Kumpulan Cerita Silat

27/12/2007

Maling Romantis (15)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:07 am

Maling Romantis (15)
Oleh Gu Long

Kontributor: ferawati, axd002, monica, kalenteha, tanjung, mtv2006, agusis

Tatkala itulah mendatangi dua laki-laki besar berjubah sutera memasuki warung teh ini sambil mengobrol panjang pendek. Salah seorang laki-laki bermuka burik, di punggungnya menggendong sebuah buntalan kain kuning, sembari jalan ia berkata dengan tertawa: “Bertemu sahabat karib di rantau, sungguh merupakan kesenangan yang tak terhingga. Hari ini Siaute harus ajak Pang-heng minum sepuasnya!”

Laki-laki yang lain mukanya penuh ditumbuhi cambang bauk yang kaku, katanya bergelak tawa: “Chi-heng sudah lama menetap di Binglam ini, apakah hobimu hanya minum teh saja dan tak suka minum arak lagi?”

“Arak!” seru laki-laki burik tertawa lebar. “Pang-heng, setiap hari kau sudah biasa minum arak, tapi hari ini akan kusuguh kepadamu air teh yang lain dari yang lain, boleh dikata sebagai dewa di antara teh. Bukan Siaute suka membual, air teh seperti ini mungkin seumur hidup Pang-heng belum pernah merasakannya.”

Serta-merta perhatian dan pandangan semua hadirin dalam warung teh itu tertuju ke arah mereka. Tapi laki-laki burik ini anggap sekelilingnya seperti tiada orang lain, dari buntalan kain kuningnya ia keluarkan sebuah bumbung bambu sepanjang satu kaki. Begitu ia membuka sumbat bumbung, bau harum seketika merangsang setiap hadirin, seketika semangat terasa segar seperti memabukkan.

Laki-laki cambang bauk itu bergelak tawa, ujarnya, “Harum benar teh ini! Beberapa tahun tak berjumpa, tak nyana Chi-heng sekarang menjadi begini kikir.”

Dengan hati-hati laki-laki burik itu menuangkan secomot daun teh, lalu suruh pelayan menyeduhnya dengan air panas yang paling bening dari sumber asli, barulah dia berpaling dan berkata tertawa: “Bicara terus terang, walau sudah lama aku menyimpan daun teh sepeti ini, tapi jikalau tidak bertemu dengan Pang-heng sahabat lamaku, rasanya Siaute amat sayang untuk meneguknya meski hanya seteguk saja.”

Laki laki brewok itu tertawa, tanyanya: “Kalau Chi-heng begini kikir dan sayang meminumnya, kenapa selalu kau bawa-bawa ke mana kau pergi?”

“Lantaran daun teh ini adalah kegemaran seorang tokoh kosen Bulim Cianpwe. Dulu Siaute pernah mendapat budi pertolongannya, tiada sesuatu yang dapat kubalas, maka selama beberapa tahun ini dengan susah payah aku berusaha menemukan daun teh ini untuk kuhaturkan kepada beliau, terhitung sebagai balasan budi kebaikannya dulu. Kalau kuberikan benda lainnya, tentu beliau tidak mau terima!”

Kata laki-laki brewok: “Entah siapakah Bulim Cianpwe itu? Begitu patuh dan hormat sikap Chi-heng terhadapnya?”

Senyuman laki-laki burik itu semakin pongah, katanya kalem: “Tentunya Pang-heng pernah dengar nama besar Thian-hong Taysu?”

“Thian-hong Taysu?….” jerit laki-laki brewok. “Apakah Ciangbunjin Siau-lim-si sekte Selatan, Hong-tiang Taysu dari Siau-lim-si di Poh-han?”

“Betul, memang beliau adanya!” sahut laki-laki burik dengan bangga.

Tergerak tiba-tiba hati Coh Liu-hiang. Tak tahan segera ia maju menghampiri, serunya: “Boan-tian-sing (bintang bertaburan di langit), aku ini kan teman lamamu, kenapa kau tak undang aku minum teh?”

Laki-laki burik itu meliriknya sekilas, seketika ia menarik muka, katanya: “Siapa saudara ini? Cayhe agaknya amat asing terhadapmu.”

Coh-Liu-hiang tersenyum, ujarnya; “Tujuh tahun yang lalu di lorong Thi-say-cu di Pak-khia, memangnya Chi-heng sudah melupakan kejadian dulu?”

Belum habis ia berkata, laki-laki burik itu sudah melonjak bangun, serunya bergetar: “Apakah tuan adalah……..”

Coh Liu-hiang terloroh-loroh, tukasnya: “Cukup asal kau masih ingat, buat apa kau singgung namaku.”

Tersipu-sipu laki-laki burik menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, serunya hormat: “Tujuh tahun yang lalu, jikalau….. berkat pertolongan Kongcu, kalau tidak aku Chi-ma-cu (Chi si burik) tentu sejak dulu sudah terjungkal oleh Bwe-hoa-kiam Pui Hoan dan Siang-ciang-hoan-thian (Sepasang Tangan Membalik Langit) Cui Cu-ko. Aku Chi-ma-cu setiap saat selalu ingat dan ingin membalas budi pertolongan Kongcu dulu, sungguh amat gegetun karena jejak luhur Kongcu tidak menentu, sungguh tidak nyana hari ini akhirnya bisa bertemu dengan Kongcu di sini, sungguh aku ketiban rejeki besar.”

Agaknya laki-laki brewok itu amat heran dan tergerak hatinya melihat Chi-ma-cu yang terkenal susah dilayani dan lincah tangan ini sudi berlutut dan bersikap hormat terhadap anak muda ini. Tapi dia pun seorang kawakan Kangouw, bisa melihat gelagat lagi, lapat-lapat dia sudah dapat meraba bahwa pemuda ini tidak suka namanya disinggung di depan umum, sehigga asal-usulnya tidak diketahui orang banyak, maka ia pun tidak banyak tanya. Lekas ia pun bersoja dan menyapa: “Cayhe Pang Thian-ho, kelak kemudian harap Kongcu suka memberi petuah!”

Coh Lin-hiang tertawa lebar, ujarnya: “Nama besar Ya-yu-sin (Malaikat Gelandangan Malam), Cayhe pun pernah mendengarnya seperti geledek yang menyambar di pinggir telinga.”

Bertiga beruntun mereka menghabiskan tiga poci air teh kental. Setelah mengobrol ala kadarnya, barulah Coh Liu-hiang mulai memancing ke persoalan yang dituju. Katanya sambil pandang Chi-ma-cu dengan serius: “Tadi kudengar Chi-heng menyinggung nama Thian Hong Taysu, apakah Hweesio yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan pada empat puluh tahun yang lalu, dengan pukulan tangan memberantas Pat-ok (delapan durjana) dan melawan Thian-bun-su-lo seorang diri itu?”

“Ya, memang beliau,” sahut Chi-ma-cu.

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Kabarnya Taysu ini sudah lama mengasingkan diri, tak nyana sampai sekarang masih punya hobi menikmati daun teh.”

Chi-ma-cu ikut tertawa, katanya: “Dulu setelah Jip Sin Taysu wafat, seharusnya beliau orang tua yang mewarisi Ciangbunjin Siau-lim-pay. Tapi beliau orang tua malah menyerahkan kepada Ji-sutenya Thian Ouw Taysu. Jauh-jauh dia malah hijrah ke Binglam sini, konon lantaran menyukai daun-daun teh yang nikmat dan enak di sini.”

Cob Liu-hiang menepekur, katanya: “Sudah berapa lama Thian Hong Taysu pegang tampuk pimpinan Siau-lim-si di Poh-thian ini?”

“Hitung-hitung sudah lebih dari dua puluh tahun.”

Mendadak Coh Liu-hiang gebrak meja, serunya keras: “Tidak salah lagi! Tentu dia! Pasti dia! Seharusnya sudah kuingat akan dirinya.”

Chi-ma-cu melongo heran, tanyanya: “Apa Kongcu pun kenal baik dengan beliau?”

Selebar muka Coh Liu-hiang riang gembira, katanya: “Coba kau katakan, ketenaran nama besar Thian Hong Taysu, apakah jauh lebih unggul dari Jin-lopangcu dari Kaypang yang terdahulu?”

Chi-ma-cu tidak tahu ke mana juntrungan pertanyaan ini, katanya hambar: “Beliau orang tua boleh dikatakan merupakan simbol tertinggi dari seluruh Bulim di jaman ini. Memang ketenaran Jin-lopangcu amat berkumandang, tapi kalau dibandingkan beliau orang tua, kukira setingkat lebih rendah.”

“Ilmu silat beliau orang tua tentunya teramat tinggi dan susah diukur,” kata Coh Liu-hiang pula.

“Betapa tinggi kepandaian silatnya, mungkin Kongcu sendiri…” Chi-ma-cu merandek, “bukan tandingannya.”

Coh Liu-hiang tertawa: “Beliau punya latihan yang lebih ampuh dan membekal Lwekang yang tiada taranya, sudah tentu tak terkatakan tingkat kepandaian silatnya, seumpama pedang pusaka yang selalu disimpan tak pernah memperlihatkan pancaran sinarnya yang cemerlang!”

Chi-ma-cu pun tertawa, katanya: “Dalam kalangan Kangouw tersiar kabar bahwa lantaran senang minum teh maka beliau orang tua terima hijrah ke Binglam ini. Tapi menurut perkiraan Cayhe, mungkin beliau orang tua tidak suka keramaian dan memegang jabatan memikul tugas berat lagi, maka beliau tidak mau terima jabatan Ciangbunjin Siau-lim-pay di Siong-san.”

“Itulah benar. Sebelum Jin Jip, tokoh kosen yang bertanding dengan Thian-hong-cap-si-long, kecuali dia, siapa lagi? Bahwa Thian-hong-cap-si-long bisa menyerahkan putra sulungnya kepada beliau, sudah tentu mati pun ia bisa meram dengan tenteram!”

Chi-ma-cu semakin heran mendengar kata-kata ini, tanyanya memberanikan diri: “Siapa pula Thian-hong-cap-si-long itu?”

“Itulah seorang yang amat aneh.” sahut Coh Liu-hiang. “Walaupun berita kematiannya terbenam dalam keramaian, namun ia berhasil membuat Pangcu dari suatu sindikat terbesar di dunia ini dan Ciangbunjin dari golongan silat terbesar di Tionggoan, terima mewakili dirinya mengasuh dan mendidik kedua putra-putranya sampai dewasa.” Tiba-tiba tergerak hatinya, mendadak ia menjerit tanpa kuasa: “Dia menantang bertanding dengan Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu, bukan mustahil memang bertujuan menyerahkan kedua puteranya kepada beliau? Memang dia sendiri pernah mengalami derita hidup yang menyedihkan hatinya sehingga dia bosan hidup dan mencari jalan pendek, maka ia harap putra-putranya kelak bisa menonjol dan menjadi manusia besar yang berguna? Atau sebelumnya dia memang sudah berkeputusan pasrah jiwanya di tangan Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu, tujuannya supaya kedua orang ini dengan tekun dan gigih mendidik putra-putranya?”

Semakin bingung Chi-ma-cu mendengar omongan yang tak kenal juntrungan ini, tak tahan ia menyela pula: “Kongcu bermaksud Thian-hong-cap-si-long itu, demi…. ia rela korbankan jiwanya sendiri?”

“Dia tahu dua tokoh kosen seperti Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu tentulah tidak akan sembarangan mau menerima dan mendidik anak orang lain. Tapi jiwanya justru ajal di tangan mereka. Karena terpaksa, mau tidak mau tak bisa menolak lagi….”

“Sungguh patut dibanggakan dan harus dipuji ayah yang demikian, entah siapakah kedua putranya itu?” tanya Chi-ma-cu.

“Seorang adalah Lamkiong Ling,” sahut Coh Liu-hiang.

“Apakah Kaypang Pangcu yang baru?”

“Benar!”

“Dan seorang lagi?”

“Seorang lagi adalah… adalah…” Mendadak Coh Liu-hiang mendongak sambil tertawa getir, katanya setelah menghela napas: “Semoga tebakanku meleset. Dia sudah membunuh sembilan jiwa orang yang tak berdosa, sasaran selanjutnya….” Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, teriaknya: “Sasaran selanjutnya apa bukan Thian-hong Taysu?”

“Untuk ini Kongcu tak usah kuatir,” kata Chi-ma-cu yakin. “Peduli siapa pun orang itu, kalau dia ingin mencelakai jiwa Thian-hong Taysu, mungkin memang saat ajalnya sendiri sudah tiba. Meski Thian-hong Taysu sudah lama tidak mencampuri urusan duniawi, namun ilmu silatnya belum pernah berhenti dilatih.”

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya dengan tertawa kecut: “Kalau kau tahu siapa orang itu, tentu takkan mengeluarkan kata-kata seperti ini, ‘dia’….”

Tak tahan Chi-ma-cu mengajukan pertanyaan pula: “Siapakah dia sebetulnya?”

Agaknya Coh Liu-hiang segan mengatakan siapakah sebenarnya si ‘dia’ itu. Sesaat ia menepekur, tiba-tiba ia tertawa dan berkata: “Kebetulan aku ada urusan hendak menemui Thian-hong Taysu, kebetulan bisa membawa sekalian daun tehmu, kau kuatir tidak kalau kuantarkan?”

Bergegas Chi-ma-cu menurunkan buntalan kuning itu terus diangsurkan ke hadapan Coh Liu-hiang, katanya tertawa: “Jangan hanya soal daun teh, umpama Chi-ma-cu menyerahkan jiwa raganya, aku Chi-ma-cu pun tak perlu kuatir.”

Coh Liu-hiang tertawa-tawa. Belum sempat ia bicara lebih lanjut, mendadak dilihatnya pemilik warung teh ini menghampiri dirinya dengan sangat tergopoh-gopoh. Ia menjura hormat kepada Coh Liu-hiang, lalu berkata dengan unjuk seri tawa: “Seorang tamu yang duduk di meja pojok sebelah sana ingin bicara beberapa patah kata dengan Kongcu, entah Koncu sudi pindah ke meja sana sebentar?”

Di pojok ruangan sebelah sana memang ada sebuah meja dengan tiga buah kursi. Seorang berpakaian abu-abu sedang duduk menghadap pojok dinding, sejak tadi dia memang sudah duduk di sana, bergerak pun tidak, seperti patung layaknya. Orang ini mengenakan topi rumput datar sebesar baskom, kini topi besarnya itu dia tanggalkan ke belakang lehernya, sehingga batok kepalanya tertutup dan tidak terlihat dari belakang, yang kelihatan hanya gulungan rambutnya yang sudah ubanan.

Sejak datangnya tadi, belum pernah dia menoleh atau mengamati Coh Liu-hiang dengan jelas. Coh Liu-hiang pun belum pernah melihat raut mukanya, kenapa pula mendadak orang itu minta Coh Liu-hiang pindah ke sana untuk bicara?

Karena hati merasa heran, Coh Liu-hiang jadi tertarik dan ingin ke sana untuk melihat apa sebenarnya yang diinginkan orang itu. Baru saja kakinya melangkah ke sana, orang itu pun sudah bangkit dari tempat duduknya walau orang ini tetap tidak mau berpaling, seolah-olah di belakang punggungnya tumbuh sepasang mata saja.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, sekonyong-konyong ia bergelak tawa, ujarnya: “Apakah tuan ini adalah Sin-eng Go-lopothau?”

Badan orang itu agaknya rada tergetar, namun lekas sekali Coh Liu-hiang sudah menghampiri dan duduk di belakangnya, katanya tertawa besar: “Di kolong langit ini, kecuali Go-lopothau (opas tua she Go), siapa lagi yang mempunyai ketajaman telinga sesakti ini?”

Orang itu tertawa getir, katanya: “Di kolong langit ini, memang kenyataan tiada sesuatu yang dapat mengelabui Coh Liu-hiang si Maling Romantis.”

Tampak muka orang ini luar biasa sekali, tulang pipinya menonjol, dagunya pendek, biji matanya berkilat, sepasang kupingnya berwarna abu-abu putih, kiranya terbuat dari perak murni. Kalau tidak tertutup oleh topi rumputnya, sekali pandang saja orang lain akan tahu bahwa orang ini mengenakan telinga palsu.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: “Sejak berpisah di kota raja, tahu-tahu beberapa bulan sudah berselang, tak nyana suara aku orang she Coh ternyata masih belum terlupakan oleh Go-lopothau. Yang amat mengherankan, seingatku hari itu Cayhe seperti tidak mengeluarkan perkataan apa pun, entah dari mana Go-lopothau bisa tahu dan membedakan suaraku.”

Sin-eng tertawa: “Manusia di kolong langit ini bukan saja nada suara bicaranya berlainan, sampai pun derap kakinya waktu berjalan pun berbeda. Coh Liu-hiang si Maling Romantis membekal Ginkang yang tiada taranya, sudah tentu suara langkah kakinya jauh berlainan dengan orang lain. Aku si tua kecil ini kalau tidak bisa membedakan langkah kaki si Raja Maling, sepasang kupingku ini patut kuberikan kepada anjing saja biar digegares habis.”

“Pek-ih-sin-ji (Kuping Sakti Baju Putih) ternyata tidak bernama kosong,” Coh Liu-hiang memuji sambil mengacungkan jempol.

Mendadak ia menekan suara, lalu berkata dengan pelan-pelan: ” Dari jarak laksaan li Go-lopothau mengejar sampai di sini, apakah tujuanmu adalah Pek-giok-bi-jin itu?”

Sin-eng segera unjuk tawa dibuat-buat, sahutnya: “Umpama Losiu punya nyali setinggi langit, sekali-kali tidak akan berani minta barang yang sudah berada di tangan Maling Budiman!”

Coh Liu-hiang menatapnya lekat-lekat, “Lalu untuk apa pula tuan ke mari?”

Sin-eng pun menekan suaranya, sahutnya: “Losiu sedang menguntit jejak Boan-thian-sing Chi-ma-cu itu …….”

Coh Liu-hiang mengerutkan kening, katanya: “Apakah karena peristiwa di lorong Thi-say-cu tujuh tahun yang lalu itu?”

Sin-eng tertawa getir pula, ujarnya : “Semula Losiu tidak tahu bila peristiwa itu ada hubungan dengan Maling Budiman, kalau tidak sekali-kali aku tidak akan berani mencampuri persoalan ini. Tentunya kau tahu, seseorang bila dia menerima sesuap nasi dari jabatan dan tugas yang diberikan pemerintah, selama hidupnya jangan harap kau bisa bebas dari segala beban pertanggung-jawaban dari tugas yang dipikulnya. Ada urusan seumpama kau tidak suka mengurusnya, tapi terpaksa dan dipaksa untuk membereskannya.”

Berkata Coh Liu-hiang dengan heran : “Peristiwa tujuh tahun yang lalu memang Chi-ma-cu ada salahnya, tapi Bwe-hoa-kiam dan Siang-ciang-hoan-thian Cui Cu-ho mengandalkan kekuasaannya menindas orang, perbuatannya patut ditumpas dan diberantas. Apalagi karena peristiwa itu Chi-ma-cu insaf diri dan selanjutnya mencuci tangan dari pergaulan Kangouw, jauh-jauh menyingkir ke tempat ini. Ke mana pun ia pergi, Go-lopothau harus mengejarnya sampai di sini dan hendak memberantasnya? Janganlah kau mendesak orang sedemikian rupa.”

“Losiu hidup setua ini memangnya tidak bisa melihat gelagat dan tak tahu urusan ?” ujar Sin-eng tersenyum. “Sekarang aku sudah tahu bahwa Maling Budiman ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini, masakah aku berani banyak urusan lagi?” Ia menghela nafas panjang, lalu menambahkan : “Losiu mohon Kongcu bicara di sini sebenarnya masih ada persoalan lain yang mohon penjelasanmu.”

“Masih ada urusan apa?” tanya Coh Liu-hiang mengerutkan alis.

Sesaat Sin-eng ragu-ragu, katanya tandas: “Lamkiong Ling, Pangcu dari Kaypang, sepuluhan hari yang lalu sudah meninggal di Tay-bing-ouw di Kilam, kejadian itu entah apakah Maling Budiman sudah tahu?”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Tentunya Go-Lopothau tidak beranggapan akulah yang telah membunuh Lamkiong Ling, bukan?”

Lekas Sin-eng unjuk tawa pula, sahutnya : “Mana berani Losiu punya pikiran seperti itu, cuma . . . . . . . . . ”

“Cuma apa ?” Coh Liu-hiang mendesak.

“Cuma kematian Lamkiong Ling Pangcu sungguh amat mengerikan. Kabarnya, setelah ajal, badannya dicacah hancur berkeping-keping oleh orang, maka seluruh anggauta Kaypang semua bersumpah hendak menemukan si pembunuh.”

Coh Liu-hiang mengerutkan alis, sudah tentu dia tahu siapa orang yang mencincang badan Lamkiong Ling sampai berkeping-keping, dia bukan lain adalah Mutiara Hitam yang menuntut balas bagi kematian ayahnya. Sudah tentu terpikir juga olehnya bahwa murid Kaypang sampai sekarang belum tahu akan intrik Lamkiong Ling dengan si dia itu serta rencana jahatnya jangka panjang. Tapi semua persoalan ini dia tidak ingin diketahui atau dibicarakan dengan orang lain.

Terdengar Sin-eng berkata pula setelah menghela nafas: “Peristiwa saling bunuh-membunuh di kalangan kangouw memang tidak pantas losiu tanyakan atau mencampurinya, cuma soalnya Losiu ada hubungan amat intim beberapa puluh tahun dengan beberapa anak murid Kaypang, kali ini aku bertemu mereka di tengah jalan.”

“Memangnya anak murid Kaypang semua menyangka akulah yang turun tangan membunuh Lamkiong Ling?”

“Sekali-kali mereka pun tidak berani curiga kepadamu, cuma mereka mengatakan Maling Budiman pasti tahu siapakah biang keladi pembunuh dari Lamkiong Ling, oleh karena itu mereka mohon kepada Losiu bila bertemu dengan kau mewakili mereka tanyakan hal ini. Peduli kau Maling Budiman ini tahu atau tidak, cukup asal sepatah katamu saja, seluruh murid-murid Kay pang pasti tiada yang berani banyak komentar lagi.”

“Peristiwa itu ya memang aku mengetahuinya,” sahut Coh Liu-hiang dengan mata bersinar.

“Kalau Maling Budiman tahu, entah sudikah memberi penjelasan?” seru Sin-eng dengan jantung berdebar-debar.

Berkata Coh Liu-hiang dengan nada berat: “Seumpama aku memberitahu, kau pun takkan bisa berbuat apa-apa, namun . . . ” Mendadak ia bangkit berdiri serta menambahkan: “Tiga hari lagi, boleh kau menunggu kabarku di taman besar keluarga Lim di Poh-thian. Sampai saatnya pasti akan kujelaskan siapakah biang keladi dari pembunuhan Lamkiong Ling dan kuserahkan orangnya kepadamu.”

***

Tanpa kenal lelah Coh Liu-hiang seharian itu bertunggang di punggung kuda dan membedal kudanya dengan kencang, langsung menuju Poh-thian.

Maghrib kembali menjelang. Setelah menitipkan kudanya di tempat yang aman, cuaca petang gelap ini amat kebetulan malah untuk dirinya sehingga dengan leluasa langsung meluncur ke Siau-lim-si. Terasa olehnya waktu sudah terlalu banyak terbuang percuma, maka tidak sempat lagi ia datang secara sewajarnya sebagai tamu, tanpa memberitahu kedatangannya lagi.

Siau-lim-si di Poh-thian ini memang tidak sebesar dan seangker Siong-san Siau-lim-si, tapi kuil besar yang tenggelam dalam tabir malam ini kelihatan angker serta terasa amat seram seperti raksasa yang bercokol di atas gunung.

Angin malam menghembus sejuk dan sepoi sepoi basa, sayup-sayup terdengar suara tembang mantra, asap dupa kelihatan mengepul tinggi. Lapat-lapat terendus bau kayu cendana yang terbakar harum semerbak, alam diliputi keheningan yang khidmat dan agung, maka terasa hawa membunuh atau watak kekejian lenyap di sini.

Angin musim rontok menghembus gundul dedaunan dan menghamburkannya ke atas undakan batu. Pintu besar di ujung undakan batu di sana terbuka lebar, dari luar pintu di kejauhan samar-samar kelihatan pepohonan yang tumbuh tinggi besar di tengah pekarangan kelenteng.

Maju lebih jauh ke depan, itulah ruang pemujaan dan kamar berhala yang besar dan angker. Di tempat ini setiap orang, pada jam-jam tertentu, boleh keluar masuk dengan leluasa, tapi pada saat-saat tertentu bukan sembarang orang yang berani sembarang memasukinya. Nama Siau-lim memang sudah menggetarkan dunia, peduli siapa pun bila dia tiba di tempat ini, mau tidak mau pasti timbul rasa patuh, hikmah dan kewaspadaannya. Walau pintu di sini terbuka lebar, tapi siapa pula yang berani sembarangan melangkah ke tempat seram ini?

Coh Liu-hiang tidak masuk dari pintu besar, dia langsung melompati pagar tembok. Dalam relung hatinya lapat-lapat sudah mendapat firasat jelek, terasa meski waktu sesingkat apa pun tak bisa ditunda-tunda lagi.

Sinar surya yang terakhir masih memancar dengan cahaya kuning kemerah-merahan redup. Wuwungan rumah yang berlapis-lapis seperti berlomba mengadu ketinggian. Di bawah pancaran cahaya sinar matahari yang menguning ini, selayang pandang seperti puncak-puncak gunung yang bersambung, seolah-olah warna darah sudah bertaburan di puncak bukit.

Di manakah Thian-hong Taysu? Bagai burung walet, Coh Liu-hiang meluncur dari satu wuwungan ke wuwungan yang lain. Diam-diam hatinya bimbang dan bertanya-tanya. Tidak lebih badannya sedikit lebih merandek, maka terdengarlah seruan sabda Budha: “Omitohud!”

Belum lagi seruan pendek ini sirap suaranya, di wuwungan rumah yang tinggi ini berturut-turut berkelebat naik empat sosok bayangan gundul.

Keempat orang ini sama mengenakan jubah agama warna abu-abu, mengenakan kaos kaki warna putih, rata-rata berusia empat puluhan, empat raut muka yang angker dan serius, masing-masing memiliki sepasang biji mata berkilat tajam. Keempat pasang mata yang tajam bersinar ini semua menatap lekat-lekat ke muka Coh Liu-hiang.

Mau tidak mau Coh Liu-hiang amat terkejut dibuatnya: “Padri-padri Siau-lim ternyata memang tidak boleh dipandang rendah!” Hati membatin, sementara lahirnya tetap wajar, katanya tersenyum simpul: ” Para Taysu, apa sudah makan?”

Pertanyaan yang sudah biasa dan umum dalam pergaulan, sekedar basa-basi seseorang yang bertemu menjelang saat-saat waktu makan dengan teman baiknya, kebanyakan sering mengajukan pertanyaan seperti ini.

Akan tetapi dalam keadaaan dan di tempat seperti ini, tak urung keempat padri itu sekilas tertegun kemekmek. Padri tertua yang berdiri di paling kiri segera angkat bicara dengan suara sangat tajam: “Dua puluh tahun terakhir sudah tidak ada orang Kangouw yang pernah berpijak di atas wuwungan Siau-lim-si. Sicu (tuan budiman) hari ini ternyata melanggar kebiasaan ini, tentunya ke mari dengan sesuatu tujuan tertentu, silahkan kau jelaskan maksud kedatanganmu!”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Maksud kedatanganku, seumpama sudah kujelaskan, tentunya para Taysu tak mau percaya.”

Beringas muka padri tertua ini, bentaknya: “Kalau Sicu tidak mau menjelaskan maksud kedatanganmu, jangan heran kalau pinceng (Padri miskin) beramai akan turun tangan secara gegabah.”

Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya: “Selama hidup Cayhe paling pantang bergebrak dengan anak murid Siau-lim, buat apa para Taysu harus mendesak begini rupa melanggar kebiasaan lagi.”

Padri tertua itu menjadi marah, bentaknya: “Kalau Sicu tidak terus terang, silahkan ikut Pinceng turun ke bawah.” Seiring dengan bentakannya, lengan jubahnya yang gombrong itu tiba-tiba dikebutkan, melambai enteng laksana awan mengambang, pesat dan kuat seperti kilat menyambar, langsung menerjang ke tenggorokan Coh Liu-hiang serta membelitnya.

Sebagai seorang beragama, tidak enak para padri Siau-lim membawa senjata di kandang sendiri, maka lengan baju panjang dan gombrong ini sebagai ganti gaman mereka, dalam dunia persilatan hanya dikenal Lip-in-thi-sia (Lengan Besi Mega Mengalir) adalah pelajaran tunggal dari Bu-tong-pay, diluar tahu khalayak ramai bahwa kepandaian kebutan tangan jubah anak murid Siau-lim bukan saja tidak lebih asor dari kepandaian tunggal Bu-tong-pay itu, malah betapa besar dan kokoh kekuatan kebutan mungkin lebih unggul dan hebat luar biasa.

Serangan Hwi-siu-kang padri setengah baya ini bukan saja dapat dibuat menyerang secara kekerasan, dapat pula diubah secara lebih lunak, tenaga lunaknya malah jauh lebih bermanfaat karena sekaligus bisa untuk merebut gaman yang dipakai. Sementara kekuatan kerasnya menggetar putus urat nadi lawannya.

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Murid-murid Siau-lim semua baik dan alim, cuma wataknya saja yang rada berangasan.” Mulut bicara, sementara badannya sudah melambung tinggi ke udara bagai burung bangau melejit naik ke angkasa. Di kala kata-kata terakhirnya habis diucapkan, seenteng burung walet badannya sudah melesat empat tombak jauhnya.

Begitu kebutan lengannya mengenai tempat kosong, seketika tersirap darah padri setengah baya ini, serunya: “Sicu, hebat benar Ginkangmu, tak heran kau berani bertingkah dan mencari gara-gara di Siau-lim-si.”

Serempak keempat padri bergerak dengan tangkas, masing-masing bergerak menurut posisi masing-masing. Mereka sudah memperhitungkan, betapa pun jauh lompatan Coh Liu-hiang, tentu badannya akan meluncur turun dan pinjam wuwungan genteng untuk berpijak. Begitu kaki menyentuh genteng, berarti orang sudah masuk ke dalam barisan keempat padri ini.

Di luar tahu mereka, kehebatan Ginkang Coh Liu-hiang justru lain dari yang lain, ternyata badannya bisa meluncur terus tanpa mencari tempat berpijak. Badannya laksana ikan dalam air, sekali meliuk dan melejit pula, tahu-tahu badannya sudah melesat empat tombak pula ke depan dengan kepala di bawah kaki di atas, langsung ia menukik turun dan menghilang di bawah emperan yang gelap pekat. Terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan: “Cahye ke mari bukan untuk bertingkah. Setelah urusan kuselesaikan, pasti aku akan menemui para taysu untuk mohon maaf sebesar-besarnya.”

Keempat padri ini sama menjublek di tempat, rona muka mereka berubah beberapa kali.

Padri tertua itu bersuara dengan nada berat: “Hian-hoat segera memberi kabar akan terjadi perubahan. Hian-thong dan Hian-biau, ikuti jejakku.” Sembari bicara, lekas ia menubruk ke arah datangnya suara Coh Liu-hiang. Tapi bintang kelap-kelip di angkasa raya, angin malam menghembus sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pohon, mana kelihatan bayangan Coh Liu-hiang lagi?

Coh Liu-hiang maklum kalau saat sekarang dia minta bertemu dengan Thian-hong Taysu, sekali-kali para padri Siau-lim ini takkan sudi membawa dirinya. Kalau toh dijelaskan takkan menjadi beres, terpaksa ia main terobos dan bertindak kasar.

Begitu bayangan tubuhnya menyusup ke tempat gelap, cepat sekali sudah meluncur terbang pula ke depan, tidak menuju ke tempat lain, kembali dia melesat balik ke wuwungan rumah yang paling tinggi di mana tadi dirinya berpijak.

Dilihatnya ketiga padri yang memburunya berkelebat lewat di bawah emper rumah, siapa pun tiada yang menduga bahwa dia balik ke tempatnya semula, maka melirik pun tidak ke arah sini.

Coh Liu-hiang menunggu kira kira beberapa menit, maka terdengarlah di berbagai bangunan kelenteng yang luas dan besar ini suara ketukan Bok-khi yang bersuara datar, rendah dan berat. Beruntun kelihatan bayangan orang yang gesit dan tangkas berterbangan lompat dari satu wuwungan dengan lincah sekali.

Naga-naganya Siau-lim-si meski tempat yang aman tenteram, tapi betapa cepat dan cekatan gerak-gerik mereka dalam menghadapi perubahan ini serta kewaspadaan yang tinggi, sungguh tidak malu dipandang sebagai tempat terlarang dan angker bagi kaum persilatan.

Dengan tertawa kecut Coh Liu-hiang membatin: “Maksudku supaya bisa selekasnya berhadapan dengan Thian-hong Taysu, siapa tahu dengan adanya keadaan serba tegang dan ribut ini mungkin tidak leluasa aku bertindak.”

Teringat akan keadaan Thian-hong Taysu yang sungguh amat mendesak dan berbahaya, mau tidak mau hatinya jadi bingung dan gelisah. Apa boleh buat, sampai detik ini dia sendiri masih belum tahu di mana letak tempat bersemayam Thian-hong Taysu.

Kini suara Bok-khi sudah berhenti, suasana kelenteng kuno yang angker ini semakin hening lelap dan seram menakutkan.

Tapi terasa oleh Coh Liu-hiang suasana hening dan ketenangan yang luar biasa ini justru lebih berbahaya bagi dirinya. Kelenteng yang kelihatan dilingkupi ketenangan ini bahwasanya tersembunyi suatu mara bahaya yang hebat dan mengancam jiwa.

Namun tiada tempo buat dia untuk banyak berpikir. Sekilas ia pejamkan mata berpikir sebentar, mendadak ia menerjang keluar dari tempat gelap dan melesat ke sebuah wuwungan kelenteng di seberang sana.

Pakaiannya melambai melawan angin, badannya sudah melambung tinggi, seluruh bangunan kelenteng Siau-lim-si seolah-olah berada di bawah kakinya. Betul juga, jejaknya seketika kelihatan oleh orang di bawah.

Tampak bayangan orang mulai bergerak, berkelebat secepat kilat, dari pekarangan luas di berbagai tempat di bawah sana langsung menubruk ke suatu arah yang sama, cuma pekarangan kecil di sebelah barat sana sedikit pun tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.

Tanpa menunggu kedatangan mereka, cepat Coh Liu-hiang melesat ke arah sana, serunya sambil tertawa panjang, “Cang-king-kek, perpustakaan Siau-lim terkenal di seluruh jagat, para Taysu apakah boleh pinjamkan kepadaku untuk kubaca sekedarnya?”

Begitu lenyap suara tawanya, cepat sekali luncuran badannya membelok arah, tidak ke arah selatan, malah menuju ke beberapa gerombolan pohon-pohon besar yang rimbun dengan dedaunannya, ke sana ia melesat dan menyembunyikan diri. Terdengar sahut-menyahut di bawah sana berkata: “Ternyata benar orang tu hendak menyatroni ke Cang-king-kek.”

“Awas, hati-hati! Perhatikan Cang-king-kek!”

Kekayaan buku-buku agama yang tersimpan di Siau-lim-si memang menjagoi di seluruh dunia. Orang-orang yang menyerempet bahaya menyelundup masuk ke Siau-lim memang kebanyakan bertujuan mencuri kitab-kitab pelajaran silat, agama dan lwekang dan buku macam lainnya yang tak terhitung banyaknya, rata rata buku pusaka yang tak ternilai harganya. Para padri Siau-lim sudah tentu sama menyangka Coh Liu-hiang meluruk datang hendak mengincar sesuatu di Cang-king-kek, siapa pula yang tahu dan sadar bahwa dia sengaja memancing mereka bersuara di timur menggempur di barat, sengaja ia main petak umpet secara lihai.

Tampak bayangan orang berkelebat dan berlari-lari menuju ke timur, cepat sekali Coh Liu-hiang sudah meluncur ke arah barat, arah yang berlawanan.

Kali ini dia tidak meluncur di atas genteng, tapi menyusuri serambi panjang dari bangunan-bangunan megah itu. Di balik bayang-bayang pepohonan, semua kamar-kamar yang dilalui tiada kelihatan sorot api. Di antara keresekan bunyi dedaunan pohon, sayup-sayup terdengar tembang mantra yang mengalun lirih.
Pekarangan nan sepi tak kelihatan bayangan manusia, terasa dilingkupi suasana kesunyian yang tak terkendalikan. Kehidupan para padri di dalam kelenteng kuno yang serba sunyi ini, entah bagaimana mereka melewatkan hari demi hari dalam kehidupan yang tawar ini.

Tanpa berlambat-lambat lagi Coh Liu-hiang terus beranjak maju, sementara dalam hati diam-diam ia menghela napas. Bagi orang-orang yang tahan hidup dalam kesunyian ini, betapa pun dalam hati ia menaruh hormat dan salut setinggi-tingginya.

Soalnya Coh Liu-hiang cukup prihatin, dia sendiri pernah mengalami, tiada sesuatu kesunyian di dalam kehidupan duniawi seperti ini yang bisa ditahan.

Begitulah, dengan tindakan cepat, dari satu bangunan ke bangunan lain, dari pekarangan sini lewat ke pekarangan yang satunya pula, serambi sini, membelok ke sana, kamar-kamar yang dilewati semua gelap gulita. Lantai papan batu hijau yang kelihatan mengkilap tersorot sinar bintang-bintang di langit, sepetak demi sepetak meluncur mundur pesat sekali.

Sekonyong-konyong didengarnya suara bentakan yang berat: “Sicu harap berhenti!”

Segulung tenaga pukulan yang membawa deru angin amat dahsyat tahu-tahu sudah merangsek tiba ke mukanya.

Coh Liu-hiang kertak gigi, tidak berkelit tidak menyingkir, ia pun tidak balas menyerang. Dengan kekerasan kulit dagingnya, ia mandah digenjot oleh sejurus Pek-poh-sin-kun (Pukulan Sakti dari Ratusan Langkah) yang cukup ampuh untuk menghancurkan batu gunung sekalipun.

Tampak badannya bagai dilanda gelombang pasang yang dahsyat sehingga badannya terpental terbang ke belakang.

Padri beralis putih berjenggot panjang di hadapannya agaknya merasa di luar dugaan bahwa dengan sekali pukulannya dengan telak merobohkan lawan. Tapi terasa pandangannya serasa kabur, pemuda yang digenjotnya terpental terbang itu tahu-tahu melejit bangun dan terbang kembali ke hadapannya, malah berseri tawa lagi. Bukan saja gerak-geriknya cekatan dan enteng, pergi datang seperti kilat, lebih hebat lagi bahwa pukulan sakti dengan jurus Khek-san-bak-gu (Dari Balik Gunung Memukul Kerbau) dari Siau-lim ternyata sedikit pun tidak melukai anak muda ini.

Keruan si Taysu pengawas gereja yang punya latihan silat puluhan tahun dengan keyakinan lwekangnya yang tiada taranya seketika melongo dan menjublek di tempatnya. Dengan mendelong ia mengawasi Coh Liu-hiang, sesaat lamanya tak kuasa bersuara.

Coh Liu-hiang sengaja mandah terpukul, tujuannya memang hendak bikin si padri terkesima dan sementara tak bersuara membuat kaget orang lain. Kalau tidak, betapapun raganya bukan dibuat dari baja, memangnya ia kuat bertahan dari pukulan beruntun yang sudah cukup membuatnya kapok ini?

Akhirnya si padri berkata dengan pelan-pelan: “Sicu memiliki ilmu silat setinggi ini, Loceng belum pernah menghadapinya, entah dapatkah Sicu memperkenalkan diri?”

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: “Kalau Cahye perkenalkan namaku, mungkin Taysu akan sangka kedatanganku ini hendak mencuri buku pusaka di sini.”

Padri alis putih berkata: “Kalau Sicu hendak mencuri sesuatu di sini, pastilah kau tidak akan datang ke tempat ini.”

Coh Liu-hiang tertawa, terpaksa ia perkenalkan diri: “Cahye Coh Liu-hiang!”

Mencelos hati si padri alis putih, serunya tertahan: “Apakah Maling Romantis Coh Liu-hiang?”

Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa: “Taysu jauh berpisah dengan duniawi, tak nyana ternyata tahu juga julukan busuk Cayhe yang memalukan itu?”

Roman muka si padri yang semula tegang dan membesi sekarang kelihatan mengendor dan unjuk rasa gembira. Sorot matanya yang berkilat dingin kini terunjuk senyuman riang pula, katanya kalem: “Walau Loceng sudah lama terasing dari keramaian diunia persilatan tapi aku punya seorang Sute yang punya pengalaman luas dan pergaulan bebas. Setiap kali dia datang ke mari, tentu dia bercerita banyak persoalan lucu-lucu, aneh dan kisah yang menarik. Demikian juga kebesaran serta kepahlawanan Coh Liu-hiang yang perwira, merupakan kisah-kisah petualangan yang menarik di antara cerita-cerita yang kudengar.”

“Orang yang Taysu maksudkan apakah Bu Hoa?” tanya Coh Liu-hiang.

Padri alis putih tersenyum, ujarnya; “Selama ratusan tahun ini, murid Siau-lim yang punya pergaulan dan pengalaman luas seperti itu hanya dia seorang.”

“Dia….apakah sekarang dia berada di sini?” tanya Coh Liu-hiang tak sabar.

“Kedatangan Sicu apakah hendak mencari dia?”

“Maksud utama kedatangan Cayhe sebetulnya hendak mohon bertemu dengan Thian-hong Taysu.”

“Ciangbun-suheng sudah lama tidak menerima tamu orang luar, tapi terhadap Coh-sicu tentunya dia masih suka menerimanya, cuma sayang kedatangan Sicu sekarang kurang kebetulan.”

“Apakah Thian-hong Taysu sudah…” tanya Coh Liu-hiang gugup.

Padri alis putih tersenyum lebar, katanya: “Ciangbun-suheng sudah bebas dari segala kesulitan pikiran yang mengganggu kehidupan manusia pada umumnya, kini hanya punya hobi suka menikmati berbagai macam dedaunan teh, sejak kedatangannya dulu sampai sekarang kesenangannya belum pernah luntur dan berubah. Sekarang dia sedang melihat daun teh, siapa pun dilarang mengganggunya.”

Coh Liu-hiang menghela napas lega, katanya tertawa lebar berseri: “Jikalau Thian-hong sedang menikmati teh dengan penilaiannya seorang diri, sekali-kali Cayhe tidak berani mengganggu dan tidak segugup ini, cukup asal aku bisa bertemu lebih dulu dengan Bu Hoa Suheng juga sama sajalah.”

“Kalau kedatangan Sicu kebetulan tidak bisa berhadapan dengan Ciangbun-suheng, maka jangan harap kau bisa bertemu dengan Bu Hoa pula.”

“Kenapa?” tanya Coh Liu-hiang.

Padri alis putih tersenyum pula, ujarnya: “Murid Siau-lim kami yang pandai dan pernah menikmati serta menilai kenikmatan teh dari Tang-ni juga cuma Bu Hoa seorang. Asal dia datang ke mari, tugas pertama yang dia lakukan ialah menggodok wedang menyeduh teh bagi Ciangbun-suheng.”

Seketika berubah hebat air muka Coh Ling-hiang, jeritnya: “Jadi Bu Hoa sekarang sedang bantu Thian-hong Taysu menggodok wedang menyeduh teh?”

Padri alis putih manggut-manggut, sahutnya tertawa: “Kalau Coh-sicu ingin bertemu dengan mereka, mungkin harus tunggu sampai besok pagi.”

Boleh dikata saking gugupnya Coh Liu-hiang sudah hampir gila, namaun akhirnya dia bisa berlaku tenang, katanya: “Apakah di pekarangan belakang sana tempat mereka menikmati air teh?”

“Betul!” sahut padri alis putih manggut.

Tiba-tiba Coh-Liu-hiang menuding ke belakang padri alis putih, katanya: “Tapi yang mendatangi di belakang Taysu itu bukankah Bu Hoa?”

“Di mana?” tanya padri alis putih sambil berpaling.

Begitu dia berpaling, di belakangnya kosong melompong tak terlihat bayangan seorang pun. Waktu ia berpaling ke muka pula, Coh-Liu-hiang di hadapannya tahu-tahu sudah lenyap tak karuan perannya.

Begitu kepala gundul si padri berpaling, badan Coh Liu-hiang lantas menerjang terbang ke sana. Luncuran tubuhnya ini sudah ia kerahkan seluruh kekuatannya. Sebelumnya dia sudah incar dan siapkan tempat injakan kakinya. Begitu ujung kaki menutul bumi, kembali badannya melesat empat tombak. Belum lagi padri alis putih sempat berpaling, bayangannya sudah berkelebat puluhan tombak jauhnya. Ginkang Coh Liu-hiang yang tiada bandingannya di seluruh jagat, setelah dikembangkan di saat yang teramat genting ini, tempo kecepatannya sungguh luar biasa. Menunggu kepala si padri berpaling pula, bayangannya sudah menyelinap ke pinggir pagar tembok yang lebih rendah di belakang sana.

Di belakang pagar tembok yang rendah ini, terdapat sebuah pekarangan kecil pula, rumput dan pepohonan kembang tumbuh subur dan terawat baik di sini. Di tengah rumpun bambu di sebelah kiri sana, terdapat tiga bilangan gubuk pintu terbuka dengan kerai bambu menjuntai turun. Dari sela-sela kerai yang lembut memandang ke dalam, samar-samar kelihatan dua sosok bayangan orang sedang duduk bersimpuh berhadapan di atas lantai.

Suasana di sini sunyi senyap, angin menghembus dedaunan, bayangan orang di atas kerai jadi bergerak-gerak turun naik, seolah-olah mereka berdua sedang berada di khayangan.

Orang di sebelah kanan terang adalah Bu Hoa.

Sebuah anglo kecil yang terbuat dari tanah merah berada di depannya. Selain sebuah ceret tembaga dan sebilah kipas, terdapat pula seperangkat peralatan minuman teh yang amat bagus. Saat itu, tiga buah mangkok kecil sebesar cangkir arak sudah sama diisi penuh air teh, serangkum bau teh yang semerbak terendus keluar dari celah-celah kerai bambu, ditambah bebauan kuntum kembang harumnya sungguh memabukkan.

Yang duduk di hadapan Bu Hoa adalah seorang padri tua yang lanjut usia dengan badan kurus kering, jenggot dan alisnya sudah memutih. Saat itu dia sedang menerima secangkir air teh dari tangan Bu Hoa. Sambil pejamkan mata, pelan-pelan ia angkat cangkir teh itu ke dekat mulutnya hendak ditenggaknya habis.

Sekonyong-konyong Coh Liu-hiang membentak keras. Secepat anak panah ia menerjang masuk ke balik kerai bambu seraya berseru: “Air teh ini tak boleh diminum!”

Begitu melihat dirinya, seketika berubah roman muka Bu Hoa, tapi cepat sekali sikapnya sudah tenang kembali.

Sebaliknya kulit daging di ujung mulut Thian-hong Taysu sedikit bergerak pun tidak. Naga-naganya, andaikan dunia kiamat dan langit jatuh di hadapannya, roman mukanya pun takkan berubah atau terkejut.

Namun dengan kalem ia meletakkan cangkir tehnya, pelan-pelan pula membuka matanya yang terpejam.

Dipandang oleh sorot mata yang tajam ini, Coh Liu-hiang sendiri merasa rikuh dan serba salah malah.

KENANGAN MASA LALU

Berkata Thian-hong Taysu tawar: “Sicu ke mari main terjang secara gegabah, apakah tidak merasa terlalu kasar?”

Lekas Coh Liu-hiang menjura, sahutnya, “Cahye terlalu terburu nafsu, harap Taysu suka maafkan kekasaran Cayhe!”

Sesaat lamanya Thian-hong menatapnya lekat-lekat, katanya pula kalem: “Selama duapuluh tahun ini, yang bisa menerjang masuk ke mari sepanjang jalan ini, Sicu merupakan orang pertama. Kalau kau mampu ke mari, tentulah bukan orang sembarangan. Silakan duduk dan minum teh dulu, bagaimana?”

Padri agung dari Siau-lim ini ternyata latihannya sudah mencapai puncak kesempurnaannya, sedikit pun tidak timbul amarahnya karena ketenangannya terganggu, mau tidak mau Coh Liu-hiang merasa kagum dan memuji dalam hati.

Bu Hoa ikut tersenyum, timbrungnya: “Benar, kalau toh Coh-heng sudah ke mari, kenapa tidak duduk dulu minum secangkir teh untuk menghilangkan lelah di tengah jalan.”

Thian-hong Taysu tertawa tawar, katanya: “Ternyata Coh-sicu adanya, tak heran Ginkangmu begitu tinggi, dalam dunia ini tiada orang kedua yang bisa menandingi.”

“Tidak berani!” sahut Coh Liu-hiang merendahkan diri.

Berkata Thian-hong Taysu tertawa: “Walau sudah lama Lo-ceng terpisah dari urusan duniawi, tapi bisa berhadapan dengan kegagahan dan kehebatan tunas muda jaman ini, sungguh hatiku teramat gembira. Kuilku yang bobrok ini tiada arak untuk menyambut kedatanganmu, silahkan Coh-sicu minum teh saja.” Kembali ia angkat cangkir teh pula.

Lekas Coh Liu-hiang berseru mencegahnya lagi: “Teh ini tidak boleh diminum.”

“Walau air teh ini belum termasuk minuman dewata, sudah terhitung kualitas pilihan juga, kenapa tidak boleh diminum?”

Sekilas mengerling kepada Bu Hoa, tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, katanya: “Cayhe terima titipan seorang sahabat, kini kubawakan daun teh yang terbaru dan pasti luar biasa rasanya, dan lagi Cayhe yakin benar mengenai penilaian kualitas air teh ini Cayhe pun cukup ahli. Masakan Taysu tidak sudi mencicipinya lebih dulu?”

Seketika terbuka seri tawa Thian-hong Taysu, katanya senang: “Kalau demikian, biarlah Lo-ceng tunda minum yang ini dan rasakan dulu teh yang kau bawa.”

Padri tua yang sudah mencapai puncak kesempurnaan latihan Lwekang dan silatnya ini, menghadapi persoalan apa pun takkan tergoyahkan imannya, tapi mendengar adanya seduhan air teh dari seorang ahli, seketika tak terkendali rasa senangnya.

Dalam hati Bu Hoa teramat gusar, namun sikap dan mimik wajahnya sedikit pun tidak pernah menampilkan perasan hatinya. Ternyata ia pun tersenyum, katanya: “Tak nyana Coh-heng pun punya kegemaran ini. Bagus, sungguh bagus!”

Segera ia bangkit berdiri, tempat menyeduh teh ia berikan pada Coh Liu-hiang, sedang beberapa cangkir teh yang sudah dia seduh tadi semuanya dia buang keluar perkarangan.

Coh Liu-hiang memandangnya sekali, katanya tertawa: “Air yang begitu berharga dibuang begitu saja, apa tidak sayang?”

Dia tidak mengatakan ‘teh’ namun menyebut ‘air’, cuma saja tidak secara langsung ia menyebut nama Thian-it-sin-cui. Namun sikap Bu Hoa tetap tenang dan wajar, sahutnya tertawa: “Air hasil saringan dari cairan salju murni ini memang cukup berharga, namun simpanan dalam kuil kami tidak sedikit jumlahnya. Coh-heng kalau punya hasrat boleh nanti bawa segentong kalau mau pulang!”

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, dengan laku hormat ia bersimpuh dan mulai membuat api menggodok wedang.

Tiba-tiba Thian-hong Taysu tertawa tawar, katanya: “Sekarang airnya belum matang, Coh-sicu berkesempatan mengutarakan maksud kedatanganmu. Menghadapi teh kualitas paling baik adalah pada saat-saat hati Lo-ceng paling riang. Jikalau Coh-sicu ada persoalan yang perlu dibicarakan, kinilah saatnya yang terbaik.”

Mendadak terasa oleh Coh Liu-hiang senyum dikulum padri tua kosen yang tawar ini hakikatnya mengandung kecerdasan luar biasa yang tak terukur tingginya. Sorot mata yang tenang dan kalem ini seolah-olah bisa main selidik akan isi hati seseorang yang dipandangnya.

Perlahan-lahan Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Kedatangan Wanpwe hanya ingin mohon Taysu suka mendongeng.”

“Mendongeng?” Thian-hong Taysu rada mengerutkan kening.

“Puluhan tahun yang lalu, ada seorang pendekar samurai bernama Thian-hong-cap-si-long yang datang dari negeri seberang. Beliau pernah menantang bertanding kepandaian silat dengan para tokoh-tokoh silat kosen dari Tionggoan, satu di antaranya adalah Jin-lopangcu dari Kaypang, seorang yang lain entah apa benar Taysu adanya?”

Lama Thian-hong Taysu berdiam diri, entah sedang menepekur, baru akhirnya ia tarik napas panjang, katanya prihatin: “Peristiwa dua puluh tahun yang sudah lalu, Lo-ceng sudah hampir melupakannya,tak nyana hari ini Sicu menyinggung pula peristiwa itu… Benar, orang kedua yang Sicu maksudkan memang Lo-ceng adanya.”

Bersinar biji mata Coh Liu-hiang, katanya: “Thian-hong-cap-si-long menyeberangi lautan untuk menantang bertanding, namun tiada minatnya untuk mencapai kemenangan dan tidak mencari ketenaran, sebaliknya malah pasrah nasib dan terima binasa demikian saja. Kalau rabaan Wanpwe tidak meleset, apakah dia membekal sesuatu urusan hati yang menyedihkan?”

Kembali Thian-hong Taysu menepekur sekian lamanya, sahutnya pelan-pelan : “Rabaanmu tidak meleset, memang dia punya urusan yang menyedihkan.”

“Jikalau Taysu sudi menjelaskan, sungguh tak terhingga rasa terima kasih Wanpwe!” Coh Liu-hiang mohon setulus hati.

Berkilat tajam mata Thian-hong Taysu. Lama ia tatap Coh Liu-hiang, katanya menghela napas. “Pengalaman lalu laksana asap mega, sebetulnya Lo-ceng tidak mau menyinggungnya pula. Tapi Sicu datang dari tempat nan jauh, maksudnya hanya ingin tahu seluk-beluk peristiwa itu, dalam hal ini persoalan satu sama lain yang bersangkut-paut tentu amat besar artinya.”

Coh Liu-hiang mengangguk, ujarnya: “Taysu bijaksana dan tahu betapa pentingnya urusan ini. Wanpwe tidak akan menyimpan rahasia persoalan ini, sangkut-paut urusan ini memang amat penting dan besar artinya, tapi Wanpwe boleh berjanji dan bersumpah bahwa Wanpwe bersusah payah hendak membikin terang peristiwa misterius ini sekali-kali bukan demi kepentingan pribadi atau hendak mencari ketenaran, terutama bukan untuk maksud kejahatan.”

Thian-hong Taysu tertawa tawar, ujarnya: “Kalau Sicu punya maksud jahat dan tujuan pribadi, mana mungkin bisa duduk di tempatku ini?”

Bergetar jantung Coh Liu-hiang, lekas dia membungkuk hormat dan berkata: “terima kasih akan kebijaksanaan Taysu dan sukalah memeriksanya.”

Thian-hong Taysu pejamkan kelopak matanya, katanya pelan-pelan: “Thian-hong-cap-si-long teguh hati dan perkasa sekali. Sedemikian besar hobinya akan ilmu silat, namun sayang dia pun seorang yang terlalu romantis. Dua puluh tahun lebih yang lalu, Hoa-san dan Ui-san dua keluarga besar persilatan terjadi bentrokan hebat sehingga pertarungan berlangsung sampai bertahun-tahun, dengan akibat yang amat fatal bagi kedua belah pihak. Terutama pihak Ui-san, akhirnya mengalami kekalahan total dan habis-habisan, terakhir yang masih bertahan hidup tinggal Li Ki seorang.”

Tak tahan Coh Liu-hiang bertanya: “Apa sangkut-pautnya peristiwa ini dengan Thian-hong-cap-si-long?”

Tutur Thian-hong Taysu lebih lanjut tanpa hiraukan pertanyaan Coh Liu-hiang: “Demi menyelamatkan diri, nona Li Ki naik kapal dagang ikut berlayar ke negeri seberang, yaitu Hu-siang. Waktu itu dia sendiri pun terluka dalam yang cukup parah, ditambah kehidupan di atas lautan yang serba kekurangan, setiba di Hu-siang-to maka penyakitnya sudah teramat parah dan sukar disembuhkan lagi.”

“Apakah nona Li Ki ini akhirnya bertemu dengan Thian-hong-cap-si-long di Hu-siang-to itu?” tanya Coh Liu-hiang pula.

Thian-hong menghela napas, katanya: “Begitulah kejadiannya. Diam-diam sejak melihat pertama kalinya, Thian-hong-cap-si-long pun jatuh cinta kepadanya, sampai beberapa hari tidak bisa tidur tidak enak makan. Dengan segala jerih payah dan usahanya, lambat laun ia mengobati dan menyembuhkan nona Li. Sudah tentu mau tidak mau nona Li teramat haru dan merasa hutang budi akan ketelitian rawatannya yang begitu telaten. Hari keempat setelah luka-lukannya sembuh, lantas dia menjadi suami isteri dengan Thian-hong-cap-si-long.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Perjodohan ditentukan takdir dan kehendak Thian. Akad nikah terjadi di luar lautan, benar-benar merupakan suatu legenda yang menawan hati.”

“Cuma sayang kehidupan yang mereka kecap bersama tidak terlalu panjang. Setelah nona Li melahirkan dua orang putera Thian-hong-cap-si-long, suatu ketika mendadak dia tinggal pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat.”

Coh-Liu-hiang terperanjat, jeritnya: “Masakah dia kembali ke Tiong-toh pula?”

“Meski hal itu belum berani dipastikan lagi, kejadian tentu seperti terkaanmu, karena tidak lama setelah nona Li meninggalkan Thian-hong-cap-si-long, empat orang dari Hoa-san-cit-kiam yang masih ketinggalan hidup mendadak semua menemui ajalnya secara mengenaskan. Banyak tersiar kabar simpang siur di kalangan Kang ouw. Katanya, nona Li Ki, satu-satunva keluarga yang masih hidup dari warga Ui-san-pay, pulang menuntut balas bagi kematian ayah dan para saudaranva.”

Coh Liu-hiang menepekur, katanva kemudian: “Kalau demikian, pada waktu di Hu-siang to tentu nona Li ini pernah mempelajari semacam ilmu kepandaian silat yang tiada taranya, atau mungkin pula hasil pelajaran dari Thian-hong-cap-si-long!”

“Dalam hal ini terkaanmu tidak seluruhnya benar,” ujar Thian-hong Taysu. “Sekali-kali Thian-hong-cap-si-long tidak pernah mengajarkan sejurus ilmu silat kepadanya. Dia pasti pernah menemukan sesuatu keajaiban yang besar artinya. Mengenai rejeki besar apa yang dia pernah peroleh, hal itu dia rahasiakan dan mengelabui Thian-hong-cap-si-long pula.”

“Benar, penemuan nona Li itu pastilah amat luar biasa anehnya. Kalau tidak di dalam jangka waktu yang begitu pendek, ilmu silatnya takkan mungkin bisa maju berlipat ganda tingginya, sekaligus ia berhasil membunuh Hoa-san-su-kiam….. Tapi setelah ia berhasil menuntut balas, apakah dia tidak kembali ke Tang-ni untuk menengok dan mengasuh pula kedua putranya?”

“Tidak,” sahut Thian-hong Taysu. “Waktu itu putranya yang kecil masih merupakan orok kecil yang memerlukan air tetek ibunya. Betapa pedih dan marah Thian-hong-cap-si-long waktu itu, maka ia cepat-cepat berlayar pulang ke Tiong-toh dengan membawa kedua anaknya itu untuk mencari ibunya.”

‘Apakah dalam kalangan Kangouw wakiu itu tiada mendengar kabar beritanya nona Li itu?” tanya Coh Liu-hiang.

“Justru di situlah letak keanehannya,” ujar Thian-hong Taysu. “Setelah nona Li itu melakukan peristiwa besar yang mengejutkan langit menggetarkan bumi itu, ternyata lantas menghilang entah menyembunyikan diri di mana, seolah-olah ia menghilang dari permukaan bumi ini. Dengan susah payah Thian-hong-cap-si-long mencarinya selama setahun lebih tanpa hasil, akhirnya dia putus asa…. Waktu itulah baru dia datang ke mari.”

“Jadi, begitu tiba di Tiong-toh, dia tidak lantas menantang bertanding dengan Taysu?” Coh Liu-hiang menegas.

Thian-hong Taysu menarik napas panjang, ujarnya: “Dia mendesak dan ribut kepadaku menantang bertanding, aku berkukuh menampiknya. Belakangan, saking kewalahan, dia main kasar dan membakar Cang-king-kek. Aku terdesak dan apa boleh buat, terpaksa kuterima tantangannya untuk mengadu tiga kali pukulan tapak tangan. Siapa tahu… siapa tahu waktu aku lancarkan pukulan yang ketiga, ternyata dia tidak berkelit dan tidak menyingkir, tidak lantas menyerang atau melawan pula, karena tak sempat menarik kembali, sehingga dia terluka parah.”

Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya: “Ternyata tidak meleset terkaan Wanpwe. Waktu itu dia sudah putus asa dan dingin perasaannya, tiada niatnya hidup lebih lama pula, maka dia pikir hendak menyerahkan kedua putranya kepada dua orang yang cocok dipasrahi, maka tanpa tanggung-tanggung sengaja dia terima dilukai oleh Thian-hong Taysu.”

Tutur Thian-hong Taysu lebih lanjut dengan rawan: “Setelah aku melukainya, segera kupapah dia masuk ke tempat semediku. Siapa tahu, di saat aku mengambil obat, tahu-tahu dia sudah pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat. Dibeberkannya pengalaman hidupnya, minta pula kepadaku supaya mau menerima putra sulungnya serta mendidiknya. Waktu aku menyusul ke tempat yang dia tunjuk dalam suratnya, pikirku hendak mengembalikan putra sulungnya itu, ternyata di tempat itu aku bertemu dengan Jin-lopangcu, barulah aku tahu bahwa dia sudah menemui ajal di tangan Jin-lopangcu.”

Cerita panjang yang merupakan tragedi yang menyedihkan ini dituturkan oleh seorang padri tua dengan tenang dan mantap bagaikan sang Budha, lebih terasa merasuk dan mengundang kepiluan yang menyesakkan napas dan misterius.

Sejak tadi Bu Hoa duduk dengan tenang di tempatnya, sekalipun tidak kentara perubahan mimik mukanya. Thian-hong Taysu dan Coh Liu-hiang sejak tadi pun tak berpaling kepadanya, seolah-olah tiada kehadirannya di tempat itu.

Seolah-olah seorang yang berada di luar lingkungan dan persoalan yang dibicarakan sedikit pun tiada sangkut paut dengan dirinya, cerita memilukan yang dikisahkan Thian-hong Taysu itu seperti tidak pernah mengetuk sanubarinya.

Sesaat keheningan melingkupi ruang semedi yang kecil ini, disusul suara air bergolak memecah kesunyian.

Dengan laku hati-hati dan pelan-pelan Coh Liu-hiang mulai menyeduh daun teh yang dia bawa.

Advertisements

1 Comment »

  1. bagus………………….deh

    Comment by febri — 18/06/2008 @ 9:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: