Kumpulan Cerita Silat

03/01/2008

Perguruan Sejati (01)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:25 pm

Perguruan Sejati (01)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Sebuah sungai yang jernih, berliku-liku mengitari kaki gunung. Sepanjang tepian tumbuh dengan subur pohon-pohon liu yang rimbun. Di bagian sungai yang sempit merentang sebuah titian kecil, menghubungi undakan tangga batu sebuah gedung besar, yang berdiri dengan megah di lereng gunung.

Rumah itu berpintu hitam bertembok kuning, di sebelah kanan dan kiri dari pintu muka terdapat sepasang singa-singaan dari batu. Di bagian timur gedung itu terdapat paviliun yang digunakan sebagai tempat belajar.

Saat ini diruangan itu guru tua. Akibat teriknya matahari, hawa menjadi panas dan mendatangkan rasa mengantuk bagi guru itu. Sedangkan suara pelajar-pelajar semakin lama semakin kendur tapi masioh terus terdengar!

Seorang pelajar mengawasi pada gurunya, lalu menyikut kawan di sebelahnya: “Toa Sun Cu, sudah waktunya, tunggu apa lagi?”

“Tunggu sebentar lagi, biar dia pulas benar,” jawab Toa Sun Cu.

“Lihat pit yang dipegang sudah jatuh kelantai, pasti sudah pulas!”

Toa Sun Cu tersenyum girang, digoyangkan tangannya, suara membaca semakin perlahan dan hilang tidak terdengar lagi, suasana menjadi sunyi. Toa Sun Cu memperhatikan dengan seksama untuk mengetahui apakah gurunya sudah pulas benar atau belum, setelah yakin guru itu sudah pulas. Dipeloporinya kawan-kawannya meninggalkan seorang-seorang dengan tertib tanpa mengeluarkan suara.

Seorang anak berbaju biru tidak turut keluar ia masih tekun dengan bukunya. “In Tiong Giok!” Toa Sun Cu ” engkau tidak turut?”

“Kalian saja yang pergi, aku masih mau menghafal!”

“Baiklah, nanti kuberi seekor ikan besar, asal saja melindungi kami jika guru marah2!” Sebelum berlalu ia masih sempat menjulurkan lidah mengejek yang tidur menggeros-geros.

Baru saja anak-anak berlalu, sang guru membuka matanya sambil tersenyum.

“Tiong Giok marilah kita mulai dengan pelajaran yang benar!” Bagaimana latihan ilmu dalammu apakah ada kemajuan?”

“Ya suhu, bahkan telah kunulai kepelajaran Hoan-pou-kuil-cin atau menghilangkan kepalsuan mencari kebenaran. Hawa sejati rasanya bergolak keras dan mendatangkan rasa sakit.”

“Itu tak apa-apa, nah coba perhatikan padaku!”

In Tiong Giok menyedot napas dalam2 lalu mengeluarkan jeriji kanannya ditotokan kepada buku yang dipegang gurunya. Siuut! pukulannya mendatangkan suara dan “beng” berbunyi sekali, buku yang dipegang gurunya terpental beberapa depa. Waktu diperiksa buku itu telah berlubang, dilingkaran lubang itu hitam seperti kebakar!

“Ah anak ini luar biasa, dalam waktu lima tahun sudah mencapai taraf ini, waktu aku belajar, selama delapan tahun tidak selihay dia. Dasar maunya Allah didunia persilatan akan muncul seorang gagah perkasa. Hatinya merasa girang tapi tidak diutarakan pada parasnya. Ia hanya menyruh muridnya mengeluarkan buku berbahasa Sangsekerta. “Apakah bahasa asing ini sudah kau kuasai?”

“Selama lima tahun kupelajari mati-matian dapat dikatakan sudah kukuasai semua!” jawab In Tiong Giok.

Sang guru menngujui kepandaian muridnya dalam bahasa Sangsekerta seecara lisan mereka bertanya jawab dengan tenangnya. Sementara itu diluar terdengar suara Toa Sun Cu dan kawan-kawannya.

“Tumben mereka kembali secepat ini,” kata sang guru yang terus berlagak tidur lagi seperti tadi. In Tiong Giok memasukan buku pelajaran bahasa Sangsekertanya kedalam saku. Toa Sun Cu dating paling dulu, napasnya senen kemis, seolah-olah ia lupa telah berbolos. Datang-datang berseru: ” Suhu! Suhu lekas.. lekas lihat! Singa batu..”

Guru itu pura-pura kaget dan bangun: “Ada apa ribut ribut?

“Itu…itu singa batu menangis!” jawab Toa Sun Cu.
“Masakah singa batu bisa menangis?”
“Benar suhu!” jawab yang lain dengan serentak.

“Menangis sampai keluar air mata darah!”
Toa Sun Cu menjelaskan.
“Coba kita periksa” kata sang guru sambil melangkah keluar, diikuti murid-muridnya dari belakang.

Apa yang diterangkan Toa Sun Cu memang benar, bahwa singa-singaan batu mengeluarkan air mata darah. Guru itu menuil darah itu dan menjilatnya dengan lidah. Ia merasakan dan tahulah, darah itu darah manusia. Dengan rasa kaget ia celingukkan keempat penjuru. Tapi tidak mendapatkan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan.

“Tentu ada seseorang yang luka tangannya dan memeperkan kemata singa-singaan ini. Toa Sun Cu ambil kain basah dan bersihkan mata singa-singaan ini. Sesudah itu kalian boleh pulang, pelajaran hari ini sampai disini saja.”

“Suhu…” kata In Tiong Giok. Dengan pandangan tajam guru itu mengawasi muridnya, bibirnya bergerak perlahan, lalu membalik badan kembali kedalam kelas.

Diluar tahu kawan-kawannya In Tiong Giok dapat menangkap percakapan gurunya yang memakai ilmu mengantar suara atau Toan Im. Guru itu memesan kepadanya, malam ini jangan kemana-mana biarpun mendengar keributan apapun.

Ia menjadi heran, diawasinya guru itu dari belakang, segera juga berbayang-bayang kejadian lima tahun berselang didepan matanya. Saat itu gurunya pertama kali dating. Ia dasn kawan-kawannya sedang asyik mandi disungai. Dengan penuh perhatian guru itu mengawasi mereka berenang, tapi dengan tiba-tiba is dipanggil naik.

“Siapa namamu nak? Tahun ini umur berapa?” tanyanya lemah lembut.
“Namaku In Tiong Giok masa suhu lupa? Kini berusia tiga belas tahun!”
“Tiong Giok? Tiga belas tahun? Itu tanda luka sejak kapan adanya?”
“menurut ibu sejak kecil sudah ada.”
“Apakah ibumu masih ada?”

Tiong Giok sungguhpun menjawab, hatinya merasa dongkol atas pertanyaan yang kurang pantas: “Suhu kenapa berkata begitu? Yang mengundang suhu kemari adalah ayah dan ibuku, kenapa bertanya lagi?”

Sang guru berkemak kemik seorang diri.
“Tanda itu…tiga belas tahun…mungkinkah di dunia ini terjadin hal serba kebetulan? Ah,…tak mungkin…” Ia berpaling kepada Tiong Giok sambil tersenyum memukul jidatnya sndiri: “Ha ha ha jangan heran nak, hari ini otakku kurang beres. Sebenarnya bukan apa-apa, Aku ngeri melihatmu mandi di sungai yang deras, kuatir terbawa hanyut! Lekaslah pakai bajumu!”

Kenapa guru itu memperhatikan demikian, terhadap tanda luka di pundaknya? Kenapa memberikan pelajaran tenaga dalam dan bahasa Sangsekerta? Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak terjawab memenuhi benak hatinya: sering ia bertanya soal itu, tapi tak pernah mendapat jawaban dari gurunya. Dalam lima tahun guru itu sungguh-sungguh mengajarf dirinya: mula pertama mendatangkan rasa heran, lama kelamaan menjadi biasa lagi.

Malam harinya Tiong Giok tidak bisa tidur bulak balik ia berpikir. “Kenapa singa-singaan itu bias mengeluarkan air mata darah? Apa yang dimaksud dengan perkataan keributan” dari guru itu? Sungguhpun guru itu melarangnya ia keluar kamar, harinya sudah siang-siang meninggalkan kamar itu. Tapi semalaman telah berlalu dengan tenang tanpa suatu kejadian apapun, Baru saja matahari terbit, ia sudah keluar kamar menuju keruang belajar sambil berseru-seru: “Suhu! Suhu! Suhu!”

Begitu masuk ia melihat gurunya sedang memangku tangan berdiri tegak dengan tenang, memandang kedepan tembok.

Tiong Giok diam-diam menghampiri gurunya, begitu ia memandang ketembok yang diawasi gurunya, tak alang kepalang kagetnya. Kiranya ditembok itu terlihat tujuh semut mati tertusuk jarum halus!

Sang guru menatap terus kepada semut-semut itu, dan terdengar ia berkata perlahan. “Dua puluh tahun tidak bertemu, nyatanya sudah maju banyak…”

“Suhu!” tiba-tiba In Tiong Giok bertanya penuh heran.

“Oh,” jawab guru itu seraya mengebutkan lengan bajunya ketembok, jarum-jarum berikut semut berguguran jatuh. Dengan lengan baju jarum-jarum itu digulung secara hati-hati. Ia mengangguk kepada muridnya. “Mari kesini!”

Begitu masuk kedalam kamar, guru itu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Jarum-jarum tadi dimasukkan ke dalam. “Kemauan Tuhan tidak bisa ditentang, tapi biar waktu itu tinggal sehari, masih dapat dipergunakan sebaik-baiknya!”

“Maksud suhu bagaimana?”

“Jangan bertanya lagi, waktu sangat berharga. Kita sebagai guru dan murid selama lima tahun, selama itu kita hidup bersama-sama, tapi mulai kini, aku sebagai guru akan memberikan dua macam ilmu membela diri! Sungguhpun ilmu ini bukan pelajaran yang luar biasa tapi sangat berguna untuk dikemudian harimu. Maka itu segala keheranan dan kekusutan pikiranmu kesampimgkan semua, konsentrasi pikiranmu, dan sedapatnya bisa mengingat pelajaran ini. Sang guru segera menguraikan semacam ilmu yang bernama Kiu Toan Bie Cong Po atau Sembilan putaran langkah gaib. Lalu disusul dengan semacam ilmu lagi yang bernama Cap Jie Siang Liong Ciu atau dua belas macam ilmu menangkap naga.

Cara sang guru memberikan pelajaran lain dari biasa, begitu tegas dan mendetail, juga minta dipraktekkan saat itu juga, setiap kesalahan kecil yang dilakukan mendatangkan makian dan teguran pedas, sifat welas asih dan sabarnya seperti hilang. Seolah-olah ilmu pelajaran yang diturunkan itu, harus ditelan muridnya saat itu juga. In Tiong Giok memusatkan segala pikiran pada pelajaran, sedikitpun tak berani berpikir kearah lain.

Dua pelajaran yang diuraikan sekali itu sudah memakan waktu sampai tengah hari. “Makan dulu lekas, sekalian beritahu Toa Sun Cu dan yang lain hari ini libur. Setengah jam kemudian kita lanjutkan ilmu pelajaran ini.”

Seharian penuh guru dan murid tidak keluar dari ruangan belajar, mati-matian memburu waktu, hal ini membuat nyonya In merasa kuatir dan menitahkan pelayannya dating menjenguk. “Sian seng nyonya mengatakan ilmu pelajaran memang penting, tapi kesehatanpun sangat penting, nyonya mengharapkan Kong tju beristirahat, besok baru belajar lagi.”

Guru itu menarik nafas panjang dan berkata. “Ya, memang apa yang diperkatakan nyonya memang benar, nah Tiong Giok engkau boleh beristirahat, besok kembali lagi kita lanjutkan pelajaran ini!”

In Tiong Giok segera berlalu, tapi baru saja kakinya melangkah pintu, sang gurusudah memanggilnya lagi. “Muridku, sebelum tidur pikirkanlah masak-masak, jangan sampai capai lelah yang menjadi guru hilang percuma! Ini sepucuk surat simpan baik-baik, sebelum fajar menyingsing, jangan dibuka…” Kata-katanya tidak diucapkan sampai selesai, sedangkan air matanya tampak tergenang memenuhi kelopak matanya. “Suatu saat anak naga akan terbang ke angkasa, karena ia bukan cacing dilumpur. Murid yang baik pergi istirahat!” Kata-kata yang terakhir di ucapkan berbareng sedu sedatnya.

Malam itu In Tiong Giok tidak bisa pulas, pikirannya selalu berputar pada kejadian tadi siang, kelakuan gurunya hari itu sangat luar biasa, membuatnya tidak habis berpikir. Ia merasakan sang guru itu pertama kali berbuat demikian selama lima tahun. Mungkinkah soal singa batu mengalirkan air mata darah merupakan alamat buruk dan bisa mendatangkan bencana?

Ia ingat pada surat gurunya, dibawanya ke bawah sinar lampu, disampulnya tiada tulisan apa-apa, sedangkan didalamnya bukan seperti kertas surat: keras dan ganjil. Surat apa ini? Kenapa harus menantikan esok baru boleh di buka?

Mendadakan saja, keinginan tahu jiwa kecilnya menggolak dan sukar ditahan. “Suhu menyerahkan surat ini tentu ingin berbicara denganku, tapi kenapa harus menanti sampai besok, bukankah besok bertemu muka lagi dan bisa bicara langsung, kenapa harus memakai surat? Surat ini untukku? Ia berpikir lagi, segera bantahan keluar dari dirinya sendiri, tidak! Biar bagaimana tidak boleh kubuka sebelum pagi, sebagai murid harus taat pesan guru!

Otaknya berjalan terus, Tiong Giok belum juga tidur, pikirannya masih tetap berkecamuk antara buka dan tidak. Dengan perasaan ingin tahunya yang berlebih-lebihan, surat itu dibukanya. Di dalam terlihat surat dari kertasbiasa dan sebuah sampul surat dari kulit kambing yang tertutup rapat. Agaknya seperti surat rahasia saja, dan diluarnya tertulis. Untuk Thay Cin To Tjiang di Tay Heng San. Siapa Thay Cin To jin ia tidak kenal, maka surat itu diletakkannya. Ia meneliti surat dari kertas biasa, baru saja membaca sebaris, hatinya sudah kaget tak keruan. Karena itulah surat perpisahan dari gurunya yang berbunyi kurang lebih seperti berikut, Muridku yang baik, engkau tak perlu bersedih hati, karena pepatah mengatakan tiada suatu pesta tanpa perpisahan, demikian juga antara aku dan engkau. Sebagai guru, aku mengetahui apa yang engkau pikirkan selama lima tahun tentang diriku, demikian juga dengan aku terhadap dirimu. Bahkan sampai kini soal yang ingin kuketahui masih merupakan teka-teki yang belum terpecahkan.

Muridku engkau anak yang cerdas, tentu mengetahui juga apa sebabnya singa batu mengucurkan air mata darah? Kini boleh kuterangkan, itulah perbuatan dari seorang musuhku, musuh itu memiliki kepandaian tinggi, ia mencariku sudah dua puluh tahun lamanya, kini baru bertemu, maka itu pertempuran antara hidup dan mati tidak dapat kuelakkan. Tapi bagaimanapun tak usah engkau kuatir. Biarpun suhu itu sudah tua akan tetapi masih percaya takkan dikalahkan, hanya suatu soal saja yang membuatku menyesal, kalah ataupun menang tidak bisa kembali berkumpul denganmu. Hanya kita yakin, disuatu saast kita bisa bertemu lagi, maka tak perlu engkau sedihkan perpisahan ini.

Sebenarnya sudah kusediakan waktu tujuh tahun untuk menurunkan segala kepandaianku kepadamu, tapi apa mau dikata sebelum sampai waktunya harus berpisah. Sungguhpun begitu sebagai orang yang cerdas dan berbakat, engkau dapat melatih sendiri segala pelajaran yang kuberikan, kudoakan engkau akan berhasil. Kecuali itu kuminta, pertama tama engkau pergi ke Tay Heng San, dan ingat selama di perjalanan engkau harus menjaga tanda luka di pundak kiri jangan sampai diketahui oleh orang, karena bisa menbahayakan jiwa. Dan kedua bila ada orang yang menanyakan usiamu harus menambah dua dan jangan mengatakan yang sebenarnya. Ketiga ilmu Hiat Cie ling (jari-jari berdarah) jika tak sampai terdesak sekali jangan dipergunakan.

Empat, begitu bertemu dengan Thay Tjin Tojin harus berlaku hormat. Jika ia menanyakan nama suhu, engkau boleh mengatakan “Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin dari Pegunungan Salju.” Ia akan mengerti sendiri. Lima tahun kita bersama2, kini harus berpisah untuk ini ingatlah pesanku yang terakhir. “Laki-laki sejati harus berani menghadapi hidup.”

Dibaris terakhir tiada surat, hanya terdapat garis-garis bulat yang berdempetan.

Begitu In Tiong Giok selesai membaca surat segera ia lari keluar sambil berseru: “Suhu! Suhu!”

Dipagi sunyi, sinar surya baru saja terlihat diufuk timur dengan samar-samar, sekeliling masih terbenam kesunyian. In Tiong Giok berlari kearah timur dimana gurunya tinggal. Ia masuk dan melongo, kamar telahj kosong, gurunya telah pergi tanpa pamitan. Tiada terasa lagi air matanya bercucuran.

Dengan pandangan guram, ia mengawasi surat kulit kambing untuk Thay Tjin To Djin di Tay Heng San. Ia tidak mengenal siapa Thay Tjin To djin itu, hanya tahu bahwa surat itu mengandung rahasia besar, untuk kehidupannya hari kemudian. Ingin ia mengetahui selekasnya rahasia didalam kulit kambing itu, setelah terpekur agak lama juga, sesuatu keputusan telah di ambilnya… akan meninggalkan rumah berangkat ke Thay Heng San.

XXXXXXXX

Rumah makan Tiang Thay di kota Hek Ciu sang,at terkenal akan panggang ayam dan panggang bebeknya, maka itu tidak heran banyak kaum pelancong dari dekat maupun jauh yang kesitu, untuk mencicipi kedua masakan itu. Saat ini baru tengah hari, tepat waktunya orang makan, seratus meja lebih dari rumah makan itu yang terdapat di loteng maupun di bawah telah penuh para tamu.

Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara sepatu kuda, dua laki-laki gagah dengan cepat sudah turun dari kudanya. Yang jalan di depan mukanya berewokan, sedangkan yang satu lagi mukanya pucat, tubuhnya kurus. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dan menyoren pedang dipinggang. Pemilik retoran begitu melihat kedatangan dua tamu, wajahnya agak berubah, cepat-cepat meninggalkan tempat duduknya, menyambut dengan terbungkuk-bungkuk “Liok-ya dan lie-ya selamat siang, bagaimana baik-baikkah selama ini?”

“Apa yang jadai baik? Tidakkah kau tahu hampir-hampir aku gila karena mendongkol!” jawab si brewok dengan kasar.

“Ya, harap Lie ya jangan gusar, mari minum arak untuk menghilangkan kejengkelan!” kata si Tauke dengan tersenyum.

“Ya sudah jangan bicara yang tidak keruan kedatanganku kesini sudah tentu ingin minum arak sediakan lekas!” kata sibrewok dengan kasar.

“Lo lie tak usah meladeni mereka, urusan kita sendiri belum beres, mari kita makan secepatnya, dan menjelaskan terus pekerjaan kita,” kata si kurus pucat.

Atas kedatangan dua orang ini, suasana ramai dirumah makan menjadi sepi, para tamu makan sambil tunduk dan tidak berkata-kata, agaknya semua tamu merasa jeri terhadap dua orang ini.

Diantara sekalian tamu, terdapat seorang muda sederhana. Sedang makan dan minum denga enaknya. Seorang pelayan denga hormat membungkukkan badan sambil memohon: “Benar-benar maaf, dapatkah Yuan memberi muka kepadaku agar pindah kemeja sebelah duduk bersama dengan Tuan ini? Hal ini terpaksa dilakukan kaena tamu keliwat banyak.” Sehabis berkata, pelayan itu tanpa minta persetujuan lagi, segera memindahkan makanan dan minuman kedua tamu itu kemeja yang berada disebealah.

Anak muda itu nampaknya tidak puas dan menunjukkan perasaan gusar, untung siorang tua dengan sabar mencegahnya: “Kongcu tak perlu gusar, orang yang bepergian, kurang sedikit lebih sedikit tak apa-apa, mari kita pindah.”

Pemuda berbaju biru menoleh kemeja sebelah, dilihat seorang laki berusia tiga puluh enam tahun, mengenakan pakaian sastrawan, bermata sipit berhidung bengkung, wajahnya penuh ciri kelicikan. Membuatnya ragu-ragu sejenak. Sedangkan laki-laki itu telah bangun dan merangkapkan kedua tangannya mempersilahkan duduk: “Kebetulan duduk sendirianpun merasa sepi, jika tidak keberatan marilah kita duduk bersama-sama.”

Agaknya perkataan laki-laki itu membuat pemuda berbaju biru merasa likat, segera membalas hormat dan duduk: “Ah, mengganggu Saudara saja, lagi pula dua tamu itu sok betul…”

“Ssst kuharap Lotee mengerti, mereka adalah orang-orang Pok Tian Pang (Perserikatan pemecah langit), kita sebagai sastrawan yang lemah, tak baik bertengkar dengan meereka!”

Sehabis makan laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Pang Hui, seorang Siucay pengembara, dan iapun minta kenal dengan sipemuda dan orang tua itu. Agaknya sipemuda kurang senang terhadap teman semeja itu, ia hanya menjawab singkat: “Namaku In Tiong Giok, dan orang tua ini adalah pembantu rumahku yang setia!”

Pang Hui banyak bicara kebarat ketimur tak henti-hentinya. Hal ini membuat In Tiong Giok sebal dan menyesal bisa duduk semeja dengaannya. Biarpun Pang Hui banyak bicara dan bertanya ini itu, hanya mendapatkan jawaban singkat dan tawar. Karena disamping rasa sebal kepadanya, perhatiannya lebih banyak dicurahkan kepada dua orang Pok Thian Pang.

Siberewok dan sikurus pucat begitu duduk, segera mengalir makanan dan minuman semeja penuh. Sambil makan kedua orang itu sambil memaki-maki orang lain, nampaknya sedang mendongkol benar-benar.”

“Ah sialan betul, segala golok dan pedang mudah ditangkis, kenapa kemendongkolanku sukar dilupakan? Aku orang she Lie hidup puluhan tahun tapi baru kali ini mengalami peristiwa semacam ini. Yang menjadi atasan kita tahunya setiap hari makan enak dan main perempuan, sedikitpun tidak mengetahui kesulitan kita, taunya salah sedikit maki-maki dan marah-marah.”

“Tapi tidak bisa menyalahkan atasan kita, iapun mendapat perintah dari Kangcu, engkau jangan melihat dia galak dan garang, jika sampai dipusat tak ubahnya seperti kura-kura, kepalanya ngerepot dan lebih-lebih dari kita.” kata sikurus pucat. “Tapi akupun heran kenapa memerintahkan kita mengerjakan hal yang aneh pikirlah didunia ini berapa banyak pemuda berusia delapan belas tahun? Kitapun tak bisa melakukan pemeriksaan satu-satu sambil membuka baju mereka untuk melihat ada tandanya atau tidak.

“Sabarlah tak usah marah-marah terus, engkaupun harus hati-hati, ini tempat umum, sedangkan tugas kita harus dirahasiakan betul-betul.

Sibrerewok kaget juga mendengar peringatan temannya, ia celingukan keempat penjuru lalu duduk lagi sambil berkata keras: “Ya baiklah tidak kukatakan lagi, mari minum!”

In Tiong Giok yang mendengar percakapan mereka menjadi heran sekali, diam-diam ia menjadi kaget, karena ia tahu pundak kirinya terdapat tanda dan usianyapun delapan belas tahun. “Untuk apa mereka mencari pemuda itu?” pikirnya dan diam-diam berlaku waspada pada orang Pok Tian Pang.

Siberewok menyenggol temannya sambil berkata: “Hei, Lo Liok bukankah engkau mengatakan di penginapan Hong Sin ada pemuda yang patut dicurigakan? Tapi aku merasa inipun sia-sia saja, karena berulang kali kita melakukan kesalahan mencurigakan orang yang tidak bersalah. “Mari kita berangkat.”

“Sekali ini pasti tidak salah, kaena Cu Lay cu melihat denga kepala sendiri waktu pemuda itu mandi, dipunggungnya terlihat sebuah tanda.”

“Biarpun dipunggungnya ada tanda jika saat ini usianya bukan delapan belas tahun, bukankah sama denga nol?”

“Maka itu kita bekerja harus hati-hati.” Kata Skurus pucat, “Sebelum kita menangkap kita Tanya dulu usianya, dan memaksanya memperlihatkan tanda dipunggungnya, jika benar segera kita tangkap, jika tidak ya kita lepaskan!”

“Ya benar, pendeknya kalau sekali berhasil, kita akan mendapat uang banyak, dan bisa pergi cuti untuk bersenang-senang.”

“Kalau sekali ini berhasil kitapun bisa ikut mencari pemuda yang pandai bahasa Sangsekerta untuk diajukan kepada Pangcu, karena kudengar barang siapa bisa mencari orang yang pandai bahasa itu akan mendapat upah besar, dan kitapun bisa naik pangkat!”

“Ah sudahlah jangan membicarakan hal itu, mari kita kerjakan yang berada didepan mata.” Mereka berlalu tanpa membayar.

“Ah benar-benarkah mereka mencari orang yang pandai bahasa Sangsekerta?” kata Pang Hui tanpa terasa. Iapun segera pamitan dari In Tiong Giok dan cepat berlalu.

“Apakah Pang Heng pandai bahasa Sangsekerta?” Tanya In Tiong Giok.

“Ah tidak!” katanya seraya memanggil pelayan. “Berapa semuanya?”

“Dua ketip empat sen.”

“Hitunglah jadi tiga ketip, uang ini sekalian masukkan kedalam rekening In Kong Cu, lebihnya enam sen boleh kau ambil.”

In Tiong Giok merasa dongkol, ia tidak keberatan untuk membayarkan makanan Pang Hui, tapi caranya yang berutal dan kurang ajar itu membuatnya mendongkol, sehingga timbul penilaiannya bahwa Pang Hui lebih busuk dari orang-orang Pok Tian Pang.

“Apakah orang she Pang itu adalah langgananmu?” tegur Tiong Giok pada pelayan.

“Bukan, baru beberapa hari ini saja ia sering dating makan disini.

Pang Kongcu itu orang aneh, setiap makan tidak lebih dari tiga ketip, dan selalu ia makan dengan kawannya, dan selalu dibayar!”

Hanya hari ini ia datang sendiri. Dan kebetulan pula harus Kongcu yang membayari.” Disini banyak temannya ia tinggal dihotel Hong Sing…”

Begitu mendengar perkataan Hong Sing, Tiong Giok tergerak dan cepat-cepat menyelak: “Jauhkah tempat itu dari sini?”

“Tidak, belok dari gang kecil yang didepan sudah sampai!”

In Tiong Giok segera memesan pada In Hok: “Tunggu disini sebentar akau mau kesana.”

Orang tua itu jadi melongo. “Kongcu mau kesana mari kutemani.”

“Tidak usah, hanya sebentar, jika dalam waktu setengah jam tidak kembali engkau boleh menyusul,” kata Tiong Giok yang segera tanpa menunggu jawaban lagi dari pengikutnya.

“Sesampainya didepan pintu hotel, Tiong Giok tertegun sejenak dan berpikir: “Saat ini baru jam dua tengah hari, mungkin orang-orang dari Pok Tian Pang berani memeriksa tamu hotel dengan sewenang-wenang. Dan apa tujuan mereka memeriksa orang muda berusia delapan belas tahun denga tanda dipunggungnya itu” Lebih lebih mengingat Pang Hui yang menjemukan, ia tidak masuk, emlainkan menantikan didepan hotel sambil mondar-mandir.

Tak jauh dari diri terlihatnya banyak orang sedang berkerumun, seolah-olah ada pengumuman penting dari yang berwajib. Begitu ia mendekat terdengar salah seorang berkata: “Ah ini rejeki nomplok, saying kita tidak mampu, bagaimana kalau kita beritahu Tan pocu, dia orang terpelajar, pasti bisa melakukan pekerjaan ini!”

“Ha ha ha,” yang lain tertawa. “Memang dalam soal pengetahuan. Ia lebih unggul dari kita, tapi dalam hal ini iapun tak bedanya dengan kita.”

“benar,” sahut yang lain lagi. Kuingat Cie Sian-seng. Ia pedagang keliling, sedikit banyak menguasai bahasa asing denga baik, coba suruh dia, siapa tahu…”

“Apa? Hm, memang ia bisa berkata-kata sedikit bahasa asing, yang lucu orang asing sendiri tidak mengerti apa yang di ucapkannya! Apalagi dalam pengumuman ini terang-terang mencari seorang yang pandai bahasa Sangsekerta.”

Tiong Giok menyelak diantara orang banyak sambil bertanya: “Cuwie, sebenarnya apa sih yang dikatakan rezeki nomplok?”

“Kongcu sebagai pelajar, mungkin bisa juga bahasa Sangsekerta. Untuk ini akan mendapat sepuluh ribu tail emas, didunia tidak ada cara mencari uang yang lebih mudah dari ini!”

“Apa susahnya dengan bahasa Sangsekerta, aku In Tiong Giok sejak usia tiga belas tahun sudah belajar bahasa ini?”

“Benar-benarkah Kongcu mengerti?” yanya seorang setengah percaya.

Dalam pengumumam itu dikatakan bahwa Ngo Liu Cung (perkampungan Ngo Liu) mencari seorang penterjemah yang mahir dalam bahasa Sangsekerta, jika benar-benar orang itu bisa dipakai akan diberi honorarium sepuluh ribu tail emas. Dan untuk orang yang bisa memcarikan tenaga yang dibutuhkan itu akan mendapat upah lima puluh tail perak.

“Maafkan aku bukan orang sini, dapatkah Cuwie menunjukkan jalan menuju Ngo Liu Cung?”

“Tak usah Kongcu pergi jauh-jauh kedua orang itu adalah dari Ngo Liu Cung!”

Tiong Giok menoleh kearah yang ditunjuk, benar saja terlihat dua orang sedang ke hotel Hong Sing dengan tergesa-gesa. Kedua orang itu setelah ditegasi bukan lain dari pada Si berewok dan Si kurus pucat yang diketemukan dalam restoran tadi. Cepat-cepat ia melangkah ke hotel.

Kedua orang itu baru sampai didepan pintu hotel, berpapasan dengan seorang muda berpakaian perlente, hampir mereka saling tubruk.
Dengan sopan santun pemuda perlente memberi hormat dan menghaturkan maaf. Tapi kedua orang itu bukan saja tidak membalas hormat, melainkan mendelik dan bertanya dengan kasar: “Hei engkau mau kemana?”

“Mau keluar sebentar, jie wie ada perlu apa”

“Tidak apa-apa, hanya mau bicara sebentar denganmu,” kata sikurus pucat dengan dingin.

“Hal apa yang hendak jie wie bicarakan,” kata sipemuda dengan heran.

“Apakah engkau She Yo?” tegur si berewok.

Pemuda itu menganggukkan kepala.

“Apakah usiamu tahun ini delapan belas tahun,”

Sipemuda menganggukkan kepala lagi.

Dua orang itu saling berpandangan dengan puas, siberewok sengaja menepak gagang pedangnya dan berkata dengan girang: “Hei apakah dipunggungmu terdapat satu tanda?”

Pemuda itu mundur mundur bebrapa langkah “Apakah maksud jie wie bertanya ini?’

“Tidak apa-apa” kata siberewok, “kami hanya menginginkan engkau membuka baju dan memperlihatkan tanda dipunggung itu.”

Pemuda ini menjadi gugup, sungguhpun begitu ia tidak mau membuka bajunya, sipucat kurus mendengus sekali dan berkata: “Lo Lie waktunya engkau bertindak.”

Tanpa disuruh kedua kalinya siberewok segera menyambar baju pemuda itu. Tapi dengan gaya berputar pemuda itu berhasil berkelit dan melakukan balasan. Akibat terlalu memandang enteng, siberewok kena ditampar, tentu saja membuatnya gusar sekali, pedangnya segera dihunus. Demikian juga denga sikurus pucat. Aganya pemuda itu hanya memiliki ilmu bela diri yang sederhana saja. Berbukti setelah ditodong denga dua senjata tajam, ia tidak berdaya, matanya clingukan mengharapkan bintang penolong, sedangkan keringatnya bercucuran turun membasahi bajunya.

Akan tetapi seorang yang terlalu didesak akan timbul nekatnya, demikian juga sipemuda itu, ia tidak menyerah! Waktu sipucat kurus mau menangkapnya ia masih melakukan perlawanan, tapi bagaimanapun yang lemah itu tidak bisa menang melawan yang kuat. Tak selang lama ia sudah tertotok dan tidak berdaya.

Siberewok dngan kasar, membeset baju pemuda itu, dan benar saja dipunggungnya terdapat tanda.

“Lo Lie jaga baik-baik bocah ini, akan kuberi kabar pada Cunggu.” Kata sikurus pucat. Tapi belum pula ia meninggalkan hotel, dari arah luar telah dating lima kuda memasuki pekarangan hotel, empat diantaranya mengenakan pakaian Lie dan Liok, sedang yang satu lagi adalah seorang tua yang sudah lanjut usianya mengenakan pakaian panjang waarna hijau, janggutnya yang panjang bergoyang-goyang tertiup angin, wajahnya tenang dan berwibaww dilehernya tergubat sehelai sutra biru yang mengkilap.

Lie dan Liok segera memapak kedatangan lima orang ini, dan memberi hormat pada orang tua itu. “Yang rendah Lie Guan Ciang dan Liok Beng Can menghaturkan hormat pada Cungcu.”

“Bukankah engkau kutugaskan mencari seseorang,” tegur si Cungcu, “kenapa berada disini?”

“Orang yang dimaksud itu berada dipenginapan ini.” Kata sipucat kurus, “Bahkan sudah ditangkap!”

“Kebetulan sekali,” kata siorang tua, “bawa kemari orang itu.”

Dengan cepat siberewok menenteng pemuda perlente yang telah tertotok kehadapan siorang tua.

“Buka jalan darahnya!” Perintah orang tua.

Begitu jalan darahnya dibuka pemuda itu menjadi gusar dan melakukan protes keras: “Hei kalian bangsat dan rampok, ditengah hari bolong berani berlaku sewenang-wenang, memang didepan mata kalian tidak ada undang-undang Negara?”

“Diam!” seru siorang tua, ” kutanya berapa usiamu kini?”

“Delapan belas tahun!”

“Coba putar badanmu, ingin kulihat punggungmu!”

“Tidak mau!” seru pemuda dengan bandel.

Liok Beng Can dan Lie Goan Ciang segera merejeng pemuda itu, dan menyingkap bajunya yang sidah robek.

Orang tua itu memperlihatkan tanda dipunggung pemuda itu, lalu mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. Setelah mengukuri sejenak, kertas itu dilipat kembali dan ia sendiri tertawa sinis “Lepaskan dia.”

“Cungcu mungkinkah…..” kata Lie dan Liok hampir berbareng.

“Orang yang dikehendaki mempunyai tanda bekas bacokan dipundak kirinya, sedangkan dia mempunyai tanda dekat pinggang, pasti bukan, maka kulepas, lain kali bekerja lebih cermat jangan sembarangan lagi!”

In Tiong Giok yang menyaksikan kejadian ini, diam-diam masuk kedalam hotel, tanpa terasa ia mengusap tanda dipundak kirinya, keringatnya mengucur sendiri: “Tak heran Suhu memesan jangan sampai tandaku ini dilihat orang, danjangan mengaku usia yang sebenarnya, kiranya ada bertalian dengan soal misterius yang tidak kumengerti? Ya apapun hubungannya dengan kedua orang Pok Tian Pang? Kenapa mereka hendak menciduk pemuda berusia delapan belas tahun dengan tanda dipundak kiri? Mungkinkah orang yang mereka cari itu aku adanya?” In Tiong Giok tidak alang kepalang kagetnya sewaktu mendengar orang menegur padanya. “Anak muda sedang apa kau disini?”

In Tiong Giok kena dikagetkan, dalam sejenak tidak bisa menjawab. “Hei anak muda apakah engkau tidak mendengar, Cungcu bertanya padamu?” tegur salah seorang pengawal baju hitam.

“Oh, tidak sedang melihat pengumuman di luar hotel….” Jawabnya agak gugup.

“Siapa namamu?” tegur si Cungcu.

“In Tiong Giok!”

“Oh, kiranya engkau, aku dating kesini karena mendengar ada seorang bernama In Tiong Giok yang pandai bahasa Sasngsekerta, kiranya engkau kata!” Si cungcu dengan nada suara berubah ramah tamah.

“Ya benar,” jawab Tiong Giok.

“Aku situa ini bernama Tan Toa Tiau tinggal disebelah barat kota yang disebut Ngo Liu Cung, kedatanganku sengaja untuk mengundang Kong Tju dating kerumahku. Mungkin Kongtju sudah membaca pengumuman itu dan mengerti apa imbalan jasa yang akan kami berikan kepada seseorang yang pandai bahasa Ssangsekeerta….”

Ya, memang sudah kubaca, tapi bukan karena aku sok kaya, soal uang tak berarti amat besar bagiku.”

“Ya, memang uang itu untuk pelajar sejati tidak berarti, itu hanya tandanya hormat dari kami saja, dan mungkin Kongcu tak berkeberatan bila sekarang juga kuundang datang ke Ngo Liu Cung.”

“Undangan Cungcu merupakan kehormatan yang tidak bisa kutolak, hanya saja.”

“Apa yang Konngcu kehendaki, tinggal katakana, orang-orangku bisa membantu!”

“Di rumah makan Tiang Thay ada seorang pengikutku yang bernama In Hok, Aku harus kesana dulu, agar ia tidak kuatir…..”

“Tidak usah Kongcu pergi sendiri, orangku bisa menyampaikan pesan, juga sekalian mengundang In Hok datang!” Kata Tan Toa Tiau yang segera menyuruh pengawalnya menjalankan perintah.

Waktu ia mengikuti Tan Toa Tiau, si pemuda She Yo tadi masih ada di depan pintu, saat ini kebetulan Tiong Giok menoleh kearahnya. Entah bagaimana pemuda itupun sedang memandang kearahnya,kepalanya goyang sedikit seolah-olah memberi tanda agar ia jangan mau ikut. Tiong Giok mengangguk dan tersenyum menyatakan terima kasih atas peringatannya si pemuda itu.

Di tengah perjalanan Tan Toa Tiau banyak bertanya.

“Kongcu berusia berapa?”

“Dua puluh tahun!”

“Kongcu sebagai pelajar, juga seperti seoarang yang mengerti ilmu silat, apakah pandanganku benar?”

“Seorang pelajar seperti aku ini, memang mempelajari juga ilmu silat, tapi hanya kembang-kembangnya saja, sekedar gerak badan, lain dengan ahli silat dari Rimba Hijau!”

Selanjutnya Tan Toa Tiau menanyakan soal keluarganya denga npanjang lebar, semua ini di jawab Tiong Giok dengan sejujurnya, Ngo Liu Cungcu menjadi puas, sehingga kata-katanya semakin ramah-tamah. Tak lama tibalah mereka disebuah benteng yang terbuat dari batu-batu. Benteng ini sekelilingnya di kitari selokan dan tertutup pepohonan yang rimbun. Samar-samar terlihat penjaga-penjaga benteng yang gagah dari celah-celah pepohonan, nampaknya penjagaan keras sekali.

Untuk masuk ke benteng itu harus melalui jembatan gantung, Tan Toa Tiau hanya memberi tanda, penjaga jembatan segera menurunkan. Mereka dengan mudah masuk kedalam benteng. Di dalam terlihat sebuah bangunan berloteng yang mentereng di pekarangan terlihat lima batang pohon Liu yang besar-besar.

Tak uash di tebak lagi nama perkampungan Ngo Liu dari situ datangnya.

Dengan ramah Tan Toa Tiau mengajak tamunya masuk kedalam gedung, dan terus naik keloteng. Baru saja sampai di pintu seorang pengawal menyambut dengan membungkukkan badan. Mereka bicara sejenak, nampak Tan Toa Tiau bersseri seri dengan kaget. “Ah kebetulan sekali, dimana dia?”

“Di ruangan tunggu!”

“Suruh dia tunggu, aku segera menemuinya,” kata Tan Toa Tiau, dan lalu berpaling kepada Tiong Giok. “Kongcu mari ikut denganku.” Diajaknya Tiong Giok masuk kekamar buku.

“Harap Kongcu tunggu sebentar, aku ingin menemui seseorang!”

“Oh, silahkan!” kata Tiong Giok. Seberlalunya si tuan rumah, membuatnya sendirian. Ia memperhatikan bahwa kamar buku ini dekorasinya begitu indah penuh seni, lemari lemari penuh dengan buku buku tua, di dinding tergantung lukisan lukisan antik.

Dari segi ini dapat dinilai bahwa tuan rumah seorang, yang banyak pengetahuannya dan terpelajar tinggi. Jika dibanding dengan keadaan diluar, yakn penting dan pengawai yang gagah, nyata benar perbedaannya, dan tidak serasi antara luar dan dalam.

Sejenak berlalu Tuan rumah belum kembali membuatnya kesal juga, ditambah kesunyian kamar tidak alang kepalang. Waktu ia ingin menghilangkan kesal sambil melihat buku, ia menjadi kaget, karena samar samar mendengar didekat rak buku ada yang sedang berbicara. Sayang suara itu begitu lemah dan tidak terdengar tegas.

Sikirannya timbul untuk mendengari percakapan disebelah. Baru saja lengannya menyentuh rak, tiba tiba rak bergerak dan terbuka dengan sendirinya. Dengan gaya reflek yang cepat, ia menarik sejilid buku sambil mundur dua langkah dan pura pura membaca. Dari arah rak terlihat Tan Toa Tiau dengan seoarang sastrawan masuk kedalam ruangan.

Sastrawan itu bermata sipit dan berhidung bengkung, yang kaku lain Pang Hui adanya. Ia menjadi heran, sedang Pang Hui dengan wajah liciknya tersenyum dan memberi hormat: “Tak dikira kita bisa bertemu lagi, sudah lamakah saudara In?”

“Oh jiwie nyatanya sudah kenal satu sama lain, tak perlu repot repot aku memperkenalkan lagi!” kata Tan toa Tiau.

“Ya, aku bersama saudara In secara kebetulan makan bersama sama direstoran Tiang Thay.”

“Kini mari ikut denganku, karena minuman dan sedikit hidangan sudah disediakan!”

Diruangan makan benar saja sudah disediakan hidangan mewah, tuan rumah mempersilahkan tamunya duduk. Pang Hui berlaku tak sungkan, segala ikan dan kidik main caplok, minuman main tenggak. Sedangkan In Tiong Giok karena pikirannya masih memikir mikir maksud dari tuan rumah tidak seberapa napsu makan.

“Aku merasa beruntung dalam satu hari bisa mendapat dua orang ahli bahasa Sangsekerta, untuk secawan arak!”

In Ting Giok merasa heran, karena ia mendengar bahwa Pang Hui sewaktu dirumah makan mengatakan tidak mengerti bahasa Sangsekerta, kenapa sekarang mengaku bisa. Sungguhpun ia mengangkat cawan dan mengarangkan keheranannya, tetap ada sedangkan Pang Hui dengan sikap wajar, tersenyum senyum. “Aku sejak kecil sudah kenyang membaca berbagai buku ilmu pengetahuan, ditambah sifatku yang senang merantau, waktu kecil sudah pernah ke India, maka itu pelajaran bahasa sangsekerta kupelajari disana, bahkan bukan itu saja bahasa asing lainnyapun banyak yang kumengerti, Hari ini kebetulan bertemu Cungcu sehingga hatiku girang, karena pelajaran yang kumiliki dapat kukembangkan dengan penghargaan besar.”

In Tiong Giok tahu orang she Pang itu sedang menyombongkan diri, maka dengan cepat ia berkata: “Kalau begitu pengetahuan Pang Heng luar biasa sekali, sedangkasn aku yang sejak kecil dirumah melulu, pantas jika minta petunjuk-petunjuk dari Pang Heng,”

“Untuk memberikan pelajaran aku tidak berani, untuk menceritakan pengalamanku diluar negeri boleh sedia.”

“Yang ingin kuketahui, sejak kapankah India dan Tionghoa mengadakan hubungan?” tanya Tiong Giok.

“Oh, tidak heran kalau Lo tee yang masih berusia muda tidak mengetahui hal ini, baiklah kuterangkan. Ketahuilah pada Ahala Tang ada seorang Biku yang bernama Tong Sam Cong pergi kebarat atau India untuk mengambil kitab suci, nah sejak itulah perhubungan antara India dan Tiong Goan dimulai, jelas?”

Mendengar keterangan itu Tiong Giok merasa ingin tertawa, hampir hampir arak yang berada di dalam mulutnya tersembur keluar, bahwa gelinya.

“Bagaimana apakah yang juterangkan jurang jelas?” Tanya Pang Hui.

“Soal Tong Sam Cong mengambil buku suci yang terdapat dicerita See Yu memang benar. Tapi soal hubungan antara Tionggoan dan India terjadi sejak itu, kurasa tidak tepat!”

“Habis sejak kapan?” Tanya Pang Hui.

“Menurut sejarah orang pertama yang pergi ke India terjadi di Ahala Kim, yakni waktu Hoat Sian mempelajari agama Buddha, hal ini terjadi dua ratus tahun sebelum Tong Sam Cong datang ke India, mungkinkah Pang Heng yang sudah kenyang baca buku, tidak mengetahui soal ini?”

“Saudara In, untukku segala pengetahuan yang tidak seberapa penting itu tidak kuingat, lebih lebih kini yang benar benar dibutuhkan Tan Cungcu adalah ahli bahasa Sangsekerta bukan?”

Untuk apa membicarakan soal yang tidak berguna! Sehabis berkata ia bergelak-gelak dan minum arak: “Saudara In mari minum, kuakui untuk mengingat tahun tahun sejarah engkau lebih mahir dariku, aku menyerah kalah.”

Sebenarnya Tiong Giok ingin membuat susah Pang Hui dalam bahasa Sangsekerta tapi ia tidak tega berlaku demikian, sedangkan Ngo Liu Cunggu pun hanya tertawa saja tanpa memberikan komentar.

“Ah nyata-nyata Pang Hui tidak memiliki kepandaian tinggi, tapi berani betul melamar pekerjaan ini apa maksudnya? Mungkinkah dirinya itu sebagai orang Pok Thian Pang yang pura-pura sebagai ahli bahasa, tapi yang sebenarnya untuk mengawasi diriku? Tengah ia berpikir dari luar terlihat seorang pengawal memberri laporaan. Pengikut In Kongcu sudah datang!”

“Suruh dia istirahat dulu, tak usah menemuiku!” kata Tiong Giok yang sedang berpikir keras, menghadapi situasi keadaan dirinya kini.

Mereka makan minum dari tengah hari sampai lampu-lampu dinyalakan belum juga bubar. Saat ini dari arah luar terdengar suara tambur tiga kali. Menyusul terlihat seorang pengawal masuk kedalam. Ia memberi hormat pada Tan Toa Tiau sambil berkata. “Nona Pek Wan Jie dari markas pusat telah datang.”

Tan Toa Tiau agak terkejut. “Ih ada apa ia datang.”

“Kenapa?” terdengar suara garing dari luar, “tidak senangkah atas kedatanganku sebagai tamu tak diundang?”

Tan Toa Tiau tergelak-gelak dan buru-buru menyambut: “Diundang tidak datang tidak diundang datang, sebenarnya angin apa yang meniup nona datang kesini?”

Gadis itu bukan sendirian, malainkan bertiga. Yang paling depan kira-kira usianya tujuh belas tahun berbaju merah, raut wajahnya begitu cantik, ditambah ada lesung pipitnya waktu tertawa, benar-benar membuat silau pemandangan. Dibelakangnya mengikuti dua gadis berbaju kuning yang ringkas dan bersenjata pedang.

“Paman Tan engkau tidak akan mengira, kedatanganku kesini yakni untuk melihat orang yang pandai bahasa Sangsekerta!”

“Bagaimana engkau tahu, padahal baru sore tadi kukirim kabar melalui merpati pos?”

“Ya burung itu terbangnya cepat dan sudah tiba dimarkas pusat,” kata Pek Yan sambil tersenyum.

“Tan Cungcu jangan percaya omongannya, pikir saja dari sini kepusat berapa jauhnya?
Andaikata kami terbangpun, dalam sehari pasti belum sampai kesini,” kata salah seoarng gadis baju kuning.

“Ha ha ha,” Pek Wan Jie tertawa, “kami sebenarnya secara kebetulan saja sedang pesiar ke Telaga Tong Teng, dan dari orang-orang di sana mendengar bahwa Cungcu berhasil menemukan In Kongcu yang pandai berbahasa Sangsekerta? Maka itu buru-buru dating kesini!” Tiong Giok dan Pang Hui menjadi silau pandangan matanya, tanpa terasa mereka berdiri dengan berbareng.

Gadis berbaju merah mencegah sambil menggoyangkan tangan: Jiwie tak usah berlaku demikian, aku Pek Wan Jie dan dua pengikutku Siaw Eng dan Siaw Hong sudah biasa berlaku ugal-ugalan, maka jangan ditertawakan.”

“Pek Kounio adalah murid satu-satunya dari Pangcu, disayang serta dimanja,” kata Tan Toa Tiau.

“Ah, paman Tan bagaimana sih, baru ketemu sudah membongkar rahasia orang?” kata Wan Jie sambil trsenyum dan matanya menyapu tajam sambil bertanya: “Yang mama In Kongcu?”

In Tiong Giok merangkapkan tangan menghaturkan hormat: “Yang rendah adalah In Tiong Giok.”

Pek Wan Jie membuka mata lebar-lebar, mengawasi dari atas sampai bawah: “Ah benar ganteng!”

In Tiong Giok tidak bisa bergurau, wajahnya menjadi merah dan tunduk tak berani menatap sinona.

Tan Toa Tiau segera memperkenalkan Pang Hui: “Pang Kongcu inipun seorang ahli bahasa Sangsekerta, bahkan iapun sudah pernah pergi kenegeri barat, misalnya India, Persia dan lain-lain.”

“Ah kebenaran sekali, aku ingin bertanya sepatah kata bahasa Persia yang tidak kumengerti, bolehkah Pang Kongcu mengartikan?”

Pang Hui tampaknya kaget, terpaksa tersenyum: “Boleh saja, perkataan apa yang Kounio maksud?”

“Pang Kongcu, Asana apa artinya?”

In Tiong Giok maupun Tan Toa Tiau berbareng mengawasi Pang Hui menantikan jawaban. Tanpa terasa suasana didalam kamar men jadi sunyi sekali. “Asana kata Pang Hui seperti mengingat-ingat arti dari kata itu. Bagaimanapun ia memeras otak, belum juga ia dapat artikan, wajahnya menjadi pucat.

“Pang Kongcu perbah pergi ke Persia, masakan “Asana” saja tidak tahu artinya?”

Pang Hui menjadi garuk-garuk kepala tak gatal. Keringatnyapun mengucur semakin deras: “Asana…Asana…ini…rasanya belum pernah kudengar!”

“Hi HI HI kuterangkan “Asana” adalah nama kucing belangku dari Persia, tak heran engkau belum pernah mendengar”

Tan Toa Tiau dan In Tiong Giok terpingkal-pingkal, sedangkan Pang Hui menarik napas lega, seolah-olah baru keluar dari lubang jarum.

Ngo Liu Cungcu berlaku telaten pada Wan Jie, ccepat-cepat menyuruh bawahannya menyiapkan lagi meja baru untuk menjamu tamunya. Tapi sinona dengan tersenyum mencegahnya: “Tak usah repot-repot sebaiknya suruhlah mereka lekas-lekas menyiapkan kereta, malam ini juga kami akan berangkat mengajak dua Kongcu ini kepusat. Tak usah memberabekan orang-orang dipusat dating kemari.”

“Kini sudah malam bagaimanapun Kounio sudi bermalam disini, besok baru berangkat.”

“Kasur disini tak bisa kutiduri,” kata Wan Jie, pokoknya asal paman merasa lega, mumpung belum terlalu malam kami lantas berangkat.”

Mendengar percakapan ini, In Tiong Giok merasa heran, lalu menanya: “Kedatangan kami kesini yakni melamar kerjaan pada Ngo Liu Cungcu, kenapa harus pergi kepusat segala?”

Wan Jie melirik kearah Ngo Liu Cungcu: “Apakah paman belum menjelaskan, pokok persoalan pada mereka?”

“Belum sempat kujelaskan, Kounio sudah dating, nah terangkanlah pada mereka sekarang!”

“Oh, In Kongcu belum tahu,” kata Wan Jie. “Sebenarnya tidak terhitung rahasia lagi, kalau Ngo Liu Cungcu menjabat ketua Pok Tian Pang disini, ketua kami sedang mencari seseorang yang pandai bahasa Sangsekerta. Maka itu semua ketua cabang menjalankan perintah melakukan pengumuman keantero semua pelosok mencari seorang yang ahli bahasa itu. Tugas utama untuk alih bahasa sangsekerta ini, tidak lain sebagai penterjemah, karena dipusat ada sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Ssangsekerta. Nah, tugas Kongcu kepusat tak lain untuk menterjemahkan buku itu kedalam bahasa Tionghoa!”

“Buku apa yang akan di terjemahkan itu?”

“Mana kutahu, pokoknya setelah kongcu kesana akan mengetahui sejelas-jelasnya.”

“Jauhkah letaknya pusat Pok Tian Pang,” tanya Tiong Giok.

“Dengan kereta dapat di tempuh dalam empat lima hari!”

“Aku sedia melakukan pekerjaan ini, jika buku itu berada disini, kalau terlau jauh..”

“Perjalanan empat lima hari mana terhitung jauh?” sela Wan Jie, “yang aku tahu laki-laki harus bersifat jantan, Kongcu sudah dating melamar pekerjaan dan di terima, bagaimanapun harus dilakoni juga!”

Perkataan sinona ini membuat In Tiong Giok tak enak hati: “Ya kalau begitu kuturuti, tapi patut kujelaskan, jika buku itu termasuk porno tak akan kukerjakan walau dibayar berapa.”

“Syarat Kongcu kami hargakan, aku berani menjamin buku itu bukan porno, Kongcu akan percaya setelah melihatnya,” kata Wan Jie penuh keyakinan.

Sementara mereke berkata, kaum pelayan telah siap dengan meja baru dan segala hidanganpun baru pula. Nampaknya Ngo Liu Cungcu berdaya sekuatnya untuk menahan tamunya bermalam juga. Melihat kesungguhan hati tuan rumah Wan Jie mengalah dan menginap juga semalam.

XXXXX

Hari kedua, Tan Toa Tiau telah menyiapkan sebuah kereta, dan memerintahkan empat pengawal mengiringi: Tiong Giok dan Pang Hui naik kereta, sedangkan Wan Jie dan dua pengikutnya naik kuda. Rombongan ini berikut kusir kereta berjumlah sebelas orang, perlahan-lahan meninggalkan Ngo Liu Cung.

Di tengah perjalanan Pang Hui tidak banyak bicara seperti kemarin, ia lebih banyak tidur!
Sedangkan Tiong Giok selalu menatap keluar, menikmati panorama, seumur hidupnya pertama kali ini ia melakukan perjalanan, mendatangkan gembira dan kesenangan baginya.

Senja hari rombongan ini tiba di sebuah kota kecil, Wan Jie menyewa losmen bagian belakang, malam harinya keempat pengawal itu melakukan penjagaan dengan bergilir. Tiong Giok merasa heran menyaksikan ini, tak ubahnya seperti mau menghadapi musuh saja. Waktu makan malam ia mengemukakan keheranannya itu pada Pek Wan Jie. Sinona tertawa kecil dan berkata: “Bukan apa-apa karena kita diikuti terus oleh cecunguk-cecunguk yang tak kenal mati!”

“Toh kita tidak bermusuhan dengan mereka, kenapa diarah terus?”

“Mungkin mereka senang berbuat demikian siapa yang larang,” kata Pek Wan Jie, “tapi kongcu sebagai seorang sastrawan, kalau terjadi suatu apa-apa sebaiknya tenang-tenang dan tak perlu kuatir.”

Malam berlalu dengan tenteram, Tiong Giok terbangun dari tidurnya setelah matahari terbit. Cepat-cepat ia turun dari pembaringan merapihkan baju, matanya yang tajam melihat secarik kertas didekat bantal. Cepat dilihatnya kertas yang berbunyin:

Demi hidupnya kawan-kawan di rimba hijau, mau tidak
mau kami memperingatimu sekeras-kerasnya. Batalakan
segera niatmu sebagai penterjemah, dan cepatlah
menyingkir, jika tidak, menyesalpunt tak brguna.”

Tiong Giok merasa kaget, dan tahu ada orang memasuki kamarnya tadi malam tanpa diketahuinya, jika pendatang itu bermaksud buruk, siang-siang jiwanya bisa melayang. Kaget tetap kaget, sebisanya di tenangkan dan bagai tidak terjadi apa-apa carikan kertas itu dikantonginya. Lalu keluar kamar dengan wajar. Dilihatnya yang lain sedang makan pagi, Wan Jie tersenyum atas kedatangannya yang lambat: “In Kongcu pantasnya tidurnya nyenyak.”

“Ya nyenyak!”

“Mari kita sarapan dulu, kemudian kita lanjutkan perjalanan!”

In Tiong Giok begitu duduk, merasakan bahwa Pang Hui sedang mengawasi kearahnya dengan sinar mata tajam, waktu ia menoleh cepat menundukkan kepala, gerak geriknya sangat mencurihakan sekali.

Dalam sekilas saja, hati Tiong Giok jadi bergerak dan berpikir: “Iapun melamar sebagai penterjemah, apakah iapun menerima surat ancaman juga? Gerak geriknya selalu mencurigakan, mungkin suatu ancaman ini perbuatan dia, aku harus menyelidiki darinya.”

Seperti kemarin, Tiong Giok dan Pang Hui bersama-sama naik kereta. Belum pula kereta berjalan jauh, Tiong Giok yang sedang berpikiran kacau menoleh kearah Pang Hui dan bertanya: “Pang Heng bagaimana tadi malam, tidur nyenyakkah?”

“Aku mempunyai suatu kebiasaan tidak bisa tidur nyenyak ditempat baru.”

“Oh, jadi tidak tidur? Adakah mendengar sesuatu gerakan yang mencurigakan?”

“Gerakan apa?” jawab Pang Hui seperti tersinggung ulu hatinya, “sedikitpun tidask mendengar apa-apa.”

“Aku menerima sepucuk surat ancaman!”

“Surat ancaman? Bolehkah kulihat?”

“Seharusnya kaupun menerima sepucuk surat sepertiku,” kata In Tiong Giok menyindir, ‘Mungkjin melihatmu belum tidur, tak berani orang itu memberikannya, kuatir menimbulkan kegaduhan!”

Sambil memberikan surat itu, Tiong Giok memperhatikan mimik dan ekspresi wajah orang. Begitu menerima dan membaca surat itu, terlihat lengannya Pang Hui gemetar dan wajahnya pucat. “Waduh tak terkira pekerjaan ini bisa mendatangkan mala petaka! Tahu begitu biar dibayar lebih sepuluh tikel takkan kulakukan!”

“Bagaimana baiknya kalau begini?”

“Emas memang menggiurkan, tapi jiwa terlebih penting,” kata Pang Hui, “kalau begini sebaiknya lekas kita membatalkan pekerjaan ini!”

“Tapi pepatah mengatakan semut mati digula, manusia mati diharta,” kata In Tiong Giok, “betapapun sangat sayang rejeki yang berada di tangan dibuang percuma.”

“Oh, maksudmu biar maut menghadang akan pergi juga ke Pok Tian Pang?”

“Apa yang harus ditakuti? Sepuluh ribu tail emas cari dimana lagi?”

Percakapan mereka terganggu derapan sepatu kuda yang berisik, serentak mata mereka memandang keluar, tak usah menunggu lama dari balik pepohon sebelah kiri, terlihat tiga penuggang kuda berbaju hitam yang serupa dengan pengawal Ngo Liu Cung. “Celaka! Habislah sudah!” seru Pang Hui.

Wan Jie dan dua pengikutnya maupun empat pengawal melihat ketiga penunggang kuda itu mendekat, menghentikan segera kereta. Empat pengawal menghunus senjata hampir berbareng, menjaga segala kemungkinan.

“Ihh, bukankah mereka pengawal Ngo Liu Cung?” kata Siau Eng.

“Tak perduli siapa, kita harus waspada!” kata Pek Wan Jie.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: