Kumpulan Cerita Silat

17/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (10)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:14 am

Ilmu Ulat Sutera (10)
Oleh Huang Ying

Alis Fu Giok-su terangkat. Dia tertawa terbahak-bahak, “Bagus … perasaan hatiku memang sedang kesal, lumayan juga membunuh beberapa orang untuk melampiaskannya.”

Manusia tanpa wajah tidak banyak bicara lagi, tubuhnya berkelebat melalui genting yang melompong dan entah kemana perginya. Fu Giok-su tertawa dingin. Tangannya menggenggam senjatanya erat-erat. Dengan langkah lebar dia berjalan ke halaman.

Empat belas anggota Bu-ti-bun yang mengikuti sejak tadi, sekarang sudah ada sepuluh yang mengendap-endap di halaman kuil. Tindak-tanduk mereka sangat berhati-hati, sinar mata terpaku pada ruangan depan kuil tersebut. Jarak mereka sudah dekat sekali, tapi selalu memberi isyarat kepada teman-temannya apabila menemukan sesuatu.

Meskipun sudah berhati-hati, namun karena jumlah mereka banyak, bagaimanapun sulit menyembunyikan diri secara baik. Saat itu mereka sudah melihat Fu Giok-su melangkah keluar dari ruangan dalam. Semuanya tertegun seketika.

“Yang ini bukan orang yang tadi!”

“Tentu satu komplotan!”

Baru saja dua anggota Bu-ti-bun mengucapkan kata-kata ini, terdengar suara jeritan ngeri. Empat orang yang disuruh menunggu di luar berlari pontang-panting menuju ke dalam. Tentu saja bukan keinginan mereka berlari seperti itu. Mereka tersuruk ke celah-celah ilalang yang tinggi. Dengan berusaha sekuat kemampuan mereka bangkit kembali dan berlari serabutan. Tidak seorang pun yang wajahnya tidak menyiratkan ketakutan.

Sepuluh orang anggota Bu-ti-bun yang sudah berada di dalam halaman kuil terkejut setengah mati melihat kejadian itu. Baru saja mereka bermaksud berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi, senjata di tangan Fu Giok-su sudah diangkat tinggi-tinggi.

“Para anggota Bu-ti-bun, cepat gelinding keluar!” teriaknya lantang. Tangannya menunjuk ke arah di mana para anggota Bu-ti-bun itu menyembunyikan diri.

Karena jumlah mereka lebih banyak, maka setelah saling lirik sejenak, mereka keluar dari tempat persembunyiannya.

“Saudara-saudara! Kita bunuh komplotan penjahat ini!” seru seorang laki-laki yang menjadi pemimpin rombongan tersebut.

Beramai-ramai mereka menerjang. Fu Giok-su tertawa dingin. Wajahnya tenang sekali meskipun dia sudah terkurung di tengah-tengah. Senjatanya diputar.

“Hati-hati!” serunya sambil menyerang orang yang ada di sebelah kanannya.

Orang itu menghindar ke samping, namun bagaimanapun dia tetap bukan tandingan Fu Giok-su. Gerakannya yang pertama sudah memakan korban. Begitu dadanya terhantam telak oleh senjata di tangan Fu Giok-su, yang lainnya terpana sejenak, kemudian mata mereka menyorotkan kemarahan. Suara jeritan orang pertama yang menjadi korban tadi masih belum lenyap ketika senjata Fu Giok-su kembali menelan korban.

“Apakah kau orang Siau-yau-kok?” tanya sang pemimpin anggota Bu-ti-bun.

“Tidak salah!” sahut Fu Giok-su terus terang.

“Letakkan senjatamu, ikut kami pulang untuk menghadap Tancu!” katanya. Sebetulnya hati orang itu sudah tegang sekali, tapi di hadapan anak buahnya dia tidak mau kehilangan wibawa.

“Apakah kalian kira masih ada kesempatan untuk kembali?” tanya Fu Giok-su dingin.

Orang itu berteriak marah dan menerjang ke arah Fu Giok-su. Pedang berkilauan, suara angin menderu-deru. Hal ini membuktikan bahwa tenaga orang itu cukup besar. Namun Fu Giok-su sudah dapat gemblengan Ci Siong tojin dan makhluk tua di dalam telaga dingin. Kelima orang suhengnya saja sudah bukan tandingannya lagi, apa lagi murid-murid cabang Bu-ti-bun. Belum lagi senjata orang itu sampai pada sasarannya, Fu Giok-su sudah mengulurkan tangannya menghantam dada orang itu. Jantungnya tergetar dan berhenti berdetak.

Dalam sekejap mata lima orang lagi roboh memandikan darah. Halaman itu bukan hanya penuh dengan mayat tapi warna darah merah dari darah juga menghiasi di mana-mana. Sekejap mata anggota Bu-ti-bun tinggal lima orang. Fu Giok-su tertawa lerbahak-bahak.

“Sekarang aku akan mencoba ilmu Bu-tong-liok-kiat lainnya!” serunya tiba-tiba.

Kelima orang itu terpana. Tadi mereka mendengar sendiri Fu Giok-su mengaku sebagai orang Siau-yau-kok. Mengapa sekarang dia malah menggunakan ilmu Bu-tong. Tapi anak muda itu tidak memberi kesempatan mereka untuk berpikir lebih lama.

“Pertama! Jurus dari Liong-gi-kiam!” serunya dan secepat kilat kedua jari tangan telunjuk dan yang tengah menuding ke depan membentuk pedang. Orang pertama yang paling dekat dengannya langsung roboh dengan kening terluka.

“Kedua! Jurus dari Pik-lek-ciang!” orang kedua roboh.

“Ketiga! Jurus dari Fei-hun-cong!” orang ketiga roboh. Fu Giok-su semakin bersemangat.

“Keempat! Jurus dari Suang-kiat-kun!”

Orang keempat pun roboh.

“Kelima! Jurus dari Kui-sua-to!” orang terakhir terhempas ke lantai dengan tenggorokan berlubang.

Tidak ada seorang pun yang tersisa. Fu Giok-su menyentakkan kakinya dan meleset kembali ke dalam kuil. Manusia tanpa wajah sudah menunggu di sana. Dia tertawa lebar.

“Bu-tong-liok-kiat ternyata luar biasa!” katanya memuji.

Fu Giok-su semakin bangga mendengar kata-kata itu. Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Manusia tanpa wajah membalikkan tubuhnya dan mengambil senjata Fu Giok-su yang berlumuran darah. Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membersihkannya, lalu mengembalikan lagi kepada Fu Giok-su.

“Senjata ini dapat melakukan banyak perubahan, makanya daya kerjanya hebat sekali,” kata manusia tanpa wajah itu.

“Hanya agak ruwet menggunakannya. Sayang tidak ada cara untuk mempermudah,” sahut Fu Giok-su sambil mengangkat bahunya.

“Sekarang juga sudah lumayan.”

“Oh ya … aku meminta kau menyelidiki riwayat hidup Wan Fei-yang. Bagaimana hasilnya?” tanya Fu Giok-su mengalihkan pokok pembicaraan.

“Menurut bahan yang Kongcu berikan, akhirnya kami berhasil mendapat keterangan bahwa Wan Fei-yang mempunyai seorang gwakong (kakek luar) _yang tinggal di Lok Yang. Kami sudah menyelidiki kota itu. Menurut sumber yang dapat dipercaya, mereka baru pindah ke kota itu dua puluh tiga tahun yang lalu. Sebelumnya mereka berasal dari mana, kita belum tahu. Maksudku, pada waktu itu. Kami meninggalkan beberapa anak buah untuk menetap di sana selama lima bulan dan bertanya di sana sini. Namun para tetangganya juga tidak jelas. Nada suara maupun cara berpakaian mereka seperti orang Lok Yang asli. Sampai bulan lima tahun ini, kami berhasil mengetahui dari bacang yang dibuat oleh gwakongnya. Jenis bacang seperti itu hanya dibuat oleh orang-orang Hu Ciu. Akhirnya kami mengutus beberapa orang lagi ke Hu Ciu untuk menyelidiki.”

“Apa lagi yang berhasil kalian temukan?”

“Ternyata orang manusia she Wan di Hu Ciu memang tidak banyak. Kami berhasil menemukan beberapa sanak keluarganya. Menurut apa yang kami dengar, kakeknya pernah menjabat sebagai camat. Karena putrinya hamil dengan keponakannya sendiri dan keponakan itu akhirnya memilih jalan menyucikan diri menjadi pendeta agama To, mereka terpaksa pindah ke Lok Yang untuk menghindari gunjingan para tetangga.”

“Keponakannya itu ….”

“She Gi bernama Ban-li.”

Wajah Fu Giok-su berubah hebat.

“Gi Ban-li adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai yang sekarang,” kata manusia tanpa wajah selanjutnya.

“Kalau begitu … Wan Fei-yang adalah putra Ci Siong tojin.”

“Tidak salah! Tampaknya manusia berpakaian hitam itu memang Ci Siong tojin.”

Fu Giok-su mengibaskan lengan bajunya dan mendengus dingin.

*****

Malam sudah larut. Di lembah terpencil ada sebuah tanah kosong. Di bawah pengawasan manusia berpakaian hitam, Wan Fei-yang berlatih ilmu silat tanpa mengenal lelah. Cahaya pedang berkilauan. Manusia berpakaian hitam berteriak lantang kemudian menusukkan pedangnya ke arah Wan Fei-yang.

Anak muda itu dengan gesit menghindar ke samping. Pergelangan tangannya memutar, meluncur ke arah dada manusia berpakaian hitam. Namun berhasil dielakkan pula. Sembilan belas jurus berlalu dalam waktu sekejap. Wan Fei-yang mengubah gaya gerakannya. Ketika pedang manusia berpakaian hitam tinggal tiga cun di depan wajahnya, tangannya terangkat, dan kedua jari tangannya menjepit pedang tersebut.

“Trak!”, pedang itu patah menjadi dua bagian.

Gerakan keduanya terhenti seketika. Manusia berpakaian hitam itu menatap ke arah pedang di tangannya yang telah patah menjadi dua bagian. Tiba-tiba dia menarik napas panjang.

“Pedang ada manusia ada, pedang hilang manusia mati. Pedang ini telah mengikuti aku selama beberapa puluh tahun, tidak disangka hari ini terputus menjadi dua bagian. Tampaknya jodoh di antara kita juga hanya sampai di sini saja,” katanya.

Wan Fei-yang menjadi panik seketika.

“Suhu, kalau kau pergi, kelak tidak ada orang yang mengajarkan ilmu silat kepadaku lagi,” sahutnya gugup.

Manusia berpakaian hitam menggelengkan kepalanya.

“Apa yang ingin aku ajarkan, semuanya sudah kuturunkan kepadamu. Di dunia ini tidak ada pesta yang tidak berakhir, kau dan aku juga tidak luput dari perpisahan ini.”

“Tapi ….”

“Anak bodoh ….” manusia berpakaian hitam kembali menarik napas panjang.

“Suhu, sebenarnya ke mana kau akan pergi?”

“Ke mana yang harus dituju, ke sanalah aku pergi,” nada suara manusia berpakaian hitam itu menjadi berat. “Kalau aku masih mengingat hubungan kita guru dan murid, kabulkanlah dua macam permintaanku.”

“Silakan Suhu katakan saja.”

“Pertama, kau harus berlatih lebih giat lagi. Kedua ….” dia merandek sejenak, kemudian melanjutkan kembali, “harus membantu Bu-tong-pai sekuat kemampuanmu, tidak boleh menentang Bu-tong.”

“Baik ….” hatinya penasaran, dia tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

“Suhu … mengapa kau ingin aku berbuat demikian?”

“Jangan banyak tanya.”

“Kalau begitu kelak Suhu ….”

“Kalau ada kesempatan, aku akan datang menjengukmu.”

“Suhu ….” suara Wan Fei-yang pilu sekali. “Kau telah mengajar tecu sekian tahun. Terimalah sembah tecu tiga kali,” dia menjatuhkan diri berlutut di tanah dan membenturkan kepalanya tiga kali berturut-turut. Ketika dia mendongakkan wajahnya. Air mata sudah mengalir dengan deras.

Manusia berpakaian hitam itu menarik napas sekali lagi. “Fei-yang, baik-baiklah menjaga diri. Bila ada kesempatan, pergilah ke Bu-ti-bun dan cari Sen Man-cing.”

“Sen Man-cing?” baru Wan Fei-yang ingin bertanya lebih lanjut, manusia berpakaian hitam itu sudah melesat pergi.

*****

Malam semakin larut, di ruangan tempat Ci Siong tojin biasa menenangkan diri tampak bayangan melintas. Bayangan itu bagai segumpal asap menyelinap lewat jendela yang setengah terbuka.

Ini merupakan gerakan yang tidak mudah dipergoki orang. Lagi pula ruangan menenangkan diri itu begitu sunyi dan jarang ada orang yang menginjak tempat tersebut. Orang itu bukan orang lain. Dia adalah Ci Siong tojin. Dia memakai pakaian berwarna kuning muda seperti biasanya.

Di dalam kamar tidak ada penerangan. Ci Siong tojin menghilang dalam kegelapan. Tanpa menerbitkan sedikit suara pun, dia merapatkan kembali daun jendela dalam ruangan tersebut. Pada saat itu juga, Fu Giok-su melayang turun dari atas tembok halaman dan melintasi taman bunga.

Sejak malam mulai menjelang, dia sudah bersembunyi di tempat itu. Tanpa suara dan tidak bergerak sama sekali. Sebelumnya, dia sudah beberapa malam bersembunyi di tempat yang sama. Dia sudah menyelidiki dengan hati-hati dan berhasil mengetahui bahwa setiap bulannya, paling sedikit Ci Siong tojin keluar mengendap-endap kurang lebih sepuluh kali. Tentu saja selalu pada malam hari.

Untuk mengetahui apakah Ci Siong tojin berada dalam ruangan tersebut, baginya mudah sekali. Sebuah masalah yang kelihatannya rumit, ditanganinya dengan remeh. Tengah malam tertentu, dia mengetuk ruangan itu. Tidak terdengar sahutan. Hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Ci Siong tojin memang tidak ada di sana. Sedangkan arah mana yang diambil Ci Siong tojin, lebih mudah lagi diketahuinya. Ruangan itu mempunyai empat buah jendela. Jendela mana yang setengah terbuka, tentu arah itu pula yang diambil Ci Siong tojin.

Kalau hanya satu kali, mungkin dia bisa mengatakan kebetulan. Tapi beberapa kali berturut-turut, Fu Giok-su sudah dapat memastikan bahwa manusia berpakaian hitam itu memang Ci Siong tojin adanya.

Sedangkan alasan Ci Siong tojin melakukan semua itu, Fu Giok-su sudah mendapat jawabannya. Sejak makhluk tua dalam telaga dingin mencuri belajar Bu-tong-liok-kiat dan ketahuan lalu diputuskan urat nadi kakinya dan dikurung selama dua puluh tahun, Bu-tong mulai menentukan sebuah peraturan haru. Hanya orang yang asal-usul maupun riwayat hidupnya bersih baru dapat diterima sebagai murid.

Ci Siong tojin tidak dapat mengakui Wan Fei-yang sebagai anaknya. Wan Fei-yang sendiri hanya mengikuti she ibunya. Seseorang yang ayahnya siapa saja tidak diketahui, mana bisa disebut riwayat hidupnya bersih. Oleh karena itu, meskipun Ci Siong tojin sendiri yang membawa Wan Fei-yang ke Bu-tong-san, dia tetap tidak dapat menerimanya sebagai murid. Oleh karena itu pula, Ci Siong tojin hanya dapat mengajarkan ilmu silat kepada Wan Fei-yang secara diam-diam.

Kalau dia tidak mengenakan penutup wajah, tentu Wan Fei-yang akan mendesaknya dengan berbagai pertanyaan dan pasti akan menimbulkan banyak kesulitan. Sebetulnya Ci Siong tojin juga terpaksa berbuat demikian.

*****

Begitu keluar dari halaman tempat Ci Siong tojin menenangkan diri, Fu Giok-su segera melesat ke bagian belakang gunung. Di sekitarnya sunyi sekali. Angin malam bertiup sejuk, namun kening Fu Giok-su basah oleh keringat.

Sebetulnya keringat dingin atau keringat biasa yang membasahi keningnya itu?

Di dalam telaga tidak pernah tersorot cahaya. Sulit membedakan kapan siang ataupun malam. Padahal dalam cuaca yang bagaimanapun, hawa di sana selalu dingin. Saat itu malam hari, angin bertiup kencang. Fu Giok-su melangkah ke dalam telaga dingin. Makhluk tua sedang duduk termangu-mangu di atas batu berwarna hijau itu.

Mendengar cerita dari Fu Giok-su bahwa manusia berpakaian hitam memang Ci Siong tojin, dia hampir melonjak-lonjak saking terkejutnya. “Hidung kerbau yang satu ini ternyata genit juga.”

“Yaya, tentang urusan ini ….”

“Mencabut rumput harus sampai akar-akarnya, bunuh sekalian Wan Fei-yang itu!”

“Sun-ji juga mempunyai pikiran yang sama,” sahut Fu Giok-su dengan wajah kelam.

“Tunggu apa lagi? Bereskan dulu Pek Ciok dan Cia Peng!”

“Tapi Yaya … kakimu ….”

Belum lagi ucapannya selesai, makhluk tua itu sudah melonjak berdiri. Sebelah kakinya terangkat dan menyepak Fu Giok-su. Karena tidak menduga, anak muda itu terpental jatuh. Dia malah gembira sekali.

“Yaya, rupanya kedua kakimu sudah sembuh!” teriaknya girang.

“Belum seluruhnya, tapi sudah mencapai sembilan bagian.”

“Bagus! Kalau begitu Sun-ji akan segera bertindak. Biar mereka rasakan sekali lagi kehebatan Sou-hou-cang.”

Wajah makhluk tua berubah hebat.” Jangan sekali-kali kau gunakan Sou-hou-cang,” katanya.

Fu Giok-su tertegun sesaat. Kemudian tampaknya dia sadar apa yang dimaksudkan oleh kakeknya.

“Tentu akan menimbulkan kecurigaan. Baik, kalau begitu aku akan menggunakan Liong-gi-kiam untuk menghadapi Pek Ciok dan Pik-lek-ciang untuk menghadapi Cia Peng. Biar mereka rasakan senjata makan tuan.”

“Kau benar-benar anak yang pandai. Ada lagi, untuk menjadi Ciangbunjin tidak boleh terikat pernikahan. Apabila budak Lun Wan-ji itu tidak mau mengerti dan memaksamu menikahinya, maka kau boleh bunuh dia sekalian!”

“Yaya ….” wajah Fu Giok-su tampak serba salah.

“Ada apa? Tidak sampai hati membunuh perempuan itu?” teriak makhluk tua marah.

Fu Giok-su terpaksa mengangguk mengakui.

“Apakah kau sudah lupa bahwa Bu-tong-pai dengan pihak kita adalah musuh bebuyutan?” tanya makhluk tua itu dengan wajah kurang senang.

“Sun-ji tidak lupa,” Fu Giok-su menjatuhkan diri berlutut di depan kaki makhluk tua.

“Tapi Sun-ji benar-benar tidak tega ….”

“Lalu, kau tega membiarkan dendam hati Yayamu tidak terbalas.”

“Yaya … ampunilah Wan-ji.”

“Baik … kalau kau memang tidak sampai hati, Yaya akan merestui kalian!”

Tentu saja Fu Giok-su senang sekali, namun belum sempat dia mengucapkan terima kasih, tiba-tiba makhluk tua membalikkan tangannya dan rantai yang menjadi pengikat tangan itu dilingkarkan ke lehernya. Fu Giok-su panik sekali. Dia segera mencegahnya. Dengan sekuat tenaga dia menarik rantai tersebut dan mengeluarkannya.

“Yaya, jangan sekali-kali kau berbuat demikian lagi! Jangan bunuh diri. Sun-ji akan menuruti semua permintaanmu!” teriaknya kalap.

Makhluk tua itu terharu melihat air mata Fu Giok-su yang mengalir dengan deras.

“Ini baru pantas disebut ‘tidak keji bukan laki-laki’. Kalau hanya perempuan saja, jumlahnya tidak terkira di kolong langit ini. Kalau Yaya sudah meninggalkan tempat ini, aku akan mencarikan seribu atau pun selaksa istri cantik untukmu!”

Fu Giok-su tidak bersuara, dia terpaku di tempatnya. Bayangan Lun Wan-ji kembali berkecamuk di sanubarinya. Hatinya hancur berkeping-keping.

*****

Senja mulai merayap. Wan-ji dan Giok-su duduk berdampingan di bawah sebatang pohon liu. Tiba-tiba Wan-ji mengeluarkan dompet kain dari selipan pinggangnya, “Fu-toako, dompet ini selalu mengiringi aku sejak kecil, sekarang aku memberikannya kepadamu.”

Fu Giok-su menerima dompet kecil yang harum itu. Dia sendiri sulit melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat itu. Kemudian kilat menyambar. Suaranya menggelegar. Tubuh Giok-su menggigil. Dia teringat kakeknya yang berada di telaga dingin serta permintaannya. Tanpa sadar matanya menyorotkan hawa pembunuhan.

Wan-ji sama sekali tidak memperhatikan. Dia hanya menghela napas berkali-kali, “Fu-toako … apakah kau menyukainya?”

Tampaknya Fu Giok-su tidak mendengar kata-katanya. Wan-ji memanggil satu kali lagi, “Fu-toako.”

“Ada apa?” Fu Giok-su bagai baru tersadar dari mimpi buruk.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Aku … aku ….” Sebuah ingatan lerlintas di benaknya. “Aku sedang berpikir, kau menghadiahkan dompet kain ini kepadaku. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kuberikan kepadamu.”

“Aku tidak ingin apa-apa.”

“Begini saja. Besok aku akan ke kota, akan kubelikan beberapa macam kain cita untukmu.” Ucapannya belum selesai, Fu Giok-su kembali teringat sesuatu, “Tidak bisa. Suhu sudah menurunkan amanat, tidak ada kepentingan, siapa pun tidak boleh turun gunung.”

“Kalau begitu aku saja yang mengatakannya kepada susiok. Aku akan berkata bahwa ini merupakan gagasanku, pasti dikabulkan,” kata Wan-ji sambil tertawa lebar.

Fu Giok-su tersenyum. “Boleh juga. Sekalian saja kita beli keperluan kita sepasang suami istri kelak.”

“Siapa yang menjadi suami istri denganmu?” kata Wan-ji manja. Dia mendorong lengan Fu Giok-su dan pura-pura marah.

Anak muda itu tersenyum. Sekelumit perasaan yang amat manis menyusup dalam hati kecilnya.

*****

Di dalam kota sangat ramai. Fu Giok-su menggandeng Lun Wan-ji berkeliling. Akhirnya mereka membeli sejumlah barang.

Ada mainan kesayangan Lun Wan-ji, ada sebuah selimut indah yang dipilih oleh Fu Giok-su. Sebuah pajangan berbentuk orang tua, sebuah kendi arak. Dia juga membeli beberapa buah bacang. Dan terakhir sepasang burung dengan warna indah berikut sarangnya.

Kemudian mereka makan di sebuah rumah makan yang ternama. Fu Giok-su merasa agak lelah. Dia mengajak Wan-ji pulang. Namun gadis itu rupanya masih ingin menikmati pemandangan kota yang jarang dikunjunginya. Akhirnya Giok-su mengusulkan untuk bermain di dekat telaga yang berada di tengah pegunungan Bu-tong. Lun Wan-ji setuju.

Baru saja mereka mencapai tempat itu, Wan Fei-yang sedang menggiring babi-babi pulang ke kandang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Melihat keadaannya, Wan-ji merasa kasihan sekali. “Fu-toako, coba kau lihat, Siau-fei memang cukup menderita,” katanya.

“Memang tugasnya terlalu banyak,” sahut Giok-su menampilkan perasaan terharu, namun dalam hatinya dia tertawa dingin.

Wan-ji melambatkan langkahnya. Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari pinggangnya, “Siau-fei, istirahatlah sebentar, usaplah keringatmu.”

Wan Fei-yang mendongakkan wajahnya menatap Wan-ji sekilas. Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak usah,” sahutnya. Dia mengusap keringat dengan lengan bajunya.

Wan-ji kembali menyodorkan sebutir bacang yang ada di tangannya. “Bagaimana kalau kau makan saja bacang ini? Aku tahu, kau paling suka makan bacang,” katanya.

Akhirnya Wan Fei-yang mengulurkan tangannya dan menerima bacang tersebut. “Terima kasih, Wan-ji kouwnio.”

Baru saja kata-katanya selesai, Giok-su sudah merebut kembali bacang di tangannya itu, “Bacang ini … tidak boleh kau makan!”

Lun Wan-ji dan Wan Fei-yang sama-sama terpana, “Fu-toako, mengapa …?”

Otak Fu Giok-su memang encer, sebentar saja dia sudah menemukan alasan yang tepat.

“Wan-ji, apakah kau tidak melihat? Siau-fei sudah kepanasan. Tubuhnya penuh keringat. Kalau makan bacang, dia akan bertambah kehausan,” katanya.

“Benar juga ….” Wan-ji tidak curiga sama sekali.

“Lebih baik makan buah-buahan saja,” kata Fu Giok-su sambil menyodorkan beberapa macam buah-buahan ke tangan Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang juga tidak memikirkan hal lainnya. Dia menerima buah-buahan tersebut. “Fu-toako, kalian baik sekali terhadapku.”

Fu Giok-su takut Wan Fei-yang akan mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan. Dia menyahut beberapa patah kata dengan gumaman dan cepat-cepat menarik tangan Wan-ji meninggalkan tempat tersebut.

*****

Setelah melepaskan diri dari Wan-ji, Giok-su kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Dia juga menutup jendela. Diambilnya sehelai kain hitam lalu membeberkannya di atas meja. Setelah itu dia membuka bacang-bacang yang dibelinya tadi.

Ternyata isi bacang itu bukan daging, tapi bahan peledak. Demikian juga patung berbentuk orang tua. Di bawahnya terdapat sebuah lubang yang disumpal dengan kain. Di dalamnya berisi bahan peledak. Juga kendi arak. Itulah sebabnya, mati-matian dia merebut kembali bacang itu tadi dari tangan Wan Fei-yang.

Fu Giok-su menuangkan bahan-bahan peledak tadi ke atas kain hitam. Kemudian dia membungkusnya dengan rapi dan menyimpannya dalam laci. Akhirnya Fu Giok-su baru bisa menghela napas lega.

“Rencana kedua sudah boleh dijalankan,” katanya dalam hati. Sepasang kepalannya mengepal erat. Matanya menyiratkan hawa pembunuhan.

*****

Pagi hari. Kabut belum buyar.

Di bawah air terjun terlihat butiran-butiran seperti mutiara memercik. Pek Ciok duduk di atas sebuah batu di depan air terjun. Tampangnya demikian suci seperti dewa kayangan.

Dia sedang berlatih diri bernapas dengan perut. Semangatnya bangkit bersama terbitnya matahari. Pedangnya tergenggam erat di tangan. Baru saja dia hendak memulai latihan pedangnya, dilihatnya Fu Giok-su mendatangi dari kejauhan.

Dari jauh sutenya itu sudah menyapa.

“Toa-suheng, selamat pagi!”

“Selamat pagi!” Pek Ciok memandangnya dengan perasaan heran. “Sedemikian pagi kau datang kemari ….”

“Justru karena aku tahu biasanya Toa-suheng selalu berlatih di sini.”

“Suasana dan hawa di sekitar tempat ini cocok untuk melatih pernapasan.”

Pek Ciok masih penasaran, “Sebetulnya ada apa kau mencariku?”,

“Ceritanya panjang ….” Fu Giok-su menutul kakinya dan melesat.

Pek Ciok masih belum sadar. Dia menggeser tubuhnya sejauh tiga cun. Fu Giok-su melayang turun tepat di sampingnya. Pedangnya sudah terhunus, dengan kecepatan kilat menusuk dada kiri Pek Ciok

Toa-suhengnya itu terkejut sekali. Tapi kesadarannya masih ada. Tubuhnya menggelinding ke tanah. Darah mengucur deras dari dadanya dan membasahi atas batu di mana dia duduk bersila sebelumnya.

“Kau sudah gila!” teriak Pek Ciok.

“Kalau aku sudah gila, bagaimana mungkin aku bisa menggerakkan pedang ini dan melukai Toa-suheng?” sahut Fu Giok-su tertawa dingin.

Tangan kiri Pek Ciok mendekap luka di dada, tangan kanan menghunus pedang. “Katakan! Mengapa kau melakukan hal ini?”

“Untuk menjadi Ciangbunjin!” Wajah Fu Giok-su demikian tenang.

Keringat dingin membasahi kepala Pek Ciok. “Aku sama sekali tidak menyangka kau dapat turun tangan sekeji ini terhadap saudara seperguruanmu sendiri!” katanya gemetar.

“Hah! Kalau begitu siaute akan mengantar kepergian Toa-suheng dengan pedang. Toa-suheng mempelajari ilmu pedang, apabila mati di bawah pedang siaute, tentu sudah puas bukan?” Fu Giok-su menggerakkan pedangnya. Ternyata jurus yang dimainkan adalah jurus pembukaan dari Liong-gi-kiam.

Wajah Pek Ciok berubah hebat melihatnya.

“Liong … Liong-gi-kiam-hoat!”

“Tidak salah!” pedang Fu Giok-su meluncur ke depan. Tubuhnya mencelat di udara dan sekaligus melancarkan tiga buah serangan. Semuanya jurus Liong-gi-kiam-hoat yang sangat sulit dipelajari. Pek Ciok gugup sekali. Dadanya sudah terluka. Dia dapat melihat kematangan Liong-gi-kiam-hoat Fu Giok-su ternyata tidak di bawahnya.

Dengan susah payah Pek Ciok menerima enam puluh kali serangan Fu Giok-su. Lwekang Pek Ciok sebetulnya lebih tinggi dari Fu Giok-su. Tapi lukanya cukup parah. Hawa murninya tidak dapat disalurkan. Pada jurus kedelapan belas, pedangnya sudah terlepas dari tangan. Dadanya sakit sekali, mata mulai berkunang-kunang. Pada saat itulah, sekali lagi pedang Fu Giok-su meluncur datang dan menikam jantungnya. Pek Ciok menjerit ngeri lalu jatuh ke dalam air. Mayat Pek Ciok langsung terbawa aliran air.

Fu Giok-su tahu di bawah sana ada sebuah telaga. Para murid Bu-tong sering mandi di sana. Mayat Pek Ciok pasti akan mereka temukan dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu dia tidak ingin berdiam diri di tempat itu lama-lama. Dia merendam pedangnya di dalam sungai agar darah yang masih menempel tercuci bersih. Tubuhnya berkelebat kembali dari arah yang dia datangi tadi. Darah segar segera buyar di dalam air sungai.

*****

Senja hari. Suasana dalam pendopo sangat mencekam. Asap dupa dan hio mengepul. Mayat Pek Ciok sudah dimasukkan dalam peti mati dan diletakkan di tengah ruangan pendopo tersebut.

Di sekitar peti mati berkumpul para murid Bu-tong. Wajah mereka menyiratkan kesedihan yang dalam. Mayat Pek Ciok ditemukan sebelum tengah hari. Semua orang terkejut mendengar berita itu. Setelah gempar setengah harian, perasaan mereka sampai saat ini masih juga tertekan.

Meskipun sifat Pek Ciok Agak kaku, tapi dia mencintai sesama saudara seperguruannya tanpa pilih bulu. Sikapnya juga sangat lembut. Hanya rada pendiam. Oleh karena itu, tidak ada satu pun murid Bu-tong yang tidak menyayanginya. Kematiannya benar-benar menikam sanubari rekan-rekannya.

Orang yang paling sedih-tentu saja Ci Siong tojin. Beberapa kali dia menghampiri mayat Pek Ciok dan memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya kelam, hatinya terguncang. Dia tidak berkata apa-apa, hanya memberi pesan agar setiap orang berhati-hati. Setelah itu dia meninggalkan ruangan pendopo tersebut dengan wajah murung. Para murid Bu-tong juga ikut meninggalkan ruangan itu satu per satu.

*****

Malam semakin larut. Cahaya lilin mulai redup. Suasana di dalam ruangan pendopo semakin mencekam karena penerangan yang remang-remang.

Di dalam ruangan pendopo demikian luas hanya tersisa Cia Peng seorang. Dia diterima sebagai murid oleh Ci Siong tojin dalam waktu yang bersamaan dengan Pek Ciok. Hubungan mereka sangat erat. Oleh karena itu, dia menawarkan diri untuk berjaga sepanjang malam.

Papan atas peti mati belum ditutup, tubuh Pek Ciok yang sudah dingin terbaring di dalamnya. Sepasang matanya tertutup rapat. Wajahnya pucat seperti kapas. Kelopak matanya agak bengkak. Tidak ada lagi sinar kehidupan pada seluruh diri Pek Ciok. Hanya ada hawa kematian yang menggigilkan.

Cia Peng duduk di bilah papan yang terdapat di samping peti mati Pek Ciok. Kadang kala dia berdiri dan melongok wajah suhengnya. Dia sama sekali tidak takut. Selamanya dia tidak pernah menganggap kematian sebagai sesuatu yang menakutkan. Apa lagi dia selalu hormat kepada Pek Ciok.

Pada saat itu dia mulai lelah. Matanya baru terpejam ketika terdengar suara “Krak!”, dia terlonjak bangun. Angin kencang bertiup, bayangan lilin menari-nari. Seiring suara tadi, Cia Peng memalingkan wajahnya. Tidak terlihat apa-apa, hanya jendela yang tadinya tertutup sekarang sudah membentang.

“Bagaimana angin ini bisa membuka jendela seberat itu?” gumamnya sambil membalikkan tubuh menghampiri.

Jika melongok lewat jendela, maka akan terlihat seonggok api unggun di dekat halaman depan. Dua murid Bu-tong sedang menjaga di tempat tersebut. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Cia Peng melesat keluar melalui jendela.

Di sepanjang koridor yang terdapat di depan jendela, tidak ada seorang pun. Kedua murid Bu-tong yang berjaga di halaman depan masih mengobrol dengan asyik. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiran Cia Peng di koridor. Setelah melongok sekitarnya sekali lagi, Cia Peng tertawa getir. Dia masuk kembali ke ruangan pendopo lewat pintu depan.

Pada saat itu pula, lilin-lilin dalam ruangan memperdengarkan suara “Bess!”, keadaan dalam ruangan menjadi gelap gulita. Hati Cia Peng tergetar. Tubuhnya berkelebat dan bersembunyi di belakang papan di mana dia duduk tadi. Perlahan matanya mulai terbiasa. Apa lagi ada cahaya yang menerobos lewat jendela. Dengan hati-hati dia memperhatikan sekelilingnya. Semuanya biasa saja, tapi ketika matanya mengerling ke arah peti mati, dilihatnya sepasang kaki.

Peti mati itu ditopang dengan dua batang kayu. Di sanalah kaki itu terlihat. Cia Peng tertawa dingin dalam hati. Tubuhnya bergerak dan melesat ke arah sana. Tangan kirinya diulurkan dan memegang kaki tersebut. Dia menariknya dengan sekuat tenaga. Tangan kanan menyambut tubuh yang jatuh itu.

“Toa-suheng!” teriaknya terkejut.

Orang yang ditarik olehnya tenyata memang mayat Pek Ciok, tidak heran Cia Peng demikian terkesiap. Ketika dia masih kebingungan itulah, Fu Giok-su keluar dari dalam peti mati, sepasang telapak tangannya dengan telak menghantam dada Cia Peng. “Plak!”, suaranya menyakitkan hati. Tidak ada tempat bagi Cia Peng untuk menghindar. Dan dia memang tidak menyangka sama sekali.

Pada saat itu juga dia sudah melihat bahwa orang yang membokongnya adalah Fu Giok-su. “Kau?” ucapnya tanpa sadar.

Satu patah perkataan keluar dari bibirnya, tubuh Cia Peng telah mencelat ke tengah ruangan. Segumpal darah segar mengalir di sudut mulutnya. Setelah terhuyung-huyung, akhirnya dia bangkit kembali. Fu Giok-su meloncat turun dari peti mati. Dia tertawa lebar.

“Ji-suheng, bagaimana hasil latihan Pik-lek-ciang siaute tadi?”

Cia Peng ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokan tercekat. Dia berusaha membuka mulutnya, segumpal darah kembali muncrat dari bibirnya. Dia menjerit ngeri. Tubuhnya menerjang ke depan, tapi baru beberapa langkah, tangan Fu Giok-su sudah menghantam batang lehernya.

Batang leher dan pita suara tenggorokannya tergetar putus. Tubuhnya jatuh dan dengan kepala terkulai. Fu Giok-su menghampiri tubuh Cia Peng dan merabanya sejenak. Dia tertawa dingin. Bayangan tubuhnya meleset mundur dan hilang dalam kegelapan malam.

*****

Kedua murid Bu-tong yang sedang berjaga di halaman sempat mendengar jeritan ngeri Cia Peng. “Seperti suara Cia-loji!”

“Mari kita lihat,” kata rekannya sambil menghunus golok dan berlari ke arah ruangan pendopo.

“Mengapa lilin di dalam ruangan ini padam semuanya?”

“Pasti ada yang tidak beres.” Tepat pada saat itu, langkah keduanya berhenti serentak.

Ruangan itu tiba-tiba menjadi terang. Kedua murid Bu-tong itu berdiri terpaku. Untung saja Kim Ciok dan Giok Ciok juga sudah menyusul tiba.

“Ada apa?” tanya Kim Ciok cepat.

“Rasanya kami tadi mendengar suara jeritan ngeri Ji-suheng.”

“Mengapa masih belum masuk dan melihat apa yang terjadi?” bentak Kim Ciok langsung melangkah ke dalam. “Ji-suheng!” teriaknya memanggil.

Tidak terdengar sahutan. Mereka melangkah ke dalam. Wajah Kim Ciok dan Giok Ciok berubah hebat. Apa lagi kedua murid Bu-tong tadi. Mereka terpaku dengan lutut gemetar. Lilin dalam ruangan pendopo ternyata sudah menyala kembali. Mayat Pek Ciok duduk di tempat Cia Peng sebelumnya.

Kim Ciok segera menghambur ke samping peti mati. Dia melongokkan kepalanya. Sekali lagi dia terkejut. Ternyata Cia Peng sudah membujur kaku di dalam peti mati.

“Cepat undang suhu kemari!” teriak Kim Ciok panik.

Kedua murid Bu-tong segera menghambur keluar dari ruangan.

*****

Mendengar berita itu, Ci Siong tojin bergegas menuju ruangan pendopo. Wajahnya kelam sekali. Sebelum dia sampai di ruangan pendopo tersebut, lonceng sudah berbunyi nyaring. Tanpa menunggu perintah lagi, para murid Bu-tong keluar berhamburan dengan senjata masing-masing di tangan. Setiap rombongan terdiri dari delapan orang. Mereka mengawasi seluruh tempat itu dan menjaga dengan ketat.

Gi-song dan Cang-song juga sudah menyusul tiba. Tidak lama setelah Ci Siong tojin memasuki ruangan pendopo, Fu Giok-su juga menyusul diiringi dua murid Bu-tong lainnya.

Wajah Ci Siong tojin hijau membesi. Dia menghampiri mayat Cia Peng. Tampak bekas dua telapak tangan di dada muridnya. Bekas luka memar itu berwarna ungu kehitam-hilaman, juga seperti ada bekas rona merah seperti terbakar sesuatu.

“Pik-lek-ciang?” seru Ci Siong tojin tanpa sadar.

Seluruh murid Bu-tong yang mendengar seruannya menjadi tertegun. Ci Siong tojin menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

“Pek Ciok diserang dengan pedang yang mana menusuk dada kirinya sedalam tiga cun. Tikaman itu langsung menembus jantung. Tidak diragukan lagi ilmu yang digunakan penyerangnya pasti Liong-gi-kiam-hoat.”

“Suhu pernah mengatakan ….” Kim Ciok menggertak giginya erat- erat. Barang siapa yang mempelajari ilmu pedang mati pun oleh tusukan pedang. Barang siapa mempelajari ilmu telapak, mati pun dihantam oleh telapak tangan. Kalau begitu ….”

“Tujuan pihak lawan pasti keenam murid yang mempelajari Bu-tong-liok-kiat.” Wajah Ci Siong tojin semakin tidak sedap dipandang. “Orang itu juga paham sekali Bu-tong-liok-kiat kita.”

Giok Ciok terkejut sekali, “Siapa orang itu?”

Ci Siong tojin tidak menyahut. Dia merenung sejenak. Tiba-tiba tangannya menunjuk ke arah Fu Giok-su.

“Fu Giok-su …!”

Fu Giok-su terkesiap mendengar namanya disebut, “Suhu … aku ….”

“Sasaran pembunuh itu berikutnya pasti engkau. Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati,” kata Ci Siong tojin.

Keringat dingin membasahi punggung Fu Giok-su. Wajahnya pucat pasi. “Tecu tidak takut mati, malah Tecu dapat menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam bagi kedua orang suheng,” sahutnya gugup.

Kala-kata ini sangat beralasan. Ci Siong sampai terharu mendengarnya. Dia menatap Fu Giok-su dengan mata lembut. Akhirnya dia menarik napas panjang. “Dengan mengandalkan ilmu silatmu sekarang, kau masih bukan tandingan pembunuh tersebut,” katanya.

Kepala Fu Giok-su tertunduk rendah-rendah.

“Ilmu silat Pek Ciok paling tinggi di antara kalian berenam, tapi dia sendiri mati tanpa jejak sedikit pun. Cia Peng yang berada di dalam ruangan pendopo ini, hanya sempat menjerit ngeri satu kali. Kalau saja dia bisa berteriak dua kali, para murid Bu-tong pasti sempat datang memberikan pertolongan. Hal ini membuktikan bahwa ilmu silat pembunuh itu sudah demikian tingginya.”

Para hadirin saling memandang satu dengan yang lainnya.

“Oleh karena itu, mulai sekarang, Fu Giok-su, Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong harus bisa selalu bersama-sama. Kalian harus saling menjaga. Jangan berkeliaran sendirian. Pasti bisa terjadi musibah lagi,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

“Baik,” sahut keempat orang itu serentak.

Mata Ci Siong tojin beralih kembali pada mayat Cia Peng. Tanpa sadar dia menarik napas panjang sekali lagi.

“Suhu, coba kau lihat tangan kiri Ji-suheng seperti memegang sesuatu,” tiba-tiba Giok Ciok berkata.

Ci Siong tojin mengerutkan keningnya. Tangannya terulur dan membuka kepalan tangan Cia Peng. Di dalamnya terdapat secarik kain robekan baju. Melihat sobekan baju itu, kening Ci Siong tojin tertaut semakin erat.

Yo Hong yang ada di sampingnya memiringkan kepala dan melongok.

“Kain semacam itu hanya dipakai kaum pelayan atau bawahan,” katanya tanpa sadar.

“Mungkinkah pembunuh itu menyamar sebagai seorang pelayan untuk menyelinap ke Bu-tong-san ini?” tukas Kim Ciok memberikan pendapatnya.

Wajah Ci Siong tojin terlihat semakin kelam.

“Biar bagaimanapun, kalian berempat harus berhati-hati.” Dia merandek sejenak, “Kalian tinggal saja di ruangan yang biasa digunakan Pek Ciok untuk menenangkan diri.”

“Tempat itu terbuka, mudah melihat kedatangan musuh. Memang tempat yang paling sesuai,” sahut Fu Giok-su.

“Perketat penjagaan di luar pintu. Biar siang ataupun malam, jangan sekali-kali teledor,”” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

Para murid Bu-tong-pai mengiakan serentak. Sinar mata Ci Siong tojin beredar kembali di wajah para muridnya secara bergantian.

“Ingat baik-baik! Kalian harus saling mengawasi. Jangan bertindak sendiri-sendiri sampai kita temukan pembunuh itu,” katanya.

Keempat orang itu menganggukkan kepalanya.

“Suhu, kau sendiri harus menjaga diri baik-baik,” tak lupa Fu Giok-su menambahkan.

Ci Siong tojin menyahut sekenanya kemudian meninggalkan ruangan itu.

*****

Malam semakin larut. Tangan Ci Song tojin meremas sobekan pakaian tadi. Dia duduk sendiri di dalam kamarnya, wajahnya resah, pikiran kalut.

“Pembunuh itu menggunakan ilmu Bu-tong-liok-kiat. Ketika Cia Peng terbunuh, Wan Fei-yang berada di bawah pengawasanku, tidak mungkin dia. Selain Yan-suheng dan aku sendiri, siapa lagi yang mengerti Bu-tong-liok-kiat? Apakah makhluk tua yang terkurung di dalam telaga dingin?”

Begitu pikirannya tergerak, mata Ci Siong tojin terbuka lebar-lebar. Dia langsung berdiri tegak.

*****

Di dalam telaga dingin, makhluk tua itu sudah dapat duduk tegak. Dia sedang mengatur hawa murninya dan berlatih ilmu silat. Dia sudah dalam keadaan tidak sadar.

Seandainya Ci Siong tojin datang pada saat itu, makhluk tua pasti tidak akan menyadarinya. Dan berdasarkan pengalaman Ci Siong tojin yang sudah begitu luas, sekali lihat keadaannya saja, dia tentu akan merasakan keadaan si makhluk tua yang tidak seperti biasanya.

Sayangnya, ketika Ci Siong tojin datang ke telaga dingin, makhluk tua sudah selesai berlatih. Lagi pula dia segera menyadari hadirnya seseorang di tempat itu. Tadinya dia mengira Giok-su yang datang, namun sesaat kemudian dia tersadar bahwa Fu Giok-su tidak pernah datang pada saat seperti ini. Suara langkah kaki mereka juga tidak sama.

Makhluk tua mendengar lagi lebih seksama. Wajahnya berubah berat. Cepat-cepat dia menyembunyikan berbagai barang yang ada di sampingnya. Barang-barang itu diantarkan oleh Giok-su. Kebanyakan berupa makanan. Dan untung saja sekarang hanya tersisa tidak seberapa. Kemudian dia melonjorkan tubuhnya seperti orang yang tidak berdaya. Mulutnya mengeluarkan suara rintihan.

Akhirnya dia melihat kedatangan Ci Siong tojin. Untuk sesaat dia terkejut setengah mati. Kebenciannya terhadap Ci Siong tojin dan Yan Cong-tian sudah menyusup sampai ke tulang sumsum.

Mengapa Ci Siong tojin tiba-tiba bisa datang ke tempat ini? Apakah rahasia Fu Giok-su sudah terbongkar? Berpikir demikian, hati makhluk tua itu tegang sekali. Namun ia tidak memperlihatkannya. Dia sudah terkurung dalam telaga dingin itu selama dua puluh tahun. Kesabarannya sudah dalam sekali. Tidak mudah dia terguncang oleh urusan apa pun.

Ci Siong tojin menghentikan langkah kakinya di seberang telaga. Dengan sinar mata dia memperhatikan makhluk tua yang meringkuk di atas batu hijau dengan seksama. Alisnya masih bertaut ketat. Wajahnya menimbulkan perasaan penasaran, hatinya sedih sekali.

Mata makhluk tua itu terpejam rapat-rapat. Sinar mata seseorang paling sulit berdusta, oleh karena itu makhluk tua tersebut tidak berani membuka matanya karena dia yakin sinar matanya pasti tidak dapat mengelabui Ci Siong tojin.

Ci Siong tojin menatap makhluk tua itu lekat-lekat. Tiba-tiba tubuhnya melesat dan melayang ke seberang, dia mendarat tepat di samping makhluk tua tersebut. Dengan pandai makhluk tua itu terus pura-pura merintih, seakan tidak menyadari kehadiran Ci Siong tojin. Tubuhnya terus gemetar, sandiwaranya memang meyakinkan.

Ci Siong tojin sama sekali tidak curiga. Kakinya melangkah maju satu tindak. Dia mengangkat rantai yang mengikat kaki tangan makhluk tua. Pada saat itu si makhluk tua mau tidak mau membuka matanya. Dengan segenap kemampuannya dia berusaha memperlihatkan sinar penderitaan di matanya. Tidak sulit baginya melakukan semua itu. Pada dasarnya dia memang sudah cukup menderita selama ini. Dia juga memasang wajah ketolol-tololan. Seakan sama sekali tidak mengenali Ci Siong tojin.

Dia berusaha memberontak dengan merangkak, tangannya mencengkeram ujung baju Ci Siong tojin. Tangan itu tampaknya tidak mengandung tenaga sama sekali. Cengkeramannya bergetar. Ci Siong tojin mengibaskan lengan bajunya. “Plak!”, terdengar suara yang mengarah wajah makhluk tua.

Wajah makhluk tua yang terkena tamparan itu merah seketika. Tubuhnya terpelanting dan jatuh menabrak di atas batu. Ci Siong tojin memang sengaja mengujinya. Kibasan lengan bajunya tidak ringan juga. Bukan saja makhluk tua itu tidak mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri, malah dia membiarkan wajahnya kena tamparan tanpa membela diri sedikit pun. Dia juga tidak mengelak. Kibasan lengan baju Ci Siong tojin cukup membuatnya kesakitan. Dia merintih semakin keras. Dengan memberontak dia berusaha duduk. Tampaknya dia demikian lemah.

Ci Siong tojin memperhatikan makhluk tua itu dengan seksama. Sama sekali tidak ada petunjuk yang membuat kecurigaannya tergugah. Perasaan khawatir semakin tersirat di wajah tosu tua itu. Akhirnya dia menutul sepasang kakinya dan tubuhnya melayang kembali ke seberang. Setelah menengok sekali lagi, dia berjalan ke arah goa. Makhluk tua itu masih merintih terus.

Sampai di mulut goa, kembali Ci Siong tojin memalingkan wajahnya. Kemudian melanjutkan langkahnya dan benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Pada saat itulah, mata makhluk tua itu menyiratkan kekejian yang sukar dilukiskan. Tapi dia tidak menegakkan tubuhnya bahkan mulutnya masih juga mengeluarkan suara rintihan.

Sebetulnya Ci Siong tojin belum pergi. Dia menyelinap di belakang batu dan memperhatikan gerak-gerik si makhluk tua. Sayangnya jarak antara dirinya dengan makhluk tua itu cukup jauh. Dia dapat melihat apa yang dilakukan makhluk tua tersebut, namun dia tidak dapat menangkap sinar matanya. Sedangkan makhluk tua itu juga selicik ular berbisa. Dia sudah memikirkan kemungkinan itu.

Kurang lebih sepeminuman teh, Ci Siong tojin baru benar- benar pergi. Malah dia melangkah dengan hati senang. Juga karena terlalu tenang, dia menjadi lupa diri. Langkah kakinya tidak diperingan. Kibasan lengan bajunya ketika melangkah juga terdengar jelas. Makhluk tua dapat mendengarnya dengan jelas, bibirnya menyunggingkan senyuman ejekan. Wajahnya menyiratkan rasa bangga. Orang sepandai dia tentu tahu mengapa Ci Siong tojin berlalu dengan tenang. Dan tentu dia juga sudah dapat menerka apa tujuannya.

*****

Setelah meninggalkan telaga dingin, dengan tenang Ci Siong tojin menuju tempat tinggal Yan Cong-tian.

Mendengar cerita Ci Siong tojin, Yan Cong-tian mencak-mencak. Tinjunya menghantam sebuah meja kecil yang ada di sampingnya sehingga pecah berantakan. Ketika mendengar kisah tentang kematian Pek Ciok dan Cia Peng, dari marah dia malah terkejut. “Apa? Pek Ciok mati di bawah jurus Liong-gi-kiam-hoat kita” teriaknya.

“Dari lukanya dapat dibuktikan bahwa dia terluka oleh pedang setebal setengah cun dan menembus sedalam tiga cun. Hanya Liong-gi-kiam-hoat kita yang dapat membuat luka seperti itu.”

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. “Menurut pendapatku, Hue-hong-bu-liu-kiam (tarian pedang searah angin) dari Pasan juga dapat membuat luka yang sama,” sahutnya.

“Bekas tusukan pedang menyimpang setengah cun dari jantung, ditikam dari atas ke bawah. Hanya Liong-gi-kiam-hoat yang mempunyai jurus seperti itu,” kata Ci Siong tojin kukuh pada pendapatnya.

“Mungkin juga ….”

“Taruh kata luka yang terdapat pada tubuh Pek Ciok kebetulan, maka bagaimana dengan Cia Peng …?”

“Bagaimana dengan kematian Cia Peng?”

“Terhantam oleh telapak tangan. Tulang dan nadinya tidak putus, namun isi dadanya hancur berantakan. Bekas luka berwarna ungu kehitam-hitaman. Seperti bekas luka bakar.”

“Bukankah itu salah satu ilmu dari Bu-tong-liok-kiat kita, Pik-lek-ciang?”

“Tepat!” Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya dengan wajah muram.

“Kurang ajar!”

“Sedangkan Bu-tong-liok-kiat, hanya kita suheng-te berdua yang mempelajarinya. Orang lain tidak ada yang menguasai semuanya sekaligus. Maka ….” Ci Siong tojin merasa berat meneruskan kata-katanya.

“Apa?” Wajah Yan Cong-tian memperlihatkan ketidaksabarannya. “Katakan!”

Hati Ci Siong tojin sakit tidak terperikan. Mulutnya mengatup erat.

“Lihat tampangmu yang plintat-plintut. Apakah kau sengaja ingin membuat aku marah?”

“Siaute tidak berani,” sahut Ci Siong tojin memperlihatkan tawa getir. “Ada satu pertanyaan yang menggelayuti hati siaute, tapi siaute takut suheng tidak senang mendengarnya ”

“Sekarang saja aku sudah tidak senang,” kata Yan Cong-tian kesal. “Cepat katakan saja!”

“Siaute hanya ingin bertanya … apakah ada orang lain yang mempelajari … nya dari suheng?”

Yan Cong-tian mendelikkan matanya lebar-lebar.

“Apa maksud ucapanmu ini? Apakah kau kira aku tidak tahu peraturan Bu-tong bahwa orang yang ditentukan oleh Ciangbunjin baru boleh mempelajari Bu-tong-liok-kiat? Masa aku sembarangan menurunkan Bu-tong liok-kiat kepada orang luar?” Yan Cong-tian langsung melonjak bangun. Tangannya menuding Ci Siong tojin. “Barang siapa yang mengajarkan Bu-tong-liok-kiat kepada orang luar, maka dia akan mati di bawah serangan ilmu Bu-tong-liok-kiat pula.”

Dia tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu. Namun Ci Siong tojin merasa dirinya tertikam langsung. Wajahnya terpana, bibir bergetar.

“Suheng jangan marah, maksud Siaute hanya ….”

“Hanya apa?” Yan Cong-tian mendelik kepadanya dengan mata menyorotkan kemarahan.

“Umpamanya, ketika suheng berlatih Bu-tong-liok-kiat, dan ada orang yang mengintainya secara diam-diam?”

“Apakah kau kira ada orang yang sanggup terlepas dari pengetahuanku?”

“Sekarang ….”

“Aku rasa sebaiknya kau tidak usah melelahkan diri menanyai aku yang bukan-bukan. Kalau mau periksa, periksa saja orang lain yang kemungkinannya lebih besar,” kata Yan Cong-tian ketus.

Ci Siong tojin terpaksa menganggukkan kepalanya. “Baik ….”

“Misalnya ….” Sinar mata Yan Cong-tian menjadi tajam seketika. “Tua bangka yang terkurung dalam telaga dingin ilu.”

“Sebelum datang kemari, Siaute sudah menengoknya. Meskipun belum mati, tapi hanya separo nyawanya yang tertinggal.”

Yan Cong-tian menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. “Selain tua bangka itu, siapa lagi?”

“Siaute sendiri masih bingung memikirkannya.”

“Lalu, buat apa kau masih termangu-mangu di sini? Bukannya cepat pergi menyelidiki, apakah kau ingin menunggu sampai keenam muridmu itu mati semuanya?”

Ci Siong tojin menarik napas panjang. “Keenam murid yang mempelajari Bu-tong-liok-kiat sudah mulai terlihat hasilnya, sekarang mati dua. Tahun depan kalau Tok-ku Bu-ti menyerbu Bu-tong-san, entah bagaimana kita harus menghadapinya? Apakah Bu-tong-pai benar-benar harus hancur di tanganku?” gumamnya sedih.

Mendengar kata-kata itu, Yan Cong-tian ikut sedih. Hatinya juga sama tertekannya dengan Ci Siong tojin. Hanya saja dia tidak mau memperlihatkannya. Dia adalah seorang laki-laki yang teguh dan tabah. Keduanya saling pandang sekilas, tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, mereka sudah saling memahami.

*****

Satu malam telah berlalu. Sama sekali tidak terjadi apa-apa. Fu Giok-su berempat tidak tidur sepanjang malam. Mereka duduk berkeliling di ruangan yang biasa digunakan Pek Ciok untuk menenangkan diri.

Hari berikutnya mereka juga tidak meninggalkan ruangan tersebut. Mereka juga tidak masuk ke dalam kamar tidur Pek Ciok yang terletak di sebelahnya. Terhadap Toa-suhengnya itu, Kim Ciok dan Giok Ciok menaruh hormat yang tinggi. Tidak demikian dengan Fu Giok-su.

Dia memang harus meminjam kamar Pek Ciok baru dapat menjalankan rencana yang selanjutnya namun dia juga takut ada yang memergokinya. Jadi terpaksa untuk sementara dia berdiam diri.

Tentu saja Kim Ciok, Giok Ciok maupun Yo Hong tidak curiga sama sekali terhadap Fu Giok-su. Meskipun anak muda itu tampak resah dan selalu mondar-mandir, mereka hanya menduga Fu Giok-su mencemaskan keselamatannya sendiri dan sama sekali tidak terpikirkan hal lainnya.

Rasanya lama sekali malam baru tiba. Akhirnya Fu Giok-su baru tenang kembali. Berbalik Kim Ciok bertiga yang malah menjadi tegang. Meskipun pintu dan jendela tertutup rapat dan di luar terdapat berpuluh murid Bu-tong yang berjaga-jaga, namun kepandaian pembunuh itu demikian tinggi. Bagaimana hati mereka tidak cemas.

Oleh karena itu, ketika pintu terdorong dari luar, ketiga orang itu, kecuali Fu Giok-su, segera menggenggamnya senjata masing-masing erat-erat. Yang masuk ternyata Ci Siong tojin.

“Suhu ….” sapa mereka berempat sambil menjura dalam-dalam.

“Kejadian ini membuat kalian menderita,” kata Ci Siong tojin dengan nada pilu.

“Tecu sekalian menjadi tidak tenang karena menguras perhatian,” sahut Fu Giok-su dengan wajah terharu.

Sinar mata Ci Siong tojin terpusat pada wajah Fu Giok-su. “Giok-su, ada beberapa patah kata yang ingin suhu ucapkan kepadamu. Kemarilah.”

Hati Fu Giok-su menjadi tegang. Tapi dia terpaksa mengikuti. Dia tidak berani membantah kata-kata Ci Siong tojin. Pintu dirapatkan. “Entah apa yang ingin suhu katakan kepada Tecu?” tanyanya dengan hati penasaran.

“Kedua suhengmu Pek Ciok dan Cia Peng sudah meninggal. Sekarang kau seorang yang harus meneruskan kesejahteraan Bu-tong. Tinggal kau juga yang terpilih menjadi Ciangbunjin.”

“Tecu takut tidak bisa menjalankannya dengan baik,” mulut Fu Giok-su berkata demikian, padahal dalam hatinya senang sekali.

“Yang paling memusingkan kepala justru bagaimana mengatakannya kepada Wan-ji,” kata Ci Siong tojin kemudian menarik napas panjang

Fu Giok-su menundukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.

“Masalah ini lebih baik kau mengatakannya lebih dini. Biar pikirannya terbuka. Dan ketika pengangkatan diumumkan, hatinya tidak akan begitu terpukul.”

“Tecu mengerti,” kepala Fu Giok-su tertunduk semakin rendah.

“Tapi masalah ini juga harus kau pertimbangkan baik-baik.” Ci Siong tojin menarik napas sekali lagi. “Kau harus tegas mengambil keputusan tentang urusan Wan-ji. Jangan mengucapkan janji-janji muluk yang akan membuat harapannya berkembang.”

Fu Giok-su ikut-ikutan menarik napas dalam-dalam, “Tecu bisa berhati-hati mengatakannya.”

Ci Siong tojin tidak berkata apa-apa lagi. Dia membuka pintu dan keluar dengan langkah lebar. Fu Giok-su tidak mengikutinya. Perasaannya benar-benar kacau saat itu. Matanya mengikuti bayangan tubuh Ci Siong tojin. Akhirnya dia mengambil keputusan.

Pada saat itu, mereka berbicara di dalam kamar Pek Ciok. Fu Giok-su memang ingin menjalankan rencananya di kamar itu. Jadi sebuah kebetulan yang memang sangat diharapkan olehnya. Dia mengeluarkan sebuah orang-orangan yang terbuat dari papan dari balik pakaiannya. Kemudian sepotong bambu sepanjang dua jengkal. Dipasangkan bambu tersebut pada bagian belakang orang-orangan tadi. Setelah itu diselipkan ke sisi meja. Dia juga mengeluarkan seutas tali yang sudah ditaburi bahan peledak pada ujungnya dan diselipkan pada batang bambu lalu diikatnya erat-erat. Ujung tali satunya ditempelkan pada sebatang lilin dan diikat dengan seutas benang. Kalau lilin menyala terus sampai batas itu, tali tadi pun akan tersulut dan menyambar batang bambu yang menempel di papan orang-orangan. Dan akhirnya papan tersebut akan mencelat membuat bayangan orang-orangan tadi terlihat dari kertas jendela di luar. Hasilnya akan tampak seperti ada orang yang melintas di dalam kamar dan menerobos lewat jendela.

Sebelumnya Fu Ciok Su sudah pernah mencobanya berkali-kali. Dan hasilnya memuaskan. Sampai waktu lilin membakar tali pun sudah diperhitungkan dengan matang. Setelah merapikan semua keperluannya, Fu Giok-su segera keluar dari kamar tersebut. Tentu saja dia tidak lupa memasang wajah seperti orang yang pikirannya sedang kalut. Dan pasti dia melakukannya dengan sempurna. Pada dasarnya pikiran anak muda itu memang sedang kalut.

*****

Ci Siong tojin yang masuk ke dalam ruangan di mana Kim Ciok dan dua rekannya berada. Dia tidak lupa berpesan kepada mereka agar lebih berhati-hati. Terutama dalam menjaga Fu Giok-su, sebab dia yakin anak muda itulah yang diincar oleh sang pembunuh kali ini.

Mereka juga bukan orang bodoh. Tentu saja mereka mengerti apa maksud Ci Siong tojin mencari Fu Giok-su. Hati mereka menerima semua keputusan gurunya dengan tulus.

“Suhu tidak perlu khawatir. Dengan adanya kami bertiga yang mengawasi, pembunuh tersebut pasti tidak akan berhasil kali ini.”

“Jangan terlalu berbesar hati,” pesan Ci Siong tojin sekali lagi.

Pada saat itu Fu Giok-su juga sudah menyusul tiba. Dia merapatkan pintu perlahan. Ia kelihatan seperti orang yang pikirannya sedang melayang-layang. Wajahnya kusut. Melihat keadaannya, tanpa sadar Ci Siong tojin menggelengkan kepala. Kemudian dia melangkah keluar dari kamar itu. Keempat muridnya menjura dalam-dalam mengantar kepergiannya. Tidak seorang pun yang mengucapkan sepatah kata.

Setelah itu mereka duduk kembali. Kim Ciok dan Giok Ciok ingin sekali menghibur hati Fu Giok-su. Namun mereka tidak tahu bagaimana mengatakannya dan apa pula yang harus dikatakan. Yo Hong hanya tertawa sumbang.

Fu Giok-su menundukkan kepalanya. Dia tidak mengatakan apa-apa. Padahal dalam hatinya dia sedang menghitung. Pada hitungan ketujuh ratus baru dia mendongakkan kepalanya. “Apakah sam-wi suheng mendengar sesuatu?” tanyanya tiba-tiba.

“Apakah kau maksud apa yang dikatakan Suhu kepada kami tadi?” tanya Yo Hong membalikkan pertanyaannya.

“Tidak ada apa-apa. Suhu hanya berpesan kepada kami agar hati-hati menjagamu,” tukas Kim Ciok.

Giok Ciok malah menarik napas panjang. “Sute … kali ini kau benar-benar menderita,” katanya.

*****

Fu Giok-su tertawa getir.

“Aku bertanya apakah sam-wi suheng mendengar suara langkah kaki yang aneh itu?”

“Oh?” Kim Ciok terpana.

“Tadi siaute seperti mendengar ada orang yang mengerahkan ginkangnya berjalan di atas genting.”

“Apa iya?” Kim Ciok segera menjadi panik.

Yo Hong malah tertawa lebar. “Mungkin hanya seekor kucing,” tukasnya.

Giok Giok ikut-ikutan tersenyum, “Mana mungkin si pembunuh mempunyai nyali sebesar itu?”

Belum lagi Fu Giok-su menyahut, di kamar Pek Ciok terlihat bayangan orang melintas. Kebetulan wajah Kim Ciok menghadap ke arah situ. Dia terkejut sekali dan langsung melonjak berdiri.

“Hati-hati!” kata Fu Ciok Su. Senjatanya dikeluarkan, tubuhnya melesat bagai anak panah.

Bayangan hitam itu masih terlihat jelas di jendela.

“Brak!”, jendela itu hancur berantakan. Fu Giok-su masuk dengan menerobos jendela. Senjatanya dikibaskan. Lilin segera padam. Tangan kirinya dengan sigap memasukkan peralatan tersebut ke selipan ikat pinggangnya bagian dalam. Tangan kanannya mengeluarkan beberapa butir benda berwarna hitam.

“Bum! Bum!”, dia melemparkan butiran benda hitam itu ke atas lantai. Asap langsung memenuhi ruangan tersebut. Senjata di tangan kanannya dihantam ke atas meja. Kaki kanannya menyepak. Meja dan kursi terguling dan menimbulkan suara bising. Teko teh yang terbuat dari keramik juga pecah berantakan. Terdengar dari luar, suara-suara itu seperti Fu Giok-su sedang bertarung dengan seseorang.

Kim Ciok bertiga takut terjadi sesuatu atas diri Fu Giok-su. Mereka menghambur mendekati. Kim Ciok menerobos lewat jendela. Giok Ciok menendang pintu depan sehingga roboh dan masuk lewat pintu tersebut. Mereka semua menerjang masuk. Namun begitu kakinya menginjak ke dalam, kamar tersebut penuh dengan asap hitam.

Di ujung sana Fu Giok-su menggunakan asap hitam itu untuk mengelabui pandangan pada suhengnya. Dia segera menghantamkan senjatanya ke bahunya sendiri. Dia melonjak ke atas. Mulutnya mengeluarkan suara jeritan dan dalam waktu yang bersamaan, tangannya menghantam atap genting dan melayang turun kembali.

Asap hitam mulai buyar. Tubuh Fu Giok-su terlihat sedang bergulingan di tanah. Dengan cepat dia membuang senjatanya ke sudut ruangan dan sekali lagi mengeluarkan suara rintihan. Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong tentu saja tidak dapat melihat apa yang terjadi. Mereka mendengarkan suara-suara itu dengan hati tercekam. Kim Ciok mengibaskan lengan bajunya dengan harapan dapat mengipas asap tersebut agar buyar dan matanya dapat melihat dengan jelas.

“Fu Giok-su …. Fu-sute!” teriaknya memanggil.

“Di sini!” sahut Fu Giok-su dengan susah payah.

Kim Ciok berlari ke arah asal suara. Pada saat itu juga, para penjaga yang berada di luar berhamburan mendatangi. Asap buyar keluar dari ruangan tersebut. Penglihatan Giok Ciok dan Yo Hong mulai jelas.

“Cepat buka semua jendela!” seru Giok Ciok memberi perintah.

Para murid Bu-tong pai segera menurut dan membuka setiap jendela yang ada di kamar itu.

Akhirnya asap benar-benar membuyar bersih. Kim Ciok dan Giok Ciok memapah Fu Giok-su dari kiri kanan. Dibaringkannya tubuh anak muda itu di atas tempat tidur. Yo Hong segera membawakan obat Kim-cang-yok. Mereka membungkus lengan atas Fu Giok-su yang terluka. Tepat pada saat itu, Ci Siong tojin beserta Gi-song dan Cang-song yang mendengar berita itu juga sudah mendatangi.

Lun Wan-ji juga menyusul di belakang. Melihat Fu Giok-su yang terluka, dia segera menyibakkan kerumunan para murid Bu-tong dan menghampiri sang kekasih. “Fu-toako, bagaimana keadaan lukamu?” tanyanya khawatir.

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa. Hanya terkena beberapa buah senjata rahasia dan terluka pada bagian bahu,” sahutnya dengan suara lirih.

“Melihat luka di bahu Fu-sute, tampaknya tertusuk benda tajam. Jangan-jangan orang yang melukai Fu-sute menggunakan senjata Sou-hou-cang,” kata Kim Ciok memberikan pendapatnya.

“Tidak salah. Malah senjata yang digunakan persis seperti yang biasa aku pakai. Untung sebelumnya aku sudah bersiap diri. Sehingga bagian leher tidak terserang olehnya,” sahut Fu Giok-su.

Ci Siong tojin mendengarkan percakapan mereka dengan seksama. Tiba-tiba dia bertanya, “Bagaimana raut wajah orang itu? Apakah kau mengenalinya?”

“Dia mengenakan pakaian hitam, wajahnya terselubung. Yang terlihat hanya sepasang matanya saja,” sahut Fu Giok-su setelah merenung sejenak.

“Kami hanya melihat bayangannya dari kertas jendela,” tukas Kim Ciok.

“Pada saat itu Fu-sute langsung menghambur dan menerobos lewat jendela.”

“Kalian sebetulnya harus memberikan bantuan kepada Fu-sute,” kata Ci Siong tojin.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: