Kumpulan Cerita Silat

30/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:05 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Epilog (Tamat)
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong sedang mabuk. Karena dia butuh. Dia harus.

“Aku akan bertemu dengannya sekarang. Tapi kau harus menunggu lama sebelum bisa melihatnya lagi. Lama sekali.”
(more…)

Advertisements

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (22)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:27 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 22. Pendahuluan Dan Penutupan Untuk Membunuh
Oleh Gu Long

Chen Da Guan, Majikan Zhang, Ding Lao Si dan yang lainnya telah tiba sekarang. Mereka semua berdiri diam menunggu perintah Li Xiao Jia, namun Li Xiao Jia bersikap sepertinya mereka tidak ada.

Hingga saat itu dia bahkan tidak peduli untuk sekalipun menoleh kearah mereka. Akhirnya, dia berkata,”Apakah ada orang yang mau memberikan ku uang?”
(more…)

29/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 10: Jatuhnya Sang Bandit
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Ajaib, orang yang berdiri di pintu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Liok Siau-hong, bukan Liok si Tiga Telur, bukan pula Liok si Babi Kecil, tapi Liok Siau-hong. Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Kim Kiu-leng hampir tidak mempercayai matanya sendiri, ini benar-benar tak masuk di akal.

Sedemikian terperanjatnya Kim Kiu-leng sehingga dia mengajukan sebuah pertanyaan yang benar-benar bodoh.
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (21)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 21. Pedang Tanpa Sarung
Oleh Gu Long

Api akhirnya padam.

Toko kelontong Li Mahu telah terbakar habis hingga rata dengan tanah. Tetangganya toko daging dengan papan promosi bertuliskan ‘Kami menjual daging sapi, domba dan babi’ dan kedai mie juga mengalami nasib yang sama.
(more…)

28/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 09: Keberhasilan Dan Kegagalan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Beng Wi selalu bersikap amat waspada walaupun sedang tidur. Seorang laki-laki yang dikenal di dunia Kangouw sebagai Sam-thau-coa (Ular Berkepala Tiga) tentulah seorang yang selalu waspada, kalau tidak kepalanya tentu akan telah lama ditebas orang walaupun dia memiliki 30 kepala. Tapi waktu ia terbangun dari tidurnya malam ini, sudah ada seseorang yang berdiri di ujung ranjangnya, sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkilauan. Malam masih larut, di kamar itu tidak ada cahaya, maka ia tidak bisa melihat wajah orang ini.

Tiba-tiba ia merasa bahwa telapak tangannya telah dipenuhi oleh keringat dingin. Orang ini tidak bergerak, ia pun tidak. Ia sengaja mengeluarkan suara dengkuran beberapa kali untuk membuat orang ini yakin bahwa ia masih tidur. Tiba-tiba, ia bergerak dan berusaha meraih golok yang tersembunyi di bawah ketiaknya. Tapi gerakan orang itu jauh lebih cepat. Saat lengannya mulai bergerak, orang ini segera menekan pundaknya ke tempat tidur. Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan orang yang memiliki sepasang tangan yang demikian kuat, seandainya tangan itu menjepit tenggorokannya, nafasnya tentu akan segera berhenti.
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (20)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:21 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 20. Musuh Yang Paling Berbahaya Adalah Musuh Yang Tidak Diketahui
Oleh Gu Long

Ye Kai mengangkat cangkirnya untuk menghirup araknya, arak tersebut mulai terasa agak pahit. Jelas sekali baginya betapa sulitnya bagi wanita itu bersama-sama dengan seseorang yang dia benci.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba menengadah sambil menggoyangkan rambutnya ke samping dan berseru,”Apakah engkau mempercayaiku bila aku katakan aku belum pernah mencintai seorang pria manapun sebelumnya?”
(more…)

27/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 08: Duel Setelah Adu Minum
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Kelaparan seharian, tidak mencicipi apa-apa kecuali angin, itu saja sudah merupakan hal yang menyedihkan. Tapi hal yang lebih menyedihkan daripada itu mungkin, di saat-saat hampir pingsan karena kelaparan, lalu ditertawakan orang dan dipanggil si telur tolol besar.

Tapi Liok Siau-hong hanya tertawa.
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (19)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:18 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 19. Membasmi Benalu Hingga Keakar-akarnya
Oleh Gu Long

Ye Kai membuat langkah yang panjang ke depan dan berbisik dengan sopan,”Teman, apa tujuanmu mengajakku pergi? Harap berhenti dan berbicara.”

Orang dengan jubah hijau itu tidak melambatkan gerakannya, namun malah meningkatkan kecepatanya. Hingga setengah jalan, orang tersebut melompat ke udara, memperlihatkan kemampuan meringankan tubuhnya yang tinggi, Mengikuti Jangkrik Dalam Delapan Langkah.
(more…)

26/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 07: Kegigihan Yang Tak Tergoyahkan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong tidak suka naik kereta kuda, tapi dia malah berada di atas sebuah kereta saat ini. Orang memang tak bisa menghindar dari melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. “Kau harus menemukan sebuah cara untuk bisa tidur di atas kereta, maka bila kau bertemu dengan Kongsun-toanio, kau berada dalam kondisi terbaik untuk menantangnya!”

Liok Siau-hong tahu bahwa kata-kata Kim Kiu-leng itu benar. Tapi bagaimana mungkin dia bisa tidur pada saat seperti ini?
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (18)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:16 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 18. Senjata Yang Paling Menakutkan Didunia Adalah Senjata Yang Tidak Terlihat
Oleh Gu Long

Sebuah pisau sepanjang tiga hun dan tujuh inci.

Sebuah pisau yang telah dilemparkan!
(more…)

25/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 06: Cara Meloloskan Diri Yang Cerdik
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Se-wan terletak di bagian barat kota. Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar. Matahari telah terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan villa, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang. Bersama hembusan angin malam, tercium harum bunga, dan juga bau arak. Bulan tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon. Dua batang pohon kapas berwarna merah seperti buah cherry terlihat saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.

Liok Siau-hong tiba-tiba teringat pada Sih Peng lagi. Bila Sih Peng muncul di dalam fikirannya, seakan-akan seseorang telah menusuk hatinya dengan sebatang jarum. Ia bukanlah orang yang tidak berperasaan, tapi ia juga tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bersedih. Ia telah berjalan mengelilingi taman itu sebanyak satu kali. Malam itu tidak banyak tamu wanita di tempat itu, tapi ia masih harus mencari seorang wanita yang mengenakan sepatu merah. Tetapi ia tidak menjadi gelisah.
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (17)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 17. Nyonya Tua Yang Misterius
Oleh Gu Long

Kain merah yang mempromosikan kamar untuk disewa masih tergantung di luar gang kecil.

Saat Fu Hong Xue berjalan melewatinya, dia menangkap pandangan wanita dengan rambutnya yang telah memutih yang menatapnya dengan licik, kebencian memenuhi sorot matanya. Tidak terlihat sedikitpun keramahtamahan.
(more…)

24/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 05: Resiko Mencari Petunjuk
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Angin masih lembut, malam masih hening. Tapi Liok Siau-hong tahu betul bahwa malam yang tenang ini mungkin menyembunyikan perangkap yang tak terhitung jumlahnya, angin yang lembut ini mungkin membawa anak-anak panah yang mematikan.

“Di dalam Lam-ong-hu, sebenarnya hanya ada 620 orang penjaga, pada malam hari mereka dibagi dalam 3 giliran jaga.”
(more…)

Perguruan Sejati (22-Tamat)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:35 pm

Perguruan Sejati (22)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Sudah, lihat nanti!” Lagi-lagi Tay Cin Tojin memotong perkataan kawannya. Diambilnya kertas dan pit, cepat-cepat ditulisnya sepucuk surat. Dimasukkan kedalam sampul dan dilem. “Kumohon engkau menulis namamu disampul surat ini.”

Han Bun Siang tidak bertanya ini itu, segera menulis namanya disampul itu. Melihat ini Tong Cian Lie jadi geregetan. “Engkau hidung kerbau itu bilamana tidak segera kusobek suatu saat kau mau main apa? Han Toako engkau gampang dikibulii, surat itu toh belum kau baca, kenapa mau menulis namamu?”
(more…)

Perguruan Sejati (22)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:32 pm

Perguruan Sejati (22)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Sudah, lihat nanti!” Lagi-lagi Tay Cin Tojin memotong perkataan kawannya. Diambilnya kertas dan pit, cepat-cepat ditulisnya sepucuk surat. Dimasukkan kedalam sampul dan dilem. “Kumohon engkau menulis namamu disampul surat ini.”

Han Bun Siang tidak bertanya ini itu, segera menulis namanya disampul itu. Melihat ini Tong Cian Lie jadi geregetan. “Engkau hidung kerbau itu bilamana tidak segera kusobek suatu saat kau mau main apa? Han Toako engkau gampang dikibulii, surat itu toh belum kau baca, kenapa mau menulis namamu?”
(more…)

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.