Kumpulan Cerita Silat

03/01/2008

Perguruan Sejati (05)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:51 pm

Perguruan Sejati (05)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Dengan perasaan ingin tahu, Tiong Giok melongok kedalam kamar. “Disini tertera kamar nomor satu, kenapa tak ada orangnya?”

“Ini penjara biasa, sedangkan Kongcu harus ke penjara Istimewa. Keadaannya berbeda dengan disini, agak enakan sedikit dan mendapat perlakuan istimewa juga!”

“Siapa saja penghuni penjara istimewa?”

“Sejujurnya aku tak tahu, karena mereka hanya memakai nomor sebagai pengganti namanya,” jawab Ong Jiak Tong.

“Tidakkah lengkap menanyai pada mereka?”

“Narapidana terbagi dua golongan, yang ringan perlu ditanya, dan mereka tidak disini sedangkan yang berada disini semua menjalani hukuman seumur maka tak perlu lagi menanya-nanya mereka!”

Sambil bicara sambil berjalan, tak terasa lagi sudah sampai diruangan yang paling bawah. Disini terdapat ruangan agak besar, dan kamar-kamar berderetan sebanyak enam buah. Diatas kamar tertulis, kamar Istimewa nomor satu… sampai nomor enam. Dan terdapat juga sipir bui yang menjaga.

Ong Jiak Tong membuka kamar nomor satu, “Maaf…silahkan masuk!”

In Tiong Giok mengangguk dan masuk kedalam dengan kaki gemetar…sedangkan pintu besi dikunci dari luar. Hei.. penghuni kamar satu, kuberikan selamat dapat kawan baru!” seru seorang pengawal.

Keadaan di dalam ruangan begitu semak dan menyesakkan napas. Di atas balai-balai terlihat seorang tua sedang berbaring, begitu pucat dan kurus, sinar matanya saja menatap terus ke dirinya.

“Mungkinkah ini orangnya?” piker Tiong Giok dan terus ia memberi salam sambil menegur:

“Bagaimana pak baik-baik saja?”

Orang tua itu tidak menjawab hanya menatap terus dengan matanya, seolah-olah tak mendengar apa yang diucapkan si anak muda.

“Bagaimana pak baik-baik sajakah?” seru In Tiong Giok lebih keras lagi.

Orang tua itu menganggukkan kepala lalu berkata dengan suara yang parau: “Duduklah nak, ditempat semacam ini tak perlu memakai banyak peradatan.”

“Dapatkah kutahu nama bapak?”

“Selama tujuh belas tahun tak melihat sinar matahari, membuatku lupa nama sendiri! Bagaimana denganmu nak masih ingatkah nama sendiri?”

“Ohn namaku In Tiong Giok.”

“Masih begini muda kenapa engkau bisa masuk kesini?”

“Sebenarnya aku datang bekerja sebagai penterjemah pada Pok Thian Pang, tapi…”

“Setop dulu….menterjemahkan buku apa?” sela si orang tua.

“Sebuah buku Sangsekerta…”

“Keng Thian Cit Su bukan buku itu!” lagi-lagi si orang tua memotong bicara.

“Benar, kenapa engkau bisa tahu pak?”

“Sudah diterjemahkan belum buku itu?” Tanya si orang tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Belum…”

“Kenapa..?”

“Sudah berapa tahun kupelajari bahasa Sangsekerta, tapi menghadapi buku itu tak berdaya: banyak yang tidak kutahu, sebab istilah-istilah silat bagiku asing sekali, karena aku tak pandai silat sedikitpun. Maka sampai kini belum bisa diterjemahkan!”

“Bagus,” kata si orang tua, ” tujuh belas tahun aku disini, nyatanya tak sia-sia ”

“Apakah bapak karena buku itu juga masuk kesini?”

“Ya karena buku itu!”

“Karena tak mau menterjemahkan, apa karena kurang bisa?”

“Hm, buku itu adalah milikku!”

In Tiong Giok hatinya berdenyut kaget, hampir ia berseru tak terasa, saat ini ia sadar bahwa capai lelah dari sang Pangcu, semata-mata untuk Keng Thian Cit Su. Dan iapun tahu bahwa orang tua ini tak lain Hauw Sian adanya.

Untuk memperpanjang waktu In Tiong Giok mencari alas an, sukar dan ingin bertemu dengan Hauw Sian. Tak tahunya Hauw Sian berada didalam tahanan Pok Thian Pang dan ditemui. Rencananya memperpanjangkan waktu menjadi gagal! Sungguhpun demikian ia menjadi girang bisa bertemu dengan orang itu yang telah ditahan selama tujuh belas tahun.

“Tentu engkau merasa aneh nak?” kata si orang tua lemah lembut. “Hidup di dalam dunia ini banyak keanehan-keanehan, sepeerti kamu yang masih muda belia dan datang kesini, seterusnya akan menyia-nyiakan waktu selama-lamanya di tempat ini, inipun kejadian yang diluar dugaan dan termasuk anehkan?”

“Tidak! Aku tidak….” Sebenarnya ia ingin mengatakan dirinya bukan dibui, tapi niatnya itu gagal, karena mengingat bahwa sang Pangcu sedang mendengari pembicaraan mereka dari kamar rahasia.

“Ya kutahu engkau tak niat mengalami penderitaan disini, tapi karena menterjemahkan buku itu engkau baru dibui, betulkah?”

In Tiong Giok berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendapatkan pikiran baik, lalu berkata dengan didahului tarikan napas panjang:

“Ai…aku tak menyesal masuk penjara ini tetapi menyesal kenapa sudah beberapa tahun belajar bahasa Sangsekerta belum mampu jua menterjemahkan buku itu, benar-benar membuatku menyesal dan malu!”

“Menurutku buku itu adalah pelajaran silat yang luar biasa, tapi bahasanya sendiri sederhana dan mudah, sebenarnya engkau haruslah bisa …”

“Ya, karena hal ini membuatku menyesal, mudah memang mudah tapi apa yang diterjemahkan sukar mencapai arti sebenarnya! Misalkan dihalaman ketiga dibaris kedua… Tiba-tiba bahasanya berubah kebahasa Sangsekerta:

“Aku bukan orang tawanan, melainkan didesak masuk kedalam penjara ini guna menyelidiki rahasia ilmu pedang Keng thian cit su. Pembicaraan kita sedang didengari mereka harap bapak berhati-hati dan waspada! ” Segala yang menyesatkan hatinya telah diutarakan membuatnya lega, dan terus ia berkata lagi dengan bahasa Tionghoa” penerangan ini tidak sesuai dengan ilmu silat, jika diterjemahkan huruf perhuruf jadinya tak karuan.”

Orang tua itu dengan sorotan mata kaget memandang sekeliling dan mengerti apa yang dikehendaki Tiong Giok: “nak bahasa Sangsekerta demikian fasih, mungkinkah kata-kata yang mudah didalam buku tidak mengerti, menurut peribahasa orang India…” Ia mengubah memakai bahasa Sangsekerta. “Engkau sebenarnya siapa? Kenapa bisa datang kemarkas besar Pok Thian Pang?”

Tiong Giok seperti girang mendapat jawaban itu. “Setelah mendapat penjelasan dari bapak kini tahulah bahwa pelajaran di dunia ini tak ada batasnya. Dan memang pengetahuan aku sangat minim, tapi halaman ketujuh benar-benar sukar.” Lagi-lagi ia beralih kebahasa Sangsekerta, “Sebenarnya aku mendapat tugas dari guruku mengantar surat kegunung Thay Heng, tapi sewaktu tiba di Ngo Liu Cung merasa tertarik oleh sebuah pengumuman yang mencari seorang penterjemah bahasa Sangsekerta dengan honorarium tinggi, karena tahu apa yang dikehendaki mereka, maka aku melamar dan diterima serta dibawa kemari!”

“Siapa gurumu?” Tanya siorang tua dengan bahasa Sangsekerta.

“Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin gunung salju,” jawab Tiong Giok dengan bahasa yang sama.

“Oh, kata siorang tua dengan girang: “Kalau begitu pantas engkau pandai bahasa Sangsekerta. Bagaimana apakah engkau sudah ke Thay hengsan?”

“Belum pergi kesana, tapi telah menemui Thay Cin Tojin, kini ia telah menjadi Futhoat Pok Thian Pang!”

“Mungkinkah seorang bernama besar seperti dia mau mengabdi pada Pok Thian Pang?”

“Ini kulihat dengan mata kepala sendiri,” kata Tiong Giok, “Tojin itu benar-benar tidak tahu malu dan kurang ajar, sampai surat guruku disobek hancur dan dibuang!”

“Tak mungkin ia bisa berlaku demikian… mungkin surat gurumu itu terlalu mengejeknya?”

“Surat itu tidak berleter, hanya meerupakan gambar; sebuah pohon cemara, dibawahnya terlihat seorang tua sedang menyiram sebuah pohon yang baru tumbuh…. Kecuali itu tidak ada lagi!”

Orang tua itu membayangkan rasa kaget, dengan sinar matanya ia menyapu wajah pemuda kita: “Sebuah surat berbentuk gambar? Eh beritahuku, apakah engkau berusia delapan belas tahun? Dan dipunggungmu terdapat tanda bacokan?”

“Kenapa bapak bisa tahu?”

Orang tua itu tiba-tiba saja mengucurkan air mata, dan berkata dengan terharu: “Nak engkau bukan she In…”

Tiba-tiba saja pintu teerbuka dan Ong Jiak Tong masuk kedalam. Dengan wajah dingin ia menyapu kedua wajah orang tua dan muda itu bergantian: “Hm, apa yang kalian bicarakan? Peraturan disini semua narapidana tak dibolehkan menggunakan bahasa sandi untuk bicara. Hai! Bawa tawanan muda ini kelain kamar!”

Dua pengawal segera datang dan menyeret Tiong Giok begitu keluar kamar.

“Ong Congkoan apa artinya ini?” bentak Tiong Giok begitu keluar kamar.

“Kongcu jangan gusar, semua ini perintah Pangcu, aku hanya menjalankan perintah saja!”

“Pertemuanku diatur oleh Pangcu demikian rupa, mana mungkin dihalang-halangi?”

Ong Jiak Tong mengangkat pundak dan berkata: “Ya, memang Pangcu mendengari percakapan kalian dari kamar rahasia, mula pertama ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala, tapi belakangan mengerutkan kening dan terus memerintahkan padaku menyuruh Kongcu keluar!”

In Tiong Giok terpekur ejenak, tanpa berkata-kata ia naik tangga meninggalkan tempat itu. Sesampainya diruangan tengah, sang Pangcu sudah berada disitu, tampak wajahnya muram.

“Ada pesan apa Pangcu memanggilku?” Tanya In Tiong Giok.

“Hm, apa yang dibicarakan Kongcu dengannya tadi?” sang Pangcu berbalik bertanya dengan dingin.

“Tidakkah semua percakapanku dengannya telah didengar Pangcu dari kamar rahasia?”

“Sampai dimana Kongcu memperbincangkan bahasa Sangsekerta itu dengannya? Dan apa hasilnya?”

“Sedang asyiknya percakapan berlangsung, tiba-tiba saja Ong Congkoan datang melarang, dengan alas an kami berkata-kata dalam bahasa Sangsekerta, hasilnya tentu saja nihil!”

“Semua ini kujalani atas perintah Pangcu.” Ong Jiak Tong membela diri.

“Pangcu memerintahkan aku menemui penghuni kamar istimewa itu, yakni untuk melancarkan pekerjaanku dalam menterjemahkan buku Sangsekerta. Dengan sendirinya segala kesulitan dalam bahasa itu, harus diucapkan dalam bahasa Sangsekerta! Kupikir Ong Congkoan mempunyai cara yang lebih baik dari itu, maka dengan sangat kumohon petunjuk-petunjukmu.

“Ini…ini…” Ong Jiak Tong kelabakan, wajahnya merah kemalu-maluan, sedangkan matanya menatap kearah Pangcunya seolah-olah memohon bantuan.

Sedangkan sang Pangcu pikirannya menjadi berubah setelah mendengar kata-kata In Tiong Giok, setelah berpikir sejenak lalu berkata: “Memang benar, bagaimanapun engkau akan berkata-kata dalam bahasa Ssangsekerta, sesuai dengan kerjaanmu. Ong Congkoan engkau memang salah!”

“Tapi…,” Pembelaan Ong Jiak Tong tak bisa dilanjutkan, mulutnya menjadi bungkam terkena delikan mata sang Pangcu. Cepat ia menyerah. “Ya…ya aku salah, mohon Kongcu dan Pangcu memaafkan kecerobohanku!”

Sang Pangcu tersenyum, lalu melirik kearah Tiong Giok lalu berkata. “Semua ini terjadi karena salah paham, Kongcu tak perlu menaruh hati! Sejujurnya adakah hasil yang diperoleh dari percakapan tadi?”

“Sejujurnya ada,” kata In Tiong Giok, tadi kukatakan nihil karena masih dongkol pada Ong Congkoan, atas ini kuminta maaf!”

“Nah apa yang diperoleh sekarang kerjakan dulu, nanti boleh menemuinya lagi!” kata sang Pangcu, dan terus bangun dari tempat duduknya. Sengaja ia menuntun In Tiong Giok keluar agar pemuda itu senang dan mau bekerja dengan baik-baik.

Ong Jiak Tong sekalian sipir bui mengantar dengan hormat sambil berbungkuk-bungkuk. In Tiong Giok merasa tak enak hati pada Ong Jiak Tong. Maka itu sebelum ia naik kereta ia menepuk-nepuk pundak orang sambil menghibur “Ong Congkoan semua ini disebabkan tugas dan kewajiban kita, harap kejadian tadi jangan menjadi ganjelan hati!”

“Terima kasih! Terima kasih!” Jawab Ong Jiak Tong dengan senang.

Kereta segera bergerak meninggalkan penjara tanah. Kejadian yang dialami membuatnya tak bisa berpikir: kenapa orang tua itu mengatakan dirinya bukan she In? Kenapa perkataan aneh ini bisa diucapkan orang tua itu? Kenapa orang tua itu mengetahui usianya serta tanda dipundak kirinya? Apa hubungannya dengan surat gurunya yang disampaikan kepada Thay Cin Tojin?

Soal umur dan tanda luka memang tepat terdapat pada dirinya, mungkinkah sampai soal she bisa salah? Semakin berpikir otaknya gelap, dan ia baru tersadar tatkala kereta tiba ditempat tujuan.

Wan Jie seperti terbang melihat kereta tiba dan terus bertanya pada gurunya yang belum sempat turun: “Suhu darimana? Kenapa aku tak diajak?”

“Ah jangan berlaku setolol ini Wan Jie, tak enak kalau dilihat para pengawal!” jawab sang guru sambil mendelik.

“Habis terlampau cemas aku ditinggal,” kata Wan Jie,”setiap yang kutanya suhu pergi kemana, semua mengatakan tidak tahu. Demikian juga dengan Lo Cucong, sampai sekarang menunggu-nunggu suhu pulang…”

“Lo Cucong?”

“Ya katanya ada surat dari Soat Kouw. Kecuali itu Wang Futhoat yang bertugas dipintu masuk berturut-turut tiga kali memberikan tanda bahaya, mungkin ada sesuatu yang terjadi!”

Pek Cin Nio mengerutkan kening, ia berpaling pada Tiong Giok: “Kalau begitu silahkan Kongcu pulang dengan kereta ini, nanti malam baru…”

“Lo Cucong memesan agar Kongcupun jangan pulang,” sela Wan Jie.

Pek Cin Nio semakin mendelik pada muridnya: “Hari inikenapa engkau begini macam?” Bicara terburu-buru, benarkah Lo Cucong memesan begitu?”

“Kalau suhu tak percaya tanyalah pada Lo Cucong…”

“Ah kenapa kian hari kian kurang ajar?” tegur Pek Cin Nio, “awas setelah aku bertemu dengan Lo Cucong akan kuajar!” Ia turun dari kereta dan terus masuk kedalam istana.

Dengan mata merah Wan Jie menahan air matanya, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya pada In Tiong Giok: “Eh suhuku membawamu kemana? Adakah terjadi sesuatu yang membahayakanmu?”

“Tidak apa-apa, ia hanya menyuruhku bertemu dengan seoarang tua yang bersangkutan dengan buku Keng thian cit su. Lain dari itu semua aman, nah lihatlah apa yang kurang padaku?”

“Masih bisa tertawa,” kata Wan Jie dengan aleman, “kau tahu kepergianmu hampir-hampir membuatku gila, aku cemas dan kuatir atas dirimu!”

“Kenapa Lo Cucong menyuruhku diam dulu disini?”

“Jangan kuatir bukan apa-apa,” hibur Wan Jie.

“Bukankah engkau pernah mengatakan Soat Kouw meninggalkan tampat ini lima tahun? Kenapa mendadak ada suratnya?”

“Ya, apa herannya, ia sering mengirim surat melalui merpati pos,” jawab Wan Jie. “Urusan sendiri tak diperhatikan, masih mau tahu urusan orang!”

Sedang mereka bercakap-cakap, Lie Kee Cie dengan langkah cepat keluar dari Istana dan terus memberikan perintah pada anak buahnya: “Pangcu akan kedepan, kamu harus berlaku waspada, dan siapkan semua senjata!”

In Tiong Giok keheran-heranan, ia memandang pada Wan Jie, yang disebut belakanganpun menggelengkan kepala tanda tak tahu. Tak selang lama sang Pangcu baru keluar dari istana. Ia menghampiri Tiong Giok: “Ada sesuatu soal memerlukan tenaga Kongcu, mari kita pergi bersama-sama!”

Wan Jie menatap kepada gurunya, tanpa berkata-kata, gerak-geriknya kentara sekali ingin diajak. Pek Cin Nio tersenyum dan berkata: “Mau ikut ya? Lekas naik!”

Kegirangan Wan Jie tak alang kepalang, ditariknya pintu kereta, dan berkata dengan aleman pada gurunya: “Terima kasih Suhu!”

Kereta berlari seperti terbang dalam waktu singkat telah tiba dipantai, disitu telah terseia empat buah perahu untuk melanjutkan perjalanan mereka kegunung depan. Setelah berada didalam perahu, Pek Cin Nio menjelaskan pada Tiong Giok: “Siang ini digunung depan datang seorang tua dan seorang muda yang aneh, orang tua itu bermata biru dan tidak bisa berbahasa Tionghoa; yang muda bisa berbahasa Tionghoa sedikit-sedikit. Mereka menyatakan sebagai guru dan murid, datang dari India, dan datang kemari untuk berurusan dengan kami.

Wang Futhoat tidak mengerti bahasa mereka, dan tak mengijinkan mereka masuk, akibatnya mendatangkan makian mereka, bahwa kami sebagai perserikatan besar, tapi tidak mempunyai seorangpun yang berbahasa Sangsekerta. Lo Cucong merasa tersinggung, dan memerintahkan aku mengajakmu kesana!”

“Orang di Tionghoa sendiri jarang yang mengetahui tempat ini, kenapa mereka yang dari India bisa tahu?” Tanya Tiong Giok.

“Ya kedatangan mereka memang mengagetkan dan mencurigakan,” jawab Pek Cin Nio. “Maka itu Lo Cucong ingin tahu apa yang dikehendaki mereka, dan mendatangkan Kongcu kesana sebagai interpreter!”

Begitu mereka mendarat terus mengganti kuda dan masuk kedalam terowongan, begitu keluar Wang Wang Can tampak menyongsong dengan membukakan pintu berjeruji besi.

Wang Wang Can dulu mendampingi terus Lo Cucong, tapi sejak Kim Tak Can dilukai Cian bin sin kay, ia dioper kepintu pertama ini. Keadaan disini terasa tegang.

“Apakah kedua orang itu masih berada dibawah gunung?” Tanya Pek Cin Nio.

“Masih! Lihatlah” kata Wang Wang Can sambil menunjuk.

Benar saja waktu mereka melihat kebawah terlihat dua orang berpakaian merah, satu tua satu muda. Disebut Hweesio bukan Hweesio dikata Lama juga bukan; juga tidak mirip dengan Tojin. Pokoknya dandanan mereka tidak keruan, dengan jumawa mereka sedang tergelak-gelak, dengan kelakuan eksentriknya yang berlebih-lebihan.

Mereka tertawa semakin besar begitu melihat Pek Cin Nio, yang tua berkata-kata yang tidak dimengerti, sedangkan yang muda menjelaskan: “Guruku bertanya yang mana Pangcu Pok Thian Pang?”

“Binatang ini terang-terang orang Tionghoa, kenapa tidak bisa berbahasa Tionghoa, jangan-jangan seperti Pang Hui….” Kata Wan Jie sambil tersenyum.

“Lie Tongleng jawab pertanyaan mereka!” Pek Cin Nio memerintahkan dengan wajah muram.

“Pangcu kami ada disini, tuan-tuan berkepentingan apa datang kesini?” kata Lie Kee Cie.

Orang tua bermata biru menatap Lie Kee Cie dengan mendelik lalu berkata tak keruan yang sukar dimengerti.

Yang muda segera menjelaskan: “Guruku berkata kenapa kalian sebagai perserikatan besar, sampai seorang ahli bahasa Ssangsekerta tidak ada?”

“Hm,” dengus Pek Cin Nio, ” In Kongcu timpalilah mereka dengan bahasa Sangsekerta!”

“Kalian datang kesini sebenarnya mau apa?” teriak Tiong Giok dengan bahasa Sangsekerta.

Orang tua itu mendadak berhenti tertawa, dan memandang pada Tiong Giok dan terus mengoceh lagi dengan bahasanya sendiri.

“Apa yang dikatakannya?” Tanya sang Pangcu.

“Aku tak mengerti, karena yang diucapkannya itu bukan bahasa Sangsekerta!”

“Ah gila orang itu!” kata Pek Cin Nio.

“Biarlah akan kutanya lagi,” kata In Tiong Giok dan terus membuka mulut dengan bahasa Sangsekerta. “Bukankah kalian ini ingin bicara dengan bahasa Sangsekerta? Kenapa menjawab dengan bahasa lain?”

Orang tua bermata biru, menggelengkan kepalanya, tapi menganggukkan kepala lagi dan terus berkata-kata seenaknya.

“Kata-katanya bukan bahasa Sangsekerta!” kata In Tiong Giok.

Tiba-tiba saja orang yang muda berkata dari bawah:

“Hei, kata guruku engkau masih kecil sudah pandai berbahasa Sangsekerta, apakah datang dari India?”

“Aku orang Tionggoan asli!”

“Guruku ingin mengetahui namamu? Dan bertanya apakah pernah ke India?

“Namaku In Tiong Giok, menyesal belum pernah ke India sehingga bahasa Sangsekerta yang diucapkan gurumu tidak aku mengerti!”

Orang tua bermata biru lagi-lagi mengoceh dengan bahasanya, tampaknya sangat cemas sekali. Dan sedang yang muda tidak hentinya menganggukkan kepala dan terus memandang kepada In Tiong Giok.

“Guruku mengatakan bahasa Sangsekertamu dipakai dikalangan atas, buat bangsawan dan pembesar, sedangkan yang dikuasai guruku adalah bahasa rakyat sahaja dari kasta terendah. Walaupun bahasanya beda, huruf dari bahasa ini sama. Karena tak bisa berkata-kata dengan suara, ia ngin bercakap-cakap melalui huruf. Sesudah engkau melihat surat guruku, harap sampaikan pada sang Pangcu, tapi ingat hal ini teramat penting, kecuali dirimu yang lain tidak boleh tahu. Nah silahkan turunkan tangga, berikan kesempatan aku naik keatas membawa surat dari guruku.”

“Kongcu boleh mengatakan, bahwa yang muda diperkenankan naik keatas, tetapi yang tua tidak!” kata Pek Cin Nio.

In Tiong Giok segeras menyampaikan apa yang dikatakan sang Pangcu. Oang tua dan orang muda dibawah gunung berunding sejenak. Siorang tua tampak mengangguk-angguk, lalu menulis disebuah Bukhie besi yang biasa dipakai seorang Hweesio dengan jeriji tangannya. Hal ini membuat sekalian yang menyaksikan menjadi kaget.

Melihat ini Wang Wang Can dan Lie Kee Cie semakin berlaku waspada, baru setelah itu menurunkan tangga besi, membiarkan orang muda itu naik keatas. Tangga ditarik lagi.

Setibanya diatas, Lie Kee Cie tak mengijinkan orang muda itu dekat-dekat dengan Pangcunya. Dan orang muda itupun disuruhnya berkui (sembah sujud menekuk lutut).

“Kami hanya bersembah sujud pada Buddha dan Biku, tidak pada orang lain!”

“Sesampainya disini janganlah bersikap sekukuh itu!” kata Lie Kee Cie sambil mendupak dengan mendadakan.

Orang muda itu dengan gerakan gesit, melompat kedepan dan memutarkan badan sambil menantikan serangan lagi:

“Engkau mau apa?” tegurnya tenang-tenang.

“Diam!” bentak Pek Cin Nio, “Lie Tongleng tak usah melalukannya, ambillah Bokhienya itu. Apa yang ditulis gurunya ingin kulihat!”

“Tidak! Benda ini ingin kuserahkan kepada orang yang pandai bahasa Sangsekerta, nah…serahkanlah Bokhie itu padaku!”

“Apakah engkau dapat berbuat seperti kata-kata yang tertulis di atas Bokhie ini?”

“Sudah tentu!”

Pemuda itu memandang keempat penjuru, lalu menganggukkan kepala. “Bokhie ini terbuat dari besi dan bukannya kayu berat sekali maka hati-hatilah!” Sehabis berkata ia membalikkan Bokhie itu dan menyerahkan kehadapan In Tiong Giok.

Pada Bokhie itu tertulis: maju lima langkah dan menunduk lihat kebawah. Surat ini hanya Tiong Giok sendiri yang bisa melihat. Ia heran dan tidak mengerti, diliriknya pemuda itu dengan penuh tanda Tanya. Tampak wajah orang itu begitu serius dan tenang, mendatangkan rasa ingin tahunya, dan segera melangkah lima tindak kedepan, lalu menunduk kebawah. Saat itu ia telah berada ditepian jurang itu, dan dia jadi kaget, karena melihat kedalamannya jurang itu dan dibawah terlihat empat orang muda yang mengenakan abu-abu, sedang merentangkan jarring, menantikannya.

Pada saat inilah pemuda itu, melemparkan Bokhienya menyerang kearah Lie Kee Cie membarengi menyergap pada In Tiong Giok dan terus dibawa terjun kebawah jurang….

“Lepaskan oanah!” teriak Lie Kee Cie.

Anak panah berdesing terlepas dari busurnya seperti hujan. Pemuda berbaju merah melindungi Tiong Giok dengan badannya. Ditengah udara ia tak bisa berkelit, maka itu tubuhnya tertancap panah, tak ubahnya seperti landak.

“Stop! Stop! ” teriak Wan Jie dengan memanah terus bisa melukai In Kongcu!”

“Untuk apa menghiraukannya lagi, andaikan tak mati terpanah tentu akan mati terbanting…” kata Lie Kee Cie.

“Apaakah kau buta? Tidakkah melihat jarring dibawah itu?” potong Wan Jie dengan mendelik.

Lie Kee Cie melihat kebawah, bukan main dongkolnya. “Kejar!” perintahnya.

Pek Cin Nio memungut Bokhie yang dilemparkan pemuda berbaju merah tadi, setelah melihat kata-kata itum ia berpaling kearah si Tongleng: “Yang datang itu berilmu tinggi, mereka telah merencanakan dengan perhitungan matang. Maka itu bawalah lebih banyak pengawal dan bekerja sama dengan Wang Futhoat untuk mengejarnya! Disamping itu akan kulaporkan pada Lo Cucong serta minta bantuan dari jago-jago yang berada di idtana sorga, kejarlah mereka sampai dapat!”

Perkataan sang Pangcu ini sepatahpun tidak terdengar oleh Wan Jie, ia sedang cemas memandang kebawah, karena segenap hatinya telah meluncur kebawah terbawa In Tiong Giok. Dan iapun melihat bagaimana kekasihnya itu jatuh didalam jarring, membal dan melompat-lompat beberapa kali, kemudian baru diam.

Ia menarik napas lega, air matanya mengalir turun, sejenak tak bisa mengatakan sedih? Duka? Girang. Ia pernah berharapan besar agar kekasihnya itu melarikan diri, dan kini benar-benar kekasihnya itu telah meninggalkan dirinya. Disamping rasa senangnya rasa duka dan sedihnya lebih besar lagi.

Sedangkan Tiong Giok yang jatuh kejaring segera disambut orang tua bermata biru. “Hei bocah engkau tentu tidak kurang suatu apa?” kata-katnya diucapkan dalam bahasa Tionghoa yang fasih sekali.

“Ya aku tidak kena apa-apa, tapi saudara ini…” kata Tiong Giok sambil meringis.

“Ia adalah muridku!” kata orang tua itu sambil memeriksa badan muridnya yang telah menjadi mayat. “Yang mati tidak akan hidup lagi, mari kita berlalu!” Empat pemuda berbaju abu-abu segera melemparkan jaringnya dan mengikuti siorang tua masuk kedalam hutan yang lebat.

Baru mereka berlalu, dari arah belakang terdengar derap kaki kuda. Orang tua bermata biru segeraberhenti sebentar. Tahanlah gerak majunya! Katanya memerintahkan pada salah seorang pemuda berbaju abu-abu, pemuda itu mengangguk dan terus menghunus senjatanya, maju menyongsong pengejar. Sedangkan siorang tua membawa Tiong Giok dan ketiga pemuda berbaju abu-abu, melanjutkan perjalanannya.

Lebih kurang berjalan setengah lie kembali terdengar derap kaki kuda dari belakang. “Ah, musuh tentu lihay!” kata siorang tua. “Nah coba engkau tahan lagi mereka!” Perintahnya pada seseorang melewati beberapa lie, mereka tiba disebuah sungai kecil, sungguhpun demikian airnya deras sekali. Tiong Giok ingat waktu ia mau masuk kemarkas Pok Thian Pang matanya ditutup, tapi mendengar suara sungai, nah inilah sungai itu. Dua pemuda beraju abu-abu, dari balik semak menarik keluar sebuah perahu kecil. Siorang tua membawa Tiong Giok keatas perahu, berbareng dengan ini dibelakang mereka terdengar lagi suara pengejar.

“Kalian berdua bisa bertahan berapa lama?” Tanya siorang tua.

“Kami bisa bertahan sekurang-kurangnya setengah jam!” jawab pemuda berbaju abu-abu.

“Pergilah dan jangan sampai membuat malu yang menjadi guru!”

“Baik suhu!”

Orang tua membuka baju merahnya, dan terlihatlah baju dalamnya yang berwarna hitam. Dengan cepat ia memutar perahu dan segera laju terbawa air, dalam sekejap hutan lebat telah tinggal jauh.

Markas Pok Thian Pang dianggap dunia terpencil yang bisa dimasuki tanpa bisa keluar lagi, tak kira kejasdian yang baru dialami Tiong Giok seperti dalam hayalan saja. Kini ia dengan mujur bisa meloloskan diri, tapi mengingat pada Cian bin sin kay yang gagah berani dan Wan Jie yang manis budi serta orang tua yang berada dipenjara tanah, membuatnya berpikir kapan bisa bertemu lagi dengan mereka. Akibat pikirannya melayang-layang tampaknya seperti melamun.

“Hei bocah, mari kita mendarat!” tiba-tiba siorang tua bermata biru berkata.

“Kenapa berhenti disini?”

“Jangan kuatir semua sudah diatur!”

Tiong Giok tidak banyak bicara lagi mengikuti siorang tua kedarat. Dan terus mereka berlari-lari.

“Siapa?” tiba-tiba dari balik sebuah batu besar terdengar orang berseru.

“Aku Liok Jie Hui!” jawab seorang tua sambil tertawa.

Mendengar nama itu Tiong Giok menjadi kaget dan sadar, bahwasannya orang tua itu bukan lain dari salah seorang Capsahkie yang bergelar Sian Ong.

“Oh kira Liok Locianpwee, terimalah hormatku serta rasa terima kasihku atas pertolongan Cianpwee keluar dari tempat Pok Thian Pang!”

“Jangan berkata begitu!” kata sioarng tua sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja dari balik batu datang seorang berumur lima puluh tahun, kurus dan mengenakan pakaian serba putih, dibelakangnya terlihat Tojin setengah baya berwajah pucat, disusul dengan seorang tua berbaju belentang belentong dengan wajah dingin, yang terakhir adalah seorang perempuan berbaju hijau, usianya empat puluhan. Wajahnya cantik dan cukup menarik, senyumnya selalu menambah keayuannya. Keempat orang ini semua bersenjata pedang, dan gagah-gagah, sungguhpun demikian terhadap Liok Jie Hui sangat hormat sekali.

“Kami sebagai Tionggoan Su toa kiam pay (empat pendekar pedang dari berbagai aliran) mengucapkan selamat datang pada Liok Sian Ong!”

Kiranya dibalik batu besar terdapat sebuah gua yang bermulut sempit dan tertutup semak-semak. Dari luar tidak kentara seperti gua. Mereka segera masuk, didalam terdapat sebuah ruangan, sebuah meja sederhana yang penuh makanan diatasnya.

Sejak melihat empat orang yang aneh ini, timbul firasat buruk pada Tiong Giok. Maka itu ia selalu mendekat pada Liok Jie Hui. Orang tua ini mengajaknya duduk dan memberikan arak serta makanan. “Hei bocah apakah engkau mendengar nama Tiong Goan Su toa kiam pay?”

Tiong Giok menggelengkan kepala.

“Dunia persilatan banyak yang menggunakan pedang sebagai senjata, tapi selama dua puluh tahun yang dapat dipuji adalah ilmu pedang dari empat aliran, yakni dari Sie beng, Cong lam, Oey san dan Lo hut. Kini engkau beruntung bisa bertemu dengan mereka ini! ” kata Liok Jie Hui sambil menunjuk kepada empat orang aneh tadi. “Nah sekarang kuperkenalkan merka ini padamu! “Maka mulailah orang tua ini menyebutkan nama keempat orang aneh itu! Perempuan yang berbahu hijau ini bernama Hoo Su Kouw, dari Oey San dengan gelar Oey san cui hong (cendrawasih hijau dari gunung Oey), Pelajar berbaju putih ini bernama Liu Bu Kie dari perkampungan Sie beng dengan gelar Hoo heng kiam (sibangau berpedang), Orang tua kurus ini bernama Kiong Hauw, Ciang bun jin dari perguruan pedang Lo hut, dengan gelar Ku bok kiam kek (pendekar pedang kayu kering). Dan Tojin ini bernama Thian Hong Tojin, Ciang bun jin dari Ciong lam.

Tiong Giok menghaturkan hormat kepada mereka satu persatu sambil berkata: “Boanpwee In Tiong Giok seorang pelajar lemah yang beruntung mendapat pertolongan dari Liok Sian Ong serta bisa bertemu dengan Cuwie sehingga terbebas dari genggaman kaum Pok Thian Pang, atas ini kuucapkan terima kasih yang tidak terhingga!”

“Ha ha ha, jangan berkata begitu,” kata Liok Jie Hui,”tahukah kenapa kami mau menolong engkau?”

“Mungkinkah karena diriku bertugas sebagai penterjemah buku di Pok Thian Pang?”

“In Kongcu benar-benar pintar, dugaanmu memang tepat!” kata Hoo Su Kouw.

“Kudengar buku yang mau diterjemahkan itu bernama Keng thian cit su, yakni buku pelajaran ilmu pedang bukan?” Tanya Liok Jie Hui.

“Benar!”

“Sudahkah engkau menterjemahkannya?” Tanya Jie Hui lagi.

“Baru sebagian saja…”

“Bagus! puji Liok Jie Hui, sebab kalau sampai buku ini engkau terjemahkan, sama dengan Pok Thian Pang sebagai harimau ditambah sayap. Dan pasti mendatangkan bencana besar dikalangan Rimba Hijau, dan engkau tak ubahnya seperti membantu kejahatan mereka, akan dikutuk sepanjang masa.

“Ya untung Liok Sian Ong datang tepat pada waktunya!” kata Tiong Giok.

“Sungguhpun begitu buku ini masih tetap berada ditangan Pok Thian Pang, lambat laun pasti dapat diterjemahkan juga dan menjadi bencana bagi dunia Bulim. Aku dan keempat ahli pedang ini berkumpul dan mengajakmu kesini tak lain ingin merundingkan sesuatu hal denganmu: adapun soal ini menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, entah engkau bersedia atau tidak?”

“Lo Cianpwee sebagai penolongku, kenapa harus berkata begitu, sudah tentu aku bersedia, asal saja yang dapat kukerjakan!”

“Engkau sudah kenalkah jago-jago pedang dari empat aliran, tapi mereka tak seorangpun yang dapat menajan kekuatan Keng thian cit su. Maka itu kami berusaha memiliki ilmu pedang itu agar semua jago-jago silat mempelajarinya, sehingga mempunyai kekuatan menghadapi kaum Pok Thian Pang.

“Maksud Liok Cianpwee bagaimana?” Tanya Tiong Giok.

“Engkau adalah satu-satunya yang pernah melihat Keng thian cit su, asal engkau bersedia membuat kopinya, Pok Thian Pang pasti hancur!”

“Ini…. Tiong Giok tertegun sejenak.

“Pok Thian Pang adalah perkumpulan yang ganas, yang menghendaki semua cabang dan aliran lain tunduk kepadanya. Yang menentang akan dibunuhnya secara sewenang-wenang. Maka itu untuk mencegah keganasannya itu kami harus menyiapkan diri melatih ilmu yang ampuh guna menghadapi mereka! Jika tidak berpikir kesitu untuk apa bercapai lelah dan mengorbankan keempat muridku menolong dirimu?”

Kata-kata ini membuat Tiong Giok tergerak, tambahan keempat jago pedangpun memandang kearahnya dengan penuh harapan. Ya untuk hidupnya kaum Bulim, Boanpwee bersedia menulis Keng thian cit su, buku itu baru sekali kubaca, kuatir…

“atas kesediaan Kongcu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih,” kata keempat jago pedang sambil merangkapkan kedua tangannya masing-masing.

“Tak apa, berapa yang engkau ingat tulislah, kekurangannya dapat diperbaiki keempat jago pedang ini!” kata Liok Jie Hui.

Segera juga Liu Bu Kie menyediakan alat-alat tulis. Tiong Giok tidak membuang waktu, siap bekerja. Tapi Liok Jie Hui berkata dengan tiba-tiba. “Eh, dengarkan dulu, disini memang sunyi dan aman, tapi masih dekat dengan Pok Thian Pang! , untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, kuharap kalian berempat menjaga diluar dengan bergilir!”

Liu Bu Kie berempat saling tatap diantara mereka sendiri, seolah-olah tak seorangpun mau meninggalkan tempat itu.

“Aku merencanakan hal ini dengan susah payah, mungkinkah tugas yang begitu mudah tak dapat kalian lakukan?” tegur Liok Jie Hui sambil mendelik dengan matanya yang biru.

“Bukan begitu,” kata Liu Bu Kie, bajuku sangat menyolok mata, sebaiknya mereka saja yang bertugas dengan bergilir.”

“Bajuku sendiri belentang belentong dan mudah menarik perhatian orang,” jawab Kiong Hauw.

“Hm, kata Thian Hong Tojin dengan gusar “kita sudah berjanji, sama-sama bersenang, sama-sama bersusah, kenapa musti tarik urat di soal baju: Andaikan baju itu membuat kalian susah, tukarlah dengan bajuku!”

“Baju ini merupakan cirri khas dari tiap aliran, mana boleh sembarangan ditukar?” jawab Liu Bu Kie.

“Siapa yang bilang tidak boleh?” bentak Thian Hong Tojin.

Akibat soal kecil ini membuat mereka tarik urat dan ribut mulut, hampir-hampir terjadi perkelahian, “Hm, apa yang diributkan?” bentak Liok Jie Hui. “Jika kalian mencurigai satu sama lain, apa yang ditetapkan semula kuanggap batal, dan In Kongcu akan kubawa pergi, kutanya jika sampai begitu siapa yang rugi?”

“Ya kita sebagai orang-orang yang kenamaan kenapa harus ribut seperti anak kecil, tidak malukah pada In Kongcu?” kata Hoo Su Kouw.

Tanpa terasa Liu Bu Kie dan lelaki memandang kearah In Tiong Giok, lalu dengan menundukkan kepala tak berkata-kata lagi.

“In Kongcu mengerjakan tulisan ini, pasti memakan waktu yang agak lama. Dan kitapun bertugas dengan bergilir, untuk menetapkan siapa yang harus jaga pertama dan seterusnya bahkan kita sudi saja,” kata Hoo Su Kouw.

Ketika jago pedang lainnya menganggukkan kepala tanda setuju, Hoo Su Kouw lantas memulung empat kertas yang sudah ditulis angka satu sampai empat. Setelah diundi nyatanya Liu Bu Kie mendapat tugas pertama, membuatnya tak bisa membantah lagi, dengan wajah merana ia pergi keluar.

“Kami berempat sudah bisa bersikap keras-kerasan, dengan begini hubungan kami semakin intim. Kongcu tak perlu memperdulikan kami, menulis saja dengan tenang,” kata Hoo Su Kouw.

In Tiong Giok merasa geli melihat kelakuan empat jago pedang yang aneh itu, setelah menunda sebentar kerjaannya akibat keributan mereka, segera ia melanjutkan lagi menulis. Dengan kepintarannya yang luar biasa dan daya ingatannya yang hebat. Tiong Giok dapat menyelesaikan tiga jurus dari Keng thian cit su dalam waktu setengah jam. Apa yang sudah ditulis itu diambil Liok Jie Hui dan ditaruh di meja, sehingga membuat tiga jago pedang itu tidak dapat melihatnya. “Demi keadilan, sebelum semuanya ditulis habis, kita jangan melihat dulu yang ini!”

Kini sampai giliran Thian Hong Tojin bertugas, dengan langkah berat ia ngeloyor juga, mengaplus Liu Bu Kie.

Kembali setengah jam berlalu, Tiong Giok selesai menulis sampai enam jurus. Sedangkan yang bertugas jaga sampai pada Tiong Hauw. Ia pergi keluar, tapi sebentar kemudian sudah kembali kedalam.

“Buku ini hanya tujuh jurus, dengan kecepatan In Kongcu menulis pasti sudah selesai sebelum giliran Hoo Su Kouw. Maka itu kuanggap disinilah letaknya, rasa kurang adil!” bantah Hoo Su Kouw.

“Aku bukan mau enak sendiri, tapi tidak mau rugi juga,” kata Tiong Hauw, “kini kuminta engkau bertugas lebih dulu dn aku belakangan bagaimana?”

“Ah mana bisa, semua ini sudah diundi…”

“Ya gulungan kertas tadi engkau yang membuat, tentu engkau main curang! Kau kira aku bisa ditipu?”

“Ya gulungan kertas aku yang buat, ” jawab Hoo Su Kouw dengan gusar, “tapi disaksikan Liok Sian Ong!”

“Ha ha ha, ” tiba-tiba dari luar terdengar suara orang tertawa disusul dengan kata-kata “Siapa yang menjadi saksi? Kami suami istri bolehkah?”

Begitu mendengar suara itu Liu Bu Kie menjadi cemas, tanpa piker panjang lagi, ia melompat dan meraup kertas dimeja itu. Jejaknya diikuti yang lain-lain. Suasana menjadi kalang kabut, sungguhpun mereka bergerak cepat, masih kalah oleh Liok Jie Hui! Semua kertas itu dengan cepat telah masuk kekantongnya dan membuat keempat jago pedang menubruk angin.

“Hm siapa diluar?” bentak Liok Jie Hui.

“Hei, kawan bermata biru sampaikan kami suami istripun engkau tak kenal?”

“Hati-hati!” kata Liok Jie Hui perlahan, yang datang adalah Hek pek siang kuoy Na Beng Kie dan Lau Liu Kim, kedua jejadian ini sangat lihay…”

In Tiong Giok mendengar nama Hek pek siang kuoy, segera tahu adalah orang Cap sah kie segera ia berdiri ingin melihat bagaimana macamnya kedua jejadian itu.

“Liok Lauko, engkau sok betul, kami sudah menunggu lama belum juga dipersilahkan masuk!” kata suara dari luar. Menyusul terlihat berkelebatan dua bayangan, mereka adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Melihat ini Tiong Giok jadi melongo, karena kedua jejadian yang dibayangkan sangat menyeramkan itu, ternyata adalah dua bocah cilik. Yang laki-laki kelihatannya baru usia empat lima belas tahun, dipunggungnya terselip dua pedang. Yang perempuan sebaya dengan yang laki-laki. Jika tidak mendengar Liok Jie Hui mengatakan mereka sebagai Hek pek siang kuoy, bagaimanapun ia tidak percaya kedua bocah ini sebagai jago-jago bulim yang termasuk dalam Bulim Cap sah kie.

“Tiap tahun kejadian-kejadian aneh selalu ada, tapi tidak menang dengan tahun ini Liok Toako sandiwara model apa yang engkau buat? Sampai empat bajak laut dari Luan lo engkau jadikan Su toa kiam pay?” kata Na Beng Lie sambil melirik kearah Liu Bu Kie dan kawan-kawannya.

“Pakai banyak tanya-tanya,” kata Lau Liu Kim dari dulu segala busuk dan segala pekerjaan tak tahu malu Liok Lojie sudah terkenal! Yang terang kita terlambat selangkah!”

“Tidak! Tidak! Bagaimana engkau menertawakan Liok Toako? Ingatlah kita sebagai kawan lama dengannya, tentu membuatnya punya ingatan dan tak mungkin menelan sendiri rejeki yang diperoleh!”

Liok Jie Hui tersenyum sinis dan berkata dengan dingin: “Kalian boleh saling sambutan dengan kata-kata tapi aku tidak mengerti apa yang kalian maksud!”

“Ah, jangan begitu, sedikit banyak kami harus kecepretan, baru pantas!” kata Na Beng Lie.

“Tidak bisa!” kata Liok Jie Hui, “sudah merupakan kebiasaanku makan apa-apa tidak meninggalkan sisa, apa lagi yang harus kucepret-cepretkan?”

“Hm, terus terang sja kami sebagai suami istri yang tak mudah dipermainkan!” kata Lau Liu kim.

“Aku tidak memperhitungkan kearah itu, ha ha,” jawab Liok Jie Hui.

“Sret!” terdengar sekali, karena Lau Liu Kim telah menghunus senjatanya, dan menunjuk keluar gua: “Disana lega, mari kita kesana!” Sehabis berkata ia mencelat keluar.

“Liok Toako, sudah menjadi tabiatnya demikian, kenapa membuatnya gusar?” tanya Na Beng Lie.

“Hm engkaupun sama saja dengan istrimu, pokoknya sebelum berkelahi persoalan ini sukar menjadi beres!”

“Untuk persoalan sekecil ini kawan lama jadi berkelahi kurasa tak ada artinya!” jawab Ba Beng Lie, seraya menggoyangkan kipasnya dan mendadakan saja kipasnya merapat dan ditotokkan kepada Liok Jie Hui.

Kelakuan yang berbeda dengan omongan manisnya inilah ia mendapat gelar Hek sim (sihati hitam). Jangan lihat ia kecil, gerakannya begitu kejam dan telengas, hampir-hampir Liok Jie Hui termakan kipasnya.

Tapi Liok Jie Hui yang sudah mengenal tabiat musuh, siang-siang sudah bersedia, maka itu melihat serangan tongkatnya keluar menangkis dan membarengi mennyodok kedepan. “Tring” terdengar sekali, karena dua senjata beradu dan memercikkan batu api.

Na Beng Lie merasakan lengannya sedikit kesemutan, dan tahu tak mudah memperoleh kemenangan, maka itu dengan cepat tubuhnya yang kecil melompat keluar. Sambil berlalu senjatanya dikebutkan kearah Thian Hong Tojin. Yang disebut belakangan tidak menduga akan diserang, dengan mudah saja terhajar dan mati saat itu juga dengan kepala remuk.

“Hiang Kuay sangat kejam dan telengas, kalian bukanlah tandingannya,” kata Liok Jie Hui. “Aku tak takut dengannya, tapi jika berkelahi akan makan waktu, dan orang-orang Pok Thian Pang bisa datang. Maka itu akan kupancing pergi kedua jejadian itu ketempat jauh, kalian bawa In Kongcu pada tempat yang sudah kita tentukan, tiga hari aku pasti datang!”

“Tapi bagaimana dengan buku itu?” tanya Liu Bu Kie.

“Tanpa adanya aku darimana datangnya buku ini? Apakah engkau tidak percaya padaku?” bentak Liok Jie Hui.

“Ya benar!” kata Hoo Su Kouw,” kami mengharapkan saja Liok Sian Ong datang tepat pada waktunya!”

Liok Jie Hui merasa dongkol dihampirinya Kiong Hauw dan dibisikinya beberapa patah setelah itu ia berlalu. Tak selang lama setelah perginya Liok Jie Hui diluar terdengar suara angin menderu-deru, tandanya telah terjadi perkelahian hebat.

“Sialan apa maunya dia? Tanpa kita iapun tak bisa dengan mudah memiliki buku itu! Setelah tak perlu kita ditendang…”

“Ssst! Sabarlah, yang penting kita harus meninggalkan tempat berbahaya ini,” kata Hoo Su Kouw. “Mari kita pergi,” Dan dituntunnya Tiong Giok keluar gua diikuti yang lain dari belakang.

Saat ini diluar gua telah menjadi gelap, Tiong Giok diajak berlari-lari keluar masuk rimba dan hutan, ia tidak tahu kearah mana hendak dibawa, hanya mengikuti terus seperti diseret-seret. Rasa kuatir dan cemas meliputi segenap jiwa raganya…

Mereka berlari dan berlari. Tatkala fajar menyingsing telah tiba disebuah perkampungan kecil.

“Tempat ini bagus, kita boleh beristirahat,” kata Hoo Su Kouw. “Kita salin pakaian dan menangsel perut baru melanjutkan perjalanan lagi!”

“Sebaiknya kita lanjutkan terus perjalanan pada tempat yang dijanjikan Liok Sian Ong,” kata Kiong Hauw.

“Engkau boleh melanjutkan perjalanan, tapi aku tidak mau,” jawan Hoo Su Kouw.

“Kenapa?” tanya Kiong Hauw.

“Engkau harus tahu siapa Liok Sian Ong itu!” kata Hoo Su Kouw. “Sesuatu barang jika sudah ada ditangannya, mana mungkin diberikan kepada kita?”

Kiong Houw seperti tersadar dari tidurnya dan berkata dengan kaget: “Kalau begitu kita tertipu Liok Sian Ong?”

“Sekarang baru tahu? Sudah terlambat!” kata Liu Bu Kie dengan dingin. “Sebab kutahu kelicikannya, maka sengaja kuribut tak mau menjaga, agar kalian sadar dn menyokongku. Tak kira Sumoy mencegahku, dan membuatnya enak-enak mengangkanngi buku itu!”

“Jika tidak kurintangi, akibatnya kita akan mati ditangannya!” kata Hoo Su Kouw. “Apakah dengan kepandaian kita berempat bisa melawannya?”

“Kalau begitu sama saja kita menelan mentah-mentah kelicikannya itu?” kata Liu Bu Kie dengan sengit.

“Hm, biar dia licik dan pandai ia lupa pada satu soal, ” kata Hoo Su Kouw dengan tersenyum puas. “Ia lupa bahwa In Kongcu ini adalah buku hidup!”

“Pantasan waktu mau berlalu membisikiku agar In Kongcu ditengah jalan!” kata Kiong Hauw.

“Jika begitu mungkin juga Liok Kukoay itu bisa mengejar kita,” kata Hoo Su Kouw. “Yang baik kita harus tukar pakaian dan menyamar baru aman! Nah siapa diantara kalian yang mau mencari pakaian masuk kampung?”

“Biar aku yang mencari!” kata Liu BU Kie sambil melangkah.

“Baju putihmu terlalu menyolok mata, sebaiknya Kiong Toako saja yang pergi! Orang yang sudah tua gampang mendapat simpati rakyat!”

Kiong Houw menganggukkan kepala dan berlalu.

Setelah melihat Kiong Hauw berlalu, Hoo Su Kouw menarik napas panjang dan mendekat pada Bu Kie: “Kelihatannya soal ini rumit sekali…”

“Kenapa begitu? Dapatkah kutahu?”

“Tidak kenapa-napa, tapi kalau dibentangkan…”

“Ya katakana saja, jangan disimpan saja dalam hatinya, akibatnya berabe”.

“Sebenarnya tak patut kukatakan soal ini kepadamu, tapi apa boleh buat! Kita mengangkat saudara sudah bertahun-tahun, tapi engkau piker, apa yang terjadi di dalam gua, berhari-hari melakukan tugas, sampai terjadi keributan dan datangnya Siang Kuoy! Juga kuheran kenapa Liok Lokuoy itu hanya memesan Kiong Toako seorang untuk membunuh In Kongcu? Tentu disini terselip sesuatu hal yang tidak kita ketahui bukan? Bukan kata aku terlalu curiga, tapi semua ini adalah fakta, nah engkau piker saja, kenapa ia mau melanjutkan terus perjalanan dan takmau beristirahat disini?”

Liu Bu Kie mendengari tak hentinya menganggukkan kepala. “Benar! Tentu antara Lo Kuay dan Kiong Toako ada apa-apanya!”

“Liu Jiko kupikir unutk mempelajari ilmu pedang Keng thian cit su harus punya seorang kawan yang cocok dan sependirian barubisa berhasil meyakininya. Kini hanya engkaulah yang kupikir sangat cocok denganku, engkaulah Tiong Toako benar-benar membuatku dongkol saja!”

“Kalau begitu kita singkirkan saja dia …”

“Jangan berkata begitu,” kata Hoo Su Kouw sambil mendekap mulut Liu Bu Kie.

“Kepandaiannya berada diatas kita berdua jika sampai ia tahu, sama dengan mencari penyakit senddiri! Untuk menghadapinya kita harus berlaku cerdik!”

“Hm! Untuk menghadapinya lihat saja nanti!” kata Liu Bu Kie.

“Kuharap engkau jangan berlaku gegabah, ai! Jangan ngomong lagi ia sudah pulang!”

Baru saja diantara mereka berhenti bicara Kiong Hauw sudah datang dengan membawa dua buntelan besar. “Waduh untuk mendapatkan baju bekas saja harus mencapainya lidah dulu!” katanya sambil tersenyum-senyum.

“Kenapa begitu?” tanya Hoo Su Kouw.

“Orang-orang bodoh didesa itu mengatakan untuk apa aku membeli baju? Terpaksa aku membohong dan mengatakan kepada mereka bahwa aku tinggal dipegunungan dan telah dirampok habis-habisan…”

“Hm! Kiranya Kiong Toako tukang menipu orang, tapi mulai saat ini kami takkan kena tipu dayamu!” seru Liu Bu Kie.

Kiong Hauw menjadi kaget sebelum tubuhnya dapat berkisar, pedang Liu Bu Kie telah menembus tubuhnya. Dengan menahan sakit ia mengebaskan lengan kanannya sebagai gaya reflex, melakukan serangan. Hal ini diluar dugaan Bu Kie, cepat-cepat ia melepaskan pedangnya dan melompat ke samping.

“Liu…Liu lojie…engkau sangat kejam,” kata Kiong Hauw terputus-putus, lalu mencabut pedang yang menancap ditubuhnya, setindak demi setindak mendekat pada Liu Bu Kie.

“Hoo Sumoy! Lekas habiskan jiwanya.” KataLiu Bu Kie sambil menyengir-nyengir jengah.

“Jangan kuatir, tak lama lagi ia akan mati ” kata Hoo Su Kouw.

“Hm, kiranya…kalian adalah…sepasang anjing…lelaki dan perempuan…yang berkomplot!”

“Engkau sudah mau mati, tak perlu mencaci orang!” bentak Hoo Su Kouw.

Liu Bu Kie mendekat kearah Hoo Su Kouw, “Serahkan pedangmu padaku!” pintanya.

Hoo Su Kouw menyerahkan pedangnya, sedangkan Kiong Hauw melemparkan pedang kearah Liu Bu Kie dengan kekuatan tenaganya yang terakhir. Waktu Liu Bu Kie akan menangkis serangan itu, merasakan kedua tangannya tidak bisa digerakkan, Karena telah ditotok jalan darahnya oleh Hoo Su Kouw. Tak ampun pedangnya yang dipakai menikam Kiong Hauw kini menubles tubuhnya sendiri. “Sumoy…engkau…”katanya dan terus membungkam untuk selama-lamanya.

“Jieko engkau harus tahu tamak sudah menjadi sifat manusia, maka jangan menyalahkan aku! Sekarang tak kubunuh, nanti kau membunuhku bukan? Mungkin tindakanmu akan lebih beracun lagi.” Dan terus ia menghabiskan kedua saudara angkatnya itu dengan cepat. Lalu dengan tangkas kedua mayat itu dikubur. Dengan menarik napas lega ia melirik kearah Tiong Giok yang pucat menyaksikan peristiwa ini.

“Ah dasar seorang pelajar lemah, rupanya ketakutan sekali, aku harus menghiburnya agar mau menuliskan buku Keng thian cit su bagiku.” Pikirnya dan terus menghampiri pemuda itu. “In Kongcu! Hm, engkau diam saja, tentu menyalahkan aku berlaku jahat pada mereka bukan? Tapi apa mau dikata, seorang perempuan ditakdirkan sebagai insan yang lemah, kemana-mana selalu dapat penghinaan dan diperlakukan dengan tak wajar, untuk hidup inilah terpaksa memakai cara ini.”

Ia tidak bicara lagi, sebaliknya meloloskan bajunya dan menukar dengan sehelai pakaian bekas yang didapat Kiong Hauw. Diam-diam ia melirik kepada si pemuda, ia agak kecewa karena pemuda itu sedikitpun tidak memperhatikan padanya. In Kongcu, lekaslah tukar pakaian, boleh kita melanjutkan perjalanan.” Sambil berkata ia mau menepuk pemuda kita.

Dengan cepat sekali Tiong Giok menggeser badan dan membentak: “Engkau mau mengajakku kemana?”

“Aha pakai banyak bertanya, sudah tentu kesuatu tempat yang nyaman! Disana hanya kita berdua saja! Apa yang engkau kehendaki pasti kululusi! Setelah mahir dengan ilmu Keng thian cit su kita bisa mengembara kemana saja dengan bersuka ria!”

“Maksudmu pergi ketempat Liok Sian Ong?”

“Aduh masak kesana!” kata Hoo Su Kouw sambil membereskan bajunya.

“Jika engkau tak mau kesana, beritahu tempatnya dimana aku bisa pergi sendiri!” kata In Tiong Giok.

“Untuk apa kau menemuinya? Mau cari mati?”

“Tak perlu engkau tahu, lekaslah sebutkan dimana tempat itu!”

“Kesanapun tidak ada gunanya, pasti ia tak ada disana! Karena buku yang dikehendaki telah diperolehnya!” jawab Hoo Su Kouw, supaya engkau tak penasaran, baik kusebutkan, bahwa tempat itu bernama Kiu hoa san!”

“Terima kasih atas keteranganmu, dan selamat tinggal!” kata In Tiong Giok.

“Hm engkau hendak kemana?” kata Hoo Su Kouw sambil merintangi perjalanan Tiong Giok.

“Sudah tentu akan ke Kiu hoa san, jawab Tiong Giok sejujurnya, kuharap engkau memberi jalan .”

“Tidakkah Kongcu berpikir, apa yang terjadi barusan itu karena apa?” tanya Hoo Su Kouw.

“Itu urusanmu, tak ada sangkut pautnya denganku!”

“Engkau boleh pergi kesana, sebelum itu harus menuliskan dulu sebuah buku Keng thian cit su bagiku!”

“Jika aku tak mau bagaimana?”

“Aku bisa membuatmu mau!”

“Aku rasa engkau tak bisa!”

“Mau coba-coba!” kata Hoo Su Kouw dan terus mengeluarkan jerijinya melakukan totokan, Sungguhpun begitu ia kuatir Tiong Giok tak kuat menahan serangannya, maka tenaga yang digunakan hanya tiga bagian saja dan yang diserangpun bukan tempat berbahaya.

Bermimpipun ia tidak berpikir, bahwa pelajar lemah yang dianggapnya empuk ini dengan mudah saja bisa menghindarkan diri dengan ilmu kiu coan bie cong po. Hoo Su Kouw mengucak-ngucak mata dan berseru: “Mau lari kemana?” Dengan cepat ia menyergap lagi, tapi sekali lagi Tiong Giok dapt menghindarinya. Dan dengan gusar ia membentak: “Sebenarnya engkau mau apa?”

Sekali ini Hoo Su Kouw melihat dengan tegas, gerak langkah yang digunakan Tiong Giok begitu aneh dan mengagumkan, keruan datang kagetnya: “Benar-benar aku salah mata, tak kira Kongcu memiliki ilmu setinggi ini!”

“Engkau jangan berkata begitu, pokoknya berikan aku jalan, jika tidak jangan salahkan tindakanku!”

“Apa tindakanmu itu?”

“Engkau telah menotokku dua kali, jika sampai aku menotokmu sekali saja, membuatmu menyesalpun sudah kasep!”

Hoo Su Kouw tersenyum dan mendekati terus, dengan memasang dadanya yang padat kehadapan Tiong Giok ia berkata: “Masakah totokanmu begitu lihay? Nah lancarkanlah untuk kurasakan…”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: