Kumpulan Cerita Silat

24/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (21)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:21 am

Ilmu Ulat Sutera (21)
Oleh Huang Ying

“Ternyata ilmu silat Lu-tayjin memang tinggi sekali,” kata kedua utusan Nepal itu memuji tiada hentinya. Sejenak kemudian yang usianya lebih tua bertanya. “Entah orang dari golongan mana yang mempunyai nyali sebesar itu?”

“Dia adalah seorang kepala perampok yang menguasai wilayah Kang-pak, namanya Cong Siau-yan.”

“Sampai-sampai perampok dari Kang-pak juga ikut mengincar soat-lian?”

“Seharusnya dia tidak perlu datang!” Lu Ci tertawa dingin. “Ini bukan benda yang dapat diperolehnya dengan mudah. Bisa datang pasti tidak bisa kembali lagi!”

“Tidak mengukur kekuatan sendiri, patut menerima kematian!”

“Benar-benar patut mati!” Tiba-tiba tangan kiri Lu Ci bergerak. Sembilan rencengan gelang sebesar telapak tangan melesat keluar dan meluncur ke arah atas sebatang pohon.

Cahaya berkilauan. Terdengar dengusan dingin dari atas pohon. Seorang gadis berpakaian hijau melesat keluar dari rimbunan pohon. Gayanya aneh sekali. Ternyata dia meluncur turun dalam keadaan tidak bernyawa. Sembilan gelang sebesar telapak tangan itu menancap di tenggorokan gadis itu.

Semua orang menatap dengan mata terbelalak. Lu Ci malah tenang-tenang saja seakan tidak terjadi apa-apa. “Tiga tahun yang lalu Cong Siau-yan menikahi Ce Yin-cu. Mereka berdua suami istri selalu menghadapi musuh bersama-sama!” katanya dengan bibir menyunggingkan seulas senyuman.

Bukan saja dia mengetahui asal-usul orang-orang ini. Telinga dan matanya juga luar biasa waspada. Lebih-lebih cara turun tangannya. Dia selalu keji dan kekejaman hatinya tidak usah diragukan lagi. Menghadapi manusia seperti ini, tidak heran sampai-sampai Bu-ti-bun dan Hek-pai-siang-mo memilih jalan yang aman dan menguntungkan.

Rombongan itu meneruskan perjalanannya. Senja pada hari yang sama, mereka sudah memasuki provinsi Yang-cuan. Pejabat setempat Li Sou sejak dini sudah menerima perintah. Siang-malam dia menyuruh orang bekerja secepat mungkin membuat sebuah ruangan rahasia untuk menyimpan soat-lian yang langka.

Pada dasarnya dia bermaksud baik. Bukan saja dia akan mendapat penghargaan, malah dia dapat membuktikan bahwa pejabat wilayah ini juga merupakan orang yang berbakat serta cerdas. Sayangnya tukang yang dipanggil justru orang yang licik. Dia juga termasuk anggota sebuah organisasi yang selalu melakukan kejahatan. Kepalanya bernama Kuo Ming.

Tukang itu melaporkan kepada ketuanya tentang soat-lian yang akan disimpan dalam ruangan rahasia. Kuo Ming tentu saja tidak ingin kehilangan kesempatan baik. Dia menyuruh tukang itu membuat papan dasar yang dapat terbalik secara otomatis apabila diletakkan suatu benda di atasnya.

Begitu sampai, Lu Ci segera memasukkan kotak tersebut ke dalam ruang rahasia. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang tidak beres dan cepat-cepat membuka kembali ruang rahasia tersebut. Papan kayu sudah berbalik dan menjatuhkan kotak ke dalam ruang lain di bawahnya. Meskipun dia berhasil membunuh seorang anggota organisasi itu yang sedang membalikkan kembali papan otomatis tersebut, tapi kotak itu sendiri sudah dilarikan oleh anggotanya yang lain.

Lu Ci tidak mengejar. Dia sama sekali tidak bisa mengejar. Lantai di mana dia berdiri berguncang-guncang. Ruangan rahasia itu sudah tertutup kembali. Rupanya masih ada anggota lain dari organisasi itu yang memijit tombol rahasia di dalam sana. Tempat itu pasti dikerjakan dengan tergesa-gesa sehingga kurang sempurna. Pintu batu ruangan itu anjlok ke bawah dengan keras sampai-sampai tanah pun ikut bergerak hebat. Perlu waktu yang cukup lama untuk membetulkannya.

Setelah selesai, Lu Ci segera membalikkan mayat tadi dan memeriksa seluruh pakaiannya. Dari lencana yang dibawanya dalam saku, Lu Ci dapat menduga siapa orang itu. Perintah segera diturunkan. Para tentara berkuda disebar untuk mencari markas organisasi tersebut.

Dalam sekejap saja mereka sudah berhasil menemukannya. Dua ratus lebih anggota organisasi tersebut dibantai habis-habisan. Bahkan gedungnya sendiri dibakar sampai rata dengan tanah.

Sementara itu kaucu organisasi itu, Kuo Ming, sudah jauh menyeberangi sungai. Dia langsung buron setelah mendapat kotak yang dipersembahkan anggotanya. Setelah merasa aman, dia langsung membuka kotak itu dan “bum!” tubuh Kuo Ming hancur lebur terkena ledakan. Itulah sebabnya Lu Ci yang cerdas tidak mengejar orang yang membawa kotak itu. Karena isinya bukan soat-lian melainkan obat peledak.

Selama ini Kuo Ming tidak terlalu memandang tinggi Lu Ci. Sampai dia menyadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan yang mahabesar, tubuhnya sudah terledak menjadi keping-kepingan kecil.

Benda yang dimasukkan Lu Ci ke dalam kotak adalah obat peledak istimewa dari luar perbatasan. Apabila kotak itu dibuka, maka obat di dalamnya akan meledak sendiri. Sebelum kejadian ini, dia sama sekali tidak pernah mengatakan rencana ini kepada siapa pun. Orang ini bukan saja memiliki ilmu silat yang tinggi, tangan yang telengas, hati yang keji tapi juga banyak akal licik.

*****

Menjelang tengah hari keesokannya, kereta kuda baru melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan tidak ada gangguan. Dua keuntungan berikutnya mereka memasuki wilayah lembah Tiang-sing-sia.

Di kedua sisi terdapat gunung yang tinggi. Jalanan berada di tengah-tengah. Semakin jauh semakin sempit dan curam. Kalau ditilik dari keadaannya, cocok untuk melakukan penyerangan. Rombongan pertama dari pihak tentara kerajaan yang berjumlah dua belas orang menerjang ke depan.

Sepanjang perjalanan tidak terlihat jejak manusia. Kedua gunung yang terdapat di sisi kiri dan kanan juga tidak tampak ada yang mencurigakan. Enam pengendara kuda masuk lagi ke dalam lembah. Tidak lama kemudian mereka masuk kembali dan melaporkan bahwa kedua belas orang dari rombongan pertama sudah melintasi lembah dengan selamat.

Melihat semuanya lancar dan tidak ada gangguan, kereta kuda itu baru melanjutkan perjalanannya. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa dua belas orang yang pertama masuk ke dalam dan dikatakan selamat sekarang sudah menjadi mayat semua.

Yang membunuh mereka adalah dua belas pembunuh andalan Bu-ti-bun. Mereka menerjang keluar secara mendadak dari gua di belakang gunung. Dengan cara yang penuh perhitungan dan cepat mereka membunuh tentara kerajaan itu. Kedua belas orang itu bahkan tidak sempat menjerit sekali pun. Pada dasarnya ilmu silat mereka memang tidak seberapa tinggi. Yang mereka kuasai adalah perang di tempat terbuka. Apalagi yang mereka hadapi saat itu adalah pembunuh yang sudah banyak pengalaman, bagaimana mungkin nyawa mereka masih dapat dipertahankan?

Pada saat itu, rombongan sudah berada di tengah-tengah lembah yang sempit. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan batu-batu besar kecil menggelinding dari atas gunung. Sebagian besar rombongan itu menjadi kalang kabut. Batu-batu masih terus bergelindingan dari atas sehingga menutup jalan kedua sisi depan dan belakang. Dalam waktu yang bersamaan, ratusan anak buah Bu-ti-bun memunculkan diri mereka dari tempat persembunyian dan membidikkan anak panah secara serabutan.

Anak panah bagai hujan deras. Di tengah lembah itu tidak ada lagi tempat persembunyian. Dalam sekejap mata, sebagian besar pengawal mati tertembus hujan anak panah. Suara ringkikan kuda, jeritan manusia bagai irama yang tinggi-rendah. Melihat keadaan itu, para anggota Bu-ti-bun segera mengeluarkan senjata masing-masing dan menyerbu ke kaki gunung.

Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu mendahului di depan. Ruyung berkelebat, pecut menyambar. Siapa yang menghalangi di depan pasti dapat bagian. Gerakan Kongsun Hong dan Tok-ku Hong juga tidak lambat. Mereka mengajak empat orang anggota Bu-ti-bun dan menerjang ke arah kereta kuda di mana Ci-bu-kim-hoan Lu Ci duduk. Keempat orang itu adalah tancu dari berbagai cabang. Tangan mereka masing-masing membawa sebuah kotak besi dan langsung memencarkan diri mengepung kereta kuda tersebut.

Kuda-kuda yang menarik kereta itu sudah roboh mati tertancap anak panah. Keretanya sendiri masih tegak di sana. Tiba-tiba atap kereta pecah berhamburan. Ci-bu-kiam-hoan Lu Ci melesat keluar dari dalam kereta.

“Serang!” teriak Kongsun Hong segera memberi perintah.

Keempat orang tancu itu langsung menekan tombol di kotak besi. Penutup kotak segera terbuka dan beratus-ratus jarum beracun yang berwarna kebiru-biruan meluncur keluar dalam waktu yang bersamaan. Tubuh Lu Ci bagai terkurung dalam sinar biru tersebut. Belum lagi rasa terkejutnya sirna, tubuhnya sudah melorot turun dan jatuh di atas tanah dengan ratusan batang jarum beracun memenuhi seluruh tubuhnya. Dia menjerit histeris. Tubuhnya masih sempat bergulingan di atas berbatuan. Akhirnya berhenti. Seluruh tubuhnya sudah membengkak dan berubah warna menjadi keungu-unguan.

Melihat keadaan itu, Kongsun Hong tertawa dingin. “Lihat, apakah kau yang lebih hebat atau Jarum Pembetot Sukma dari Tujuh Bocah Ajaib lebih hebat?” katanya sinis.

Tujuh Bocah Ajaib berasal dari pedalaman Wi-san. Seumur hidup mereka dihabiskan untuk meneliti berbagai jenis senjata rahasia beracun. Menurut kabar yang tersebar, untuk membuat tujuh kotak besi berisi jarum beracun ini mereka telah menghabiskan waktu selama sepuluh tahun. Dalam waktu semalaman saja rambut mereka langsung berubah putih semua karena terlalu memeras otak. Akhirnya mereka berhasil. Mereka hanya menggunakan satu kotak untuk menghadapi musuh bebuyutan mereka. Tapi karena musuh terlalu lihai, mereka sendiri juga terluka parah. Sekembalinya ke tempat persembunyian mereka itu, satu per satu dari mereka mati tanpa tertolong. Banyak tokoh hitam maupun putih kangouw yang berusaha mencari keenam kotak besi berisi paku beracun itu. Namun mereka tidak berhasil menemukannya. Malah lama-kelamaan cerita tentang kotak besi berisi jarum beracun itu hanya tinggal legenda. Siapa pun tidak menyangka bahwa senjata rahasia yang mematikan itu ternyata jatuh ke tangan Tok-ku Bu-ti.

Jarum beracun itu meluncur keluar apabila tombol otomatis di luar kotak ditekan. Jumlah per kotak empat puluh sembilan batang. Sedangkan saat itu yang digunakan seluruhnya, empat kotak. Jarum-jarum itu keluar dalam waktu yang bersamaan, walaupun ilmu silat Ci-bu-kim-hoan lebih tinggi lagi juga tidak sanggup menghindarkan diri. Itulah sebabnya dikatakan bahwa dia terlalu membanggakan kepandaiannya sendiri dan selalu tidak memandang sebelah mata pun kepada orang lain.

Sementara itu, Cian-bin-hud menghantamkan ruyungnya menghancurkan atap kereta kuda yang satunya lagi. Salah satu dari utusan raja Nepal itu menyurutkan dirinya ke sudut kereta dengan tangan memeluk kotak erat-erat. Wajahnya pucat pasi. Pecut Kiu-bwe-hu segera menyambar membelit kotak itu. Dengan sekali entak, kotak tersebut pun langsung tertarik ke tengah udara.

Utusan raja Nepal tersebut panik sekali. Tangan dan kakinya membuat gerakan-gerakan kalang kabut. Mulutnya terkunci dan bibirnya gemetar. Sepatah kata pun tidak bisa diucapkan. Sementara itu ruyung Cian-bin-hud sudah sampai di depan mata dan menghancurkan batok kepalanya dengan sekali gerakan.

Pecut Kiu-bwe-hu ditarik dan kotak itu pun langsung melayang ke arahnya. Belum sempat Kiu-bwe-hu mengulurkan tangan menyambutnya, bayangan putih melintas cepat dan kotak itu sudah hilang entah ke mana.

“Siapa?” teriak Kiu-bwe-hu sambil membalikkan tubuhnya secara otomatis. Dia segera melihat dua orang manusia yang satu hitam dan yang lainnya putih.

Hek-pai-siang-mo! Kotak yang indah dan berisi soat-lian ada dalam genggaman Pek-mo-cian. Wajah kedua orang itu berseri-seri. Cian-bin-hud, Kongsun Hong, dan Tok-ku Hong segera menghambur menghampiri. Mereka mengurung Hek-pai-siang-mo dari segala penjuru. Tangan Tok-ku Hong langsung menuding ke depan.

“Siapa kau?”

“Hek-pai-siang-mo,” sahut Kiu-bwe-hu sambil mundur satu langkah.

Tok-ku Hong tertawa dingin.

“Tidak peduli Hek-pai-siang-mo atau Pai-hek-siang-mo. Pokoknya kalau hari ini tidak menyerahkan kembali Ping-san Soat-lian, jangan harap tinggalkan tempat ini!”

Cian-bin-hud yang melihat jumlah mereka jauh lebih banyak, menjadi besar nyalinya. “Tidak salah!” bentaknya lantang.

Sementara itu, para anggota Bu-ti-bun yang lain langsung berhamburan menghampiri. Pada saat itu, tidak ada satu pun pengawal utusan raja Nepal yang masih bernyawa. Sinar mata Hek-mo-cian mengedar sekilas.

“Apakah orang-orang Bu-ti-bun hanya bisa mengeroyok mengandalkan jumlah banyak?”

“Jangan banyak bicara!” teriak Kongsun Hong sambil menggetarkan sepasang Jit-goat-lunnya. Dia berniat menerjang ke depan. Sedangkan para anggota Bu-ti-bun lainnya juga sudah bersiap-siap.

“Tahan!” sebuah suara yang memekakkan telinga berkumandang dari atas. Sesosok bayangan berkelebat. Tok-ku Bu-ti melayang turun bagai seekor burung rajawali. Tongkat kepala naganya mengentak di tanah. Dia tersenyum ke arah Hek-pai-siang-mo.

“Kalian berdua sudah menggetarkan dunia kangouw sekian lama. Dengan cara begini menghadapi angkatan yang lebih muda, juga bukan sesuatu hal yang patut dibanggakan!” katanya tenang.

Pek-mo-cian mendongakkan kepalanya. “Oh … ternyata Tok-ku Buncu juga sudah datang.”

“Kedatangan Siaute terhitung cukup tepat.” Tok-ku Bu-ti mengentakkan tongkat kepala naganya sekali lagi ke atas tanah. “Kalau Siaute meminta kalian berdua menyerahkan kotak tersebut begitu saja, aku yakin kalian pasti tidak bersedia.”

“Kami justru ingin meminta pelajaran dari ilmu silat Tok-ku Buncu yang konon tinggi sekali,” kata Pek-mo-cian dengan nada dingin dan angkuh.

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. “Menurut kabar, kalian selalu menghadapi semua musuh dengan menggabungkan diri!”

“Ini memang kenyataan. Boleh dibilang Tok-ku Buncu menghadapi dua lawan sekaligus!”

“Bagaimana kalau kalian berdua kalah di tanganku?”

“Tentu saja soat-lian harus diserahkan kepada Buncu, kalau tidak ….”

“Kalau aku yang kalah, tentu soat-lian menjadi milik kalian dan aku juga akan mengantar sampai perbatasan.”

“Tanpa memberi kepercayaan, diri sendiri tidak akan dihargai. Ucapan Tok-ku Bu-ti bagai uang emas. Kita tetapkan demikian saja!” Pek-mo-cian meletakkan kotak berisi soat-lian di atas tanah. Tubuhnya berkelebat menerjang ke depan.

Gerakan tubuh Hek-mo-cian tidak kalah cepat dengan Pek-mo-cian. Tapi gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti lebih cepat lagi. Belum lagi kedua orang itu berdiri mantap. Tok-ku Bu-ti sudah tegak di hadapan mereka.

“Ilmu ginkang Tok-ku Buncu ternyata baik sekali!” Hek-mo-cian memuji setulusnya.

“Entah bagaimana dengan permainan tongkat kepala naganya?” tanya Pek-mo-cian. Ucapannya baru selesai, tangan kedua iblis itu sudah menggenggam sebatang golok yang tipis dan melengkung. Golok tersebut memantulkan cahaya berkilauan dan menyerang Tok-ku Bu-ti dari dua arah. Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah digerakkan. Dia menyambut tujuh puluh dua serangan kedua iblis itu.

Dalam sekejap mata kedua pihak telah bertarung dengan seru. Para hadirin yang menyaksikan jalannya pertarungan lebih tegang lagi. Ilmu mereka rata-rata jauh lebih rendah dari Cian-bin-hud, Kiu-bwe-hu, Kongsun Hong bahkan Tok-ku Hong. Mereka hanya melihat cahaya-cahaya saling berkelebat dan suara benturan senjata. Mana yang menang dan mana yang kalah sama sekali tidak dapat mereka duga.

Tiba-tiba gerakan Tok-ku Bu-ti menjadi lambat. Bayangan tubuhnya mulai terlihat, kemudian terdengar dia tertawa terbahak-bahak. Tongkat kepala naganya berkelebat mengunci sepasang golok Hek-pai-siang-mo. Sekali sentak kedua batang golok segera terlepas dari tangan. Namun gerakan kedua orang itu memang cukup cepat. Golok terlepas, sepasang telapak tangan masing-masing dikembangkan dan meluncur menghantam ke arah Tok-ku Bu-ti. Sepasang telapak tangan Hek-pai-siang-mo sangat aneh. Makin mendekat makin pucat. Tok-ku Bu-ti sadar mereka sudah mengeluarkan jurus andalannya. Tongkat kepala naganya segera dilempar ke samping dan sepasang telapak tangannya juga direntangkan ke depan. Telapak tangan Tok-ku Bu-ti lain lagi. Semakin lama semakin merah. Seperti api yang membara. Itulah Mit-kip-sin-kang tingkat kesembilan.

Tubuh mereka saling bergerak suara deruan angin dari ketiga pasang telapak itu membuat hati para hadirin semakin tegang. Debu beterbangan. Sepasang telapak kaki Tok-ku Bu-ti ambles ke dalam tanah. Sambil meraung keras Tok-ku Bu-ti menghantamkan telapak tangannya ke depan. Hek-pai-siang-mo terkejut sekali. Hanya deruan angin dari telapak tangan lawan saja sudah sanggup membuat tubuh mereka terpental sejauh beberapa depa. Untung saja gerakan mereka cukup gesit. Belum sampai membentur gunung, keduanya berjungkir balik dua kali lalu melayang turun di tanah dengan wajah pucat pasi. Untung saja telapak tangan Tok-ku Bu-ti bukan dihantamkan ke tubuh mereka. Kalau tidak, mereka pasti sudah cacat seperti Wan Fei-yang.

Para anggota Bu-ti-bun segera bersorak riang. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong menghampiri dari arah yang berlawanan. Kongsun Hong memungut tongkat kepala naga dan menyodorkannya kepada suhunya. Sedangkan Tok-ku Hong cepat-cepat mengambil kotak berisi soat-lian dan dipersembahkan juga kepada ayahnya.

Tok-ku Bu-ti tersenyum lebar. Tangan kanannya menerima kotak tersebut. Tangan kiri menerima tongkat kepala naga dari Kongsun Hong. Tiba-tiba wajahnya berubah kelam. Dia tidak membuka kotak itu.

“Untuk kalian saja!” katanya sambil melemparkan kotak tersebut ke arah Hek-pai-siang-mo.

Pada saat itu, dengan hati penasaran Hek-pai-siang-mo sudah berniat meninggalkan tempat itu. Mendengar teriakan Tok-ku Bu-ti keduanya terpana. Pek-mo-cian segera mengulurkan tangan menyambut kotak yang dilemparkan Tok-ku Bu-ti. Dia langsung membukanya.

Di dalam kotak berisi dua buah gelang emas. Yang satu kecil seukuran dengan pergelangan tangan bayi, sedangkan yang besar seukuran dengan telapak tangan.

Tok-ku Bu-ti mengulurkan tangannya ke hadapan Tok-ku Hong. “Kemarikan golokmu,” katanya.

Meskipun merasa heran tapi Tok-ku Hong tetap menyodorkan goloknya. Mata setiap orang terpusat pada diri Tok-ku Bu-ti. Dengan langkah perlahan, Tok-ku Bu-ti menghampiri mayat Lu Ci. Kulit tubuh orang itu berwarna keungu-unguan sedangkan tubuh dan wajahnya membengkak. Yang mengherankan justru wajah itu tidak berubah warna. Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. Dia mengayunkan golok di tangannya ke arah wajah mayat itu. Tidak terlihat darah mengalir. Rupanya di balik wajah itu masih ada wajah lainnya. Wajah yang terlihat belakangan sudah berubah keungu-unguan, tapi orang-orang yang ada di sana segera mengenali sebagai wajah salah satu dari keempat pengawal Lu Ci.

Mata setiap orang yang hadir terbelalak. Tidak ada satu pun yang tidak terkejut. Tok-ku Bu-ti mengembalikan golok kepada Tok-ku Hong. Kembali dia tertawa dingin.

“Kotak itu palsu, orangnya juga pasti palsu. Yang asli pasti sudah mengambil jalan lain dan sekarang tentu sudah jauh.” Mata Tok-ku Bu-ti beralih kepada Hek-pai-siang-mo. “Kalian berdua merupakan orang yang sudah berpengalaman di dunia kangouw. Soat-lian tumbuh di dalam air sungai yang sudah membeku di sekitar gunung es. Begitu kotak itu tersentuh oleh tangan, rasa dingin tidak terasa sama sekali. Hal ini sudah patut dicurigai. Kalian malah mempertaruhkan nyawa bertarung denganku. Apalagi kejadian ini sampai tersebar di luaran, tentu kita akan ditertawakan dan diejek sampai gigi mereka rontok.”

Wajah tua Hek-pai-siang-mo merah padam. Mereka berdua mendengus sekali, kemudian membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Baru seberapa langkah, Pek-mo-cian melempar kotak yang dipegangnya ke atas tanah. Para anggota Bu-ti-bun berniat mengejar, tapi mereka dicegah oleh Tok-ku Bu-ti.

“Sudahlah ….” Sinar matanya memerhatikan sepasang gelang yang terjatuh dari dalam kotak dan masih berputaran di atas tanah. Sekali lagi dia tertawa dingin. “Bagus! Lu Ci ternyata tidak mengecewakan aku!”

*****

Pada saat itu, Ci-bu-kiam-hoan Lu Ci dan kedua pengawalnya yang mengiringi dua orang utusan raja Nepal berjalan di tengah pegunungan. Salah seorang utusan raja Nepal itu tidak dapat menahan diri menarik napas panjang dan memuji, “Selain cerdas, Lu-tayjin juga gagah berani. Benar-benar tidak salah kalau dikatakan jago nomor satu dalam istana.”

“Kalau para penjahat itu sudah berhasil mengetahui apa yang telah terjadi, aku yakin mereka pun merasa kagum,” tukas utusan yang satunya.

Lu Ci tertawa datar.

“Apa pun yang mereka katakan, kita toh tidak dapat mendengar lagi.”

“Bukankah kita sudah berjanji dengan para pengawal itu untuk bertemu di depan sana?”

“Janjinya sih memang begitu, tapi kalau masih ada yang hidup. Orang yang menyerang kita bukan orang yang tidak punya nama. Ilmu mereka rata-rata tinggi sekali. Namun biar bagaimana mereka tidak berani secara terang-terangan melawan tentara kerajaan. Apalagi pihak mereka mudah dikenali. Coba kau bayangkan, mungkin tidak mereka membiarkan satu pun dari pengawal itu meloloskan diri dan melaporkan siapa adanya mereka itu?”

Wajah kedua orang utusan raja Nepal itu langsung pucat seketika. Tiba-tiba enam ekor kuda beserta pengendaranya melesat keluar dari dalam hutan yang rimbun. Sekali lagi kedua utusan raja Nepal itu terkejut. Lu Ci sama sekali tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia berdiri tersenyum-senyum. “Mereka adalah orang yang telah mengadakan perjanjian dengan kita untuk datang menyambut.”

Keenam ekor kuda dengan cepat berlari semakin dekat. Yang pertama membuka jalan adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahunan dan berpakaian merah mencolok. Di belakangnya mengikuti dua orang laki-laki setengah baya mengenakan pakaian berwarna kuning. Paling akhir merupakan enam orang pengawal yang berpakaian sama dengan pengawal Lu Ci.

“Kepala komandan departemen kerahasiaan negara, Tian-liong-siang-jin. Wakil kedua dan ketiga komandan pasukan perang, Jit Sang serta Tai Cu-pei,” kata Lu Ci memperkenalkan laki-laki berbaju merah dan dua laki-laki berbaju kuning, kemudian dia menoleh ke arah mereka, “Bagus! Kedatangan kalian memang tepat saatnya!”

*****

Lu Ci berkata bagus, di atas gunung terdapat beberapa orang yang mengintai, mereka malah mengeluh celaka! Orang itu adalah Angin. Dengan kepesatan seperti angin pula dia kembali dari tempat pengintaiannya. Thian-ti, Fu Hiong-kun, Kilat, Geledek, dan Hujan sudah menyusul dari depan. Melihat tampang Angin, Thian-ti segera dapat menduga beberapa bagian.

“Apakah sudah ada orang yang menyambut kedatangan mereka?” Thian-ti langsung mengajukan pertanyaan ini.

Angin menganggukkan kepalanya. Thian-ti tertawa lebar. “Manusia bernama Lu Ci ini benar-benar tidak dapat dipandang remeh. Sepanjang perjalanan dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,” kata ketua Siau-yau-kok itu selanjutnya.

“Toaya menduga bahwa Lu Ci akan mengambil jalan yang satu ini. Tentu sejak semula juga sudah terpikir bahwa ada orang yang akan datang menyambut.”

“Memang sudah ada dalam dugaanku,” Thian-ti tetap tersenyum.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kejar terus …!” Thian-ti mengelus-elus jenggotnya. “Pasti akan datang kesempatan yang baik.”

*****

Pengejaran kali ini malah memburu sampai ke tempat tinggal Lu Wang. Lu Ci tidak berniat untuk menginap. Tapi salah satu utusan raja Nepal tidak sanggup mempertahankan diri lagi dan jatuh sakit.

Kebetulan di sekitar daerah itu, orang yang dapat dipercayai oleh Lu Ci hanya Lu Wang seorang. Mendengar bahwa orang yang sakit itu adalah utusan raja Nepal, Lu Wang tidak menunda waktu lagi. Bersama-sama Wan Fei-yang, dia sibuk mencari tabib.

Di sekitar daerah itu, yang paling terkenal adalah tabib Ong dari Hue-cun-tong. Bagaimanapun Lu Wang tidak menyangka bahwa Hue-cun-tong merupakan markas rahasia pihak Siau-yau-kok. Manusia Tanpa Wajah dan Suma Hong yang bersembunyi di luar gedung keluarga Lu melihat Wan Fei-yang berjalan keluar. Mereka terkejut sekali.

Manusia Tanpa Wajah menyuruh Suma Hong segera kembali ke markas untuk melaporkan perkembangan ini, dia berdiri mengikuti Wan Fei-yang. Sampai di depan Hue-cun-tong, dia melihat Wan Fei-yang melangkah masuk, dia semakin terkejut.

*****

Pada saat itu Suma Hong sudah menyelinap dari pintu belakang tempat pertemuan mereka. Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang menunggu berita sudah berkumpul di taman belakang. Mendengar keterangan Suma Hong, tidak ada satu pun yang tidak merasa heran. Belum lagi mereka mengambil tindakan apa-apa, Manusia Tanpa Wajah sudah meloncat turun dari tembok tinggi. Dia mengatakan bahwa Wan Fei-yang masuk ke dalam Hue-cun-tong.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek terkejut setengah mati. Geledek yang berangasan sudah berniat mencari anak muda itu dan membunuhnya di tempat. Tapi Thian-ti malah mencegah dan meminta mereka tidak usah khawatir.

Dia yakin kedatangan Wan Fei-yang ke Hue-cun-tong bukan karena mengetahui rahasia tempat itu yang merupakan markas Siau-yau-kok. Dia juga lupa dengan berita yang disampaikan salah seorang anak buah kepercayaannya bahwa ilmu silat Wan Fei-yang sudah punah karena terjungkal di tangan Tok-ku Bu-ti. Tapi dia juga tidak menolak ketika yang lain menyatakan ingin keluar melihat-lihat keadaan.

Pada saat itu Wan Fei-yang sudah bersiap-siap untuk pergi. Tabib Ong sedang tidak ada di tempat. Dalam waktu satu atau dua kentungan juga belum tentu bisa kembali, kata seorang pegawai tabib tersebut. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meninggalkan pesan saja. Dia berkata pada pegawai itu agar meminta tabib Ong segera datang ke rumah Lu-tayjin sekembalinya nanti.

Dia membalikkan tubuh untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan Fu Hiong-kun yang kebetulan sedang melangkah masuk. Dua pasang mata saling pandang. Mereka sama-sama terpaut.

*****

“Kau?” Fu Hiong-kun yang pertama-tama membuka suara. Tidak tahunya jawaban Wan Fei-yang juga merupakan kata-kata yang sama.

Tentu saja mereka sama sekali tidak menduga akan bertemu lagi di tempat seperti ini. “Mengapa kau bisa ada di sini?” tanya Fu Hiong-kun keheranan.

“Aku datang untuk mengundang tabib Ong memeriksa penyakit seorang tamu di rumah Lu-loya. Kau?”

Fu Hiong-kun merenung sejenak, “Aku memang sering belajar pengobatan dengan tabib Ong,” sahutnya kemudian.

Hal ini memang benar, hanya saja bukan sekarang dia belajar dengan tabib Ong tapi beberapa tahun yang lalu.

Fu Hiong-kun memerhatikan Wan Fei-yang dengan saksama. “Rona wajahmu terlihat pucat. Apakah kau sedang sakit?” tanya gadis itu selanjutnya.

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

“Tadi kau mengatakan ingin mengundang tabib Ong ke rumah keluarga Lu. Apakah itu nama keluargamu? Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau tidak mempunyai rumah?” tanya Fu Hiong-kun penasaran.

“Sekarang aku menumpang di rumah seorang cianpwe.”

“Tabib Ong kebetulan sedang memenuhi panggilan pasiennya. Mungkin aku bisa membantu?”

Wan Fei-yang langsung tertawa lebar. “Kau masih merantau ke mana-mana untuk mempelajari ilmu pengobatan?”

Fu Hiong-kun mengangguk kecil.

“Kalau begitu, ilmu pengobatanmu pasti sudah dalam sekali,” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

Fu Hiong-kun tersipu-sipu. “Bagaimana dengan silatmu? Banyak kemajuan?” tanyanya.

Wan Fei-yang menarik napas panjang. “Ilmu silatku sudah punah,” katanya lirih.

“Punah?” Fu Hiong-kun terkejut sekali. “Bagaimana bisa begitu?”

“Kalau mau diceritakan bisa sepanjang malam. Singkat kata aku dikalahkan oleh musuh. Dia menghantamku dengan telapak tangannya sehingga urat penting di tubuhku tergetar dan ada beberapa yang putus. Meski tidak sampai mati, tapi aku sudah menjadi orang cacat seumur hidup,” kata Wan Fei-yang sambil tersenyum getir.

“Orang itu pasti jahat sekali,” Fu Hiong-kun menarik napas panjang. “Sekarang ini, hendak jadi orang baik memang susah sekali. Lebih banyak ruginya daripada untungnya.”

Dia merandek sejenak. Matanya mengerling. “Mari kita pergi ke kedai arak itu dan berbincang-bincang,” ajaknya.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. Pertemuan mereka yang tidak terduga-duga baginya bukan suatu hal yang tidak menggembirakan. Kilat, Angin, dan Geledek justru yang merasa tidak senang. Mata Thian-ti mengantar kepergian Fu Hiong-kun dan Wan Fei-yang yang meninggalkan Hue-cun-tong. Wajahnya juga tidak sedap dipandang.

Hanya Hujan seorang yang tertawa terkekeh-kekeh. “Ternyata budak Fu Hiong-kun itu saling kenal dengan Wan Fei-yang. Kita bisa menggunakan hubungan ini menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu dan mencari kesempatan untuk bertindak.”

Thian-ti mempertimbangkan sejenak. Akhirnya dia setuju juga.

*****

Pada saat itu para pengunjung di kedai arak tidak begitu banyak. Kesempatan yang baik untuk bercakap-cakap. Tapi Fu Hiong-kun dan Wan Fei-yang justru gagap-gugup karena tidak tahu bagaimana harus membuka bahan pembicaraan.

Perkenalan antara mereka tempo dulu hanya kebetulan. Kali ini mereka bertemu lagi Wan Fei-yang malah berubah seperti orang yang berbeda. Perbedaan seseorang yang demikian drastis memang membuat keduanya bingung untuk memulai percakapan.

Wan Fei-yang tidak banyak menceritakan tentang luka yang dideritanya. Dia bahkan tidak mengatakan siapa yang melukainya sampai sedemikian rupa. Hari-hari yang dilaluinya setelah ilmu silatnya punah sudah direnunginya baik-baik. Di dunia ini entah berapa banyak manusia yang tidak bisa ilmu silat, toh mereka dapat melewati hari dengan baik. Lalu, mengapa dia tidak?

Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi Fu Hiong-kun dapat melihat penderitaan hatinya. Dia benar-benar berharap bahwa dia bisa mengembalikan ilmu silat Wan Fei-yang yang punah dengan ilmu pengobatannya. Terhadap maksud baik gadis itu, Wan Fei-yang merasa terharu sekali. Tapi dia menolak secara halus. Karena dia tahu penyakit yang dideritanya hampir tidak ada obatnya di dunia ini. Setelah berbincang-bincang panjang lebar, Fu Hiong-kun baru ingat bahwa sampai saat ini dia masih belum tahu nama Wang Fei-yang.

“Sebetulnya aku she Gi ….” sahut Wan Fei-yang dengan pandangan berterima kasih atas keramahan gadis itu terhadapnya.

“Kalau begitu, kelak aku akan memanggilmu Gi-toako saja.”

*****

Setelah menyelidiki beberapa saat, Thian-ti dan bawahannya mendapat kenyataan bahwa Fu Hiong-kun sama sekali tidak tahu asal usul Wan Fei-yang. Hal ini benar-benar di luar dugaan mereka. Dan Tentu saja mereka tidak akan memberitahukan apa-apa.

Hujan adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalaman. Dapat dipastikan bahwa dia paham sekali hati seorang wanita. Setelah berputar balik beberapa kali, akhirnya dia berhasil membujuk Fu Hiong-kun menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu dan menyelidiki di mana adanya bunga soat-lian dari Ping-san itu. Dia berjanji apabila berhasil mendapatkan soat-lian tersebut, dia akan memohon kepada Thian-ti untuk membagi Fu Hiong-kun setengahnya agar dapat memulihkan ilmu silat Wan Fei-yang. Karena dia juga tahu bahwa itu hanya satu-satunya kemungkinan yang ada untuk menyembuhkan luka Wan Fei-yang. Mereka yang akan membantu melancarkan kembali urat nadi anak muda itu agar ilmu silatnya bisa pulih kembali walau tidak secara keseluruhan.

Fu Hiong-kun hanya bertekad menyembuhkan luka Wan Fei-yang dan memulihkan ilmu silatnya. Hal yang lainnya tidak dipikirkan terlalu mendalam. Sedangkan di pihak Thian-ti, tentunya mereka sudah mempunyai rencana tersendiri.

*****

Wan Fei-yang baru kembali ke gedung keluarga Lu. Fu Hiong-kun sampai tidak lama kemudian. Mendapat laporan dari para pelayan, Wan Fei-yang segera keluar menyambutnya. Lu Wang diberi tahu bahwa Fu Hiong-kun adalah ahli waris tabib Ong. Hatinya merasa sedikit penasaran. Pada zaman itu, perempuan yang mempelajari ilmu pengobatan memang masih segelintir.

Tapi dia tidak curiga apa-apa. Kelihatannya Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati. Lagi pula Wan Fei-yang mengatakan bahwa Fu Hiong-kun adalah kenalan lamanya.

Lu Ci dan Tai Cu-pei memang rada curiga. Tian-liong-siang-jin malah menatap gadis itu dengan wajah cengar-cengir. Kepala komandan yang satu ini memang terkenal hidung belang. Fu Hiong-kun sama sekali tidak menyadari, tapi Wan Fei-yang memerhatikan secara diam-diam.

Ternyata utusan raja Nepal itu hanya tidak cocok dengan hawa dan makanan setempat. Penyakit sepele seperti ini sama sekali tidak dianggap oleh Fu Hiong-kun. Dia langsung membuka resep untuk orang itu dan berpesan agar untuk sementara tidak boleh sembarang makan.

Lu Ci memerhatikan cara kerja Fu Hiong-kun dengan saksama. Akhirnya dia melihat bahwa ilmu pengobatan gadis itu cukup tinggi. Kecurigaannya mulai berkurang. Tian-liong-siang-jin langsung mengajukan permintaan untuk menginap selama beberapa malam di rumah Lu Wang. Alasannya agar tidak repot di perjalanan apabila utusan raja Nepal itu jatuh sakit lagi. Dia juga meminta Fu Hiong-kun menetap agar mempermudah pemeriksaannya terhadap sang pasien.

Meskipun orang-orang lainnya tidak tahu apa yang terkandung dalam isi hatinya, Wan Fei-yang agak merasa heran juga ketika Fu Hiong-kun menyatakan kesediaannya. Terpaksa dia memamerkan wajah gembira menyambut keputusan gadis itu.

Pada saat itu juga Lu Wang menyuruh Wan Fei-yang mengantarkan Fu Hiong-kun ke kamar tamu untuk beristirahat. Setelah sampai di halaman depan, Wan Fei-yang tidak dapat menahan rasa herannya lagi. “Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk menolak permintaan orang itu, kau kok malah menyetujuinya. Apakah kau tidak tahu bahwa laki-laki berpakaian merah itu mengandung niat yang tidak baik?” tanyanya penasaran.

“Jangan khawatir. Sejak kecil aku sudah berkelana di dalam dunia persilatan. Aku tahu bagaimana caranya menjaga diriku sendiri,” sahut Fu Hiong-kun seakan-akan tidak ada masalah yang harus diributkan.

Melihat gaya gadis itu yang penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri, Wan Fei-yang merasa apa boleh buat. Tapi hatinya masih terselip rasa khawatir. Dia berpesan berulang kali agar Fu Hiong-kun lebih waspada dan berhati-hati. Akhirnya Fu Hiong-kun terpaksa memberitahukan tujuannya menetap di rumah keluarga Lu ini. Dia juga mengatakan bahwa ada orang yang menunggunya di luar dan mereka akan segera bertindak bila terjadi apa-apa terhadapnya.

Wan Fei-yang tahu Fu Hiong-kun bersedia melakukan semua ini dengan tujuan tertentu. Apalagi kalau bukan menyembuhkan lukanya dengan soat-lian yang mujarab itu? Hatinya semakin terharu. Akhirnya dia sendiri menyetujui usul Fu Hiong-kun. Pada dasarnya dia memang tidak ingin kehilangan harapan begitu saja, apalagi masih banyak urusan yang harus diselesaikannya, terutama dendam ayah sekaligus suhunya.

“Setelah berhasil, ke mana kau akan membawa aku?” sebetulnya Wan Fei-yang ingin bertanya lebih jelas tentang orang-orang yang akan membantunya melancarkan kembali urat nadinya yang tergetar dan putus.

Tapi tampaknya Fu Hiong-kun tidak ingin bercerita banyak. “Pokoknya aku akan mengatur segalanya dengan baik. Sekarang lebih baik kau mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat ini. Besok pagi-pagi sekali kau tunggu aku dekat jembatan kecil di sebelah barat kota. Seandainya aku tidak keburu datang, aku pasti akan menyuruh orang lain menyambutmu.”

Kemudian dia melepaskan sepasang gelang yang di ujungnya tergantung sebuah keleningan. “Pada saat itu, apabila kau tidak melihat aku, kau harus menggoyangkan keleningan ini. Dengan demikian, pasti ada orang yang akan menghampiri dan menyambutmu.”

Wan Fei-yang menerima sepasang gelang tersebut. Sekali lagi dia berpesan. “Hati-hati terhadap Tian-liong-siang-jin.”

*****

Pada kentungan kedua, ternyata Tian-liong-siang-jin benar-benar datang. Bentuk tubuhnya terlihat rada gemuk dan kekar, tapi gerak-geriknya gesit sekali. Langkah kakinya tidak memperdengarkan suara sama sekali.

Pintu kamar itu hanya dirapatkan. Dengan mendorong perlahan saja, pintu tersebut sudah terbuka. Di dalam kamar masih ada penerangan. Dari balik kelambu, samar-samar terlihat Fu Hiong-kun tidur menghadapkan wajahnya ke arah tembok. Tampaknya dia telah tertidur pulas.

Tian-liong-siang-jin segera merapatkan sekaligus memalangnya. Kemudian dia berjalan ke arah tempat tidur, menyingkap kelambu dan tanpa sungkan duduk di atas ranjang.

“Gadisku yang cantik, Hudya sudah datang menemuimu dan akan mengajakmu bersenang-senang,” sambil berkata, tangan Tian-liong-siang-jin meraba bahu Fu Hiong-kun yang mulus. Dia membalikkan tubuh gadis itu perlahan.

Di luar dugaan, bukan saja Fu Hiong-kun tidak memberontak malah seakan membiarkan. Sejinak merpati dia menyusup ke bawah jenggot Tian-liong-siang-jin yang lebat. Hati laki-laki itu tambah senang. Bibirnya yang tebal segera mencium gadis itu.

Tepat pada saat itulah, dia merasa gadis yang ada di depannya bukan Fu Hiong-kun. Meskipun belum terlalu tua, tapi tetap saja sudah tidak pantas disebut anak gadis. Pada dasarnya usia Hujan memang sudah cukup tinggi, tapi tampangnya sama sekali belum tua. Dia malah seperti wanita berusia tiga puluhan yang sudah matang. Penampilannya selalu menawan dan memesona hati para laki-laki.

Dua pasang mata bertemu pandang. Tian-liong-siang-jin berseru terkejut. Baru sepatah kata “Kau ….” kesadarannya mulai hilang. Sinar mata Hujan seakan mengandung magnet yang tidak bisa dihindari. Juga seperti jurang yang dalam. Tian-liong-siang-jin sama sekali tidak berjaga-jaga. Kesadarannya mulai terhanyut dalam sinar mata itu. Dia juga merasakan sesuatu yang rada tidak beres. Tapi dalam waktu yang bersamaan, di pelupuk matanya terlihat bayangan puluhan gadis yang menari-nari dengan tubuh telanjang bulat. Mereka menggapaikan tangan memanggilnya. Pada dasarnya memang hidung belang. Sebagai seorang manusia yang sudah terbiasa menjadi budak nafsu, mana mungkin dia bisa menghindarkan diri dari jerat ini?

Untuk menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu, bukan hal yang sulit bagi Hujan. Setelah mendengarkan keterangan yang disampaikan Fu Hiong-kun, Hujan sudah mempunyai rencana tersendiri. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian Fu Hiong-kun. Lalu dia naik ke atas tempat tidur gadis itu dan menunggu kedatangan Tian-liong-siang-jin. Begitu laki-laki itu mulai lupa diri, dia langsung menyirapnya dengan ilmu wanita cantik membetot sukma.

Yang penting laki-laki itu akan masuk ke kamar tersebut. Dia sudah tahu Tian-liong-siang-jin paling lemah menghadapi wanita cantik. Dia yakin dia dapat memengaruhi laki-laki itu dengan ilmunya. Ternyata sekarang dia benar-benar berhasil.

*****

Sepanjang malam bercumbu mesra. Sampai pagi hari menjelang, Tian-liong-siang-jin sudah terpengaruh penuh oleh Hujan. Pikirannya hampir kosong. Yang diingatnya hanya Hujan.

Hujan mengeluarkan sebuah keleningan. Dia menggoyang-goyangkannya di depan mata Tian-liong-siang-jin. Biji mata laki-laki itu berputar mengikuti gerakan keleningan tersebut. Persis seperti sebuah boneka orang-orangan.

“Lihat aku, lihat keleningan ini ….” suara Hujan berulang-ulang seperti sedang menghafalkan ayat-ayat doa. “Jawab pertanyaanku …. Apakah kau bertugas mengawal soat-lian dari Ping-san?”

Tian-liong-siang-jin tidak bersuara, dia hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, aku memerintahkan engkau segera ambil soat-lian tersebut. Apabila ada yang menghalangi, ulurkan telapak tanganmu dan hantam sampai mati.”

Kembali Tian-liong-siang-jin menganggukkan kepalanya. Tampaknya dia memerhatikan sekali apa yang dikatakan oleh Hujan.

“Kemudian kau segera berangkat menuju jembatan kecil yang ada di sebelah barat kota. Dengar suara keleningan ini,” Hujan menggoyang-goyangkan keleningan di tangannya. “Berikan soat-lian tersebut kepada orang yang membawa keleningan seperti ini. Ingat baik-baik apa yang kukatakan!”

Wajah Tian-liong-siang-jin tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Kepalanya manggut-manggut terus.

*****

Ilmu pengobatan Fu Hiong-kun ternyata memang cukup hebat. Dia memberi obat yang sangat mujarab. Pada hari kedua saja penyakit utusan raja Nepal sudah sembuh sama sekali. Lu Ci senang sekali. Dia memerintahkan setiap orang untuk membereskan bekal masing-masing dan siap melanjutkan perjalanan.

Pada saat itu semua orang sudah berkumpul, kecuali Tian-liong-siang-jin.

“Mungkin hwesio itu terlalu banyak minum arak sehingga masih pulas dalam mimpi.” Justru karena tahu rekannya yang satu ini selain hidung belang juga gemar minum arak, maka Jit Sang baru mengeluarkan kata-kata seperti ini.

“Semestinya dia tahu kalau sekarang bukan waktunya untuk bermabuk-mabukan!” nada suara Lu Ci terdengar kurang senang. “Cepat panggil dia bangun!”

Baru saja ucapannya selesai, Tian-liong-siang-jin sudah masuk ke dalam ruangan dengan langkah terhuyung-huyung. Sepasang matanya kosong, mulutnya mengoceh sendiri. Tai Cu-pei yang melihat keadaan orang itu langsung menghampiri dan bertanya dengan penuh perhatian. “Siang-jin, bagaimana keadaanmu?

Tian-liong-siang-jin tidak memedulikannya. Tiba-tiba dia melesat ke depan dan mengambil kotak soat-lian yang terletak di atas meja kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

Lu Ci mengerutkan keningnya. Belum lagi dia membentak, Tai Cu-pei yang berdiri di sebelah sana sudah menghalangi di depannya. “Kotak ini ….”

Belum lagi ucapannya selesai, Tian-liong-siang-jin sudah menghantamnya dengan telapak tangan kanan. Tai Cu-pei tidak menyangka Tian-liong-siang-jin akan turun tangan terhadapnya, tubuhnya langsung terpental sejauh setengah depa.

Tian-liong-siang-jin justru terkenal karena ilmu telapak tangannya. Sekali hantam, dia bisa menghancurkan batu karang yang besar. Dalam keadaan seperti sekarang ini, memang dia tidak bisa mengerahkan tenaga sepenuhnya, tapi hantaman telapak tangannya itu memang tak dapat diterima oleh sembarangan orang.

Lu Ci yang melihat keadaan itu, langsung menyadari bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Tian-liong-siang-jin. Dia tidak ayal lagi. “Tahan dia!” perintahnya dengan suara lantang.

Para pengawal itu segera menghunus golok masing-masing. Tapi mereka tetap terlambat sedikit. Tian-liong-siang-jin sudah menghambur keluar.

“Kejar!” teriak Lu Ci sekali lagi. Tubuhnya meluncur bagai sebatang anak panah. Dia menerobos lewat jendela dan mengejar keluar.

Para pengawal berhamburan mengejar. Tai Cu-pei dan Jit Sang juga tidak ketinggalan. Tian-liong-siang-jin yang berhasil meloloskan diri dari gedung keluarga Lu, berlari terus ke depan sambil memeluk kotak soat-lian itu erat-erat. Ilmu meringankan tubuhnya tidak di bawah Ci-bu-kim-hoan Lu Ci. Ilmu silat mereka pun hampir berimbang. Kecuali Ci-bu-kim-hoan, orang lainnya terpaksa mengejar dengan napas tersengal-sengal.

Sambil berlari, Tian-liong-siang-jin tidak memilih-milih. Kadang-kadang dia melesat ke atas genting rumah orang dan menginjak-injak seenaknya. Otomatis genting-genting itu pada hancur berantakan. Apalagi kalau dia melayang turun kembali. Siapa pun yang ada di depannya diterjang sampai jatuh terpontang-panting. Lu Ci sendiri tentu saja tidak bisa melakukan tindakan seperti itu. Pada dasarnya Tian-liong-siang-jin sudah mirip orang yang tidak waras. Lu Ci harus menggeser sedikit demi sedikit di antara keramaian orang yang berlalu-lalang baru bisa meneruskan niatnya mengejar. Dengan demikian lama-kelamaan dia semakin ketinggalan.

Tidak seberapa jauh di depan sana ada sebuah hutan kecil. Tian-liong-siang-jin menghambur ke dalam hutan tersebut. Ci-bu-kim-hoan Lu Ci tertawa dingin. Sepuluh gelang emasnya telah tergenggam di tangan.

“Singg!” sebuah gelang berukuran kecil meluncur ke dalam hutan dan melukai punggung Tian-liong-siang-jin. Ternyata orang itu masih bisa merasakan kenyerian yang menggigit di belakang punggungnya. Secara otomatis dia membalikkan tubuhnya. Lu Ci mencelat secepat kilat dalam waktu yang bersamaan dan melayang turun di hadapan Tian-liong-siang-jin.

“Tian-liong! Siapa yang memerintahkan engkau melakukan hal ini? Jawab!” bentaknya marah.

Tian-liong-siang-jin tidak menyahut. Matanya tetap memandang kosong ke depan.

“Kembalikan kotak itu kepadaku. Mengingat hubungan kita yang cukup akrab, mungkin aku akan mengampuni selembar nyawamu!”

Tian-liong-siang-jin semakin erat memeluk kotak tersebut. Kakinya mundur satu langkah. Tubuh Lu Ci melesat ke depan dan mengulurkan tangannya namun serangannya sanggup dihindari oleh Lu Ci.

Tangan Lu Ci yang sebelah lagi langsung merebut kotak di tangan Tian-liong-siang-jin. Orang itu mana mau memberikan dengan begitu saja, dia memutar tubuhnya lalu menggeser ke samping. Tapi dia justru membiarkan punggungnya menghadap Lu Ci.

Lu Ci memanfaatkan kesempatan itu baik-baik. Dengan keras telapak tangannya menghantam belakang punggung Tian-liong-siang-jin. Orang itu hanya mendengus satu kali kemudian melesat menerjang ke depan. Lu Ci segera menutulkan kakinya melesat ke udara dan melayang di hadapan Tian-liong-siang-jin. Sekali lagi tangannya terulur untuk mencengkeram kotak tersebut.

Sepasang telapak tangan Tian-liong-siang-jin dikembangkan di udara. Rupanya dia sedang melempar kotak tersebut. Lu Ci sempat melihatnya. Dia kembali mengentakkan kakinya ke tanah dan melesat ke atas untuk merebut kotak tersebut. Sekilas cahaya berkilauan seperti kilat menyambar dari samping.

Pedang itu sepanjang enam cun. Tajamnya tidak terkira. Lu Ci yang sedang melayang di udara terpaksa melekukkan pinggangnya ke samping untuk menghindari serangan itu. Kotak berisi soat-lian pun luput diraihnya.

Kotak itu melayang kembali ke tangan Tian-liong-siang-jin. Dengan erat dipeluknya kotak tersebut dan dibawanya berlari kembali. Lu Ci tidak mengejar, bukan dia tidak mau. Tapi Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek sudah mulai menyerangnya. Pedang Kilat tidak berhasil menebasnya, golok Geledek sudah menyusul tiba. Jarum Hujan mengikuti ketat gerakan golok Geledek, tapi satu demi satu serangan itu berhasil dihindarkan oleh Lu Ci.

Tubuhnya tidak berhenti berkelebat, sekali lagi dia berhasil menghindar dari kibasan lengan baju Angin. Dia langsung berniat mengejar Tian-liong-siang-jin. Tapi di depannya sudah mengadang Thian-ti. Tinju dan kakinya bergerak cepat menghalangi Lu Ci maju ke depan.

Sementara itu, Tai Cu-pei, Jit Sang, dan para pengawal lainnya sudah berdatangan. Terjadilah pertempuran yang seru. Fu Hiong-kun baru bersiap membantu, Thian-ti sudah menghardiknya, “Hiong-kun, cepat pergi ambil kotak itu!”

Lu Ci melihat gadis itu melesat pergi. Dia marah sekali. Gelang di tangannya segera dilemparkan tapi sanggup ditangkis oleh Thian-ti.

“Bunuh! Jangan biarkan seorang pun lolos!” teriak Thian-ti kalap.

*****

Akhirnya iseng-iseng Wan Fei-yang menggoyang-goyangkan keleningan di tangannya. Dia sudah menunggu cukup lama di bawah jembatan sebelah barat kota. Kebetulan Tian-liong-siang-jin sedang menghambur ke arahnya. Begitu mendengar suara keleningan, dia tertegun sebentar. Sejenak kemudian dia berlari lagi ke arah sumber suara.

Dari jauh Wan Fei-yang sudah melihat Tian-liong-siang-jin yang sedang berlari ke arahnya. Dia malah berdiri termangu-mangu. Apakah orang yang datang menyambutku justru di hidung belang Tian-liong-siang-jin ini? Apakah Tian-liong-siang-jin sebetulnya satu komplotan dengan orang-orang Fu Hiong-kun?

Dia masih berdiri terheran-heran. Tian-liong-siang-jin sudah berada di depannya. Dalam pandangan Tian-liong-siang-jin, orang yang berdiri di depannya bukan Wan Fei-yang, tapi Hujan. Matanya tetap kosong, namun bibirnya menyunggingkan senyuman. Tiba-tiba dia memeluk Wan Fei-yang erat-erat dan bibirnya yang tebal menciumi sekujur wajah anak muda itu.

“Sayangku, aku sudah membawakan soat-lian untukmu!” sambil tersenyum cengar-cengir Tian-liong-siang-jin berkata dengan suara kenes. Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.

Ternyata soat-lian itu besarnya seperti kepalan tangan. Warnanya putih berkilauan. Sekali lihat saja, orang sudah yakin bahwa tumbuhan ini benar-benar pusaka yang langka. Di dalam pandangan Tian-liong-siang-jin hanya ada Hujan. Tanpa banyak kata lagi, dia langsung menyusupkan soat-lian tersebut ke dalam mulut Hujan yang mungil.

Wan Fei-yang sudah kehilangan ilmu silatnya. Dia sama sekali tidak dapat mengadakan perlawanan. Bahkan memberontak saja tidak bisa, mau tidak mau, dia terpaksa menelan soat-lian tersebut. Serangkum hawa yang sejuk dan segar segera menyelusupi jantungnya. Kemudian mengalir ke seluruh tubuh. Sementara itu, Tian-liong-siang-jin sudah menggendong Wan Fei-yang dan menciuminya dengan rakus.

Fu Hiong-kun menyusul tiba. Dari jauh dia sudah dapat melihat kejadian antara Tian-liong-siang-jin dengan Wan Fei-yang. Wajahnya menyiratkan perasaannya yang bingung. Tapi dia terus berlari menghampiri dan menepukkan telapak tangannya ke arah batok kepala Tian-liong-siang-jin.

Orang itu tidak menghindar. Dia jatuh pingsan seketika. Sementara itu, tubuh Wan Fei-yang berguncang-guncang dan gemetaran. Melihat keadaannya, Fu Hiong-kun cemas sekali. Dia segera menghampiri dan memapah tubuh Wan Fei-yang. Kemudian dia mengulurkan tangan meraba kening anak muda itu. Dia terkejut sekali sebab kening anak muda itu dingin bagai balok es.

“Gi-toako, apa yang terjadi?” tanya Fu Hiong-kun sambil menarik tangannya dari kening Wan Fei-yang.

Anak muda itu berusaha membuka mulutnya. Serangkum uap putih yang dingin memancar keluar. Seluruh wajahnya mengalir keringat sedingin es. Tubuh Fu Hiong-kun bergetar. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Apalagi setelah dia melihat kotak kosong yang tergeletak di atas tanah. Dia ingat Tian-liong-siang-jin pernah dihipnotis dengan ilmu pembetot sukma oleh Hujan, maka dia segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Cepat-cepat dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tidak berani berdiam lama-lama di tempat itu. Dengan gugup dia memapah Wan Fei-yang berjalan ke depan. Tubuh anak muda itu masih menggigil terus. Wajahnya sudah semakin pucat.

*****

Meskipun ilmu silat Lu Ci tinggi sekali, tapi di bawah keroyokan lima pentolan dari Siau-yau-kok, dia hanya dapat menangkis dan menghindarkan diri. Jit Sang dan Tai Cu-pei sudah roboh di tangan Geledek dan Kilat sejak tadi. Para pengawal itu sungguh-sungguh tak dapat diharapkan lagi.

Dengan mengandalkan ilmu silat mereka, tentu saja bukan tandingan Hujan, Angin, Kilat, maupun Geledek. Lu Ci yang melihat rekan dan para pengawalnya roboh satu per satu merasa sangat marah sekaligus panik. Sekali perhatiannya terpencar, telapak tangan Thian-ti langsung menghantamnya dan waktu yang bersamaan pedang Kilat juga berhasil melukainya.

Dia sadar kalau bertarung terus, dia pasti akan mati di sini. Dan dia juga sadar Tian-liong-siang-jin pasti sudah diperalat oleh mereka. Kalau hanya berdasarkan tenaganya sendiri, apalagi dalam keadaan seperti ini, tentu sulit merebut kembali soat-lian dari tangan mereka. Padahal dia sendiri terluka, perhatiannya tidak dapat terpusat lagi. Dia menarik napas dalam-dalam, berturut-turut dia melemparkan empat buah gelang emasnya untuk membuka jalan dan melarikan diri secepat kilat.

Jarum Hujan langsung disebarkan, namun tidak sanggup mengejar bayangan tubuh Lu Ci. Baru saja orang yang lainnya bermaksud mengejar, tapi mereka kembali dicegah oleh Thian-ti. Lu Ci berlari ke arah pusat kota di mana dia datang tadi. Hal ini membuktikan bahwa untuk sementara dia sudah tidak berminat merebut kembali soat-lian tersebut. Sedangkan tujuan Thian-ti hanya soat-lian itu.

Fu Hiong-kun seorang diri pergi menemui Tian-liong-siang-jin. Mereka masih belum dapat memastikan apakah tidak akan terjadi sesuatu pada diri gadis itu. Thian-ti memberi perintah dengan bentakan lantang. Dalam sekejap Angin, Hujan, Kilat, dan Geledek segera menerjang ke arah Fu Hiong-kun pergi. Thian-ti menyusul di belakang.

Belum lama kelima orang itu pergi, Tok-ku Hong dan beberapa pentolan Bu-ti-bun menyusul tiba. Melihat keadaan di tempat itu, mereka sadar telah terlambat setindak. Apalagi setelah memerhatikan bekas luka para pengawal yang sudah menjadi mayat, mereka segera dapat diketahui bahwa semua ini adalah hasil perbuatan orang-orang Siau-yau-kok. Mereka hanya berdiri terpaku sambil menarik napas panjang. Bagaimanapun tidak terpikir oleh mereka bahwa hasil kerja orang-orang Siau-yau-kok juga sia-sia belaka. Soat-lian yang diperebutkan itu sekarang sudah berada dalam perut Wan Fei-yang.

*****

Empat puluh tujuh hari kemudian, Fu Hiong-kun sudah kurus banyak, tapi wajahnya malah selalu ramai oleh senyuman. Wan Fei-yang masih terendam dalam segentong air yang permukaannya terus menggelegak dan mengepulkan uap putih. Air itu air panas. Saat itu Wan Fei-yang sedang berendam di dalamnya untuk mempertahankan nyawa.

Soat-lian dari Ping-san itu mengandung daya im yang tinggi sekali. Juga merupakan pusaka tak ternilai satu-satunya di dunia. Tentu saja kelak akan tumbuh soat-lian semacam itu lagi. Tapi hal itu baru akan terjadi lagi seribu tahun kemudian. Siapa yang dapat menduga apa yang akan terjadi seribu tahun kemudian. Bagi orang yang penyakitnya tidak parah atau hanya ingin menambah kekuatan tenaga dalam, hanya dengan menggunakan sedikit saja dari soat-lian tersebut atau dengan kata lain sehelai bunganya saja sudah dapat memperlihatkan khasiat yang tidak terkira. Sedangkan Wan Fei-yang menelannya bulat-bulat dan sudah pasti tidak memakai peraturan yang diharuskan. Itulah sebabnya hawa dingin dari soat-lian itu langsung menjalar di seluruh peredaran darah tubuhnya. Seandainya tidak ditemukan oleh Fu Hiong-kun, pasti saat ini dia sudah mati beku.

Fu Hiong-kun sudah cukup lama melakukan berbagai penelitian dalam ilmu pengobatan. Dia paham sekali khasiat soat-lian tersebut, juga tahu bagaimana cara memakannya. Tapi ketika hal ini diketahuinya, Wan Fei-yang sudah keburu menelan soat-lian itu bulat-bulat. Sekarang satu-satunya jalan adalah mencari akal untuk membangkitkan hawa yang ada dalam tubuh Wan Fei-yang sendiri untuk membantunya. Dia sendiri belum berani memastikan apakah dengan cara merendam Wan Fei-yang dalam air panas ini ada manfaatnya atau tidak.

Namun ini hanya jalan satu-satunya untuk mempertahankan nyawa Wan Fei-yang. Dia harus memberanikan diri untuk mencoba. Setelah berjalan tujuh hari, dia baru membawa Wan Fei-yang ke tempat ini. Pada waktu itu, seluruh tubuh Wan Fei-yang sudah kaku, kulitnya sudah membeku seperti es.

Setelah berendam satu hari satu malam di dalam gentong berisi air panas, kesadaran Wan Fei-yang baru pulih kembali. Sekarang dia sudah bisa membangkitkan hawa murninya. Bahkan peredaran hawa murni dalam tubuhnya jauh lebih deras daripada sebelum dia terluka. Tapi dia tetap tidak keluar dari dalam gentong berisi air panas tersebut. Dia tidak lupa apa yang dikatakan Fu Hiong-kun, bahwa dia harus menembus seluruh urat nadinya yang tersumbat dan bahkan yang sudah tergetar. Kalau tidak, tenaganya tetap tidak dapat pulih meskipun hawa murninya sudah mengalir. Malah ada kemungkinan semakin parah.

Fu Hiong-kun tetap menjaga dan merawatnya tanpa mengenal lelah. Melihat jerih payah usaha gadis itu untuk menyembuhkannya, Wan Fei-yang merasa terharu dan sangat berterima kasih. Setiap hari apabila dia membuka matanya, pasti dia mengucapkan beberapa kata untuk menyatakan penghargaannya dan rasa terima kasihnya. Demikian juga hari ini.

“Fu-kouwnio, kau sampai mencapaikan diri merawatku sedemikian rupa ….” ucapan Wan Fei-yang baru setengahnya saja sudah ditukas oleh Fu Hiong-kun.

“Kau merasa tidak enak hati, merasa sangat terharu, bukan?” Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya. “Entah sudah berapa kali kau mengucapkan kata-kata seperti ini.”

Dia mengambil sebutir telur dari permukaan air yang menggelegak itu dan mengupasnya. Dengan penuh kesabaran serta perhatian dia menyuapkannya ke mulut Wan Fei-yang. Telur itu sudah matang sekali. Pada dasarnya, air tempat Wan Fei-yang merendamkan diri memang seperti sepanci air yang baru mendidih.

Wan Fei-yang menelan telur itu sedikit demi sedikit. Dia menarik napas panjang.

“Ada suatu persoalan yang membuat hatiku resah dan terasa sangat bersalah,” katanya.

“Persoalan apa lagi?”

“Demi aku, kau sudah tinggal di sini beberapa hari. Orang-orang rumahmu pasti khawatir sekali.”

“Mereka hanya bisa memaksa aku melakukan hal-hal yang tidak ingin aku lakukan,” sahut Fu Hiong-kun dengan nada sedih.

Wan Fei-yang semakin terharu. “Kadang-kadang aku malah merindukan sebuah keluarga yang tidak bosan-bosannya memarahi aku.”

Fu Hiong-kun tertegun. “Apakah kau sudah yatim piatu?”

“Semestinya aku masih mempunyai seorang kakek luar. Akhirnya dia dibunuh juga.” Wan Fei-yang menggertakkan giginya erat-erat. “Aku tidak akan pernah melupakan pedang yang panjang kurang lebih lima enam cun dan bercahaya bagai kilat itu!”

Sekali lagi Fu Hiong-kun tertegun. “Siapa kau sebetulnya? Mengapa begitu banyak orang yang tidak senang terhadapmu?”

“Sebetulnya aku sendiri juga kurang mengerti,” Wan Fei-yang tertawa getir. “Sejak kecil aku sudah dibawa ke Bu-tong-san.”

“Rupanya kau adalah murid Bu-tong-pay!”

“Hanya pantas disebut seorang bawahan,” sahut Wan Fei-yang sambil mengenang masa lalunya yang pahit. “Di atas gunung, setiap orang selalu menghina aku. Belum pernah ada satu pun orang yang menghargaiku. Terakhir aku malah difitnah sebagai murid murtad yang membunuh ciangbunjin Bu-tong-pay!”

Tubuh Fu Hiong-kun tergetar mendengar kata-katanya. “Gi-toako, sebetulnya apa marga keluargamu?”

“Sebetulnya aku memang she Gi, tapi karena ayahku menyucikan diri dan menjadi ciangbunjin Bu-tong-pay, maka aku mengikuti she ibu ….”

“She Wan?” Bahkan suara Fu Hiong-kun pun ikut bergetar sekarang. “Kau adalah Wan Fei-yang?”

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya tanpa rasa curiga sedikit pun.

“Tentunya kau juga sudah mendengar selentingan di dunia kangouw. Semua itu hanya fitnahan dan siasat agar aku terjebak. Fu-kouwnio, coba kau bayangkan, bagaimana mungkin aku akan membunuh ayahku sendiri!” Wan Fei-yang menundukkan kepalanya rendah-rendah. “Tapi mereka semua tetap tidak percaya ….”

“Aku percaya,” sahut Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya juga.

Wan Fei-yang langsung tersenyum mendengar ucapannya.

“Kalian orang-orang dari marga Fu semuanya baik-baik. Setidaknya yang pernah aku temui semuanya terdiri dari orang baik. Di Bu-tong-san saat ini, aku yakin juga hanya Fu-toako seorang yang masih memercayaiku.”

“Fu-toako?”

“Namanya Fu Giok-su!”

Hati Fu Hiong-kun tertekan seketika.

“Seharusnya aku mendatangi Bu-tong-san dan mencari Fu-toako untuk menjelaskan semuanya,” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

“Jangan sekali-kali kau pergi lagi ke Bu-tong-san!” kata Fu Hiong-kun tanpa sadar.

“Kenapa?” tanya Wan Fei-yang bingung.

Fu Hiong-kun termangu-mangu sesaat.

“Aku takut lukamu belum sembuh sama sekali. Kalau kau pergi ke Bu-tong-san, mungkin kau justru akan menemui bahaya.”

Wan Fei-yang sama sekali tidak mendengar nada suara Fu Hiong-kun yang mengandung kesedihan. Hati Hiong-kun semakin tertekan. Dia berpesan kepada Wan Fei-yang agar jangan banyak pikiran dulu. Yang paling penting sekarang adalah menyembuhkan lukanya. Dia tidak berkata apa-apa lagi.

Gentong tempat Wan Fei-yang dicurahi air panas alami yang memancar dari sebuah lubang di atas kepalanya. Mereka berada di dalam sebuah gua yang dalam dan terpencil. Tidak ada orang yang datang mengganggu. Hari ini berlalu dengan sunyi dan tenang. Namun hati Fu Hiong-kun semakin resah dan serbasalah. Dari keterangan Wan Fei-yang, sedikit-banyaknya dia sudah tahu apa yang terjadi pada diri anak muda itu. Justru hal inilah yang membuat hatinya tidak tenang. Dia ingin mengaku terus terang di depan Wan Fei-yang, tapi dia tidak mempunyai keberanian itu. Dia sungguh menyesali dirinya sendiri yang terlahir dalam keluarga pentolan manusia-manusia terlicik di dunia.

Pagi-pagi buta pada hari kedua. Dia keluar dari tempat persembunyian mereka dan menuju sebuah dusun terdekat. Dibelikannya Wan Fei-yang satu setel pakaian. Dia juga meminjam kertas serta mopit untuk menulis sepucuk surat yang ringkas, kemudian bergegas kembali ke gua itu.

Tidak diragukan lagi bahwa dia sebenarnya adalah seorang gadis yang berjiwa luhur dan berhati besar. Tapi dia tetap memerlukan keberanian besar untuk mengungkapkan kata-katanya dalam surat. Dia harus mengatakan bahwa dia adalah adik kandung Fu Giok-su. Sedangkan Fu Giok-su itulah pembunuh yang sebenarnya.

Sekembalinya ke gua tersebut, tengah hari sudah menjelang. Wan Fei-yang masih berendam di dalam gentong berisi air panas dengan mata terpejam rapat. Keringat menetes dari keningnya. Fu Hiong-kun menatap anak muda itu sekian lama. Kemudian dia meletakkan pakaian serta surat tadi di atas sebuah batu di sisi gentong. Dengan hati tertekan dia menyeret langkah kakinya meninggalkan tempat itu. Perlahan dia berjalan keluar.

Baru sampai di luar gua, dia langsung melihat seseorang. Orang itu mengenakan pakaian abu-abu dan memakai sebuah topi pandan di atas kepalanya. Seperti sebuah patung, dia berdiri tegak di depan gua. Tidak terdengar sedikit pun suara dan juga tidak mendongakkan kepala.

“Siapa?” tanya Fu Hiong-kun sambil menghentikan langkah kakinya.

Orang itu mendongakkan kepalanya terbahak-bahak. Dia melepaskan topi pandan yang dipakainya. Tampaklah seraut wajah yang dipenuhi cambang yang lebat. Kemudian dia mengeluarkan sebuah gelang berukuran besar dari keranjang pandan yang disandangnya di bahu.

Advertisements

1 Comment »

  1. Sy suka ceritanya loh apalagi ada gambarnya (komik)

    Comment by Maman — 10/06/2010 @ 12:33 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: