Kumpulan Cerita Silat

22/12/2007

Maling Romantis (10)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:04 am

Maling Romantis (10)
Oleh Gu Long

Kontributor: bpranoto, sikasep, budiwibowo, mtv2006

“Masih kau ingin lari?” jengek si pemuda baju hitam. Karena berhasil, mana ia mau mengampuni lawannya, lingkaran cambuknya kembali menggulung tiba.

Tepat pada saat itulah, sekonyong-konyong selarik sinar pedang laksana kilat melesat masuk dari luar jendela. Sementara cambuk panjang sudah bergulung-gulung menjadi lingkaran, tentunya ujung cambuknya tak kelihatan lagi, namun pedang itu justru tepat dan persis sekali menutul di ujung cambuk, kekuatan gubatan cambuk yang melingkar seketika punah dan menjadi lemas. Kalau cambuk panjang itu diumpamakan ular, maka tutulan pedang itu telah sekali menusuk pada tempat kelemahan si ular, yaitu tujuh dim di bawah lehernya.

Kaget, gusar dan heran pula si pemuda baju hitam, bentaknya: “Siapa?”

Belum lenyap suaranya, sesosok tubuh orang tahu-tahu sudah melayang masuk lewat jendela, hinggap di hadapannya.

Orang ini juga mengenakan pakaian serba hitam, membungkus perawakan badan yang kurus dan kencang dan kekar, seperti macan kumbang yang baru saja menerobos keluar dari dalam hutan, seluruh badannya diliputi kekuatan luar biasa. Tapi seraut wajahnya kelihatan abu-abu kaku seperti mayat, tidak memperlihatkan perasaan hatinya. Terutama sepasang matanya tajam dingin menatap orang, siapa pun dalam pandangannya laksana seekor ikan yang sudah pasrah nasib untuk disembelih olehnya.

Walau si pemuda tidak tahu bahwa orang yang dihadapi ini adalah pembunuh nomor wahid di Tionggoan, it-tiam-ang, namun karena pandangan sorot matanya, terasa badan menjadi risi dan gatal, lekas dia mendengus ke arah Coh Liu-hiang, jengeknya dingin: “Ternyata kau sudah menyembunyikan pembantu.”

Coh Liu-hiang hanya meraba-raba bekas luka di mukanya, tersenyum tanpa bersuara.

Terdengar si pemuda baju hitam mencemooh lagi: “Setelah kalah mengundang bala bantuan, memangnya tokoh-tokoh Bulim di Tionggoan begini tak becus dan tak tahu malu?”

It-tiam-ang mendadak menyeringai dingin, jengeknya: “Kau kira dia sudah kalah?”

Si pemuda terloroh dingin, sambil meludah ujarnya: “Kena sekali lecutanku, memangnya aku yang malah kalah?”

It-tiam-ang mengerling kepadanya sekali lagi, sorot pandangannya seperti menghina dan tak pandang mata. Mendadak ia melangkah maju, menggunakan pedang di tangannya, ia menjungkit beberapa batangan bambu yang terputus-putus.

Si pemuda baju hitam tidak tahu permainan apa yang sedang orang lakukan, katanya dingin: “Jadi kau pun ingin menjajal seperti perbuatannya tadi?” demikian tantangnya.

“Kau periksa dulu, baru buka mulutmu.” Sekali gerak dan ayun pedangnya, batangan bambu itu sama terbang ke depan, namun daya luncurannya tidak cepat.

Tak tahan si pemuda ulur tangan menyambut, dilihatnya batangan bambu tetap tidak berubah bentuknya, cuma di setiap batangan bambu itu masing-masing menancap bintik-bintik bintang yang bersinar gelap dingin.

It-tiam-ang balas mencemooh: “Lantaran bintik-bintik bintang inilah dia terkena lecutan cambukmu, kalau tidak masakah sekarang kau masih hidup?”

“Kau…. maksudmu demi menolong jiwaku, maka dia…….”

“Kalau dia tidak berusaha memukul jatuh senjata rahasia itu, seujung bajunya pun jangan harap kau bisa menyentuhnya!”

Bergetar badan si pemuda, batangan bambu di tangannya sama berjatuhan, rona mukanya berubah hijau, lalu merah dan akhirnya putih, pelan-pelan sorot matanya beralih ke arah Coh Liu-hiang, katanya gemetar: “Kau…. tadi kau… ke… kenapa tidak kau katakan?”

“Kan belum tentu senjata rahasia itu mengincar dirimu.”

“Senjata rahasia ini disambitkan dari arah belakangku, sudah tentu sasarannya adalah aku.”

“Terkena sekali lecutanmu juga tidak menjadi soal, kenapa aku harus banyak mulut sehingga kau pedih hati?”

Si pemuda berdiri mematung, sekian lama ia menjublek di tempatnya, matanya yang bundar besar itu mulai berlinang air mata, cuma sedapat mungkin ia menahan tetesan air matanya.

Sengaja Coh Liu-hiang tidak mengawasinya, katanya tertawa: “Ang-heng, apakah kau melihat siapa orang yang membokong dengan senjata rahasia itu?”

Sahut It-tiam-ang dingin: “Kalau aku melihatnya, memangnya kubiarkan dia pergi?”

“Aku tahu gerak-gerik orang itu laksana setan, namun sulit memang melihat jelas siapakah dia sebetulnya. Di dalam Bulim di Tionggoan sebetulnya tidak banyak tokoh-tokoh lihay seperti dia itu.”

“Aku tahu siapa dia,” mendadak si pemuda menyeletuk bicara.

“Kau tahu?” Coh Liu-hiang tersirap. “Siapa dia?”

Si pemuda tidak bicara lagi, tangannya merogoh kantong mengeluarkan sepucuk sampul surat, katanya: “Inilah surat yang ingin kau lihat, ambillah.”

“Terima kasih, terima kasih!” betapa girangnya hati Coh Liu-hiang.

Si pemuda meletakkan sampul surat itu di atas meja, tanpa berpaling lagi ia tinggal pergi. Waktu tiba di luar pintu, kepala tertunduk dan setetes air mata jatuh di atas tanah.

Bebeapa malam dan beberapa hari sudah Coh Liu-hiang mengimpikan untuk mendapatkan surat itu dengan susah payah, tak nyana surat yang diharap-harapkan itu kini berada di hadapannya, sungguh girang sekali hatinya. Jantungnya berdebar-debar, baru saja ia ulurkan tangan hendak menjemput surat itu, tiba-tiba sinar pedang berkelebat menyontek sampul surat itu.

Tak urung berubah air muka Coh Liu-hiang, katanya sambil tertawa getir: “Apa Ang-heng sedang berkelakar denganku?”

It-tiam-ang meraih sampul surat itu dari ujung pedangnya, sahutnya dingin: “Kalau kau menginginkan surat ini, kalahkan dulu pedang di tanganku ini.”

“Sudah kukatakan aku tidak mau berkelahi denganmu, kenapa kau selalu mendesakku?”

“Kalau kau sudah bergebrak dengan pemuda itu, kenapa tidak sudi berkelahi denganku?”

“Umpama ingin berkelahi, biarlah aku membaca surat itu dulu.”

“Setelah bergebrak, kalau aku mati, boleh kau ambil surat ini. Kalau kau yang mati, surat ini akan kukubur bersama jazadmu.”

“Baru saja watak kerbau dungu pergi, kini aku berhadapan dengan watak sapi,” sekonyong-konyong laksana kilat cepatnya badannya melesat terbang, tangan kiri mencolok biji mata It-tiam-ang, sementara tangan kanan merebut sampul surat itu.

Cukup memutar setengah lingkaran badannya, pedang It-tiam-ang sudah menusuk tiga kali pada tiga sasaran yang berlainan. Selicin belut Coh Liu-hiang membungkukkan badan, tahu-tahu badannya menerobos lewat dari bawah sinar pedang, tangan kirinya setengah tergenggam menjojoh lambung It-tiam-ang, tangan kanan tetap bergerak merebut sampul surat itu. Dia bergerak cepat mendesak maju, betapa berbahaya gerakan tubuhnya, betapa cepat dan tangkas sekali cara permainannya, sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menghadapi lawan tangguh, seketika bangkit semangat It-tiam-ang, permainan pedangnya dikembangkan semakin cepat, lebih ganas dan berbahaya.

Tampak sinar pedang berkelebat pergi datang amat cepatnya, menjadi tabir cahaya terang, sebentar pedang berubah laksana puluhan batang pedang, ratusan dan ribuan. Setiap batang pedang yang berkilauan itu tidak lepas dari incaran ke tempat mematikan di tubuh Coh Liu-hiang, yang dicecar terutama tenggorokannya.

Namun gerak-gerik Coh Liu-hiang gesit, keras dan secepat angin lesus berpusar, tujuannya hanya ingin merebut sampul surat di tangan It-tiam-ang. It-tiam-ang mengerutkan kening, ternyata ia masukkan sampul surat itu ke dalam kantongnya.

Dengan baju bagian dada sedikit tersingkap ke kanan, tangan kiri baru saja hendak memasukkan sampul surat itu ke dalam saku bajunya sebelah kanan, mau tidak mau gerakan pedang di tangan kanannya rada terganggu dan pancaran sinar pedang yang rapat dan ketat itu mau tidak mau menjadi sedikit terbuka. Tibalah saatnya sekarang bagi Coh Liu-hiang memperlihatkan kehebatan kepandaiannya. Mendadak badannya menerjang masuk, tangan kiri mengunci jalan permainan pedang It-tiam-ang, sementara tangan kanan mmegang pergelangan tangan It-tiam-ang yang memegang surat. Dalam sekejap mata, beruntun ia merubah tujuh macam gerakan tangan.

Karena tangan kanan terkunci dan tak berkutik lagi, It-tiam-ang mundur berulang-ulang, sebaliknya Coh Liu-hiang seperti bayangan mengikuti wujudnya, dia melibat terus sehingga orang mati kutu, tahu-tahu pergelangan tangan terasa linu kejang, ternyata urat nadinya telah tergencet oleh jari-jari Coh Liu-hiang.

Saking girangnya, baru saja Coh Liu-hiang hendak merebut sampul surat itu, siapa tahu mendadak It-tiam-ang menjentikkan jarinya, seketika surat itu melayang jauh ke depan sana. Sudah tentu perubahan yang tak terduga ini membuat Coh Liu-hiang kaget, sebat sekali ia melejit memburu ke arah sampul surat itu serta meraihnya, setitik sinar kemilau kembali berkelebat membabat tiba. Betapa pun sinar pedang itu jauh lebih cepat dari gerakan orang, tahu-tahu sampul surat itu sudah tertusuk di ujung pedang.

Baru saja ia tarik pedang dan hendak meraih sampul surat itu, sekonyong-konyong Coh Liu-hiang melejit ke tengah udara dan mendadak pula berjumpalitan ke belakang, tangkas sekali tiba-tiba kedua tapak tangannya menepuk, tahu-tahu sampul surat dan ujung pedang kena tergencet di antara kedua tapak tangannya. Perbuatan ini sudah tentu jauh lebih hebat, lihay dan menakjubkan.

Gerakan pedang It-tiam-ang beruntun berubah tujuh variaasi, namun gerak tubuh Coh Liu-hiang pun berubah tujuh kali, seluruh badannya seenteng daun pohon, bergelantungan di ujung pedang seperti bendera yang melambai mengikuti gerakan pedang lawan.

Tapi dalam keadaan seperti itu, sungguh ia tidak berani menjemput sampul surat itu, karena sedikit ia mengendorkan gencetan tapak tangannya, pedang tajam yang bergerak melebihi kilat mungkin bakal menembus dadanya.

It-tiam-ang tidak putus asa, badannya bergerak teramat cepat dan gesit sekali, namun bagaimana pun ia bergerak dengan berbagai variasi, jangan harap ia bisa melempar Coh Liu-hiang dari ujung pedangnya. Malah terasa pedangnya semakin bertambah berat, kekuatan tenaga yang dia kerahkan pun harus berlipat ganda, tanpa terasa sekujur badan sudah mandi keringat.

Sampai akhirnya pedangnya sudah tak mampu bergerak lagi, terpaksa ia acungkan miring ke atas udara, berat badan Coh Liu-hiang serasa ribuan kati, menindih ke atas badannya.

Begitulah, yang satu di udara, yang lain bercokol di tanah, kedua pihak saling bertahan. Kalau pedang itu bukan terbuat dari baja murni pilihan, pedang sakti yang tiada bandingnya, mungkin sejak tadi sudah patah menjadi dua.

Mendadak It-tiam-ang menghardik keras, sekuat tenaga ia menggentak naik pedangnya, mendadak badan pun melambung tinggi ke tengah udara, dari ketinggian ia putar ujung pedangnya ke bawah, terus dihunjamkan ke bumi. Kalau ujung pedang menukik turun dan menusuk ke bawah, sudah tentu tidak mungkin pula mempertahankan diri di ujung pedang lawan. Maka terdengarlah: “Pletak!”, Coh Liu-hiang terbang miring dua tombak terjatuh di atas tanah, kedua tapak tangannya masih menggencet ujung pedang dan sampul surat itu. Tapi pedang sakti yang terbuat dari baja murni hasil gemblengan seorang ahli pencipta pedang, biasanya dipandang lebih berharga dari jiwa It-tiam-ang sendiri, akhirnya patah menjadi dua potong.

Pucat pasi muka It-tiam-ang, suaranya gemetar: “Bagus, memang ilmu silat hebat, ginkang yang tinggi dan gerakan badan yang indah!”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Ah, Ang-heng hanya memuji saja!” Belum habis kata-katanya, seri tawanya mendadak menjadi kaku membeku.

“Tang!” kutungan ujung pedang di tangannya patah, sedang sampul surat itu pun rontok berhamburan seperti abu beterbangan, kebetulan angin menghembus masuk dari jendela, seketika cuilan kertas surat itu terhembus hilang terbawa angin.

Ternyata waktu kedua orang mengadu kekuatan tenaga dalam tadi, lwekang masing-masing disalurkan bergelombang untuk saling mempertahankan diri, jangan kata hanya kertas surat saja, seumpama papan besi atau lembaran baja pun takkan tahan.

It-tiam-ang tertegun, serunya tergagap: “Ini…. ini……”

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa getir: “Mungkin memang sudah suratan takdirku, aku tidak diijinkan melihat surat ini.”

It-tiam-ang melongo sesaat lagi, katanya: “Su….surat itu apa sangat penting?” sebenarnya ia tahu pertanyaannya berkelebihan, kalau surat itu tidak penting dan besar artinya, memangnya buat apa Coh Liu-hiang harus berusaha merebutnya dengan mempertaruhkan jiwa, memangnya kenapa pula sekian banyak yang mati lantaran surat itu.

Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa, serunya: “Itu pun tak apa-apa, sebaliknya aku membikin pedangmu kutung, seharusnya aku minta maaf kepadamu!’

Sesaat lamanya It-tiam-ang berdiam diri, katanya sambil mendongak: “Selama hidup ini bila aku mencarimu lagi untuk berkelahi, pedang inilah contohnya.”

“Trap!”, kutungan pedang di tangannya tahu-tahu sudah menancap di atas belandar.

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat sesosok bayangan orang meluncur masuk, ternyata pemuda baju hitam tadi itulah. Setelah surat tadi hancur, terpaksa Coh Liu-hiang harus mencarinya pula, tak nyana orang telah kembali pula, keruan ia berteriak kegirangan: “Kebetulan kedatangan tuan, ada urusan Cayhe hendak mohon petunjukmu.”

Siapa tahu si pemuda baju hitam seakan-akan tidak mendengar seruannya, selebar mukanya menunjukkan rasa gugup dan kuatir. Sambil celingukan kian ke mari, tiba-tiba ia lari ke sana dan menyelinap masuk ke belakang kerai jendela.

Kwi-gi-tong ini dipajang serba mewah dan istimewa, di depan setiap jendela dipasang gantungan kerai warna abu-abu yang tebal, mungkin lantaran perjudian di sini diadakan setiap malam hari, supaya sinar lampu tidak menyorot keluar.

Waktu itu hari masih pagi, maka kerai jendela belum ditarik, jadi masih tergulung di samping. Pemuda baju hitam bertubuh kurus tinggi. Kalau dia sembunyi di sana, tentu jejaknya takkan ditemukan lagi.

Sekilas Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang saling pandang, hati masing-masing merasa heran dan tak habis mengerti. Kenapa setelah pergi, si pemuda putar balik? Kenapa pula sedemikian gugup? Wataknya keras berhati tinggi dan angkuh lagi, memangnya siapa orangnya yang dapat menakuti dirinya sehingga perlu menyembunyikan diri?

Tak lama kemudian, dari kejauhan beruntun terdengar suitan bambu, suaranya melengking tinggi dan pendek, sahut-menyahut, dalam sekejap saja tahu-tahu sudah berada di sekeliling rumah judi itu. Disusul bau amis yang terbawa angin merangsang hidung. Dari luar pintu melata masuk dua puluhan ular beraneka warna, berukuran besar kecil tak merata.

Coh Liu-hiang mengerutkan kening, sekali lompat ia naik ke atas meja judi dan duduk bersimpuh.

It-tiam-ang mengerutkan alis, dia malah melambung tinggi duduk di atas belandar, kutungan pedangnya ia cabut terus dilemparkan ke bawah, seekor ular yang paling besar kontak terpantek di atas lantai.

Ternyata kekuatan ular itu amat besar, mungkin karena kesakitan, lidahnya menjulur keluar masuk, badannya menggelepar-gelepar amat kerasnya, berdentam di atas lantai, sampai ubin batu yang keras itu pecah dan retak. Tapi tenaga lemparan It-tiam-ang amat keras dan besar, kutungan pedangnya itu ternyata amblas sampai gagangnya. Meski ular beracun itu meronta dan menggelepar sekuat tenaganya, betapa pun ia tidak kuasa membebaskan diri. Sementara ular-ular beracun yang lain terus main terjang, ada yang menggigit ekornya, ada yang menggigit badannya, sekejap saja seluruh kulit dagingnya sudah terisap habis sama sekali.

Rasanya mual dan heran pula It-tiam-ang yang duduk di atas belandar, katanya: “Ular-ular ini rada ganjil, dari manakah datangnya?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Mungkin Ang-heng sudah mencari kesulitan sendiri.” Belum habis kata-katanya, dari luar pintu sudah beranjak masuk tiga orang.

Laki-laki yang di tengah bertubuh tegap, pakaian yang dipakainya penuh tambalan, sudah tambalan ditambal lagi entah berapa kali tambalan sehingga kelihatannya tebal namun dicucinya dengan bersih. Walau pakaian yang dipakainya pakaian pengemis, namun sorot matanya bercahaya, memancarkan kilat hijau bengis, sikapnya amat garang dan pongah, seolah-olah tidak pandang sebelah mata kepada siapa pun jua.

Dua orang lain di belakangnya juga berpakaian serba tambalan, raut mukanya buas dan di atas punggung masing-masing menggemblok tujuh-delapan karung goni, terang mereka adalah murid-murid Kaypang yang berkedudukan paling tinggi.

Tata-tertib Kaypang biasanya amat keras dan ketat dalam mengawasi setiap tindak-tanduk murid-muridnya, tingkatan satu sama lain dipandang dan dipatuhi dengan hormat. Pengemis tinggi besar ini tanpa memikul satu karung goni pun, paling hanyalah murid kecil yang belum masuk jadi anggota Kaypang. Tapi dari sorot mata dan sikap kedua murid Kaypang berkarung tujuh-delapan itu, kelihatannya malah takut dan segan serta menghormat kepada laki-laki ini. Bagi pandangan seorang yang kenyang pengalaman kangouw, sekali pandang saja sudah terasa keadaan aneh dan ganjil ini.

Lebih aneh lagi pengemis ini bermuka buas, bengis dan sadis, malah sudah sudah tergembleng dalam kehidupan melarat dan rudin, sering luntang-lantung dalam Bulim, entah dari sudut atau posisi mana kita menilainya, seharusnya kulit dagingnya hitam dan kasar. Tapi sekujur badannya justru berkulit putih halus laksana batu jade yang paling sempurna, seperti kulit perawan pingitan yang tidak pernah keluar rumah dan merawat badannya dengan baik sampai mengkilap.

Coh Liu-hiang menghela napas pula, gumamnya: “Kesulitan memang sudah tiba!”

Pengemis tinggi kekar itu menjelajahkan pandangan matanya yang berkilauan bengis berbentuk segitiga, akhirnya dengan mendelik ia tatap Coh Liu-hiang, katanya gusar: “Keparat, berani kau membunuh ular sakti dari Pun-pang, memangnya sudah bosan hidup?”

Baru saja It-tiam-ang hendak menjawab, Coh Liu-hiang sudah keburu berkata: “Pun-pang? Pun-pang yang tuan maksudkan, entah Pang yang mana?”

Pengemis besar jahat itu menyeringai sadis, bentaknya: “Keparat, memangnya kau picak? Masakah murid-murid Kaypang tidak kau lihat tegas?”

“Murid Kaypang sudah tentu dapat kubedakan, cuma puluhan tahun yang lalu tuan sudah diusir dari Kaypang, kenapa hari ini masih berani kau mengagulkan diri sebagai murid Kaypang?”

Berubah air muka pengemis bertubuh besar itu, mulutnya terpentang lebar terloroh-loroh sambil menengadah, serunya: “Tak nyana kau bocah pupuk bawang ini pun tahu akan asal-usul tuan besarmu.”

“Kalau aku tidak tahu, memangnya siapa yang akan tahu asal-usulmu? Semula kau she Pek, karena perbuatan jahatmu kelewat batas, kulit badanmu kau rawat sedemikian bersihnya, maka kawan-kawan di Kangouw sama memanggilmu sebagai Pek-giok-mo-kay, kau masih merasa bangga dan mengagulkan diri Huruf terakhir dari predikatmu semula lalu kau buang, mengubah nama sendiri menjadi Pek-giok-mo saja.” Sehafal mengisahkan asal-usul keluarga sendiri, Coh Liu-hiang membeberkan asal-usul si pengemis bengis ini.

Bentak Pek-giok-mo dengan beringas: “Bagus sekali, masih ada apa pula?”

“Sepuluhan tahun yang lalu, watak kebinatanganmu mendadak kumat, sekaligus kau perkosa dan bunuh tujuh belas perawan tingting di Hou-khu, Sohciu. Saking marahnya, Jin-lopangcu berkeputusan menghukum mati dirimu sesuai dengan dosa-dosamu, ternyata kau cukup pintar dan tahu diri, siang-siang kau sudah lari dan sembunyi, karena tidak berhasil membekukmu, terpaksa dia mengumumkan pengusiranmu dari anggota Kaypang.”

“Benar, benar sekali,” Pek-giok-mo menyeringai sadis. “Cuma sekarang Jin-lothau sudah mampus, Pangcu baru tidak sekolot dan sepicik dia. Dia tahu kalau kita hendak angkat diri dan mengembang-luaskan kekuasaan, dia perlu bantuan sepasang tanganku ini. Meski Locu tidak sudi menelan pengalaman pahit yang lalu, namun melihat maksud baiknya, terpaksa aku turuti saja kemauannya.”

Perbuatan kotor dan hina di masa lalu yang dia lakukan dikorek dan dibeberkan di hadapan umum, bukan saja dia tidak merasa sedih dan marah, malah bersikap senang dan bangga. Jikalau manusia ini bukannya sudah terlalu bejat, masakah dia bertebal muka dan tidak tahu malu?

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Biasanya Lamkiong Ling mengutamakan welas-asih dan bajik serta bijaksana, namun apa yang dia lakukan untuk hal ini kukira kurang bijaksana dan kurang cermat.”

Belum lagi Pek-giok-mo buka suara, murid-murid Kaypang tujuh kantong itu sudah sama-sama membentak dengan bengis: “Putusan dan anugerah Pangcu kita, siapa yang berani sembarangan mengkritiknya di dunia ini?”

“Orang lain tidak berani, mungkin hanya aku yang berani.”

“Kau terhitung barang apa?” damprat murid Kaypang yang lain.

“Di mana-mana kenapa ada orang bertanya aku ini barang apa? Jelas aku bukan barang, aku ini manusia, malah kalau dipandang mata mungkin rada tampan dan gagah, masakah hanya sedikit perbedaan ini kalian tidak tahu?”

Pek-giok-mo menyeringai dingin, jengeknya: “Kalau begitu aku ingin tahu siapakah orang ini, berani bicara begini congkak di hadapanku, memangnya sudah bosan hidup?”

Coh Liu-hiang bersikap kalem, ia anggap kata-kata orang sebagai kentut belaka, ujarnya tersenyum: “Siapa bilang aku bosan hidup? Justru aku sedang hidup senang dan bergairah, arak baik di dunia ini cukup kuminum seumur hidup, apalagi ada seorang teman seperti Lamkiong Ling yang sering mengundang makan-minum.”

Berubah muka murid-murid Kaypang kantong tujuh, tanyanya: “Kau kenal dengan Lamkiong Pangcu kita?”

“Walau aku ingin berkata tidak kenal, apa boleh buat, selama hidup ini aku paling pantang membual.”

Mata sipit segitiga Pek-giok-mo kembali mengamat-amatinya dari atas ke bawah, seakan-akan dia ingin tahu apakah orang sedang mengagulkan diri belaka, sebaliknya seorang murid kantong tujuh menyeletuk dingin: “Bukan mustahil dia sedang mengulur waktu menunggu bantuan sehingga bocah keparat itu berkesempatan lari.”

“Mampukah bocah keparat itu lolos, sebelumnya aku sudah pendam seorang pembunuh yang akan menggorok lehernya, jangan harap seorang pun di ruangan ini bisa hidup!” demikian Pek-giok-mo menyeringai seram.

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya: “Kalau Lamkiong Ling melihat sikap bicaramu sekasar ini terhadapku, mungkin dia bisa marah-marah.”

Pek-giok-mo terloroh-loroh, “Kalau demikian, biarlah aku membuatnya marah sekalian.” Kembali mulutnya mengeluarkan suitan bambu, dua puluh ekor ular itu kembali angkat kepala pentang mulut dan menjulurkan lidahnya, serempak mereka menerjang ke arah Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: “Walau biasanya aku tidak suka membunuh orang, tapi membunuh ular-ular jahat seperti ini selamanya aku tidak pakai pantangan.” Di tengah gelak tawanya, ular-ular itu sudah melesat terbang menerjang ke arah dirinya. It-tiam-ang yang berada di atas belandar memang ingin menonton permainannya, namun melihat kehebatan ular-ular itu, mau tidak mau ia merasa kuatir juga.

Baru sekarang Coh Liu-hiang turun tangan, cepat sekali kedua tangannya bekerja, sekali raih ia pencet tujuh dim di bawah kepala ular terus dibanting ke lantai, ular itu tak bisa bergerak lagi. Begitulah, seperti orang sedang bermain sulap saja, kalau tangan kiri memencet tangan kanan melempar. Begitulah, kanan kiri ganti-berganti memencet dan melempar, setiap pencet tujuh dim di bawah leher, dan begitu dilempar melayanglah si ular itu. Dalam sekejap saja dua puluhan ekor ular besar kecil yang galak-galak itu sudah dia lempar semua, tiada satu pun yang ketinggalan hidup.

Betapa telak cengkeraman dan persis tenaga pencetannya, serta kecekatan gerak tangannya sungguh amat menakjubkan. Sampai pun It-tiam-ang yang biasanya mengagulkan kecepatan gerak pedangnya mau tidak mau merasa takjub dan melongo.

Mengawasi bangkai-bangkai ular itu, Coh Liu-hiang malah menghela napas, gumamnya: “Musim semi sudah dekat, saat paling tepat untuk menikmati sop ular. Sayang Song Thiam-ji tak berada di sini, kalau tidak dia bisa memasakkan hidangan lezat bagiku.”

Otot di atas kepala Pek-giok-mo merongkol keluar, sorot matanya hampir menyemburkan bara api. Maklumlah, kawanan ular itu merupakan piaraannya selama puluhan tahun yang sudah menghabiskan jerih-payahnya untuk mencari di lembah pegunungan dan di rawa-rawa, lalu diberi makan berbagai macam obat-obatan serta dilatihnya pula dengan susah-payah. Setelah berhasil, ia pikir hendak malang-melintang di kalangan Kangouw mengandalkan binatang berbisa ini, siapa tahu orang cukup menggerakkan tangan pergi-datang, ular-ular piaraannya kena dibunuh semuanya, malah hendak dibuat sop ular segala. Saking murka, sesaat Pek-giok-mo menjublek di tempatnya, seluruh tulang-tulang di badannya mendadak berbunyi gemeretak, dengan gigi berkeriut ia tatap Coh Liu-hiang, setapak demi setapak ia mendesak maju.

“Eh, eh, aneh, kenapa dalam perutmu seperti ada orang mengocok dadu? Tapi kulihat tampangmu yang buas menyebalkan ini, dadu yang kau lempar tentulah berjumlah satu dua tiga.” Mulut Coh Liu-hiang mengejek tawa namun ia pun tahu kepandaian Pek-giok-mo tidak boleh dipandang ringan, apalagi sekarang orangnya sudah menghimpun seluruh kekuatannya, sekali turun tangan tentu bukan kepalang dahsyatnya.

Dengan waspada matanya mengawasi tangan Pek-giok-mo, tampak tapak tangan Pek-giok-mo yang putih halus itu kini samar-samar seperti mengepulkan hawa hijau.

Tiba-tiba It-tiam-ang berseru memperingatkan: “Tapak tangannya beracun, hati-hatilah kau!”

“Jangan kau kuatir,” sahut Coh Liu-hiang. “Rasanya takkan bisa membinasakan aku.”

Pek-giok-mo menyeringai, desisnya: “Siapa bilang tak bisa membinasakanmu?”

Di saat perang tanding bakal berlangsung itulah, sekonyong-konyong seorang berseru mencegah: “Tahan!”

Di tengah bergeraknya bayangan orang, di tengah sinar redup, satu orang melangkah cepat ke dalam ruangan, tampak orang itu beralis lancip tegak, berbadan kekar tegap dengan dada lapang, pakaiannya seperangkat jubah hijau, namun terdapat dua-tiga tambalan juga.

Walau raut mukanya tampan dan mengulum senyum, tapi tanpa marah sudah menunjukkan wibawanya. Di tengah alisnya lapat-lapat menunjukkan perbawa yang menciutkan nyali orang yang dihadapinya, sikapnya tenang dan mantap, tidak patut dimiliki orang yang baru berusia seperti dirinya ini. Melihat kedatangan orang ini, murid-murid Kaypang itu segera menyurut mundur dan berdiri tegak menundukkan kepala, tanpa berani bersuara pula, sampai Pek-giok-mo pun mundur ke samping, kedua tangannya diluruskan turun.

Belum pernah It-tiam-ang melihat orang ini, namun ia bisa meraba pasti dia adalah Liong-thau Pangcu Lamkiong Ling, pejabat Pangcu Kaypang yang baru.

Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya: “Kebetulan kau datang, Lamkiong-heng. Kalau barusan aku keburu menjadi santapan ular-ular jahat itu, kelak tentu kau kehilangan teman untuk minum arak.”

Lamkiong Ling merangkap tangan menjura, katanya: “Untung Siaute masih keburu datang, kalau tidak ketiga muridku yang buta melek ini mungkin sudah menjadi sop manusia bikinan Coh-heng sendiri.”

“Kau sudah menjadi Pangcu, kenapa omongan menjadi tidak genah itu?”

“Bicara dengan orang seperti kau, Coh-heng, kalau pakai urusan sopan-santun segala, memangnya kelak Coh-heng sudi menjadi teman minum arakku? Tapi bagaimana pun perbuatan kasar murid-murid Pang kita, sukalah kalian memaafkan.” Mendadak ia menarik muka keren lalu berputar menghadapi ketiga murid Kaypang berkantung tujuh itu, dampratnya bengis: “Usia kalian tidak kecil lagi, kenapa bekerja begini ceroboh, tidak tanya dulu siapa yang kau hadapi, lantas berani turun tangan, memangnya kalian sudah lupa tata-tertib Pang kita?”

Lagaknya kata-kata ini tidak ditujukan kepada Pek-giok-mo, namun jelas dampratan ini menyangkut diri Pek-giok-mo pula. Pek-giok-mo tertawa-tawa, ujarnya: “Pangcu tak usah menuding Hwesio memakinya kepala gundul, mereka sih belum turun tangan, akulah yang sudah bertindak.”

Lamkiong Ling membalik menghadapinya, katanya dengan nada berat: “Kalau begitu ingin Puncoh bertanya kepada Pek-susiok, kenapa tidak tanya lebih dulu lantas sembarangan turun tangan, memangnya Pek-susiok ingin keluar lagi dari Pang kita?”

Meski ia hargai Pek-giok-mo sebagai ‘Susiok’, tapi pengemis galak dari Sohciu ini seketika mengkeret dan tertunduk karena ditatap begitu rupa, senyum tawanya sirna, katanya meringis: “Kita sedang mengejar bocah keparat itu, melihat…… mereka berada di sini, tentulah kami sangka merekalah yang menyembunyikan bocah keparat itu!”

“Sudahkah tanya kepada mereka berdua?” desak Lamkiong Ling.

“Tidak….. belum!”

Lamkiong Ling gusar, dampratnya: “Kalau belum kau tanya, dari mana kau tahu kalau mereka yang menyembunyikan orang? Orang itu jahat dan amat berbahaya, siapa pun takkan memberi ampun kepadanya, memangnya kedua orang ini sudi melindunginya?”

Tertunduk dalam kepala Pek-giok-mo, tak berani bercuit lagi.

Lamkiong Ling tertawa dingin, katanya lebih lanjut: “Apalagi Tionggoan It-tiam-ang dan Maling Romantis Coh Liu-hiang berada di sini, siapakah manusia di kolong langit ini yang ke mari, pastilah harus sopan-santun dan kenal adat, mengandal apa pula kalian berani bertingkah dan begitu pongah di sini?”

Memang tidak malu Lamkiong Ling seusia itu sudah menjabat Pangcu dari suatu perserikatan pengemis terbesar di seluruh kolong langit, beberapa patah kata-katanya yang sederhana bukan saja memaki dan menyalahkan terhadap murid-murid Kaypang sendiri, sekaligus ia memperkenalkan asal-usul Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang. Walau dia mendamprat anak-buahnya sendiri, namun sedikit pun tidak menurunkan derajat dan pamor pihak Kaypang mereka.

Lebih penting lagi dengan mulutnya ia menggambarkan pemuda baju hitam itu sebagai durjana jahat yang berdosa besar, maksudnya supaya Coh Liu-hiang dan It-tiam-ang tidak melindunginya lagi.

Sebaliknya Coh Liu-hiang diam-diam sedang heran, “Pemuda itu dari gurun pasir nan jauh, mana mungkin baru saja memasuki Tionggoan lantas melakukan sesuatu terhadap murid-murid Kaypang, malah naga-naganya perbuatan itu tidak kepalang tanggung.”

Setelah tahu orang yang mereka hadapi adalah Maling Romantis Coh Liu-hiang yang terkenal di seluruh jagad ini, seketika murid-murid Kaypang itu melongo terkesima.

Pek-giok-mo tertawa lebar menengadah: “Kiranya tuan ini adalah Coh Liu-hiang. Aku Pek-giok-mo hari ini kecundang di tangan Maling Romantis, tidak perlu dibuat malu. Kini Pangcu sudah berada di sini, tidak perlu aku banyak ribut lagi…… selamat bertemu di lain kesempatan!” dengan penuh kebencian ia pelototi Coh Liu-hiang, lalu tinggal pergi tanpa menoleh lagi.

Pelan-pelan Lamkiong Ling menghela napas, ujarnya: “Walau belakangan ini sepak-terjang orang ini sudah berubah, namun jiwa dan wataknya masih sempit dan kasar, tindak-tanduknya masih berangasan, maka harap Coh-heng tidak berkecil hati.”

“Kalau orang lain tidak menyalahkan aku saja sudah puas hatiku, masakah aku harus salahkan orang lain?”

“Tak nyana Coh-heng dan Ang-heng berdua bisa berada di sini, biasanya memang Siaute tak pernah menetap lama di kota ini, namun sering datang ke mari, bolehlah terhitung sebagai tuan rumah juga, sebentar kuharap kalian suka iringi aku minum sepuasnya.”

Selanjutnya ia tidak singgung pula soal si pemuda baju hitam tadi.

Sudah tentu Coh Liu-hiang pun kebenaran malah, katanya tertawa besar: “Setahun penuh kalian selalu minta sedekah sesuap nasi, apakah juga minta arak kepada orang? Baik, peduli dari mana arak kalian dapatkan, ada orang traktir aku makan-minum, selamanya aku tidak buang kesempatan baik ini. Ang-heng, jangan kau buang kesempatan baik ini, maklumlah arak yang tak usah keluar duit, rasanya memang jauh berlainan sekali.”

It-tiam-ang tetap bercokol di atas belandar tidak mau turun, sahutnya dingin: “Selamanya aku tidak pernah minum arak.”

“Wah, hidangan lezat yang menimbulkan selera, masakah disia-siakan? Memangnya kau tidak merasa lapar?”

“Arak bikin tangan gemetar, hati lemah, untuk membunuh orang jadi kurang cepat.”

Coh Liu-hiang menghela napas, “Kalau lantaran untuk membunuh orang lantas pantang minum arak, boleh dikata seperti kuatir mencret-mencret lantas tak mau makan nasi, bukan saja pikiran brutal malah boleh dikata tidak kenal kasihan terhadap mulut dan perut sendiri. Ang-heng, kau……”

Mendadak dilihatnya dua murid Kaypang muncul dari pintu belakang, terus menjura kepada Lamkiong Ling, kata orang yang di sebelah kiri: “Rumah belakang sudah kami periksa dengan para Tianglo, namun tak terlihat jejak orang jahat itu.”

Berputar biji mata Lamkiong Ling, katanya sambil soja kepada Coh Liu-hiang: “Kalau demikian, harap Coh-heng suka menyerahkan orang itu kepada kami.”

Coh Liu-hiang berkedip-kedip, tanyanya: “Siapakah orang yang kau katakan?”

“Terus terang Siaute sendiri belum jelas asal-usulnya, cuma gerak-geriknya enteng dan gesit, ilmu silatnya tinggi. Dua hari yang lalu di Tio-koan-tin pernah melukai puluhan murid-murid Pang kami, mencuri beberapa benda penting kami pula, tadi melukai Song-huhoat lagi, maka Pang kami sekali-kali tidak akan melepaskannya demikian saja.”

“O….. ada orang demikian? Kejadian begitu?”

“Apa benar Coh-heng tidak tahu akan orang ini?” tanya Lamkiong Ling kereng.

“Seumpama aku mengincar sesuatu milik orang lain, takkan bekerja di atas kepala orang-orang Kaypang kalian.”

“Begitu lebih baik ………” ujar Lamkiong Ling tersenyum. Membarengi kata-katanya, sekonyong-konyong dari lengan bajunya melesat terbang dua batang pedang pendek. Kedua batang pedang pendek Lamkiong Ling ini sekaligus bisa digunakan sebagai penotok jalan darah seperti Boan-koan-pit atau Hun-cui-coh dan delapan macam senjata tajam lainnya. “Jit-gi-pat-bak, ki-liong-cap-sha-cek” memang boleh dibilang sebagai kepandaian tunggal yang tiada bandingannya di dalam bulim, sampai pun kepandaian silat Jin-lopangcu, eks Pangcu terdahulu yang sudah ajal pun, agaknya masih setingkat lebih rendah.

Dua batang pedang pendeknya melesat seperti kilat menyambar, langsung menerjang kerai jendela dari kain beludru sebelah bawahnya. It-tiam-ang duduk di atas memandang ke bawah, jelas sekali pandangannya, dilihatnya di bawah kain kerai yang menjuntai turun itu terdapat ujung sepatu kulit hitam yang menonjol keluar.

“Blus! Crap!” kedua batang pedang pendek itu tembus masuk ke dalam sepatu panjang berat itu, seolah-olah memantek kedua sepatu itu di atas lantai. Senyuman lebar Lamkiong Ling masih terkulum pada ujung mulutnya, katanya pelan-pelan: “Sampai pada detik ini, tuan masih tidak mau keluar?”

Kain gordin itu tetap tak bergerak dan tak terdengar reaksi apa-apa. Sekaligus Lamkiong Ling melirik kepada Coh Liu-hiang, dilihatnya sikap Coh Liu-hiang tenang-tenang saja seperti apa pun tak diketahui olehnya, akhirnya Lamkiong Ling menjengek tawa dingin: “Baiklah!”

Sedikit ia ulapkan tangan, kedua murid Kaypang yang barusan masuk segera meloloskan golok di pinggang, menerjang ke depan dengan langkah lebar, golok terayun membacok bersama ke arah kerai jendela.

Walau sifat It-tiam-ang kaku dingin dan tak berperasaan, tak urung berdetak juga jantungnya. Seumpama pemuda baju hitam itu ayal, paling tidak kedua kakinya pasti cacat atau terkutung.

Di mana golok-golok itu menyambar, kerai jendela pun melayang berjatuhan, namun tak terlihat darah muncrat. Jendelanya terbuka, angin menghembus masuk, sehingga kerai bagian atas yang masih tergantung terhembus bergoyang-goyang, namun tak terlihat bayangan manusia, ternyata kedua sepatu hitam panjang di belakang kerai itu kosong melompong tanpa diketahui ke mana si pemakainya.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya: “Kerai sebagus itu dibacok kutung menjadi dua, sepasang sepatu kulit kerbau semahal ini dilubangi dua tusukan pedang, Lamkiong-heng tidak merasa sayang?”

Sedikit berubah air muka Lamkiong Ling, katanya dingin: “Kerai putus bisa dijahit kembali, sepatu bolong bisa ditambal. Kalau orangnya merat, murid-murid Kaypang kami pun bisa mengejarnya.”

Murid berkantung delapan itu berubah mukanya, selanya: “Memangnya bangsat itu lari dengan berkaki telanjang?”

“Siapa yang tugas jaga di luar jendela?” tanya Lamkiong Ling dengan kereng.

“Para saudara dari Thiam-koh-bio di Kilan,” sahut murid kantong delapan itu.

“Bawa mereka dan serahkan kepada Kongsun-huhoat,” bentak Lamkiong Ling. “Jatuhi hukuman sesuai peraturan rumah tangga.”

“Baik!” sahut murid kantong delapan sambil menjura. Sebat sekali badannya menerobos keluar melalui jendela, lalu terdengar suara hardikan di luar jendela.

Lamkiong Ling putar badan sambil unjuk tawa dipaksa kepada Coh Liu-hiang, katanya bersoja: “Siaute masih ada urusan, hari ini biarlah kita berpisah dulu.”

“Baru saja kau membangkitkan selera minumku, memangnya kenapa tergesa-gesa mau pergi?” Coh Liu-hiang coba menahannya.

“Ketagihan arak Coh Liu-hiang, di kolong langit ini siapa yang bisa selalu melunasinya? Dalam dua hari mendatang Siaute pasti mengundangmu. Harap Ang-heng ini pun jangan menolak undanganku.”

Di mana tangannya terangkat dan sedikit sentak, kedua pedang pendek itu mencelat naik terus terbang kembali ke tangannya. Ternyata pada gagang kedua pedang terikat seutas rantai lembut yang terbuat dari platina.

Dengan terburu-buru Lamkiong Ling mengundurkan diri, maka terdengar pula suara ribut-ribut di luar jendela, suara suitan saling bersahut-sahutan pula, semakin lama makin menjauh dan akhirnya tak terdengar pula.

Berkata Coh Liu-hiang dengan prihatin: “Lamkiong Ling memang seorang berbakat dan seorang pemimpin yang lihay, di bawah kekuasaannya Kaypang ternyata sehari demi sehari semakin kuat dan kokoh….. mungkin memang rada terlalu kuat.”

Baru sekarang It-tiam-ang melompat turun, biji matanya jelalatan, katanya: “Menurutmu, apakah pemuda tadi benar sudah pergi?”

Coh Liu-hiang tertawa: “Memangnya jendela di sini hanya satu?”

Terdengar seseorang berkata dengan dingin: “Cuma sayang Lamkiong Ling itu tidak berpandangan setajam Coh Liu-hiang.” Sembari bicara, tahu-tahu pemuda baju hitam tadi sudah nongol keluar dari daun jendela yang lain, kaus kakinya yang putih bersih kelihatan berlepotan debu.

Baru sekarang It-tiam-ang sadar bahwa sepatu kulitnya memang sengaja ditonjolkan keluar sedikit, orang membuka sepatu dan lolos keluar jendela, lalu dari bawah emperan merayap ke jendela yang lain serta menyembunyikan diri di belakang kain gordin jendela yang lain. Semuda ini usia pemuda itu, namun kecerdikannya luar biasa, dapat dia gunakan titik lemah dari watak manusia untuk mengambil keuntungan. Tepat sekali perhitungannya bahwa Lamkiong Ling pasti menyangka dirinya sudah melarikan diri, maka dia segan memeriksa tempat yang lain.

Tampak si pemuda baju hitam menghampiri ke depan Coh Liu-hiang. Sesaat lamanya ia melotot kepadanya, lalu mendadak berkata dengan keras, “Lamkiong Ling itu adalah teman baikmu, aku sebaliknya belum pernah kenal atau bertemu denganmu, kau tidak bantu dia malah membantu aku, sebenarnya apa maksudmu?”

Rasa curiga si pemuda ternyata sedemikian tebal. Orang lain membantunya, bukan saja tidak terunjuk rasa terima kasihnya, malah dia curiga orang ada gejala-gejala yang tidak menguntungkan dirinya.

“Aku bantu kau dan tidak bantu dia karena dia seorang pengemis yang rudin sekali, sebaliknya kau ini punya uang, maka perlu aku menjilat pantatmu.”

Sesaat lamanya si pemuda masih melotot kepada Coh Liu-hiang, akhirnya ujung mulutnya mengulum senyum, namun ia tahan sehingga dirinya tidak tertawa, katanya tetap dingin: “Meski kau sudah bantu aku, sekali-kali aku tak sudi menerima budi kebaikanmu ini.”

Coh Liu-hiang juga menahan tawa, ujarnya: “Siapa yang bantu kau? Apa perlu orang lain membantumu? Apalagi orang-orang seperti murid-murid Kaypang itu masalah terpandang dalam matamu?”

“Kau kira aku takut kepada mereka?” damprat si pemuda gusar.

“Sudah tentu kau tidak takut. Kalau kau sembunyi di belakang jendela, tak lebih hanya ingin mempermainkan mereka saja.”

Saking marahnya, merah padam muka si pemuda, kakinya melangkah mendekat seraya membentak bengis: “Jangan kau kira lantaran sudah membantuku, lantas boleh sembarangan mengejek dan mempermainkan aku, aku……” belum habis kata-katanya, tiba-tiba ia mencelat setinggi-tingginya. Kiranya tanpa ia sadari kakinya yang telanjang itu menginjak bangkai ular, saking kaget dan jijiknya ia mencelat naik ke atas meja, hampir saja ia menubruk ke dalam pelukan Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, katanya: “Kau ini orang gagah yang tidak takut langit dan bumi, kiranya hanya takut kepada ular.” Baru sekarang pula ia sadari sikap gugup dan ketakutan si p emuda yang berlari kembali tadi lantaran takut dikejar ular, jadi bukan karena takut menghadapi kepandaian murid-murid Kaypang. Pemuda kaku dingin ini takut ular, sungguh membuat orang sukar percaya.

Merah muka si pemuda, katanya dengan napas memburu: “Bukan aku takut, aku hanya jijik… sesuatu yang lunak dan licin berbau lagi, aku amat membencinya, memangnya kau kira hal itu menggelikan?”

“Tidak, tidak menggelikan!” ujar Coh Liu-hiang mengeraskan muka. “Kalau setiap perempuan takut ular, kenapa laki-laki tidak boleh takut? Kenapa laki-laki harus sedikit rada takut terhadap barang-barang seperti ini?”

Mendengar kata-katanya ini, sorot mata It-tiam-ang yang dingin kaku itu mengunjuk rasa geli yang tertahan, sebaliknya selebar muka si pemuda merah jengah.

Pada saat itulah, terdengar seseorang menjengek dingin: “Maling romantis yang terkenal di seluruh dunia ternyata bukan saja pandai berkelakar, dia pun pintar membual.”

Entah kapan seseorang berdiri menggelendot di depan pintu, dia bukan lain Pek-giok-mo adanya, tangannya menjinjing kantong kain abu-abu, entah apa isinya? Keruan berubah air muka si pemuda baju hitam, lahirnya Coh Liu-hiang bersikap tenang namun jantungnya berdebar keras, katanya tawar: “Bukankah tadi dia tak berada di sini?”

“Pangcu kami sudah memperhitungkan pasti dia masih berada di sini,” Pek-giok-mo menyeringai dingin. “Cuma memberi muka kepada kau si Maling Romantis ini, maka sementara dia menyingkir pergi. Kini setelah dia undurkan diri, kau….”

Pemuda baju hitam tiba-tiba berkata lantang: “Tidak usah kalian pandang mukanya, aku tiada sangkut-pautnya dengan dia.”

“Kalau demikian, kau mau keluar sendiri, atau tunggu kami yang meluruk masuk?”

Tanpa menunggu orang habis bicara, pemuda baju hitam itu sudah melompat terbang keluar jendela, disusul terdengar suara bentakan dan keluhan, lalu terdengar pula derap langkah ramai saling kejar dan tak lama kemudian menghilang.

“Kalian punya pangcu seperti Lamkiong Ling, benar-benar mendapat rejeki setinggi gunung. Pemuda itu berbuat salah terhadap Lamkiong Ling, memang sebal dan setimpal memperoleh ganjarannya!”

“Yang berbuat salah terhadap aku, Pek-giok-mo, belum tentu dia bernasib baik.” Mendadak Pek-giok-mo mengeluarkan senjata warna hitam legam dengan bentuk yang aneh dari dalam kantongnya, bentaknya: “Jembatan jangan disamakan dengan jalan, meski kau kenal baik dengan Lamkiong Ling, Pek-giok-mo sebaliknya tidak kenal siapa kau, kau berbuat salah terhadapku terhitung hari kematianmu sudah tiba hari ini.”

“Kenapa banyak orang yang ingin aku mati, kalau aku mati apa sih manfaatnya bagi kalian?” kata Coh Liu-hiang angkat pundak.

“Banyak sekali manfaatnya!” Pek-giok-mo menyeringai sadis. Tiba-tiba gaman aneh di tangannya teracung ke depan. It-tiam-ang mandah berpeluk tangan menonton saja, dilihatnya senjata itu mirip ganco atau gantolan, seperti cakar, bagian gagangnya diberi gelangan untuk melindungi jari-jari tangan sendiri dengan batangan berwarna hitam seperti Long-gee-pang, penuh ditumbuhi duri-duri bengkok ke belakang, sementara ujung paling depan adalah cakar-cakar setan yang dapat dikembang dan ditarik mingkup, jari-jari cakarnya hitam mengkilap, terang sudah dilumuri racun jahat.

Selama It-tiam-ang malang-melintang di Kang-ouw, sudah ratusan kali gebrak dengan berbagai musuh, namun belum pernah dilihatnya senjata seaneh ini, dia pun tak mengerti manfaat atau kegunaan daripada senjata aneh macam ini.

Bagi setiap tokoh silat adalah jamak setiap melihat semacam senjata aneh yang baru seperti pula anak kecil yang melihat barang mainan baru, tertarik dan merasa aneh pula. Demikian pula It-tiam-ang tidak ketinggalan mempunyai rasa yang sama. Dia pun ingin melihat bahwasanya gaman seaneh ini punya permainan jurus-jurus yang aneh pula, ingin pula dia melihat cara bagaimana Coh Liu-hiang memunahkan kepandaian lawan.

Terdengar Coh Liu-hiang berkata: “Alat mainan untuk menangkap ularmu ini juga hendak kau gunakan untuk menghadapi manusia?”

Pek-giok-mo terloroh-loroh, serunya: “Jit-hun-gi-jian-ku ini bukan saja bisa menangkap ular, juga bisa mencengkeram sukmamu, biar hari ini kau coba jajal.” Sambil berkata, beruntun dia sudah melancarkan tujuh-delapan jurus serangan, memang jurus permainannya aneh dan lucu, lihay lagi, tiba-tiba menutul enteng mendadak menyerampang keras, adakalanya dimainkan lincah mengandung perubahan yang aneh-aneh, tapi mendadak menyerang dengan kekuatan besar untuk merobohkan musuh.

Pengemis buas dari Kosoh ini ternyata memang sudah tekun berlatih menggembleng ilmu permainan senjatanya yang luar biasa ini, tipu-tipu serangan yang lemas dan keras saling berganti dengan leluasa dan cepat ini, sungguh sukar dihadapi oleh siapa pun, tapi kalau dia sendiri belum bisa mengendalikan kekuatan dari permainannya sendiri, betapa pun dia takkan mampu melancarkan tipu-tipu yang luar biasa seperti itu.

Gerak badan Coh Liu-hiang berubah dan berubah lagi, agaknya memang ingin melihat sampai di mana dan berapa hebatnya permainan lawan. Betapa pun hebat dan gencar perubahan serangan Jit-gi-jian lawan, dalam waktu dekat ia mandah berkelit saja tanpa balas menyerang.

Maklumlah hobinya memang bermain silat, hobinya ini boleh dikata jauh melebihi orang lain. Melihat sebuah senjata berbentuk aneh, rasa tertariknya puluhan kali lipat melebihi It-tiam-ang. Di seluruh kolong langit ini, entah berapa banyak senjata-senjata aneh yang pernah dilihatnya, bukan saja pernah melihat, dia pun sudah bisa mematahkan cara-cara serangan lawan, kini mendadak ia kebentur dengan Jit-gi-gian yang lain dari yang lain pula, sudah tentu ia tidak mau melepaskan kesempatan untuk menjajalnya. Sebelum dia paham seluruh permainan Jit-gi-gian serta tipu-tipu perubahannya, boleh dikata dia enggan turun tangan serta menghentikan serangan Pek-giok-mo. Tapi karena keisengannya ini, beberapa kali ia menghadapi serangan berbahaya musuh yang hampir saja menamatkan jiwanya. Namun ada kalanya sengaja ia tunjuk titik kelemahan diri sendiri, memancing serangan lawan memperlihatkan jurus-jurus tunggalnya.

Cakar-cakar berbisa yang mengkilap itu, beberapa kali sudah menyerempet kain pakaiannya, sampai pun It-tiam-ang ikut kaget dan mengucurkan keringat dingin.

Karena dapat mendesak lawan dan berada di atas angin, lebih bergairah dan bersemangat Pek-giok-mo, tipu demi tipu mematikan dari jurus-jurus tunggal ilmu Jit-gi-jiannya dia kembangkan tak habis-habisnya. Coh Liu-hiang didesak dan dirabanya sampai berulang-ulang.

Mendadak Coh Liu-hiang malah bergelak tertawa: “Kiranya permainan Jit-gi-jian-mu ini paling hanya begini saja. Untuk menangkap ular memang bisa kau gunakan, hendak menangkap orang masih jauh sekali!”

Pek-giok-mo membentak: “Jurus permainan Jit-gi-jianku ini selama hidupmu jangan harap kau bisa melihatnya dengan sempurna.” Pengemis buas yang licik dan licin ini agaknya dapat meraba maksud tujuan Coh Liu-hiang.

Dia tahu, sebelum Coh Liu-hiang melihat seluruh jurus-jurus tipu permainan Jit-gi-jiannya ini, dia takkan turun tangan balas menyerang. Kata-katanya ini memang hendak menyudutkan Coh Liu-hiang. Kalau Coh Liu-hiang tidak balas menyerang, maka dengan lebih leluasa dia bisa melancarkan tipu-tipu keji ilmu Jit-gi-jiannya. Apalagi Jit-gi-jian yang dia yakinkan ini masih mempunyai tipu-tipu keji yang dahsyat dan lihay yang masih belum sempat dia kembangkan, tujuannya adalah hendak menyudutkan Coh Liu-hiang pada posisi yang kepepet dan tak mungkin bisa berbuat banyak, barulah saat itu sekali serang dia bikin Coh Liu-hiang mampus oleh cengkraman cakar senjatanya yang beracun.

Jelas Coh Liu-hiang tahu akan hal ini namun dia justru membakar hati orang dan memancingnya: “Sejak tadi kau sudah kehabisan akal dan hampir putus asa, aku tak percaya kau ini punya kemampuan lain apa lagi.” Sembari bicara kakinya menyurut mundur ke sudut yang mematikan ke pojok ruangan. Memang nyalinya teramat besar, tanpa ragu-ragu ia gunakan jiwanya sendiri sebagai pertaruhan hanya untuk melihat gerak perubahan dari ilmu Jit-gi-jian keseluruhannya serta variasi perubahannya.

Sungguh pertaruhannya teramat besar It-tiam ang tidak habis pikir bahwa dalam dunia ini ada orang yang menggunakan pertaruhan jiwa sebagai permainan bercanda belaka, ia tak tahu membedakan apakah ini perbuatan bodoh atau pintar?

Memancing ikan, memang permainan orang-orang pintar, tapi kalau diri sendiri dijadikan umpan untuk mengail ikan bolehlah diartikan terbalik bahwa ikanlah yang berbalik memancing dirinya.

Coh Liu-hiang sedang menunggu kesempatan supaya Pek-giok mo terpancing, demikian pula Pek-giok mo sedang menunggu Coh Liu-hiang terkait. Begitu Coh Liu-hiang sendiri mundur ke sudut yang mematikan, tiba-tiba Pek-giok-mo menyeringai tawa, serunya: “Jurus-jurus hebat mematikan Lohu akan kau lihat setelah kau sudah ajal.”

Dalam sekejap saja dia sudah menyerang lagi tujuh jurus, satu persatu bisa dihindari oleh Coh Liu hiang dengan mudah tampak Jit-gi-jian musuh mendadak meluncur lempang dari tengah, menyerang ke mukanya. Coh Liu hiang mengkeretkan badan mundur satu kaki, dia sudah perhitungkan tepat posisi kedatangan Jit-gi-jian jelas takan bisa mencapai dirinya, serunya tertawa besar: “Kalau kau tidak……..”

Baru sampai di sini kata-katanya, tiba-tiba didengarnya “Sret!”, cakar setan yang hitam legam terkembang itu tiba-tiba melenting copot dari badannya terus mencengkeram ke dadanya. Ternyata pada batang Jit-gi-jian ini di dalamnya ada dipasang pegas yang mempunyai daya pental yang amat keras, cukup asal Pek goik mo menekan tombol di gagang yang dipegangnya, jari-jari cakar setan itu lantas mencelat keluar mencengkeram ke arah sasarannya.

Jari-jari cakar setan ini disambung oleh seutas rantai lembut empat kaki panjangnya, maka Jit-gi-jian yang semula hanya panjang tiga kaki enam dim, mendadak berobah sepanjang tujuh kaki enam dim, jarak yang semula tak bisa dicapai kini dengan mudah dicapainya.

Kini Coh Liu hiang sudah tidak mungkin bisa mundur lagi. Ia insyaf, asal kulit badannya sedikit tergores atau lecet oleh jari-jari cakar setan lawan, maka jiwanya takan hidup lebih dari satu jam.

Sebagai tokoh kosen yang berkepandaian silat tinggi, dengan seksama It-tiam-ang menonton pertempuran ini, sudah tentu ia jauh lebih terang dari orang yang sedang bertempur sendiri. Begitu dia melihat serangan Pek giok mo terakhir ini, serta merta ia menghela napas. Posisi Coh Liu hiang terang sudah kepepet dan tidak mungkin mundur pula, untuk berkelit lagi pun tiada peluang pula. Kalau jari-jari cakar setan ini tidak dilumuri racun, mungkin dengan gerakan Hun-kong-coh-ing (menyibak cahaya menangkap bayangan) dia bisa menangkap cakar setan lawan, tapi jari-jari cakar setan ini amat beracun, boleh dikata disentuh pun cukup membahayakan jiwa orang.

Mau tidak mau Coh Liu hiang menjadi kaget pula, namun meski hati mencelos ia tidak menjadi gugup karenanya, di saat-saat menghadapi bahaya antara mati dan hidup, toh terpikir juga oleh otaknya yang cerdik cara untuk mematahkan serangan mematikan ini.

Tampak pundaknya sedikit bergerak, tahu-tahu tangannya sudah mencekal sesuatu, kebetulan cakar setan sudah menyelonong tiba di depan dadanya, secara refleks langsung ia angsurkan benda dalam cekalannya masuk ke tengah jari-jari cakar setan itu.

“Trap!”, jari-jari cakar setan segera mengatup kencang dan ditarik mundur pula, benda yang tercengkeram di dalam jari-jari cakarnya yang hitam legam itu dibanting pun takkan terlepas, setelah ditegasi kiranya hanyalah segulung gambar lukisan.

Maklumlah, sesuai dengan julukan Maling Romantis, betapa cepat gerakan tangan Coh Liu-hiang tiada bandingannya di seluruh kolong langit, kalau dia ingin sesuatu dari kantong dalam baju orang segampang dia membalikkan tapak tangannya sendiri, apalagi merogoh keluar barang miliknya sendiri. Oleh karena itu maka dalam saat yang kritis di saat jiwanya terancam elmaut itulah ia merogoh keluar gulungan gambar itu serta disesapkan ke tengah jari-jari cakar setan. Betapa cepat daya luncuran cengkeraman cakar setan itu, kalau orang lain yang menghadapi, belum lagi gulungan gambar dirogoh keluar mungkin dadanya sudah berlobang besar dan jantungnya tersedot keluar.

Meskipun gulungan gambar itu amat penting artinya, namun menghadapi saat saat penentuan mati hidup jiwanya sendiri, betapa pun tingginya nilai sesuatu benda miliknya , bolehlah dibuang atau dikorbankan untuk menebus jiwanya.

Mimpi pun Pek-giok-mo tidak pernah terpikir akan akal licik lawan, sekali serangannya luput seketika berubah air mukanya, sebat sekali ia sudah mundur tujuh kaki, agaknya jeri bila Coh Liu-hiang merangsek dan mencecar dirinya malah. Siapa tahu Coh Liu-hiang sedikitpun tak bergeming dari tempatnya berdiri, cuma katanya tersenyum lebar: “Walau kau ingin mencabut nyawaku, aku sebaliknya tidak ingin menamatkan jiwamu, kini kemampuan aslimu sudah kau tunjukkan, lebih baik kau serahkan saja barang yang tercengkeram dalam cakar setanmu itu, lalu lekaslah enyah dari sini!”

Memang Pek-giok-mo tidak tahu barang apa yang tercengkeram di dalam cakar setannya, tapi sesuatu benda yang tersimpan dan dikeluarkan dari kantong badan lawan tentulah sesuatu yang bernilai tinggi. Maka kata-kata Coh Liu-hiang menggerakkan hatinya, katanya dingin: “Maksudmu supaya aku mengembalikan gulungan kertasmu ini?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: