanya. Kemudian dia melihat Siau Po memungut golok di atas tanah dan lalu menancapkannya ke perut Su Siong.

Selesai menikam dengan golok, Siau Po kembali ke balik pohon untuk bersembunyi, sedangkan Su Siong sempat terhuyung-huyung sejenak sebelum akhirnya rubuh di atas tanah. Rekan-rekannya yang melihat keadaan itu jadi panik. Beberapa orang di antaranya segera berteriak-teriak memanggil.

“Su Siwi! Su Siwi!”

Tepat pada waktu itu pula Go Tay Peng meluncurkan pukulan kirinya membuat seorang musuhnya terpental beberapa tombak. Mulut orang itu mengeluarkan seruan tertahan, kemudian tubuhnya jatuh berguling dan mulutnya memuntahkan darah segar.

Dari pihak musuh, masih tersisa lima orang, tetapi mereka sudah ciut nyalinya. Tanpa menunda waktu lagi mereka lari terbirit-birit. Tidak perduli rekannya masih hidup atau sudah mati. Bahkan kuda tunggangan mereka pun ditinggalkan begitu saja!

Go Tay Peng tidak berniat bermusuhan dengan petugas kerajaan. Karena itu dia biarkan sisa lima orang itu lari pergi. Dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada Mau Sip-pat.

“Mau heng, hebat sekali! Kau telah berhasil merobohkan Hek Liong-pian!”

Orang tua itu melihat Su Siong sudah terkapar mati, dia mengira Mau Sip-pat yang melakukannya. Tetapi tampak Sip-pat menggelengkan kepalanya, wajahnya merah karena jengah.

“Sungguh malu, Go loya cu, sebenarnya Su Siong dibunuh oleh Saudara Wi!”

Go Tay Peng dan Ong Tan langsung termangu-mangu mendengar keterangan itu.

“Bocah itu yang membunuhnya?” tanya mereka serentak.

Tadi Ong Tan juga tidak sempat melihat siapa yang membunuh Su Siong, sebab dia sendiri sedang kelabakan menghadapi lawan-lawannya. Mayat-mayat musuh terkapar di antara genangan darah. Sedangkan yang terluka masih dalam keadaan sekarat. Di atas tanah juga terdapat semen berserakan, tetapi tidak ada yang memperhatikannya.

Mau Sip-pat menggenggam joanpian milik Su Siong. Dengan menahan rasa nyeri, dia menarik keluar duri-duri yang menancap di dadanya. Otomatis sedikit ujung dagingnya ikut tertarik, dapat dibayangkan bagaimana rasa sakitnya. Seluruh baju langsung dipenuhi noda darah.

Begitu senjata lawannya sudah berhasil dicabut, Mau Sip-pat langsung menghantamkan duri tajam itu ke arah Su Siong yang saat itu belum mati. Orang itu sempat berkelojotan beberapa kali sebelum nyawanya melayang dengan kepala hancur.

“Saudara Wi. Kau lihay sekali!” seru Mau Sip-pat.

Wi Siau Po muncul dari balik pohon. Mulutnya membungkam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Go Tay Peng dan Ong Tan memperhatikan Siau Po dengan heran.

“Saudara cilik,” tanya Go Tay Peng. “Jurus apa yang kau gunakan untuk membunuh arang she Su itu?”

“Aku cuma menancapkan golok ke dalam perutnya. Aku tidak tahu jurus apa.”

Mau Sip-pat tertawa lebar.

“Go loya cu, Ong heng, terimakasih atas bantuan kalian sehingga selembar nyawaku ini dapat dipertahankan. Bagaimana selanjutnya setelah musuh-musuh sudah mati dan sebagian kecilnya kabur. Apakah kita akan melanjutkan pertarungan kita yang tertunda tadi?”

Go Tay Peng ikut tertawa.

“Mau heng, jangan bicara soal menolong jiwa.” Dia menolehkan kepalanya kepada rekannya sambil berkata, “Saudara Ong, bukankah lebih baik kita sudahi saja urusannya sampai di sini?”

“Ya, memang. Lebih baik tidak usah berkelahi lagi. Sebenarnya antara aku dengan Mau heng juga tidak ada permusuhan apa-apa. Bukankah sebaiknya kita mengikat tali persahabatan saja?”

“Baiklah kalau itu kemauan saudara Ong,” kata Go Tay Peng kemudian menjura kepada Mau Sip-pat. “Selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, pasti ada saatnya kita akan berjumpa pula!”

Go Tay Peng adalah seorang hartawan di wilayah Utara. Untuk membantu sahabatnya Ong Tan, dia ikut datang mencari Mau Sip-pat. Tidak disangka akhirnya malah memberikan bantuan kepada Mau Sip-pat untuk mengusir prajurit kerajaan. Dia merasa agak menyesal membiarkan sisa musuh melarikan diri, sebab buntutnya bisa berbahaya.

Begitu selesai memberi hormat kepada Mau Sip-pat, dia segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi, sembari melangkahkan kakinya, sepasang telapak tangannya juga menghantam ke sana kemari. Tanpa memperdulikan pihak musuh yang masih hidup atau sudah mati, pukulannya membuat tubuh mereka hancur tidak karuan. Dia menggunakan ilmu andalannya yakni Mo In-Jiu (tangan meraba awan) yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia kangouw.

“Hebat sekali!” puji Mau Sip-pat yang menyaksikan perbuatannya. Setelah itu dia memerintahkan Siau Po menuntun seekor kuda ke hadapannya.

Siau Po menurut. Dia menghampiri salah satu kuda yang ditinggalkan musuh.

“Tuntunnya dari depan. Kalau dari belakang, kau bisa disepaknya!” kata Sip-pat menasehati.

Siau Po menurut. Segera dia membawa kuda itu ke hadapan Mau Sip-pat. Sementara itu, Sip-pat merobek ujung bajunya untuk membalut luka di lengannya. Setelah itu dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan lalu melompat ke atas kuda.

“Pulanglah kau sekarang!” katanya kepada Siau Po.

“Kau akan kemana?” tanya si bocah.

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

“Kita kan sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya aku menanyakan tujuanmu!”

Wajah Mau Sip-pat tiba-tiba berubah menjadi garang.

“Sinting! Siapa yang menjadi sahabatmu?”

Siau Po menyurut mundur satu tindak. Wajahnya langsung merah padam dan air matanya bercucuran. Dia tidak dapat menahan kepenhan hatinya. Dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Sip-pat marah kepadanya.

“Mengapa tadi kau menyemburkan semen ke mata Su Siong?” bentak Mau Sip-pat ketus.

Siau Po menjadi tercekat. Kakinya menyurut mundur satu langkah lagi.

“A… ku… aku….” Suaranya gemetar dan tersendat-sendat saking gugupnya. “Aku… lihat dia ingin membunuhmu!”

“Dari mana kau mendapatkan semen itu?”

“Dari pasar. Aku membelinya sekalian ketika membeli bakpau dan arak. Aku dengar kau akan berkelahi, sedangkan kau sedang terluka….”

“Anak haram! Dari mana kau mempelajari akal yang begitu rendah?”

Siau Po memang anak seorang wanita penghibur. la tidak pernah tahu siapa ayahnya. Karena itu pula dia paling benci bila ada orang yang menyebutnya sebagai anak haram. Kemarahannya jadi meluap seketika.

“Nenekmu yang haram!” Tanpa memperdulikan hal lainnya, dia langsung balas memaki. “Perduli apa aku mempelajarinya dari mana? Manusia bau yang tidak tahu mampus!” Setelah memaki, hatinya tergetar juga, cepat-cepat dia bersembunyi ke balik pohon.

Sip Pat menggerakkan kudanya maju ke depan. Sebelah tangannya terulur dan dalam sekejap mata si bocah sudah kena dicekalnya lalu diangkatnya ke atas.

“Setan cilik, coba apa kau masih berani memaki?”

Siau Po meronta-ronta. Sepasang kakinya menendang kalang kabut. Kedua tangannya juga digerakkan kesana kemari.

“Kura-kura hitam! Babi mandul! Kampret.” mulutnya masih terus memaki.

Sejak kecil Siau Po tinggal di rumah pelesiran. Sudah biasa dia mendengar cacian yang kotor dan bukan baru pertama kali ini dia mengucapkannya.

Mau Sip-pat gusar sekali melihat keberanian bocah itu. Dia menempeleng pipinya bolak-balik. Tetapi Siau Po memang keras kepala. Meskipun air matanya mengalir dengan deras, mulutnya tidak berhenti mencaci. Dia baru berhenti ketika menggigit tangan Mau Sip-pat.

Sip-pat terperanjat juga kesakitan. Tanpa sadar cekalannya terlepas dan tubuh Siau Po pun terbanting ke atas tanah. Siau Po langsung merangkak bangun kemudian berlari sambil mencaci maki.

Sip-pat mendongkol sekali. Dia segera mengejar. Dengan menunggang kuda tentu tidak susah baginya mengejar. Siau Po lari belum berapa jauh tahu-tahu sudah tersusul oleh Mau Sip-pat. Nafasnya tersengal-sengal. Tanpa menoleh dia tahu Mau Sip-pat sudah ada di belakangnya. Tiba-tiba kakinya terpeleset lalu jatuh bergulingan, namun mulutnya masih berkaok-kaok.

“Bangun!” bentak Mau Sip-pat. “Aku mau bicara”

“Aku tidak mau bangun. Biar aku mati di sini!”

“Baik! Biar kau mampus terinjak kaki kuda!”

Siau Po memang bandel. Semakin diancam, dia semakin sengaja. Sembari menangis, dia berteriak keras-keras.

“Ada orang mau membunuh! Ada orang mau membunuh! Tua bangka menghina anak kecil! Dasar kura-kura kolot! Orang dulu memperumpamakan germo sebagai kura-kura! Dia naik kuda, dia menginjak orang sampai mati!” Kuda yang ditunggangi Mau Sip-pat dihentakkan sehingga sepasang kakinya berjingkrak ke atas. Siau Po segera menggulingkan tubuhnya menghindar.

“Hah! Setan cilik, ternyata kau takut mampus juga, bukan?”

“Kalau aku takut padamu, biarlah aku menjadi anak kura-kura, turunan anjing buduk! Aku tidak lantas disebut orang gagah!”

Kewalahan juga Mau Sip-pat menghadapi bocah yang mulutnya lancang itu, akhirnya dia malah tertawa geli.

“Kau seorang enghiong?” tanyanya tersenyum. “Baik. Kau bangunlah. Aku tidak akan menghajarmu lagi. Aku akan pergi sekarang!”

Siau Po berdiri, wajahnya masih basah oleh air mata.

“Tidak apa-apa kalau kau ingin menghajarku tapi jangan panggil aku anak haram!” katanya.

“Kau toh sudah memaki aku sepuluh kali lipat, Sudahlah, kita tidak usah memperpanjang persoalan ini lagi.”

“Kau menghajar telingaku dan aku sudah menggigit tanganmu. Berarti kedudukan kita seri! Baik semuanya selesai sampai di sini saja. Tapi, ngomong-ngomong, ke mana sih tujuanmu sebenarnya?” tanya Siau Po sambil menyusut air matanya.

“Ke Pe King, kota raja!”

“Ke kota raja?” tanya Siau Po dengan mata terbelalak. “Bukankah para pembesar negeri sedang mencarimu? Mengapa kau malah mengantar diri ke sana?”

“Aku ingin mencafi Go Pay. Dia merupakan tokoh nomor satu dari bahgsa Boanciu. Malah dia mengaku dirinya sebagai jago nomor satu di kolong langit. Aku tidak puas! Aku ingin mencarinya untuk mengadu kepandaian!”

Siau Po tertarik sekali dengan keterangan itu, karena berarti akan ada suatu pertunjukan yang menarik.

“Mau toako, aku mempunyai permintaan. Sebetulnya sederhana sekali, tetapi aku tidak tahu apa kah kau akan mengabulkannya?”

Mau Sip-pat orangnya gengsian, dia tidak mau dianggap berjiwa picik. Ucapan si bocah membuatnya penasaran.

“Apa itu? Katakan saja, aku pasti akan mengabulkannya!”

“Bagus! Tapi kau tidak boleh menyesal!”

“Tentu tidak!”

“Aku minta kau mengajak aku ke kota raja!”

“Ke kota raja? Untuk apa?” tanya Mau Sip-pat bingung.

“Aku ingin menonton pertandingan antara kau dan Go Pay!”

Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak mungkin. Jarak dari Yang Ciu ke Pe King jauhnya ribuan li. Lagipula para pembesar negeri menjanjikan hadiah besar bagi siapa pun yang dapat menawanku. Perjalanan ini berbahaya sekali.”

“Memang aku sudah menyangka bahwa kau akan menyesal dan menarik kembali janjimu sendiri. Lagipula dengan mengajak aku, kau pasti mudah dikenali. Pasti kau tidak berani mengajak aku!” kata si bocah.

Hati Mau Sip-pat panas mendengarnya.

“Kenapa aku tidak berani?”

“Kalau memang berani, ajaklah aku!” tantang si bocah.

“Sebenarnya bukan apa-apa, tapi aku repot membawa kau serta. Sedangkan kau belum memberitahukan kepada ibumu. Nanti dia akan mencemaskan dirimu,” sahut Mau Sip-pat berusaha mengemukakan alasan.

“Tidak mungkin ibu mencemaskanku. Lagipula beberapa hari lagi aku toh sudah pulang.”

“Setan cilik banyak benar sih kemauanmu!”

“Aku tahu, kau tidak berani mengajak aku karena takut kalah dan jadi malu.”

Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat membara kembali.

“Siapa bilang aku kalah kepada Go pay?”

“Aku yang bilang. Sebab kau takut kalah dan malu. Bagaimana kalau aku menyaksikan kau berlutut di depan kaki Go Pay dan meratap-ratap meminta ampun sambil menyebutnya, tuanku… tuanku?”

Mau Sip-pat tambah mendongkol. Dia memajukan kudanya kemudian mencengkeram kerah baju bocah itu dan kemudian menaikkannya ke atas kuda.

“Baiklah! Aku akan membawa kau ke Pe King. Lihat siapa nanti yang akan berlutut dan memohon pengampunan!”

Diam-diam hati Siau Po girang sekali, tetapi dengan licik dia berkata.

“Kalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tentu aku hanya bisa menduga-duga. Dan dalam bayanganku, kaulah yang akan berlutut dan memohon ampunannya!”

Plak! Plok! Sip-pat menghajar pantat Siau Po berulang kali.

“Sekarang aku yang akan menyuruh kau berteriak-teriak minta ampun terlebih dahulu!”

Siau Po mengaduh-aduh, tetapi dia tidak menangis malah tertawa cekikikan. Mau tidak mau, Sip-pat jadi ikut tertawa geli. Bocan itu sungguh bandel, jenaka juga keras kepala dan akal busuknya banyak!

“Eh, setan cilik. Kau memang hebat!”

“Eh, setan tua, aku juga kewalahan menghadapimu!” sahut Siau Po dengan berani.

“Sekarang aku akan mengajak kau ke kota raja. Tapi ingat, sepanjang jalan kau harus menuruti apa pun kataku. Jangan sekali-sekali menimbulkan keonaran.”

“Siapa sebenarnya yang membuat keonaran? Kau sendiri! Mula-mula kau dimasukkan ke dalam penjara, kemudian kauburon. Lantas kau melabrak kawanan penyelundup garam. Dan baru saja kau membunuh beberapa orang petugas kerajaan. Bukankah itu yang disebut menimbulkan keonaran?”

“Kau memang pandai bicara,” kata Mau Sip-pat. “Baiklah, aku mengaku kalah!”

Bocah itu membetulkan duduknya di atas pelana. Tali kendali kuda pun dihentakkan sehingga melesatlah mereka menuju Utara.

Pertama-tama Siau Po takut akan terjungkir balik, maklumlah seumur hidup dia belum pernah menunggang kuda. Dia merapatkan tubuhnya dan memeluk Mau Sip-pat erat-erat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima enam li, perasaannya pun agak tenang dan dia dapat duduk dengan nyaman.

“Bagaimana kalau aku menunggang kuda yang satu itu?” tanya Siau Po setelah keberaniannya terbangkit.

Memang sejak semula Mau Sip-pat menuntun seekor kuda lainnya milik pihak petugas kerajaan. Tampaknya kuda-kuda itu memang sangat jinak, meskipun penunggangnya sudah mati ataupun melarikan diri, mereka tidak menjadi panik.

“Kalau kau sanggup, silahkan. Awas kalau kau tidak sanggup, nanti kau bisa terjungkal dan kakimu patah!” sahut Mau Sip-pat.

“Aku pernah menunggang kuda sebanyak puluhan kali, masa bisa terjungkal?” sahut Siau Po menyombongkan diri. Dia langsung melompat turun dari kuda Mau Sip-pat. Dipegangnya tali kendali kemudian ia menginjakkan kakinyar di sangurdi dan lalu mencelat naik.

Melihat cara Siau Po naik ke atas kuda, Sip-pat tertawa geli. Sebab posisinya salah, sehingga tubuhnya bukan menghadap ke depan malah menghadap ke ekor kuda.

“Hushhh!” seru Mau Sip-pat setelah selesai tertawa. Tali kendali dihentakkannya, kuda itu pun terkejut dan lari terpontang-panting.

Siau Po tercekat bukan main. Dia dibawa kabur oleh kuda itu. Cepat-cepat dia mencekal pelana kuda itu erat-erat. Hampir saja dia terjungkal jatuh.

Siau Po dapat mendengar suara hembusan angin yang menerpa lewat di telinganya.

Lewat tiga li, sampailah mereka di jalanan yang menanjak. Kuda masih lari terus. Di waktu yang bersamaan, di tengah jalan mendatangi sebuah kereta yang rodanya sedang menggelinding perlahan. Di belakangnya mengiringi seorang penunggang kuda yang usianya masih muda sekali, paling banter enam atau tujuh beias tahun.

Ketika melihat seekor kuda sedang berlari dengan kalap, kusir kereta itu berteriak-teriak dengan panik.

“Kuda ngamuk! Kuda ngamuk!”

Tepat di saat tabrakan hampir terjadi, si anak muda yang mengiringi di belakang langsung menerjang ke depan sembari mengulurkan tangannya mencekal tali kendali, sehingga gerakan kuda itu pun terhejiti seketika. Hal ini membuktikan tenaga dalam anak muda itu luar biasa sekali.

Tampak perut-kuda itu kembang kempis dan mulutnya berbusa karena tadi sudah berlari melebihi takarannya. Dari dalam kereta terdengar suara halus menyapa. “Adik Ceng, ada apa?”

“Ada kuda ngamuk,” sahut si anak muda. “Penunggangnya seorang bocah cilik, entah masih hidup atau sudah mati.”

“Tentu saja masih hidup!” Siau Po pun segera menegakkan tubuhnya dengan gaya digagah-gagahkan. “Masa mati?”

Anak muda tadi memperhatikan Siau Po sekilas. Wajahnya putih bersih, sepasang matanya jeli dengan alis yang bagus bentuknya. Dia mengenakan jubah panjang sedangkan kopiahnya penuh dengan sulaman benang emas dan di tengah-tengahnya terhias sepotong batu kumala putih. Dari penampilannya dapat diduga bahwa anak muda itu berasal dari keluarga hartawan.

Siau Po juga memandang pemuda itu lekat-lekat. Dia tahu pemuda di hadapannya dari keluarga berada. Tapi dia justru paling benci kaum hartawan. Itulah sebabnya dia langsung membuang ludah dan berkata dengan sinis.

“Sungguh busuk! Lohu sedang melakukan perjalanan sejauh seribu li dan sedang gembira-gembiranya, siapa sangka bertemu dengan mayat perintang jalan, sehingga lohu tidak bisa meneruskan perjalanan.”

Si pemuda tampaknya kurang senang. Dia sebal melihat bocah itu bersikap sok tua dengan menyebut din sendiri ‘lohu’. Apalagi lagaknya sombong dan menghina sekali.

Sepasang alisnya menjungkit ke atas. Hampir dia mengumbar hawa amarahnya, tetapi ketika memperhatikan Siau Po dengan seksama, dia melihat tampangnya yang dekil dan tubuhnya yang kurus kering. Dia tidak jadi marah, bibirnya malah menyunggingkan senyuman dan segera menggeser untuk memberi jalan kepada Wi Siau Po.

Siau Po menarik tali kendali kudanya sembari berkata.

“Celaka benar! Mengapa di kolong langit ini banyak pemuda bau yang usil saja dengan urusan orang lain?”

Tepat pada saat itu, Mau Sip-pat pun sudah menyusul tiba.

“Eh, setan cilik. Apakah kau tidak jatuh pingsan?”

“Pingsan? Sudah barang tentu, tidak!” sahut si bocah seenaknya. “Justru ketika lohu sedang enak-enak melakukan perjalanan, lohu dirintangi oleh bocah bau ini. Sungguh menyebalkan!”

Mau Sip-pat tertawa geli mendengar kata-katanya. Tetapi sesaat kemudian dia tertegun ketika menoleh kepada si anak muda. Dia melihat di bagian depan kereta tertancap sebatang bendera kecil berwarna putih dengan sulaman biru di tepiannya. Di tengah-tengahnya terdapat huruf ‘Pui’. Tanpa ayal lagi, dia segera menarik tangan bocah itu ke pinggir jalan. Dan pada saat itu Siau Po masih mendumel.

“Dasar bocah busuk tidak tahu diri!”

“Tutup mulutmu!” bentak Mau Sip-pat sambil mengayunkan cambuk ke bagian kepala Siau Po.

Untung Siau Po sempat melihatnya dan menghindarkan diri. Tetapi kepalanya selamat, bahunyalah yang kena terhajar. Seperti orang kalap Mau Sip-pat terus mencambukinya, hingga akhirnya seluruh tubuh Siau Po terhajar berdarah dan pakaiannya koyak-koyak.

Siau Po tidak menyangka akan berakibat seperti ini. Dengan menahan sakit, dia mendekam di punggung kudanya. Tepat pada saat itu, dari dalam kereta terdengar lagi suara halus tadi.

“Apakah di sana tuan Mau dari Cong Ciu? Sudahlah, jangan kau hajar lagi bocah itu!”

Mau Sip-pat mencelat turun dari kudanya. Dengan bantuan tangan kirinya dia mendeprok di atas tanah.

“Mau Sip-pat sedang terluka kakinya sehingga tidak dapat memberi hormat secara layak kepada nona Kou dan Pui siauhiap. Harap tidak menjadi gusar karenanya!”

“Terima kasih! Tidak berani kami menerima penghormatan demikian besar!” sahut si nona dalam kereta. Sedangkan anak muda yang menunggang kuda hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Setelah itu dia memecut kudanya agar kereta berjalan lagi. Dia sendiri tetap mengikuti dari belakang.

Setelah kereta itu pergi jauh, Mau Sip-pat menekan tanah pula kemudian mencelat ke atas kuda. Lalu dia menyambar tubuh Siau Po dan memeluknya.

“Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!” Mau Sip-pat menyusuti peluh yang memenuhi wajah dan tubuhnya. “Kau tahu, jiwamu baru kutarik kembali dari pintu neraka!”

Terdengar dia menarik nafas panjang.

“Kalau hajaran cambukku terlalu perlahan, maka kita berdua pasti sudah menjadi mayat seka-rang ini.” Dengan kasih sayang dia membersihkan wajah Siau Po.

Suara Siau Po lirih sekali.

“Aku… mati juga tidak apa-apa… aku tidak… takut mati!” Hanya beberapa patah kata yang sempat diuapkannya, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.

Siau Po sendiri tidak tahu berapa lama dia pingsan. Hanya ketika tersadar kembali, dia merasa seluruh tubuhnya nyeri dan ngilu. Tanpa dapat menahan diri lagi, dia mengerang kesakitan.

“Eh, setan cilik, akhirnya kau siuman juga!” seru Sip-pat dengan nada lega. Wajahnya berseri-seri.

Siau Po membuka matanya dan menatap Mau Sip-pat. Dia mendapatkan sahabatnya itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian.

“Kalau kau memang menginginkan kematianku bunuh saja aku dengan golokmu. Buat apa kamu harus menyiksaku dengan cambuk?”

“Kenapa aku menginginkan kematianmu? Kemarin aku mencambukmu justru untuk menolong selembar nyawamu!”

“Celaka! Terang-terang kau menyiksaku sampai sedemikian rupa, kau masih mengatakan telah menolong nyawaku!” Siau Po mendongkol sekali karena menganggap dirinya dipermainkan, karena itu suaranya juga ketus sekali.

“Kau benar-benar tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi!” bentak Mau Sip-pat tak kalah garangnya. “Bagaimana kau berani sembarangan mencaci keluarga Bhok dari In Lam? Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya!”

Siau Po tidak tahu siapa keluarga Bhok dari In Lam.

“Apa bedanya? Pokoknya aku menganggapnya sebagai anak kura-kura dan telur busuk!”

“Tutup mulutmu! Apa masih belum cukup banyak keonaran yang kau timbulkan?”

Melihat kegusaran Mau Sip-pat, Siau Po tidak berani banyak bicara lagi. Tapi dasar anak bandel dia masih mendumel juga.

“Kau sepertinya tidak takut terhadap raja, juga tidak takut kepada Go Pay, kenapa sebaliknya kau malah takut terhadap dua bocah cilik dari keluarga Bhok? Benar-benar bisa membuat orang tertawa hingga giginya copot.”

“Aku bukannya merasa takut. Aku hanya malu hati terhadap orang-orang gagah lainnya dari dunia kangouw, apabila kita berbuat salah terhadap keluarga Bhok. Hilang nyawa masih lumayan, tetapi yang membuat kita tidak tahan justru caci maki mereka.”

“Siapa sebenarnya keluarga Bhok itu?” tanya Siau Po. “Apakah mereka memang lihay sekali?”

“Kau bukan orang dunia persilatan, meskipun aku memberitahukan, belum tentu kau bisa mengerti,” sahut Sip-pat.

“Begitu rupanya? Tapi aku tidak perduli!” kata si bocah masih dengan nada penasaran. Tetapi dia tidak berani mengejek keluarga Bhok lagi. “Tadi kau mencambukku, katamu demi menolong selembar nyawaku, apa artinya?”

“Perbuatanmu itu benar-benar kurang ajar. Sembarangan kau mencaci maki pemuda berbaju hijau itu. Dia itu dari keluarga Pui, salah satu dari empat keluarga yang menjadi Ke Ciang bagi keluarga Bhok. Kalau aku tidak menghajar kau agar kemarahannya reda, sekali cekal saja kau bisa dipencet mati seperti semut.”

Ke Ci maksudnya pelindung keluarga.

“Huh!” Siau Po mendengus dingin. “Aku tidak percaya dia demikian lihay!”

Di luar dia menyangkal, di dalam hati diam-diam dia mengakui.

“Kalau dia sampai memencet mati aku, apakah kau akan diam saja? Dengan demikian, mana bisa kita disebut sebagai sahabat sejati yang senang dan susah kita cicipi bersama?” kata Siau Po.

Mau Sip-pat seperti disudutkan oleh kata-katanya, dia menarik nafas panjang.

“Di dalam dunia kangouw, asal orang yang mempunyai pengetahuan sedikit saja, pasti tahu siapa adanya keluarga Bhok. Bila mereka bertemu atau melihat orang-orang dari keluarga itu, mereka pasti akan menepi untuk memberi jalan dengan sikap hormat. Tidak ada seorang pun yang berani demikian lancang seperti kau. Seandainya dia berniat turun tangan, meskipun ada maksudku untuk menolongmu, tetap saja aku tidak sanggup melakukannya.”

“Jadi pemuda itu benar-benar demikian lihay?” tanya Siau Po seperti masih kurang yakin.

Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya.

“Mengenai hal itu, aku tidak tahu. Mungkin aku sanggup menghadapinya, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas aku tidak dapat melawannya!”

“Kenapa harus takut? Bunuh saja pemuda berkuda dan perempuan dalam kereta itu, siapa yang bakal tahu? Dengan demikian, semuanya beres, bukan?”

“Enak saja kau bicara, tahukah kau, bahkan seorang kusir kereta pun mempunyai kepandaian yang tinggi dalam keluarga Bhok!”

“Kalau begitu, kau memang sudah paham. Kau sengaja mencambuki aku untuk memuaskan hati pemuda itu. Dengan demikian bukan aku saja yang terhindar dari kematian, kau sendiri juga akan selamat!” kata Siau Po.

“Siapa yang aku takutkan? Siapa?” kata-kata yang terakhir justru diucapkan dengan suara rendah. Hal ini membuktikan keraguannya. Mungkin hatinya agak gentar juga, cuma saja dia malu mengakuinya. Dari penasaran dia jadi marah, dan lantas menghardik dengan suara keras: “Sejak semula aku sudah mengatakan agar kau jangan mengikuti aku, tapi kau memaksa! Baru satu hari saja kau sudah menimbulkan keonaran. Siapa yang suruh kau menyembur mata orang dengan semen? Dalam dunia kangouw, itu merupakan perbuatan manusia rendah, tahu? Lebih rendah dari orang yang menggunakan obat bius. Aku lebih suka mati di tangan Su Siong dari pada ditolong dengan cara demikian! Dasar bocah setan, melihat lagakmu, semakin lama aku semakin kesal saja!”

Saat itu Siau Po baru menyadari, rupanya hal itu yang membuat Mau Sip-pat kurang senang. Dia sungguh-sungguh tidak tahu kalau apa yang dilakukannya adalah perbuatan rendah. Tetapi pada dasarnya, adat Siau Po memang keras. Meskipun salah tetap dia tidak sudi mengalah.

“Apa bedanya membunuh orang dengan menyemburkan semen atau membacok dengan golok?” tanyanya penasaran. “Kalau aku tidak menggunakan cara itu, tentu sekarang kau sudah terkapar menjadi bangkai! Kalau kau memang tidak suka aku ikut denganmu, katakan saja terus terang. Mulai sekarang kita ambil jalan sendiri-sendiri. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, beres!”

Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po yang sudah terluka karena cambukannya. Hatinya merasa iba. Lagipula sekarang mereka sudah jauh dari kota Yang Ciu, mana tega dia meninggalkan bocah cilik itu di tempat seperti ini. Lagipula, biar bagaimanapun sudah dua kali Siau Po menyelamatkan nyawa nya. Dia tidak bisa menjadi manusia rendah yang tidak ingat budi.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Aku akan mengajak kau ke kota raja, tapi kau harus menerima tiga buah syaratku!”

Hati Siau Po girang sekali.

“Apa ketiga syarat itu? Aku tidak perduli! Seorang laki-laki sejati, begitu kata-kata sudah meluncur keluar dari rpulutnya, entah kuda apa pun sukar mengejarnya!”

Siau Po suka mendengar cerita tukang-tukang dongeng. Untuk sesaat dia lupa kata-kata ’empat ekor kuda’, sehingga dia mengatakan ‘entah kuda apa pun’, tapi Sip-pat tidak memperdulikan kesalahannya. Dia hanya berkata:

“Pertama, aku melarang kau menimbulkan keonaran. “Jangan sembarangan mengoceh atau memaki orang. Mulutmu harus diiaga!”

“Gampang!” sahut Siau Po. “Tidak memaki juga tidak apa-apa. Tapi aku mau tanya dulu, bagaimana kalau orang lain yang memaki duluan?”

“Kalau kita benar, mana mungkin orang mengganggu kita tanpa sebab musabab. Syarat yang kedua, kalau kau berkelahi, aku larang kau main gigit, apalagi menggunakan semen. Juga main bergulingan di atas tanah dan sembarangan memencet alat vital orang. Seandainya kau kalah, jangan pura-pura mati atau berteriak-teriak seperti orang gila. Semuanya itu bukan perbuatan orang gagah, hanya membuat dirimu sendiri menjadi malu dan tidak dihargai oleh orang lain.”

“Tapi, kalau aku kalah, masa aku tidak boleh menggunakan salah satu dari ketiga cara itu untuk membela diri?” tanya Siau Po kurang puas.

“Tentu boleh membalas, tetapi dengan kepandaian sejati, bukan dengan cara yang rendah. Jangan membuat diri kita jadi bahan tertawaan orang. Di Li Cun Wan, kau boleh berbuat apa saja yang kau anggap baik. Tetapi bila kau ingin ikut aku mengembara, kau harus menggunakan cara yang lain.”

Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati.

“Kau bisa saja mengatakan berkelahi dengan menggunakan kepandaian. Tapi bagaimana dengan aku? Aku toh masih kecil. Tidak mengerti ilmu silat pula. Kalau begini dilarang, begitu salah, sama saja artinya kau surah aku terima gebukan dengan berdiam diri?”

Di luarnya dia hanya berkata. “Aku toh tidak mengerti ilmu silat. Bagaimana melawan orang dengan kepandaian sejati?”

“Ilmu silat dapat dipelajari apabila kita mempunyai kemauan. Siapa yang sejak lahir sudah mengerti ilmu silat? Mumpung kau masih kecil, justru sekarang merupakan kesempatan yang baik bagimu untuk belajar. Kau berlutut di hadapanku dan menyembah aku sebagai gurumu. Selama ini aku hidup tidak menentu, ada baiknya juga. bila aku mengangkat seorang murid. Kau beruntung bisa menjadi muridku, asal kau berlatih dengan giat serta tekun, kelak di kemudian hari kau bisa memiliki kepandaian yang lumayan tinggi.”

Siau Po cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa! Kita kan bersahabat, berarti kedudukan kita sama. Kalau sekarang aku menyembahmu sebagai guru, itu kan berarti derajatku lebih rendah satu tingkat darimu? Dasar setan tua, niatmu tidak baik, licik, egois!”

Siau Po lupa diri, kembali mulutnya mengoceh sembarangan. Tentu saja Sip-pat menjadi tidak senang. Banyak orang yang ingin menjadi muridnya, justru dia tolak mentah-mentah. Selalu saja timbul perasaan bahwa niat mereka itu tidak tulus atau ada beberapa orang di antaranya yang mempunyai bentuk tubuh kurang bagus dan kurang sesuai untuk belajar ilmu golok Ngo-Houw Koan Bun (Lima harimau menutup pintu). Lagipula sebelumnya dia sibuk, tidak ada kesempatan atau waktu luang untuk mendidik seorang murid. Sekarang dia tertarik kepada Siau Po dan berniat mengangkatnya sebagai murid, eh… malah bocah ini yang menolaknya. Saking kesalnya hampir saja tangannya melayang untuk menampar pipi anak itu, tetapi untung saja dia melihat bekas luka cambukannya sehingga dia membatalkan niatnya.

“Biar aku beritahu kepadamu!” katanya kemudian. “Sekarang ini perasaanku sedang senang, maka aku suka menerima kau sebagai murid. Tetapi kelak, meskipun kau berlutut di hadapanku dan memohon-mohon, pasti aku akan menolaknya!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: