Kumpulan Cerita Silat

23/12/2007

Maling Romantis (11)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:05 am

Maling Romantis (11)
Oleh Gu Long

Kontributor: budiwibowo, bpranoto, koedanil, agusis, axd002

Coh Liu Hiang tertawa, oloknya, “Cakar setan yang peranti mencabut nyawa orang, kini hanya berhasil merenggut segulung kertas, memangnya kau tidak merasa malu ?”

Pek-giok-mo tertawa besar, ujarnya, “Kalau toh hanya segulung kertas bobrok, kenapa kau harus minta supaya aku mengembalikan kepadamu?”

Mau tidak mau gugup juga hati Coh Liu-hiang, batinnya : “Keparat ini memang licik dan banyak akalnya.” Di mulut ia menyahut tawar, “Kalau kau ingin memilikinya, boleh kuberikan kepadamu untuk membesut air matamu, atau bolehlah untuk menyeka ingusmu saja.”

Pek-giok-mo menyeringai tawa dingin, katanya: “Yang harus mengalirkan air mata sekarang mungkin malah kau sendiri.” Lalu ia mundur lagi beberapa langkah, pelan-pelan ia keluarkan gulungan gambar itu lalu dibentangkan setengah halaman. Hanya sekilas pandang saja, rona mukanya tiba-tiba mengunjuk perasaan yang aneh dan lucu, tiba-tiba pula ia bergelak tertawa.

Melihat mimik tawa orang yang aneh, bertanya Coh Liu-hiang dengan heran: “Apa yang kau tertawakan?”

“Untuk apa kau menyimpan gambar lukisan bini Jin Jip di dalam kantongmu? Kulihat usiamu masih muda, memangnya kau sedang terserang penyakit rindu sepihak kepada bini Jin-lothau?”

Sungguh girang dan kaget bukan kepalang hati Coh Liu-hiang mendengar kata-kata Pek-giok-mo setelah orang melihat gambar lukisan itu. Jawaban teka-teki yang selama ini dicarinya ubek-ubekan tidak ketemu, kiranya sekarang didengarnya dengan tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Saking kegirangan, tanpa sadar ia berteriak: “Jadi Chiu Ling-siok ternyata menikah dengan Kaypang Pangcu yang terdahulu. Memang kedudukannya mulia dan diagungkan, namanya jauh lebih suci dan terpandang, jauh lebih tinggi dibandingkan Sebun Jian dan lain-lain.”

Melihat mimik muka serta tingkah lakunya, Pek-giok-mo pun kelihatan heran dan tak mengerti, katanya: “Chiu Ling-siok?…. siapa Chiu Ling-siok itu?”

“Bukankah kau tadi berkata bahwa dia istri Jin Jip Jin-lopangcu dari Kaypang?”

“Istri Jin Jip itu she Yap, bernama Yap Siok-tin….”

Coh Liu-hiang melengak kaget pula, teriaknya: “Lalu lukisan gambar itu…”

“Yang dilukis di atas gambar ini adalah Yap Siok-tin, kau sendiri sudah menyimpan gambar lukisannya, memangnya belum tahu nama aslinya?”

Baru sekarang Coh Liu-hiang dibikin paham: “Tak heran tiada orang Kang-ouw yang tahu di mana jejak Chiu Ling-siok, ternyata dia sudah mengubah nama dan menikah dengan Kaypang Pangcu. Ai, betapa buruk dan tercela nama perempuan siluman ini dulu, kalau ingin menikah dengan tokoh kosen yang kenamaan di kalangan Kangouw, sudah tentu harus merubah she dan berganti nama, untuk hal ini seharusnya sejak mula sudah harus kupikirkan.”

Tiba-tiba Pek-giok-mo berubah beringas, serunya bengis: “Jikalau kau maki Jin-lothau, kau maki delapan belas keturunannya pun tak menjadi soal, tapi istrinya adalah seorang perempuan suci yang welas asih dan luhur budi serta bijaksana, sampai pun aku Pek-giok-mo harus tunduk dan kagum kepadanya. Jikalau kau berani omong dengan perkataan kotor mengenai dirinya pula, murid-murid Kaypang sebanyak laksaan anggota pasti tak seorang pun yang sudi mengampuni jiwamu.”

Coh Liu-hiang maklum, setelah Chiu Ling-siok menikah dengan orang, tentu dia sudah cuci tangan membina diri, kembali menjadi manusia baik-baik. Biasanya memang dia sendiri amat simpatik dan mengagumi orang seperti ini, sudah tentu dia pun takkan membeber sepak terjangnya dulu yang memalukan, sorot matanya berputar, tiba-tiba ia berkata: “Entah di mana sekarang Jin-hujin berada?”

“Kulihat kau begitu kepincut sampai lupa daratan, memangnya kau sudah berkeputusan rela menikah dengan seorang janda? Tapi ketahuilah, dia adalah seorang suci yang patuh akan adat istiadat, kau ini kodok buruk jangan harap bisa merasakan daging burung bangau.”

Kembali berputar biji mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Jin Jip mengusirmu dari perguruan Kaypang sehingga kau harus sembunyi ke barat mengumpet ke timur, selama puluhan tahun belum pernah kau mengecap kesenangan hidup pula, memangnya kau tidak membencinya malah?”

“Dia orang sudah mampus. Kalau membencinya, memangnya bisa berbuat apa?” dengus Pek Giok-mo dengan penuh kebencian.

“Walau dia sudah mati, namun istrinya toh masih hidup?”

Dengan keki Pek-giok-mo pelototi Coh Liu-hiang. Jari-jari tangannya mencabuti jenggot di bawah dagunya yang sudah hampir habis dicabuti olehnya sendiri, sorot matanya yang semula galak dan bengis lambat laun menunjukkan senyuman tawa lebar, katanya pelan-pelan: “Walau kata-katamu ini keterlaluan, tapi justru mencocoki seleraku.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Terhadap siapa bicara apa, pengertian ini cukup kupahami!”

Pek-giok-mo terkial-kial, serunya: “Tak heran orang lain suka bilang Coh Liu-hiang adalah bajul buntung yang jahat dan paling mungil, sampai pun aku kini lambat laun sudah mulai tertarik dan menyukaimu.”

“Lalu di manakah istrinya sekarang berada?” desak Coh Liu-hiang lebih lanjut.

“Sayang, aku sendiri pun tidak tahu.”

Sebentar saja Coh Liu-hiang melenggong, lalu ia bersoja dan berkata: “Selamat bertemu lain kesempatan!” lalu ia berjalan keluar tinggal pergi.

Seru Pek-giok-mo keras: “Meski aku tidak tahu, namun ada orang lain yang tahu.”

Seketika Coh Liu-hiang menghentikan langkahnya dan bertanya sambil membalikkan badan: “Siapa?”

“Memangnya kau tidak bisa memikirkannya?”

“Mungkin Lamkiong Ling sebetulnya bisa memberitahu kepadaku, tapi sekarang belum tentu.”

“Orang lain punya sebutir mutiara, kau hendak memintanya dengan mulut kosong, sudah tentu dia tidak sudi memberikan kepadamu. Tapi kalau kau suka menukarnya dengan benda lain yang lebih mahal dari mutiara, masa dia tidak sudi memberikan kepadamu?”

Coh Liu-hiang diam sebentar, tanyanya: “Dengan apa aku harus menukarnya?”

“Asal-usul pemuda baju hitam itulah.”

***

Coh Liu-Hiang mengikuti jejak Pek-giok-mo, sementara It-tiam-ang menguntit di belakang Coh Liu-hiang, seolah-olah mereka pandang wuwungan rumah penduduk sebagai jalan raya yang lebar dan rata, mereka berlompatan terbang di atas rumah orang.

Waktu itu malam sudah larut, di seluruh pelosok kota sudah tak terlihat lagi adanya sinar api yang menyorot keluar dari dalam rumah.

Sembari berjalan, berkata Pek-giok-mo dengan suara rendah berat: “Dengan kau Coh Liu-hiang, kau sendiri yang mengikuti jejakku lho, bukan aku yang membawamu ke mari.”

“Aku tahu akan maksudmu,” sahut Coh Liu-hiang.

“Baiklah kalau kau tahu.”

“It-tiam-amg,” ganti Coh Liu-hiang berseru ke belakang. “Kau dengar, kau sendiri yang ikut di belakangku, bukan aku yang membawa ke mari lho.”

Tapi tiada jawaban dari belakang.

Waktu Coh liu-hiang berpaling, entah kapan bayangan It-tiam-ang sudah pergi tanpa meninggalkan bekas. Tak tahan lagi Coh Liu-hiang mengelus-ngelus hidungnya, gumamnya tertawa getir: “Kalau kau tidak suka dia datang, dia datang. Kalau kau tidak mau dia pergi, dia malah tinggal pergi. Siapa bila bersahabat dengan orang macam demikian, tentulah kepalanya sendiri dibikin pusing.”

Terdengar Pek-giok-mo berkata: “Rumah di depan yang terlihat sinar lampu menyorot keluar itu, itulah Hiang-tong (markas cabang) penting dari Kaypang. Sekarang aku mau pergi, jangan kau mengikuti jejakku. Kalau kau sendiri yang menemukan tempat itu, tiada sangkut pautnya dengan diriku.”

“Bahwasanya aku tidak melihat dirimu, ke mana kau hendak pergi aku pun tidak tahu!”

“Bagus.”

Sekali mendekam terus menerjang turun, dari tempat gelap sana segera terdengar seseorang membentak dengan kereng: “Naik ke langit masuk ke bumi!”

“Si pengemis tidak mau datang,” Pek-giok-mo segera menyambung. Disusul suara berbisik-bisik sekian lama, lalu terdengar pertanyaan pula : “Di mana bocah itu?”

“Ruang pendopo.”

“Akhirnya pangcu berhasil membekuk dia?”

“Agaknya dia sendiri yang ke mari, malah duduk dengan angkuh dan gagah-gagahan, entah kenapa pangcu malah bersikap sungkan dan ramah-tamah kepadanya.”

Coh Liu-hiang mendekam di atas genteng rumah di seberang sana. Dilihatnya Pek-giok-mo mendorong pintu lalu menyelinap masuk. Di dalam rumah ada lampu, namun jendelanya tertutup rapat, yang terlihat hanya bayangan orang yang mondar-mandir. Bagaimana keadaan di dalam, tidak jelas.

Sekeliling rumah dijaga ketat dan masih banyak lagi penjaga-penjaga gelap yang tersembunyi, ada kalanya yang terlihat hanyalah sinar golok mereka yang mencorong mengkilap di tempat gelap, terdengar pula suara bisikan percakapan mereka.

Laksana asap entengnya Coh Liu-hiang menggerakkan badannya berputar satu lingkaran, kini ia tiba di belakang rumah. Mendadak ia batuk-batuk kering dua kali, dari tempat gelap segera terdengar orang membentak dengan suara lirih : “Naik ke langit masuk ke bumi.”

“Si pengemis tidak mau datang,” sahut Coh Liu-hiang menirukan Pek-giok-mo tadi.

Orang itu lantas berdiri dan keluar dari tempat gelap. Setelah jelas akan diri Coh Liu-hiang, ia segera bertanya : “Siapa kau ?”

“Peminta beras,” sahut Coh Liu-hiang. Tahu tahu tangan kanannya sudah menutuk Hiat-to orang itu, berbareng tangan kiri meraih badan orang terus dijinjing ke belakang dan direbahkan di atas pohon, katanya pelan-pelan: “Aku ini bukan manusia, aku ini siluman rase, kau tahu tidak?”

Sorot mata orang itu menunjukkan rasa takut dan kaget. Ingin mengangguk, badan tak bisa bergerak, terpaksa biji matanya berkedip-kedip.

***

Seenteng asap Coh Liu-hiang melayang turun lalu menuju ke sebuah jendela yang tersorot cahaya lampu dari dalam. Setelah membuat lobang kecil, ia dekatkan matanya untuk mengintip ke dalam. Tampak di tengah ruangan besar di dalam sana berjajar dua meja cendana, kedua sisi masing-masing diduduki dua pengemis ubanan, karung yang digendong tebal dan bertumpuk-tumpuk, tentunya semua berjumlah sembilan karung. Tentulah mereka adalah Tianglo dan Hu-hoat dari Kaypang.

Pek-giok-mo dengan congkaknya duduk jaga di tempat teratas, roman mukanya tetap mengunjuk sifat pongah dan kekerasan hatinya.

Di sebelah atasnya lagi adalah Lamkiong Ling, Pangcu Kaypang yang baru. Pemuda baju hitam itu ternyata juga hadir di dalam ruangan ini, dia duduk berhadapan dengan Lamkiong Ling.

Begitu banyak tokoh-tokoh Bulim yang mengelilingi dirinya, ternyata sedikit pun dia tak menunjukkan rasa takut, mata besarnya terpentang lebar mengawasi Lamkiong Ling, lagaknya seolah dia siap berdiri dan ajak berkelahi dengan siapa pun.

Terdengar Lamkiong Ling tengah berkata dengan suara kereng: “Tuan melukai murid-murid Kaypang kami, melukai pula Tianglo Hu-hoat kita, mungkin hanya merupakan salah paham belaka, Puncoh tidak akan mengulur panjang persoalan ini. Cuma ingin tanya, keperluan apa tuan datang ke mari dari tempat jauh?”

Pemuda baju hitam itu melotot kepadanya, sahutnya dingin: “Sudah berapa kali kau ajukan pertanyaan yang sama ini, kalau aku sudi menjawab, memangnya harus tunggu sampai sekarang?”

Lamkiong Ling ternyata kelewat sabar, katanya kalem: “Sebetulnya kau ada tujuan apa memusuhi Kaypang kami? Kalau kau mau menjelaskan, mungkin Puncoh bisa mewakili laksaan murid Kypang kita memberikan segala fasilitas akan keperluanmu.”

“Kalau aku ingin batok kepalamu, apa kau suka memberikan?”

Akhirnya Lamkiong Ling berkata bengis: “Jangan kau lupa, saat ini dan di tempat ini, sembarang waktu aku bisa mencabut jiwamu, tapi aku hanya ingin tanya maksud kedatanganmu, kau tidak mau jelaskan, bukankah kau tidak tahu diri?”

Tidak kalah ketusnya si pemuda baju hitam menjawab: “Sampai sekarang aku masih tetap duduk di tempat ini, memang aku tidak tahu diri. Kalau kukatakan asal-usulku, berarti maksudmu sudah tercapai, masakah aku bisa duduk ongkang-ongkang kaki di sini?”

Mendengar sampai di sini, diam-diam Coh Liu-hiang tertawa geli: “Kelihatannya pemuda ini keras kepala dan angkuh lagi, seperti tidak tahu apa-apa, siapa tahu kiranya dia jauh lebih cerdik dan cekatan dari orang lain, agaknya Lomkiong Ling hari ini kebentur lawan tangguh.”

Tampak raut muka Lamkiong Ling sudah membesi hijau, amarahnya sudah bergolak di rongga dadanya, namun akhirnya dapat dia kendalikan pula, katanya lembut dengan tertawa lebar: “Kalau Puncoh ingin membunuhmu, buat apa pula harus tanya asal-usulmu? Masa kau sendiri belum paham akan pengertian secetek ini?”

“Sudah tentu aku cukup paham, malah terlalu paham. Kalau toh kau tidak tahu siapa aku, dan tidak tahu berapa banyak pula orang-orang yang berada di belakangku, lebih tidak tahu pula berapa banyak rahasia Kaypang kalian yang sudah kuketahui, hatimu sendiri yang main curiga dan suka meraba-raba, masakah kau bisa berlega hati membunuhku demikian saja.”

“Kalau demikian, bukankah aku harus menahanmu malah.”

“Lebih baik kalau kau tahan diriku di sini, makan minum di sini, tidur di sini, cuma aku kuatir kalian para pengemis ini apa mampu menyediakan segala keperluanku?”

Pek-giok-mo tiba-tiba menyeringai tawa, katanya: “Dengan cara halus tidak mau bicara, boleh gunakan kekerasan, masakan dia tidak akan bicara?”

“Siapa pun di antara kalian bila berani menyentuh seujung jariku saja, mungkin jiwa beberapa orang akan menggeletak di hadapanku. Kalau kalian tidak percaya, silahkan turun tangan saja.”

Pemuda ini halus dan kasar serba bisa, pintar mungkir, pandai mengancam dan bisa menggertak lagi, hampir saja Coh Liu-hiang bersorak senang di luar jendela.

Pada saat itu, mendadak “Blang!”, jendela di depan seberang Coh Liu-hiang mengintip ini tiba-tiba jebol berlobang besar. Bagai anak panah, sesosok bayangan orang menerjang masuk. Sinar pedang orang itu bagai kilat menyambar, kiranya It-tiam-ang.

Melihat It-tiam-ang mendadak muncul, sungguh kaget dan senang pula hati Coh Liu-hiang, batinnya: “Ternyata dia tetap menguntit aku, tepat sekali kedatangannya.”

Tampak begitu kaki It-tiam-ang menyentuh tanah, beruntun pedangnya sudah bergerak tujuh delapan belas kali tusukan ke arah Su-Toa-Tianglo dan Pek-giok-mo dan lain-lain. Orang-orang ini merupakan tokoh-tokoh silat kelas tinggi dalam Bulim, namun serangan itu dilancarkan teramat mendadak. Menghadapi tusukan secepat, ganas dan aneh ini, mereka pun mencaci.

“It-tiam-ang,” seru Lamkiong Ling gusar. “Kuhormati kau sebagai Enghiong kenamaan, berani kau bertingkah di Hiang-oh Kaypang kami?”

“Biasanya aku tidak kenal sanak kadang, memangnya kau tidak tahu?” jengek It-tiam-ang. Lalu ia menerjang ke samping pemuda baju hitam dan membentak datar: “Tidak lekas kau pergi!”

Tak nyana si pemuda malah melotot kepadanya, tanyanya: “Kenapa aku harus pergi ikut kau?”

Sekilas It-tiam-ang melongo, jengeknya: “Kau tidak mau pergi, biar kubongkar asal-usulmu di hadapan mereka.”

Kini gantian si pemuda yang tertegun, katanya sambil tertawa dingin: “Baik, terhitung kau menang, ayolah pergi!”

Tapi saat mana Ji-gi-jiau, Boan-koan-pit, tongkat bambu hijau, Siang-thi-koay dan tujuh delapan macam senjata lainnya sudah meluruk bersama ke arah mereka. Setiap hadirin dalam ruang pendopo ini adalah tokoh-tokoh silat nomor wahid, setiap gaman yang mereka gunakan rata-rata senjata berat yang ampuh dan hebat kekuatannya, ganas dan keji pula serangannya. Lekas si pemuda baju hitam merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebilah senjata, sekali ayun dan gentak ia bikin senjatanya lempang kaku, kiranya itulah sebatang Bian-to yang terbuat dari baja murni. “Cret,cret,cret” beruntun ia membacok beberapa kali, gerakan ilmu goloknya amat keras dan tidak kalah ganasnya, kesiur angin goloknya amat tajam dan deras, ternyata cara tempurnya menempuh jalan kekerasan juga.

Begitulah, dengan golok dan pedang mereka bertempur berdampingan, siapa pula yang harus mereka takuti? namun kalau mereka ingin menerjang keluar dari kepungan, tentulah sesukar memanjat langit. Beruntun It-tiam-ang tusukkan pedangnya puluhan kali, baru mendadak ia berseru keras: “Tidak segera kau turun tangan, biar aku berteriak saja.”

Sudah tentu orang lain tidak tahu apa maksud kata-katanya dan kepada siapa ditujukan, sebaliknya Coh Liu-hiang yang mengintip di luar jendela pun tertawa getir, batinnya: “Akhirnya dia menarikku juga untuk berkecimpung di dalam air basah ini.”

Sejenak ia berpikir, lalu dari atas ia menjemput puluhan genteng. Begitu jendela dia pukul hancur, beruntun ia timpukkan genteng seraya berteriak: “Awas, lihat Ngo-tok-thong paku ini!”

Walau hanya pecahan genteng biasa saja, namun ditimpukkan oleh seorang ahli tentulah jauh sekali faedahnya, ada yang terbang naik ke tengah udara langsung menerjang ke arah musuh, ada pula yang berpura-pura menderu menyerampang datar dari bawah, ada pula yang naik turun menari-nari.

Orang banyak tidak tahu senjata rahasia macam apakah ini. Namun mendengar Ngo-tok (lima racun), belum lagi senjata rahasia mengenai dirinya, beramai-ramai mereka sudah lompat menyingkir, jiwa sendiri lebih penting, tak sempat pula mereka melukai orang lain.

Maka dengan gampang It-tiam-ang dan pemuda baju hitam mendapat kesempatan untuk menerjang keluar. Sebat sekali Lamkiong Ling meluncur menyusuri dinding jendela di belakang sana, namun suasana sunyi dan keadaan di luar jendela gelap pekat, kurang jelas siapa penimpuk senjata rahasia ini. Sebat sekali ia lemparkan sebuah kursi keluar, menyusul dia pun menerjang keluar sambil membentak: “Sahabat, tunggu sebentar!”

Masakah Coh Liu-hiang mau ayal-ayalan? Belum lagi orang memburu keluar, bayangannya sudah menghilang di kejauhan sana.

Begitu menerjang keluar bersama, It-tiam-ang dan pemuda baju hitam terus lari sekencang-kencangnya, ginkang kedua orang itu agaknya setanding, setelah berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauhnya sudah, pemuda baju hitam itu tiba-tiba berhenti, katanya melotot: “Siapa suruh kau menolong aku?” Wataknya memang aneh, mati pun ia tidak sudi terima kebaikan orang lain.

Kalau orang lain setelah menempuh bahaya menolong jiwanya lalu mendapat pertanyaan yang kurang ajar seperti ini, aneh kalau orang itu tidak dibikin semaput saking gusarnya. Tapi sedikit pun It-tiam-ang tidak menjadi gusar, katanya sambil tertawa meringis: “Siapa mau tolong kau? Kau mampus atau hidup peduli apa dan tiada sangkut paut denganku.”

Membelalak besar mata pemuda baju hitam, katanya heran: “Kau bukan menolongku, memangnya untuk apa kau ke mari?”

“Tadi aku merusak barang seorang teman dan kau harus kubawa kepadanya sebagai gantinya.”

Sekilas si pemuda melongo, akhirnya dia berseru naik darah: “Kau ini sedang kentut apa, aku tidak mengerti.”

“Kau tidak mengerti, sebaliknya aku tahu,” terdengar seorang menyela tawa yang kemalas-malasan serta gerakan tubuh laksana setan gentayangan, di kolong langit ini kecuali si maling romantis Coh Liu-hiang kiranya takkan bisa dicari keduanya.

Memang kalau Coh Liu-hiang hendak menguntit seseorang, siapa pun jangan harap bisa menyesatkan dirinya dan lolos dari pengawasannya. Melihat orang datang, sedikit pun It-tiam-ang tidak mengunjuk rasa heran, katanya dingin: “Inilah suratmu itu, kini dia kuserahkan sebagai gantinya.” Bicara pada kata-katanya yang terakhir, bayangannya sudah berkelebat di tempat kejauhan sana.

Mengawasi bayangan orang, si pemuda baju hitam geleng-geleng kepala, ujarnya: “Apakah otak orang itu rada sinting?”

“Cacat orang ini adalah suka ikut campur urusan orang lain, dia anggap barusan sudah bantu kesulitanku, siapa tahu justru bikin runyam suatu persoalan besar yang sedang kuselidiki.”

“Persoalan besar apa yang bikin kau uring-uringan kepadanya?” tanya si pemuda.

“Semula aku hendak gunakan jamrud untuk menukar mutiara, dia malah menggagalkan kontrak dagangku.”

Dengan mendelong pemuda ini mengawasinya sekian lama, seolah-olah pada mukanya mendadak tumbuh sekuntum bunga yang indah, sorot matanya memancarkan rasa heran dan aneh serta tertarik dan ingin tahu, katanya: “Kukira hanya dia itu yang sinting, siapa tahu kau ini malah sudah pikun.”

“Itulah yang dinamakan sependeritaan sepenanggungan, jenis yang cocok satu sama lain.”

“Aku tiada cacat seperti yang kau katakan, maaf aku ingin pergi,” ujar si pemuda sambil putar badan hendak tinggal pergi.

Kata Coh Liu-hiang: “Pertanyaan yang ingin kau ajukan kepadaku tidak kau tanyakan lagi?” kata-kata ini seumpama gantolan yang menjambretnya kembali, cepat ia putar badan dan unjuk seri tawa kegirangan, serunya, “Sekarang sudah mau memberi tahu?”

Berkata Coh Liu-hiang tanpa pikir, “Sudah kulihat sulaman gambar unta terbang di balik mantelmu, maka aku tahu kau pasti sanak kadang Raja Gurun. Aku pernah bertemu dia, maka kutahu bila dia sudah masuk ke Tionggoan.”

Bersinar biji mata si pemuda, teriaknya tertahan, “Kau pernah bertemu dengan ayahku?”

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau sudi percaya kepadaku, kesulitan yang kita hadapi bersama saat ini tidak sukar untuk dibereskan!”

Langsung si pemuda menatap kedua matanya, sepasang matanya lebih cemerlang dari pancaran sinar bintang kejora, mendadak roman mukanya bercahaya dan tertawalah si pemuda riang, katanya, “Baik, aku mempercayaimu.”

Coh Liu-hiang segera duduk berpunggung wuwungan rumah, di saat bisa duduk dia tak pernah berdiri, kaki tangan ia julurkan sebebas mungkin, katanya tertawa, “Kalau begitu aku hanya minta kepadamu menjelaskan apa maksud tulisan dalam surat yang diterima ayahmu itu?”

“Surat? Bukankah sudah kuserahkan kepadamu?”

“Mungkin sudah ditakdirkan aku tidak boleh melihat langsung surat itu, tapi cukup puaslah hatiku asal bisa mendengar juga.”

“Bagaimana kalau aku tidak pernah membacanya?”

Coh Liu-hiang menjadi tegas, katanya, “Kalau kau katakan tidak pernah membaca surat itu, mungkin aku kontan jatuh semaput.”

“Nah, bolehlah kau semaput saja.”

“Jadi kau benar-benar tidak pernah membacanya?” teriak Coh Liu-hiang.

Pemuda baju hitam malah tertawa geli, sahutnya, “Aku tidak membaca, namun pernah kudengar ayah membacakan kepadaku.”

Coh Liu-hiang menghembuskan nafas panjang, gumamnya, “Bisa kau tersenyum semanis ini, umpama aku benar-benar jatuh semaput dan jiwa sampai melayang pun setimpal juga.”

“Kau dengar, beginilah isi tulisan surat itu.”

“Nanti sebentar, biar kucuci dulu kupingku biar bersih.”

Si pemuda tertawa lebar, katanya, “Tulisan itu berbunyi, ‘Sejak berpisah beberapa tahun ini, semangat dan kesehatan tuan tentu jauh lebih perkasa dari dulu, sebaliknya aku jauh lebih layu dan kurus, apalagi sekarang tersekap di tengah mara bahaya, harap tuan suka mengingat hubungan baik kita dulu, lekaslah datang menolongku. Kalau tuan tidak datang, terang jiwaku takkan tertolong lagi.’ Tanda tangan surat itu adalah satu huruf, Siok saja.”

Dengan susah payah, akhirnya terhitung Coh Liu-hiang sudah melihat surat itu secara tidak langsung, apa yang tertulis dalam surat itu memang sudah dalam terkaannya, tapi bisa membuktikan secara kenyataan betapapun dia akan lebih yakin dalam tugas penyelidikannya lebih lanjut.

Sayang dalam surat itu tidak dijelaskan kesukaran apa yang sedang dihadapinya? Mau tak mau Coh Liu-hiang merasa kecewa pula, dengan melongo ia menepekur sekian lamanya, gumamnya, “Bagaimanapun, kesulitan yang dihadapi Chiu Ling-siok pastilah punya sangkut paut dengan pihak Kaypang.”

Tukas si pemuda baju hitam, “Ayah pun berpikir demikian, oleh karena itu aku beranggapan menghilangnya ayahku pasti ada hubungan dengan Kaypang, kalau tidak buat apa aku mencari gara-gara kepada pihak Kaypang.”

Kembali Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Kapan surat itu diterima? Siapa pula yang mengantarnya ke sana?”

Tutur si pemuda itu dengan sikap sombong, “Ayahku sebagai pendekar besar di gurun pasir, setiap tahun jejaknya tidak menentu, maka hubungan dengan berbagai anak buahnya yang tersebar luas di gurun pasir menggunakan burung dara pos. Meskipun dia dijuluki raja gurun pasir, namun kekuasaannya menjalar memasuki beberapa propinsi di pedalaman sini. Satu bulan yang lalu surat itu diterima melalui burung pos di pangkalan Ling-shia.”

“Lalu siapakah yang membawa surat ini dan diserahkan pada orang yang mengurus pangkalan dara pos di Ling-shia? Dari mana pula dia bisa tahu bahwa Raja gurun ada mendirikan pangkalan burung dara pos yang tersebar luas di gurun pasir, terutama yang berada di Ling-shia itu?”

“Mungkin tiada orang yang bisa menjawab pertanyaanmu ini.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang yang mengurus pangkalan burung dara pos di Ling-shia itu sudah mampus seluruhnya.”

Tersirap darah Coh Liu-hiang, sekian lama ia menepekur, katanya pula, “Baru satu bulan ayahmu keluar pintu, dari mana kau bisa tahu kalau dia mendadak menghilang?”

“Sejak perjalanan dari rumah sampai memasuki Tionggoan, setiap hari ayah pasti ada kabar hubungan dengan setiap pangkalan burung dara pos yang pernah dia lalui. Tapi sepuluhan hari yang lalu, surat-surat yang dibawa burung pos mendadak terputus, jikalau tidak mengalami sesuatu perubahan besar, mana beliau bisa lupa untuk berkirim surat kepadaku.”

“Maka kau segera berangkat menyusulnya ke mari?”

“Sudah tentu aku segera berangkat menuju ke Tionggoan, sepanjang jalan aku mencari tahu pada setiap pangkalan-pangkalan burung dara, namun tidak kuperoleh kabar berita dari beliau. Pengurus pangkalan burung dara pos di Ling-shia, semua menggeletak mampus secara mendadak, barulah aku mulai gelisah dan akhirnya aku meluruk ke pihak Kaypang.”

“Apa yang pernah kau dengar di Kaypang?” tanya Coh Liu-hiang dengan tatapan mata bercahaya.

“Apa pun aku tak berhasil mendapat tahu. Semua orang-orang Kaypang bukan saja tidak tahu siapa ayahku, jejaknya pun tidak diketahui, malah belakangan ini katanya mereka tidak pernah menghadapi sesuatu kesulitan apa pun, maka tidak mungkin mereka mengundang orang luar untuk membantu menyelesaikan sesuatu.”

Dia tatap muka Coh Liu-hiang serta katanya pula, “Tapi hal-hal ini semakin bikin aku curiga, dapatlah kurasakan bila lahirnya mereka seperti aman sentosa, pasti di belakang tabir kesentosaan ini tersembunyi sesuatu rahasia besar. Jelas ayahku ke mari karena menerima surat dari isteri Pangcu mereka, terang pasti ada ikatan dan hubungan dengan pihak mereka, mana bisa mereka mengatakan tidak tahu menahu?”

“Bukan mustahil kesulitan Jin-hujin adalah persoalan pribadinya, bahwasanya dia tidak ingin orang-orang Kaypang yang lain tahu, maka pertemuannya dengan ayahmu pastilah dilangsungkan secara rahasia pula.”

“Memang ada kemungkinan begitu, tapi pernah aku dihadapi dua persoalan aneh. Pertama: tiada seorang pun anggota Kaypang yang tahu di mana istri Pangcu mereka yang terdahulu berada. Kedua, tidak boleh kau melupakan bahwa Lopangcu mereka Jin Jip baru saja menemui ajalnya dalam beberapa waktu belakangan ini. Meski dikatakan beliau wafat karena terserang penyakit, tapi siapa yang pernah melihatnya sendiri?”

Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak bangun, katanya dengan nada berat, “Pergi datang ceritamu, hanya kata-kata inilah yang tepat menusuk ke sasarannya, tapi jangan sekali-kali kau ucapkan kata-katamu ini kepada orang lain. Kalau tidak mungkin kalangan Kangouw bakal timbul suatu kegemparan besar. Jabatan Pangcu yang teragung bagi Kaypang yang terbesar kekuasaan dan anggotanya di seluruh kolong langit ini, siapa pun ingin mendudukinya, peduli dia anggota Kaypang atau orang dari luar kalangan.”

“Tujuanku hanya menemukan ayahku, persetan bakal timbul geger atau keonaran di kalangan Kangouw, toh tiada sangkut-pautnya denganku?”

“Begitu besar hasratmu untuk mengetahui jejak ayahmu, kenapa mereka tiada seorang pun yang tahu asal-usulmu?”

“Gampang saja alasannya… setiap murid Kaypang yang pernah kukompres keterangannya, mereka takkan bisa membocorkan rahasia pribadiku sedikit pun juga.”

“Agaknya kau sudah pengalaman dan cukup tenaga melakukan pembunuhan.”

“Kalau aku tidak bunuh mereka, jiwaku pun akan dibunuh. Memang membunuh orang bukan perbuatan yang patut dibuat senang, tapi toh lebih baik daripada jiwa sendiri dibunuh orang!”

“Dari mana kau tahu bahwa Lamkiong Ling hendak membunuhmu? Kenapa tidak langsung kau tanyakan persoalanmu tadi kepadanya?”

“Sejak melihatnya, aku mendapat firasat bahwa dia bukan orang baik-baik!”

“Itu hanya perasaanmu sendiri, alasan ini belum cukup kuat.”

“Bagiku, alasan ini sudah lebih dari cukup.” Mendadak matanya bersinar dan menatap Coh Liu-hiang nanar, katanya pula pelan-pelan, “Coba kau pikir, bila kau bertanya kepadanya, apa dia sudi memberitahu kepadamu?”

“Coba kau pikir… dengan alasan apa dia tidak mau memberi penjelasan kepadaku?”

“Jikalau dia melakukan sesuatu yang memalukan, sudah tentu ia tak mau menjelaskan.”

“Kalau begitu, jika dia tidak mau memberitahu kepadaku, bukankah malah membuktikan bahwa dia memang benar pernah melakukan sesuatu yang memalukan. Coba kau pikir, adakah orang pikun seperti itu dalam dunia ini?”

“Jikalau dia beritahu kepadamu, sudikah kau beritahu kepadaku?”

“Dengan alasan apa pula aku tidak mau beritahu kepadamu?”

“Maling romantis Coh Liu-hiang ternyata tidak menyebalkan seperti apa yang pernah kudengar,” tersimpul senyum dikulum pada raut mukanya yang kaku dingin, bak umpama sungai salju mulai mencair, seperti hawa nan dingin terhembus angin musim semi yang sejuk membuat perasaan orang hangat dan sejuk.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Kalau kau mau sering-sering tertawa-tawa, akan kau dapatkan banyak orang di dunia ini tidak menyebalkan seperti yang kau bayangkan.”

Seketika si pemuda menarik muka, katanya dingin, “Banyak orang yang menyebalkan dalam dunia ini, tiada sangkut-pautnya dengan diriku. Aku hanya tanya kau, sekarang kau pergi tanya kepada Lamkiong Ling, kapan kau akan memberitahukan kepadaku?”

“Besok pagi… asal bisa diketahui di mana aku bisa menemuimu…”

“Besok pagi, pergilah kau tamasya keliling Tay-bing-ouw, akan kau lihat seekor kuda hitam mulus. Asal kau berkata ‘Bawa aku menemui mutiara hitam’ tiga kali, lalu menarik kupingnya tiga kali pula, pasti dia akan mengantarmu menemui aku. Ingat, tidak lebih tidak kurang, hanya boleh tiga kali, jangan terlalu ringan, atau pun teramat berat.”

“Kalau tertarik empat kali dan rada berat bagaimana?”

“Mungkin dia akan antar kau terjun ke Tay-bing-ouw mencari mutiara di dalam danau,” mendadak ia melirik kepada Coh Liu-hiang sambil tersenyum, dengan lincah ia putar badan terus berlari pergi seenteng asap mengembang.

Coh Liu-hiang awasi bayangan orang menghilang di balik pepohonan, katanya seorang diri, “Mutiara hitam, mutiara hitam, orang sering bicara mutiara hitam adalah benda mustika yang membawa malapetaka bagi pemiliknya, namun semoga kau mutiara hitam ini membawa rejeki besar bagiku malah, sekarang aku benar-benar membutuhkan nasib baik.”

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi bintang-bintang di angkasa, sesaat lamanya dia menerawang, sinar bintang yang kelap kelip selalu mendatangkan ketenteraman bagi relung hatinya, otak jernih, perasaan tentram, biasanya asal dia rebah telentang di atas dek kepalanya, persoalan rumit apa pun, dengan mudah dapat dia bereskan.

Tapi sinar bintang malam ini agaknya tidak membawa banyak pengaruh untuk membantu dirinya. Sudah sekian lamanya ia peras otak, benaknya masih kalut, tak urung ia tersenyum geli, batinnya, “Memangnya sinar bintang-bintang di sini jauh berbeda dengan sinar bintang di lautan?”

Akhirnya ia berkeputusan untuk kembali ke Hiang-tong milik Kaypang itu.

Cahaya lampu dalam ruang pendopo masih terang benderang. Waktu Coh Liu-hiang meluncur dan melompat turun, ada orang yang menegurnya dari tempat gelap dengan kata-kata, “Naik ke langit masuk ke bumi lagi.” Terpaksa Coh Liu-hiang batuk-batuk keras di luar pintu, lalu bersuara lantang, “Apakah Lamkiong-heng ada di dalam?”

Dari ruang pendopo segera terdengar sahutan, “Silahkan masuk.”

Meja kursi yang terbalik sudah ditata rapi kembali, jendela yang dijebol rusak pun sudah diperbaiki, pecahan genteng di atas lantai pun sudah disapu bersih, ruang pendopo tetap dalam keadaan biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sini. Sebesar ini ruang pendopo ini, yang hadir hanya Lamkiong Ling seorang yang duduk bertengger menghadap meja yang sudah tersedia mangkok, sumpit dan beberapa guci arak.

Agaknya Lamkiong Ling memang sedang menunggu kedatangan Coh Liu-hiang. Melihat Coh Liu-hiang beranjak masuk, sedikit pun ia tidak heran, cuma lekas ia berdiri dan bersoja, sapanya, “Coh heng benar-benar menepati janji menagih undangan minum arakku ini. Untung siaute sudah menyiapkan beberapa guci arak bagus ini, kalau tidak kedatangan Coh-heng pasti akan kecewa.”

“Kau tahu aku bisa menemukan tempatmu ini? Sedikit pun kau tidak merasa heran?”

“Bila Coh-heng menagih undangan minum arak, tiada seorang pun di kolong langit ini yang bisa lari dari kewajiban ini. Seumpama Siaute sembunyi ke ujung langit dan dapat diketemukan oleh Coh-heng, tentunya tidak perlu dibuat heran.”

“Benar, hidungku ini biasanya memang punya penyakit, di mana ada arak bagus, sekali endus aku lantas bisa menemukannya, apalagi begini banyak Cu-yap-cing yang kugemari,” dengan tertawa besar ia menempati sebuah kursi. Pandangannya menyapu, lantas ia berkata pula, “Cuma sayang, ada arak, tiada hidangan lainnya, sehingga kurang selera. Tahukah kau, bagi aku si tukang gegares ini, boleh dikata sebagai suatu siksaan.”

“Masakan memang sudah ada, Siaute sudah menyediakan beberapa ekor ayam panggang yang gemuk-gemuk, sebatang paha babi dan beberapa macam masakan bakso dan ikan.”

“Memangnya semua masakanmu itu bisa menghilang? Kenapa tidak kulihat?”

“Tentu Coh-heng tidak melihatnya, karena tadi ada orang datang, semua masakan itu dibuang ke dalam selokan seluruhnya.”

Coh Liu-hiang mengedipkan matanya, katanya, “Apakah orang itu punya permusuhan atau dendam kesumat sedalam lautan denganku?”

“Dia tahu tamu yang Siaute tunggu adalah Coh-heng, maka dia lantas caci-maki diriku, katanya Siaute hanya menyediakan masakan murahan begini untuk menyambut kedatangan Coh-heng, apakah tidak menyiksa lidah si maling romantis.”

“Coh Liu-hiang tidak makan daging ayam, memangnya cuma minum angin barat laut?”

Terdengar seorang berkata dengan tertawa: “Duniawi memang serba susah, sehingga jiwa prikemanusiaan tinggal sisanya saja, kalau setiap hari makan daging babi dan ayam, lalu berapa banyak binatang berjiwa itu bisa tetap bertahan hidup.” Seseorang melayang ringan dari belakang pendopo sana, tidak tampak kotoran debu melekat di badannya, sampai pun senyuman yang menghiasi roman mukanya serasa bersih dan cemerlang, dia bukan lain adalah Biau-ceng Bu-Hoa.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Kiranya kau. Hwesio gundul seperti kau ini tidak kenal barang berjiwa, memangnya kau menghendaki aku jadi Hwesio seperti kau? Apalagi seumpama aku jadi Hwesio, tetap aku akan gegares anjing dan celeng, begitu melihat ikan dan daging tentu menetes air liurku.”

“Daging dan barang berjiwa adalah makanan orang-orang kotor, memangnya kau tidak ingin ganti selera?”

Coh Liu-hiang girang, katanya: “Masakah kau sudah turun ke dapur?”

“Main harpa harus ada orang yang tahu musik, demikian juga hidangan lezat harus disuguhkan kepada tukang makan yang tahu membedakan rasa. Jika bukan demi kau yang sejak kecil sudah bisa membedakan baik buruk sesuatu rasa hidangan, buat apa Pinceng harus kena asap dan kotor oleh debu?”

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: “Ini memang aneh, dari mana pun Bu Hoa Taysu keluar, kelihatannya sepuluh kali lipat lebih bersih dariku, agaknya kau memang serba suci dan bersih!” lalu ia menuang tiga cangkir arak penuh, katanya sambil angkat cangkir: “Untung arak adalah minuman paling murni dan suci, kalau sampai arak pun Taysu tidak mau minum, buat apa pula arti arak suguhamnu ini?”

Kata Coh Liu-hiang kepada Bu Hoa sambil tertawa: “Jikalau tiga orang minum arak bersama, cuma kau seorang yang tidak mabuk, baru aku betul-betul kagum kepadamu!”

Takaran minum ketiga orang ini memang sama mengejutkan. Kalau ada orang keempat hadir di antara mereka, tentulah orang itu akan mengira guci besar itu berisi air jernih dan bukan arak. Dua guci sebesar itu agaknya habis ditenggak bergantian oleh mereka bertiga, namun sedikit pun tidak berubah rona muka mereka. Satu sama lain saling loloh dan seperti berlomba saja tanpa pakai juri.

Mendadak berkata Coh Liu hiang: “Konon di kalangan Kang-ouw ada seseorang yang takaran minum araknya dikatakan tiada tandingan di seluruh jagat, minum ribuan cangkir tanpa mabuk. Pada suatu hari dia minum tiga ratus cawan Ji-wo-thay Kwan-gwa, ternyata masih mampu berdiri dan berjalan pulang.”

“O, apa ada orang demikian? Siapa dia?” tanya Lamkiong Ling.

“Si raja gurun pasir, Ca Bok-hap.”

Lamkiong Ling hanya tertawa besar, katanya: “Dikatakan tiga ratus cawan, sebetulnya kalau bisa minum sampai jumlah ini, sudah cukup hebat. Setiap penggemar arak di kolong langit ini, tiada seorang pun yang tidak suka mengagulkan takaran minumnya sendiri. Menurut pandangan Siaute, belum tentu dia bisa lebih unggul minum lebih banyak dari kita bertiga.”

“Pernahkah kau melihatnya? Pernahkah kau bersamanya dalam perjamuan?” tanya Coh Liu-hiang dengan tatapan tajam.

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: “Sayang Siaute belum pernah melihatnya, kalau tidak ingin benar aku mengadu kekuatan minum sama dia.”

Coh Liu-hiang mengelus hidungnya, katanya menggumam: “Kesempatan itu mungkin sudah tiada lagi.”

“Asal dia belum mati, kelak pasti masih ada kesempatan.”

Coh Liu-hiang meletakkan cangkir araknya, katanya sepatah demi sepatah: “Siapa bilang dia belum mati?”

“Hah, jadi dia sudah mati?” seru Lamkiong Ling terbelalak. “Kapan dia mati? Kenapa tiada orang-orang Kangouw yang tahu?”

“Dari mana pula kau tahu bila orang-orang Kangouw tiada yang tahu berita kematiannya?”

Bu Hoa tersenyum, selanya: “Kaypang paling cepat dan gampang menyadap berita, kalau orang Kangouw ada yang tahu akan kabar ini, Pangcu dari Kaypang masakah tidak bisa tahu juga?”

“Benar, memang tiada orang lain yang tahu akan berita ini, karena aku sudah menyembunyikan jenasahnya, sengaja kurahasiakan supaya orang lain tidak tahu akan berita kematiannya.”

“Kenapa?” tanya Lamkiong Ling dengan mata melotot.

Berkilat mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Pembunuhnya sengaja mengatur rencana dan berusaha mengelabui orang, tujuannya hendak membuat orang-orang Kangouw sama menyangka mereka saling bunuh sendiri dan gugur bersama. Jikalau tidak kusembunyikan jenasah mereka dan berita ini sampai bocor, mungkin si pembunuh lebih enak ongkang-ongkang kaki menggendong tangan, kenapa aku harus membiarkan dia hidup tenang dan tenteram?”

Lamkiong Ling manggut-manggut: “Benar, tindakan Coh-heng membuat sanak kadang atau orang-orang seperguruan mereka tiada yang tahu bahwa mereka sudah mati, maka tentunya mereka berusaha mati-matian untuk menyelidiki jejak orang-orang itu, dengan sendirinya si pembunuh itu pun jangan harap bisa melewatkan kehidupannya dengan tenang dan aman.”

Bu-Hoa tersenyum, selanya pula: “Sudah sering Pinceng bilang, bila penjahat kebentur maling romantis, tentulah semasa hidupnya dulu sudah keliwat takaran dosa-dosanya.”
Kata Coh-Lie hiang menatap Lamkiong Ling, katanya, “Sudikah kau bantu aku mengejar si pembunuh itu?”

“Coh-heng jangan lupa,” ujar Lamkiong Ling. “Murid-murid Kaypang kami sudah biasa turut campur urusan orang, memang tidak setenar maling romantis dalam hal ini, tapi kukira terpaut tidak banyak.”

“Kalau demikian sukalah kau beri tahu kepadaku, di mana sekarang beradanya isteri Jin-lopangcu?”

Lamkiong Ling melengak heran, tanyanya, “Adapah Jin-hujin ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini?”

“Seluk beluk persoalan ini, kelak kau pasti akan tahu, sekarang cukup asal kau beritahu di mana Jin-hujin berada, berarti kau sudah bantu mengatasi kesulitanku.” Matanya menatap tajam kepada Lamkiong Ling, lalu ia meneruskan sambil tertawa besar, “Kalau kau tidak sudi memberitahu, mungkin aku akan menganggap kau menyembunyikan si pembunuh. Jikalau sampai aku cerewet di luaran, kau Kaypang pangcu ini pun mungkin akan ketiban kesulitan.”

Kata Lamkiong Ling menghela nafas, “Sejak Jin-lopangcu wafat, Jin-hujin ingin mensucikan diri sebagai murid Kaypang, sebetulnya Siaute tidak bisa membawa orang luar membikin kaget dan mengganggu ketenangannya.” Rada merandek, ia pandang Coh Liu-hiang dengan tertawa, katanya pula, “Tapi terhadap orang lain Siaute tidak takut, berhadapan dengan Coh-heng aku jadi kewalahan!”

“Jadi kau sudi menerangkan dan menunjukkan tempatnya?” Coh Liu-hiang menegas.

“Tuduhan menyembunyikan si pembunuh, mana Siaute berani memikulnya?”

“Di mana Jin-hujin sekarang?”

“Tempat tinggal Jin-hujin amat rahasia, orang lain takkan mudah menemukannya. Kalau Coh-heng mau menghabiskan sisa arak ini, biar Siaute membawamu ke sana. Bagaimana?”

“Kalau kau hendak mempersulit dia, seharusnya mencari akal lain. Suruh dia minum arak, bukankah kebetulan malah bagi dirinya,” sela Bu Hoa tertawa.

“Memang Bu Hoa lebih tahu akan kesenangan diriku,” seru Coh Liu-hiang tertawa besar, lalu ia angkat guci serta ditenggaknya arak masuk ke dalam mulutnya sampai habis, sedikit pun air mukanya tidak berubah, katanya tertawa pula, “Sekarang boleh berangkat?”

Sedikit ragu-ragu, berkata Lamkiong Ling, “Entah sukakah Coh-heng tunggu lagi kira-kira satu jam? Siaute masih ada urusan dalam Pang kita.”

Coh Liu-hiang berpikir sebentar, tanyanya, “Tempat tujuan kita itu, bisakah ditempuh dua hari pulang pergi?”

“Dua hari jauh berkecukupan!”

Coh Liu-hiang memandang keluar jendela, melihat cuaca, lalu katanya, “Baiklah, satu jam kemudian aku datang lagi,” ia bersihkan mulutnya dengan lengan baju terus melangkah tinggal pergi, berbareng tangannya menyambar cangkir arak di hadapan Bu Hoa, terdengar gelak tawanya berkumandang di luar jendela, serunya, “Bu Hoa suka masakan, Lamkiong senang arak, datang gegares, pergi setelah kenyang. Begitulah kehidupan manusia, apa pula yang dikejarnya, tidak cukup nasi berkelebihan, hidup senang berfoya-foya.”

Sampai kata-katanya terakhir, Coh Liu-hiang sudah pergi jauh, cangkir arak tadi tiba-tiba melayang lambat dari luar dan tepat jatuh di depan Bu Hoa. Araknya sudah habis, namun di dalamnya terisi sebuah benda, itulah mainan patung Buddha yang tergantung di tali sutra di pinggang Bu Hoa.

“Coh Liu-hiang hebat sekali gerakan tangannya,” seru Lamkiong Ling ternganga.

Bu Hoa sebaliknya menghela nafas, katanya pelan-pelan, “Jikalau bukan hanya benda yang tidak berarti ini, masakah pinceng biarkan dia sembarangan ambil. Jikalau dia suka menghindari kekerasan, jangan suka mengagulkan diri, mungkin hidupnya akan sampai hari tua!”

Kabut tebal membuat pemandangan remang-remang di permukaan Tay-bing ouw.

Lama juga Coh Liu-hiang mondar-mandir di sekeliling Tay-bing ouw. Tiba-tiba didengarnya suara ringkik kuda, lalu didengarnya pula derap lari kuda mendatangi, kini jelas keadaan seekor kuda sedang lari mendatangi menyusuri pinggir danau. Meski kabut tebal dan remang-remang, namun bulu kuda yang hitam mengkilap kelihatan nyata.

“Kuda, oh kuda.” Coh Liu-hiang memapak ke sana. “Sayang kau sudah milik orang lain, kalau tidak sungguh aku merasa berat membiarkan orang lain naik di punggungmu.”

Seperti mengerti maksud kata-katanya, kuda hitam itu manggut-manggut.

Lalu ia berbisik di pinggir telinganya dan berkata, “Bawa aku menemui Mutiara Hitam,” tiga kali, lalu menarik kuping kirinya tiga kali pula. Orang lain mungkin tak sabar lagi akan menariknya empat kali dengan keras, namun Coh Liu-hiang berpendapat bahwasanya seorang manusia tidak pantas berbuat kasar terhadap binatang, kecuali orang itu sendiri hampir sama dengan si binatang itu.

Betul juga, segera kuda hitam itu berlari cepat ke depan membawa jalan. Coh Liu-hiang tidak naik ke punggungnya. Dari belakang ia mengawasi gerak-gerik si kuda, terasa jauh lebih menyenangkan daripada ia sendiri naik di punggungnya.

Di pinggir danau yang lebat ditumbuhi pohon dengan dahan-dahannya yang menjuntai turun itu, tersembunyi sebuah sampan. Pemuda baju hitam yang menamakan diri Mutiara Hitam itu berada di atas sampan, agaknya ia sedang melamun menghadapi permukaan danau yang sejuk dan permai.

Lahirnya kelihatan dia begitu kaku dingin, apa pun yang terjadi dalam dunia ini seolah-olah tiada masuk perhatiannya, bahwasanya hatinya jauh lebih berat dibebani berbagai pikiran dan kesulitan.

Coh Liu-hiang batuk-batuk, lalu menegur sambil tertawa, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang pikirkan kau,” sahutnya tanpa berpaling. Mendadak ia berjingkrak bangkit berhadapan dengan Coh Liu-hiang, serunya keras, “Ingin aku tahu, apa yang berhasil kau tanyakan?”

“Belum berhasil kutanyakan.”

“Memang aku tahu, dia pasti takkan menerangkan kepadamu.”

“Walau tidak menerangkan, tapi dia hendak ajak aku menemuinya.”

“Bagus, kalau kau berangkat, aku akan mengintil di kejauhan.”

“Kalau kau ingin mengintil Lamkiong Ling tanpa jejakmu diketahui olehnya, ginkangmu masih jauh ketinggalan.”

“Seumpama konangan, memangnya dia bisa berbuat apa terhadapmu?”

“Memang tidak apa-apa, cuma jangan harap kau bisa menemukan Jin-hujin pula.”

Hek-tin-ciu (Mutiara Hitam) berpikir sebentar, tanyanya, “Berapa lama kau pergi?”

“Dua hari.”

“Baik, dua hari kemudian aku tetap menantimu di tempat ini.”

“Dua hari kemudian, menjelang magrib, akan datang seorang gadis berpakaian warna luntur ke Tay-bing-ouw ini. Bila saat itu aku belum tiba, harap kau beritahu kepadanya, suruh dia menungguku!”

“Ada janji dengan kekasih menjelang magrib, ternyata maling romantis memang serba romantis, sayang aku tidak kenal siapa perempuan itu, cara bagaimana aku harus wakilkan kau memberitahu kepadanya?”

“Dia she Soh, sekali kau bertemu dengan dia pasti akan tahu. Memang tidak sedikit orang yang tamasya di Tay-bing-ouw, namun jarang ada anak perempuan seperti dia itu.”

“Dia cantik sekali?”

“Hanya cantik saja masih kurang untuk melukiskan dirinya!”

“Siapa sih sebenarnya, pernah apamu?”

“Apa pertanyaanmu tidak keterlaluan?”

Memicing mata Mutiara Hitam, katanya dingin, “Baik, pergilah kau… tapi kalau dia tidak mau tunggu kau bagaimana?”

“Kalau dia tidak mau tunggu aku, biar aku mampus tenggelam di Tay-bing-ouw!”

“Agaknya kau amat yakin.”

“Kalau tidak yakin, yang masih dimiliki Coh Liu-hiang mungkin hanya mayat busuknya saja,” dia melangkah beberapa tindak, lalu tiba-tiba berpaling dan bertanya, “Apa kau tidak merasa nama Hek-tin-cu mu ini tidak seperti nama perempuan?”

“Kalau benar aku ini seorang perempuan, mungkin sudah kubunuh kau!”

“Kalau kau benar seorang perempuan, tentulah sikapmu tidak segalak ini terhadapku.”

* * *

Beberapa li di sebelah tenggara Ki-poh terdapat sebuah gunung bernama Ni-san. Gunung ini tidak begitu tinggi, namun pemandangan alamnya teramat permai dan indah, segar dipandang mata. Belum lama Coh Liu-hiang beranjak di atas gunung, ia merasa dirinya seolah-olah berada di awang-awang.

Mendadak Coh Liu-hiang berkata, “Berapa lama sudah kita meninggalkan Ki-lam?”

“Kan baru sehari, masakah kau sudah lupa?” sahut Lamkiong Ling.

“Walau baru saja aku tiba di sini, kurasa segala tetek-bengek di kota Kilam itu amat membosankan, jikalau bisa menetap di sini selamanya, orang kasar seperti aku ini mungkin bakal jadi seorang budiman!”

Sesaat lamanya Lamkiong Ling berdiam diri, katanya menghela nafas, “Semasa hidup Jin-lopangcu, selalu dia ingin mengasingkan diri di tempat ini, sayang sekali beliau selalu terlibat dalam kesibukan Pang kita, sehingga cita-citanya baru terlaksana setelah beliau wafat!”

“Kau amat kangen kepada beliau?”

“Beliau adalah orang yang paling bajik, bijaksana dan penuh cinta kasih sesama manusia. Aku… aku adalah anak yatim piatu. Tanpa beliau, takkan ada hari ini bagiku!”

“Cukup lama aku kenal kau, baru pertama kali kudengar kata-katamu ini.”

“Kehidupan di kalangan Kangouw, yang kuat hidup, yang lemah mampus. tak pernah berhenti perebutan antara menang dan kalah ini, ada kalanya tiada waktu aku memikirkan sesuatu, tak berani pula memikirkannya.”

“Ya, kalau terlalu banyak memikirkan sesuatu, hati akan jadi lemah, dan orang yang berwatak lemah memang takkan hidup lama di Kangouw.”

Lamkiong Ling hanya tertawa-tawa tanpa bicara lagi. Tampak sebuah jalanan sempit berliku-liku merambat di samping gunung dan naik ke puncak, sebelah dinding gunung yang terjal tinggi, sebelahnya lagi adalah jurang ratusan tombak dalamnya. Pemandangan di sini tidak kalah indah elok, namun keadaannya justru teramat berbahaya.

“Apakah Jin-hujin tinggal di puncak gunung?”

“Jin-hujin cantik rupawan tiada bandingan dalam jagat ini, masakah dia sudi menetap di tempat yang lebih rendah dari orang-orang lain?”

“Selamanya aku jarang dibuat tegang. Setiap kali mendengar cerita romantis tentang Jin-hujin, terpikir pula segera aku sendiri bakal berhadapan dengan beliau, jantungku ini serasa hampir melompat keluar!”

Tiba-tiba terdengar suara aliran air dari kejauhan, di sebelah depan menghadang sebuah jurang sempit, di bawah jurang adalah sebuah aliran sungai yang mengalir deras, bibir kedua jurang terpaut sepuluhan tombak, satu sama lain hanya dihubungkan oleh sebuah balok kayu yang tergandeng oleh alam.

Di atas balok kayu yang cuma dua kaki lebarnya itu, duduk bersila seseorang, pakaiannya melambai-lambai tertiup angin, kalau terjatuh ke bawah pasti badan hancur lebur, namun orang ini memejamkan mata seolah-olah sedang tidur nyenyak.

Dengan duduk bersila, dari bawah pakaiannya menonjol keluar ujung kakinya, namun sepasang bakiak justru dia jajar di hadapannya, di atas bakiak ini terletak pula sebatang pedang aneh yang bersarung warna hitam.

Setelah dekat, baru Coh Liu-hiang jelas melihat raut mukanya yang kekuning-kuningan, beralis tebal berhidung elang, walau kedua matanya terpejam, namun terasa hawa membunuh yang tebal merasuk sanubari orang yang melihatnya. Deru angin yang keras menyingkap dan menarikan jubah besar kedodoran yang dipakainya, di depan dadanya tampak disulam dengan benang sutra emas delapan huruf yang berbunyi, ‘Pedang peranti pembunuh, siapa melawan pasti dia mampus!’

Coh Liu-hiang mengkirik dibuatnya, katanya perlahan sambil mengawasi Lamkiong Ling, “Siapa sih dia?”

Lamkiong Ling menggeleng-gelengkan kepala.

“Apa di seberang sana tempat tinggal Jin hujin?”

Lamkiong Ling manggut-manggut.

Coh Liu-hiang beranjak maju sambil menjura, katanya, “Sahabat ini sukalah memberi jalan sebentar?”

Orang itu tetap duduk tanpa bergeming, seolah-olah tidak mendengar suaranya.

Coh Liu-hiang tarik suara, katanya lebih keras, “Sahabat ini, bolehkah minta jalan, kami hendak ke seberang sana?” Suaranya lantang bergema di alam pegunungan. Tapi orang itu tetap diam saja tanpa bergerak.

Coh Liu-hiang meringis kepada Lamkiong Ling, katanya, “Sayang saudara ini tidak mau buka mulut, seolah-olah dia mau bilang, ‘Gunung ini aku yang membuka, pohon ini aku yang tanam. Kalau ingin lewat jalan ini, tinggalkan uang sewamu’,” sengaja ia ucapkan kata-katanya lebih keras untuk memancing reaksi orang itu.

Tiba-tiba kelopak mata orang itu bergerak, matanya sedikit terbuka seperti sebuah garis lembut saja. Coh Liu-hiang yang ditatapnya merasa seperti diiris oleh ujung pisau, sungguh hatinya amat terkejut.

Terdengar orang itu berkata pelan-pelan, “Betapa besar dunia ini, ke mana saja boleh pergi, kenapa kalian harus lewat jalan sini?” kata-katanya amat kalem dan pelan, setiap patah katanya amat jelas, namun kedengarannya kaku dan menusuk kuping, seperti pisau tajam yang sedang menyisik bambu.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, serunya bertanya, “Nama besar tuan ini?”

“Thian-hong-cap-si-long!”

“Apakah tuan bukan orang kelahiran Tionggoan?”

“Rumahku berada di Ih-ho-koh di Tang-ni!”

Berubah air muka Coh Liu-hiang saking kagetnya, tanyanya, “Jadi kaukah Jin-hiap dari Ih-ho itu?”

Thian-hong-cap-si-long pejamkan mata, tak bersuara lagi. Dingin perasaan Coh Liu-hiang membayangkan musuh misterius yang menghilang di tengah kabut di pinggir danau tempo hari, batinnya, “Mungkinkah orang itu adalah dia ini?”

Dalam pada itu Lamkiong Ling pun tampil ke muka, seraya menjura, “Ih-ho Jin-hiap, bagai naga sakti tiada tandingan. Dua puluhan tahun yang lalu, yang pernah muncul dan berkelana di daerah Bing-ciat itu, apakah bukan Cianpwe?”

“Tidak salah,” sahut Thian-hong-cap-si-long.

“Untuk kedua kalinya Cianpwee putar balik pula, sehingga kami angkatan muda bisa menyaksikan kepandaian silat tunggal dari Ih-ho, sungguh Wanpwe amat beruntung, entah sudah berapa lama Cianpwe menyeberang lautan datang ke mari pula?”

Berkata Thian-hong-cap-si-long kalem, “Sepuluh hari yang lalu kutinggalkan perahu mendarat, lima hari yang lalu aku sudah tiba di sini.”

“Aneh,” sela Coh Liu-hiang, “Agaknya Cayhe pernah melihat Cianpwe di Tay-bing-ouw?”

Thian-hong-cap-si-long menyeringai dingin, jengeknya : “Tentulah matamu itu picak.”

Coh Liu-hiang ingin bicara lagi, lekas Lamkiong Ling mengedipkan mata padanya, katanya tertawa, “Sebetulnya Wanpwee ingin mohon petunjuk dan pengajaran Cianpwee, apa boleh buat kami sedang mengurus persoalan penting, semoga Cianpwe sudi memberi jalan sebentar, sekembalinya nanti pasti Wanpwee mohon pengajaran.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: