Kumpulan Cerita Silat

19/12/2007

Maling Romantis (07)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:02 am

Maling Romantis (07)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Dengan linglung Sim San-koh tertawa memandang Thio Siau-lim, katanya, “Sebetulnya siapa namamu? Sesungguhnya nama Thian-jiang-sing itu lebih cocok digunakan olehmu. Ji-suhengku meski bergelar Thian-jiang-sing, badannya tidak sekekar dan sekuat dirimu.”

Thio Siau-lim mengulurkan jari menotok Hiat-to tidurnya, katanya menggumam, “Anak perempuan tidak boleh banyak bicara. Kalau menjadi perempuan cerewet, mungkin kau tidak akan laku kawin. Anak perempuan yang tidak laku kawin, aku tidak sudi melihatnya. Di dunia ini kalau tiada perempuan yang tidak laku kawin, persoalan buruk tentu tak akan sebanyak ini.”

***

Sim San-koh akhirnya tertidur dengan nyenyak.

Mata Leng Chiu-hun masih menatap keluar jendela, tampak mulutnya komat-kamit menggumam, “Tionggoan It-tiam-ang, sampai di manakah kecepatan pedangnya? Benarkah dia sejahat dan keji seperti yang tersiar? Memangnya dia benar-benar……”

“Leng-heng tak perlu banyak fikiran,” tukas Thio Siau-lim. “Yang terang segera kau akan berhadapan dengannya.”

Tiba-tiba Leng Chiu-hun berjingkrak bangun seperti disengat kala, tanyanya, “Segera dia akan datang?”

“Kalau dia ingin datang, tentunya sudah datang.”

Jari-jari Leng Chiu-hun yang menggenggam gagang golok makin memutih kencang, mendadak ia menggebrak meja, teriaknya keras, “Baik, biarkan dia datang! Seumpama maling sakti Coh Liu-hiang yang datang juga belum tentu aku gentar terhadapnya, mengapa aku harus jeri menghadapi Tionggoan It-tiam-ang?”

Thio Siau-lim tersenyum simpul, “Apakah Coh Liu-hiang lebih menakutkan daripada Tionggoan It-tiam-ang?”

“Di kolong langit ini, siapa pula yang lebih menakutkan daripada Coh Liu-hiang?”

“Menurut apa yang kutahu, bahwasanya dia adalah seorang yang bijaksana, bajik dan baik hatinya, mungkin di dunia ini tiada orang yang lebih baik kecuali dia.”

“Sungguh menggelikan….. belum pernah kudengar kata-kata lucu yang menggelikan seperti ini. Seumpama Coh Liu-hiang mendengar ucapanmu itu, mungkin giginya akan copot saking gelinya.”

Thio Siau-lim menghela nafas, katanya sambil tertawa getir, “Manusia memang aneh, ada kalanya lebih percaya pada obrolan orang yang berbohong dan tidak percaya pada omongan yang jujur.”

Sekonyong-konyong genteng di atas ruang pendopo itu berderak.

Gelak tawa Leng Chiu-hun seketika sirap, seluruh badannya mengejang tegang, badannya lalu melenting ke pinggir jendela, serunya lantang, “Sahabat di luar, silakan masuk!”

Sementara Thio Siau-lim perlahan-lahan membuka pintu dan berjalan keluar, katanya tertawa, “Kalau kalian ke mari hendak berkelahi, silakan mencarinya. Jikalau ingin mengadu untung, aku malah mau melayani.”

Di luar gelap gulita, hanya disinari bintang-bintang yang berkerlap-kerlip, terlihat di atap rumah berjajar bayangan orang yang berkumpul menjadi satu, sedang merundingkan sesuatu. Lalu melompat turun lima orang laki-laki, seorang lagi masih tetap berdiri di pinggir atap sambil bergendong tangan, sikapnya acuh seperti tidak terjadi apa-apa, namun sepasang matanya laksana mata serigala yang memancarkan sinar terang di kegelapan malam. Thio Siau-lim melihat jelas, orang itu adalah Tionggoan It-tiam-ang.

Salah seorang laki-laki yang turun lebih dulu berbaju kencang, mukanya bercambang, ukuran badannya yang kurus kering tidak setimpal dengan jenggot kasarnya. Di antara kelima orang itu, memang ginkangnya jauh lebih tinggi. Begitu menginjak bumi, dengan tajam segera ia menatap Thio Siau-lim, katanya bersoja, “Apakah tuan majikan rumah ini?” Terlihat telapak tangannya terangkap di luar, tapi jari tengah dan jari manisnya masing-masing mengenakan tiga cincin baja yang berwarna emas hitam.

Thio Siau-lim tertawa, sapanya, “Apakah tuan Thian-jiang-sing Song Kang?”

“Ya,” sahut laki-laki berjenggot kasar itu.

Thio Siau-lim lalu menyingkir ke samping, katanya tertawa, “Tuan rumah sudah menunggu di dalam, silakan!”

Leng Chiu-hun kembali duduk di atas kursi besar di pinggir meja judi itu. Golok panjang berkilauan sudah terlolos, ujungnya mengancam tenggorokan Sim San-koh. Dengan dingin ia menyambut kedatangan Song Kang, katanya sinis, “Sungguh kebetulan kedatangan Song-jisiansing. Aku berhasil menangkap seorang maling perempuan. Kalau Song-jisiansing ada minat, silakan tampil ke depan untuk mengorek keterangannya bersamaku.”

Song Kang berdiri membelakangi pintu, raut wajahnya yang bundar membeku sudah mekar menjadi warna abu-abu, harus maju melabrak orang ataukah bertindak menurut gelagat, sedikit pun ia tidak bisa mengambil keputusan.

Leng Chiu-hun terkekeh, serunya, “Song-jisiansing, apakah pakaianmu terlalu sempit? Menahan nafas sampai mukamu merah padam begitu. Kau harus mencari tukang jahit, bolehkah Cayhe kenalkan seorang tukang jahit yang pandai pada Song-jisiansing?”

Murid-murid Thian-sing-pang menjadi beringas gusar, serempak mereka menyerbu masuk. Tiba-tiba Song Kang membalikkan telapak tangannya, ia pukul keluar pintu seorang yang menerjang paling depan hingga jungkir balik. Seolah tidak terjadi apa-apa, lekas ia merangkap tangan dan berkata dengan tawa yang dipaksakan, “Ini… kukira telah terjadi salah faham.”

“Salah faham?” Leng Chiu-hun mengangkat alisnya.

“Orang yang terancam di bawah golok Leng-kongcu itu adalah Sumoay-ku.”

“Wah, aku bertindak kurang hormat malah, kalau Sumoaymu mau memberitahu asal-usulnya, mana berani Cayhe bertindak kurang ajar.” Mulut bicara sungkan, namun ujung goloknya tetap mengancam leher Sim San-koh, sedikit pun tidak bermaksud membebaskan tawanannya.

Kelihatan betapa prihatin dan gugup Song Kang, katanya dengan tertawa dipaksakan: “Kalau saudara sudi membebaskan Sumoayku, Thian-sing-pang akan berterimakasih dan berhutang budi.”

“Hubungan antara laki-perempuan, jika kelewat batas memang sukar mengelabui mata orang lain,” Leng Chiu-hun tertawa lebar.

Akhirnya berubah juga air muka Song Kang, bentaknya, “Apa katamu?”

“Aku berkata, demi Sumoaymu yang romantis ini, sampai suheng sendiri sudah dilupakan,” demikian olok Leng Chiu-hun.

Semakin merah padam raut muka Song Kang, katanya tersendat, “Sumoayku…. Suhengku…..”

Leng Chiu-hun mendadak berjingkrak berdiri, bentaknya bengis, “Seorang laki-laki harus bicara terus terang. Biar aku jelaskan padamu, persetan mati hidup Cou Yu-cin atau ke mana dia pergi, Cu-soa-bun tidak pernah tahu-menahu. Tentang Sumoaymu ini… kau ingin membawanya pulang, kukira tidak sedemikian gampang.”

Song Kang mengepalkan tangannya, katanya gemetar, “Kau….. apa keinginanmu?”

“Kalau kau ingin perempuan ini pulang dalam keadaan hidup, kau harus bersumpah dan melarang orang Thian-sing-pang selamanya memasuki wilayah Kilam. Demikian juga dengan temanmu di atap itu, tentu kau pun harus mengajaknya kembali.”

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba kesiur angin keras menyambar, sesosok bayangan orang melesat masuk lewat jendela sebelah kiri terus terbang keluar lewat jendela kanan. Kejadian itu berlangsung secepat kilat. Terdengar suara “Tring!” yang nyaring, hampir saja golok di tangan Leng Chiu-hun dijentik lepas oleh orang itu.

Waktu semua orang berpaling, tampak Setitik Merah dari Tionggoan sudah berdiri di atap sebelah kanan. Tanpa bersuara, tindakannya itu sudah memberi jawaban singkat dan paling gampang serta mudah difahami. “Kalau aku ingin datang atau pergi, tiada seorang pun yang mampu mengekang diriku.”

Keruan berubah muka Leng Chiu-hun. Dasar licik, segera dia berganti sikap, katanya tertawa, “Asal saudara tidak mencampuri urusan Thian-sing-pang, sembarang waktu ingin berada di Kilam, murid-murid Cu-soa-bun kami akan menyambutmu dengan pesta kebesaran.”

Kini Song Kang tak tahan lagi, bentaknya, “It-tiam-ang, kau sudah membunuh seorang murid kami, bukan hanya aku tidak mencari perhitungan padamu, malah kumaki mereka, terhadap bapakku sendiri pun Song Kang tidak pernah sesungkan ini. Tapi barusan kau jelas bisa membebaskan Sam-moay, namun kau tidak turun tangan, kau…..”

Setitik Merah menyahut dingin, “Selamanya aku hanya membunuh, tak tahu cara bagaimana menolong orang.”

Sorot matanya lebih dingin dari pisau tajam. Song Kang hanya melirik sekilas, kata-kata selanjutnya seakan tersumbat di mulutnya. Beberapa saat kemudian, barulah dia dapat berkata dengan tersendat, “Kalau demikian…. mengapa kau tidak membunuhnya?”

“Aku membunuh orang tidak pernah dengan cara membokong, kau suruh dia keluar, biar kubunuh dia untukmu.”

“Cuma, sebelum Cayhe keluar, batok kepala Sumoaymu ini tentu sudah berpisah dengan badan kasarnya,” ancam Leng Chiu-hun menyeringai dingin.

Dengan mendongkol Song Kang membanting kaki, katanya serak, “Baiklah, kuturuti keinginanmu. Sejak kini Thian-sing-pang tidak akan menginjak daerah Kilam.” Orang seperti Song Kang memang tiada duanya, kedudukannya tinggi di Kangouw maupun di dalam Pang sendiri. Kalau ingin hidup dan berkecimpung di kalangan Kangouw, setiap patah kata harus sekokoh gunung, selamanya tidak boleh diubah.

Leng Chiu-hun mengunjuk tawa lebar, katanya, “Bila sudah demikian….”

Tiba-tiba seseorang menyeletuk sambil tertawa berseri, “Jangan kau lupa, Leng-heng, aku pun punya bagian atas diri nona itu.”

Sigap sekali Song Kang membalikkan badan, dilihatnya Thio Siau-lim sedang melangkah masuk sambil tertawa lebar. Sepasang matanya seperti menyemburkan api, bentaknya murka, “Kau ini barang apa? Mau ikut campur?”

“Aku bukan barang,” ujar Thio Siau-lim tetap dengan tertawa. “Aku manusia.”

Sambil menggerung Song Kang melontarkan kepalan, cincin di jarinya seketika memancarkan sinar dingin, untuk membunuh orang segampang membalikkan telapak tangan, namun di mana kepalannya melayang, tahu-tahu hanya mengenai tempat kosong karena orang di depannya tiba-tiba hilang.

Waktu ia menoleh, dilihatnya Thio Siau-lim sedang cengar-cengir di bawah emper rumah rumah sana, katanya, “Sudah Cayhe katakan, berkelahi aku tidak suka.”

Sungguh gusar dan kaget Song Kang dibuatnya, beruntun ia memberi tanda lambaian tangan pada It-tiam-ang, tapi It-tiam-ang seolah tidak melihat, terpaksa Song Kang berseru, “Ang-heng, kau… memangnya belum tiba saatnya kau bertindak?”

It-tiam-ang berpaling ke arah Thio Siau-lim sebentar, sahutnya, “Semua manusia di kolong langit ini dapat kubunuh, tapi dia…. kau suruh orang lain saja yang lebih lihai dariku!” Dari atap rumah ia melemparkan buntalan uang perak, tanpa berpaling terus tinggal pergi.

Song Kang melongo dan menjublek di tempat, sungguh mimpi pun tak terpikirkan olehnya Tionggoan It-tiam-ang yang membunuh manusia seperti membabat rumput hari ini terbentur batu, ada orang yang tidak mampu dan tidak mau dibunuhnya.

Thio Siau-lim berdiri diam sambil menggendong tangan, pakaiannya melambai tertiup angin, katanya dengan tetap tersenyum, “Sebetulnya syaratku jauh lebih gampang dari yang diajukan oleh Leng-kongcu.”

Akhirnya Song Kang kewalahan dan membanting kaki, serunya, “Apa keinginanmu? Lekas katakan!”

“Asal kau berikan surat Suhengmu yang diserahkan padamu sebelum dia pergi, hanya kubaca sebentar, bukan saja segera kuantar Sumoaymu keluar, malah akan kusewakan tandu dan kubunyikan petasan untuk membuang hawa busuknya.”

Keruan Song Kang melengak, katanya, “Jadi syaratmu hanya ingin melihat surat itu?”

“Ya, setelah kubaca, segera kukembalikan.”

Lama Song Kang menepekur, lalu katanya perlahan, “Surat itu sudah kubakar, tapi apa yang tertulis dalam surat itu, aku pernah membacanya, entah ada sangkut-paut apa surat itu denganmu? Mengapa kau ingin melihatnya?”

“Tidak perlu kau tahu apa maksudku hendak membaca surat itu. Cuma aku ingin tahu apakah kau tidak ingin Sumoaymu yang genit ini kembali ke dalam pelukanmu?”

Song Kang mempertimbangkan, sekilas ia mengawasi raut muka sang Sumoay yang kelihatan pucat di bawah sorotan sinar lampu, seketika bergolak darah dalam rongga dadanya. Tanpa menghiraukan segalanya, segera ia berteriak keras, “Baik, akan kukatakan. Sebetulnya surat itu tidak mengandung rahasia apa-apa, namun…..” Mendadak mulutnya menjerit seram, badannya pun tersungkur beberapa kaki dan roboh terjerembab.

Murid-murid Thian-sing-pang seketika terpekik kaget dan menjadi gaduh. Sedikit pun tidak terlihat luka di atas badannya, namun sejalur darah merembes keluar dari tulang punggung ruas ketujuh.

Berubah air muka Leng Chiu-hun, serunya, “Inilah orang kedua yang mati lantaran surat itu. Thio-heng, kau….” Waktu ia berpaling, Thio Siau-lim yang tadi berdiri di emper rumah itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

***

Waktu Song Kang roboh sambil melolong seram, di ujung tembok nan jauh sana berkelebat sesosok bayangan hitam terus menghilang. Seorang pun tidak ada yang melihatnya, tapi mana bisa lepas dari sepasang mata Thio Siau-lim nan jeli.

Sebat sekali badannya segera melambung tinggi beberapa tombak, terus mengejar dengan kencang, siapa sangka bayangan hitam itu tahu-tahu sudah puluhan tombak jauhnya. Betapa tinggi ginkangnya, kaum persilatan sama mengetahui, namun ginkang bayangan hitam ini pun ternyata tidak lemah.

Dua sosok bayangan, satu di depan, yang lain mengejar di belakang, melesat terbang di atas kota Kilam yang malam itu terasa panas kering, laksana dua layang-layang yang terikat pada seutas benang. Sekejap saja keduanya sudah melampaui tembok kota langsung menuju ke arah yang jauh di mana diliputi kabut tebal yang pekat, tahu-tahu mereka sudah sampai di pesisir Tay-bing-ouw, danau kenamaan yang amat indah dan menakjubkan pemandangannya.

Lambat-laun Thio Siau-lim berhasil memperpendek jarak di antara mereka, terang dalam sekejap ia akan dapat menyandak bayangan hitam itu. Memang di kolong langit ini, perduli dia siapa, ginkangnya betapa pun pasti satu tingkat lebih rendah dari ilmu mengentengkan tubuhnya.

“Sahabat, hentikan saja langkahmu,” seru Thio Siau-lim tertawa. “Aku berjanji tidak akan melukai seujung rambutmu. Tapi kalau kau ingin terjun ke air, terang kau akan menderita malah.”

Bayangan hitam itu bergelak tertawa seperti burung hantu, katanya, “Coh Liu-hiang, akhirnya aku dapat mengetahuimu juga!” Di tengah suaranya, tahu-tahu suatu benda meluncur di udara dan meledak menghamburkan asap tebal berwarna ungu berbau aneh. Seketika seluruh badannya tertelan dalam asap tebal itu, tak ketinggalan Thio Siau-lim sendiri pun tertelan di dalamnya.

Terasa asap tebal itu seperti sesuatu benda yang menindih seluruh badan Thio Siau-lim, bukan saja pandangan mata menjadi kabur, gerak-geriknya yang lincah pun menjadi sukar dikembangkan pula. Waktu ia berhasil menerobos keluar dari kepungan kabut tebal itu sambil menahan nafas, dirinya sudah berada di pinggir danau, bayangan itu pun sudah menghilang, tampak air danau yang tenang itu beriak membundar lentur, semakin lebar dan akhirnya sirna.

Dengan mendelong Thio Siau-lim mengawasi riak air yang membundar lentur itu, mulutnya menggumam, “Apakah itu Jinsut yang misterius dari kalangan persilatan di Tang-ni (Jepang)? Mengapa belum pernah kudengar kaum persilatan Tionggoan ada yang mahir menggunakan ilmu yang mendekati aliran sesat ini?”

Menurut cerita orang kuno, Jinsut adalah semacam ilmu yang dapat menghilangkan badan kasar sendiri secara tiba-tiba di hadapan musuh. Untuk mempelajari ilmu ini hingga sempurna, orang harus putus hubungan dengan cinta asmara, mempersembahkan jiwa raga sendiri sebagai taruhan untuk mencapai pelajaran Jinsut yang paling tinggi. Betapa berat derita dan sengsara dalam proses pelajaran ini, tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Seumpama kaum persilatan di Tang-ni sendiri, tokoh yang pandai menggunakan Jinsut ini dipandang sebagai tokoh misterius laksana dedemit.

Sesaat lamanya Thio Siau-lim menjublek di tempatnya, katanya sambil tertawa kecut, “Orang ini pandai menggunakan Jinsut, memiliki ginkang yang hebat pula, hari ini Coh Liu-hiang benar-benar terbentur batu, sayang belum bisa kuketahui siapa dia sebenarnya.”

Mendadak didengarnya seseorang berkata dengan dingin, “Coh Liu-hiang, cabut senjatamu!” Suaranya serak-serak basah, berbareng sesosok bayangan hitam lalu melangkah keluar dari tengah kabut di pinggir danau itu, dia bukan lain Tionggoan It-tiam-ang.

“Mengapa kau pun berada di sini?” tanya Thio Siau-lim tertegun.

“Aku mengikuti jejakmu, sekarang baru bertemu di sini, tentunya kau tak akan membuatku kecewa, bukan?”

Thio Siau-lim mengusap hidungnya, ujarnya, “Sejak tadi kau menguntitku? Mengapa?”

“Hanya untuk menghunjamkan pedangku ini ke tenggorokanmu.”

Keruan Thio Siau-lim melengak, tanyanya, “Kau hendak membunuhku?”

“Mungkin akulah yang akan kau bunuh,” sahut It-tiam-ang sinis.

“Kau tahu, selamanya aku tidak membunuh orang, apalagi kau……”

“Kau tidak membunuhku, biarlah aku yang membunuhmu.”

“Tapi tadi kau sudah bilang tidak…..”

“Aku tidak mau membunuhmu lantaran orang lain, aku ingin membunuhmu lantaran aku sendiri.”

“Mengapa?”

“Bisa berduel dengan Coh Liu-hiang merupakan peristiwa yang membesarkan hatiku.”

Thio Siau-lim menggelengkan kepalanya, katanya sambil menggendong tangan, “Sayang aku tiada berminat untuk berkelahi, maafkanlah.”

“Kau mau tidak mau harus bertanding denganku!” bentak It-tiam-ang. Di tengah alunan suaranya yang bergema di udara itu, sinar pedangnya laksana bianglala menusuk, namun Thio Siau-lim tetap menggendong tangan, tanpa bergerak sedikit pun, tahu-tahu sinar pedang sudah berhenti setengah dim di depan lehernya.

Sinar pedang yang kemilau membuat kedua alisnya kelihatan memucat. Kala menyilang di lehernya, tampak jakunnya tergetar diancam oleh sinar pedang yang berhawa dingin, namun sikap dan air mukanya tetap tidak berubah, semangatnya seolah terbuat dari besi baja. It-tiam-ang segera mendorong ujung pedangnya setengah dim ke depan, ujung pedang sedikit pun tidak bergeser dari sasarannya, pergelangan tangannya seakan terbuat dari besi murni. Suaranya serak mengancam, “Kau kira aku tidak berani membunuhmu?”

Ujung pedang sudah hampir menempel di lehernya, namun sedikit pun ketenangan Thio Siau-lim tidak tergoyahkan, katanya tertawa tawar, “Sudah tentu bukannya kau tidak berani, cuma tak sudi.”

“Aku bertekad hendak membunuhmu, mengapa tak sudi?”

“Membunuh dengan cara seperti ini, kesenangan apa pula yang dapat kau peroleh?”

Ujung pedang tiba-tiba bergetar, tangan It-tiam-ang yang sekokoh batu ternyata sudah bergeming, bentaknya dengan suara parau, “Kau betul-betul begitu yakin?” Mendadak pedangnya menusuk maju.

Dari kepala sampai kaki Thio Siau-lim tidak terlihat bergerak, walau ujung pedang menyerempet lewat lehernya, tusukan pedang ini kemungkinan bisa menembus tenggorokannya.

Raut muka It-tiam-ang tetap dingin seperti es, namun kulit dagingnya mulai berkerut mengejang, selebar mukanya tiba-tiba berkerut aneh, katanya, “Kau…. kau benar-benar tidak sudi bertarung denganku?” Suaranya gemetar.

“Sungguh mohon dimaafkan!” sahut Thio Siau-lim menghela nafas.

“Bagus!” seru It-tiam-ang menengadah seraya tertawa panjang. Nada tawanya rawan dan pedih, pedang diputar balik terus menusuk ke arah tenggorokannya sendiri.

Sudah tentu perbuatan nekad It-tiam-ang ini amat mengejutkan Thio Siau-lim, segera telapak tangannya menebas tegak hendak merampas pedang orang, namun secepat kilat pergelangan tangan It-tiam-ang bergerak lincah, ujung pedang tetap tertahan mengarah ke tenggorokannya. Sementara itu Thio Siau-lim mulai mengembangkan ilmu Khong-jiu-jip-pek-to, dengan keras berusaha hendak merebut senjata orang.

Di bawah penerangan cahaya bintang yang berkerlap-kerlip, tampak sinar pedang berkelebatan, bayangan orang pun timbul tenggelam dengan gerakan cepat dan gesit serta lincah sekali. Betapa pun kedua orang ini sudah turun tangan, namun gerak-gerik keduanya sama cepat dan jauh berbeda dari pertarungan adu silat umumnya, karena yang seorang berusaha untuk bunuh diri, yang lain berusaha menolong dan menggagalkan usaha orang untuk mencari jalan pendek.

Pertempuran semacam ini sungguh belum pernah terjadi sejak zaman dahulu. Dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berlalu. Mendadak terdengar suara “Creng!”, kumandang suara kecapi dari tengah danau. Petikan demi petikan mengalun turun naik bergema di tengah udara nan sunyi lengang, namun serasa mengandung suasana penasaran dan kebencian, seumpama negara yang sedang menghadapi keruntuhan, rasa marah dan cinta sukar terbendung, seolah-olah terhina dan tak terlampiaskan gejolak hatinya.

Begitu alunan suara kecapi berkumandang di udara, alam semesta serasa diliputi rasa rawan yang dibakar oleh nafsu membunuh, bintang-bintang di angkasa raya seakan redup dan tenggelam, panorama alam dan keindahan danau Tay-bing-ouw menjadi kuncup dan tak berkesan pula.

Dasar watak dan hati Thio Siau-lim selalu lapang dan terbuka, seorang yang jujur dan polos, tidak menjadi soal bagi dirinya ketika mendengar alunan suara kecapi yang mengandung daya tarik yang luar biasa itu. Tapi riwayat hidup It-tiam-ang berbeda jauh, sejak kecil ia hidup menderita dan berkelana di Kangouw seraya mengecap kesengsaraan dan kenistaan. Ia memang berhati keji, fikirannya pun sempit dan selalu dihinggapi oleh rasa penasaran akan ketidakadilan, kalau tidak mana mungkin dia menjadi seorang pembunuh bayaran, membunuh orang sebagai hobi.

Tatkala itu alunan suara harpa sudah berkumandang di telinganya, seketika darah mendidih dan badan terasa panas membakar, ternyata ia sukar mengendalikan diri lagi, mendadak ia bersuit panjang dan nyaring sambil menengadah, pedangnya bergerak terbalik pula menusuk ke arah Thio Siau-lim.

Tusukan ini amat cepat dan ganas, tidak sempat Thio Siau-lim berpikir, secara refleks badannya bergerak mengegos diri, cuaca memang remang-remang, namun jelas kelihatan sepasang matanya It-tiam-ang merah telah berdarah, gerak-geriknya membabi-buta seperti kesetanan. Waktu tusukan kedua It-tiam-ang dilancarkan, tak bisa lagi Thio siau-lim berkelit pula, kalau dulu ia masih tetap bersikap tenang, tapi kini ia menghadapi lawan yang betul-betul sudah kehilangan kesadarannya. Petikan harpa semakin cepat, gerak sambaran pedang It-tiam-ang ikut menjadi cepat, seolah-olah gerak-gerik dan jalan pikirannya sudah terkendali dan dibelenggu oleh suara petikan harpa itu, sehingga ia tidak punya pedoman dan kontrol atas dirinya sendiri lagi.

Keruan Thio Siau-lim tersirap darahnya, bukan ia kuatir pedang It-tiam-ang akan melukai dirinya, adalah ia tahu kalau pertempuran cara seperti ini berlangsung lebih lama lagi, It-tiam-ang pasti akan bisa melukai atau membunuh dirinya.

Cahaya pedang sudah menjadi tabir berkilat terang yang membungkus seluruh badan Thio Siau-lim, sinar pedang yang merabu seperti gila ini terang takkan dapat dikendalikan atau ditundukkan oleh siapa pun juga.

Thio Siau-lim mendadak berseru lantang: “Apa kau berani ikut aku ke bawah?” di tengah gema suaranya, tiba-tiba badannya melambung tinggi berjumpalitan di tengah udara terus terjun ke dalam danau.

Tanpa ragu-ragu sedikit pun, It-tiam-ang meniru perbuatannya ikut terjun ke dalam air. Tapi di dalam air jauh berbeda dengan daratan, waktu It-tiam-ang menusukkan pedangnya, paling-paling hanya menimbulkan riak gelombang air yang berbuih, sukar dia melukai lawannya pula.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: