Kumpulan Cerita Silat

25/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (23)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:22 am

Ilmu Ulat Sutera (23)
Oleh Huang Ying

Terdengar suara embusan angin. Seorang manusia berpakaian hitam melesat ke arahnya. Rupanya ilmu meringankan tubuh orang ini lebih tinggi dari yang lainnya. Golok di tangannya menekan pedang Wan Fei-yang.

“Terima cepat telan!” seru orang itu tidak terduga. Tangan kirinya mengibas. Dua bungkus obat meluncur ke arah Wan Fei-yang.

Mendengar suara orang itu, Wan Fei-yang tertegun sesaat, tapi tangannya tetap diulurkan untuk menyambut datangnya bungkusan obat tersebut. Tanpa menunda waktu lagi, dia membuka bungkusan obat itu dan dua butir pil ditelannya tanpa ragu.

Ternyata obat itu sangat mujarab. Begitu masuk mulut, serangkum hawa segar segera beredar di seluruh jalan darahnya. Semangat Wan Fei-yang terbangkit seketika. Sepasang lengannya berputar. Telapak tangannya menghantam ke kiri dan kanan. Dua orang manusia berpakaian hitam kembali roboh di tanah. Dia melesat mendekati manusia berpakaian hitam yang memberinya obat tadi.

“Mengapa kau bisa datang ke tempat ini?” tanyanya heran.

“Cepat pergi!” bentak orang itu tanpa memedulikan pertanyaannya.

Baru saja ucapannya selesai, Hujan yang berdiri di sudut sana sudah membentaknya dengan suara lantang, “Hiong-kun, apa lagi yang kau lakukan sekarang?”

Tubuh manusia berpakaian hitam itu bergetar. Dengan panik dia melesat ke atas dinding pekarangan. Wan Fei-yang yang melihat tindakannya, cepat-cepat menyusul. Hujan mengibaskan tangannya. Sekumpulan jarum beracun meluncur datang. Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan menggerakkan pedangnya dengan arah memutar. Jarum-jarum beracun itu tersapu jatuh ke tanah. Kemudian dia terjungkir balik ke atas dinding. Dia langsung menyeret manusia berpakaian hitam tadi dan mengajaknya pergi dengan cepat.

Kain penutup wajah manusia berpakaian hitam itu sudah dilepas. Ternyata Fu Hiong-kun adanya. Meskipun dia sudah menyamar dengan rapi tapi tetap saja Hujan dapat mengenalinya. Jarum yang diluncurkan oleh Hujan tidak mengenai sasaran. Angin mendahului melesat naik ke atas dinding pekarangan. Thian-ti malah lebih cepat lagi daripada Angin.

Dari dinding yang tinggi dia memandang ke bawah. Matanya mengedar ke sekeliling dengan saksama. Kebetulan pada saat yang sama Fu Hiong-kun juga sedang menolehkan kepalanya. Dua pasang mata bertemu pandang. Tanpa dapat menahan diri lagi Thian-ti meraung murka. Hati Fu Hiong-kun tergetar dan sedih. Tanpa disadari, kakinya berhenti melangkah. Wan Fei-yang segera memeluk pinggangnya dan membawanya lari. Dengan demikian mereka dapat melesat lebih cepat dari sebelumnya.

Dengan marah Thian-ti melayang turun. Langkahnya dipercepat. Dia terus mengejar ke depan dengan segenap kemampuannya. Namun jaraknya dengan Wan Fei-yang tetap seperti tadi juga. Sedangkan Wan Fei-yang mencelat lagi ke udara lalu melayang turun kembali. Dengan memeluk pinggang Fu Hiong-kun dia sudah melesat ke dalam sebuah hutan.

Sekali lagi Thian-ti menghentikan kakinya melesat ke depan untuk mengejar. Ketika dia sampai di dalam hutan, bayangan Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun sudah tidak terlihat lagi. Dengan marah dia menghantamkan sepasang telapak tangannya kalang kabut.

“Blam! Blam!” Dua batang pohon besar roboh seketika. Dada Thian-ti seakan hampir meledak. Matanya mencorot bagai kobaran api. Rambutnya yang riap-riap seakan berdiri tegak. Seandainya diri orang tua itu adalah sebuah bom, pasti saat ini dia sudah meledak.

Sebuah kuil tua yang sudah bobrok. Pekarangannya tidak terurus. Dinding pekarangan maupun dalamnya sudah retak dan pecah-pecah. Sarang laba-laba memenuhi seluruh ruangan luar dan dalam. Meja-meja persembahan sudah menjadi kepingan kayu yang hancur dimakan rayap. Entah dewa apa yang disembah di kuil ini sebelumnya. Patung-patungnya saja sebagian besar tidak berkepala atau somplak di sana-sini sehingga bentuknya tidak terlihat lagi.

Senja hari sudah menjelang. Sinar matahari menyorot lewat celah-celah jendela yang tidak berbentuk lagi. Cahayanya tepat menyinari wajah Fu Hiong-kun. Mata gadis itu berkilauan. Bukan karena cahaya matahari, tapi karena air mata yang mengembang. Sekarang dia baru tahu bahwa Wan Fei-yang sama sekali tidak membaca surat yang ditinggalkannya karena basah oleh air sehingga tulisannya luntur. Hal inilah yang menyebabkan Fu Giok-su dapat menjebak Wan Fei-yang datang ke tempat ini. Hatinya semakin tertekan. Dia merasa sedih dan menyesali perbuatan abangnya. Akhirnya ia memberanikan diri dan menceritakan apa yang diketahuinya, sekalipun mungkin Wan Fei-yang akan membencinya. Dia tidak dapat menutupi kenyataan ini berlarut-larut.

Wan Fei-yang mendengarkan keterangannya dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Tapi nada suara serta mimik wajah Fu Hiong-kun demikian yakin dan serius. Bahkan cara mengucapkannya pun demikian pilu mengenaskan. Dia tidak ragu mengenai apa yang dikatakan oleh Fu Hiong-kun. Meskipun semuanya benar-benar di luar dugaan. Tapi setelah dia membayangkan kembali, sebetulnya banyak kesalahan yang dilakukan Fu Giok-su tanpa disadarinya.

“Thian membiarkan aku terlahir dalam keluarga yang hanya tahu melakukan berbagai kejahatan. Mengapa tidak sekalian membiarkan aku mempunyai hati yang keji dan kejam?” setelah mengucapkan kata-kata ini, tanpa dapat ditahan lagi air mata Fu Hiong-kun mengalir dengan deras.

“Fu-kouwnio, jangan berkata begitu. Untung saja dalam Siau-yau-kok masih ada manusia yang berhati manis sepertimu. Kalau tidak, malam ini aku pasti mati. Bahkan mungkin sejak tempo hari. Aku tidak menyalahkanmu. Bahkan dalam hati ini, aku berterima kasih tidak terkira. Kau sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Bukan salahmu kalau kau terlahir dalam keluarga Siau-yau-kok. Jangan juga menyalahkan Thian. Suatu hari nanti Thian pasti akan memberikan kebahagiaan kepadamu. Aku akan menjagamu baik-baik!” Kata-kata yang diucapkan Wan Fei-yang keluar dari hatinya yang tulus. Dia memapah Fu Hiong-kun duduk di lantai lalu mengusap air mata gadis itu dengan lengan bajunya. Pada saat itu, hatinya kacau sekali. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghibur Fu Hiong-kun.

Malam itu, Thian-ti tidak dapat tidur nyenyak. Apa yang dilakukan Fu Hiong-kun bagai sebilah pisau yang menyayat hatinya. Kata-kata yang diucapkan oleh Hujan bagai jarum beracun yang menusuki kulit tubuh Thian-ti sedikit demi sedikit. Sampai saat ini, apa lagi yang dapat dikatakan Thian-ti untuk membela cucu perempuannya itu …? Kesunyian di dalam Siau-yau-kok terasa semakin mencekam.

Apalagi pada hari kedua. Pagi-pagi sekali di depan gua yang merupakan pintu masuk Siau-yau-kok berjajar lima buah peti mati. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan peti-peti mati tersebut diletakkan di sana. Di atas masing-masing peti tertulis nama Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Tanpa diragukan lagi pasti Wan Fei-yang yang mengirimkan peti-peti mati ini. Setelah Fu Hiong-kun berkhianat dan memihak kepada anak muda itu, tidak heran kalau markas Siau-yau-kok segera diketahuinya.

Melihat kelima peti mati itu beserta nama yang tertera di atasnya, Thian-ti sudah hampir kalap. Apalagi setelah dia menerima laporan dari anak buahnya bahwa Suma Hong ditemukan sudah menjadi mayat di luar lembah tersebut. Hampir saja Thian-ti muntah darah. Di atas mayat Suma Hong masih terdapat secarik tulisan: “Siapa yang menyamar murid Bu-tong-pay, harus mati!”

Wajah setiap anggota Siau-yau-kok langsung berubah kelam. Semua ini pasti hasil karya Wan Fei-yang. Pembalasannya mulai terlihat. Thian-ti mencak-mencak dan berteriak seperti geledek bergemuruh. Dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk memeriksa seluruh Siau-yau-kok.

Setelah sibuk sehari penuh, mereka tidak berhasil menemukan apa-apa yang mencurigakan. Akhirnya Thian-ti mengumpulkan Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat. Mereka langsung mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini.

“Bocah she Wan ini sama sekali tidak boleh dipandang remeh. Coba kalau sejak semula Giok-su membunuhnya. Sekarang ilmu silatnya sudah demikian tinggi. Mungkin bahkan lebih tinggi dari Ci-siong Tojin sendiri semasa hidupnya,” kata Geledek menggerutu.

“Betul. Tapi kita tidak usah khawatir. Setingginya tupai melompat, suatu hari pasti akan jatuh juga. Kalau bukan Hiong-kun yang menolongnya, kita pasti sudah berhasil melenyapkan kutu busuk itu. Kita perlu mencari akal untuk menjebaknya,” tukas Angin.

“Aku yakin dia sengaja membuat kita kalang kabut sehingga kewaspadaan kita berkurang. Kalian berempat harus menjaga ketat telaga buatan kita. Aku yakin tujuannya pasti menyelamatkan Yan Cong-tian dari tempat ini!” kata Thian-ti memperingatkan.

*****

Tempat untuk mengurung Yan Cong-tian mempunyai lima jalan tembus. Mereka berlima menjaga di setiap jalan. Sebatang seruling sebagai isyarat panggilan sudah tersedia di tangan masing-masing. Siapa pun yang pertama-tama melihat Wan Fei-yang harus meniup seruling tersebut agar mereka semuanya berkumpul.

Dengan cara demikian, mereka dapat bergabung mengeroyok Wan Fei-yang. Persis seperti lima jari tangan kita sendiri. Kalau hanya satu jari tangan, tentu tidak banyak yang dapat dilakukannya. Tapi seandainya kelima jari digabungkan, banyak keuntungan yang dapat diraih.

Setelah mengatur segalanya, Thian-ti kembali ke pos penjagaannya. Tiba-tiba dia melihat Manusia Tanpa Wajah menghampiri dengan tergesa-gesa.

“Han Cong, apakah kau menemukan sesuatu?” tanyanya gugup.

Manusia Tanpa Wajah tidak menyahut. Dia langsung menerjang ke depan Thian-ti. Pada saat itulah, si makhluk tua baru merasakan sesuatu yang kurang beres. Tapi terlambat, orang yang dipanggil Han Cong itu sudah menghantam dadanya dengan sepasang telapak tangan.

Seluruh isi perut Thian-ti tergetar. Dia terhitung kuat. Daya tahan dirinya hebat sekali. Mungkin ada pengaruhnya dengan terkurungnya dia dalam telaga dingin selama dua puluh tahun. Sepasang tangannya segera dikembangkan untuk menyambut serangan ketiga dari manusia berpakaian hitam itu.

“Siapa kau sebenarnya?” bentak Thian-ti garang.

Manusia berpakaian hitam segera melepas topi pandannya lalu melemparkannya ke hadapan Thian-ti. Terlihatlah seraut wajah yang tidak asing lagi. Mata Thian-ti bersinar tajam.

“Wan Fei-yang!” Sepasang telapak tangannya menyambut topi pandan yang meluncur datang. Dalam sekejap mata, topi pandan itu hancur berkeping-keping.

“Memang aku!” seru Wan Fei-yang sambil menerjang maju menyerang lagi.

Thian-ti menyambut serangan itu beberapa kali berturut-turut. “Benar-benar cara turun tangan yang keji dan licik,” sindirnya.

Wan Fei-yang tertawa dingin. “Masih belum terhitung apa-apa kalau dibandingkan dengan kau orang tua,” sahutnya tenang. Serangannya semakin gencar.

Thian-ti terdesak mundur satu langkah. Cepat-cepat dia mengeluarkan seruling bambu dan meniupnya sebanyak tiga kali. Mendengar suara tiupan seruling itu, Wan Fei-yang segera mencelat mundur.

Thian-ti langsung mengejar. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang mendengar suara isyarat itu, serentak mereka berlari mendekati. Keluar dari ruangan rahasia, Wan Fei-yang langsung menerjang ke dalam lembah. Beberapa anggota Siau-yau-kok berusaha menghalangi, tapi satu demi satu terkapar roboh oleh sapuan pedang Wan Fei-yang.

Dia melesat ke arah air terjun. Namun dia tidak menerobos ke dalamnya. Kakinya mengentak, tubuhnya melesat ke atas air terjun! Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek terus mengejar. Para anggota Siau-yau-kok yang sedang meronda juga berpencaran keluar. Sedangkan yang lainnya ada yang tergetar hatinya sehingga kocar-kacir. Lentera-lentera segera dinyalakan. Keadaan jadi terang benderang seketika.

Wan Fei-yang tidak memedulikan hal lainnya. Dia terus melesat ke depan. Sepanjang perjalanan dia juga tidak menghindar ataupun bersembunyi. Di belakangnya Thian-ti berlima terus mengejar dengan ketat.

Kurang lebih tiga li dari luar lembah terdapat sebuah pondok kecil. Wan Fei-yang terus menerobos ke dalam rumah dan memalang pintunya rapat-rapat. Di dalam rumah ada cahaya. Wan Fei-yang melongok sekilas lewat jendela. Kemudian melesat dan menghilang lagi. Thian-ti berlima mengejar sampai tempat itu. Mereka memencarkan diri mengepung dari lima penjuru. Angin mengibaskan lengan bajunya. Setitik cahaya api terlontar ke atas dan memijar di angkasa.

Cahaya lentera dan obor api yang ada di kejauhan dalam waktu singkat menghampiri arah mereka. Dalam waktu sekejap juga pondok tersebut sudah terkurung oleh ratusan anggota Siau-yau-kok.

“Wan Fei-yang, kalau berani, hayo keluar!” teriak Thian-ti dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Baru saja ucapannya selesai, segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Rupanya hantaman telapak tangan Wan Fei-yang tadi cukup keras. Thian-ti sudah terluka cukup parah di dalam. Ditambah lagi dia berteriak dengan mengerahkan tenaga dalam, maka tanpa dapat ditahan lagi, dia langsung muntah darah segar.

“Kalau berani, masuk saja kalian ke dalam!” terdengar sahutan Wan Fei-yang dari dalam pondok tersebut. Disusul dengan terbukanya pintu pondok itu lebar-lebar.

Kemarahan Thian-ti meledak seketika. Seluruh tubuhnya gemetar. Angin cepat-cepat menghampirinya. “Loyacu, bagaimana keadaanmu?” tanyanya khawatir.

“Tidak apa-apa,” sahut Thian-ti sambil mengibaskan tangannya. Beberapa sosok bayangan segera menerjang ke depan.

Enam orang itu merupakan anggota pasukan berani mati dari Siau-yau-kok. Pakaian mereka berbeda dengan anggota Siau-yau-kok lainnya. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dengan strip hitam di sekitar kerah leher. Tangan mereka semua menggenggam sebatang golok.

Keenam orang itu dengan nekat menerjang masuk. Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Satu demi satu mereka terlempar keluar lalu terpelanting di atas tanah. Semuanya memuntahkan darah segar dan tidak bangkit untuk selama-lamanya. Thian-ti mengertakkan giginya erat-erat. Sekali lagi dia mengibaskan tangannya.

Enam orang anggota pasukan berani mati kembali menyerbu. Kali ini lebih mengenaskan lagi. Belum juga mencapai pintu, satu demi satu sudah roboh tersampuk senjata rahasia yang ditimpukkan oleh Wan Fei-yang dari dalam pondok. Hujan yang melihat keadaan itu, mengerutkan alisnya seketika.

“Bocah ini menguasai Bu-tong-liok-kiat. Jit-amgi yang dipelajarinya sudah mencapai taraf yang tinggi. Tidak mudah menghadapinya dengan cara begini,” katanya.

Mata Thian-ti mengedar ke sekeliling. Dia melihat mimik wajah para anak buahnya sebagian besar sudah gugup dan ketakutan. Hati mereka pasti tergetar menyaksikan kedua belas teman mereka mati dalam waktu sekejap mata. Thian-ti mempertimbangkan sejenak.

“Siapkan Ci-cian-sen-kou (sejenis anak panah tapi berukuran lebih besar seperti kaitan dan ujungnya disambung dengan tali dari akar pohon yang kuat)!” perintahnya kemudian.

Anggota-anggota Siau-yau-kok itu baru bisa menghela napas lega. Mereka berpencar menjadi dua bagian. Dari dalam pondok tidak tampak sedikit reaksi pun. Beberapa saat kemudian, para anggota Siau-yau-kok itu baru berkumpul kembali. Mereka seperti sudah mengerti maksud Thian-ti. Kaitan yang disambung tali dipersiapkan. Begitu perintah Thian-ti diturunkan, mereka segera memanah kaitan itu dari segala penjuru.

Seratus lebih tali panjang meluncur di udara dan menancap di atas pondok tersebut. Tampaknya lebih mirip sarang laba-laba yang kusut tidak keruan.

“Tarik!” teriak Thian-ti sekali lagi.

Para anggota Siau-yau-kok segera berkerumun di tali masing-masing dan menarik sekuat tenaga. Tidak berbeda dengan anak kecil yang sedang bermain tarik tambang. Hanya saja mereka bukan mengadu kekuatan dengan sesama teman, tapi mengadu kekuatan dengan pondok tersebut. Terdengar suara desiran yang bising, perlahan-lahan atap rumah itu mulai tertarik, kemudian hancur berkeping-keping.

Di dalam pondok masih ada penerangan. Wan Fei-yang duduk di samping meja. Dia tidak bergerak sama sekali. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek menyerbu serentak. Senjata rahasia dan golok serta pedang berkelebatan. Wan Fei-yang yang berdandan seperti Manusia Tanpa Wajah masih tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Topi pandan tertebas oleh pedang Kilat. Golok Geledek menyusul cepat menebas kepala orang itu. Batok kepala menggelinding di atas tanah. Sekarang wajahnya terlihat jelas. Ternyata memang Manusia Tanpa Wajah. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek tertegun. Geledek marah sekali. Dibacoknya lentera di atas meja. Pedang Kilat juga menebas putus meja itu sendiri. Tiba-tiba mata Hujan bersinar terang.

“Lihat!” ternyata di bawah meja terdapat sebuah lubang besar.

Thian-ti melesat masuk ke dalam pondok. Dia langsung melihat batok kepala Manusia Tanpa Wajah yang tergeletak di atas tanah. Kemarahannya semakin meluap.

“Kita benar-benar terjebak oleh bocah busuk itu!” teriaknya dengan geram.

Wajah Angin berubah kelam seketika. “Bocah itu pasti sudah melarikan diri dari lubang bawah tanah itu. Dia pasti pergi menolong Yan Cong-tian. Cepat kita susul dia!”

Thian-ti mengibaskan tangannya. “Percuma! Pasti sudah terlambat!”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Angin panik.

Dengan tenang Thian-ti melangkah keluar. Ia berdiri tegak di antara embusan angin kencang. Kenyataannya dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tepat pada saat itu, orang anggota Siau-yau-kok berlari-lari menghampiri dengan gugup. Dia berlutut di depan Thian-ti dan mengucapkan beberapa patah kata.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang menyaksikan kejadian itu, cepat-cepat menghampiri.

“Loya, ada berita apa?”

“Aku kira kita sudah kalah habis-habisan. Tidak tahunya masih ada sedikit harapan,” kata Thian-ti sambil mengelus-elus jenggotnya. Meskipun dia tidak mengatakan secara terus terang, tapi sudah dapat dipastikan bahwa laporan yang diberikan oleh anggota mereka tadi pasti merupakan kabar yang menggembirakan.

*****

Yang dilaporkan memang kabar baik. Beberapa anggota Siau-yau-kok sudah berhasil menemukan tempat persembunyian Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun. Thian-ti mengajak bawahannya mengejar ke tempat itu. Namun mereka masih juga terlambat satu langkah.

Wan Fei-yang sudah berhasil menyelamatkan Yan Cong-tian. Cepat-cepat dia kembali ke tempat persembunyiannya. Setelah itu dia menyiapkan kereta kuda dan menyuruh Fu Hiong-kun naik lalu segera berangkat.

Hujan, Angin, Kilat, Geledek, dan Thian-ti yang mendengar ringkikan kuda langsung memutar ke bagian belakang kuil. Hujan tidak peduli yang lainnya. Dia langsung mencelat ke udara dan menimpukkan sekumpulan jarum racun dengan jurus Man-tian-hue-ho (hujan bunga memenuhi angkasa).

Wan Fei-yang memutar pedangnya ke sekeliling dan jarum-jarum Hujan berpencaran tanpa satu pun mengenai sasaran. Hujan membuka mulutnya lebar-lebar. Sebatang jarum beracun berukuran besar meluncur dari dalam mulutnya. Sasarannya kali ini bahu Fu Hiong-kun!

Kedua tangannya tidak bergerak. Sedangkan mata Wan Fei-yang hanya memerhatikan sepasang tangannya saja. Tentu saja dia tidak sempat menangkis jarum yang satu ini. Jarum tersebut langsung meluncur ke dalam kereta. Tubuh Wan Fei-yang berkelebat. Dia menyergap ke dalam kereta, tangannya terangkat, cemetinya langsung dikibaskan ke bawah. Kuda lari seperti kesetanan. Pada saat itu Fu Hiong-kun baru tersadar bahwa bahunya telah tertancap sebatang jarum beracun Hujan.

Tubuh Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek melayang turun. Mata mereka semua memandang ke arah kereta kuda yang sudah jauh di ujung jalan. Wajah mereka sungguh tidak enak dipandang. Kali ini mereka benar-benar kehilangan muka.

Geledek membanting goloknya ke atas tanah. “Usia bocah ini benar-benar panjang!” makinya kesal.

Hujan tertawa dingin.

“Budak Fu Hiong-kun itu telah terkena jarum beracunku. Dalam tujuh hari, apabila tidak menemukan obat penawarnya, dia pasti mati dengan penderitaan hebat. Aku ingin lihat bagaimana cara bocah she Wan itu menanganinya!”

Mendengar kata-kata itu, wajah Thian-ti semakin kelam.

*****

Kereta kuda terus dikendarai sampai jauh. Wan Fei-yang tetap tidak menghentikan pecut di tangannya. Dari dalam kereta terdengar suara Yan Cong-tian, “Fei-yang, hentikan kereta sebentar.”

Wan Fei-yang segera mengiakan. Dia menghentikan kereta di pinggir jalan. “Supek, ada apa?” tanyanya gugup.

“Coba kau lihat Fu-kouwnio!”

Wan Fei-yang terkejut sekali. Cepat-cepat dia meloncat turun dari tempat duduknya di bagian depan. Dia menyingkap tirai kereta tersebut dan masuk ke dalam. Dia melihat Fu Hiong-kun duduk di sudut dengan tubuh bergetar tiada henti. Wan Fei-yang segera menyalakan sebatang lilin. Di bawah cahaya lilin tersebut, tampaklah wajah Fu Hiong-kun yang sudah pucat pasi bagai helaian kertas putih. Bahkan ada kesan menyeramkan.

“Fu-kouwnio, bagaimana keadaanmu?” tanyanya cemas. Dia memapah tubuh Fu Hiong-kun dan membantunya duduk tegak. Pada saat itulah dia melihat jarum beracun yang menancap di bahu gadis itu. “Jarum Hujan!” Wajah Wan Fei-yang langsung berubah.

Tentu saja Yan Cong-tian juga tahu betapa beracunnya jarum Hujan yang disebutkan oleh Wan Fei-yang. Dia tertawa sumbang.

“Fei-yang, gadis ini bukan saja sudah menanamkan budi kepada kita berdua. Dia juga berjasa besar terhadap Bu-tong-pay. Bagaimanapun kita harus mencari jalan menyelamatkannya,” kata Yan Cong-tian.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. Tanpa diperintahkan oleh Yan Cong-tian sekalipun, dia tidak mungkin membiarkan Fu Hiong-kun begitu saja. Dia cepat-cepat menutuk beberapa jalan darah di sekitar luka Fu Hiong-kun agar racunnya jangan menjalar.

Namun gadis itu sudah cukup lama terkena jarum beracun Hujan. Racunnya sudah menjalar sebagian. Dia tidak dapat bersuara lagi. Bahkan merintih pun tidak. Wan Fei-yang kalang kabut seperti seekor semut yang dipanggang di atas kompor. Duduk salah, berdiri pun salah.

Tiba-tiba matanya bersinar terang. Dia teringat akan seseorang. Tanpa sadar dia berteriak, “Jangan takut, Supek. Masih tertolong!”

“Akal apa lagi yang terpikir olehmu?” tanya Yan Cong-tian panik.

“Kita harus secepatnya membawa Fu-kouwnio ke tempat Hay-liong Lojin,” kata Wan Fei-yang.

“Hay-liong Lojin? Hay-liong Lojin dari Go-bi-pay?” tanya Yan Cong-tian.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

“Orang yang tua ini sudah lama tidak cocok dengan It-im Taysu, Ciangbunjin Go-bi-pay yang sudah almarhum. Entah ke mana perginya dia setelah meninggalkan Go-bi-san. Kami tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi.”

“Aku tahu di mana orang itu berada,” sahut Wan Fei-yang tanpa menunda waktu lagi. Dia meloncat turun dan naik ke depan kereta. Lalu memecut kuda seperti orang kesetanan. Yan Cong-tian juga tidak banyak tanya lagi.

*****

Meskipun jarum Hujan beracun ganas, tapi masih belum sanggup menyulitkan Hay-liong Lojin yang ilmu pengobatannya tinggi sekali itu. Namun dia memerlukan waktu hampir sebulan untuk mendesak seluruh racun keluar sampai bersih.

Dalam jangka waktu ini, Wan Fei-yang selalu melayani di sampingnya. Meskipun Fu Hiong-kun tidak mengatakan apa-apa, tapi dari sinar matanya terlihat jelas betapa dia terharu dan berterima kasih sekali kepada Wan Fei-yang.

Bila ada waktu senggang, atau apabila Fu Hiong-kun sudah tertidur nyenyak, Wan Fei-yang sering menemani Yan Cong-tian bercakap-cakap, seperti juga malam ini.

“Fei-yang, apabila mengingat perlakuan kami terhadapmu di masa lalu, Supek rasanya malu sekali,” kata Yan Cong-tian sambil menarik napas panjang.

Wan Fei-yang tertawa getir.

“Supek jangan berkata demikian. Sekarang semuanya sudah jelas. Inilah yang terpenting.”

“Betul. Tapi aku masih tidak mengerti. Mengapa ayahmu tidak mau mengatakan terus-terang kepadaku tentang dirimu? Seandainya dia berani menceritakan semuanya sejak semula, tentu tidak akan terjadi fitnahan terhadap dirimu.”

Wan Fei-yang menarik napas panjang. “Supek, maafkan kalau ada kata-kata Tecu yang menyinggung perasaanmu ….”

“Ada apa? Katakan saja ….”

“Kalau ditilik dari sifat Supek sebelumnya, belum tentu Supek bisa menerima kenyataan ini. Apalagi ayah sudah menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay. Dia terpaksa mengorbankan perasaannya sendiri demi kejayaan Bu-tong-pay. Tecu rasa semua ini memang sudah merupakan takdir dari Thian.”

Yan Cong-tian tertawa lebar. “Benar apa yang kau katakan, Fei-yang. Dulu aku pasti tidak bisa menerima kenyataan ini walaupun ayahmu ada keberanian untuk menceritakannya. Menurut adatku, aku pasti akan marah besar. Aih … setelah melewati berbagai penderitaan dan bencana, aku baru menyadari bahwa pendirianku selama ini terlalu kukuh.”

“Supek ….” kepala Wan Fei-yang tertunduk dalam-dalam. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya. Namun mata tua Yan Cong-tian mana dapat dikelabui.

“Apa lagi yang kau risaukan?”

“Wan-ji, dia ….”

Wajah Yan Cong-tian ikut muram seketika. “Aku juga tidak tahu bagaimana nasibnya. Mungkin dia sudah ….”

“Tecu sudah berusaha menyelidiki ke Kian-wei-piaukiok, tapi perusahaan pengawalan itu sudah ditutup. Tidak ada seorang pun yang masih tersisa. Mudah-mudahan saja dia masih hidup. Menurut keterangan Fu-kouwnio, Thian-ti memang menyuruh Fu Giok-su membunuhnya. Namun dia tidak sampai hati. Sayangnya Fu-kouwnio tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan nasib Wan-ji.”

“Huh! Manusia pengkhianat itu! Perbuatan apa juga bisa dilakukan olehnya. Mana ada kata-kata tidak sampai hati dalam kamus hidupnya!”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Wan Fei-yang cepat-cepat membukanya. Hay-liong Lojin berdiri di depan pintu dengan wajah serius.

“Locianpwe … belum tidur?” sapa Wan Fei-yang.

Yan Cong-tian juga langsung menjura kepada orang tua itu.

“Hay-liong-heng, Siaute rasa kedatangan Hay-liong-heng pasti ada urusan penting, bukan?”

Hay-liong Lojin menganggukkan kepala kemudian berjalan masuk. Dia duduk di atas balai-balai.

“Mengenai penyakit Yan Toheng, Lohu sudah membongkar berbagai buku pengobatan. Hasilnya memang masih bisa tertolong ….”

“Benarkah? Kapan dimulai pengobatannya Locianpwe?” tanya Wan Fei-yang dengan wajah berseri-seri.

“Tunggu dulu. Ada sejenis obat yang bisa memulihkan tenaga dalam yang hilang serta menyambung kembali urat-urat yang putus. Namanya cang-pu, sejenis daun panjang yang akarnya berwarna merah. Hanya berkembang di musim panas. Jenis daun dan akar ini tidak sulit ditemukan. Namun yang kita butuhkan adalah cang-pu yang berakar tiga belas. Ini yang menjadi persoalan. Cang-pu biasanya hanya berakar sembilan. Sepuluh saja sudah sulit dicari, apalagi tiga belas. Jenis ini hanya terdapat di Fu-sang (Jepang) dalam sebuah lembah yang bernama Yi-ho-kok. Lembah itu penuh dengan racun. Lagi pula dijaga oleh suku Yi-ho-pai yang mengerti ilmu sihir.”

“Tecu tidak peduli. Biar bagaimana pun Tecu harus pergi ke sana. Tidak ada salahnya berusaha bukan?”

Tadinya Yan Cong-tian masih melarang. Begitu pula Hay-liong Lojin. Tapi keputusan Wan Fei-yang tampaknya sudah tidak bisa diganggu-gugat. Akhirnya mereka terpaksa mengabulkan juga permintaannya.

Dua bulan kemudian. Pagi hari yang cerah. Wan Fei-yang memohon diri kepada Yan Cong-tian dan Hay-liong Lojin untuk berangkat ke timur menuju negara Fu-sang. Fu Hiong-kun mengantarkan sampai di depan pintu. Berkali-kali dia mengingatkan Wan Fei-yang untuk berhati-hati.

Yan Cong-tian tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memikirkan bagaimana membalas jasa Wan Fei-yang di masa depan. Tentang riwayat hidup anak muda itu yang demikian pilu serta mengenaskan, dia merasa kasihan dan iba. Seandainya waktu dapat diputar kembali, dia ingin menyayangi Wan Fei-yang sepenuh hati. Sedangkan tentang Ci-siong, dia hanya dapat menarik napas panjang. Dia tahu penderitaan sutenya itu cukup berat. Malah boleh dikatakan dia menyimpan semuanya rapat-rapat sampai ajalnya tiba. Betapa pedihnya hati seorang laki-laki yang tidak bisa mengakui anaknya sendiri bahkan dalam seumur hidupnya belum pernah dipanggil ayah sekalipun.

Hay-liong Lojin malah mengantar Wan Fei-yang sampai di jalan keluar. Rupanya dia masih menyimpan kata-kata yang ingin disampaikan kepada anak muda itu.

“Kalau kau bertemu lagi dengan Kuan Tiong-liu, tolong seret dia kemari. Seandainya kau patahkan kaki dan tangannya, aku tidak akan menyalahkan dirimu!” Hay-liong Lojin mengatakannya dengan serius. “Bocah kurang ajar itu dikejar oleh Hek-pai-siang-mo sampai kemari beberapa puluh hari yang lalu. Malah dia mengatakan kepada Hek-pai-siang-mo bahwa aku akan melamarkan budak perempuan bernama Yi Pei-sa itu. Akhirnya dia membuat aku bertarung dengan kedua iblis hitam-putih tersebut. Dia malah menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Sam Cun yang mencoba menghalangi diikat dengan tali ke sebatang pohon. Dia juga mencuri beberapa macam obat-obatanku yang susah didapatkan!”

Mendengar cerita orang tua itu, Wan Fei-yang hanya dapat tertawa pahit. Dia tahu tujuan Kuan Tiong-liu sebenarnya rahasia ilmu pusaka Hek-pai-siang-mo. Maka dia menggunakan segala macam akal bulus. Namun tidak dinyana manusia itu malah berani mengecoh Hay-liong Lojin yang masih merupakan susioknya.

“Satu-satunya murid yang bisa diandalkan malah jenis orang yang licik. Tampaknya kejayaan Go-bi-pay benar-benar habis pada generasi itu,” kata Hay-liong Lojin sambil menatap langit dan menarik napas panjang berulang kali.

Matanya memandang kepergian Wan Fei-yang. Kemudian dia membalikkan tubuh untuk kembali ke rumah. Dari kejauhan tampak Sam Cun berlari-lari kecil mengiringi seorang murid Go-bi-pay. Murid Go-bi-pay itu membawa kabar untuk Hay-liong Lojin. Mestinya kabar itu kabar baik, tapi begitu mendengarnya Hay-liong Lojin malah berjingkrak marah.

“Tanpa izin dari Lohu, siapa yang berani memakai nama ciangbunjin mengumpulkan para murid Go-bi-pay?” orang tua itu memaki kalang kabut. Dia memerintahkan kepada Sam Cun untuk membereskan perbekalan dan segera berangkat sekarang juga.

*****

Hay-liong Lojin cepat-cepat menuju ke Pek-hua-lim, nama sebuah hutan yang pohonnya berbunga putih. Itulah sebabnya tempat itu disebut Hutan Bunga Putih. Para murid Go-bi-pay sudah berkumpul di tempat itu. Yang memanggil mereka bukan orang lain, tetapi Kuan Tiong-liu!

Kuan Tiong-liu menggunakan kewibawaannya sebagai murid satu-satunya It-im Taysu. Dia membujuk para murid Go-bi-pay yang berpencar di luaran untuk berkumpul di Pek-hua-lim ini. Tujuannya adalah menggempur Bu-ti-bun serta membangkitkan kembali kejayaan Go-bi-pay. Dia juga menekankan bahwa tujuan menggempur Bu-ti-bun ini, yang terutama adalah untuk membalas dendam bagi kematian It-im Taysu. Oleh karena itu, rata-rata murid Go-bi-pay langsung menyetujui niatnya.

Para murid Go-bi-pay yang mengira hati Kuan Tiong-liu begitu tulus dan setia segera memilihnya sebagai pengganti It-im Taysu yang sudah meninggal dunia menjabat sebagai ciangbunjin generasi baru. Mereka baru saja menjatuhkan diri berlutut, ketika Hay-liong Lojin melayang turun di tengah-tengah sambil membentak dengan suara keras.

“Kuan Tiong-liu tidak pantas menjadi Ciangbunjin Go-bi-pay!”

Para hadirin tertegun seketika. Berbondong-bondong mereka berdiri. Kuan Tiong-liu masih tenang-tenang saja. Tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di wajahnya. Dia malah maju ke depan menyambut Hay-liong Lojin.

“Kedatangan Susiok sungguh tepat. Dengan adanya Susiok yang memimpin upacara pengangkatan ini, semua akan berlangsung lancar dan meriah. Tidak ada lagi yang lebih pantas menjadi saksi dan juga merupakan satu-satunya angkatan tua yang masih hidup,” katanya sok serius.

Hay-liong Lojin menuding Kuan Tiong-liu dengan mata mendelik, “Nyalimu semakin hari semakin besar saja!”

Wajah Kuan Tiong-liu semakin serius.

“Sebelum menutup mata, Suhu memang tidak sempat menyampaikan pesan apa-apa. Tapi sebagai murid satu-satunya dari Ciangbunjin Go-bi-pay, Tecu merasa mempunyai hak untuk meneruskan jabatan ini. Rasanya memang pantas bukan?”

“Kau melarikan anak gadis Tibet. Mencuri belajar ilmu sesat Hek-pai-siang-mo. Kau sama sekali tidak pantas menjadi murid Go-bi-pay! Sekarang juga aku sebagai Tianglo Go-bi-pay memecat kau dari perguruan ini!” kata Hay-liong Lojin tegas.

Para hadirin jadi kebingungan melihat perkembangan ini. Mereka saling pandang satu dengan lainnya. Kuan Tiong-liu malah tertawa terbahak-bahak.

“Waktu dulu, kau orang tua sendiri tidak bersedia mematuhi peraturan Go-bi-pay dan meninggalkan perguruan begitu saja. Sebetulnya kau sendiri sejak lama bukan lagi murid Go-bi-pay. Sekarang masih tidak malu menyebut diri sendiri sebagai Tianglo Go-bi-pay!”

Hay-liong Lojin marah sekali. Sekali lagi dia menuding Kuan Tiong-liu, “Murid murtad. Mulutmu sungguh tidak sopan. Berani kau melawan angkatan tua. Hukuman apa yang harus kau terima?”

“Aku mengerti kau orang tua selama ini mengandung maksud tidak baik. Kau memang tidak berharap Go-bi-pay dapat bangkit kembali!” sahut Kuan Tiong-liu dengan suara datar.

“Kau berani sembarang mengoceh lagi, aku langsung membunuhmu!” teriak Hay-liong Lojin hampir pecah kepalanya.

“Tampaknya kau orang tua bukan hanya ingin membunuh aku. Kau memang ingin membunuh semua murid Go-bi-pay sampai tuntas. Diam-diam kau tentu senang It-im Taysu beserta saudara kita yang lainnya terbunuh habis-habisan. Dengan demikian, Go-bi-pay tidak mempunyai harapan untuk bangkit kembali, dan kau pun sama dengan sudah melampiaskan rasa dendammu sejak meninggalkan Go-bi-san!” Kuan Tiong-liu paham sekali sifat orang tua itu. Setiap ucapan yang dikeluarkannya memang sengaja memancing kemarahan Hay-liong Lojin.

Saking marahnya Hay-liong Lojin sampai tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Aku tidak menyangka It-im Suheng bisa mendidik seorang murid yang demikian setia dan menjunjung tinggi keadilan!”

Tingkah laku Kuan Tiong-liu masih ramah dan sopan seperti sebelumnya. “Cianpwe terlalu memuji,” tapi sebutannya terhadap Hay-liong Lojin sudah berubah. Dia tidak memanggil Susiok lagi, melainkan Cianpwe.

“Bagus! Hari ini biar orang yang kau sebut Cianpwe ini membantu It-im Taysu membersihkan perguruannya!” Pedangnya langsung dihunus. Terdengar, “singg!” dan sekumpulan cahaya berkilauan.

“Maaf ….” dengan tenang Kuan Tiong-liu mencabut pedangnya. Dua jari telunjuk dan tengah menekan gagang pedang. Sebagai permulaan, dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat.

Pedang Hay-liong Lojin diulurkan ke depan kemudian digetarkan. Jurus yang dimainkannya sama dengan Kuan Tiong-liu. Tiba-tiba kakinya bergerak dan meluncur ke depan. Kuan Tiong-liu menyambut dari arah yang berlawanan.

“Trang!” pedang mereka berbenturan kemudian terlepas kembali. Keadaan masih seimbang. Mereka tidak berhenti tetapi terus melangsungkan pertarungan dengan seru. Dalam sekejap sekitar tempat itu diselimuti oleh kilauan pedang yang menari-nari.

“Trang! Tring! Trang!” suara benturan pedang mereka bagaikan irama sumbang yang memekakkan telinga. Tubuh mereka berkelebat cepat membentuk bayangan. Tampaknya mereka bukan sedang bertarung tetapi mengadu kekuatan pedang masing-masing karena berkali-kali pedang mereka beradu kemudian terlepas lagi setelah itu berbenturan kembali. Terus begitu berulang-ulang.

Kiam-hoat yang sama, gerakan pun tidak berbeda. Pertama-tama melihat sepertinya sama-sama kuat alias seimbang. Namun setelah serang-menyerang sebanyak tiga puluh enam kali, Kuan Tiong-liu mulai menguasai keadaan. Hay-liong Lojin mulai kewalahan. Kakinya terdesak mundur beberapa langkah. Dia hanya sanggup mengikuti gerakan Kuan Tiong-liu saja.

Jurus yang dikerahkan oleh Kuan Tiong-liu memang tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat ajarannya. Namun selain daya yang, dia sudah menambah kehebatan ilmu pedangnya dengan tenaga lembut im hasil curian dari Hek-pai-siang-mo. Sekarang ilmu Lok-jit-kiam-hoatnya sudah mencapai taraf kesempurnaan. Itulah sebabnya dia berani melawan Hay-liong Lojin tanpa merasa gentar sedikit pun. Sebelumnya dia sudah memperhitungkan kekuatannya sendiri sampai matang. Kala ditilik dari sifatnya yang licik, sebelum yakin, mana mungkin dia berani mengumpulkan murid Go-bi-pay yang masih hidup dan mengumumkan dirinya sebagai ciangbunjin. Dia tahu Hay-liong Lojin pasti akan marah sekali. Tapi dengan mengandalkan kekuatannya sekarang, dia tidak memandang sebelah mata lagi kepada orang tua itu.

Dalam keadaan terdesak, api marah Hay-liong Lojin semakin berkobar. Dari matanya tersorot sinar merah membara. Dia meraung murka dan dengan nekat menerjang ke depan mengerahkan segenap tenaganya memainkan jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat.

Segurat cahaya pedang yang berkilauan menyinari wajah Kuan Tiong-liu. Anak muda itu hanya menggeser kakinya dua langkah ke samping. Serangan orang tua yang dahsyat itu pun luput dari sasaran.

Pedang Kuan Tiong-liu tidak berkilauan. Bahkan setitik cahaya pun tidak tampak. Tapi ketika sinar pedang Hay-liong Lojin hampir pudar secara keseluruhan, pedangnya baru memijarkan sinar yang menusuk mata. Dia menggerakkan pedangnya menyerang tujuh kali berurut-turut.

Hay-liong Lojin meraung murka. Tubuhnya yang sedang melayang turun tiba-tiba melemah. Kening, tenggorokan, jantung, dada, dan bagian lain lagi sudah tertikam sebanyak tujuh kali. Dari tujuh lubang lukanya terlihat darah mengalir dengan deras. Pakaiannya penuh noda merah. Tubuhnya terjatuh di atas tanah dengan keras. Sepasang matanya masih terbelalak. Tentu saja dia mati dengan penasaran.

Kuan Tiong-liu mengangkat pedangnya dan mulutnya mengambil gaya meniup, dia mengembuskan darah yang masih tersisa di pedangnya. Penampilannya tenang sekali. Dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung yang terselip di pinggang. Seakan tidak ada sesuatu pun yang telah terjadi.

Para anggota Go-bi-pay yang melihat kematian Hay-liong Lojin, tidak ada satu pun yang wajahnya tidak berubah. Tapi juga tidak ada seorang pun yang berani meninggalkan tempat itu.

Kuan Tiong-liu mengedarkan pandangannya. Dia tahu para murid Go-bi-pay sudah dibuat gentar oleh kehebatan ilmu pedangnya. Wajahnya malah tidak menyunggingkan seulas senyum pun. Dia menghadap ke arah timur dan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

“Hay-liong Lojin menghina perguruan. Hari ini akhirnya Tecu bisa juga membersihkan nama baik perguruan kita dengan membunuhnya. Harap Suhu damai di alam baka,” gumamnya lirih.

Tanpa sadar para murid Go-bi-pay semuanya ikut menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Perlahan-lahan Kuan Tiong-liu membalikkan tubuhnya.

“Para murid Go-bi-pay, dengarkan baik-baik! Mulai hari ini, kita harus menjunjung tinggi keadilan dan mengutamakan pembalasan dendam. Basmi Bu-ti-bun dan bangkitkan kembali Go-bi-pay!” serunya lantang. Tentu saja kata-kata ini bukan keluar dari hatinya yang tulus. Dapat dibayangkan manusia sekeji dan selicik Kuan Tiong-liu, mana mungkin dia mementingkan pembalasan dendam bagi It-im Taysu dan sesama saudara seperguruannya. Tujuannya yang utama adalah menonjolkan diri di dunia Kangouw dan mencari nama besar. Dia belum melupakan Wan Fei-yang yang telah mengalahkannya beberapa kali berturut-turut. Tapi dia sudah lupa budi pertolongan yang diberikan oleh anak muda itu.

*****

Malam sudah larut. Di bagian belakang gunung Bu-tong di mana terdapat sebuah hutan lebat, Fu Giok-su masih terlihat giat berlatih Coa-tiau-cap-sa-sut. Malam itu ketika bertarung melawan Wan Fei-yang, dia merasakan bahwa setiap serangan yang dilakukannya berhasil dihindari atau disambut oleh Wan Fei-yang dengan mudah. Hal ini semakin menguatkan keputusannya melatih Coa-tiau-cap-sa-sut lebih keras lagi.

Dari pagi sampai malam larut, kalau dia belum sampai letih sekali, dia tetap tidak mau berhenti. Coa-tiau-cap-sa-sut mempunyai banyak perubahan. Hal ini tidak mengherankan karena Tio Sam-hong menciptakannya dengan mengikuti pertarungan antara rajawali sakti dan ular. Kecepatan kedua binatang ini hampir sama. Perbedaannya yang satu lincah di darat sedangkan yang satunya lagi gesit di udara. Tadinya Fu Giok-su berlatih di dalam ruangan rahasia tempat para ciangbunjin berlatih ilmu. Tapi tempat itu kurang leluasa. Dia tidak dapat mengembangkan jurus-jurusnya dengan baik. Oleh karena itulah, dia memilih bagian belakang gunung ini untuk berlatih.

Para murid Bu-tong-pay jarang datang ke bagian belakang gunung ini. Terlebih-lebih pada malam hari seperti sekarang. Selama ini Fu Giok-su tidak pernah ada perasaan khawatir sama sekali. Kecuali malam ini. Baru berlatih sampai jurus kedua belas, dia sudah merasakan kehadiran seseorang yang mendekatinya dengan perlahan. Dan ilmu ginkang orang itu tampaknya cukup tinggi. Seandainya dia tidak kebetulan menginjak sebatang ranting kering serta menimbulkan sedikit suara, Fu Giok-su pasti masih belum mengetahui kehadirannya.

Fu Giok-su menahan kemarahannya. Dia berlatih terus sampai ketiga belas jurus itu selesai dimainkan. Kemudian tubuhnya mendadak melesat menerjang ke arah rimbunan pohon di mana orang itu bersembunyi. Dalam waktu yang bersamaan, suara kibasan lengan baju memecahkan keheningan malam. Sesosok bayangan berpakaian hitam meluncur dari balik pepohonan dan berkelebat secepat kilat ke depan.

Fu Giok-su terus mengejar. Bayangan manusia berpakaian hitam itu lari secepat terbang. Dia terus melesat kurang lebih setengah kemudian tahu-tahu dia menyelinap ke dalam gua di mana telaga dingin berada. Dalam hati Fu Giok-su merasa curiga. Dia mempertimbangkan sejenak, akhirnya mengejar ke dalam.

Hawa di dalam gua dingin sekali. Keadaannya juga gelap gulita. Sampai-sampai kelima jari tangan sendiri pun tidak terlihat. Dengan berhati-hati Fu Giok-su mengendap-endap maju ke depan. Kemudian telinganya menangkap desiran lengan baju.

“Siapa?” bentaknya dengan suara keras.

Tidak ada yang menyahut, tiba-tiba keadaan dalam gua menjadi terang benderang seketika. Lima obor api menyala dalam waktu yang bersamaan. Di belakang kelima obor tadi, ternyata duduk dengan berdampingan Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Fu Giok-su terkejut setengah mati. “Yaya …!” serunya tanpa sadar.

Thian-ti tertawa datar. “Giok-su, apakah kau merasa di luar dugaan melihat kemunculan kami?”

Fu Giok-su menenangkan hatinya. Dia mengangguk dua kali. “Apakah telah terjadi sesuatu di dalam Siau-yau-kok?”

Kali ini Thian-ti yang menganggukkan kepalanya.

“Siau-yau-kok sudah diubrak-abrik oleh Wan Fei-yang. Kami tidak bisa menetap di sana lagi. Telaga dingin ini merupakan daerah terlarang bagi murid Bu-tong-pay. Dengan bersembunyi di tempat ini, aku yakin Wan Fei-yang pasti tidak akan menduganya.”

Mata Fu Giok-su bersinar terang.

“Tidak salah. Seandainya bocah Wan Fei-yang itu benar-benar mencari sampai ke sini, Sun-ji pun tidak akan khawatir lagi!”

“Justru ini merupakan salah satu maksud kedatangan kami. Sekalian kami bersembunyi di sini. Rahasiamu sekarang sudah bocor. Cepat atau lambat dia pasti akan mencarimu. Dengan adanya kami di sini, setidaknya kau masih mempunyai bantuan yang dapat diandalkan. Tentu saja kami harap kedatangannya semakin lambat semakin baik!”

“Maksud Yaya ….” Fu Giok-su tidak mengerti.

“Sebelum dia datang, kau harus mengerahkan para murid Bu-tong untuk menggempur Bu-ti-bun. Pada saat itu aku yakin Wan Fei-yang pasti tidak akan berdiam diri. Kita biarkan sampai kedua belah pihak sama-sama terluka, barulah kita turun tangan membasmi Bu-ti-bun sekaligus Bu-tong-pay!”

Fu Giok-su langsung mengembangkan senyuman licik. “Sun-ji merasa ide ini cemerlang sekali!”

Thian-ti mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema di gua tersebut dan menggidikkan hati siapa pun yang mendengarnya, tentu saja kecuali Fu Giok-su dan keempat bawahannya.

Fu Giok-su mengerutkan keningnya. Seakan-akan dia teringat sesuatu yang tidak dimengertinya. “Bagaimana Wan Fei-yang bisa menyerbu ke Siau-yau-kok? Padahal kita tidak memancingnya ke sana.”

“Bocah itu benar-benar selalu menimbulkan kesulitan!”

Suara tawa Thian-ti sirap seketika. “Siapa lagi kalau bukan gara-gara budak Hiong-kun!”

“Hiong-kun?” wajah Fu Giok-su menjadi kelam kembali.

“Jangan sebut nama budak itu lagi!” kemarahan Thian-ti mulai meluap. Dia berhenti sejenak untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak. “Ohya …. Apakah kau sudah tahu bahwa Kuan Tiong-liu telah mengangkat dirinya menjadi Ciangbunjin Go-bi-pay? Dan dia sekarang dalam perjalanan membawa para muridnya menuju Bu-tong-san ini!”

Fu Giok-su mengerutkan alisnya sekali lagi.

“Mungkinkah dia datang kemari untuk membuat perhitungan denganku atas kekalahannya di tangan Ci-siong Tojin tempo hari?”

“Mungkin juga dia ingin mengajak Bu-tong-pay bekerja sama menggempur Bu-ti-bun,” kata Thian-ti dengan mata setengah terpejam.

Fu Giok-su langsung mengulaskan senyuman lebar.

“Seandainya benar demikian, tentunya bagus sekali. Dengan bergabungnya Go-bi-pay dan Bu-tong-pay, tidak takut Bu-ti-bun masih bisa berdiri lebih lama lagi.” Dia tertawa terbahak-bahak. Kali ini suaranya lebih menyeramkan daripada suara tawa Thian-ti tadi.

*****

Dugaan Thian-ti memang tidak salah. Pada hari kedua menjelang matahari berada di atas kepala, surat undangan Kuan Tiong-liu sudah sampai. Tentu saja Fu Giok-su menyambutnya sebagai Ciangbunjin Go-bi-pay.

Kuan Tiong-liu menyatakan minatnya mengajak Bu-tong-pay bekerja sama menggempur Bu-ti-bun. Fu Giok-su menyambutnya dengan gembira. Meskipun Kuan Tiong-liu adalah seorang pemuda yang cerdas, tapi dalam hal kelicikan, dia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Fu Giok-su.

Dalam dunia Kangouw, asal-usul Fu Giok-su masih merupakan misteri. Sedangkan para murid Bu-tong-pay memercayai dia sepenuhnya tanpa pernah tebersit kecurigaan sedikit pun. Apalagi partai lainnya. Sikapnya tidak pernah meragukan. Caranya berbicara ataupun menghadapi tamu jauh lebih berwibawa daripada Kuan Tiong-liu.

Pada dasarnya dia memang keturunan tokoh terkenal. Nenek moyangnya pernah menggetarkan dunia persilatan sebagai tokoh paling misterius pada zamannya. Baik didikan ataupun silsilah keluarga saja, Kuan Tiong-liu sudah bukan apa-apa dibandingkan dengannya.

“Bu-ti-bun adalah musuh seluruh Bu-lim. Asalkan Go-bi-pay dan Bu-tong-pay bergabung menyerangnya, partai lurus lainnya pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti turun tangan memberi bantuan untuk membasmi kejahatan Bu-ti-bun yang sudah sekian lama merajalela. Ajakan Kuan-ciangbunjin memang tepat. Kalau bukan kita yang memulai, partai lain tentu belum berani mengambil tindakan mengingat besar dan kuasanya Bu-ti-bun di dunia Kangouw saat ini.”

“Tidak salah!” sahut Kuan Tiong-liu dengan nada berat. “Tapi ular tidak mungkin tanpa kepala. Kita harus memilih seorang bengcu untuk memimpin penyerangan ini!”

Fu Giok-su merenung sejenak. Kemudian dia tertawa lebar. “Kalau dihitung dari usia, bengcu seharusnya dijabat oleh Kuan-heng.”

Diam-diam hati Kuan Tiong-liu senang sekali mendengar kata-kata Fu Giok-su. Tapi dia pura-pura menolaknya agar terlihat rendah diri dan tidak sok. “Keputusan ini kurang adil. Menurut pandangan Siaute, lebih baik mengikuti peraturan Bu-lim. Memilih bengcu berdasarkan tingginya ilmu silat masing-masing.”

Kuan Tiong-liu berhasil mengalahkan Hay-liong Lojin dengan mengandalkan Lok-jit-kiam-hoatnya yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Tentu saja rasa percaya dirinya lebih besar lagi sekarang. Tentu saja Fu Giok-su juga tidak menolak. Tidak mudah mendapat seorang lawan seperti Kuan Tiong-liu. Kebetulan dia bisa menguji sampai di mana hasil latihan Coa-tiau-cap-sa-sut yang dilatihnya.

Salah seorang murid Bu-tong segera turun ke bawah gunung untuk mengambil pedang Kuan Tiong-liu yang ditinggalkan di tempat itu. Fu Giok-su sendiri tidak menggunakan senjata yang biasa dipakainya. Dia sembarangan mengambil sebatang toya dari penyimpanan senjata. Kali ini dia sama sekali tidak berminat mengerahkan Bu-tong-liok-kiat dalam menghadapi lawannya.

*****

Di luar pendopo angin bertiup dengan kencang. Batasnya memang hanya saling menutul saja. Tapi ketika kedua orang mulai bertarung dengan seru, tanpa terasa hati para murid Bu-tong menjadi tegang.

Kuan Tiong-liu berniat menyelesaikan pertandingan itu dalam waktu secepatnya. Begitu berhadapan dengan Fu Giok-su, dia langsung memainkan tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat. Serangannya gencar sekali. Pertama-tama Fu Giok-su menghindar serangan tersebut secara asal-asalan saja. Namun ketika jurus kedua mulai dimainkan oleh Kuan Tiong-liu, dia pun tidak ayal lagi. Coa-tiau-cap-sa-sut langsung dilancarkan. Tubuh Fu Giok-su meluncur bagai seekor rajawali sakti yang mengincar mangsanya. Kadang-kadang gerakannya berubah laksana seekor ular yang siap menggigit. Sekali waktu dia melayang di udara, sekejap kemudian dia seakan melata di atas tanah. Perubahan yang dilakukannya berturut-turut terlihat ruwet sekali. Bahkan orang yang ilmunya tidak seberapa tinggi langsung berkunang-kunang matanya mengikuti gerakan Fu Giok-su.

Kuan Tiong-liu terkejut sekali. Tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat telah dikerahkan seluruhnya, tapi dia tetap tidak sanggup menahan Fu Giok-su apalagi menyentuh tubuhnya. Baru saja dia berniat mengerahkan kembali tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat, toya Fu Giok-su sudah meluncur mengancamnya.

Kuan Tiong-liu tidak berani ayal. Cepat-cepat dia mencelat mundur beberapa langkah. Fu Giok-su malah bagaikan seekor ular yang menerjang terus. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Toya di tangannya juga ibarat seekor ular berbisa yang siap menggigit musuhnya. Enam puluh empat kali berturut-turut dia menyerang Kuan Tiong-liu. Pada serangan yang keenam puluh empat, Fu Giok-su melihat titik kelemahan Kuan Tiong-liu. Toyanya langsung menerjang masuk. Tampaknya toya itu akan menghantam hancur pangkal lengan Kuan Tiong-liu. Tapi pada detik yang menegangkan itu, tiba-tiba Fu Giok-su menarik kembali senjatanya kemudian gerakannya pun terhenti.

Wajah Kuan Tiong-liu berubah hebat. Tapi dia berusaha menahan kekesalannya. Pedangnya sendiri ditarik kembali. “Ilmu simpanan Bu-tong-pay ternyata merupakan pusaka yang tidak tertandingi. Aku Kuan Tiong-liu mengaku kalah. Kedudukan bengcu memang tepat dijabat oleh Fu-heng!”

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya. “Meskipun Siaute menang setengah jurus, tapi bagaimana pun pengalaman dalam dunia Kangouw masih dangkal. Menurut pendapat Siaute, lebih baik urungkan saja niat memilih bengcu. Urusan besar maupun kecil, kita rundingkan bersama dan mencari keputusan yang adil!”

“Ini ….” Kuan Tiong-liu memerhatikan Fu Giok-su dengan tajam. Tapi dia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Ucapan yang dikeluarkan oleh Fu Giok-su demikian tulus. Hatinya tergerak. Dia sudah mempunyai perhitungan yang matang. Akhirnya dia menganggukkan kepala tanda setuju dengan usul Fu Giok-su tadi.

Fu Giok-su langsung-mengajak Kuan Tiong-liu duduk di ruangan dalam. Sementara itu, dia juga memerintahkan kepada salah seorang anak buahnya untuk mengantarkan surat tantangan kepada Tok-ku Bu-ti. Dalam surat itu dinyatakan bahwa dia mengajak Tok-ku Bu-ti bertemu di Kuan-jit-hong, Giok-hong-teng, untuk bertanding secara adil. Batas waktu setengah tahun yang dijanjikan juga sudah hampir sampai.

“Ketika aku bertarung melawan Tok-ku Bu-ti di Giok-hong-teng. Kuan-heng segera mengumpulkan para murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay dan mengadakan serangan ke Bu-ti-bun. Basmi perkumpulan itu sampai bersih,” Fu Giok-su mengemukakan siasat yang sudah dipikirkannya matang-matang.

Tentu saja Kuan Tiong-liu setuju. Dengan ilmu silat yang dimiliki oleh Fu Giok-su, seandainya dia dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti tapi dia sendiri pasti tidak terhindar dari luka yang cukup parah. Pada saat itu, dia baru turun tangan menghadapi Fu Giok-su dan kalau perlu merampas kedudukannya sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay.

Sudah pasti dia tidak mengemukakan hatinya kepada siapa pun. Bahkan wajahnya pun tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Sampai dia memohon diri kepada Fu Giok-su dan turun ke bawah gunung, dia baru mengeluarkan suara tawa dingin dua kali. Tapi hanya dua kali suara tawa dingin itu saja.

Fu Giok-su sendiri juga tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

*****

Malam hari, kentungan ketiga baru saja terdengar. Di dalam telaga dingin, Fu Giok-su mengemukakan siasat yang akan dijalankannya di hadapan Thian-ti.

“Dalam pertarungan hari ini, meskipun aku menempuh bahaya dengan memenangkan Kuan Tiong-liu secara nekat, tapi dalam pandangan para murid Bu-tong-pay, kedudukan sekarang bagaikan pohon besar dan kukuh. Di samping itu, aku juga tidak menghilangkan muka Kuan Tiong-liu di depan umum. Tentu saja diam-diam orang itu bersyukur dan para murid Bu-tong menganggap Sun-ji berjiwa besar. Kuan Tiong-liu adalah manusia yang angkuh dan tinggi hati. Ambisinya juga besar sekali. Aku tahu apa yang terkandung di hatinya. Dia tentu mengira dalam pertarungan melawan Tok-ku Bu-ti, setidaknya aku akan terluka parah. Dia sendiri pasti akan mengerahkan segenap tenaga untuk membasmi Bu-ti-bun. Pada saat itu, kita baru meringkusnya juga belum terlambat.”

Thian-ti yang melihat cucunya demikian cerdas dan banyak akal, tentu saja hatinya girang tak terkatakan.

*****

Pada malam yang sama, Tok-ku Bu-ti telah membuat sebuah keputusan. Dia akan menikahkan Tok-ku Hong dengan Kongsun Hong. Sudah pasti Kongsun Hong menerima keputusan itu dengan gembira. Sedangkan Tok-ku Hong terkejut sekali. Dia langsung mengunci dirinya dalam kamar dan tidak menemui siapa pun.

Berita dengan cepat tersebar ke seluruh kantor maupun cabang Bu-ti-bun. Bahkan dayang Sen Man-cing yang bernama Guat Ngo juga sudah mendengar berita ini. Setelah mendapat laporan dari Guat Ngo, Sen Man-cing tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Dia duduk termenung kurang lebih setengah kentungan. Akhirnya dia memerintahkan Guat Ngo untuk mengundang Tok-ku Bu-ti datang ke tempat tinggalnya.

Tok-ku Bu-ti sendiri juga mempertimbangkan sekian lama, baru melangkahkan kakinya menuju Liong-hong-kek.

*****

Angin malam berembus dari tirai jendela. Sen Man-cing masih duduk di tempatnya semula. Di hadapannya ada sebuah lentera yang melambai-lambai tertiup angin. Ketika telinganya menangkap suara langkah kaki manusia, baru dia menolehkan kepalanya.

Dia melihat Tok-ku Bu-ti melangkah ke dalam kamar, cepat-cepat dia memalingkan kepalanya. Melihat keadaan itu, Tok-ku Bu-ti memperdengarkan suara tertawa dingin satu kali. Dia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah pintu. Di situ dia menghentikan langkah kakinya.

“Apakah aku salah masuk?” tanyanya datar.

“Kau tidak salah masuk. Tetapi apa yang kau lakukan baru dapat dikatakan kesalahan besar!” nada Sen Man-cing bahkan lebih dingin lagi.

“Kesalahan besar?” Tok-ku Bu-ti tentu tahu apa yang dimaksudkan oleh Sen Man-cing, tetapi dia pura-pura tidak tahu. “Hal apa yang kau maksudkan?”

“Urusan yang satu ini!”

“Aku rasa yang kau maksudkan mungkin pernikahan Hong-ji.”

Sen Man-cing tidak menyangkal.

“Akhirnya kau harus memohon kepadaku juga,” kata Tok-ku Bu-ti tertawa bangga.

“Aku hanya mengingatkan,” sahut Sen Man-cing sepatah demi sepatah. “Hong-ji sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadap Kongsun Hong.”

“Perasaan bisa dibina perlahan-lahan.”

“Apakah manusia seperti engkau mengerti apa yang dinamakan perasaan?”

“Aku hanya tahu bahwa aku mempunyai hak mengurus pernikahan Hong-ji!”

“Tapi kau harus berpikir demi Hong-ji. Pernikahan bukan permainan. Ini masalah besar yang menyangkut seumur hidup Hong-ji!” nada Suara Sen Man-cing begitu pilu. “Kau memaksanya menikahi seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Bukankah sama saja kau ingin membuat dia menderita sepanjang hidup ini?”

“Urusan apa pun hanya aku yang berhak menentukan. Tidak ada hubungan denganmu!”

“Hong-ji adalah anak kandungku. Bagaimana kau bisa mengatakan tidak ada hubungannya?”

“Anak kandungmu!” wajah Tok-ku Bu-ti berubah menghijau. “Lalu, mengapa kau tidak mengatakan terus terang apa yang telah kau lakukan tempo dulu?”

Dengan hati pedih Sen Man-cing menundukkan kepalanya. Tok-ku Bu-ti juga tidak banyak bicara lagi. Dia membalikkan tubuhnya berjalan keluar. Dibantingnya pintu kamar keras-keras. Sen Man-cing mendongakkan kepalanya. Mulutnya membuka, tapi akhirnya dia tidak jadi memanggil.

Kepalanya tertunduk semakin rendah. Berulang kali dia menarik napas panjang. Entah berapa lama telah berlalu, Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong dari luar. Sen Man-cing menghela napas sekali lagi.

“Apakah kau sudah mempertimbangkan kembali?” tanyanya dengan kepala tetap tertunduk.

“Ibu, apa yang harus dipertimbangkannya kembali?” yang masuk rupanya Tok-ku Hong.

Sen Man-cing tertegun. Dia mendongakkan kepalanya perlahan-lahan. “Hong-ji, sudah larut malam. Mengapa kau masih belum tidur juga?”

“Bukankah ibu juga sama saja?”

“Dalam keadaan begini, mana mungkin bisa tidur nyenyak?” Sen Man-cing menarik napas sekali lagi.

Tok-ku Hong terdiam.

“Ibu sudah tahu semuanya,” kata Sen Man-cing dengan nada pilu.

Keduanya merenung sekian lama.

“Kau tidak ingin menikah dengan Kongsun Hong bukan?” kembali Sen Man-cing membuka suara.

Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya. Sen Man-cing tertawa sumbang. “Ada bagusnya keputusanmu itu. Daripada menderita seumur hidup,” kata Sen Man-cing selanjutnya.

“Tapi Tia berkeras ….”

“Ayahmu memang picik pikirannya. Hong-ji, bagaimana dengan keputusanmu sendiri?”

Mata Tok-ku Hong bersinar terang. “Aku akan meninggalkan tempat ini!”

“Apa yang kau rasa baik, lakukanlah!” Sen Man-cing membelai rambut Tok-ku Hong. “Tapi dunia Kangouw penuh dengan kejahatan dan kelicikan. Kau harus berhati-hati!”

“Kelak ibu akan lebih kesepian lagi!”

“Kau tidak perlu khawatir. Ibu sudah terbiasa.”

“Ibu, lebih baik kita pergi bersama-sama saja!”

Sen Man-cing menggelengkan kepalanya. Tok-ku Hong merasa heran. “Ibu, aku benar-benar tidak mengerti ….”

“Kelak tentu kau akan mengerti. Kalau aku pergi sekarang, kesalahan terletak pada ibumu ini. Sudahlah, lebih baik kau pergi sendiri saja!”

“Kalau begitu, sekarang juga Hong-ji mohon diri kepada Ibu. Harap Ibu menjaga diri baik-baik,” Tok-ku Hong menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah. Dia menyembah sebanyak tiga kali. Ketika dia berdiri air matanya sudah mengembang.

Sen Man-cing menahan kepedihan hatinya dalam-dalam. Sampai Tok-ku Hong meninggalkan kamar itu, barulah air matanya berderai dengan deras.

*****

Siang terik pada hari kedua. Tok-ku Bu-ti baru tahu bahwa Tok-ku Hong sudah menghilang. Dia marah sekali. Dia segera kembali ke ruangan pendopo dan menurunkan Panji Telapak Darah. Dia memerintahkan kepada seluruh anggotanya untuk membunuh Tok-ku Hong apabila berhasil menemukan gadis itu.

Tidak ada orang yang berani melarang. Demikian pula Kongsun Hong. Kali ini marah Tok-ku Bu-ti tampaknya benar-benar meledak.

*****

Suasana sunyi mencekam. Pagi sudah tiba. Sinar matahari yang timbul menerobos lewat jendela. Tok-ku Hong sudah bangun. Dipandangnya sekitar rumah tua di mana dia berada. Tanpa sadar dia menarik napas panjang.

Sekarang merupakan hari kedua dia meninggalkan Bu-ti-bun. Rasa kesepian dan kesendirian semakin lama semakin menggelayuti hatinya. Keadaan saat ini tidak sama dengan saat pertama kali dia pergi dari Bu-ti-bun karena marah. Sekarang dia tidak punya rumah lagi untuk pulang. Ke mana tujuannya, dia sama sekali tidak tahu. Asal di depannya masih ada jalan yang dapat ditempuh, dia melangkah terus. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa jejaknya sudah berada di bawah pengawasan para penyelidik Bu-ti-bun dan laporan sudah sampai di kantor pusat.

Suara helaan napas masih terdengar, seseorang sudah muncul di depan pintu. Orang itu memandangnya dengan mulut cengar-cengir.

“Tampaknya kedatanganku saat ini memang tepat. Tidak sampai mengejutkan mimpi Toasiocia yang indah!”

“Kiu-bwe-hu!” seru Tok-ku Hong tanpa sadar setelah melihat jelas siapa orang yang masuk itu. “Untuk apa kau datang kemari?”

Advertisements

1 Comment »

  1. it’s ok

    Comment by abc — 27/11/2009 @ 4:00 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: