Kumpulan Cerita Silat

22/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (18)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:19 am

Ilmu Ulat Sutera (18)
Oleh Huang Ying

Sejak kecil Lun Wan-ji sudah yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena desa kelahiran mereka tertimpa bencana alam. Sejak kecil dia diasuh oleh Yan Cong-tian. Laki-laki itu sudah menganggap Lun Wan-ji seperti anak kandungnya sendiri. Kalau melihat cara Fu Giok-su yang demikian keji, tentu dia juga tidak akan melepaskan Lun Wan-ji begitu saja. Dia semakin mengkhawatirkan keadaan gadis itu.

Pikirannya melayang kepada Wan Fei-yang. Seharusnya dia sadar bahwa bocah itu selalu jujur. Namun satu hal yang membingungkan hatinya, kenyataannya Wan Fei-yang juga menguasai Bu-tong-liok-kiat. Dari mana bocah itu mempelajarinya? Dia tidak habis pikir. Rasanya dia juga tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui semua hal yang tidak dimengertinya lagi. Sedangkan nyawanya sendiri saat ini sulit dipertahankan.

*****

Thian-ti kembali ke ruang utama, Fu Giok-su sudah menunggu di sana. Pakaiannya masih yang tadi juga. Semakin diperhatikan, hati Thian-ti semakin senang terhadap Fu Giok-su. Bibirnya tersenyum terus. Dia merasa bangga mempunyai cucu seperti Fu Giok-su.

Fu Giok-su segera berdiri menyambutnya, “Yaya, bagaimana keadaan tua bangka Yan Cong-tian itu?”

Thian-ti tertawa lebar. “Hm …. Tua bangka itu? Paling tidak aku akan mengurungnya selama dua puluh tahun. Biar dia rasakan penderitaan yang Yaya alami. Dengan demikian kejengkelan hati Yaya baru bisa terlampiaskan.”

Fu Giok-su tersenyum manis. “Terserah Yaya saja. Sun-ji hanya menurut apa yang Yaya anggap baik.”

Thian-ti kembali tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimanapun, kau memang cucu yang paling bisa diandalkan. Bukan saja kau berhasil menyelamatkan Yaya keluar dari telaga dingin malah sanggup memancing Yan Cong-tian masuk dalam perangkap kita sehingga Yaya bisa melampiaskan dendam kesumat ini.” Dia merandek sejenak. “Sekarang kau sudah menjadi Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kau harus bisa mempergunakan kesempatan ini baik-baik untuk menonjolkan kembali partai kita kelak. Suruh para murid Bu-tong itu berlatih dengan giat. Kelak kita akan memerlukan tenaga mereka.”

“Yaya ingin menggunakan tenaga mereka untuk menggempur Bu-ti-bun?” tanya Fu Giok-su yang langsung dapat menerka maksud hati Thian-ti.

“Tidak salah!” Thian-ti meremas-remas jari tangannya sendiri dengan wajah penuh semangat. “Biar mereka saling membunuh dengan pihak Bu-ti-bun. Dan kita tinggal memungut hasilnya saja.”

“Sun-ji juga mempunyai niat yang sama.”

“Oleh sebab itu, untuk sementara ini kau harus tetap merahasiakan asal usulmu.” Sinar mata Thian-ti menerawang jauh. “Aku dengar, budak perempuan yang bernama Lun Wan-ji itu juga ikut datang. Di mana dia sekarang?”

Fu Giok-su terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia berusaha menenangkan hatinya. “Masih ada di Piaukiok.” Diam-diam Fu Giok-su mengerling sekilas kepada Thian-ti. Hatinya tergetar.

“Budak perempuan itu tidak boleh dibiarkan hidup. Kelak akan menjadi masalah bagi kita. Lebih baik kau membunuhnya saja!”

“Yaya ….” Fu Giok-su hanya dapat memanggil kakeknya saja. Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya.

“Kenapa? Kau tidak sampai hati?” bentak Thian-ti dengan wajah berubah.

“Yaya, Wan-ji sudah ….”

“Sudah apa?”

“Pokoknya, Sun-ji memohon Yaya melepaskannya ….” Fu Giok-su menjatuhkan diri berlutut di depan Thian-ti.

Makhluk tua itu tertegun sekian lama. Matanya menyorotkan kemarahan. “Kalau tidak keji, tidak pantas disebut laki-laki sejati. Lihat tingkah lakumu ini, bagaimana kau bisa menangani urusan besar. Kalau kau tidak tega, biar Yaya yang turun tangan sendiri!”

Fu Giok-su terpaku di tempat. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada kakeknya. Hatinya galau sekali. Bagaimanapun hubungannya dengan Wan-ji sudah demikian dalam. Dia tidak tega turun tangan membunuh gadis itu. Apalagi kalau mengingat anak dalam perut Wan-ji yang merupakan darah dagingnya sendiri.

Fu Hiong-kun juga tertegun. Saat itu dia berada di luar ruangan utama. Setiap patah kata yang mereka ucapkan sudah didengarnya dengan jelas. Soal Yan Cong-tian yang dipancing ke Siau-yau-kok lalu dibokong dengan cara yang keji juga sudah diketahuinya. Hal itu memang sedang hangat dibicarakan setiap anak buah Siau-yau-kok. Otomatis dia juga ikut mendengar kabar itu. Justru karena hal inilah, dia bermaksud mencari Fu Giok-su dan menanyakannya. Dalam hati kecilnya, Koko yang selama ini dikenalnya adalah orang yang tahu membalas budi dan tidak sekeji Hujan, Angin, dan Geledek maupun Kilat.

Kembali dia mendengar suara bentakan Thian-ti, “Coba kau pertimbangkan baik-baik. Budak perempuan itu adalah murid Bu-tong-pay. Lagi pula dia adalah murid Yan Cong-tian. Kalau dia sampai tahu bahwa kau adalah orang Siau-yau-kok, biarpun kau tidak membunuhnya, ia juga tidak akan melepaskan dirimu begitu saja!”

Mendengar ucapan itu, Fu Giok-su sadar tidak ada gunanya banyak bicara. Bukan saja Thian-ti tetap tidak mau mengerti, malah kakeknya itu akan marah besar dan kemungkinan akan pergi ke Kian-wei-piaukiok lalu membunuh Lun Wan-ji saat ini juga. Pikirannya bekerja dengan cepat. Tiba-tiba dia membusungkan dadanya dan pura-pura tersadar. “Apa yang Yaya katakan memang benar!”

Fu Hiong-kun mana tahu isi hati Fu Giok-su. Dia terkejut sekali mendengar jawaban abangnya itu.

“Begitu baru betul,” kata Thian-ti memuji. “Tidak usah khawatir kekurangan kaum perempuan. Yaya bisa mencarikan istri yang tercantik di dunia ini untukmu. Sekarang kau harus segera kembali ke sana dan jangan menunda waktu lagi. Bunuh gadis itu lalu kembali ke Bu-tong serta persiapkan apa yang Yaya katakan tadi.”

Fu Giok-su menganggukkan kepalanya lalu mengundurkan diri.

*****

Sesampainya di luar ruangan, dia langsung melihat Fu Hiong-kun yang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.

“Hiong-kun ….” panggilnya seraya mengejar.

Fu Hiong-kun pura-pura tidak mendengar. Dia meneruskan langkah kakinya. Fu Giok-su tertegun sesaat, kemudian mengejarnya lebih cepat. Dia melesat dan mengadang di depan gadis itu.

Akhirnya Fu Hiong-kun menghentikan langkah kakinya. Dia menatap Fu Giok-su dengan pandangan dingin. Seakan melihat seorang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Fu Giok-su semakin heran. “Hiong-kun, kau tidak mengenali Toako lagi?” tanyanya lembut.

Fu Hiong-kun tertawa dingin. Dia tidak menyahut.

“Baru dua tahun tidak bertemu. Lagi pula wajah Toako juga rasanya tidak berubah banyak,” kata Fu Giok-su kembali.

“Wajah memang tidak berubah, hatinya bagai orang yang berbeda!”

“Oh?” Giok-su tampaknya masih tidak mengerti apa yang diucapkan Hiong-kun.

“Ciangbunjin Bu-tong-pay seperti engkau ini rasanya terlalu keji dan tidak berperasaan sama sekali,” sindir Hiong-kun.

Fu Giok-su menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu bagaimana harus menyahut makian adiknya itu. Dia merasa sunyi dan tak berdaya. Hiong-kun menatapnya lekat-lekat. Kemudian gadis itu menarik napas panjang.

“Rasanya aku tidak mungkin menemukan Toakoku yang dulu lagi. Oh ya, kau sudah berhasil menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay, seharusnya aku mengucapkan selamat kepadamu,” Dia menjura satu kali kemudian mengibaskan tangannya dan melenggang pergi.

Fu Giok-su terpaku di tempatnya. Setelah beberapa saat baru dia melangkahkan kakinya menuju ke luar. Meskipun di mulut dia mengabulkan permintaan Thian-ti untuk membunuh Lun Wan-ji, tapi dalam hatinya dia sudah merencanakan bagaimana mengungsikan gadis itu ke tempat yang aman agar bayinya dapat terlahir dengan selamat dan mereka masih bisa berhubungan tanpa diketahui oleh pihak ketiga.

Harimau yang buas saja tidak pernah memangsa anaknya sendiri, apalagi manusia. Meskipun hatinya sangat keji dan licik, tapi dia toh masih mempunyai perikemanusiaan. Di dalam hatinya masih tersisa sedikit kesadaran. Sambil berjalan dia memikirkan rencananya. Akhirnya dia berhasil menemukan jalan keluar yang baik. Satu hal yang tidak tersangka olehnya ialah Lun Wan-ji sudah mengetahui rahasianya dan meninggalkan Kian-wei-piaukiok.

*****

Lun Wan-ji termenung di atas tempat tidur. Hatinya gelisah memikirkan keselamatan Yan Cong-tian. Sedikit banyak dia sudah dapat meraba siapa adanya Fu Giok-su. Wajah Wan Fei-yang yang ketolol-tololan melintas di depan pelupuk matanya. Dulu dia selalu mengagumi anak muda itu sebagai orang yang jujur. Sejak kedatangan Fu Giok-su, kepercayaannya mulai luntur. Mungkinkah orang seperti Wan Fei-yang sampai hati membunuh Susioknya, Ci-siong Tojin?

*****

Bagaimana kalau Fu Giok-su yang membunuh orang tua itu? Hatinya sakit sekali, juga dibayangi ketakutan. Apa jadinya kalau yang dibayangkan semua merupakan kenyataan? Apakah benar anak yang dikandungnya ini merupakan darah daging dari seorang pembunuh berdarah dingin?

Seribu pertanyaan menggelayuti pikiran Lun Wan-ji. Setelah mempertimbangkan bolak-balik akhirnya dia bangkit dari tempat tidurnya dan membereskan perbekalannya. Dia tidak sanggup berpikir panjang lagi. Dia merasa menyesal menuduh Wan Fei-yang sebagai pembunuh. Tapi dia juga merasa tidak ada muka lagi untuk mencari anak muda itu dan menjelaskan segalanya. Nasi sudah menjadi bubur. Hanya satu hal yang dapat dilakukannya sekarang. Hatinya pun bertekad mengambil keputusan tersebut.

*****

Sesampainya Fu Giok-su di Kian-wei-piaukiok, hari sudah menjelang senja. Suma Hung segera menceritakan peristiwa menghilangnya Lun Wan-ji kepada anak muda itu. Tadinya Fu Giok-su curiga jangan-jangan Suma Hung secara diam-diam telah menerima perintah dari Thian-ti untuk membunuh gadis itu. Tapi setelah dia mendengarkan dengan saksama dan menyelidiki secara teliti, kenyataannya bukan.

Di dalam kamar Lun Wan-ji, dia menemukan sepucuk surat. Surat itulah yang dilemparkan oleh Kiang Cin dan Li Bu ke dalam kamar gadis itu. Fu Giok-su segera sadar bahwa gadis itu sudah mengetahui rahasianya. Malah sebelum dia meninggalkan Piaukiok tersebut bersama Yan Cong-tian. Saat itu dia baru mengerti sikap Lun Wan-ji yang aneh tadi malam.

Di atas meja hanya terdapat surat dari Kiang Cin dan Li Bu. Lun Wan-ji sendiri tidak meninggalkan sepatah kata pun untuk Fu Giok-su. Anak muda itu berdiri di dalam kamar termangu-mangu. Dia seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga bagi hidupnya.

Dia sama sekali tidak dapat menerka ke mana perginya Lun Wan-ji, tapi dia ragu apakah dia masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan gadis itu selama hidupnya ini. Yang pasti gadis itu tentu sangat membencinya sekarang.

*****

Senja hari yang sama. Tok-ku Hong mengajak Wan Fei-yang kembali ke kantor pusat Bu-ti-bun. Mengetahui kepulangan gadis itu, yang paling gembira tentu saja Kongsun Hong. Tapi gadis itu tidak memedulikannya. Sikapnya masih dingin dan angkuh.

Kongsun Hong yang melihat Tok-ku Hong membawa pulang Wan Fei-yang merasa tidak senang, namun dia tidak berani mengatakan apa-apa. Entah mengapa, semakin memerhatikan Wan Fei-yang, hatinya semakin tidak suka. Belum sempat dia menanyakan apa-apa, Tok-ku Hong sudah menjelaskan. “Dia bernama Siau Yang. Dia pernah menolongku. Kau cari salah seorang anak buah kita dan suruh dia urus Siau Yang baik-baik.”

“Tapi … selamanya kita belum pernah melayani tamu di sini ….”

“Tamu?” sifat pemarah Tok-ku Hong meledak lagi. “Orang yang kuajak pulang apa terhitung tamu. Ada urusan apa, aku yang tanggung jawab!”

Kongsun Hong mana berani banyak bicara lagi. Kepalanya tertunduk. Seorang anggota Bu-ti-bun menghampiri dengan tergesa-gesa dan melaporkan bahwa Buncu mengundang Tok-ku Hong masuk ke dalam kamar pribadinya.

Tok-ku Hong tampak bimbang sesaat, namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi. Baru beberapa langkah dia menolehkan kepalanya kepada Wan Fei-yang. “Sebentar aku akan kembali lagi,” katanya sambil tersenyum.

Hati Kongsun Hong semakin mendongkol. Dia melengos ke arah lain.

*****

Matahari mulai tenggelam. Cahayanya menyorot lewat jendela sebelah barat. Tok-ku Bu-ti berdiri membelakangi jendela. Seluruh wajahnya hampir tidak kelihatan karena memunggungi cahaya.

Tok-ku Hong sudah melihatnya dari luar pintu ruangan pribadi tersebut. Langkah kakinya terhenti. Hatinya angkuh dan cepat tersinggung. Dia paling tidak sanggup mendengar ocehan orang. Mengingat Tok-ku Bu-ti mungkin akan memakinya habis-habisan, rasanya dia sudah enggan masuk ke dalam.

Dia mempertimbangkan sesaat, akhirnya mengertakkan gigi dan membalikkan tubuhnya. Baru saja dia berniat meninggalkan tempat itu, Tok-ku Bu-ti sudah memandang ke arahnya. Sinar matanya demikian lembut.

Cahaya mentari pudar. Rambut di kepala Tok-ku Bu-ti yang setengahnya sudah memutih berkilauan. Walaupun dilihat dari sudut mana, dia tampak seperti orang yang penuh perasaan. Dua pasang mata saling menatap. Tok-ku Hong tertegun. Sedangkan Tok-ku Bu-ti segera mengembangkan seulas senyuman. Seulas senyuman yang penuh kerinduan dan kesepian.

Tok-ku Hong mengeraskan hatinya menghampiri. “Tia ….” sapanya dengan suara lirih.

“Kau sudah pulang,” Tok-ku Bu-ti tersenyum lagi. “Bagaimana rasanya bermain-main di luar sana?”

“Lumayan,” suara Tok-ku Hong masih dingin dan datar.

“Kadang-kadang berjalan-jalan keluar rumah ada baiknya juga.”

Tok-ku Hong tidak menyahut.

“Apa kau sanggup menghadapi berbagai penderitaan di luar sana?” tanya Tok-ku Bu-ti kembali.

“Apanya yang menderita?” sahut Tok-ku Hong kurang senang. Dia menganggap Tok-ku Bu-ti sedang menertawakannya.

“Sifatmu persis dengan orang itu. Baik ….” nada suara Tok-ku Bu-ti berubah menjadi kurang sabar.

Perasaan Tok-ku Hong menjadi kurang senang seketika. Tok-ku Bu-ti malah tersenyum lagi. Kadang-kadang Tok-ku Hong sendiri kurang mengerti sikap ayahnya.

“Tia lain kali tidak akan memarahimu lagi,” dia menarik napas panjang. “Anak sudah besar. Dimarahi sedikit saja langsung bertekad pergi dari rumah,” dia berhenti sejenak kemudian menarik napas lagi.

Tok-ku Hong semakin tidak tenang. Tok-ku Bu-ti juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanya terdiam beberapa saat. Akhirnya Tok-ku Hong juga yang membuka suara. “Apakah tidak ada hal lainnya lagi?”

Kepala gadis itu tertunduk rendah-rendah. Tok-ku Bu-ti memandangnya lekat-lekat. “Masih marah kepada Tia?” tanyanya apa boleh buat.

Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. Tok-ku Bu-ti menghampiri dan mengelus-elus kepala gadis itu.

“Tahukah kau bahwa Tia sangat merindukanmu?”

Mendengar kata-kata itu, tanpa dapat menahan keharuan hatinya lagi Tok-ku Hong menyusupkan kepalanya ke dalam dada Tok-ku Bu-ti. Kemudian dia terbatuk-batuk beberapa kali. Alis Tok-ku Bu-ti segera berkerut mendengar suara batuk itu. “Apakah kau pernah mendapatkan luka dalam?”

Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya. “Sudah hampir sembuh,” sahutnya.

“Siapa yang turun tangan terhadapmu?”

“Bocah Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pay itu!” Nada suaranya terdengar marah.

“Lagi-lagi bocah itu!” wajah Tok-ku Bu-ti menjadi kalem. “Suatu hari nanti, aku akan memberi pelajaran pahit kepadanya.”

“Kali ini untung saja ada Hwesio itu yang kebetulan lewat dan menolong aku.”

“Hwesio yang mana?”

“Dia tidak menyebutkan gelarnya. Tapi tampangnya aneh sekali. Tubuhnya pendek, kepalanya ada sembilan lubang dan jenggotnya sudah putih semua ….” Apa yang dikatakan Tok-ku Hong sebenarnya hanya meniru keterangan Wan Fei-yang saja.

Tok-ku Bu-ti mengerutkan keningnya. “Mungkinkah ….”

“Siapa?” desak Tok-ku Hong.

“Apa yang dilakukannya setelah berhasil menolongmu?” tanya Tok-ku Bu-ti kembali.

“Tanpa mengucapkan apa-apa langsung pergi.”

“Kalau begitu bukan dia,” Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya. “Kong-kong Hwesio dari Siau-lim-pay memang mempunyai tampang seperti yang kau uraikan tadi. Tapi orang ini terkenal hidung belang. Tidak mungkin dia akan melepaskanmu begitu saja.”

Wajah Tok-ku Hong menjadi merah padam mendengar keterangan itu.

“Lalu bagaimana?” tanya Tok-ku Bu-ti masih penasaran.

“Kebetulan seorang bocah laki-laki lewat di tempat itu. Dia melihat aku terluka cukup parah. Tanpa pikir panjang lagi dia mengeluarkan obat buatan resep keluarganya dan meminumkannya padaku. Sepanjang perjalanan sampai pulang, dia pula yang merawat aku,” Tok-ku Hong tertawa. “Meskipun tampangnya ketolol-tololan, tapi hatinya sangat baik.”

“Kau membawanya pulang ke kantor pusat kita?” Tok-ku Bu-ti mengerutkan keningnya.

“Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia tidak mempunyai rumah tinggal lagi. Lagi pula dia sangat mengagumi Bu-ti-bun kita. Oleh karena itu, akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengajaknya pulang. Hitung-hitung sebagai balas budi atas perawatannya selama aku terluka.”

Tok-ku Bu-ti seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sudah keburu ditukas kembali oleh Tok-ku Hong. “Aku sudah mengujinya beberapa kali. Ilmu silatnya biasa-biasa saja. Dalam hal pengobatan dia punya minat yang cukup besar. Paling bagus kalau ditempatkan di toko obat dan klinik tabib Cai.”

Tok-ku Bu-ti diam merenung.

“Tia … bagaimana pendapatmu itu? Aku sudah mengatakan iya kepadanya.”

“Kalau kau sudah mengiakan, buat apa tanya aku lagi?” Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. “Kau lakukan saja apa yang menurutmu baik. Katakan kepadanya jangan bermalas-malasan, siapa tahu aku akan mengangkatnya sebagai murid.”

Mendengar kata-kata itu, Tok-ku Hong merasa gembira demi Wan Fei-yang.

“Cepat ke sana. Nanti dia kebingungan,” kata Tok-ku Bu-ti kembali.

Tok-ku Hong segera membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Tapi sampai di pintu, dia teringat sesuatu. “Tia … ketika Kuan Tiong-liu melukai aku, dia baru saja membunuh seratus lebih orang-orang kita. Bocah itu tidak boleh dibiarkan begitu saja!”

“Tia sudah mendapat laporan tentang hal itu,” wajah Tok-ku Bu-ti berubah kelam.

Tok-ku Hong melanjutkan langkah kakinya.

*****

Pada saat itu Wan Fei-yang merasa sebal sekali. Kongsun Hong mengajaknya ke ruangan utama. Di sana ia menanyakan segala macam. Kongsun Hong juga menanyakan ciri-ciri Hwesio yang katanya menyelamatkan Tok-ku Hong. Malah dia bertanya dengan cara yang jauh lebih terperinci daripada Tok-ku Bu-ti. Wan Fei-yang hanya menjawabnya dengan samar-samar.

Semakin didengar, Kongsun Hong semakin merasa entah di mana dia pernah mendengar suara Wan Fei-yang. Tapi untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya. Dia masih bertanya terus, “Dari mana asalmu?”

Wan Fei-yang tertegun. Baru saja dia ingin menyahut nama sebuah tempat secara serampangan, Kongsun Hong sudah menukasnya kembali.

“Rasanya aku pernah dengar nada suaramu!”

“Eh?” hati Wan Fei-yang tergetar.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Dari mana asalmu?” desak Kongsun Hong.

Baru saja perkataannya selesai, Tok-ku Hong sudah melangkah masuk dari ruangan tersebut. Wajahnya berseri-seri. “Tia sudah mengatur kau bekerja di tempat tabib Cai. Dia masih berpesan agar kau jangan bermalas-malasan. Kelak mungkin dia akan mengangkatmu sebagai murid. Mari ikut aku!” katanya dengan nada senang.

Wan Fei-yang cepat-cepat berdiri. Kongsun Hong juga ikut berdiri.

“Kau belum menjawab pertanyaanku ….” desaknya.

Wajah Tok-ku Hong langsung berubah serius. “Dia toh bukan pesakitan. Untuk apa kau bertanya panjang lebar?” bentaknya marah.

Kata-kata Kongsun Hong terhenti seketika. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan lagi. Entah kenapa, dia memang selalu tidak berdaya di hadapan Tok-ku Hong. Matanya memandang kepergian kedua orang itu. Saking kesalnya, perut Kongsun Hong langsung menjadi mual. Biar dia sudah menguras ingatannya, dia masih tetap lupa di mana dia pernah mendengar suara Wan Fei-yang.

*****

Tabib Cai disebut oleh orang-orang sekitar sana sebagai Cai Hua-to (Hua-to adalah seorang tabib sakti pada zaman lampau). Menurut keterangan Tok-ku Hong, ilmu pengobatannya lumayan juga. Tapi sikapnya malah tidak terpuji sama sekali. Apalagi dia juga terkenal hidung belang dan mata duitan.

Justru karena kegenitannya itu, dia pernah menyalahi beberapa partai lurus di Bu-lim. Akhirnya dia melarikan diri dan berlindung di bawah panji Bu-ti-bun. Dia memohon kepada Tok-ku Bu-ti agar menerimanya sebagai anggota. Tok-ku Bu-ti tahu ilmu pengobatan orang ini boleh juga. Dia juga tahu Bu-ti-bun memerlukan orang semacam ini. Oleh karena itu permintaannya segera dikabulkan dan resmilah dia menjadi anggota perguruan tersebut.

Setelah masuk menjadi anggota Bu-ti-bun, penghasilannya semakin banyak. Tentu saja dia tidak berani terang-terangan memeras anggota Bu-ti-bun yang lain apabila berobat kepadanya. Rakyat daerah itulah menjadi sasaran empuk. Apalagi terhadap Tok-ku Hong, hormatnya bukan kepalang.

Usianya masih belum terlalu tinggi. Baru memasuki kepala empat. Tentu saja dia masih ingin hidup lebih lama lagi. Oleh sebab itu juga pada penampilan luarnya dia selalu mematuhi semua peraturan yang berlaku di Bu-ti-bun.

Sedangkan Wan Fei-yang dibawa oleh Tok-ku Hong, tentu saja dia tidak berani banyak bertanya atau menolak. Dia langsung menerima anak muda itu. Bahkan dia tidak mengizinkan Wan Fei-yang melakukan pekerjaan kasar. Diam-diam dalam hatinya dia berpikir jangan-jangan anak muda itu diutus sebagai mata-mata untuk menyelidiki gerak-geriknya. Wan Fei-yang ditugaskan mencatat nama-nama pasien. Kadang-kadang menimbang takaran obat atau menemaninya ke kota untuk membeli persediaan obat yang sudah hampir habis.

Apabila dia membeli obat-obatan seharga seratus tahil, paling tidak dia mencatut dua puluh tahil untuk masuk ke kantongnya sendiri. Wan Fei-yang juga kebagian tidak sedikit. Hal ini dilakukannya karena dia takut Wan Fei-yang adalah bawahan Tok-ku Hong. Seandainya dia membagi sedikit keuntungan kepada anak muda itu, mungkin dia tidak akan menceritakan apa-apa kepada Tok-ku Hong meskipun dia melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Sebetulnya Wan Fei-yang juga tidak peduli. Sayangnya tabib Cai tidak tahu. Yang paling menarik perhatian Wan Fei-yang adalah racikan obat-obatan dan nama pasien serta penyakit yang mereka derita. Setiap kali anggota Bu-ti-bun berobat kepada tabib Cai, orang itu pasti menyimpan arsipnya di dalam lemari besar. Wan Fei-yang berminat membongkar arsip tersebut. Maka setiap hari, apabila tidak banyak pekerjaan, dia pun pura-pura membersihkan semua perabotan dan membereskan surat atau resep-resep yang tidak terpakai lagi lalu ditumpukkan menjadi satu. Dengan demikian, tabib Cai sama sekali tidak curiga. Hanya sayangnya, meskipun dia sudah membongkar sampai capek, dia tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya. Orang yang mempunyai she Sen memang banyak juga. Tapi tidak ada satu pun yang bernama Sen Man-cing.

Dia tidak putus asa. Sekarang dia mulai memerhatikan setiap pasien yang datang. Setelah memerhatikan kurang lebih satu bulan, akhirnya dia menemukan seorang dayang yang aneh. Dayang itu bernama Goat Ngo. Pernah satu kali dia datang untuk mengambil obat. Wan Fei-yang biasa mencatat nama pasien dan apa penyakitnya. Dia malah dihalangi oleh tabib Cai dan ditertawakan oleh dayang itu yang mengatakan bahwa dia tidak tahu aturan.

Setelah itu tabib Cai mengantar Goat Ngo sampai di luar toko. Sekembalinya ke dalam orang itu masih berpesan kepadanya, apabila Goat Ngo datang lagi kelak, seberapa banyak saja obat yang dimintanya, Wan Fei-yang harus memberikan dan tidak perlu dicatat. Wan Fei-yang berusaha mendesaknya dengan berbagai pertanyaan, tapi tabib Cai tidak memberi penjelasan. Dia hanya menoleh kepada Wan Fei-yang dan berkata, “Semakin sedikit urusan Bu-ti-bun yang kau ketahui, semakin baik untuk dirimu sendiri. Jangan mencampuri urusan orang lain!”

Meskipun di mulut Wan Fei-yang mengiakan, tapi hatinya mempunyai pikiran yang lain. Sedangkan mengenai main gilanya tabib Cai dengan Su Sam-ko, dia pura-pura tidak melihatnya. Sepatah kata pun dia tidak menyebarkan kepada orang lain.

Su Sam-ko sebetulnya merupakan selir kesayangan salah satu Hu-hoat Bu-ti-bun, yaitu Cian-bin-hud. Seandainya Cian-bin-hud sampai mengetahui peristiwa ini, rasanya nyawa tabib Cai tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi. Tabib Cai sendiri bukannya tidak tahu sampai di mana kelihaian Cian-bin-hud. Oleh karena itu, dia selalu menggunakan kesempatan tatkala Su Sam-ko turun ke kota membeli bedak ataupun gincu. Di saat itulah mereka mengadakan pertemuan rahasia di salah satu penginapan setempat.

Perasaan Cian-bin-hud selalu sukar diraba. Apalagi ketika dia ingin membunuh seseorang. Namun dalam keadaan apa pun, wajahnya selalu tersenyum. Entah berapa banyak orang yang mati penasaran di bawah senyumannya. Maka dari itu juga, banyak orang yang menyebutnya Siau-li-jan-to (di dalam tawa tersimpan golok). Tentu saja sebutan ini hanya diucapkan di belakangnya.

Meskipun hatinya kejam dan tampangnya garang, tapi dia paling patuh terhadap kaum perempuan. Dia sama sekali tidak menduga kalau selirnya akan mengkhianatinya. Wan Fei-yang yang belum lama di tempat itu saja sudah dapat meraba hubungan istimewa antara tabib Cai dengan Su Sam-ko. Tapi Cian-bin-hud tidak tahu sama sekali.

Tabib Cai Hua-to tentu sudah menyadari kelemahan ini. Dia juga tidak berani sembrono. Tindakannya selalu hati-hati. Kalau bukan Wan Fei-yang yang demikian teliti, tentu sampai saat ini dia juga tidak mengetahuinya. Namun kalau dibandingkan dengan ketajaman telinga dan keawasan mata Manusia Tanpa Wajah, Wan Fei-yang masih belum nempil seujung kukunya.

Dia mendapat perintah untuk menyuap beberapa anggota Bu-ti-bun sebagai mata-mata. Bukan saja dia tahu hubungan antara tabib Cai dengan Su Sam-ko, dia juga tahu bahwa Wan Fei-yang sudah menyelundup ke dalam Bu-ti-bun.

Dia langsung mengambil tindakan. Pertama-tama dia menangkap basah tabib Cai yang sedang mengadakan pertemuan dengan Su Sam-ko di sebuah penginapan. Di bawah ancamannya, tabib Cai diharuskan menandatangani perjanjian sebagai mata-mata Siau-yau dan mengawasi gerak-gerak Wan Fei-yang. Karena bersalah, kedua orang itu terpaksa menandatangani perjanjian tersebut. Manusia Tanpa Wajah menanyakan dengan saksama bagaimana caranya Wan Fei-yang bisa masuk ke dalam Bu-ti-bun. Tapi dia tidak menceritakan asal usul anak muda itu sedikit pun.

Terhadap cara Wan Fei-yang menyelundup ke dalam Bu-ti-bun, Manusia Tanpa Wajah menaruh perhatian yang besar. Dia tidak menanyakan apa-apa lagi kepada tabib Cai dan dia juga tidak mengganggu-gugat kedudukan Wan Fei-yang. Dia tidak ingin Wan Fei-yang tahu bahwa gerak-geriknya sudah diperhatikan oleh orang Siau-yau-kok. Tapi Manusia Tanpa Wajah segera mengirim surat lewat merpati pos ke Siau-yau-kok dan Bu-tong-san.

Sedangkan di pihak Wan Fei-yang sendiri, dia sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya sudah di depan mata. Di pihak lain, Kongsun Hong juga mulai mengawasi Wan Fei-yang. Dia masih penasaran, di mana sudah pernah mendengar suara anak muda itu. Sedangkan kecurigaan Kongsun Hong sejak semula sudah dapat diduga oleh Wan Fei-yang. Tapi dia tenang-tenang saja. Tindakannya semakin berhati-hati. Sebisa mungkin dia menghindari pertemuan dengan Kongsun Hong. Dan setiap kali menjawab pertanyaan Kongsun Hong, dia jauh lebih berhati-hati lagi.

Beberapa hari belakangan ini, hasil yang didapatkan Kongsun Hong tidak banyak. Tapi dia tidak melepaskan Wan Fei-yang begitu saja. Untung waktunya juga tidak banyak. Dia masih mencari kesempatan untuk mendekati Tok-ku Hong. Dia juga harus menemani gadis itu membahas cara memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng.

Yang membentuk barisan tentu saja para murid Bu-ti-bun lagi. Mereka sebetulnya sudah merasa jenuh. Barisan Jit-sing-kiam-ceng yang mereka bentuk belum pernah sanggup menahan Kongsun Hong dan Tok-ku Hong. Gerakan Jit-goat-lun Kongsun Hong selalu berhati-hati. Sedangkan Tok-ku Hong tidak peduli banyak. Setiap kali dia selalu turun tangan dengan keras. Oleh karena itu, hampir puluhan jumlah anggota Bu-ti-bun yang terluka setiap harinya. Tentu saja mereka berobat ke klinik tabib Cai Hua-to. Tabib itu menjadi kelabakan saking repotnya. Untung saja luka semacam ini tidak sulit diobati. Untunglah Wan Fei-yang adalah anak muda yang cerdas. Belajar sekali saja dia langsung mengerti. Tabib Cai Hua-to sisa menghemat tenaganya karena ada bantuan dari Wan Fei-yang.

Hati Wan Fei-yang sangat baik. Dia tidak pernah mengeluh mengobati orang sebanyak itu. Siapa pun yang terluka dan datang kepadanya, selalu diobati tanpa dibeda-bedakan. Dia tidak tahu ada beberapa anggota Bu-ti-bun yang dianggap malas oleh Tok-ku Hong dan sengaja dilukai lebih berat. Dan dia tidak mengharapkan ada orang yang mengobati mereka.

Sebagian dari anggota Bu-ti-bun juga menyadari kebaikan hati Wan Fei-yang. Mereka menolak diobati olehnya. Tapi Wan Fei-yang tidak peduli. Dia berkeras menyembuhkan luka mereka. Baginya menolong orang lebih penting dari segalanya. Hal ini tidak luput dari pengawasan Kongsun Hong.

Melihat hal itu, Kongsun Hong senang sekali. Dia cepat-cepat melaporkan kejadian itu kepada Tok-ku Hong. Dia merupakan teman bermain Tok-ku Hong sejak kecil. Bagaimana adat gadis itu, dia paling paham. Dia malah berharap Tok-ku Hong akan berang mendengar kejadian ini dan sekali tebas goloknya akan membunuh Wan Fei-yang.

Dia sendiri juga merasa aneh. Mengapa dia bisa begitu membenci Wan Fei-yang ….?

*****

Mendengar berita tersebut, ternyata Tok-ku Hong benar-benar marah besar. Dia segera menemui Wan Fei-yang. Kongsun Hong yang melihat dari kejauhan tersenyum lebar. Tapi ketika Tok-ku Hong membalikkan tubuhnya menghampirinya, wajahnya segera berubah serius kembali.

Pertanyaan Tok-ku Hong yang pertama tentu saja masih menyangkut masalah itu. “Benarkah Siau Yang sedang mengobati para murid yang tidak tahu mampus itu?”

Kongsun Hong cepat-cepat menganggukkan kepalanya. “Sejak semula aku kan sudah mengatakan …. Bocah itu tidak memandang sebelah mata pun kepadamu.”

Tok-ku Hong mendengus dingin. “Siau Yang! Keluar kau!” teriaknya lantang.

Dari dalam terdengar sahutan suara Wan Fei-yang, tapi kata-katanya justru membuat Tok-ku Hong semakin marah. “Aku sedang mengobati anak murid kita, aku tidak ada waktu!”

Tok-ku Hong mengentakkan kakinya berang. “Aku perintahkan agar kau menggelinding keluar sekarang juga!” bentaknya sekali lagi.

Wan Fei-yang tidak menyahut. Tok-ku Hong menunggu sesaat. Baru saja dia hendak menerjang masuk, pintu sudah terbuka. Wan Fei-yang melangkah keluar dengan tampang terpaksa. Tok-ku Hong mendelikkan matanya kepada anak muda itu. Sekali lagi dia mendengus.

“Nyalimu mulai besar sekarang!”

Kepala Wan Fei-yang tertunduk.

“Ikut aku!” kata Tok-ku Hong sambil berjalan keluar. Wan Fei-yang terpaksa mengikuti dari belakang.

Melihat keadaan itu, Kongsun Hong semakin senang. Diam-diam dia mengikuti dari kejauhan.

*****

Setelah keluar dari halaman toko obat itu, wajah Tok-ku Hong masih memperlihatkan kemarahan. Sedangkan kepala Wan Fei-yang tetap tertunduk rendah-rendah. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tok-ku Hong mengulurkan tangannya memetik sekuntum bunga. Kemudian dicampakkannya ke atas tanah. Akhirnya dia membuka suara, “Dalam Bu-ti-bun, belum pernah ada orang yang berani membangkang perintahku. Kau merupakan orang pertama.”

Kepala Wan Fei-yang tertunduk semakin rendah. Dia bahkan tidak berani melirik gadis itu. Entah sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura.

“Aku yang membawa kau masuk menjadi anggota Bu-ti-bun. Sekarang kau malah terang-terangan membantah perintahku,” kata Tok-ku Hong kembali.

“Aku melihat mereka kesakitan setengah mati, jadi tidak sampai hati ….” suara Wan Fei-yang lebih menyerupai bisikan.

“Mereka kesakitan, apa hubungannya denganmu? Toh bukan kau yang kesakitan!”

“Aku mengerti. Mereka kesakitan tapi tidak boleh diobati. Hal ini karena kau menganggap mereka tidak mengerahkan segenap kemampuan dalam membentuk barisan,” sahut Wan Fei-yang mulai berani.

“Bagus kalau kau mengerti!” Tok-ku Hong menghentikan langkah kakinya.

“Biarlah aku dianggap kurang ajar. Tapi coba kau bayangkan, seandainya mereka mengerahkan segenap kemampuan dan tanpa sadar melukaimu, mereka sudah pasti akan menerima kematian. Sedangkan kau hanya merasa bahwa mereka tidak mengerahkan segenap kemampuan saja, sudah mengharapkan kematian mereka ….”

“Orang-orang itu semuanya kantong nasi. Mati juga tidak perlu disayangkan!”

“Salah besar. Seandainya tidak ada mereka, hari ini Bu-ti-bun tidak mungkin sehebat ini. Lagi pula, kau begini kejam. Salah sedikit saja sudah main bunuh. Siapa yang berani mendekatimu? Seandainya suatu hari kau terancam bahaya, siapa pula yang akan menolongmu? Mungkin mereka malah membiarkan kau mati di tangan musuh!”

Tok-ku Hong tertawa dingin. “Ini adalah salah satu peraturan Bu-ti-bun, siapa yang menerima perintah lalu tidak dituruti, maka ….”

“Peraturan hanya buatan manusia, mengapa tidak bisa diubah? Biar bagaimana aku tetap akan mengobati mereka. Paling banter, sehabis mengobati mereka, kau akan menebas aku dengan golokmu,” sahut Wan Fei-yang tegas.

“Kau ….” mata Tok-ku Hong mendelik penuh kemarahan kepada Wan Fei-yang.

“Aku menolong mereka sebetulnya bukan maksud tertentu. Semua ini demi kebaikanmu juga,” sahut Wan Fei-yang kembali.

“Apa lagi yang kau ocehkan?”

“Mereka sudah lama mengikutimu. Seandainya mereka menaruh dendam dalam hati …. Musuh terang mudah dihadapi, takutnya justru musuh yang membokong dari belakang.”

“Kau kira mereka berani?”

“Semut saja melawan kalau diinjak, apalagi manusia. Mungkin di hadapanmu mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa. Tapi kalau kau sampai menemui bahaya, dia akan melihat kau mati tanpa niat menolong.”

“Aku juga tidak memerlukan pertolongan mereka!”

“Biar bagaimanapun, tindakanku ini hanya menguntungkan dirimu dan sama sekali tidak ada ruginya. Aku hanya memerhatikan dirimu ….” Wan Fei-yang menatap gadis itu kemudian menarik napas panjang.

“Mengapa kau harus memerhatikan aku?” tanya Tok-ku Hong heran.

“Aku sendiri tidak mengerti.” Kenyataannya Wan Fei-yang memang tidak mengerti.

Tok-ku Hong diam termenung. Wan Fei-yang menatapnya sampai lama.

“Ada lagi. Kalau begini terus, aku dan tabib Cai Hua-to akan mati lemas. Seandainya kami kurang tidur dan salah memberi obat, maka pasti ada nyawa manusia yang akan melayang. Sudah tentu nama baik tabib Cai pun tidak dapat dipertahankan lagi.”

Tanpa dapat menahan diri lagi, Tok-ku Hong tertawa terkekeh-kekeh. “Anggap saja mulutmu pandai berbicara. Tapi kau harus berhati-hati. Suatu hari nanti, mungkin aku akan melukaimu. Pada waktu itu aku ingin lihat bagaimana caranya kau mengobati dirimu sendiri.”

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Wan Fei-yang menatapnya sampai menghilang di kejauhan. Dia masih tertegun di tempat itu. Di sebelah sana, Kongsun Hong seakan tidak memercayai pandangannya. Ternyata bukan saja Tok-ku Hong tidak membunuh Wan Fei-yang, malah sebelum pergi tadi dia tertawa terkekeh-kekeh. Biar sebodoh apa pun, dia langsung dapat menerka bahwa kesan Tok-ku Hong terhadap Wan Fei-yang sudah dalam sekali.

Kongsun Hong masih terpaku di tempat itu agak lama. Matanya menyorotkan sinar yang dingin dan menakutkan. Akhirnya dia melangkahkan kakinya. Tampaknya orang itu sudah mempunyai rencana tertentu. Wan Fei-yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

*****

Sekembalinya ke toko obat, seorang anak buah Bu-ti-bun sudah menunggunya di sana. Melihat dia masuk ke dalam, orang itu segera berteriak, “Cepat periksa aku!”

Dia menaikkan lengan bajunya. Tangannya kekar sekali. Wan Fei-yang memeriksa sekilas. Dia tidak menemukan luka ataupun penyakit apa-apa. Mungkin dia kurang teliti, pikirnya dalam hati. Oleh karena itu, dia memeriksa sekali lagi dengan saksama.

“Apa sebetulnya yang kau lakukan? Tanganku terpukul beberapa kali. Uratnya saja terasa hampir putus. Kau masih tidak mengatakan apa-apa sejak tadi!” teriak orang itu kembali.

Wan Fei-yang segera memegang lengan orang itu. Tapi orang itu langsung menjerit seperti kesakitan. “Tenagamu begitu keras, apakah kau sengaja ingin membuat aku menjadi cacat? Apakah kau belum pernah mendengar siapa adanya Cao Pao?”

Padahal Wan Fei-yang hanya menyentuhnya. Sama sekali tidak menggunakan tenaga keras. Dia sampai tertegun mendengar makian itu.

“Aku ingin nyawamu!” teriak Cao Pao lantang.

Tangan yang menurutnya sudah hampir cacat itu tiba-tiba memutar. Sebatang golok sudah tergenggam di tangannya. Dia menerjang maju dan berniat membacok anak muda itu. Tangan itu bergerak dengan gesit, sama sekali tidak seperti tangan yang sedang kesakitan. Wan Fei-yang adalah orang yang cerdas. Dia segera mengerti apa maksud orang itu. Cepat-cepat dia memegang kepalanya dengan sepasang tangan dan lari terbirit-birit.

Caranya menghindar benar-benar seperti orang yang kelabakan. Kadang-kadang dia sampai bergulingan di tanah. Napasnya tersengal-sengal. Dengan susah payah, akhirnya dia berhasil juga menghindarkan diri dari tiga puluh enam kali serangan golok Cao Pao.

Golok Cao Pao terus mengejar Wan Fei-yang. Tampaknya laki-laki kasar itu tidak ingin melepaskan Wan Fei-yang begitu saja. Goloknya menyapu ke kiri dan kanan. Sambil berlari Wan Fei-yang berteriak-teriak. Sebentar dia berteriak minta tolong, sebentar lagi dia berteriak meminta ampun lalu meminta Cao Pao menghentikan serangannya. Dia terjatuh dan merangkak bangun beberapa kali. Keadaannya sungguh mengenaskan. Pakaiannya sudah kotor semua. Dia berlari ke arah taman belakang.

Dari antara gunung buatan yang tertebar di seluruh taman, tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Kongsun Hong muncul di sana. Matanya menatap lekat-lekat pada Wan Fei-yang. Wajahnya tersirat rasa penasaran. Dari gerak-gerik Wan Fei-yang yang jatuh pontang-panting seperti itu, ia tidak tampak seperti orang yang mengerti ilmu silat. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menguji sendiri. Tubuhnya melesat ke udara. Sebilah golok terbang meluncur ke arah dada kanan Wan Fei-yang. Pada saat itu, Wan Fei-yang sedang melangkah mundur dengan serabutan. Masih jatuh-bangun seperti tadi. Tampaknya golok terbang itu dalam waktu sekejap sudah akan mengenainya, tapi tiba-tiba dia menggeser tubuhnya seperti terhuyung-huyung, golok terbang itu pun melesat mengenai bahu kanannya.

Tubuh yang terkena golok itu terjatuh d atas tanah. Cao Pao sampai menghentikan gerakannya dengan tertegun. Hatinya panik sekali. Siapa tahu Wan Fei-yang merangkak bangun secara tiba-tiba. Sedangkan golok terbang tadi tertinggal di atas tanah.

Kongsun Hong sudah panas-dingin. Dengan melukai Wan Fei-yang, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Tok-ku Hong. Ketika melihat anak muda itu merangkak bangun, dia juga ikut tertegun. Sedangkan golok Cao Pao sudah bergerak lagi menyerang anak muda itu. Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya. Tampaknya dia begitu ketakutan sehingga kalang kabut. Ilmu Wan Fei-yang yang satu ini tidak usah diragukan lagi. Dulu di Bu-tong-san berkali-kali dia menjadi bulan-bulanan para Suhengnya. Toh sampai sekian tahun mereka tidak tahu bahwa Wan Fei-yang mengerti ilmu silat. Seperti juga saat ini, gerakannya lebih mirip orang mabuk daripada bermain silat. Beberapa kali dia seperti tersandung jatuh tapi sekejap kemudian dia bisa merangkak bangun dan berlari lagi.

Cao Pao semakin penasaran. Sifatnya memang berangasan. Sudah beberapa kali dia yakin bisa mengenai Wan Fei-yang, tapi begitu dekat selalu luput lagi. Dia mengejar terus. Setelah melalui dua kali loncatan, akhirnya dia berhasil mencapai belakang punggung anak muda itu. Tampaknya kali ini Wan Fei-yang tidak mungkin menghindar lagi. Dia menggenggam kesempatan itu baik-baik. Terdengar raungannya yang marah dan goloknya menebas ke depan.

“Tang!”

Sebilah golok lain menangkis golok Cao Pao. Golok yang menangkis itu bentuknya pipih dan melengkung. Melihat golok ini, hati Cao Pao langsung kecut seketika. Golok muncul, orangnya pasti ada. Ternyata memang Tok-ku Hong. Belum lagi dia membuka mulut, Cao Pao sudah bertekuk lutut di hadapannya.

“Toasiocia ….”

Wajah Tok-ku Hong tampak kelam. “Apa yang kau lakukan?” bentaknya keras.

Wan Fei-yang cepat-cepat menukas. “Entah kerasukan setan apa orang ini, tiada hujan tiada angin, tiba-tiba ingin membunuhku. Dia mengejar aku dengan golok yang tajam itu dari toko obat sampai kemari.”

Tok-ku Hong terpana. Matanya menatap Cao Pao tajam. “Oh? Tampaknya kau ini seorang mata-mata,” katanya sinis.

Cao Pao terkejut sekali. Dia membenturkan kepalanya beberapa kali di atas tanah.

“Ampun, Toasiocia. Aku bukan mata-mata. Kejadian ini tidak ada urusannya denganku!” sahutnya terbata-bata.

Sepertinya dia masih ingin melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba Kongsun Hong yang keluar dari bagian samping sudah membentaknya, “Tutup mulut!”

Melihat kedatangan Kongsun Hong, mata Cao Pao langsung bersinar terang. “Kongsun-tongcu, kau ….”

“Aku suruh kau tutup mulut!” bentak Kongsun Hong dingin.

Mata Tok-ku Hong mengerling sekilas. “Suheng, sebetulnya apa yang telah terjadi?”

“Bocah ini tadi minum arak terlalu banyak. Dia rada mabuk sehingga tidak dapat mengendalikan dirinya,” sahut Kongsun Hong.

“Dia mana ma ….” tukas Wan Fei-yang.

“Di sini tidak ada tempat bagimu untuk bicara!” bentak Kongsun Hong sebelum Wan Fei-yang sempat meneruskan kata-katanya.

Wan Fei-yang tidak berani berkata apa-apa lagi. Tok-ku Hong tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Dia menatap tajam kepada Kongsun Hong. “Suheng, mengapa kau begitu memanjakan anak buah? Membiarkan mereka minum lalu bertindak yang bukan-bukan. Menurut peraturan perguruan kita …..”

“Sekembali ke kantor pusat aku akan menghukumnya dengan keras.” Dia langsung mencengkeram leher baju Cao Pao.

“Toasuheng, jangan … jangan ….!” teriak Cao Pao kalang kabut.

“Kau masih berani banyak bicara. Aku akan potong lidahmu terlebih dahulu!” dia tidak berkata apa-apa lagi. Ditariknya Cao Pao meninggalkan tempat itu.

Tok-ku Hong juga segera menghampiri Wan Fei-yang dan membimbingnya bangun. Melihat perhatian gadis itu, Wan Fei-yang sampai tertegun sesaat. “Terima kasih atas pertolongan Toasiocia ….”

Tok-ku Hong tertawa dingin. “Aku baru saja merasa menyesal.” Dia melepaskan tangannya.

Wan Fei-yang semakin terpana. “Menyesal?”

“Bukankah aku pernah mengatakan bahwa suatu hari apabila kau terluka, aku ingin lihat bagaimana caranya kau mengobati dirimu sendiri?”

Wan Fei-yang tertawa getir.

“Aku lihat, kau boleh juga!”

Sekali lagi Wan Fei-yang tertawa getir. “Boleh juga apanya? Kau tidak lihat bagaimana aku dikejar sampai kelabakan?”

Pikiran Tok-ku Hong langsung tergerak. “Tia pernah mengatakan bahwa dia akan menerimamu sebagai murid. Sekembalinya nanti aku akan menanyakan kapan waktunya. Kalau kau sudah bisa ilmu silat, tentu tidak takut dihina lagi oleh siapa pun,” katanya sambil memandang Wan Fei-yang lekat-lekat.

Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya. Tok-ku Hong mengantarnya sampai ke toko obat. Kebetulan Goat Ngo, si dayang yang misterius itu ada di sana. Tok-ku Hong langsung menariknya ke samping. Entah apa yang dibicarakan mereka. Setelah Goat Ngo pergi, ternyata air mata Tok-ku Hong sudah berderai dengan deras.

Melihat keadaan itu, Wan Fei-yang heran sekali. Bagaimana sifat Tok-ku Hong, dia sudah mulai paham. Dia bukan tipe gadis yang cengeng. Sedangkan selama ini, baru kali ini dia melihat Tok-ku Hong menguraikan air mata dengan keadaan begitu sedih.

Tok-ku Hong memandangi kepergian Goat Ngo sambil berdiri termangu-mangu. Akhirnya dia mengusap air mata yang membasah di pipinya. Wan Fei-yang cepat-cepat menghampiri dan bertanya dengan maksud menyelidik, “Toasiocia, apakah Goat Ngo membuat kau marah?”

“Mana ada hal seperti itu?” sahut Tok-ku Hong tanpa sadar.

“Eh?” Wan Fei-yang masih melanjutkan. “Dia tamu yang paling aneh. Kedudukannya hanya seorang dayang, tapi sampai-sampai tabib Cai juga rada takut dan segan terhadapnya. Obat apa saja yang dia minta selalu dipenuhi. Tabib Cai tidak berani banyak bertanya, juga tidak pernah mendaftar nama pasien yang menyuruhnya membeli obat.”

Tok-ku Hong mendengus dingin. “Apa yang kau ketahui?”

“Kalau begitu Siocia pasti lebih jelas dari aku.”

“Urusan ini lebih baik kau jangan banyak tanya. Dengan kedudukanmu di Bu-ti-bun, semakin sedikit yang kau ketahui semakin baik untuk dirimu sendiri. Nyawamu juga bisa dipertahankan lebih lama!”

Wan Fei-yang meleletkan lidahnya dan mengangguk berulang kali. Tiba-tiba dia merenung dan menarik napas panjang. “Memang seharusnya aku tidak usah banyak bicara. Lebih baik giat bekerja. Siapa tahu suatu hari nanti aku bisa menonjolkan diri dan menjadi orang terkenal. Dengan demikian roh kedua orang tua di alam baka juga gembira melihat keberhasilan anaknya.”

Tok-ku Hong menatapnya dengan mata sayu. “Kapan kedua orang tuamu meninggal?”

“Kapan juga tidak ada bedanya. Pokoknya aku belum sempat berbakti kepada mereka sedikit pun,” sahut Wan Fei-yang sedih.

“Oh?” wajah Tok-ku Hong berubah menjadi kelam.

“Tentu saja Toasiocia jauh lebih baik nasibnya daripada aku.”

“Kali ini dugaanmu salah,” sahut Tok-ku Hong sambil tertawa getir.

Wan Fei-yang menatap Tok-ku Hong dengan wajah keheranan. Tok-ku Hong menarik napas panjang.

“Dalam Bu-ti-bun, setiap orang hanya tahu bagaimana menghormati aku dan mencari muka. Mereka semua takut kepadaku. Tidak ada yang berani berkata jujur di hadapanku. Tidak ada pula yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi seperti engkau.” Gadis itu berhenti sejenak. “Aku tidak seberuntung yang kau bayangkan.”

Wan Fei-yang menyorotkan sinar mata kurang percaya. “Bukankah Buncu sangat baik terhadapmu?”

“Sebetulnya dia juga belum pernah mengasuhku atau menjagaku sepenuhnya.”

“Kalau begitu, ibumu ….”

“Dia dikurung oleh ayahku. Ingin menemuinya sekali dalam satu tahun saja, sulitnya setengah mati.”

“Kenapa bisa demikian?”

Kembali gadis itu menarik napas panjang. Lama dia tidak bersuara.

“Di mana dia sekarang?” desak Wan Fei-yang.

“Liong-hong-kek.” Tok-ku Hong merandek sejenak. “Di situ merupakan tempat terlarang. Siapa saja yang menginjakkan kaki ke tempat itu, boleh dibunuh di tempat. Bukan main-main!”

Wan Fei-yang pura-pura ketakutan mendengar keterangan tersebut. Pikirannya bergerak terus.

“Oh ya …. Siapa nama ibumu?”

“Namanya Sen Man-cing,” Tok-ku Hong menghentikan kata-katanya. Dia memandang sekilas ke arah Wan Fei-yang. “Untuk apa kau menanyakannya?”

Wan Fei-yang bagai tersadar dari mimpi. “Ti … tidak apa-apa. Aku hanya sekadar bertanya saja.”

Tujuan Wan Fei-yang menyelundup ke dalam Bu-ti-bun justru karena ingin mencari tahu tentang Sen Man-cing. Dia sudah berusaha dengan berbagai cara, tapi hasilnya sia-sia. Tidak tersangka dia malah mengetahui jejak Sen Man-cing dengan mudah dari mulut Tok-ku Hong sendiri. Ternyata Sen Man-cing adalah istri Tok-ku Bu-ti. Hal ini benar-benar di luar dugaannya.

“Dayang yang bernama Goat Ngo tadi adalah gadis yang selalu melayani ibuku. Justru dari dialah, kadang-kadang aku bisa mendapat sedikit keterangan tentang keadaan ibuku.”

“Mengapa ayahmu harus melakukan semua ini?” tanya Wan Fei-yang tanpa dapat menahan diri lagi.

Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. “Tia tidak bersedia menjelaskannya. Pokoknya dia melarang aku menanyakan urusan tentang ibu. Sedangkan ibu juga selalu tutup mulut setiap aku mengajukan pertanyaan yang sama.”

“Apakah dia menyalahkan atau membenci ayahmu?”

“Tidak …. Padahal ibu bukan jenis perempuan yang kolot dan mematuhi apa saja yang diperintahkan oleh suaminya. Hal inilah yang membuat aku tidak mengerti.”

“Mungkinkah ibumu pernah melakukan sesuatu hal yang bersalah terhadap ayahmu?”

“Omong kosong!” baru memaki dua kata, Tok-ku Hong langsung terdiam. Pada dasarnya, dia sendiri pernah mempunyai pikiran yang sama.

Wan Fei-yang merasa ucapannya memang rada keterlaluan. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apa-apa lagi. Diam-diam dia memerhatikan Tok-ku Hong. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Tok-ku Hong dapat menenangkan dirinya kembali. Dia melirik ke arah Wan Fei-yang.

“Sekarang aku akan menemui ayahku. Kau jangan ke mana-mana. Tunggu kabar dariku!” tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, dia langsung membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Pada saat yang sama, Kongsun Hong muncul di ruangan tamu kediaman Cian-bin-hud.

Cian-bin-hud sedang duduk di kursi goyang sambil minum arak. Dia baru minum beberapa teguk, sama sekali belum mabuk. Melihat kedatangan Kongsun Hong, wajahnya langsung berseri-seri. Dia tertawa lebar. “Kebetulan aku sedang tidak punya teman. Minum arak seorang diri sungguh tidak enak. Mari … mari!”

Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. “Aku sedang ada keperluan yang ingin minta tolong pada Hud-heng.”

“Ada urusan apa bisa kita bicarakan kalau sudah selesai meminum arak,” sahut Cian-bin-hud sambil menuang secawan arak dan menyodorkannya ke depan Kongsun Hong.

Kongsun Hong menolaknya dengan halus. “Urusan ini penting sekali. Harap Hud-heng meletakkan dulu cawan arakmu.”

“Oh?” Cian-bin-hud menjadi penasaran. Rasa ingin tahunya timbul seketika. “Sebetulnya urusan apa yang membuat kau begitu panik?”

“Setahu kami, Hud-heng merupakan orang yang paling luas pengetahuannya. Apalagi menyangkut ilmu silat setiap partai dan aliran yang ada di dunia Kangouw.”

“Tidak usah memuji seribu bahasa. Kita toh orang sendiri. Ada urusan apa, katakan saja langsung!”

“Aku hanya ingin tahu, dalam ilmu menangkis dan menghindarkan diri dari serangan musuh, apakah ada semacam ilmu yang gerakannya jatuh-bangun, lari pontang-panting seperti orang yang kebingungan dan kalang kabut?”

“Kau hanya menguraikan secara lisan, mana aku bisa mengerti?” Cian-bin-hud merenung sejenak. “Kalau kau masih ingat dengan baik, coba perlihatkan padaku. Secara kasar saja, tidak apa-apa.”

“Baik,” sahut Kongsun Hong. Dia mulai mengingat-ingat dan meniru gerakan Wan Fei-yang ketika diserang oleh Cao Pao tadi. Juga gerakan anak muda itu ketika menghindarkan diri dari golok terbangnya.

Semakin memandang wajah Cian-bin-hud semakin kelam. Dia menunggu sampai gerakan Kongsun Hong berhenti. “Kalau tidak salah, itu adalah jurus Ping-wei-ma-po.”

“Taysu, gerakan jurus apa yang kau katakan itu?”

“Ping-wei-ma-po (gerak langkah penyakit ayan),” suara Cian-bin-hud serius sekali. Sebetulnya gerakan itu diambil dari Tian-li-sian-hua (bidadari menaburkan bunga), tapi karena gerakan ilmu yang satu ini khusus diperuntukkan bagi kaum perempuan karena gerakannya yang mirip tarian, maka diubah sedikit dan diberi nama Ping-wei-ma-po. Ilmu ini dipelajari kaum laki-laki. Ilmu ini merupakan salah satu dari tujuh puluh dua ilmu pusaka Siau-lim. Sudah lama menghilang dari dunia Kangouw, tapi tiga puluh tahun kemudian, ilmu yang serupa muncul di Bu-tong-pay. Tapi ilmu ini tidak pernah diwariskan kepada siapa pun.”

Kongsun Hong terpana. Sebuah ingatan melintas di benaknya.

“Rupanya dialah orangnya yang mengalahkan Kuan Tiong-liu di kaki gunung Bu-tong-san dan menolong kami berdua,” gumamnya perlahan.

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Cian-bin-hud heran.

“Siau Yang!” tinju Kongsun Hong terkepal erat-erat.

Cian-bin-hud semakin terpana. “Maksudmu Siau Yang mengerti ilmu Ping-wei-ma-po?”

Kongsun Hong menganggukkan kepalanya seperti orang linglung. “Itulah sebabnya aku selalu merasa pernah mendengar suaranya. Hm … bocah ini ….” dengan kemarahan meluap-luap dia menerjang keluar.

“Hai! Ke mana kau?” tanya Cian-bin-hud sambil mengejar ke depan.

“Aku akan menemui Suhu!” suaranya masih berkumandang, orangnya sudah lenyap di balik tembok yang tinggi.

*****

Ruangan utama merupakan tempat di mana Tok-ku Bu-ti biasa menerima tamu-tamunya, juga merupakan tempat di mana bawahannya melaporkan hasil perolehan mereka dalam masing-masing usaha. Dulu Kongsun Hong juga diterima murid di ruangan ini.

Kecuali Kongsun Hong, sampai detik ini dia tidak pernah menerima murid lain secara resmi. Oleh karena itu, Tok-ku Hong sendiri merasa di luar dugaan. Dia cepat-cepat pergi mencari Wan Fei-yang. Jangan sampai Tok-ku Bu-ti menyesal dan membatalkan niatnya. Itulah sebabnya Tok-ku Bu-ti baru duduk sebentar, Tok-ku Hong sudah mengajak Wan Fei-yang menghadapnya.

Sejak masih menjadi anggota Bu-ti-bun, baru kali ini Wan Fei-yang bertemu muka dengan Tok-ku Bu-ti. Maka dari hatinya agak tegang. Sebetulnya dia sama sekali tidak berminat mengangkat Tok-ku Bu-ti sebagai guru. Tujuannya masuk ke dalam Bu-ti-bun hanya untuk mencari Sen Man-cing. Sekarang urusan sudah telanjur sampai tahap sedemikian rupa. Dia menjadi khawatir … khawatir risiko yang akan dihadapinya nanti.

Tok-ku Bu-ti memandanginya dengan wajah tersenyum. Wan Fei-yang meremas-remas jari tangannya gugup.

“Tia, dialah yang bernama Siau Yang,” Tok-ku Hong menjawil lengan baju Wan Fei-yang. “Cepat panggil Buncu!” katanya dengan suara lirih.

“Harap Buncu banyak rezeki!” Wan Fei-yang mengucapkan kata-kata yang diajarkan oleh Tok-ku Hong sebelumnya.

“Bagus!” mata Tok-ku Bu-ti memandangnya dengan tatapan menyelidik. “Aku dengar kau pernah menolong nyawa Hong-ji!”

“Hal itu juga berkat keberuntungan Buncu!”

“Bagus sekali!” Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. “Apa tujuanmu mempelajari ilmu dari Bu-ti-bun?” tanyanya kemudian.

“Siaujin (aku yang rendah) sejak kecil selalu dihina orang. Maka dari itu aku berharap dapat mempelajari ilmu silat barang beberapa jurus agar dapat mendongakkan kepala di hadapan orang lain.”

“Punya semangat!” mata Tok-ku Bu-ti mengerling. “Hong-ji mengharap aku menerimamu sebagai murid ….”

Ucapannya belum selesai, terdengar sebuah suara menyahut lantang dari luar, “Suhu, orang ini jangan sekali-kali diterima sebagai murid!”

Kongsun Hong menerjang masuk dengan wajah merah padam. Melihat kedatangan orang itu, hawa marah Tok-ku Hong langsung meluap. “Suheng, lagi-lagi kau mengacau!”

Kongsun Hong maju selangkah. “Orang ini pasti mata-mata. Ilmunya sangat tinggi!” kata Kongsun Hong.

Wan Fei-yang tertegun seketika.

“Omong kosong!” bentak Tok-ku Hong.

“Sumoay, tahukah kau bahwa dia adalah manusia bertopeng yang mengalahkan Kuan Tiong-liu di kaki gunung Bu-tong tempo hari?” kata Kongsun Hong sambil menuding ke arah Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang menjadi termangu-mangu. Tok-ku Hong merasa heran Kongsun Hong bisa mengungkit kejadian itu.

“Kau memang paling pintar mengoceh yang bukan-bukan. Dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Malah tadi hampir saja terbunuh oleh orangmu!” bentaknya marah.

“Dia tadi ….” Kongsun Hong menjadi gagap-gugup.

“Kau kira aku tidak tahu bahwa orang yang membawa golok itu adalah orang suruhanmu. Karena kau adalah Toasuheng dan Siau Yang sama sekali tidak terluka, maka aku tidak berniat memperpanjang urusan ini. Sekarang kau malah ….”

“Sumoay … apa yang aku katakan benar adanya,” wajah Kongsun Hong merah padam. “Dia memang manusia bertopeng itu. Apakah kau tidak merasakan kemiripan suara mereka?”

Tok-ku Hong tertegun. Agaknya sampai saat ini dia baru teringat urusan tersebut.

“Tadi aku memang menyuruh Cao Pao mencari gara-gara dengannya. Maksudku ialah ingin memaksanya mengeluarkan kepandaian yang dia miliki,” kata Kongsun Hong kembali.

“Tapi dia sama sekali tidak melawan. Malah lari pontang-panting ketakutan.”

“Dia memang sengaja berpura-pura di depan kita. Sebetulnya gerak-geriknya yang jatuh bangun itu merupakan semacam ilmu yang disebut Ping-wei-ma-po. Oleh karena itu, meskipun Cao Pao berusaha mengejar dan menggerakkan goloknya dengan gencar, dia tetap dapat menghindar.”

Tok-ku Hong menatap Wan Fei-yang lekat-lekat. Wajahnya berubah menjadi kelam. Kongsun Hong menoleh kepada Tok-ku Bu-ti. “Suhu, Ping-wei-ma-po adalah ilmu Bu-tong-pay yang tidak boleh diwariskan kepada siapa pun juga. Cian-bin-hud sudah mengatakannya dengan jelas!” katanya.

Tok-ku Bu-ti tertawa datar. “Kau kira Suhu tidak ada ilmu gerakan langkah seperti itu? Justru karena ilmu itu masih menjadi pertanyaan apakah milik sah Siau-lim-pay atau milik Bu-tong-pay, maka tidak boleh dipelajari oleh siapa pun,” sahutnya tenang.

Kongsun Hong menggelengkan kepalanya sambil menuding ke arah Wan Fei-yang. “Orang ini pasti mata-mata yang diutus oleh Bu-tong-pay.”

“Apa yang kau ketahui?” suara Tok-ku Bu-ti semakin datar.

Kongsun Hong tertegun. “Apakah Suhu tetap ….?”

“Sejak semula aku sudah tahu!” tiba-tiba Tok-ku Bu-ti merentangkan tangannya. Sepasang telapak tangannya menghantam pintu ruangan tersebut. Terdengar suara “blam!” pintu itu tertutup seketika. Wang Fei-yang memalingkan wajahnya. Dia terkejut sekali melihat kenyataan itu.

Wajah Tok-ku Hong juga berubah hebat, “Tia ….!” serunya panik.

“Kau minggir ke sana!” kata Tok-ku Bu-ti sambil mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya. “Kongsun-ji, kau bacakan surat dengan suara keras!” Surat itu dientakkannya. Lembaran kertas itu menjadi kaku seketika seperti lempengan besi.

Kongsun Hong segera maju menerima surat tersebut. Dia membacanya keras-keras:
“Ciangbunjin generasi baru dari angkatan Ciok menyampaikan salam kepada Buncu dari Bu-ti-bun, Tok-ku Bu-ti ….
“Bu-tong-pay sedang tertimpa kemalangan. Generasi pendahulu Ci-siong Tojin dibokong oleh seorang murid sehingga tewas. Kami masih dalam suasana berkabung. Apabila menggerakkan senjata dalam keadaan demikian, tentu akan menjadi gunjingan kawan-kawan di dunia Kangouw. Dengan demikian, kami mohon pengertian Tok-ku Buncu untuk memundurkan tanggal pertarungan selama setengah tahun. Tok-ku Buncu adalah orang yang penuh pengertian. Kami yakin permintaan ini tidak akan ditolak ….”

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

“Benar-benar alasan yang tepat. Dengan demikian orang tidak bisa mengatakan bahwa murid Bu-tong-pay adalah orang-orang yang takut mati.” Dia memberi isyarat kepada Kongsun Hong agar meneruskan kata-kata dalam surat itu.

“Mengenai murid murtad Wan Fei-yang yang membunuh Suhu, sekarang sudah mengganti nama menjadi Siau Yang. Orang ini masuk menjadi anggota Bu-ti-bun dan bekerja di toko obat. Entah dia mengandung maksud tertentu atau memang sebetulnya orang dari pihak kalian yang diperintahkan untuk membunuh Suhu. Kami mengharap Tok-ku Buncu tidak keberatan menyerahkan orang ini agar dapat kami hukum sesuai peraturan ….”

Mendengar sampai di sini, hati Wan Fei-yang langsung tergetar. Dia merasa heran sekali.

“Mengapa Fu-toako bisa tahu?” gumamnya seorang diri.

Kembali Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. “Kau yang bernama Wan Fei-yang?” tanyanya tenang.

Sinar mata Wan Fei-yang terangkat ke atas. Dia mengertakkan giginya erat-erat. “Betul!” sahutnya nekat.

“Orang-orang Bu-tong-pay menuduh kau yang membunuh Ci-siong Tojin, bagaimana pendapatmu sendiri?” tanya Tok-ku Bu-ti kembali.

“Aku tidak membunuhnya!”

“Sebetulnya siapa Suhumu, Ci-siong Tojin atau Yan Cong-tian?” sinar mata Tok-ku Bu-ti semakin tajam.

Hati Wan Fei-yang kembali tergetar. Dia benar-benar kagum akan ketajaman mata Tok-ku Bu-ti dan kecepatan anak buahnya dalam mencari berita. Namun dia juga tidak habis pikir bagaimana tebakannya begitu tepat.

Dia tidak menyahut. Tok-ku Bu-ti juga tidak mendesaknya. Dia masih tertawa lebar. “Aku malah tidak habis pikir apa tujuanmu menyelinap ke dalam Bu-ti-bun!”

“Suhu, aku rasa dia ingin menyelidik rahasia ilmu yang kau pelajari sehingga kelak ada pegangan dalam menghadapimu,” tukas Kongsun Hong.

“Mungkin saja ….” sahut Tok-ku Bu-ti datar.

“Kalau begitu, kita terlebih-lebih tidak boleh melepaskannya. Lebih baik langsung dibunuh saja!” Sepasang Jit-goat-lun Kongsun Hong langsung berputaran. Dia tidak menunggu izin dari Tok-ku Bu-ti. Tubuhnya segera melesat ke depan menyerang Wan Fei-yang.

Tentu saja Wan Fei-yang melihat dengan jelas bahwa Kongsun Hong sedang menerjang ke arahnya. Dia tertawa getir. Jarak Kongsun Hong semakin dekat. Sepasang Jit-goat-lun di tangannya mengancam dada Wan Fei-yang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: