Kumpulan Cerita Silat

18/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (11)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:15 am

Ilmu Ulat Sutera (11)
Oleh Huang Ying

“Sam wi suheng ada masuk ke dalam kamar saat itu,” sahut Fu Giok Su buru-buru.

“Sayang sekali asap memenuhi kamar. Kami takut kesalahan tangan dan melukai Fu sute, terpaksa kami berhati-hati,” kata Kim Ciok.

“Dari mana datangnya asap itu?” tanya Ci Siong Tojin.

“Serangannya yang pertama kali gagal. Orang itu segera mengeluarkan beberapa butir benda berwarna hitam dan melemparkannya ke tanah. Pada saat itu juga asap tebal memenuhi ruangan,” sahut Fu Giok Su menerangkan.

“Kemudian?”

“Orang itu mengeluarkan tujuh macam senjata rahasia. Dilemparkannya kepada Teecu lalu melesat pergi melalui atap genting.”

“Tujuh macam senjata rahasia?”

“Tidak diragukan lagi, ilmu senjata rahasia Bu Tong Pai pula yang digunakannya.” Keringat dingin membasahi Fu Giok Su. “Tetapi… tetapi…”

“Tetapi apa?”

“Senjata rahasia itu dibubuhi racun!” seru Fu Giok Su. Tubuhnya menggeliat satu kali, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.

Ci Siong Tojin terkejut. Dia membuka pakaian Fu Giok Su. Bahu anak muda itu masih mengalirkan darah. Warnanya sudah berubah kehitaman. Ci Siong Tojin cepat-cepat membuka kain pembungkus luka Fu Giok Su. Selain luka di bahu, bintik-bintik kecil bekas senjata rahasia pada lengannya sudah membengkak. Warnanya malah kehijauan.

Kim Ciok melongok sekilas. Wajahnya berubah hebat.

“Warnanya tidak demikian ketika kami membungkus lukanya.”

Alis Ci Siong Tojin bertaut erat.

“Racun yang dibubuhkan di atas senjata rahasia itu sungguh hebat sekali,” gumamnya lirih.

Lun Wan Ji panik sekali.

“Susiok, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya gugup.

“Kami sama sekali tidak mengerti tentang racun. Satu-satunya jalan hanya dapat mengerahkan lweekang dan mendesak keluar racun tersebut,” sahut Ci Siong Tojin.

“Aku saja….”.

“Lweekangmu belum memadai,” kata Ci Siong Tojin sambil menggelengkan kepalanya.

“Susiok…”

“Luka dalamku belum sembuh. Meskipun aku berniat menolong juga tidak bisa.” Ci Siong Tojin tertawa getir.

Lun Wan Ji terpaku di tempat. Air matanya mengalir dengan deras. “Suhu, kalau begitu Fu sute kemungkinkan tidak tertolong lagi?” kata Kim Ciok tanpa sadar.

Ci Siong Tojin segera mengambil keputusan. “Bawa dia ke belakang gunung tempat Yan supek,” katanya.

Bibir Lun Wan Ji segera mengembangkan senyuman. “Mengapa aku melupakan suhu?” katanya kepada diri sendiri.

Hati Ci Siong Tojin semakin tertekan melihat keadaan gadis itu. Kim Ciok dan Giok Ciok segera memapah Fu Giok Su keluar dari kemar. Tentu saja Lun Wan Ji tidak mau ketinggalan.

Ci Siong Tojin tidak mengikuti mereka. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar Pek Ciok, Gi Song dan Cang Song memeriksa seluruh kamar tersebut. Cang Song yang bertugas sebagai kepala penjaga dan keamanan Bu Tong masih merasa penasaran. Dia terus menggerutu panjang lebar.

“Tidak mungkin orang itu bisa lolos dari pengawasanku. Aku sudah menyuruh berpuluh-puluh orang menjaga dengan ketat.”

Gi Song tertawa dingin. “Tapi kenyataannya sekarang terpapar di depan mata,” sindirnya tajam.

“Kalau begitu ginkangnya pasti seperti orang yang bisa menguap di udara.”

Tapi dia tidak berani menerobos keluar kamar. Hal ini membuktikan bahwa pembunuh itu menyadari bahwa dirinya masih bukan tandingan keempat orang murid Ciang bun suheng.”

Ci Siong Tojin seperti tidak mendengar. Dia terus mondar-mandir saja. Seorang murid Bu Tong menghampiri.

“Suhu, para murid di kaki gunung membawa berita. Mereka tidak menemukan sedikit jejak pun,” lapornya.

“Suruh mereka mengawasi lebih ketat lagi. Jangan memencarkan perhatian,” perintah Ci Siong tojin.

Murid itu mengundurkan diri. Yo Hong menyusul masuk ke dalam kamar untuk menyampaikan laporan.

“Setelah peristiwa itu terjadi, para murid yang ada di luar tidak ada seorang pun yang melihat ada orang meninggalkan tempat ini.”

“Hm…” Ci Siong to jin menjawab datar.

Tiba-tiba Cang Song menunjuk ke langit-langit yang pecah. “Di atap genting itu ada bekas darah,” katanya.

Ci Siong segera keluar. Ternyata di pinggir batang kayu yang mana gentingnya pecah ada beberapa titik noda darah.

“Itulah buktinya FU Giok Su belum berpengalaman dalam menghadapi musuh,” tukas Gi song.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Cang song.

“Sebetulnya dia sudah berhasil melukai musuh. Kalau tidak, mana mungkin kayu itu terdapat noda darah,” sahut Gi song bangga.

Hati Ci Siong to jin tergerak mendengar ucapan itu.

“Kemungkinan asap sangat tebal waktu itu sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas,” sahut Cang song.

Suatu ingatan melintas di benak Ci Siong to jin. Dia memalingkan wajahnya kepada Yo Hong dan bertanya.

“Sebelum kejadian itu, apakah kalian mendengar sesuatu?” tanyanya.

“Fu sute seperti mendengar ada orang yang berjalan di atas genting. Kami semua tidak merasa apa-apa. Malah kami sempat bergurau dan mengatakan bahwa kemungkinan hanya seekor kucing,” sahut Yo Hong.

“Oh?” wajah Ci Siong to jin semakin muram.

“Pembunuh itu bukan hanya memiliki ginkang yang tinggi, tapi dia juga sangat teliti,” kata Cang song tiba-tiba.

“Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu?” tanya Ci Siong to jin.

“Aku sudah menanyai para penjaga. Setelah kejadian itu, mereka baru membuka jendela. Hal itu membuktikan bahwa pembunuh itu pasti masuk melalui salah satu jendela dan menutupnya kembali.”

“Sebetulnya dia tidak perlu melakukan hal yang demikian merepotkan,” tukas Gi song.

“Kau mana tahu? Dengan berbuat demikian, asap itu tidak menyebar kemana-mana,” kata Cang song tidak mau kalah.

Gi song menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Kalau begitu, sang pembunuh memang benar teliti. Sebelumnya dia sudah merencanakan semua dengan rapi. Sejak semula dia sudah tahu serangannya akan gagal dan bagaimana melarikan diri tanpa ketahuan orang lain.”

“Kau salah lagi. Maksudku, lebih baik dia membuka jendela dan begitu asap memenuhi ruangan, dia juga dapat menerobos lewat jendela,” kata Cang song.

Gi song tertawa lebar. “Ginkangnya toh demikian tinggi, buat apa dia mengkhawatirkan hal itu?”

Mereka berdua saling berdebat. Wajah Ci Siong to jin tidak menampilkan perasaan apa-apa. Padahal setiap patah kata kedua orang itu terpateri dalam hatinya. Sekarang yang menggelayuti pikirannya juga merupakan hal yang diperdebatkan Gi song dan Cang song.

* * *

Darah dari hitam berubah ungu. Kemudian dari ungu menjadi merah segar. Senjata rahasia dan racunnya sudah terdesak keluar. Fu Giok Su masih belum sadar dari pingsannya. Lun Wan Ji memegangi bahunya. Wajah gadis itu ketakutan juga gelisah.

Senjata rahasia yang berhasil didesak keluar tidak berbeda dengan senjata rahasia umumnya. Tidak ada tanda istimewa yang dapat dijadikan petunjuk. Sebelum menjalankan rencana ini, Fu Giok Su sudah menyiapkan segalanya dengan teliti.

Dia menjalankan rencana yang satu ini, tujuannya untuk menghapus kecurigaan orang pada dirinya. Pek Ciok dan Cia Peng sudah terbunuh. Seandainya pada dirinya sendiri tidak terjadi apa-apa, orang-orang pasti akan merasa aneh. Dan hal ini pasti akan mempengaruhi gerakannya di masa yang akan datang.

Sekarang ini dia benar-benar jatuh pingsan. Yan Cong Tian menarik kembali telapak tangannya. Keringat sebesar-besar kacang kedelai menetes deras dari keningnya. Meskipun hawa murninya kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada, namun untuk menyembuhkan luka dan mendesak racun keluar saja tidak akan menyulitkan dirinya. Racun yang terdesak keluar dari tubuh Fu Giok Su hanya sedikit lebih keras dari racun biasa.

Lun Wan Ji sibuk memborehkan obat Kim cang yok pada luka Fu Gios Su kemudian dia membungkus dengan teliti. Pada saat itulah Ci Siong to jin berjalan masuk. Yan Cong Tian tidak memperdulikan. Matanya setengah terpejam. Tampangnya letih sekali. Ci Siong to jin segera menghampiri.

“Suheng, bagaimana perasaanmu?”

Yan Cong Tian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa,” sahutnya datar.

Mata Ci Siong to jin beralih kepada Fu Giok Su. Alisnya terangkat ke atas.

“Susiok, Giok Su sudah tidak apa-apa lagi,” Wan Ji cepat-cepat memberitahukan.

Ci Siong to jin hanya tertawa datar. Akhirnya Fu Giok Su tersadar juga. Tampangnya masih belum segar. Matanya terbuka dan dipaksakan memperhatikan sekelilingnya. Kemudian dia menatap ke arah Ci Siong to jin.

“Suhu, teecu sudah menyusahkan kau orang tua,” katanya.

“Suhuku yang mendesak racunmu keluar,” tukas Lun Wan Ji menjelaskan.

Yan Cong Tian tertawa lebar. “Bocah cilik, siapa pun apa bedanya?”

“Giok Su, ketika pembunuh itu melarikan diri lewat atap genteng, apakah kau sempat mengejarnya?” tanya Ci Siong to jin tiba-tiba.

Fu Giok SU menggelengkan kepalanya dengan lemah. Lun Wan Ji segera membantu Fu Giok Su mengenakan kembali pakaiannya. Gi bagian pundak pakaian itu terdapat beberapa helai sarang laba-laba. Ci Siong to jin mengambil sarang laba-laba dengan kukunya. Tampangnya kusut. Mulutnya menggumam tidak jelas.

Yan Cong Tian membuka matanya perlahan-lahan. Tangannya dikibaskan. “Kalian sudah boleh membawanya keluar,” katanya.

“Kim Ciok, Giok Ciok,” panggil Ci Siong to jin.

* * *

Kim Ciok dan Giok Ciok menggotong Fu Giok Su keluar dari kamar. Lun Wan Ji cepat-cepat memohon diri kepada Yan Cong Tian dan Ci Siong to jin. Yan Cong Tian hanya tertawa. Lun Wan Ji malah tersipu-sipu.

Menunggu mereka semua meninggalkan tempat itu, Ci Siong to jin baru duduk di sudut kamar.

“Suheng…”

“Ilmu aliran mana yang dipelajari Fu Giok Su sebelum menjadi murid Bu Tong?” tanya Yan Cong Tian menukas perkataan Ci Siong to jin.

Ci Siong to jin terpana mendengar pertanyaan itu. “Kalau tidak salah, dia mempelajarinya dari para pengawal yang bekerja di rumahnya.”

“Tidak heran.” Wajah Yan Cong Tian berseri-seri. “Kau memang tidak salah menilai dan menerimanya sebagai murid.

“Oh?”

“Saya ingat anak ini sangat baik. Otaknya juga sangat cerdas. Pernah aku membahas tentang ilmu silat dengannya. Setiap kali aku mengajukan pertanyaan, dia dapat menjawabnya dengan tepat,” Yan Cong Tian tertawa lebar. “Rasanya para pengawal yang bekerja di rumahnya juga bukan tukang pukul kasar seperti umumnya. Ilmu mereka pasti cukup tinggi.”

“Bagaimana suheng bisa tahu?”

“Tadi aku mengerahkan lweekang untuk mendesak racun keluar dari tubuhnya. Aku merasa adanya segulungan arus kuat mengalir dalam tubuhnya. Hal ini membuktikan bahwa anak ini pernah mendapat ajaran lweekang tingkat tinggi. Sayangnya dia tidak tahu cara menggunakannya. Kalau tidak, dengan mengandalkan tenaga dalamnya sendiri, tidak perlu mendapat bantuan orang lain, dia dapat mendesak keluar racun dalam tubuhnya sendiri,” kata Yan Cong Tian.

Ci Siong to jin tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Partai Bu Tong pada generasi mendatang mungkin harus mengandalkan anak ini.”

Ci Siong to jin hanya tertawa datar. Terhadap Fu Giok Su, kecurigaannya sudah mulai timbul.

* * *

Di antara keenam murid Ci Siong to jin sudah ada dua yang meninggal dan satu orang terluka. Hati setiap murid Bu Tong Pai terasa tertekan. Demikian juga Gi song dan Cang song. Apalagi kalau mengingat mereka adalah generasi ‘Song’ yang mempunyai kedudukan cukup tinggi dalam partai it, kemungkinan mereka juga bisa menjadi sasaran si pembunuh. Oleh karena itu hati mereka tercekam ketakutan. Hanya keangkuhan mereka yang melarang mereka memperlihatkannya.

Ketika mereka masih memperdebatkan masalah itu, Lun Wan Ji, Kim Ciok, Giok Ciok beserta beberapa murid Bu Tong lainnya membawa Fu Giok Su ke kamar itu. Mereka mendudukkan anak muda itu di atas kursi. Wajah Gi song dan Cang song berubah hebat.

“Apa-apaan ini?”

“Fu suheng sudah terkena senjata rahasia beracun si pembunuh. Susiok mengatakan para suheng tidak dapat melindunginya. Oleh karena itu, susiok memerintahkan kami membawanya kemari dan meminta kedua susiok melindunginya baik-baik,” kata Lun Wan Ji.

Gi song dan Cang song terpana mendengar keterangan itu.

“Apa? Minta kami melindunginya?” tanya Cang song tanpa sadar.

Gi song juga terkejut sekali. “Seandainya pembunuh itu tidak mau melepaskannya begitu saja, bukankah kami yang akan kerepotan?”

“Dengan mengandalkan ilmu yang dimiliki susiok berdua, seharusnya tidak menjadi masalah,” tukas Kim Ciok.

Gi song dan Cang song mengerling ke arah Kim Ciok sekilas. Mereka tidak mengatakan apa-apa.

“Aku akan mengambilkan selimut,” kata Lun Wan Ji sambil mengundurkan diri.

Kim Ciok dan Giok Ciok juga memohon diri. Cang song langsung menarik tangan Gi song ke sudut kamar.

“Kali ini kalau aku tidak mati terbunuh, paling tidak bisa mati ketakutan,” bisiknya.

“Mendingan kalau pembunuh itu tidak datang lagi. Kalau tidak jiwa kita berdua kemungkinan sulit dipertahankan lebih lama,” sahut Gi song sambil tertawa getir.

“Coba kau katakan, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?”

“Bagaimana lagi? Kita toh tidak mungkin melaporkannya kepada Ci Siong bahwa kita takut mati dan meminta mereka membawa bocah ini kembali?” sahut Gi song.

Cang song menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Memang tidak mungkin. Apabila kita berbuat demikian, kelak kita pasti tidak punya muka lagi untuk menetap di Bu Tong san.”

“Bagus kalau kau mengerti,” Gi song membusungkan dadanya dengan setengah dipaksakan. “Satu-satunya harapan kita ialah pembunuh itu tidak akan kembali lagi setelah berhasil melukai bocah ini.”

“Memang hanya itu yang dapat kita harapkan.”

* * *

Lun Wan Ji sudah mengambil selimut dan meninggalkan kamar Fu Giok Su. Tidak lama kemudian ada seseorang lagi yang masuk ke dalam kamar tersebut. Orang itu adalah Ci Siong to jin.

Pintu kamar itu ditutup rapat-rapat. Ci Siong to jin mulai mencari-cari di dalam kamar. Dia tidak berhasil menemukan tempat yang mencurigakan, juga tidak menemukan barang apa pun yang mencurigakan. Laci yang tadinya digunakan untuk menyimpan bahan peledak sekarang sudah kosong melompong.

* * *

Bahan peledak sudah berada di tangan si makhluk tua. Dia memasukkan bahan peledaki itu ke dalam beberapa batang bambu. Bahan peledak itu memang tidak cukup untuk meledakkan seluruh Bu Tong san, tapi cukup untuk meledakkan batu-batu yang menyambung rantai pengikat kaki dan tangan.

Kalau batu-batu itu sudah meledak, maka makhluk tua itu sudah bisa bebas merdeka dan melarikan diri dari telaga dingin tempat dia terkurung sekian lama. Urat nadi di kakinya sudah tersambung kembali. Keadannya sudah seperti biasa. Akibat yang akan ditimbulkan orang ini setelah berhasil melarikan diri, ngeri untuk dibayangkan.

Makhluk tua itu sendiri bagaikan segentong bahan peledak yang sanggup menghancurkan seluruh Bu Tong san. Bila manakah peledak yang satu ini akan memperlihatkan reaksinya ?

* * *

Akhirnya Fu Giok Su bisa juga menegakkan tubuhnya dan duduk sendiri. Padahal dia berharap pingsan terus. Paling tidak, dia tidak perlu menjawab berbagai pertanyaan yang aneh-aneh dari Gi song dan Cang song.

Sebetulnya kedua orang itu hanya membanggakan pendapat mereka masing-masing. Tapi semakin lama mendengarkan, hati Fu Giok Su semakin terkesiap. Tiba-tiba dia merasa petunjuk yang ditinggalkan olehnya terlalu banyak.

Melihat Fu Giok Su tidak memberikan reaksi apa-apa, Gi song malah mendesaknya. “Bagaimana pendapatmu tentang dugaan kami?”

“Masuk akal,” kata Fu Giok Su terpaksa mengembangkan seulas senyuman.

“Tapi suhumu malah menganggap kata-kata emas kami sebagai omong kosong.”

Fu Giok Su mengerutkan alisnya. “Manusia yang sepintar kami, sebetulnya tidak banyak di dunia ini.”

“Tidak salah,” Fu Giok Su langsung memuji setinggi langit. “Ketika teecu percama kali melihat kedua susiok, teecu sudah tahu bahwa kalian termasuk manusia yang luar biasa. Meski urusan apapun, kedua susiok dapat meliahtnya dari sudut yang lain. Berbeda dengan orang lain.”

Gi song dan Cang song senang sekali. Cang song malah menghampiri dan menepuk-nepuk bahu Fu Giok Su. “Pandanganmu memang hebat. Masa depanmu pasti cerah,” katanya.

Dalam hati Fu Giok Su tertawa dingin.

* * *

Setiap larut malam, Wan Fei Yang melatih Bu Tong liok kiat yang diajarkan Ci Siong to jin kepadanya. Sampai saat ini, dia masih tidak tahu asal-usul manusia brepakaian hitam itu dan dia juga tidak tahu bahwa Ci Siong to jin adalah ayah kandungnya.

Malam ini, manusia berpakaian hitam yang merupakan samaran Ci Siong to jin berdri di sampingnya kemudian berjalan mondar-mandir. Hatinya tampak tidak tenang. Wan Fei Yang sudah selesai berlatih ilmu pedang.

“Tidak tersangka Bu Tong pai kalian banyak sekali cobaannya,” kata manusia berpakaian hitam itu tiba-tiba. “Masalah yang satu belum selesai, datang lagi masalah lainnya.”

“Ilmu pembunuh itu sangat tinggi. Bahkan Pek Ciok, Cia Peng dan Fu Giok Su bukan tandingannya,” sahut Wan Fei Yang.

Ci Siong to jin menganggukkan kepalanya. “Tidak sulit dibayangkan.”

Sinar mata Wan Fei Yang mengerling. “Oh ya, Suhu… Dengan kepandaianmu yang demikian tinggi, mengapa kau tidak turun sekali saja guna membantu Bu Tong pai?” tanyanya.

“Itu urusan Bu Tong sendiri, biar orang-orang Bu Tong pai yang membereskannya. Misalnya engkau, sudah waktunya kau menunjukkan sedikit jasamu kepada mereka,” sahut manusia berpakaian hitam.

“Tapi aku…”

“Menurut dugaanku, selain tinggi ilmu yang dimiliki pembunuh itu, dia juga paham sekali seluk beluk Bu Tong pai. Kemungkinan besar dia bersembunyi di antara murid Bu Tong sendiri,” kata manusia bepakaian hitam selanjutnya.

“Apa?” Wan Fei Yang terkejut sekali.

“Di Bu Tong san kau hanya seorang pelayan. Sedangkan kau tidak pernah membocorkan bahwa kau mengerti ilmu silat. Pembunuh itu tentu tidak akan menaruh perhatian.”

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

“Yang menjadi sasaran pembunuh ialah murid yang mempelajari Bu Tong liok kiat. Fu Giok Su hanya terluka saja. Kemungkinan besar pembunuh itu tidak akan melepaskannya begitu saja.”

“Tapi sekarang Gi song dan Cang song kedua tianglo…”

“Kedua tianglo itu, kau sendiri pasti mengerti. Mereka hanya pandai mengumbar gertakan, sama sekali tidak ada kegunaannya.”

“Suhu, benar-benar…”

“Kecuali engkau, siapa lagi yang mempunyai kemampuan setinggi itu untuk membela Bu Tong pai? Apakah kau takut?”

“Tidak!” sahut Wan Fei Yang sambil membusungkan dadanya.

* * *

Oleh karena itu, pada hari kedua, pagi-pagi sekali Wan Fei Yang sudah muncul di luar kamar Gi song dan Cang song. Dia membawa seteko air yang baru mendidih. Sama sekali tidak mencari alasan yang lain. Dia mengetuk pintu lalu langsung masuk ke dalam.

Fu Giok Su yang melihat kedatangannya, tanpa sadar tertegun. Hatinya agak tegang. Tapi dari luar dia tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Sembari menyeduh air teh, Wan Fei Yang menyapanya. “Fu toako, bagaimana lukamu?”

“Sudah lumayan,” Fu Giok Su menyahut datar. Dia memang tidak ingin banyak bicara.

Kebetulan Lun Wan Ji mendatangi. Tangannya membawa sangkar burung yang mereka beli di kota tempo hari. Kedua ekor burung yang ada di dalam sarang itu berloncat-loncatan. Kadangkala terdengar suara kcauan mereka. Enak juga kedengarannya.

Lun Wan Ji duduk di samping tempat tidur, dia meletakkan sangkar burung di atas meja yang terletak di sampingnya.

“Suheng, untuk apa kau meminta aku membawakan sangkar burung ini?” tanyanya.

Fu Giok Su tertawa lebar.

“Kalau kau sedang tidak ada, biar mereka yang menemani aku. Lebih enak mendengar kicauan mereka daripada ocehan kedua orang susiok,” katanya.

Lun Wan Ji tertawa terkekeh-kekeh mendengar keterangan Fu Giok Su. Wan Fei Yang juga ikut tertawa. Tepat pada saat itu, Gi song dan Cang song kembali ke kamar. Melihat ketiga orang itu tertawa dengan gembira, hatinya merasa heran.

“Apa yang kalian tertawakan?”

“Tidak apa-apa,” sahut Lun Wan Ji cepat-cepat mendekap mulutnya sendiri.

Wan Fei Yang segera maju menghampiri dan menjura dalam-dalam.

“Untuk apa kau ke sini? Apakah tempat ini juga pantas didatangi olehmu?” bentak Gi song dengan wajah garang.

“Dia hanya menyeduh the untuk kita,” sahut Fu Giok Su.

Wan Fei Yang cepat-cepat menganggukan kepalanya. Dia mengangkat teko the yang masih dipegang di tangannya.

“Sudah selesai belum?” bentak Cang song tidak mau kalah.

“Sudah… sudah,” sahut Wan Fei Yang gugup.

“Mengapa masih diam di sini ? epat pergi!” kata Cang song sambil mengibaskan lengan bajunya.

Wan Fei Yang cepat-cepat mengundurkan diri.

“Sam susiok, mengapa kau begitu galak? Aku sampai ketakutan,” kata Lun Wan Ji dengan nada kurang senang.

Cang song mengelus jenggotnya yang seperti jenggot kambing. “Ini bukan galak, tapi wibawa,” sahutnya tenang.

* * *

Wan Fei Yang tidak dapat digertak oleh wibawa Cang song. Setelah pergi tidak lama, dia kembali lagi. Dalam sehari penuh, dengan alasan menyeduh the saja dia sudah bolak-balik belasan kali.

Bukan hanya Fu Giok Su yang merasa enggan, Gi song dan Cang song juga merasa curiga. Tapi mereka tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Wan Fei Yang.

“Apakah Ci Siong sudah curiga kepadaku
sehingga mengutus Wan Fei Yang mengawasi
aku?” pikir Fu Giok Su dalam hati.

Setelah Gi song dan Cang song masuk ke
dalam kamar tidur yang berhubungan dengan
kamar yang ditinggali Fu Giok Su. Anak muda
itu melepaskan diri dari Lun Wan Ji. Setelah
itu cepat-cepat dia mengeluarkan secarik kertas kecil berisi tulisan dari balik ikat pinggangnya. Belum sempat dia menyematkan kertas kecil tadi ke kaki burung di dalam sangkar
telinganya mendengar suara derit pintu ter
buka. Cang song keluar dari kamar sebelah. Fu
Giok Su cepat-cepat menyelipkan surat kecil
tadi di dalam genggaman tangannya.

Cang song melirik Fu Giok Su sekilas. Dia menjadi heran sekali. “Untuk apa kau mengeluarkan burung itu?” tanyanya.

“Aku sedang mengajaknya bermain,” sahut Fu Giok Su cepat.

Cang song menggelengkan kepalanya. “Sudah begini besar, masih seperti anak-anak saja. Lihat kami, main catur sambil mengasah otak,” katanya. h

Gi song mendorong pintu dan menyusul keluar dari kamar. “Siapa yang main catur mengasah otak?”

“Tentu saja aku. Kau kira siapa? Giok Su? Dia hanya mengerti mengajak burung bermain-main,” sahut Cang song bangga.

Gi song mengerlingkan matanya ke arah sangkar burung.

“Burung seperti ini mana bisa diajak main? Di mana kau membelinya?”

“Dekat kota di kaki gunung,” sahut Fu Giok Su.

“Berapa harganya?”

“Satu uang perak saja.”

“Satu uang perak? Mana ada harganya?” Gi song menggelengkan kepalanya. “Kicauan bu rung seperli ini tidak enak didengar. Warnanya juga tidak bagus. Dihadiahkan pun aku tidak sudi.”

Fu Giok Su tertawa getir.

“Sebelum membelinya, kau seharusnya me nanyakan dahulu kepadaku,” kata Gi song kembali.

Belum lagi Fu Giok Su menyahut, Cang song sudah menukas…. “Apakah kau paham soal burung?”

“Mengapa tidak?”

“Aku belum pernah mendengar kau mengungkit masalah ini.”

“Kau kira aku manusia macam apa? Punya kemampuan sedikit langsung gembar-gembor! “Kalau begitu, coba kau katakan, apa nama burung ini?”

“Kalau tidak salah burung beo,” sahut song sambil mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak salah?” Cang song tertawa di ngin. “Padahal kau sendiri tidak berani memastikan.”

“Kalau bukan beo, apa?” “Burung semprit.” Cang song tertawa dingin “Jangan membual di hadapanku. Ketika aku memelihara burung, kau masih belum bisa jalan.”

“Semprit?” Gi song tertawa terbahak-bahak. “Baru pertama kali ini aku mendengar ada burung yang namanya seperti itu. Kau kapan pernah memelihara burung. Baik, coba kau katakan apa kekurangan burung sejenis ini?! Cang song terpana. Padahal dia hanya asal buka mulut saja karena dia melihat Gi song juga bukan benar-benar paham tentang burung.

“Tidak bisa menjawab?” sindir Gi song. Cang song mendengus dingin. “Apa kekurangan burung ini? Burung jenis ini tidak bisa terbang!” sahutnya sinis.

Gi song tertawa terbahak-bahak kembali. “Mana ada burung yang tidak bisa terbang?”

“Kalau kau tidak percaya, coba saja,” sahut Cang song kukuh pada pendiriannya.

“Baik,” kata Gi song. Dia langsung mengham-piri sangkar burung tersebut.

Fu Giok Su panik sekali. Cepat-cepat dia menutupi sangkar burungnya.

“Burung ini sudah aku hadiahkan kepada sumoay. Kalau sampai terbang, bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya?” katanya gu gup.

“Kalau memang milik Wan Ji. Ya….” sahut Cang song.

“Kau takut bohongmu ketahuan bukan?” sindir Gi song.

Cang song mana mau mengalah. “Aku hanya takut Wan Ji akan menyalahkan aku sebagai orang tua yang tidak tahu diri!” teriaknya sambil mendelik kepada Gi song.

“Kan mudah saja? Kalau sudah terbang, kita belikan lagi,” sahut Gi song.

“Baik,” sahut Cang song mengeraskan hati.

“Jangan… di toko burung itu hanya tinggal dua ekor ini saja,” kata Fu Giok Su gugup. “Tidak usah khawatir. Tutup saja pintu dari jendela, kan beres?” sahut Gi song.

Tidak menunggu jawaban dari Fu Giok Su dia langsung berjalan menuju setiap jendela dan menutupnya rapat-rapat. Cang song tidak bergerak. Matanya mendelik. Dia tidak tahu harus bagaimana. Setelah menutupi semua jen dela, Gi song segera menghampiri sangkar burung.

“Giok Su, biar kau yang menjadi saksinya.” Fu Giok Su masih panik setengah mati. Tapi dia tidak menemukan akal untuk mencegah kedua orang tua yang gila-gilaan itu. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan Gi song membuka sangkar burung tersebut dan mengeluarkan burung itu satu per satu serta meletakkannya di atas meja.

Mungkin karena belum terbiasa, kedua burung itu meloncat-loncat beberapa kali ke mudian berhenti dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Melihat keadaan itu, hati Cang song jadi lega. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Benar kan? Kedua ekor burung itu tidak bisa terbang, hanya bisa meloncat-loncat.” Kata tanya bangga. Hati Fu Giok Su semakin tegang. Baru saja dia mengulurkan tangannya untuk memasukkan burung-burung itu kembali ke dalam sangkarnya, tapi Gi song keburu mencegahnya.

“Tunggu, lihat sebentar lagi!” Kata-katanya selesai, kedua ekor burung itu sudah mengepakkan sayapnya dan terbang.

“Celaka!” teriak Fu Giok Su dengan suara parau.

“Tidak usah takut. Pintu dan jendela semua terkunci rapat. Tidak akan terbang ke luar,” kata Gi song sambil mengerling ke arah Cang song. Nada suaranya bangga sekali. Sedangkan wajah Cang song berubah muram seketika.

Tiba-tiba terdengar suara Lun Wan Ji di luar pintu. “Siang hari bolong, menutup pintu rapat-rapat. Apa tidak kepanasan?”

“Jangan masuk. Jangan!” teriak Fu Giok Su

Namun terlambat, pintu sudah didorong oleh Lun Wan Ji. Kedua ekor burung itu me-lihat pintu yang terbuka langsung terbang ke-luar. Lun Wan Ji termangu-mangu di tempat-nya. “Siapa yang melepaskan burung yang aku pelihara?” tanyanya marah.

Fu Giok Su terpaksa menunjuk ke arah Gi song.

“Kami hanya… hanya….” Gi song menjadi serba salah.

Lun Wan Ji menghentakkan kakinya kesal “Aku tidak mau. Pokoknya kalian harus men carinya kembali,” katanya dengan bibir bersu ngut-sungut.

“Baik… baik…. Besok kami akan turun gunung dan membelinya untukmu,” sahut Gi song dengan maksud menghibur.

“Aku tidak mau yang lain. Aku mau yang kedua ekor tadi….”

Gi song mengangkat bahunya. Dia mendelik kepada Cang song. “Gara-gara kau. Terus saja mengatakan bahwa burung itu tidak bisa ter

bang”

“Aku memang pernah melihat beberapa.. beberapa jenis yang tidak bisa terbang.” sahut Cang song malu dikatakan tidak tahu apa-apa.

Kedua orang itu langsung mendebat lagi Mata Lun Wan Ji sudah merah. Air matanya hampir meleleh. Melihat keadaan itu, Fu Giok Su tidak tahu apa yang harus diperbuatnya Tepat pada saat itu, Wan Fei Yang melangkah masuk ke dalam. Tangannya masing-masing memegang seekor burung. Ternyata kedua ekor burung yang terbang keluar tadi.

Gi song dan Cang song memandangnya de ngan terpana. Lun Wan Ji terus menghampiri Wan Fei Yang. “Wan Ji kouwnio, bukankah ini burung peliharaanmu?” tanya Wan Fei Yang.

Lun Wan Ji menganggukkan kepalanya ber kali-kali. Bibirnya mengembangkan senyuman. Dia menyambut burung yang disodorkan oleh Wan Fei Yang dan memasukkannya kembali ke dalam sangkar.

“Terima kasih.”

“Kebetulan kedua burung itu menemplok di pundakku. Lain kali harus lebih berhati-hati,” kata Wan Fei Yang.

Lun Wan Ji mendelik sekilas ke arah Gi song. Orang tua itu memalingkan wajahnya dan melampiaskan kekesalannya kepada Wan Fei Yang.

“Untuk apa kau masuk lagi ke sini? Cepat pergi! Pergi!” bentaknya kasar. Wan Fei Yang cepat-cepat mengundurkan diri. Cang song menyusulnya. Dia ingin meng gunakan kesempatan ini untuk keluar dari kamar itu. Tapi dicegah oleh Gi song. I “Kau sudah kalah. Bagaimana pun kau harus dihukum? Bukankah kau mengatakan….”

Sebuah ingatan melintas di benak Cang song. “Omong kosong, kau yang kalah!” sahutnya.

“Kedua ekor burung itu….”

“Kalau benar-benar bisa terbang tinggi bagaimana mungkin bisa menomplok di pundak Wan Fei Yang?”

Mendengar kata-kata itu, malah hati Giok Su yang tergerak.

* * *

Di sebuah gedung yang sudah hancur dan tidak terpakai lagi, manusia tanpa wajah duduk di atas sebatang kayu. Di hadapannya terdapat seonggok api unggun. Matanya menatap ca haya api dengan termangu-mangu. Entah apa yang dipikirkannya.

Udara malam sejuk. Tiba-tiba terdengar ke pakan sayap burung di angkasa. Dalam waktu singkat, burung itu sudah menukik ke arah api unggun. Manusia tanpa wajah itu mengulurkan tangannya dan menangkap burung tersebut.

ia mengambil secarik kertas yang terikat pada kaki burung dan membukanya. Tulisan yang terdapat di kertas itu tidak banyak. Manusia tanpa wajah membacanya se-kias kemudian meremas kertas itu dan dilem-parkannya ke dalam api unggun. Dalam se-kejap mata kertas itu berubah menjadi abu. Manusia tanpa wajah itu mengibaskan tangan-nya dan burung tadi pun terbang kembali. Tubuhnya sendiri langsung melesat melalui tembok yang sudah hancur dan menghilang dalam kegelapan malam.

* *

Lun Wan Ji baru sadar bahwa burungnya sudah berkurang satu ekor. Dia segera me-nanyakannya kepada Fu Giok Su.

“Aku melihat sayap kedua ekor burung tadi sangat kotor, maka aku bermaksud meman-dikannya. Siapa tahu tanganku licin sekali se-hingga yang seekor terlepas dan terbang,” sa-hut Fu Giok Su dengan wajah bersalah.

Lun Wan Ji bersungut-sungut mendengar keterangan itu. “Aku tidak mau….”

Cang song segera mencari muka. “Wan ji tidak usah marah. Aku akan menghukum Giok Su bermain harpa untukmu,” katanya.

“Hukuman yang pantas… hukuman yang pantas,” sahut Giok Su cepat-cepat.

Melihat tingkah laku Fu Giok Su, Lun Wan Ji tidak marah lagi. “Pokoknya harus memainkan lagu yang belum pernah kudengar sebelumnya.”

Tentu saja Fu Giok Su menyetujuinya.

*

“Ting! Tang!” Suara harpa berkumandang sampai di kejauhan. Wan Fei Yang duduk di depan taman dengan punggung bersandar tembok. Dia mendengarkan dengan perasaan terbuai.

Di tempat yang lebih jauh lagi, manusia tanpa wajah sudah mengganti pakaiannya de ngan setelan berwarna hitam. Wajahnya juga diselubungi sehelai kain berwarna hitam pula. Dandanannya persis dengan dandanan (Ci Siong to jin ketika mengajarkan ilmu silat kepada Wan Fei Yang.

Tidak lama kemudian si manusia tanpa wajah melesat jauh menuju kamar Gi song dan Cang song. Langkah kakinya ringan sekali. Tampaknya dia sudah hapal sekali keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, sebentar saja dia sudah sampai di depan Wan Fei Yang.

Suara harpa masih terus mengalun. Wan Fei Yang tersentak. Telinganya menangkap langkah kaki seseorang. Lirih sekali. Matanya langsung mengedar mencari-cari. Pada saat itulah dia melihat manusia berpakaian hitam yang merupakan samaran manusia tanpa wajah.

“Suhu….” panggilnya lirih. Manusia berpakaian hitam itu menggerakkan tangannya. Sebatang ranting yang terikat sehelai kertas kecil melayang ke arah Wan Fei Yang. Anak muda itu segera menyambutnya. matanya melirik sekilas.

–Kentungan ketiga, tempat biasa —

Di atas kertas itu hanya terdapat beberapa huruf saja. Wan Fei Yang terpana. Dia men-dongakkan kepalanya. Manusia berpakaian hitam itu sudah tidak tampak lagi.

“Suhu belum pernah memanggil aku dengan cara begini, pasti ada hal yang penting,” pikirnya dalam hati.

* * *

Irama harpa sudah berhenti. Gerakan tangan Fu Giok Su juga terhenti di atas tali senar. Lun Wan Ji bagai tersadar dari mimpi. Gi song dan Cang song memuji terus. Kenyataannya Fu Giok Su memang pandai memainkan harpa.

Setelah sejenak, tiba-tiba Lun Wan Ji menuju meja dan mengambil sangkar burung.

“Fu toako, kasihan sekali burung ini. Tentu dia kesepian tanpa kawan. Bagaimana kalau kita melepaskannya saja dan biarkan mereka berkumpul kembali kelak?” katanya menyarankan.

Fu Giok Su sama sekali kau tidak menyangka Lun Wan Ji akan mengeluarkan usul seperti itu. Dia menjadi tegang.”Tidak…. usulmu tidak baik.”

“Mengapa?”

“Kau tidak mengerti. Burung yang terbang itu adalah jantannya. Yang betina masiha da di sini, yang jantan pasti akan kembali mencarinya.”

“Benarkah?”

“Apakah tidak memperhatikan bagaimana mereka saling menyayangi sehari-harinya?”

Lun Wan Ji menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak merasakan apa-apa.”

“Tentu saja. Usiamu masih muda,” tukas Cang song. “Kalau diingat lagi, cara terbang burung itu juga tidak lambat.”

“Sekarang kau mengaku burung itu memang bisa terbang?” sindir Gi song.

Cang song terpana. “Kau jangan mengusik aku. Aku sedang berpikir. Bagaimana caranya Wan Fei Yang menangkap burung-burung itu?”

Fu Giok Su segera mempergunakan kesempatan itu. “Mungkin ginkangnya cukup tinggi,” sahutnya.

“Wan Fei Yang mana mungkin mengerti ginkang?” protes Gi song. “Kalau menanak nasi, dia memang ahlinya.”

“Tapi, kalau dia memang tidak mengerti, bagaimana dia bisa menangkap kedua ekor burung itu sedemikian mudah?” tanya Cang song.

Lun Wan Ji menggeleng-gelengkan kepalanya. “Seandainya dia mengerti ginkang, tentu sehari-harinya dia tidak akan menerima hinaan para suheng begitu saja,” sahutnya.

“Itu yang disebut pandai menyembunyikan kepandaian,” kata Gi song.

“Menurutku, dia tidak mengerti,” sahut Cang song.

“Mengerti, dia pasti mengerti.”

“Liong wi susiok tidak usah berdebat lagi. Kalau benar ingin tahu, coba saja.” Mata Fu Giok Su bersinar terang. “Toh dia tidak pernah kemana-mana. Sepanjang hari selalu di luar.

“Bagaimana cara kita mengujinya?” tanya Cang song mendesak.

“Mudah sekali,” kata Cang song sambil mengerjapkan matanya. “Aku mempunyai akal yang baik. Hanya saja kita memerlukan bantuan dari Wan Ji.”

Lun Wan Ji mendengarkan dengan mata terbelalak.

* * *

Wan Fei Yang masih duduk dengan punggung bersandar pada tembok. Matanya setengah terpejam. Tapi dia belum tertidur. Sebuah teriakan mengejutkannya.

“Siapa?”

Wan Fei Yang melonjak bangun. Kepalanya menoleh ke arah kamar Gi song dan Cang song. Suara tadi berasal dari sana. Dan dia dapat mengenali yang berteriak adalah Cang song. Tiba-tiba penerangan dalam kamar itu padam seketika. Suara teriakan Lun Wan Ji berkumandang. Kemudian disusul dengan suara benturan senjata, meja dan kursi yang terbalik lalu suara jeritan Gi song dan Fu Giok Su.

Wan Fei Yang semakin terkesiap. Tubuhnya melesat ke arah kamar tersebut. Dia mengkhawatirkan keselamatan Lun Wan Ji. Dua kali loncatan saja dia sudah sampai di depan kamar kedua orang tianglo. Telapak tangannya menghantam. Pintu kamar itu segera terbuka. Dia melesat masuk ke dalam.

Di dalam kamar tidak ada penerangan. Hanya cahaya rembulan yang menerobos lewat jendela. Bagi Wan Fei Yang, sinar ini saja sudah cukup. Biasanya dia berlatih silat di lembah yang terpencil. Di sana juga tidak ada penerangan. Dia hanya mengandalkan penerangan cahaya rembulan saja. Sepasang matanya sudah terbiasa dengan kegelapan.

Fu Giok Su terjatuh di atas tanah. Lun Wan Ji meringkuk di sudut. Dua manusia berpakaian hitam memegang pedang yang tajam berkilaian. Mereka sudah siap menusukkan pedang tersebut ke tubuh Lun Wan Ji dan Fu Giok Su. Namun tampaknya mereka terkejut oleh suara dobrakan pintu. Mereka menolehkan kepalanya serentak.

“Siapa? Berani benar menyerbu Bu Tong san?” teriaknya lantang.

Kedua manusia berpakaian hitam itu tidak menyahut. Pedang mereka bergerak dan meluncur ke arah Wan Fei Yang. Anak muda itu tidak berani ayal. Telapak tangannya segera terulur dan menyerang kedua manusia berpakaian hitam tadi. Dalam waktu yang bersamaan, tubuhnya juga bergeser ke samping. Tampaknya kedua manusia berpakaian hitam itu cukup memahami ilmu pedang. Serangan kedua orang itu tidak main-main. Wan Fei Yang terpaksa mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan. Dia juga tidak memberi kesempatan kepada musuh. Tangannya dengan gesit berubah-ubah. Salah satu dari manusia berpakaian hitam itu terpaksa mundur beberapa langkah, sedangkan yang satunya lagi bergulingan di tanah.

Mereka langsung meloncat bangun dan menyerang Wan Fei Yang kembali. Beberapa kali serangan mereka tidak berhasil. Sedangkan Wan Fei Yang juga mulai panas. Dia tidak boleh membiarkan pertarungan ini berlarut-larut. Telapak tangannya segera terulur dan dengan tiba-tiba menjambret bagian depan pakaian salah seorang manusia berpakaian hitam tadi.

“Berani-beraninya. Ingin kulihat siapa kau sebenarnya,” cengkeraman tangan Wan Fei Yang bergerak bersamaan dengan ucapannya. Dia menarik kain yang menutupi wajah orang itu.

Wajah yang ada di balik kain penutup itu ternyata wajah Gi song. Wan Fei Yang terkejut setengah mati. Tangannya terlepas dari cengkeramannya. Kakinya mundur sejauh tujuh langkah.

Gi song malah mendesak maju. Manusia berpakaian hitam lainnya segera menghampiri. Dia adalah Cang song. Orang tua itu menerjang ke arahnya. “Kali ini kau benar-benar tertangkap basah!” bentaknya.

Sekarang Wan Fei Yang baru sadar bahwa semua itu hanya perangkap untuknya. Dia menatap ke arah Lun Wan Ji. Matanya menyiratkan hatinya yang luka. Lun Wan Ji tidak bersuara. Dia terkejut sekali mengetahui ilmu Wan Fei Yang yang demikian tinggi.

Fu Giok Su juga segera bangkit. Wajahnya tidak menampilkan perasaan apa-apa. Gi song dan Cang song tidak memperdulikan mereka. Kedua orang itu terus mendesak Wan Fei Yang. Hal pertama yang melintas di benak Wan Fei Yang pada saat itu adalah lari!

“Jangan lari!” bentak Gi song sambil mengejar.

Ketika Fu Giok Su menyusul ke halaman, bayangan ketiga orang itu sudah tidak tampak lagi. Suara teriakan Gi song dan Cang song masih terdengar. Fu Giok Su menoleh ke arah Lun Wan Ji.

“Sumoay, aku akan membantu kedua susiok. Kau kembali dan panggil semua suheng kita,” katanya.

Hati Lun Wan Ji sekali. Dia mengiakan saja. Setelah sejenak, dia baru membalikkan tubuhnya kembali ke arah sebelumnya. Fu Giok Su berlari beberapa langkah, setelah melihat bayangan Lun Wan Ji tidak tampak lagi. Dia membelok ke arah yang lain. Sekarang dia sudah berhasil membongkar rahasia Wan Fei Yang. Rencana keji lainnya sudah menanti di depan mata.

* * *

Malam sudah larut. Penerangan remang-rmang. Ci Siong to jin belum tidur. Tangannya menggenggam belahan giok. Segelungan firasat yang tidak enak menggelayuti perasaannya. Tanpa sadar Ci Siong to jin berdiri. Dia membuka gembok dan membuka laci lemarinya. Di dalamnya terdapat seperangkat pakaian berwarna hitam.

Tiba-tiba jendela bagian timur terbuka, tiga batang piau melayang masuk. Telinga Ci Siong to jin menangkap suara angin. Tubuhnya bergeser. Ketiga batang piau tersebut lewat dan menancap di atas tembok. Terlintas bayangan hitam melintas lewat jendela.

Dengan tergesa-gesa Ci Siong tojin meletakkan belahan giok di atas pakaian hitamnya. Laci tadi ditutup kembali. Tubuhnya berkelebat menerobos lewat jendela. Di bagian luar terdapat pohon-pohon bambu. Bayangan hitam tadi melintas rumpunan bambu. Ci Siong to jin mengikuti dengan ketat.

Semakin dalam batang-batang bambu, semakin banyak. Tanpa memperdulikan Ci Siong to jin terus menerobos mengikuti kibasan lengan baju orang itu. Keluar dari rumpun bambu, bayangan tadi menuju bagian belakang gunung. Dari bentuk tubuhnya tidak salah dia pasti manusia tanpa wajah. Tentu saja Ci Siong to jin tidak mengenalnya.

Meskipun ginkang manusia tanpa wajah cukup tinggi, tapi tidak dapat menandingin Ci Siong tojin. Sayangnya Ci Siong to jin belum sembuh secara keseluruhan dari luka yang dideritanya. Oleh karena itu, jaraknya dengan manusia tanpa wajah semakin lama semakin jauh. Kedua orang itu berlari secepat kilat.

* * *

Wan Fei Yang juga berlari di depan Gi Song dan Cang song. Sebenarnya kalau dia mau melepaskan diri dari kedua orang itu, baginya mudah sekali. Tapi dia tidak melakukannya. Pikirannya kacau sekali. Lambat sedikit saja, dia sudah dihadang oleh Gi song dan Cang song yang mengambil jalan pintas.

“Masih lari? Hayo ikut aku temui Ciang bun jin!” bentak Gi song.

“Budak busuk! Kau benar-benar licik. Pura-pura tidak mengerti ilmu silat. Hayo katakan, darimana kau mempelajarinya?” bentak Cang song tak mau kalah gertak.

Wan Fei Yang tidak berkata apa-apa.

“Jangan perduli yang lainnya dulu. Ringkus dia dan bawa ke hadapan Ciang bun suheng!” kata Gi song.

“Aku…. Aku tidak bisa me… menemui….” Wan Fei Yang merasa serba salah. Suaranya jadi gagap gugup.”Kau tidak mau pergi, kami menyeretmu ke sana!” kata Gi song sambil mengulurkan tangan mencengkeram.

Wan Fei Yang menggeser tubuhnya menghindar. “Aku mana mengerti ilmu… ilmu silat? Kalau aku mengerti.. buat… apa aku masih di sini?”

“Kaulah pembunuh itu!” Tangannya menuding Wan Fei Yang. “Kau diam di sini untuk membunuh orang.”

“Aku tidak membunuh siapa-siapa!” teriak Wan Fei Yang semakin kebingungan.

“Kalau bukan kau siapa lagi?” teriak Cang song sambil mengulurkan tangannya sekali lagi. Tapi Wan Fei Yang masih juga berhasil menghindarkan diri. Gi song tertawa dingin. “masih tidak mau mengaku kalau kau mengerti ilmu silat? Kalau tidak mengerti bagaimana kau bisa menghindar dari cengkeramanku?”

“Cepat katakan! Siapa yang mengajari ilmu silat kepadamu? Katakan!” bentak Cang song dengan lagak galak.

“Aku… aku menciptanya sendiri…” kata Wan Fei Yang semakin tidak karuan.

“Kau bisa mencipta ilmu silat? Mengapa buka mengatakan kami saja yang menciptanya? Tampaknya kau memang tidak bersedia mengaku!” tgeriak Cang song lantang. Dia langsung menerjang ke depan.

Wan Fei Yang menghentakkan kakinya dan melesat melalui kepala Gi song. Dia mengambil langkah seribu dan lari terbirit-birit. Gi song dan Cang song langsung mengejar.

* * *

Akhirnya manusia tanpa wajah menghentikan langkah kakinya juga. Ternyata dia berhenti di tanah kosong dekat lembah terpencil di mana Ci Siong to jin selalu mengajarkan ilmu silat kepada Wan Fei Yang.

Semakin mengejar, hati Ci Siong to jin semakin curiga. Akhirnya dia tidak dapat menahan diri lagi.

“Siapa kau sebetulnya?”

“Sama dengan engkau. Manusia berpakaian hitam yang misterius.”

Hati Ci Siong tergetar. Namun dia berusaha menenangkan perasaannya. “Apakah kau tidak tahu bahwa menerobos Bu Tong san hanya ada satu jalan yakni kematian? Tanyanya penuh wibawa.

“Tentu saja tahu!”

“Sudah tahu tapi masih dilanggar juga.”

“Tidak berbeda denganmu. Melanggar peraturan Bu Tong pai, secara diam-diam mengajarkan ilmu silat kepada Wan Fei Yang!”

Wajah Ci Siong to jin semakin kelam. “Apa yang kau inginkan?”

“Hanya ingin meminta pelajaran dari Ciang bun jin mengenai ilmu Bu Tong pai yang terkenal di kolong langit.”

“Kau yang membunuh anak murid kami?”

“Bukan.”

“Masih tidak berani mengaku?”

“Aku sudah menjawab terus terang, tapi mau masih tidak percaya juga. Terserah!”

“Aku tidak percaya maksud kedatanganmu demikian sederhana.”

“Sederhana? Sama sekali tidak!” Manusia tanpa wajah tertawa dingin. “Kalau kau kalah di bawah pedangku malam ini, hanya jalan kematian yang dapat kau pilih.”

Ci Siong mencibirkan bibirnya. “Kau mempergunakan pedang? Seberapa dalam pengertianmu tentang pedang?”

Manusia tanpa wajah tidak menyahut. Pergelangan tangannya memutar. Pedangnya yang panjang sudah dihunus. “Silahkan!”

“Lepaskan dulu penutup wajahmu!”

“Apa perlu?” Manusia tanpa wajah tertawa dingin berulang kali.

“Punco mempunyai satu kebiasaan. Tidak akan membunuh turunan tikus yang tidak berani memperlihatkan mukanya.”

“Aku juga mempunyai suatu kebiasaan. Aku ingin lawan mati penasaran. Tidak tahu siapa yang membunuhnya dan mati pun tidak meram!” Kata-katanya selesai diucapkan, manusia tanpa wajah melesat. Tubuh dan pedangnya seperti sebuah garis panjang yang menerjang ke arah Ci Siong to jin. Sekali tikam tiga belas jurus berturut-turut, tidak satu pun dari jurus itu yang tidak mematikan.

Pedang Ci Siong to jin juga sudah dikeluarkan. Liong gi kiam hoat dikerahkan. Tubuhnya dalam sekjap menghilang tertutup bayangan pedang. Kedua pedang berdentang berbenturan. Hanya dalam waktu sesaat, mereka sudah saling menyerang dua ratus tiga puluh tujuh kali. Ci Siong tiba-tiba tertawa dingin.

“Ilmu pedangmu tidak bagus sama sekali!” katanya tajam.

Manusia berpakaian hitam itu tertawa sumbang. “Di kolong langit ini memang hanya Liang gi kiam hoat yang paling termasyur. Ilmu pedang cakar ayam seperti yang aku pelajari ini mana masuk hitungan?”

“Tapi kau justru berani mengusik aku.”

“Itu karena aku tahu kau menderita luka. Meskipun Liang gi kiam hoat sangat hebat. Sekarang kau tidak bisa sembarangan mengerahkan jurus yang mematikan.”

Wajah Ci Siong to jin beku seperti es. Pedangnya tidak henti bergerak. Dia sudah mengambil keputusan untuk melukai manusia berpakaian hitam itu secepatnya. Sayang sekarang tenaga dalamnya tinggal lima bagian. Apa yang dikatakan lawannya memang benar. Dia tidak bisa mengerahkan tenaga sepenuhnya. Apalagi jurus mematikan dari Liang gi kiam hoat. Ada beberapa jurus yang seharusnya bisa membunuh manusia berpakaian hitam itu, tapi karena tenaganya sudah jauh berkurang, dia tidak berhasil melakukannya.

Oleh karena itu, hatinya semakin tertekan. Apabila seseorang menjalankan jurus Liong gi kiam hoat yang tidak sempurna lagi, pasti dapat terlihat titik kelemahannya. Namun manusia berpakaian hitam ini masih belum menemukannya. Fu Giok Su lah yang sudah melihat kelemahan itu. Sekarang dia bersembunyi dalam hutan yang lebat dan menunggu kesempatan baik untuk menampilkan diri.

Kalau saja dia sampai turun tangan dan bergabung dengan manusia berpakaian hitam, tidak diragukan lagi kekalahan pasti ada di pihak Ci Siong to jin. Tapi dia tetap menunggu. Menunggu kesempatan agar sekali serang langsung berhasil.

* * *

Sehari-harinya Wan Fei Yang sudah terbiasa diperlakukan secara semena-mena. Ini merupakan salah satu penyebab mengapa dia masih mengalah terus.

“Liong wi tianglo, lepaskan saja aku, boleh kan?” kata Wan Fei Yang dengan suara memohon.

Gi song dan Cang song mana mungkin terharu oleh sikapnya. “Tidak bisa. Bagaimanapun kami harus meringkus engkau!”

“Kalau begitu, aku terpaksa….”

“Terpaksa apa?” Tanpa sadar serangkum hawa dingin menyerang tubuh Gi song.

Wan Fei Yang sama sekali tidak memancarkan serangan atas diri kedua orang tua itu. Hanya tubuhnya yang tiba-tiba menghentak. Gerakannya persis seekor kupu-kupu yang melintas di depan mata Gi song dan Cang song. Tubuhnya seperti tumbuh sayap tiba-tiba dan terbang menjauh.

Gi song dan Cang song saling melirik sekilas. Kemudian keduanya menggerakkan kaki mengejar. Semakin lama Wan Fei Yang berlari semakin cepat. Juga semakin jauh. Dalam sekejap saja, dia sudah berhasil melepaskan diri dari kedua tianglo tersebut.

* * *

Malam ini rembulan bercahaya, bintang berkilauan. Setelah melintasi bukit-bukit, Wan Fei Yang mendongakkan kepalanya. Kakinya terhenti.

“Celaka! Hampir kentungan ketiga,” katanya dalam hati.

Tubuhnya berkelebat secepat kilat ke depan. Di sebelah sana, Ci Siong to jin dan manusia berpakaian hitam sedang bertarung dengan seru. Tampaknya Ci Siong to jin mulai kewalahan. Dia sudah terdesak mundur beberapa kali.

Fu Giok Su dapat melihat semuanya dengan jelas. Dia mengambil sehelai kain hitam dari balik pakaiannya dan digunakannya untuk menutup wajahnya. Orang ini benar-benar musuh dalam selimut.

* * *

Setelah menyerang lagi beberapa jurus, manusia tanpa wajah berhasil mendesak Ci Siong to jin mundur sejauh dua depa. Pedangnya bergerak lagi tujuh kali berturut-turut.

* * *

Punggung Ci Siong to jin sudah menyentuh ranting pohon yang kering. Manusia tanpa wajah tidak ingin kehilangan kesempatan baik itu. Dengan cepat pedangnya meluncur ke depan.

Ci Siong to jin tidak melihat jalan lain kecuali mengacu kekerasan. Kedua pedang berbenturan. Bagian dalam tubuh Ci Siong to jin tergetar hebat. Darahnya menggelegak dan langsung muncrat dari mulutnya. Manusia tanpa wajah tidak ingin menunda waktu pedangnya meluncur lagi ke depan. Sekali lagi kedua batang pedang saling menangkis.

“Trang!”

Pergelangan tangan Ci Siong to jin tergetar. Pedangnya melayang di udara. Dengan menahan diri dia mencelat ke atas. Rasa sakit menyerang seketika. Kakinya terhenti.

Manusia tanpa wajah segera menghentikan kakinya. Ternayta pedangnya juga terlepas oleh getaran benturan tadi. Karena dia tidak mengalami luka apa-apa, secepat kilat dia berhasil menyambut pedangnya kembali dan langsung ditikamkan ke depan.

Pedang itu bagai secarik sinar yang berkilauan. Ci Siong to jin sudah nekat. Kedua telapak tangannya dirangkapkan. Dia menyambut pedang manusia tanpa wajah dengan menjepit pedang tersebut pada kedua telapak tangannya.

Jarak pedang tersebut hanya tinggal tiga cun dari tenggorokan Ci Siong to jin. Manusia tanpa wajah berteriak lantang, tenaganya dikerahkan dan mendorong perang itu sekuatnya. Namun kedua telapak tangan Ci Siong to jin ternayta bagai jerat laba-laba. Juga ibarat besi sembrani yang menyedot pedang itu. Manusia tanpa wajah tidak berhasil mendorong pedang itu untuk melukai tenggorokan Ci Siong to jin. Kedua orang itu saling berkutat. Mata manusia berpakaian hitam itu menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal, sedangkan keringat dingin sudah membasahi kening Ci Siong to jin.

Ci Siong to jin meraung murka. Telapak tangannya didorong ke depan. Tubuh dan pedang manusia tanpa wajah terangkat ke udara dan berputaran. Tepat pada saat itu juga, Fu Giok Su melesat keluar dari tempat persembunyian. Kedua telapak tangannya meluncur dan menghantam tepat di punggung Ci Siong to jin.

Ketika Tosu tua itu mendengar hembusan angin di belakangnya dan bermaksud menghindar, dia tidak keburu lagi. Isi perutnya tergetar. Tubuhnya tergetar hingga mencelat sejauh satu depa. Mulutnya terbuka dan kembali dia muntah darah.

Pada saat itu manusia tanpa wajah sudah melayang turun. Pedangnya langsung meluncur dan menikam jantung Ci Siong to jin. Sebelum berhasil, telapak tangan tosu tua itu kembali dirangkapkan dan menjepit pedang manusia tanpa wajah seperti sebelumnya. Fu Giok Su tidak membuang kesempatan. Kedua telapak tangannya segera maju dan menghantam Ci Siong to jin sekali lagi.

“Plak! Plak!”

Dua kali berturut-turut. Juga di tempat yang sama. Wajahnya pucat seperti kertas. Sepasang tangannya tidak kuat lagi menjepit pedang manusia tanpa wajah. Begitu merasa jepitan tosu tua itu mengendur, pedang manusia tanpa wajah tanpa ampun lagi menusuk jantung Ci Siong to jin.

Tanpa dapat menahan diri lagi, Ci Siong to jin menjerit ngeri. Tubuhnya terhuyung-huyung kemudian rubuh di atas tanah! Tanpa sadar Fu Giok Su dan manusia tanpa wajah sama-sama menarik nafas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara kibasan lengan baju. Fu Giok Su dan manusia tanpa wajah saling mengerling sekilas. Tubuh mereka berkelebat melesat ke dalam hutan yang lebat. Baru saja mereka menghilang di dalam hutan itu, Wan Fei Yang sudah melayang turun. Melihat apa yang terpampang di depan matanya, dia berdiri tertegun. Sesaat kemudian dia bagai tersadar dan menghambur ke depan. Dia memeluk tubuh Cfi Siong to jin.

Ciang bun jin! Ciang bun jin!” teriaknya panik.

Ci Siong to jin memaksa diri membuka sepasang matanya.

“Ciang bun jin, bagaimana keadaanmu?”

Ujung bibir Ci Siong to jin menyunggingkan senyuman tipis. Mulutnhya bergerak-gerak. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu. Wan Fei Yang gugup sekali.

“Ciang bun jin, siapa yang turun tangan melukaimu dengan cara sekeji ini?” desaknya.

* * *

Meskipun Wan Fei Yang belum tahu bahwa yang ada di hadapannya saat itu adalah ayah kandungnya sendiri, juga tidak tahu bahwa Ci Siong to jin adalah manusia berpakaian hitam yang setiap malam mengajarkan ilmu silat kepadanya, namun dia merasakan kehangatan yang tidak terkirakan. Juga kesedihan yang amat dalam.

“Fei Yang…. ” akhirnya dengan susah payah Ci Siong to jin berhasil membuka mulutnya. “Di kamarku….”

“Ada apa di kamarmu?”

“Belahan batu…. Batu giok.”

“Belahan batu giok?” Wan Fei Yang benar-benar tidak mengerti.

“Ada…. Ada… di da… lam….. laci….” Ci Siong to jin seakan memaksakan tenaganya yang terakhir untuk menyelesaikan kata-katanya. “Fei… Yang, kau… harus… ber….. latih lebih gi….at lagi.”

Suaranay tiba-tiba meninggi. Kepala Ci Siong to jin terkulai. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pangkuan Wan Fei Yang.

“Ciang bun jin! Ciang bun jin!” teriak Wan Fei Yang kalap.

Setelah beberapa kali berteriak dan tidak mendengar jawaban dari Ci Siong to jin, akhirnya dia terpaku di tempat itu. Tepat pada saat yang sama, dari arah mana dia datang tadi terdengar suara langkah kaki orang banyak yang mendatangi dengan tergesa-gesa. Wan Fei Yang mendengar dengan jela, namun dia tak memberikan reaksi apa-apa.

Kalau hari biasa, tentu dia akan segera mengambil langkah seribu. Tapi apa yang terjadi malam ini memang terlalu banyak. Perasaannya tidak tenang. Dan kematian Ci Siong to jin semakin membuat batinnya terpukul.

Suara langkah kaki semakin mendekat. Setitik demi setitik cahaya lentera mulai menerangi tempat itu. Wan Fei Yang sama sekali tidak memperdulikan. Dia hanya meletakkan mayat Ci Siong to jin di atas tanah lalu berdiri. Dengan pikiran melayang-layang dia mundur dua langkah. Bajunya sudah penuh noda darah. Pada saat itulah lentera mengelilinginya. Serombongan murid Bu Tong menghambur ke depannya. Yang paling depan adalah Lun Wan Ji, Kim Ciok dan Giok Ciok.

“Siau Fei, apa yang kau lakukan di tempat ini?” Lun Wan Ji yang pertama-tama membuka suara.

Mendengar suara itu, Wan Fei Yang baru menolehkan kepalanya. Mulutnya terbuka tapi tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Mata Lun Wan Ji mengedar dan berhenti pada masat Ci Siong to jin. Tanpa sadar dia menjerit ngeri. Para murid Bu Tong mengikuti pandangannya. Semuanya terkejut dan suasana menjadi gempar seketika.

“Ciang bun jin! Ciang bun jin!”

“Suhu! Suhu!”

Suara sahutan terdengar susul menyusul. Suasana bising sekali. Lun Wan Ji menjatuhkan diri berlutut di tanah. Matanya mendelik ke arah Wan Fei Yang. “Siau Fei, bagaimana kau bisa turun tangan sekeji ini?” tanyanya dengan suara bergetar.

Mata setiap orang ebrtumpu pada diri Wan Fei Yang. Untuk sesaat Wan Fei Yang tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Tanpa sadar sepasang tangannya meraba bagian depan pakaiannya. Tangannya berlumuran darah. Pakaiannya pun bertambah banyak noda darah.

Perlahan-lahan Lun Wan Ji bangkit. Tangannya menuding Wan Fei Yang. “Kau benar-benar membuat aku kecewa,” katanya.

“Ini…. Tidak ada hubungannya dengan aku,” Wan Fei Yang mundur satu langkah. Dia menggoyang-goyangkan tangannya.

“Wan Fei Yang! Hal sekeji ini pun dapat kau lakukan!” bentak Kim Ciok.

“Ringkus saja dia! Hukum sesuai peraturan!” teriak murid Bu Tong lainnya. Suara teriakan mereka memekakkan telinga.

Wan Fei Yang mengibas-ngibaskan tangannya dengan kalang kabut. “Kalian dengarkan dulu penjelasanku!”

“Tidak usah dijelaskan lagi. Ikut kami kembali!” tukas Lun Wan Ji.

Wan Fei Yang masih bimbang. Dua orang murid Bu Tong sudah menerjang ke arahnya. Fu Giok Su menyusul dari balik hutan yang lebat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Belum sempat para hadirin menjawab pertanyaannya, mata anak muda itu sudah melihat mayat Ci Siong to jin yang tergeletak di atas tanah. Dia segera menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu!” teriaknya sedih.

Kain hitam penutup wajahnya sudah dilepas. Pakaiannya masih yang tadi juga. Ci Siong to jin sudah mati. Siapa lagi yang tahu apa yang terjadi barusan. Wajahnya sendi. Kepalanya malah menyusup di dada Ci Siong to jin. Para murid yang melihat keadaannya menjadi terharu sekali.

Gi song dan Cang song yang melihat sinar terang, segera berlari mendatangani. Mata mereka terpusat apda mayat Ci Siong to jin. Keduanya tertegun.

“Siapa yang membunuh suhu? Siapa?” teriak Fu Giok Su kalap.

Sinar mata dan jari telunjuk semua orang tertuju ke arah Wan Fei Yang. Anak muda itu mundur dua langkah. Tangannya terus digoyang-goyangkan.

“Bukan… bukan aku. Aku hanya kebetulan menemukannya,” sahutnya gugup.

Fu Giok Su meloncat berdiri. Dia sudah siap-siap menerjang, namun langkah kakinya terhenti lagi.

“Tidak… tidak mungkin dia! Ilmu Suhu demikian tinggi, bagaimana mungkin dia sanggup membunuhnya?” katanya pura-pura.

Advertisements

1 Comment »

  1. Reblogged this on Hery Mustofa.

    Comment by kanghery — 26/05/2014 @ 11:09 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: