Kumpulan Cerita Silat

22/12/2007

Hina Kelana: Bab 101. Lenghou Tiong Mengetuai Kaum Nikoh

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:21 pm

Hina Kelana
Bab 101. Lenghou Tiong Mengetuai Kaum Nikoh
Oleh Jin Yong

Setelah membedakan arah, Lenghou Tiong terus menuju ke Siau-lim-si lagi. Menjelang magrib tibalah di tempat tujuan. Ia menyatakan maksud kedatangannya kepada hwesio penyambut tamu dan mohon dibolehkan mengusung jenazah Ting-sian dan Ting-yat Suthay pulang ke Hing-san.

Setelah dilaporkan, kemudian hwesio penyambut tamu memberitahukan, “Menurut Hongtiang, jenazah kedua suthay sudah diperabukan dan sekarang sedang dilakukan sembahyangan oleh segenap penghuni biara ini. Tentang abu jenazah kedua suthay selekasnya akan kami antar ke Hing-san.”
(more…)

Advertisements

Ilmu Ulat Sutera (18)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:19 am

Ilmu Ulat Sutera (18)
Oleh Huang Ying

Sejak kecil Lun Wan-ji sudah yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena desa kelahiran mereka tertimpa bencana alam. Sejak kecil dia diasuh oleh Yan Cong-tian. Laki-laki itu sudah menganggap Lun Wan-ji seperti anak kandungnya sendiri. Kalau melihat cara Fu Giok-su yang demikian keji, tentu dia juga tidak akan melepaskan Lun Wan-ji begitu saja. Dia semakin mengkhawatirkan keadaan gadis itu.

Pikirannya melayang kepada Wan Fei-yang. Seharusnya dia sadar bahwa bocah itu selalu jujur. Namun satu hal yang membingungkan hatinya, kenyataannya Wan Fei-yang juga menguasai Bu-tong-liok-kiat. Dari mana bocah itu mempelajarinya? Dia tidak habis pikir. Rasanya dia juga tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui semua hal yang tidak dimengertinya lagi. Sedangkan nyawanya sendiri saat ini sulit dipertahankan.
(more…)

Maling Romantis (10)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:04 am

Maling Romantis (10)
Oleh Gu Long

Kontributor: bpranoto, sikasep, budiwibowo, mtv2006

“Masih kau ingin lari?” jengek si pemuda baju hitam. Karena berhasil, mana ia mau mengampuni lawannya, lingkaran cambuknya kembali menggulung tiba.

Tepat pada saat itulah, sekonyong-konyong selarik sinar pedang laksana kilat melesat masuk dari luar jendela. Sementara cambuk panjang sudah bergulung-gulung menjadi lingkaran, tentunya ujung cambuknya tak kelihatan lagi, namun pedang itu justru tepat dan persis sekali menutul di ujung cambuk, kekuatan gubatan cambuk yang melingkar seketika punah dan menjadi lemas. Kalau cambuk panjang itu diumpamakan ular, maka tutulan pedang itu telah sekali menusuk pada tempat kelemahan si ular, yaitu tujuh dim di bawah lehernya.
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.