Kumpulan Cerita Silat

18/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (12)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:16 am

Ilmu Ulat Sutera (12)
Oleh Huang Ying

Cang song langsung mencak-mencak. “Mengapa tidak? Kami berdua juga memiliki ilmu yang tinggi. Tadi saja kami hampir mati di tangannya!” teriaknya amrah.

Mendengar akta-katanya, mata setiap orang mengandung rasa curiga. Mereka setengah percaya setengah tidak. Fu Giok Su berlagak tersadar.

“Tidak salah. Ilmu bocah ini memang sangat tinggi!” katanya.

Cang song menuding ke arah Wan Fei Yang. “Tidak heran kau tadi tidak bersedia menemui Ciang bun jin. Ternyata sejak semula kau sudah merencanakan perangkap, kemudian melarikan diri dari kejaran kami.”

“Tidak… tidak pernah ada rencana apa-apa!”

Tadinya Wan Fei Yang ingin menjelaskan. Tapi sekarang karena gugup, dia malah tidak sanggup berbicara.

“Kau benar-benar murid sesat!” teriak Cang song.

Gi song mengibaskan tangannya. “Maju! Lumatkan tubuh pemberontak ini menjadi ribuan keping!” katanya.

Para hadirin memang sudah bersiap-siap. Mendapat perintah Gi song mereka segera menyerbu. Senjata masing-masing telah tergenggam di tangan. Wan Fei Yang menghindar dengan kalang kabut.

“Jangan kalian paksa aku bvertindak!” teriaknya gugup.

Para hadirin yang mendengar ucapannya seperti ancaman jadi tambah marah. Semuanya menerjang ke arah Wan Fei Yang. Anak muda itu segera menangkap keadaan yang tidak menguntungkan. Dia menangkis golok dan pedang yang menyerangnya dengan sebatang ranting kayu yang ditemukannya di atas tanah. Dia tidak membaalas menyerang. Dia tahu makin lama suasananya makin gawat. Tiba-tiba kakinya menutul dan tubuhnya melesat ke arah sebatang pohon. Tidak ada seorang pun yang sanggup mencegah.

Wan Fei Yang juga tidak menyia-nyiakan kesemaptan itu. Sekali lagi dia menghentakkan kakinya dan melesat pergi. Tubuhnya menghilang dalam kegelapan malam.

“Kejar!” teriak Gi song sambil mendahului.

Cahaya lentera segera berpencar. Berbondong-bondong mereka berlari ke arah Wan Fei Yang menghilang. Meliaht keadaan itu, ujung bibir Fu Giok Su menyunggingkan senyuman. Dia juga mempercepat langkah kakinya. Boleh dibilang, rencananya sudah berhasil. Pek Ciok dan Cia Peng sudah mati, demikian pula Ci Siong to jin. Ciang bun jin generasi mendatang pasti menjadi bagiannya. Dan Tian can kiat juga tentu akan terjatuh ke tangannya.

* * *

Yan Cong Tian selalu memberikan kesan kepada orang-orang bahwa dia adalah manusia yang mudah marah. Tapi kalau dibandingkan dengan malam ini, boleh dikatakan bahwa hari sebelumnya dia sudah cukup lembut.

Rambutnya ebrdiri semua karena amrah. Wajahnya berubah jadi ungu. Matanya menyorotkan warna merah. Urat-urat di keningnya menonjol. Aliran darahnya seakan dua kali lebih cepat dari baisanya.Giginya digertakkan erat-erat. Sepasang tinjunya mengepa. Dadanya terasa hampir meledak.

“Benar-benar kesialan bagi partai kita!” Bibirnya bergetar.

Hatinya sakit sekali. Dia menghantamkan tinjunya ke tembok ruangan sehingga retak di bagian tengah. Debu-debu beterbangan. Hari seakan hampuir kiamat.

Lun Wan Ji yang masih menangis tersedu-sedu tergetar mundur sejauh dua langkah. Yan Cong Tian malah menjadi tenang kembali. Setidaknya kesedihan dalam hatinya sudah terlampiaskan sedikit.

“Tidak disangka-sangka begini banyak musibah yang menimpa Bu Tong. Dua puluh tahun yang lalu seorang tokoh sesat menyelinap dalam partai kita dengan menyamar sebagai tukang bakar api di dapur. Dua puluh tahun kemudian partai kita kecolongan lagi oleh seorang anak haram,” gumamnya seorang diri.

“Suhu, tolong katakan apa yang harus kita perbuat sekarang?” Lun Wan Ji baru berani bertanya.

“Di mana Wan Fei Yang sekarang?” Yan Cong Tian malah balik bertanya.

“Rasanya masih di sekitar Bu Tong san.” Lun Wan Ji menarik nafas panjang. “Kami sudah mengutus beberapa orang untuk memeriksa.”

“Bagus!” Sepasang tinju Yan Cong Tian mengepal kencang. “Wan Fei Yang! Tidak disangka sama sekali bahwa kau adalah manusia semacam itu! Aku pasti akan meringkus murid murtad sepertimu!” Habis berkata, tubuh Yan Cong Tian melayang.

“Brak!” Atap genteng pecah seketika diterobosnya.

Ketika pecahan genteng mendarat di tanah, tubuh Yan Cong Tian sudah menghilang dalam kegelapan malam. Lun Wan Ji mengejar dengan panik.

* * *

Malam panjang belum berakhir. Langit gelap, awan kelabu. Di depan kamar Ci Siong to jin terlihat empat orang murid Bu Tong lewat dengan lentera di tangan. Baru saja mereka berlalu, Wan Fei Yang melayang turun dari atas sebatang pohon.

Tubuhnya berkelebat. Kedua tangannya mengambang dan menguak daun jendela. Tubuhnya dengan ringan laksana seekor kucing menyelinap masuk. Kemudian dia merapatkan jendela kembali.

Penerangan di dalam kamar itu remang-remang. Tidak ada seorang pun. Wan Fei Yang langsung masuk ke kamar CI Siong to jin. Situasi kamar itu dikenalnya dengan sangat baik ibarat mengenali telapak tangannya sendiri. Oleh karena itu dia tidak perlu membuang waktu banyak.

Dia membuka laci pertama. Di dalamnya terdapat beberapa perangkat pakaian yang biasa dipakai Ci Siong to jin. Kemudian dia menarik laci kedua. Di dalamnya juga tidak terdapat belahan giok yang dicarinya. Akhirnya dia membuka laci ketiga. K ali ini dia tidak perlu membongkarnya. Belahan giok langsung tergeletak di atas seperangkat pakaian berwarna hitam.

“Tidak ada yang istimewa pada belahan giok ini,” pikir Wan Fei Yang dalam hati. Dia membolak-balikkan belahan giok tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. “Mengapa menjelang kematiannya Ciang bun jin terus menyebut batu giok ini?”

Perlahan-lahan dia memasukkan belahan giok itu ke dalam dadanya. Pada saat itulah, matanya menatap perangkat pakaian hitam itu.

“Rasanya aku pernah melihat pakaian hitam seperti ini?” Tanpa sadar dia mengeluarkan pakaian hitam itu dan membeberkannya.

Wan Fei Yang langsung tertegun. Mulutnya hampir mengeluarkan suara jeritan.

“Bukankah ini pakaian yang selalu dikenakan oleh Suhu?” gumamnya seorang diri. “Apakah Ciang bun jin adalah suhu yang selama ini mengajari aku ilmu silat?”

Dia menempelkan wajah wajahnya pada pakaian tersebut. Segelombang rasa haru menyelinap di hatinya. Banyak hal yang tidak dimengertinya apda masa lalu. Sekarang mulai terang sedikit demi sedikit. Tanpa sadar Wan Fei Yang menjatuhkan diri berlutut. Air matanya mengalir dengen deras.

“Ciang bun jin! Suhu! Aku salah mendugamu!” ratapnya sedih.

Baru saja perkataannya selesai,

“Blam!”

Pintu didorong dari luar. Yan Cong Tian diiringi Fu Giok Su dan Lun Wan Ji menerjang masuk. Wan Fei Yang terkejut sekali. Yan Cong Tian bertiga juga terpana. Mereka sudah mencari kemana-mana. Tidak disangka akan menemui Wan Fei Yang di tempat ini.

“Tepat sekali kata pepatah. Bagaimana pun asap tidak dapat ditutupi. Yang jahat, cepat atau lambat pasti akan ditemukan!” kata Yan Cong Tian sambil tertawa terbahak-bahak.

Perlahan-lahan Wan Fei Yang berdiri.

“Susiok…. Aku… aku….”

“Siapa yang kesudian menjadi susiokmu?” teriak Yan Cong Tian. Telapak tangannya menghantam ke depan. Sebuah meja tempat pot kembang hancur berkeping-keping.

Wan Fei Yang menggeser tubuhnya menghinda, kemudian dia bergulingan di lantai. Lalu secepat kilat meloncat bangunj dan menerobos lewat jendela. Kejadian itu begitu cepat. Tidak ada seorang pun yang sempat mencegahnya.

“Kejar!”

Bagai sebatang anak panah tubuhnya meluncur dan mengejar Wan Fei Yang.

* 8 *

Ilalang melambai-lambai. Angin bertiup, rumput bergoyang. Menimbulkan suara menderu-deru. Wan Fei Yang sendiri persis seekor kelinci yang dikejar oleh harimau. Dia lari terbirit-birit melintasi padang ilalang.

Suara kibasan lengan baju terdengar. Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong menyeruak ke luar dari rimbunan ilalang. Gerakan mereka sangat gesit. Sekejap mata Wan Fei yang sudah terkurung.

“Sam wi suheng…” Wan Fei Yang terpaksa menghentikan langkah kakinya.

Kim Ciok tertawa dingin. “Wan Fei Yang, mengingat hubungan kita sekian tahun, apabila kau bersedia menyerah, maka untuk sementara jiwamu akan diampuni,” katanya.

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. Ketiga orang itu segera mencabut senjata masing-masing.

“Sam wi suheng, aku tidak bermaksud mencelakai kalian. Mengapa kalian terus mendesak aku?” kata Wan Fei Yang dengan nada sendu.

“Dasar murid murtad! Masih ebrani kau berbicara sembarangan?” teriak Kim Ciok marah. Jurus Kui sua to segera dikerahkan. Goloknya meluncur ke arah kening Wan Fei Yang.

Terpaksa Wan Fei Yang mundur dua langkah. Tubuhnya berputar dan menghindari serangan Kim Ciok.

“Serrr!”

Suara toya di tangah Giok Ciok segera ditangkap oleh telinganya. Pada saat yang sama tubuh Yo Hong mencelat ke atas. Tujuh macam senjata rahasia ditimpukkan dalam waktu yang bersamaan. Gerakan yang digunakan tidak lain adalah “Hun fei cong”.

Wan Fei Yang berjungkir balik di udara. Kakinya melangkah cepat dengan gerakan bersilang. Yo Hong sampai terpana. Gerakan yang digunakan anak muda itu juga “Hun fei cong”. Andalannya. Tangan Wan Fei Yang terangkat ke atas. Tujuh macam senjata rahasia yang dilemparkan oleh Yo Hong disambutnya sekaligus. Tubuhnya berkelebat kembali. Dalam sekejap dia sudah berada sejauh tiga depa.

Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong cepat mengejar. Kedua tangan Wan Fei Yang terangkat ke atas kemudian mengibas. Tujuh macam senjata rahasia yang disambutnya tadi mengarah kembali kepada ketiga orang itu. Namun tidak lupa dia memperingatkan.

“Hati-hati senjata rahasia!” Dia memang tidak berniat melukai ketiga orang suhengnya.

Dia hanya ingin menunda langkah kaki mereka agar dia dapat melarikan diri.

Sejak semula Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong memang sudah berhati-hati. Kui sua to dikerahkan, dua buah senjata rahasia tersampok jatuh. Toya Giok Ciok juga berputar, tiga buah senjata rahasia berhasil ditangkis. Sisa dua macam senjata rahasia lagi langsung disambut oleh Yo Hong.

“Bukankah ilmu yang digunakan sama dengan Jit amgi (tujuh macam senjata rahasia) yang kau pelajari? Tanya Kim Ciok terkejut.

Wajah Yo Hong sedingin es. “Tidak salah!” katanya sambil mengejar ke depan.

Pada saat itu, Wan Fei Yang sudah melesat sejauh delapan depa menuju sebuah hutan yang lebat. Ketika Yo Hong bertiga sampai di luar hutan, bayangan Wan Fei Yang sudah tidak terlihat lagi. Mereka ebrtiga sedang kebingungan dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, ketika Yan Cong Tian melayang turun seperti seekor burung elang.

“Apakah kalian melihat Wan Fei Yang?” tanyanya segera.

“Dia lari ke dalam hutan,” sahut Yo Hong.

“Dia mengerti Hui hun cong dan jit amgi,” tukas Kim Ciok menerangkan.

“Bu Tong liok kiat dia mengerti semuanya,” kata Yan Cong Tian tertawa dingin. “Kalau tidak, bagaimana Pek Ciok dan Cia Peng mati di bawah ilmu Liong gi kiam hoat dan Pik Lok Ciang?”

Menilik dari ucapannya, Yan Cong Tian seakan sudah yakin bahwa yang membunuh Pek Ciok, Cia Peng, Ci Siong to jin dan melukai Fu Giok Su adalah Wan Fei Yang. Yo Hong, Kim Ciok dan Giok Ciok terpana. Sedangkan Wan Fei Yang yang bersembunyi di dalam hutan dapat mendengar kata-kata Yan Cong Tian dengan jelas. Hatinya tergetar.

Fu Giok Su, Lun Wan Ji dan sejumlah murid Bu Tong berdatangan dengan mambawa lentera di tangan. Yan Cong Tian mengambil sebuah lentera dari salah seorang murid Bu Tong.

“Periksa semuanya!” katanya memberi perintah.

Suaranya menggelegar memecahkan keheningan malam. Tidak seperti guntur yang bergemuruh tapi lebih mirip bom yang meledak.

Ternyata memang benar-benar ada bom yang meledak. Cahaya api berpijar-pijar. Suara menggelegar memekakkan telinga. Batu-batu yang menyambung dengan rantai kaki makhluk tua di Telaga Dingin itu hancur berhamburan.

Pecahan batu berjatuhan ke dalam telaga dan menimbulkan butiran air yang memercik-mercik. Debu-debu beterbangan. Makhluk tua menjerit keras. Tubuhnya melesat ke udara. Laksana iblis yang menari-nari di tengah telaga. Lalu dia mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan. Dia sudah terkurung di dalam telaga itu selama dua puluh tahun. Hari ini ternyata dia bisa bebas kembali.

* * *

“Suara apa itu?” Tentu Fu Giok Su paham sekali dalam hati. Namun dia pula yang pertama-tama mengajukan pertanyaan itu. Hal ini membuktikan betapa licik manusia yang satu ini.

Yan Cong Tian mengedarkan matanya. “Jangan perdulikan yang lainnya. Cari dulu Wan Fei Yang sampai dapat,” katanya.

Tangannya menggerakkan lentera. Dia brjalan di depan. Para murid Bu Tong yang lainnya terpaksa mengikuti dari belakang.

* * *

Rantai berputaran, ranting pohon tersibak patah. Makhluk tua menggerakkan rantai tangannya bagai angin topan. Begitu keluar dari telaga dingin, pohon dan batang bambu sejarak sepuruh depa dikibas rata bersatu dengan tanah. Akhirnya makhluk tua menghentikan gerakannya. Dia mendongakkan wajahnya ke langit dan tertawa terbahak-bahak.

Tepat pada saat itu, manusia tanpa wajah keluar dari balik pepohonan yang lebat.

“Siapa?” bentak makhluk tua langsung mengedarkan pandangannya. Kepalanya menoleh. Matanya tajam bagai elang.

“Budak Han Cong, menemui Lao cu cung (kakek moyang),” Manusia tanpa wajah berlutut di atas tanah.

“Han Cong?” Makhluk tua merenung sejenak.

“Apakah Giok Su yang menyuruh kau kemari untuk menyambut aku?”

“Betul!”

“Giok Su pernah mengatakan bahwa kau adalah putra ketiga dari Han Cang, Congkoan (Kepala Bagian) kita!”

“Ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kedudukan congkoan sekarang dijabat oleh budak,” sahut manusia tanpa wajah sambil terus berlutut.

“Bagus! Bagus sekali!” seru makhluk tua itu sambil bertepuk tangan senang. “Mari temani aku. Kita bunuh habis seluruh murid Bu Tong!”

“Lao cu cung, tuia bangka Yan Cong Tian sudah keluar dari persemayamannya. Lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini,” kata si manusia tanpa wajah.

“Setelah membunuh habis seluruh murid Bu Tong, dengan sendirinya aku akan meninggalkan tempat ini!” Begitu senangnya hati makhluk tua sehingga dia lupa diri. Juga seperti sudah lupa akan ketakutannya terhadap Yan Cong Tian.

“Urusan kecil jangan diperbesar. Lao cu cung…”

“Omong kosong!” bentak makhluk tua itu sambil terus melangkah ke depan.

Tujuh orang murid Bu Tong kebetulan sedang memeriksa sekitar tempat itu. Mereka juga mendengar suara ledakan. Oelh akrena itu, mereka segera mencari sumber suara dan ingin menyelidiki apa yang terjadi. Begitu melihat kemunculan si makhluk tua, mereka semua terkejut setengah mati.

Makhluk tua itu menghentikan langkah seketika. Sinar matanya menyeramkan, seolah memandang para murid Bu Tong itu seperti makanan yang lezat.

“Makhluk tua!” teriak salah seorang murid Bu Tong tanpa sadar.

Makhluk tua itu tertawa terbahak-bahak. Tubuh dan rantainya mencelat ke udara! Dua orang anak murid Bu Tong segera menghunus pedangnya. Mereka menerjang ke arah makhluk tua. Rantai di tangan makhluk tua itu segera berputar dan membelit pedang kedua murid Bu Tong tersebut. Malang sekali mereka. Tubuh keduanya ikut terangkat dan berputaran satu kali. Kemudian makhluk tua mengerahkan tenaganya dan melemparkan kedua orang itu ke arah sebuah batu gunung yang besar dengan bagian kepala di ujung sana.

Tidak pelak lagi, kedua batok kepala anak murid Bu Tong itu hancur berantakan. Otak mereka berceceran ke mana-mana.

Salah seorang murid lainnya dengan nekat menyerang. Dia menggunakan sebatang golok. Bagi makhluk tua, serangan murid Bu Tong itu seperti mainan anak-anak yang tidak dipandang sebelah mata olehnya. Kepalanya menggeser, tangannya terulur dan mencengkeram dada anak murid Bu Tong tadi. Jantung orang itu remuk seketika terkena remasan tangannya.

Sisa beberapa murid lainnya terkejut sekali. Mata mereka membelalak. Dengan lutut gemetar mereka berusaha melarikan diri.

“Lari kemana kalian?” teriak makhluk tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sekali rantainya menyabet, sekaligus tiga nyawa melayang karena leher mereka terjerat menjadi satu.

Manusia tanpa wajah sadar tak ada gunanya mencegah kemauan si makhluk tua. Dia terpaksa mengiringi dari belakang.

* 8 *

Cahaya api bergerak-gerak di dalam hutan. Yan Cong Tian memimpin pencarian tersebut. Wan Fei Yang bersembunyi di dalam gerombolan semak-semak dapat melihat orang ramai mendatangi. Dia masih belum tahu apa yang harus diperbuatnya.

Sebetulnya sejak tadi dia sudah harus meninggalkan tempat itu. Tapi hatinya penasaran. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan para murid Bu Tong. Sekarang dia sudah melihat dengan jelas. Dan dia baru menyadari bahaya yang tampak di depan mata. Meskipun ilmu silatnya sudah tergolong nomor satu, tapi pengalamannya masih cetek sekali.

Baru saja hatinya memperingatkan bahwa sejenak lagi jejaknya pasti akan ketahuan, tiba-tiba dari gedung utama terdengar lonceng berdentang ebrkali-kali. Lun Wan Ji segera menarik tangan Yan Cong Tian.

“Suhu…. Itu tanda bahaya dari atas gun7ung,” katanya.

“Entah apalagi yang terjadi?” Yan Cong Tian merasa kepalanya hampir pecah.

Seorang murid Bu Tong berlari-lari mendatangi. Wajahnya pucat pasi. “Celaka! Celaka! Puncak gunung kebakaran!” teriaknya panik.

“Bagaimana bisa kebakaran?” Tiba-tiba Yan Cong Tian mendapat firasat yang tidak enak. Pada saat itu dia menjadi bimbang. Mundur salah, maju salah.

Justru pada saat dia ragu dan tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana, seorang murid Bu Tong lainnya lari terbirit-birit memberi laporan.

“Makhluk tua berhasil melarikan diri dari telaga dingin!” teriaknay dengan nafas tersengal-sengal.

“Apa?” Yan Cong Tian bagai disambar kilat.

“Sekarang makhluk tua itu ada di puncak gunung. Dia sibuk membakar dan membunuh anak murid partai kita. Keadaaan kacau balau!” lapor orang itu selanjutnya.

Wajah Yan Cong Tian berubah hebat. Dia meraung murka. Tinjunya menghantam sebatang pohon yang ada di sampingnya dan “Krakkkk” Pohon itu tumbang seketika. Tubuh Yan Cong Tian berkelebat pada saat yang ebrsamaan. Cara menggerakkan tubuhnya lebih mirip orang yang sudah kalap.

Semua murid Bu Tong mengikuti dari belakang. Wajah mereka tegang sekali. Fu Giok Su juga tidak berbeda. Dia sudah berpesan kepada manusia tanpa wajah untuk menyambut kakeknya. Makhluk tua itu sekarang malah mengamuk di Bu Tong san. Bagaimana hatinya tidak cepas?

Wan Fei Yang juga sama cemasnya. Pohon yang tumbang tadi jatuh tepat di sampingnya. Tia tidak berani bergerak, apalagi bersuara. Dia juga tidak ikut menyusul ke puncak gunung. Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus kemana dan apa yang harus dilakukan.

* * *

Asap api naik ke angkasa. Langit menjadi merah kehitaman. Mayat-mayat bergelimpangan. Rantai makhluk tua masih berputaran. Setiap murid Bu Tong yang ada di dekatnya segera menjadi sasaran. Dia mendesak terus tanpa memberi ampun. Dari luar pendopo ke dalamnya. Dari ruangan dalam mendesak ke luar.

“Cep!” Rantainya menembus tulang iga salah seorang murid Bu Tong. Tubuh orang itu seperti gasing berputaran. Darah memercik kemana-mana. Makhluk tua itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Hatinya senang sekali. Sekarang murid Bu Tong yang malang itu malah menjadi senjata bagi si makhluk tua.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar.

“Berhenti!”

Mendengar suara yang memekakkan telinga itu, tubuh makhluk tua bergetar. Perlahan dia membalikkan tubuhnya. Lalu dia melihat Yan Cong Tian. Orang inila yang dulu meringkusnya kemudian mengurungnya dalam telaga dingin selama dua puluh tahun. Tanpa sadar kakinya mundur satu langkah.

Dua pasang amta abgai kilat saling menyambar di tengah udara. Kedua orang itu bagai dua ekor singa marah yang saling ebrhadapan. Fu Giok Su yang berdiri di samping Yan Cong Tian mengedipkan matanya beberapa kali, sebagai isyarat agar si makhluk tua segera meninggalkan temapt ini.

Melihat tingkat laku cucunya, makhluk tua malah maju satu tindak. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. “Tua bangka she Yan, boleh juga kan murid yang aku ajarkan?” katanya.

Kata-kata ini mengandung arti yang dalam. Tapi Yan Cong Thian salah tanggap. Dia mengira Wan Fei Yang lah murid makhluk tua tersebut. Matanya menyorot hawa amarah. “Ambilkan pedang!” teriaknya.

Lun Wan Ji yang berdiri di sisi satunya segera menyodorkan pedangnya kepada Yan Cong Tian. Fu Giok Su semakin tegang. Yan Cong Tian menyambut pedang itu. Tapi dia tidak langsung menyerang. Pada saat itu, tiba-tiba saja dia merasa hawa murninya buyar dan tenaganya hilang sama sekali.

Makhluk tua maju lagi satu tindak. Sepasang tangannya menggenggam rantai yang membelenggunya erat-erat. Dia berdiri menanti, Yan Cong Tian mendelik ke arah makhluk tua. Tangannya sudah basah oleh keringat dingin. Dia tidak berani membayangkan akibatnya apabila makhluk tua ini menyerangnya secara mendadak.

Tidak seorang pun yang meliaht ada sesuatu yang tidak beres pada Yan Cong Tian. Demikian juga si makhluk tua. Kalau tidak sejak tadi dia sudah turun tangan. Dua musuh berhadapan. Mata masing-masing menyorotkan kemarahan. Begitu bencinya si makhluk tua kepada Yan Cong Tian sehingga dia tidak sabar untuk menghancurkan tubuh orang itu hingga berkeping-keping. Tapi begitu mengingat tingginya ilmu yang dimiliki Yan Cong Tian, hatinya tergetar kembali.

Sebetulnya dia masih penasaran. Kakinya maju lagi satu tindak. Perlahan-lahan hawa murni Yan Cong Tian mulai terkumpul kembali dia meraung murka. “Murid murtad!” bentaknya nyaring. Suaranya menggelegar. Angin dan awan pun bergeser. Debu-debu beterbangan.

Makhluk tua itu mengeluarkan suara jeritan keras. Tubuhnya bergulingan di tanah kemudian mencelat dan melesat pergi. Yan Cong Tian tidak mengejar. Tenaganya baru pulih sebagian. Nafasnya tersengal-senga. Dengan langkah lebar dia menuju ruangan pendopo. Darah mengalir di mana-mana. Mayat bergelimpangan. Suara rintihan dari murid yang terluka tidak putus-putusnya memenuhi ruangan. Keadaan di Bu Tong san saat itu benar-benar mengenaskan. Bangku dan meja terbolak-balik. Tidaka da sedikit pun bagian yang utuh. Barang yang mudah pecah berserakan. Kepingan kayu-kayu juga tidak kurang banyaknya.

Yan Cong Tian menarik jenggotnya sendiri. Dia membuang pedangnya ke tanah. Tubuhnya jatuh terduduk di atas lantai.

* * *

Tengah hari belum menjelang. Matahari bersinar dengan terik. Sebuah rumah makan kecil yang terletak di pinggir jalan mulai dipenuhi pengunjung. Sambil makan, mereka berbincang0-bincang. Yang menjadi topik pembicaraan tidak lain adalah kejadian yang dialami Bu Tong san kemarin malam.

Wan Fei Yang menyeret kakinya yang letih melangkah ke dalam rumah makan tersebut. Tidak ada yang memperdulikannya. Para pelayan dan ciang kui jin berkerumun di tengah-tengah roang banyak.

“Kalau tidak salah, menurut keterangan orang-orang, yang mati kurang lebih tiga ratus jiwa.”

Baru saja Wan Fei Yang duduk, telinganya menangkap perkataan ini. Dengan sendirinya langsung menaruh perhatian. Tepat pada saat itu, seorang laki-laki dengan dandanan penarik pedati melangkah ke dalam.

Para tamu terkejut mendengar keterangan itu.

“Tentu makan waktu yang cukup lama untuk membunuh orang sebanyak itu?” tanya seorang pelayan dengan nada heran.

“Tentu lama bagi orang biasa semacam kita. Tapi bagi Wan Fei Yang cukup sepeminuman the saja. Ternyata dia adalah seorang tokoh berilmu tinggi dari bulim.”

Mendengar nama sendiri disebut, Wan Fei Yang terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Kabarnya tinggi tubuh orang itu kurang lebih delapan cun. Pedangnya sepanjang satu depa,” tuaks penarik pedati yang baru masuk tadi.

“Mana ada orang setinggi itu dan pedang sepanjang itu pula?” tanya seorang tamu kurang percaya.

“itu karena pengetahuanmu kurang luas. Justru karena dia menggunakan pedang yang begitu panjang, maka dia hanya memerlukan waktu sebentar untuk membunuh sekian banyak orang. Bayangkan saja, sekali berkelebat, pedangnya langsung membunuh sepurluh orang sekaligus.”

“Kalau diingat kembali, pada tahun yang lalu aku sudah pernah naik ke Bu Tong san untuk menemui Ci Siong totiang dan memperingatkan agar dia berhati-hati terhadap Wan Fei Yang,” tukas seorang laki-laki berusia setengah baya dengan dandanan seorang peramal.

Mata setiap orang beralih pada peramal tersebut. Melihat ceritanya menarik perhatian para tamu, dia segera melanjutkan.

“Sayangnya waktu itu Ci Siong totiang tidak percaya.”

“Apakah kau mengenal Ci Siong to jin?” tanya pelayan tadi.

Peramal itu menganggukkan kepalanya.

“Waktu itu kau naik ke Bu Tong san, apa kau sudah melihat ada yang tidak beres dan akan terjadi sesuatu?” tanya salah seorang tamu.

“Sekali melihat Wan Fei Yang itu, aku sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bagian belakang kepalanya pipih ke dalam, hal ini menandakan bahwa sejak lahir orang ini sudah berbakat mengkhianat.” Peramal itu menarik nafas panjang. “Kemudian aku menasehati Ci Siong totiang. Membiarkan orang seperti dia tinggal di Bu Tong san pasti akan terjadi bencana nantinya. Sekarang semuanya menjadi kenyataan. Apa yang aku ramalkan memang tidak slah.”

Mata setiap orang memandangnya dengan kagum.

“Ada lagi, kedatanganku kali ini ke Bu Tong san adlaah untuk memperingatkan CI Siong to jin kembali. Sayang sekali aku terlambat. Takdir… takdir,” kata peramal itu selanjutnya.

Para hadirin semakin terpesona. Mereka langsung percaya penuh dan memandanya dengan hormat. Sebagian besar dari tamu tersebut malah tidak henti-hentinya mengeluarkan pujian setinggi langit. Ada juga beberapa yang langsung mengeluarkan uang dan meminta peramal tersebut menghitung nasibnya di kemudian hari.

Kalau saja bathin Wan Fei Yang tidak sedang tertekan, tentu dia sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar kisah peramal tersebut. Akhirnya dia memanggil seorang pelayan dan membeli dua buah bakpao. Dia tidak berhasrat duduk lama-lama lagi. Diletakkannya uang di atas meja dan dilangkahkannya kaki keluar rumah makan itu.

Seseorang mengikutinya dari belakang. Dia adalah seorang gadis. Sianya paling banyak enam belas atau tujuh belas tahun. Pakaian berwarna hijau. Wajahnya cantik rupawan. Sejak tadi dia duduk di sudut ruangan rumah makan. Di hadapannya tersedia berbagai macam hidangan, tapi tampaknya dia tidak berselera sama sekali. Dia bahkan tidak menyentuh makanan itu.

Ketika Wan Fei Yang melangkah masuk ke dalam rumah makan, dia sudah menaruh perhatian. Sekarang justru dia terus mengintil di belakang Wan Fei Yang.

* * *

Sampai di dan sebuah kuil tua dan hampir roboh, Wan Fei Yang menghentikan langkah kakinya. Dia tidak masuk ke dalam. Dengan punggung bersandar di tembok, dia duduk di luar kuil itu. Dikelaurkannya bakpao yang dibelinya tadi dan digigitnya satu kali. Pada saat itulah dia merasa ada orang yang mengintainya.

Dia mendongakkan kepalanya, lalu menolehkan kepalanya ke sekitar. Akhirnya dia melihat gadis yang mengenakan pakaian berwarna hijau itu. Gadis itu juga meliaht Wan Fei Yang sedang menengok kepadanya. Tanpa sadar dia memalingkan wajahnya. Wan Fei Yang merenung sejanak. Tidak ada kesan apa-apa di hatinya. Kepalanya tertuntuk kembali dan dia terus memakan bakpaonya perlahan-lahan. Meskipun dia merasa ada yang tidak ebres, namun dia pura-pura tidak menyadarinya.

Gadis itu menoleh kembali kepada Wan Fei Yang. Mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dibatalkannya. Akhirnya dia keluar juga dari temapt persembunyiannya dan berjalan mendekati Wan Fei Yang.

Wan FeiYang pun mendongakkan kepalanya sekali lagi. Gadis itu memperhatikannya sejenak. Dan akhirnya membuka suara. “Bolehkah aku meminta sedikit makananmu?”

Wan Fei Yang tertegun. Gadis yang berdiri di hadapannya ini berpakaian mewah dan cantik rupawan. Sekarang dia meminta bakpaonya. Bagaimana dia tidak menjadi heran? Apa yang diaktakan gadis itu selanjutnya membuat Wan Fei Yang semakin termangu-mangu kebingungan.

“Aku sudah tiga hari tidak makan apa-apa.”

Wan Fei Yang menyodorkan juga bakpaonya yang satu lagi. Gadis berpakaian hijau itu menerimanya dan menggigitnya dengan mulut terbuka lebar. Setengah buah bakpao langsung amblas ke dalam perutnya. Tampaknya dia memang sudah kelaparan.

Wan Fei Yang memperhatikan gadis itu menghabiskan bakpao pemberiannya.

“Apakah kau kabur dari rumah dan kelupaan membawa uang?” tanyanya.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan sebuah pundi-pundi dan membukanya. Di dalamnya ternayta penuh dengan uang emas.

Wan Fei Yang tertawa getir melihatnya. “Ternyata kau malah jauh lebih kaya dari aku,” katanya.

Tapi aku justru tidak bisa membeli makanan sepreti orang lain.”

“Mengapa? Memangnya uang itu palsu?”

Kembali gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Oh… Aku mengerti. Tentunya kau seorang budak belian?”

“Sembarangan!” bentak gadis itu dengan wajah bersungut-sungut.

“Kalau ini tidak, itu tidak, apalagi? Aku sungguh tidak mengerti.”

“Aku berbuat kesalahan kepada seseorang. Oleh karena itu, setiap kali aku makan apa saja, dia selalu mencari akal meracuni makanan itu. Pokoknya sampai aku mati kelaparan,” sahut gadis berpakaian hijau itu dengan suara polos.

“Siapa orangnya yang mempunyai kepandaian sehebat itu?”

“Namanya Ban tok sian ong. Salah satu huhoat dari Bu ti bun.”

“Oh?” Wan Fei Yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Cara menggunakan racun orang ini hampir tidak ada tandingannya lagi. Racun yang dipakainya tidak berbau dan tidak berwarna pula. Membuat orang sulit menghindarinya.”

“Lalu bagaimana kau sampai menyalahinya?”

“Aku menolong dua orang bocah cilik. Seorang bocah laki-laki dan seorang bocah perempuan. Dia menculik kedua bocah itu untuk melatih ilmu “Ci wu li fen sang” (Ilmu memisahkan sukma). Karena aku menolong kedua bocah itu, dia tidak berhasil melatih ilmu sesat tersebut. Dia marah sekali dan bersumpah akan meracuni aku sampai mati dalam batas waktu tujuh hari,” sahut gadis itu menjelaskan.

Akhirnya Wan Fei Yang mengerti juga persoalannya. Dia memandang bakpao yang sudah digigitnya tad, kemudian disodorkannya bakpao itu pada si gadis berpakaian hijau.

“Ini untukmu,” katanya.

Gadis itu memandang Wan Fei Yang dengan pandangan terharu. “Gternyata kau benar-benar percaya pada apa yang kukatakan,”

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya. Dia mencuil bagian yang sudah digigitnya tadi baru menyodorkan kembali bakpao itu kepada sang gadis.

Rupanya gadis itu juga tidak menolak menerimanya dengan pandangan penuh terima kasih. “Padahal dia sendiri juga kerepotan. Sepanjang perjalanan, makanan apa pun yang ingin kubeli, dia selalu harus berada di depan dan menaruh racun di makanan itu.”

“Oleh karena itulah, kau terpaksa menggunakan cara ini.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil mengunyah bakpao tersebut. Memang hanya ini satu-satunya jalan bagiku sekarang.”

“Apakah kau tidak khawatir kalau aku sekomplotan dengannya?” tanya Wan Fei Yang.

“Tidak takut.” Kemudian gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Tampangmu juga tidak mirip,” sahutnya.

“Mirip apa aku ini?” tanya Wan Fei Yang penasaran.

“Mirip orang tua yang baik hati,” kata gadis itu sambil menatap Wan Fei Yang lekat-lekat. Makanya aku tidak khawatir.”

Seorang gadis yang baru berkenalan dengan aku saja sudah demikian percaya kepadaku. Sedangkan para murid Bu Tong ….

Tanpa sadar Wan Fei Yang menarik nafas panjang.

“Kenapa kau?” tanya gadis itu heran.

Wan Fei Yang mengusap wajahnya sendiri. Apakah tampangku benar-benar dapat dipercaya?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya sekali lagi. Dengan aneh dia memperhatikan Wan Fei Yang daria tas kepala sampai ke ujung kaki. “Apakah kau menerima hinaan dari seseorang ?” tanyanya.

Wan Fei Yang tidak menyahut. Dia merenung sekian lama. Tiba-tiba dia bertanya. “Mengapa kau berkelana seorang diri?”

“Bukankah tadi kau mengatakan bahwa aku kabur dari rumah?”

“Sekarang tidak lagi.”

“Aku berkelana kemana-mana untuk mencari tabib yang pandai. Lalu aku belajar sedikit-sedikit dari mereka. Juga cara membuat obat-obatan.”

Sekali lagi Wan Fei Yang tertegun.

“Sejak kecil aku menyukai ilmu ketabiban dan obat-obatan.”

“Apakah orang rumahmu tidak ada yang menentang?”

“Tidak,” Wajah gadis itu berubah murung seketika. “Mereka tidak pernah memperdulikan aku.”

“Buat apa kau belajar cara pengobatan?”

“Aku selalu mengira bahwa apa yang telah kupelajari sudah cukup. Tapi begitu bertemu dengan Ban tok sian ong, aku benar0benar bagai katak dalam tempurung. Jenis racun apa yang dia pakai, aku tidak tahu. Apalagi mengobati diriku sendiri apabila terkena racunnya.”

“Orang yang menggunakan racun untuk melukai orang bukan orang baik-baik.”

“Kalau kau pasti orang baik-baik.”

“Aku?” Wan Fei Yang terpana. “Aku sendiri tidak tahu jenis manusia apa aku ini. Tapi kalau melihat sesuatu yang tidak sepantasnya, aku pasti tidak akan berdiam diri menyaksikannya.”

“Itulah tingkah laku seorang laki-laki sejati,” kata gadis itu.

Wan Fei Yang hanya tertawa getir.

“Kemana tujuanmu?” tanya gadis itu kemudian.

“Tidak tahu.” Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu harus kemana. “Bagaimana denganmu, kouwnio?”

“Berjalan sampai di mana, di sanalah tujuanku.”

“Bagaimana caramu menghadapi Ban tok sian ong itu?”

“Lihat saja perkembangannya nanti.”

“Ini bukan cara yang baik,” kata Wan Fei Yang terus merenung.

“Apakah kau mempunyai gagasan yang lebih baik?”

“Sekarang belum ada,” kata Wan Fei Yang sambil meraba-raba hidungnya. “Aku rasa yang paling penting justru bagaimana kau bisa mendapat makanan tanpa khawatir diracuni olehnya”. Dia merandek sejenak. “Begini saja, beberapa hari ini aku akan menemanimu. Biar aku yang membeli makanan.”

“Tapi kau….”

“Toh aku tidak ada pekerjaan apa-apa.” Wan Fei Yang memasukkan bakpao yang dicuilnya tadi ke dalam mulut. “Kau sudah tiga ahri tidak makan. Satu setengah bakpao mana cukup. Kita beli beberapa buah bakpao lagi baru melanjutkan perjalanan.”

“Baik.” Gadis itu mengedarkan pandangannya. “Tidak bisa, kalau Ban tok sian ong tahu dia akan marah sekali kepadamu,” katanya kemudian.

“Jangan urus yang lainnya.” Wan Fei Yang berjalan beberapa langkah. Kemudian dia berhenti lagi. “Aku jalan dulu di muka, kau menyusul dari belakang. Jangan sampai dia mendahului dan menaruh racun di dalam bakpao yang akan kita beli.”

Setelah berpesan beberapa aptah kata itu, dia baru meneruskan langkahnya.

“Ternyata orang ini sanagt teliti juga,” pikir gadis itu dalam hati. Dia tertawa terkekeh-kekeh sendirian.

Tidak jauh darinya, dalam gerombolan pohon-pohon yang lebat juga ada seseorang yang sedang tertawa dingin. Orang itu sudah akan tua. Jenggotnya sudah putrih semua. Pakaiannya kusu, persis seperti seekor ular kembang. Wajahnya pucat tanpa rona. Juga tidak berbeda dengan daging ular. Pucatnya demikian menyeramkan. Suara tertawanya belum sirap, orangnya sudah menghilang.

* * *

Bakpao yang dijual tidak berbeda dengan bakpao yang tadi. Dilihat dari sudut manapun tidak tampak mencurigakan. Wan Fei Yang membeli sepuluh butir. Selain itu dia juga membeli seteko the. Dengan hati gembira dia berjalan ke depan. Meskipun dia baru ebrkenalan dengan gadis itu, tapi tampaknya sudah ada kecocokan di antara mereka. Dia dapat melihat bahwa gadis itu bukan orang jahat. Dapat membantunya saja, hati Wan Fei Yang sudah bangga.

Gadis itu menunggu di bawah sebatang pohon yang jaraknya tidak begitu jauh. Di sampingnya ada sebuah batu besar berbentuk persegi. Wan Fei Yang meletakkan bakpao-bakpao itu di atas batu besar tersebut.

Gadis itu memperhatikan bakpao di atas batu dengan seksama.

“Kouwnio jangan malu-malu,” kata Wan Fei Yang.

“Aku justru merasa ada sesuatu yang tidak benar.”

“Apa?” tanya Wan Fei Yang sambil mengedarkan pandangannya.

“Tidak mungkin Ban tok sian ong demikian baik hati membiarkan kita memakan bakpao ini,” sahut gadis itu.

Wan Fei Yang mengambil sebutir bakpao dan ditatapnya dengan teliti.

“Aku rasa bakpao ini tidak mungkin beracun,” katanya sambil bermaksud memasukkannya ke mulut.

Gadis itu mengulurkan tangannya mencegah.

“Tunggu dulu,” Dari bungkusannya yang tersandang di bahu, dia mengeluarkan sebuah kotak. Kemudian dia membukanya dan ternayta di dalamnya terdapat berbagai macam jarum dengan ukuran besar kecil. Gadis itu mengambil sebatang jarum lalu menusukkannya ke dalam bakpao.

Ketika jarum dicabut kembali, warnanya sudah berubah menjadi ungu kehitaman. Wan Fei Yang terkejut setengah mati meliahtnya. Gadis itu malah hanya tertawa getir.

“Ban tok sian ong ini benar-benar keji!” kata Wan Fei Yang kesal. Dia edarkan pandangannya. Di balik pepohonan yang lebat tampaknya ada yang yang melintas. Gadis itu tidak merasakannya, dia mengangkat teko berisi the yang dibeli Wan Fei Yang dan dituangkannya ke atas tanah.

“Wesss!” Terdengar suara gemerisik, segumpal asap mengepul berwarna kehijauan dari the yang dituangkannya tadi. Rumput-rumput yang tumbuh liar di atas tanah itu layu seketika.

“Tampaknya racun yang terdapat dalam the lebih keji lagi,” kata Wan Fei Yang sambil mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya. “Untung saja aku tidak meminum seteguk.”

“Akulah yang tidak baik. Membawa kesulitan bagimu,” sahut gadis itu dengan wajah sendu.

“Tidak apa-apa.” Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. “Justru kau yang sudah kelaparan tiga ahri. Kalau begini terus, biar tidak mati keracunan juga bisamati kelaparan.

Mereka berdiam diri sekian lama.

“Kita harus menemukan akal untuk menghadapinya.” Kepala Wan Fei Yang seakan berubah menjadi dua karena pusing memikirkan persoalan ini.

Tidak diragukan lagi bahwa Wan Fei Yang seorang anak muda yang cerdas, tapi justru pengalamannya di dunia kangouw patut dikasihani. Sedangkan pengalaman gadis itu juga sama kurangnya. Orang seperti mereka berdua terancam racun Ban tok sian ong, apa tidak lebih banyak kemungkinan matinya dariapda hidupnya? Tapi toh mereka masih hidup segar bugar.

* * *

Tiga ahri sudah berlalu, Wan Fei Yang dan gadis itu paling tidak sudah mondar-mandir tiga belas kali di ambing pintu neraka. Hampir saja kaki mereka melangkah ke dalamnya. Racun muncul di mana-mana. Di makanan mereka, minuman mareka. Seperti tertiup angin dan menempel begitu saja.

Baik dalam perjalanan maupun penginapan, tidaka da satu pu8n tempat yang aman. Wan Fei Yang dan gadis itu tidak diberikan sedikit pun kesempatan untuk menenangkan diri. Namun mereka toh bisa menghindari satu demi satu ancaman yang datang.

Sampai pada batas hari terakhir, kedua orang itu sudah kehausan dankelapan setengah mati. Dengan kepala tertunduk dan tubuh lemas, mereka menyeret kakinya ke aldang perkebunan. Ban tok sian ong belum muncul. Semangat mereka hampir padam. Tepat pada saat itu, Wan Fei Yang melihat seekor ayam betina lewat di depannya. Juga dalam waktu yang ebrsamaan, entah ingatan apa yang terlintas dalam otaknya, tiba-tiba dia bersorak gembira.

Gadis itu sampai terkejut melihat keadaannya. “Ada apa?” tanyanya panik.

Wan Fei Yang tidak menjelaskan.

“Kau tunggu saja di sini.” Dia hanya berpeswan demikian lalu berjalan dengan langkah lebar.

Gadis itu tidak dapat menduga jalan pikiran Wan Fei Yang. Demikian pula Ban tok sian ong. Ternyata sekejap saja Wan Fei Yang sudah kembali lagi. Tangannya meraup berpuluh-puluh butir telur, senyumnya persis seekor ayam betina yang mendapatkan makanan bagi anaknya.

“Ini semua telur segar. Aku tidak percaya kalau Ban tok sian ong sanggup memasukkan racun ke dalam telur ayam ini,” kata Wan Fei Yang.

“Aku juga tidak percaya,” sahut si gadis sambil tersenyum manis.

Wan Fei Yang meletakkan telur-telur itu di atas tanah. Mereka melahapnya dengan nikmat. Daripada perut tidak terisi, telur mentahpun jadilah. Sambil makan, mereka tertawa terus. Seakan-akan saat itu adalah saat yang paling bahagia dalam hidup mereka. Kenyataannya mereka memang sudah terlalu lapar.

Tiba-tiba….

“Nessss!!!” Segumpal asap merah memenuhi sekitar mereka. Untung saja mata Wan Fei Yang sangat awas, tangannya juga sangat cekatan. Dia menarik gadis itu dan mencelat sejauh satu depa.

Asap merah perlahan membuyar. Orang yang berjenggot putih, berpakaian kembang-kembang dan berwajah pucat muncul di hadapan mereka.

“Ban tok sian ong!” seru gadis itu tanpa sadar.

“Budak perempuan…” Ban tok sian ong tertawa terkekeh-kekeh. Suaranya menyeramkan sekali. Panjang sekali umurmu….” Katanya.

Gadis itu menenangkan perasaannya. “Aku harus mengucapkan terima kasih atas kemruahan hari kau orangtua,” sahutnya.

Wajah Ban tok sian ong berubah keunguan seketika.

“Oh…” Mulut Wan Fei Yang sampai panjang mengucapkan sepatah kata ‘oh’ saja. “Rupanya kau yang bernama Ban tok sian ong. Tampangmu saja sudah seperti seekor ular. Kalau tidak berbisa, rasanya orang juga tidak akan percaya.”

Mata Ban tok sian ong beralih kepada Wan Fei Yang. Sinar kebencian memenuhi wajahnya. “Bocah bagus! Nyalimu sungguh besar. Urusan Lohu pun kau berani ikut campur.”

Wan Fei Yang tertawa lebar. “Sekarang adalah hari ketujuh. Ternyata kau tidak sanggup meracuni kouwnio ini. Seharusnya kau lepas tangan saat ini juga,” katanya.

“Hari ketujuh, ini baru permulaan,” sahut Ban tok sian ong sambil menyeringai menakutkan.

“Selama tujuh hari, enam hari sebelumnya kau roang tua tidak pernah menampakkan diri…”

“Lohu senang kapan menampakkan diri adalah urusan lohu sendiri!”

“Apakah kau orang tua tiba-tiba punya niat turun tangan sendiri?”

Ban tok sian ong hanya tersenyum-senyum. Tiba-tiba tubuhnya bergerak. Sepasang telapak tangannya menghantam ke arah Wan Fei Yang. Serangannya juga sama keji seperti orangnya sendiri.

Wan Fei Yang menggerakkan kakinya sesuai ilmu langkah ajaib yang pernah diturunkan manusia berpakaian hitam alias Ci Siong to jin. Dia menghindar dari tiga serangan Ban tok sian ong. Baru saja tubuhnya berkelit menghindar, serangan yang lain sudah menyusul tiba. Wan Fei Yang tahu siapa yang dihadapinya. Orang yang dapat menduduki jabatan hu hoat sebuah perguruan seperti Bu ti bun tentu tidak dapat dipandang ringan ilmunya. Kepalanya menggeser, telapak tangan Ban tok sian ong meluncur lewat sisi lehernya dan menghantam sebatang pohon.

“Blam!” Terdengar suara menggelegar. Hati Wan Fei Yang masih tergetar ketika sebuah suara yang tidak kalah keras lainnya terdengar kembali.

“Prakkk!” Asap putih mengepul. Sebuah telapak tertera di batang pohon dan pohon itu langsung tumbang dan menjadi kering. Tampaknya Ban tok sian ong memang pantas disebut Raja racun. Seluruh tubuhnya juga penuh dengan racun yang keji.

Gadis itu terkejut sekali. Dia segera maju ke depan. Sehelai sapu tangan berwarna merah jambu dikibaskan ke arah Ban tok sian ong. Manusia beracun itu hanya tertawa dingin. Kepalanya dimiringkan untuk menghindar. Dan dalam waktu yang bersamaan, tangannya terangkat. Beberapa batang jarum beracun dilemparkan kepada gadis itu.

“Cret! Sret! Sret!” Jarum beracun itu tertusuk dalam sebutir telur ayam. Tangan kanan Wan Fei Yang yagn menyambutnya. Di saat itu juga tangan kanannya yang menggenggam sebutir telur ayam yang lain dilemparkan ke arah Ban tok sian ong.

“Plok!” Telur itu tepat menemplok di dahi Ban tok sian ong dan pecah mengotori pakaiannya.

“Kouwnio, minggir!” seru Wan Fei Yang sambil mengibaskan tangannya.

Pada saat itu, sang gadis baru menyadari bahwa ilmu silat Wan Fei Yang ternyata jauh lebih tinggi dariapdanya. Seandainya dia tidak minggir, bukan saja tidak dapat memberikan bantuan apa-apa, tapi malah membuat gerakan Wan Fei Yang tidak leluasa. Dia segera bergeser ke tepi dan menyimpan kembali sapu tangannya.

“Jangan khawatir, telur ayamku itu tidak ada racunnya,” sindir Wan Fei Yang.

An tok sian ong bukan saja terkejut. Dia juga marah sekali. Terang-terangan dia melihat telur ayam tadi meluncur ke arahnya namun dia tetap tidak sempat menghindar. Kecepatan tangan dalam meluncurkan senjata rahasia seperti bukan belum pernah ditemuinya. Namun bagaimanapun dia tidak pernah berpikir bahwa ilmu setinggi itu sudah dikuasai bocah ingusan seperti Wan Fei Yang.

Kenyataannya, Wan Fei Yang yang menggunakan telur ayam sebagai senjata rahasia benar-benar di luar dugaannya. Dengan menggunakan sebutir telur saha kecepatannya sudah luar biasa, apalagi menggunakan senjata rahasia lainnya, misalnya pisau terbang, tentu Ban tok sian ong sudah terkapar di tanah. Mengingat hal ini, Ban tok sian ong menjadi termangu-mangu.

“Eh! Apakah kau kesakitan?” tanya Wan Fei Yang sekali lagi.

Ban tok sian ong semakin marah. Dia meraung keras. Tangan kiirinya mengeluarkan segenggam jarum beracun, tangan kanannya menggenggam sebutir obat yang apabiloa dilemparkan mengeluarkan asap beracun. Dengan sekali ayun, kedua tangannya melemparkan racun dan jarum tersebut ke arah Wan Fei Yang.

Tubuh Wan Fei Yang segera mencelat ke tengah udara. Ban tok sian ong menggerakaan pinggangnya dan sekumpulan jarum beracun meluncur lagi ke arah si anak muda. Dia mengira tubuh Wan Fei Yang masih melayang di tengah udara, pasti tidak sempat menghindar. Tapi apa yang dilihatnya benar-benar mengejutkan. Tubuh Wan Fei Yang yang sudah hampir mencapai tanah, tiba-tiba bisa melesat lagi ke udara. Itulah keistimewaan “Te hun cong” dari Bu Tong pai.

Ban tok sian ong semakin terkejut. Telapak tangannya segera dikembangkan. Dalam waktu sekejap, tiba-tiba saja tangannya berubah menjadi hitam seperti arang. Dari suaranya yang menderu-deru saja, Wan Fei Yang sudah dapat membayangkan kehebatan hantaman telapak itu.

“Hati-hati telapak beracunnya!” teriak si gadis memperingatkan.

Baru saja kata-katanya selesai diucapkan, tubuh Wan Fei Yang sudah melayang melewati kepala Ban tok sian ong. Dalam detik yang menegangkan itu, ternyata dia berhasil menghindari serangan telapak beracun Ban tok sian ong. Manusia beracun tidak lambat juga, tubuhnya membalik. Telapak tangannya mengarah ke punggung Wan Fei Yang. Dia cepat, tapi Wan Fei Yang lebih cepat lagi.

Kembali tubuhnya berjungkir balik di udara dan mendarat di belakang Ban tok sian ong. Pada saat itu juga, telapak tangannya dikerahkan dan dihantamkan ke punggung manusia beracun tersebut.

Tubuh Ban tok sian ong yang terhantam pukulan ini langsung mencelat sejauh setengah depa. Tentu saja telapak tangan beracunnya juga tidak mengenai sasaran. Hantaman telapak tangan Wan Fei Yang tadi tidak terlalu keras, tapi sudah sanggup menggetarkan onderdil dalam tubuh Ban tok sian ong.

Manusia ebracun itu terkejut setengah mati. Ilmunya tentang racun memagn sudah terkenal. Ilmu silatnya malah biasa-biasa saja. Namun pengalamannya dalam dunia kangouw luas sekali. Dari beberapa gebrakan tadi saja dia sudah menyadari siapa dirinya bukan tandingan Wan Fei Yang.

Pikirannya tergerak. Sepasang tangannya telah menyiapkan jarum beracun dan asap beracun. Tubuhnya mencelat mundur beberapa langkah. Wan Fei Yang sudah dapat membaca maksud hatinya. Sekali lagi dia mengerahkan jurus “te hu cong”. Kakinya dihentakkan dan berjungkir balik dua kali. Dia menghadang jalan pergi Ban tok sian ong. Saati itu juga telapak tangannya meluncur ke depan menyerang manusia beracun itu.

Pergelangan tangan ban tok sian ong memuta. Tangan kanannya sudah menggenggam sebilah pisau kecil. Pisau itu memancarkan cahaya kebiruan. Sudah diapstikan bahwa pisau itu pun telah dilumuri racun yang jahat.

Tubuh Wan Fei Yangt berkelebat. Gayanya seperti seekor kupu-kupu beterbangan di udara. Sekaligus dia menghidnari beberapa tikaman pisau kecil ban tok sian ong. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan telapaknya secepat kilat menghantam dada manusia beracun itu.

Ban tok sian ong sedang memusatkan perhatiannya untuk menikam Wan Fei Yang. Dia sama sekali tidak menyangka anak mudaitu akan berjungkir balik dan menghantam dadanya. Oleh karena itulah, dia tidak sempat menghindar dan tubuhnya mencelat sejauh dua depa.

Urat nadinya tidak tergetar putus, namun isi perutnya sudah hancur terpukul hantaman Wan Fei Yang. Salah satu dari ilmu Bu Tong liok koat yakni Pik lek ciang memang bukan sembarang ilmu.

Setelah hantaman tangannya berhasil melukai musuh, Wan Fei Yang malah berdiri tertegun. Sampai saat ini, dia baru membayangkan kehebatan tenaga Pik lek ciang yang dikerahkannya.

Langkah kaki ban tok sian ong terhuyung-huyung. Kemudian, segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya jatuh terduduk di atas tanah. Wajahnya yang pucat perlahan berubah menjadi merah. Sedemikian merahnya sehingga tampak menyeramkan. Matanya mandelik ke arah Wan Fei Yang. Bibirnya bergetar. Seakan-akan ada sesuatu yang ingin diucapkannya. Tapi belum lagi dia sempat bersuara, nafasnya telah putus.

Wan Fei yang yang melihat tubuh Ban tok sian ong terkulai di atas tanah, tubuhnya menggigil. Dia menatap sepasang tangannya dengan terkesima. Selama hidupnya, baru pertama kali inilah dia membunuh orang.

Gadis berpakaian hijau segera menghampirinya. “Apakah kau terluka?” tanyanya khawatir.

“Tidak,” sahut Wan Fei Yang dengan nada bergetar. Sekali lagi dia menatap sepasang telapak tangannya.

“Apa yang terjadi dengan tanganmu!” tanya gadis itu. Tanpa sadar dia menarik tangan Wan Fei Yang dan memperhatikannya dengan seksama.

Wan Fei Yang tertawa getir. “Aku sama sekali tidak menyangka telapak tanganku ini dapat mengerahkan tenaga sehebat itu,” sahutnya.

“Ilmu silatmu tinggi sekali.” Mata gadis itu mengerling sekilas. “Ban tok sian ong adalah salah satu dari keempat hu hoat Bu ti bun. Tidak tersangka dia masih bukan tandinganmu.”

“Apakah orang ini jahat sekali?” tanya Wan Fei Yang tiba-tiba.

“Apakah kau takut salah membunuh orang baik-baik?”

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya dengan tersipu-sipu. “Orang baik pasti tak akan menggunakan racun mencelakai sesamanya. Tapi, kalau dia belum terlalu jahat, aku juga tidak bermaksud membunuhnya.”

Mata adis itu memandang tubuh Ban tok sian ong sekilas. “Dia….”

“Sudah mati.” Wan Fei Yang tertawa lebar. “Mungkin dia memang sudah ditakdirkan harus matu, maka tanpa sadar aku mengerahkan sepuluh bagian tenaga ketika menghantamnya.”

Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dia tersadar bahwa sejak tadi dia masih memegangi Wan Fei Yang. Cepat-cepat dia melepaskannya. Wajahnya merah padam.

Wan Fei Yang tidak memperhatikan. Dia masih tersenyum.

“Sekarang kita boleh mencari rumah makan dan menikmati berbagai hidangan sepuas-puasnya.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tampaknya dia gembira sekali.

* * *

Senja hari, Wan Fei Yang dan gadis berpakaian hijau itu keluar dari sebuah rumah makan. Kali ini mereka memang makan sekenyang-kenyangnya. Namun biar bagaimanapun, waktu makan pasti ada akhirnya. Perut mereka juga tidak mungkin menerima makanan terus menerus.

Oleh karena itu, ketika mereka melangkah di sebuah jalan kecil, wajah gadis itu agak sendu. Dia berdiam diri. Wan Fei Yang juga tidak berkata apa-apa. Kedua orang itu melangkah dengan mulut membisu. Sampai di sebuah persimpangan, langkah keduanya terhenti sejenak.

Setelah saling lirik sekilas, gadis itu membuka suara. “Apakah kau benar-benar hendak pergi?”

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

“Di mana rumahmu?” tanya gadis itu kembali.

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyahut.

“Aku tidak boleh tahu?” Wajah gadis itu semakin sendu.

“Bukan.” Wan Fei Yang tertawa getir. “Aku tidak punya rumah,” katanya.

“Kalau begitu, kemana tujuanmu sekarang?” tanya gadis itu penuh perhatian.

“Aku masih belum tahu.”

“Kelak apabila kita ingin bertemu lagi…”

“Kalau memang ada jodoh, suatu hari kita pasti akan bertemu lagi,” sahut Wan Fei Yang.

“Oh ya… kau belum memberi tahu siapa namamu.”

“Kita hanya betemus ecara kebetulan, buat apa menanyakan nama segala.”

“Tapi budi pertolonganmu…”

“Jangan disimpan di hati. Aku pergi…” sahut Wan Fei Yang sambil menggerakkan kakinya melangkah.

Gadis itu bermaksud memanggil, namun tidak jadi. Lagipula dia tidak tahu harus menyebut apa pada Wan Fei Yang. Namanya saja dia tidaktahu. Matanya memandangi kepergian Wan Fei Yang. Air matanya menetes.

Wan Fei Yang juga tidak menolehkan kepalanya. Kakinya terus melangkah ke depan. Di bawah cahaya matahari, terlihat betapa sunyinya hidup anak muda itu.

* * *

Di bawah cahaya matahari, Yan Cong Tian masih berdiri di atas batu berbentuk persegi. Rambutnya beriap-riap tertiup angin. Hatinya masih tertekan. Berbagai kejadian yang menimpa Bu Tong san menggelayuti bathinnya. Tampangnya tiba-tiba saja menjadi lebih tua sepuluh tahun.

Memandang pemandangan gedung-gedung Bu Tong san, hati Yan Cong Tian semakin terharu. Matahari mulai tengelam, malam mulai menjelang. Lun Wan Ji sejak tadi menemani di sampingnya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya murung sekali. Seakan banyak pikiran yang menggelayuti hatinya.

Entah berapa lama telah berlalu, akhirnya Yan Cong Tian menarik nafas panjang. “Wan Ji, apakah masih ada akta-kata yang ingin kau ucapkan?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa yang ingin kukatakan, telah aku keluarkan semuanya.” Lun Wan Ji mendongakkan kepalanya. Air matanya mengalir deras. “Suhu, ini untuk pertama kalinya Wan Ji memohon.

“Kau ingin aku mencegah Fu Giok Su mensucikan diri dan melepaskan jabatan Ciang bun jin?” tanya Yan Cong Tian garang.

Lun Wan Ji mengangguk kecil.

“Suhu sama sekali tidak memaksa Giok Su. Sebelum susiokmu Ci Siong to jin meninggal, Giok Su sudah menyatakan isi hatinya. Demi Bu Tong pai, dia bersedia mengorbankan segalanya.”

“Dia….”

“Anak ini berbudi luhur. Kalau kau memang benar-benar mencintainya, kau malah harus mewujudkan cita-citanya.”

Lun Wan Ji menggelengkan kepalanya. “Bukan hanya masalah membatalkan pernikahan saja. Seluruh keluarga Fu terbunuh oleh Bu ti bun. Yang tersisa hanya Giok Su seorang. Kalau dia mensucikan diri, bukankah keturunan keluarga Fu akan terputus sampai di sini saja?”

Yan Cong Tian tertegun seketika.

“Seandainya Suhu tidak berpikir demi Wan Ji, Suhu juga harus berpikir demi keluarga Fu.” Kata Wan Ji selanjutnya. “Seandainya Giok Su benar-benar mensucikan diri dan menjadi pendeta, Wan Ji pun tidak akan menikah seumur hidup.”

Yan Cong Tian menatap Wan Ji lekat-lekat. Dia menarik nafas panjang kembali.

“Biar suhu pertimbangkan kembali masalah ini,” katanya.

Lun Wan Ji mengangkat tangannya dan mengusap air matanya perlahan. Dia mengundurkan diri dari tempat itu.

* * *

Pagi-pagi sekali. Lonceng di Bu Tong berdentang nyaring.

Para murid Bu Tong pai berkumpul di ruangan pendopo dan menanti Yan Cong Tian mengumumkan siapa yang akan menjadi Ciang bun jin generasi mendatang dan sekaligus meresmikannya.

Lonceng berbunyi kurang lebih setengah pembakaran dupa. Tiba-tiba seseorang berlari keluar dari dalam ruangan pendopo. Dia adalah Lun Wan Ji.

Air matanya berlinang bagai serenceng mutiara berjatuhan, lalu pecah berurai di tanah. Hatinya juga hancur berkeping-keping.

* * *

Suara lonceng sudah lama berhenti. Air mata belum kering juga.

Wajah Lun Wan Ji menghadap ke kolam. Dia duduk sendiri di sebuah batu yang terletak di samping kolam itu. Kelopak matanya sama sekali tidak bergera, seperti sebuah patung yang tidak bernyawa.

Meskipun matanya terbuka, tapi sebetulnya tidak ada sesuatupun yang masuk dalam pandangannya. Perasaannya sudah kebal. Jantungnya seakan berhenti berdeta. Suara langkah kaki terdengar dari belakang tubuhnya. Tapi dia tidak merasa. Sampai Fu Giok Su berdiri di sampingnya, dia juga masih belum sadar. Tangan Fu Giok Su menyentuh bahunya dengan lembut. Lun Wan Ji masih tidak bergerak juga.

“Wan Ji….” Suara Fu Giok Su bergetar.

Perlahan Lun Wan Ji menolehkan kepalanya. Dia memandang Giok Su. Tapi sinar matanya seakan melihat seorang asing. Tetap tidak bersuara sama sekali.

“”Wan Ji….” Giok Su menarik nafas panjang.

“Ciang bun suheng!” Akhirnya Wan Ji membuka mulut. Suaranya datar dan kaku. Seakan menyapa seorang yang baru dikenalnya.

“Antara laki-laki dan perempuan ada batasnya, harap kau mengerti sendiri,” kata gadis itu selanjutnya.

Giok Su tertegun. Tangannya tidak ditarik kembali. Wan Ji mendorong tangan itu. Malah jari tangannya digenggam oleh Fu Giok SU.

“Wan Ji…. Kau akan menyalahkan aku?” katanya pilu.

Wan Ji tidak dapat menahan dirinya. Air matanya mengalir semakin deras.

Giok Su menarik nafas sekali lagi.

“Aku menerima jabatan Ciang bun jin adalah demi Bu tong pai sendiri. Demi kepentingan umum.”

“Lalu bagaimana tanggung jawabmu terhadap diriku?” Wan Ji menangis terisak-isak. “Kau pernah mengatakan…”

“Apa yang pernah aku katakan, semuanya kusimpan baik-baik dalam hati.” Fu Giok Su menggenggam tangan Wan Ji erat-erat. “Tapi, bagaimana aku dapat melihat Bu tong pai yang telah berdiri selama ratusan tahun hancur begitu saja?”

“Murid Bu tong pai kan bukan hanya engkau seorang.”

“Namun musuh kuat sudah di depan mata, batas perjanjian tidak lama lagi sampai. Toa suheng Pek Ciok yang ilmunya paling tinggi sudah tiada. Demikian juga Ji suheng Cia Peng. Yang tersisa hanya aku seorang.”

Wan Ji mau tidak mau harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Fu Giok Su memang kenyataan.

“Aku memang bersalah kepadamu.” Fu Giok Su kembali menarik nafas panjang. “Kalau tidak begini saja, aku akan mengajak kau melarikan diri. Kita cari sebuah tempat yang teprencil dan tidak mencampuri urusan duniawi lagi untuk selamanya.”

Mendengar kata-katanya, tubuh Wan Ji bergetar seketika. Dia mendongakkan wajahnya.

“Bagaimana pendapatmu?” tanya Fu Giok Su dengan penuh semangat. Sama sekali tidak kentara kalau dia sedang berdusta.

Lun Wan Ji memandang Fu Giok Su dengan termangu-mangu. Setelah sekian lama, dia menggelengkan kepalanya. “Tida. Kalau kau pergi, bagaimana dengan Bu tong pai?”

Perasaan Fu Giok Su menjadi tenang seketika. “Kalau begitu, tolong katakan. Apa yang harus aku lakukan?”

“Terpaksa mengikuti keadaan sekarang saja,” sahut Lun Wan Ji dengan wajah sendu.

“Bagaimana dengan engkau?” Pelupuk Fu Giok Su mengembang air mata.

“Aku hanya dapat menyalahkan nasibku yang buruk,” Lun Wan Ji menangis terisak-isak. Dia menelusupkan kepalanya ke dalam dada Fu Giok SU.

Air mata membasahi pakaian anak muda itu.

* * *

Tiga hari kemudian, Fu Giok Su menerima serah jabatan. Dia mengenakan pakaian berwarna putih. Para murid Bu tong pai berlutut di hadapannya. Dia berjalan menuju kamar penyucian diri.

“Antar Ciang bun jin menuju kamar penyucian!” Suara Yan Cong Tian bergema berwibawa.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: