Kumpulan Cerita Silat

20/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (16)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:18 am

Ilmu Ulat Sutera (16)
Oleh Huang Ying

Tengah hari, Kuan Tiong-liu baru sampai di Go-bi-san. Baru melihat pintu masuk saja dia sudah tahu apa yang telah terjadi. Di mana-mana darah mulai mengering. Mayat-mayat bergelimpangan. Tubuh It-im Taysu lebih merupakan seonggok daging yang hancur ketimbang sesosok mayat manusia. Kalau bukan dari pakaiannya, siapa pun tidak bisa mengenali wajahnya lagi.

*****

Jit Po dan Liok An masih bocah cilik. Melihat pemandangan itu, mereka langsung saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu. Kuan Tiong-liu berdiri dengan mata menyorotkan kemarahan. Meskipun dia tidak menangis, tapi justru di ujung pelupuk matanya terlihat darah menetes.

Akhirnya mayat-mayat itu dikuburkan juga. Jumlah dua ratus tujuh puluh satu mayat. Kuburan yang baru pun berjumlah sama. Dengan tangan sendiri, Kuan Tiong-liu mengubur mayat yang terakhir. Dia berlutut di depan gundukan tanah di mana It-im Taysu disemayamkan. Jit Po dan Liok An berlutut di kedua sisinya. Tidak ada pembacaan ayat suci, tidak ada upacara sembahyang. Seorang Ciangbunjin partai terkemuka mati dalam keadaan mengenaskan.

Sekarang sudah senja hari. Dua puluh delapan murid Go-bi-pay yang merantau di dunia Kangouw baru menyusul tiba. Mereka melemparkan bungkusan di bahu masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut di depan makan It-im Taysu. Meskipun mereka terdiri dari laki-laki yang sudah banyak melihat berbagai peristiwa, tapi menghadapi dua ratus tujuh puluh satu gundukan tanah baru yang berisi tubuh rekan-rekan mereka, tidak usah dikatakan lagi bagaimana rasa sedih yang menyelimuti hati mereka. Belum lagi rasa sakitnya karena mereka tidak ada di tempat untuk memberi pertolongan. Mereka lebih rela mati bersama daripada hidup tapi menyaksikan kematian rekan mereka.

Kuan Tiong-liu membenturkan kepalanya dan menyembah tiga kali. Kemudian dia berdiri. Matanya mengedar pada saudara seperguruannya yang masih tersisa. “Para Suheng-te sekalian, Go-bi-pay merosot sampai begini, rasanya sulit mengangkat kepala untuk menonjolkan diri lagi di dunia Kangouw. Lebih baik kalian pilih saja jalan masing-masing,” katanya.

“Kita harus membalaskan dendam para saudara dan Suhu kita. Go-bi-pay tidak akan hidup pada masa yang sama dengan Bu-ti-bun!” teriak mereka serentak.

Mata Kuan Tiong-liu merah seketika mendengar kata-kata para saudaranya. “Baik! Kalau begitu, untuk sementara kita menetap bersama Hay-liong Susiok. Kalian memang tidak memalukan disebut murid Go-bi-pay. Kita harus mencari kesempatan untuk membentangkan sayap kembali,” sahutnya terharu.

Para murid Go-bi-pay itu juga tidak tahu harus ke mana lagi. Mendengar kata-kata Kuan Tiong-liu, tentu saja mereka segera setuju. Tiga puluh satu orang yang menjadi satu rombongan itu menuruni Go-bi-san. Cahaya mentari bersinar redup di atas kepala mereka.

*****

Senja hari. Pemandangan di kedua tepian sungai menyejukkan mata. Burung-burung beterbangan di angkasa.

Tok-ku Hong berjalan di bawah sinar matahari. Tampaknya begitu sunyi. Sekarang adalah hari kedua puluh dia meninggalkan Bu-ti-bun. Dia tidak mempunyai tujuan. Asal di depannya ada jalan, dia akan terus melangkah. Meskipun sepanjang perjalanan belum terjadi peristiwa apa pun, tapi hatinya tetap merasa tidak enak.

Ini merupakan pertama kalinya dia berkelana seorang diri. Di sepanjang perjalanan tidak ada orang yang menjaga atau pun melayaninya. Padahal sebelumnya sehari-hari dia adalah nona besar. Apa pun yang diinginkannya tinggal perintah saja. Pada hari-hari pertama, dia merasa sangat tersiksa. Namun hatinya memang keras. Dia malu untuk kembali ke Bu-ti-bun begitu saja. Meskipun sekarang sudah agak terbiasa, tapi dalam hatinya diam-diam dia merindukan rumahnya.

Sampai kapan kehidupan seperti ini akan berlangsung, dia tidak tahu. Ada tersirat keinginan dalam hatinya untuk kembali ke rumah. Beberapa kali dia sudah menghentikan langkah kakinya, namun begitu mengingat tamparan tangan Tok-ku Bu-ti, dia mengeraskan hati dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Wan Fei-yang juga tidak terbiasa hidup berkelana. Tapi kalau dibandingkan dengan Tok-ku Hong, dia masih lebih bisa menahannya. Di Bu-tong-san dia sudah terbiasa bekerja serabutan. Meskipun masih terlindung dari hujan dan angin, namun menghadapi cuaca hujan atau angin besar pun baginya bukan sesuatu yang mengherankan lagi. Oleh karena itu, selama dua puluh hari ini dia terus mengintil di belakang Tok-ku Hong. Dia tidak merasa apa yang dilakukannya sebagai suatu penderitaan. Dia berjalan dengan santai, tapi tetap tidak melepaskan diri dari gadis itu.

Sejak meninggalkan tempat kediaman Hay-liong Lojin, dia juga berjalan tanpa arah dan tujuan. Siapa sangka dalam sebuah gang kecil di desa yang dia singgahi, dia melihat anak gadis Tok-ku Bu-ti. Tiba-tiba saja dia teringat gurunya, Ci-siong Tojin pernah berpesan apabila ada kesempatan dia harus bertandang ke Bu-ti-bun mencari seorang wanita bernama Sen Man-cing. Tanpa sadar dia terus mengikuti Tok-ku Hong dan mencoba mencari kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu. Siapa tahu dia bisa menyelinap ke dalam Bu-ti-bun.

Tiga hari sudah berlalu, tapi kesempatan itu belum ada juga. Pikiran Tok-ku Hong sedang melayang-layang. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak menyadari bahwa Wan Fei-yang telah mengintil di belakangnya selama beberapa hari. Kedua orang itu berjalan terus, senja hari mereka mencari penginapan dan beristirahat. Tentu saja Tok-ku Hong yang di depan dan Wan Fei-yang mengikuti dari belakang. Setiap kali gadis itu berhenti, dia juga berhenti. Gadis itu melanjutkan perjalanan, dia pun cepat-cepat menyusulnya. Dengan demikian, tiga hari berlalu sudah.

*****

Sungai mengalir sampai ribuan li. Apabila mata menerawang, sungai itu bagai tidak berbatas. Pemandangan sangat indah, namun Kuan Tiong-liu dengan rombongannya yang berjumlah tiga puluh satu orang sama sekali tidak menikmati keindahan pemandangan itu. Mereka berjalan menyusuri tepi sungai. Hati mereka sama tertekan.

Jarak mereka dengan Tok-ku Hong dan Wan Fei-yang kurang lebih satu li. Arah mereka berhadapan pula. Seandainya mereka sama-sama berjalan terus, tentu jaraknya akan semakin pendek, dan akhirnya pasti bertemu satu sama lainnya.

Tentu saja Kuan Tiong-liu tidak tahu Tok-ku Hong sedang melangkah ke arahnya. Dia berjalan terus. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya. “Tidak benar!” serunya.

Jit Po yang mengiringi di sampingnya merasa heran. “Kongcu, ada apa?”

Mata Kuan Tiong-liu berkilau sekilas. “Semua harap berhati-hati!” katanya tiba-tiba.

Baru saja ucapannya selesai, beratus-ratus anak panah meluncur ke arah mereka. Jit Po yang berada paling depan langsung terkena sasaran. Para murid Go-bi-pay yang lain segera mengeluarkan senjata masing-masing. Tapi tujuh orang segera roboh ke tanah. Sejak tadi Kuan Tiong-liu sudah menghunus pedangnya. Dia segera menyapu ke kiri dan kanan. Liok An berhasil dilindungi, namun dia terlambat menyelamatkan Jit Po.

Kuan Tiong-liu melesat ke depan dan menyambut tubuh Jit Po yang terjungkal. “Jit Po!” panggilnya dengan suara parau.

Jit Po masih bernapas. Dia berusaha menahan sakit yang dideritanya. Matanya setengah terbuka. Dia memandang Kuan Tiong-liu dengan mata sayu.

“Kongcu, aku tidak dapat melayanimu lagi.” Kemudian dia merintih, “Li … Liok … An ….”

Liok An segera menghampirinya. Namun nyawa Jit Po sudah melayang. Liok An menangis meraung-raung. Meskipun Jit Po bukan saudara kandungnya, namun hubungan mereka malah lebih dari saudara sendiri. Hati Kuan Tiong-liu bagai disayat-sayat puluhan pisau. Jit Po dan Liok An melayaninya selama bertahun-tahun. Dia sudah memandang mereka bagai adiknya sendiri.

Panah masih meluncur terus. Seratus lebih anggota Bu-ti-bun menerjang keluar dari balik gerombolan pohon. Mereka semua berpakaian serbahitam. Dalam sekejap mereka sudah mengurung rombongan Kuan Tiong-liu. Seorang Tancu berpakaian putih keperak-perakan melayang turun dari udara dan berhenti tepat di hadapan Kuan Tiong-liu.

“Lagi-lagi anggota Bu-ti-bun!” Kuan Tiong-liu tertawa dingin. “Sebutkan namamu!”

Tancu itu tertawa datar. “Asal sekitar Kuil Kuan-se, naga sakti menyapu seluruh Wei Kiang.”

“Rupanya Sen-po Lu Kin yang dulu membasmi Wei-kiang-pat-sou!”

“Eh? Kau juga mengenal aku?” Lu Kin tertawa terbahak-bahak. “Tidak disangka setelah sekian tahun membersihkan tangan, hari ini aku dapat memancing seekor ikan besar dari Go-bi-san!”

“Bagus! Kedatanganmu memang tepat sekali!” bentak Kuan Tiong-liu lantang. Tubuh dan pedang berkelebat menjadi satu bayangan.

Lu Kin segera mengeluarkan senjata cambuknya yang berkepala tiga belas. “Serbu!” serunya memberi perintah.

Para anggota Bu-ti-bun menerjang seperti orang kalap. Murid Go-bi-pay juga tidak tinggal diam. Mereka menyambut terjangan orang banyak itu. Kedua pihak saling bertarung. Cahaya golok dan pedang bertaburan. Darah memercik membasahi tanah. Meskipun jumlah anggota Bu-ti-bun lebih banyak, tapi para murid Go-bi-pay melawan dengan kalap. Hati mereka masih sedih karena kematian rekan yang begitu banyak. Semangat mereka bangkit untuk membalaskan dendam bagi mereka. Perlawanan mereka lebih mirip mengadu nyawa.

Kuan Tiong-liu sudah memerhatikan situasi dengan saksama. Begitu berhasil melepaskan diri dari belitan cambuk Lu Kin, dia langsung menerjang ke dalam kerumunan anggota Bu-ti-bun. Sekali gerak dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam. Hanya terlihat bayangan pedang berkelebat bersamaan dengan gerakan tubuhnya. Pedangnya menyapu ke kiri dan kanan. Satu demi satu anggota Bu-ti-bun roboh bermandikan darah.

Melihat keadaan itu, Lu Kin segera maju mendekati. Kuan Tiong-liu tidak memedulikannya. Tubuhnya melesat ke udara bagai seekor kupu-kupu beterbangan. Pedangnya menikam terus. Empat puluh enam lagi anggota Bu-ti-bun mati di bawah sapuan pedangnya. Tentu saja Lu Kin tidak sanggup menghalanginya.

Para anggota Bu-ti-bun mulai tergetar hatinya melihat kekejian anak muda itu. Saat itu Lu Kin baru sadar kehebatan ilmu yang dikuasai Kuan Tiong-liu. Benar-benar di luar dugaannya. Dia sendiri sudah pasti bukan tandingan anak muda tersebut. Pikirannya segera tergerak. Dia mundur beberapa langkah. Siapa tahu Kuan Tiong-liu tiba-tiba melesat ke udara dan melayang turun tepat mengadang di depannya.

Lu Kin mengeraskan hatinya. Cambuk di tangannya dikebaskan ke depan. Ilmu cambuknya memang tinggi sekali, tapi ilmu silatnya jauh di bawah Kuan Tiong-liu. Mereka segera terlihat dalam pertarungan yang seru. Dalam waktu sekejap saja dia sudah terdesak. Mana mungkin dia sanggup menandingi Kuan Tiong-liu yang merupakan murid kesayangan It-im Taysu. Dia sendiri hanya Tancu dari Bu-ti-bun. Sedangkan Hu-hoat Bu-ti-bun, Han-ciang-tiau-siu saja bukan tandingan Kuan Tiong-liu. Apalagi dia!

Kedudukan dalam Bu-ti-bun ditentukan dari tingginya ilmu silat seseorang, sedangkan ilmu silat Lu Kin hanya pantas menduduki jabatan Tancu. Tanpa sengaja dia menemukan jejak Kuan Tiong-liu dan rombongannya. Hatinya segera berpikir untuk membuat jasa besar dan mendapat hadiah dari Tok-ku Bu-ti. Dia tidak menilai kepandaiannya sendiri apakah mampu mengalahkan-Kuan Tiong-liu. Apalagi Go-bi-pay dengan mudah berhasil disapu bersih oleh anggota Bu-ti-bun yang lain. Oleh karena itu dia segera mengumpulkan anak buahnya dan mengadang rombongan Kuan Tiong-liu. Jumlah mereka memang jauh lebih banyak. Hal ini tentu saja membesarkan hatinya. Melihat dari keadaan luarnya, mereka pasti akan meraih kemenangan. Baru meluncurkan beberapa batang anak panah, delapan orang pihak lawan sudah jatuh roboh bermandikan darah.

Sayangnya, dia terlalu meremehkan ilmu silat Kuan Tiong-liu. Sebelum berhasil berlatih tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat saja, Kuan Tiong-liu sudah berhasil mengalahkan Han-ciang-tiau-siu. Apalagi tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat sudah dikuasainya dengan baik, Lu Kin lebih-lebih bukan tandingannya lagi. Seandainya Han-ciang-tiau-siu hidup kembali, belum tentu dia dapat menerima dua puluh jurus dari Kuan Tiong-liu sekarang ini.

Pada jurus keempat belas, cambuk di tangan Lu Kin sudah terlepas. Sekali lagi Kuan Tiong-liu meluncurkan pedangnya, dia langsung berhasil menusuk dada Lu Kin. Kuan Tiong-liu mengentakkan pedangnya. Tubuh Lu Kin melayang di udara dan mencelat sejauh dua depa, lalu jatuh di antara kerumunan anggota Bu-ti-bun yang masih tersisa.

Pedang Kuan Tiong-liu tidak berhenti, berturut-turut dia membunuh puluhan lagi anak murid Bu-ti-bun. Rekan-rekannya dari Go-bi-pay agak lega mendapat bantuan darinya. Meskipun di pihak mereka sendiri telah roboh lagi sepuluh orang lebih, tapi korban di pihak Bu-ti-bun jangan dikatakan lagi. Bagaimanapun mereka pernah berlatih dengan giat di atas Go-bi-san. Ilmu mereka memang lebih tinggi dari anggota Bu-ti-bun. Kalau bertanding satu lawan satu saja, tidak ada satu pun yang sanggup menandingi Liok An, si bocah pembawa harpa.

Setelah melihat kematian pemimpin mereka, Lu Kin, hati anggota Bu-ti-bun lainnya semakin ciut. Nyali mereka terbang entah ke mana. Mereka segera mengambil langkah seribu. Gerakan mereka kalang kabut. Tidak peduli lagi arah mana yang harus diambilnya.

“Jangan sisakan satu orang pun!” teriak Kuan Tiong-liu lantang. Dia segera mencelat ke udara dan melayang turun di hadapan empat anggota Bu-ti-bun yang sedang lari pontang-panting. Dalam tiga kali sapuan pedang saja, keempat orang itu sudah roboh bermandikan darah.

Para murid Go-bi-pay mengejar sisa anggota Bu-ti-bun yang lain. Sebentar saja hanya tersisa satu orang yang masih hidup. Orang itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kuan Tiong-liu. “Tayhiap! Ampuni jiwaku ….” ratapnya dengan tubuh gemetaran.

Kuan Tiong-liu menoleh kepada para rekannya. Berikut Liok An, semuanya hanya tinggal sembilan orang yang hidup. Hatinya sakit sekali. Sisa anggota Bu-ti-bun yang hanya sendirian itu mengira Kuan Tiong-liu bersedia melepaskannya. Dia segera menyembah satu kali, pedangnya diletakkan di tanah, dia berdiri dan berjalan perlahan.

“Mau ke mana?” Tiba-tiba Kuan Tiong-liu berteriak. Tubuhnya melesat lalu mengadang di depan orang itu.

Mata orang itu menyorotkan sinar ketakutan. Belum sempat dia mengucapkan apa-apa, pedang Kuan Tiong-liu sudah menikam jantungnya. Pedang ditarik kembali. Orang yang sudah menjadi mayat itu terkulai ke tanah. Mata Kuan Tiong-liu menatap tajam ke arah seseorang yang sedang berlari mendekati.

Dia adalah Tok-ku Hong. Dari jauh dia mendengar suara benturan senjata. Segera dia menghambur menghampiri. Saat itulah dia sempat melihat Kuan Tiong-liu membunuh orang terakhir tadi. Tentu saja dia mengenali bahwa mayat-mayat yang bergelimpangan itu adalah anggota Bu-ti-bun. Dia teringat ketika Kuan Tiong-liu berusaha membunuhnya ketika dia dan Suhengnya sedang terluka di kaki gunung Bu-tong-san. Hawa kemarahan segera memenuhi dadanya. Sepasang golok segera dikeluarkannya. “Kuan Tiong-liu!” bentaknya nyaring.

Kuan Tiong-liu tidak menyahut.

“Tok-ku Hong ada di sini. Kemungkinan besar dia datang bersama Tok-ku Bu-ti. Laki-laki sejati harus berani menerima hinaan. Lebih baik menghindarkan diri untuk sementara,” pikir Kuan Tiong-liu dalam hati.

Begitu ingatan tersebut melintas, dia segera menoleh kepada rekan-rekannya. “Liok An dan lainnya cepat tinggalkan tempat ini. Aku akan menyusul belakangan!” katanya.

Liok An tidak berani membantah. Dia menghampiri mayat Jit Po dengan maksud membawanya sekalian, tapi Kuan Tiong-liu sudah mencegah lagi. “Jangan pedulikan yang lainnya, cepat pergi!”

Para rekan seperguruan yang melihat keseriusan Kuan Tiong-liu, dapat merasakan gentingnya suasana, mereka tidak berani berlambat-lambat lagi. Semuanya meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.

Tok-ku Hong juga tidak memedulikan mereka. Dia hanya mendelikkan matanya lebar-lebar kepada Kuan Tiong-liu. “Bagus sekali kau ini! Lagi-lagi membunuhi anggota Bu-ti-bun kami!”

“Ayahmu naik ke Go-bi-san dan membunuh dua ratus tujuh puluh satu jiwa anak murid kami. Apakah kau tidak tahu masalah ini?”

Sepanjang perjalanannya tadi, Tok-ku Hong memang sudah mendengar berita ini. Dia juga merasa tindakan ayahnya kali ini agak keterlaluan. Tapi setelah memandang mayat yang bergelimpangan di sana dan kebanyakan terdiri dari anggota Bu-ti-bun, hawa kemarahannya meluap kembali.

“Hari itu di kaki gunung Bu-tong-san aku sudah terluka parah, tapi kau tetap ingin membunuh aku. Kali ini aku akan bertanding sekali lagi denganmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita,” kata Tok-ku Hong datar.

“Pertarungan hidup dan mati?” Pedangnya bergetar langsung meluncur ke arah Tok-ku Hong.

Sepasang golok Tok-ku Hong dibentangkan dan menyambut datangnya serangan Kuan Tiong-liu. Golok dan pedang saling berkelebatan. Golok Tok-ku Hong cepat, pedang Kuan Tiong-liu lebih cepat lagi. Meskipun dia baru saja bertarung melawan sekian banyak musuh, tapi tenaganya tidak banyak terkuras. Ilmunya memang jauh lebih tinggi daripada Tok-ku Hong. Kira-kira sepuluh jurus kemudian, dia mulai menguasai keadaan.

Tok-ku Hong sendiri juga merasakan bahwa dia bukan tandingan Kuan Tiong-liu, tapi adatnya keras. Sepasang goloknya bergerak makin cepat. Serangannya makin lama makin gencar. Dengan tidak memedulikan bahaya, dia menebas Kuan Tiong-liu berulang kali. Tapi tebasannya selalu berhasil dihindari oleh anak muda itu. Tok-ku Hong semakin kalap. Sepasang goloknya dengan nekat menjepit pedang Kuan Tiong-liu.

“Lepaskan!” teriaknya lantang.

Tanpa dapat dipertahankan lagi, pedang Kuan Tiong-liu terlepas. Baru saja Tok-ku Hong merasa bangga akan hasilnya, tahu-tahu tubuh Kuan Tiong-liu sudah mencelat di udara dan melayang turun di belakang punggung Tok-ku Hong. Gadis itu belum sempat membalikkan tubuhnya ketika telapak tangan Kuan Tiong-liu menghantam tiga kali berturut-turut. Blam! Blam! Blam!

Tubuh Tok-ku Hong mencelat sejauh dua depa, kemudian jatuh berdebum di atas tanah. Mulutnya terbuka, segumpal darah segar terlihat muncrat keluar. Tubuh Kuan Tiong-liu melesat lagi secepat kilat, dia menyambut pedangnya yang masih melayang di udara. Semua itu terjadi dalam sekejap mata. Dia melayang turun di hadapan Tok-ku Hong. Matanya mendelik ke arah gadis itu.

“Tok-ku-siocia, bagaimana keadaanmu!” tanyanya pura-pura menaruh perhatian.

Wajah Tok-ku Hong pucat sekali. Dia mendelik kembali kepada Kuan Tiong-liu. “Membokong secara gelap, apakah kau termasuk laki-laki sejati?”

“Dalam bertarung siasat memang diperlukan. Menghadapi komplotan penjahat seperti kalian, untuk apa menuruti peraturan dunia Kangouw? Juga tidak memerlukan tindakan laki-laki sejati!”

“Manusia jenis apa kau ini, kau kira aku tidak tahu. Kau hanya menutupi rasa malumu sehingga mengeluarkan kata-kata seperti itu!” sahut Tok-ku Hong sambil berusaha bangkit. Namun baru saja tubuhnya bergerak sedikit, kembali dia memuntahkan darah segar. Tubuhnya terkulai ke tanah. “Mau bunuh, silakan. Tidak usah banyak bicara!”

“Mau mati? Tidak begitu mudah?”

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku akan mengoyak-ngoyak tubuhnya menjadi berkeping-keping, kemudian akan kukirimkan kepada Tok-ku Bu-ti!” Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak.

Tok-ku Hong terkejut sekali. Dia tidak meragukan apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu. Hal ini terbukti dari kekejiannya membantai para murid Bu-ti-bun.

“Saat itu ada Wan Fei-yang yang menolongmu. Kali ini aku ingin lihat siapa yang akan datang menolongmu?”

“Wan Fei-yang?” Tok-ku Hong malah tertegun.

Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak. Selangkah demi selangkah dia menghampiri Tok-ku Hong. Gadis itu panik sekaligus marah. Dia berusaha untuk bangun, namun lukanya cukup parah. Akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri. Melihat keadaan gadis itu, tawa Kuan Tiong-liu semakin keras. Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat. Seseorang sudah berdiri mengadang di depan Tok-ku Hong.

Dia adalah Wan Fei-yang! Suara tawa Kuan Tiong-liu sirap seketika. “Lagi-lagi kau mengacau!” bentaknya marah.

Wan Fei-yang tertawa getir. Wajah Kuan Tiong-liu menghijau.

“Kali ini apa maksudmu datang kemari?”

“Aku … aku hanya kebetulan lewat ….” Wan Fei-yang menarik napas panjang.

“Tidak usah berpura-pura lagi. Apa yang tersirat di dalam hatimu? Bilang!”

Pedang Kuan Tiong-liu menuding Wan Fei-yang. “Dia toh sudah terluka parah, buat apa kau harus turun tangan keji lagi?” Wan Fei-yang melirik sekilas ke arah Tok-ku Hong.

Tok-ku Hong sama sekali tidak bergerak. Hati Wan Fei-yang malah menjadi tenang.

“Apa hubunganmu dengannya?” bentak Kuan Tiong-liu kembali.

“Dia … dia tidak ada hubungan apa-apa denganku.”

Kuan Tiong-liu mendengus dingin. “Aku rasa kau adalah anak buahnya. Kau adalah anggota Bu-ti-bun!”

“Bukan … aku bukan ….” Wan Fei-yang gugup sekali.

“Tidak perlu mungkir lagi. Tempo hari kau menolong dia. Aku sudah curiga kau adalah anggota Bu-ti-bun. Hanya Susiokku saja yang tetap tidak percaya.”

“Aku benar-benar bukan ….”

“Tutup mulut!” Kuan Tiong-liu tidak memberinya kesempatan sama sekali. Dia malah tertawa dingin. “Ya juga tidak apa-apa, bukan juga tidak apa-apa. Kau mau menolongnya? Tanyakan pada pedangku dulu!”

“Apakah kau hendak memaksa aku turun tangan?”

“Di tempat Susiok tempo hari, aku sudah mengampuni jiwamu. Sekarang tidak lagi! Aku menginginkan nyawamu!”

“Anggaplah aku memohon kepadamu, ampunilah dia kali ini.”

“Omong kosong! Susiok mengatakan bahwa kau mengalah terhadapku tempo hari. Sekarang kau boleh keluarkan seluruh kepandaianmu!” Perkataannya selesai, tubuh dan pedang Kuan Tiong-liu meluncur dalam waktu yang bersamaan.

Sekali gerak dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat. Wan Fei-yang tidak dapat menghindar dari pertarungan ini. Kakinya segera menjalankan langkah ajaib. Jurus yang digunakan tentu saja Liong-gi-kiam-hoat. Sebetulnya dia segan bertarung dengan Kuan Tiong-liu.

Ketika bertarung di pesisir pantai, dia sudah memerhatikan Lok-jit-kiam-hoat yang dipelajari Kuan Tiong-liu. Kesannya masih mendalam. Kali ini dia dapat menghadapinya dengan santai. Pandangan Hay-liong Lojin memang tidak salah. Ilmunya memang lebih tinggi setingkat daripada Kuan Tiong-liu. Begitu anak muda itu mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat, pedang Wan Fei-yang sudah berhasil menempel di depan tenggorokan Kuan Tiong-liu.

Perasaan Kuan Tiong-liu saat itu bagai terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Dia berdiri terpaku.

“Mengapa setiap kali kau harus memaksa aku turun tangan?” tanya Wan Fei-yang sambil tertawa getir.

Kuan Tiong-liu memandang Wan Fei-yang dengan pandangan menusuk. “Pertarungan di pesisir pantai tempo hari, kau benar-benar mengalah terhadapku?”

Wan Fei-yang tidak menyahut.

“Mengapa kau masih tidak membunuh aku?” teriak Kuan Tiong-liu marah.

“Antara kau dan aku sama sekali tidak ada dendam apa-apa,” kata Wan Fei-yang sambil menyimpan pedangnya kembali.

“Kalau kau tidak membunuh aku, kelak kau pasti akan menyesal!” sahut Kuan Tiong-liu sambil menggertakkan giginya erat-erat.

Wan Fei-yang mengibaskan tangannya. “Lebih baik kau pergi saja.”

Hampir saja Kuan Tiong-liu muntah darah karena jengkelnya. Dia mengentakkan kakinya, kemudian membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu. Wan Fei-yang memandangnya sampai menghilang di kejauhan. Dia sendiri termenung serta berulang kali menarik napas.

*****

Ketika Tok-ku Hong sadarkan diri, matahari sudah tenggelam. Pada saat itu Wan Fei-yang sedang membuka mulutnya dan meminumkan air yang diambilnya dengan sarung pedang. Tok-ku Hong hanya merasa lidahnya menjadi pahit, tapi setelah rasa pahit berkurang, dia malah merasa segar dan nyaman. Akhirnya dia dapat melihat Wan Fei-yang.

Tok-ku Hong mengejap-ngejapkan matanya.

“Jangan bergerak. Yang ada dalam mulutmu itu obat. Cepat telan!” kata Wan Fei-yang menyarankan.

Kesadaran Tok-ku Hong mulai pulih sedikit demi sedikit. Tanpa sadar dia mengikuti perintah Wan Fei-yang dan menelan obat itu. “Siapa kau?” tanyanya kemudian.

“Aku hanya kebetulan lewat,” sahut Wan Fei-yang. Tangannya masih memegangi bahu Tok-ku Hong. Akhirnya gadis itu merasakan. Dia menepiskan tangan Wan Fei-yang.

“Lepaskan tanganmu!”

Wan Fei-yang tertegun. Dia menyingkirkan tangannya. Tubuh Tok-ku Hong hampir terjatuh, tapi gadis yang keras hati itu bertahan sekuatnya. Dia menumpukkan kedua telapak tangannya di atas tanah. Matanya mencari-cari.

“Mana manusia she Kuan itu?” tanyanya tiba-tiba.

“She Kuan?” Wan Fei-yang pura-pura tidak mengerti.

“Pemuda yang mengenakan pakaian putih ….”

“Oh …. Pemuda berpakaian putih itu yang kau maksudkan? Dia sudah kabur.”

“Kabur?” Tok-ku Hong kurang begitu percaya. “Siapa yang sanggup membuatnya kabur? Kau?”

“Aku mana punya kesanggupan sehebat itu,” Wan Fei-yang menjawab sambil memutar otaknya. “Seorang Hwesio bergebrak dengannya, pemuda itu tampaknya kalah, terus kabur.”

“Hwesio?” Tok-ku Hong semakin penasaran. “Bagaimana tampangnya?”

“Usianya sudah lanjut, di kepalanya yang gundul ada sembilan lubang, orangnya agak pendek, rambutnya sudah putih semua, jenggotnya panjang menjuntai. Tampaknya ilmu Hwesio itu tinggi sekali. Baru bertarung beberapa saat, pemuda berpakaian putih itu sudah kabur.”

“Kira-kira siapa yang mempunyai kepandaian setinggi itu?” Tok-ku Hong seperti bertanya kepada dirinya sendiri. Dia merenung beberapa saat. Kemudian dia menoleh lagi kepada Wan Fei-yang. “Ke mana Hwesio itu sekarang?”

“Dia memerhatikan engkau sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian lengan bajunya dikibaskan lalu tubuhnya melesat dan menghilang begitu saja.”

“Oh?” Tok-ku Hong merenung kembali. “Siapa gelar Hwesio itu?”

“Dia tidak mengatakannya,” Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya. “Bagaimana perasaanmu setelah meminum obat tadi?”

Tok-ku Hong mencoba menghimpun hawa murninya, walaupun belum begitu lancar, tapi rasa sakitnya tidak seperti sebelum pingsan tadi lagi. Malah terasa sekulum hawa yang sejuk menguap naik lewat tenggorokannya. Dia merasa heran. “Obat apa yang kau berikan kepadaku?”

“Aku juga kurang paham,” Wan Fei-yang mengeluarkan botol obat dari balik pakaiannya. “Obat ini merupakan resep turunan keluarga. Dibuat dari bermacam-macam daun obat-obatan. Menurut apa yang kudengar, obat ini khusus untuk menyembuhkan luka dalam.”

Tok-ku Hong memerhatikan Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki. “Siapa kau sebetulnya?”

“Aku? Kurang jelas juga,” Wan Fei-yang benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

“Apa?” Tok-ku Hong semakin kebingungan. “Yang aku maksudkan siapa namamu?”

“Aku she Yang. Orang-orang selalu memanggilku Siau Yang. Yang dari huruf Yang Ciu,” sahut Wan Fei-yang seakan takut gadis itu kurang paham.

“Tidak ada nama?”

“Ada nama kecil, yaitu A Ha. Tapi lebih baik kau memanggilku Siau Yang saja.”

Tentu saja Tok-ku Hong tidak tahu Wan Fei-yang sedang berdusta. Dia malah merasa anak muda ini lucu sekali dan menarik. “Di mana rumahmu?” tanyanya kembali.

“Sebuah desa kecil tanpa nama yang kira-kira jaraknya keberapa puluh li dari sini. Di desa kami itu hanya ada belasan keluarga.”

“Untuk apa kau datang ke tempat sejauh ini?”

“Cari pekerjaan,” Untung saja otak Wan Fei-yang cukup encer.

“Bagaimana dengan kedua orang tuamu?” tanpa sadar Tok-ku Hong bertanya terus.

“Semuanya sudah mati,” Wajah Wan Fei-yang tampak menyiratkan kesedihan. Dia cepat-cepat mengalihkan bahan pembicaraan. “Kouwnio, aku rasa lukamu tidak ringan. Kalau kau diam di sini terus, nanti bisa masuk angin. Celakalah kau saat itu.”

“Siapa yang memerlukan perhatianmu?”

“Jangan berkata demikian. Sekarang kau ibarat pasienku. Kalau sampai terjadi apa-apa pada dirimu, aku tentu tidak bisa makan tidur lagi.”

“Aku tidak meminta kau bertanggung jawab atas diriku.”

“Menolong orang merupakan kewajiban dalam hidup. Mana mungkin sementara aku melihat kau di ambang kematian lalu membiarkan saja?” sahut Wan Fei-yang seenaknya.

“Baru membawa obat keluarga saja sudah berani mengobati orang. Nyalimu tidak kecil juga!” Tok-ku Hong mengomelinya, namun bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Kalau nyaliku tidak besar, melihat begini banyaknya mayat yang bergelimpangan, pasti aku sudah kabur sejak tadi.”

“Tahukah kau apa yang telah terjadi?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku mengenali sebagian besar dari mayat itu adalah anggota Bu-ti-bun.”

“Kau kenal dengan mereka?”

“Tidak kenal. Tapi, sudah pasti itu dandanan anggota Bu-ti-bun.”

“Tampaknya kau memerhatikan sekali.”

“Karena aku memang pernah masuk menjadi anggota Bu-ti-bun.”

“Mengapa?” kecurigaan Tok-ku Hong bangkit kembali.

“Bu-ti-bun tiada tandingannya di kolong langit. Coba kau perhatikan, mana ada murid Bu-ti-bun yang tidak terlihat gagah?” Wan Fei-yang sengaja menarik napas panjang. “Sayangnya harus ada yang memperkenalkan dan ada orang yang menjamin. Aku sudah pergi ke kantor cabang mereka tiga kali, tapi setiap diuji, aku selalu tidak lulus dan tidak diterima.”

“Tahukah kau siapa aku?” tanya Tok-ku Hong kembali.

“Siapa juga tidak jadi masalah,” Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

“Siapa tahu aku musuh Bu-ti-bun.”

Wan Fei-yang pura-pura terkejut. Kemudian dia menggelengkan kepalanya kembali.

“Apa boleh buat? Melihat kematian tanpa menolong, aku tidak bisa melakukan hal seperti itu,” dia seakan teringat sesuatu. “Oh ya …. Di depan sana ada kuil yang tidak terpakai, mari aku papah kau beristirahat di sana sejenak,” katanya.

Tangan Wan Fei-yang terulur. Sudah pasti Tok-ku Hong menolaknya.

“Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri!” Dia menggunakan goloknya sebagai tongkat dan memaksakan dirinya bangun.

Bagian telapak tangannya masih sakit, walaupun tidak senyeri tadi lagi. Dia memaksakan dirinya berjalan keberapa langkah, tapi bekas lukanya sakit sekali. Langkahnya limbung, tubuhnya terhuyung-huyung, hampir saja dia jatuh ke tanah.

Wan Fei-yang yang mengikuti dari samping, cepat-cepat memapahnya. Tapi Tok-ku Hong masih bermaksud menolak, namun segulungan rasa pening tiba-tiba menyerang kepalanya. Dia tahu dirinya tidak kuat berjalan, terpaksa dia membiarkan Wan Fei-yang memapahnya. Diam-diam dia mengatur hawa murninya. Sejenak kemudian rasa pusingnya agak berkurang. Dia baru bisa melanjutkan langkahnya perlahan.

Melihat semua itu, diam-diam Wan Fei-yang merasa kagum. Gadis yang keras hatinya seperti Tok-ku Hong memang tidak banyak.

*****

Jarak kuil kosong itu dari tepi sungai tadi sebetulnya tidak terlalu jauh. Tapi Wan Fei-yang memapah Tok-ku Hong dan melangkah perlahan. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, malam sudah merayap.

Namanya memang kuil bobrok. Tapi beberapa hari sebelumnya Wan Fei-yang sudah menghabiskan waktu setengah harian untuk membersihkannya. Dia juga pernah menginap satu malam di kuil tersebut.

Wan Fei-yang memapah Tok-ku Hong duduk di atas lantai. Sebentar saja dia sudah mengambil setumpuk kayu kering dan menyalakan api unggun. Tok-ku Hong memandangnya dengan tatapan heran. Wan Fei-yang merasa dirinya diperhatikan. Dia tertawa lebar.

“Kau tidak perlu heran. Aku pernah tinggal di sini,” katanya seakan menjelaskan.

Setelah api menyala, dia mengambil sebuah mangkuk yang sudah somplak.

“Kau istirahat dulu sebentar. Aku akan mengambil air dan kau harus minum obat sekali lagi.” Tanpa menunggu jawaban dari Tok-ku Hong, Wan Fei-yang segera menghambur keluar.

Tok-ku Hong terpaksa memandangi punggungnya sampai menghilang. Setelah merenung sesaat, dia berusaha menegakkan badannya dan menghimpun kembali hawa murninya. Obat yang diberikan Wan Fei-yang kepada Tok-ku Hong, sudah tidak perlu diragukan lagi merupakan obat racikan Hay-liong Lojin. Memang bagus sekali untuk menyembuhkan luka dalam. Sayangnya Wan Fei-yang tidak mengerti bagaimana cara meminumkannya sehingga obat itu tidak banyak menunjukkan reaksinya. Sekarang Tok-ku Hong membantunya dengan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, tentu saja obat itu segera buyar dan bekerja. Tok-ku Hong merasakan kesegaran dan kenyamanan dalam waktu singkat.

Tok-ku Hong meminum obat itu sekali lagi. Setelah beristirahat sejenak, tidak lama kemudian dia tertidur dengan pulas. Ketika dia terbangun kembali, hari sudah pagi. Cahaya matahari menyorot dari luar kuil.

Tok-ku Hong mengejapkan matanya. Tiba-tiba dia tersentak, cepat-cepat dia memerhatikan tubuhnya sendiri. Tapi dia tidak merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatinya menjadi lega. Kemudian dia melihat Wan Fei-yang membawa sebuah mangkuk di tangan dan menghampirinya.

“Apa lagi itu? Obat?”

“Bubur …. Aku sengaja memasakkannya untukmu.”

Di atas tungku api terdapat sebuah panci rombeng. Di dalamnya terdapat bubur yang masih mengepulkan asap. Tok-ku Hong memerhatikan Wan Fei-yang sekali lagi. Pelupuk matanya mulai merah. Dapat dipastikan bahwa pemuda itu tidak tidur sepanjang malam. Hati Tok-ku Hong terharu sekali. Dia menyambut mangkuk dari tangan Wan Fei-yang, kemudian mencicipnya sedikit, rasanya manis dan gurih. Kalau dibandingkan dengan masakannya sendiri, jelas jauh lebih enak.

“Bubur apa ini?” tanyanya tanpa sadar.

“Bubur ikan lele.” Tampaknya Wan Fei-yang gembira sekali.

“Dari mana kau mendapatkan ikan lele?” tanya Tok-ku Hong yang keheranannya bangkit kembali.

“Aku menceburkan diri ke dalam sungai dan menangkapnya.” Wan Fei-yang balik bertanya, “Bagaimana rasanya?

“Enak sekali,” kata Tok-ku Hong memuji. “Kepandaianmu banyak juga.”

“Sejak kecil aku harus mengurus diriku sendiri, kalau yang beginian saja tidak bisa, sejak dulu aku sudah mati kelaparan.”

Mendengar ucapannya, hati Tok-ku Hong semakin terharu. Dia merenung sejenak. “Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau ingin sekali bergabung dengan Bu-ti-bun?

“Sekarang tidak lagi.” Jawaban Wan Fei-yang malah di luar dugaan gadis itu.

“Eh? Mengapa?”

“Aku sekarang sudah yatim piatu. Tidak punya siapa-siapa lagi. Siapa yang akan menjamin? Lagi pula di mana aku harus mencari orang yang bisa mengenalkan aku masuk Bu-ti-bun?

“Aku!” Tok-ku Hong menyuap sesendok bubur.

“Kau? Kenapa kau?” tanya Wan Fei-yang seakan curiga.

Tok-ku Hong mendengus dingin.

“Tok-ku Bu-ti adalah ayahku. Coba kau pikir, bisa atau tidak aku yang menjaminmu? Dan aku juga yang akan memperkenalkanmu.”

Wan Fei-yang sengaja menatap Tok-ku Hong dengan pandangan kurang percaya.

“Anggaplah aku membalas budimu karena sudah merawatku,” kata Tok-ku Hong selanjutnya.

“Aku tidak mengharap balas budimu. Aku juga bukan jenis manusia yang sudah menolong orang lalu mengharapkan pembalasanmu,” sahut Wan Fei-yang bersungut-sungut.

“Kau kira aku jenis manusia yang sudah menerima pertolongan lalu melupakan begitu saja.” Tok-ku Hong meletakkan mangkuknya di atas tanah. “Segala hal yang sudah aku tetapkan, tak dapat diubah oleh siapa pun juga!”

Wan Fei-yang tampak serbasalah.

“Ini ….”

“Ini itu apa lagi? Plintat-plintut, seperti bukan anak laki-laki saja!”

“Baik. Tapi kau tidak boleh sedikit-sedikit gembar-gembor pada semua orang dengan mengatakan bahwa aku mengandalkan engkau baru bisa menjadi anggota Bu-ti-bun.” Wajah Wan Fei-yang serius sekali ketika mengucapkan kata-kata ini.

“Siapa yang kebanyakan waktu menceritakan engkau?” Tok-ku Hong geli melihat lagak Wan Fei-yang yang ketolol-tololan. Dia tertawa cekikikan kemudian menghabiskan sisa buburnya.

Wan Fei-yang sendiri ikut tertawa geli. Tiba-tiba tawanya sirap. Dia sedang memikirkan apakah pantas dia mengelabui Tok-ku Hong dengan cara demikian. Dia sudah berniat mengatakan dengan terus terang, tapi kata-kata yang sudah dipersiapkan dan sudah sampai di ujung lidah ditariknya kembali. Akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan sandiwaranya.

Tok-ku Hong sama sekali tidak menyadari. Dia sudah memutuskan untuk kembali ke Bu-ti-bun. Bukan karena Wan Fei-yang saja. Tetapi dia sudah merasa jenuh dengan kehidupan semacam ini.

*****

Hay-liong Lojin orang yang periang. Setiap hari dia selalu tertawa bebas. Tapi ketika mendengar musibah yang terjadi pada Go-bi-pay, wajahnya berubah hebat. Dia tidak sanggup tertawa lagi. Dia tidak meragukan apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu. Apalagi luka yang diderita setiap murid Go-bi-pay yang mengiringi kedatangan Kuan Tiong-liu. Kepala mereka tertunduk dalam-dalam. Berkali-kali mereka menarik napas panjang. Semangat mereka entah terbang ke mana.

Di atas meja yang terdapat di hadapannya ada sebuah kantong kecil yang berlumuran darah. Itulah benda peninggalan It-im Taysu. Darah sudah mengering. Warnanya pun sudah mulai memudar. Mata Hay-liong Lojin menatap benda itu lekat-lekat. Hatinya semakin berduka.

“Benarkah si tua bangka It-im itu sudah mampus?” kata-kata itu memang tidak sopan, tapi mengandung kesedihan yang dalam.

Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya tanpa menyahut. Hay-liong Lojin menarik napas dalam-dalam.

“Betul kan? Sejak dulu aku sudah sering mengatakan, tidak perlu melelahkan diri menasihati manusia-manusia jahat seperti itu. Tempo hari Kui-kiam (Pedang Setan) Bu-tiang datang untuk membalas dendam. Dia masih mengatakan bahwa pada dasarnya orang itu masih mempunyai sifat yang baik. Untung saja aku keburu datang, kalau tidak waktu itu saja Pedang Setan Bu-tiang sudah mengantarnya ke neraka, tidak perlu menunggu sampai sekarang,” Hay-liong Lojin merandek sejenak. Kemudian dia mengomel lagi panjang lebar, “Tua bangka itu memang terlalu lugu. Sama sekali tidak melihat kenyataan hidup. Sedikit-sedikit Omitohud. Sekarang baru dia rasakan, sekaligus dua ratus tujuh puluh lebih anak muridnya mati penasaran!”

Kuan Tiong-liu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Para murid Go-bi-pay lainnya juga menundukkan kepala mereka. Berkali-kali masih terdengar helaan napas panjang. Hay-liong Lojin mengedarkan pandangannya kepada mereka sekilas, “Untung kalian masih sempat melarikan diri.”

Hay-liong Lojin mendongakkan wajahnya ke langit biru. “Dapatkah Go-bi-pay tampil kembali ke dunia Kangouw, semuanya tergantung kepada kalian.” Orang tua itu berdiri dan menatap Kuan Tiong-liu. “Terutama kau manusia she Kuan. Aku tahu bakatmu melebihi orang lain. Kau harus berlatih lebih giat lagi!”

“Susiok, jangan khawatir, aku pasti akan menonjolkan kembali nama Go-bi-pay!” sahutnya dengan suara berat.

“Bagus! Ada semangat!” Orang tua itu menepuk bahu Kuan Tiong-liu dua kali kemudian mengambil benda peninggalan It-im Taysu dan berjalan pergi.

Kuan Tiong-liu mengikuti dari belakang. Sesampainya di luar rumah, dia berkata, “Susiok, apa yang kau katakan memang benar! Aku bukan tandingan Wan Fei-yang.”

“Akhirnya kau percaya juga bahwa tempo hari Wan Fei-yang memang mengalah terhadapmu.”

“Liong-gi-kiam-hoat dari Bu-tong-pay dan Lok-jit-kiam-hoat kita sama-sama terkenal di dunia Kangouw. Mengapa kita bertarung, terpautnya demikian jauh?”

“Untuk mengembangkan Lok-jit-kiam-hoat diperlukan paduan Im dan Yang. Ciangbunjin generasi lalu keburu meninggal, lagi pula kami baru tahu sesudahnya. Maka dari itu, Lok-jit-kiam-hoat yang kulatih bersama It-im Taysu hanya mengandung kekerasan tenaga Yang, namun kekurangan kelembutan daya Im. Ciangbunjin generasi pendahulu tidak sempat mewariskannya kepada kami. Tentu saja kita tidak bisa mengerahkan Lok-jit-kiam-hoat dengan sempurna,” kata Hay-liong Lojin menjelaskan.

Kuan Tiong-liu tertegun. “Kalau begitu, Susiok juga tidak dapat mencapai kesempurnaan dalam berlatih Lok-jit-kiam-hoat.”

Hay-liong Lojin tidak mengingkari. Kuan Tiong-liu menarik napas panjang.

“Apakah tidak ada jalan untuk membantu agar Lok-jit-kiam-hoat dapat terlatih sampai sempurna?”

“Bukannya tidak ada ….” Wajah Hay-liong Lojin menjadi kelam.

“Susiok, katakanlah kepadaku. Bagaimana pun susahnya, aku bertekad untuk melatih Lok-jit-kiam-hoat sampai sempurna.”

“Jalan satu-satunya adalah mempelajari kelembutan daya Im.”

“Oh?” Kuan Tiong-liu kurang paham maksud orang tua itu.

Hay-liong Lojin terpaksa menjelaskan lebih terperinci.

“Seandainya kau dapat mempelajari Sim-hoat dari Si-im-kung (Istana Akhirat) maka semuanya akan menjadi mudah. Tapi tempo dulu, Si-im-kung pernah diserbu oleh sembilan partai besar sehingga terdesak keluar dari Tionggoan. Sejak itu mereka tidak pernah muncul lagi di dunia Kangouw. Tentu saja Lwekang Sim-hoat dari Si-im-kung tidak ada pewarisnya di daerah Tionggoan.”

“Dari mana asal Si-im-kung sebenarnya?”

“Po-se (Portugis). Mereka pernah menggetarkan Bu-lim dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi karena mereka tergolong aliran sesat dan banyak membuat kericuhan, akhirnya tidak mampu menahan keroyokan sembilan partai besar dan menghilang begitu saja. Apakah mereka kembali ke negerinya sendiri atau hijrah ke tempat lain, tidak ada yang tahu lagi.”

“Kecuali Lwekang Sim-hoat dari Si-im-kung, apakah tidak ada Sim-hoat lain yang dapat menggantikannya?” desak Kuan Tiong-liu.

“Bukan begitu juga. Menurut cerita, Hek-pay-suang-mo (Sepasang Iblis Putih dan Hitam) dari India juga mempelajari ilmu yang sama. Malah ada yang mengatakan bahwa tadinya mereka merupakan satu aliran dengan Si-im-kung., Sedangkan Han-ling-cu (Sukma Dingin) dari Tionggoan juga mempunyai semacam ilmu yang menggunakan Lwekang daya lembut ini. Tapi mereka semua terdiri dari golongan sesat. Seandainya iman kita tidak kuat, sifat kita akan terpengaruh menjadi jahat. Lebih baik kita cari akal lain, lihat saja, siapa tahu kita akan dapat menemukan Sim-hoat Go-bi-pay yang hilang itu.” Hay-liong Lojin menarik napas panjang. “Mungkin dari angkatan pendahulu kita ada yang mempelajari ilmu ini dan ada beberapa, dari mereka yang menurunkan kepada ahli warisnya.”

Kuan Tiong-liu tidak bersuara. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Aku menyimpan sebuah daftar nama yang di dalamnya tertera nama-nama anak murid Go-bi-pay angkatan pendahulu. Nanti aku akan menyerahkannya kepadamu. Tapi kau harus keliling dunia untuk mencari mereka. Siapa tahu ada di antara mereka yang mengerti Sim-hoat ilmu Lok-jit-kiam-hoat,” kata Hay-liong Lojin selanjutnya.

Kuan Tiong-liu masih juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Akhirnya orang tua itu menyadarinya juga. Kakinya berhenti melangkah. “Apa lagi yang kau pikirkan!”

“Tidak ada.” Kuan Tiong-liu mengertakkan giginya erat-erat. “Sejak sekarang, Tecu akan mengelilingi dunia ….”

Hay-liong Lojin tidak menunggu sampai kata-kata Kuan Tiong-liu selesai, dia mengangkat jempolnya memuji. “Sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kau memang bersemangat besar.”

“Biar Liok An berdiam di sini saja, juga para rekan yang lain, Tecu harap Susiok bersedia menampung mereka.”

“Omongan apa itu?” Hawa kemarahan Hay-liong Lojin meluap lagi. “Aku juga murid Go-bi-pay, tentu saja aku juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga mereka.”

Liok An sejak tadi mengintil di belakang Kuan Tiong-liu. Dia tidak dapat menahan dirinya lagi. “Kongcu, biar aku melayani ….”

Kuan Tiong-liu memalingkan wajahnya menatap Liok An sekilas. “Ilmu silatmu masih rendah sekali. Lebih baik kau berdiam di sini saja.” Kemudian dia menjura kepada Hay-liong Lojin. “Susiok, aku berangkat.”

“Baik. Kau pergilah!” Orang tua itu menarik napas panjang sekali lagi. Setelah itu dia melempar kantong kecil peninggalan It-im Taysu dengan tenaga sekuatnya. Kantong kecil itu melayang ke tengah lautan.

Ombak putih bergelombang, sebentar saja kantong kecil itu terombang-ambing semakin jauh. Di bawah aliran air mata para murid Go-bi-pay, Kuan Tiong-liu meneruskan langkahnya untuk mencapai cita-cita membangun kembali Go-bi-pay.

*****

Kesunyian malam semakin merayap. Dari luar tampaknya Bu-tong-san begitu tenang. Kenyataannya sejak Wan Fei-yang meninggalkan tempat itu, di Bu-tong-san tidak pernah terjadi kericuhan lagi. Penjagaan pada malam hari juga tidak begitu diperketat lagi.

Namun malam itu Fu Giok-su masih berhati-hati ketika meninggalkan kamarnya menuju bagian belakang gunung di mana terdapat hutan yang lebat. Angin bertiup melambaikan dedaunan. Dengan membelakangi rembulan, manusia tanpa wajah berdiri tegak di antara pepohonan yang lebat. Dia melihat Fu Giok-su menghampiri ke arahnya.

“Kongcu ….”

“Lagi-lagi kau datang ke Bu-tong-san. Sebetulnya ada keperluan apa?” tanya Fu Giok-su dengan nada datar.

“Cujin tidak sabar lagi untuk membalas dendam. Orang tua itu meminta kau segera bertindak,” sahut manusia tanpa wajah sambil menyodorkan sepucuk surat kepada Fu Giok-su.

Fu Giok-su mengeluarkan surat tersebut. Dia berdiri membelakangi rembulan agar mendapat cahaya dan bisa membaca surat itu. Setelah membaca dengan saksama, dia mengeluarkan batu api lalu menyalakannya. Surat itu dibakar hingga menjadi abu. Dia memang seorang yang teliti. Kemudian dia merenung sejenak.

“Kau pulang ke Siau-yau-kok dan laporkan kepada Yaya. Dalam jangka waktu sepuluh hari aku akan melakukan semuanya sesuai rencana. Pokoknya aku akan memancing Yan Cong-tian ke Ci-liong-ceng.”

“Kongcu sudah menemukan akal yang baik?”

Fu Giok-su menganggukkan kepalanya. Sambil berjalan dia menjelaskan apa yang sudah direncanakannya. Manusia tanpa wajah mendengarkan dengan saksama. Kepalanya manggut-manggut terus. Fu Giok-su adalah pemuda yang sangat cerdas. Siasat yang terpikir olehnya pasti rapi sekali. Kali ini Yan Cong-tian tentu akan terjebak dalam perangkap yang berbahaya.

*****

Fu Giok-su mengantarkan kepergian manusia tanpa wajah. Dia kembali ke kamarnya. Belum lagi dia mendorong pintu kamar itu, hatinya sudah merasa curiga. Tadinya pintu itu dibiarkan sedikit terbuka, sekarang malah tertutup rapat. Dia menempelkan tangannya pada pintu kamar. Setelah mempertimbangkan sejenak, dia mendorong pintu itu dengan hati-hati.

Cahaya rembulan menyorot lewat jendela. Keadaan di dalam kamar remang-remang. Tapi dia dapat melihat ada seseorang duduk di atas tempat tidurnya. Meskipun tidak jelas sekali, tapi dia sudah dapat menerka siapa gerangan orang itu. Dia merapatkan pintu kamarnya kembali.

Fu Giok-su bergegas mendekati tempat tidur.

“Wan-ji, mengapa kau datang pada waktu seperti ini?

Orang itu memang Lun Wan-ji. Tangan kanannya mendekapi ulu hati, seperti ingin muntah, tapi dia bertahan sebisanya jangan sampai muntah di tempat itu. Kemudian dia berdiri, kepalanya menyusup ke dalam dada Fu Giok-su. Dia menangis terisak-isak.

“Wan-ji, ada apa?” tanya Fu Giok-su lembut.

“Giok-su, aku … aku ada beberapa patah kata yang ingin kukatakan kepadamu.”

“Tentang apa?” Fu Giok-su memandangnya dengan heran.

Tubuh Lun Wan-ji semakin merapat ke dalam pelukan pemuda itu. Setelah beberapa saat baru dia membuka suara …. “Beberapa hari belakangan ini, badanku terasa tidak enak. Aku muntah setiap kali mengisi perut, kepala juga pusing terus. Jangan-jangan ….”

Baru mendengar setengahnya saja, wajah Fu Giok-su sudah berubah hebat. Dia termangu-mangu sekian lama.

“Coba katakan, apa yang harus kita lakukan? Kalau sampai orang tahu aku mengandung anakmu, maka ….” suara Lun Wan-ji menjadi serak dan tidak jelas.

Dalam waktu singkat hati Fu Giok-su tenang kembali. Dia menepuk bahu Lun Wan-ji dengan lembut. “Jangan takut. Aku akan mengatur segalanya.”

Lun Wan-ji mendongakkan kepalanya. Air mata mengalir deras. Fu Giok-su mengulurkan tangan mengusap pipi gadis itu. “Tidak perlu khawatir,” katanya sepatah demi sepatah. Kemudian dia mengusap air mata Lun Wan-ji.

Air mata itu terasa dingin di tangan. Perasaan hati Fu Giok-su pun menjadi sejuk.

*****

Malam panjang berakhir jua. Pagi-pagi sekali Fu Giok-su sudah mendatangi kamar batu di mana Yan Cong-tian berlatih diri. Setelah berpikir semalam suntuk akhirnya dia mendapat akal untuk memancing Yan Cong-tian terperangkap dalam jebakannya.

Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa para murid yang berada di kaki gunung menyampaikan berita bahwa Wan Fei-yang dan Thian-ti terlihat di desa Ci-liong. Dia sudah dapat meraba sifat Yan Cong-tian. Kalau mendengar berita ini, dia pasti akan segera menyusul ke desa Ci-liong untuk mengadakan perhitungan dengan Wan Fei-yang.

Ternyata apa yang diduganya memang tidak meleset. Mendengar kabar itu, Yan Cong-tian langsung bersemangat. “Mengapa Wan Fei-yang bisa bersama-sama dengan makhluk tua itu?”

“Apakah Susiok sudah lupa. Sebelum meninggalkan Bu-tong-san, makhluk tua itu pernah berkata bahwa Wan Fei-yang adalah hasil didikannya.”

“Betul! Tidak heran mereka bisa bersama-sama.” Yan Cong-tian bertanya lagi. “Dari mana kau mendapatkan berita ini?”

“Bekas murid Bu-tong-pay yang membuka perusahaan pengawalan dekat desa Ci-liong. Orang itu she Suma ….”

“Kim-to (Golok Emas) Suma?” Suatu ingatan terlintas di benak Yan Cong-tian. “Apakah Suma Hong?”

“Suma-susiok sudah meninggal. Penggantinya yang sekarang adalah putranya yang bernama Suma Tian.”

“Suma Hong juga sudah meninggal?” Yan Cong-tian menarik napas dalam-dalam. “Kami adalah sahabat karib. Satu keluarga itu sangat menarik. Mereka semua menggunakan tangan kiri dalam menggenggam golok. Ilmu golok tangan kiri Bu-tong-pay juga hanya mereka yang bisa menguasai dengan baik.”

Dalam hati Fu Giok-su agak terkejut. Dia tidak menyangka Yan Cong-tian sedemikian paham. Namun dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa. “Susiok, apa yang harus kita lakukan?”

“Masih perlu tanya? Aku akan segera menyusul ke desa Ci-liong. Aku akan menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping!”

“Susiok, aku akan menemani kau orang tua ke sana!”

“Tidak perlu! Aku sendiri sudah cukup.” Mata Yan Cong-tian mengerling sekilas. “Kau sekarang merupakan Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kau harus berdiam di sini mengurus hal yang lainnya.”

“Justru karena Tecu sekarang sudah menjadi Ciangbunjin, maka Tecu harus ikut pergi ke sana.”

“Kalau kau ikut pergi, siapa yang mengurus Bu-tong-pay?” Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. “Lebih baik kau tetap di sini saja.”

“Susiok …!”

“Apakah perkataanku saja sudah tidak kau dengar lagi?” Wajah Yan Cong-tian berubah kelam.

“Tidak …. Tapi Suhu dibokong oleh murid murtad itu. Sekarang sebagai murid, aku sudah menemukan jejak pembunuh tersebut. Masa aku tidak memberi bantuan sedikit pun? Hati rasanya tidak puas. Lagi pula apa yang harus Tecu kemukakan di depan umum apabila mereka mengetahui kejadian ini?” kata Fu Giok-su dengan wajah sendu. Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Yan Cong-tian. “Harap Susiok kabulkan permintaan Tecu.”

Yan Cong-tian merasa apa yang dikatakan Fu Giok-su memang beralasan. Dia memandang wajah anak muda itu. Penampilannya tulus sekali. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya. “Baik. Kalau kau memang sudah bertekad untuk ikut.”

Fu Giok-su menunjukkan tampang gembira. Cepat-cepat dia menyembah sebanyak tiga kali. Yan Cong-tian buru-buru memapahnya bangun. Wajah Fu Giok-su menghadap ke bawah. Yan-susiok itu tidak dapat melihat bibir pemuda itu yang menyunggingkan senyuman licik.

*****

Di atas gunung hujan turun dengan lebat. Angin membawa rintikan hujan menerobos lewat jendela yang memercik membasahi wajah Fu Giok-su. Dia sedang membereskan perbekalan untuk kepergian. Tanpa terasa sebuah dompet kecil yang memancarkan keharuman terjatuh dari dalam tumpukan pakaian.

Dompet kecil itu pemberian Lun Wan-ji Dia sering membawanya ke mana-mana. Kadang-kadang dia suka mengeluarkan dompet itu dan menatapnya sampai lama. Secercah kesunyian merayap dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Fu Giok-su masih memegangi dompet kecil tersebut. Pikirannya melayang-layang. Dia tidak menyadari suara ketukan di pintu. Sekali lagi terdengar suara ketukan. Fu Giok-su tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat dia memasukkan dompet kecil itu di balik pakaiannya, berjalan menuju pintu dan membukanya.

Lun Wan-ji berdiri di depan pintu. Tampangnya kusut. Tidak kelihatan semangat hidup sedikit pun. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Fu Giok-su menariknya ke dalam. “Apakah kau sudah mengatakannya kepada Susiok?”

Lun Wan-ji memandang Fu Giok-su dengan matanya yang sayu.

“Suhu mengatakan bahwa ilmu silatku masih rendah, kalau pergi malah akan merepotkan. Jadi aku tidak boleh ikut.”

Fu Giok-su membimbing Lun Wan-ji duduk di atas tempat tidur. Lun Wan-ji menatapnya lekat-lekat. Hatinya perih kembali. Tanpa sadar, air mata sudah menetes dengan deras. Fu Giok-su menggenggam tangan Lun Wan-ji erat-erat. Dia duduk di sampingnya. Lun Wan-ji mengibaskan tangannya, sambil mengusap air mata dia berdiri. “Biar aku membantumu membereskan perbekalan ….”

Fu Giok-su menarik tangan gadis itu dan memeluknya dalam dekapan. Lun Wan-ji tidak dapat menahan kesedihannya lagi. Dia menangis tersedu-sedu. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Wan-ji … jangan bersedih. Aku masih mempunyai akal yang lain.”

Lun Wan-ji masih terisak-isak. “Kita toh tidak mungkin menceritakan masalah ini kepada Suhu.” Semakin dipikirkan, hatinya semakin sedih. Air matanya mengalir semakin deras.

“Aku tidak akan meninggalkan kau telantar begitu saja,” kata Fu Giok-su sambil mengetatkan pelukannya.

Rintik air hujan terempas lagi ke dalam melalui jendela. Mata Fu Giok-su mengembang. Hujankah atau air mata yang membasahi pelupuk matanya itu?

*****

Hujan turun lagi. Juga pada senja hari.

Senja pada hari ketujuh. Fu Giok-su dan Yan Cong-tian sudah jauh dari Bu-tong-san. Senja hari ini, mereka masuk ke dalam sebuah penginapan kecil di daerah Pek-ka-cik.

Yan Cong-tian duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia menarik napas berulang-ulang. Hari ini mereka baru mendengar tentang diserbunya Go-bi-pay oleh Tok-ku Bu-ti. It-im Taysu dan dua ratus tujuh puluh satu murid Go-bi-pay mati dalam satu hari. Mereka mati penasaran. Apalagi Yan Cong-tian pun ada jodoh bertemu muka beberapa kali dengan It-im Taysu. Hatinya terpukul juga menerima berita tersebut.

Fu Giok-su menuangkan secangkir teh. Yan Cong-tian menerimanya, kemudian menarik napas lagi. “Tidak disangka sebuah partai besar seperti Go-bi-pay, bisa mengalami kemerosotan yang demikian mengenaskan.”

Fu Giok-su ikut-ikutan menarik napas. “Seandainya ada beberapa saja murid Go-bi-pay yang dapat diandalkan, Tok-ku Bu-ti juga tidak dapat menghancurkannya dengan demikian mudah.”

“Jangan kata Go-bi-pay, bukankah Bu-tong-pay kita juga makin merosot hari demi hari?” Yan Cong-tian menarik napas dalam-dalam sekali lagi. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu. Matanya mengerling tajam lalu melesat menuju pintu.

Fu Giok-su juga mendengar sedikit suara. Tubuhnya berkelebat, melesat menuju samping pintu kemudian menariknya dengan cepat. Seseorang rupanya sejak tadi berdiri di depan pintu tersuruk masuk.

Fu Giok-su mengulurkan telapak tangannya untuk menghantam. Yan Cong-tian cepat-cepat mencegahnya. “Orang sendiri!”

Fu Giok-su juga sudah melihat orang itu. Telapak tangannya terhenti di tengah udara. Orang yang tersuruk jatuh ke dalam rupanya Lun Wan-ji. Bahunya menyandang sebuah bungkusan. Wajahnya tampak tersipu-sipu.

“Kau rupanya? Untuk apa kau ke sini?” tanya Fu Giok-su pura-pura marah.

Lun Wan-ji tidak menyahut. Kepalanya tertunduk. Melihat tampang gadis itu, Yan Cong-tian mengerutkan alisnya ketat.

“Susiok tidak mengizinkan kau ikut serta, tentu ada alasannya. Kami toh bukan pergi berpesiar, tapi kami sedang menyelidiki jejak pembunuh. Ilmu silatmu masih rendah. Bukan menolong akhirnya malah merepotkan. Kalau sampai terjadi apa-apa, kau suruh aku Ciangbunjin ini bagaimana harus bertanggung jawab? Kalau kau tidak berpikir demi dirimu sendiri, paling tidak kau harus berpikir demi Bu-tong-pay. Mengapa adatmu selalu begitu keras?” Fu Giok-su masih mengomel panjang lebar.

Apa yang dikatakan Yang Cong-tian hari itu kepada Lun Wan-ji, hampir dikeluarkan semua oleh Fu Giok-su. Bahkan nada suaranya lebih keras lagi. Kepala Lun Wan-ji tertunduk semakin rendah.

“Masih tidak cepat pulang?” bentak Fu Giok-su sekali lagi.

Lun Wan-ji menatap Fu Giok-su dengan termangu-mangu. Kebetulan Fu Giok-su memang sengaja berdiri membelakangi Yang Cong-tian. Dia mengedipkan matanya kepada Lun Wan-ji sebagai isyarat. Lun Wan-ji segera mengerti. Dia melirik sekilas ke arah Yang Cong-tian, kemudian membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Yang Cong-tian memang sayang sekali kepada Lun Wan-ji. Dia tidak sampai hati melihat keadaan gadis itu. Akhirnya dia membuka suara …. “Wan-ji, kembalilah.” Suaranya begitu lembut sampai di luar dugaan Fu Giok-su.

Fu Giok-su pura-pura memandang Yang Cong-tian dengan tampang penasaran.

“Sudahlah ….” kata Yang Cong-tian tidak sabar.

“Susiok ….” Fu Giok-su seperti masih ingin membantah.

“Kau pergi mencari pelayan, katakan padanya agar menyiapkan sebuah kamar lagi,” katanya datar.

Fu Giok-su tampak masih bimbang.

“Cepat pergi!” bentak Yang Cong-tian sekali lagi.

Wajah Lun Wan-ji berseri-seri seketika. Meskipun Fu Giok-su tidak memperlihatkan apa-apa, tapi dia juga tidak membantah lagi. Dia mengayunkan langkah lebar keluar dari kamar tersebut.

Yang Cong-tian menggapaikan tangannya. “Wan-ji, kemarilah,” katanya.

Perlahan-tahan Lun Wan-ji menghampiri. Dia berhenti di depan meja dan tidak berani maju lagi. Yang Cong-tian memerhatikan dia lekat-lekat. “Apakah kau sudah makan?” tanyanya lembut.

Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya. Yang Cong-tian menarik napas panjang.

“Maksud hatimu, Suhu mengerti sekali. Tapi kekukuhan Giok-su demi kebaikanmu juga. Kali ini mungkin kami akan menyerbu ke dalam Siau-yau-kok, bahaya atau selamat masih sulit diduga.” Dia berhenti sejenak. “Pemuda seperti Giok-su ini sungguh sulit ditemukan duanya. Sudah tahu Bu-tong-pay tidak dapat kehilangan dia, dia malah rela mengorbankan cinta asmaranya. Seharusnya kau meneladani kebaktiannya.”

Mendengar kata-kata itu, hati Lun Wan-ji getir sekali. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Yang Cong-tian kembali menarik napas panjang. “Suhu bukan sengaja bermaksud memisahkan kalian. Tapi Giok-su sendiri yang sudah bertekad demikian. Kau harus memadamkan harapan hatimu dan restui niat baiknya.”

Lun Wan-ji menatap Yang Cong-tian dengan pandangan sayu.

“Nasib Bu-lim di masa yang akan datang, juga tergantung di tangan generasi muda seperti Giok-su. Kau harus mengerahkan segenap tenaga untuk membantunya. Paling tidak kau bisa mengorbankan cinta di hatimu untuk masa depan semua orang. Ini adalah perbuatan yang mulia. Jangan karena luapan emosi sesaat, malah terjadi hal yang memalukan nama perguruan kita.”

Tubuh Lun Wan-ji gemetar mendengar kata-kata itu.

“Semangat pahlawan hanya sebentar saja. Asmara perempuan hidup sepanjang masa,” gumam Yang Cong-tian. Kemudian dia menghela napas berkali-kali. Setelah itu dia mengusap kepala Lun Wan-ji dengan penuh kasih sayang. “Kau sudah tahu apa yang harus kau perbuat, bukan?”

Air mata Lun Wan-ji semakin deras. Dia menundukkan kepalanya dengan hati galau.

*****

Siang pada tujuh belas hari kemudian, Yang Cong-tian, Fu Giok-su dan Lun Wan-ji menunggang kuda. Akhirnya mereka sampai juga di desa Ci-liong. Saat ini mereka memasuki Kian-wei-piaukiok. Sepanjang perjalanan, Yang Cong-tian sangat terharu. Pada waktu pembukaan perusahaan itu dulu, dia juga diundang dan hadir. Siapa yang membuat papan mereka Kian-wei-piaukiok yang tergantung di atas pintu, masih berkesan dalam ingatannya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: