Kumpulan Cerita Silat

28/12/2007

Maling Romantis (16) (Tamat)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:07 am

Maling Romantis (16)
Oleh Gu Long

Kontributor: budiwibowo, monica

Setiap gerak-gerik tangannya sedemikian hati-hati, waspada dan tepat, memang dia sedang pinjam gerakan yang lambat dan mantap ini untuk menekan dan mencuci bersih pikiran batinnya yang sedang kalut dan risau.

Lalu dengan kedua tapak tangannya ia bimbing secangkir air teh yang masih panas mengepul itu dan diangsurkan ke hadapan Thian-hong Taysu dengan laku hormat, katanya dengan suara berat, “Terima kasih, Taysu!”

Dengan kedua tangannya pula Thian-hong Taysu menerima cangkir teh itu, katanya kalem, “Peristiwa dulu serta urusan yang ingin kau ketahui, kini sudah tahu belum?”

Coh Liu-hiang mengiakan sambil manggut-manggut.

Thian-hong Taysu tertawa tawar, ujarnya, “Bagus sekali, apa yang dapat Lo-ceng uraikan ya hanya sebegitu saja!”

Ternyata dia tidak tanya kepada Coh Liu-hiang untuk apa dia ingin tahu peristiwa masa lalu yang terpendam ini. Mulailah dia menghirup air teh itu dengan laku yang penuh perhatian dan nikmat sekali. Sekilas itu raut mukanya yang semula kelihatan serius dan angker seketika mengendur dan luluh. Nampak sorot matanya yang mengandung kepedihan itu tampak semakin tebal, maka mulailah dia pejamkan kelopak matanya pelan-pelan, gumamnya, “Secangkir air teh ini memang jauh lebih nikmat dan baik kualitasnya dari air teh yang terdahulu tadi.”

Lama Coh Liu-hiang mengawasi raut mukanya serta gerak-geriknya dengan segala perhatiannya, sungguh tak teraba olehnya bahwasanya padri tua yang punya kedudukan luar biasa ini entah berapa banyak mengetahui seluk-beluk persoalan yang dia hadapi, tak tertahan ia bertanya, “Apa tiada sesuatu yang Taysu hendak tanyakan kepada Cayhe?”

Sesaat Thian-hong taysu diam saja, katanya tawar, “Apakah Jin-lopangcu sudah wafat?”

Matanya tidak terbuka, seolah-olah pertanyaan ini ia ajukan sambil lalu saja.

Sebaliknya Coh Liu-hiang menghela nafas panjang, cepat ia mengiakan. Kembali ia suguhkan secangkir air teh yang sama, katanya, “Apa yang ingin Taysu ketahui, sekarang tentunya sudah jelas seluruhnya.”

Thian-hong Taysu hanya manggut-manggut tanpa bersuara lagi.

Perlahan-lahan Coh Liu-hiang bangkit berdiri, katanya, “Entah bisakah Taysu memberi ijin supaya Wanpwe berbicara beberapa patah kata dengan Bu Hoa Suheng?”

Sahut Thian-hong Taysu pelan-pelan, “Persoalan yang perlu dibicarakan memang perlu dikatakan. Pergilah kalian!”

Baru sekarang Bu Hoa bangkit berdiri. Sikap dan tindak-tanduknya kelihatan masih sedemikian adem-ayem dan seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan hormat ia menjura kepada Thian-hong Taysu, tanpa bersuara diam-diam ia mengundurkan diri. Sepatah kata pun ia tak bersuara.

Waktu badannya sudah hampir mundur keluar dari kerai bambu, Thian-hong Taysu mendadak pentang mata memandangnya sekilas. Arti yang terkandung dalam sorot matanya kelihatannya amat ruwet dan tak dapat dibedakan. Tapi sepatah kata pun dia tak bicara lagi.

***

Malam sudah larut.

Jalan di belakang gunung sini amat sempit dan memanjang berliku-liku. Di bawah penerangan sinar bintang-bintang kecil, membayangi dedaunan pohon di kedua pinggir jalan, seluruh alam semesta seolah-olah sudah tenggelam dalam suasana kepedihan nan dingin dan kabut yang tebal.

Coh Liu-hiang sedang beranjak adu pundak dengan Bu Hoa di jalanan sempit dan berliku-liku itu. Sampai detik ini mereka pun tiada yang bersuara lebih dulu. Begitu sunyi senyap laksana dalam neraka pegunungan yang gelap gulita ini.

Akhirnya Bu Hoa unjuk senyuman, katanya, “Meskipun kau tidak langsung membongkar kedokku, tapi aku tidak menaruh hormat padamu. Itulah karena kau kuatir Thian-hong Taysu bersedih hati saja, benar tidak?”

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya, “Menurut pendapatmu, kecuali itu, tiada sebab lainnya? Umpama persahabatan kita berdua!”

“Persahabatan kita, sampai sekarang yang masih ketinggalan tidak lebih besar dari kerikil yang menyusup masuk ke dalam mata belaka.”

“Benar,” ujar Coh Liu-hiang. “Kalau mata kelilipan kerikil, air mata pasti bercucuran.”

“Tiada halangannya sekarang kau beritahu kepadaku,” pinta Bu Hoa. “Sebetulnya berapa banyak persoalan yang sudah kau ketahui?”

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menjawab, “Sudah banyak persoalan yang kuketahui, namun masih banyak pula yang belum kuketahui.”

“Apa saja yang sudah kau ketahui?” tanya Bu Hoa tersenyum. “Apa-apa pula yang masih belum kau ketahui dan pahami?”

“Aku sudah tahu kau adalah putra sulung Thian-hong-cap-si-long itu, saudara atau engkoh Lamkiong Ling, tapi dari mana pula kau bisa tahu bahwa Lamkiong Ling adalah adikmu? Terang Thian-hong Taysu takkan pernah memberitahukan kepadamu.”

“Sebab ini sebetulnya kau bisa merabanya,” sahut Bu Hoa. “Waktu ayahku almarhum meninggal, aku sudah berumur tujuh tahun. Memang ada kalanya aku tidak tahu urusan, tapi sedikit banyak mungkin sudah bisa membedakan sesuatu urusan yang cukup banyak pula, dan yang penting selamanya aku takkan melupakan kejadian-kejadian yang kuketahui itu.”

“Apa yang kau ketahui mungkin terlalu banyak,” kata Coh Liu-hiang.

“Tentunya kau pun sudah tahu. Thian-it-sin-cui, akulah yang mencurinya.”

“Tidak salah,” sahut Coh Liu-hiang menyengir kecut. “Walau Sin-cui-kiong melarang semua laki-laki keluar masuk, tapi seorang beribadah yang alim dan beriman tinggi tentulah di luar batas larangan itu.
Dalam pandangan manusia umumnya, biasanya mereka pandang orang-orang beribadah atau Hwesio bukan sebagai laki-laki sejati. Bahwasanya di antara seluk-beluk persoalan ini bukan mustahil bakal terjadi suatu kelemahan dalam penyakit pandangan atau penilaian, sayang sekali dan kasihan nona romantis yang masih hijau itu, akhirnya dia harus gugur dan berkorban demi kau….”

Bu Hoa tetap tersenyum, katanya, “Seorang perempuan yang belum pernah sentuh badan dengan laki-laki, selalu takkan kuat dipelet atau dibujuk rayu. Kalau toh dia sendiri merasa rela dan tenteram dalam menghadapi kematiannya, kenapa pula kau harus merasa sayang bagi dirinya?”

Coh Liu-hiang menatapnya nanar, sekian lama baru katanya, “Kau ini memang orang yang aneh. Betapa pun perbuatan kotor, rendah, serta kata hina dan jahat, bila keluar dari mulutmu, kau bisa menyetirnya sedemikian halus dan lembut, menggunakan nada yang paling merdu dan mengasyikkan.”

Tak berubah sikap dan mimik Bu Hoa, katanya tertawa pula, “Kau sendiri kan juga tahu aku menghabiskan jerih payah dari cucuran darah dan keringatku mencuri Thian-it-sin-cui, apa maksud tujuanmu?”

“Karena Jin-lopangcu dan Thian-hong Taysu tidak akan gampang bisa dibunuh oleh sembarang orang, apalagi kau menghendaki kematian mereka tidak menunjukkan sesuatu bekas yang mungkin bisa menimbulkan rasa curiga orang-orang lain atas perbuatan dirimu.”

“Uraianmu amat tepat sekali,” puji Bu Hoa.

“Orang yang menyamar menjadi Thian-hong-cap-si-long di jembatan balok kayu itu tentunya kau adanya, demikian pula yang membunuh Thian-jiang-sing Song Kang dan Thian-ing-cu dari Lam-hay-pay, orang yang menghilang ke Tay-bing-ouw menggunakan ilmu Jin-sutnya itu tentulah kau pula adanya,” demikian Coh Liu-hiang membuka tabir rahasia yang mencurigakan hatinya selama ini.

“Benar,” Bu Hoa pun mengakui terus terang.

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya, “Hari itu juga aku melihatmu di Tay-bing-ouw, seharusnya aku sudah bercuriga atas dirimu. Cuma sayang, seumpama waktu itu aku menaruh curiga terhadap setiap manusia yang berada di dunia ini, sekali-kali takkan menaruh curiga terhadap Bu Hoa yang tidak sudi mendengar petikan harpa yang mengandung nada membunuh ini!”

“Kau tidak usah rawan hati,” sela Bu Hoa. “Sekali tempo setiap orang pasti pernah melakukan kelalaian.”

“Di dalam Oh-i-am, murid Siok-sim Taysu yang pikun itu….” ujar Coh Liu-hiang tertawa getir, “Sebelum ajal sebetulnya dia sudah membongkar rahasia dirimu, sayang dia hanya sempat mengatakan ‘Bu’ saja lantas putus nafas. Lebih disayangkan pula kesimpulanku tidak tertuju kepada namamu. Sungguh tidak pernah terpikir olehku, ‘Bu’ yang dimaksudkan adalah petikan dari pelengkap Bu Hoa.”

“Aku sendiri pun tidak menyangka sebelum ajal ternyata kesadarannya pulih kembali. Kalau tidak, waktu aku membunuh Siok-sim Taysu tentu kubereskan dia sekalian.”

“Tapi kenapa kau bunuh Siok-sim Taysu pula?”

“Setiap orang yang ada sedikit sangkut-pautnya dengan peristiwa ini, tidak bisa aku membiarkannya hidup lebih lama lagi,” sahut Bu Hoa tandas. “Kau tahu, setiap tindakan dan perbuatanku selamanya amat teliti dan cermat, selamanya aku tidak mau main spekulasi atau menyerempet bahaya.”

“Oleh karena itu, kau pun ingin membunuhku?” tanya Coh Liu-hiang.

Bu Hoa menghela nafas, ujarnya, “Sesungguhnya aku mengharap kau tidak terlibat dalam peristiwa ini. Siang-siang sudah kukatakan kepada Lamkiong Ling, bila di dunia ini ada orang yang bisa membongkar rahasia kita, orang itu tentulah Coh Liu-hiang.”

“Di Tay-bing-ouw, dalam Oh-i-am, di atas balok batu jembatan itu,” kata Coh Liu-hiang menghela nafas, “Beberapa kali kau sudah turun tangan, kau hendak membunuhku, hal ini tidak perlu kubuat heran. Tapi kenapa pula kau hendak membunuh Yong-ji?”

“Sebelumnya aku sudah menduga kau tentu akan mengutus dia pergi ke Sin-cui-kiong menyelidiki peristiwa tercurinya Thian-it-sin-cui dan sebab-musabab kematian gadis pingitan itu, maka cepat sekali aku sudah berkesimpulan bahwa orang yang kau janjikan untuk bertemu di Tay-bing-ouw sore hari itu tentulah dirinya. Tentunya kau pun mengerti, aku ini kan bukan orang bodoh.”

“Seseorang kalau terlalu pintar seharusnya bukan sesuatu yang patut dibuat girang atau menguntungkan bagi diri sendiri.”

“Memangnya kau ini seorang bodoh?” tanya Bu Hoa tersenyum.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya, “Baru sekarang aku tahu, bahwasanya aku tidak sepintar yang pernah kubayangkan sendiri, kalau tidak seharusnya sudah lama aku sudah berhasil dengan usahaku, bila keadaan mendadak dan memang diperlukan, kau pasti akan membunuh Lamkiong Ling sekalian untuk menutup mulutnya.”

Bu Hoa pun menghela nafas, ujarnya, “Ternyata aku tidak sepintar apa yang pernah kubayangkan sendiri. Kusangka, bila Lamkiong Ling mati, segala sumber penyelidikanmu akan terputus seluruhnya. Persoalan tidak akan merembet ke atas diriku, kalau tidak masakah aku tega membunuh adik kandungku sendiri?”

“Titik tolak dari kunci persoalan ini, yang terpenting adalah lantaran dia mengatakan sebelum ajalnya bahwa kalian adalah bersaudara. Jikalau tidak karena bahan rahasia ini, aku pun takkan bisa mencarimu ke mari.”

Lama Bu Hoa membungkam. Kabut di samping gunung semakin tebal. Hembusan angin pegunungan sudah membawa pertanda bakal menjelangnya musim dingin. Hawa mulai dingin sehingga sekujur badan terasa hampir membeku.

“Sampai sekarang yang belum bisa aku pahami betul adalah segala perbuatanmu ini sebetulnya hendak menuntut balas ataukah untuk merebut kekuasaan? Sebetulnya semua ini maksud dari nuranimu sendiri ataukah pesan peninggalan ayahmu sebelum beliau wafat?” Secara blak-blakan Coh Liu-hiang ajukan ganjalan hatinya.

Terangkat alis Bu Hoa, sahutnya, “Dari mana kau bisa berpikir bahwa ayahku almarhum ada meninggalkan pesan warisannya?”

“Bahwa kau ikut dibawa ke Tionggoan, sudah tentu Jin-sut dan ilmu pedang yang kau pelajari adalah hasil didikan dari ayahmu. Tapi waktu beliau wafat, usiamu masih kecil, sekali-kali tidak mungkin membekal kepandaian tingkat tinggi yang sedemikian hebat, untuk ini dengan mudah dapat dimengerti bahwa pasti dia meninggalkan buku pelajaran ilmu silat tunggalnya kepadamu. Secara rahasia kau menyembunyikannya pula, sampai pun Thian-hong Taysu tidak tahu dan kena kau kelabui.”

“Ya, tepat terkaanmu,” sahut Bu Hoa mengakui terus terang.

“Oleh karena itu segera aku teringat, tanpa pamrih tidak mungkin dia mengorbankan jiwa raganya secara sia-sia, tujuannya supaya kalian masuk ke dalam perguruan Siau-lim dan Kaypang, bukan mustahil setelah kalian sama tumbuh dewasa beruntun bisa mewarisi jabatan aliran ilmu silat dari golongan terbesar dan pimpinan sindikat terbesar pula, selangkah lebih lanjut yaitu menjagoi atau merajai seluruh dunia persilatan. Mungkin ini hanya cita-cita impiannya yang ingin dia capai, tapi sayang dia sudah mati sebelum cita-citanya terlaksana, maka kalianlah yang mewarisi tugas untuk mencapai cita-citanya ini, kalau tidak masakah dengan rela dia terima binasa demikian saja.”

Kembali Bu Hoa membungkam lama, akhirnya tersenyum simpul. Katanya, “Tahukah kau kenapa selama ini aku menyukaimu? Karena kau punya otak. Sering aku berkata, setiap orang yang kenal kau dari dekat, peduli dia kawan atau lawan, sama saja merupakan suatu keberuntungan dan patut dibuat girang.”

“Kalau demikian, jadi analisaku tepat semuanya?”

“Mungkin analisamu benar, mungkin pula salah, kelak perlahan-lahan kau akan tahu sendiri…” Mendadak Bu Hoa menghentikan langkah. Pelan-pelan dia putar badan menghadapi Coh Liu-hiang, katanya, “Apa pun yang telah terjadi, kau sudah membongkar kedok rahasiaku, membongkar segala perbuatanku. Apa pula yang kau kehendaki?”

Dengan nanar Coh Liu-hiang menatapnya dan lama kemudian baru dia menghela nafas, katanya, “Kau tahu aku selamanya tidak suka membunuh orang, apalagi membunuhmu!”

Bu Hoa tertawa, katanya kalem, “Tapi kau pun harus tahu, sekarang kau tidak bunuh aku, sebaliknya akulah yang akan membunuhmu.”

“Benar, asal kau dapat membunuhku, maka kau bisa bebas dan bersimaharaja di dunia ini secara lalim, karena orang yang tahu seluk-beluk rahasiamu di dunia ini hanya aku satu-satunya!”

Bu Hoa berkata pelan-pelan, “Jadi sekarang kau sedang menunggu aku turun tangan?”

“Meskipun aku tidak menghendaki, agaknya tiada jalan pilihan lainnya lagi.”

Keduanya tidak banyak bicara lagi.

Mereka sama tahu, perkataan yang perlu mereka bicarakan sudah habis.

Angin di atas gunung semakin keras dan menderu-deru, hujan bayu segera akan meliputi alam semesta ini. Pakaian dan rambut mereka sama terhembus melambai-lambai, tapi sikap keduanya masih tegak di tempatnya dengan tenang dan wajar, namun sorot mata keduanya sudah mencorong terang mengandung hawa membunuh.

Sekonyong-konyong terdengar ledakan keras disertai kilat menyambar. Dibarengi dengan geledek mengguntur, air hujan pun seperti dituang dari tengah angkasa. Berbareng dengan guntur menggelegar dan kilat menyambar ini, kedua kepalan Bu Hoa langsung menjojoh dengan dahsyat.

Itulah pukulan sakti yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan dari Siau-lim-pay, pertama kali dalam penyerangan dia gunakan ilmu pukulan dari pelajaran perguruannya. Pukulan yang dahsyat, keras dan kokoh kuat ini diiringi dengan sambaran kilat dan geledek mengguntur, sungguh hebat pukulannya ini laksana menggetarkan bumi mengejutkan langit layaknya! Jikalau tidak menghadapinya secara langsung, mungkin siapa pun takkan percaya bahwa Bu Hoa yang biasanya alim dan lemah lembut itu ternyata bisa melontarkan jurus pukulan yang begitu dahsyat.

Sebat sekali badan Coh Liu-hiang berputar, tampak tangannya tegak miring menebas ke urat nadi Bu Hoa, serangan balasannya ini kelihatan biasa dan enteng sekali, dibanding dengan kepalan Bu Hoa itu boleh dikata jauh ketinggalan dan bukan apa-apa.

Tapi serangan tapak tangan yang biasa dan tiada sesuatu yang menakjubkan ini justru telak sekali mematahkan gaya pukulan Bu Hoa yang lihay itu.

Cepat sekali Bu Hoa kembangkan kelincahan badannya. Belum lagi suara guntur yang bergema di tengah angkasa sirap, beruntun dia sudah lontarkan empat jurus pukulan Kiang-hiong-hu-hou (Menundukkan Naga Mengalahkan Harimau), setiap serangan dahsyat ini merupakan inti sari pukulan sakti dari Siau-lim-pay yang teramat ampuh.

Namun dengan gampang Coh Liu-hiang dapat mematahkan semua rangsekan hebat ini, malah di samping mematahkan dia masih sempat balas menyerang, jauh berkelebihan tenaga serangan balasannya.

Setelah delapan belas jurus pukulannya dilontarkan, sedikit pun Bu Hoa tidak berhasil menempatkan posisinya di tempat yang menguntungkan. Kepalan kanan mendadak ia tarik mundur. Waktu ia sodokkan keluar pula, tiba-tiba terdengar “Ser!,” dari pukulan tahu-tahu ia rubah menjadi tutukan jari.

Selentikan jarinya ini merupakan pemusatan tenaga dalamnya yang dilandasi kekuatan Tan-ci sin-thong (Selentikan Jari Sakti), segulung angin kencang yang menderu pesat sekali meluncur ke arah Ki-bun dan Ciang-tai, dua hiat-to yang terletak di bawah bahu kanan.

Tak usah kena tertutuk telak oleh jari lawan, cukup tersapu oleh samberan anginnya saja setengah badan Coh Liu-hiang seketika akan linu kemeng tak mampu bergerak, maka dalam kilasan lain jiwanya pasti akan melayang di bawah tepukan tapak tangan Bu Hoa yang menyusul datang pula.

Tapi badan Coh Liu-hiang tiba-tiba doyong ke samping, gerakan miring yang lincah dan seenaknya saja. Desiran angin tutukan jari yang kuat itu hanya menyapu lewat dari pinggir pakaiannya saja. Sebaliknya tapak tangan kirinya tahu-tahu sudah menyelonong tiba di bawah ketiak Bu Hoa.

Maka rangsekan Bu Hoa yang dahsyat ini terpaksa terhalang oleh gerakannya sendiri untuk bertahan membela diri, dari menyerang berubah membela diri, tangan kanan tersurut balik, sementara tangan kiri yang dia tepukkan ke depan sudah berubah menjadi serangan tapak tangan pula, pinggir tapak tangannya mengiris miring mengarah Ki-ti-hiat di badan Coh Liu-hiang.

Lekas Coh Liu-hiang melintangkan kaki ke kiri, badan ikut berputar, sementara sikut kirinya ikut bergerak menyodok dengan keras.

Terpaksa Bu Hoa harus batalkan serangannya dan merubah permainan pula. Seketika terlihat bayangan tapak tangan bergulung-gulung menari turun naik, laksana menari-nari di tengah angin badai. Itulah Hong-ping-ciang, kepandaian terdahsyat dari aliran Gwakeh Siau-lim-pay.

Sesuai dengan namanya, ilmu pukulan ini tidak melulu mengutamakan kekuatan Lwekang namun mengutamakan kelincahan dan kecepatan menempuh kemenangan. Gaya permainannya seperti capung terbang melawan angin, seperti kupu menari berebutan madu. Gerak-geriknya lincah disertai variasi perubahan yang menakjubkan sperti main sulapan saja. Serangan gertakan yang kosong jauh lebih banyak dari pukulan telak yang sesungguhnya.

Tapi setiap kali ia lontarkan pukulan telak yang sesungguhnya, seketika pula terbendung tak berkutik oleh tipu permainan Coh Liu-hiang.

Dalam waktu yang begitu singkat, beruntun Bu Hoat sudah ganti berbagai mainan dari Siau-lim-sin-kun (Pukulan Sakti Siau-lim-pay), Tan-ci-sin-thong, Hong-ping-ciang, tiga macam ilmu dahsyat yang dibanggakan dari Siau-lim-si. Ketiga macam ilmu silat ini masing-masing mencakup perubahan dari dasar kekerasan yang dahsyat, kelincahan nan meruncing tajam, serta variasi perubahan yang rumit dan susah diselami. Jalan permainannya satu sama lain jauh berbeda, namun masing-masing merupakan ilmu silat sejati yang teramat ampuh, kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan.

Sebaliknya jurus permainan yang digunakan Coh Liu-hiang sebaliknya merupakan ilmu silat paling umum, biasa dan paling dikenal di kalangan Kangouw, entah berapa banyak mungkin laksaan kaum persilatan di Kangouw yang mampu memainkan jurus-jurus tipu silat seperti itu.

Tapi sama-sama jurus tipu yang rendahan dan umum ini, dalam permainan Coh Liu-hiang justru jauh sekali perbedaannya. Setiap gerak yang dia permainkan, telak dan persis tanpa tergeser sepersepuluh mili umpamanya. Setiap gerakan yang dia lancarkan boleh dikata tiga kali lipat lebih cepat dari tokoh-tokoh silat terlihay mana pun.

Kalau dinilai secara tunggal, gerak permainannya itu mungkin terlalu tawar dan tiada sesuatu yang menakjubkan. Tapi kalau dimainkan di saat kedua orang bergebrak, setiap jurus tipu permainannya justru dia kembangkan secara luar biasa dengan perbawa yang teramat ampuh pula.

Adakalanya hampir tak terpikir dalam benak Bu Hoa bahwa jurus tipu permainan ilmu silatnya yang begitu lihay dan aneh ini bagaimana mungkin bisa dipunahkan sedemikian gampang oleh Coh Liu-hiang menggunakan jurus tipu yang paling sepele dan umum? Bukan saja dipunahkan, malah dirinya balas diserang lagi.

Kembali kilat menyambar, halilintar memekakkan telinga, hujan semakin deras.

Hujan bayu membuat alam semesta seakan hampir kiamat, di atas gunung belukar ini gelap gulita laksana di tanah pekuburan.

Bahwasanya mereka sudah tidak melihat bayangan bentuk badan lawan, tapi mengandalkan ketajaman telinga mendengarkan deru angin pukulan lawan untuk menghadapi serta mengatasinya. Tapi hujan bayu sedemikian derasnya, lama-kelamaan deru angin pukulan mereka pun kelelap tak terdengar pula.

“Dar!” guntur menggelegar disertai kilat menyambar pula. Secepat kilat itu pula Coh Liu-hiang gerakkan kakinya berkelit, sementara Bu Hoa melejit melambung ke tengah udara. Puluhan bintik sinar kelap-kelip seperti sinar bintang yang dingin sederas hujan bayu ini melesat tiba ke arahnya.

Dalam malam yang begitu gelap, untuk menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia sekencang ini boleh dikata tak mungkin lagi. Waktu badan Bu Hoa meluncur turun, ujung mulutnya sudah mengulum senyum sinis.

Tepat di tengah suara guntur yang menggelegar itulah terdengar Coh Liu-hiang mengeluarkan jerit kaget yang kelelap. Disusul sinar kilat kembali berkelebat. Tapi bayangan Coh Liu-hiang pun tak kelihatan lagi.

Di tengah kegelapan, nafas Bu Hoa memburu turun naik, serunya menggembor, “Coh Liu -hiang, Coh Liu-hiang! Di mana kau?”

Terdengar seseorang menjawab dengan suara kalem di belakangnya, “Aku di sini!”

Keruan terkejut Bu Hoa laksana disengat kala, hampir saja jantungnya melonjak keluar dari rongga dadanya.

Tapi dia tidak perlu membalikkan badan, dia hanya berdiri kaku dengan tenang. Sesaat kemudian pelan-pelan kepalanya ditundukkan, katanya penuh kekecewaan, “Bagus sekali, baru hari ini aku betul mendapatkan bukti bahwa aku memang benar-benar bukan tandinganmu.”

Lagu suaranya sedemikian datar, wajar dan tenang, seperti baru saja memperoleh bukti tentang suatu permainan judi yang tidak begitu besar, siapa pun takkan dapat merisaukan bahwa dia sudah pertaruhkan jiwanya di dalam permainan judi yang sekaligus bakal menentukan mati hidupnya pula.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Meski kau sudah kalah, tapi bagaimanapun kekalahan tak perlu dibuat malu, karena kau sudah membawakan sikap seorang jantan!”

Bu Hoa mengeluarkan tawa yang pendek, katanya, “Jikalau aku yang menang, jauh lebih jantan lagi, cuma sayang hal itu selamanya tidak akan ada kesempatan lagi untuk membuktikannya, benar tidak?”

“Benar, memang kau tiada punya kesempatan lagi untuk menang.”

“Sebagai pihak yang menang, sikap kejantananmu ternyata patut dipuji juga, mungkin lantaran kau sudah terbiasa menjadi pihak yang menang, seolah-olah selamanya kau takkan pernah punya waktu untuk kalah!”

Coh Liu-hiang berkata dengan suara berat, “Seorang bila berdiri di pihak yang sejajar dengan musuhnya, selamanya dia takkan bisa dikalahkan.”

Sekonyong-konyong Bu Hoa mendongak sambil terkial-kial panjang, gelak tawanya melolong berkumandang di tengah hujan air yang deras ini seperti gelak tawa orang yang kesurupan setan. Katanya kemudian, “Apakah aku salah… Jikalau aku berhasil dengan sukses, siapa pula yang berani mengatakan aku salah…” bunyi guntur yang memekakkan telinga memutus loroh tawanya yang menggila itu.

Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kalem, “Kenapa kau tidak lari?”

Gelak tawa Bu Hoa menjadi helaan nafas rawan, sahutnya, “Lari? Apakah aku ini manusia yang patut melarikan diri? Seseorang bila dia hendak menikmati ajaran ilmu silat yang dia latih, maka dia harus belajar lebih dulu cara bagaimana untuk menerima kekalahan…”

Tiba-tiba kembali ia terloroh, katanya menyeringai, “Betapapun besar kemenangan itu, takkan bisa membuatku kesenangan sampai lupa diri! Betapapun besarnya kekalahan itu, juga takkan bisa membuatku lari mencawat ekor seperti anjing liar yang digunduli!”

“Kau memang tidak pernah membuatku kecewa,” ujar Coh Liu-hiang rawan.

“Sekarang apa yang kau inginkan atas diriku?”

“Aku hanya bisa membongkar rahasiamu, tapi tak bisa aku menjatuhkan hukuman kepadamu, karena aku bukan penegak hukum, bukan malaikat atau dewata, aku tiada hak kekuasaan untuk menjatuhkan hukuman kepadamu!”

BUNUH DIRI ITU MENEBUS DOSA
“Ap apun yang telah terjadi, kesimpulanmu ini sungguh harus dipuji dan dibanggakan. Sejak dulu kala, mungkin tiada seorang pun tokoh kosen dalam Kangouw yang mempunyai jalan pikiran seperti itu,” Bu Hoa balas memuji.

“Kelak setelah beberapa tahun berselang, orang yang mempunyai pikiran seperti ini dari hari ke hari akan bertambah banyak. Kelak masyarakat akan tahu sendiri, kekuatan kasar takkan bisa menyelesaikan segalanya, tiada seorang pun dalam dunia ini yang punya kuasa untuk mencabut jiwa orang lain!”

“Ya, itu urusan kelak, sekarang….”

“Sekarang aku akan serahkan dirimu kepada orang yang patut menjatuhkan hukuman kepada dirimu.”

“Kau hendak menyerahkan diriku kepada orang lain?”

“Tidak salah.”

“Kalau toh kau sendiri tak kuasa menjatuhkan hukuman kepadaku, siapa pula manusia di dunia ini yang setimpal menjatuhkan hukuman kepadaku?”

“Orang-orang itu meski belum mempunyai jiwa yang luhur dan bajik, tapi mereka mengerti hukum dan undang-undang. Siapa pun harus mematuhi hukum dan undang-undang-undang.”

“Apakah kau sendiri selamanya mematuhi undang-undang itu?” jengek Bu Hoa.

“Yang kami pandang hina hanyalah undang-undang yang ditegakkan oleh sementara orang yang lalim belaka. Hukum peraturan seperti itu sudah tentu tidak patut kami hormati atau patuhi. Tapi budi wening dan keadilan serta kebenaran, siapa pun tak pantas memandangnya rendah!”

“Coh Liu-hiang! Kau memang seorang yang aneh betul-betul. Tapi apa pun yang terjadi, jangan harap kau bisa menyerahkan aku kepada orang-orang macam itu.”

“Kenapa?” Coh Liu-hiang menegas. “Kau sebenarnya seorang agung, tangan-tangan kotor orang-orang itu memang tidak seharusnya menyentuh pakaianmu, tapi siapa suruh kau melakukan kejahatan keluar batas yang berdosa begitu besar. Seumpama maharaja pun kalau dia melanggar hukum, dia pun patut dijatuhi hukuman seperti rakyat jelata. Memangnya kau tidak paham akan arti kata-kata ini?”

Bahwasanya Bu Hoa seperti tidak pernah mendengar kata-katanya ini, dengan tersenyum ia menggumam, “Coh Liu-hiang, bagaimanapun jangan kau harap jari-jari orang-orang itu bisa menyentuh seujung jariku saja.” Habis berkata-kata, tahu-tahu badannya perlahan-lahan meloso roboh.

Halilintar kembali menggelegar, kilat menyambar berulang kali.

Lekas Coh Liu-hiang memburu maju memayang badannya. Di tengah sambaran kilat, meski hanya sekilas saja, namun ia lihat raut mukanya yang ganteng, halus dan alim itu kini sudah berubah sedemikian kaku dan membesi hijau.

Coh Liu-hiang amat kaget, serunya, “Bu Hoa, kau… kenapa kau begitu bodoh? Mati.. memangnya bukan cara yang paling rendah untuk lari dari pertanggung-jawaban?”

Bu Hoa membuka mata, sekuatnya ia unjuk tawa, sahutnya, “Aku bukan lari dari pertanggungan-jawab, bukan aku tidak berani menghadapi mereka, tidak lain karena aku tidak sudi tunduk di hadapan manusia-manusia hina dina itu.”

Tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya cemerlang, katanya pula, “Peduli kesalahan apa pun yang pernah kulakukan, betapa pun aku masih seorag agung yang terpandang, jauh lebih agung dan terpandang dari kebanyakan orang-orang di dunia ini! Coh Liu-hiang, apakah kau tidak mengakui akan hal ini?”

Perlahan-lahan kelopak matanya terpejam.

Selamanya dia takkan bisa mendengar jawaban Coh Liu-hiang lagi. Kilat menyambar pula, roman mukanya sudah kembali seperti biasa, tenang tenteram dan sentosa, malah ujung mulutnya mengulum senyum mekar.

* * *

Di dalam taman kembang nan luas di lingkungan keluarga besar she Lim di Poh-tian, kembang-kembang sedang mekar harum semerbak.

Opas kenamaan, Sin-eng Go-lopothau, bersama seorang Kaypang Tianglo yang berbadan tinggi kurus bermuka tegang, sedang menunggu di bawah pohon dengan gelisah.

Terdengar Kaypang Tianglo itu sedang bertanya, “Kau pikir, apakah dia akan datang?”

Sin-eng tersenyum, sahutnya, “Peduli Coh Liu-hiang itu manusia baik atau jelek, jujur atau jahat, tapi kalau dia sudah mengatakan hendak datang, dia pasti datang. Siapa pun, urusan apa pun, jangan harap bisa menghalangi dirinya.”

Terdengar seseorang berkata kalem di atas pohon, “Benar, peduli Sin-eng ini orang baik atau jelek, jujur atau jahat, tapi pandangannya terhadap Coh Liu-hiang ternyata memang tidak meleset.”

Di tengah kata-katanya, Coh Liu-hiang melayang dari atas pohon, sedikit pun tak bersuara waktu kakinya menyentuh tanah.

Dengan tersenyum, kembali ia menambahkan, “Tapi bukankah Sin-eng sudah mendengar bila aku berada di atas pohon maka sengaja kau mengeluarkan kata-kata ini?”

Sin-eng tertawa besar, serunya, “Kata-kata Coh Liu-hiang laksana kuda lari dapat dikejar, selalu menepati janji, hal ini memang sejak lama Siau-loji mengetahuinya!”

Tak tahan berkata Kaypang Tianglo itu, “Pembunuh itu, apakah Coh Liu-hiang sudah membawanya ke mari?”

Guram raut muka Coh Liu-hiang, sahutnya sambil menarik nafas panjang, “Dia sudah meninggal!”

“Sudah mati?” teriak Sin-eng kaget.

“Benar!”

“Dia… cara bagaimana kematiannya?” tanya Sin-eng.

“Kalau dia sudah mati, peduli cara bagaimana kematiannya, apakah tidak sama saja?”

“Tapi…”

“Kukatakan dia sudah mati!” bentak Coh Liu-hiang aseran. “Masakah kau tidak percaya omonganku?”

Sin-eng lekas unjuk tawa dibuat-buat, ujarnya, “Setiap patah kata Maling Budiman, masa si tua bangka seperti aku ini tidak mempercayainya, tapi dia… siapakah dia sebenarnya?”

Sesaat Coh Liu-hiang mempertimbangkan, katanya, “Walau dia amat jahat dan keji, tapi tidak rendah dan hina dina. Meski dia seorang pembunuh, tapi tidak malu kalau dia disebut seorang Kuncu sejati. Kini kalau dia sudah mati, buat apa kalian harus tanya siapa dia. Manusia setelah mati, namanya ikut terkubur!”

Kaypang Tianglo tiba-tiba menukas, “Tapi di mana jenazahnya? Seumpama dia sudah mampus, murid-murid Pang kita pun harus…”

“Apa yang hendak kalian lakukan atas jenazahnya? Jadi kau hendak menghadapi seseorang yang sudah mati, bukankah jalan pikiran dan niat kalian ini jauh lebih rendah dan hina dina dari si pembunuh itu?”

Biasanya, menghadapi persoalan apa pun, selamanya tidak pernah Coh Liu-hiang dipengaruhi emosinya.

Kaypang Tianglo ini belum pernah menghadapi amarahnya yang begini besar. Seketika ia bungkam dan amat jeri hatinya.

Berkata Coh Liu-hiang dengan lantang, “Kuberitahu kepada kalian bahwa dia sudah mati, kematiannya berarti mencuci segala dosa semasa hidupnya. Jikalau kalian tidak percaya, jikalau kalian masih belum puas, silakan kalian berdaya upaya sendiri! Tapi jika kalian berani datang merecoki aku pula, jangan salahkan bila aku bertindak kasar tidak tahu rasa sungkan lagi!” lenyap suaranya, bayangannya pun sudah menghilang di kejauhan. Sin eng dan Kaypang Tianglo berdiri menjublek di tempatnya.

Sampai pun Coh Liu-hiang sendiri tidak tahu dan heran kenapa dirinya hari ini berubah begini uring-uringan dan marah-marah. Mungkin menghadapi kematian Bu Hoa dia teramat sedih, pilu dan rawan. Atau mungkin lantaran dia teramat penat.

Apa pun yang telah terjadi, setelah pengalamannya ini, yang terpikir dalam angan-angannya adalah selekasnya pulang ke kapalnya, mengerek layar berlayar jauh ke tengah samudera meninggalkan khalayak ramai yang membosankan ini.

Dia hanya memikirkan, di dalam pelukan lautan teduh, hembusan angin laut nan hangat di bawah terik sinar matahari yang keemasan, mengendorkan seluruh urat syaraf dan otot-otot badannya, rebah dan istirahat dengan nyaman beberapa hari, minum beberapa arak anggur yang nikmat segar, makan buah-buahan segar dan hidangan lezat masakan Song Thiam-ji, rebah di samping So Yong-yong dan mendengarkan kisah dongengan Li Ang-siu yang mempesonakan.

TAMAT

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: