Kumpulan Cerita Silat

02/01/2008

Golok Yanci Pedang Pelangi (02)

Filed under: +Golok Yanci Pedang Pelangi — ceritasilat @ 12:45 am

Golok Yanci Pedang Pelangi (02)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada CloudRs)

Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk” justru tersiar sampai ke mana-mana, pepatah ini memang terbukti.

Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam tidak berhasil menutup mulut Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si telinga panjang Siau Thian sudah mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu.

Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia itu kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga oleh Pang Wan-kun.

Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah, mau apa lagi. Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo Cu-wi. Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut bini.

Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi, mau-tak-mau dia harus mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia harus tabahkan hati untuk menerima dampratan ….

—–

Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es. Cuma bagaimanapun juga dia adalah wanita yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai terjadi pertengkaran sengit yang mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala.
Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau mencari kesenangan di luar hem, mau jadi pemuda romantis lagi?”

Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir saja.

Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti pandai, menyenangkan hati kaum pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga dunia sepuasnya, buat apa pulang ke rumah?”

“Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku…” pinta Hong Leng-hong sambil tertawa getir.

“Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun lebih dingin daripada air mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta dikasihani.

Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu setiap lelaki sekali tempo suka iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak sepantasnya kau pergi seorang diri, lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi, bukankah caramu itu justru menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu? Kalau sampai tersiar di dunia persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan tercemar?”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang benar, tapi tahukah kau apa yang hendak kulakukan di sana?”

“Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat rendah dan kotor semacam itu?”

“Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan bukan untuk mencari kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau anggaplah sebagai suatu tanda simpatiku terhadap seseorang.”

“Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak.

“Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah aku mengaku she Ho?”

“Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo, tapi she Ho…Ho apa begitu!…”

“Tepat sekali…Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam justru demi orang she Ho itu.”

“Bukankah orang she Ho itu sudah mati?”

“Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku datang ke sana untuk menyatakan belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu aku tidak sadar tempo hari, aku telah mendapat impian yang aneh sekali…”

“Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan.

“Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam Hong-hong-wan, tapi dalam impian tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho, bukan saja sering berkunjung ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah beberapa nama dari orang-orang yang ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot, letak pintu dan sebagainya dapat kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar, makin kupikir makin heran, akhirnya kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki tempat itu.”

“Dan bagaimana hasilnya?”

“Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa apa yang kulihat dalam impian itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada undak-undakan, semuanya tepat dan persis. Coba bayangkan aneh tidak?”

“Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun sampai terbelalak lebar.

“Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam Hong-hong-wan, yang lebih mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di sana, aku dapat pula menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun di antara mereka kenal pada diriku…”

“Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin bulu kudukku berdiri saja,” teriak Wan-kun sambil menutup telinganya.

Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,” Leng-hong berusaha menakuti lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak kurasakan suasana yang mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.”

“Maksudmu di sana ada setannya?”

“Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat persembunyian orang-orang golongan hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana jahat yang tidak menguntungkan Thian-po-hu.”

“Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru Pang Wan-kun terkejut.

“Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti timbul firasat tak enak dalam hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku bisa mendapat impian seaneh itu? Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk persoalannya, mungkinkah lantaran dia penasaran, maka sukmanya menciptakan suatu impian kepadaku dengan maksud memberi peringatan…”

Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa amarahnya terbang entah ke mana, sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri.

“Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi impian segala?”

“Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma, orang mati wajar sukmanya akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya bila orang mati itu penasaran, walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan buyar, dia akan gentayangan ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang berkumpul dan membentuk menjadi roh jahat, bila penasarannya sudah hilang dan dendam terbalas, dia baru membuyar dan lenyap…”

“Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang Wan-kun, “sekalipun roh jahat benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan jahat, buat apa kita mempedulikannya?”

“Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita berdiam diri saja?”

“Apa sangkut pautnya dengan kita?”

“Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi justru memberi impian kepadaku, itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Jit-long, maksudmu…”

“Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho itu, sudah pasti di dalam rumah pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita tak bisa berpeluk tangan menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga duduk perkaranya menjadi jelas.”

“Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas kematian orang she Ho itu!”

“Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di Hong-hong-wan, mana mungkin bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita harus mengadakan penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan mendatangkan hasil.”

“Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian ganti taktik dan melakukan penyelidikan secara diam-diam.”

“Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat minta bantuan orang lain, sebab kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi Thian-po-hu kita.”

“Apa yang hendak kaulakukan?”

“Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta melakukan penyelidikan.”

“Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru Wan-kun tidak senang.

Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi tempat semacam itu, maka ia berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus pergi, bila kaukuati menjumpai sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita adalah suami-isteri yang saling mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu terhadapku.”

Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya kau mengajak aku ke situ hanya untuk menghindari tuduhan.”

“Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku bersiap-siap lebih dulu, seperti kejadian semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini kepadamu, dengan demikian kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.”

Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar berprasangka padamu? Aku hanya ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam ini kau boleh pergi dengan hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih leluasa…”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya dari sana harus kauceritakan kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh ketinggalan, kalau berani merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan salahkan aku bila kutindak menurut hukum rumah tangga.”

“Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi kau di depan dan aku akan mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau menyeleweng, rasakan nanti!”

Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”, tapi secara diam-diam ia sangat gembira.

Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi Hong-hong-wan secara terang-terangan dan menanyai Siau Cui hingga jelas.

Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara diam-diam, sebab dari cara serta sikap Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan untuk bercerita, bila ditanyai secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya.

Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari, sebab gerak-geriknya sangat mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu muncul secara mendadak, tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui.

Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia berkunjung lagi ke Hong-hong-wan…

—–

Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam Hong-hong-wan tidak mempengaruhi keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan, irama musik, suara nyanyian dan gelak tertawa masih bergema seperti biasa.

Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk secara gegabah, ia minum arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran itu, lewat tengah malam, menurut perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar, yang tidak bermalam tentu sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan memasuki gang Waru.

Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika dilihatnya pintu sudah tertutup dan lampu telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke dinding perkarangan sebelah belakang.
Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi pemilik Thian-po-hu diketahui orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian besar wajahnya, kemudian tarik napas dan melompati tembok pekarangan itu.

Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari rumah kayu tersebut.

Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun gelap gulita tak bercahaya, tampaknya Siau Cui sudah tidur.

Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu, mencoba dulu pintu tersebut, ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam.

Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening.
Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain, ia mencari sepotong kayu tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan membuka pantekan palang pintu…
“Krek” pintu terbuka…

Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan suara tertahan, “Siau Cui, Siau…”

Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan, hawa dingin ngeri membuat bulu romanya sama berdiri.

Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar, itulah Siau Cui.

Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada satu jam berselang.

Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan sedang ramai-ramainya dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung diri di kamar belakang.

Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan dulu-dulu atau nanti, tapi justru dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk menghindari kesulitan? Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup…?

Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru ia menurunkan jenazah Siau Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan mayat, kemudian memeriksa pula keadaan dalam ruangan itu…

Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa.

Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan luka lain.

Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kacau atau bekas pergulatan.

Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup tenang dan teguh tekadnya untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak ditinggalkannya.

Tapi, mengapa dia harus bunuh diri?

Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan mati di atas pembaringannya?
Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat dilampiaskan keluar itu?

Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas ia mati karena Ho Leng-hong, sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan, kecurigaan serta kecemasan bagi Ho Leng-hong.

Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rahasia dalam hatinya…

Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu, tak ada suara, suasana seram, sepi!
Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia mengawasi mayat yang membujur di pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak bicara, seperti patung.

Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang dingin dan kaku, melainkan kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada dalam pelukannya.

Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak mungkin lagi ia merasakan kehangatan dan kemesraan seperti dulu.

Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa gatal dan cairan hangat perlahan meleleh masuk ke ujung mulutnya.

Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan, ia selalu hidup bebas tak terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia merasakan getirnya kehidupan…

“Tok! Tok! Tok!”
Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu.

Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak dengan suara tertahan, “Siapa?”

“Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk? Hayo pulang!”

Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka pintu seraya berkata, “Wan-kun, kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari…”

Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang tersandang di punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda dengan dandanannya selama berada di Thian-po-hu.
Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya cemberut dan alis matanya berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah bagiku untuk masuk ke situ?”

“Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.”

“Ah? Terjadi apa?”

“Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya jejak kita akan ketahuan orang.”

Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia ragu-ragu, cepat ia menarik kembali kakinya.

“Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan kotor begini…”

Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah menariknya masuk secara paksa dan cepat-cepat menutup pintu.

“Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit gengsimu, dalam kamar ada mayat, mana boleh memasang lampu?”

“Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap.

“Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku itu mati di kamarnya.”

“Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho itu, barusan kalian…”

“Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di pembaringan, periksalah sendiri.”

Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut katanya, “He, gejalanya seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan perbuatan keji ini?”

Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang bukan-bukan, ia mati menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama putus nyawa.”

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini daripada nanti dicurigai orang sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?”

“Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.”

“Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran bunuh diri kan bukan suatu peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor kedapatan berada di kamar pelacur yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.”

“Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu kalau di balik peristiwa ini tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya…”

“Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?”

“Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi berhubung orang she Ho itu sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita telah melihat peristiwa ini, urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa berpeluk tangan belaka?”

“Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil menggentakkan kaki ke atas tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling tidak tempat yang tidak menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok kita bisa suruh Thian-ya sekalian melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila jejak kita ketahuan orang sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam buta kau menyusup ke sarang pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?”

“Soal ini…”

“Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku masih membutuhkan muka untuk bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!”

Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara paksa.

Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi sukar melawan Pang Wan-kun, demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti keinginan sang “isteri” dan kembali ke Thian-po-hu.

Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar menunggu lagi, ia segera menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat.

Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani kehendak orang, pada saat kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di hadapanmu tepat pada waktunya.

Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat, tahu-tahu Thian Pek-tat sudah muncul lebih dulu di Thian-po-hu.

Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung mengemukakan maksud kedatangannya.
“Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali ada orang kedapatan mati di rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya.

Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran, “Apa? Siapa lagi yang mati?”

Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya. “Dia bukan lain adalah Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu, entah kenapa tiba-tiba ia menggantung diri semalam.”

“Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho Leng-hong pura-pura kaget.

“Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan mempengaruhi pula nama baik Nyo-heng, sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat kemari.”

“Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya kau tidak boleh secara diam-diam menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan menyaru, mau ketemu dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh Go So, pelayan rumah pelacuran itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati menggantung diri, sedang Go So adalah perempuan berlidah panjang yang tak bisa menyimpan rahasia, bila ia menyiarkan kabar yang bukan-bukan di luaran, sedikit banyak urusan ini akan menyangkut diri Nyo-heng.”

“Apa yang dia katakan?”

“Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan kata-kata yang baik? Tentu saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang antara Nyo-heng dengan Siau Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati di kamarnya, Nyo-heng datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena kaudesak, akhirnya ia menggantung diri.”

“Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan percaya? Masa pemilik Thian-po-hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan memaksanya sampai mati?”

“Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian Pek-tat dengan serius, “Betapa kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita biarkan dinodai orang seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar, bagi nama baik Thian-po-hu hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.”

“Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan kelihatan kotor. Bila ia berani menyiarkan kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya dengan benang?”

“Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan segala sesuatunya bagimu.”

“Apa yang kau atur?”

“Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi tanda keluar pintu.

Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang pernah dilihat Ho Leng-hong di rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa sebuah kotak kayu panjang persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di depan Ho Leng-hong.

“Barang apakah ini?” tanya Leng-hong.

“Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian Pek-tat membuka tutup kotak tersebut.
Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak berjajar dalam kotak itu.

Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain adalah batok kepala pesuruh rumah pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu.

Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong berkata, “Siau Thian, mana boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?”

Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan seorang Kuncu, orang yang tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama baik serta martabat Thian-po-hu di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di kemudian hari, terpaksa harus bertindak cepat dan tegas…”

“Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu persoalan ini denganku.”

“Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat kabar, Go So telah siap melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau Tan, berbareng ia mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada Nyo-heng, mungkin rahasia ini akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka. Tapi Nyo-heng tak usah kuatir, kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan diletakkan bersama di satu ranjang, orang tentu akan menduga mereka terbunuh karena berzina.”

“Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi bukan perbuatan yang terpuji bagi kaum kita.”

Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin bagiku untuk berpikir panjang apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng, sebab kutahu nama baik Thian-po-hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama ini dihancurkan oleh mulut seorang kecil?”

“Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya bikin orang merasa tak tenang saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang kali.

“Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang agar penguburan mereka lebih meriah dan urusan kan beres.”

Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan gelang kepala dan menghela napas belaka.

Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk menyelidiki sebab kematian Siau Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan maksudnya semula.

Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak bakalan berhasil usahanya itu.
Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian dalam Hong-hong-wan, semuanya mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang berkunjung ke situ, tak lama kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu.

Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong, rumah pelacuran Hong-hong-wan yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang menyeramkan, sekalipun di balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula rahasia itu akan diselidiki?

Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya sebagai Nyo Cu-wi yang tersohor karena “takut bini”. Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi.

Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu rencana jahat, suatu intrik yang mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan.

Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu.

Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan terlihat, dan ia yakin hal ini tak akan terlampau lama.

Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus dengan sabar…

——

Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho Leng-hong harus mewakili seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya.

Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar rahasianya tidak diketahui orang, tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia juga berusaha mengetahui peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi, bahkan nama serta panggilan para pelayannya.
Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu singkat sebulan sudah lewat, Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada dalam Thian-po-hu, yang lebih hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang Wan-kun dapat pula berlangsung dengan “klop” tanpa kurang sesuatu.

Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia tidak meninggalkan gedung itu, tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang kehidupannya dapat berlangsung dengan “bebas”.
Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh dibilang setiap hari selalu berkumpul dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu berjudi…

Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap hari kerjanya hanya makan, minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah dilakukan.

Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar kehidupan keluarga kaya dan terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan tentu saja bermain perempuan, dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan romantis, padahal sebenarnya perbuatan yang memalukan.

Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya kulit manusia yang menutupi wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan “manusia”. Sekalipun kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama baik sendiri, kuatir orang lain tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain tidak tahu namanya.

Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah kebajikan yang murni. Sekalipun Ho Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak menyaksikan tingkah laku orang-orang kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting, sungguh ia ingin mendepak pergi manusia-manusia munafik itu.

Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang menantikan sesuatu yang sukar diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya.

Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa tak tahan dan habis sabarnya.
Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan semua orang sedang berjudi di ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang.

Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan.

Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk tidur siang, untuk sementara jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang amat hening, para pelayan pada bersembunyi mencari tempat yang sejuk.

Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong enggan kembali ke ruang depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman.

Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan Kiok-hiang-sia.

Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air nan hijau di bawah embusan angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk.

Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi berbantal tangan.

Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada orang sedang berkasak-kusuk.
Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, suara mereka terbawa angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun lamat-lamat terdengar apa yang sedang dibicarakan.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang melakukan pertemuan gelap, dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa apa yang mereka bicarakan semakin tak beres…
Terdengar yang pria berkata, “…menurut berita yang bisa dipercaya, kemarin Ji-beng-kaucu (si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam satu-dua hari ini pasti akan sampai di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai jejak kita ketahuan.”

“Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu sangat cerdik, kalau sampai…”

“Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur dengan sempurna, hadapi saja dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi berbicara, dengan begitu tipis kemungkinan jejak kita akan ketahuan.”

“Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat kabur? Apa yang harus kita nantikan lagi?”

“Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara diam-diam iapun mengadakan persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera dilakukan, bukankah hal ini akan merepotkan kita.”

“Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak menimbulkan impian buruk, bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.”

“Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu, selama sebulan lebih ini tampaknya ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat menghadapi dengan prihatin, tak perlu kuatirkan dia…”

Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras… Orang she Ho? Kalau bukan aku Ho Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata benar, ada suatu perangkap besar, mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan suatu “barang”.

Tapi barang apakah itu?

Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua kuda)?

Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan mengantuk seketika lenyap, seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke sana, serta mencari tahu siapa gerangan kedua orang itu…

Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja.

Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh, lagi pula medan terlalu terbuka, ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik pepohonan yang rindang, sulit baginya untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya.

Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan, maka kemungkinan besar lebih dulu jejaknya akan ketahuan lawan.

Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua matanya seperti lampu sorot celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat persembunyian kedua orang itu, diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu.

Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa angin, kedengaran si perempuan lagi berkata, “… kulihat orang she Ho itu tidak goblok, sekalipun selama sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan sedikitpun tidak menyinggung soal-soal masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang menyusun suatu rencana keji?”

“Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa yang bisa ia lakukan? Sekalipun dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau percaya lagi kepadanya.”

“Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus menghadapinya setelah benda itu kita dapatkan?”

“Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada sangkut pautnya dengan kita. Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.”

Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata lagi, “Baiklah, cepatlah kau keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka curiga.”

“Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan tak boleh gagal, harus berjuang dengan sepenuh tenaga…”

Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak dapat menunggu lebih lama, cepat ia melompat keluar.

Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas atap villa itu.

Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman dapat dilihatnya dengan jelas.

Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana menyusup keluar dua sosok bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan.

Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang perempuan memakai gaun berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh sehingga raut wajah maupun potongan badan tak sempat terlihat jelas.

Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus sembunyi atau tidak, sambil menarik napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk ke sana.

Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang depan, sedang yang perempuan menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan kemunculan Ho Leng-hong, serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak….

“Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak Leng-hong. “Lebih baik menyerahkan diri saja!”

Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak terdengar suara apapun.

Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu katanya lagi, “Membungkam juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian, tidak cepat-cepat menggelinding keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?”

Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu.

Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang ke balik semak…

Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok bayangan pun tidak kelihatan!

Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir ia tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan secepat itu, di bawah sinar matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja tahu-tahu lenyap tak berbekas!

Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya nihil, cepat Ho Leng-hong lari menuju ke gedung belakang.

Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang, pertama ruang depan terlalu banyak orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah panjang berwarna biru hingga sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya, di sana cuma ada beberapa orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya tidak sulit.

Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun didampingi Bwe-ji sedang menuruni tangga loteng.

Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya kusut dan tampaknya baru saja bangun tidur.

Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun berwarna putih, masih dengan dandanan semula.

“Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat tingkah laku suaminya, “air mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru kenal?”

“Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong.

“Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang. Ada sesuatu yang tidak beres?”
Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian turun, apakah melihat seseorang lari ke atas loteng?”

“Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan.

“Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun.

“Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus, dengan mata kepalaku sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.”

“Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?” tanya Wan-kun pula.

“Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman, pertemuan itu kupergoki tanpa sengaja, dia lantas kabur kemari.”

“Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?” tanya Wan-kun terkejut.

“Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.”

Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan perintahku, segenap dayang yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini, bagaimanapun juga hari ini dia harus ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan pertemuan dengan kaum pria, betul-betul kurang ajar.”
“Tapi Hujin… dayang di gedung belakang puluhan orang banyaknya, apakah…”

“Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen, perintahkan juga kepada mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.”

“Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan menggelisahkan semua orang,” cegah Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan tembus ke ruang depan, jangan ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara diam-diam, tak sulit untuk menemukan orang itu.”

“Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi, “dayang yang bekerja di gedung belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya mengenakan gaun berwarna hijau pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia berganti pakaian lain, ke mana kita akan mencari biang keladinya?”

Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan kakinya ke tanah seraya berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan tembus, siapapun dilarang masuk keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.”

Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua jalan tembus, pemeriksaan pun dilakukan.

Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap dayang yang mengenakan gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk diperiksa oleh Ho Leng-hong.

Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang digiring ke taman, mereka mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah masuk ke taman belakang.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong mengulapkan tangan untuk membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut.

Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja orang yang dicurigai tak ditemukan, sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan ejekan para dayang secara diam-diam…
Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa, paling sedikit ia sudah tahu bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan, dan dalam satu-dua hari mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting.

Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi?

Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda” telah tiba di situ.

Peristiwa ini bukan cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu rencana besar yang mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam kehidupan orang.

Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu, mau-tak-mau dia harus menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian ini secara beruntun sudah empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga ia tak mau berpeluk tangan belaka.

Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga.

Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari secara gegap gempita, jika mati pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang?

Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi lebih tenang.

Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah biru dan perempuan berbaju hijau lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan berjudi tentu minum sampai mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja.

Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan mengubahnya menjadi Nyo Cu-wi secara Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya persoalan tentu akan ketahuan.

Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian apapun, “si monyet dua kuda” yang ditunggu-tunggu juga belum muncul.

Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi dengan Lo Bun-pin sekalian di ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan, “Kuloya (tuan ipar) datang!”

“Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?”

“Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik, “jangan-jangan Pang-loko dari Cian-sui-hu yang datang.”

“Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di Liat-liu-shia, mas bisa datang ke Lok-yang?”

“Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso, kalau bukan dia lantas siapa lagi?”

Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat katanya, “Kalau begitu kita harus cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko paling benci pada segala bentuk perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki habis-habisan.”

“Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan permainan kalian, aku akan keluar untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan kubawa dia ke belakang…”

“Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, “aku sudah masuk sendiri.”

Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak.

Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya lima puluhan, badannya kurus dan pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang lengannya luar biasa panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena terlalu sering dicuci, sepatu rumputnya penuh debu kotoran.

Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang, bungkusan itu diikat dengan rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit pada lehernya.

Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang langit) Pang Goan yang tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia?

Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa.

Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan berani memandang hina orang ini.

Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai mata yang lebih tajam daripada sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang sehingga semua orang sama diam, bahkan bernapas saja tak berani keras.

Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah Tay-yang-sin-kang dari Khong-tong-pay yang paling sukar dilatih.

Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi belum pernah berjumpa dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah berhadapan sekarang.

Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma, ia terkesiap karena potongan badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu.

Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa panjangnya, bibir yang lancip dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan (mata emas merah berapi) yang tajam…

Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet?

Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah tulisan “Pang”, atau dengan perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang Goan.

Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa bergidik, cepat ia bangun berdiri dan memberi hormat.

“Sungguh tak kusangka kakak akan berkunjung kemari…” katanya.

Pang Goan mendengus, “Hm, akupun tak menyangka Thian-po-hu yang tersohor telah menjadi rumah judi yang ramai.”

“Lotoako jangan marah,” buru-buru Leng-hong berkata sambil tertawa, “mereka ini adalah sahabat-sahabat Siaute, lantaran iseng, tak ada pekerjaan, maka kami bermain judi untuk membuang waktu…”

“Hm, jadi kedatanganku tentunya mengganggu…”

“Ah, kenapa Lotoako berkata demikian? Sekalipun diundang saja belum tentu engkau mau datang…”

“Kalau begitu, kenapa tidak lekas enyahkan mereka dari sini!”

“Baik, baik, mereka memang sudah mau bubaran, silakan duduk dulu Lotoako!”

“Tak usah sungkan-sungkan,” dengan tajam Pan Goan menyapu pandang semua orang itu, lalu berkata pula, “kalian tidak tahu diri, apakah perlu aku orang she Pang melemparkan kalian satu persatu?”

Mendengar ancaman tersebut, semua orang berseru, “Baik, kami segera pergi! Harap Pang-toako jangan marah!”

Sungguh menggelikan, kawanan jago ternama dari Lok-yang ini ternyata diusir mentah-mentah oleh Pang Goan, bukan saja tak berani membantah, berdiam sedetik lebih lama pun tidak berani.

Ho Leng-hong merasa geli, tapi wajahnya pura-pura mengunjuk sikap serba salah.

“Jit-long,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “bukan maksudku ingin menasihatimu, tapi perbuatanmu memang kelewat batas, seorang muda kenapa tidak berusaha untuk maju, sebaliknya tiap hari kerjanya hanya minum dan berjudi melulu?”

“Harap Toako jangan marah, “kata Leng-hong dengan tersipu-sipu, “kebetulan saja hari ini Siaute menyelenggarakan pertemuan semacam ini, padahal hari-hari biasa juga tidak demikian.”

“Kebetulan saja? Tak kusangka kau masih berani berkata demikian, manusia hidup di dunia ini paling-paling cuma puluhan tahun, waktu yang lewat tak mungkin ditemukan kembali, enak saja kau menerima warisan orang tua dan saudara-saudaramu, sekalipun tak pernah mengalami susah payahnya mendirikan keluarga jaya ini, sedikitnya kau memikirkan untuk mempertahankan nama baik keluarga, tapi kerjamu selama ini bukan saja malu terhadap leluhur dan kakak-kakakmu, malu juga terhadap anak isteri, bukan berjuang untuk kemajuan, kau masih iseng berbuat hal-hal yang kurang baik ini.”

Ho Leng-hong tidak menyangka “kakak iparnya” adalah seorang yang alim dalam tata kehidupan, terpaksa ia tundukkan kepala rendah-rendah.

“Terima kasih untuk nasihat Toako, selanjutnya Siaute tentu akan memperbaiki kelakuanku,” kata Leng-hong.

“Memperbaiki diri? Hm, gampang saja kaubicara, tapi sudah sekian lama kau bergaul dengan teman-teman semacam itu, matamu sudah ternoda dan telingamu sudah kotor, kebiasaan jelek sudah meresap dalam tubuhmu, memangnya kau anggap mudah untuk memperbaikinya?”

“Lain kali Siaute tak akan berhubungan lagi dengan mereka!” Leng-hong memberikan janjinya.

“Soal ini memang bicara gampang tapi sukar untuk melaksanakannya, hubungan antara sesama Siaujin manis bagaikan madu, siapa dekat dengan gincu akan menjadi merah, siapa dekat tinta bak akan menjadi hitam, aku tidak percaya kaudapat putuskan hubungan dengan mereka.”

Ho Leng-hong didamperat hingga tak bisa mendongakkan kepalanya, diapun tak bisa marah, terpaksa menjawab sambil tertawa getir, “Menurut perkataan Toako, bukankah Siaute tak bisa ditolong lagi?”

Pang Goan menggeleng kepala berulang kali, “Dari penghemat menjadi pemboros lebih gampang, dari pemboros menjadi penghemat justru sukar, begitulah kebiasaan manusia. Ai, jika kau tak mau berjuang untuk kemajuan, aku tak ingin menyalahkan dirimu, aku hanya benci pada kebodohanku sendiri.”

“Kau benci pada kebodohanmu sendiri?”

“Kenapa tidak? Bila sejak semula kutahu kau ini manusia tak becus seperti ini, masa aku mau menjodohkan adikku kepadamu?”

“Sudahlah, Lotoako, nasihat sudah kau berikan, makian juga sudah cukup, sekarang duduklah lebih dulu, akan kupanggilkan Wan-kun untuk menemani kau bercakap-cakap.”

Begitulah, setelah minta maaf, mengaku salah, setengah membujuk dan memberi hormat, dengan susah payah akhirnya Pang Goan berhasil juga dibujuk untuk duduk, cepat Leng-hong menyuruh orang mengundang Pang Wan-kun di belakang.

“Tak usah tergesa-gesa” cepat Pang Goan mencegah, “soal rumah tangga kapan saja bisa dibicarakan, sekarang justru aku ada urusan penting yang hendak kubicarakan empat mata denganmu.”

“Ah, soal apa yang hendak Lotoako bicarakan? Silakan memberi petunjuk.”

Pang Goan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya, “Tempat ini terlampau ramai, bukan tempat ideal untuk berbicara, adakah suatu tempat yang sepi?”

“Kiok-hiang-sia di taman belakang adalah tempat yang baik.”

“Baik! Mari kita ke sana.”

Sambil membawa Pang Goan ke belakang, sepanjang jalan Ho Leng-hong berpikir, “Ya, akhirnya datang juga, yang mau dibicarakan pasti menyangkut buntalan di punggungnya itu, kalau ditinjau dari sikapnya yang serius, benda itu tentu amat berharga sekali…”

Dugaannya memang tidak keliru, baru saja duduk dalam villa itu, Pang Goan telah mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya, lalu membuka rantai di tubuhnya dan melepaskan buntalan kain itu.

Ho Leng-hong tak tahu benda apakah dalam bungkusan itu, tapi bila dilihat dari bentuk serta bobotnya yang berat, kemungkinan besar adalah sebangsa kotak logam.

Pang Goan meletakkan bungkusan itu di meja, lalu katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Jit-long, kita masih saudara, aku yang menjadi kakakmu inipun suka berterus terang, ada sepatah kata hendak kutanyakan kepadamu, dan kuharap kau bersedia menjawab dengan sejujurnya pula.”

“Silakan bertanya Lotoako, Siaute pasti akan menjawab dengan sejujurnya, aku tak akan membohongimu.”

“Bagus! Terus terang akuilah berapa banyak yang berhasil kaukuasai dalam permainan golok sakti keluarga Nyo kalian?”

“Tentang ini…”

“Tak usah mengibul, aku ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya.”

Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bakat maupun kecerdasan Siaute sangat terbatas, mungkin hanya empat bagian yang berhasil kukuasai.”

Ia agak jeri terhadap sinar mata Pang Goan yang lebih tajam dari sembilu itu, karenanya ia tak berani bicara terlalu banyak.

“Aku sendiri kebetulan juga berlatih ilmu golok,” demikian ia berpikir, “sekalipun bukan golok sakti keluarga Nyo yang kupelajari, pada hakikatnya ilmu silat di dunia ini bersatu sumber, kalau kukatakan empat bagian mungkin bolehlah.”

Siapa tahu Pang Goan segera menggeleng kepala berulang kali, “Bila menurut pengamatanku, mungkin empat bagian pun belum berhasil kaucapai.”

“Oya!”

“Bakat maupun kecerdasanmu tidak jelek, mestinya tak mungkin hanya mencapai empat bagian saja, tapi bila kulihat caramu bersenang-senang setiap hari dengan begundalmu itu, sudah pasti ilmu silatmu terbengkalai sama sekali, oleh sebab itulah aku hanya berani menilai bahwa kepandaianmu cuma mencapai tiga bagian saja.”

Ho Leng-hong tertunduk malu.

“Jit-long, kita adalah famili dekat, bukannya aku yang menjadi kakak ingin mengomeli kau, tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, cepat atau lambat nama Thian-po-hu pasti akan rontok di tanganmu, sementara jangan kita singgung dulu makna yang sebenarnya dari ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu, coba kautanya kepada hati nuranimu sendiri, apakah kau dapat mempertanggung-jawabkan dirimu terhadap ayahmu yang membangun kejayaan keluarga ini dengan susah payah? Masih punya mukakah kau untuk bertemu dengan kakak-kakakmu yang telah mati secara perkasa dan ikhlas?”

“Membangun kejayaan keluarga dengan susah payah” tak sulit diserap maknanya, tapi apa pula yang dimaksud “mati secara perkasa dan ikhlas?”

Nama kecil Nyo Cu-wi adalah “Jit-long” atau si ketujuh, jadi di atasnya masih ada enam orang kakak, apakah keenam saudaranya telah mati semua secara perkasa dan ikhlas.

Mengapa mereka mati secara perkasa dan ikhlas.

Apa pula makna yang seberanya di balik ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu?

Dengan sorot mata tajam Pang Goan mengawasi Ho Leng-hong sekian lama, tiba-tiba ia menghela napas dan membuka bungkusan kain di meja.

Betul juga, isinya adalah sebuah kotak besi yang berwarna hitam mengkilap. Kotak besi itu digembok pula.

Pang Goan tidak membuka kotak itu lagi, tapi berikut sebuah anak kunci benda-benda itu di dorong ke hadapan Ho Leng-hong.

“Benda ini adalah milik keluarga Nyo kalian.” Demikian katanya, “batas janji selama dua tahun sudah penuh, dan sekarang aku membawanya sendiri kemari serta diserahkan kembali kepadamu, Cuma ada satu persoalan harus kuberitahukan kepadamu.”

Ho Leng-hong ingin sekali mengetahui benda apa yang ada di dalam kotak besi itu, terpaksa ia bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapannya..

Terdengar Pang Goan berkata pula, “Sepanjang perjalanan menuju ke timur sini, sudah empat kali kurasakan jejakku dibuntui orang, rupanya mereka hendak mencuri benda ini. Malah dua diantaranya sudah menyusup ke dalam kamarku, setelah beruntun kulukai dua orang diantaranya, benda ini berhasil kuantar sampai di sini dengan selamat.”

“Siapakah orang-orang itu?” tanya Leng-hong sambil mendongak.

“Masa perlu kautanyakan? Dua tahun belakangan ini, meski dunia persilatan tampaknya tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apapun, bukan berarti orang lain telah mengendurkan pengawasannya terhadap kita.”

“Hm …” Leng-hong mendengus.

Ia tak tahu siapakah “orang” yang dimaksudkan itu, iapun tak tahu kenapa ada orang mengawasi Thian-po-hu dan Cian-sui-hu.

Tapi dengusan tersebut menunjukkan bahwa ia marah sekali atas kejadian tersebut. Tapi ada juga satu hal yang diketahuinya, yakni ada orang mengincar barang dalam kotak besi ini dan berusaha mencurinya, bahkan orang-orang itu sudah menyelundup ke dalam Thian-po-hu.

Cuma sayang ia tak dapat memberitahukan urusan ini kepada Pang Goan.

Pang Goan memandangnya sambil tertawa hambar, lalu berkata, “Marah tak akan menolong dalam urusan ini, selama dua tahun benda ini berada di tanganku, sedikit banyak pihak lawan masih agak jeri padaku, tapi sekarang sesudah kuserahkan kembali kepadamu, yakinkah kau dapat melindunginya serta tidak akan jatuh ke tangan orang lain?”

“Siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga.”

“Dalam hal ini bukan soal berusaha dengan sepenuh tenaga atau tidak,” kata Pang Goan sambil menggeleng, “tapi yakinkah kau dapat melindunginya?”

Ho Leng-hong termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku tak berani mengatakan punya keyakinan, tapi aku mempunyai akal bagus untuk menjamin keselamatannya.”

“Oya?!” Pang Goan berkerut kening, jelas ia tak percaya.

Ho Leng-hong menempelkan jari tangannya pada bibir, lalu menulis beberapa huruf di atas meja, begitu selesai dibaca tulisan itu cepat-cepat dihapus.

“Bagaimana pendapat Lotoako akan siasat ini?” ia bertanya lirih.

Pang Goan mengernyit alis, sekali ini jelas sebagai tanda memperingatkan agar waspada.

Menyusul dengan suara rendah ia berbisik, “Menurut anggapanmu, mereka akan turun tangan di gedung ini?”

“Dalam hal ini bukan soal mungkin atau tidak melainkan mereka pasti akan turun tangan dalam gedung ini,” jawab Ho Leng-hong menirukan nada orang.

Pang Goan tertawa, ia tepuk bahu Ho Leng-hong seraya berkata, “Jit-long sungguh tak kusangka kau dapat berpikir secerdik ini, baik kita lakukan begitu saja.”

Anak kunci segera diambil dan kotak besi pun dibuka.
Dalam kotak besi terdapat pula sebuah kota yang terbuat dari kayu, di tengah kotak kayu dengan alas kain merah tersimpanlah sebilah golok dan sejilid kitab pusaka ilmu golok.

Golok itu pakai sarung terbuat dari kulit ular, gagangnya disepuh emas dengan empat huruf yang terbuat dari batu permata, “Yan-ci-po-to” atau golok pusaka gincu merah.

Kitab pelajaran ilmu golok hanya terdiri dari beberapa halaman, pada kulit buku itu tertera huruf yang berbunyi: Tay-sin-pat-to (delapan jurus golok malaikat sakti), itulah ilmu golok keluarga Nyo.

Perlahan Ho Leng-hong mencabut golok itu, seluruh tubuh golok berkilat bagaikan cermin, lamat-lamat tampak pancaran sinar merah jambon.

“Golok bagus!” pujinya dalam hati.

Sebenarnya di ingin memeriksa juga kitab pusaka itu, tapi niatnya dapat ditahan.

Sebab baik golok maupun kitab pusaka itu kan miliknya sendiri, adalah lucu kalau dia tertarik pada benda miliknya sendiri.

Dari atas dinding ia menanggalkan sebilah golok biasa, lalu dimasukkan ke dalam kotak besi dan kemudian kotak itu dikunci kembali.

Setelah itu ia membungkus golok dan kitab pusaka itu dengan secarik kain kumal, bungkusan itu dimasukkan ke dalam laci di bawah almari.

“Aman tidak kalau disimpan di sini?” tanya Pang Goan dengan suara agak parau.

“Semakin terbuka tempat seperti almari ini semakin aman, bila mereka hendak mencari golok pusaka, tak mungkin akan mereka perhatikan laci tempat barang rongsokkan semacam ini, sekalipun laci dibuka, merekapun tak akan menyangka golok pusaka dibungkus dalam secarik kain kumal.”

Pelahan Pang Goan mengangguk, “Aku hanya ada waktu tiga atau lima hari, aku masih harus pergi ke Sengtoh, mudah-mudahan aku tidak tertahan terlalu lama di sini.”

“Tiga sampai lima hari sudah lebih dari cukup, selama beberapa hari ini silakan Lotoako berdiam di sini, aku percaya mereka pasti akan lebih gelisah daripada kita.”

Tengah bicara tiba-tiba terdengar suara gemerencing perhiasan orang perempuan, tampak Bwe-ji sedang menyeberangi jembatan.

Cepat Ho Leng-hong memberi tanda kepada Pang Goan dengan kerlingan mata, lalu kotak besi itu buru-buru dibungkus dengan kain, dirantai dan dikunci kembali.

Bwe-ji telah masuk ke dalam ruangan, ia memberi hormat lebih dulu kepada Pang Goan seraya berkata, “Ketika Hujin mendengar tentang kedatangan Kuloya, ia merasa gembira sekali. Perjamuan telah disiapkan, hamba perintahkan datang untuk minta petunjuk Loya, perjamuan akan diselenggarakan di ruang belakang ataukah diantar ke Kiok-hiang-sia sini?”

Pang Goan masih mengusirkan golok pusaka, jawabnya setelah berpikir sebentar, “Tempat ini bagus sekali, mana nyaman dan tenang lagi.”

“Begitupun boleh,” sambung Ho Leng-hong segera, “sesudah melakukan perjalanan jauh, Lotoako memang harus membersihkan badan dan beristirahat lebih dulu, biar Siaute mengantar benda ini ke dalam kamar, kemudian baru datang kemari lagi bersama Wan-kun.”

Pang Goan tidak menghalangi, sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Kita adalah orang sendiri, asal bisa bertemu dan bercakap-cakap, itu sudah cukup, kenapa musti sungkan-sungkan?”

Sambil mengempit kotak besi itu Ho Leng-hong pun mohon diri dan berlalu, sedang Bwe-ji tetap tinggal di situ melayani Pang Goan membersihkan badan.

Sekembali Leng-hong di belakang, Pang Wan-kun telah selesai berdandan dan sedang menantikannya, begitu berjumpa ia lantas bertanya, “Kudengar Koko begitu masuk pintu lantas marah-marah, apa gerangan yang terjadi? Dari tadi sampai sekarang kalian bercakap-cakap terus di Kiok-hiang-sia sampai pelayanpun tak boleh masuk, sebetulnya apa yang sedang kalian bicarakan?”

Ho Leng-hong tertawa, katanya sambil menunjuk kotak besi itu, “Apa lagi kalau bukan lantaran benda ini, kakakmu sengaja mengantarnya pulang, begitu masuk pintu ia lihat mereka sedang bermain dadu, langsung saja aku di damperatnya habis-habisan.”

“Ya, memang begitulah watak Koko, dia berangasan dan pemarah, seolah-olah hanya dia sendiri yang suci di dunia ini, Jit-long, kau tidak marah kepadanya bukan?”

“Tentu saja tidak,” Ho Leng-hong tertawa, “kendatipun perkataannya kurang sedap didengar, tapi semuanya demi kebaikanku, apalagi kau hanya punya seorang kakak, kecuali menerima nasihatnya, apalagi yang dapat kita katakan?”

Wan-kun menghela napas panjang, “Ai, tak kusangka kaudapat menyelami perasaannya, bicara sejujurnya, meski kami adalah saudara, tapi umur kami selisih separo lebih, jangankan kau, aku pun agak takut untuk bertemu dengannya.”

“Mau menghindari juga percuma sekarang, lebih baik simpan dulu benda itu, perjamuan diselenggarakan di Kiok-hiang-sia, sebentar kita ke sana bersama.”

Ketika menerima kotak besit itu, tiba-tiba air muka Wan-kun berubah serius, bisiknya, “Apa isi kotak ini…”

“Kitab pusaka dan golok pusaka Yan-ci-po-to!”

“Ah, jadi kita menikah sudah dua tahun lamanya?” kejut dan girang Wan-kun.

“Siapa bilang tidak, kedatangan kakakmu ini justru khusus untuk mengantarkan golok mestika dan kitab pusaka ini.”

Kotak besi itu dipeluk Wan-kun erat-erat, lalu setelah tarik napas panjang ia bergumam, “Waktu sungguh cepat berlalu, dua tahun telah lewat dalam sekejap mata, bila terkenang kembali ketika kaudatang ke Cian-sui-hu untuk melamarku dua tahun yang lalu, rasanya seperti kejadian kemarin saja.”

“Padahal tidak terhitung lama, paling-paling cuma tujuh ratus hari saja,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Jit-long, tak heran kalau Koko marah-marah, dua tahun belakangan ini kita benar-benar telah menelantarkan pelajaran silat kita, bukan saja kerjamu setiap hari hanya bersenang-senang main judi dan minum arak, akupun tak pernah memikul tanggung jawab dengan sesungguhnya, mulai hari ini… ”

“Mulai hari ini aku pasti akan mawas diri baik-baik, berlatih ilmu golok secara tekun untuk mencapai kemajuan yang pesat, nah puas? O, isteriku yang bijaksana, jangan lupa kakakmu masih menunggu di Kiok-hiang-sia untuk bersantap malam, kalau kita sebagai tuan rumah tidak lekas ke sana, masa menyuruh sang tetamu menunggu dengan perut lapar?”

“Hm, orang lagi bicara serius denganmu, kau malah cengar-cengir belaka,” omel Pang Wan-kun melotot sekejap ke arahnya.

“Melayani kakak ipar juga terhitung urusan serius, Hujin, kita harus berangkat sekarang.”

Pang Wan-kun segera berbangkit, mengambil kunci dan membuka almari pakaiannya.

“Jangan kau simpan dalam lemari,” Leng-hong mencegah, “golok dan kitab itu adalah pusaka keluarga Nyo kita, sekali-kali tidak boleh hilang.”

“Tempat ini kamar tidur kita, siapa yang berani melakukan pencurian dalam Thian-po-hu kita?”

“Kukira lebih baik berhati-hati, sebab menurut penuturan kakakmu, sepanjang perjalanan katanya banyak orang yang menguntitnya dan berusaha mencuri golok pusaka ini.”

“Ah, masa betul begitu?” Wan-kun tercengang.

“Tentu saja betul, justru demi keamanannya, kakak telah menggunakan rantai dan menggembok kotak ini di lehernya.”

“Lantas benda ini harus di simpan di mana baru aman?” tanya Wan-kun sambil celingukan ke sana kemari.

“Lemari besi yang kau pakai untuk menyimpan perhiasan itu kuat sekali, akan lebih aman kalau kita simpan di sana saja. Nah, masukkan ke lemari besi itu untuk sementara waktu.”

Wan-kun manggut-manggut, dia lantas membuka lemari besi di sudut kamar sana.

Dinding lemari besi itu tebalnya empat-lima senti dengan berat ratusan kati, bukan saja ditanam di dinding sehingga hanya pintu lemari saja yang menongol di luar, dari dalam sampai luar pun ada tiga lapis kunci yang sangat kuat.

Tempat sekuat ini hanya ada satu kekurangan, yakni ruang lemari tersebut terlampau sempit, apalagi di situ sudah tersimpan beberapa kotak perhiasan, boleh dibilang sudah tiada tempat lagi untuk menyimpan golok tersebut.

Ho Leng-hong turun tangan sendiri untuk memindahkan kotak perhiasan ke lemari pakaian, kemudian setelah memasukan golok tersebut ke dalam lemari besi, lalu dikunci dan anak kunci itu dimasukkan ke dalam saku sendiri.

“Jit-long, masa akupun tidak kaupercayai?” keluh Wan-kun setelah menyaksikan perbuatan suaminya.

“Bukan begitu maksudku, bukankah perhiasanmu sudah dipindah semua ke almari pakaian? Kau kan sudah tidak membutuhkan anak kunci lagi. Lagipula kuperlukan melatih ilmu golok itu secara tekun, bila kuncinya kubawa, maka setiap saat bisa kulakukan latihan dengan lebih leluasa.”

“Begitupun bolehlah,” Wan-kun tertawa, “golok pusaka itu telah kausimpan sendiri, anak kuncinya berada pula di sakumu, jadi seandainya hilang kan tak ada sangkut pautnya lagi denganku.”

Leng-hong hanya tertawa dan tidak menanggapi. Begitulah bersama Pang Wan-kun berangkat mereka menuju ke Kiok-hiang-sia.

—–

Perjamuan diatur dengan sangat mentereng, hidangan pun amat banyak dan aneka ragam, sayang suasananya agak kaku.

Mungkin hal ini disebabkan selisih umur yang terlampau banyak antara kedua bersaudara Pang, mungkin juga lantaran Wan-kun agak jeri terhadap kakaknya, kecuali dalam sopan santun, hampir boleh dibilang perempuan itu tundukkan kepala belaka.

Pang Goan sendiri mungkin memang berwatak kurang suka bicara, mungkin juga lantaran kuatir golok Yan-ci-po-to, sikapnya amat kaku dan jarang berbicara.

Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia kuatir banyak berbicara hanya akan membongkar rahasia sendiri, maka ia makin jarang bersuara.

Pokoknya perjamuan ini berlangsung dalam keadaan kaku dan tidak meriah, setelah minum beberapa cawan arak dan paksakan diri bersantap sedikit, perjamuan pun diakhiri.

Selesai bersantap, minuman teh dihidangkan. Inilah saat yang biasa dipakai untuk membicarakan soal-soal kecil tapi lantaran tiada soal “kecil” yang dibicarakan, maka sesudah duduk kaku sejenak, Ho Leng-hong dan Pang Wan-kun lantas mohon diri.

Pang Goan tidak mengalangi mereka, katanya dengan hambar, “Aku akan berdiam beberapa hari lagi di Lok-yang, pada kesempatan ini kita harus berlatih sebaik-baiknya To-kiam-hap-ping-tin (perpaduan golok dan pedang), Siaumoay (adik) juga harus bersiap-siap.”

“Toako suruh aku ikut pula dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin?” tanya Wan-kun.

“Tentu saja, selama dua tahun ini hakikatnya kau tidak melaksanakan kewajiban untuk melakukan pengawasan, sekarang waktunya tidak banyak lagi, kau harus ikut serta dalam barisan ini untuk menutupi kekurangannya.”

Wan-kun hanya mengangguk tanpa membantah.

Setiba kembali di kamarnya, dengan sedih ia mengomel kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, coba pikirlah, selama beberapa tahun ini demi mendorong kemajuanmu, aku tak segan-segan menerima tuduhan orang sebagai perempuan judas dari Thian-po-hu, hari ini aku ditegur oleh kakak, bayangkan sendiri apakah aku tak pernah menasihatimu? Mulai hari ini kauharus menuruti perkataanku!”

“Wan-kun, tak usah bersedih hati,” hibur Leng-hong sambil membelai sang isteri, “Toako tidak dapat memahami bagaimana kesenangan seseorang yang baru kawin, sebab itulah kau kena teguran.”

“Kakak ibaratnya pengganti orang tua, aku tak akan murung lantaran didamprat olehnya, aku hanya benci pada diriku sendiri, benci akan nasibku yang jelek hingga suami sendiripun tidak percaya kepadaku…”

“Eh, kapan aku tidak percaya kepadamu?”

“Ai, tak usah disinggung lagi,” Wan-kun menggelengkan kepala berulang kali.

“Tidak, kau harus mengatakan kepadaku, sebagai suami-isteri yang bahagia tak boleh ada rahasia yang disembunyikan dalam hati masing-masing, sebab hal ini sangat mempengaruhi saling percaya antara suami isteri.”

“Ah, aku hanya berbicara seadanya saja, coba lihat, kau lantas menganggapnya serius.” Wan-kun tertawa.

“Wan-kun, jangan bohongi aku, kupercaya ucapanmu muncul cari sanubarimu yang sesungguhnya, tak mungkin hanya bicara main-main belaka.”

“Sungguh, aku tidak apa-apa, kau tak boleh menebak secara ngawur!”

“Supaya aku tidak menebak secara ngawur, harus kaukatakan yang sesungguhnya kepadaku.”

“Jit-long, kenapa kau hari ini? Hanya sepatah kataku yang tidak sengaja kenapa kaudesak terus untuk mengetahui sejelas-jelasnya?”

“Sebab belum pernah kauucapkan kata-kata semacam ini, tentu ada suatu urusan yang tidak berkenan di hatimu sehingga tanpa terasa kau mengucapkan kata-kata seperti itu.”

“Ah, itu hanya sentuhan hati kecil belaka, bukan urusan yang membuat aku tak senang, sudahlah, jangan kautanyakan lagi.”

“Tidak, aku harus tahu, kalau tidak aku tak bisa tidur nyenyak malam nanti.”

“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”

“Tentu saja!”

“Harus mengetahuinya?”

“Ya, harus mengetahuinya.”

Tiba-tiba Pang Wan-kun tertawa cekikikan, sambil mencolek jidat Leng-hong dengan jari ia berkata, “Tolol, coba lihat betapa kau cemas. Baiklah akan kuberitahukan kepadamu, aku hanya tak enak hati lantaran persoalan sore tadi, maka sengaja kugoda dirimu.”

“Urusan sore tadi? Urusan apa?”

Wan-kun mengerling sekejap dan berkata, “Apa lagi? Tentu saja soal menyimpan golok pusaka tadi, bukan saja lemari perhiasanku kaukangkangi, bahkan anak kuncinya ikut dibawa, bukankah ini sama artinya dengan tidak percaya lagi kepadaku?”

“O, jadi bicara pulang pergi, rupanya kau tak senang hati lantaran persoalan itu.”

“Kenapa?” Wan-kun mencibir, “kau tidak tahu sikapmu pada waktu itu, seolah-olah aku kau anggap sebagai pencuri yang setiap saat bisa melarikan golok rongsokanmu itu, tentu saja aku merasa tak senang hati.”

Sambil berkata dengan muka masam dia bangkit dan duduk di ujung pembaringan sana.

Cepat Leng-hong mendekatinya dan berkata, “Sudahlah, jangan marah, tak ada harganya untuk marah lantaran urusan sekecil itu, jangan menaruh curiga apa-apa. Aku mengambil anak kunci itu hanya supaya leluasa saja.”

“Aku adalah isterimu, apakah kurang leluasa bila anak kunci itu aku yang menyimpan? Toako suruh aku ikut serta dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin, apakah aku tidak boleh ikut membaca isi kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut.”

“Boleh, tentu saja boleh,” Leng-hong tertawa, “Nah, kuncinya ada di sini, sekarang kuminta maaf dan mengembalikan kunci ini kepadamu, tentunya amarahmu bisa mereda buka?”

“Huh, sekarang baru dikembalikan kepadaku, siapa yang sudi?” omel Wan-kun seraya melengos.

Leng-hong sisipkan anak kunci ke balik baju bagian dadanya, lalu tertawa lirih, “Kau tak sudi anak kunci ini, justru anak kunci ini sudi kepadamu, lantas bagaimana baiknya?”

“He, kau cari mampus,” jerit Pang Wan-kun sambil melompat bangun.

Tentu saja Leng-hong tak membiarkan dia kabur sebab anak kunci masih berada dalam baju dadanya, ia harus mengambilkan pula…

Gara-gara ingin mengambil anak kunci, kedua orang lantas bergumul di atas pembaringan. Maka terdengarlah suara tertawa cekakak dan cekikik, lalu suara napas yang tersengal-sengal, menyusul lampu lantas padam dan…

Malam begitu indah, begitu hangat, sekalipun hujan badai mungkin akan turun keesokan harinya, yang jelas malam ini hanya ada kemesraan dan kehangatan yang memabukkan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: