Kumpulan Cerita Silat

20/12/2007

Maling Romantis (08)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:03 am

Maling Romantis (08)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Sebaliknya berada di dalam air Thio Siau-lim laksana naga bermain di tengah lautan, gerak badannya segesit ikan selicin belut, cukup berkelebat dan meliukkan badan, tahu-tahu ia sudah mencengkeram pergelangan tangan It-tiam-ang serta menotok hiat-tonya. Setelah tidak berkutik, lalu ia angkat badan orang serta dilemparkan ke pinggir danau, serunya tertawa: “Ang-heng, walau sekarang kau sedikit menderita, tentunya jauh lebih enak daripada kau menggila dan mampus jadinya.”

Lalu ia putar badan dan selulup ke dalam air. Cepat sekali ia berenang menuju ke arah datangnya suara harpa.

Kabut tebal mengembang di permukaan air, keadaan remang-remang, jauh di tengah danau sana berlabuh sebuah sampan kecil. Di atas sampan tunggal ini duduk bersila seorang padri muda yang mengenakan jubah putih, jari-jarinya tengah memetik harpa, di tengah keremangan kabut tampak biji matanya laksana bintang kejora yang bersinar menyala, bibir merah gigi putih, raut mukanya lebih mirip dengan wajah perempuan cantik dibanding kekasaran muka seorang laki-laki, namun tindak-tanduknya kelihatan lemah lembut, wajar dan gagah, sifat-sifatnya ini perempuan siapa pun takkan bisa menandinginya.

Seluruh badannya selintas pandang seperti amat bersih, tiada debu sedikit pun yang mengotori badannya, seolah-olah dia baru saja turun dari khayangan di tengah angkasa yang berawan.

Coh Liu-hiang memandangnya dua kali, segera ia berseru dengan tertawa sambil mengerut kening: “Kiranya dia, seharusnya aku sudah ingat sejak tadi. Kecuali dia, siapa pula yang mampu memetik suara harpa sebaik itu… celaka adalah aku yang hampir mati dari efek alunan suara harpanya tadi.”

Ia menyelam maju dan baru melongokkan kepalanya dari permukaan air setelah berada dekat di pinggir sampan, katanya: “Dalam hati Taysu memangnya ada perasaan yang tidak bisa direlakan?”

Petikan harpa seketika kacau berantakan dan akhirnya berhenti. Padri itu agaknya kaget, namun sikapnya tetap tenang dan tenteram. Sekilas ia berpaling, segera unjuk senyum mekar, katanya: “Setiap kali Coh-heng bertemu dengan Pinceng, apakah badanmu harus selalu basah kuyup seperti ini?”

Padri muda ini bukan lain adalah Biau-ceng Bu-hoa yang terkenal di seluruh kolong langit. Tempo hari waktu dia menikmati petikan harpanya di atas sampan di tengah lautan, kebetulan Coh Liu-hiang muncul dari dalam air serta mengejutkan hatinya juga.

Cepat Thio Siau-lim melompat naik ke atas sampan, katanya melotot: “Siapa itu Coh Liu-hiang?”

Bu-hoa tersenyum, ujarnya: “Kecuali Coh-heng, dalam kolong langit ini siapa yang mampu sampai sedemikian dekatnya di samping Pinceng. Siapa pula kecuali Coh-heng yang memahami makna alunan suara harpa, menaklukkan sanubari orang.”

Thio Siau-lim tergelak-gelak, “Kecuali Coh Liu-hiang, seluruh dunia siapa pula yang mampu mengejutkan kau dari dalam air…. Bu-hoa, Bu-hoa, namamu memang Bu-hoa (tiada kembang), namun tak terhitung kembang-kembang suci yang terbenam dalam sanubarimu.”

Di tengah gelak tawanya, cepat ia meraih ke muka menanggalkan kedok mukanya terus dilempar ke dalam air. Maka muncullah muka asli Coh Liu-hiang di tengah danau di atas sampan di bawah penerangan bintang-bintang kecil di angkasa raya. Entah berapa banyak gadis yang tak bisa tidur bisa melihat raut wajahnya ini.

Kata Bu-hoa: “Kedok muka yang sedemikian indah dan bagus kenapa Coh-heng buang ke dalam air?”

“Kedok muka ini sudah konangan oleh tiga orang, kenapa harus kupakai lagi?”

“Cara menyamar Coh-heng sungguh tiada bandingan di seluruh jagat. Seumpama Pinceng tidak mengenali penyamaranmu, siapa pula yang punya ketajaman mata dapat mengenali samaranmu?”

“Peduli bagaimana mereka membongkar kedok samaranku, yang terang muka asliku sudah mereka ketahui. Kalau samaran muka seseorang sampai dikenal oleh tiga orang, seumpama mukanya amat buruk pun lebih baik dia kembali kepada muka aslinya saja.”

“Entah siapa kedua tokoh yang lain itu?” tanya Bu-hoa.

“Orang pertama adalah ‘Membunuh orang tiada darah, setitik darah di ujung pedang’.”

Bu-hoa sedikit mengerutkan kening. Mendadak harpa tujuh senar di pangkuannya ia buang ke dalam air juga.

“Harpamu paling tidak jauh lebih mahal daripada kedok mukaku tadi, kenapa pula kau membuangnya ke dalam air?”

“Di sini kau menyinggung nama orang itu, berarti harpa itu sudah tersentuh oleh bau anyirnya darah, selanjutnya pasti tidak akan bisa mengumandangkan suara suci dan bersih,” lalu ia pun mencuci kedua tangannya di dalam air danau, dikeluarkannya secarik sapu tangan putih untuk menyeka kering tangannya.

“Kau kira air danau ini bersih? Bukan mustahil di dalamnya ada……”

“Orang bisa membuat air kotor, sebaliknya air tidak akan mengotori manusia. Mengalir pergi, datang yang baru, selamanya tidak akan kotor.”

“Tak heran kau suka menjadi Hwesio, orang seperti kau kalau tidak mencukur gundul jadi orang beribadat, mungkin kau tidak akan bisa hidup di dalam dunia fana.”

Bu-hoa tertawa tawar, tanyanya: “Memangnya siapakah orang kedua?”

“Orang kedua ini walau sudah tahu akan diriku, sebaliknya aku belum tahu siapa dia. Yang kutahu bahwa ginkangnya amat tinggi, senjata rahasianya amat keji, malah dia pun mahir menggunakan Jinsut!”

“Jinsut?” bergetar badan Bu-hoa.

“Kau paling paham akan segala sumber, tahukah kau apa ajaran Jinsut pernah masuk ke Tionggoan?”

Bu-hoa berpikir sesaat lamanya, katanya kalem: “Aliran Jinsut asal-mulanya diajarkan dari Ih-ho (Arab), seumpama di daratan Tang-ni sana sendiri ilmu ini termasuk kepandaian misterius yang amat disegani. Tapi menurut pandangan Pinceng, kemampuan dan kesaktianmu bukan saja punya taraf yang sejajar dan setanding, malah mungkin ada sedikit melampauinya.”

“Kau mengagulkan aku, apa kau ingin supaya kelak bila bermain catur aku sengaja mengalah kepadamu?”

“Ilmu silat di Tang-ni sebetulnya bersumber dari bangsa kita di jaman dinasti Tong dulu, cuma mereka sedikit menambahi bumbu dan dirubah serta direvisi dan terciptalah aliran lain yang tersendiri. Kaum persilatan di Tang-ni sekarang yang paling terkenal adalah Liu-seng-jiu, It-to-liu dan lain-lainnya. Aliran perguruan kebanyakan mereka mengutamakan ketenangan mengatasi gerakan, bergerak belakangan mengatasi yang duluan, bukankah mirip dan serasi dengan ajaran Lwekang murni dari aliran bangsa kita? Tentang permainan ilmu pedang mereka yang ganas dan keji, gampang dan murni, bukankah sesumber dengan ilmu golok yang berkembang paling jaya dan lama pada dinasti Tong dulu?”

“Memang kau paham segala sumber ilmu, namun Jinsut itu……”

“Jinsut ilmu sihir, nama ini kedengarannya memang amat aneh dan mengandung arti yang amat dalam, namun sebetulnya tidak lepas dari ginkang, am-gi, obat bius dan ilmu rias diri yang dikombinasikan menjadi satu, cuma sejak dilahirkan pembawaan mereka suka meniru, mempunyai dasar semangat aneh yang lain dari yang lain. Setelah berhasil mempelajari ilmu dari bangsa kita, bukan saja bisa meresapinya dan menyedot inti sarinya, malah bisa pula memecah, menganalisa dan memperluas ajaran itu seolah-olah menjadi dongeng aneh dan menakjubkan.”

“Aku hanya bertanya, setelah mengalami godokan dan gemblengan dalam proses perubahan ilmu yang mereka miliki serta akhirnya menjadi ilmu yang dinamakan Jinsut itu, apakah ilmu itu pernah masuk ke dalam tanah air kita? Adakah orang yang berhasil mempelajarinya?”

“Kabarnya dua puluh tahun yang lalu pernah datang seorang bangsa Arab ahli sihir yang mendarat dan akhirnya dia menetap di daerah Binglam selama tiga tahun. Kaum Bulim di daratan besar bila ada yang pandai menggunakan Jinsut kukira pasti hasil ajaran dari orang Arab itu. Selama tiga tahun dia menetap di sana, dan yang pasti bahwa dia adalah seorang tokoh silat kenamaan di daerah Binglam sana.”

“Binglam?” Coh Liu-hiang mengerutkan kening. “Apakah keturunan Tan dan Lim, dua aliran Bulim terbesar di sana?”

“Cuaca malam seindah ini, kau malah mengajak aku membicarakan soal duniawi, memangnya tidak menyia-nyiakan pemandangan seindah gambar lukisan di malam ini?”

“Memangnya aku ini orang kasar dari dusun, apalagi pada saat sekarang, kecuali persoalan-persoalan duniawi ini, segala macam urusan lain tiada yang menarik perhatianku.”

Mendadak ia berdiri, katanya sambil tertawa besar, “Kalau kau hendak berkhotbah atau main catur, setelah persoalanku beres, tentu akan kucari kau, dan lagi aku berjanji badanku tentu akan kering dan bersih.”

“Baik, janji main catur ini jangan sekali-kali kau lupakan, lho!”

Kepala Coh Liu-hiang menongol keluar dari permukaan air, serunya keras: “Siapa bila melupakan janji dengan Bu-hoa, tentu orang itu orang linglung.”

Bu-hoa mengantar badan orang yang berlalu pergi segesit ikan, katanya sambil tersenyum: “Dapat berkenalan dengan orang seperti dia, peduli teman atau musuh, bolehlah terhitung suatu kejadian yang menggembirakan.”

Coh Liu-hiang kembali ke daratan, ia jinjing badan It-tiam-ang dan mencari sepucuk pohon tinggi besar, dicarinya dahan-dahan pohon yang rimbun dedaunannya, di sana ia baringkan badan orang, lalu melompat turun, serunya sambil mengulap tangan: “Biar sekarang kita berpisah, setengah jam lagi kau akan siuman sendiri. Aku tahu kau pasti tidak suka aku melihat keadaanmu yang serba runyam bila kau siuman nanti.”

Langsung ia berlari-lari masuk ke kota, sepanjang jalan pulang pergi ia putar otak, terasa sampai detik ini persoalan ini masih acak-acakan, sedikit pun tak berhasil ia raba sumber persoalannya. Dia berkeputusan untuk sementara tidak usah susah-susah putar otak memikirkan persoalan ini, biarlah otaknya istirahat saja beberapa waktu.

Otak manusia memang aneh, kalau lama tidak dipakai pun bisa karatan, sering dipakai dan melelahkan dia pun bisa menjadi linu dan kejang.

Waktu ia tiba di kota, sang surya sudah keluar dari peraduannya. Pagi sudah menjelang, di jalan sudah kelihatan beberapa orang berlalu-lalang. Baju Coh Liu-hiang sudah kering, ia membelok dua kali berputar dua kali, tahu-tahu ia kembali ke Kwi-gi-tong. Mayat Song Kang tak kelihatan. Sim San-koh dan murid-murid Thian-sing-pang sudah tidak kelihatan sama sekali.

Beberapa laki-laki berseragam hitam sedang memberesi keadaan yang morat-marit. Melihat Coh Liu-hiang, beramai-ramai mereka membentak: “Sekarang perjudian belum dibuka, datanglah nanti malam, kenapa terburu-buru?”

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: “Aku hendak mencari Leng Chiu-hun.”

“Kau terhitung barang apa,” damprat laki-laki itu. “Berani kau langsung memanggil nama Kongcu kami.”

“Memang aku ini bukan barang apa-apa, namun tak lain adalah saudara kenalan Leng Chiu-hun.”

Beberapa laki-laki itu saling pandang, serempak mereka melempar sapu terus berlari masuk ke dalam.

Tak lama kemudian, dengan langkah malas Leng Chiu-hun berjalan keluar, air mukanya tampak lesu seperti kurang tidur, namun kedua biji matanya berkilat terang, dari atas ke bawah dia amat-amati Coh Liu-hiang, tanyanya dingin: “Siapa tuan ini? Seingatku belum pernah aku punya saudara kenalan seperti kau ini.”

Coh Liu-hiang sengaja celingukan ke sekelilingnya, lalu katanya merendahkan suara: “Aku inilah Thio Siau-lim. Demi mengelabui mata kuping orang, sengaja aku menyamar seperti ini.”

Sekilas Leng Chiu-hun melengak, cepat sekali ia sudah menarik tangannya sambil tertawa besar, serunya: “Kiranya kau Thio-jiko, aku memang pantas mampus. Sudah sekian lamanya tak bertemu, sampai saudara sendiri pun sudah kulupakan.”

Coh Liu-hiang tertawa geli, ia diam saja dirinya ditarik masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang dipajang amat indah, kelihatan kepala seorang perempuan dengan rambutnya yang awut-awutan, sebuah tusuk konde menggeletak di pinggir bantal.

Tiba-tiba Leng Chiu-hun menyingkap kemul, katanya dingin: “Tugasmu sudah selesai, kenapa belum pergi juga?”

Tersipu-sipu perempuan itu merangkak bangun dan cepat-cepat mengenakan pakaiannya terus berlari keluar dengan langkah sempoyongan.

Baru sekarang Leng Chiu-hun duduk sambil menatap Coh Liu-hiang, katanya: “Tak nyana ilmu rias saudara ternyata begini lihay. Setelah mengubah samaranmu sekarang, tentunya tidak sewajar dan leluasa seperti semula. Kalau saudara menyamar lebih jelek sedikit, tentunya sukar konangan. Caramu ini…… raut mukamu sedikit banyak tentu akan menimbulkan perhatian orang.”

Coh Liu-hiang mengelus hidung, katanya: “Apa Leng-heng ada melihat sesuatu keganjilan atas samaranku?”

Hampir saja pecah perut Coh Liu-hiang saking menahan geli, namun lahirnya tetap tenang-tenang saja, ujarnya: “Menyamar di waktu malam gelap, bentuknya kurang sempurna, namun ya apa jadinyalah!”

Kembali Leng Chiu-hun meliriknya dua kali, katanya: “Sebetulnya sih cukup baik, asal hidungmu sedikit rendah, matamu disipitkan, tentu lebih sempurna.”

“Ya, ya, lain kali tentu akan kurubah,” sahut Coh Liu-hiang menahan geli. Sambil celingukan, katanya tiba-tiba: “Di mana Sim San-koh?”

“Aku tidak suka meniru cara saudara, tentunya sudah kulepas dia pulang. Walau Thian-sing-pang tiada punya tokoh-tokoh yang menonjol, jelek-jelek merupakan sindikat yang kenamaan juga, tentunya aku tidak suka mengikat pertikaian-pertikaian terlalu mendalam dengan mereka.”

“Memang betul demikian, entah saudara sudah mengutus anak buah untuk memperhatikan gerak-gerik kaum persilatan di kota Kilam ini?”

“Aku sudah suruh orang mencari dengan seksama. ‘Ngo-kui’ bahwasanya tidak berada di dalam kota, kecuali itu memang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal, namun mereka tiada sangkut-pautnya dengan urusan kita ini.”

“Siapakah orang itu?”

“Dandanan orang itu aneh dan lucu, pedangnya sempit panjang, bukan lain adalah tokoh dari Hay-lam-kiam-pay, dilihat dari tindak-tanduknya dia orang kosen, kukira kalau bukan Ling Ciu-cu pasti Thian-ing-cu.”

“Thian-ing-cu,” seru Coh Liu-hiang berjingkrak bangun. “Di mana dia sekarang?”

“Kenapa saudara begini tegang?” tanya Leng Chiu-hun heran.

“Jangan tanya dulu, lekas katakan di mana dia sekarang, kalau terlambat mungkin sudah kasep.”

“Dia tidak menginap di biara atau di dalam kuil, namun bermalam di In-ping-lau di selatan kota. Untuk apa saudara begini kesusu untuk menemui dia?”

Belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah berlari keluar, gumamnya: “Semoga kedatanganku belum terlambat. Semoga dia tidak menjadi korban yang ketiga lantaran surat itu.”

Areal bangunan In-ping-lau ini amat luas, tidak sedikit tamu-tamu luar kota yang menginap di dalam hotel ini, namun orang beribadah hanya Thian-ing-cu satu-satunya, seorang diri menempati sebuah kamar di pekarangan samping yang kecil, menghadap ke arah matahari terbit. Cuma saat mana orangnya sedang keluar.

Bagi seorang ahli seperti Coh Liu-hiang, setelah dia mencari tahu letak kamarnya, dengan cepat ia sudah berada di pekarangan kecil itu, menggunakan sebatang kawat baja dengan mudah ia membuka gembok dan masuk ke dalam kamar.

Nama besar Thian-ing-cu memang amat disegani, semua barang atau perbekalan yang dia bawa tidak banyak, cuma sebuah buntalan kain kuning. Dalam buntalan terdapat beberapa stel pakaian, dua pasang kaus kaki panjang dan segulung buku dan kertas tulisan. Buku ini ia buntal di dalam lempitan pakaian dalamnya, diikat pula dengan benang sutera. Kelihatannya Thian-ing-cu amat memandangnya sangat berharga. Coh Liu-hiang berpikir: “Surat misterius itu bukan mustahil disimpan di dalam buku ini?”

Coh Liu-hiang insyaf bahwa surat itu menyangkut peristiwa ini, dan penting serta besar artinya bagi dirinya untuk mencari sumber penyelidikan. Bukan mustahil merupakan kunci penjelasan rahasia peristiwa ini, kalau tidak, tidak mungkin beberapa jiwa berkorban secara konyol lantaran surat itu.

Hati-hati Coh Liu-hiang membuka ikatan benang sutera itu. Benar juga, di antara lembaran buku-buku itu melayang jatuh selembar sampul surat. Betapa girang hatinya. Cepat ia jemput surat itu, di atas secarik kertas merah jambon tertulis dua baris kata-kata yang bergaya indah dan berseni, kelihatannya buah tangan seorang perempuan.

Kertas surat itu sudah telempit, membekas garis-garis luntur sehingga menjadi kucel, terang sudah dibaca dan dilempit entah berapa kali, namun tetap dipelihara dan disimpan dengan baik, dari sini dapatlah disimpulkan bahwa penerima surat ini memandangnya amat berharga.

Isi surat itu rada mengambang dan pakai sindiran lagi, jelas penulisnya mengharap penerima surat ini putuskan saja hubungan asmara, jangan selalu pikir dan mengenang dirinya. Kalau dikatakan secara terang atau cekak-aos, artinya adalah: “Aku tidak suka kepadamu, maka jangan kau terlalu tergila-gila kepadaku.”

Sudah tentu surat ini ditujukan kepada Thian-ing-cu, surat itu tertanda ‘Ling-siok’ dua huruf kecil, tentunya nama kecil perempuan itu.

Diam-diam Coh Liu-hiang menarik napas, batinnya: “Naga-naganya sebelum menjadi orang beribadat Thian-ing-cu pernah mengalami patah hati. Bukan mustahil lantaran kejadian itu dia mengorbankan masa depannya dan menyucikan diri mengabdi kepada ajaran Thian. Sampai sekarang dia masih bawa surat cinta ini, kiranya dia pun seorang romantis.”

Tanpa sengaja ia mencuri lihat rahasia pribadi orang lain, dalam hati ia amat menyesal, akhirnya ia toh tidak menemukan surat misterius itu, mau tak mau hatinya merasa kecewa pula.

Buntalan kain kuning kembali pada posisi dan bentuknya semula, siapa pun takkan bisa membedakan bahwa buntalan ini barusan pernah disentuh orang.

Waktu beranjak di jalan raya, Coh Liu-hiang menggumam sendiri: “Ke manakah Thian-ing-cu? Dari tempat jauh dia meluruk ke mari, tentunya hendak menyelidiki jejak Suhengnya Ling-ciu-cu. Kalau toh sudah berada di Kilam, bukan mustahil dia akan mencari kabar ke Cu-soa-bun……” karena pikirannya ini, segera ia menyetop sebuah kereta besar, terus dibedal menuju ke Kwi-gi-tong.

Dilihatnya Leng Chiu-hun sedang berdiri di ambang pintu sambil menggendong tangan, agaknya barusan mengantar seorang tamu.

Begitu melihat Coh Liu-hiang, ia tertawa. Katanya, “Kau masih terlambat juga.”

Lekas Coh Liu-hiang bertanya: “Barusan apakah Thian-ing-cu ke mari?”

“Ya, kau mencari dia, sebaliknya dia mencari aku! Anehnya, pihak Hay-lam-kiam-pay pun kehilangan seseorang. Anehnya lagi dia tidak mencari tahu kepada orang lain, justru mencariku. Hay-lam dan Kilam berjarak ribuan li, pihak Hay-lam-pay kehilangan orang, bagaimana mungkin Cu-soa-bun bisa tahu jejaknya?”

“Tahukah kau, setelah meninggalkan tempat ini dia hendak ke mana?”

“Pulang ke In-ping-lau, aku sudah berjanji lewat lohor aku akan balas berkunjung ke sana!”

Belum orang habis bicara, bayangan Coh Liu-hiang sudah tak kelihatan. Kali ini ia sudah tahu jalannya, langsung ia memburu ke pekarangan kecil itu. Jendela kamar itu sudah terbuka, seorang Tosu tinggi kurus yang menggelung tinggi rambut kepalanya sedang duduk di sisi jendela menuang air teh. Entah apa yang sedang dipikirkan, dari poci yang tertuang miring, sedikit pun tidak kelihatan air teh mengalir keluar, namun orang agaknya tidak sadar, tangannya masih menjinjing poci teh itu.

Coh Liu-hiang merasa lega, gumamnya pula: “Syukur aku tidak terlambat. Kali ini betapa pun tidak akan kubiarkan orang lain membunuhnya lebih dulu sebelum aku bertindak!”

Segera ia merangkap tangan bersoja ke dalam kamar, serunya: “Apakah Thian-ing Totiang yang berada di dalam rumah?”

Begitu asyik Thian-ing-cu memeras otak, sehingga seruan yang demikian keras pun tidak mengagetkan dirinya. Coh Llu-hiang geli, batinnya: “Tosu romantis ini mungkin sedang mengenang perempuan bernama ‘Ling-siok’ itu.”

Dengan langkah lebar ia mendekati jendela, katanya pula: “Kedatangan cayhe ini
demi suheng…..” sampai di sini baru didapati bahwa poci itu sudah kosong, air teh sudah mengalir habis membasahi selebar permukaan meja, malah membasahi pakaiannya pula.

Cepat sekali otak Coh Liu-hiang bekerja. Dengan lirih ia tepuk pundak orang, tak nyana dengan badan kaku orang roboh menggelundung ke lantai. Setelah rebah di lantai, kaki tangannya tetap bergaya seperti duduknya tadi, dengkul tertekuk tangan masih menjinjing poci teh itu.

Keruan bukan kepalang terkejutnya Coh Liu-hiang. Lekas ia melompat masuk, kaki tangan Thian-ing-cu ternyata sudah kaku dingin, napasnya sudah berhenti, dadanya berlepotan darah, ternyata setelah tertotok jalan darahnya, lalu tertusuk mati oleh sebatang pedang di dadanya.

Ahli pedang yang kenamaan dari Hay-lam-pay ini ternyata terbunuh secara menggelap dan tanpa disadari oleh sang korban sendiri. Pembunuh itu menghunjamkan pedangnya dari dada tembus ke punggung, namun poci teh di tangannya toh tidak terlepas jatuh. Betapa takkan mengejutkan kepandaian si pembunuh itu!

Betapa hati Coh Liu-hiang takkan mencelos. Dengan cermat ia periksa keadaan sekeliling kamar, namun tiada tanda mencurigakan yang dia temukan, terang kepandaian pembunuh itu amat tinggi.

Sambil mengawasi jenazah Thian-ing-cu, Coh Liu-hiang berdoa dalam hati: “Meski bukan aku yang membunuhmu, tapi kau mati lantaran aku. Kalau orang itu tidak tahu aku hendak mencarimu, belum tentu dia membunuhmu. Sayang sekali di waktu hidupmu kau sendiri memegang kunci rahasia yang menyangkut persoalan ini, kau sendiri tidak tahu-menahu.”

Sampai sekarang Cou Yu-cin, Sebun jian, Leng-ciu-cu, Ca Bok-hap berempat mempunyai titik persamaan, yaitu mereka berempat pasti pernah menerima sepucuk surat dan surat itu pasti ditulis oleh satu orang, sumber penyelidikan inilah satu-satunya yang dikejar dan ingin diketahui oleh Coh Liu-hiang. Untuk membongkar rahasia ini, dia harus tahu siapakah penulis surat itu. Apa pula yang tertulis dalam surat itu?

Tepat tengah hari, cahaya matahari nan terik menyinari jalan raya yang berlandaskan papan batu hijau itu sampai mengkilap.

Beranjak di jalan berbatu licin ini, walau air muka Coh Liu-hiang tidak mengunjuk perasaan hatinya, namun hati kecilnya teramat kecewa hampir putus asa.

Surat-surat yang pernah diterima Cou Yu-cin, Sebun Jian, dan Ling-ciu-cu boleh dikata sudah hilang. Song Kang, Nyo Siong dan Thian-ing-cu yang punya hubungan erat dengan persoalan ini pun terbunuh untuk menutup mulutnya, yang ketinggalan hanyalah pihak Ca Bok-hap, mungkin dari sana masih ada sumber penyelidikan yang dapat ditemukan. Tapi waktu Ca Bok-hap keluar pintu, apakah dia meninggalkan surat itu? Seumpama dia meninggalkan surat itu, kepada siapa dia serahkan surat itu? Seumpama Coh Liu-hiang sudah tahu siapa orang itu, memangnya dia bisa menemukan jejak orang itu yang berada di tengah gurun pasir yang tak terjelajah oleh manusia?

Coh Liu-hiang menarik napas. Ia belok ke jalan samping di mana ia memasuki sebuah warung arak dan makan-minum sepuasnya. Kalau perut laki-laki sudah dijejal, sesak dengan makanan enak yang memenuhi seleranya, pikirannya pun menjadi terang dan jernih. Dari jendela yang terpentang lebar, iseng-iseng Coh Liu-hiang melongok keluar dengan sorot pandangan tertarik mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Mendadak dilihatnya beberapa orang laki-laki sedang menuntun kuda mengiringi seorang gadis berpakaian jubah ungu. Mereka membelok ke arah sini dari jalan raya besar sana.

Beberapa laki-laki itu sudah tentu takkan menarik perhatian Coh Liu-iang, namun gadis yang berdandan sebagai nyonya muda itulah yang membuat matanya bersinar terang. Dia bukan lain adalah Sim San-koh.

Tampak muka bundar kwacinya itu bersungut-sungut. Sambil mengerut alis, mimik mukanya seakan-akan uring-uringan dan selalu hendak mencari gara-gara kepada orang lain, namun para laki-laki itu pun acuh tak acuh dan berjalan goyang gontai tak bersemangat.

Thian-sing-pang yang biasanya malang-melintang dan ditakuti di daerah Hoan-lam ini ternyata begini mengenaskan, sampai diusir orang dari kota Kilam, betul-betul suatu kejadian yang amat memalukan dan merupakan hinaan.

Waktu tiba di bawah pohon gundul di ujung jalan sana, mereka berhenti. Agaknya sedang merundingkan sesuatu. Laki-laki itu sama naik ke atas kuda, teus dicemplak ke arah timur keluar kota, sementara seorang diri Sim San-koh melanjutkan perjalanan ke arah barat, arah yang berlawanan.

Tergerak hati Coh Liu-hiang, terpikir sesuatu olehnya. Lekas ia lemparkan sekeping uang di atas meja sebagai pembayaran makan-minumnya. Dengan tergesa-gesa ia mengejar ke arah barat pula, maka dilihatnya potongan badan yang langsing, montok dan menggiurkan itu sedang berlenggang di depan sana.

Dari kejauhan Coh Liu-hiang terus menguntit di belakangnya. Dengan puas ia menikmati gaya sang gadis cantik yang berlenggang menggoyangkan pinggul, siapa pun yang melihatnya dengan nyata pasti jantungnya berdebar keras. Demikianlah, rasa kecewa dan putus asa Coh Liu-hiang tadi sudah terlupakan sama sekali.

Agaknya Sim San-koh tidak menyadari dan tidak tahu bila dirinya dikuntit orang. Seumpama dia melihat Coh Liu-hiang, dia pun tidak akan mengenalnya, karena Coh Liu-hiang sekarang bukan lagi Thio Siau-lim dalam penyamarannya tadi.

Saban-saban Sim San-koh berhenti menanyakan sesuatu kepada orang-orang di pinggir jalan atau kepada pemilik toko dan penarik kereta, entah apa yang sedang dicarinya.

Tujuannya ke luar kota, jalan yang dilaluinya pun semakin sempit, penuh semak belukar dan jorok. Akhirnya dia menuju ke pojokan kota, di mana merupakan tempat tinggal rakyat tingkat rendah yang miskin. Sudah tentu Coh Liu-hiang teramat heran, sungguh ia tidak habis mengerti, siapakah sebetulnya yang sedang dia cari.

Orang seperti Sim San-koh berada di daerah seperti itu, sudah tentu kedatangannya menjadi perhatian orang banyak, ada beberapa bajingan gelandangan malah saling tuding dan bersuit menggoda, agaknya mereka sedang berdebat main nilai segala.

Tapi Sim San-koh tidak memperdulikan tingkah laku orang lain, seolah-olah acuh tak acuh dan tak mendengar ocehan kotor mereka. Kalau orang mengawasi dirinya, dia pun balas melotot kepadanya, malah sering dia bertanya ke sana ke sini pula. Orang yang dia cari dan ditanyakan alamatnya itu agaknya sudah lama menetap di daerah ini, tidak sedikit yang menuding suatu arah sambil menjelaskan. Tempat yang ditunjuk ternyata adalah sebuah bukit kecil.

Di atas bukit kecil ini dibangun dua deret rumah gubuk, keduanya dibangun dari papan-papan yang bersambung satu sama lainnya, bentuknya tidak genah dan miring serta reot, terang di sini merupakan daerah miskin yang dihuni oleh para gelandangan di pinggir kota Kilam.

Semakin heran dan tak mengerti Coh Liu-hiang dibuatnya.

“Di tempat seperti ini, adakah seseorang yang bisa dia temukan?”

Setelah tiba di bawah bukit, kembali Sim San-koh bertanya kepada seorang perempuan yang berperut besar. Kali ini lapat-lapat Coh Liu-hiang ada mendengar ia bertanya demikian: “Sun Hak-boh apakah tinggal di atas sana? Yaitu siucay tukang gambar itulah?”

Nyonya berperut besar itu menggeleng-gelengkan kepala, sebagai jawaban bahwa ia tidak tahu, namun seorang anak tanggung di sampingnya segera berteriak: “Sun-siucay yang dikatakannya itu bukan lain adalah Sun-lothau itulah.”

Baru sekarang nyonya itu tertawa, katanya; “Oh, jadi kau hendak mencari Sun-lothau? Dia tinggal di rumah ketujuh di atas sana, di muka rumahnya ada tergantung kerai berbentuk Pat-kwa, gampang sekali ditemukan.”

Orang macam apa pula Sun-siucay itu? Kenapa Sim San-koh harus menemukan dia?

Mungkinkah ada tokoh-tokoh lihay yang menyembunyikan diri di daerah miskin di pinggir kota Kilam ini?

Coh Liu-hiang berputar ke samping rumah nomor tujuh yang dimaksud. Dari sebuah lobang jendela kecil yang terletak di samping rumah, ia melongok ke dalam. Tampak seorang kakek ubanan yang berbadan bungkuk sedang duduk di pinggir meja reot. Penerangan di dalam gubuk itu remang-remang, namun kentara jelas si orang tua ini hidup dalam kemelaratan, seolah dia sudah tidak menaruh minat akan kehidupan manusia umumnya. Dengan tenang ia duduk di tempatnya, seolah-olah sedang menunggu waktu menjelang ajalnya saja.

Kakek tua laksana sebatang lilin di tengah hamparan hujan badai ini, memangnya kenapa bisa menimbulkan perhatian Sim San-koh? Sungguh Coh Liu-hiang tidak habis mengerti. Waktu ia terheran-heran itulah Sim San-koh sudah menyingkap kerai melangkah masuk. Sekilas ia menjelajahkan pandangannya, lalu mengerutkan kening, katanya: “Apa kau ini Sun Hak-boh, Sun-siucay?”

Roman muka si kakek tetap kaku tidak menunjukkan perubahan rasa hatinya, katanya kaku: “Iya, aku memang Sun Hak-boh, tanya nasib dua tail, soal jiwa satu tail.”

Semakin dalam kerut alis Sim San-koh, katanya: “Yang kucari adalah guru gambar Sun-siucay, bukan ahli nujum.”

Sun Hak-boh menyahut tawar: “Aku inilah guru lukis Sun-siucay, namun sejak dua puluh tahun yang lalu aku sudah mengalihkan objekku. Kalau nona hendak bergambar, tentunya sudah terlambat dua puluh tahun.”

Baru sekarang kerut alis Sim San-koh menjadi longgar, katanya: “Ganti objek atau tidak bukan soal, asal kau betul adalah guru gambar dua puluh tahun yang lalu, memang kaulah yang kucari-cari.”

Sembari bicara, dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan gulungan sebuah lukisan, terus dibeber di atas meja di depan Sun Hak-boh. Dengan tajam ia menatap Sun Hak-boh, katanya dengan nada berat: “Kutanya kau, apakah gambar lukisan ini hasil karyamu? Siapa pula orang yang kau gambar ini?”

Ingin Coh Liu-hiang ikut melihat gambar lukisan itu, sayang penerangan di dalam rumah rada gelap, bayangan Sim San-koh justru menghalangi gambar lukisan itu, maka nihillah niat hatinya.

Yang dapat dilihat adalah selebar muka Sun Hak-boh yang tetap pucat kosong, sedikit pun ia tidak menunjukkan mimik mukanya, seperti tidak berperasaan sama sekali. Seumpama seorang pikun, seolah-olah tinggal raga kasarnya itulah yang masih bertahan tanpa sukma dan jiwa.

Hakekatnya sorot matanya tak pernah memandang ke arah gambar lukisan itu. Dengan hambar dan pandangan kosong ia menatap lurus ke depan. Dari pandangan hambar dan kosong itu, sepatah demi sepatah ia berkata: “Aku tidak tahu siapa yang menggambar lukisan ini, dari mana pula aku bisa tahu siapa yang digambar di dalam lukisan itu.”

Sekali berdiri Sim San-koh menjinjing baju di depan dadanya, katanya gusar: “Kenapa kau tidak tahu? Di atas gambar ini terang ada tanda tangan namamu.”

“Lepaskan tanganmu, memangnya matamu picak, tidak melihat kalau aku ini seorang buta?”

Seperti mukanya mendadak ditampar orang, lekas Sim San-koh melepaskan tangannya, teriaknya: “Kau… jadi apa pun kau tidak bisa melihatnya lagi?”

“Kalau mataku masih bisa melihat, memangnya kenapa aku harus menyimpan alat lukisanku? Menggambar adalah jiwaku, sudah lama aku kehilangan jiwa, yang duduk di sini bukan lain adalah seonggok mayat belaka.”

Lama sekali Sim San-koh menjublek di tempatnya, pelan-pelan ia menggulung pula gambar lukisan itu. Namun baru setengah saja, tiba-tiba ia meletakkan kembali lukisan itu di atas meja, katanya keras: “Walau kau tidak bisa melihat lukisan gambar ini, tapi mungkin kau masih ingat kepadanya. Dia seorang perempuan cantik, masihkah kau ingat kapan kau pernah melukis seorang perempuan cantik?”

“Sekarang walau aku ini seorang tua renta yang miskin dan picak, tapi dua puluh tahun yang lalu, aku Sun Hak-boh adalah tokoh yang kenamaan.”

Rona wajahnya nan hambar kosong itu secara aneh memancarkan cahaya cemerlang yang sekejap saja, cahaya yang bangga seolah-olah menghidupkan kembali jiwa dan sukmanya. Katanya lebih lanjut: “Dua puluh tahun yang lalu, orang sering membandingkan aku sebagai Co Cut-hin, seperti Go To-cu, entah putri-putri bangsawan dari kalangan apa pun dalam dunia, sama berebut minta aku menggambarkan lukisan mereka. Entah berapa banyak perempuan-perempuan cantik yang pernah kulukiskan…..”

“Tapi yang satu ini jauh berlainan…. kau harus percaya kepadaku. Walau berapa banyak perempuan jelita yang pernah kau lukis, melulu dia inilah pasti tidak akan pernah kau lupakan. Peduli siapa pun, bila pernah melihat raut wajahnya, selama hidupnya tentu tidak akan melupakannya.”

Sun Hak-boh menepekur sebentar, mendadak ia bertanya: “Gambar lukisan yang kau maksud apakah lebar dua kaki panjang tiga kaki? Apa orang yang kulukis itu mengenakan pakaian hijau dengan pripit biru, di bawah kakinya mendekam seekor kucing hitam……” entah kenapa nada suaranya semakin gemetar dan akhirnya tak kuasa meneruskan kata-katanya.

Sebaliknya Sim San-koh berjingkrak senang, katanya: “Tidak salah, memang gambar itulah. Aku tahu kau pasti tidak akan melupakannya, tentunya kau pun ingat siapakah perempuan cantik yang kau lukis ini?”

Kini sekujur badan Sun Hak-boh yang gemetar, rona wajahnya yang hambar dan kosong kelihatan amat takut dan jeri, katanya dengan suara serak: “Jadi dia yang kau tanyakan…. dia yang kau tanyakan…. aku…. aku tidak ingat siapa dia…. aku tidak pernah mengenalnya.”

Kedua tangannya berpegangan di tepi meja, meja sampai berkeriut keras ikut gemetar. Dengan sempoyongan ia coba berdiri di atas kakinya, lalu dengan terhuyung-huyung hendak lari ke luar pintu.

Cepat Sim San-koh menariknya, lalu menekannya duduk kembali di kursinya semula, katanya bengis: “Kau pernah melihatnya, bukan? Kau pun masih mengingatnya, bukan?”

“Nona, kumohon kau lepaskan aku saja….. Seorang tua miskin yang tidak berguna seperti aku ini, di sini aku menunggu ajal dengan tenang, kenapa kau harus memaksaku?”

“Sret!”, Sim San-koh mencabut badik serta mengancam tenggorokannya, ancamnya bengis: “Tidak kau katakan, biar kubunuh kau!”

Bergetar sekujur badan Sun Hak-boh, akhirnya ia berteriak keras: “Baik, akan kukatakan, dia….. dia bukan manusia, dia adalah iblis perempuan!”

Mengintip sampai di sini, hati Coh Liu-hiang pun diliputi perasaan heran dan tertarik akan persoalan ini. Siapakah perempuan di atas lukisan itu? Apa pula sangkut-pautnya dengan Sim San-koh? Kedatangannya semula hendak menyelidiki berita Suhengnya Cou Yu-cin, memangnya kenapa pula tanpa kenal jerih-payah mencari seorang pelukis rudin yang sudah tua renta ini dan dengan mengancam menanyakan asal-usul perempuan di atas gambar lukisan itu?

Memangnya perempuan itu punya sangkut-paut dengan suatu rahasia yang menyebabkan Cou Yu-cin dan lain-lainnya menghilang?

Kini si pelukis mengatakan tidak mengenal perempuan itu setelah berselang dua puluh tahun kemudian. Kenapa kelihatannya dia amat menakutinya? Apa benar dia seorang iblis perempuan?

“Iblis perempuan?” terdengar Sim San-koh menjengek hidung. “Perempuan secantik ini mana bisa dikatakan iblis perempuan?”

“Tidak salah, memang dia teramat cantik. Selama hidupku betapa banyak perempuan cantik yang pernah kulihat, namun tiada seorang pun yang bisa dibandingkan dengan dia. Kecantikan orang lain paling-paling bikin pandanganmu kabur, namun kecantikannya bisa membikin kau gila, sehingga kau rela mengorbankan segala milikmu termasuk jiwa ragamu sendiri. Tidak banyak yang kau harapkan, cukup untuk dapat melihat senyum tawanya belaka.”

Walaupun dia sedang melukiskan betapa cantiknya sang bidadari, namun suaranya kedengaran sember dan bergetar ketakutan, seolah-olah memang sering terjadi banyak korban yang ingin melihat senyum tawanya saja.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas, pikirnya: “Kalau terlalu ayu memang ada kalanya bisa berubah menakutkan, namun selama hidupku ini kenapa belum pernah aku berjumpa dengan perempuan cantik yang bisa membuat hatiku takut?”

Sementara itu terdengar Sun Hak-boh sedang menutur lebih lanjut: “Waktu aku melihatnya, sudah tentu aku pun amat kaget dan merasa lemas sekujur badanku berhadapan dengan kecantikannya. Waktu itu aku belum berupa buruk seperti sekarang, kalau tidak mau dikata sebagai pemuda ganteng cakap, pernah beberapa gadis terkena penyakit rindu oleh karena aku, namun aku anggap hal itu seperti sepele saja. Tapi dia….. di hadapannya, seolah-olah berubah menjadi budaknya, ingin rasanya kupersembahkan segala milikku kepadanya.”

Sim San-koh mengangkat alis, katanya, “Apa benar di dunia ini ada perempuan secantik itu?”

“Orang yang belum pernah melihat rupanya, memang sukar mempercayainya. Lukisan itu, aku yakin karyaku ini cukup bernilai, namun mana aku mampu melimpahkan mimik wajahnya nan asli memabukkan setiap orang yang melihatnya, tindak-tanduknya…., boleh dikata aku hanya bisa melukis seperseribu dari segala kesempurnaan dirinya.”

“Dia mencarimu hanya untuk supaya kau lukis?”

“Ya. Setelah bertemu aku, lantas dia minta supaya dibuatkan empat lembar lukisan dirinya. Aku menghabiskan waktu tiga bulan lamanya. Kuperas segala daya cipta, keringat, keahlianku, akhirnya berhasil dengan sukses.”

Mendadak terkulum senyuman bangga di ujung mulutnya, katanya kalem: “Dalam tiga bulan ini setiap hari setiap saat aku berhadapan dengan dia….. tiga bulan ini sungguh merupakan hari-hari bahagia selama hayatku, tapi tiga bulan kemudian dia…..” Sampai di sini, senyuman di ujung mulutnya tiba-tiba sirna, roman mukanya kembali mengunjuk rasa takut yang tak terperikan. Kembali sekujur badannya gemetar dan berkeringat dingin.

Tak tahan tertawa Sim San-koh: “Tiga bulan kemudian bagaimana?”

“Tiga…. tiga bulan kemudian, malam setelah aku menyelesaikan keempat lembar lukisan itu, dia menyiapkan meja perjamuan. Dia sendiri yang melayani aku makan-minum sehingga serasa arwahku terbang ke awang-awang. Karena dicekok arak terus-menerus, memangnya kondisi badanku sudah teramat lelah setelah memeras keringat selama tiga bulan, beberapa cangkir saja aku lantas jatuh mabuk. Waktu aku siuman, baru aku tahu, dia….. dia…..” kalamenjing di lehernya naik-turun menelan ludah, sepatah demi sepatah kata-katanya keluar dari tenggorokannya yang tersendat: “Ternyata kedua biji mataku sudah dia korek keluar dengan kekerasan.”

Mendengar sampai di sini, Sim San-koh di dalam rumah dan Coh Liu-hiang di luar sana sama berjingkrak kaget. Lama kemudian Sim San-koh baru menarik napas panjang, katanya: “Kenapa dia berbuat demikian?”

Sun Hak-boh tertawa rawan, sahutnya: “Karena aku pernah melukis dirinya, dia tidak suka aku melukis bagi perempuan lain lagi.”

Biasanya Sim San-koh sering berlaku kejam membunuh orang tanpa berkesip, tapi begitu mendengar kekejaman perempuan yang telengas ini, tapak tangannya sampai berkeringat, gumamnya: “Iblis perempuan…. memang dia betul iblis perempuan.”

“Sudah kukatakan dia adalah iblis perempuan. Siapa pun yang memilikinya, pasti akan mengalami bencana. Nona, kau…. untuk apa kau cari dia? Gambar lukisan ini cara bagaimana pula bisa terjatuh ke tanganmu?”

“Gambar lukisan ini adalah milik Toa-suhengku, Cou Yu-cin,” sahut Sim San-koh.

Bersinar biji mata Coh Liu-hiang, batinnya: “Ternyata tebakanku tidak meleset, perempuan itu ternyata ada hubungannya dengan Cou Yu-cin.”

“Kalau demikian, kenapa tidak kau tanyakan asal-usulnya kepada suhengmu?” tanya Sun Hak-boh.

“Toa-suhengku sudah menghilang.”

“Menghilang?….. sebelum menghilang?”

“Dulu sudah tentu pernah kutanyakan, namun dia tidak mau menjelaskan.”

“Kalau dia tidak mau menjelaskan, kenapa kau ingin tahu?”

Kata Sim San-koh penasaran, “Selama hidupnya Toa-suheng tidak mau menikah lantaran perempuan ini. Kebahagiaan hidup suhengku boleh dikata terkubur oleh perempuan ini. Setiap waktu, setiap saat, ia selalu merindukannya sehingga lupa makan tidak bisa tidur. Sehari-hari selalu dalam keadaan linglung dan suka mengigau. Selama sepuluh tahun tak pernah kehidupannya berubah. Namun dia sebaliknya tidak pernah menunjukkan perhatiannya kepada suhengku, apa yang dia berikan kepada suhengku melulu penderitaan dan kesengsaraan belaka.”

“Kau hendak menemui dia demi kebaikan Toa-suhengmu?”

“Ya!” ujar Sim San-koh kertak gigi dengan penuh kebencian. “Aku membencinya!”

“Kau membencinya lantaran kau sendiri pun mencintai suhengmu? Kalau bukan lantaran dia, mungkin kau sudah menjadi bini Toa-suhengmu, benar tidak?” laki-laki tua yang tidak punya mata ini ternyata dapat menembusi relung hati orang lain.

Sim San-koh serasa ditusuk jarum. Dengan lemas ia jatuh terduduk, namun lekas ia bangkit kembali, katanya dengan suara ringan: “Aku mencarinya ada sebab lainnya pula.”

“Sebab apa?”

“Suatu malam Toa-suheng pernah menerima sepucuk surat. Lalu dia termenung menghadap gambar lukisan ini sampai pagi tanpa tidur. Hari kedua, pagi-pagi benar dia lantas keluar pintu dan tak pernah kembali lagi.”

“Tak pernah kembali sejak keluar pintu?”

“Ya, oleh karena itu kupikir menghilangnya Toa-suheng pasti ada sangkut-pautnya dengan perempuan ini. Bukan mustahil surat itu adalah buah permainannya. Jikalau bisa menemukan dia, mungkin aku bisa menemukan Toa-suheng pula.”

Lama Sun Hak-boh berdiam diri, lalu katanya pelan-pelan: “Aku tahu namanya adalah Chiu Ling-siok.”

Nama Chiu Ling-siok tidak membawa pengaruh apa-apa bagi Sim San-koh, namun amat mengejutkan bagi Coh Liu-hiang yang mengintip di luar jendela. Tiba-tiba dia teringat pada surat yang dia baca dalam buntalan Thiang-ing-cu tempo hari, bukankah tanda tangan penulis surat itu adalah Ling-siok juga? Jadi surat cinta itu ternyata bukan ditujukan kepada Thiang-ing-cu, tapi ditujukan kepada Ling-ciu-cu. Setelah Ling-ciu-cu menghilang, seperti pula Sim San-koh, Thian-ing-cu menaruh curiga kepada penulis surat itu dan ingin mencari jejaknya pula. Karena kesimpulannya ini, tanpa ragu-ragu, cepat Coh Liu-hiang menyelinap masuk lewat jendela.

Serasa kabur pandangan Sim San-koh, tahu-tahu di dalam bilik reot itu sudah bertambah seseorang di hadapannya. Dengan kaget ia mundur mepet ke dinding, bentaknya bengis: “Siapa kau?”

Coh Liu-hiang tersenyum simpul sambil mengawasi muka orang, ujarnya: “Nona tidak perlu kaget. Seperti kedatangan nona, Cayhe pun sedang menyelidiki jejak Chiu-hujin, Chiu Ling-siok itu.”

Senyumannya sungguh mengandung tenaga gaib sehingga orang merasa tenteram, terutama kekuatan yang dapat meredakan kekuatiran hati perempuan. Ternyata Sim San-koh mulai tenang, tanyanya: “Untuk apa kau mencari dia?”

Dua kali lirikannya kemudian, segala kewaspadaan terhadap Coh Liu-hiang sudah sirna tak berbekas, namun kedua biji matanya malah membelalak besar. Coh Liu-hiang tahu tatapan mata orang tidak lebih hanya ingin memperlihatkan keindahan matanya saja, jadi tiada rasa gusar atau kekuatiran. Maka dengan tersendat-sendat, sengaja ia berkata, “Karena Cayhe dengan Chiu Ling-siok juga….” Sampai di sini ia sudah melihat jelas gambar lukisan yang dibeber di atas meja. Seketika mulutnya seperti disumbat, seketika ia berdiri menjublek.

Perempuan dalam lukisan ini alis matanya terang bersinar, sungguh seraut wajah nan ayu, molek laksana hidup, memang bidadari di antara manusia, gambar perempuan ini mirip benar dengan gambar yang pernah dilihatnya di kamar Sebun Jian tempo hari. Kamar yang sederhana itu hanya diisi selembar gambar lukisan perempuan ini, terang betapa rindu dan mendalam kenangannya kepada perempuan ini, sampai sekarang dia hidup sebatang kara tentunya karena perempuan ini pula. Sebaliknya Ling-ciu-cu terima menjadi orang beribadah lantaran dia pula.

Sampai detik ini Coh Liu-hiang sudah tahu ada tiga laki-laki terpincut-pincut sampai lupa daratan dan terima hidup sebatang kara tidak kawin selama hidup, mereka adalah Sebun Jian, Cou Yu-cin dan Ling-ciu-cu.

“Kau kenal dia?” tanya Sim San-koh menatapnya.

“Aku tidak mengenalnya, untung tidak kenal.”

Sun Hak-boh berkata, “Aku tak perduli siapa kalian, kalian sama-sama hendak mencari tahu jejaknya. Apa yang kuketahui sudah kuterangkan, bolehlah kalian pergi.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Sim San-koh.

“Sejak malam itu, aku tidak pernah melihatnya lagi…. atau boleh dikatakan aku tidak pernah mendengar suaranya lagi.”

“Kau hanya memberitahu namanya saja, apa sih gunanya?” ujar Sim San-koh penasaran.

“Apa yang kuketahui memang cuma sebanyak itu saja.”

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menyeletuk, “Katamu kau pernah menggambar empat lembar lukisannya?”

“Ya, empat lembar.”

“Apa kau tahu kenapa dia minta kau melukis empat lembar?”

“Waktu itu aku pun heran. Orang lain cukup minta satu lembar saja, kenapa dia sendiri minta empat lembar? Waktu aku sudah menyelesaikan gambar ketiga, akhirnya tak tertahan kutanyakan kepadanya.”

“Adakah dia memberitahu kepadamu?” cepat Coh Liu-hiang bertanya.

“Dia memberitahu kepadaku…. karena dia hendak memberikan keempat lembar lukisan itu kepada empat orang laki-laki. Dengan keempat laki-laki itu pernah terjadi…. cinta asmara dan saat itu terpaksa dia harus putus hubungan dengan mereka.”

“Dia mencari pelukis ternama sepertimu ini, maksudnya supaya kecantikannya kau lukiskan di atas kertas ini, lalu masing-masing ia bagikan kepada empat laki-laki itu. Dengan demikian, meski ia putus hubungan dengan mereka, mereka toh tidak akan melupakan dirinya. Ingin dia membuat keempat laki-laki itu menderita dan merasa rindu setiap kali melihat gambar lukisannya itu,” demikian ujar Coh Liu-hiang.

“Perempuan kejam! Maksud tujuannya memang terlaksana. Setiap kali Suhengku mengawasi lukisan ini, hatinya menderita serasa seperti diiris-iris sembilu.”

“Tiba pada titik persoalannya sekarang: kenapa dia harus putuskan hubungannya dengan mereka?” ujar Coh Liu-hiang.

“Kalau seorang perempuan tanpa kenal kasihan dan tega hati memutuskan hubungannya dengan laki-laki pujaannya, biasanya hanya satu sebab saja.”

“Sebab apa?” tanya Coh Liu-hiang.

“Yaitu dia hendak menikah dengan laki-laki lain, laki-laki yang lebih tampan, lebih baik dari keempat laki-laki itu.”

“Benar, isi hati perempuan hanya bisa diraba dan diselami oleh perempuan.”

“Laki-laki yang mengawininya itu, kalau tidak memegang kekuasaan besar, pasti memiliki ilmu silat tinggi, atau mungkin mempunyai kekayaan harta yang tak ternilai banyaknya.”

Sim San-koh tersenyum mengawasi Coh Liu-hiang, lalu menambahkan: “Tentunya mungkin pula laki-laki itu seperti kau yang punya senyuman manis yang menarik sanubari setiap perempuan.”

“Nona sekarang pun tergerak dan tertarik?”

Merah jengah muka Sim San-koh, namun matanya menatap lekat-lekat, katanya sambil tertawa genit: “Untung tidak banyak laki-laki seperti kau dalam dunia ini, harta karun pun belum tentu dipandang oleh dia, maka laki-laki yang mengawininya itu pastilah tokoh Bulim yang punya kedudukan tinggi dan nama besar! Asal kita bisa menemukan siapakah laki-laki itu, tentu dapat menemukan dia.”

“Bagus, persoalan ini memang makin menyempit, namun kaum persilatan di Kangouw entah berapa banyak tokoh-tokoh kosen. Menurut pemandanganku, lebih baik nona serahkan gambar lukisan ini kepadaku, tunggu saja di rumah. Setelah aku berhasil mendapat berita yang nyata, pasti akan kuberi kabar kepada nona.”

Dengan pandangan genit Sim San-koh melangkah maju menjatuhkan diri di atas badan orang, katanya sambil menatapnya: “Kenapa aku harus menyerahkan kepadamu? Kenapa aku harus percaya kepadamu?”

Berputar biji mata Coh Liu-hiang, tiba-tiba ia membisiki beberapa patah kata di pinggir telinga orang.

Seketika berubah air muka Sim San-koh, kaki tersurut dua langkah, serunya gemetar: “Jadi kau…. kau…. setan jahat ini.”

Membalikkan tubuh seperti orang kesurupan setan, segera ia angkat langkah seribu.

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menghela napas lega. Segera ia gulung gambar lukisan itu, lalu ia berdiri di depan meja. Tanpa berkedip ia mengawasi Sun Hak-boh. Tatapan matanya yang tajam seolah-olah terasakan juga oleh Sun Hak-boh yang buta ini. Dengan kurang tenteram, ia menggerakkan badan di atas kursi, akhirnya ia berkata: “Kenapa kau tidak segera berlalu?”

“Aku sedang menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu keterangan yang masih kau rahasiakan mengenai si… dia itu.”

Sesaat Sun Hak-boh terlongong, katanya sambil menghela napas, “Urusan apa pun takkan bisa mengelabuimu, ya?”

“Aku tahu kau pasti membencinya, namun kau tidak suka ada orang yang mencelakai dia. Tapi kalau kau tidak mau membeberkan terus terang apa saja yang kau ketahui mengenai dirinya, mungkin dia benar-benar bakal dibunuh orang.”

“Kenapa?” seru Sun Hak-boh kuatir dan berubah roman mukanya.

“Keempat laki-laki yang menerima gambar lukisan itu sekarang sudah mati semua.”

“Sudah mati? Bagaimana bisa mati?”

“Walau sekarang aku belum tahu seluk-beluk kematian mereka, namun aku sudah tahu mereka sama-sama pernah menerima sepucuk surat dari Chiu Ling-siok dan akhirnya menemui ajalnya secara misterius setelah keluar pintu.”

“Kau…. maksudmu Chiu Ling-siok yang mencelakai jiwa mereka?”

“Kalau Chiu Ling-siok ingin mereka menderita sakit rindu seumur hidupnya, tentu takkan mencelakai jiwa mereka. Suratnya itu mungkin lantaran dia menghadapi sesuatu kesukaran, minta mereka lekas datang membantu kesulitannya.”

“Benar, bila seorang perempuan menghadapi kesukaran, yang diingatnya tentulah laki-laki yang paling baik kepada dirinya, dan hanya orang-orang itu pula yang berkorban dan suka berjuang setia bagi kepentingannya.”

“Namun keempat orang itu sudah menemui ajalnya. Orang yang mencabut jiwa mereka, beruntun mencabut jiwa orang lain pula, tujuannya hanyalah untuk menutupi rahasia hubungannya dengan keempat orang itu, berusaha supaya aku tidak melibatkan diri dalam persoalan rahasia ini. Dari sini dapatlah disimpulkan, kesukaran yang dihadapi pasti belum tertanggulangi, bukan mustahil sekarang dia dalam bahaya.”

“Kalau toh persoalan ini begini berbahaya, kenapa kau harus melibatkan diri dalam petualangan ini? Memangnya kau ingin menolong dia?”

“Kalau aku tidak tahu di mana sekarang dia berada, bagaimana bisa menolongnya?”

Sun Hak-boh menepekur sesaat lamanya, katanya pelan-pelan: “Tadi kalian lupa menanyakan sesuatu kepadaku.”

“Soal apa?”

“Kau lupa bertanya kepadaku di tempat mana aku menggambar lukisannya.”

“Betul, soal ini pun tentu ada hubungannya.”

“Lima li ke luar kota terdapat sebuah Oh-i-am! Di sanalah aku membuat lukisan itu. Pemimpin biara itu adalah Siok-sim Taysu, kenalan kentalnya. Tentunya dia tahu di mana sekarang si dia berada.”

“Masih ada lagi?” tanya Coh Liu-hiang.

Sun Hak-boh tertunduk tidak bersuara lagi.

Coh Liu-hiang menggulung gambar itu, terus tinggal pergi. Tapi mendadak ia berputar pula dan katanya: “Walau mata sudah buta, namun hati tidak buta. Dengan hati sebagai mata, memangnya kau tidak bisa melukis lagi…. Sun-heng, cobalah kau berpikir dengan cermat, harap jagalah dirimu baik-baik.”

Sekilas Sun Hak-boh melengak, seketika alis dan biji matanya yang kosong bergerak-gerak, serunya keras: “Terima kasih akan petunjukmu, harap tanya siapakah nama besarmu?”

Waktu itu Coh Liu-hiang sudah pergi jauh.

Di tempat gelap di luar jendela, tiba-tiba terdengar jawaban dingin seseorang: “Dia she Coh, bernama Liu-hiang.”

Waktu Coh Liu-hiang tiba di bawah bukit, dilihatnya sebuah kereta berenda hitam berhenti di depan sana. Kereta tunggangan yang paling umum di kota Kilam untuk menempuh perjalanan jauh dengan cepat. Dirinya memang tidak leluasa mengembangkan ginkang, maka Coh Liu-hiang mendekat dan bertanya: “Apa kereta ini sedang menunggu orang?”

Kusir kereta bermuka bundar, sahutnya sambil berseri tawa: “Memang sedang menunggumu, ayolah berangkat!”

“Tahukah kau ada sebuah Oh-i-am di luar kota?”

“Tepat bila kau mencari diriku untuk mengantarmu ke sana. Kemarin baru saja aku mengantar bini sembahyang ke sana. Silakan naik kereta, tanggung tidak akan kesasar.”

Kereta berjalan dengan cepat, di dalam kereta Coh Liu-hiang mulai putar otak memikirkan kembali persoalan ini, kini persoalan sudah dibikin ringkas dan kuncinya terletak pada: apakah dia bisa menemukan jejak Chiu Ling-siok saja. Yang diketahuinya sekarang tidak lebih hanyalah bahwa Sebun Jian, Cou Yu-cin, Ling-ciu-cu dan Ca Bok-hap sama keluar pintu lantaran surat undangan Chiu Ling-siok. Tapi kenapa Chiu Ling-siok mengundang mereka? Apa benar hendak meminta bantuan mereka? Perempuan seperti dia itu, kesulitan apa pula yang dia hadapi sehingga harus meminta bantuan orang untuk mengatasinya?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: