Kumpulan Cerita Silat

21/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (17)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:19 am

Ilmu Ulat Sutera (17)
Oleh Huang Ying

Tata ruangan dan daerah sekitar tidak tampak banyak perubahan, hanya orang-orangnya saja yang dia tidak merasa kenal satu pun. Terhadap Congpiauthau (kepala pengawal) Suma Tian, dia pun merasa asing. Ketika pertama kali melihat Suma Tian, dia masih seorang bocah berusia tujuh-delapan tahun. Tapi dia mempunyai perasaan bahwa Suma Tian yang ada di hadapannya rada tua sedikit dari usia yang sebenarnya.

Yang paling dikenalinya justru golok bergagang emas yang tergenggam di tangan Suma Tian. “Golok ini merupakan senjata yang mengangkat nama besar ayahmu di zaman dulu.” Ketika mengucapkan kata-kata ini, Yan Cong-tian sudah duduk di tengah ruangan utama. Kian-wei-piaukiok. Suaranya sampai serak karena terkenang sahabat baiknya yang sudah tiada. “Kau juga menggunakan golok ini sebagai senjata?”

Suma Tian tertawa lebar.

“Seluruh keluarga kami menggunakan golok sejenis ini sebagai senjata,” sahutnya.

“Oh?” Yan Cong-tian tersenyum. “Samsiokmu tidak menggunakan Swipoa besi lagi sebagai senjata?”

Suma Tian tertegun. “Akhir-akhir ini ilmu goloknya juga sudah dilatih dengan hebat,” sahutnya cepat.

“Mengagumkan!” Yan Cong-tian menghela napas. “Aku ingat tempo dulu dia pernah mengatakan bahwa Swipoa besinya merupakan senjata yang paling ideal untuk melawan golok emas ayahmu. Dia tidak bersedia melatih ilmu golok. Urusan ini malah menjadi awal pertengkaran antara mereka. Tidak disangka ketika usianya sudah lanjut malah dia baru berniat melatih ilmu golok. Hati manusia memang tidak disangka-sangka, kadang-kadang perubahan seseorang sering mengejutkan.”

Suma Tian tertawa lebar sambil mengangkat cawan araknya dan mengajak Yan Cong-tian minum. Belum lagi Yan Cong-tian menghabiskan araknya sampai kering, dari luar terdengar teriakan lantang…. “Kim-to Suma, di mana kau bersembunyi?”

Yan Cong-tian segera meletakkan cawan araknya di atas meja. Keningnya berkerut. Wajah Suma Tian berubah hebat. Tidak urung wajah Fu Giok-su juga ikut berubah. Seseorang menyibak kerumunan anak buah Piaukiok dan menerjang masuk. Orang itu sudah tua sekali, tapi sikapnya masih berangasan, suaranya juga besar. Matanya mendelik ke arah setiap orang yang ada dalam ruangan.

“Suma Tian, keluar kau!” teriaknya sekali lagi.

Seseorang Piausu maju mengadangnya. “Lopek ini … Congpiauthau kami sedang ada urusan penting. Lebih baik Lopek pulang dulu, besok ….”

“Besok? Ada urusan apa yang lebih penting daripada barang titipanku?” Hawa kemarahan orang tua itu seakan hampir meledak. “Bagaimana dengan anakku?” teriaknya semakin keras.

“Sebetulnya bagaimana duduk persoalan Lopek ini?” tanya Suma Tian sambil berjalan ke depan.

“Tidak usah berpura-pura lagi. Aku datang untuk menagih barang titipan dan menagih nyawa!”

“Eh!” Suma Tian tertegun.

“Suruh Suma Tian keluar!” Kata-kata orang tua ini membuat para hadirin tercengang. Mata Yan Cong-tian menyorot tajam. Dia mendelik ke arah Suma Tian.

“Suma Tian sekarang sudah berdiri di hadapanmu,” sahut Suma Tian cepat.

Mata orang tua itu membelalak. “Kau adalah Suma Tian?” Dia menggelengkan kepalanya. “Kau bukan Suma Tian!”

“Apa maksud ucapanmu itu?” tanya Suma Tian sambil menenangkan hatinya.

Mata orang tua itu mengedar ke sekeliling. “Hari itu ketika aku datang menitipkan barang untuk dikawal, Suma Tian yang kutemui jauh lebih muda. Di pipi kanannya ada guratan luka!”

Suma Tian tertegun. Kening Yan Cong-tian berkerut ketat. Lun Wan-ji menatap dengan penuh kecurigaan. Fu Giok-su malah tegang sekali.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bergurau!” wajah Suma Tian berubah kelam. “Lopek, aku belum pernah bertemu muka denganmu. Aku juga tidak pernah menerima titipan barang darimu. Coba bayangkan, aku Suma Tian mengurus Piaukiok ini kurang lebih sudah tujuh tahunan. Dalam jarak beberapa ratus li, siapa yang tidak kenal aku.”

“Aku justru tidak mengenalmu!”

“Masih ingatkah kapan Lopek datang ke Piaukiok ini?”

“Tanggal lima belas bulan kemarin!” Ucapan orang itu sangat yakin. Tidak tampak seperti sedang berdusta.

Suma Tian juga tidak mirip sedang berdusta. Dia tertawa dingin.

“Kalau begitu kau salah mengenali orang. Tanggal lima belas bulan lalu aku sedang berada di Say Pak mengawal barang titipan Lie-wanggwe.” Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya menatap tiga orang Piausu yang berdiri di sudut ruangan. “Ketika itu hanya kalian tiga kakak beradik yang ada di sini. Apakah kalian yang bermain setan di belakangku?”

Tiga orang Piausu itu saling melirik sekilas. Ketiganya tampak tertegun. Kemudian salah satu yang paling tua segera maju ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, “Budak memang pantas dihukum ….”

“Tio Liong, jelaskan semuanya!” bentak Suma Tian.

“Budak menyuruh orang menyamar sebagai Congpiauthau.” Kepala Tio Liong tertunduk dalam-dalam.

“Nyalimu besar sekali! Untuk apa kau melakukan semua ini?”

“Pada waktu itu Piauthau dari Peng-a-piaukiok yang berasal dari desa Tung Pen datang bertandang. Dia adalah To-hen-houw (harimau yang mempunyai cacat bekas tebasan golok). Melihat kedatangan Lopek ini, dia mengajak kami berunding dan menyamar sebagai Congpiauthau. Pada saat itu, hati kami dipenuhi keserakahan.”

“To-hen-houw?” Suma Tian mendelikkan matanya lebar-lebar. “Seret dia kemari!”

“Dia sudah mati!” sahut Tio Liong gugup. “Ketika gerobak kita melewati Sat-houw-ko, mereka diadang oleh tentara kerajaan.”

“To-hen-houw tidak mengukur kekuatan sendiri. Dengan mengandalkan ilmu silatnya yang begitu rendah, mana bisa dia melewati Sat-houw-ko?” sindir Suma Tian.

“Budak tahu salah!” kata Tio Liong sambil membenturkan kepalanya di atas tanah.

Orang tua itu tampaknya tidak sabar lagi melihat keadaan itu.

“Siapa yang salah di antara kalian, aku tidak mau tahu. Pokoknya ganti kerugian untukku.”

“Lopek ….” Wajah Suma Tian serius sekali. “Jangan khawatir. Kami pasti akan mengganti kerugianmu. Berapa jumlah nilai karang titipanmu itu?”

“Jumlah seluruhnya lima ribu tiga ratus tahil uang perak!”

Suma Tian merenung sejenak. Dia mengeluarkan selembar Ginbio (semacam cek) dan meliriknya sekilas.

“Ginbio ini bernilai enam ribu tahil. Masih ada kelebihan sebanyak tujuh ratus tahil. Anggap saja sebagai pengganti kerugian dari kami.”

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin lima ribu tiga ratus tahil saja!”

Suma Tian menyodorkan Ginbio tersebut ke dalam genggaman tangan orang tua itu. “Lopek, kesalahan ada di pihak kami. Kalau kau tidak bersedia menerimanya, kami tentu merasa tidak enak hati.”

Akhirnya orang tua itu menganggukkan kepalanya.

“Dengan melihat ketulusan hatimu, Lohu akan menerima uang ini. Tapi nyawa anakku ikut melayang karena ikut dalam pengawalan tersebut. Hal ini tidak bisa disudahi begitu saja.”

Suma Tian tertegun.

“Lopek, To-hen-houw sudah mengganti selembar nyawanya, belum lagi para Piausu lain yang ikut berkorban ….”

“Aku tidak peduli. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kesalahan ada di pihakmu. Seandainya kau tidak memberi keadilan, kita sama-sama menghadap jaksa untuk menyelesaikan masalah ini.”

Para hadirin tertegun seketika. Suma Tian menarik napas panjang. Tiba-tiba tangannya terulur dan menghantam ubun-ubun kepala Tio Liong. Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka, tentu saja dia juga tidak sempat menghindar. Dalam sekejap mata dia roboh dengan kepala remuk. Nyawanya juga melayang seketika.

Yan Cong-tian langsung berdiri. Lun Wan-ji dan Fu Giok-su berubah hebat. Dua orang Piausu yang tadi berdiri berjejer dengan Tio Liong terkesiap. Mereka segera menghampiri tubuh saudaranya itu dan memapahnya.

Orang tua itu juga terkejut. Kakinya sampai mundur dua langkah. Suma Tian segera berjongkok di depan mayat Tio Liong.

“Hengte, jangan kau kira aku berhati keji. Hubungan kita selama ini sangat erat, bagai jari tangan layaknya. Sebetulnya aku tidak tega turun tangan seperti ini, tapi kau benar-benar semakin berubah. Tempo hari ketika mengawal barang ke Ci-si-ling, kau mencuri uang titipan sebesar dua ratus tahil. Aku sudah memaafkanmu. Sekali lagi ketika mengawal barang ke Pek-hua-lin, tiga peti barang titipan hilang di bawah kawalanmu. Aku tahu semua itu hasil tanganmu sendiri. Namun aku tidak mengatakan apa-apa. Aku masih berusaha memaafkanmu dengan harapan kau akan bertobat. Tapi kali ini …. Aih … dosamu sudah terlalu besar!” Air matanya mengucur dengan deras. Sesaat kemudian dia mendongakkan wajahnya menatap orang tua itu. “Lopek, apakah kau sudah merasa puas sekarang?”

Orang tua itu tersurut mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi. “Baik … baik. Anggap saja aku yang sial!” Selesai berkata, orang tua itu cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.

“Susiok, Tecu tidak becus mengurus bawahan. Hanya menjadi bahan tawaan kau orang tua saja.”

Yan Cong-tian tidak menyahut.

“Dalam hal ini, kau juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya.” Malah Fu Giok-su yang menjawab.

Suma Tian membungkukkan badannya dalam-dalam. “Samwi harap masuk dulu ke ruangan dalam. Tecu akan membersihkan tempat ini. Nanti baru masuk dan menemani Samwi lagi.”

“Congpiauthau, silakan ….” sahut Fu Giok-su cepat.

“Terima kasih.” Suma Tian menepuk tangannya dua kali. “Kalian antarkan tamu ke ruangan dalam!” perintahnya.

Dua orang Piausu segera maju ke depan.

“Silakan!” kata mereka serentak.

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya sekali. Dia melangkah ke dalam. Lun Wan-ji dan Fu Giok-su tentu saja mengiringi dari belakang.

Suma Tian memandang mereka masuk ke ruangan dalam. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada mayat Tio Liong yang masih dipeluk oleh dua orang Piausu lainnya. Kedua orang itu mendelik ke arah Suma Tian. Mata mereka merah dan mengembeng air mata.

Mereka telah mengangkat saudara dengan Tio Liong. Yang satu bernama Li Bu. Sedangkan yang satunya lagi bernama Kiang Cin. Mereka telah mengucapkan sumpah sehidup semati. Hubungan mereka ibarat saudara kandung.

Suma Tian melirik mereka sekilas. “Tidak usah bersedih lagi. Cepat kejar orang tua itu!” katanya dengan suara berbisik.

Li Bu dan Kiang Cin menganggukkan kepala mereka dengan terpaksa. Mayat Tio Liong diletakkan kembali di atas tanah.

“Jangan mengambil tindakan apa-apa. Yakinkan kalau dia benar-benar sudah meninggalkan kota ini.”

Li Bu dan Kiang Cin menyahut datar. Dengan tidak bersemangat mereka membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.

*****

Begitu masuk ke dalam ruangan dan terlepas dari kedua Piausu tadi, wajah Yan Cong-tian berubah semakin kelam.

“Membunuh orang seenaknya! Apa pantas disebut sebagai murid Bu-tong? Apakah ia memang Suma Tian yang pernah kukenal?”

“Aku pernah mendengar bahwa Suma Tian Suheng seorang manusia yang baik budi dan pekertinya. Seharusnya dia tidak begitu keji dan membunuh sesama saudara Piausu dengan cara demikian,” tukas Lun Wan-ji.

“Kalau dipikir-pikir, memang mencurigakan. Seluruh keluarga Kim-to Suma selalu menggunakan tangan kiri. Tapi dia memegang sumpit dengan tangan kanan. Lagi pula Samsioknya yang selalu menggunakan swipoa besi sebagai senjata tidak mungkin berganti haluan dan mempelajari ilmu golok. Mungkinkah dia sama sekali tidak tahu adanya Samsiok yang satu itu? Dan mungkinkah jawabannya hanya asal menerka saja?”

Fu Giok-su yang mendengarkan dari samping segera merasakan ketegangan. “Dia memang Suma Tian.” Akhirnya dia memberanikan diri berkata.

“Oh?” Yan Cong-tian terpana.

“Sebelum masuk perguruan Bu-tong, aku sudah pernah bertemu muka dengannya. Pada saat itu sifatnya sudah berangasan. Dia paling benci ketidakadilan dan perbuatan yang semena-mena,” kata Fu Giok-su menjelaskan.

Tanpa sadar Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Murid Bu-tong selamanya memang paling benci perbuatan yang semena-mena.”

“Mengenai menggunakan tangan kanan ketika memegang sumpit, mungkin dia takut dianggap kurang sopan dalam menjamu tamu,” kata Fu Giok-su selanjutnya.

“Memang beralasan,” Yan Cong-tian merenung sesaat. “Tapi perbuatannya itu masih rada keterlaluan. Kau sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay harus menasihatinya baik-baik.”

“Saat ini kita masih memerlukan tenaga orang banyak,” Fu Giok-su merandek sejenak. “Nanti kalau kita sudah berhasil membereskan Wan Fei-yang, Tecu akan menghukumnya sesuai peraturan kita.”

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya dengan wajah menyiratkan kepuasan. Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan, “Kapan kita mulai bergerak?”

“Lebih baik malam hari,” Giok-su merapikan pakaiannya yang kusut. “Kita bisa menggunakan waktu ini untuk beristirahat.”

Sekali lagi Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya. “Jalan pikiranmu memang selalu tepat,” katanya.

Sampai saat itu, Fu Giok-su baru bisa bernapas lega.

*****

Suma Tian sejak tadi menunggu di luar ruangan. Mendengar kata-kata Fu Giok-su, akhirnya dia baru bisa mengusap keringat yang membasahi keningnya. Suma Tian yang satu ini sudah dapat dipastikan palsu. Tetapi dia juga she Suma. Hanya nama sebetulnya ialah Suma Hung. Dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kim-to Suma yang dikenal Yan Cong-tian.

*****

Satu kentungan telah berlalu. Li Bu dan Kiang Cin sudah kembali dan masuk ke dalam kamar mereka. Kiang Cin agak khawatir. Dia menutupkan pintu kamar itu rapat-rapat.

“Kita disuruh jangan mengambil tindakan apa-apa. Tapi kau malah menganjurkan agar kita membereskan tua bangka itu. Coba kau kira-kira, apakah Suma Hung akan mengetahui kejadian ini?” tanyanya cemas.

“Dia yang menyebabkan kematian Toako kita. Mengapa kita tidak boleh membunuhnya? Apalagi dia membawa Ginbio sebesar enam ribu tahil,” sahut Li Bu sambil tertawa dingin.

“Benar juga. Kalau dia tidak minta penggantian nyawa anaknya, Toako juga tidak akan mati,” kata Kiang Cin.

“Aku lihat Suma Hung juga menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan kebencian dalam hatinya. Ingatkah kau ketika Toako melaporkan Su-tangke bahwa dia telah meracuni salah seorang anak murid Siau-yau-kok? Kali itu dia mendapat hukuman yang berat. Oleh sebab itu dia meminjam golok membunuh orang.”

Kiang Cin menganggukkan kepalanya berulang kali. Belum lagi dia berkata apa-apa, dari luar pintu terdengar suara langkah kaki seseorang. Pembicaraan mereka pun terhenti untuk sementara.

Pintu didorong dari luar. Suma Hung masuk dengan langkah lebar. Dia memerhatikan kedua orang itu sekilas. “Apakah kalian sudah mengikuti tua bangka itu? Sampai di mana?”

“Sampai lima li di luar kota Say Pak,” sahut Li Bu.

Mata Suma Hung mengedar. Dia menatap ke bawah. Tiba-tiba tangannya terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Li Bu. Jari tengah Li Bu memakai sebuah cincin giok yang warnanya sudah tua sekali. Wajah Li Bu segera berubah. Demikian pula wajah Kiang Cin.

“Kalian membunuhnya?” hardik Suma Hung.

“Tidak ….” nada suara Li Bu yakin sekali.

“Lalu dari mana datangnya cincin giok ini?”

“Beli di toko,” suara Li Bu sudah mula gugup.

“Masih menyangkal?” urat hijau bertonjolan di kening Suma Hung. “Aku ingat dengan jelas, cincin batu giok ini tadi dipakai oleh orang tua itu.”

“Kami tidak membunuhnya,” sahut Li Bu tetap tidak mau mengaku.

Suma Hung melepaskan cengkeramannya. Dia tertawa dingin. “Urusan ini, sekembalinya kita ke lembah biar Cujin yang putuskan. Kalau kalian mau membantah, membantahlah pada waktu itu.” Setelah itu dia mengibaskan tangannya dan meninggalkan kamar tersebut.

Li Bu dan Kiang Cin memandangi kepergian Suma Hung. Wajah mereka berubah pucat.

“Suma Hung memang merasa sentimen kepada kita. Sekembalinya kita ke Siau-yau-kok, dia pasti akan membuat kita mati kutu di depan Cujin. Aku tidak berani membayangkan hukuman yang akan diberikan kepada kita pada saat itu,” kata Li Bu dengan kebencian yang meluap.

“Kalau menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kiang Cin yang kebanyakan menurut saja.

“Daerah sekitar ini sampai sejauh seratus li, masih ada saja orang-orang Siau-yau-kok. Apabila kita melarikan diri, tentu akan tertangkap kembali dalam waktu yang singkat,” Li Bu mengertakkan giginya. “Satu-satunya jalan keluar bagi kita hanyalah memihak kepada musuh ….”

“Musuh? Siapa?”

“Yan Cong-tian!” Li Bu mengepalkan tinjunya. “Biar Yan Cong-tian membuka kedok orang itu dan membunuhnya. Dengan demikian tidak akan ada orang yang mengadukan kita lagi. Kita bisa bebas kembali ke Siau-yau-kok dan juga sekaligus sudah membalaskan kematian Toako kita ….”

Kiang Cin tersadar mendengar kata-kata Li Bu. Matanya bersinar terang.

*****

Siasat Li Bu dan Kiang Cin memang bagus sekali. Sayangnya Fu Giok-su tetap berdiam di kamar Yan Cong-tian. Dia melakukan semua ini untuk menghindari kecurigaan Yan Cong-tian dan agar Yan Cong-tian tidak keluar dari kamar seorang diri lalu bertanya macam-macam pada orang-orang lainnya.

Perbuatannya ini malah menyulitkan Li Bu dan Kiang Cin. Mereka menunggu selama beberapa saat, tapi kesempatan tidak pernah ada. Akhirnya mereka teringat akan Lun Wan-ji. Selembar kertas kecil yang diikat dengan batu dilempar ke dalam kamar gadis itu. Saat itu, waktu sudah memasuki kentungan pertama. Dalam waktu yang bersamaan, Fu Giok-su melangkah keluar dari kamar Yan Cong-tian. Mengapa tiba-tiba dia meninggalkan kamar itu? Karena dia mendengar isyarat Suma Hung yang berupa kicauan burung sebanyak dua kali. Dia segera menyadari ada sesuatu yang telah terjadi.

Fu Giok-su mendengarkan dengan baik-baik ketika Suma Hung melaporkan bahwa Li Bu dan Kiang Cin telah membunuh orang tua yang datang mengacau tadi. Dia juga diberi tahu bahwa tindak tanduk kedua orang itu agak mencurigakan. Fu Giok-su segera menduga akan terjadi perubahan pada rencananya. Dia langsung memutuskan bahwa kedua orang itu tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama. Jangan sampai mereka keburu mengambil tindakan yang merugikan. Oleh karena itu Suma Hung diperintahkan untuk membunuh kedua orang itu secepatnya. Dia sendiri harus segera kembali ke kamar Yan Cong-tian. Jangan sampai Li Bu serta Kiang Cin menggunakan kesempatan ketika dia tidak ada, menceritakan siasat mereka kepada Supeknya itu.

Setelah kembali ke kamar, dia memerhatikan dengan saksama tingkah laku Yan Cong-tian. Tidak ada hal yang mencurigakan. Hatinya menjadi tenang kembali. Tapi untuk menjaga segala kemungkinan. Dia harus mengambil tindakan yang positif, yaitu mengajak Yan Cong-tian bergerak secepatnya. Kalau ditilik dari bakatnya dalam berbicara, mana mungkin Yan Cong-tian tidak sampai terbujuk?

*****

Setelah melemparkan kertas surat itu ke dalam kamar Lun Wan-ji, hati Kiang Cin dan Li Bu menjadi agak tenang. Siapa sangka baru saja mereka mendorong pintu kamar, terlihat Suma Hung sudah menunggu di dalam.

Mereka terkejut sekali, tapi agak lega juga ketika melihat Suma Hung tersenyum. Baru saja mereka melangkah mendekati, tiba-tiba tangan Suma Hung sudah terulur. Hanya dengan satu gerakan saja, urat tenggorokan Kiang Cin sudah tercengkeram putus. Tangan dan tubuhnya berkelebat, Li Bu bermaksud berteriak sekencang-kencangnya, namun mulut belum sempat membuka, telapak Suma Hung kembali bergerak menghantam dadanya.

“Ke mana kalian tadi?” bentak Suma Hung.

Sebetulnya dia tidak perlu mengajukan pertanyaan itu. Isi perut Li Bu sudah terhantam hancur. Untuk membuka mulut saja sudah tidak bisa, apalagi bersuara. Dengan susah payah dia berusaha mengangkat kakinya dengan maksud menendang selangkangan Suma Hung. Tapi tenaganya sudah habis. Dia jatuh terkulai. Sedangkan untuk berjaga-jaga Suma Hung tidak kepalang tanggung dalam turun tangan. Tangannya kembali mencekik leher Li Bu sampai terdengar suara gemertukan tulang patah.

Sekejap kemudian dia mengempas tubuh Li Bu ke atas tanah. Bibir orang itu menyunggingkan senyuman tipis. Melihat senyuman itu, tanpa terasa tubuh Suma Hung menggigil.

*****

“Kim-to Suma yang Anda lihat palsu. Yang aslinya sudah terbunuh dan dikuburkan di belakang gunung. Hitung pohon Pek Hua-su yang ketiga. Di bawahnya terkubur mayat Suma Tian yang asli.”

Dalam kertas kecil itu hanya ada beberapa baris tulisan. Tapi itu sudah cukup bagi Lun Wan-ji untuk membuktikan kecurigaannya. Sekarang dia justru berada di bawah pohon yang dimaksudkan. Tanah yang menggunduk di sana sudah digalinya. Terlihat sesosok mayat yang mulai membusuk, tanpa peti mati ataupun kain untuk menutupinya. Pada bagian kanan pipinya terlihat bekas guratan luka. Persis seperti yang dikatakan oleh orang tua itu.

Inilah Suma Tian yang asli!

Lun Wan-ji menatap wajah itu lekat-lekat. Tanpa terasa, tubuhnya bergetar. Di sampingnya dinyalakan sebatang lilin. Apinya bergoyang-goyang, menambah keseraman yang terlihat pada wajah Suma Tian yang sudah menjadi mayat. Namun yang membuat Lun Wan-ji takut bukan wajah mayat ini, tapi seraut wajah lain yang tampan dan memesona. Seraut wajah yang berhubungan erat dengannya. Fu Giok-su!

Ternyata Kim-to Suma yang ini palsu. Namun Fu Giok-su kukuh mengatakan bahwa sebelum naik ke Bu-tong-san dia sudah pernah berjumpa dengan Suma Tian yang ini. Apa arti ucapannya itu?

Tiba-tiba serangkum rasa nyeri menusuk di hati Lun Wan-ji. Ketika menerima surat tersebut tadi, dia bermaksud mencari Fu Giok-su merundingkan hal ini. Toh dia sudah menjadi milik Fu Giok-su. Tentu dia lebih memercayai anak muda daripada siapa pun. Kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya untuk mencari Fu Giok-su. Tiba-tiba dia melihat anak muda itu sedang berkasak-kusuk dengan Suma Tian palsu. Kecurigaan kembali menyelinap dalam hatinya. Gerak-gerik Fu Giok-su tidak seperti biasanya.

Setelah mempertimbangkan berkali-kali, akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyelidiki dulu kebenaran kata-kata yang tertulis dalam surat. Sedangkan siapa yang melemparkan surat itu ke kamarnya, dia sama sekali tidak tahu. Sekarang dia sudah tahu bahwa apa yang tertulis dalam surat itu memang kenyataan.

Perasaannya saat itu sungguh sulit diuraikan dengan kata-kata. Dia tertegun beberapa saat. Kemudian rasa takut menyelinap dalam dirinya. Tubuhnya bergetar bagai lilin putih yang melambai-lambai di sampingnya. Dengan sepasang tangannya yang gemetar, dia menguruk kembali tanah di hadapannya dengan gagang pedang. Setelah selesai, dia berdiri dan berjalan kembali dari arah datangnya semula. Bukit yang naik-turun ibarat perasaan hatinya yang tidak menentu. Tampangnya seperti orang yang terserang penyakit ayan dan menjadi idiot mendadak. Pada saat itu, otaknya bagai baru dicuci dan kosong melompong.

*****

Sekembalinya ke kamar, Lun Wan-ji membersihkan tangannya yang kotor, banyak tanah yang melekat. Dia duduk termenung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia juga tidak tahu bagaimana perasaan hatinya sekarang. Sedihkah? Kecewakah? Dia seperti sedang bermimpi.

Tepat pada saat itu, Fu Giok-su mendorong pintu kamar dan melangkah ke dalam “Wan-ji ….” panggil Fu Giok-su dengan suara lirih. Nadanya masih begitu lembut dan penuh perhatian. Wajahnya masih demikian tampan serta meyakinkan.

Lun Wan-ji meliriknya sekilas. Diam-diam dia merasa hatinya bergetar. Kata-katanya sudah disiapkan di ujung lidah, tapi akhirnya dia tidak sanggup membuka suara. Fu Giok-su tidak curiga sama sekali, dia mengira gadis itu masih sedih memikirkan kehamilannya. Dia mengulurkan tangannya dan memeluk bahu Lun Wan-ji lembut. “Wajahmu tampak kurang sehat. Mengapa tidak beristirahat saja?” katanya.

Air mata Lun Wan-ji mengalir dengan deras, padahal dia sudah menguatkan diri untuk bertahan sebisanya. Fu Giok-su mengusap air mata di pipinya.

“Apakah kau khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan diriku?”

“Apakah kau akan menemui bahaya?” Lun Wan-ji balik bertanya dengan suara gemetar.

“Mungkin saja,” Fu Giok-su tidak merasa curiga. “Menurut cerita orang-orang, barang siapa yang masuk ke dalam Siau-yau-kok, di antara sepuluh orang, sembilan yang mati dan hanya satu yang mempunyai kemungkinan hidup.”

“Kalau begitu, Suhu ….” tanpa sadar Lu Wan-ji mengucapkan kata itu.

“Wan-ji, apabila aku dan Suhumu sudah berangkat, kau berdiam saja di sini baik-baik dan tunggu sampai kami kembali. Aku sudah berpesan kepada Kim-to Suma untuk menjagamu selama kami tidak ada,” kata Fu Giok-su.

“Kim-to Suma?”

“Hati orang ini sebetulnya baik. Aku merasa cocok juga bergaul dengannya.”

Lun Wan-ji melirik sekilas kepada Fu Giok-su. Anak muda itu tidak menyadarinya.

“Kau sudah mengandung. Harus baik-baik menjaga diri,” kata Fu Giok-su selanjutnya.

Lun Wan-ji bagai disambar petir. “Aku akan berhati-hati.” Kemudian dia menarik napas panjang. “Kelak nasib anak ini tidak berbeda denganku. Apakah dia terhitung orang Bu-tong atau terhitung keluarga Fu kalian.”

Fu Giok-su sama sekali tidak menyadari ada maksud lain dalam ucapan gadis itu. Dia malah tertawa lebar. “Terhitung golongan apa juga sama saja. Pokoknya kau harus berjanji padaku. Meski apa pun yang terjadi, kau harus mengingat nyawa anak yang sedang tumbuh dalam rahimmu ini.”

Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya. “Hari sudah larut. Lebih baik kau kembali ke kamarmu,” sahutnya.

“Wan-ji, penderitaanmu ….” kembali Fu Giok-su menarik napas panjang.

Kepala Lun Wan-ji tertunduk semakin dalam. “Kata-kata itu, lebih baik tidak usah diulangi lagi!” Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain.

Fu Giok-su memandangnya lekat-lekat. Hatinya terharu sekali. “Jaga dirimu baik-baik,” katanya kemudian seraya mengundurkan diri dari kamar itu.

Lun Wan-ji mendengar suara pintu dirapatkan di belakangnya. Dia membalikkan tubuh dan berdiri. Baru berjalan satu langkah, dia menghentikan kakinya. Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Ratapannya begitu menyayat. Tapi dia berusaha jangan sampai bersuara keras. Pakaiannya sudah basah kuyup. Kenangan pertemuan antara dirinya dengan Fu Giok-su melintas di depan mata.

Cahaya lilin remang-remang. Pandangan mata Lun Wan-ji semakin sayu. Wajah Fu Giok-su yang terlintas di benaknya tiba-tiba berubah kelam. Lun Wan-ji segera tersadar. Suara kentungan berkumandang dari luar gedung itu. Kentungan kedua. Semakin didengarkan, Lun Wan-ji semakin panik. Dia bingung mengambil keputusan. Terbayang olehnya kasih sayang Suhunya selama ini. Teringat olehnya nasihat dan bujukan Yan Cong-tian kalau dia berbuat kesalahan ataupun marah. Air matanya berlinang semakin deras. Akhirnya dia mengertakkan giginya erat-erat dan menghambur keluar dari kamar. Dia berlari ke kamar Yan Cong-tian.

*****

Lentera belum padam, pintu kamar setengah terkatup, tapi manusianya sudah tidak ada di dalam. Lun Wan-ji menerjang ke dalam kamar. Matanya memandang ke sekeliling. Dia melihat di atas meja terdapat sebuah cangkir yang isinya tinggal setengah. Tangannya menggenggam cangkir tersebut. Rasa putus asa tersirat di wajahnya.

Air teh sudah dingin seperti air es. Yan Cong-tian pasti sudah cukup lama meninggalkan kamar itu. Mungkin saat ini dia sudah terperangkap dalam bahaya.

Lun Wan-ji memandangi cangkir itu dengan termangu-mangu. Masih adakah kemungkinan bagi Suhunya untuk meloloskan diri dari maut? Kesempatannya mungkin hanya satu di antara seribu.

*****

Malam sudah larut. Gua di gunung itu sama sekali tidak gelap. Dalam jarak beberapa depa, pasti ada sebuah lampu batu yang aneh. Lampu batu itu berpijar-pijar. Entah bahan apa yang membuatnya menyala. Warnanya kehijauan. Membuat perasaan semakin tegang.

Fu Giok-su berjalan di muka. Langkahnya tidak cepat. Dia bahkan merambat perlahan bagai orang yang pertama kali masuk ke dalam gua itu.

“Suma Tian justru melihat Wan Fei-yang dan makhluk tua itu masuk ke dalam gua ini. Tidak tersangka di dalam gua masih ada gua lainnya. Juga ada penerangan. Rasanya pencarian kita kali ini tidak akan salah lagi,” suaranya tidak keras, tapi masih juga bergema di dalam gua.

Yan Cong-tian cepat-cepat memperingatinya, “Jangan bersuara! Mungkin saja ini jalan masuk ke Siau-yau-kok!”

Diam-diam Fu Giok-su menertawakan dalam hati. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Gua itu dalam sekali. Setelah melewati beberapa kelokan akhirnya di hadapan mereka terlihat sebuah pintu masuk. Di situ pula batas perjalanan mereka.

Fu Giok-su berhenti di depan pintu batu. Dia pura-pura mengulurkan tangannya dan mencoba mendorong. Tahu-tahu pintu batu itu terangkat ke atas. Suara gesekan batu memekakkan telinga. Yan Cong-tian mengira terbukanya pintu hanya kebetulan saja.

“Aneh!” kata Fu Giok-su tetap memerankan sandiwaranya.

“Mungkin kebetulan tanganmu menyentuh alat pembuka pintu itu,” sahut Yan Cong-tian, setelah tertegun beberapa saat.

Fu Giok-su melongokkan kepalanya dalam. Dia tidak masuk.

“Suara apa itu?” tanya Yan Cong-tian.

Dia bertanya dengan suara keras. Tapi tetap tidak dapat menutupi suara gemuruh yang terpancar dari dalam gua di balik pintu. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

“Mari kita lihat,” kata Yan Cong-tian.

Dia mempercepat langkahnya mendahului. Melihat itu, Fu Giok-su sudah merasa gembira dalam hatinya.

“Susiok, hati-hati!” mulutnya pura-pura mengingatkan.

“Kau sendiri juga harus berhati-hati!” sahut Yan Cong-tian. Dia memasang sepasang telapak tangannya di depan dada untuk berjaga-jaga. Setindak demi setindak dia melangkah ke dalam.

Fu Giok-su mengikuti dari belakang. Seandainya saat itu dia bermaksud membokong Supeknya itu, tentu bisa saja. Tapi dia tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana hasil latihan Tian-can-kiat Yan Cong-tian selama berpuluh tahun ini. Bagaimana kalau sekali serangannya gagal, dan Yan Cong-tian masih mempunyai kekuatan untuk melawan?

Selamanya dia tidak pernah melakukan hal yang tidak diyakininya seratus persen. Ia juga bukan jenis manusia yang terburu nafsu. Apalagi sekarang Yan Cong-tian sudah berhasil dipancingnya ke sarang Siau-yau-kok. Di dalam sana sudah menunggu Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek. Apabila mereka tidak berhasil merobohkan Yan Cong-tian, masih ada kakeknya yang akan turun tangan. Apabila masih gagal juga, masih belum terlambat baginya untuk membokong Yan Cong-tian.

Tentu saja Yan Cong-tian tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Fu Giok-su. Dia juga tidak pernah mencurigai anak muda itu. Itulah sebabnya dia bisa terpancing ke dalam sarang harimau ini.

Hati Yan Cong-tian tegang sekali. Dia juga semakin bersemangat. Dapat menemukan sarang gerombolan Thian-ti sudah pasti suatu hal yang membuatnya bersemangat. Namun dia sama sekali tidak berpikir panjang. Bagaimana mungkin lembah Siau-yau-kok yang misteri dapat ditemukan dengan begitu mudah oleh seorang Piausu seperti Suma Tian? Tetapi dia memang tidak menyangka gua ini akan menembus pintu masuk Siau-yau-kok. Karena di luar dugaannya itulah, maka dia menjadi bersemangat.

Malah demikian bersemangatnya dia sehingga melupakan bahwa sejak melatih ilmu Tian-can-kiat, tenaganya kadang-kadang ada dan kadang-kadang hilang. Seandainya tempat itu benar-benar Siau-yau-kok dan waktu bertarung dengan penjahat itu tenaganya tiba-tiba hilang, apa akibat yang akan diterimanya?

Pada dasarnya dia memang seorang manusia yang terburu nafsu dalam membasmi kejahatan. Dia juga selalu membanggakan dirinya sendiri. Kalau tidak, tentu tidak demikian mudah Fu Giok-su berhasil memancingnya masuk ke dalam Siau-yau-kok ini.

Semakin maju, suara gemuruh itu semakin jelas. Seluruh gua seakan bergetar dibuatnya. Setelah membelok sebuah tikungan lagi, di hadapan mereka terlihat tirai yang berkilauan. Tirai tersebut tidak hentinya berkilauan, tidak hentinya bergerak. Ibarat ada angin yang bertiup terus-terusan dan menjadi jalan keluar dari gua tersebut.

“Ternyata sebuah air terjun!” seru Yan Cong-tian yang langsung mengerti suara gemuruh apa yang didengarnya sejak tadi. Tirai itu memang sebuah air terjun yang deras.

Tubuh Yan Cong-tian melesat ke dalam air terjun itu. “Benar-benar sebuah air terjun yang indah. Juga merupakan pintu keluar yang mengagumkan!” kata Yan Cong-tian memuji.

Fu Giok-su maju beberapa langkah dan berdiri di samping Yan Cong-tian. “Susiok, aku merasa kita sudah berhasil mengetahui Siau-yau-kok yang misterius ini. Lebih baik kita mengundurkan diri sekarang,” sahutnya menyarankan.

Suaranya keras sekali, tapi tidak dapat mengalahkan suara gemuruh air terjun itu. Yan Cong-tian menolehkan kepalanya dan mendelikkan matanya lebar-lebar.

“Apa? Sudah sampai tahap begini, kau baru memikirkan untuk mundur!” bentaknya marah.

“Kita hanya berdua. Keadaan di balik air terjun ini belum kita ketahui dengan jelas. Lebih baik kita pulang dulu ke Bu-tong-san dan mengerahkan para murid lainnya baru menyerbu ke sini,” sahut Fu Giok-su. Padahal dia memang sengaja memancing kemarahan Yan Cong-tian. Dia sudah paham sekali sifat orang ini, mana mungkin dia mau menuruti nasihatnya untuk mengundurkan diri. Malah semangatnya semakin menyala.

“Seberapa tinggi kepandaian bocah-bocah Bu-tong itu, meminta mereka menyerbu kemari sama saja menyuruh mereka menyambut kematian. Kau dan aku berdua saja sudah lebih dari cukup!” wajah Yan Cong-tian terlihat kurang senang. “Pihak lawan hanya gerombolan tikus. Apa yang kau takuti?”

Fu Giok-su tertawa getir. Padahal dalam hatinya senang sekali.

“Susiok, setidaknya nama orang-orang ini pernah menggetarkan dunia Kangouw,” Fu Giok-su masih pura-pura bimbang mengambil keputusan.

“Hanya lagak mereka saja yang besar. Kalau tidak, buat apa menyembunyikan diri di tempat kura-kura seperti ini. Tidak usah terlalu khawatir!”

Akhirnya Fu Giok-su tampak seperti mengalah. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Ada Susiok yang menemani, Tecu sama sekali tidak khawatir, Susiok, siapa tahu di balik air terjun itu ada daratan atau rumah. Mari kita menerjang ke sana!” katanya menyarankan.

“Aku memang bermaksud demikian!” Yan Cong-tian berteriak lantang. Tubuhnya tiba-tiba mencelat dan menerobos melewati air terjun tersebut. Sebentar saja bayangan tubuhnya sudah menghilang dari pandangan.

Fu Giok-su tidak dapat menahan dirinya lagi. Dia tertawa terbahak-bahak. Dia tidak usah khawatir suaranya akan terdengar karena gemuruh air terjun itu pasti dapat menutup suaranya.

“Tua bangka, hari ini kau benar-benar terperangkap!” sambil tertawa tubuhnya berkelebat dan ikut menerobos melewati air terjun yang deras.

Gerakan tubuh Fu Giok-su demikian ringan. Air terjun yang deras itu sama sekali tidak memengaruhinya.

*****

Bunga air memercik ke mana-mana. Setelah menerobosi air terjun itu, tubuh Yan Cong-tian masih melesat ke depan. Sinar matanya mengedar dengan tajam. Tubuhnya mendarat di atas batu persegi di mana Thian-ti berdiri tempo hari.

Suasana sekitarnya mencekam. Rembulan semakin pudar. Di bawah cahaya rembulan, air terjun itu tampak semakin berkilauan. Dalam pandangan mata malah menambah ketegangan di hati. Air yang mengalir turun bagai makhluk aneh yang bergulingan lalu jatuh ke dalam sungai. Suara gemuruh air terjun, suara aliran sungai, bagai irama yang membetot sukma.

Di kedua tepian terdapat hutan yang lebat. Mata Yan Cong-tian mengedar. Suara terjangan air terjun terdengar di belakangnya. Fu Giok-su melayang turun di sampingnya. Anak muda itu ikut-ikutan celingak-celinguk. Seakan merasa asing dengan keadaan sekitarnya.

“Giok-su, di sini benar-benar ada daratan lain. Tapi tidak terlihat seorang pun,” nada suara Yan Cong-tian terdengar rada penasaran.

“Mungkin mereka masih belum sadar kalau kita sudah mengetahui rahasianya. Oleh karena itu mereka juga tidak mengadakan persiapan apa-apa. Tetapi kalau ditilik dari suasananya, mungkin tidak salah lagi, inilah Siau-yau-kok yang misterius bagi orang-orang dunia Kangouw,” sahut Fu Giok-su dengan wajah kelam.

“Setitik penerangan pun tidak ada. Apakah tempat tinggal mereka juga persis seperti mereka sendiri yang tidak berani menghadapi terang!” sindir Yan Cong-tian sambil tertawa sumbang.

Belum lagi tawanya sirep, di kedua tepian terdengar suara “bles!” Tiba-tiba tempat itu menjadi terang. Beberapa obor menyala sekitar tempat itu. Seratus lebih anak buah Siau-yau-kok muncul dalam waktu yang bersamaan.

Di tanah bebatuan yang terdapat di bawah air terjun juga menyala beberapa batang obor. Thian-ti berdiri berkacak pinggang di tengah-tengah. Di kiri-kanannya berdiri Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat. Cahaya api yang menerangi sekitar itu bagaikan sebuah lukisan putih. Tanpa dapat menahan diri lagi, Thian-ti, Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa mereka berbeda-beda, tapi sama memekakkan gendang telinga. Gemuruhnya ibarat kilat menyambar, mengalahkan suara air terjun yang deras. Yan Cong-tian mendongakkan wajahnya. Alisnya bertaut sekilas kemudian biasa kembali. Thian-ti masih tertawa terbahak-bahak beberapa saat. Tiba-tiba suara tawanya terhenti.

“Tua bangka! Kami sudah menunggu sejak tadi!”

Wajah Yan Cong-tian tidak memperlihatkan rasa gentar sedikit pun. “Aku yang tua hanya dapat mengucapkan sepatah kata. Maaf kalau menunggu terlalu lama!” sahutnya tenang.

Thian-ti tertawa lebar. “Kau hanya mencari kematian bagi dirimu sendiri!” katanya.

Yan Cong-tian tertawa dingin. “Kau sendiri yang terkurung dalam telaga dingin selama dua puluh tahun saja masih belum mati-mati. Bagaimana aku bisa mati dengan demikian mudah?” sindirnya tajam.

Diingatkan akan penderitaannya selama terkurung dalam telaga dingin, hawa kemarahan Thian-ti meluap seketika. “Tua bangka! Kalau hari ini kau bisa meloloskan diri hidup-hidup dari tempat ini, maka Lohu akan bunuh diri sebagai rasa malu terhadap leluhur kami!”

“Manusia sepertimu mati juga tidak perlu disayangkan!” Sepasang telapak tangan Yan Cong-tian terangkat. “Siapa duluan yang ingin menerima kematian?” bentaknya garang.

“Aku dulu yang pertama-tama menyambut kedatanganmu!” terdengar sahutan dari hutan sebelah kanan. Manusia tanpa wajah menerjang keluar dari kerumunan anak buah Siau-yau-kok. Tubuhnya meluncur dengan pedang panjang di tangan.

Yan Cong-tian tertawa dingin.

“Seorang Bu-beng-siau-cut juga berani banyak lagak di hadapanku?” serunya sambil merentang sepasang telapak tangan. Deru angin keras segera terpancar dari kedua telapak tangannya. Dia tidak menunggu sampai manusia tanpa wajah itu mencapai ke dekatnya. Dia sudah mengerahkan tenaga membalas menyerang.

Tubuh manusia tanpa wajah yang sedang melayang terhantam deruan angin telapak tangan Yan Cong-tian. Tubuhnya terpental ke belakang sejauh satu depa. Cepat-cepat dia berjungkir balik dan menutul di atas sebuah batu yang terdapat di tengah sungai. Untung saja dia sempat mendarat dengan selamat dan tidak terpeleset jatuh ke dalam air sungai.

Thian-ti segera menggunakan kesempatan itu untuk melesat ke depan. Sepasang telapak tangannya mengembang. Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak. Secepat kilat dia menarik kembali tangannya dan mengumpulkan hawa murni. Dalam waktu sekejap telapak tangannya sudah terentang kembali menyambut hantaman Thian-ti. Tubuh Thian-ti tergetar dan mencelat mundur terkena getaran dari benturan sepasang telapak tangan Yan Cong-tian. Ilmunya lebih tinggi dari manusia tanpa wajah. Dengan mudah dia hinggap kembali di atas batu semula.

“Yan Cong-tian! Kalau berani naik ke atas ini dan kita buktikan siapa yang lebih hebat di antara kita!” tantangnya.

Dua kali berturut-turut Yan Cong-tian berhasil mendesak pihak mereka. Semangatnya semakin menyala. Pada dasarnya dia memang selalu ingin menang. Tentu saja dia menerima tantangan tersebut. Tubuhnya berkelebat, sekejap mata sudah sampai di daratan tempat Thian-ti berdiri.

Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat bergerak dalam waktu yang bersamaan. Gerakan tubuh Angin paling cepat. Dia sampai duluan di hadapan Yan Cong-tian. Lengan bajunya dikibas ke arah wajah Yan Cong-tian. Pada saat itu juga Thian-ti mengembangkan sepasang telapak tangannya mengincar dada Yan Cong-tian.

Dengan menggeser sedikit tubuhnya Yan Cong-tian berhasil menghindari kibasan lengan baju Angin, kemudian berjungkir balik dan menyambut sepasang telapak tangan Thian-ti. Kali ini Thian-ti hanya terdesak mundur dua langkah.

Rupanya tenaga telapak tangan Thian-ti lebih keras satu kali lipat dari sebelumnya. Makhluk itu langsung tertawa “Tua bangka! Apakah kali ini kau tidak terjerat dalam jebakan kami?”

Baru saja ucapannya selesai, tubuhnya sudah membentuk bayangan mencelat mundur beberapa tindak. Yan Cong-tian bermaksud mengejar, tapi Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat sudah mengadang di depannya.

“Sekarang biar kau rasakan dulu kehebatan barisan Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat ini!” kata Thian-ti sambil tertawa terbahak-bahak.

Kibasan lengan baju Angin, jarum beracun Hujan, pedang Kilat, dan golok Geledek menyerang dari empat arah. Yang ini maju, yang itu menggeser. Yang ini menggeser, yang itu maju. Empat orang dengan ilmu dan senjata yang berbeda mengeroyok Yan Cong-tian.

Golok Geledek mengandung kekejian, pedang Kilat bergerak berubah-ubah, kibasan lengan baju Angin datang dengan cepat, dan yang paling mengerikan justru jarum beracun Hujan yang memercik bagai bunga salju. Jenis senjata rahasia yang digunakannya kecil tapi jumlahnya banyak. Sulit sekali menghindarkan diri dari hujan senjata rahasia tersebut. Apalagi dari bagian kiri, kanan, dan belakang ada pihak lawan yang menunggu kesempatan pula. Beberapa kali Yan Cong-tian hampir terkena timpukan senjata rahasia Hujan.

Sejak kembalinya Thian-ti ke Siau-yau-kok, keempat orang ini berlatih keras membentuk barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek. Tujuannya memang untuk menghadapi Yan Cong-tian. Meskipun belum mencapai kesempurnaan, tapi kekompakan keempat orang itu sudah lumayan. Mereka sudah bisa membagi tugas dengan rata. Siapa yang menyerang dan siapa yang berjaga-jaga.

Keempat orang itu menyerang secara bergiliran bagai kincir angin yang berputar tanpa berhenti. Yan Cong-tian tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak pun. Siapa pun di antara Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat, apabila turun tangan sendiri-sendiri menghadapi Yan Cong-tian, tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menandinginya. Tapi dengan bergabung, kekuatan mereka bagai terpadu. Yan Cong-tian malah lama-kelamaan terdesak di bawah angin. Apalagi gabungan mereka demikian kompak! Sementara di sebelah sana masih ada Thian-ti. Dia selalu mencari tempat lowong dari serangan keempat orang anak buahnya. Setiap ada kesempatan, dia langsung menyerang Yan Cong-tian.

Di lain pihak, Yan Cong-tian sendiri menyadari. Apabila bertarung dengan cara begini terus-menerus, yang rugi tentu diri sendiri. Tapi setiap kali dia berusaha menerobos keluar, selalu terdesak kembali di dalam kurungan barisan tersebut.

Di sebelah sana Fu Giok-su sedang bertarung seru dengan manusia tanpa wajah. Tentu saja pertempuran itu hanya sebuah kamuflase yang dipertunjukkan untuk Yan Cong-tian. Dua macam senjata saling berbenturan. Beberapa kali terlihat Fu Giok-su berusaha mendekati tempat Yan Cong-tian untuk memberikan bantuan, tapi selalu berhasil diadang oleh manusia tanpa wajah.

Sementara itu para anak buah Siau-yau-kok sebelumnya memang sudah dapat kisikan dari Thian-ti. Mereka menerjang mengeroyok Fu Giok-su. Yan Cong-tian mana tahu semua itu hanya siasat yang dijalankan anak muda itu sendiri. Melihat keadaan Fu Giok-su, hatinya semakin panik.

Mereka hanya berdua saja. Apalagi mereka berada di tempat musuh. Tampaknya lebih banyak bahaya daripada menguntungkan. Yan Cong-tian juga tidak lupa, bahwa tenaga dalamnya kadang-kadang ada, kadang-kadang hilang. Dia tidak boleh bertempur terlalu lama. Apabila kelemahannya itu menyerang secara mendadak, tamatlah riwayatnya. Tadinya dia mengira di dalam Siau-yau-kok hanya Thian-ti yang ilmu silatnya paling tinggi. Selain makhluk tua itu, tidak ada jago lainnya. Dengan mengandalkan kepandaiannya dan Fu Giok-su berdua, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka.

Sambil menghindar dan balas menyerang, otaknya juga bekerja terus. Dia harus mencari akal untuk menerobos keluar dari kepungan barisan tersebut dan bergabung dengan Fu Giok-su. Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek seakan dapat membaca pikiran Yan Cong-tian. Serangan mereka semakin gencar. Kepungan semakin diperketat. Yan Cong-tian sudah menerima serangan sebanyak tujuh ratusan jurus. Napasnya mulai tersengal-sengal. Dia segera mencari kesempatan. Telapak tangannya dibentangkan dan tenaga dikumpulkan. Senjata rahasia yang dilemparkan oleh Hujan, diempas oleh deruan angin dari telapak tangannya dan menggeser mengancam Geledek.

Golok Geledek berputaran. Dia menyapu senjata rahasia yang tadinya ditujukan kepada Yan Cong-tian dengan kalang kabut. Yan Cong-tian segera mempergunakan sedikit celah yang terbuka itu. Kedua lengan bajunya dikibaskan dan menangkis hantaman telapak tangan Thian-ti. Angin segera membuka serangan. Tapi karena Geledek yang sedang memutar goloknya mengibaskan senjata rahasia Hujan berdiri di sampingnya, gerakan Angin menjadi terhalang. Hanya pedang Kilat yang meluncur mengancam punggung Yan Cong-tian yang sudah melesat ke depan.

Yan Cong-tian sudah berhasil menerobos barisan tersebut. Dia mendengar deru suara angin mengancam di belakang punggungnya. Dia tidak berani ayal. Kakinya menutul dan mengentak ke udara. Tubuhnya berjungkir balik dua kali lalu mendarat turun. Serangan pedang Kilat menemui kekosongan. Dia hanya sempat menyayat sedikit lengan baju Yan Cong-tian.

Tiba-tiba terdengar teriakan Fu Giok-su. Dia menerjang keluar dari kerumunan anak buah Siau-yau-kok. Lengan kanannya berdarah. Rupanya dia sempat tergores pedang manusia tanpa wajah. Anak muda itu mencelat ke udara dan melayang turun di samping Yan Cong-tian. Sekarang mereka berdiri bahu-membahu. Para anak buah Siau-yau-kok berteriak lantang dan menyerbu bagai kesetanan.

Fu Giok-su membelakangi Yan Cong-tian. Punggung mereka saling menempel. Anak muda itu membalikkan tubuhnya.

“Susiok, bagaimana keadaanmu?” tanyanya menyelidik.

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. Dia menatap bahu Fu Giok-su yang berdarah. “Apakah bahumu terluka?” nada suaranya rada bergetar.

Sekarang Fu Giok-su yang menggelengkan kepalanya. “Hanya luka kecil.” Dia sudah melihat tubuh Yan Cong-tian yang bergetar. Anak muda itu pura-pura cemas sekali. “Susiok, apakah kau terserang senjata rahasia mereka?” tanyanya dengan penuh perhatian.

“Tidak ….” sahut Yan Cong-tian. Dia menarik napas dalam-dalam. Pada saat itulah, dia merasakan hawa murninya sudah buyar. Dia tidak bertenaga sama sekali.

Pada saat itu para anak buah Siau-yau-kok sudah mengepung dari sekitar. Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat berada di hadapan orang-orang itu. Thian-ti berdiri kira-kira lima langkah dari hadapan Yan Cong-tian. Makhluk tua itu tertawa terkekeh. “Tua bangka, meskipun sekarang kau tumbuh sayap, tetap tidak dapat meloloskan diri lagi dari tempat ini!” bentaknya lantang.

Yan Cong-tian tidak menyahut. Dia pura-pura tidak memandang sebelah mata. Tapi tubuhnya bergetar semakin hebat. Keringat dingin pun mulai menetes. Hal ini tidak luput dari pandangan Fu Giok-su. Dia segera merasa heran.

Tiba-tiba Yan Cong-tian membisikinya, “Giok-su, seandainya mereka menyerang, tolong hadapi dulu beberapa jurus.”

Fu Giok-su semakin heran. “Susiok, sebetulnya apa yang terjadi denganmu?” desaknya penasaran.

“Sejak berlatih ilmu Tian-can-kiat, tenaga dalamku kadang-kadang ada dan kadang-kadang menghilang. Hawa murni tidak dapat dikumpulkan. Apalagi setelah melalui pertarungan panjang, aku harus beristirahat sejenak baru dapat mengumpulkan hawa murniku kembali,” kata Yan Cong-tian dengan suara semakin rendah.

Mendengar kata-kata itu, Fu Giok-su tertegun. Sejenak kemudian terlihat senyuman licik tersungging di ujung bibirnya.

“Baik, Susiok. Kau atur saja hawa murnimu tenang-tenang, aku akan menghadapi mereka,” mulutnya berkata demikian, tapi tubuhnya mencelat ke udara lalu melayang turun untuk menghantam punggung Yan Cong-tian dengan sepasang telapak tangannya.

Selama ini diam-diam Fu Giok-su berlatih Bu-tong-liok-kiat dengan giat. Ilmu Pik-lek-ciang miliknya bahkan jauh lebih matang dari Cia Peng. Tenaga dalamnya terlebih-lebih tidak usah diragukan lagi. Hantaman Fu Giok-su kali ini disertai tenaga sebanyak sepuluh bagian, sedangkan pada saat itu hawa murni Yan Cong-tian sedang buyar, bagaimana orang tua ini dapat menahan hantaman sekeras itu. Dalam saat yang bersamaan, tubuhnya terpental jauh ke depan.

Mencelatnya tubuh Yan Cong-tian ternyata mencapai beberapa depa dan jatuh tepat di hadapan Thian-ti. Mulutnya terbuka dan segumpal darah kental langsung muncrat keluar. Tubuhnya bahkan bergulingan di tanah beberapa kali.

Sayangnya di belakang punggung Yan Cong-tian tidak tumbuh mata. Tapi para anak buah Siau-yau-kok dapat melihat jelas perbuatan Fu Giok-su. Hati Thian-ti saat itu langsung berbunga-bunga. Perlu diketahui bahwa dua puluh tahun yang lalu saja dia bukan tandingan Yan Cong-tian. Apalagi selama dua puluh tahun ini dia berlatih ilmu Tian-can-kiat. Meskipun belum kebal terhadap senjata tajam, tapi ilmunya tentu sudah tinggi sekali dan hampir tidak berani dibayangkan olehnya. Dengan mengandalkan ilmu Fu Giok-su yang masih rendah itu ternyata berhasil membokong Yan Cong-tian sampai terluka demikian parah, bagaimana hatinya tidak menjadi senang dan bangga? Tentu saja dia tidak tahu bahwa hawa murni Yan Cong-tian sedang buyar. Kalau tidak meskipun bokongan Fu Giok-su berhasil mencapai sasaran, tapi tenaga dalam orang itu sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan. Asalkan dia masih mempunyai sedikit tenaga dan langsung membalikkan tubuh lalu menyerang Fu Giok-su kembali, tentu anak muda itu lebih banyak celakanya daripada selamatnya.

Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat juga sudah memikirkan kemungkinan itu. Sekarang melihat Fu Giok-su berhasil dengan mudah dan Yan Cong-tian malah tidak memberikan perlawanan, mereka malah termangu-mangu. Rasa terkejut mereka masih belum sirna, bayangan tubuh Fu Giok-su sudah berkelebat kembali dan sekaligus menutuk dua puluh tujuh jalan darah penting di tubuh Yan Cong-tian. Sedikit pun hawa murni Yan Cong-tian belum dapat dihimpun, sudah tergetar kembali oleh tutukan Fu Giok-su. Isi perut dan empat anggota tubuhnya terguncang parah. Dia jatuh terkulai kembali di atas tanah. Sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan.

Meskipun sempat ceroboh beberapa waktu, sekarang dia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Matanya mendelik lebar-lebar ke arah Fu Giok-su. Anak muda itu sama sekali tidak gentar. Dia bahkan mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. “Susiok, bagaimana pendapatmu tentang Pik-lek-ciang yang kulatih ini?”

Yan Cong-tian tambah mengerti beberapa bagian. “Ternyata selama ini kau yang main gila. Siapa kau sebenarnya?”

“Cucuku!” Thian-ti yang menyahut pertanyaan itu.

Yan Cong-tian menolehkan kepalanya memandang Thian-ti. Wajahnya berubah hebat. Dia memaling kembali memandang Fu Giok-su. “Sejak semula seharusnya aku sudah melihat bahwa kau ini rada kurang beres. Lalu siapa Wan Fei-yang? Apa dia merupakan komplotan kalian juga?”

“Masa? Bukankah sejak semula kau justru yang paling percaya padaku? Malah kau sendiri yang memaksa untuk datang ke tempat ini. Mengenai Wan Fei-yang, bocah tolol itu, sayangnya dia hanya pantas menjadi kambing hitam. Kalau kau mau tahu siapa dia, nanti saja di akhirat kau tanyakan kepada Ci Siong si hidung kerbau,” sahut Fu Giok-su seraya tertawa dingin.

Yan Cong-tian tertegun.

“Murid murtad!” bentaknya marah.

Fu Giok-su pura-pura tidak mendengar. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Thian-ti. “Kali ini keinginan Yaya benar-benar terkabul. Sun-ji seharusnya mengucapkan selamat!”

“Bagus, bagus!” Thian-ti tiba-tiba memandang Fu Giok-su dengan heran, “Bagaimana kau bisa merobohkannya dengan cara semudah itu?”

“Rupanya sejak tua bangka ini berlatih ilmu Tian-can-kiat, tenaga dalamnya kadang-kadang ada dan kadang-kadang menghilang. Dia tidak bisa bertarung lama-lama. Hawa murninya akan buyar seketika kalau terlalu dipaksakan.”

“Kalau sejak semula kau sudah tahu, mengapa tidak cepat-cepat membokongnya? Malah membiarkan kami menguras tenaga begitu lama,” gerutu Thian-ti kesal.

“Benar, mengapa?” tukas Hujan.

“Sebetulnya ini sebuah rahasia besar. Di Bu-tong-san, mungkin kecuali Ci Siong Tojin yang sudah mampus itu, tidak ada orang kedua lagi yang mengetahuinya. Kalau tadi hawa murninya tidak tiba-tiba buyar dan meminta Sun-ji menghadapi kalian untuk sementara, sampai sekarang pun masih aku belum tahu.”

“Tua bangka ini memang licik sekali!”

“Biar bagaimana pun liciknya orang ini, sekarang dia tidak bisa apa-apa lagi. Dan tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan,” kata Fu Giok-su sambil menarik ikat pinggang Yan Cong-tian. Tubuh Tosu tua itu segera terangkat dan menghadap ke arah Thian-ti.

Yan Cong-tian sama sekali tidak ada tenaga lagi untuk melawan. Apalagi seluruh jalan darahnya yang penting sudah ditutuk oleh Fu Giok-su. Thian-ti tidak mengulurkan tangannya menyambut. Dia mengangkat sebelah kakinya dan menendang tubuh Yan Cong-tian. Orang itu mental ke arah Angin. Lengan baju Angin dikibaskan. Belum lagi tubuhnya mendarat di tanah, gagang golok Geledek sudah menyambutnya. Orang itu kembali mengentakkan tubuh Yan Cong-tian ke udara, sedangkan Hujan di sebelah sana sudah menunggu.

Yan Cong-tian tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk melawan. Dia menjadi bulan-bulanan kelima orang tersebut. Hanya Fu Giok-su yang menyaksikan dari samping. Dari wajah sampai seluruh tubuhnya sudah berlumuran darah, tapi dia masih sadar. Matanya menatap Fu Giok-su dengan penuh kebencian. Tanpa sadar tatapan anak muda itu juga kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Tubuhnya tergetar seketika melihat tatapan dingin dan marah Yan Cong-tian yang menatapnya penuh kebencian.

Thian-ti dan empat anak buahnya malah kesenangan. Mereka menjadikan tubuh Yan Cong-tian sebagai permainan yang mengasyikkan. Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Tampaknya gerakan mereka sangat ringan, tapi bagi orang yang ilmu silatnya sudah tidak berfungsi seperti Yan Cong-tian, menjadi bulan-bulanan mereka merupakan penderitaan yang tidak terkirakan. Beberapa saat kemudian, Yan Cong-tian sudah muntah darah sebanyak lima kali.

Akhirnya Thian-ti menyadari keadaan itu. Dia tertegun sesaat. “Berhenti semuanya!” bentak makhluk tua itu lantang.

Pada saat itu, tubuh Yan Cong-tian sedang mendarat ke arah Geledek. Mendengar bentakan Thian-ti, golok Geledek segera ditarik kembali. Tidak tertahan lagi, tubuh Yan Cong-tian ibarat seonggok daging bergabrukan di atas tanah.

“Kita toh sedang bersenang-senang, mengapa harus dihentikan?” tanya Geledek penasaran.

Thian-ti menggelengkan kepalanya. “Kalau kita permainkan dia dengan cara demikian, dalam waktu yang singkat tua bangka ini pasti akan mampus!” katanya.

Hujan merasa tidak mengerti. “Memangnya kita akan membiarkan tua bangka ini hidup terus?”

Thian-ti menganggukkan kepalanya. “Membiarkan dia mati dengan cara seperti ini, bukankah terlalu enak baginya?”

“Maksudmu ….?”

Thian-ti tidak menjelaskan, dia hanya tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu sungguh menggidikkan hati. Kesadaran Yan Cong-tian masih ada. Mendengar suara tawa itu, dia menyadari bahwa masih banyak cara kejam yang harus dilaluinya sebelum menerima kematian.

Thian-ti maju menghampirinya. Dia langsung menarik Yan Cong-tian bangun dari atas tanah. “Tua bangka! Tahukah kau apa yang akan kulakukan terhadapmu?” tanyanya seraya tertawa licik.

Yan Cong-tian mengertakkan gigi-giginya menahan rasa sakit. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Thian-ti menunggu beberapa saat kemudian dia tertawa dingin.

“Seharusnya kau sudah dapat menduganya!” bentak Thian-ti sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yan Cong-tian.

Segumpal darah kembali muncrat dari mulut Tosu tua itu. Dia berusaha mempertahankan diri sebisanya. “Kalau mau bunuh, silakan. Tidak usah banyak bicara!” sahutnya sambil meludah ke arah pipi Thian-ti.

Sayangnya semburan ludah itu tidak cukup kuat untuk mengenai Thian-ti. Kalau tidak, mungkin pada saat itu juga Thian-ti sudah membunuhnya. Dengan demikian dia juga terhindar dari berbagai siksaan. Rupanya Thian memang menghendaki lain.

Thian-ti tertawa terkekeh-kekeh.

“Aku pasti akan membunuhmu!” dia merandek sejenak. “Tapi, paling tidak kau harus menderita dulu selama dua puluh tahun!” kembali dia tertawa terbahak-bahak.

Dalam waktu yang bersamaan, Yan Cong-tian jatuh tidak sadarkan diri.

*****

Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Yan Cong-tian tersadar juga dari pingsan. Tiba-tiba dia merasa kaki dan tangannya terikat dengan rantai. Rasa nyeri dan ngilu segera menyerang. Tenaganya hilang sama sekali. Yan Cong-tian langsung sadar bahwa urat kaki serta tangannya sudah diputuskan semua. Sedangkan sepasang kakinya terendam dalam telaga dingin.

Setelah memerhatikan keadaan sekitarnya dengan saksama, tanpa sadar dia tertawa getir. Telaga itu bukan telaga dingin, tapi dibuat persis dengan telaga dingin yang terdapat di Bu-tong-san. Hal ini membuktikan bahwa Thian-ti memang sudah merencanakan untuk meringkusnya hidup-hidup lalu menyiksanya dengan cara yang sama. Tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat telaga seperti ini.

Segulungan suara tawa yang aneh tertangkap oleh telinganya. Yan Cong-tian mengedarkan pandangannya mencari. Akhirnya dia melihat Thian-ti duduk di atas sebuah batu berbentuk persegi. Letaknya di seberang telaga buatan tersebut.

Suara tawanya lebih mirip suara anak kecil yang bersorak kegirangan. Sepasang telapak tangannya terus menepuk tiada henti. Mulutnya menyeringai. “Tua bangka! Bagaimana penilaianmu atas hasil karyaku? Miripkah dengan telaga dingin di Bu-tong-san?”

Yan Cong-tian mulai merasa putus asa. Sepasang giginya mengertak erat-erat. Dia tidak menyahut sepatah kata pun.

“Kau tidak boleh terlalu kesal. Kalau sampai mati karena jengkel, bukankah menyia-nyiakan hasil karya kami yang besar ini?” kata Thian-ti selanjutnya.

Yan Cong-tian sengaja menundukkan kepalanya. Dia enggan melihat tampang makhluk tua yang menyebalkan itu.

“Meskipun aku harus sembahyang memasang hio menyembah Buddha agar kau dapat diberi kehidupan dua puluh tahun lagi, aku rela melakukannya. Aku ingin kau merasakan bagaimana penderitaanku selama dua puluh tahun terkurung dalam telaga dingin,” Thian-ti masih juga tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba tangannya bergerak. Seutas cambuk panjang sudah tergenggam olehnya. Dia menggerakkan cambuk itu untuk memecut tubuh Yan Cong-tian. Rasa sakit tidak terkirakan. Tubuhnya tergetar hebat. Kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah. Rasa nyeri bahkan menyusup ke dalam tulang sumsum. Dia tidak merintih sedikit pun. Sebisanya dia menahan diri.

Cambuk di tangan Thian-ti bergerak terus. Ratusan kali sudah berlalu. Pakaian Yan Cong-tian compang-camping tidak keruan. Darah mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

“Tua bangka! Tidak pernah tersangka bahwa kau akan mengalami semua ini, bukan?” Cambuknya diletakkan di samping. Thian-ti berdiri tegak dan kembali tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema di seluruh gua buatan itu. “Hari ini cukup sekian permainan kita, besok aku akan kembali lagi untuk melayanimu sebaik-baiknya. Harap jangan bosan menjadi tamu agung di sini.”

Yan Cong-tian mendongakkan wajahnya. Matanya mendelik ke arah Thian-ti. Seakan ada bara api yang berkobar-kobar di mata Tosu tua itu. Melihat sinar mata Yan Cong-tian, Thian-ti semakin senang. Sepasang tangannya dilipat di belakang. Dia melangkah keluar dari tempat itu sambil tertawa terbahak-bahak tiada hentinya.

Yan Cong-tian memandangi kepergian Thian-ti. Hatinya merasa putus asa. Terkurung di tempat seperti ini, entah kapan baru dia dapat melihat sinar matahari lagi. Apalagi kalau dia mengingat keselamatan Lun Wan-ji yang dianggapnya belum tahu apa-apa, hatinya semakin cemas.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: