Kumpulan Cerita Silat

17/12/2007

Maling Romantis (05)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 11:59 pm

Maling Romantis (05)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Tiba-tiba seorang laki-laki kurus tepos bermata juling dengan kepala seperti keledai berpakaian perlente menyelinap masuk, dari jauh ia sudah menjura dan berkata dengan hormat sambil tertawa, “Selamat siang, Cheng-cu baik-baik saja?”

Leng Chiu-hun menarik muka, segera ia menghampiri dengan menggendong tangan, makinya dengan mengerut kening, “Thia Sam, berani kau main terobosan ke tempat ini?”

Tersipu-sipu Thia Sam membungkukkan badan, katanya sambil tertawa, “Mana Siaujin berani main terobos di sini, cuma….” Sambil melotot, lalu katanya lagi, “Semalam kedatangan seorang tamu yang royal, dalam sekejap saja dia sudah menghamburkan uang sebanyak tiga laksa tail di tempat Siau-cui sana, waktu aku mencari tahu, ternyata tangannya masih gatal, maka Siaujin memberanikan diri untuk membawa orang itu ke mari.”

“O, orang macam apakah dia?”

“Dia she Thio, bernama Siau-lim.”

“Thio Siau-lim?” Leng Chiu-hun terpekur. “Amat asing nama ini bagiku.”

“Kabarnya dia jarang masuk perbatasan, maka…..”

“Orang-orang macam apa yang berjudi di tempat ini, tentunya kau sudah tahu. Orang yang tiada punya asal-usul seumpama hendak menghamburkan uangnya, orang-orang ini pun takkan memberi peluang kepadanya.”

“Siauya tak usah kuatir, orang yang tidak punya asal-usul mana Siaujin berani membawanya ke mari…. tamu she Thio itu adalah pedagang kolesom terbesar di Tiang-pek-san, kini datang ke Kilam hendak membuang sedikit uang mencari hiburan.”

“Hm, pedagang kolesom ya, biar kulihat dulu,” kata Leng Chiu-hun, lalu ia menyingkap kerai dan melongok keluar. Tampak seorang laki-laki bercambang pendek, muka merah, sedang berdiri dengan gagah di luar pintu sambil menggendong tangan. Tangannya menggenggam dua butir bola besi yang mengeluarkan suara gemerincing. Walau dia berdiri tanpa bergerak, tindak-tanduknya kelihatan angker dan berwibawa. Semua hadirin di rumah itu tiada yang sebanding dengannya, seolah-olah burung bangau di tengah ayam babon.

Bergegas Leng Chiu-hun menyingkap kerai dan melangkah maju memapak, katanya sambil soja, “Thio-heng datang dari tempat jauh, Siaute tidak melayani dengan semestinya, harap suka dimaafkan.” Sembari tertawa lebar, ia menarik tangan Thio Siau-lim, seakan-akan teman lama.

Ternyata Thio Siau-lim adalah orang jujur yang selalu menepati omongannya, orang kaya yang keluar uang tanpa berubah air mukanya, kebetulan meja di rumah itu sedang berjudi paykiu, segera ia merogoh saku dan ikut pasang, beberapa kali putaran saja dia sudah kalah lima laksa tail.

Para gadis ayu itu segera merubung maju, beramai mereka berebut menuangkan teh, berebut melihat isi kartu pula. Thio Siau-lim bergelak tertawa, tangan kiri menarik, tangan kanan memeluk, mendadak dari dalam kantong bajunya ia mengeluarkan setumpuk uang kertas, katanya, “Nah, m
ari dimulai lagi, bagaimana kalau aku yang menjadi bandarnya?”

Waktu Leng Chiu-hun melirik, dilihatnya lembaran uang kertas yang paling atas adalah lembaran sepuluh laksa tail, seketika mukanya berseri tawa senang, katanya, “Kalau Thio-heng yang menjadi bandar, biarlah Siaute ikut bertaruh.”

Yang menjadi bandar saat itu adalah ketua dari empat puluh perusahaan beras di seluruh kota Kilam, dia sudah meraih puluhan laksa tail, memangnya sudah ingin mengundurkan diri, maka tawaran Thio Siau-lim itu menjadi kebetulan malah, segera ia mendorong kartunya ke tengah meja sambil berkata, “Silakan Thio-heng menjadi bandar, Siaute pasang Thian-bun.”

Thio Siau-lim menindihkan kedua bola besinya ke atas lembaran uang, katanya tertawa, “Mestikaku, tindih mereka baik-baik, jangan sampai seorang pun lari.”

Babak perjudian selanjutnya menjadi amat menyenangkan, masing-masing berlomba mempertaruhkan uang dan keahliannya, namun jantung pun berdebar dan hati ikut merasa tegang, keringat pun bercucuran di jidat masing-masing penjudi. Separoh kemenangan cukong beras tadi akhirnya hanyut, namun ia bisa melihat gelagat, segera ia berhenti dan tinggal ke belakang dengan menarik gadis kesayangannya. Dua orang yang lain kabarnya terkenal takut bini, meski hendak menarik balik modal semula, namun terpaksa harus mundur dan pulang.

Setelah tengah malam, yang masih berjudi dalam rumah itu tinggal lima-enam orang saja.

Thio Siau-lim menghisap pipa cangklongnya yang diangsurkan seorang gadis yang duduk di pinggirnya, tangannya mengocok kartu, sedang matanya menatap Leng Chiu-hun, katanya dengan tertawa lebar, “Laute, keluarkan uangmu dan pasanglah.”

Leng Chiu-hun tersenyum, sahutnya, “Ya, Siaute memang sudah siap pasang.” Kembali ia merogoh keluar setumpuk uang kertas, sepasang matanya jelilatan seperti mata anjing yang mencari sasaran, mendadak ia mendorong semua uangnya dan dipasangkan ke Thian-bun pula, katanya, “Tiga puluh laksa tail, perduli kalah atau menang, kali ini yang bakal menentukan.”

Sekali pasang tiga puluh laksa tail, meski yang hadir di perjudian itu adalah hartawan-hartawan yang kaya raya, semua kaget dan ikut berubah mukanya, tiada seorang pun yang berani ikut pasang. Thio Siau-lim tetap tertawa riang, katanya, “Baik, mari kita berjudi sendiri.” Segera ia melemparkan dadunya, tujuh angka. Leng Chiu-hun segera mengambil kartu teratas, sementara Thio Siau-lim mengambil yang nomor tiga, tanpa dilihat lagi Leng Chiu-hun terus membalik kartunya perlahan-lahan.

Selembar Thian dan selembar Jin, itulah Thian-kah. Serempak para hadirin mengeluarkan suara kagum dan iri, bahkan para gadis pun berteriak-teriak sambil bertepuk tangan.

Tampak Thio Siau-lim merangkap tangan, ditepuk dan didorong, hanya sekilas dilihatnya lalu, “Plak!”, ia membanting kedua kartunya di pinggir meja. Semua penonton menunggu dengan rasa tegang dan mata melotot, tak tahan lantas bertanya berbareng, “Bagaimana?”

Sedikit pun tak berubah air muka Thio Siau-lim. Segera ia menghitung tiga puluh laksa tail dan didorongkan ke depan Leng Chiu-hun, katanya tertawa, “Nah, terimalah, aku mengaku kalah!”

Berputar biji mata Leng Chiu-hun, katanya, “Hari ini tentu kalian sudah puas, biarlah dilanjutkan lain hari saja!”

Perjudian pun bubar, masing-masing orang melangkah ke belakang sambil menggandeng gadis pujaannya, terlelap dalam buaian mimpi sambil berpelukan.

Thio Siau-lim menggeliat, katanya tertawa, “Laute, kau memang jempol, pandanganmu amat tepat, menyikat dengan telak!”

Leng Chiu-hun berkata tawar, “Apa ya….” mendadak secepat kilat tangan kirinya terulur mencabut golok yang tergantung di pinggang Thio Siau-lim, ujung golok yang kemilau tahu-tahu sudah mengancam pelipisnya, jengeknya dingin, “Siapa kau sebenarnya? Apa kerjamu di sini?”

Sikap Thio Siau-lim tidak berubah sedikit pun, katanya tertawa, “Apa Laute sedang berkelakar denganku? Aku tidak mengerti.”

“Betulkah kau tidak tahu?” jengek Leng Chiu-hun dingin. Tangan kirinya tiba-tiba menggaplok meja, kedua kartu yang disisihkan Thio Siau-lim di pinggir meja tadi mendadak mencelat naik dan jatuh terbalik tercecer di atas meja. Kedua kartu itu berbentuk nomor yang sama.

Mata Leng Chiu-hun setajam pisau, desisnya bengis, “Terang barusan kau yang menang, mengapa pura-pura kalah?”

“Mataku sudah lamur, mungkin aku salah lihat,” sahut Thio Siau-lim tertawa.

“Seorang laki-laki sejati berani berterus-terang, saudara ada keperluan apa datang ke mari?” bentak Leng Chiu-hun. “Lebih baik bicara terus terang saja…. apa kau sengaja hendak menarik hatiku? Apa maksud tujuanmu?”

Sirna sudah senyum tawa Thio Siau-lim, katanya dengan nada berat, “Mata Leng-heng memang tajam…. ya, Cayhe ke mari memang ada keperluan. Tapi persoalan ini bukan saja bisa membawa keuntungan bagi diriku, Pang kalian pun….. ” sengaja ia mengunjuk tawa penuh arti, secara lihai ia menghentikan kata-katanya.

Tanpa berkedip Leng Chiu-hun menatapnya, sorot matanya semakin kalem dan tangan pun ditarik sambil melemparkan golok itu ke atas terus ditangkapnya pula. “Sret!”, ia memasukkan kembali golok itu ke dalam sarungnya, katanya, “Kalau begitu, mengapa kau tidak berterus terang saja minta bertemu denganku?”

Thio Siau-lim tersenyum, ujarnya, “Kalau akan mengerjakan suatu persoalan yang luar biasa, harus melalui jalan yang tidak biasa pula. Kalau tidak berbuat sesuatu untuk menarik kesan dan perhatian Leng-heng padaku, apa yang Cayhe katakan, apa Leng-heng mau percaya?”

Leng Chiu-hun berkata tawar, “Dengan tiga puluh laksa tail untuk memberi kesan, apa tidak terlalu mahal?”

“Bila urusan bisa sukses, tiga puluh laksa tail itu cuma beberapa persen saja dari seluruh keuntungan yang bisa kita capai.”

Muka pucat Leng Chiu-hun seketika memancarkan cahaya terang, katanya, “Pekerjaan yang melanggar hukum, selamanya Pang kami tidak mau melakukannya.”

“Walau Cayhe miskin, kalau hanya ribuan laksa tail kukira masih ada. Pekerjaan yang melanggar hukum dan berbahaya, sekali-kali tidak nanti Cayhe sudi melakukannya.”

Tiba-tiba Leng Chiu-hun menepuk meja pula, bentaknya beringas, “Urusan yang tidak melanggar hukum dan tidak menyerempet bahaya, mana bisa keuntungan sedemikian besar? Mengapa kau tidak mencari orang lain, justru mencari Pang kita?”

“Karena pekerjaan ini harus diselesaikan oleh salah seorang Tianglo Pang kalian, kalau tidak, bukan saja tak terhitung kesulitan yang harus kita hadapi, bahkan boleh dikata mustahil bisa berhasil.”

“Siapa yang kau maksud?”

“Sat-jiu-su-seng Sebun Jian.”

Leng Chiu-hun perlahan-lahan membalikkan badan, melangkah dua tindak dengan kalem serta duduk dengan perlahan.

“Kalau Sebun-cianpwe sudi menampilkan diri, pekerjaan ini seratus persen pasti berhasil. Oleh karena itu Leng-heng harus berusaha supaya Sebun-cianpwe mau keluar untuk merundingkan persoalan ini. Setelah mendengarkan penjelasan Cayhe, Sebun-cianpwe pasti tidak akan menampik.”

“Guruku tidak gampang mau menemui tamu, katakan saja padaku, kan sama saja.”

“Untuk persoalan ini, aku harus bicara langsung dengan Sebun-cianpwe.”

Leng Chiu-hun memutar badan, bentaknya gusar, “Tampaknya kau sengaja hendak mempermainkan aku.”

Thio Siau-lim tertawa gelak, serunya, “Orang yang main-main dengan tiga puluh laksa tail, mungkin belum pernah terjadi.”

Dengan nanar Leng Chiu-hun menatap muka orang sekian lama, akhirnya ia berkata dengan nada berat, “Kedatanganmu sangat tidak kebetulan, guruku sekarang tidak berada di Kilam.”

“Apa benar?”

“Selamanya aku tidak pernah berbohong.”

Lama sekali Thio Siau-lim terpekur, lambat laun sikapnya kelihatan amat kecewa, lalu katanya dengan menghela nafas seraya menengadah, “Sayang! Sungguh sayang! Keuntungan tiga ratus laksa tail sudah di depan mata, agaknya segala rencana bakal gagal total.” Segera ia bersoja terus angkat langkah keluar dengan lesu.

Lekas Leng Chiu-hun memburu maju serta menariknya, katanya, “Maksudmu tiga ratus laksa tail?”

“Aku ini seorang pedagang, kalau tidak mendapat keuntungan sepuluh kali lipat, mana aku sudi menghamburkan uang tiga puluh laksa tail?”

Tergerak hati Leng Chiu-hun, tanyanya, “Sudikah kau menunggu sampai guruku pulang?”

“Urusan penting dan segenting ini mana bisa diulur-ulur, kecuali…..”

“Kecuali apa?” cepat Leng Chiu-hun menegas.

“Kecuali sebelum pergi Sebun-cianpwe ada meninggalkan pesan ke mana beliau pergi, lalu secepatnya kita menyusul ke sana, mungkin waktunya masih keburu.”

Mau tak mau Leng Chiu-hun semakin tertarik, katanya dengan membanting kaki, “Selama ini kalau Suhu pergi, tidak pernah meninggalkan pesan, cuma kali ini… Setelah beliau menerima sepucuk surat, pada hari kedua pagi-pagi sekali beliau sudah lantas berangkat.”

Bersinar mata Thio Siau-lim, tanyanya, “Sepucuk surat? Di mana?”

Leng Chiu-hun menarik tangannya, katanya tergesa-gesa, “Mari ikut aku.”

“Ke mana?”

“Liap-te-cui-hun-jin Nyo Siong, tentu kau pernah mendengar namanya, bukan?”

“Jadi surat itu sekarang berada di tangan Nyo-cianpwe?”

“Benar, kuingat sebelum pergi Suhu memasukkan surat itu ke dalam sampulnya dan diserahkan pada Nyo-susiok untuk disimpan. Jikalau bisa melihat surat itu, pasti tahu ke mana guruku pergi.”

“Tapi… tapi apakah Nyo-cianpwe sudi memperlihatkan surat itu kepada kita?”

“Tiga ratus laksa tail, siapa pun asalkan manusia, jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil.”

***

Mereka tidak menumpang kereta. Dengan berjalan cepat, setelah menikung dua jalanan, mereka pun tiba di tempat tujuan.

Pada sebuah jalan berbatu yang bersih dan tidak begitu pendek, di sini hanya terdapat enam bangunan gedung besar. Rumah kediaman Nyo Siong adalah bangunan nomor dua dari sebelah kiri.

Tak perlu Thio Siau-lim memperhatikan keadaan sekitarnya, ia pun cukup tahu bahwa bangunan gedung besar di sekitar sini adalah tempat kediaman hartawan-hartawan kaya raya dari seluruh kota Kilam. Malah celah-celah papan batu yang menjadi jalan itu pun tersapu bersih. Namun seorang yang berkedudukan seperti Nyo Siong ini seharusnya berdiam di sebuah bangunan tunggal yang menyendiri di luar kota.

Agaknya Leng Chiu-hun dapat meraba jalan fikiran orang, segera ia menjelaskan dengan tertawa, “Guruku memang rada aneh dan suka menyendiri, tapi entah mengapa justru berkukuh tinggal di dalam kota. Memang beliau tidak suka bicara dengan orang lain, tapi menyukai suara percakapan orang.”

“Gurumu… bukankah rumah ini tempat tinggal Nyo…..”

“Suhu dan Nyo-susiok tinggal bersama di satu gedung.”

Pintu hitam pekarangan bagian luar ternyata hanya dirapatkan saja. Leng Chiu-hun langsung mendorong pintu terus beranjak masuk, pekarangan itu tampak sepi dan tidak kedengaran suara orang. Pelita di dalam ruang pendopo seharusnya ditambahi minyak, ruangan sebesar itu hanya disinari oleh lampu dian yang remang-remang, menjadikan suasana terasa seram dan mendebarkan jantung.

“Biasanya Nyo-susiok suka tidur pagi-pagi,” demikian kata Leng Chiu-hun. “Begitu beliau tidur, para pembantunya segera mengeluyur keluar secara diam-diam. Terutama kalau guruku tidak di rumah, mereka semakin bertingkah.”

“Pelayan wanita atau genduk, masakah juga mengeluyur di luar malam-malam begini?”

“Tiada genduk atau babu di dalam rumah ini.”

Mereka lalu berputar melewati ruang pendopo, langsung menuju ke halaman belakang. Keadaan di sini lebih lelap, deretan kamar di sebelah kiri sana lapat-lapat terlihat cahaya api yang menyorot keluar. Leng Chiu-pun pun berujar, “Aneh, apakah Nyo-susiok malam ini belum tidur?”

Baru saja ia melangkah hendak melewati deretan pohon mangga di tengah pekarangan, setetes air tiba-tiba jatuh menetes di atas pundaknya, tanpa sadar segera ia mengusap dengan tangannya. Cahaya api yang menyorot keluar dari jendela kebetulan menerangi tangannya. Darah segar! Punggung tangannya ternyata berlepotan darah.

Dengan kaget Leng Chiu-hun mengangkat kepala, di atas sebatang dahan pohon mangga lapat-lapat seperti terlihat seseorang menggapai padanya. Sebat sekali ia menggenjot kakinya terus melesat naik, secepat kilat ia mencengkeram pergelangan tangan orang, tapi hanya sebelah tangan orang yang terpegang. Tangan yang berlepotan darah.

Tak tertahan Leng Chiu-hun pun menjerit kaget, “Susiok! Nyo-susiok! Tapi tiada jawaban dari dalam kamar.

Seperti orang kesetanan, segera ia melompat turun dan menerjang daun pintu terus menerobos masuk ke dalam. Dilihatnya Nyo Siong rebah di atas ranjang, seolah-olah sedang tidur lelap, hanya rambut dan kepalanya yang ubanan berada di luar selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi keadaan di dalam kamar tampak morat-marit, setiap benda sudah berkisar dari tempatnya, tiga peti kayu yang berada di pinggir ranjang pun sudah terjungkir balik dan terbuka.

Tanpa banyak fikir lagi segera ia memburu ke dekat tempat tidur dan tangannya menyingkap selimut tebal yang terbuat dari kain kapas itu.

Darah! Badan berlepotan darah tanpa terlihat kaki dan tangannya!

Gemetar seluruh tubuh Leng Chiu-hun seperti orang kedinginan, teriaknya gemetar, “Ngo-kui-hun-si! Beginikah Ngo-kui-hun-si itu……”

Bergegas ia membalikkan badan dan menerjang keluar pula, sebuah tangan yang lain tergantung di bawah teras, darahnya masih menetes, kematian Nyo Siong dengan tubuh terpotong-potong itu terang berlangsung tidak melebihi setengah jam yang lalu.

Agaknya Thio Siau-lim pun amat kaget dan berdiri terlongong di tempatnya.

“Cu-soa-bun tiada dendam permusuhan dengan Ngo-kui, mengapa Hiat-sat-ngo-kui menurunkan tangan jahatnya?”

“Kau… dari mana kau tahu kalau Hiat-sat-ngo-kui yang turun tangan keji?”

“Ngo-kui-hun-si (Lima Setan Membagi Mayat) merupakan lambang mereka,” desis Leng Chiu-hun dengan penuh dendam dan kebencian.

“Tapi lambang itu juga bisa dipinjam orang lain untuk melakukan kejahatan.”

Namun Leng Chiu-hun seperti tidak memperhatikan ucapan Thio Siau-lim, kini ia mulai memeriksa dan membongkar setiap barang yang masih ada di dalam kamar itu.

“Apa pula yang kau cari, surat itu terang sudah hilang,” ujar Thio Siau-lim.

Surat itu memang sudah tiada di tempatnya, hilang tanpa bekas.

Semakin pucat raut muka Leng Chiu-hun, kelihatannya begitu menakutkan,
mendadak orang menubruk tiba menjambak baju Thio Siau-lim, teriaknya beringas:
“Sebetulnya apa sangkut-pautmu dengan peristiwa ini?”

“Kalau ada sangkut-pautnya, memangnya aku bisa berada di sini?”

Dengan melotot sekian saat, Leng Chiu-hun mendeliki orang, pegangan tangannya
semakin kendor dan akhirnya terlepas, katanya dengan suara serak berat: “Tapi bagaimana kedatanganmu bisa begini kebetulan?”

“Karena beberapa hari ini aku memang sedang sebal,” sahut Thio Siau-lim tertawa
getir, tiba-tiba sorot matanya berputar, katanya, “Kenapa kau tidak lihat ke kamar gurumu, mungkin sesuatu dapat kau temukan di sana.”

Leng Chiu-hun berpikir sebentar, pelita diangkatnya terus menuju ke bilik sebelah
timur. Pintunya pun tidak terkunci. Tianglo Cu-soa-bun yang suka menyendiri ini ternyata mempunyai sebuah kamar yang serba sederhana.

Di atas dinding cuma terdapat selembar gambar lukisan, bukan gambar pemandangan atau
hasil seni lukis dari karya pelukis kenamaan, namun hanya selembar gambar seorang perempuan setengah badan, demikian hidup dan menakjubkan lukisan gambar ini. Jaman itu sulit dicari gambar orang setengah badan. Tak terasa Thio Siau-lim melirik dua tiga kali ke arah gambar ini. Semakin dipandang semakin terasa perempuan di dalam gambar sedemikian cantik jelita, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Meskipun hanya selembar gambar lukisan belaka, namun seolah-olah mempunyai daya tarik yang tak bisa dilawan.

Tak tahan Thio Siau-lim memuji sambil menghela napas gegetun: “Tak nyana Subomu ini
ternyata seorang perempuan yang cantik luar biasa.”

“Sampai sekarang guru masih jejaka,” sahut Leng Chiu-hun dingin.

Thio Siau-lim tertegun, “O, kalau begitu tak heran kalau dia suka tinggal bersama
Nyo-cianpwe, tidak heran pula di sini tidak pakai pelayan perempuan.” Mulutnya bicara sementara dalam hati ia membatin: “Sampai sekarang Sebun Jian masih jejaka? Kenapa pula dia menggantung gambar perempuan cantik ini di dalam kamarnya? Siapa dan pernah apa perempuan ini dengan dia?”

Mungkin gambar ini hanyalah lukisan biasa saja. Tapi lukisan biasa, kenapa pula bisa digambar setengah badan?

***

Kini Thio Siau-lim sudah berada dalam kamar sebuah hotel, di luar jendela tampak tujuh-delapan laki-laki tinggi besar yang berikat pinggang kain merah tua sedang mondar-mandir berjaga di sekeliling kamar.

Laki-laki ini sama merubung dan membimbingnya kembali ke dalam kamarnya seolah-olah
pengawal pribadinya saja. Yang benar, mereka adalah anak buah yang diutus Leng Chiu-hun untuk mengawasi gerak-geriknya.

Leng Chiu-hun sih tidak bertujuan jahat terhadapnya, cuma saja tidak rela dan penasaran bila tiga ratus laksa tail perak itu terjatuh ke tangan orang lain. Tentunya Thio Siau-lim sendiri pun paham akan seluk-beluk ini. Tak tertahan ia tertawa geli, tawa riang yang mengandung arti.

Kalau dia benar-benar ingin melakukan sesuatu, dalam pandangannya kedelapan laki-laki ini bolehlah dianggap delapan patung kayu belaka!

Ia padamkan pelita lalu melojoti seluruh pakaian sampai telanjang bulat, terus rebah di atas ranjang, sedapat mungkin ia kendorkan kaki-tangannya, kemul kapas yang bersih terasa empuk dan kasar menggesek badan, rasanya sungguh nyaman dan nikmat sekali. Lama-kelamaan seluruh badan sudah berhenti bergerak dan dalam keadaan tenang, cuma otaknya saja yang masih bekerja.

Mendadak genteng di atas kamar berkeresek dan bergerak perlahan, cahaya rembulan yang remang-remang menyorot masuk menerangi kamar yang gelap ini. Beberapa buah genteng sudah tergeser dan dipindah dari tempatnya, namun sedikit pun tidak mengeluarkan suara yang mengejutkan, agaknya penyatron ini adalah seorang ahli dalam perjalanan malam, gerak-geriknya cekatan dan berhati-hati.

Kejap lain tampak sesosok bayangan orang selicin ikan menerobos masuk, kedua tangan bergelantungan di atap rumah, menunggu sebentar setelah tidak mendengar sesuatu suara, lalu seenteng daun ia melompat turun ke atas lantai.

Thio Siau-lim tetap rebah tanpa bergerak, mata dipicingkan mengawasi gerak-gerik orang. Dalam hati ia tertawa geli, kalau orang ini maling kecil, kalau dia
berani datang ke mari, terang bahwa kakek moyangnya dulu memang berhutang jiwa kepada dirinya.

Di bawah penerangan sinar rembulan yang redup, tampak orang ini mengenakan kedok hitam mengenakan pakaian hitam legam yang ketat membungkus potongan badannya yang padat dan montok serta ramping, ternyata seorang gadis yang berpotongan menggiurkan.

Tangannya menggenggam sebilah Liu-yap-to yang pendek dan ringan, sinar golok kemilau ditimpa sinar rembulan yang remang-remang, sepasang matanya yang jeli dan menyolok antara hitam dan putihnya sedang menatap orang yang rebah di atas ranjang tanpa berkesip.

Thio Siau-lim merasa amat lucu dan menarik. Memang amat menyenangkan. Gadis montok yang menggiurkan, ternyata seorang pembunuh gelap pula. Tidak sedikit kejadian aneh yang pernah dialami Thio Siau-lim, tapi belum pernah ada gadis menggiurkan yang coba membunuh dirinya, baru pertama kali ini.

Kuatir membuat kaget dan takut pembunuh gelap ini, ia menggeres semakin keras, pura-pura tidur nyenyak. Namun perempuan pembunuh ini agaknya tak ingin membunuh dia.

Dengan berjinjit-jinjit ia maju mendekat, pakaian Thio Siau-lim yang bertumpuk di lantai dijumputnya lalu dirogohnya kantong dan diperiksa isinya, ditimang-timangnya tumpukan lembaran uang besar itu, lalu ia jejalkan kembali ke dalam sakunya.

Jadi perempuan pembunuh ini pun tidak bermaksud mencuri, kalau toh tidak ingin membunuh tidak mencuri pula, memangnya apa maksud kedatangannya?

Matanya celingukan kian ke mari, dilihatnya peti kayu bercat hitam di bawah ranjang, segesit kucing ia melompat ke sana, sebelah tangannya dengan cekatan membuka tutup peti kayu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: