Kumpulan Cerita Silat

19/12/2007

Darah Ksatria: Bab 07. Gadis Bernama Siau-hoan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:01 am

Darah Ksatria
Bab 07. Gadis Bernama Siau-hoan
Oleh Gu Long

Ma Ji-liong sedang mabuk. Bila seseorang minum bersama orang-orang yang bisa dia percayai, maka amat mudah baginya untuk mabuk, dan dia mempercayai Toa-hoan dan Ji Ngo.

Bila hati seseorang sedang gundah, menderita ketidak-adilan, mudah juga baginya untuk mabuk. Walaupun dia yakin bahwa kesalah-pahaman ini suatu hari akan terungkap, dia tetap tak bisa menahan perasaan gundahnya.

Dia sudah minum selama dua-tiga hari dan karenanya dia pun mabuk. Dan bila seseorang dalam keadaan seperti dia, apa pun yang dikatakan atau dilakukannya, dia tak akan ingat dengan jelas. Meskipun dia ingat, pasti samar-samar seperti dalam mimpi, atau lebih mirip seperti orang lain yang mengatakan atau melakukannya daripada dirinya sendiri.

Dia agaknya ingat dirinya pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya berjingkrak kaget bila mengingatnya sekarang. Saat itu setiap orang sudah hampir mabuk. Dia lalu mencengkeram tangan Toa-hoan dan berkata, “Maukah kau menikah denganku?”

Toa-hoan tertawa. Dia tertawa tiada hentinya sampai kehabisan napas. Lalu dia bertanya, “Kenapa kau ingin aku menikah denganmu?”

“Karena aku tahu kau sangat baik padaku. Karena di saat orang lain mencurigaiku dan memperlakukan aku sebagai pembunuh berdarah dingin dan berusaha membunuhku, tapi kau mempercayaiku. Kau adalah satu-satunya orang yang bersedia menolongku.”

Ma Ji-liong mengutarakan isi hatinya. Bila seseorang mabuk seperti ini, dia pasti selalu mengatakan perasaan yang sebenarnya.

Tapi Toa-hoan tidak mempercayainya. “Kau cuma ingin menikah denganku karena kau sedang mabuk. Tunggu sampai kau sadar, kau pasti akan menyesal.”

Dia tertawa, tapi suaranya terdengar pedih. “Tunggu sampai kau bertemu dengan gadis yang lebih cantik dariku, kau pasti ingin bunuh diri karena menyesal.”

Lalu dia berkata pula, “Aku buruk rupa, dan aneh, dan jahat. Dan tidak terhitung jumlah gadis yang lebih cantik dariku.”

Sekarang Ma Ji-liong sudah sadar, dia tak ingat apakah Toa-hoan menerima ‘lamarannya’ itu. Tidak henti-hentinya dia bertanya pada dirinya sendiri, “Jika dia mengatakan ya, apakah aku menyesalinya atau tidak? Sekarang, apakah aku masih ingin menikah dengannya?”

Tapi dia tidak tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

Lalu dia melihat seorang gadis, seorang gadis yang jauh lebih cantik daripada Toa-hoan.

Ketika dia terbangun, dia tidak berada di dapur itu lagi, dan Ji Ngo dan Toa-hoan tiba-tiba tidak kelihatan lagi. Dia menemukan dirinya sedang berbaring di sebuah ranjang yang kecil tetapi lembut, yang juga beraroma harum dan sangat nyaman. Ranjang ini ditaruh di sebuah kamar yang kecil tetapi amat bersih, sangat mewah dan amat harum.

Di kamar ini, orang bisa melihat beberapa batang pohon bunga di luar jendela. Di bawah jendela terdapat sebuah meja rias kecil. Di atas meja rias ada sebuah cermin tembaga yang mungil. Di dekat cermin ada sebuah pot berisi bunga bwe. Dan berdiri di sebelah bunga bwe itu adalah gadis ini.

Bunga bwe itu indah luar biasa, dan begitu pula gadis ini. Dan seperti bunga-bunga itu, dia pun cantik molek. Tapi walaupun dia mengenakan gaun merah, wajahnya kelihatan pucat kebiruan. Meski matanya bening dan indah, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan yang teramat sangat.

Dia sedang memandang Ma Ji-liong. Dia sedang menatapnya dengan sinar yang sangat aneh di matanya, seolah-olah dia setengah ragu dan setengah takut. Ma Ji-liong merasa kepalanya sangat sakit. Dia tidak mengenal gadis ini, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini.

Tiba-tiba gadis itu bertanya, “Apakah kau Ma-kongcu, ‘Pek-ma Kongcu’ Ma Ji-liong?”

Ma Ji-liong menjawab, “Ya.”

“Apakah kau pergi ke Han-bwe-kok beberapa hari yang lalu?” gadis itu bertanya.

“Benar,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu bertanya, “Apakah kau bertemu dengan Khu Hong-seng?”

Tapi Ma Ji-liong berkata, “Apakah kau juga mengenalnya?”

Gadis itu mengangguk. Alisnya dikerutkan dengan sedih. Lalu dia berkata dengan lembut, “Aku she So, namaku Siau-hoan. Kau ingin bertemu denganku?”

“Tempat apakah ini?” Akhirnya Ma Ji-liong bertanya. “Kenapa aku bisa berada di sini?”

“Seorang Tuan Ngo yang membawamu ke sini,” dia memilih untuk menjawab pertanyaan kedua.

Lalu, untuk menjelaskan kenapa dia mau menerima kedatangan seorang laki-laki asing yang sedang mabuk, dia berkata, “Tuan Ngo berkata bahwa kau adalah teman Khu Hong-seng dan cuma kau yang tahu di mana dia berada sekarang.”

Ma Ji-liong tersenyum dipaksa. Ji Ngo masih mampu mengantarnya ke mari. Seorang laki-laki yang sedang mabuk tentu tidak bisa melakukannya. Dia tak pernah menyangka kalau ada orang yang mampu mengalahkan dirinya dalam soal minum. Dia tiba-tiba menyadari bahwa dia terlalu memandang tinggi dirinya sendiri.

Dengan sopan dia bertanya, “Apakah ini rumahmu?”

Siau-hoan menjawab, “Aku tidak punya rumah. Tempat ini tidak bisa disebut rumah.”

Ma Ji-liong paham apa maksudnya.

Tentu saja sebuah ‘rumah’ bukan sekedar sebuah rumah. Tidak perduli betapa pun cantiknya sebuah rumah, sebuah ‘rumah’ dan sebuah rumah tetap tidak sama.

Siau-hoan berkata, “Dulu aku bekerja di Ti-hong-wan di kota Kay-hong sebagai seorang….. seorang pelacur. Sejak kecil aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Hong-seng membawaku keluar dari tempat itu dan membelikan rumah ini untukku.”

Dia pun tersenyum, sebuah senyuman yang mengungkapkan penderitaannya. Lalu dia melanjutkan, “Tapi, jika dia tidak ada di sini, bagaimana tempat ini bisa disebut rumah lagi?”

Ma Ji-liong menghela napas dan berkata, “Aku tidak tahu kalau dia adalah orang yang begitu romantis!”

Bagi seorang pemuda dari keluarga ternama dan kaya raya seperti Khu Hong-seng, tergila-gila pada seorang perempuan seperti ini benar-benar amat menyentuh hati.

Siau-hoan berkata, “Walaupun dia keras dan tidak mau kalah, dia adalah orang yang baik dan tegas.”

Berbicara tentang Khu Hong-seng, sorot matanya memperlihatkan emosi yang lembut. Lalu dia meneruskan, “Dia begitu baik. Dia melakukan segalanya untukku. Dan dia tidak pernah bersikap kasar padaku, seorang perempuan yang seperti ini….. Aku bisa bertemu dengan seorang laki-laki seperti itu…. mati pun aku puas.”

Ma Ji-liong berkata, “Kalian berdua masih muda, kenapa kau bisa mati?”

Siau-hoan tersenyum getir, “Seandainya kau datang terlambat, kau tidak akan bertemu denganku lagi.”

Ma Ji-liong tiba-tiba teringat bagaimana Khu Hong-seng menggali liang di tanah itu.

Siau-hoan berkata, “Sebelum pergi, dia berjanji padaku bahwa paling lama dia akan kembali tadi malam.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana jika dia tidak pernah kembali?”

Dengan hati yang patah, Siau-hoan berkata, “Berarti dia sudah meninggalkan dunia ini. Aku pun tentu akan menemaninya dalam kematian.”

Walaupun suaranya lembut, tapi mengandung keputusan yang kuat untuk mati. Mereka sudah bersumpah untuk tetap bersama dalam hidup dan mati.

Ma Ji-liong menutup mulutnya. Dia pun tidak tahu di mana Khu Hong-seng berada sekarang. Saat Peng Thian-pa, Pang Tio-hoan dan Coat-taysu mengejarnya, Khu Hong-seng tentu tidak ikut dengan mereka.

Walaupun dia tidak mati akibat tusukan tombak Kim Tin-lin, luka-lukanya pasti tidak ringan. Ke manakah seorang laki-laki yang terluka parah bisa menuju?

Hari itu mereka semua pergi ke Han-bwe-kok karena undangan Bik-giok Hujin. Apakah perempuan itu akhirnya muncul? Apakah dia yang membawa Khu Hong-seng ke Bik-giok-san-ceng?

Ma Ji-liong tidak yakin.

Siau-hoan menatapnya, menunggu jawabannya. Ma Ji-liong benar-benar tak sanggup mengutarakan isi hatinya, tidak ingin menyakiti gadis yang mengibakan ini lagi.

Siau-hoan menghela napas dengan lembut. Dia berkata, “Aku tahu jika dia masih hidup, dia pasti akan kembali. Kenapa kau mendustaiku?”

Ma Ji-liong berkata, “Aku…..”

Siau-hoan tidak membiarkannya bicara lagi. Dia memotong, “Kau memang tidak bisa memperdayaiku. Aku tahu ini – dia dan aku saling mencintai. Itu sudah cukup untukku.”

Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Dia berkata, “Hari akan segera menjadi gelap. Aku tidak berani menahan Ma-kongcu lagi.”

Setelah dia berkata begitu, maka percakapan pun tidak bisa diteruskan lagi.

Ma Ji-liong cuma bisa pergi. Tapi, sebelum pergi, dia berkata, “Aku paham keputusanmu dan aku tidak akan memaksamu. Tapi kuharap kau bisa menunggu selama tiga hari. Dalam tiga hari ini, aku bisa memberikan kabar yang lebih banyak tentang Khu Hong-seng.”

Siau-hoan tampak bimbang. Lalu akhirnya dia setuju, “Baik. Aku akan menunggu selama tiga hari.”

Langit sudah menjadi gelap. Rumah Siau-hoan berada di mulut sebuah gang yang sempit dan panjang. Ma Ji-liong menaikkan kerah bajunya sebelum melangkah keluar dalam hembusan angin.

Dia ingin menemukan Siau-hoan karena dia hendak menegaskan apakah Khu Hong-seng mengatakan hal yang sebenarnya pada hari itu. Dia tidak meragukan Khu Hong-seng, tapi dia benar-benar tidak punya petunjuk lain. Seperti orang yang hampir tenggelam, dia harus berpegangan erat-erat pada apa pun yang terlihat di tangannya.

Sekarang ia sudah memastikan bahwa Khu Hong-seng benar-benar orang yang romantis, cinta mereka sungguh menggugah hatinya. Dia ingin menolong mereka. Dia berharap dia bisa mengetahui keberadaan Khu Hong-seng dalam waktu tiga hari ini.

Dia berharap dia bisa menyatukan kembali kedua kekasih ini.

Tapi dia tetap merasa ada sesuatu yang tidak benar, tapi dia tidak bisa menunjukkannya. Dia selalu merasa ada sesuatu yang terlalu sedikit dan terlalu banyak pada rumah Siau-hoan itu. Tapi apakah yang hilang? Apakah yang terlalu banyak? Dia benar-benar tidak bisa mengatakannya.

Apakah Toa-hoan sekarang sudah bangun? Apakah dia pun merasa sakit kepala seperti dirinya? Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia merindukan gadis itu. Gadis yang aneh luar biasa, buruk rupa dan tidak rasional itu agaknya masih mempunyai sisi-sisi yang menarik.

Sayangnya ia tidak tahu dari mana gadis itu berasal, juga tidak tahu ke mana dia hendak pergi. Mereka bertemu secara kebetulan. Nantinya mereka tentu akan pergi ke arah tujuan masing-masing. Mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Ma Ji-liong menghela napas dan memutuskan untuk tidak memikirkan gadis itu lagi.

Sekarang sudah akhir musim dingin. Ketika akhir tahun semakin dekat, setiap keluarga tentu akan membeli baju Tahun Baru dan barang-barang lainnya. Di saat seperti ini, setiap orang tentu memiliki uang di sakunya dan sibuk melakukan jual-beli. Persis di luar jalan sempit itu juga terdapat sebuah pasar bunga yang mungil. Bunga lili dan wintersweet kebetulan sedang mekar.

Seorang isteri saudagar dan pelayannya yang masih muda baru saja kembali dari belanja barang-barang Tahun Baru – jamur jarum, jamur kuping kayu, kurma merah, buah pek, pakis dan rebung bambu – yang semuanya terkemas dalam sebuah keranjang. Gadis itu sedang menjinjing keranjang di tangannya tapi matanya tertuju pada setangkai bunga seruni. Gadis berumur 15-16 tahun mana yang tidak menyukai hal-hal yang indah? Bagaimana mungkin orang tidak menyukai bunga seruni yang cerah dan harum itu?

Gadis itu tidak tahan lagi. Dia lalu bertanya, “Toa-naynay (Nyonya Besar), apa kita beli saja beberapa tangkai bunga seruni ini?”

“Tidak,” Si nyonya berbaju sutera menjawab dengan tegas, wajahnya tampak kaku.

Gadis muda itu tidak menjadi surut. Dia bertanya lagi, “Bunga-bunga ini tidak mahal. Kenapa kita tidak membeli beberapa agar bisa kita pandang di rumah?”

“Karena aku tidak suka.”

Sambil menghela napas, pelayan muda itu bergumam, “Nyonya terlalu banyak pikiran. Tuan cuma pergi beberapa hari dan dia sudah tidak suka melihat bunga.”

Walaupun pelayan itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia masih sempat bicara sendirian sebelum mengikuti majikannya pulang. Ini cuma urusan sepele dan tidak seorang pun yang memperhatikan mereka.

Tapi Ma Ji-liong lain.

Isteri saudagar tadi membawa seorang pelayan untuk mendampinginya. Melihat latar belakang keluarga Khu Hong-seng dan bagaimana cara pemuda itu memperlakukan kekasihnya, mengapa Siau-hoan tidak mempunyai seorang pelayan pun di rumahnya?

Dan di atas meja rias kecil itu ada sebuah pot berisi bunga mawar. Bunga yang masih segar.

Jika Ma Ji-liong tidak muncul, dia tentu sudah bunuh diri karena urusan cinta. Tapi kenapa dia masih sempat-sempatnya memetik bunga?

Sekarang dia tahu apa yang aneh pada rumah itu. Di ruangan itu tidak ada pelayan. Dan pot bunga itu seharusnya tidak ada di sana.

Maka dia lalu membalikkan badannya. Sebagian besar orang yang tinggal di jalan itu adalah keluarga-keluarga saudagar yang kaya. Rumah Siau-hoan lebih besar dari kebanyakan rumah di tempat itu, dengan tembok yang tinggi. Pintu gerbangnya terbuat dari potongan papan yang keras dan tebal, dengan kunci gembok di sebelah dalam.

Tapi jika Ma Ji-liong ingin masuk, hal itu benar-benar tidak sulit.

Dia sudah bisa melompati tembok seperti ini sejak berusia belasan tahun. Di dunia Kang-ouw, Thian-ma-tong menduduki tempat yang tinggi karena ilmu ginkang dan ilmu pedangnya. Dia curiga kalau Siau-hoan menyembunyikan sesuatu darinya, seharusnya dia melompati tembok ini untuk menyelidiki rahasia gadis itu. Dia juga tahu bahwa jika dia ingin mengetahui tabiat orang yang sebenarnya, dia harus mencari tahu di saat orang itu tidak menyadari bahwa dia berada di sana.

Sayangnya dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak pernah melakukannya sebelumnya, dan tidak akan pernah.

Dia memutuskan untuk mengetuk pintu. Tapi ketika dia hendak mengetuk, tiba-tiba dia mendengar suara yang aneh.

Dia mendengar seseorang tertawa. Suara tawa itu sendiri tentu tidak aneh. Walaupun kejadian buruk sering terjadi di dunia ini, orang masih tetap bisa mendengar suara tawa seseorang di mana-mana.

Yang anehnya di sini adalah suara tawa ini adalah suara tawa seorang laki-laki. Selain itu, suara tawa ini berasal dari dalam rumah tersebut, yang dibeli Khu Hong-seng untuk Siau-hoan. Cuma ada seseorang, Siau-hoan, di sana, kenapa bisa terdengar suara tawa laki-laki?

Malam itu sunyi, dan begitu pula jalan tersebut. Walaupun suara tawa itu hanya berkumandang sebentar, tapi dia mendengarnya dengan amat jelas.

Setiap orang yang terlibat dalam urusan ini, mengalami kematian yang tragis satu demi satu.

Ada orang yang selalu tertawa sebelum membunuh.

Apakah itu adalah suara tawa seseorang yang berusaha membunuh Siau-hoan untuk membungkam mulutnya?

Ma Ji-liong tidak perduli lagi dengan sopan-santun. Dia segera melompati tembok itu.

Di dalam ruangan tadi, tampak api unggun menyala berkobar-kobar, dan sebuah jendela dibiarkan terbuka. Sambil bersembunyi di sebatang pohon cemara di luar rumah, dia bisa melihat lewat jendela bahwa Siau-hoan sedang berdiri di ruangan tadi.

Tadi Ma Ji-liong melompat masuk lewat tembok dan kebetulan mendarat di atas pohon cemara ini. Dia tidak ingin mengganggu orang lain. Tapi… dia sudah melihat mereka. Dia melihat Siau-hoan dan seorang laki-laki.

Dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu.

Orang itu duduk membelakangi jendela. Sambil berhadapan dengan Siau-hoan, dia bersandar di sebuah kursi yang empuk.
Ma Ji-liong hanya bisa melihat sebuah kaki yang terjulur dari kursi tersebut. Kaki itu mengenakan sebuah sepatu kulit yang amat indah, jenis sepatu yang hanya dipakai oleh laki-laki yang kaya dan selalu menyukai kemewahan.

Siau-hoan berdiri di depan laki-laki itu. Dia memandang laki-laki itu dengan tatapan yang sangat aneh. Tiba-tiba dia berkata dengan dingin, “Kau benar-benar menginginkan aku mati?”

Dengan suara yang sama laki-laki itu menjawab, “Kau kira aku tidak tega? Kau kira aku takut padamu?”

Siau-hoan berkata, “Bagus. Kau ingin aku mati. Akan kuperlihatkan padamu.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: