Kumpulan Cerita Silat

23/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (19)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:20 am

Ilmu Ulat Sutera (19)
Oleh Huang Ying

Anak muda itu melirik Tok-ku Hong sekilas. Tapi gadis itu memalingkan wajahnya. Wan Fei-yang menarik napas panjang. Tubuhnya berkelebat beberapa kali. Gerakannya seperti hantu gentayangan. Tahu-tahu serangan Kongsun Hong sudah mengenai tempat yang kosong.

Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak.

“Akhirnya ekor musangmu terlihat juga!” Sepasang Jit-goat-lun menari-nari ke atas dan ke bawah. Tentu saja bukan benar-benar menari namun gerakan senjatanya yang hampir mirip dengan tarian. Berturut-turut dia menyerang Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak mencegah. Dia hanya duduk tenang menyaksikan jalannya pertarungan. Wan Fei-yang menjalankan langkah barisan Jit-sing. Dia menerobos ke dalam cahaya Jit-goat-lun milik Kongsun Hong. Dengan gencar dan berturut-turut dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Kongsun Hong sebanyak empat puluh sembilan kali. Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara. Ibarat seekor naga sakti meluncur ke arah Kongsun Hong dan menghantam tepat pada bahu anak muda tersebut.

“Plak!”, tubuh Kongsun Hong tergetar dan mencelat mundur sejauh setengah depa. Wajahnya merah padam. Meskipun dia tidak terluka parah, tapi hantaman telapak tangan Wan Fei-yang terasa nyeri juga. Dia menahan kakinya agar jangan terhuyung-huyung. Kemudian dia bersiap menyerang kembali. Belum sempat dia menerjang, Tok-ku Hong yang sejak tadi berdiri di sudut sudah mendahuluinya.

Sepasang goloknya sudah dikeluarkan. Tangannya menuding Wan Fei-yang. “Siau Yang …. Wan Fei-yang! Aku tidak menyangka kalau kau adalah seorang manusia yang rendah. Kau sengaja memperalat aku agar dapat menyelinap ke dalam Bu-ti-bun!”

Matanya sudah mengembang air. Melihat tampang gadis itu, Wan Fei-yang terharu sekali. Dia menatapnya dengan pandangan bersalah. Kemudian dia menarik napas panjang. “Sebetulnya aku mempunyai kesulitan yang tidak dapat kujelaskan ….”

“Tidak perlu banyak bicara! Lihat golok!” teriak gadis itu. Belum lagi goloknya bergerak, air matanya sudah jatuh bercucuran.

Dalam seumur hidupnya, baru kali ini dia berniat menolong orang setulus hati. Siapa tahu Wan Fei-yang malah memperalatnya. Bagaimana dia tidak menjadi sedih dan sakit hati? Hati Wan Fei-yang sendiri semakin tertekan. Akhirnya sepasang golok Tok-ku Hong mulai menyerang. Wan Fei-yang hanya menghindar terus. Dia sama sekali tidak membalas. Tindakannya malah seperti orang yang terpaksa dan apa boleh buat.

Meskipun gerakan golok Tok-ku Hong cukup cepat, tapi dalam seratus delapan kali serangan, tidak sekali pun dia sanggup menyentuh tubuh Wan Fei-yang. Tentu saja dia sama sekali tidak mengira bahwa Wan Fei-yang terus-terusan mengalah kepadanya. Gadis itu masih menyerang dengan gencar.

Tok-ku Bu-ti melihat semua itu dengan jelas. “Berhenti!” bentaknya lantang.

Tok-ku Hong menarik kembali goloknya. “Tia ….?”

Tok-ku Bu-ti mengibaskan tangannya. “Tidakkah kau sadari bahwa sejak tadi dia hanya mengalah terus? Kau memang bukan tandingannya!”

Tok-ku Bu-ti memalingkan wajahnya menghadap Wan Fei-yang. “Kungfu bagus!” pujinya.

Wan Fei-yang sedang memandang ke arah Tok-ku Hong. Dia tidak menyahut.

“Aku akan memberimu waktu sepeminuman teh untuk beristirahat. Jangan sampai kau mengatakan bahwa kami menghadapimu dengan cara bergilir supaya tenaga dalammu terkuras habis!” kata Tok-ku Bu-ti kembali.

“Tok-ku Bu-ti memang tidak malu menjadi Buncu sebuah perguruan yang terkemuka,” Wan Fei-yang tertawa datar. “Aku tidak perlu beristirahat, kau boleh turun tangan sekarang juga!”

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

“Berdasarkan kedudukanku sebagai seorang Buncu, seandainya aku dapat mengalahkanmu, orang-orang dunia Kangouw pasti akan mengatakan aku yang tua menghina yang muda.”

“Suhu, bagaimanapun kau harus memberi pelajaran pahit kepadanya!” teriak Kongsun Hong yang takut Tok-ku Bu-ti terlalu gengsi untuk menghadapi Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. “Aku mempunyai perhitungan sendiri.” Dia menoleh kembali kepada Wan Fei-yang. “Baiklah …. Aku akan menguji sampai sepuluh jurus saja. Seandainya sanggup menerima sepuluh jurus seranganku, kau boleh pergi dari tempat ini sesuka hatimu. Urusan hari ini tidak akan kami perpanjang lagi!” katanya tegas.

Wan Fei-yang tertegun sesaat. “Aku terima syarat yang kau ajukan,” sahutnya kemudian.

“Aku tidak pernah mengingkar janji!” teriak Tok-ku Bu-ti. “Kongsun-ji, kau yang menghitung!”

Kongsun Hong segera mengiakan.

“Satu!” teriaknya lantang.

Tubuh Tok-ku Bu-ti mencelat dari atas kursi dan melayang di udara. Gerakannya demikian cepat laksana seekor burung rajawali yang mengincar mangsanya. Tiba-tiba telapak tangannya terulur dan meluncur ke arah Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang segera mengembangkan sepasang telapak tangannya, kakinya bergerak maju dan kedua pasang telapak pun saling berbenturan.

“Blam!”, tubuh Tok-ku Bu-ti berjungkir balik kemudian melayang turun dengan mantap. Wan Fei-yang tergetar mundur setengah langkah. Di atas tanah tempatnya berdiri tadi terlihat dua bekas telapak kaki yang melesak ke dalam.

“Ternyata kau memang bakat yang langka!” mata Tok-ku Bu-ti bersinar tajam. “Hati-hati!” teriaknya sambil kembali menyerang. Telapak tangannya sudah mengancam kembali.

Wan Fei-yang menggeser tubuhnya secepat kilat. Pergelangan tangannya memutar. Tangannya sudah menggenggam sebatang toya, sedangkan tubuh Tok-ku Bu-ti meluncur balik dan mengambil tongkat kepala naga yang letak di samping kursinya tadi.

Menggunakan kesempatan itu, tubuh dan toya Wan Fei-yang meluncur dalam waktu yang bersamaan. Sekaligus dia mengerahkan tiga belas serangan, semuanya mengancam tenggorokan Tok-ku Bu-ti. Tidak syak lagi, ilmu yang digunakan adalah Sou-hou-cang yang dipelajari juga oleh Fu Giok-su.

“Bagus! Sou-hou-cang!” seru Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

Tiga kali berturut-turut dalam jangka waktu tiga puluh tahun dia pernah mengalahkan Ci-siong Tojin yang merupakan guru Wan Fei-yang. Tentu saja dia tidak memandang sebelah mata pun kepada bocah yang masih bau ingus itu. Tongkat kepala naganya bergerak gencar. Wan Fei-yang tentu saja tidak ingin mati konyol di tempat itu. Dia mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan toya di tangan, dia memainkan Bu-tong-liok-kiat. Hal inilah yang tidak terduga oleh Tok-ku Bu-ti. Bocah ini rupanya seorang yang mempunyai bakat besar dalam mempelajari ilmu silat. Pada suatu hari kelak, apabila dia masih mempunyai kesempatan hidup, belum mencapai usia sebaya dengan Ci-siong Tojin, ilmunya pasti sudah jauh lebih tinggi daripada almarhum Ciangbunjin Bu-tong-pay tersebut.

Meskipun dengan kalang kabut dan rada kewalahan, Wan Fei-yang masih bisa menghindar beberapa serangan Tok-ku Bu-ti. Sedangkan hitungan Kongsun Hong sudah mencapai angka sembilan. Kali ini senjata Wan Fei-yang terdesak oleh Tok-ku Bu-ti sampai senjatanya terlepas dari tangan. Namun dia tidak mengalami luka apa-apa.

Tok-ku Hong yang sudah berdiri dan menyaksikan jalannya pertarungan sampai melongo, apalagi Kongsun Hong dan para anggota Bu-ti-bun lainnya. Meskipun senjatanya sudah terlepas dari tangan, penampilan Wan Fei-yang masih demikian tenang. Dia merangkapkan sepasang telapak tangannya untuk melindungi bagian dada. “Tinggal satu jurus lagi,” katanya datar.

Wajah Tok-ku Bu-ti beku seperti balok es.

“Aku tahu!” dia melemparkan tongkat kepala naganya di atas tanah. Senyumnya sudah sirna sejak tadi. Wajahnya tampak kelam. Ilmu silat Wan Fei-yang benar-benar di luar dugaannya.

“Aku tidak menyangka kau sudah menguasai Bu-tong-liok-kiat dengan sempurna. Benar-benar hal yang mengagumkan!” katanya serius.

“Aku yang rendah masih belum diberi kesempatan untuk melihat Mit-kip-sin-kang Buncu yang terkenal itu,” sahut Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. “Apakah kau sudah mempelajari ilmu pusaka Bu-tong-pay yang ketujuh, Tian-can-kiat?” tanyanya menyelidik.

“Belum,” sahut Wan Fei-yang tanpa sadar.

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. Justru sejak tadi dia merasa ragu apakah Wan Fei-yang sudah mempelajari ilmu Tian-can-kiat yang kesaktiannya menggetarkan dunia Kangouw.

“Belum mempelajari Tian-can-kiat, kau sudah berani menantang Mit-kip-sin-kangku?”

Wan Fei-yang menarik napas dalam-dalam. “Silakan!”

Tiba-tiba lengan baju Tok-ku Bu-ti menghempas-hempas meskipun tiada angin yang bertiup, kemudian berubah kaku seperti lempengan baja. Seiring dengan teriakan Kongsun Hong, “Sepuluh!” Tok-ku Bu-ti ibarat seekor naga yang mengamuk dan melesat ke tengah-tengah udara. Sepuluh jari tangannya berubah merah membara. Suaranya menderu-deru.

Wan Fei-yang segera terkurung oleh kibasan lengan baju Tok-ku Bu-ti. Sejak mempelajari Mit-kip-sin-kang, belum pernah ada orang yang dapat mengalahkannya. Bagaimana hatinya tidak besar. Sementara itu Wan Fei-yang sendiri hampir menyesal telah memancing Tok-ku Bu-ti mengerahkan ilmu yang satu itu. Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur. Sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti yang berwarna merah membara sudah di depan mata. Dengan nekat Wan Fei-yang mengembangkan sepasang telapak tangannya dan menyambut hantaman Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti.

Tok-ku Hong yang melihat jalannya pertarungan segera menjadi panik. Dia memang marah sekali. Tapi saat ini dia justru mengkhawatirkan keadaan Wan Fei-yang.

“Blammm!”, terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Tubuh Wan Fei-yang terbang ke udara dan jatuh sesudah menghantam pintu besi. Dia menggelinding di tanah sebanyak dua kali. Tangannya menopang berat tubuhnya dan berusaha berdiri. Wajahnya berubah menjadi merah padam. Itulah kehebatan Mit-kip-sin-kang. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Siapa pun dapat melihat bahwa dia sudah terluka oleh getaran tenaga Mit-kip-sin-kang Tok-ku Bu-ti. Sepasang Jit-goat-lun di tangan Kongsun Hong segera digetarkan menerjang ke depan.

“Biar aku yang menghabisinya!” teriak laki-laki itu penuh semangat.

Tok-ku Hong segera menghambur ke depan dan mengadang di depan tubuh Wan Fei-yang. “Tia ….!” panggilnya sendu.

Pada saat itu tubuh Tok-ku Bu-ti baru melayang kembali di tanah. Dia mengembuskan napas panjang. Ia lalu menoleh kepada Tok-ku Hong. “Kau ingin Tia melepaskannya?”

Tok-ku Hong mengangguk dengan kepala tertunduk. “Biar bagaimana, dia juga pernah menyelamatkan nyawa Hong-ji!”

“Suhu ….” Kongsun Hong segera memanggil.

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. “Di kaki gunung Bu-tong-san, kalau bukan karena dia yang menghalangi Kuan Tiong-liu, kau juga sudah menjadi mayat saat ini. Apakah kau sudah lupa?” sindirnya tajam.

Kongsun Hong tertegun, sementara itu kepala Tok-ku Bu-ti manggut-manggut berulang kali.

“Tidak salah. Jadi manusia, hal yang paling penting adalah jangan melupakan budi yang pernah dilepaskan oleh seseorang kepada kita!”

Mendengar kata-kata Tok-ku Bu-ti, Kongsun Hong tidak berani mengucapkan apa-apa lagi. Tok-ku Bu-ti mengibaskan lengan bajunya.

“Baik. Wan Fei-yang, pergilah!” kemudian ia menepuk tangannya satu kali.

Wan Fei-yang tidak berkata apa-apa. Dia membalikkan tubuhnya. Pintu besi itu pun segera terbentang lebar. Wan Fei-yang melangkahkan kakinya perlahan. Tampaknya dia akan terjungkal jatuh. Namun dia mempertahankan diri sekuatnya dan akhirnya dia berhasil juga menegakkan tubuhnya dan melangkah terus.

Tok-ku Hong bermaksud mengejar. Tapi tangannya ditarik oleh Tok-ku Bu-ti. Kongsun Hong seperti sedang merenungkan sesuatu.

“Suhu, sekarang saja ilmu bocah ini sudah sedemikian tinggi. Sebetulnya dia tidak boleh dilepaskan begitu saja!” dia langsung menggerakkan kakinya dengan maksud mengejar.

“Aku sudah bilang melepaskannya! Jangan membuat aku malu!” bentak Tok-ku Bu-ti.

Kongsun Hong segera menghentikan langkah kakinya. Namun dia masih merasa penasaran, “Mengapa tidak dibunuh ….?”

“Orang yang masih bisa menegakkan tubuhnya sambil berjalan setelah terkena ilmu Mit-kip-sin-kang sama sekali tidak banyak. Wan Fei-yang ini benar-benar tergolong laki-laki sejati. Aku suka orang yang keras hatinya seperti dia,” kata Tok-ku Bu-ti. Dia menarik napas panjang, “Dalam hal memilih murid, Bu-ti-bun memang kalah jauh dengan Bu-tong-pay.”

Wajah Kongsun Hong merah padam mendengar sindiran yang tajam itu. Tok-ku Bu-ti menarik napas panjang lagi, “Sayangnya ….”

Hati Tok-ku Hong tergetar.

“Tia, sayangnya apa?” desaknya segera.

“Dia menyambut pukulanku dengan kekerasan. Urat nadi tubuhnya sudah tergetar. Meskipun tidak sampai mati, tapi untuk selanjutnya dia sudah menjadi orang cacat. Seorang cacat yang tidak bisa ilmu silat lagi sama sekali, buat apa kita membunuh orang semacam dia?”

Mendengar keterangan Tok-ku Bu-ti, Kongsun Hong baru mengembangkan seulas senyuman di bibirnya. Sedangkan wajah Tok-ku Hong menjadi pucat seketika.

Seharusnya dia lebih jelas sifat ayahnya sendiri. Tidak mengancam ketenangannya di dunia Kangouw. Jadi inilah sebabnya dia membiarkan Wan Fei-yang tetap hidup di dunia ini.

*****

Wan Fei-yang melangkah perlahan, namun akhirnya dia berhasil juga keluar dari pintu Bu-ti-bun. Pintu itu masih tertutup rapat. Dia tidak punya tenaga lagi untuk mempertahankan diri. Segumpal darah segar muncrat dari mulutnya dan dia jatuh berlutut di atas tanah. Tepat pada saat itu, wajahnya sudah berubah sepucat lembaran kertas. Keringat sebesar-besar kacang kedelai menetes dari keningnya. Penderitaannya benar-benar tidak usah dikatakan lagi. Perut dan dadanya bagai dihunjam oleh berbagai senjata tajam.

Dengan susah payah dia mengeluarkan botol obat yang diberikan oleh si kerdil Sam-cun dari balik pakaiannya. Dia menuangkan beberapa butir di tangan lalu menelannya sekaligus. Setelah mengatur napas beberapa saat, dia memaksakan dirinya untuk berdiri dan melangkah perlahan. Kadang-kadang dia tersuruk jatuh kemudian bangun lagi. Dengan cara demikian, dia menuruni gunung tersebut.

Kalau biasanya dia hanya memerlukan waktu kurang dari satu kentungan untuk mencapai kota terdekat, maka sekarang dia terseret-seret hampir tiga kentungan baru akhirnya dapat mencapai sebuah penginapan di kota tersebut. Matahari sudah hampir tenggelam. Wan Fei-yang berjalan dengan tangan merambat di tembok rumah orang. Dia melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut dengan susah payah.

Walaupun seluruh tubuhnya kotor berlumuran tanah tapi bagaimanapun dia masih membawa uang yang cukup banyak. Di mana pun seseorang berada, uang memang bisa berkuasa atas segalanya. Seandainya saat itu Wan Fei-yang berpakaian perlente tapi tidak mempunyai uang, dia pasti tidak dilayani oleh pemilik penginapan. Maka dari itu, akhirnya Wan Fei-yang berhasil menyewa sebuah kamar.

Seorang pelayan merapikan dulu selimut dan menyediakan berbagai keperluannya kemudian baru meninggalkan kamar tersebut. Wan Fei-yang tidak dapat mempertahankan diri lagi, dia terjatuh di atas tempat tidur.

Sampai pagi hari kedua pelayan mengetuk pintu kamarnya. Tetap tidak terdengar sahutan. Dia memberanikan diri mendorong pintu dan masuk ke dalam. Dia melihat Wan Fei-yang terbaring di tempat tidur dengan darah yang masih mengalir di sudut bibirnya. Napasnya sudah lemah sekali.

Pemilik penginapan yang mendapat laporan dari sang pelayan cepat-cepat datang melihat keadaannya. Orang itu terkejut sekali. Dia tidak tahu apakah Wan Fei-yang masih dapat bertahan lebih lama, tapi kalau sampai tamu ini meninggal di penginapannya, tentu akan banyak masalah. Akhirnya dia mengambil keputusan.

Malam harinya dia menyuruh beberapa orang pelayan masuk ke kamar Wan Fei-yang secara diam-diam dan menggotong anak muda itu. Mereka membawanya ke tempat yang terpencil dan menggeletakkan tubuhnya dekat sebuah lorong kecil. Selama itu Wan Fei-yang tetap tidak sadarkan diri.

*****

Lorong kecil itu benar-benar sepi dan terpencil. Di sebelah kiri dan kanan banyak terdapat bangunan yang masih belum jadi. Wan Fei-yang digeletakkan oleh para pelayan penginapan di tempat tersebut. Seandainya dia tidak sadar sendiri, akibatnya benar-benar tidak dapat dibayangkan, karena pada saat itu hujan turun dari langit.

Angin tidak seberapa kencang. Hujan pun tidak deras sekali. Suara curahannya yang bagai irama tak menentu memecahkan keheningan malam. Seluruh tanah telah basah tergenang air hujan. Betul-betul di pinggir lorong juga seperti tercuci bersih. Tubuh Wan Fei-yang juga sudah basah kuyup.

Di bawah terpaan hujan angin itulah Wan Fei-yang akhirnya sadarkan diri. Pikirannya mulai terang sedikit demi sedikit. Melihat keadaannya sendiri pada waktu itu, dia segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Rasa nyeri dalam perut dan dadanya masih belum hilang. Dia merasa heran. Apakah obat pemberian Sam-cun yang menurutnya dapat menyembuhkan luka dalam tidak manjur lagi? Atau dia yang meminumnya terlalu sedikit? Namun perlahan-lahan dia mulai mengerti. Lukanya beda dengan luka biasa. Dia terhantam pukulan Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti. Tentu bukan sembarang obat yang bisa menyembuhkan luka semacam itu.

Bibir Wan Fei-yang menyunggingkan seulas senyum yang pahit. Apakah dia akan mati sebentar lagi? Dia tidak takut mati. Tapi bayangan kematian Ci-siong Tojin yang ternyata ayah kandungnya berputaran di benaknya. Tidak! Dia tidak boleh mati sebelum namanya tercuci bersih. Apabila dia mati begitu saja, sia-sialah jerih payah Suhu sekaligus ayahnya yang telah mendidiknya dengan segala cara. Oleh sebab itu Wan Fei-yang memberontak. Dia merangkak di bawah curahan hujan sambil menahan rasa nyeri. Perlahan-lahan dia maju. Bagai seekor binatang yang sedang merayap, akhirnya dapat juga dia keluar dari lorong kecil tersebut. Apa yang masih dimilikinya saat itu hanya setitik semangat untuk mengejar kehidupan. Masih begitu banyak urusan yang belum berhasil diselesaikan. Masih begitu banyak misteri yang belum sempat dipecahkan. Dia benar-benar tidak ingin mati sekarang ini.

Lorong itu tidak seberapa panjang, tapi dia memerlukan waktu nyalanya sebatang hio baru bisa mencapai ujungnya. Dengan berpegangan pada tembok, dia berusaha duduk. Tepat pada saat itu, seekor kuda dilarikan dengan cepat dari depan sana. Penunggangnya seorang pemuda gagah berpakaian putih. Siapa lagi kalau bukan Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pay.

Pandangan Wan Fei-yang sudah berkunang-kunang. Kuan Tiong-liu juga tidak menaruh perhatian. Kuda itu terus dipacu dengan kencang. Lumpur dan percikan tanah menciprat wajah Wan Fei-yang. Dia tidak peduli. Juga tidak punya tenaga untuk peduli lagi. Dengan bertumpu pada tembok rumah dia berdiri. Perlahan-lahan dia menyeret kakinya melangkah terus. Entah sudah berapa lama dan sudah berapa jauh dia berjalan dengan cara demikian. Akhirnya dia melihat setitik sinar.

Yang dilihatnya merupakan lentera yang tergantung di depan rumah. Cahayanya cukup terang. Empat orang pelayan sedang menjalankan perintah majikannya membagi-bagi nasi dan bubur kepada para pengemis dan fakir miskin. Tentunya pemilik rumah ini seorang yang sangat dermawan, pikir Wan Fei-yang dalam hati.

Membagi-bagi makanan kepada para pengemis dan fakir miskin adalah perbuatan mulia. Kebaikan hati pemilik rumah ini tampaknya tidak usah diragukan lagi. Orang yang datang juga cukup banyak, namun setelah mendapat bagian masing-masing, akhirnya mereka meninggalkan tempat itu satu per satu.

Keempat pelayan itu membereskan sisa nasi dan bubur yang masih cukup banyak. Pada saat itulah mereka melihat Wan Fei-yang menumpu pada tembok dan melangkah dengan susah payah. Tampaknya anak muda itu mendatangi ke arah mereka.

Wan Fei-yang justru mencium harum nasi dan bubur. Dia sudah pingsan selama dua hari. Belum lagi diterpa hujan dan angin. Perutnya tentu sudah kelaparan. Tanpa sadar dia terus maju mengikuti kata hatinya. Secara samar-samar dia dapat menangkap suara panggilan para pelayan itu yang memintanya mendekat untuk menerima nasi dan bubur yang sudah disediakan.

Niat hatinya sendiri memang demikian, tapi tenaganya sudah hampir habis. Baru saja tangannya melepas dari pegangan tembok dan bermaksud menyeberang ke arah rumah tersebut, dia sudah terkulai jatuh dan pingsan seketika.

Keempat pelayan yang melihat keadaan itu segera menghampiri. Dengan panik dan kalang kabut mereka memapah tubuh Wan Fei-yang ke depan pintu rumah. Wan Fei-yang tidak memperlihatkan reaksi sama sekali. Salah seorang pelayan itu mendekatkan jari tangannya di depan hidung Wan Fei-yang. Dia masih merasakan embusan napasnya yang sudah lemah.

“Masih bernapas ….!” teriak pelayan itu.

“Kalau dilihat dari tampangnya, rasanya tidak mirip orang jahat. Apakah dia bertemu dengan kaum perampok dan dibegal habis-habisan?”

“Toh-loya (majikan) setiap hari memikirkan bagaimana caranya berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Kita gotong saja dia ke dalam. Setelah itu meminta Loya memanggil tabib untuk memeriksanya.”

Rekannya yang lain segera menganggukkan kepalanya. Beramai-ramai mereka menggotong Wan Fei-yang ke dalam. Pada lentera besar yang tergantung di atas pintu tertera huruf “Lu” yang berwarna merah terang. Di samping pintu juga terdapat kayu berukiran yang tertera “Kediaman keluarga Lu”. Kalau ditilik dari mewahnya rumah tersebut dan gayanya yang unik, kemungkinan besar pemilik gedung ini adalah seorang pejabat pemerintahan.

*****

Tiga kentungan kemudian, Wan Fei-yang baru tersadar kembali. Ternyata obat pemberian si kerdil Sam-cun mulai menunjukkan reaksinya. Meskipun tubuhnya lemas tidak bertenaga, namun kesadaran dan semangatnya sudah pulih banyak.

Wajahnya masih pucat pasi, tapi darah yang mengering di ujung bibir sudah dicuci bersih. Pakaiannya pun sudah diganti. Dia terbaring atas sebuah tempat tidur yang mewah. Kamar itu sendiri juga sangat bersih dan indah. Seorang laki-laki berusia lanjut yang rambut serta jenggotnya sudah memutih berdiri di pinggir tempat tidur. Saat itu ia sedang memandangi Wan Fei-yang lekat-lekat.

Di samping orang tua berdiri dua orang pelayan. Melihat Wan Fei-yang membuka matanya, mereka segera berseru, “Sudah sadar!”

Wan Fei-yang memerhatikan sekitarnya kemudian menunduk memerhatikan keadaannya sendiri. Dia langsung mengerti apa yang telah terjadi. Dia berusaha menegakkan badannya untuk menjura tapi segulung rasa nyeri yang tidak terkirakan menyerangnya seketika. Orang tua itu cepat-cepat memegang tangannya.

“Lukamu parah sekali, jangan sembarang bergerak!” katanya.

Nada suaranya keras dan berwibawa namun penampilan wajahnya welas asih serta lembut. Wan Fei-yang menarik napas dalam-dalam berulang kali.

“Tempat ini ….”

“Di sini gedung keluarga Lu. Tadi malam kau jatuh tidak sadarkan diri di depan pintu. Untung saja ditemukan oleh kami,” sahut salah seorang pelayan.

“Ini adalah Loya kami,” tukas pelayan yang satunya.

Sinar mata Wan Fei-yang beralih kepada orang tua tadi. “Terima kasih atas pertolongan Lu-loya ….” katanya dengan suara serak.

Orang tua itu mengibaskan tangannya. “Tidak usah banyak peradatan.” Dia berhenti sejenak kemudian bertanya, “Sebetulnya apa yang telah terjadi? Apakah kau dirampok oleh kaum penjahat?”

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya tanpa menyahut.

“Para perampok itu benar-benar kejam,” kata orang itu kembali.

“Kalau mendengar aksen bicaramu, tampaknya kau bukan orang sekitar sini?”

“Cayhe berasal dari Bu Ciu.”

“Daerah itu bagus sekali. Aku mempunyai seorang kenalan yang tinggal di daerah itu. Pendidikannya malah lebih tinggi dariku.”

Wan Fei-yang tertawa getir. “Cayhe sejak kecil sudah meninggalkan rumah. Mungkin tidak kenal dengan sahabat Loya itu.”

Orang tua menganggukkan kepalanya.

“Sahabatku itu orang yang jujur. Dia tidak suka mengejar kekayaan atau pun nama besar. Sudah lama pula dia mengundurkan diri dari dunia ramai dan hidup menyepi. Tidak heran kalau kau yang masih demikian muda tidak mengenalnya.”

“Cayhe masih belum tahu nama besar Loya, biar kelak Cayhe mendapat kesempatan untuk membalas budi ini.”

Orang tua itu tersenyum lembut. “Ini soal kecil. Jangan kau simpan di hati.”

“Loya kami merupakan mantan gubernur di wilayah ini. Hatinya selalu tulus dan baik terhadap siapa juga,” tukas seorang pelayan.

“Jangan banyak mulut!” tegur orang tua itu.

Wajah Wan Fei-yang menyiratkan perasaan curiga. “Apakah Loya bernama Lu Wang, Lu-tayjin.”

Orang tua itu tertegun. “Bagaimana kau bisa mengetahui nama Lohu?”

“Gwakong Boanpwe she Wan, namanya Hai-tian,” sahut Wan Fei-yang.

Orang tua itu tertegun sekali lagi. Tiba-tiba dia tertawa lebar. Wajahnya berseri-seri. “Ternyata Gwakongmu adalah sahabat yang Lohu katakan tadi.” Dia berhenti sejenak kemudian bertanya lagi. “Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia masih suka duduk santai di depan rumah sambil menikmati arak?”

Wajah Wan Fei-yang langsung berubah kelam. “Gwakong Boanpwe sudah meninggal beberapa waktu yang lalu,” sahutnya sendu.

Orang tua bernama Lu Wang itu menarik napas panjang. “Setahu Lohu, kesehatannya sangat baik. Badannya kuat dan jarang sakit. Ternyata dia malah mendahului Lohu menghadap Yang Kuasa.”

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lu Wang menggenggam tangan Wan Fei-yang erat-erat, kemudian dia menepuk-nepuk bahunya.

“Kau tidak perlu bersedih lagi. Orang sudah tua lalu mati karena sakit adalah hal yang lumrah. Siapa pun tidak bisa menghindarkan diri dari kematian. Tinggallah di sini dan beristirahat sampai pulih. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya,” kata Lu Wang dengan maksud menghibur.

Belum sempat Wan Fei-yang mengucapkan terima kasih, Lu Wang sudah melanjutkan kata-katanya. “Hubungan Lohu dengan Gwakongmu sudah seperti saudara sendiri. Kau juga jangan sungkan. Anggaplah tempat ini sebagai rumahmu sendiri.” Dia merenung sejenak, kemudian tertawa sumbang, “Lohu benar-benar sudah pikun, sampai sekarang Lohu masih belum menanyakan nama keponakan.”

“Boanpwe bernama Wan Fei-yang ….”

“Oh? Keponakan juga she Wan?”

Wan Fei-yang tertawa getir. “Boanpwe mengikuti she ibu.”

Mata Lu Wang meliriknya sekilas. Dia tahu pasti ada sesuatu yang disembunyikan anak muda itu dalam hal yang menyangkut keluarganya. Tapi dia tidak bertanya banyak. Dia menolehkan kepalanya ke arah salah seorang pelayan dan memerintahkan, “A Fuk, cepat kau undang tabib di gedung kejaksaan. A Cang ….” dia kembali memberi perintah agar pelayan yang satu itu membereskan ruang perpustakaan di sebelah timur.

Sebelum pensiun, Lu Wang merupakan pegawai pemerintahan yang kedudukannya cukup tinggi. Dia menyadari banyak hal tidak pantas yang telah dilakukannya. Tapi semua itu terhitung tugas yang harus dilaksanakannya. Setelah tua, dia ingin menebus dosanya di masa lalu dengan berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Dia takut terhadap apa yang disebut hukum karma. Apalagi dia tidak mempunyai keturunan satu orang pun. Dia merasa semua ini merupakan hukuman yang dijatuhkan Thian kepadanya. Oleh karena itu, seandainya dia tidak mengenal Gwakong Wan Fei-yang, dia tetap akan menerima anak muda itu dan menolong sebisanya. Apalagi antara mereka ternyata ada hubungan meskipun tidak secara langsung, maka dia merasa terlebih-lebih harus mengulurkan tangan menolong Wan Fei-yang.

Oleh sebab itulah, Wan Fei-yang pun menetap di gedung keluarga Lu. Saat itu dia sudah menyadari bahwa urat nadi seluruh tubuhnya sudah tergetar putus. Dia tidak bisa mengumpulkan hawa murninya lagi. Keempat anggota tubuhnya lemas tidak bertenaga. Meskipun dia masih bisa bergerak dan berjalan, tapi ilmu silatnya sudah punah.

Hal ini merupakan suatu pukulan yang besar baginya. Tapi, meskipun dia bersedih, dia tidak mau berputus asa. Walaupun kehidupannya sekarang berkecukupan dan tidak perlu bekerja keras seperti di Bu-tong-pay, namun baginya hal itu tidak begitu menyenangkan.

*****

Kuda berhenti di depan sebuah penginapan. Kuan Tiong-liu baru turun dari kudanya ketika seorang pelayan datang menyambutnya. Penginapan itu merupakan tempat di mana Wan Fei-yang menginap tempo hari.

Tentu saja kedatangan Kuan Tiong-liu bukan untuk mencari Wan Fei-yang. Meskipun ia sangat membenci anak muda itu, tapi dia tidak mempunyai minat khusus untuk mencari jejak Wan Fei-yang. Karena baginya sekarang bukan waktu yang tepat. Dua kali berturut-turut dikalahkan oleh Wan Fei-yang, baginya sudah cukup. Dan kedatangannya bukan tanpa tujuan, tapi tujuannya bukan kota ini melainkan Yi-sa-peng.

“Ke mana arah yang harus kuambil apabila ingin menuju Yi-sa-peng?” baru duduk saja Kuan Tiong-liu sudah buru-buru mencari keterangan dari pelayan penginapan tersebut.

“Dari sini ambil arah timur kurang lebih dua puluh li lebih,” sahut sang pelayan. Mimik wajahnya menyiratkan kecurigaan dan keheranan, karena setahunya, dalam jarak sepuluh li di daerah sekitar Yi-sa-peng hanya ditumbuhi lalang yang tinggi. Sama sekali tidak berpenghuni.

Kuan Tiong-liu juga tidak bertanya apa-apa lagi. Setelah mengalami berbagai kejadian, dia sudah berubah banyak. Paling tidak dia tidak membawa perabotan makan sendiri sekarang. Tidak seperti sebelumnya yang mana ada Liok An dan Jit Po yang membersihkan meja, menghamparkan kain wol di atas kursinya dan menyediakan sumpit serta mangkuk yang mewah.

Perubahan ini baginya bukan tidak menguntungkan. Setidaknya perubahan ini membuatnya sanggup menyesuaikan diri dengan keadaan yang berlangsung di depan mata.

Kenyataannya Yi-sa-peng bukan tempat yang bagus. Seputar daerah itu tidak ada yang dapat dinikmati. Batu-batu berserakan di mana-mana. Rumput dan lalang menghalau pemandangan. Malam hari dingin menggigil, siang hari malah panas bagai terbakar api. Mungkin telur ayam saja akan menjadi matang kalau dijemur di tempat itu.

Daerah seperti ini, tentu tidak ada manusia yang sudi menetap. Saat itu tepat tengah hari. Matahari bersinar terik. Di luar hutan tandus daerah Yi-sa-peng berdiri lima orang. Ada yang tinggi, ada yang tubuhnya pendek, ada yang kurus, dan ada pula yang gemuk. Dua di antaranya memakai pakaian berwarna hijau, sedangkan ketiga orang lainnya mengenakan pakaian kuning panjang.

Sekitar dada terbuka lebar. Tangan masing-masing menggenggam golok yang bentuk ujungnya melengkung. Golok semacam itu berbeda dengan golok biasa. Bagi orang dunia Kangouw yang sudah berpengalaman, tentu tidak sulit menebak bahwa kelima orang itu adalah lima harimau dari keluarga Peng. Sedangkan senjata yang digunakan mereka terkenal dengan sebutan Go-houw-toan-bun-to.

Tampaknya kelima harimau dari keluarga Peng itu sudah menantikan seseorang. Tapi orang yang ditunggunya, pasti bukan Kuan Tiong-liu, sebab ketika mereka melihat Kuan Tiong-liu berjalan menghampiri, wajah mereka menyiratkan kecurigaan yang dalam.

Hutan itu tidak seberapa luas. Pohon-pohon juga hampir gundul karena daunnya jarang sekali. Tapi bagi daerah seperti Yi-sa-peng, keadaan di hutan ini sudah termasuk lumayan. Go-houw berdiri di bawah bayangan pohon yang tersorot cahaya matahari. Pada mata mereka hanya terlihat sinar kecurigaan, sama sekali tidak tampak sinar permusuhan. Boleh dibilang antara mereka juga saling kenal dan pernah berteman.

Tidak menunggu sampai jarak Kuan Tiong-liu mendekat, mereka sudah maju menyambut, &;#8220;Kuan-heng, kebetulan sekali!”

Sikap Kuan Tiong-liu terhadap mereka juga sangat sungkan. Dia menjura dalam-dalam. “Siaute memang sengaja datang menemui kalian lima bersaudara.” Dia merandek sejenak kemudian melanjutkan kembali. “Siaute baru datang dari rumah kalian. Dengar kabar kalian sudah menuju kemari ….”

Kelima orang bersaudara itu merasa heran. Peng Kim-houw menyorotkan mata mengandung pertanyaan. “Sebetulnya ada apa Kuan-heng mencari kami?”

“Sebelumnya Siaute pernah mendengar bahwa kalian lima bersaudara pernah berkunjung ke negara India. Siaute ingin menanyakan arah mana yang harus ditempuh apabila ingin pergi ke negara itu, dan perbekalan apa saja yang harus Siaute persiapkan?”

Peng Kim-houw semakin penasaran. “Untuk apa Kuan-heng berkunjung ke negara India?” tanyanya menyelidik.

“Go-bi-pay mengalami musibah, kalian lima bersaudara pasti sudah mendengar beritanya. Siaute terpaksa menghindarkan diri untuk sementara di negara India. Sekalian ingin mencari jejak seorang Cianpwe yang menurut kabar sekarang menetap di negara itu. Siaute ingin membangun kembali partai Go-bi-pay.”

Peng Kim-houw tertawa lebar. “Rupanya demikian. Mudah sekali. Setelah urusan di sini selesai, kami akan membuatkan sebuah peta yang terperinci dan jelas untuk Kuan-heng.”

“Terpaksa merepotkan kalian. Siaute ….”

“Saudara sendiri …. Jangan sungkan-sungkan,” Peng Kim-houw tersenyum lalu melanjutkan. “Urusan Kuan-heng termasuk urusan kami juga.”

“Kalau begitu, Siaute juga tidak perlu mengucapkan terima kasih lagi,” sahut Kuan Tiong-liu tersenyum. “Menurut kabar, kalian lima bersaudara datang kemari untuk memenuhi perjanjian bertarung dengan seseorang.”

“Tidak salah?” Peng Kim-houw mendongakkan kepalanya menatap langit. “Waktunya sudah hampir sampai.”

Kuan Tiong-liu merasa agak heran. “Mengapa kalian mengadakan perjanjian di tempat seperti ini?”

“Ini merupakan ide pihak lawan,” sahut Peng Kim-houw.

“Entah siapa orangnya yang bernyali begitu besar sehingga berani menantang kalian bersaudara?”

“Kami sendiri kurang jelas. Pihak lawan telah membunuh tiga orang anak buah kami. Mayat mereka dikirim bersamaan dengan sepucuk surat tantangan.” Mata Peng Kim-houw mengerling sekilas. “Kedatangan Kuan-heng sungguh kebetulan. Mungkin nanti kami membutuhkan bantuan tenaga dari Kuan-heng.”

“Jangan sungkan!” sahut Kuan Tiong-liu. “Keluarga Peng merupakan keluarga yang menjunjung keadilan di Tionggoan. Siaute tentu tidak bisa menyaksikan dari samping saja, tapi ilmu silat kalian lima bersaudara sudah sangat terkenal. Apalagi Go-houw-toan-bun-hoat yang sangat hebat itu. Tentu tidak memerlukan ilmu cakar kucing seperti yang dikuasai Siaute ini.”

Mendengar kata-kata ini, tidak satu pun dari mereka yang tidak merasa heran. Hampir saja mereka mengira telah salah mengenali orang lain sebagai Kuan Tiong-liu. Dalam ingatan mereka, Kuan Tiong-liu yang mereka kenal bukan jenis manusia yang biasa merendahkan diri sendiri. Tapi mereka segera menduga tentu sikap Kuan Tiong-liu ini ada hubungannya dengan kehancuran Go-bi-pay. Kemungkinan batin anak muda ini sangat terpukul sehingga sifatnya jadi berubah.

Tidak ada manusia di dunia yang tidak senang mendengar diri mereka dipuji dan diangkat tinggi. Dengan ucapannya tadi, Kuan Tiong-liu langsung mendapat kesan baik dari kelima orang bersaudara itu.

Tepat pada saat itu juga, dari arah kejauhan berkumandang suara nyanyian. Tidak usah diraguka

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: