Kumpulan Cerita Silat

18/12/2007

Maling Romantis (06)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 12:01 am

Maling Romantis (06)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Thio Siau-lim bergerak seperti tiba-tiba terjaga dari impiannya, gumamnya: “Eh, ada orang ya? Siapa itu?”

Perempuan pembunuh itu amat kaget seperti kuatir mengejutkan orang di luar jendela itu. Namun ia tidak bersuara, waktu berpaling kelihatan ia mengulum senyum geli, ternyata kedoknya sudah hilang, sinar rembulan menyoroti mukanya, ternyata memang cantik mempesona.

Thio Siau-lim sengaja pentang lebar-lebar kedua matanya, dia pun tak bersuara.

Perempuan itu unjuk senyum lebar dan manis mesra, menatapnya pula dengan pandangan menarik, jari-jari tangannya yang runcing halus pelan-pelan sudah merambati kancing bajunya di depan dada, satu-persatu dia membuka pakaiannya.

“Kau…. kau ini….” Thio-Siao-lim melenggong.

Lekas perempuan itu angkat jari di depan mulutnya, menyuruhnya jangan bersuara, dengan gemulai pinggangnya meliuk gontai, pakaian ketat yang membungkus tubuhnya seketika melorot jatuh ke bawah. Kecuali pakaian hitam itu, bagian dalamnya kosong plontos tanpa secarik benang pun jua.

Cahaya rembulan seketika menyoroti seluruh badannya yang montok telanjang laksana gading.

Serasa sesak napasnya Thio-Siau-lim, di saat ia terlongong, tiba-tiba terasa badan yang padat kenyal, licin, dingin dan lembut laksana ular tahu-tahu menyusup masuk ke dalam kemulnya.

Bau badannya mambawa harum sabun cendana yang semerbak, agaknya dia baru saja mandi. Harum sabun yang wangi sedap baunya, tapi anehnya, waktu bau wangi ini teruar dari badannya, cukup membuat nafsu birahi seorang laki-laki sirna tanpa diketahui ke mana perginya.

Badannya yang licin dan berminyak bagai ular sudah membelit badan Thio-Siau-lim.

Thio-siau-lim menggumam melongo: “Tengah malam buta rata, memdadak ada seorang gadis cantik membuka polos pakaiannya, menyusup ke dalam kemul, cerita macam ini mungkin seorang pengarang cerita porno yang paling brutal pun takkan bisa menuliskannya seperti ini?”

Gadis itu rebah di pinggir telinganya, katanya berbisik sambil cekikikan geli: “Seorang laki-laki ketiban rejeki sebesar ini, memangnya masih belum puas?”

“Apa kau ini siluman rase? Atau setan?”

“Ya, memang aku ini siluman rase, aku hendak mencekikmu sampai mati.”

Mendadak gemetar sekujur badan Thio-Siau-lim, katanya: “Bicara terus terang, hatiku takut setengah mati!”

Gadis itu pelan-pelan mengelusnya, katanya tertawa genit: “Jangan takut, seumpama rase menjadi siluman, dia tetap mempunyai ekor, coba kau raba pinggangku, apa ada ekornya tidak?” ia tarik tangan orang…..

“La…..lu, siapa kau sebenarnya?”

“Leng-kongcu kuatir kau kesepian, sengaja mengutus aku ke mari untuk menemani kau, sekarang kau boleh lega hatilah?”

“Leng-kongcu memang baik hati, kau tidak kalah baiknya, apa pun yang kau inginkan pasti kuberikan.”

“Aneh, biasanya Leng-kongcu bersikap dingin kaku, kenapa terhadap kau sebaliknya? Memangnya….ada sesuatu permintaan apa-apa terhadapmu?”

“Em…”

Gadis itu merapatkan badannya, reaksinya sungguh amat mendebarkan jantung, katanya: “Orang baik, katakan kepadaku apakah yang sedang kau rundingkan dengan dia?”

“Ai….”

Meliuk-liuk pinggang si gadis, katannya berbisik: “Malam ini agaknya Leng-kongcu amat sibuk, apakah terjadi sesuatu?… Tiga orang Tiang-lo yang bertempat tinggal di rumah Ciangbunjin itu kenapa tidak tampak bayangannya?”

Agaknya gadis itu jadi uring-uringan, katanya aleman sambil mendorong dada orang: “Diajak bicara diam saja. Baik! Aku tidak mau hiraukan kau lagi.”

“Sekarang bukan saatnya untuk bicara.”

“Tapi sekarang kau harus….” belum lenyap suaranya, mendadak si gadis rasakan seluruh badan kejang linu, kaki tangannya tak mampu bergerak lagi. Baru sekarang dia betul-betul kaget, teriaknya tertawa: “Kau…. apa yang kau lakukan?”

Tiba-tiba Thio-Siau-lim bangun berduduk, katanya sambil berseri tawa mengawasinya: “Kau beritahu aku dulu, siapa kau? Setelah itu baru kejelaskan tentang diriku.”

“Bukankah tadi sudah kuberitahu, Leng-kongcu yang suruh aku ke mari?”

“Orang yang diutus Leng-kongcu mana mungkin merambat turun dari atas genteng.”

Biji mata yang indah itu kini menyorotkan rasa ketakutan. Serunya: “Kau…. jadi kau sudah melihatnya tadi?”

“Harus disayangkan, tak sengaja aku tadi melihatnya.”

“Kau, kenapa tadi kau tidak bersuara?”

“Kau kan tidak suruh aku bicara? Apalagi aku hanya tidak senang rahasiaku diselidiki orang, tetapi gadis jelita hendak buka baju telanjang di hadapanku, memangnya amat kebetulan malah bagiku.”

“Kau…… kau bangsat bangor ini,” maki si gadis mendesis gusar.

“Sekarang, tibalah saatnya kau mengaku terus terang.”

Gadis itu melototkan matanya, suaranya serak saking gusarnya: “Ingin rasanya kubunuh kau!”

“Tidak mau bicara?”

Berkeriut gigi si gadis, “Kalau tidak kau bunuh aku, kelak pasti akan menyesal.”

“Baik, kau tidak mau bicara, orang lain pasti bisa memaksamu bicara.” mendadak ia gulung tubuh orang dengan kemul kapas itu terus berteriak-teriak keras: “Tangkap maling…. tangkap mata-mata!”

Keruan pucat pias selembar muka si gadis, sungguh mimpi pun ia tidak menyangka orang tega hati memperlakukan dirinya sekeji ini.

Serempak para laki-laki di luar pintu segera menerjang masuk, bentaknya bersama, “Mana mata-matanya?”

Thio Siau-lim menunjuk gadis di atas ranjang itu, katanya, “Itu di sana! Lekas bawa ke tempat Leng-kongcu untuk dikorek asal-usulnya.”

Kaget dan girang para laki-laki itu, segera mereka menjinjing gulungan selimut kapas itu beramai-ramai.

Badan si gadis tidak bisa bergerak, tapi mulutnya masih mencaci-maki, “Kau binatang! Kau anjing! Kau… akan mati tanpa liang kubur!”

Perlahan-lahan Thio Siau-lim menggaruk hidungnya, katanya menggumam, “Ada orang yang mengatakan aku ini hidung belang, aku masih bisa menerimanya. Tapi kalau ada orang yang menganggap aku pikun, terpaksa aku harus memberi hajaran padanya.”

***

Liu-yap-to masih tergeletak di lantai, Thio Siau-lim pun menjemputnya dan ditimang serta diawasi, katanya sambil mengerutkan kening, “Jadi perempuan itu orang Thian-sing-pang, bagaimana mungkin orang Thian-sing-pang bisa berada di sini?”

Sesaat lamanya ia menerawang, lalu mengenakan pakaian dan menyelipkan Liu-yap-to itu di pinggangnya, sedikit pundaknya terangkat, tahu-tahu badannya sudah meluncur keluar dari lubang genteng.

Sesaat lamanya ia mendekam di atas genteng, setelah meneliti keadaan sekelilingnya, mulutnya menggumam sendiri, “Dia datang dari sebelah timur, jadi Thian-sing-pang berada di sebelah timur.” Segera ia kembangkan ginkangnya, melompat dari wuwungan ke wuwungan yang lain, seakan mega mengambang di bawah kakinya, angin malam yang dingin menghembus lewat membasahi mukanya.

Bentuk wuwungan rumah itu berbeda satu dengan yang lain, demikian pula penghuni rumah-rumah di bawah, juga terdiri dari orang-orang yang berlainan sifat dan kesenangannya, dengan aneka ragam kehidupannya pula, namun siapa yang dapat membandingi keaneka-ragaman hidupnya?

Malam semakin larut, tabir malam makin pekat, suasana dalam rumah-rumah itu pun mulai terjatuh dalam kegelapan, kadang kala terdengar jerit tangis orok yang terjaga di tengah malam, atau suara senda-gurau suami-isteri yang sedang bemain cinta di atas ranjang…..

Kecuali suara riang gembira, ada kalanya terdengar juga suara caci-maki dari mulut yang penasaran. Suara kucing menubruk tikus, suara ngorok laki-laki gendut yang tidur nyenyak, serta suara dadu yang jatuh ke dalam mangkuk dengan suara kelontang yang nyaring.

Di waktu malam, berjalan di atas wuwungan rumah orang merupakan suatu kesenangan yang lain daripada yang lain, terasa keunggulan yang tidak mungkin dibandingi orang lain, perasaan seperti inilah yang paling ia sukai.

Tiba-tiba dilihatnya cahaya lampu yang menyorot terang di pekarangan depan sana, namun di tempat gelap di mana sorot lampu tidak mampu mencapainya, seakan-akan tampak kemilau sinar golok dan bayangan orang yang sedang mendekam di sana.

Mendadak Thio Siau-lim menghentikan larinya, gumamnya, “Mungkin di sinilah tempatnya!” Sebat sekali ia menyembunyikan diri di balik wuwungan, sesaat lamanya ia meneliti keadaan sekitarnya, dilihatnya seseorang berjalan keluar dari dalam rumah, katanya setelah berludah, “Apa Sam-kohnio sudah kembali?”

Laki-laki tegap di tempat gelap di pojok sana segera menyahut, “Belum kelihatan!”

Orang itu menggeliat, katanya ragu-ragu, “Aneh, mungkin terjadi sesuatu?”

“Mengandalkan kecerdikan Sam-moay, kuyakin tidak akan terjadi apa-apa.”

Mendadak Thio Siau-lim melemparkan Liu-yap-to itu ke bawah seraya membentak, “Sam-moay-mu sudah terjatuh ke tangan Pang kita, kalian tunggu saja akibatnya!”

Dari dalam rumah beruntun melesat bayangan orang, laksana pedang yang disambitkan. Ia mengenakan pakaian ketat warna hitam, tangannya menggenggam sebatang pedang yang kemilau memancarkan cahaya hijau.

Melihat gerakan tubuh orang, kembali Thio Siau-lim dibuat terkejut, batinnya, “Kepandaian orang ini agaknya lebih tinggi dari Chit-sing-toh-hun Cou Yu-cin. Dari mana Thian-sing-pang mempunyai tokoh kosen tersembunyi seperti dia ini?”

Seenteng daun, secepat kilat ia melesat pergi, bayangan hitam itu pun mengejar dengan kencang dan ketat di belakangnya. Sengaja ia memperlambat larinya sambil berpaling ke belakang.

Dilihatnya raut muka orang yang seperti mayat hidup, sepasang matanya sipit laksana bintang kejora yang menyorot terang, sekilas pandang lebih menakutkan dari kilauan pedangnya.

Baru saja Thio Siau-lim menghentikan langkahnya, laki-laki berbaju hitam itu segera menyusul tiba, di mana pedangnya menari-nari beterbangan. “Sret! Sret! Sret!”, beruntun beberapa kali. Dalam sekejap ia sudah menusuk tiga kali.

Tiga tusukan pedang itu bukan saja cepat lagi tepat, sasaran yang dituju pun tak lepas dari tempat-tempat mematikan di badan Thio Siau-lim. Ilmu pedangnya memang belum boleh dikatakan sudah mencapai puncak kesempurnaannya, namun serangannya ganas dan telengas, jarang ada tandingan soal kekejiannya. Sorot matanya memancarkan kebencian, kekejaman dan sinar buas seperti serigala kelaparan, seakan-akan kesenangannya yang terbesar dalam hidup ini adalah membunuh orang, tujuan hidupnya pun juga demi membunuh orang.

Gaya permainan pedangnya pun amat aneh, sikutnya ke atas, posisinya seperti tidak pernah bergerak, kelihatannya ia cuma mengandalkan kekuatan pergelangan tangannya untuk menusukkan pedang. Bila tiba saatnya, selamanya tak pernah menyia-nyiakan sedikit pun tenaganya.

Melihat raut wajah orang yang seperti mayat hidup, menyaksikan gaya serangan pedangnya yang aneh dan lucu, mendadak tergerak hati Thio Siau-lim, teringat olehnya seseorang.

***

Dengan cepat dan cara yang aneh sekali, pergelangan tangan orang itu bergerak dengan gesit dan enteng. Sinar pedang seperti percikan kembang api, siapa pun tidak bisa melihat gerak perubahannya.

Sekilat pandang, beruntun ia menusuk tiga belas kali, sementara Thio Siau-lim sudah melampaui empat wuwungan rumah, sinar pedang laksana ular jahat yang membelit badannya, namun sejauh itu tidak berhasil menyentuh ujung bajunya.

Itulah gaya gerakan pedang yang lebih cepat dari sambaran kilat, namun gerakan badan yang jauh lebih cepat pula dari kilat dipamerkan oleh Thio Siau-lim. Waktu tusukan keempat belas dilancarkan, mendadak tersendat dan berhenti satu kaki di depan tenggorokannya.

Gerak tusukan pedang itu boleh dikata teramat cepat lagi tepat, namun berhentinya pun amat wajar dan enteng, badan pedang bergeser sedikit pun tidak. Gerakan tubuh Thio Siau-lim yang meluncur secepat kilat pun mendadak berhenti. Kedua orang berdiri berhadapan, seakan sama-sama sudah membeku.

Terpancar sorot aneh dari biji mata laki-laki baju hitam ini, katanya tegas: “Kau bukan murid Cu-soa-bun.” Lagu suaranya pun ganjil dan lain daripada yang lain, dingin, rendah, berat, serak, pendek, kedengarannya seperti bukan kata-kata yang keluar dari tenggorokan manusia, walaupun suaranya rendah datar, namun membawa daya kekuatan yang menusuk sanubari orang, sehingga orang sulit melupakan setiap patah kata yang pernah dia ucapkan.

Thio Siau-lim tertawa, katanya: “Dari mana kau tahu kalau aku bukan murid Cu-soa-bun?”

“Murid Cu-soa-bun tiada seorang pun yang bisa meluputkan diri dari tiga belas tusukan pedangku.”

“Sudah tentu kau pun bukan orang Thian-sing-pang.”

“Tidak salah!” sahut laki-laki baju hitam itu.

Lenyap suaranya, pedangnya yang berhenti di tengah jalan mendadak menusuk datang pula. Betapa cepat tusukan ini sungguh luar biasa. Begitu pedangny amenusuk, jarang dapat dicari orang yang mampu meluputkan diri dari tusukan pedang yang hanya berjarak satu kaki saja.

Tapi hebat memang kepandaian Thio Siau-lim. Sebelum pedang orang bergerak, tahu-tahu ia sudah berkelebat mundur tiga kaki, walau orang hendak menusuk tenggorokan Thio Siau-lim, sedikit pun ia tidak jadi marah, malah katanya sambil tertawa: “Kalau kau toh bukan murid Thian-sing-pang, aku pun bukan murid Cu-soa-bun, kau dan aku boleh dikata selamanya tidak saling kenal, kenapa kau harus membunuh aku?”

Ucapannya belum cukup tiga puluh kata, namun dilancarkan dengan cepat sekali, tapi laki-laki baju hitam sudah menusukkan tiga puluh enam serangan pedangnya pula, gaya serangannya lebih ganas dan lebih keji. Biasanya dia tidak suka banyak bicara, karena sebelum ia bicara, pedang di tangannya sudah memberikan jawaban yang cekak-aos. Mati! Itulah jawaban yang biasa ia berikan kepada orang.

“ilmu pedang kilat, ilmu pedang yang ganas keji, memang tidak malu dijuluki pedang cepat nomor satu dari Tionggoan…. hebat memang pedang menyapu sukma tanpa bayangan, Setitik Merah dari Tionggoan.”

Tiiada jawaban, setelah tiga puluh enam tusukan, tiga puluh enam tusukan melanda pula mengancam tenggorokannya.

Selama itu Thio Siau-lim tidak pernah balas menyerang, mukanya mengulum senyum simpul, katanya: “Kalau ingin pinjam tangan membunuh orang, carilah It-tiam-ang (Setitik Merah)…. kabar di Kangouw, asal ada orang yang mau mengeluarkan harga tinggi, seumpama teman baik atau darah daging sendiri pun kau akan membunuhnya, apa benar kabar yang kudengar ini?” habis kata-katanya ini, tiga puluh enam tusukan pedang yang ketiga kalinya sudah dilontarkan pula.

Kata Thio Siau-lim menghela napas: “Sudah lama kudengar perihal sepak terjangmu, sayang kau tidak mau buka suara, sebetulnya ingin aku mengobrol denganmu, bukankah mengobrol lebih nikmat dan aman daripada mengayun golok mempertaruhkan jiwa menimbulkan banjir darah.”

Pedang panjang It-tiam-ang mendadak berhenti pula, sorot matanya yang tajam menyedot sukma orang kembali menatap Thio Siau-lim, mendadak ia menyeringai tawa menunjukkan barisan giginya yang putih, katanya: “Maling romantis suka menagih sukma, malam hari suka meninggalkan bau harum… jadi kau ini Coh Liu-hiang!”

Kali ini ganti Thio Siau-lim yang melengak kaget, katanya tertawa geli: “Siapa yang kau maksud Coh Liu-hiang itu?”

“Kecuali maling romantis Coh Liu-hiang yang mampu meluputkan diri dari seratus empat puluh empat tusukan pedangku tanpa membalas, masih tetap tersenyum lagi, kukira sukar dicari orang kedua di kolong langit ini.”

“Terkaanmu memang benar,” Thio Siau-lim tertawa besar. “Memang aku tidak senang menggunakan kekerasan, bunuh-membunuh mengalirkan darah merupakan perbuatan goblok manusia yang utama.”

Berkilat sorot mata It-tiam-ang, tanyanya: “Selamanya kau tidak pernah membunuh orang?”

“Kau tidak percaya?”

“Kau belum pernah membunuh orang, dari mana kau bisa tahu betapa nikmatnya membunuh orang?”

“Selamanya kau belum pernah terbunuh, tentunya belum pernah merasakan betapa derita jiwa seseorang yang dibunuh. Kalau seseorang membangun kesenangan hati sendiri di atas kesengsaraan orang lain, orang macam itu kukira tidak berguna lagi.”

Kembali terpancar percikan api yang menyala dari biji mata It-tiam-ang. Belum lagi ia bersuara, tiba-tiba terdengar seseorang membentak: “It-tiam-ang, hayo serang! Kenapa kau tidak turun tangan?”

Ternyata baru sekarang murid-murid Thian-sing-pang menyusul tiba, empat-lima orang berdiri di atas wuwungan empat tombak jauhnya, hanya seorang laki-laki kekar yang melompat maju berdiri lebih dekat, serunya sambil banting kaki: “Kami keluar uang mengundangmu untuk membunuh, bukan mengundangmu untuk putar bacot melulu.”

It-tiam-ang melirik pun tidak ke arah orang itu, malah Thio Siau-lim yang unjuk senyum, katanya: “Mengandalkan ilmu pedangnya yang hebat ini, entah berapa uang perakmu untuk membeli sekali tusukan pedangnya?”

Laki-laki tegap berbaju sutera itu tertawa dingin, jengeknya: “Keluar dua ketip perak saja sudah terlalu banyak. Orang suka mengagulkan bagaimana lihaynya It-tiam-ang. Siapa tahu kiranya dia hanyalah seorang lemah yang tidak berani bertindak.”

Baru saja kata-kata “lemah” diucapkan, sinar pedang mendadak berkelebat, belum lagi mengeluarkan suara jeritannya, laki-laki itu sudah terjungkal jatuh. Thian-toh-hiat di tenggorokannya berlubang dalam mengeluarkan setitik darah.

Cuma setitik darah segar.

Di bawah penerangan sinar bintang, tampak kulit daging mukanya berkerut-kerut kejang, selebar mukanya dihiasi butiran keringat sebesar biji kacang. Meski sudah kerahkan setaker tenaganya, suaranya tak terdengar pula dari lehernya, namun terdengar deru napasnya yang ngos-ngosan seperti binatang hendak disembelih.

It-tiam-ang, setitik merah yang teramat lihay, sampai membunuh orang pun tak sudi mengeluarkan banyak tenaga, kebetulan telah menusuk tempat yang mematikan, sekali tusuk kebetulan menamatkan jiwa orang, setengah mili pun pedang itu tidak menusuknya lebih dalam.

Pelan-pelan ujung pedang It-tiam-ang terjulur turun ke bawah, di ujung pedangnya pun terdapat setitik darah, dengan sinar sorot matanya menatap titik darah itu, tanpa angkat kepala, katanya kalem: “Orang yang hidup, tiada seorang pun yang bisa memakiku sebagai orang lemah.”

Deru napas yang ngos-ngosan itu lama-kelamaan semakin lemah, raut muka murid Thian-sing-pang itu sudah pucat tak berdarah lagi, akhirnya napas pun berhenti.

Kata Thio Siau-lim sambil menengadah dan menghela napas: “Bagus benar, membunuh orang tanpa kelihatan darah, setitik merah di ujung pedang.” Pelan-pelan ia merogoh keluar secarik sapu tangan sutera putih, lalu ditutupkan di atas muka laki-laki itu.

Baru sekarang para murid Thian-sing-pang berkaok mencaci-maki: “It-tiam-ang, kau biasanya mengutamakan keadilan dan kesetiaan, kenapa hari ini…….”

It-tiam-ang segera menukas dengan kasar: “Aku hanya menjual pedang, bukan orang. Siapa pun, bila menghina aku, maka dia harus mati!”

Murid-murid Thian-sing-pang banting kaki dan mendamprat: “Kita sewa kau untuk membunuh orang, kenapa kau tidak berani turun tangan kepadanya?”

Sekilas It-tiam-ang melirik kepada Thio Siau-lim, katanya kalem: “Kalian minta aku untuk menghadapi Cu-soa-bun saja, orang ini sebaliknya bukan murid Cu-soa-bun.”

“Sret,” pedang tersaung kembali ke dalam serangkanya, sigap sekali ia melompat turun ke bawah terus tinggal pergi.

Sungguh gusar dan kaget murid-murid Thian-sing-pang, mendadak seseorang membentak: “Orang inilah yang semalam sekongkol dengan Leng Chiu-hun, orang ini pula yang tadi dicari oleh Sam-kohnio.”

“Benar,” sahut Thio Siau-lim. “Kalau sekarang kalian hnedak menyusul dia, lekas kalian susul ke Kwi-gi-tong…..” belum lenyap suaranya, tiba-tiba tubuhnya telah berkelebat. Waktu para murid Thian-sing-pang menubruk datang, bayangannya sudah jauh puluhan tombak.

Lima belas lentera yang terbuat dari tembaga, oleh tangan seorang ahli disusun sedemikian rupa menyerupai bentuk budur, sebelah atapnya ditutup oleh kap lampu yang terbuat dari tembaga bundar berlobang-lobang pula, maka sorot lampu terkumpul pada satu sasaran lobang sehingga memancarkan cahaya terang yang menyolok mata.

Lampu yang berbentuk aneh ini sebetulnya ditaruh di atas meja judi yang beralas kain beludru warna hijau, namun meja judi yang panjang, lebar dan besar itu kini digunakan sebagai tempat kompres oleh Leng Chiu-hun. Ternyata gadis yang digulung kemul kapas oleh Thio Siau-lim itu terikat kencang di atas meja kompres itu. Sorot lampu yang terang itu tertuju ke mukanya yang pucat dan cantik itu.

Kedua matanya melotot lebar, kelopak matanya membesar bundar, semangatnya runtuh dan loyo seolah-olah dalam keadaan tidak sadar, terdengar mulutnya sedang komat-kamit menggumam: “Aku she Sim, bernama San-koh…., aku she Sim….. bernama San-koh….. aku murid Thian-sing-pang….. aku murid Thian-sing-pang….”

Leng Chiu-hun bercokol di atas kursi besar di pinggir meja judi itu, mukanya kaku dan membeku, sedikit pun tidak menunjukkan perasaan, cuma sorot matanya membayangkan senyum ejek yang keji.

Baru saja Thio Siau-lim melangkah masuk, segera ia menggeleng kepala dan katanya sambil menghela napas: “Serigala betina yang licik ini agaknya telah berubah menjadi domba yang j inak. Apa sekarang dia sudah mau buka mulut?”

Leng Chiu-hun tertawa tawar, ujarnya: “Perempuan yang lahirnya keras dan kukuh, bahwasanya tekadnya melempem dan tak punya pendirian, seseorang bila ingin perempuan menyimpan rahasianya, tentunya laki-laki itu sudah pikun.”

“Urusan yang berbahaya seperti ini memang tidak cocok dilaksanakan oleh kaum hawa, di dalam dapur atau di pinggir ranjang barulah tempat yang cocok bagi mereka. Sayangnya perempuan yang pintar justru tidak paham akan teori ini.”

“Thio-heng masih ingin bertanya apa kepadanya?” tanya Leng Chiu-hun sambil tertawa sadis, matanya melirik kepada Thio Siau-lim, katanya pula: “Seumpama sekarang kau bertanya dulu dia mempunyai berapa gendak, pasti dia akan menjelaskannya.”

Thio Siau-lim batuk-batuk kering, ia maju mendekat serta membungkuk mengawasi Sim San-koh, katanya: “Apa kau masih kenal aku?”

Dengan lemah dan lesu Sim San-koh membuka kelopak matanya, mendadak ia tertawa cekikikan, sahutnya: “Tentu aku masih kenal kau, kau adalah seorang kekasihku, yang paling memberi kenikmatan kepadaku, tapi kau adalah seorang bajingan, seekor binatang……”

Leng Chiu-hun tertawa terbahak-bahak, serunya: “Bisa dimaki sebagai binatang oleh perempuan seperti ini, Thio-heng tentunya kau memang seorang ahli yang jempolan dalam bidang itu. “Binatang” di mulut perempuan ada kalanya mempunyai makna yang jauh lebih berarti.”

Dengan tertawa kecut Thio Siau-lim meraba hidungnya, tanyanya pula: “Kenapa kau hendak menyelidiki rahasiaku?”

Sim San-koh menjawab: “Karena gerak-gerikmu waktu mencari Leng Chiu-hun amat mencurigakan, entah rahasia apa yang sedang kalian rundingkan?”

“Memangnya sepak-terjangku ini ada sangkut-pautnya dengan fihak Thian-sing-pang kalian?”

“Tentu ada sangkut-pautnya. Kali ini Thian-sing-pang meluruk ke Kilam, tujuannya memang hendak mencari Cu-soa-bun. Leng Chiu-hun justru seorang murid Cu-soa-bun yang mempunyai kekuasaan penting.”

Leng Chiu-hun terkekeh tawa, selanya: “Cu-soa-bun biasanya tiada bermusuhan dengan Thian-sing-pang, kenapa Thian-sing-pang hendak cari gara-gara?”

Sim San-koh menjelaskan: “Karena Thian-sing-pang Pangcu, Chit-sing-toh-hun Cou Yu-cin mendadak hilang. Sebelum berangkat, dia pernah berkata hendak mencari Sat-jiu-suseng Sebun Jian dari Cu-soa-bun.”

Berkilat mata Thio Siau-lim, tanyanya: “Tahukah kau untuk apa dia mencari Sebun Jian?”

“Tidak tahu.”

“Apa Cou Yu-cin biasanya ada ikatan persahabatan dengan Sebun Jian?”

“Selamanya tiada hubungan sama sekali.”

“Tahukah kau bahwa Sebun Jian sekarang sudah menghilang?”

“Tidak tahu.”

Semakin kencang kerut alis Thio Siau-lim, agaknya dia sedang memeras otak memikirkan persoalan pelik ini.

Mendadak Leng Chiu-hun membentak bengis: “Peristiwa ngeri yang terjadi di dalam perguruan kita, apa ada sangkut-pautnya dengan Thian-sing-pang?”

“Peristiwa berdarah apa? Sedikit pun aku tidak tahu.”

Leng Chiu-hun mengerling ke arah Thio Siau-lim. Kata Thio Siau-lim: “Sebelum Cou Yu-cin keluar pintu, apakah dia pernah menerima sepucuk surat?”

Sim San-koh berpikir sebentar, sahutnya: “Ya, tidak salah!”

Bersinar mata Thio Siau-lim, tanyanya, “Tahukah kau di mana surat itu sekarang?”

Kembali Sim San-koh berfikir, baru akhirnya menjawab, “Ciangbunjin menyerahkannya pada Ji-suhengku.”

“Siapa suhengmu?”

“Thian-jiang-sing Song Kang.”

“Di mana dia sekarang?”

“Di di Jiciu mencari derma untuk membayar It-tiam-ang, malam ini dia akan pulang.”

“Tionggoan It-tiam-ang?” seru Leng Chiu-hun terkejut dan tersirap darahnya. “Apakah pembunuh bayaran yang berdarah dingin itu? Mengapa Thian-sing-pang sudi membayar mahal padanya?”

Sim San-koh tertawa kaku, sahutnya, “Karena kami harus menghadapi Cu-soa-bun. Jika terbukti kalian membunuh Ciangbunjin kami, maka tugasnya adalah membunuh kalian satu per satu sampai habis.”

Raut wajah Leng Chiu-hun yang pucat itu sudah memutih tak berdarah, jari-jarinya yang runcing halus tak henti-hentinya menggosok gagang golok di pinggangnya, tanyanya, “Berapa upah yang kalian berikan padanya?”

“Satu laksa tail untuk setiap kepala orang yang dibunuhnya, ditambah seribu tail bila berhasil membunuhmu, Leng Chiu-hun, nilainya adalah lima ribu tail.”

Leng Chiu-hun terloroh-loroh seperti orang sinting, katanya keras, “Bagus, baru sekarang aku tahu jiwaku dinilai lebih mahal daripada orang lain, tapi lima ribu tail bukanlah jumlah yang banyak, aku malah bisa membayar dia selaksa tail…. dua laksa tail…..”

“It-tiam-ang biasanya mengutamakan kesetiaan dan dapat dipercaya. Kalau dia sudah menerima kontrak, biarpun kau berani membayar sepuluh kali lipat dari upah yang kami berikan, dia tak akan sudi menerimanya.”

Tawa Leng Chiu-hun tiba-tiba berhenti, jarinya menggenggam kencang gagang goloknya, matanya tertuju keluar jendela, seakan takut It-tiam-ang yang serba misterius dan menakutkan itu akan menerjang masuk.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: