Kumpulan Cerita Silat

24/12/2007

Maling Romantis (12)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:05 am

Maling Romantis (12)
Oleh Gu Long

Kontributor: ndy, bpranoto, agusis, axd002

Tiba-tiba terbuka lebar kedua biji mata Thian-hong-cap-si-long, katanya bengis: “Kalian pasti hendak jalan lewat sini? Apakah hendak menemui Chiu Ling-siok?”

Melonjak jantung Coh Liu-hiang, orang asing ini kiranya pun tahu akan nama Chiu Ling-siok. Dilihatnya Lamkiong Ling mengerutkan alis, katanya: “Chiu Ling-siok..? Apakah maksud Cianpwee adalah Jin-hujin?”

“Hm!” Thian-hong-cap-si-long menjawab dengan geraman.

“Cianpwee kenal sama dia?” tanya Lamkiong Ling pula.

Tiba-tiba Thian-hong-cap-si-long menengadah sambil terbahak-bahak keras, tawa yang mengiriskan bergema dan menggetarkan bumi, sampai daun-daun pohon sama rontok berjatuhan.

Coh Liu-hiang dan Lamkiong Ling saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang menjadi buah tertawaan orang.

Terdengar Thian-hong-cap-si-long berkata sambil tetap tertawa: “Kau tanya aku kenal tidak padanya? Karena dia, aku terima dihina dan dipermainkan oleh Jin Jip. Dengan dendam dan penuh penyesalan aku kembali ke Tang-ni. Aku bersumpah, satu hari Jin Jip masih hidup, aku takkan menginjakkan kakiku di Tionggoan……….. Demi kebahagiannya, aku terima sekali pukulan Jin Jip, tanpa membalasnya! Karena dia, sampai sekarang aku masih membujang! Dan sekarang, kau malah tanya aku apakah mengenalnya!”

Coh Liu-hiang melongo, sungguh tak pernah terpikir olehnya, pendekar dari Ih-ho di Tang-ni (Jepang) ini ternyata ada sangkut pautnya dengan permainan asmara antara Jin Jip suami istri, lebih tak terkira pula bahwa laki-laki aneh yang berdarah dingin ini kiranya juga mengenal asmara! Betapa mendalamnya rasa cintanya terhadap Chiu Ling-siok, agaknya tidak kalah tebalnya dari Ca Bok-hap dan lain-lainnya.

Kecuali Ca Bok-hap, Sebun Jian, Cou Yu-cin dan Ling Ciu-cu, orang ini adalah yang kelima. Kelima orang ini sama-sama tergila-gila terhadap satu perempuan, rela hidup menderita selamanya dengan membujang. Cuma kalau Ca Bok-hap berempat sudah menemui ajalnya semua, tinggal orang ini saja yang masih hidup.

Akhirnya gelak tawanya yang menggila berhenti, kata Thian-hong-cap-si-long bengis: “Kini Jin Jip sudah mampus, maka Chiu Ling-siok akhirnya akan menjadi milikku. Kecuali aku, jangan harap siapa pun dalam dunia ini bisa berhadapan dengan dia!”

“Tapi Jin-hujin………”

“Dia tidak sudi menemui orang lain lagi, pergilah kalian!”

“Cayhe sebagai murid Kaypang sudah sepantasnya menghargai pendapat Jin-hujin, cuma saudara Coh ini,……..” sampai di sini ia berhenti serta berpaling kepada Coh Liu-hiang.

“Apa benar dia tidak sudi menemui orang luar, aku perlu dengarkan kata-kata dari mulutnya baru mau percaya!” kata Coh Liu-hiang tegas.

Lamkiong Ling berbisik: “Kalau dia tetap berjaga di balok batu ini, cara bagaimana kita bisa menyebrang ke sana?”

Balok batu ini melintang di permukaan jurang yang puluhan tombak lebarnya, di bawah ada aliran deras lagi, siapa pun sukar terbang menyeberang ke sana. Jikalau hendak melesat lewat di atas kepala Thian-hong-cap-si-long, hasilnya adalah seperseribu.

Berjelalatan biji mata Coh Liu-hiang, katanya kemudian sambil tersenyum: “Bagaimana pun juga, aku harus mencobanya!”

Belum habis kata-katanya, “Sreng!”, tiba-tiba selarik sinar kemilau melesat keluar dari lengan baju Thian-hong-cap-si-long yang lebar dan menyangkut di atas sebatang pohon sebesar lengan di seberang sana. Belum lagi Coh Liu-hiang sempat melihat barang apa yang melesat terbang itu, “Pletak!”, terlempar pula dahan pohon itu yang sudah kutung dan terjatuh ke dalam jurang, gelang perak berkilauan itu tahu-tahu sudah meluncur balik pula menghilang ke dalam lengan bajunya pula.

Memang ada ratusan macam senjata rahasia yang dipakai oleh tokoh-tokoh Bulim di Tionggoan ini, di antara mereka tak terhitung banyaknya merupakan tokoh-tokoh yang termasuk ahli dalam permainan senjata rahasia tunggal sendiri, namun gerak-gerik Thian-hong-cap-si-long ini jauh berlainan dengan kepandaian orang lain, gelang terbang yang kemilau perak itu kelihatannya jauh lebih hebat, aneh dan luar biasa, kelihatannya seperti hidup dan terkendali di waktu terbang berputar.

“Kepandaian dari Ih-ho memang jauh berlainan dari yang lain!” seru Coh Liu-hiang.

Thian-hong-cap-si-long menyeringai dingin, katanya bangga: “Inilah Si Kian Sut, salah satu rahasia dari kepandaian sembilan Jin-sut. Kalau aku tidak kenal belas kasihan, bagaimana kalau batang pohon itu adalah lehermu? Tidak lekas kau enyah dari sini?”

“Si Kian Sut? Menakutkan benar namanya, cuma pohon itu barang mati, manusia tetap hidup, memangnya aku terima mengulurkan leher untuk kau jerat sampai mati?”

“Kau ingin mencoba?” damprat Thian-hong-cap-si-long. Di tengah bentakkannya, selarik sinar kemilau tahu-tahu sudah melesat ke arah Coh Liu-hiang.

Terasa sinar kemilau ini menyilaukan mata, sebuah sinar membundar seperti paruh elang laksana kilat menerjang tiba, daya luncurannya jauh lebih cepat dari apa yang dia bayangkan semula. Tapi sebat sekali ia menggeser kedudukan tujuh kaki ke samping, tak nyana sinar perak itu ternyata seperti hidup, seperti bayangan mengikuti wujudnya, tahu-tahu mengejar tiba pula. Beruntun Coh Liu-hiang bergerak bagai kilat tujuh kali berkelit, namun pandangannya serasa ditutupi bayangan perak yang berkelebat rapat dan kencang, sehingga ia kehabisan akal entah cara bagaimana untuk menyelamatkan diri.

Sekonyong-konyong tiga bintik sinar hitam melesat terbang dari tapak tangan Coh Liu-hiang, dua bintik sinar bintang yang kehitam-hitaman terbang datar ke samping, namun setitik di antaranya telak sekali membentur sinar perak itu hingga mengeluarkan suara nyaring, disusul suara “Creng!” yang lebih keras, cahaya perak yang memenuhi angkasa seketika sirna, paruh elang mematuk itu menjadi sebuah bundaran gelang dan jatuh ke tanah, tapi mendadak mencelat naik dan terbang kembali.

Berubah gusar air muka Thian-hong-cap-si-long, bentaknya: “Bagero, berani kau pecahkan Si Kian Sut ku……. Baik, coba kau lihat pula Tam Sim Sut Ki!” Sekoyong-konyong sebuah tabir kabut tebal warna abu-abu laksana gelombang pasang menerpa datang, di tengah kabut tebal ini lapat-lapat seperti diselingi selarik sinar bintang yang gemerlapan. Lekas Coh Liu-hiang melompat mundur lalu menjejak tanah melambung tinggi ke tengah udara.

“Blum!”, terdengar ledakan dahsyat, bagai pasir menyambar, kabut tebal itu seketika pecah berkembang ke empat penjuru, sebuah pohon besar yang semula berada di belakang Coh Liu-hiang ternyata sudah keterjang hancur dan terbelah di tengah-tengahnya, kedua sisinya lantas tumbang ke kanan kiri, poros pohon ternyata sudah hangus seperti disambar geledek, kebetulan hembusan angin berlalu, daun-daun pohon sama rontok menguning. Sepucuk pohon yang semula tumbuh subur menghijau, dalam sekejap saja sudah kuyu menguning dan layu hangus.

Mau tak mau tersirap darah Coh Liu-hiang melihat kehebatan kepandaian orang, batinnya : “Jin-sut yang dia latih kiranya amat sesat dan ganas sekali.”

Sementara dengan ringan badannya meluncur turun tiga tombak jauhnya di atas jembatan batu, Thian-hong-cap-si-long yang sudah diliputi hawa membunuh dengan mata membara hanya beberapa kaki di hadapannya.

Lamkiong Ling berseru kaget dan kuatir: “Pendekar Ih-ho hebat dan lihay. Coh-heng, kau harus hati-hati!”

“Jin-sut aku sudah menjajalnya,” sahut Coh Liu-hiang tertawa, “Biar sekarang aku jajal pedang peranti pembunuhmu ini!”

Sepatah demi sepatah berkata Thian-hong-cap-si-long: “Kau ingin mencoba Ni Hun It To Jan?”

“Sekarang umpama kau beri aku kesempatan ke seberang sana, aku pun tidak sudi lagi, sekarang kau jauh lebih menarik dari pada Jin-hujin. Setelah aku menjajal Ni Hun It To Jan-mu, masih ingin aku sedikit mengobrol denganmu.”

Thian-hong-cap-si-long menyeringai dingin, katanya: “Ni Hun It To Jan merupakan intisari dari segala ilmu pedang, setiap kali pedang dilolos harus menghirup darah dan menebus nyawa, tiada seorang pun yang kuasa melawannya, setelah kau mencobanya, maka jangan harap kau masih bisa bicara dengan orang lain.” Tanpa berkedip ia tatap Coh Liu-hiang, sorot matanya memancarkan cahaya aneh yang menyesatkan, demikian pula setiap nada suaranya seolah olah mengandung daya sedot yang bisa menyesatkan pikiran orang.

Roman muka Coh Liu-hiang tetap mengulum senyum manis, sekujur badannya dari kepala sampai kaki sudah diliputi kewaspadaan dan kesiapan, matanya justru menatap ke batang pedang atau golok itu.

Panjang golok ini kira-kira lima kaki, sempit panjang seperti pedang. Golok panjang yang aneh, tentu dimainkan pula dengan jurus dan tipu-tipu yang aneh pula. Sekonyong-konyong Thian-hong-cap-si-long meraih goloknya seraya mencelat dan terloloslah goloknya! Sinar goloknya laksana kemilau permukaan air yang ditimpa cahaya rembulan, putih menghijau berhawa dingin, menusuk daging menyusup tulang.

Dengan tangan kiri memegang terbalik sarang golok, tangan kanan mengacungkan golok panjang ke depan setinggi alis, tajam golok mengarah keluar, sembarang waktu goloknya itu bisa bergerak menyapu dan membabat dengan dahsyat. Bagai patung batu, badannya berdiri tegak sekokoh gunung, sorot matanya yang aneh menatap ke muka Coh Liu-hiang. Sinar golok dan sinar matanya seolah-olah sudah membungkus dan mengurung sekujur badan Coh Liu-hiang.

Walau golok lawan belum bergerak, tapi Coh Liu-hiang sudah merasakan hawa membunuh yang merembes keluar dari ujung golok tajam ini, semakin lama semakin tebal. Berdiri ditempatnya, ternyata sedikit pun ia tidak berani terlena dan sembarang bergerak! Ia tahu, sedikit bergerak meski hanya ujung jarinya saja, maka besar kemungkinan titik kelemahannya akan merupakan sasaran empuk bagi lawannya, maka golok musuh yang hebat itu mungkin laksana kilat akan bergerak mengarah ke tempat itu.

Teori ketenangan mengatasi gerakan merupakan intisari yang terutama dari ilmu pedang aliran Tang-ni. “Musuh tidak bergerak aku tak bergeming, musuh bergerak aku bertindak lebih dahulu, tidak bergerak tidak mengapa, sekali serang harus kena sasaran.” Bahwasanya pertempuran tokoh silat kelas tinggi, memang cukup sejurus saja sudah bisa menentukan menang dan kalah.

Coh Liu-hiang merasa butiran keringat sudah mulai merembes membasahi ujung hidungnya, namun seraut muka Thian-hong-cap-si-long yang kuning seperti malam itu seolah-olah seperti mayat hidup yang kaku, tidak menunjukkan suatu perubahan.

Mendadak kedua bakiak kayu itu mencelat jatuh ke dalam jurang, lama dan lama sekali baru terdengar suaranya yang membalik dari kedua bakiak yang kecemplung ke air. Bakiak itu mencelat jatuh ke air karena tertendang oleh kaki Thian-hong-cap-si-long yang menggeser maju sebelah kakinya. Selangkah demi selangkah, Thian-hong-cap-si-long mendesak maju.

Mau tidak mau Coh Liu-hiang harus ikut bergerak, namun ia tidak tahu cara bagaimana dirinya harus bergerak. Telapak kaki Thian-hong-cap-si-long yang telanjang menggesek balok batu yang kasar, selangkah demi selangkah menggeser maju, kulit tapak kakinya sampai tergesek pecah, di permukaan balok batu tertinggal noda darah yang merembes keluar. Tapi sedikit pun ia tidak merasakan sakit. Seluruh pikiran, semangat dan perhatiannya, ia tumplekkan di atas batang goloknya, sedikit pun ia tidak perduli atau tidak merasakan adanya sesuatu yang bergerak di kehidupan mayapada ini. Kalau kakinya menggeser dan badannya bergerak maju, namun batang goloknya tetap teracung ke depan tanpa bergeming sedikit pun.

Pada saat itulah segulung angin kencang tiba-tiba menerjang ke pinggang Coh Liu-hiang. Seluruh perhatian Coh Liu-hiang tertuju pada batang golok lawan, mimpi pun ia tidak menduga orang akan menyerang lebih dulu menggunakan sarung pedangnya. Saking terkejutnya, mau tidak mau secara reflek sebat sekali ia berkelit mundur. Tapi bertepatan dengan itu pula, Thian-hong-cap-si-long melolong keras dan lantang, golok di tangannya melebihi kilat cepatnya, tahu-tahu sudah membabat dan membacok.

Agaknya dia sudah memperhitungkan jalan mundur Coh Liu-hiang, sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu-hiang terang takkan bisa mundur lagi, memang serasi benar sambaran senjatanya ini kalau dinamakan pedang peranti pembunuh. Babatan goloknya kelihatan seperti gerakan biasa dan sepele saja, tapi inti sari ilmu pedang, kecerdikan otak di saat menghadapi musuh tangguh, batas tertinggi dari manusia akan ilmu silat yang dipelajarinya, boleh dikata sudah termasuk dan terkandung di dalam sejurus babatan golok panjang ini.

Sorot mata Thian-hong-cap-si-long membara merah. Pakaian yang dikenakan pun tiba-tiba melembung dan melambai-lambai dipenuhi tenaga murni yang merembes keluar dari seluruh pori-pori kulit badannya. Babatan golok ini harus membunuh, betapa pun ia tidak bisa memberikan kelonggaran. Apa benar Ni Hun It To Jan tiada tandingannya di seluruh kolong langit? Di mana sinar golok menyambar, badan Coh Liu-hiang pun terjungkal roboh…. Untuk mundur tidak mungkin, berkelit pun tak bisa, terpaksa ia terjunkan diri ke dalam jurang dari atas balok batu itu. Jiwanya memang tidak mampus oleh babatan golok, namun apakah dia masih bisa bertahan hidup terjatuh ke dalam jurang yang dalam serta aliran air yang demikian derasnya?

Lamkiong Ling terbelalak dan berseru kaget. Siapa sangka, belum lagi suaranya hilang dan mulut sempat terkatup, bayangan Coh Liu-hiang tiba-tiba sudah melesat mumbul ke atas pula.

Kiranya, meski badannya terjungkal ke bawah, namun ujung kakinya masih menyangkut di bibir batu. Begitu sambaran golok lewat, ia lekas kerahkan tenaga pada ujung kakinya dan dengan seenteng burung camar badannya mencelat naik empat tombak, kini badannya menukik menubruk langsung kepada Thian-hong-cap-si-long. Kalau dia sengaja berdiri di atas balok batu, kelihatannya seperti sengaja menempuh bahaya, padahal siang-siang dia sudah memperhitungkan jalan mundurnya. Jauh sebelum bergebrak, dia sudah memperhitungkan setiap macam kemungkinan yang bakal terjadi, maka begitu badannya terjungkal balik, ia serta merta mencelat naik ke atas, bukan saja sudah mengerahkan segala tenaga, kecerdikan dan kehebatan gingkangnya, termasuk pula kepintaran dan pengalaman luasnya dalam menghadapi bahaya dan musuh-musuh tangguh. Meski hanya satu jurus mereka bergebrak, namun pertandingan ini sudah merupakan pertandingan ilmu silat dan kecerdikan otak yang tiada taranya.

Begitu golok membabat Thian-hong-cap-si-long sudah tiada sisa tenaga lagi, pula betapa cepat reaksi Coh Liu-hiang menghadapi serangannya serta tinggi ginkangnya, sungguh jauh berada di luar dugaannya. Di atas balok batu itu memang teramat bahaya, semula Thian-hong-cap-si-long hendak menggunakan keuntungan berbahaya ini, siapa tahu ada untung pasti ada ruginya juga, kini situasi berubah seratus delapan puluh derajat, mau untung malah dia sendiri yang buntung sekarang.

Dengan menukik dari atas ke bawah, serangan Coh Liu-hiang yang hebat ini, terang dia takkan mampu berkelit atau mundur lagi. Maka terdengar “Creng!”, goloknya membacok di atas balok batu, kembang api muncrat, namun Coh Liu-hiang sudah berhasil meraih rambut kepalanya, serunya sambil tertawa panjang: “Tuan masih ingin ke mana….” belum habis kata-katanya, seketika sirap pula gelak tawanya.

Ternyata rambut yang berada di tangannya hanyalah rambut palsu dan pada ujungnya kelihatan pula mengelupas selembar kedok muka yang terbuat dari lilin. Dilihatnya badan Thian-hong-cap-si-long jumpalitan jungkir balik ke bawah jurang dan mendadak “Cring!”, seutas rantai lembut melesat keluar dari lengan bajunya memaku kedinding jurang. Badannya lantas bergelantungan pulang pergi beberapa kali mengikuti daya berat badannya lalu dengan enteng meluncur hinggap di atas tanah, sedikit pun tidak terluka apa-apa, malah kelihatan di antara riak gelombang air sungai yang mengalir deras itu bayangannya berlari bagaikan terbang.

Serunya: “Coh Liu-hiang, sudah kau saksikan Khong Siam Sut dari Ih-ho, bukankah amat hebat dan tiada bandingannya di seluruh jagat?” Belum hilang gema suaranya, bayangannya sudah pergi jauh dan menghilang.

Terpaksa Coh Liu-hiang hanya mengawasi bayangan Thian-hong-cap-si-long pergi dengan pandangan melongo, dikejar pun tak akan tersusul, dirintangi pun tak bisa, lama juga dia mengawasi rambut dan kedok palsu di tangannya. Dilihatnya butiran air setetes demi setetes mengalir jatuh dari balik kedok palsu itu.

Mendadak Coh Liu-hiang tertawa lebar: “Apa pun yang terjadi, aku sudah bikin keringatnya bercucuran…………….kukira raut mukanya sudah kaku, sampai pun tak bisa mengeluarkan keringat, ternyata kedok ini yang buat gara-gara.”

Baru sekarang Lamkiong Ling memburu datang, katanya tertawa: “Kepandaian silat dari Ih-ho-kok benar-benar ganas dan berbahaya, luar biasa pula, kalau bukan ginkang Coh heng yang tiada bandingannya di seluruh jagat ini, hari ini kukira siapa pun takkan bisa lolos dari babatan golok selihai itu.”

Coh Liu-hiang menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba ia tertawa pula: “Kepandaian silatnya memang ajaran dari Ih-ho, tapi dia orang Tionggoan, bukan dari Ih-ho.”

Lamkiong Ling melengak, tanyanya: “Dari mana Coh-heng bisa tahu?”

“Kalau dia betul-betul seorang asing dari Ih-ho, lalu dari mana dia bisa tahu kalau aku bernama Coh Liu-hiang?”

Lamkiong Ling berpikir sejenak, serunya: “Benar, Siaute kan tadi tidak pernah menyinggung nama Coh-heng.”

“Apalagi kalau dia benar-benar datang dari Ih-ho, kita berdua takkan kenal padanya, lalu buat apa dia harus mengenakan kedok muka memalsukan diri?”

“Kalau dia bukan pendekar dari Ih-ho, memangnya siapa dia?”

“Sampai detik ini aku belum bisa meraba siapa dia, tapi aku berani pastikan bahwa dia cukup kenal siapa diriku, demikian pula aku pasti kenal baik dirinya……..” Sorot matanya tiba-tiba bercahaya, sambungnya dengan tertawa: “Lingkup persoalan ini tidak begitu luas lagi, karena tokoh-tokoh silat seluruh jagat ini yang betul-betul kenal akan muka asli diriku tidak banyak, apalagi yang mempunyai kepandaian silat setinggi itu, dapatlah dihitung dengan jari.”

“Tapi menurut apa yang Siaute ketahui, tokoh-tokoh silat dari Tionggoan yang pandai menggunakan ilmu Jin-sut dari negeri seberang boleh dikata tiada seorang pun.”

“Jin-sut jelas bukan kepandaian perguruannya. Di saat-saat yang begitu berbahaya, toh dia tidak mau menggunakan ajaran silat perguruannya yang asli, sudah tentu karena dia tahu, sekali dia memperlihatkan kepandaian asli perguruannya, maka pasti dapat kuketahui siapa dia adanya.”

Bersinar pula biji mata Lamkiong Ling, katanya: “Kalau begitu, siapa orang ini, bukankah sudah berada dalam terkaanmu?”

“Rahasia alam tidak boleh bocor, hal ini biar kutunda sementara untuk menyelidikinya lebih lanjut.”
“E, eh, agaknya Coh-heng pandai jual mahal juga kepadaku, ya!” kelakar Lamkiong Ling.

Coh Liu-hiang menggeliatkan badannya, ujarnya: “Bagaimana pun, hari ini akhirnya aku bisa bertemu dengan Jin-hujin, bukan?”

“Kalau Coh-heng tidak bisa menemuinya, mungkin Siaute pun bisa mati saking gugupnya.”

Keduanya tertawa besar sambil berpandangan, lekas mereka menyeberang melalui balok batu dan terus memanjat ke atas, sampai di sini mereka tak perlu memanjat ke atas lagi, terlihat di pinggir sebidang hutan kecil berdiri tegak tiga gubuk bambu berderet. Lamkiong Ling berjalan di depan dan langsung menghampiri sebuah gubuk paling kiri serta berseru lantang: “Teecu Lamkiong Ling sengaja ke mari menyampaikan sembah hormat kepada Hujin.”

Sesaat kemudian terdengar sahutan seseorang dengan pelan-pelan: “Kalau toh kau sudah datang, doronglah pintu itu dan masuklah sendiri.”

Suara ini begitu halus, lembut dan merdu. Mendengar lagu suara yang demikian, dapatlah dibayangkan orang macam apa pula yang bicara.

Tak terasa bergetar perasaan Coh Liu-hiang, terbangkit semangatnya, katanya sambil berbisik: “Hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, aku sudah merasa sekujur badan segar dan bergairah.”

Lamkiong Ling tidak hiraukan kata-katanya. Pelan-pelan ia dorong pintu, lalu melangkah masuk dengan tindakan berhati-hati. Berada di tempat ini, Kaypang Pangcu yang berkuasa ini ternyata bertindak begini hati-hati seperti anak sekolah yang terlambat masuk kelas, takut konangan oleh gurunya dan dihukum, bernapas keras-keras pun tak berani.

Pintu gubuk yang terbuat dari anyaman daun nyiur ini semula memang setengah terbuka, dari sela-sela pintu yang terbuka ini mengepul keluar asap dupa, di atas pohon beringin yang besar itu bertengger seekor burung yang tak ketahuan namanya, agaknya sedang tertidur.

Setiba di tempat rindang di bawah lindungan pohon besar itu, agaknya Coh Liu-hiang takut membuat gaduh ketenangan yang lelap ini, maka langkah kakinya dia atur dan berderap dengan enteng seperti kucing.

Maka terdengar pula suara merdu nyaring itu berkata: “Pintu kan sudah terbuka, kenapa kau tidak langsung masuk?”

Burung itu terkejut, bangun dan mengeluarkan suara aneh, maka terpentang lebar daun pintu di depan gubuk paling kiri.

Pandangan pertama yang terlihat oleh Coh Liu-hiang adalah perempuan berambut panjang yang terurai di atas pundaknya, berpakaian serba hitam berlutut kaku di depan sebuah meja pemujaan, begitu tenang dan tak bergerak sedikit pun, seakan-akan sejak dulu kala dia memang sudah berlutut di tempat itu.

Kebetulan dia membelakangi pintu, maka tidak terlihat raut mukanya. Namun demikian hanya mendengar suara merdu dan bening itu tanpa disadari Coh Liu-hiang sudah berdiri terlongong di tempatnya. Belum pernah terpikir olehnya seorang perempuan yang berlutut membelakangi dirinya mempunyai daya tarik yang sedemikian besarnya. Tanpa berpaling, Jin-hujin berkata pelan-pelan: “Lamkiong Ling, siapa yang kau bawa ke mari?”

Cepat-cepat Coh Liu-hiang menjura dan berkata: “Cayhe Coh Liu-hiang, sengaja ke mari mohon bertemu dengan Hujin!”

“Coh Liu-hiang………” suara Jin-hujin kedengaran datar, sedikit pun tidak merasa heran, kagum atau tertarik. Baru pertama kali ini nama Coh Liu-hiang, ketiga huruf ini, dipandang sedemikian tawar dan sepele, apalagi oleh seorang perempuan, mungkin selama malang melintang dengan ketenarannya yang romantis, baru pertama kali ini mengalami sambutan yang dingin.

Lekas Lamkiong Ling menjura pula, katanya: “Sebetulnya Teecu tidak berani membawa orang luar mengganggu ketenangan Hujin, soalnya Coh-kongcu ini mempunyai sangkut-paut yang mendalam dengan Pang kita, apalagi kedatangannya kali ini menyangkut pula urusan Pang kita………”

“Persoalan dalam Pang kita tiada sangkut pautnya dengan aku, kenapa harus mencari diriku?”

“Tapi urusan ini justru amat erat hubungannya dengan Hujin.” tukas Coh Liu-hiang tandas.

“Mengenai persoalan apa sih?”

Sekilas Coh Liu-hiang melirik kepada Lamkiong Ling, katanya dengan prihatin: “Sebun Jian, Cou Yu-cin, Ling Ciu-cu dan Ca Bok-hap empat Cianpwee, tentunya Hujin kenal baik dengan mereka, kedatanganku ini kebetulan ada hubungan pula dengan mereka berempat.”

Sambil berbicara, dengan seksama ia awasi reaksi Jin-hujin. Meski tak melihat raut mukanya, namun dapat dilihatnya kedua pundaknya yang datar dan tenang itu seakan-akan mendadak bergerak. Akhirnya pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berpaling.

Memang Coh Liu-hiang sedang menunggu orang memutar badan, ingin dia melihat raut wajah orang yang membuat banyak laki-laki tergila-gila padanya. Maka di saat kepala orang bergerak, jantungnya berdetak tambah cepat. Tapi setelah orang berhadapan muka dengan dirinya, seketika Coh Liu-hiang amat kecewa dibuatnya.

Karena muka orang mengenakan cadar yang terbuat dari kain sutera hitam, sampai pun sepasang matanya pun tertutup, agaknya orang sedemikian kikir dan hati-hati memperlihatkan raut wajahnya, supaya orang tidak melihatnya.

Serasa kerlingan tajam mata orang menembus kain sutera hitam itu sedang menatap pada dirinya, menembus raga dan melihat hatinya. Tapi ia tidak tertunduk kerenanya, memang tiada seorang pun di kolong langit ini yang mampu membikin dirinya tertunduk.

Lama dan lama sekali baru Jin-hujin buka suara pula, katanya pelan-pelan dengan tenang: ” Benar, memang aku kenal keempat orang itu, tapi hal ini terjadi dua puluh tahun yang lalu, kenapa kau datang ke mari mengganggu aku membawa urusan yang sudah lama kulupakan ini!”

“Tapi belakangan ini Hujin ada pernah menulis surat kepada mereka, bukan?” tanya Coh Liu-hiang.

“Menulis surat?” Jin-hujin menegas dengan hambar.

Dengan nanar, Coh Liu-hiang menatapnya, katanya: “Benar, surat! Dalam surat itu berkata Hujin menghadapi kesulitan, minta mereka lekas datang membantu, kedatangan Cayhe ini justru mohon keterangan, kesulitan apa yang sedang melibatkan Jin-hujin?”

Sesaat Jin-hujin terdiam, katanya tawar: “Aku tidak ingat kapan aku pernah menulis surat semacam itu, mungkin kau salah lihat?”

Seolah-olah mulut Coh Liu-hiang disumbat oleh sesuatu yang pahit getir, sungguh ia tak habis pikir, kenapa Jin-hujin tak mau membeberkan rahasia surat-surat itu. Tapi dia belum putus asa, katanya pula lebih keras: ” Jelas sekali Hujin pernah menulis surat itu, hal ini Cayhe takkan salah lihat.”

“Dari mana kau tahu tak salah lihat?” jengek Jin-hujin dingin. “Memangnya kau kenal gaya tulisanku?”

Kembali Coh Liu-hiang melongo dan terkunci mulutnya, sesaat ia terlongong dan tak bersuara pula.

Pelan-pelan Jin-hujin putar badan berlutut pula, katanya: “Lamkiong Ling, waktu keluar tutup sendiri pintunya, maaf aku tidak mengantarkan kalian!”

Pelan-pelan Lamkiong Ling menarik Coh Liu-hiang yang masih menjublek di tempatnya. Katanya: “Kalau Hujin tidak menulis surat itu, tentulah itu tulisan orang lain yang memalsu namanya, marilah kembali!”

“Nama palsu……..tidak salah!” gumam Coh Liu-hiang. Tiba-tiba sorot matanya tertuju ke atas meja pemujaan, tanyanya: “Apakah jenazah Jin-lopangcu diperabukan?”

Belum Jin-hujin menjawab, Lamkiong Ling sudah mendahului: “Semua murid Kaypang setelah meninggal harus diperabukan, itulah aturan turun-temurun sejak dahulu.”

Ternyata Jin-hujin mendadak nimbrung: “Kau pun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sekian tahun disiksa penyakitnya, rebah di atas ranjang, mendadak meninggal, tidak banyak orang yang bisa berjumpa dengan beliau. Lekaslah kau pergi saja!”

Mendadak bersinar biji mata Coh Liu-hiang, sahutnya: “Terima kasih, Hujin.”

“Tiada sesuatu bantuan yang kuberikan kepadamu, tak perlu kau berterima kasih kepadaku.”

Coh Liu-hiang mengiakan sambil mengundurkan diri, sementara dalam hatinya ia sedang menerawang dua patah kata-kata Jin-hujin yang terakhir. Kedengarannya kata-kata itu biasa dan umum, bahwasannya mengandung arti yang mendalam sekali.

Tanpa banyak bicara mereka kembali melalui jalan semula. Agaknya Lamkiong Ling tahu perasaan Coh Liu-hiang, maka ia tidak mengganggunya, ia iringi orang berjalan pulang. Setiba di Kilam, sudah tengah malam hari ketiga.

Baru sekarang Lamkiong Ling berkata sambil menghela napas: “Pulang pergi sejauh ini tentu bikin Coh-heng letih, Siaute pun amat kecewa sekali!”

“Memang aku sendiri yang suka urusan, malah kau ikut menemani aku pulang pergi, sepantasnya aku traktir kau minum dua tiga cawan arak.”

“Sekali menemani Coh heng minum arak, paling tidak harus mabuk sampai tiga hari, lebih baik Coh-heng ampuni aku kali ini saja.”

Memang Coh Liu-hiang mengharap orang lekas pergi saja, katanya tertawa besar: “Baik, kali ini kuampuni kau. Lekaslah kau pergi, kalau tidak kuseret kau pergi minum arak lho.” Belum habis ia bicara, Lamkiong Ling sudah bersoja dan tinggal pergi sambil tertawa tergelak-gelak.

Begitu Lamkiong Ling menyingkir, lekas Coh Liu-hiang menyusul ke Tay-bing-ouw. Kali ini, tanpa banyak mengeluarkan tenaga, ia berhasil menemukan Mutiara Hitam. Begitu dirinya muncul, biji mata Mutiara Hitam seketika berkilauan, bergegas ia melompat bangun di atas sampannya, tanyanya: “Kau sudah bertemu dengan Chiu Ling-siok?”

“Walau ada orang yang berusaha merintangi perjalananku, akhirnya aku berhasil menemuinya juga.”

“Apa benar dia sedemikian cantiknya?”

“Kenapa kau bersikap seperti perempuan, tidak tanya apa yang telah kubicarakan dengan dia, malah tanya kecantikannya lebih dulu? Sayang dia mengenakan cadar, aku sendiri pun tak melihat raut mukanya.”

Agaknya Mutiara Hitam jauh lebih kecewa dari Coh Liu-hiang, katanya menghela napas: “Apa saja yang ia katakan?”

“Katanya dia tidak ingat kapan dia pernah menulis surat itu.”

“Apakah bukan dia yang menulis surat itu?”

“Kalau dia yang menulis surat itu, pasti dia sudah tahu kalau Sebun jian dan yang lainnya sudah ajal lantaran dia, masakah dia menipuku? Memangnya dia tidak suka bila aku membantu dia membongkar rahasia ini?”

Mutiara Hitam terlongong sekian lamanya, gumamnya: “Tidak salah, memang tiada alasan dia membohongi kau, tapi………” mendadak ia pegang tangan Coh Liu-hiang, teriaknya: “Katamu dia menggunakan cadar hitam, bukan?”

Coh Liu-hiang mengiakan dengan mengut-manggut.

“Bukan mustahil yang kau temui bukan Chiu Ling-siok? Tapi samaran orang lain?”

“Tidak mungkin orang lain menyamar sebagai dirinya!”

“Kau sendiri tidak melihat raut mukanya, dari mana kau bisa tahu kalau dia bukan tiruan?”

“Mukanya memang tidak kulihat, namun lagu suaranya, gerak-geriknya serta tutur katanya, dalam dunia ini siapa yang mampu meniru dia? Apalagi, bila dia tiruan, tentulah takkan ada orang yang berusaha merintangi aku, supaya aku gagal menemuinya.”

“Kalau demikian, bukankah rahasia ini takkan bisa dibongkar oleh siapa pun?”
“Dalam pandangan Coh Liu-hiang, selamanya tidak pernah ada pengertian ‘takkan bisa’ segala.”

“Dalam matamu ada nama apa? Mungkin hanya ada suka ‘mengagulkan diri’ belaka,” jengek Mutiara Hitam.

Tanpa hiraukan kata-kata dan sikap orang, Coh Liu-hiang celingukan kian ke mari, tanyanya: “Orang yang kupesan kepadamu untuk memperhatikan kedatangannya itu, masakah belum tiba?”

“Sudah pernah datang!”

“Kau sudah melihatnya, di mana dia?”

“Sudah mati!” jawabnya dengan ringan, namun bagi pendengaran Coh Liu-hiang laksana halilintar menyambar kepalanya. Kontan ia berjingkrak sambil mencengkeram pundak Mutiara Hitam, teriaknya: “Apa katamu?”

“Kataku dia sudah terbunuh oleh orang.”

“Kau………kau melihatnya sendiri? Kau diam saja melihat dia dibunuh orang? Kau…. memangnya kau tidak punya perasaan?” teriak Coh Liu-hiang dengan suara serak.

Pundak Mutiara Hitam hampir saja teremas hancur, namun ia kertakkan gigi menahan sakit, bergeming atau mengeluh pun tidak, sinar matanya berkaca-kaca seperti berlinang air mata, sebaliknya mulutnya masih berkata dengan dingin: “Kalau tidak kulihat, memangnya kenapa? Kau….. kau tidak minta aku melindunginya, apalagi hakekatnya aku tidak kenal dia, mati atau hidupnya apa sangkut pautnya denganku?”

Coh Liu-hiang melotot sekian lamanya, jari-jarinya akhirnya mengendor, badannya bergoyang gontai dan akhirnya mendeprok duduk di tanah. Soh Yong-yong ternyata sudah ajal. Anak perempuan yang begitu pintar, cerdik, lembut dan halus ternyata sudah meninggal. Sungguh dia tak mau percaya, tidak mau percaya bahwa di dunia ini ada orang yang tega membunuh dirinya.

Mata Mutiara Hitam yang bundar besar itu sedang menatap Coh Liu-hiang, katanya sambil menggigit bibir: “Apakah benar perempuan itu begitu penting bagi dirimu?”

Serak suara Coh Liu-hiang: “Selamanya kau tidak akan mengerti betapa penting artinya dia bagiku. Aku rela diriku yang dibacok hancur oleh musuh, sekali-kali tidak akan kuizinkan orang bermain gila terhadap jiwanya.”

Mutiara Hitam tertunduk sekian lamanya, mendadak ia angkat kepala dengan hati bergejolak haru, katanya membanting kaki: “Boleh kau bersedih akan kematiannya, tapi aku takkan ikut pilu karenanya. Kau tiada hak membuatku ikut bersedih terhadap kematian seorang perempuan yang tidak kukenal, benar tidak?”

Coh Liu-hiang melompat bangun, kembali ia meremas pundak orang, serunya: “Benar, tak perlu bersedih karena kematiannya, tapi kau harus jelaskan padaku siapakah yang membunuhnya?”

Naik turun dada Mutiara Hitam, tak lama kemudian baru ia bersuara dengan nada berat: “Kemarin menjelang petang dia sudah tiba, dia berada di atas kapal sana itu, celingak-celinguk, sekali lihat lantas kau tahu dia orang yang kau tunggu, baru saja aku ingin menghampiri……………”

“Tapi kau tidak mendekatinya, benar tidak? Kalau tidak, dia takkan mati!” damprat Coh Liu-hiang bengis.

“Belum lagi aku melangkah ke sana, tahu-tahu datang empat orang menuju kapal itu, keempat orang itu seperti sudah kenal baik dengan dia, mereka menyapa lebih dulu dan berbicara beberapa patah, kelihatannya dia pun melayaninya dengan tersenyum.”

“Bagaimana bentuk atau raut muka keempat orang itu?” segera Coh Liu-hiang mendesak.

“Jarakku dengan mereka cukup jauh, tidak kulihat jelas raut muka mereka, yang terang mereka mengenakan jubah panjang warna hijau mulus, dari kejauhan warnanya itu amat menyolok pandangan.”

“Di kala hendak mencelakai jiwa orang, masih mereka mengenakan pakaian yang menyolok, dalam hal ini pasti ada latar belakangnya yang susah dimengerti.” Jengek Coh Liu-hiang dingin.

“Memang mereka sengaja supaya orang lain hanya memperhatikan pakaian mereka, dengan sendirinya tidak perhatikan raut muka mereka. Sebaliknya pakaian boleh sembarang waktu ditanggalkan dan ganti yang lain.”

“Kalau toh kau tahu akan hal ini, kenapa tidak sengaja kau perhatikan?”

“Belakangan baru kuingat hal ini, toh waktu itu aku bukan dewa, mana tahu kalau mereka hendak membunuh orang? Apalagi kulihat perempuan itu agaknya kenal dengan mereka, sudah tentu aku tidak terlalu ambil perhatian.”

“Cara bagaimana mereka turun tangan?”

“Kelihatannya mereka amat asyk dalam percakapan, maka tidak enak aku mengganggu mereka. Kulihat keempat laki-laki itu agaknya hendak mengajaknya pergi, namun dia geleng kepala menolak, keempat laki-laki itu menggerakkan kaki tangan, bicara setengah harian, dia masih tetap geleng kepala sambil tersenyum, keempat orang itu menjadi kewalahan dan serempak bersoja, agaknya hendak mengundurkan diri.”

“Bagaimana kelanjutannya?” desak Coh Liu-hiang tidak sabar.

“Tidak ada selanjutnya… di saat mereka bersoja itulah, dari lengan baju keempat orang itu berbareng melesat keluar senjata rahasia, begitu banyak senjata rahasia itu, cepat lagi arahnya begitu dekat. Walau perempuan itu meloncat, namun sudah terlambat, terdengar pekik jeritannya, tahu-tahu badannya menerjang beberapa langkah dan tercebur ke dalam air.”

Gemetar suara Coh Liu-hiang: “Senjata rahasia itu…. apa benar mengenai dirinya?”

“Tidak mengenai dia, memangnya mengenai diriku?”

“Kau saksikan dia dibokong orang, masakah…. masakah….”

“Kau sangka aku ini apa? Memangnya aku ini patung kayu? Melihat dia terbokong, sudah tentu aku amat terkejut. Tapi waktu aku memburu datang, keempat laki-laki jubah hijau itu sudah menghilang entah ke mana, air darah masih bergolak dalam danau, namun jenazahnya tidak kelihatan mengambang naik.”

Tak menunggu orang bicara habis, Coh Liu-hiang sudah berkelebat terbang ke atas.

Mengawasi gerak-gerik badannya yang seenteng burung walet, mendadak Mutiara Hitam berkata menghela napas: “Tak nyana orang yang biasanya teguh, gagah dan tenang, adakalanya dia merasa pilu dan haru. Orang yang dapat membuatnya sedih dan gugup, walau dia mati, terhitung punya rejeki dan berbahagialah di alam baka!”

Pagar kayu di pinggir kapal yang patah sudah diperbarui dengan yang baru, air danau di bawahnya teramat tenang, hembusan angin malam membawa bau harum, sinar bintang kelap-kelip seperti kerlingan sang jelita, segala sesuatu tiada sedikit pun tanda-tanda kekerasan dan pembunuhan di sini.

Hampir Coh Liu-hiang tidak bisa membayangkan, di tempat seindah ini ada orang tega membunuh seorang gadis jelita yang begitu rupawan. Ingin dia mencari bekas-bekas senjata rahasia yang menancap di pagar pagar kayu, karena dari senjata rahasia yang mereka gunakan ini kemungkinan dia bisa mencari tahu asal-usul pembunuh itu.

Tapi segala sesuatu yang cacat di sini sudah diperbarui semua dengan sedemikian telitinya. Menghadapi musuh-musuh seperti ini bukan saja perlu bekal kecerdikan, harus pula punya keberanian, namun harus punya nasib yang baik pula. Dengan menggelendot di atas pagar, Coh Liu-hiang mengamati sinar bintang di keremangan angkasa yang berkabut.

Mendadak sebuah sampan terkayuh mendatangi dari tengah danau sana, di atas sampan duduk seorang kakek tua berbaju kasar dengan caping bambu yang rendah. Dia sedang duduk mengisi cangkir minum arak. Waktu tiba di pinggir Hong-ih-tin, beberapa kali ia melirik mengawasi Coh Liu-hiang, mendadak ia tertawa, serunya: “Anak muda, kalau ingin minum arak melampiaskan kepedihan hati, marilah silahkan naik ke sampanku ini menemani Lo-siu minum beberapa cangkir!”

Nelayan tua ini ternyata begitu supel dan senang bergaul. Coh Liu-hiang mengelus hidung. Sekali lompat ia hinggap di atas sampan, selamanya tidak tahu sungkan atau pura-pura, diraihnya cangkir dan poci, sekali tenggak ia habiskan secangkir arak. Katanya sambil mengangsurkan poci arak ke depan si nelayan tua: “Apa lotiang punya simpanan arak yang cukup banyak untuk membakar kepedihan dalam relung hatiku?”

Agaknya nelayan tua sudah biasa menghadapi para remaja yang banyak tingkah, ia angkat sebuah guci di sampingnya, sambil tersenyum sahutnya: “Hawa sejuk, pemandangan seindah ini, kenapa saudara kecil berlinang air mata?”

Coh Liu-hiang terloroh-loroh sambil menengadah, serunya: “Berlinang air mata? Selama hidup orang she Coh tidak tahu bagaimana rasa air mata itu?” Suara tawanya semakin lemah dan akhirnya berhenti. “Tak!”, dengan keras ia turunkan cangkir arak, tak jadi diminumnya.

Dengan mendelong nelayan tua itu mengawasinya sekian lama, mendadak ia menarik napas panjang dan berkata rawan: “Ada yang begitu sedih bagi diriku, seumpama aku betul-betul mati, apa pula halangannya?”

Coh Liu-hiang berjingkrak bangun seraya menarik pundak si nelayan tua, teriaknya: “Yong-yong kau…. benarkah kau?” Tak perduli sampan itu bakal terbalik, sekali jinjing ia peluk orang sekencangnya, serunya bergelak tawa: “Memang aku tahu kau takkan bisa mati, aku tahu takkan ada orang tega membunuhmu.”

So Yong-yong memeluk lehernya, katanya pelan sambil berbisik di pinggir kupingnya: “Turunkan aku, kau tidak malu dilihat orang?”

“Aku kan hanya memeluk kakek tua kerempeng. Meski dilihat orang, apa pula halangannya?” Dengan sebelah tangannya ia pegang hidungnya, serta katanya: “Ada seorang Song Thiam-ji, seorang Li Ang-siu, aku sudah cukup dibuat pusing kepala, tak kira kau malah jauh lebih nakal dari mereka, sengaja kau bikin aku sedemikian gugup dan sedih.”

“Bukan aku hendak membuatmu gelisah, maksudku supaya orang-orang itu betul anggap diriku sudah mampus, maka mereka takkan berjaga-jaga lagi. Coba kau pikir, masakah aku tega membuatmu begitu gugup dan gelisah?”

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menurunkannya, tanyanya dengan menatap mukanya: “Adakah mereka melukaimu?”

“Cara kerja keempat orang itu sungguh kejam dan telengas. Untung sebelumnya aku sudah melihat gejala-gejala yang tidak benar, kalau tidak…… kalau tidak mungkin aku tak bisa bertemu denganmu lagi.”

“Terhadap orang sepertimu mereka bisa menurunkan tangan jahat, pantas kalau mereka kupenggal kepalanya, lekas kau beritahu siapa mereka?”

“Mana aku kenal mereka?”

“Tapi kau ada bicara dengan mereka, bukan?”

“Kemarin aku sedang menunggumu di kapal itu, mendadak datang empat orang, salah satunya tanya apakah aku nona So, katanya mereka adalah murid-murid Cu-soa-bun, dikatakan pula bahwa kau yang suruh mereka menjemputku.”

Dia tertawa manis, lalu melanjutkan: “Tapi aku tahu, kau tahu bahwa aku menunggu di sini, sekali-kali tidak mungkin suruh orang lain, kau tahu aku paling benci berhadapan dengan laki-laki asing yang tak kukenal, oleh karena itu timbul rasa curigaku, sudah tentu kutolak permintaan mereka, kulihat pula mereka saling melirik memberi tanda, maka siang-siang aku sudah siap dan waspada.”

“Untunglah kau tahu akan diriku, laki-laki yang tidak akan membuatmu muak dan benci…. tapi kenapa tidak kau bongkar saja kedok mereka waktu itu? Desak mereka untuk menjelaskan!”

“Sepak terjang orang-orang itu sedemikian kejam, rencananya sempurna dan teliti, di belakang mereka pasti ada orang lain, aku sendiri tidak tahu apa aku kuasa menghadapi mereka, maka…..”

“Maka kau pura-pura terkena serangan senjata rahasia mereka, supaya urusan tidak berbuntut panjang.”

“Kau tahu aku paling tidak suka berkelahi dengan orang.”

“Tapi warna darah di dalam air, apa pula yang telah terjadi?”

So Yong-yong cekikikan, ujarnya: “Kebetulan waktu aku lewat di Kilam, kubeli satu kotak yancu untuk Thiam-ji.”

Coh Liu-hiang tertawa besar sambil tepuk tangan, tiba-tiba ia hentikan tawanya serta berkata dengan nada berat: “Tapi tiada orang yang tahu bila kau sedang menungguku di sini, memangnya siapa orang-orang ini? Dari mana tahu kau menungguku di sini? Apakah Hek-tin-cu? Dia pasti bukan orang demikian.”

“Persoalan ini boleh kelak kau pikir lebih lanjut.” ujar So Yong-yong lembut.

“Benar! Sekarang tiba saat nya kutanya hasil dari tugas perjalananmu bagaimana? Sudahkah kau ketahui, biasanya laki-laki siapa saja yang keluar masuk Sin-cui-kiong?”

“Waktu hal ini kutanyakan kepada bibiku, coba kau terka bagaimana jawabannya?”

“Apa yang dia katakan?”

“Katanya: Jangan kata laki-laki, sampai pun ayam jago jangan harap bisa mondar-mandir keluar masuk Sin-cui-kiong.”

Tak tahan Coh Liu-hiang menahan tawanya, katanya mengerut kening: “Jikalau tiada laki-laki keluar masuk Sin-cui-kiong, bagaimana pula si gadis cilik itu bisa hamil? Biasanya bagaimana keadaan hidupnya? Adakah sesuatu barang peninggalannya?”

“Gadis itu bernama Sutouw King, gadis pendiam yang sehari-hari hidup dalam ketenangan, jarang bicara, kecuali biasa iseng memetik harpa, tiada sesuatu hobinya pula, siapa pun takkan percaya dan membayangkan bisa terjadi peristiwa itu.”

“Gadis pendiam yang tak suka bicara, perasaannya biasanya paling subur. Jika sampai dia jatuh cinta terhadap seseorang, sampai mati pun cintanya itu takkan goyah dan luntur, oleh karena itu dia rela dirinya menjadi korban, betapa pun tak mau membocorkan rahasia lelaki itu.”

“Terhadap berbagai tipe wanita, apakah kau tahu sedemikian jelasnya?”

Coh-Liu-hiang mengelus hidungnya, lekas ia menukas: “Apa benar dia tidak meninggalkan sesuatu?”

“Tidak! Boleh dikata perjalananku sia-sia, apa pun tiada yang berhasil kutanyakan.”

“Tapi orang-orang itu kuatir bila kau mendapatkan sesuatu rahasia, maka kau harus dibunuh untuk menutup mulut. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang itu punya sesuatu ciri yang merupakan sumber penyelidikan kita di dalam Sin-ciu-kiong, cuma sampai detik ini belum ada orang yang memperhatikan….. tapi kenapa sumber-sumber ini tidak sampai menjadi perhatian orang banyak?”

“Dan kau? Beberapa hari ini….. apa pula hasilmu?” balas tanya So Yong-yong.

Coh Liu-hiang menceritakan dengan jelas sampai sedetil-detilnya, apa yang dia alami selama beberapa hari ini.

Mendengar betapa kejam dan ganasnya serta watak yang menyendiri dari Tionggoan It-tiam-ang, So Yong-yong menggeleng-gelengkan kepala. Mendengar tentang gambar lukisan dan tulisan surat itu, matanya terbelalak. Mendengar bahwa Chiu Ling-siok ternyata adalah istri eks pangcu Kaypang yang terdahulu, dan Coh Liu-hiang sendiri pun pernah menemuinya, tak tahan So Yong-yong pun berteriak tertahan.

Supaya So Yong-yong tidak kuatir dan terlalu tegang, sengaja Coh Liu-hiang hanya ceritakan sepintas saja tentang pertempurannya di batu jembatan di atas jurang yang dalam itu. Tapi So Yong-yong pun sudah terlalu tegang sampai mengepal kencang jari-jarinya.

Katanya gemetar: “Bukan saja ilmu silat orang itu tinggi, malah keji dan telengas pula, banyak akal muslihatnya, kau menghadapi musuh macam itu betul-betul harus waspada dan lebih hati-hati.”

Satu persatu Coh Liu-hiang membuka jari-jarinya yang terkepal itu, katanya lembut dengan tersenyum: “Tahukah kau orang lain sering berkata Coh Liu-hiang adalah manusia yang paling ditakuti di seluruh jagat ini? Seumpama orang itu amat menakutkan, masakah dia bisa menandingi Coh Liu-hiang?”

“Coh Liu-hiang memang teramat tangguh, sayang sanubarinya terlalu bajik dan lemah. Orang lain tega membunuhnya, sebaliknya dia tidak tega melukai orang, coba katakan cara bagaimana aku takkan kuatir?”

Coh Liu-hiang menepuk-nepuk tangnnya, katanya tertawa: “Jangan kuatir untuk membunuh Coh Liu-hiang, bukan soal gampang.”

So Yong-yong unjuk tawa manis, namun alis berkerut pula, katanya: “Coba kau pikir, mungkin tidak orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long adalah orang misterius yang membunuh Thian-jiang-sing Song Kang dan orang yang terjun ke danau itu?”

“Memang dia. Jika terkaanku tidak salah, yang membunuh Ca Bok-hap, Cou Yu-cin, Ling Ciu-cu dan Sebun Jian pun dia, orang yang mencuri Thian-it-sin-cui dari Sin-cui-kiong tentulah dia pula!”

“Begitu besar hasratnya hendak membunuhmu, berusaha pula merintangimu menemui Jin-hujin Chiu Ling siok, sungguh tak nyana Chiu-Ling siok tidak mau bicara apa-apa, bukankah segala usahamu itu sia-sia belaka?”

Mendadak Coh Liu-hiang unjuk senyum lebar, katanya: “Chiu Ling-siok masih mengucapkan beberapa patah kata yang amat penting artinya.”

“Apa katanya?”

“Dengarlah dengan seksama, dia berkata: ‘Kau pun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sudah rebah berpenyakitan selama beberapa tahun, lalu mendadak meninggal, orang-orang yang dapat menemui beliau tidak banyak jumlahnya….”

So Yong-yong berpikir sejenak, katanya: “Aku tak bisa meraba beberapa patah kata itu mengandung arti yang amat penting apa?”

“Coba kau pikirkan secara seksama, pasti kau dapat simpulkan.”

Kembali So Yong-yong ulangi beberapa patah kata-kata itu. akhirnya sorot matanya bersinar, katanya: “Aku tahu sekarang, kalau Jin-lopangcu itu sudah lama berpenyakitan di atas ranjang, mana mungkin bisa mati secara mendadak. Murid-murid Kaypang mereka, kalau toh tahu bahwa Pangcu mereka sakit menjelang ajal, sudah sepantasnya selalu menjaganya dan merawatnya, kenapa yang bisa bertemu dengan beliau hanya terbatas beberapa orang saja?”

“Begitulah!” seru Coh Liu-hiang tepuk tangan. “Kedengarannya beberapa patah kata itu biasa saja, namun satu sama lain saling bertentangan. Jin-hujin itu memang berotak cerdik. Coba kau pikir, kenapa dia mengeluarkan kata-kata yang saling bertentangan ini?”

“Apa bukan sedang memberi kisikan kepadamu?”

“Memang begitulah!”

“Tapi ada persoalan apa yang tidak langsung dia utarakan kepadamu? Memangnya persoalan itu dia rahasiakan terhadap Lamkiong Ling? Masakah Lamkiong Ling pun…”

“Meskipun rumit seluk-beluk dan banyak lubang kelemahan serta hubungan satu sama lainnya, tapi sekali-kali kita jangan secepat itu menarik kesimpulan, karena persoalan ini amat penting dan besar artinya, tidaklah sederhana seperti rabaan kita semula!”

“Kalau begitu, jadi kau harus pergi menemui Jin-hujin itu pula?”

“Ya, harus menemui sekali lagi!”

So Yong-yong menggenggam tangannya, katanya lembut: “Tapi kau harus ingat, bahaya untuk kedua kalinya ini tentu lebih besar. Kalau toh mereka tahu kunci rahasia dari semua persoalan ini berada di tangan Jin-hujin, mana mungkin mereka mau memberi kesempatan kepadamu untuk berhadapan sendiri dengan Jin-hujin?”

“Kukira, sementara mereka takkan mengira bahwa aku pergi menemui Jin-hujin lagi, maka perjalananku kali ini lebih cepat lebih baik. Kalau terlambat, bahayanya tentu semakin besar.”

“Sekarang mereka paling baru membokong dan menyergapmu, tapi bila kau sudah hampir membongkar kedok rahasia mereka, pasti mereka bakal menggunakan segala cara untuk menghadapimu.”

“Kalau hendak memancing ikan besar, sudah tentu harus berani memberi umpan yang besar pula.”

“Masa kau…. kau sendiri hendak menjadi umpan itu untuk memancingnya keluar?”

Terasa oleh Coh Liu-hiang jari-jari tangan So Yong-yong yang menggenggam tangannya itu gemetar, maka tangannya yang hangat dan kokoh itu balas menggenggam, katanya tertawa: “Umpan ini memang terlalu besar, betapa pun besar ikan itu takkan bisa menelannva bulat-bulat. Kau tidak usah kuatir, dengarkan saja kataku, lekas kau pulang, kemudian lemparlah botol-botol arakku ke dalam laut biar dingin, suruh pula Thiam-ji menyediakan beberapa ekor ayam, dalam lima hari mendatang pasti aku sudah pulang dan menggasak habis semuanya!”

So Yong-yong menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun biji matanya memancarkan sinar terang dan lembut hangat laksana bintang kejora. Akhirnya ia tertawa lebar dan katanya: “Sudah tentu kau bisa pulang, dalam dunia ini siapa yang mampu merintangimu?”

Di atas dunia ini, tiada sesuatu yang lebih menggairahkan dari pada raut muka seorang jelita dan keyakinannya. Waktu Coh Liu-hiang tiba di atas daratan, terasa tenaganya segar semangat bergairah.

So Yong-yong memang seorang gadis penurut. Gadis jelita yang pintar, ternyata masih dengar kata-katanya, itulah kebahagiaan yang terbesar bagi seorang laki-iaki.

Dengan puas dan senang hati Coh Liu-hiang menggumam seorang diri: “Dunia ini sungguh tiada sesuatu yang menyulitkan diriku….”

Terdengar seseorang menanggapi sambil tertawa: “Tapi apakah kau tidak menyulitkan dunia kehidupan ini?”

Belum hilang suaranya, Bu Hoa tahu-tahu melayang turun. Sikapnya yang agung suci, senyumannya yang welas asih di bawah penerangan sinar bintang, kelihatan demikian memukau seperti dewata dari langit.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya: “Kukira hanya aku sendiri si kucing malam ini, tak nyana masih ada orang lain lagi.”

“Masih ada dua.” kata Bu Hoa.

Wuktu Coh Liu-hiang berpaling, dilihatnva seseorang berdiri mematung di dalam Hong-ih-ting sana, pakaian hitamnya kelihatan mengkilat ditimpa sinar bintang, siapa lagi kalau bukan Hek-tin-cu. Entah lantaran apa pemuda yang aneh dan luar biasa itu tetap berdiri di sana, menjublek seperti orarg linglung.

“Malam pertama di Tay-bing-ouw, menyendiri di Hong-ih-ting, Pinceng kira itulah Coh-heng. Waktu aku hendak ke sana, tak kira Coh-heng sudah muncul di sini.”

“Malam sudah selarut ini, tak kira kau masih ada selera pesiar ke tempat ini?”

“Janji main catur dan minum arak tempo hari, setiap waktu tak pernah terlupakan oleh Pinceng, memang sengaja aku ke mari mencari Coh-heng untuk menepati janji.”

Mana ada selera Coh Liu-hiang main catur minum arak segala. Tapi biji matanya berputar, tiba tiba ia mendapat akal, katanya tertawa: “Untuk main catur kita berdua sudah cukup, hendak minum arak perlu ditambah Lamkiong Ling lagi baru menarik.”

“Kalau demikian, tiada halangannya kita gedor rumahnya menjadi tamu tak diundang!”

“Baiklah, kau tunggu di sini sebentar, biar kugugah dulu sahabat yang sudah tertidur di sana itu, sebentar kuiringi kau ke sana!”

Tanpa menunggu jawaban Bu Hoa, badannva sudah berkelebat ke arah Hong-ih-ting, dilihatnya Hek-tin-cu menjublek seperti patung tanpa bergeming, alisnya berkerut dalam seolah-olah ada sesuatu persoalan pelik yang merundung hatinya.

Coh Liu-hiang tertawa, katanya; “Hanya kuda yang tidur sambil berdiri, Hek-heng kenapa meniru kuda?”

Hek-tin-Cu tersentak sadar dan berpaling, sekilas itu terkandung banyak perubahan dari kerlingan matanya, namun suaranya tetap dingin: “Kalau tuan ingin bercanda, lebih baik pergilah kau mencari nelayan tua itu.”

“Tidak jelek pandangan matamu.” puji Coh Liu-hiang.

Hek-tin-cu menengadahkan kepala tanpa hiraukan orang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, ujarnya: “Malam ini aku sudah ada janji tak bisa temani kau minum arak, biar dua tiga hari lagi kita berbincang lebih lanjut.”

Mendadak orang mengeluarkan kata-kata yang tiada juntrungannya ini, keruan Hek-tin-cu terheran heran. Baru saja ia hendak umbar adatnya, tiba-tiba Coh Liu-hiang menekan suara dan berbisik dengan cepat: “Bawa kudamu dan tunggu aku di luar pintu selatan. Soal ini menyangkut urusan penting, bisa tidak membongkar rahasia keseluruhannya, tergantung dari kerja sama kita ini.”

Di saat Hek-tin-cu masih terlongong, Coh Liu-hiang sudah putar badan sambil bergelak tawa tinggal pergi.

Ada sementara orang, tanpa tidur tiga hari tiga malam pun tidak apa-apa, tentunya Coh Liu-hiang termasuk di antara orang-orang itu, demikian pula Bu-Hoa dan Lamkiong Ling.

Bahwasanya Bu Hoa tidak perlu mengetuk pintu, hakekatnya Lamkiong Lingpun tidak tidur, kini dia sedang menghadapi araknya minum seorang diri seolah-olah memang sedang menunggu kedatangan mereka. Papan catur dengan biji-bijinya sudah tersedia di atas meja, demikian pula arak dan hidangan gegaresnya sudah siap di atas meja.

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: “Akhirnya, kali ini kita bertiga harus benar-benar menentukan menang kalah. Sebelum rebah tak berkutik, siapa pun dilarang berlalu, entah bagaimana maksud Coh-heng?”

“Kau kan tahu aku ini pemabukan yang takkan pergi sebelum tenggelam dalam air kata-kata, kenapa tidak kau tanya Bu Hoa, malah tanya aku?”

Sembari main catur, dia tenggak araknya dengan lahap, sedemikian asyiknya seumpama dilecut dan dihajar pun dia takkan mau pergi.

“Lamkiong-heng toh tidak tahu betapa asyiknya orang main catur, sungguh suatu hal yang harus disesalkan.”

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Pemain catur harus peras otak, main secara serabutan akan kalah, mana bisa dibanding kenikmatan seorang penonton yang bebas merdeka?”

Sebelum Bu Hoa bicara pula, tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meletakkan sebiji caturnya di garis pinggir paling sudut.

Berkerut alis Bu Hoa, katanya: “Teori catur sejak dulu kala sampai sekarang, Pinceng pernah membacanya semua, belum pernah kulihat cara permainan seperti ini. Daerah bawah yang amat penting ini, apakah Coh-heng tidak perlu menjaganya?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: