Kumpulan Cerita Silat

24/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (22)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:22 am

Ilmu Ulat Sutera (22)
Oleh Huang Ying

Tanpa mengeluarkan gelang besar itu saja, Fu Hiong-kun sudah mengenalinya sebagai Ci-bu-kim-hoan Ci. Hatinya tergetar. Tanpa disadari kakinya mundur satu langkah.

Lu Ci tertawa dingin. “Kau tentu masih kenal siapa diriku. Mana soat tian dari Ping san itu?” bentaknya lantang.

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya dengan perasaan panik. “A … aku … aku tidak tahu.”

“Tempo hari kau yang pergi mengejar Tian-liong-siang-jin. Kalau kau tidak tahu, siapa lagi yang bisa mengetahuinya. Jawab!” Mata Lu Ci bersinar tajam. “Apakah kau menyimpannya di dalam gua ini?”

Tanpa sadar Fu Hiong-kun melirik ke dalam gua. Dia menggoyangkan tangannya dengan gugup, “Bukan … bukan!”

“Iya atau bukan, masuk saja ke dalam kita akan mengetahuinya!” kata Lu Ci sambil melangkah ke dalam.

Fu Hiong-kun menghalanginya dengan kalang kabut. Sepasang telapak tangannya menghantam ke depan. Gelang sebesar Lu Ci bergerak. Keduanya saling menyerang dan menghindar. Tidak sampai tiga belas jurus, Lu Ci sudah berhasil memuntir pergelangan tangan Fu Hiong-kun.

“Budak cilik, aku sudah mengikuti sejak dari dusun tadi. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Dengan mengandalkan ilmu silatmu yang demikian rendah, kau berani melawan aku?” sindirnya tajam.

Begitu ucapannya selesai, telapak tangan Lu Ci langsung menghantam punggung Fu Hiong-kun sehingga gadis itu terpental sejauh dua depa. Tubuhnya segera berkelebat dan menyelinap ke dalam gua.

Wan Fei-yang masih berendam di dalam gentong air panas. Matanya terpejam rapat dan napasnya kadang-kadang tersengal-sengal, kadang-kadang teratur. Lu Ci menatapnya dengan saksama. Keningnya berkerut ketat.

“Bocah beloon ini … mengapa dia duduk di dalam gentong berisi air mendidih? Kalau dilihat dari tampangnya dia seperti tidak merasa kepanasan sedikit pun, apakah soat lian dari Ping san itu sudah termakan olehnya?” Lu Ci bertanya-tanya dalam hati.

Dia masih menatap Wan Fei-yang dengan bingung, Fu Hiong-kun menerjang masuk kembali ke dalam gua.

“Keluar!” bentak Lu Ci sambil menghantamkan telapak tangannya sekali lagi. Tubuh Fu Hiong-kun tergetar hebat dan terpental keluar dari gua tersebut. Tapi dengan nekat, dia merangkak bangun dan maju lagi.

Mengingat bahwa dia sudah kehilangan soat lian itu, dia sudah dapat membayangkan kalau dirinya akan disalahkan oleh kaisar. Bukan saja jabatannya akan terlepas, bahkan nyawanya pun belum tentu dapat dipertahankan. Hatinya semakin panas. Amarah meluap di dadanya. Kekejian dalam jiwanya timbul seketika. Dia bersuit aneh dan tubuhnya melesat ke angkasa, sepasang tangannya menghantam ke arah ubun-ubun kepala Wan Fei-yang.

Tepat pada saat itu, sepasang mata Wan Fei-yang tiba-tiba terbelalak. Sepasang telapak tangannya terangkat ke atas. “Plakkk!” Tepat menyambut sepasang telapak Lu Ci, lalu tubuhnya mencelat keluar dari gentong air seketika itu juga.

Telapak tangan kedua orang itu saling menekan, ternyata Lu Ci malah terhentak oleh tenaga Wan Fei-yang sampai berjungkir balik lalu melayang turun ke tanah. Telapak tangan mereka pun terpisah. Tangan kanan Lu Ci bergerak. Gelang emasnya sudah tergenggam, di antara suara desingan yang memekakkan telinga, gelang itu meluncur menyerang bagian tubuh Wan Fei-yang.

Urat penting pada tubuh Wan Fei-yang sudah tersambung kembali berkat bantuan soat lian, dan setelah berendam dalam air panas sekian lama, tenaga dalamnya juga sudah pulih kembali. Sepasang telapak tangannya mengincar dengan gencar. Suara angin menderu. Gelang emas Lu Ci tidak mempunyai kesempatan mendekatinya sama sekali.

Oleh karena itu, Lu Ci semakin panik juga kemarahannya bertambah. Tubuhnya secara tiba-tiba terjungkir balik di tengah udara, sebuah demi sebuah gelang emas kecil meluncur saling susul menyusul membuka sebuah liang di antara kibasan telapak tangan Wan Fei-yang. Tubuhnya segera menerjang masuk ke tempat yang lowong dan gelangnya yang besar dihantam ke depan.

Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang dirangkapkan lalu bergeser ke samping. Dia menghindarkan diri dari gelang emas yang meluncur, lalu dia membalikkan tubuhnya, sepasang telapak tangannya direnggangkan kemudian maju dua langkah dan secepat kilat menjepit gelang besar tersebut. Lu Ci terkejut sekali. Tapi dia cukup gesit, tangan kanannya agak menekuk sedikit membentuk cakar harimau dan meluncur mengincar tenggorokan Wan Fei-yang.

Anak muda itu menundukkan kepalanya, mendadak telapak tangannya direnggangkan dan gelang besar pun terlepas dari jepitannya, lalu telapak tangannya seperti angin kencang menghantam dada Lu Ci. Sebetulnya dia hanya bermaksud menggetarkan tubuh Lu Ci agar menjauh darinya, tapi dia lupa pernah mempelajari salah satu dari Bu-tong-liong-kiat yang terkenal, yaitu Pik-lek-ciang. Bukan saja tenaga dalamnya sudah pulih, malah kekuatannya berlipat ganda dibandingkan sebelumnya. Dapat dipastikan bahwa saat ini dia dapat menghancurkan sebuah bukit dengan mudah. Bahkan lebih dahsyat dari ilmu telapak tangan yang dikuasai oleh Tian-liong-siang-jin semasa jayanya.

Isi perut dan dada Lu Ci tergetar hancur. Tubuhnya terpental jauh lalu menghantam dinding gua. Wan Fei-yang yang melihat keadaan itu langsung tertegun. Tanpa sadar dia termangu-mangu dan berulang kali menatap sepasang telapak tangannya sendiri.

Tiba-tiba dia berteriak lantang, “Fu-kouwnio, ilmu silatku sudah pulih kembali seperti dulu!” sambil berteriak, dia menerjang ke depan.

Fu Hiong-kun justru sudah melihat bahwa ilmu silat Wan Fei-yang telah pulih kembali dan sedang bertarung melawan Lu Ci. Hatinya gembira sekaligus cemas. Dia mundur ke depan gua tapi tidak meninggalkan tempat tersebut. Dia takut terjadi perubahan pada diri Wan Fei-yang.

Sekarang tiba-tiba Wan Fei-yang berteriak sambil menerjang keluar. Tanpa sadar dia mundur dua langkah. Wan Fei-yang melesat mendekati lalu memeluk bahunya erat-erat. “Fu-kouwnio, kau lihat, aku sudah sembuh!” katanya penuh semangat.

Tentu saja Fu Hiong-kun ikut gembira juga sedih. Dia menarik napas panjang. “Wan-toako, syukurlah kau sudah sembuh. Hatiku menjadi lega sekarang.”

Wan Fei-yang memandanginya dengan tatapan penuh terima kasih. Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata sebagai pernyataan hatinya, Fu Hiong-kun sudah menukas, “Aku … aku akan pergi sekarang!”

Wan Fei-yang tertegun seketika. “Mengapa kau harus pergi?” tanyanya seperti orang linglung.

“Kalau kau sudah membaca surat itu, kau tentu akan mengerti sendiri.”

“Surat? Surat apa?” Wan Fei-yang semakin tidak mengerti.

“Surat itu ada di atas tumpukan pakaianmu yang baru. Aku meletakkannya di atas batu.”

“Kalau kau bermaksud mengatakan sesuatu, katakan saja langsung. Untuk apa harus menulis surat segala macam?” desak Wan Fei-yang.

Fu Hiong-kun tertawa pahit.

“Lebih baik kau masuk ke dalam dan baca dulu surat itu. Nanti baru kita bicarakan hal lainnya.”

“Baik. Aku akan masuk mengambil surat itu.” Wan Fei-yang tidak lupa menambahkan “Kau tunggu sebentar di sini.”

Fu Hiong-kun menganggukkan kepalanya. Matanya telah mengembangkan air mata. Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam gua. Air mata Fu Hiong-kun tak tertahankan lagi. Dia menangis tanpa suara.

*****

Surat yang dikatakan Fu Hiong-kun tidak ada di atas batu, tapi di dalam air. Pasti terbang terembus kibasan telapak tangan Wan Fei-yang dan Lu Ci ketika bertarung tadi. Cepat-cepat Wan Fei-yang mengambil surat itu. Dia membuka lipatannya dan langsung tertegun.

Surat itu sudah luntur oleh air. Sama sekali tidak terbaca apa yang tertulis di atasnya.

“Fu-kouwnio …!” sambil memanggil dia menerjang keluar dari dalam gua. Tapi Fu Hiong-kun sudah tidak terlihat lagi. Wan Fei-yang tidak habis pikir. Dia masih berteriak beberapa kali memanggil gadis itu, tapi meskipun tenggorokannya hampir kering, tetap saja tidak terdengar sahutan dari Fu Hiong-kun.

Akhirnya Wan Fei-yang menerjang terus ke depan. Khasiat soat lian telah menyebar secara menyeluruh dalam jangka waktu tujuh minggu, yakni empat puluh sembilan hari. Dia berteriak memanggil dengan suara mengandung tenaga dalam yang tinggi. Tentu saja kumandang suaranya dapat terpancar sampai jauh. Mana mungkin Fu Hiong-kun tidak mendengarnya?

Sebetulnya dia berada di antara rimbunan dedaunan dan ranting yang terletak tidak seberapa jauh dari gua tersebut. Dia tidak bergerak atau bersuara sedikit pun. Dia mendengar Wan Fei-yang berteriak memanggil namanya berulang kali, kemudian melesat melintas di depannya. Hampir saja dia tidak dapat menahan hatinya untuk memanggil pemuda itu, namun akhirnya dia mengeraskan hatinya juga. Dia memandang bayangan tubuh Wan Fei-yang yang menghilang di kejauhan. Tanpa dapat dibendung lagi, air matanya mengalir dengan deras.

*****

Tubuh Wan Fei-yang melesat seperti angin. Sebentar saja dia sudah berlari kurang lebih sepuluh li. Tentu saja sepanjang jalan dia tidak berhasil menemukan jejak Fu Hiong-kun. Dia berlari lagi sejauh setengah li. Akhirnya dia menghentikan kakinya.

Baru saja dia membalikkan tubuhnya untuk kembali, telinganya mendengar suara teriakan dan benturan senjata orang yang sedang bertarung. Pikirannya tergerak. Dia langsung melesat ke arah sumber suara tadi. Sampai saat ini, dia masih juga belum sadar bahwa dengan mengandalkan ilmu ginkangnya sekarang, apabila Fu Hiong-kun juga mengambil jalan yang sama, tidak mungkin belum terkejar olehnya.

Meskipun dia belum tahu soat lian yang dimakannya adalah tumbuhan langka yang hanya berbunga seribu tahun sekali dan sangat berkhasiat, tapi karena ilmunya pulih dalam waktu sedemikian singkat, malah dia sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Hanya beberapa kali loncat, dia sudah mencapai tempat terjadinya pertarungan. Di sana ada empat orang, tapi yang bertarung hanya tiga orang. Salah satu dari ketiga orang itu dikenalnya dengan baik. Orang itu bukan Fu Hiong-kun yang sedang dicarinya, tetapi Kuan Tiong-liu.

Yang bergabung melawan Kuan Tiong-liu adalah Hek-pai-suang-mo. Boleh dibilang mereka bertarung dengan main-main. Keduanya hanya menggunakan tangan kosong. Tidak membawa senjata apa pun.

Kuan Tiong-liu menggerakkan pedangnya dengan gencar. Tetapi bukan saja dia tidak sanggup melukai Hek-pai-siang-mo, malah beberapa kali tangannya tertangkap dan terpelintir sampai jatuh bergulingan di tanah. Tampaknya Hek-pai-siang-mo masih belum berminat membunuhnya. Cara turun tangan mereka masih diperhitungkan baik-baik.

Yi Pei-sa yang berdiri di samping tidak hentinya berteriak agar mereka menghentikan pertarungan itu. Hek-pai-siang-mo tidak memedulikannya. Sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan mengandalkan kepandaiannya yang cetek itu, dia tidak mungkin dapat membantu banyak kepada Kuan Tiong-liu. Bukannya dia tidak mencoba, tapi hanya dalam sekali gebrak, dia sudah terdesak mundur oleh Hek-pai-siang-mo.

Rambut Kuan Tiong-liu yang biasanya terikat rapi sudah terlepas dari riap-riapan. Pakaiannya koyak tidak keruan. Juga kotor oleh tanah dan debu. Tampangnya mengenaskan sekali. Namun dia masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia tidak memohon ampun atau meratap kesakitan. Dia hanya mengertakkan giginya erat-erat dan memberi perlawanan sebisanya.

Wan Fei-yang yang memerhatikan sekian lama dari sudut jalan, tidak dapat menahan dirinya lagi. Dia berteriak lantang dan melesat ke depan. Suara teriakannya bagai guruh yang menggelegar di atas langit. Hati keempat orang itu sampai tergetar serentak. Tanpa sadar orang-orang yang sedang bertarung menghentikan gerakannya seketika.

Wan Fei-yang melayang turun tepat di tengah-tengah Kuan Tiong-liu dan Hek-pai-siang-mo.

“Kau rupanya!” Melihat yang datang adalah Wan Fei-yang, Kuan Tiong-liu tertegun di tempat.

“Siapa kau?” bentak Hek-mo-cian dengan mata mendelik.

“Apakah kau kaki tangan manusia she Kuan ini?” tanya Pek-mo-cian.

“Boanpwe bernama Wan Fei-yang. Hanya kebetulan lewat di tempat ini.”

“Kalau hanya kebetulan lewat, teruskan saja perjalananmu. Jangan ikut campur urusan kami,” kata Hek-mo-cian masih dengan lagak garang.

Sinar mata Wan Fei-yang berputar ke sekeliling.

“Kalian berdua Cianpwe menghina dua anak muda dengan cara demikian, apakah tidak takut akan menjadi bahan tertawaan teman-teman dunia kangouw?”

Pek-mo-cian tertawa dingin.

“Tahukah kau siapa adanya budak perempuan itu? Dia adalah murid kami. Bocah she Kuan ini bukan saja merayunya agar bersedia melarikan diri bersama-sama, dia malah membujuknya untuk mencuri ilmu pusaka perguruan kami. Coba kami beri keadilan, apa yang harus kami lakukan terhadap kedua bocah itu?”

Wan Fei-yang terpana mendengar keterangan itu. Sesaat kemudian dia menoleh kepada Kuan Tiong-liu. “Kuan-heng, apabila yang dikatakan kedua Cianpwe ini benar adanya, maka engkaulah yang bersalah.”

Kuan Tiong-liu merasa rada malu, tapi pada dasarnya dia memang orang yang keras kepala. Dia masih berusaha untuk mungkir. “Siapa yang salah dan siapa yang benar, sulit dijelaskan dalam waktu ini. Aku orang she Kuan tidak berminat banyak bicara!”

“Kuan-toako …!” Yi Pei-sa seperti mengatakan sesuatu, tapi kemudian dibatalkannya.

“Kau tidak perlu takut. Paling banter kita mati bersama di sini!” kata Kuan Tiong-liu menghiburnya.

“Kalau begitu, Lohu akan mengabulkan niatmu!” teriak Pek-mo-cian. Tubuhnya berkelebat. Telapak tangannya meluncur ke depan. Hek-mo-cian tidak mau ketinggalan, dia ikut-ikutan menyerang Kuan Tiong-liu.

Wan Fei-yang cepat-cepat maju dan meluruskan lengannya mengadang kedua orang itu. Sepasang telapak tangan Hek-pai-siang-mo tepat menghantam lengannya itu, tapi Wan Fei-yang sama sekali tidak apa-apa.

“Cianpwe berdua …. Ada apa-apa kita bisa bicarakan baik-baik,” katanya gugup.

“Bocah busuk!” teriak Pek-mo-cian. “Berani benar kau mencampuri urusan kami berdua!”

“Kalau kau benar-benar merasa dirimu hebat, kalahkan dulu kami berdua. Urusan ini biar kau yang selesaikan!”

Wan Fei-yang menatap Hek-pai-siang-mo secara bergantian. Kemudian dia beralih memandang Yi Pei-sa dan Kuan Tiong-liu, lalu melihat telapak tangannya sendiri. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya, “Baik. Boanpwe terpaksa kurang ajar!”

Hek-pai-siang-mo saling lirik sekilas. Mereka tertawa Dengan berdiri berdampingan, mereka menyerang Wan Fei-yang serentak. Mereka dapat menduga bahwa ilmu silat anak muda itu pasti cukup tinggi. Oleh karena itu, begitu turun dari tangan mereka segera mengerahkan tenaga sebanyak sepuluh bagian. Mereka berniat menyelesaikan pertarungan itu secepatnya dan meringkus Wan Fei-yang.

Siapa sangka setelah bertarung sebanyak seratus jurus lebih, bukan saja mereka tidak berhasil meringkus Wan Fei-yang, malah ilmu anak muda itu tampaknya semakin sempurna. Bukan hanya Hek-pai-siang-mo saja yang kebingungan, sampai-sampai Kuan Tiong-liu ikut menyaksikan jalannya pertarungan dengan mata terbelalak.

Selama ini dia sudah pernah dikalahkan dua kali oleh Wan Fei-yang. Terhadap ilmu yang dikuasai oleh anak muda itu, boleh dibilang dia cukup memahami kehebatannya. Tapi apa yang dilihat olehnya di depan mata sekarang, ilmu silat Wan Fei-yang bukan saja tidak punah malah lebih hebat beberapa kali lipat.

Pada mulanya gerakan Wan Fei-yang memang agak kaku. Hal ini disebabkan oleh terlukanya dia di tangan Tok-ku Bu-ti sehingga ilmu silatnya punah selama beberapa waktu. Selama ini dia tidak pernah berlatih silat lagi. Bahkan ingatannya tentang gerak jurus-jurus juga harus diingatnya kembali. Namun setelah lewat beberapa saat, dia mulai terbiasa kembali. Itulah sebabnya orang yang tidak mengerti, mengira ilmu kepandaiannya telah mengalami kemajuan pesat. Padahal ilmunya masih yang itu-itu juga. Hanya tenaga dalamnya yang bertambah beberapa kali lipat.

Sekarang tiba-tiba ilmunya sudah pulih kembali berkat soat lian yang ditelannya. Wan Fei-yang ibarat bocah kecil mendapatkan kembali mainannya yang sudah lama hilang. Semakin bertarung, dia semakin bersemangat. Sedangkan di pihak Hek-pai-siang-mo, berbeda lagi ceritanya. Semakin bertarung mereka semakin kewalahan. Makin lama hati mereka jauh semakin kecut. Beberapa kali mereka berusaha menggabungkan tenaga dan mengerahkan ilmu andalan mereka. Mereka bermaksud menggunakan ilmu Ping-hun-sin-kang, semacam ilmu yang mengerahkan tenaga dingin ke dalam lawan sehingga darahnya membeku.

*****

Beberapa kali mereka berhasil menghantam Wan Fei-yang dengan ilmu istimewanya itu, tapi tampaknya anak muda tersebut tidak terpengaruh sama sekali. Bahkan ada serangkum hawa dingin yang menolak lewat tubuh Wan Fei-yang, yang berbalik menyerang tubuh mereka.

Tentu saja Hek-pai-siang-mo tidak tahu bahwa Wan Fei-yang telah menelan bunga soat lian yang dinginnya entah berapa kali lipat ilmu Ping-hun-sin-kang mereka. Tentu saja Wan Fei-yang tidak menunjukkan apa-apa terkena hantaman mereka, malah hawa dingin dalam tubuhnya segera menolak balik hawa dingin tersebut.

Tiga ratus jurus telah berlalu. Tiba-tiba sepasang telapak tangan Wan Fei-yang melihat titik kekosongan di antara kedua iblis hitam putih itu, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Hek-pai-siang-mo. Sekejap kemudian dia melepaskannya kembali dan mencelat mundur beberapa depa.

“Terima kasih karena kedua Cianpwe telah mengalah,” katanya dengan rendah hati.

Hek-pai-siang-mo sampai terpaku sekian lama di tempatnya. Sejenak kemudian Pek-mo-cian berniat menyerang kembali, tapi ditahan oleh Hek-mo-cian. Iblis hitam itu menghampiri Wan Fei-yang.

“Pahlawan memang lahir dari generasi muda. Orang she Wan, Hek-pai-siang-mo mengaku bukan tandinganmu. Urusan ini biar kau saja yang selesaikan.”

Wan Fei-yang langsung menoleh kepada Kuan Tiong-liu.

“Kuan-heng, harap kau kembalikan kitab ilmu pusaka kedua Cianpwe ini!”

Mendengar ucapannya, bukan hanya Kuan Tiong-liu saja yang tertegun, bahkan Hek-pai-siang-mo juga kebingungan. Mereka benar-benar tidak menyangka pendirian Wan Fei-yang begitu adil. Kuan Tiong-liu memerhatikan Wan Fei-yang sejenak. Akhirnya dia mengeluarkan selembar kulit kambing dari balik pakaiannya dan menyodorkannya ke arah Hek-pai-siang-mo. Pek-mo-cian menerima lembaran kulit kambing tersebut dan membentangkannya. Di atasnya terdapat tulis-tulisan kecil dengan huruf dan beberapa gambar yang aneh-aneh. Pek-mo-cian menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan Yi Pei-sa?” tanyanya.

Kuan Tiong-liu menatap ke arah Yi Pei-sa kilas kemudian menoleh kembali kepada Hek-pai-siang-mo.

“Cinta kasih kami sudah dalam, kami masih berharap agar kalian berdua orang tua akan merestuinya,” kata Kuan Tiong-liu.

Pek-mo-cian mendengus dingin. “Kami tidak bertanya kepadamu. Yi Pei-sa, kau jawab sendiri!”

Yi Pei-sa langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan kedua iblis hitam putih. “Harap Suhu berdua maafkan murid yang tidak berbakti ini …!”

Wajah Pek-mo-cian langsung berubah. Dia tertawa dingin. “Kalau begitu kau pun sudah mengambil keputusan untuk mengikutinya!”

Yi Pei-sa mengalirkan air mata tanpa menyahut.

“Kalau niatmu sudah demikian, kau dengar baik-baik. Mulai saat ini hubungan kau sebagai murid dengan Hek-pai-siang-mo sebagai guru putus sampai di sini saja!”

“Suhu …!” ratap Yi Pei-sa.

Hek-mo-cian mengibaskan lengan bajunya, “Kau tidak pantas memanggil kami dengan nama demikian lagi. Kami juga tidak pantas menerimanya,” sindirnya ketus.

Hek-mo-cian membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Wan Fei-yang. Dia berhenti di depan anak muda itu.

“Bocah she Wan, kau adalah orang yang berbakat tinggi dalam ilmu silat. Tetapi kau harus hati-hati terhadap manusia-manusia dunia kangouw yang licik. Mereka bisa saja mencelakaimu,” katanya dengan hati tulus. Dia mengedipkan matanya kepada Pek-mo-cian. Tubuh mereka mencelat dalam waktu yang bersamaan dan sebentar saja sudah menghilang dari pandangan.

Wan Fei-yang menoleh kembali. Kebetulan Kuan Tiong-liu pun sedang memandangnya dua pasang mata saling menatap. Kuan Tiong-liu langsung memperdengarkan suara tertawa dingin. “Biarpun kau sudah menggebah mereka dari sini, aku tetap tidak akan berterima kasih kepadamu!”

Wan Fei-yang jadi terpana mendengar ucapannya. “Kuan-heng, kau ….”

“Kau tidak perlu memanggil aku semesra itu. Aku juga tidak mempunyai saudara yang kampungan sepertimu!” Kuan Tiong-liu menoleh kepada Yi Pei-sa. “Mari kita berangkat!”

Wan Fei-yang masih berdiri termangu-mangu.

*****

Setelah berjalan kurang lebih setengah Yi Pei-sa masih menangis terus. Kuan Tiong-liu menghentikan langkah kakinya. Dia mengusap air mata yang mengalir di pipi Yi Pei-sa dengan lengan bajunya. “Jangan sedih lagi,” katanya menghibur.

“Suhu sudah tidak mengakui aku lagi,” sahut Yi Pei-sa masih mengalirkan air mata.

“Bukankah lebih baik kalau ada aku yang mendampingimu?”

“Kuan-toako, kau jangan tinggalkan aku!” Yi Pei-sa menyusupkan kepalanya ke dalam dada Kuan Tiong-liu.

“Jangan khawatir. Ke mana pun aku pergi, aku akan membawamu serta.” Mata Kuan Tiong-liu beredar. “Untung saja kita sudah menghafal ilmu pusaka kedua suhumu itu!”

“Lalu apa yang harus kita lakukan kelak?”

“Kita harus mencari suatu tempat untuk tinggal sementara. Tunggu sampai aku berhasil mempelajari Ping-hun-sin-kang dan menyempurnakan Lok-jit-kiam-hoat yang sudah aku kuasai. Setelah itu baru kita pikirkan lagi apa yang akan kita lakukan.”

“Bocah she Wan yang menolong kita tadi, Siapa dia sebetulnya?”

“Dia bukan orang baik-baik,” kening Kuan Tiong-liu bertaut erat. “Aku pernah mendengar bahwa ilmu silatnya sudah punah oleh Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti. Tapi kalau melihat kenyataannya tadi, bukan saja ilmunya tidak punah, bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Apakah dia mendapatkan mukjizat yang tidak terduga?” Dari mata Kuan Tiong-liu tebersit sinar dendam dan iri.

*****

Berita yang tersebar di dunia kangouw bukan saja tepat, tapi juga cepat. Tentang ilmu silat Wan Fei-yang yang sudah pulih kembali, bahkan sanggup mengalahkan Hek-pai-siang-mo sudah tersebar ke mana-mana.

Namun Tok-ku Hong sama sekali tidak tahu. Karena selama hampir sebulan ini dia tinggal di gedung keluarga Lu. Maksudnya datang ke rumah Lu Wang untuk mencari Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang tidak ada. Lu Wang sendiri tidak tahu ke mana perginya anak itu. Tok-ku Hong hanya meninggalkan pesan kepada Lu Wang agar memberi tahu Wan Fei-yang bahwa dia datang mencarinya. Nanti setengah bulan kemudian dia akan datang lagi.

Tok-ku Hong memang datang kembali, malah beberapa kali. Namun dia tetap tidak bertemu dengan Wan Fei-yang. Justru hubungannya dengan Lu Wang semakin akrab. Akhirnya dia malah tinggal di rumah orang tua itu.

Sebetulnya hal ini malah sebuah keuntungan bagi Lu Wang. Tentu saja dia tidak tahu dengan adanya Tok-ku Hong di rumah itu, mereka sekeluarga terhindar dari bencana kematian. Kalau tidak, Kongsun Hong pasti sudah menyerbu gedung tersebut dan memaksa Lu Wang mengatakan di mana soat lian dari Ping san itu. Apabila orang tua itu tidak bisa menjawab, sudah pasti dia akan membunuhnya.

Selama ini sikap Tok-ku Hong terkenal tidak sabaran. Dengan menunggu sampai begitu lama di gedung keluarga Lu tanpa mengeluh, dia sendiri hampir tidak mengerti apa sebabnya. Apakah Wan Fei-yang demikian berarti baginya?

Ketika kesabarannya habis dan tidak sanggup menunggu lebih lama lagi, dia segera memohon diri kepada Lu Wang. Baru saja dia meninggalkan gedung keluarga Lu tidak seberapa jauh, Wan Fei-yang pun kembali. Mereka berjalan dari arah yang berlawanan. Tok-ku Hong masih tidak menyadarinya. Dia berjalan tanpa semangat dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba ada orang yang menyentuh bahunya. Tok-ku Hong terkejut sekali. Telapak tangannya sudah siap menghantam. Ketika dia melihat orang yang menyentuhnya adalah Wan Fei-yang.

“Siau-yang ….” sapa Tok-ku Hong tanpa sadar. Hatinya tergetar.

Wan Fei-yang menatapnya lekat-lekat. “Sudah berapa hari kau menunggu aku di sini?” tanyanya tiba-tiba.

“Kapan aku menunggumu?” Tok-ku Hong mana mau mengaku. Dia merasa malu. Kemudian dia berbalik bertanya, “Kau sendiri ke mana saja begitu lama baru muncul lagi?”

Sebetulnya dengan mengajukan pertanyaan itu, dia sendiri sama saja sudah mengakui bahwa dia sudah menunggu beberapa hari. Wan Fei-yang paham sekali sifat Tok-ku Hong. Dia tidak membongkar rahasia kebohongannya. Malah dia agak terharu. “Beberapa hari ini, bagiku bagaikan hidup dalam mimpi,” katanya.

“Pokoknya kau harus menceritakan semuanya kepadaku sampai hal sekecil-kecilnya,” sahut Tok-ku Hong.

“Bukankah hal itu sama saja dengan kau menyuruh aku bercerita sampai pagi menjelang?”

“Aku tidak peduli!” kata Tok-ku Hong sambil mendorong tubuh Wan Fei-yang ke depan. Tentu saja Wan Fei-yang tidak dapat menolak.

Kedua orang itu berjalan di bawah mentari yang hampir tenggelam. Mereka sama sama tidak menyadari bahwa tindakan mereka sudah di bawah pengawasan orang-orang Tok-ku Bu-ti. Mereka masih bercakap-cakap dengan asyik.

*****

Tok-ku Bu-ti sudah mengetahui peristiwa Wan Fei-yang menelan soat lian tanpa sengaja. Dia juga sudah mendengar bahwa bukan saja ilmu silat anak muda itu sudah pulih kembali tetapi malah lebih hebat dari sebelumnya.

Tempo hari memang mereka datang terlambat. Mereka tidak bertemu dengan orang-orang Siau-yau-kok, malah mereka bertemu dengan Tian-liong-siang-jin. Pada saat itu Tian-liong-siang-jin sudah sadar kembali. Dia memang terkena ilmu pembetot sukma Hujan, tapi karena tepukan Fu Hiong-kun di belakang kepalanya, pengaruh ilmu pembetot sukma itu malah hilang seketika. Namun dia tetap tidak dapat mengingat urusan yang terjadi setelah dia terkena pengaruh ilmu iblis itu.

Tok-ku Bu-ti menggunakan segala cara untuk memaksanya berbicara. Sampai-sampai hampir dia memutuskan seluruh urat nadi di anggota tubuh Tian-liong-siang-jin untuk menyiksanya agar mau berbicara. Setelah diperlakukan semena-mena dan tanpa perasaan oleh Tok-ku Bu-ti, Tian-liong-siang-jin hanya dapat mengatakan bahwa yang terakhir diingatnya adalah dia memasukkan soat lian tersebut ke dalam mulut seorang pemuda. Dia juga mengatakan bahwa belum tentu keterangannya benar karena dia hampir tidak dapat membedakan apakah benar-benar terjadi atau dalam mimpi saja.

Ingatannya sadar sekilas ketika Fu Hiong-kun menghantam kepalanya, tapi hanya sekian saja. Bahkan bagaimana rupa Wan Fei-yang pun tidak dapat diingatnya kembali. Pertama-tama Tok-ku Bu-ti tidak habis pikir siapa pemuda yang dimaksudkannya. Sampai di mendengar kabar tentang Wan Fei-yang yang berhasil mengalahkan Hek-pai-siang-mo, dia segera sadar apa yang telah terjadi. Apalagi setelah mendapat laporan bahwa Tok-ku Hong berada bersama-sama Wan Fei-yang, dadanya hampir meledak karena marah. Dia segera menurunkan perintah agar memanggil Tok-ku Hong kembali ke kantor pusat.

*****

Tok-ku Hong yang menerima perintah itu tidak segera pulang. Malah beberapa anak buah Tok-ku Bu-ti yang digotong pulang. Ketika ditanyakan, mereka serentak memberi jawaban bahwa Tok-ku Hong tidak bersedia pulang. Mereka mencoba memaksa, tetapi mereka dipukul satu per satu oleh Wan Fei-yang dan diusir dari tempat itu.

Tok-ku Bu-ti marah sekali. Baru saja dia berniat menurunkan perintah agar Wan Fei-yang dibunuh, lalu Tok-ku Hong diseret pulang untuk menerima hukuman sesuai peraturan yang berlaku, Tok-ku Hong sudah muncul di depan pintu.

Tadinya Tok-ku Hong bersikeras tidak mau kembali ke Bu-ti-bun, tapi Wan Fei-yang membujuknya. Dia tidak mau gadis itu menjadi buronan yang dikejar dan dianggap sebagai murid murtad. Lagi pula dia sendiri harus ke Bu-tong-san untuk menyelidiki siapa pembunuh Ci-siong Tojin. Dengan demikian terpaksa dia harus berpisah untuk sementara dengan Tok-ku Hong. Gadis itu masih mencoba bersikeras, tapi dalam keadaan seperti ini, dia terpaksa membenarkan saran Wan Fei-yang.

Melihat kemunculan putrinya, Tok-ku Bu-ti merasa kurang senang. Tapi dia tidak menunjukkan perasaannya dari luar. Diam-diam dia menurunkan perintah kepada semua anggota Bu-ti-bun untuk menyelidiki jejak Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang menelan soat lian sehingga ilmunya pulih kembali. Hal ini memang di luar dugaan Tok-ku Bu-ti, tapi sejak dia bertarung dengan Wan Fei-yang tempo hari, dia sudah mengetahui bahwa anak muda itu mempunyai bakat yang tinggi untuk mempelajari ilmu silat.

Sejak itu pula dia sudah merasakan bahwa Wan Fei-yang kelak akan menjadi duri dalam matanya, maka dia tidak segan-segan turun tangan keras terhadap anak muda tersebut. Dia menggetarkan urat nadi seluruh tubuh Wan Fei-yang sampai sebagian besar putus dengan ilmu Mit-kip-sin-kang miliknya yang juga pernah mengalahkan Ci-siong Tojin tiga kali berturut-turut.

Sampai saat ini mau tidak mau dia harus mengakui bahwa nasib Wan Fei-yang selalu beruntung. Menghadapi musuh setangguh ini, dia harus waspada dan hati-hati sekali, karena kadang-kadang kita bukan kalah oleh kepandaian seseorang, tapi kalah oleh takdir hidupnya yang bagus.

*****

Kabar memang meluas dengan cepat. Bahkan seluruh Bu-tong-san sudah mendengarnya. Tentu saja orang yang paling terkejut dan tergetar hatinya adalah Fu Giok-su.

Wan Fei-yang dilukai dengan ilmu Mit-kip-sin-kang oleh Tok-ku Bu-ti dalam keadaan parah. Ilmu silatnya punah dan dia menjadi orang cacat. Tetapi sekarang bukan saja ilmunya sudah pulih kembali tetapi malah jauh lebih hebat dari sebelumnya. Wan Fei-yang malah sanggup mengalahkan Hek-pai-siang-mo. Apakah dia sudah mempelajari Tian-can-kiat? Tapi siapa yang mengajarinya?

Teringat akan hal ini yang mungkin saja terjadi karena anak muda itu selalu menemukan kejadian yang tidak terduga, hati Fu Giok-su rasanya hampir meledak karena marah. Sekali lagi dia membolak-balikkan kitab berisi pelajaran Tian-can-kiat di ruang penyimpanan kitab, tapi tetap saja dia tidak berhasil menemukan apa-apa. Dalam keadaan murka, dia membuang kitab tersebut ke dalam tungku perapian.

Sebentar saja kitab itu sudah terlalap api. Isinya langsung menjadi abu. Tapi tidak demikian dengan sampulnya. Hanya lapisan luarnya saja yang terbakar. Lapisan dalamnya entah terbuat dari bahan apa. Bukan saja tidak terbakar, malah mengeluarkan cahaya berkilauan.

Fu Giok-su sudah berniat meninggalkan ruangan penyimpan kitab tersebut, tiba-tiba matanya terbelalak menatap tungku perapian. Kecurigaan langsung menyelinap di dalam hatinya. Cepat-cepat dia mengeluarkan pedangnya dan mengungkit sampul kitab tersebut dari api yang membara. Dia melihat sampul tersebut penuh dengan tulisan-tulisan kecil. Setelah perhatikan dengan saksama, ternyata surat peninggalan Tio Sam-hong (Pendiri Bu-tong-pay).

–Setelah berhasil berlatih Tian-can-kiat dalam waktu empat belas tahun. Tanpa sengaja suatu hari melewati sebuah padang rumput yang luas dan menyaksikan seekor rajawali sakti bertarung dengan seekor ular. Perhatian langsung terpusat penuh. Sekembali ke atas gunung, peristiwa itu bagai gambar hidup yang terus membayang di depan mata. Kemudian dari pertarungan itu, terciptalah ilmu Tiau-coa-cap-sa-sut (Tiga belas jurus rajawali dan ular). Ilmu ini tidak kalah dahsyatnya dengan Tian-can-kiat. Malah ada kesan lebih keji. Kala digunakan pada orang yang sesat, pasti akan mengerikan akibatnya, tapi dibuang pun sayang. Oleh sebab itu diambil keputusan untuk menyimpan ilmu ini di balik sampul Tian-can-kiat. Apabila ada yang menemukannya, maka dialah yang berjodoh mempelajari ilmu ini. Tapi ingat! Kejahatan selamanya tidak pernah menang!–

Fu Giok-su cepat-cepat membalikkan sampul kitab Tian-can-kiat tersebut. Ternyata sama dengan bagian depan sampul. Setelah terbakar terbukalah lapisan keduanya yang berisi teori ilmu Tiau-coa-cap-sa-sut yang dikatakan dalam surat tadi. Tentu saja Fu Giok-su senang sekali. Apalagi setelah mengetahui bahwa ilmu itu tidak kalah dahsyatnya dengan Tian-can-kiat, malah lebih keji lagi.

Tepat pada saat itu, dia merasa ada angin yang lewat di sampingnya. Sebuah batu kecil dilempar dari luar melalui jendela. Fu Giok-su langsung membalikkan tubuhnya dan menyambut batu tersebut. Dia memandang keluar jendela. Dia melihat seseorang berpakaian hitam tersembunyi di atas pohon yang rimbun dan sedang menggapaikan tangan kepadanya.

–Han Tiong? Apakah telah terjadi sesuatu hal lagi di dalam Siau-yau-kok?

Bayangan manusia tanpa wajah langsung melintas di depan matanya. Cepat-cepat dia masukkan rahasia ilmu yang ditemukannya ke dalam balik pakaiannya. Tubuhnya melesat menerobos dari jendela dan sebentar saja dia sudah berada di kejauhan.

*****

Manusia berpakaian hitam itu terus berlari dengan diikuti oleh Fu Giok-su ke bagian belakang gunung Bu-tong-san. Akhirnya dia menghentikan langkah kakinya.

“Apa sebetulnya maksudmu?” bentak Fu Giok-su. Dia marah sekali. Karena sebelumnya Manusia Tanpa Wajah tidak pernah berbuat demikian.

Manusia berpakaian hitam itu segera melepaskan kain penutup wajahnya. “Fu-toako, ini aku!”

Ternyata dia adalah Wan Fei-yang. Fu Giok-su tentu saja terkejut setengah mati.

“Kau …?”

“Sekian lama tidak bertemu, entah bagaimana kabar Fu-toako sekarang?” tanya Wan Fei-yang sopan.

“Untung masih belum mati!” Fu Giok-su menenangkan hatinya. “Apa maksud kedatanganmu kali ini?”

“Aku memang sengaja datang untuk menemui Fu-toako. Hanya engkau yang masih memercayaiku,” Wan Fei-yang menarik napas panjang. “Aku benar-benar difitnah. Ciangbunjin bukan mati di tanganku. Ketika aku menemukannya, Ciangbunjin sudah sekarat. Sayangnya dia tidak sempat lagi memberi tahu kepadaku siapa orang yang demikian keji itu.”

Diam-diam Fu Giok-su tertawa dalam hati. Kalau mendengar ucapan Wan Fei-yang, dia sama sekali tidak usah khawatir. Anak muda ini pasti belum tahu apa-apa. Tapi dia memang pandai menyembunyikan perasaannya.

“Setelah mengenalmu sekian lama, aku juga tidak percaya kau adalah jenis manusia seperti itu.” Dia ikut-ikutan menarik napas panjang. “Sayangnya orang lain tidak ada yang mau percaya.”

“Asal Fu-toako bersedia menjelaskan semuanya di depan para murid Bu-tong ….”

“Menjelaskan apa maksudmu?” Hati Fu Giok-su tergetar kembali.

“Maksud Siaute, sebagai ciangbunjin Bu-tong-pay generasi sekarang tentu para murid Bu-tong memercayai ucapanmu. Asal Fu-toako menyatakan yakin bukan aku yang membunuh Ci-siong Tojin, tentu mereka tidak berani menuduhku lagi.”

“Aku rasa percuma saja,” Fu Giok-su menggelengkan kepalanya. Hatinya tenang kembali.

“Tapi … Fu-toako kan sudah menjadi ciangbunjin sekarang ….”

“Justru itulah aku harus mematuhi peraturan yang berlaku. Kau harus ikut dulu denganku, baru nanti kita buktikan apakah kau bersalah atau tidak,” sahut Fu Giok-su sambil turun tangan secepat kilat. Telapak tangannya sudah mengancam bagian berbahaya tubuh Wan Fei-yang.

Meskipun Wan Fei-yang sama sekali tidak menyangka, tapi telinganya sangat peka. Sedikit embusan angin saja, kakinya sudah bergeser dan luput dari serangan Fu Giok-su. Pemuda berhati keji dan licik itu mana mau menyudahi begitu saja. Tubuhnya bergerak dengan gesit. Sepasang telapak tangannya terulur dan menghantam ke kiri serta kanan. Lima belas kali berturut-turut dia mengerahkan ilmu Pik-lek-ciang, selain itu dia masih juga sempat menimpukkan senjata rahasia ke arah Wan Fei-yang. Kakinya melangkah dengan gerakan Hu-hun-cong, hampir seluruh ilmu Bu-tong-liok-kiat dimainkannya sekaligus.

Wan Fei-yang juga tidak kalah cepat. Satu demi satu serangan itu berhasil dihindarinya. Setelah menerima seratus lebih serangan Fu Giok-su, tiba-tiba pergelangan tangan Wan Fei-yang memutar. Dengan gerakan secepat kilat, telapak tangannya sudah dikembangkan dan menempel di bagian punggung Fu Giok-su.

Tentu saja Fu Giok-su terkejut setengah mati. Tapi Wan Fei-yang bukan saja tidak menghantamkan telapak tangannya, dia malah melepaskannya.

“Kalau aku memang pembunuhnya, saat ini aku tentu akan membunuh Fu-toako sekalian!” Fu Giok-su terkejut sekaligus marah. Tapi dia menahan hatinya untuk tidak menunjukkan perasaan apa-apa. “Ternyata kau memang seorang laki-laki sejati,” katanya dengan nada lembut.

Baru saja ucapannya selesai, dari kejauhan sudah terdengar suara bising langkah kaki dan suara pembicaraan orang ramai. Rupanya suara pertarungan mereka sempat terdengar oleh beberapa murid Bu-tong yang sedang meronda. Kemudian sinar lentera mulai terlihat.

Mata Fu Giok-su bersinar terang. “Saat kita sama sekali tidak mempunyai bukti yang menguntungkan dirimu. Meskipun aku percaya padamu, tapi di hadapan sesama saudara seperguruan, aku juga belum bisa membelamu. Lebih baik kau menyembunyikan diri untuk sementara. Masalah ini pasti akan kuperhatikan baik-baik. Apalagi aku sudah mendapatkan bukti yang menyatakan kau tidak bersalah, aku pasti akan memberi tahu dirimu.”

“Tapi …. Bagaimana membuktikan bahwa aku memang tidak bersalah?”

“Tentu kalau kita sudah menemukan pembunuh yang sebenarnya. Dengan demikian, segala tuduhan yang jatuh kepada dirimu tentu akan beres seketika,” kata Fu Giok-su cerdik.

Wan Fei-yang hanya dapat menarik napas panjang. Dia melesat secepat kilat meninggalkan tempat itu. Dalam waktu yang singkat Gi-song dan Cang-song sudah sampai di hadapan Fu Giok-su. Melihat ciangbunjinnya berdiri dengan termangu-mangu, mereka merasa heran.

“Apakah barusan Ciangbunjin sedang berlatih ilmu? Soalnya kami mendengar suara pertarungan,” tanya Cang-song.

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kita kedatangan musuh.”

“Siapa?” tanya Gi-song panik.

“Wan Fei-yang!” sahut Fu Giok-su sepatah demi sepatah.

Setiap orang yang di sana mendengarkan dengan mata terbelalak. Tidak ada satu pun yang tidak terkejut.

“Untung saja dia cepat-cepat kabut! Kalau tidak, hm ….” dia berhenti sejenak. “Semua orang dengarkan baik-baik! Kali ini Wan Fei-yang menyelinap ke Bu-tong-san, tujuannya masih belum jelas. Kalau ada yang memergoki dia, jangan sekali-kali membiarkan dia lolos. Kalian harus waspada dan kompak agar musuh besar yang satu ini dapat kita tumpas!” Ucapan yang satu ini mungkin baru benar-benar keluar dari hatinya yang paling dalam.

*****

Pada hari kedua tengah malam ternyata Wan Fei-yang datang lagi ke Bu-tong-san. Kali ini dia malah menyelinap ke gua Gi-tong.

Tempat itu merupakan sebuah gua yang besar di mana jenazah para angkatan tua dan ciangbunjin generasi sebelumnya dimakamkan.

Wan Fei-yang menyalakan hio dan lilin yang dibawanya. Dia menyembah di hadapan papan nama Ci-siong Tojin. Hal ini sudah terduga dalam hati Fu Giok-su. Dia yakin Wan Fei-yang pasti akan berziarah di hadapan abu Ci-siong Tojin. Tapi dia tidak mengatakan hal kepada siapa pun. Hanya mempersiapkan penjagaan di sekitar tempat itu.

Begitu Wan Fei-yang muncul, jejaknya sudah ketahuan. Lewat kode-kode sandi, para murid Bu-tong-pay segera berkumpul di gua Gi-tong. Ketika Wan Fei-yang sudah selesai bersembahyang dan keluar dari gua tersebut, dia sudah terkepung oleh para murid Bu-tong. Lentera memancarkan cahaya terang benderang. Belum lagi obor yang dibawa sebagian besar murid Bu-tong.

Tujuh orang tosu yang membentuk Jit-sing-kiam-ceng langsung mengurungnya. Pada waktu inilah Gi-song dan Cang-song baru menampakkan diri.

“Wan Fei-yang, kau sudah terkurung oleh Sing-kiam-ceng, meskipun tubuhmu tumbuh sayap sekarang, kau tetap tidak bisa meloloskan diri lagi!” bentak Gi-song dengan keyakinan penuh. Nada suaranya bahkan tegas sekali.

“Kau benar-benar sudah makan nyali harimau. Masih berani datang ke Bu-tong-san!” sahut Cang-song yang tidak pernah mau kalah.

“Aku tidak membunuh siapa pun! Kalian jangan main tuduh saja! Semua ini hanya fitnahan belaka!” Tanpa hujan tanpa angin, Wan Fei-yang langsung membela dirinya sendiri.

“Fitnah? Apa buktinya? Coba keluarkan!”

“Tentu saja aku mempunyai bukti yang kuat.” Sekali lagi Wan Fei-yang menyerocos tanpa sadar. “Aku tidak mungkin membunuhnya karena Ciangbunjin adaiah…” Tiba-tiba dia teringat bahwa hal ini adalah rahasia besar yang menyangkut nama baik Ci-siong Tojin, walaupun ayahnya itu sudah tiada. Dia tidak jadi mengatakannya.

“Ciangbunjin adalah apa?” desak Gi-song.

Mulut Wan Fei-yang terbuka tapi dia tidak sanggup mengatakannya. Cang-song tertawa dingin.

“Biar aku yang mengatakannya saja, bagaimana? Karena Ciangbunjin adalah duri dalam mataku, sehingga aku terpaksa membunuhnya meskipun tidak mau. Iya bukan?”

“Bukan … bukan begitu persoalannya ….” Sejak kecil Wan Fei-yang memang tidak pandai berkata-kata. Meskipun pada dasarnya dia adalah seorang anak yang cerdas. Semakin ditekan dia semakin gugup.

“Masih membantah? Dia tidak sudi menerima kau sebagai murid. Malah dia menghukummu memikul air dari bawah sampai ke atas gunung. Tentu diam-diam kau membencinya bukan?”

Wan Fei-yang tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Namun dia juga tahu, menghadapi manusia seperti Gi-song dan Cang-song berbicara pun tidak ada gunanya. Akhirnya dia hanya dapat menarik napas panjang.

“Taruh kata kau membenci Ci-siong-suheng mungkin kami masih dapat mengerti. Tapi apa kesalahan Yan-suheng dan Wan-ji kepadamu sehingga kau melenyapkan mereka juga? Manusia seperti engkau ini benar-benar binatang!” bentak Gi-song selanjutnya dengan nada parau. Tampaknya dia benar-benar marah.

Kali ini giliran Wan Fei-yang yang bagaikan tersambar petir. Matanya membelalak. “Yan-supek dan Wan-ji juga sudah mati?” tanyanya kurang percaya dengan pendengarannya sendiri. “Bagaimana cara kematian mereka?”

“Masih bersandiwara? Tampaknya kulit mukamu juga cukup tebal. Maju!” Pedang Gi-song diangkat tinggi. Tujuh murid Bu-tong segera menerjang. Barisan Jit-ling-kiam-ceng dikerahkan.

Cahaya pedang beterbangan dan berkilatan. Bayangan tubuh berkelebat membentuk ratusan bayangan. Wan Fei-yang menarik napas perlahan. Kakinya mengambil kuda-kuda kemudian tubuhnya melesat.

Tempo hari, demi menolong Tok-ku Hong, Ci-siong Tojin sudah pernah mengajarkan Wan Fei-yang cara memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng. Daya ingatannya sangat baik dan ilmu ginkangnya juga tinggi sekali. Setiap kali kakinya bergeser, selalu berpijak pada tempat yang tepat. Meskipun serangan ketujuh batang pedang dari tujuh orang tosu itu sangat gencar, tapi tidak sampai membahayakan dirinya. Bahkan menyentuhnya saja pun tidak.

Semakin diperhatikan, hati Gi-song dan Cang-song semakin kecut. Tanpa sadar jarak mereka semakin dekat merapat. Tubuh Wan Fei-yang berkelebat lagi beberapa kali. Akhirnya ia sudah menerobos keluar dari barisan Jit-sing-kiam-ceng.

“Tahan!” terdengar bentakan suara yang memecahkan keheningan malam.

Akhirnya Fu Giok-su memunculkan dirinya juga. Sebetulnya sejak tadi dia mengintip dari kegelapan. Seandainya barisan Jit-ling-kiam-ceng dapat menahan Wan Fei-yang atau membunuhnya apabila perlu, dia pasti tidak akan berteriak dan memunculkan diri pada saat ini. Sekarang dia berteriak menghentikan pertarungan itu. Hal ini disebahkan karena Jit-sing-kiam-ceng tidak bisa lagi menahan Wan Fei-yang. Dengan kata lain, teriakannya tadi sebenarnya sia-sia belaka.

“Kembali kau datang menimbulkan gara-gara!” teriaknya pura-pura marah besar. Matanya mendelik dan jari tangannya menuding Wan Fei-yang.

“Fu-toako, aku hanya datang bersembahyang di depan abu jenazah Ciangbunjin. Sama sekali tidak ada maksud lainnya.” Wan Fei-yang menarik napas panjang. Kemudian di melanjutkan lagi kata-katanya. “Benarkah Supek dan Wan-ji sudah mati?”

“Sudah tahu pura-pura tanya. Mereka pasti mati di tanganmu!” bentak Gi-song.

“Sejak meninggalkan Bu-tong-san, aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka,” kata Wan Fei-yang menjelaskan.

Gi-song tertawa dingin. “Ciangbunjin sendiri yang mengatakannya. Mungkinkah dia berbohong?” sindirnya tajam.

Mendengar kata-kata Gi-song si tua bangka, hati Fu Giok-su langsung menjerit. “Celaka!” Ternyata Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan mendesaknya.

“Fu-toako, sebetulnya bagaimana kejadiannya?”

Pikiran Fu Giok-su bekerja cepat. “Begini, beberapa waktu yang lalu, di dunia kangouw tersiar berita bahwa ada orang yang melihat kau berjalan bersama makhluk tua yang dulu terkurung dalam telaga dingin di luar kota dekat Kian-wei-piaukiok. Aku bersama Yan-supek beserta Wan-ji segera menyusul. Namun aku terpancing oleh musuh ke tempat lain. Tahu-tahu Yan-supek dan Wan-ji sudah dicelakai orang!”

“Lalu di mana kau menemukan mayat mereka?” tanya Wan Fei-yang kembali.

“Aku tidak berhasil menemukannya. Tapi dari robekan baju Yan-supek dan dompet kecil milik Wan-ji yang terdapat di permukaan sungai, aku yakin mereka tentu sudah mengalami hal yang tidak diinginkan.”

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

“Kalau tidak menemukan mayatnya, Yan-supek dan Wan-ji belum tentu sudah mati. Andai kata benar, urusan ini tidak ada hubungannya denganku. Apabila aku benar-benar telah membunuh mereka, tidak mungkin aku begini bodoh untuk naik lagi ke Bu-tong-san dan membiarkan diriku terperangkap.”

Kata-katanya memang beralasan. Tanpa sadar sebagian besar murid Bu-tong menganggukkan kepalanya dengan diam-diam. Bahkan Gi-song dan Cang-song pun memperlihatkan keraguan di wajahnya.

“Orang yang membunuh ataupun mencelakai mereka tentu merupakan orang yang sama dengan pembunuh Ciangbunjin. Aku harus menemukan pembunuh ini!” Dia membalikkan tubuhnya menghadap Fu Giok-su. “Fu-toako dapatkah kau mengatakan di mana Yan-supek dan Wan-ji dicelakai?”

–Bagus! Aku akan menggunakan kesempatan ini memancing kau masuk ke dalam Siau-yau-kok–pikir Fu Giok-su dalam hatinya.

Dia langsung mengambil keputusan. “Kau bisa datang ke dusun Saho-ceng, Kian-wei-piaukiok dan menemui Kim-to-congpiautau,” katanya.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. Ia langsung membalikkan tubuh dan melangahkan kakinya, tapi dia dipanggil kembali oleh Fu Giok-su.

“Aku memberimu waktu tiga bulan untuk membawa pembunuh itu ke Bu-tong-san!”

Wan Fei-yang memandangnya dengan terharu. “Terima kasih, Fu-toako.” Dia meneruskan langkah kakinya lagi.

Gi-song segera menggetarkan pedangnya dan mengadang. “Ingin kabur? Tidak begitu mudah!” bentaknya garang.

Wan Fei-yang tidak memedulikannya. Tubuhnya melesat dengan kecepatan tinggi. Bagai sebatang anak panah yang sedang meluncur. Para murid Bu-tong yang memandang kepergiannya, tidak ada satu pun yang tidak mengeluarkan seruan terkejut. Meskipun wajah Gi-song tidak menampilkan perasaan apa-apa, tapi melihat kehebatan Wan Fei-yang hatinya rada tergetar. Mana berani lagi dia mengejar.

*****

Setengah kentungan kemudian, seekor merpati pos terbang dari kamar Fu Giok-su. Tujuannya sudah pasti Siau-yau-kok. Meskipun ilmu silat Wan Fei-yang sangat tinggi, namun di dalam Siau-yau-kok ada Hujan, Angin, Kilat, Geledek ditambah lagi Thian-ti. Mereka merupakan pentolan-pentolan dunia kangouw yang telah malang melintang selama puluhan tahun.

Setelah menerima berita tersebut, mereka pasti akan mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Wan Fei-yang. Fu Giok-su tidak percaya kalau anak muda itu tidak terjebak dalam perangkapnya. Sedangkan Yang Cong-tian yang jauh lebih pengalaman saja masih kena terjebak oleh tipu daya mereka. Tampaknya keberangkatan Wan Fei-yang kali ini, lebih banyak celakanya daripada selamatnya.

*****

Pada saat ini Fu Hiong-kun sudah kembali ke Siau-yau-kok. Kecuali Siau-yau-kok, dia memang tidak mempunyai tujuan yang lain lagi. Berkelana di dunia kangouw terlalu lama juga membuatnya jenuh.

Ketika ditanyakan hasilnya pada waktu mengejar Tian-liong-siang-jin. Dia hanya mengatakan bahwa belakangan dia kepergok oleh Ci-bu-kim-hoan, lalu soat lian itu terpaksa diserahkannya kembali kepada orang itu.

Gi bu kim hoan sudah mati. Bahkan tidak ada saksi kecuali Wan Fei-yang. Dia tidak yakin bahwa orang-orang Siau-yau-kok akan menemukan mayat Ci-bu-kim-hoan Lu Ci. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek tidak begitu percaya akan keterangan Fu Hiong-kun. Tapi karena ada Thian-ti di sana, mereka tidak berani banyak bertanya.

Thian-ti sendiri juga kurang senang. Tetapi dia tidak menyalahkan Fu Hiong-kun. Di hanya memaki Lu Ci panjang lebar. Terhadap cucu perempuannya yang satu ini, dia benar-benar sayang sekali. Seluruh kemarahannya sudah pasti disalurkan pada diri Yan Cong-tian. Pecutnya disabetkan dengan sekuat tenaga. Habislah kulit tubuh Yan Cong-tian sampai pecah dan berlumuran darah.

Sampai saat ini, entah sudah berapa banyak penderitaan dan siksaan yang dialaminya. Tapi sedikit pun dia tidak mengeluarkan suara rintihan apalagi memohon ampun. Meskipun Thian-ti berharap sekali dia akan berteriak histeris dan menjerit ketakutan seperti apa yang terjadi dengannya waktu terkurung d telaga dingin, tapi Yan Cong-tian tetap menggigit bibirnya erat-erat sehingga berdarah. Orang itu tetap tidak bersuara. Akhirnya Thian-ti kewalahan dan kehabisan akal. Kalau sudah begitu, dia akan seperti anak kecil yang merengek dan mengentakkan kakinya dengan kesal.

Sebetulnya Fu Hiong-kun tidak sampai hati melihat penderitaan Yan Cong-tian, tapi dia tidak menemukan akal untuk menolongnya ke luar dari tempat itu. Ilmu silatnya sangat rendah. Mana mungkin dia sanggup menggotong seorang bertubuh tinggi besar seperti Yan Cong-tian dan melarikan diri siang dan malam. Pasti dalam waktu sekejap mereka akan menemukannya. Dan apabila terjadi demikian, Fu Hiong-kun tidak berani membayangkan akibat yang akan diterimanya bersama Yan Cong-tian. Jangan-jangan dia malah memercayai kematian orang tua itu. Dia hanya bisa mengendap-endap ketika tidak ada seorang pun dalam Siau-yau-kok dan mengantarkan makanan atau sedikit obat-obatan untuk dimakan dan diminum oleh Yan Cong-tian. Mungkin inilah salah satu faktor mengapa Yan Cong-tian masih hidup sampai saat ini.

Seluruh Siau-yau-kok kembali tenggelam dalam ketenangan. Sampai surat yang dikirim Fu Giok-su tiba, baru mereka mengadakan persiapan dan sibuk tidak keruan. Setelah selesai mengadakan pertemuan, seluruh anggota Siau-yau-kok sibuk dengan tugasnya masing-masing. Hanya Fu Hiong-kun yang merupakan kekecualian.

Hujan, Angin, Kilat maupun Geledek tidak ingin Fu Hiong-kun ikut campur dalam urusan ini. Sedangkan Thian-ti sendiri takut Fu Hiong-kun akan menemukan bahaya. Dia juga tidak merasa perlunya turut campur Fu Hiong-kun dalam urusan ini. Dengan kata lain, dia setuju dengan usul Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Tentang soat lian yang menurut Fu Hiong-kun telah diambil kembali oleh Lu Ci, Thian-ti sebetulnya curiga juga. Oleh karena itu, masalah meringkus dan menjebak Wan Fei-yang, dia tidak mengatakan apa-apa. Pokoknya seperti tidak ada masalah yang terjadi dalam Siau-yau-kok.

Tapi pada dasarnya Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang cerdas. Meski Hujan, Kilat, Angin, dan Geledek bahkan Thian-ti tidak pernah menunjukkan apa-apa di hadapannya, tapi dari gerak-gerik para anggota Siau-yau-kok yang keluar masuk dengan tergesa-gesa, beberapa kali lihat saja, Fu Hiong-kun sudah curiga.

Dia tidak berkata apa-apa. Kelakuannya setiap hari diam-diam saja. Namun di balik ketenangannya, dia memerhatikan gerak-gerik Thian-ti dan keempat bawahannya dengan saksama. Sampai suatu hari dia melihat kelima orang itu keluar bersama-sama. Hatinya semakin waspada.

Siau-yau-kok adalah tempat yang terpencil. Kecuali Yan Cong-tian, belum pernah ada orang yang berhasil menemukan tempat ini. Sedangkan Yan Cong-tian saja dijebak oleh Fu Giok-su. Ditilik dari keadaannya, Thian-ti dan anak buahnya pasti sedang menghadapi seorang musuh tangguh. Dan mereka tidak membawa perbekalan apa-apa. Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka pasti tidak seberapa jauh.

Siapakah orangnya yang begitu menggetarkan hati Thian-ti dan rombongan sehingga mereka harus menghadapinya bersama-sama? Fu Hiong-kun langsung teringat akan Wan Fei-yang.

Mungkinkah Wan Fei-yang telah membaca surat yang ditinggalkannya lalu pergi mencari Fu Giok-su? Lalu abangnya yang licik itu kembali menjalankan siasat menjebaknya ke Siau-yau-kok? Kecerdasan Fu Hiong-kun tidak perlu diragukan lagi. Meskipun dugaannya tidak seratus persen tepat, tapi sebagiannya memang hampir benar. Hanya saja untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

*****

Belum lagi Wan Fei-yang sampai ke Kian-wei-piaukiok, dia sudah bertemu dengan orang yang ingin dicarinya. Siapa lagi kalau bukan Suma Hong yang merupakan anggota Siau-yau-kok juga!

Suma Hong mengiringi kereta kawalan yang berjalan ke arah Wan Fei-yang. Panji bertuliskan Kian-wei-piaukiok yang sangat mencolok sudah berkibar-kibar dari kejauhan. Mana mungkin Wan Fei-yang tidak melihatnya.

Wan Fei-yang yang lugu itu sama sekali tidak curiga. Dia malah memuji dirinya yang sangat beruntung dan bernasib baik. Suma Hong pura-pura sibuk memerintahkan ini dan itu. Tapi tatkala mendengar bahwa Wan Fei-yang datang untuk menyelidiki kematian Yan Cong-tian serta Wan-ji, dia langsung meninggalkan kereta kawalannya begitu saja dan mengantarkan Wan Fei-yang ke tempat di mana Yan Cong-tian dan Wan-ji menginap. Tentu saja semuanya hanya permainan Suma Hong yang sudah diberi petunjuk oleh Thian-ti.

Penginapan itu tidak seberapa besar. Suma Hong mengajak Wan Fei-yang ke sebuah kamar yang terletak di bagian timur penginapan tersebut.

“Wan-tayhiap ….” sapa Suma Hong sambil mempersilakan Wan Fei-yang duduk. “Apakah Ciangbunjin sudah menerima kabar dari anak buah kami?”

“Kabar apa?” tanya Wan Fei-yang tidak mengerti.

“Anak buah kami sudah menemukan mayat Yan-supek dan Lun Wan-ji Suci,” kata Suma Hong dengan wajah sendu.

“Hah?” Wan Fei-yang benar-benar terkejut. Hilanglah harapannya bahwa ada kemungkinan Yan Cong-tian serta Lun Wan-ji masih hidup. “Di mana mayat mereka sekarang?”

“Kalau Wan-tayhiap tidak lelah, mari Siaute antarkan sekarang juga,” kata Suma Hong pura-pura tulus.

Tentu saja Wan Fei-yang tidak merasa lelah lagi. Dia ingin melihat mayat Yan Cong-tian dan Lun Wan-ji sekarang juga.

*****

Tempat itu letaknya tidak seberapa jauh. Merupakan sebuah gedung kosong yang tidak terurus.

“Kedua peti mati ini seharusnya diantarkan ke Bu-tong-san kemarin. Tapi karena anak buah yang bekerja di piaukiok kami rata-rata penakut, apalagi Bu-tong-san sendiri masih dalam suasana berkabung dan orang-orang Siau-yau-kok berkeliaran di mana-mana, terpaksa di letakkan di sini untuk sementara,” kata Suma Hong.

Tentu saja Wan Fei-yang percaya penuh apa yang Suma Hong katakan. Dia juga tidak bertanya mengapa mayat Yan-supeknya serta Lun Wan-ji sudah dimasukkan ke dalam peti sebelum dilihat oleh Ciangbunjin Bu-tong-pay. Tapi dia berpikir mungkin karena mayat mereka sudah terlalu rusak sehingga mengeluarkan bau busuk dan harus dimasukkan secepatnya. Oleh karena itu juga dia tidak berjaga-jaga terhadap kedua peti mati tersebut.

Tangannya meraba kayu peti mati. Terbayang olehnya wajah Yan Cong-tian yang berwibawa namun berhati welas asih. Sekarang mereka sudah dipisahkan oleh dua dunia yang berbeda. Biar bagaimanapun, perlakuan Yan Cong-tian selama dia berada di Bu-tong-san terhitung boleh juga. Apalagi Lun Wan-ji. Gadis itu yang paling sering membelanya.

Senyuman yang lembut, ucapannya yang selalu menyentuh. Satu per satu terbayang kembali di lubuk hatinya. Tanpa sadar Wan Fei-yang menarik napas panjang. Pada saat itulah, tutup peti tiba-tiba terbuka. Serangkum asap beracun memancar dari dalamnya.

Wan Fei-yang berseru terkejut. Dia bergulingan di atas tanah. Kebetulan sebatang golok meluncur keluar dari dalam peti mati, maka dia pun terhindar. Meskipun gerakannya cukup cepat, tapi dia sempat menghirup asap beracun dalam jumlah yang cukup banyak. Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang seketika. Dalam waktu yang bersamaan, peti mati kedua pun tersingkap. Hujan mencelat ke udara. Sepasang tangannya mengibas. Sekumpulan jarum beracun melesat keluar.

Dengan bertumpu tanah, Wan Fei-yang kembali menggelinding di atas tanah. Baru saja ia berusaha bangkit, dari kerumunan pohon dan gerombolan semak-semak meluncur sebatang pedang yang bercahaya bagai kilat. Angin pun menyusul melayang turun dari atap gedung itu. Sepasang lengan bajunya mengembang mengadang jalan pergi Wan Fei-yang.

Dengan nekat anak muda itu menerobos dalam kibasan lengan baju Angin, kemudian dia menggeser sedikit untuk menghindari serangan pedang Kilat, lalu melesat ke arah timur. Dari balik dinding taman yang tinggi berhamburan puluhan manusia berpakaian hitam. Mereka seperti puluhan batang anak panah meluncur mengejar Wan Fei-yang. Anak muda itu mulai kelabakan, dia membelok ke kanan. Tapi pada saat itu juga, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek sudah menyusul tiba dan langsung mengepungnya. Suara tawa terbahak-bahak berkumandang memecahkan keheningan yang mencekam. Thian-ti melayang turun dari atas sebatang pohon yang lebat.

Dengan diam-diam Wan Fei-yang mengumpulkan hawa murninya dengan maksud menekan asap beracun yang terhirup olehnya tadi.

“Jit-sing-kiam-ceng dari Bu-tong-pay tidak sanggup menahanmu. Bagaimana kalau kau coba barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek dari Siau-yau-kok?” Thian-ti berkata dengan nada mengejek.

“Rupanya kau!” Wan Fei-yang baru melihat jelas siapa yang ada di hadapannya.

“Mengingat kebaikanmu mengantarkan makanan untukku selama terkurung dalam telaga dingin, maka … Wan Fei-yang! Aku akan membiarkan mayatmu dalam keadaan utuh!”

“Apa yang telah kau lakukan terhadap Yan-supek dan Lun Wan-ji?”

“Yan Cong-tian telah mengurung aku dalam telaga dingin selama dua puluh tahun. Kalau aku membunuhnya begitu saja, bukankah kebencian dalam hati ini tidak dapat tersalurkan?”

Wan Fei-yang tertegun.

“Kalau begitu Yan-supek belum mati. Wan-ji dia ….”

“Lebih baik kau urus dulu dirimu sendiri. Sekarang kau sudah menghirup asap beracun. Lagi pula terkurung dalam barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek. Mungkin ada baiknya kau bunuh diri saja, daripada merasakan sakit dan penderitaan sebelum dibunuh!”

Wan Fei-yang tidak menyahut. Dia masih berusaha mendesak keluar racun dalam tubuhnya. Melihat keadaan anak-muda itu, Thian-ti segera mengibaskan tangannya. Barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek segera dikerahkan.

Golok Geledek menyerang dengan gencar. Pedang Kilat mempunyai jurus-jurus yang keji. Jarum Hujan penuh dengan racun jahat, sedangkan kibasan lengan baju Angin bagai sebilah pisau yang tajam. Wan Fei-yang sudah menghunus pedangnya. Dia menjalankan jurus Liong-gi-kiam-hoat dan menerobos dalam kelebatan barisan Hujan angin kilat dan geledek.

Asap beracun dalam dirinya mulai bekerja. Semakin bertarung, rasa pusing di kepalanya semakin terasa. Dia sadar kalau begini terus dia akan mati dalam barisan tersebut. Oleh karena itu, dia segera mencari kesempatan yang baik. Ketika lengan baju Angin berkibas, dia menerjang dengan nekat dan melesat keluar mengikuti dorongan angin kibasan lengan baju itu.

Ilmu meringankan tubuh Wan Fei-yang memang tinggi sekali. Gerakannya demikian cepat dan tidak terduga sama sekali. Bukan Angin saja yang terkesima, bahkan ketiga orang lainnya juga ikut terpana. Tidak satu pun dari mereka yang sempat mencegah.

Thian-ti yang menyaksikan dari samping langsung membentak lantang. Gerakan tubuhnya bagaikan kuda terbang menerjang tiba. Sepasang telapak tangannya mengancam kepala Wan Fei-yang. Anak muda itu menggerakkan pedangnya ke kanan dan menyusup ke antara sepasang telapak tangan Thian-ti. Tubuhnya membungkuk kemudian berkelebat. Sekejap mata dia sudah sampai di bawah dinding yang tinggi.

Manusia-manusia berpakaian hitam langsung menyerangnya dengan anak panah. Tidak satu pun yang sempat menyentuh tubuh Wan Fei-yang. Mereka meraung kalap. Masing-masing menghunus golok dan melayang turun. Pedang Wan Fei-yang digetarkan. Dua manusia berpakaian hitam rubuh seketika. Sekali lagi dia menusukkannya ke arah kiri. Seorang lagi tertancap dadanya. Telapak tangan kirinya ikut menghantam seorang lawan yang menerjang tiba.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: