Kumpulan Cerita Silat

25/12/2007

Maling Romantis (13)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:06 am

Maling Romantis (13)
Oleh Gu Long

Kontributor: kalenteha, sikasep, bpranoto, agusis, axd002, iwan1991

“Permainan caturku ini teramat menakjubkan. Silahkan kau peras otak memecahkannya, aku berkesempatan untuk menunaikan hajat, di mana tempat hajat yang terdekat, terpaksa Lamkiong-heng harus tolong menunjukkan tempatnya.”

Dengan tersenyum Lamkiong Ling bawa dia ke belakang. Coh Liu-hiang sudah kebelet dan di ujung tanduk, terburu-buru ia berlari masuk, namun lewat lobang angin di sebelah belakang sana ia meluncur keluar. Lobang angin ini kira-kira satu kaki lebarnya, bocah ingusan pun sukar lewat lobang sekecil ini, siapa tahu tulang belulang dan badan Coh Liu-hiang sudah dilatihnya sedemikian rupa sehingga bisa dipasang-surutkan menjadi kecil dan lemas, cara yang ditempuh benar-benar jalan yang tak mungkin dibayangkan orang lain.

Setelah melayang jauh puluhan tombak, barulah Coh Liu-hiang tersenyum geli, batinnya : “Bu Hoa, Bu Hoa, permainan caturku tadi memang busuk dan tak bisa dicium, karena kau harus memecahkan letak kehebatan dari cara permainanku itu, boleh dikata laksana mencari tulang dalam telur…. tapi permainan caturku memang lain dari yang lain. Di saat kalian sangka aku terjeblos ke dalam kakus, mungkin aku sudah tiba di gunung Hi-san.”

Pepohonan rimbun melambai bergoyang menyambut datangnya musim semi. Di luar pintu selatan, memang pemandangan alam di Kilam menyerupai Kanglam, terutama pada malam bulan purnama seperti ini, lebih jelas kentara akan persamaan ini.

Di bawah bayangan dedaunan pohon yang menjuntai turun, tak kelihatan bayangan orang, yang ada hanyalah sepasang biji mata yang bersinar terang kemilau. Bagai asap melayang, Coh Liu-hiang meluncur ke sana dan berbisik: “Mana kudanya?”

“Kau masih sembunyi-sembunyi, sebetulnya hendak ke mana?” tanya Mutiara Hitam.

“Kalau bukan rahasia, masakah aku bisa bertindak sembunyi-sembunyi? Jikalau rahasia, mana boleh kuberitahu kepadamu.”

“Kalau tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepadamu? Kalau aku tidak percaya kepadamu, buat apa kupinjamkan kuda kepadamu?”

“Hanya perempuan yang suka mencari tahu rahasia orang lain, cuma perempuan biasa menggunakan caranya ini untuk memeras orang. Kenapa kau jadi meniru watak seorang perempuan?”

Mutiara Hitam tercengang. Walau tidak kelihatan perubahan air mukanya di malam nan gelap ini, namun dari sorot matanya yang dingin itu kelihatan terjadi perubahan yang rumit atas pikirannya.

Akhirnya dia bersuit perlahan, derap kuda lantas terdengar lari mendatangi, langkah kakinya sedemikian enteng laksana dahan pohon liu yang tergontai terhembus angin, hampir tak kedengaran tapak kakinya berdentam di atas tanah.

“Aku tahu, sekali-sekali kau tidak akan sudi dianggap sebagai kaum perempuan,” ujar Coh Liu-hiang.

Mutiara Hitam melengos, tiba-tiba ia berpaling pula, tanyanya: “Kapan kau kembalikan kudaku? Di mana aku harus menunggu?”

Coh Liu-hiang mencemplak naik ke atas kuda, sahutnya: “Sekarang kau sudah tidak menghadapi bahaya, pergilah ke kota dan main sesuka hatimu, ingin ke mana pun tak usah kuatir diganggu murid-murid Kaypang. Dalam dua hari ini kudamu kukembalikan, bila aku belum mati lho.” Belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah keprak kudanya membedal ke depan sambil tertawa panjang.

Kuda itu memang sakti dan hebat luar biasa. Coh Liu-hiang mengeluarkan kemahirannya naik kuda, sekencang-kencangnya ia larikan kuda ini, terasa angin menderu di pinggir kupingnya, pepohonan di kedua samping jalan berkelebat mundur ke belakang cepat sekali. Memang kecepatan laksana kilat inilah yang paling disenangi oleh Coh Liu-hiang, bukan lantaran tiada sebab maka Coh Liu-hiang ingin pinjam kuda ini, yaitu karena dia tidak ingin menguras tenaga hanya untuk menempuh perjalanan jauh ini. Tenaga perlu dia pertahankan untuk melakukan sesuatu yang teramat penting artinya.

Waktu kuda Jian-li-kik membawanya tiba di Ni-san, sementara tengah malam sudah berselang, di bawah gunung Coh Liu-hiang mencari rumah pemburu dan titipkan kudanya di sana. Dengan menyongsong terbitnya matahari, langsung ia mendaki ke atas gunung.

Cahaya matahari membuat balok batu yang melintang itu kelihatan sangat mengkilat, tapi kali ini tiada orang yang merintangi jalan Coh Liu-hiang. Kicauan burung nan merdu seolah-olah menyambut kedatangannya, segalanya serba tenang dan tentram. Gubuk-gubuk yang kokoh berderet di sana masih tetap di bawah tingkah sinar matahari, pintu masih setengah terbuka. Melongok ke dalam lewat jendela yang terbuka, keadaan sunyi-senyap tiada sesuatu gerakan.

Segala ketenangan ini tak kelihatan adanya tanda-tanda sesuatu kekerasan terjadi, tetapi terlalu tenang dan sunyi, sehingga hati Cob Liu-hiang merasakan firasat jelek. Tanpa mengetuk pintu, langsung ia menerjang masuk ke dalam.

Ternyata Chiu Ling-siok sudah tidak di tempatnya lagi. Di atas kasur bundar tempat duduknya hanya ketinggalan sebuah tusuk konde hitam terbuat dari gading, bebauan harum masih terendus cukup keras.

Tersirap darah Coh Liu-hiang, serunya: “Jin-hujin…. Jin-hujin…. di mana kau?”

Sudah tentu ia tahu seruannya itu takkan mendapat jawaban. Sembari berteriak-teriak, lekas sekali ia sudah menggeledah ketiga gubuk berderet itu dengan seksama, namun bayangan nyamuk pun tidak ditemukan. Selagi perabot dan benda di dalam gubuk masih tetap pada tempatnya seperti tidak pernah disentuh tangan, tidak terlihat pula adanya tanda-tanda perkelahian di sana.

Tapi Jin-hujin Chiu Ling-siok ke mana perginya? Seperti anjing pelacak yang mengejar buruannya, sekali lagi Coh Liu-hiang mulai mencarinya dengan lebih teliti, dia mengharap Jin-hujin ada meninggalkan sesuatu apa-apa meskipun itu hanya sebuah tanda rahasia, tapi tentulah amat besar artinya.

Tapi setiap sudut setiap tempat tertentu sudah dia periksa dengan teliti, tiada sesuatu tanda-tanda atau tulisan yang memberikan keterangan. Bantal guling tertata rajin di atas ranjang, pakaian pun tertumpuk rapi di dalam lemari, di atas toilet menggeletak tiga batang sisir yang dijajar dan bersih, perabot-perabot rumah tangga berada di tempat masing masing. Semuanya serba beraturan tidak ada satu kesalahan.

Kalau tempat ini mau dikatakan ada sesuatu yang ganjil, yaitu bahwa semua serba rapi, rajin dan beraturan pula seperti hendak sengaja ditata dan diatur sedemikian rupa untuk dipamerkan pada orang.

Dengan kepala terasa berat, Coh Liu-Hiang melangkah keluar, sorot matanya tiba-tiba tertumbuk pada tusuk konde hitam yang menggeletak di atas kasur bundar itu. Kasur ini adalah kasur yg sering dipakai oleh Jin-hujin, di atas kasur ada menggeletak tusuk kondenya, sebetulnya tidak perlu dibuat heran, maka pada waktu datangnya tadi Coh Liu-Hiang sedikit pun tidak menaruh perhatian.

Tapi sekarang setelah ia melihat keadaan rumah yang serba aneh dan ganjil ini, maka sebatang tusuk konde pun terasa terlalu menyolok pemandangan, karena tusuk konde ini melulu tidak diletakkan pada tempat yang sebenarnya, mana bisa berada di kasur bundar ini kalau tidak ada sesuatu maksud tertentu?

Dengan kedua jarinya, pelan pelan Coh Liu-Hiang menjepit tusuk konde ini, tiba-tiba didapatinya ujung tusuk konde ini menunjuk pintu kecil yg menembus ke belakang. Sampai detik ini pintu itu masih tertutup rapat. Tergopoh-gopoh Coh Liu-Hiang melompat ke arah pintu kecil tersebut, terasa daun pintu terkunci atau terpalang dari sebelah luar sana. Sorot matanya seketika memancarkan cahaya terang yang amat menggembirakan hati, tanpa ayal ia mengayunkan kaki menendang jebol dan melompat keluar.

Belakang gunung jauh lebih belukar dan jarang diinjak kaki manusia.

Seperti seekor kucing yang hendak mengincar mangsanya di rumpun semak belukar, tiba-tiba dilihatnya di atas dahan pohon berduri sebelah kiri melambai secuil kain sobekan warna hitam. Kain itu jelas sobekan baju yg dipakai oleh Jin-hujin. Lekas Coh Liu-hiang membelok ke kiri lalu berjalan cepat-cepat dengan hati-hati, sekoyong-koyong didengarnya seringai tawa seram.
Seseorang berkata sambil terloroh-loroh kesenangan: “Kalau kau tidak sudi aku menyentuh seujung jarimu, aku pun tidak mau memaksa, sampai sekarang kenapa tidak kau lekas lompat saja?” Seringai tawa dan kata-kata ini ternyata dikeluarkan oleh pengemis galak dari Bulim, Pek-giok-mo adanya.

Disusul terdengar suara Jin-hujin berkata: “Aku toh bakal mampus, kenapa kau masih begitu tergesa-gesa?”

Pelan-pelan dan hati-hati Coh Liu-hiang menggeremel maju, perawakan tubuh Jin-hujin yang ramping semampai sedang berdiri di ambang jurang, hembusan angin gunung melambaikan pakaiannya, seolah-olah sembarang waktu dia bisa terhembus jatuh ke bawah.

Cadar hitam masih menutupi mukanya, kedua tangannya memeluk sebuah gentong kecil berisi abu Jin-lopangcu, sementara sambil menyeringai sadis Pek-giok-mo menghadang di depannya kira-kira empat kaki jauhnya, gaman yang dia pakai sekarang ganti sebatang Long-gee-pang yang berat dan ganas itu.

Hanya Pek-giok-mo seorang, diam-diam Coh Liu-hiang bersyukur dan lega hati.

Terdengar Pek-giok-mo membentak keras: “Cepat mati lekas menitis pula, kalau kau tahu bakal mati, kenapa ulur-ulur waktu?”

“Nyawa amat berharga, bisa hidup sekejap lagi pun jauh lebih baik.”

Gigi Pek-giok-mo gemeretak, desisnya: “Untuk menuntut balas kepada Jin-lothau, aku sudah menunggu dua puluh tahun! Meski aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, melihat abu jeneazahnya tersebar beterbangan dan sekarang dapat memaksamu putus jiwa lagi, terhitung terlampiaslah dendam hatiku selama ini.”

“Aku tahu kau mencariku untuk menuntut balas, tapi cara bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?” tanya Chiu Ling-siok.

Pek-giok-mo menyeringai sinis, ujarnya: “Kau kira tempatmu ini amat rahasia?”

“Memang tempat ini amat tersembunyi dan rahasia.”

“Tempat yang begini tersembunyi, siapakah orang yang membawamu ke mari? Bukan mustahil kalau dia tahu bila kau berada di tempat ini?”

Sesaat lamanya Chiu Ling siok berdiam diri, katanya sambil menghela napas panjang:”Ya, sejak lama seharusnya sudah kupikirkan hal ini, cepat atau lambat dia pasti takkan membiarkan aku hidup!”

“Kalau pertanyaanmu sudah habis, apa lagi yang kau tunggu?” bentak Pek-giok-mo.

“Kalau toh kau sudah menunggu dua puluh tahun, kenapa harus ribut dan tak sabar menunggu lagi beberapa kejap?”

Jelalatan mata Pek-giok-mo, katanya menyeringai: “Apakah kau sedang menunggu orang untuk menolongmu? Bukankah kau sedang bermimpi?”

Chiu Ling-siok mendongak, agaknya sedang melihat cuaca, katanya memilukan: “Sampai detik ini memang tiada orang yang akan bisa menolongku …. mati, bagaimana rasa sebenarnya?” Dengan memeluk gentong berisi abu jenazah itu, dia sudah siap menerjunkan diri ke dalam jurang.

Mendadak Coh Liu-hiang keluar seraya membentak: “Pek-giok-mo, walau selamanya aku belum pernah membunuh orang, tapi asal tanganmu bergerak, biar kubunuh kau lebih dulu.”

Long-gee-pang di tangan Pek-giok-mo sudah terangkat, namun seketika itu ia berdiri menjublek dengan mata terbelalak.

Cepat sekali Coh Liu-hiang bertindak tanpa memberi kesempatan orang memutar otak. Di tengah suara bentakannya, bayangan badannya seperti elang menyambar mangsanya, ia jinjing badan Chiu Ling-siok dari pinggir jurang.

Baru sekarang Pek-giok-mo sadar dan gusar, bentaknya: “Orang she Coh! Kenapa kau selalu turut campur urusan orang lain?”

Long-gee-pang yang panjang dan berat itu tahu-tahu sudah melanda datang menyapu ke arah Coh Liu-hiang dah Chiu Ling-siok.

Long-gee- pang adalah gaman panglima perang yang biasa digunakan dalam medan laga. Betapa berat, kuat dan hebat macam senjata ini, jarang terlihat dipakai oleh tokoh-tokoh persilatan pada umumnya. Pek-giok-mo memang dibekali tenaga raksasa pembawaan sejak dilahirkan, senjata yang begitu berat dapat dia mainkan dengan lincah, enteng dan serasi sekali.

Siapa nyana, tidak berkelit atau menyingkir, Coh Liu-hiang justru memapak maju. Waktu menarik dan menjinjing badan orang tadi, Coh Liu-hiang sudah menginsafi bahwa Chiu Ling-siok sudah kehilangan kepandaian silatnya, maka sekali-sekali ia takkan membiarkan orang cidera sedikit pun. Oleh karena itulah maka ia bertindak cepat, tegas dan menempuh bahaya.

Tampak bayangan badannya menekuk dan menggeliat, tahu-tahu badannya sudah menyusup dan menerjang ke dalam sambaran Long-gee-pang yang bergigi-gigi tajam, runcing dan kemilau itu. Secara mendadak ia turun tangan menarik dan menyodok ke sikut Pek-giok-mo.

Maka lengan Pek-giok-mo yang bergerak mengikuti ayunan Long-gee-pang itu serta merta tersentak naik dan tak kuasa mengendalikan diri pula! Tahu-tahu tapak tangan Coh Liu-hiang sudah menepuk ke bawah ketiaknya. Seketika Pek-giok-mo merasakan setengah badannya kesemutan dan kemeng, Long-gee-pang tak kuasa dipegang lagi dan terpental terbang ke tengah udara menembus mega, jatuh ke dalam jurang.

Gerakan menyanggah, menyodok dan menepuk dari Coh Liu-hiang, kalau dikatakan amat biasa dan tiada sesesuatu keistimewaannya, tapi betapa besar bahaya cara serangannya itu serta keanehan gerak tipunya, siapa pun takkan mampu melakukan atau menirunya.

Sungguh mimpi pun Pek-giok-mo tidak pernah berpikir, dalam satu gebrak saja gamannya secara aneh kena dilucuti oleh lawan. Selama puluhan tahun ia malang melintang di Kangouw, belum pernah ia mengalami peristiwa yang memalukan seperti ini, tanpa sadar ia melongo di tempatnya.

Dilihatnya Coh Liu-hiang berdiri di hadapannya dengan adem ayem seperti tidak pernah terjadi apa-apa, katanya tersenyum lucu: “Tidak kau lekas pergi?”

Ternyata ia tidak menyerang lebih jauh, malah memberi kesempatan Pek-giok-mo pergi demikian saja. Lebih tak terpikir oleh Pek-giok-mo, hari ini ia mengalami kejadian yang lebih ganjil ini. Dirinya kejam dan telengas bertangan gapah, sudah tentu takkan pernah terpikir olehnya jiwanya bakal diampuni sedemikian saja. Sesaat lamanya ia kemekmek dan tak tahu entah kaget, girang atau heran. Katanya tersendat: “Kau…. masakah kau…..”

Berkata Coh Liu-hiang tawar: “Asal setiap saat kau berpikir ‘kenapa aku belum mampus?’, maka selanjutnya kau akan tahu diri cara bagaimana bersikap terhadap sesama manusia!”

Tanpa bicara lagi Pek-giok-mo segera putar tubuh dan lari sipat kuping.

“Klontang!” baru sekarang terdengar gema suara keras dari bawah jurang sana, kiranya baru sekarang Long-gee-pang jatuh menyentuh dasar jurang. Coh Liu-hiang pelan-pelan putar badan menghadapi Chiu Ling-siok dengan tersenyum lebar: “Agaknya cayhe datang terlambat!”

“Betapapun, akhirnya kau datang juga,” ujar Chiu Ling-siok bersyukur menghela napas, lalu sambungnya: “Sekilas pandang aku lantas tahu kau seorang pandai, pasti bisa menangkap arti kata-kataku, maka kau pasti akan memburu datang pula. Maka waktu Pek-giok-mo mencariku, aku berusaha menyembunyikan diri dan perlahan lahan lari ke tempat ini. Mendengar aku ke mari hendak terjun ke bawah jurang, maka ia menunda-nunda turun tangan.”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Kalau bukan karena keagungan Hujin, mana bisa membuat Pek-giok-mo yang buas bertangan gapah itu jeri menyentuh badan Hujin? Jikalau bukan mendapat petunjuk tusuk konde hujin, mana cayhe bisa memburu ke sini pula?”

Kedua orang lain jenis yang sama pintar dan cerdiknya itu ternyata bertemu di tempat ini secara kebetulan. Berkata Chu Ling-siok sambil tertawa-tawa: “Ketahuilah bahwa apa yang kulakukan ini bukan demi mempertahankan jiwaku sendiri. Tapi jika tidak kubeberkan rahasia yang kupendam dalam relung hatiku, bukankah kematianku terlalu disayangkan?”

“Apakah boleh sekarang Hujin tuturkan rahasia hatimu itu?”

“Kalau sekarang tidak kubeberkan, maka mungkin selamanya tidak akan ada kesempatan lagi, tapi hal ini sangat rumit dan menyangkut persoalan besar yang amat penting artinya, cara bagaimana aku harus memulai ceritaku?”

Tanpa berpikir Coh Liu-Hiang berkata tegas:”Surat! Tentunya dari keempat pucuk surat yang Hujin kirim itu, surat-surat yang diterima oleh Ca Bok-hap, Sebun Jian, Ling Ciu-cu dan Cou Yu-cin bukan tulisan dan kiriman Hujin?”

“Ya ….. Akulah yang membuat celaka jiwa mereka.”

“Kenapa Hujin menulis surat-surat itu, kesulitan apa yang Hujin hadapi?”

“Pernahkah kau dengar cerita Han Sian Te pada jaman kuno dulu. Sebagai raja dia seperti boneka atau golekan yang dikekang dan dipermainkan oleh para mentrinya, bukan saja tidak punya hak kekuasaan dan tak bebas bertindak, malah jiwa sendiri pun tak mampu dipertahankan.”

Tersirap darah Coh Liu-hiang: “Masakah Jin-lopangcu pun…….”

“Keadaan Jin Jip selama tiga tahun belakangan ini, persis benar dengan raja yang harus dikasihani itu. Namanya saja dia sebagai Kaypang Pangcu, apa pun yang harus dia lakukan harus tunduk dan patuh oleh petunjuk seseorang.”

Tak tahan bertanya Coh Liu-hiang: “Terkekang oleh siapa dia?”

“Lamkiong Ling!” sahut Chiu Ling-siok sepatah demi sepatah dengan tandas.

Coh Liu-hiang membanting kaki: “Kiranya memang benar dia, memang dia!”

“Asal mulanya dia seorang anak yatim piatu, sejak kecil dia diasuh dan dirawat serta dididik oleh Jin Jip, diberi pelajaran ilmu silat lagi. Memang bocah itu berotak encer, pintar sekali, apa pun yang diajarkan Jin Jip pasti dapat dia pelajari dengan baik dan sempurna, malah lambat laun jauh mengungguli gurunya.”

“Tapi mengandalkan kepandaian silat tinggi Jin-lopangcu……..”

“Meski usianya lanjut, kepandaian Jin Jip tidak mundur, badan pun kekar dan sehat. Tapi tiga tahun belakangan ini, entah mengapa mendadak dia dihinggapi semacam penyakit aneh, bukan saja badan dan kesehatannya semakin lemah dan buruk, malah kaki tangan pun menjadi lumpuh, boleh dikata sudah menyerupai seorang cacat.”

“Orang gagah paling takut menghadapi penyakit, sejak dulu kala memang demikianlah kejadiannya!” ujar Coh Liu-hiang.

“Tapi penyakit ini datang tidak wajar, dan di luar batas nalar.”

“Maksud Hujin, apakah ada orang yang sengaja meracuninya?”

“Ya, begitulah!”

Walau Coh Liu-hiang sudah tahu, namun tak tahan ia bertanya pula: “Siapa?”

“Hanya ada seseorang yang mempunyai kesempatan menaruh racun, yaitu Lamkiong Ling. Sebelum kedok aslinya terbongkar, siapa pun akan beranggapan bahwa dia anak yang paling berbakti terhadap orang tua, bukan saja segala tugas urusan penting dan sulit dalam Pang dia sendiri yang menyelesaikan, sampai pun tempat tinggal, makan tidur Jin Jip pun dia sendiri pula yang meladeninya. Memang demikian telaten dia meladeni segala keperluan Jin Jip, aku malah menganggur. Semula aku amat terharu melihat kebaktiannya, siapa tahu apa yang dia lakukan itu tak lain hanya untuk mencari kesempatan untuk menurunkan tangan kejinya.”

“Tapi lantaran khawatir menimbulkan kecurigaan orang lain, maka dia tidak berani meracuni Jin-lopangcu mati seketika. Betapa telengas dan kejam hatinya, begitu teliti dan cermat cara kerjanya, sampai aku pun kena dikelabui.”

“Yang kena dia kelabui akan kekejamannya memang bukan kau seorang saja. Setelah Jin Jip sadar akan kekejian orang, namun sudah terlambat. Jin Jip sudah tidak mampu berbuat apa-apa atas dirinya, segala apa pun dia harus tunduk akan perintahnya. Bukan saja dia tidak berani membongkar tipu muslihat kejahatannya, malah dia harus pandang muka orang dan mesti menjilat dan mengagulkannya.”

Sampai di sini, kata-kata yang semula tenang datar berubah menjadi gemetar dan tersendat dalam tenggorokan, maka dapatlah dibayangkan kehidupan tertindas dan terkekang serta terhina itu, pastilah diliputi rasa haru dan derita lahir batin yang kelewat batas.

Mendidih darah Coh Liu-hiang mendengar ceritanya ini, katanya marah-marah: “Masakah tiada orang tahu atau perduli akan segala perbuatannya itu?”

“Di hadapan orang lain sikapnya sangat hormat dan patuh terhadap Jin Jip dan aku, siapa yang bisa menembus kedok aslinya yang kejam dan telengas itu?”

“Jin-lopangcu sudah kehilangan tenaga, sudah tentu tidak leluasa membongkar perbuatan jahatnya secara berhadapan. Tapi di saat dia tiada di tempat, kenapa tidak dibongkar saja tipu muslihatnya yang keji itu!”

“Hari-hari belakangan, aku dan Jin Jip boleh dikata sudah dia kurung secara halus, tanpa ijinnya siapa pun dilarang menemui kami. Terhadap orang luar dia katakan Jin Jip sedang sakit keras, tidak boleh diganggu, memangnya siapa yang tak percaya kata-katanya? Semua murid-murid Kaypang sama mengharapkan penyakit Jin Jip lekas sembuh, siapa yang berani datang mengganggunya?”

“Kalau demikian, cara bagaimana Hujin mengirimkan keempat pucuk surat itu?”

“Kuminta Lamkiong Ling mengirimkannya.”

“Lamkiong Ling?” teriak Coh Liu-hiang melengak.

“Untuk mengirim surat kepada Sebun Jian dan Cou Yu-cin tidak sulit, tapi Ling Ciu-cu dan Ca Bok-hap, satu di laut selatan dan yang lain di gurun pasir nan jauh di barat laut sana, kecuali Lamkiong Ling yang bisa memimpin para pengemis di seluruh jagat ini yang bisa mengirim ke sana, siapa pula yang mampu mengirim surat itu tiba pada alamatnya dengan selamat?”

“Benarlah kalau begitu,” seru Coh Liu-hiang bertepuk tangan. “Semula aku heran. Ca Bok-hap, Ling Ciu-cu, Sebun Jian dan Cou Yu-cin bertempat tinggal jauh dekat tidak menentu. Jikalau keempat pucuk suratmu kau kirim bersamaan, Sebun Jian dan Cou Yu-cin seharusnya sudah tiba, sebaliknya Ca Bok-hap dan Ling Ciu-cu mungkin belum menerima suratnya, tapi mereka berempat justru tiba pada saat dan waktu yang bersamaan, bukankah hal ini aneh?”

Coh Liu-hiang menelan ludah, lalu menyambung: “Baru sekarang aku tahu, ternyata Lamkiong Ling sudah memperhitungkan waktunya. Ia sudah memperhitungkan, setelah Ca Bok-hap dan Ling Ciu-cu menerima surat dan berangkat dalam perjalanan, baru dia kirim surat untuk Sebun Jian dan Cou Yu-cin. Persis dan tepat benar perhitungannya akan kedatangan mereka berempat pada waktu yang sama, namun dia bikin mereka mati pada saat yang sama pula.”

Setelah memahami semua seluk-beluk persoalan ini, semakin terasa olehnya betapa teliti dan cermatnya cara kerja Lamkiong Ling sungguh menakutkan.

Chiu Ling-siok menarik napas panjang, katanya pelan-pelan: “Sejak Jin Jip jatuh sakit, laksaan murid kaypang yang tersebar di seluruh pelosok dunia sama menganggap dan memandang Lamkiong Ling sebagai calon tunggal pewarisnya. Cukup sepatah kata Lamkiong Ling, jangan kata hanya untuk mengirim surat, seumpama suruh mereka menempuh gunung berapi dan terjun ke air mendidih pun banyak orang yang berlompatan mendahului terima tugas ini. Betapa besar kekuatan dan kekuasaannya , masakah boleh dibuat permainan?”

“Tapi cara bagaimana dia mau mewakili Hujin mengirimkan surat itu?”

“Akhir-akhir ini, untuk membeli hati orang, pengeluaran teramat besar, tapi untuk mengangkat nama dan mendirikan wibawa di dalam dunia persilatan, masakah dia merasa pelit dan kikir untuk mengeluarkan segala harta benda meski dengan cara gelap?”

“Mungkinkah memang ada tujuannya yang lain?”

“Setelah aku menikah dengan Jin Jip, meski merubah she ganti nama, tapi dia cukup jelas mengenai seluk-belukku, sudah tentu hal ini lantaran Jin Jip yang terlalu percaya kepadanya. Hari ke hari, biaya yang dia keluarkan relatif amat besar jumlahnya, semua tabungan milik Kaypang selama puluhan tahun sudah dikurasnya sampai habis. Suatu hari dia paksa aku untuk mencarikan jalan keluarnya, oleh karena itu terpaksa kutulis keempat pucuk surat itu.”

“Tidak salah, dalam surat Hujin itu tidak dijelaskan kesulitan apa sebenarnya yang Hujin hadapi. Sebaliknya Cou Yu-cin dan Sebun Jian amat gampang mengeruk uang sebanyak mungkin, harta milik pihak Hay-lam-pay pun tidak kecil jumlahnya, apalagi raja gurun pasir, tak perlu dikatakan lagi. Apakah Lamkiong Ling menyangka surat Hujin itu bertujuan untuk pinjam uang pada mereka?”

“Karena dia hendak memperalat aku, maka kesempatan ini pun kugunakan untuk ganti memperalat dia buat mengirimkan suratku itu. Asal dapat bertemu dengan mereka berempat, segala urusan gampang diselesaikan.”

“Tapi kenapa pula Lamkiong Ling mengubah maksudnya semula? Tidak memeras uang mereka, sebaliknya malah mencabut jiwa mereka?”

“Itulah karena seseorang! Sehari setelah surat-surat itu dikirimkan, malamnya datanglah orang itu. Mereka bicara dalam kamar tertutup semalam suntuk, maka urusan lantas berubah seratus delapan puluh derajat!”

Bersinar mata Coh Liu-hiang, tanyanya segera: “Siapa orang itu?”

“Aku sendiri tidak melihatnya.”

Dengan kecewa Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: “Kau hanya tahu akan kedatangannya?”

“Demi mengawasi tindak tanduk kami, Lamkiong Ling menetap di gubuk sebelah. Kalau toh kami sudah menjadi ikan dalam jaringnya, maka dia tidak begitu hati-hati terhadap kami, maka segala keadaan dalam gubuknya itu kebanyakan dapat kudengarkan. Meski lwekangku sudah punah, untung kepandaian kupingku masih dapat kupertahankan.”

“Kau dengar apa saja yang mereka bicarakan?”

“Pembicaraan mereka amat lirih, berat dan prihatin. Aku tahu persoalan yang mereka rundingkan pasti sesuatu rahasia yang teramat penting, kadang kala agaknya ada sedikit perdebatan yang cukup sengit, namun tak bisa kudengar persoalan apa yang mereka bicarakan.”

“Sayang kau tidak bisa mendengarkan percakapan mereka, tokoh yang misterius ini bukan mustahil adalah orang di belakang layar yang pegang peranan akan semua peristiwa misterius ini.”

“Tokoh misterius ini, hari kedua pagi-pagi benar lantas pergi. Tak lama kemudian Lamkiong Ling masuk membawa semangkok kuah kolesom, katanya untuk Jin Jip supaya tambah tenaga.”

Berkilat sorot mata Coh Liu-hiang: “Kuah kolesom ini pastilah membawa sesuatu akibat yang fatal?”

“Sudah lama dia tidak berbuat sebaik ini. Aku tahu di balik perbuatannya ini pasti tersembunyi suatu muslihat, tapi aku sudah gunakan tiga macam cara, namun tidak berhasil ketemukan adanya ramuan sesuatu jenis racun dalam kuah itu!”

Chiu Ling-siok menghela napas, lalu meneruskan: “Tentunya kau pun tahu, dulu aku termasuk seorang tokoh yang cukup lihay, termasuk tingkatan kelas satu di Bulim dalam permainan racun. Kalau dalam kuah itu ada dicampur sedikit racun apa pun, perduli dengan cara dari aliran atau golongan mana saja, pastilah dapat kucoba dengan baik. Maka aku berpendapat bahwa kuah kolesom ini tentulah tidak ada apa-apanya yang perlu dikuatirkan.”

“Oleh karena itu, dengan lega hati kau berikan kuah itu untuk diminum Jin-lopangcu?”

“Kalau toh kuah itu benar tiada racun, kenapa aku harus mengabaikan kebaikan Lamkiong Ling? Apalagi saban hari Jin Jip hanya bisa makan bubur, memang dia memerlukan bahan obat-obatan untuk menambah kesehatan dan semangatnya.”

Tiba-tiba tergerak hati Coh Liu-hiang, tanyanya keras: “Setelah minum kuah kolesom itu, apakah seluruh badan Jin-lopangcu menjadi melepuh besar?”

Chiu Ling-siok kaget dan terkesima dibuatnya, tanyanya: “Dari mana kau bisa tahu?”

“Thian-it-sin-cui! Kau tidak berhasil mencoba kadar racun di dalam kuah itu, karena itulah Thian-it-sin-cui.”

Baru sekarang dia lebih yakin dan berkesimpulan lebih jelas bahwa biang keladi dari semua peristiwa pembunuhan ini ternyata adalah orang yang mencuri Thian-it-sin-cui dari Sin-cui-kiong itu. Sudah tentu dia pula yang membunuh Thian-jiang-sin Song Kang dan orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long itu. Meski Lamkiong Ling seorang musuh yang cukup menakutkan, namun kelicinan dan kekejaman orang itu jauh melebihi Lamkiong Ling yang hanya diperalat saja.

Walau sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu rahasia Lamkiong Ling, tapi jikalau dia tak berhasil menyelidiki siapa orang itu, maka segala jerih payahnya selama ini berarti sia-sia belaka.

Semakin hebat badan Chiu Ling-siok gemetar, katanya: “Sejak mula aku tidak percaya Lamkiong Ling tega membunuh Jin Jip dengan tangannya sendiri, aku tidak percaya bahwa kuah itu beracun, tapi sekarang….. sekarang……”

Mendadak ia menubruk ke depan Coh Liu-hiang dan berseru dengan suara serak: “Segala persoalan sudah kututurkan kepadamu, dapatkah kau membalaskan dendamku?”

Coh-Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Setelah segala rahasia ini terbongkar, tanpa aku turun tangan, Lamkiong Ling sendiri takkan bisa hidup lebih lama lagi. Tidak heran, tak segan-segan dia gunakan segala cara dan menghabiskan seluruh harta benda, tujuannya hendak merintangi aku menemuimu.”

“Tapi kenapa dia sudi membawamu ke mari?”

“Sejak semula dia segan bentrok secara berhadapan. Setelah kudesak dan kupaksa, saking kewalahan dan tak berdaya, barulah dia membawaku ke mari. Dia tahu, di hadapannya sekali-kali kau takkan berani membocorkan rahasianya.” Setelah merandek sebentar, lalu ia menggumam: “Hari itu dia minta aku tunggu dua jam, maksudnya tentu bukan menyelesaikan urusan dalam Kaypang, melainkan supaya pembunuh kejam itu datang ke mari lebih dulu, menyaru jadi Thian-hong-cap-si liong dan menunggu aku di jembatan batu itu. Dengan dia sendiri yang mengiringi, bukan saja dia tak perlu takut aku berhadapan denganmu, dia pun hendak gunakan situasi tempat yang berbahaya ini untuk menyikat aku, supaya kelak tidak meninggalkan bibit bencana. Jikalau selamanya aku tak berhasil menemukanmu, sudah tentu dia akan jauh lebih lega dan hidup ongkang-ongkang kaki.”

“Dia suruh orang menunggumu dan membunuhmu. Jikalau tak berhasil, lalu dia iringi kau menemui aku, dengan kehadirannya sudah tentu aku tidak bisa sembarangan bicara.” Mendadak Chiu Ling-siok tertawa pilu, lalu katanya pula: “Dia sendiri berpendapat perbuatannya cukup rapi dan hati-hati, siapa tahu Thian maha adil, akhirnya dia takkan lolos dari pertanggungan-jawab atas perbuatannya.”

“Bahwasanya dia sendiri kukira belum tentu tega, dia pun kuatir aku akan kembali pula ke sini, maka dia bocorkan tempat tinggalmu kepada Pek-giok-mo. Dengan pinjam tangan Pek-giok-mo untuk menyumbat mulutmu, di kala orang lain tahu kejadian ini, segala tanggung jawab boleh dia timpakan kepada Pek-giok-mo….” Sampai di sini Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya pula: “Tapi tidak terpikir olehnya, bahwa selekas ini aku sudah menyusul ke mari, permainan caturku itu agaknya tidak sia-sia kujalankan. Cuma di saat dia sadar akan muslihat permainan caturku itu, kejadian pasti sudah terlambat.”

Sesaat lamanya Chiu Ling-siok menepekur, mendadak dia berkata pula: “Thian-hong-cap-si-long, tadi kau ada menyinggung nama ini?”

“Ya, Apakah Hujin juga kenal akan orang ini?”

“Meski aku tidak mengenalnya, dulu sering aku mendengar Jin Jip menyinggung dirinya.”

“Tak kuduga memang ada orang seperti itu dalam dunia ini, kukira nama Thian-hong-cap-si-long hanyalah nama palsu yang mereka sebut untuk mengada-ada saja!”

“Lahirnya Jin Jip halus di luar dan keras batinnya, selamanya jarang dia mau tunduk dan mengagumi orang lain, namun terhadap Thian-hong-cap-si-long ini dia teramat kagum dan menghormatinya. Setiap kali menyinggung nama orang, selalu dia memujinya sebagai orang gagah laksana gemblengan besi baja.”

“Orang seperti itu memangnya ada hubungan apa dengan Lamkiong Ling? Kenapa Lamkiong Ling meminjam namanya? … Apa Hujin tahu di mana dia sekarang?”

“Orang ini sudah meninggal sejak dua puluh tahun yang lalu.”

“Siapa yang membunuhnya?”

“Yang membunuhnya adalah Jin Jip.”

Tak terasa Coh Liu-hiang tertegun, katanya tak mengerti: “Jin-lopangcu sedemikian hormat dan mengaguminya, kenapa pula harus membunuhnya?”

“Thian-hong-cap-si-long menyeberangi lautan dan mendarat di Tionggoan, maksudnya hendak menjajal kepandaian dengan tokoh-tokoh Bulim. Waktu itu belum lama Jin Jip memangku jabatan Kaypang Pangcu, saat kegemilangan dan ketenarannya mencapai puncaknya, sudah tentu Thian-hong-cap-si-long tidak sia-siakan kesempatan untuk bertanding sama dia. Tidak lama setelah dia berada di Tionggoan, langsung ia berkirim surat menantang kepada Jin Jip, di mana dijelaskan tanggal, waktu dan tempat pertandingan.”

“Thian-hong-cap-si-long itu memang terlalu takabur. Betapa besar negeri kita dan berapa banyak tokoh-tokoh silat yang hebat kepandaian silatnya, seumpama harimau mendekam naga menyembunyikan diri, masa mengandalkan tenaganya seorang bisa malang melintang?”

“Setelah menerima surat tantangan Thian-hong-cap-si-long itu, demi nama baik Kaypang, sudah tentu dia tidak menolak tantangannya, apalagi waktu itu di saat jaya-jayanya, dia memang ingin juga berkenalan dengan pendekar pedang dari Tang-ni yang aneh dan luar biasa itu.”

“Betapa hebat dan menakjubkan pertandingan kala itu tentulah menggetarkan bumi menggoncangkan langit. Sayang aku terlambat lahir dua puluh tahun, betapa menyenangkan bila bisa menyaksikan pertandingan besar yang tiada taranya ini.”

“Kalau kau sudah lahir pada waktu itu, tentu kau akan kecewa, karena pertempuran itu tidak seru dan tidak menakjubkan.”

“Kenapa begitu? tanya Coh Liu-hiang melongo.

“Biasanya Jin Jip tidak mau mengagulkan diri. Setelah menerima surat tantangan, kejadian ini tidak ia siarkan kepada umum, sampai sekarang tokoh-tokoh Kangouw yang tahu akan peristiwa ini pun tak banyak. Orang yang mengiringi dia dalam pertandingan itu cuma Sutouw Tianglo seorang yang kini sudah meninggal, kecuali itu boleh dikata tiada orang ketiga yang tahu.”

“Di mana tempat pertandingan ditentukan?”

“Kabarnya tempat itu berada di Binglam, di sebuah gunung yang tidak begitu terkenal namanya, maksudnya supaya tidak menimbulkan perhatian sesama kaum persilatan.”

“Kalau demikian, Thian-hong-cap-si-long yang takabur itu kiranya seorang yang tidak mengejar nama. Kalau tidak, seumpama Jin-lopangcu menutupi peristiwa itu, tentulah dia sendiri akan menyiarkan peristiwa besar itu.”

“Di dalam surat tantangannya itu memang ada dijelaskan, bertanding demi mengukur kepandaian silat bukan untuk mengejar nama. Waktu Jin Jip dan Sutouw Tianglo tiba di tempat yang ditentukan, Thian-hong-cap-si-long ternyata sudah menunggu di sana. Tanpa banyak kata, segera ia turun tangan kepada Jin Jip.”

“Sepatah kata pun tidak bicara?”

“Menurut cerita Jin Jip kepadaku, waktu ia tiba di atas gunung, Thian-hong-cap-si-long sedang duduk di atas batu besar itu, kedua tangannya menyoren sebilah pedang panjang yang sudah terlolos dari sarungnya. Begitu melihat Jin Jip, segera ia bangkit dan pasang kuda-kuda menurut ajaran tunggal ilmu pedang dari Tang-ni, mulutnya hanya berkata dua patah saja.”

“Dua patah kata apa?”

“Hanya berkata ‘marilah.’ lalu dia tutup mulut. Melihat orang sedemikian angkuh, Jin Jip naik pitam, maka dia pun malas buka suara.”

“Apakah Jin-lopangcu menggunakan senjata juga?”

“Jin Jip bersenjata Pak-kau-pang, senjata tradisi dari leluhur para Pangcu Kaypang yang terdahulu. Belum sepuluh jurus mereka bertempur, Jin Jip sudah berhasil memukul pedang panjang di tangan Thian-hong-cap-si long, tongkatnya telak mengenai badannya, kontan Thian-hong-cap-si-long roboh dengan muntah darah.”

Heran Coh Liu-hiang dibuatnya, teriaknya: “Thian-hong-cap-si-long meluruk datang dari tempat jauh, membekal kepandaian yang tiada taranya, masakah tidak begitu becus ilmu pedangnya?”

“Waktu itu Jin Jip pun heran. Belakangan baru dia tahu, kiranya Jin Jip bukanlah orang pertama yang pernah bertanding dengan Thian-hong-cap si-long pada hari yang sama. Sebelumnya dia sudah bertanding dengan orang lain lebih dulu, malah membekal luka dalam yang amat parah. Jikalau dia mau buka suara, tentu Jin Jip tidak sudi mengambil keuntungan ini, namun dia justru tak mau bila orang sangka dirinya jerih, maka dia hanya mengeluarkan kata-kata ’marilah’, sepatah kata pun tidak dia singgung tentang luka-luka dalamnya. Jin Jip kira orang kelewat angkuh, tidak sudi banyak bicara dengan orang lain. Luka-luka dalam yang dideritanya memang teramat parah, ditambah sekali ketukan tongkat Jin Jip di dadanya lagi, manusia besi pun takkan kuat bertahan. Hari itu juga dia menemui ajalnya. Sebelum ajal, sepatah kata pun ia tidak mau unjuk kelemahannya, dia pun tidak salahkan Jin-jip, cuma berkata bahwa dia bisa ajal di medan laga maka tidak sia sialah perjalanannya ini.”

Bergolak darah Coh Liu-hiang, katanya menengadah sambil menghela napas: “Sampai ajalnya pun Thian-hong-cap-si-long tidak mau unjuk kelemahan, tidak mau kehilangan kepercayaan akan keyakinan diri sendiri. Sudah tahu bahwa jiwanya bakal ajal, namun dia tetap menghadapi pertandingan secara jantan, memang tidak malu dan jarang sekali ditemui orang gagah seperti gemblengan baja seperti itu.”

“Mungkin itulah semangat juang yang paling dibanggakan oleh para Busu di Tang-ni sana???”

“Bagaimana jua, orang seperti dia patut dipuji dan dibuat bangga, tidaklah heran bila puluh tahun kemudian Jin-lopangcu masih sedemikian kagum dan mengenangnya.”

“Memang tanggung jawab kematian Thian-hong-cap-si-long bukan lantaran Jin Jip, namun Jin Jip sendiri berkata bila waktu itu dia sedikit perhatikan, pastilah bisa mengetahui luka-luka yang diderita oleh Thian-hong-cap-si-long.”

“Siapakah orangnya yang sudah melukai berat Thian-hong-cap-si-long sebelum mati di tangan Jin-lopangcu?”

“Selama ini Jin Jip tidak pernah menyinggung orang itu.”

“Tentulah orang itu pula seperti Jin-lopangcu, seorang tokoh yang tidak suka menonjolkan nama, sehingga pertarungannya dengan Thian-hong-cap-si-long dulu sampai kini masih merupakan rahasia dan tiada orang yang tahu.”

Berhenti sebentar, Coh Liu-hiang lalu meneruskan: “Dengan kekuatan Lwekangnya orang itu memukul Thian-hong-cap-si-long sampai terluka berat, betapa tinggi kepandaian silatnya dapatlah dibayangkan! Setelah terluka parah melawan orang ini, Thian-hong-cap-si-long masih kuat memburu ke tempat perjanjiannya dengan Jin Jip, tentulah tempat di mana dia terluka parah itu masih termasuk dalam wilayah Binglam pula, lalu siapakah tokoh tersembunyi itu? … Ah…, apakah… ?”

Mendadak Chiu Ling-siok menyela: “Kuberitahukan cerita ini kepadamu bukan tanpa alasan.”

“Masih ada alasan apa?”

“Sebelum ajalnya, Thian-hong-cap-si-long berpesan sesuatu kepada Jin Jip. Tapi bagaimana pun, dengan susah payah pernah kutanyakan kepada Jin Jip, namun dia selalu geleng kepala dan tidak mau menerangkan.”

“Kenapa Jin-lopangcu begitu rapat merahasiakan hal itu?”

“Hal itu aku pun tidak tahu, tapi belakangan dapatlah aku menerka-nerka sebagian.”

“Oh?”

“Setiap kali Jin Jip melihat Lamkiong Ling, dia selalu teringat kepada Thian-hong-cap-si-long. Karena hal itu, selalu dia menghela napas dan berdoa serta meneras diri. Belakangan, meski dia sudah tahu Langkiong Ling mencelakai jiwanya, tapi dia tetap bersikap alim dan tak mau mengeluarkan kata-kata yang menyinggung Lamkiong Ling. Selalu ia berkata, memang dialah yang bersalah terhadap Lamkiong Ling. Sampai dewasa, persoalan apa pula yang pernah dia salah lakukan terhadap Lamkiong Ling, tidak pernah dia ceritakan.”

Sorot matanya seolah-olah terpancar keluar dari balik cadar hitamnya. Dengan tajam ia tatap Coh Liu-hiang, katanya tandas: “Maka kupikir pesan terakhir menjelang ajal Thian-hong-cap-si-long tentulah mengenai Lamkiong Ling. Jin Jip merasa berdosa terhadap Thian-hong-cap-si-long, maka terhadap Lamkiong Ling pun ia mengalah dan memberi hati.”

“Maksudmu bahwa Lamkiong Ling adalah keturunan Thian-hong-cap-si-long?”

“Ya, begitulah tentunya!”

Coh Liu-hiang berpikir sebentar, katanya bertepuk tangan: “Benar, Jin-lopangcu tidak mau memberi tahu persoalan itu, tentulah dia kuatir Lamkiong Ling mengetahui rahasia riwayat hidupnya sehingga timbul rasa dendam dan keinginan menuntut balas.”

“Terhitung kau bisa menyelami jerih payah Jin Jip. Waktu itu dia sudah pandang Lamkiong Ling sebagai anak kandungnya sendiri, sudah tentu dia harus merahasiakan bahwa dirinyalah yang membunuh ayah kandungnya. Selama hidupnya sepak terjangnya selalu terang-terangan, namun toh dia menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain. Betapa menderita batinnya, dapatlah dibayangkan.”

“Tapi bagaimana pun juga ia menyimpan rahasia ini, yang mencelakai jiwanya toh tetap Lamkiong Ling juga. Duapuluh tahun yang lalu secara tidak sengaja dia melakukan kesalahannya itu, tak nyana duapuluh tahun kemudian dia harus mempertaruhkan jiwa sendiri untuk menebus dosa-dosa masa lalu.”

“Kalau Thian yang maha kuasa menghendaki dia memberikan imbalan dengan jiwanya, kukira tidak adillah keputusan ini.”

“Tapi apa benar Lamkiong Ling mengetahui persoalan ini? Pembunuh misterius itu apakah benar ada sangkut-pautnya dengan Thian-hong-cap-si-long? Kalau tidak, dari mana dia memperoleh pelajaran tunggal Jin-sut dari Tang-ni?”

“Semua rahasia ini menjadi tanggunganmu untuk membongkarnya satu persatu, segala rahasia yang kuketahui sudah kuberikan kepadamu, sekarang boleh kau pergi”

Sorot mata Coh Liu-hiang balas menatap orang, katanya tiba-tiba: “Cayhe masih ingin mohon sesuatu kepada Hujin.”

“Masih ada persoalan apa?”

“Entah sudikah Hujin membuka cadar penutup muka supaya Cayhe dapat menikmati wajah Hujin yang rupawan?”

Lama Chiu Ling-siok tenggelam dalam renungannya, katanya rawan: “Apa benar kau ingin melihat mukaku?”

“Bukan hanya satu dua hari saja Cayhe mempunyai keinginan ini.”

Hatinya amat tertarik, memang ingin dia menikmati wajah tercantik sejagat yang dipuja-puja oleh khalayak ramai, kalau tidak mungkin dia akan menyesal seumur hidupnya.

“Dua puluh tahun mendatang,” kata Chiu Ling-siok akhirnya, “Kau adalah orang kedua yang pernah melihat mukaku.”

“Hanya dua orang yang bisa melihat wajah Hujin?” Coh Liu-hiang menegas dengan heran dan tak mengerti.

“Ya, hanya dua orang. Kau dan Jin Jip….”

“Kenapa? Orang lain…” Mendadak Coh Liu-hiang melongo dan tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Selama hidupnya, entah betapa banyak berbagai persoalan dan kejadian aneh yang pernah dia alami, namun belum pernah terjadi sesuatu yang bisa bikin hatinya bergetar dan terkesima.

Cadar hitam itu pelan-pelan tersingkap. Dalam hati Coh Liu-hiang mengharap bisa menikmati seraut wajah nan ayu rupawan laksana bidadari. Siapa tahu setelah cadar hitam itu tertanggalkan, seraut muka yang terpampang di hadapannya ternyata menyerupai wajah setan iblis yang paling menakutkan.

Di atas mukanya itu, tiada secuil kulit daging pun yang utuh mengkilap, selembar mukanya tonjol-menonjol laksana permukaan kawah gunung yang sudah membeku, berlobang-lobang besar kecil, tiada panca indera yang berbentuk, apa pun tiada, yang ada hanya daging-daging merah darah yang buruk dan menjijikkan serta lobang-lobang yang merekah!

“Sekarang kau sudah puas belum?” tanya Chiu Ling-siok dengan pilu.

“Cayhe… sungguh Cayhe tidak habis mengerti….”

“Sekarang toh kau sudah tahu, kenapa hanya Jin Jip dan kau saja yang pernah melihat raut wajahku, karena sejak lama mukaku ini sudah rusak. Kupikir, tiada perempuan di dalam dunia ini yang sudi mukanya dilihat orang dengan bentuk yang menakutkan seperti ini, benar tidak?”

Lagu bicaranya ternyata sedemikian tenang dan dingin, namun mendengar kata-katanya ini serasa ditusuk sembilu ulu hati Coh Liu-hiang.

Dia seorang yang tak pernah tunduk, tanpa sadar sekarang dia tertunduk, katanya tersekat: “Cayhe memang patut mati, kenapa Cayhe harus paksa Hujin….”

“Kau tidak memaksa, aku sendiri yang rela memperlihatkan kepadamu.”

Kerlingan matanya masih lembut dan bersinar terang, sepasang matanya yang menyorot terang ini bukan saja tidak memperlihatkan rasa haru, takut dan penyesalan, malah menunjukkan sekulum senyuman manis. Katanya lebih lanjut pelan-pelan: “Cuma sayang kau terlambat datang, sehingga aku tidak bisa memperlihatkan raut wajahku dua puluh tahun yang lalu kepada Maling Romantis. Bagimu memang merupakan sesuatu yang mengecewakan, betapa aku pun tak merasa kecewa?”

“Bagaimanapun perubahan raut wajah Hujin, keagungan Hujin masih tiada bandingan di seluruh kolong langit. Cayhe bisa berhadapan dengan keagungan Hujin, sudah terhitung beruntung dan bahagia selama hidup.”

“Kau tak usah menghiburku, karena aku tidak sedih dan menderita. Dua puluh tahun sejak raut mukaku ini dirusak, belakangan ini baru aku betul-betul mengecap kehidupan bahagia nan sejati.” Mengawasi segumpal mega yang terhembus angin pegunungan, ia berkata lebih tenang: “Kadangkala aku malah berterima kasih kepada orang yang menyebabkan raut mukaku rusak ini. Jika bukan karena dia, masa aku bisa mengecap kehidupan bahagia dan tenang tenteram selama dua puluh tahun ini?”

“Entah siapakah orang yang setega itu?”

Chiu Ling-siok mengalihkan sorot matanya, dengan nanar ia tatap Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Pernahkah kau dengar nama Ciok Koan-im?”

“Ciok Koan-im (Koan-im Batu)?” jerit Coh Liu-hiang.

“Tentu kau pernah dengar nama itu, memang dia seorang perempuan yang berilmu silat paling tinggi dan berjiwa sempit serta kejam tiada bandingannya di seluruh jagat ini. Kini mungkin dia terhitung perempuan tercantik di seluruh dunia!”

“Dia… ada dendam sakit hati apa dengan Hujin?”

“Tiada dendam sakit hati apa-apa, paling-paling dia hanya satu kali melihatku.”

“Lalu kenapa dia…..”

Chiu Ling-siok menukas kata-katanya: “Menurut kabar yang tersiar di kalangan Kangouw, konon dia mempunyai semacam kaca cermin iblis. Setiap hari ia selalu bertanya kepada kaca ini: “Siapakah perempuan tercantik di seluruh jagat ini?”

“Apakah kaca itu selalu menjawab bahwa dia adalah perempuan tercantik di seluruh dunia?”

“Benar, sampai suatu ketika jawaban kaca iblis ini mendadak berubah, dia mengatakan aku… katanyanya Chiu Ling-siok adalah perempuan tercantik di kolong langit, dan bencana yang menimpaku dimulai sejak jawabannya itu.”

Tentunya hal ini menyerupai dongeng belaka. Dongeng yang tidak menarik, namun mengandung mistik yang tak bisa diterima oleh kesadaran manusia. Tanpa terasa Coh Liu-hiang sampai linglung mendengar ini, katanya sesaat kemudian dengan menghela napas: “Oleh karena itu maka dia lantas mencari Hujin?”

“Setelah ia berhadapan denganku, ia memandangku tanpa berkedip selama dua jam. Akhirnya mendadak ia bertanya: ‘Chiu Ling-siok, kau ingin aku membunuhmu atau kau sendiri merusak raut wajahmu?’”

“Pertanyaan ini sungguh amat menggelikan.”

“Tapi waktu itu sedikit pun aku tidak merasa geli, terasa kaki tanganku berkeringat dingin, sepatah kata pun tak kuasa bicara. Dia mengawasiku sekian lamanya pula, lalu tiba-tiba memutar badannya dan berkata: “Tiga bulan lagi aku akan ke mari pula. Saat itu, jikalau kulihat mukamu masih sama seperti sekarang ini, biar kubunuh kau.” Di atas meja dia meninggalkan sebuah botol kecil serta berkata pula: “Kubiarkan kau pertahankan kecantikanmu selama tiga bulan lagi, tentunya kau cukup tahu cara bagaimana menggunakan kesempatanmu!”

“Kalau dia sudah pergi, kenapa Hujin tidak pergi menyembunyikan diri saja?”

“Bila Ciok Koan-im sudah keluarkan kata-katanya hendak membunuh seseorang, tiada seorang pun yang bisa lolos dari tangannya. Dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan kepandaian silatnya, waktu itu aku sendiri pun belum ingin mati!”

“Masakah dalam dunia ini ada orang yang betul-betul ingin mati?”

Pelan-pelan Chiu Ling-siok memejamkan matanya, ujarnya: “Waktu itu aku masih muda, masih amat berat meninggalkan kehidupan yang romantis ini. Kupikir, meski aku tidak secantik ini lagi, tapi masih tetap bisa hidup, toh jauh lebih baik daripada mati.” Ia membuka mata seperti sedang tertawa-tawa, katanya menyambung: “Kupikir pula, sedikitnya aku masih mempertahankan tiga bulan kecantikanku, sudah tentu aku harus sayang dan menggunakan kesempatanku ini. Lalu dalam jangka tiga bulan ini, apa pula yang harus kulakukan?”

Tak tahan Coh Liu-hiang menimbrung: “Maka Hujin ingin meninggalkan kesan kecantikan itu di dalam sanubari setiap insan yang pernah melihatmu, maka Hujin lantas menemui ahli gambar yang paling terkenal pada jaman itu, Sun Hak-boh.”

Chiu Ling siok melengak, katanya: “Kau…. kau sudah tahu semua?”

“Cayhe sudah pernah menemui Sun-siansing!”

“Perbuatanku waktu itu memang terlalu kasar…. malam di mana ia berhasil menyelesaikan gambar lukisan diriku, batas waktu tiga bulan pun sudah tiba, Ciok Koan-im biasanya paling menepati janji dan waktu.”

“Maka pada malam itu juga Hujin merusak roman muka sendiri?”

“Botol kecil peninggalan Ciok Koan-im itu berisi obat balur yang bisa membakar kulit, jauh lebih panas dari bara api,” Sampai di sini lagu suaranya yang tenang kembali bergetar dan haru pula.

“Karena tidak ingin Sun-siansing melihat roman muka Hujin yang telah rusak, setelah siuman maka…..”

“Waktu aku melolohkan cairan obat itu ke mukaku, aku sudah kehilangan kesadaran, kalau tidak mau dikata sudah gila, maka… oleh karena itu baru bisa aku melakukan perbuatan yang terkutuk itu, aku… aku…” Mendadak ia menutup muka dengan kedua tangan sendiri dan tak bicara lagi.

Coh Liu-hiang menghela napas panjang, ujarnya: “Sampai sekarang baru Cayhe tahu kenapa Hujin berbuat sedemikian kejam terhadap Sun-siansing, kenapa pula harus membikin empat gambar lukisan. Dulu aku masih kabur dan tak tahu serta salah menebak akan maksud tujuan Hujin.”

“Peduli apa pun maksud tujuanku, aku melakukan perbuatan serendah itu, kau tak pantas memaafkan aku, benar tidak?”

Sesaat lamanya Coh Liu-hiang terbungkam, katanya kemudian dengan suara haru: “Cayhe hanya tahu Jin-hujin yang sekarang adalah perempuan yang paling lembut, welas asih dan bajik. Soal bagaimana sepak terjang Chiu Ling siok yang dulu, bukan saja Cayhe tidak tahu, juga tidak akan ambil perhatian.”

Chiu Ling-siok juga berdiam lama, katanya kemudian: “Dalam dua puluh tahun ini memang sudah banyak perubahanku, sudah tentu kau pun bisa menerka siapa yang membuatku berubah.”

“Jin-lopangcu!”

Tidak menjawab, Chiu Ling-siok malah berkata: “Dalam keadaan gila aku mengorek keluar kedua biji mata Sun Hak-boh, aku sendiri pun lantas jatuh pingsan. Waktu aku siuman kembali, seluruh kepalaku sudah diperban, selanjutnya aku hidup dalam kegelapan selama beberapa bulan. Waktu itu sungguh tak tahu aku betapa aku harus berterima kasih kepada Siok-sim Taysu. Jikalau bukan karena rawatannya yang telaten, mana bisa aku hidup sampai sekarang?” Nada suaranya semakin tenang. katanya lebih lanjut: “Tapi di saat aku melihat sinar matahari, baru aku tahu orang yang selalu mendampingiku ternyata bukan Siok-sim, namun Jin Jip.”

“Oleh karena itu rasa terima kasih dan utang budi Hujin lantas ditujukan kepada Jin-lopangcu?”

“Waktu itu bukan saja aku tidak merasa berterima kasih atau utang budi, malah aku amat membencinya.”

“Membencinya?”

“Waktu aku berhadapan dengan Jin Jip, kulihat pula raut mukaku. Setelah menyaksikan raut mukaku ini, baru sadar aku takkan bisa hidup lebih lama lagi, aku sudah kehilangan kecantikan mukaku, berarti kehilangan jiwa ragaku pula.” Sambil menghela napas, ia meneruskan: “Waktu itu bukan saja aku teramat sedih, hatiku pun amat marah, lebih benci pula kenapa Jin Jip justru menemui aku pada saat seperti itu. Kembali gilaku kumat, kontan aku mengusirnya pergi.”

“Keadaan Hujin waktu itu sedikit banyak Cayhe bisa merasakan dan memahaminya.”

“Kalau begitu kau pun harus tahu, manusia seperti Jin Jip kau hajar, takkan gampang mengusirnya pergi. Hari kedua pagi-pagi, dia datang pula, aku mengusirnya lagi.”

“Tapi hari ketiga dia tetap datang pula.”

“Setiap hari datang, setiap hari kuusir dia. Kugunakan kata-kata paling kotor, paling rendah, untuk memakinya, malah menghajarnya pula, tapi setiap pagi dia tetap mengunjungiku.”

Pelan-pelan ia mengelus gentong di pelukannya. Meskipun itu merupakan sebuah gentong kecil yang dingin, tapi seakan-akan membawa hawa hangat tak terbatas yang menghibur hatinya.

“Kau tahu,” demikian ia melanjutkan pula. “Waktu itu dia sudah menjadi Kaypang Pangcu, sebetulnya tak perlu peduli terhadap perempuan yang buruk rupa dan kotor seperti aku ini. Dia bersikap begitu rupa, sekarang kau melihat mukaku ini, tentu kau pun bisa merasakan, kecuali Jin Jip, kukira tiada laki-laki dalam dunia ini yang sudi terima dihina dan direndahkan. Kecuali aku ini orang yang betul-betul sudah ayal, kalau tidak mana bisa hatiku tak terharu dan iba terhadap sikapnya itu?”

“Itulah karena yang dicintai Jin-lopangcu bukan kecantikanmu yang sudah hilang itu, tapi jiwa dan sukma Hujin. Dia kan tahu, meski raut muka Hujin sudah berubah, jiwa dan sukma takkan berubah!”

“Sayang di masa hidupnya Jin Jip tidak kenal denganmu, kalau tidak pasti dia akan menjadi sahabat karibmu…. Cuma pengertianmu terhadapnya sih belum cukup, terkaanmu tetap salah terhadap dia.”

“Oh? Salah?”

“Sebelum peristiwa itu terjadi, hanya dua kali aku pernah berhadapan dengan Jin Jip, cara bagaimana dia bisa begitu kepincut terhadapku? Apalagi yang kelihatan cantik waktu itu hanyalah ragaku, sukma atau jiwaku justru teramat buruk dan kotor.”

“Adakalanya seseorang bisa juga jatuh cinta pada penglihatan pertama, mencintai sampai ke tulang sumsumnya.”

Agaknya Chiu Ling-siok tertawa mendengar kata-kata ini, ujarnya: “Bagaimana pun, itu bukanlah sebab yang utama. Sebab yang utama adalah karena dia ikut merasakan betapa besar derita seorang perempuan setelah dia kehilangan kecantikannya. Dia pun tahu, hanyalah rasa iba dan kasih sayang yang dapat meringankan beban penderitaan ini, maka dia berkeputusan mengorbankan diri sendiri, untuk mendampingi aku dan menghiburku seumur hidup!” Kepalanya menengadah, katanya pula: “Sudah kukatakan, dia adalah orang yang paling bajik di seluruh kolong langit ini.”

Advertisements

2 Comments »

  1. panjangnya mas…

    lam kenal aja

    Comment by dhianofie — 25/04/2009 @ 8:43 pm

  2. Memang asliny seperti itu.

    Salam kenal balik.

    Comment by ceritasilat — 30/04/2009 @ 3:47 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: