Kumpulan Cerita Silat

17/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (09)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:14 am

Ilmu Ulat Sutera (09)
Oleh Huang Ying

Selesai berkata, pintu didorong dari depan, seorang wanita melangkah masuk ke dalam. Wanita itu mencolok sekali dandanannya. Pakaiannya mewah, gayanya genit. Setiap kali melangkah pinggangnya lenggak-lenggok. Tangan kanannya menggenggam sebuah kotak kain yang sangat halus buatannya.

Belasan orang yang melihat kedatangan wanita itu, tampak berubah hebat wajahnya. Manusia berpakaian abu-abu itu segera menghampiri dan membungkuk hormat. Wanita yang berpakaian warna-warni itu tertawa merdu, “Semua jendela yang menghadap ke tempat kita ini setengah terbuka. Hal ini tidak sulit diduganya.”

Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya. Wanita berpakaian abu-abu itu membalikkan tubuhnya dan menutup kembali pintu tadi. Manusia berpakaian abu-abu tadi segera menghunus pedangnya dan menikam leher laki-laki berusia setengah baya tadi.

“Congkoan…!” setiap orang yang ada dalam ruangan menyiratkan rasa terkejut yang tidak terkirakan.

Gerakan pedang manusia berpakaian abu-abu berhenti. Pedangnya berkelebat ke kiri dan kanan. Kembali dia membunuh lima orang yang ada dalam ruangan itu. Sisa orang-orang itu panik sekali. Mereka mengeluarkan senjatanya masing-masing. Manusia berpakaian abu-abu seakan memandang sebelah mata. Pedangnya kembali bergerak menembus jantung salah seorang yang tersisa.

Hujan darah menciprat di mana-mana. Dua orang lagi tertikam oleh pedangnya. Kedua orang itu menjerit ngeri lalu roboh ke tanah. Ketika tubuh manusia berpakaian abu-abu itu melesat ke udara, salah seorang berusaha menerobos lewat jendela. Baru dia bermaksud menyelinapkan kepalanya ke dalam jendela tersebut, pedang manusia berpakaian abu-abu tadi sudah menebasnya dari belakang tepat di bagian kepala. Dia masih belum ingin berhenti. Selesai dengan yang satu, dia mengincar yang lain. Seorang laki-laki berusaha menghindar dan menyusup ke kolong meja, namun percuma. Pedang manusia berpakaian abu-abu itu menebas batang lehernya dan kepalanya segera melayang di udara dan jatuh ke tanah.

Orang terakhir yang masih hidup tentu saja ketakutan setengah mati. Dia sadar tidak ada jalan keluar lagi. Akhirnya dia hanya berdiri menempelkan punggungnya di tembok menunggu kematian. Pedang manusia berpakaian abu-abu tidak mengenal kata belas kasihan. Dada orang itu ditikamnya sehingga menembus ke belakang. Belum sempat orang itu menjerit kesakitan, tubuhnya sudah roboh bermandikan darah.

Warna merah menghiasi seluruh ruangan. Tembok maupun meja dan lantainya. Manusia berpakaian abu-abu itu tertawa dingin beberapa kali. Rasa bangganya belum lenyap, namun orang yang berada dalam ruangan itu sudah mati semua.

*****

Tandu mewah tadi digotong keluar kembali, mereka mengambil arah yang sama dengan datangnya. Orang tua pemilik toko obat itu mengantarkan sampai di depan dan menutup pintunya rapat-rapat.

Melihat keadaan itu, kening Tok-ku Hong segera berkerut. Han-ciang Tiau-siu juga merasa curiga.

“Tampaknya ada yang tidak beres,” katanya.

“Su-hu-hoat, cepat kau kejar tandu itu. Kalau bisa, selidiki di mana letak markas mereka yang lain!” perintah Tok-ku Hong.

Han-ciang Tiau-siu menganggukkan kepalanya dan mengundurkan diri.

“Yang lainnya ikut aku menyerbu ke dalam!” perintah Tok-ku Hong selanjutnya. Sepasang goloknya sudah disiapkan di tangan. Dia keluar menerobos jendela.

Lim Seng dan Cen Bu segera mengikuti gerakannya. Begitu mencapai tanah, Lim Seng mengibaskan tangannya. Puluhan anak buah Bu-ti-bun yang tadi menyamar sebagai tamu sebuah kedai minum segera berhamburan mendatangi.

Pintu toko obat sudah tertutup rapat, dari dalam tidak terdengar sedikit suara pun.

“Dobrak pintu itu!” kata Tok-ku Hong.

Para anggota Bu-ti-bun segera mengiakan. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan menggempur pintu itu hingga roboh. Berbondong-bondong mereka menyerbu ke dalam. Untuk sesaat mereka tidak bisa melihat apa-apa, karena dalam ruangan itu dipenuhi asap tebal. Tentu ada orang yang melemparkan semacam granat sehingga ada waktu baginya untuk melarikan diri.

Sekejap kemudian asap mulai menipis. Tampak orang tua pemilik toko obat duduk di belakang meja dengan kening bergurat luka. Orang tua itu sudah mati.

“Serbu!” teriak Tok-ku Hong. Dia langsung menerjang ke dalam. Lim Sen dan Cen Bu takut terjadi apa-apa pada nona besarnya, mereka mengikuti dari belakang.

Di ruangan dalam terlihat mayat berserakan, darah segar masih menggenang di mana-mana, benar-benar sebuah pemandangan yang mengerikan. Tok-ku Hong mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan.

“Pihak lawan sudah tahu kalau tindak-tanduk mereka diawasi oleh kita, maka dia membunuh semua anak buahnya sendiri agar tidak sempat membocorkan rahasia lainnya,” kata gadis itu.

Baru saja selesai berkata, terdengar suara jeritan menyayat. Tok-ku Hong membalikkan tubuhnya dan menghambur ke arah asal suara. Sampai di depan toko obat dia melihat beberapa mayat anggota Bu-ti-bun tergeletak di sana. Tukang ramal dan bocah penjaja buah juga sudah roboh dengan luka mengerikan. Seorang manusia berpakaian abu-abu sedang bertempur dengan beberapa anggota Bu-ti-bun lainnya.

Gerakan manusia berpakaian abu-abu itu sangat cepat. Berhasil membunuh dua orang, dia segera menutul kakinya meninggalkan tempat itu. Namun masih ada dua orang anggota Bu-ti-bun yang mengadang di depannya. Pedangnya berkelebat, keduanya mati seketika.

Tok-ku Hong menggertakkan giginya erat-erat. Dia mengejar manusia berpakaian abu-abu itu. Lim Seng dan Cen Bu segera mengikuti dari belakang. Tanpa memalingkan kepala sekalipun, manusia berpakaian abu-abu itu terus lari ke depan. Di jalanan para penduduk kalang kabut, mereka masuk ke dalam rumah masing-masing dan mengunci pintu rapat-rapat.

*****

Keluar dari kota, melintas daerah terpencil kemudian masuk ke dalam hutan.

Tok-ku Hong akhirnya berhasil mengejar manusia berpakaian abu-abu. Secepat kilat goloknya meluncur, manusia berpakaian abu-abu itu berkelit ke samping, kemudian meloncat ke atas sebatang pohon. Tampaknya dia hanya menghindar terus. Tok-ku Hong curiga melihat tindak tanduknya. Namun dia tidak mau melepaskan manusia berpakaian abu-abu itu begitu saja. Dia menutulkan kakinya dan mencelat ke atas pohon yang sama. Goloknya sulit mencapai sasaran karena dedaunan yang lebat.

Manusia berpakaian abu-abu itu seolah tengah mempermainkannya. Begitu Tok-ku Hong naik ke atas pohon, dia meloncat turun kembali. Tok-ku Hong gagal menebas manusia berpakaian abu-abu itu. Dia segera menyusul turun. Tepat pada saat itu, kaki si manusia berpakaian abu-abu baru mencapai tanah.

Tok-ku Hong yang menyusul belakangan mengayunkan goloknya ke bawah.

“Crep!”, manusia berpakaian abu-abu sempat menggeser tubuhnya, namun topi pandannya yang berbentuk aneh tertebas juga oleh golok Tok-ku Hong. Gadis itu segera mendarat di tanah dan berdiri berhadapan dengan manusia berpakaian abu-abu itu.

Topi orang itu sudah terlepas. Sekarang terlihatlah apa yang ada di balik topi tersebut. Tok-ku Hong berdiri tertegun. Orang itu sama sekali tidak mempunyai alis hidung atau pun mata. Wajahnya rata. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat manusia semacam ini. Meskipun dia seorang gadis yang pemberani, namun menemui wajah semacam ini rasanya menggetarkan hatinya juga.

Manusia berpakaian abu-abu itu segera menggunakan kesempatan ketika Tok-ku Hong terlongong-longong untuk melesat dan meninggalkan tempat tersebut. Beberapa saat kemudian, Tok-ku Hong baru tersadar, namun manusia berpakaian abu-abu itu sudah lenyap dari pandangan.

Lim Seng dan Cen Bu menyusul tiba. “Siocia, apakah orang itu sudah kabur?” tanya mereka panik.

Tok-ku Hong mengangguk kecil. Sinar matanya mengandung kecurigaan. “Apakah kalian bertemu dengan Su-hu-hoat di perjalanan tadi?” tanyanya tiba-tiba.

Lim Seng dan Cen Bu menggelengkan kepalanya serentak.

“Dia pasti akan meninggalkan jejak sepanjang perjalanan, coba kalian cari,” kata Tok-ku Hong datar.

“Apakah siocia khawatir terjadi sesuatu pada Su-hu-hoat?” tanya Lim Seng.

Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya berkali-kali.

*****

Pada saat itu, Han-ciang Tiau-siu berada dalam jarak tiga li dari luar hutan. Empat orang laki-laki bertubuh tegap itu semakin lari semakin cepat. Gerakan mereka tidak seperti sedang menggotong sebuah tandu yang ada orang di dalamnya. Mereka masuk ke dalam hutan yang lebat.

Daun-daun berguguran. Di dalam hutan juga tersorot sinar mentari. Cahaya menembus ranting-ranting dan dedaunan. Kabut mulai menebal. Han-ciang Tiau-siu berlari melintasi daun-daun yang berguguran. Gerak-geriknya hati-hati, mata terus mengawasi tandu di depan sana.

Meskipun di tanah berserakan daun-daun namun kaki Han-ciang Tiau-siu yang menginjaknya tidak menerbitkan suara. Hal ini membuktikan tingginya ginkang yang dimiliki Su-hu-hoat dari Bu-ti-bun itu. Setelah berlari kurang lebih tiga depa, tiba-tiba empat orang laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. Mereka menurunkan tandu yang mewah tersebut. Mereka berpencaran dan meninggalkan tandu itu lalu melesat ke depan.

Melihat keadaan itu, Han-ciang Tiau-siu merasa heran sekali. Dia bergerak maju lagi beberapa langkah kemudian bersembunyi di balik sebatang pohon. Tandu itu sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan.

Kabut di dalam hutan semakin tebal. Tidak terdengar kicauan burung ataupun deru suara angin. Begitu sunyinya bagai menginjak alam kematian. Tubuh Han-ciang Tiau-siu berkelebat lagi. Persis seperti seekor kuda terbang melintasi atap tandu.

“Sret!”, tangannya bergerak. Tali pancingnya mengait atap tandu dan tersingkap seketika. Tidak ada reaksi apa pun dari dalam tandu.

Tubuhnya mendarat di tanah. Telapak tangannya segera menghantam tandu tersebut. Suara hantaman telapak tangannya menggelegar. Tandu itu hancur berantakan. Di antara keping-kepingan yang berjatuhan, Han-ciang Tiau-siu menatap dengan tajam. Tidak ada orang yang meloncat keluar dari dalam tandu. Ternyata yang diikutinya sejak tadi adalah sebuah tandu kosong.

Tiba-tiba sebuah suara tawa yang merdu bagai irama musik berkumandang, sebentar jelas sebentar sayup. Han-ciang Tiau-siu mendongakkan kepalanya. Sinar matahari masih menyorot lewat celah-celah pohon. Angin mulai bertiup kencang. Secarik sinar seperti pelangi melintas dari arah timur atas pohon dan melayang ke bawah.

Sinar mata Han-ciang Tiau-siu berpendar. Hatinya bergetar. Cahaya pelangi belum memudar. Kenyataannya yang melintas tadi memang bukan pelangi, melainkan seorang wanita dengan pakaian warna-warni. Dialah orang yang berada dalam tandu dan diikuti oleh Han-ciang Tiau-siu sejak keluar dari toko obat.

Tadinya dia memang duduk di dalam tandu, tapi entah sejak kapan dia sudah keluar dari tandu dan bersembunyi di atas pohon. Kabut semakin menebal. Wanita itu juga semakin mempesona. Han-ciang Tiau-siu memandanginya tanpa berkedip. Tampak sinar mata ketakutan yang mencekam hati. Rupanya dia sudah tahu asal usul wanita itu.

Wanita itu tersenyum manis. Dia merapikan rambut di keningnya dengan jari tangannya yang indah.

“Sepuluh tahun tidak berjumpa, tidak disangka sifatmu masih juga berangasan,” katanya dengan suara merdu.

Han-ciang Tiau-siu tidak menyahut. Jari tangannya tidak henti bergerak di atas bambu pancingannya. Tampaknya dia sedang mengukir, tapi matanya menatap wanita itu lekat-lekat.

“Kenapa? Sekarang kau sudah pandai menahan emosi?” tanya wanita itu masih mengembangkan senyuman. Dia maju ke depan satu langkah.

Tanpa sadar Han-ciang Tiau-siu malah ikut mundur satu langkah. “Kau belum mati?”

“Kau senang kalau aku mati?” tanya wanita itu. Senyumnya sudah lenyap.

“Senang sekali,” sahut Han-ciang Tiau-siu sambil meluncurkan tali pancingnya ke arah tenggorokan wanita berpakaian warna-warni itu.

Dengan tertawa dingin wanita itu menggeser tubuhnya. Tali pancing Han-ciang Tiau-siu lewat di samping lehernya. Hati Su-hu-hoat dari Bu-ti-bun ini semakin tegang. Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya ilmu wanita itu sudah maju pesat. Dulu saja dia bukan tandingannya, apa lagi sekarang. Han-ciang Tiau-siu sudah dapat membayangkan akibat yang akan diterimanya. Namun dia tidak sudi menerima kematian begitu saja. Paling tidak namanya juga pernah menggetarkan dunia kangouw.

Tali pancingnya dilontarkan kembali. Kali ini mengarah bagian belakang kepala wanita itu. Jaraknya sudah demikian dekat, tapi wanita itu masih tenang-tenang saja. Pada saat terakhir dia membungkukkan tubuhnya tangan kanannya terangkat dan dengan sigap menyambut tali pancing tersebut. Belum lagi Han-ciang Tiau-siu tersadar, tangan kiri wanita itu sudah mengebas, serangkum hawa dingin menerpa. Beberapa buah senjata rahasia dilontarkan ke arah jantung Han-ciang Tiau-siu. Laki-laki itu segera berkelit namun terlambat. Meski tidak semua senjata rahasia mengenai tubuhnya, tapi yang pasti tiga buah paku sudah menancap di dalam dadanya. Wajahnya berubah hebat. Dia merasa dadanya panas sekali. Dengan susah payah dia berusaha menengok lukanya. Dadanya sudah hangus terbakar dan kulit di seluruh bagian depan tubuhnya berubah warna menjadi kebiru-biruan. Ternyata paku itu mengandung racun yang sangat keji.

Wanita itu tertawa terkekeh. Gayanya memikat. Namun bagi Han-ciang Tiau-siu, wanita itu ibarat iblis yang demikian menakutkan. Matanya mendelik lebar-lebar. Tubuhnya terkapar di tanah, napas pun berhenti.

Dengan tenang wanita itu menghampirinya. Dia menatap mayat Han-ciang Tiau-siu dengan kegairahan yang menyeramkan. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik pakaiannya. Isi botol itu berbentuk cairan, dituangkannya ke atas tubuh Han-ciang Tiau-siu.

“Wes!”, perlahan tubuh laki-laki lumer bagai es batu yang disiram air panas. Dalam waktu sekejap mata mayat itu tinggal seonggok darah dan uap yang mengepul dan perlahan sirna. Bahkan pakaian Han-ciang Tiau-siu tinggal potongan-potongan kecil saja. Bagaimana mungkin seorang wanita yang demikian cantik dapat melakukan perbuatan yang demikian keji? Rasanya mustahil, tapi kenyataannya memang benar ada.

*****

Angin bertiup semilir. Cahaya matahari makin terik. Kabut mulai menipis.

“Sret! Sret!”, golok di tangan Tok-ku Hong sibuk menyibak ranting pohon yang menjuntai menutupi jalan. Lim Seng dan Cen Bu masih mengikuti dari belakang. Han-ciang Tiau-siu memang meninggalkan petunjuk-petunjuk di sepanjang perjalanan. Dalam Bu-ti-bun ada kode tersendiri yang hanya dikenal oleh anak muridnya. Oleh karena itu, akhirnya Tok-ku Hong berhasil juga mencapai tempat tersebut.

“Tandunya ada di sana!” teriak Lim Seng sambil menuding ke depan.

“Aneh!” kata Tok-ku Hong yang malah menghentikan langkah kakinya.

Cen Bu sendiri juga merasa heran. “Mengapa tandu itu hancur tidak karuan?”

“Mereka pasti pernah bertarung di tempat ini,” gumam Tok-ku Hong. Sepasang goloknya digenggam erat-erat. Dia menerjang ke depan

Lim Seng dan Cen Bu saling melirik sekilas kemudian ikut menerjang. Namun sampai di depan hancuran tandu itu, tetap tidak ada reaksi yang mencurigakan. Tidak terlihat seorang manusia pun di tempat itu.

Tok-ku Hong mengedarkan pandangan matanya. Tiba-tiba dia melihat senjata Han-ciang Tiau-siu tergeletak di atas tanah. Hatinya mulai tidak enak.

“Pancingan …!” serunya lirih.

Mendengar seruan itu, Lim Seng segera menolehkan kepalanya. Matanya terbelalak. “Bukankah itu senjata Su-hu-hoat?”

“Sudah pasti.” Kening Tok-ku Hong berkerut, “Su-hu-hoat memandang senjata lebih-lebih dari nyawanya sendiri. Bagaimana sekarang bisa ditinggalkan di sini?”

Lama sekali gadis itu termenung. Kemudian dia melihat genangan darah di dekat semak-semak. Genangan darah itu masih belum mengering. Angin bertiup, serangkum hawa amis menerpa. Tok-ku Hong mengendus-endus pucuk hidungnya. Dia membungkukkan tubuhnya dan mengambil batang bambu senjata Han-ciang Tiau-siu lalu diperhatikannya dengan seksama.

“Siocia, coba kau lihat ….” kata Lim Seng seraya berjalan ke arah genangan darah tadi.

“Su-hu-hoat pasti gugur dalam tugas.” Sinar mata Tok-ku Hong mengikuti langkah Lim Seng. “Sedangkan genangan darah itu ….” dia hampir tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

“Jangan-jangan genangan darah ini ….” lidah Lim Seng dan Cen Bu juga ikut menjadi kaku.

Tubuh Tok-ku Hong menggigil.

“Siapa yang mempunyai kemampuan melakukan semua ini?” tanya Cen Bu penasaran.

Mata Tok-ku Hong beralih kembali pada batang bambu di tangannya. “Aku yakin jawabannya ada pada huruf di batang bambu ini,” katanya.

“Apakah siocia dapat mengerti apa yang dimaksudkannya?”

“Aku tidak mengerti,” sahut Tok-ku Hong sambil menggelengkan kepalanya. “Rasanya huruf ini serupa dengan ‘Yi’ (hujan).”

Hujan, tebakan Tok-ku Hong memang benar.

“Hujan?” Lim Seng mengulangi kata-kata itu kembali.

“Apa yang dimaksudkan oleh Han-ciang Tiau-siu dengan ‘hujan’?” Tok-ku Hong mendongakkan wajahnya ke langit.

Kembali angin bertiup. Kali ini lebih kencang. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dan hujan pun turun dengan deras membasahi wajah dan tubuh Tok-ku Hong. Gadis itu mengangkat tangannya mengusap air hujan yang membasahi wajahnya. Perasaannya semakin sendu.

*****

“Hujan!” kata-kata yang sama keluar dari mulut ketiga Hu-hoat lainnya dari Bu-ti-bun. Nada dan wajah mereka sama kelamnya.

Melihat guratan di atas bambu Han-ciang Tiau-siu, wajah mereka sudah berubah hebat. Tangan Kiu-bwe-hu yang menggenggam batang bambu itu gemetar. Cian-bin-hud menarik napas panjang.

“Kalau bukan karena bertemu dengan hujan, Lao-su tidak mungkin akan mati demikian mengenaskan,” katanya.

Tok-ku Hong tidak dapat menahan perasaannya lagi. “Siapa sebetulnya ‘hujan’ itu?” desaknya.

“Orang dari Pik-lok-sit (organisasi batu giok berjatuhan).”

“Langit bergerak, hujan angin melanda, kilat dan geledek mengguncang bumi. Langit terdiam, tanah bagai cermin, batu giok berjatuhan.” Suara Cian-bin-hud semakin bergetar. “Menurut cerita yang tersebar, di bu-lim pernah muncul serombongan manusia. Ilmu mereka sangat tinggi. Tidak banyak orang yang sanggup menghadapi mereka. Karena mereka datang dari Pik-lok. Di mana tempat itu tidak ada yang tahu. Ada yang mengatakan di batas langit. Dan ilmu mereka kuasai rata-rata keji dan telengas dan hampir tidak masuk akal.”

“Benar?” tanya Tok-ku Hong penasaran.

Cian-bin-hud tertawa.

“Tentu saja tidak. Meski urusan apa pun, kalau sudah tersebar di dunia bu-lim, pasti banyak bumbu yang ditambahkan. Sebuah cerita yang biasa saja bisa berubah menjadi menegangkan. Tapi cerita ini paling bertahan. Selama beberapa puluh tahun cerita ini menjadi semacam legenda.”

“Mungkin karena bumbu-bumbu cerita masyarakat itulah, akhirnya orang-orang itu mengambil nama hujan, angin, kilat dan geledek. Kibasan lengan baju Angin, paku dan jarum Hujan, golok Kilat, pedang Geledek. Mereka mengguncangkan dunia persilatan dengan keahlian masing-masing. Namun mereka bukan ketuanya. Di balik mereka masih ada tokoh lain yang menjadi kepala. Orang itu disebut Langit.

“Siapa ‘langit’ yang kau maksud?”

“Langit adalah Thian-ti (raja langit). Konon ilmunya jauh di atas hujan, angin kilat ataupun geledek. Dia mempunyai permaisuri, selir, putra mahkota dan putri. Sayangnya, generasi demi generasi, kekuasaan mereka semakin pudar. Dua puluh tahun yang lalu, karena banyaknya perbuatan jahat yang mereka lakukan, tempat persemayaman mereka yang disebut istana Pik-lok diserbu oleh kaum pendekar.”

“Bagaimana kesudahannya?” tanya Tok-ku Hong semakin tertarik.

“Mereka berhasil meraih kemenangan, namun akhirnya mereka berhasil dikalahkan oleh Buncu.”

“Maksudmu … ayahku?” tanya Tok-ku Hong tercengang.

“Betul!” Sinar mata Cian-bin-hud memancarkan semangat ketika menceritakan bagian itu. “Sejak kekalahan itu, tidak pernah terdengar kabar berita mereka lagi. Setelah sekian lama, di dunia kangouw tersebar lagi berita bahwa mereka melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat yang disebut Siau-yau-kok (lembah bebas merdeka).”

“Siau-yau-kok?”

“Mereka sendiri yang mengubah dan mengganti lembah tersebut dengan nama Siau-yau-kok. Mungkin maksudnya bahwa mereka telah terlepas dari kejaran orang-orang dunia kangouw dan sudah bebas merdeka.” Cian-bin-hud tertawa getir. “Tempat itu belum tentu menyenangkan dan sudah pasti sangat terpencil serta misterius. Begitu misteriusnya sampai saat ini orang-orang kita masih belum berhasil menemukan di mana letaknya.”

“Bu-ti-bun ada menyelidikinya? Mengapa selama ini aku tidak pernah tahu?” tanya Tok-ku Hong dengan nada tidak senang.

“Kalau dikatakan, sebetulnya sepuluh tahun yang lalu kita sudah mulai mengurangi kegiatan penyelidikan ini. Kalaupun diteruskan, hanya karena atasan belum benar-benar menurunkan perintah untuk berhenti. Sebuah organisasi yang sudah lenyap selama sepuluh tahun, siapa pun, lama kelamaan orang pasti mulai melupakannya,” kata Cian-bin-hud sambil menarik napas panjang.

Mau tidak mau Tok-ku Hong harus menyetujui pendapat ini.

“Kemunculan Hujan kali ini, kalau dilihat dari berbagai jejak yang ditinggalkan, pasti mempunyai rencana tertentu. Tampaknya orang-orang Siau-yau-kok sudah mulai bergerak kembali,” kata Cian-bin-hud kemudian.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?”

Mata setiap orang terpusat pada wajah Cian-bin-hud. Hwesio itu mengelus-elus kepalanya yang gundul.

“Buncu sampai sekarang masih menutup diri. Pinceng rasa untuk sementara kita lihat dulu perkembangan. Lo-ji, bagaimana pendapatmu?”

Kiu-bwe-hu menganggukkan kepalanya.

“Aku juga merasa lebih baik kita menunggu Buncu baru mengambil keputusan.”

Tok-ku Hong tertawa dingin. “Apakah kita harus mendiamkan saja masalah ini?” katanya tajam.

Kiu-bwe-hu buru-buru menjelaskan, “Tentu saja tidak. Masalahnya pihak lawan tampaknya tidak ingin terang-terangan bentrok dengan kita. Mereka tidak segan-segan membunuh semua anak buahnya yang ada di toko obat agar rahasianya tidak bocor. Lagi pula sampai sekarang kita tidak tahu di mana letak markas mereka yang sebenarnya. Andai kata kita mau mencari mereka, juga bukan urusan yang mudah.”

“Betul,” Cian-bin-hud menganggukkan kepalanya. “Hal pertama yang harus kita lakukan sekarang adalah menurunkan perintah ke semua anak cabang agar mereka harus berhati-hati dalam segala tindak-tanduk dan secara diam-diam menyelidiki di mana letak Siau-yau-kok. Mereka toh sudah menyebarkan orang-orangnya di dunia kangouw, maka kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk.”

“Bagaimana kalau kita sudah menemukannya?” tanya Tok-ku Hong.

“Lihat dulu apakah kita berhasil mengikut mereka sampai menemukan Siau-yau-kok, setelah Buncu keluar nanti, kita langsung serang markas mereka.”

Tok-ku Hong terdiam mendengar keterangan itu. Seorang tokoh yang berjuluk Hujan saja sanggup membuat salah satu Hu-hoat mereka Han-ciang Tiau-siu berubah menjadi genangan darah. Meskipun pengalaman Tok-ku Hon dalam dunia kangouw belum luas, namun dia dapat membayangkan kehebatan orang-orang Siau-yau-kok.

*****

Satu kentungan kemudian ratusan burung merpati dilepaskan dari kantor pusat Bu-ti-bun. Suara keliningan berdenting. Suara kepak sayap bergemuruh. Serangkum ketegangan yang sulit diuraikan dengan kata-kata memenuhi tempat itu.

Suara keliningan dari dekat lalu menjauh akhirnya menghilang. Puluhan penunggang kuda menghambur cepat dari pintu kantor pusat Bu-ti-bun. Mereka adalah orang-orang pilihan yang sudah melalui latihan yang keras. Mereka bertugas menyebarkan berita ke cabang-cabang yang agak jauh.

Bagi Bu-ti-bun sendiri, muncul kembalinya Siau-yau-kok lebih membahayakan dari pada Bu-tong-pai. Dilihat dari ahli-ahli berkuda yang mereka kerahkan, dapat membuktikan bahwa mereka menaruh perhatian khusus terhadap Siau-yau-kok.

Sebelum Tok-ku Bu-ti keluar dari ruang latihannya, anggota Bu-ti-bun pasti tidak berani mengambil tindakan yang akan menggemparkan dunia kangouw. Juga tidak ada orang yang berani memikul tanggung jawab seberat itu.

Bu-ti-bun mempunyai banyak cabang yang tersebar di mana-mana. Orang pilihan yang keluar dengan mengendarai kuda tadi juga bertugas melanjutkan penyelidikan setelah mengabarkan perintah dari kantor pusat. Kekuatan Bu-ti-bun sekarang tentu jauh lebih hebat dibandingkan dua puluh tahun yang lalu.

Hasil penyelidikan yang akan didapat sekarang juga tentu akan lebih banyak. Persiapan yang dilakukan sekarang adalah untuk berjaga-jaga andai kata mereka terpaksa harus bertarung atau mengadakan perang dengan orang-orang Siau-yau-kok. Sementara itu penjagaan di dalam kantor pusat otomatis lebih diperketat lagi.

*****

Demikian juga yang terjadi di Bu-tong-san. Di sepanjang perjalanan menuju puncak gunung dibangun tenda-tenda beratap rumput. Di setiap tenda terdapat empat anak murid Bu-tong-pai yang berjaga-jaga. Mereka membagi diri menjadi dua rombongan, bergantian berjaga siang dan malam.

Sayangnya ilmu silat yang mereka kuasai cukup terbatas. Mereka tidak pernah memergoki Wan Fei-yang yang sering keluar menuju tempat terpencil untuk belajar silat. Mereka juga tidak pernah memergoki Fu Giok-su yang sering berkunjung ke telaga dingin. Bagi orang yang berilmu tinggi, tentu tidak sulit melepaskan diri dari penjagaan murid-murid Bu-tong itu. Seperti malam ini.

Malam belum larut. Bulan belum sepenuhnya bulat.

Di bawah cahaya rembulan yang redup, Fu Giok-su melewati koridor panjang dan sampai di depan pintu kamar.

Baru saja dia mendorong pintu, sudah dirasakan ada seorang yang mendekatinya dari belakang. Langkah kakinya terhenti seketika.

“Siapa?”

“Aku!” seiring sahutan itu, seseorang melintas di samping dan menerobos masuk ke dalam kamar.

Tanpa bersuara sedikit pun, Fu Giok-su mengikutinya masuk ke dalam. Kemudian dia merapatkan pintu kamarnya kembali. Orang itu sudah duduk di sisi meja. Pakaiannya berwarna abu-abu, kepalanya memakai sebuah topi pandan berbentuk aneh. Sebagian besar wajahnya tenggelam dalam topi tersebut. Siapa lagi kalau bukan manusia tanpa wajah dari Siau-yau-kok.

“Jangan khawatir. Tidak ada yang melihat aku,” nada suaranya juga sama.

Fu Giok-su baru bisa menghela napas mendengar keterangannya. “Mengapa kau bisa menyelinap ke sini? Apakah telah terjadi sesuatu?” tanyanya.

Manusia tanpa wajah itu menganggukkan kepalanya. “Kongcu ….” sapanya kepada Fu Giok-su.

Tubuh Fu Giok-su berkelebat mendekati jendela. Dia menurunkan tirai jendela kamarnya. Sekejap kemudian, terlihat dua orang penjaga dengan lentera di tangan melintas di depan kamarnya. Fu Giok-su masih menunggu sejenak.

“Kau sudah boleh bicara,” katanya.

“Bu-ti-bun sudah mengetahui bahwa kita yang menyamar anggota mereka dan mengejar Ci Siong tojin.”

Fu Giok-su terkejut sekali. “Hah?”

“Menurut laporan, mereka juga menggali kuburan dan membuka setiap peti mati. Mereka juga meringkus semua tetangga rumahmu dan menanyakan masalah ini.”

“Ternyata mereka gesit juga.”

“Toko obat yang kita gunakan sebagai penghubung sudah terbongkar rahasianya. Untung saja cepat diketahui oleh pihak kita. Mereka belum berhasil menemukan apa-apa dan juga tidak mendatangkan jagoannya.”

“Mendengar nada bicaramu, tampaknya telah terjadi sesuatu yang berada di luar rencana kita?” tanya Fu Giok-su.

“Hm ….” manusia tanpa wajah itu menyunggingkan sebuah senyuman yang mengerikan.

Dapat dibayangkan bagaimana kalau seseorang yang tidak memiliki bibir tapi dapat tersenyum. Tentu saja yang terlihat hanya kerutan-kerutan pada wajahnya yang polos itu.

“Sam-kokcu malah berhasil membunuh salah seorang dari Hu-hoat mereka. Han-ciang Tiau-siu.”

“Suatu pembunuhan yang hebat!” Fu Giok-su merenung sejenak. “Kemungkinan besar mereka tidak akan mengambil tindakan membalas dendam dalam waktu dekat ini.”

“Karena kita melakukannya dengan rapi, mereka belum tentu tahu siapa yang melakukannya. Apa lagi Tok-ku Bu-ti masih mengunci diri berlatih ilmu.”

Fu Giok-su mengelus-elus dagunya. “Oh ya … Ban-ni-tua-sik itu ….”

“Sudah aku bawakan.”

“Bagus sekali! Yaya akhir-akhir ini terus mendesak aku. Kadang-kadang aku sampai tidak tahu bagaimana harus memberi jawaban kepadanya.”

“Hal ini tidak dapat menyalakan Lao-cujin (majikan tua). Kalau sudah tidak ada harapan, ya tentu tidak usah dikatakan lagi. Namun begitu ada harapan, bagaimana dia tidak panik. Beliau sudah cukup menderita terkurung sekian lama di telaga dingin,” kata si manusia tanpa wajah. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik pakaiannya.

Fu Giok-su menerima kotak itu dan membukanya. Serangkum bau harum segera terpancar dari kotak itu. Fu Giok-su cepat-cepat menutupnya kembali. Dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyodorkannya kepada manusia tanpa wajah itu.

“Di sini ada seorang pelayan bernama Wan Fei-yang. Riwayat hidupnya mungkin tidak sederhana. Di atas kertas ini ada bahan-bahan mengenai dirinya. Kalian selidiki asal-usul orang ini,” perintahnya.

“Serahkan saja kepadaku.”

“Ada lagi, lain kali kita jangan bertemu di sini lagi. Setiap tanggal satu dan lima belas aku akan turun gunung menemuimu,” kata Fu Giok-su selanjutnya.

“Baik” sahut manusia tanpa wajah sambil menyimpan kertas pemberian Fu Giok-su. “Apakah masih ada hal lainnya?”

“Tidak ada lagi,” Fu Giok-su membukakan pintu kamar dan melongok ke sekitar. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, dia baru menggeser tubuhnya ke samping.

Manusia tanpa wajah itu segera melintas di samping Fu Giok-su dan menyelinap keluar. Tubuhnya bergerak bagai segumpal asap dan menghilang di kegelapan malam.

Fu Giok-su menutup kembali pintu kamarnya. Setelah itu dia membuka kembali kotak yang dibawa si manusia tanpa wajah dan memandangnya dengan wajah menyiratkan kepuasan. Berkali-kali dia menganggukkan kepalanya.

*****

Makhluk aneh di dalam telaga dingin juga puas sekali. Wajahnya berseri-seri. Keampuhan Ban-ni-tuan-sik mulai memancar dalam tubuhnya. Rasanya sejuk sekali. Akhirnya dia dapat merasakan kesegaran yang tidak pernah ditemuinya selama dua puluh tahun ini. Oleh karena itu, suaranya juga berubah menjadi lembut.

“Lain kali kau harus berhati-hati. Di tempat ini tidak ada orang baik. Seandainya mereka mengetahui rahasiamu, maka tidak dapat dibayangkan akibat yang akan kau terima.”

“Yaya jangan khawatir, selamanya aku selalu berhati-hati.” Melihat keadaan makhluk aneh itu, hati Fu Giok-su jauh lebih tenang.

“Bagaimana keadaan di luar?”

“Semuanya sudah disiapkan. Asal Yaya sudah bisa keluar dari tempat ini, kita sudah bisa mengadakan gerakan.”

“Rasanya kita harus menunggu satu setengah tahun lagi.”

“Waktu berlalu sekejap mata.”

“Betul … betul ….” makhluk tua itu tertawa terkekeh. “Aku telah mengajarkan Bu-tong-liok-kiat kepadamu. Bagaimana hasilnya?”

“Setiap kali ada kesempatan aku selalu berlatih dengan giat. Sebelum Yaya meninggalkan telaga dingin kelak, tentunya aku sudah menguasainya secara keseluruhan.”

“Kau harus lebih rajin lagi.”

“Sun-ji mengerti, Yaya tenangkan diri saja merawat luka.”

“Yang paling penting, kau harus berusaha mendapatkan ilmu pusaka Bu-tong-pai yang ketujuh, yakni Tian-can-kiat,” kata makhluk itu kembali. .

“Justru ini yang jadi masalah. Menurut apa yang Sun-ji ketahui, hanya Yan Cong-tian seorang yang menguasai ilmu yang satu ini. Namun sampai sekarang dia juga belum berhasil”

“Yang Cong-tian!”, mendengar nama orang ini, hawa amarah makhluk tua itu meluap kembali.

“Dalam urutan enam murid Ci Siong tojin, Sun-ji menduduki urutan terakhir, padahal Tian-can-kiat hanya diwariskan kepada Ciangbunjin saja.”

“Apabila tidak mempelajari Tian-can-kiat, jangan harap dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti, kita juga tidak mungkin bisa menguasai dunia persilatan.”

Fu Giok-su terdiam mendengar kata-kata itu. Makhluk tua itu menjambak rambutnya yang acak-acakan. “Pasti ada jalan lain, coba pikirkan lagi,” katanya.

Tiba-tiba Fu Giok-su mendongakkan kepalanya, matanya bersinar terang. “Mungkin Lun Wan-ji itu dapat diperalat,” sahutnya.

Makhluk tua itu mendengus dingin, “Apa kegunaan bocah perempuan itu?”

“Dia adalah murid Yan Cong-tian. Kita bisa menggunakannya sebagai. alat untuk mendekati Yan Cong-tian,” sahut Fu Giok-su.

“Aku rasa perasaanmu sendiri yang sudah tersentuh oleh budak itu.”

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

“Yang aku takutkan justru kau benar-benar menyukai budak perempuan itu sehingga melupakan dendam keluarga dan hanya mementingkan berpacaran saja,” kata makhluk tua itu kembali.

“Tidak mungkin … tujuan Sun-ji menyelundup ke Bu-tong-san adalah untuk mencari tahu kabar tentang Yaya dan berusaha menyelamatkan Yaya dari tempat ini.”

Makhluk tua itu tertawa dingin, “Bagus kalau kau masih ingat.”

Fu Giok-su terdiam tanpa berani mengucapkan kata-kata lagi.

“Apakah hubunganmu dengan budak perempuan itu sangat dekat?”

“Aku dapat merasakan kalau semakin hari ia semakin menyukai aku. Setelah lewat beberapa waktu lagi, tentu aku dapat memperalatnya untuk mendekati Yan Cong-tian.”

“Baik … kalau kau rasa rencana ini dapat dijalankan dengan sempurna, kau lakukan saja.” Makhluk tua itu menarik napas panjang. “Toh aku memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyambung kembali urat-urat putus ini. Dalam waktu dekat pasti belum terlihat hasil apa-apa.”

Tanpa sengaja mata Fu Giok-su bertemu pandang dengan mata makhluk tua tersebut. Hatinya bergetar. Mata kakeknya beralih dan menatap di kejauhan. Namun sinar matanya sangat keji dan menyeramkan.

*****

Waktu berlalu dengan tenang. Tentu saja ketenangan ini hanya terlihat dari luarnya saja. Tampaknya tidak ada hal istimewa yang terjadi di Bu-tong-san. Bu-ti-bun juga tidak melakukan gerakan apa-apa. Sedangkan Siau-yau-kok terlebih-lebih lagi. Nama itu ibarat hanya dongeng yang kenyataannya tidak ada.

Dalam waktu-waktu ini, di bawah pengawasan manusia berpakaian hitam, ilmu silat Wan Fei-yang maju semakin pesat. Pelajaran mengenai membaca dan menulis juga sudah lancar. Seandainya dia menulis surat lagi, tentu tidak ada huruf yang salah seperti sebelumnya. Tentu saja dia tidak berani menulis surat lagi kepada Lun Wan-ji. Dia juga dapat melihat bahwa hubungan antara Lun Wan-ji dengan Fu Giok-su semakin lama semakin dekat.

Keenam murid yang mempelajari Bu-tong-liok-kiat juga semakin matang ilmunya di bawah didikan Ci Siong tojin. Sementara itu secara diam-diam, Fu Giok-su juga mendapat ajaran dari makhluk tua yang terkurung dalam telaga dingin yang konon dulu pernah mencuri pelajaran Bu-tong-liok-kiat dua puluh tahun yang lalu. Ilmunya sudah jauh di atas kelima orang murid Ci Siong tojin lainnya. Tapi tentu saja dia pandai, menyembunyikan kepandaiannya sehingga tidak ada orang yang curiga.

Urat nadi makhluk tua itu sudah mulai tersambung sedikit demi sedikit. Tapi setiap kali kilat menyambar, dia masih juga menjerit histeris. Tampaknya rasa takut dalam hatinya sudah mendarah daging.

Sementara itu cinta kasih Wan-ji terhadap Fu Giok-su juga semakin berakar. Terhadap Wan Fei-yang dia hanya kasihan, tapi terhadap Fu Giok-su baru benar-benar cinta. Tentu saja dia tidak tahu siapa Fu Giok-su sebenarnya. Juga tidak tahu bahwa jalinan hubungan mereka hanya sebuah perangkap.

*****

Bunga-bunga bermekaran, bunga-bunga layu. Pemandangan di Bu-tong-san berubah mengikuti pergantian musim. Hanya tempat tinggal Yan Cong-tian yang tampaknya sama saja walau pada waktu apa pun.

Tentu saja daun-daun jauh lebih segar dan menghijau ketika musim semi tiba. Yan Cong-tian sama sekali tidak memperhatikan. Kenyataannya. dalam jangka waktu setahun, belum tentu dia melangkah keluar dari rumahnya satu kali. Dia masih berlatih Tian-can-kiat. Dan tampaknya masih belum berhasil juga. Tapi dia tidak putus asa. Walau kadang-kadang rasa jenuh memenuhi hatinya.

*****

Tembok rumah bercahaya terang. Mestinya sekarang sudah tengah hari. Yan Cong-tian duduk di atas tempat tidur. Matanya setengah terpejam.

“Tok! Tok! Tok!”, terdengar suara ketukan pintu. Yan Cong-tian seperti tidak mendengar. Dia sama sekali tidak menyahut. Sekali lagi pintu diketuk. Yan Cong-tian membuka matanya. Wajahnya seperti kesal karena terganggu.

“Buat apa ketuk terus? Kalau mau masuk, masuk saja!” teriaknya marah.

Pintu didorong. Yang masuk ternyata Lun Wan-ji.

“Suhu ….”

Rasa kesal yang tersirat pada wajah Yan Cong-tian sirna seketika. “Oh … Wan-ji. Mengapa demikian lama tidak mengunjungi suhu?” Lun Wan-ji menghampiri. Dia duduk di samping meja yang terdapat di sisi tempat tidur. Dituangkannya secawan teh untuk Yan Cong-tian. Lalu disodorkannya kepada suhunya itu.

“Suhu kan sibuk berlatih terus, Wan-ji mana berani mengganggu?”

Yan Cong-tian meminum teh itu seteguk. “Kau paling banyak alasan.”

Wan-ji tersenyum tersipu-sipu. Kepalanya tertunduk. Seakan banyak kata-kata yang ingin diucapkannya namun tidak tahu bagaimana cara mengutarakannya. Yan Cong-tian memperhatikan gadis itu lekat-lekat. Dia merasa heran.

“Aku lihat wajahmu mengandung misteri. Apa sebetulnya yang ingin kau katakan kepadaku?”

Lun Wan-ji menggigit-gigit bibirnya.

“Suhu, berapa usiaku sekarang?” tiba-tiba dia bertanya.

Yan Cong-tian terpana. “Ada apa?”

“Tidak usah peduli, jawablah pertanyaan Wan-ji,” kata Wan-ji merajuk. Dia mendorong-dorong lengan gurunya.

Kerut di kening Yan Cong-tian segera timbul, jarinya bergerak-gerak menghitung.

“Tujuh belas … ya, tujuh belas tahun.”

“Salah … delapan belas,” sahut Wan-ji manja.

“Oh … delapan belas tahun,” Yan Cong-tian menggaruk-garuk kepalanya. “Kalau kau sendiri sudah tahu, buat apa kau tanyakan lagi?”

“Aku ….” Wan-ji menjadi gugup. Wajahnya merah padam.

Yan Cong-tian tertegun. Kemudian dia tertawa lebar. “Apakah kau ingin mengatakan bahwa kau sudah hampir keluar pintu (menikah)?”

“Suhu …” Wan-ji malu diejek terang-terangan oleh gurunya.

Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak. “Siapa pemuda yang beruntung itu?”

“Dia she Fu. Murid terakhir Ciangbun-susiok,” sahut Wan-ji lirih.

“Oh?” Yan Cong-tian masih tertawa lebar. “Kapan kalian akan menikah?”

“Mana bisa begitu cepat? Wan-ji belum menyatakan bersedia ….”

“Apakah menganggukkan kepala saja begitu sulit?” goda Yan Cong-tian. “Atau kau ingin aku menjadi walimu?”

“Kalau Suhu tidak menjadi wali, mana boleh Wan-ji sembarangan menikah?”

Yan Cong-tian tersenyum-senyum. “Asal kau sendiri sudah suka, ya terserah.”

“Wan-ji ingin suhu menemuinya terlebih dahulu.”

“Oh … kau meminta penilaian suhumu, soal mudah …. Kapan kau akan mengajaknya ke sini?” tanya Yan Cong-tian.

“Dia … sekarang dia ada di luar pintu.” Wajah Yan Cong-tian segera berubah. “Ini adalah daerah terlarang. Apa kau sudah lupa?”

Tampaknya Lun Wan-ji baru teringat. Wajahnya panik sekali. “Suhu, maksudmu ….”

“Kali ini tentu tidak masuk hitungan,” kata Yan Cong-tian kembali tertawa terbahak-bahak. “Lihat dirimu, belum menikah saja sudah begitu mencemaskannya.”

“Suhu ….” Wan-ji kembali merajuk.

“Masih tidak suruh dia masuk segera ….”

Wan-ji bergegas bangkit. Namun baru beberapa langkah. Dia menoleh kembali kepada Yan Cong-tian. “Suhu … nanti kalau dia masuk ke dalam, sikapmu jangan demikian garang ….”

“Kau khawatir dia akan lari ketakutan?”

Wan-ji tersenyum tersipu-sipu.

“Coba lihat, anak gadis kalau sudah dewasa memang sudah jadi milik orang lain. Belum lagi melangkah keluar pintu sudah membelanya mati-matian,” kata Yan Cong-tian tertawa terbahak- bahak.

Wan-ji semakin malu. Dia mempercepat langkahnya. Yan Cong-tian masih tertawa terus.

*****

Fu Giok-su menunggu di depan pintu. Tangannya membawa sebuah bungkusan. Tampak wajahnya panik sekali. Dia sama sekali tidak meragukan perasaan Wan-ji kepadanya. Tapi selama menunggu, hatinya tegang sekali. Dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa demikian.

Sebetulnya seperti apa manusia yang bernama Yan Cong-tian itu? Dan bagaimana reaksinya setelah mengetahui hubungannya dengan Wan-ji? Apakah hanya dengan cara demikian dia pasti bisa berhasil mendapatkan ilmu Tian-can-kiat? Berpuluh-puluh pertanyaan menggelayuti pikiran Fu Giok-su.

Juga dalam waktu yang bersamaan, Wan Fei-yang membawa baki makanan mendatangi. Fu Giok-su masih tidak menyadari. Wan Fei-yang yang melihatnya justru panik. Dia segera menghampiri. “Fu-toako ….”

Mendengar panggilan itu, Fu Giok-su menolehkan kepalanya. Dia tersenyum kepada Wan Fei-yang. “Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya gugup. Dia segera menarik lengan Fu Giok-su.

“Aku ….” Fu Giok-su melepaskan tangan Wan Fei-yang dari cekalannya. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

“Aku … aku apa? Bukankah aku pernah mengatakan bahwa di sini daerah terlarang. Kalau sampai kepergok, paling tidak urat nadi kakimu diputuskan semuanya,” kata Wan Fei-yang menyeret Fu Giok-su.

Fu Giok-su semakin bingung bagaimana harus menjelaskan masalahnya. Tepat pada saat itu, Wan-ji keluar dari rumah Yan Cong-tian.

“Siau-fei, mengapa kau menarik-narik tangan Fu-toako?” tanyanya.

“Wan-ji kouwnio, jangan teriak-teriak. Fu-toako tidak tahu di sini daerah terlarang. Kalau sampai ketahuan ….” suara Wan Fei-yang seperti bisikan.

Fu Giok-su hanya tertawa getir. Sedangkan untuk sesaat Wan-ji tidak tahu harus marah atau tertawa. “Aku yang mengajaknya menemui suhu. Siapa suruh kau ikut campur?”

Wan Fei-yang terpana. Dia menatap ke arah Fu Giok-su kemudian mengalihkan pandangannya kepada Wan-ji. Akhirnya dia melepaskan eekalannya. Fu Giok-su merapikan lengan bajunya yang kusut karena tarikan Wan Fei-yang. Wan-ji mengedipkan matanya.

“Hayo, ikut aku,” ajaknya.

Dengan baki di tangan, Wan Fei-yang tertegun memandangi mereka. Tiba-tiba Wan-ji menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh kepada Fei-yang.

“Serahkan saja baki itu kepadaku,” katanya. Tidak menunggu jawaban dari Fei Yang, dia segera merebut baki yang berisi makanan itu.

Wan Fei-yang berdiri termangu-mangu melihat kedua orang itu melangkah masuk ke dalam rumah. Hatinya sungguh tidak enak. Berkali-kali dia menggaruk-garuk kepalanya. Dia tidak meninggalkan tempat itu dan tetap menunggu di luar.

*****

Fu Giok-su sungguh pandai bersandiwara. Sikapnya sangat wajar dan sopan. Lun Wan-ji menyenggol lengan bajunya. “Cepat panggil Supek,” katanya.

“Tecu Fu Giok-su, menanyakan keadaan Supek,” dia menjura dalam-dalam.

Yan Cong-tian memperhatikan Fu Giok-su dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Dengan wajah berseri-seri dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Boleh juga ….” Dia beralih ke Lun Wan-ji. “Kau sungguh pandai memilih,”

Wajah Lun Wan-ji merah padam karena malu. Yan Cong-tian menunjuk ke sebuah kursi yang ada di sampingnya.

“Duduk,” katanya mempersilakan.

“Tecu tidak berani,” sahut Fu Giok-su. Kemudian dia menyodorkan bungkusan yang ada di tangannya. “Tecu membawakan sedikit makanan. Harap supek menyenanginya.”

Yan Cong-tian menerima bungkusan itu lalu membukanya. “Akh … lumpia … bagus! Bagus!” katanya berulang-ulang.

Lun Wan-ji dan Fu Giok-su saling lirik sekilas. Mata Yan Cong-tian mengerling ke arah pasangan itu.

“Kau tahu aku suka makanan ini?”

Fu Giok-su ragu-ragu menjawabnya. Yan Cong-tian sudah bertanya lagi, “Bagaimana kau bisa tahu aku suka makanan ini? Apakah Wan-ji yang mengatakannya?”

Lun Wan-ji memalingkan wajahnya. Melihat keadaan itu, Fu Giok-su semakin tidak berani mengatakannya. Untung saja Yan Cong-tian segera mengalihkan pokok pembicaraan, “Sudah berapa lama kau menjadi murid Bu-tong-pai?”

“Setahun lebih ….”

Yan Cong-tian seakan teringat sesuatu. “Eh? Apakah kau yang membela Ci Siong mati-matian tempo hari?”

“Suhu adalah Ciangbunjin dari partai terkemuka. Tecu tidak bisa mendiamkan dia orang tua dihina begitu saja.”

“Bagus! Bagus!”

“Suhu ….” panggil Lun Wan-ji sambil mencuri pandang kepada Yan Cong-tian.

“Mengapa harus terburu-buru?” Yan Cong-tian tertawa terbahak- bahak. “Urusan kalian aku pasti setuju, lagi pula Bu-tong-san memang sudah lama tidak membuat pesta.”

Hati Lun Wan-ji melonjak gembira. Fu Giok-su baru bisa menghela napas lega.

“Bagaimana kalau kalian menikah sekarang saja? Pestanya boleh menyusul,” kata Yan Cong-tian tiba-tiba.

Lun Wan-ji tertegun, Fu Giok-su kaget setengah mati, “Supek … kau ….”

“Sifatku selamanya memang begini. Kau tidak mau, jangan dibicarakan. Sekali setuju maunya dilaksanakan sekarang juga. Wan-ji … undang susiokmu kemari!”

Wajah dan leher Wan-ji merah padam.

“Hm ….” terpaksa dia menganggukkan kepalanya.

“Supek … apakah urusan ini tidak dapat ditunda ….”

“Kenapa?” tanya Yan Cong-tian kurang senang.

“Tecu masih berkabung,” sahut Fu Giok-su sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Benar juga.” Wajah Yan Cong-tian menjadi lembut kembali. “Kalau begitu kalian boleh bertunangan dulu.”

Kali ini Fu Giok-su terpaksa menganggukkan kepalanya.

“Wan-ji, mengapa kau masih belum mengundang Ciangbun-susiokmu?” tanya Yan Cong-tian.

Dengan wajah tersipu-sipu Wan-ji melirik Giok Su sekilas. Anak muda itu merasa serba salah. Mengejar salah, tidak mengejar juga salah. Akhirnya dia hanya berdiri termangu-mangu.

Yan Cong-tian merenung sejenak.

“Kau merupakan murid paling akhir yang masuk perguruan. Tentunya kau juga yang mempelajari Bu-tong-liok-kiat yang ke enam, Sou-hou-cang?”

“Betul,” sahut Fu Giok-su terus terang.

“Sudah mencapai taraf bagaimana?”

“Tecu sudah bisa melancarkannya sesuai perasaan hati. Namun selalu merasa tenaga tecu masih kurang kuat, tak bisa menyalurkan tenaga sepenuhnya.”

“Lumayan ….” kata Yan Cong-tian sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

Fu Giok-su tahu Yan Cong-tian sedang memujinya. Dia merasa tidak enak juga.

“Tidak heran ….” kata Yan Cong-tian setengah jalan.

Fu Giok-su tidak mengerti maksud perkataannya. Dia menatap Yan Cong-tian dengan mata mengandung pertanyaan.

“Tidak heran kau rela melepaskan jabatan Ciangbunjin demi Wan-ji.”

Mendengar ucapan itu, hati Fu Giok-su menjadi galau. Tapi dia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

*****

Bu-tong-san memang sudah lama tidak mengadakan pesta. Maka dari itu, begitu kabar gembira mengenai Wan-ji dan Giok-su tersebar, seluruh Bu-tong-san menjadi gempar.

Ci Siong tojin juga sangat gembira. Dia tidak menolak ketika ada yang mengusulkan untuk memasak berbagai hidangan yang lezat untuk merayakan berita gembira tersebut. Orang yang paling kesal dan tidak senang mendengar kabar itu tentu Wan Fei-yang seorang.

*****

Suara tawa dan canda dari ruang makan berkumandang sampai jauh. Wan Fei-yang tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Dia berada di tempat yang jauh. Namun sayup-sayup kumandang suara riuh masih juga tertangkap oleh telinganya. Hatinya bagai tersayat-sayat.

Wan Fei-yang duduk di taman belakang sambil melamun. Tanpa sadar jari tangannya mencabut daun-daun dan merobek-robeknya. Ci Siong tojin sudah sampai di sampingnya, dia masih belum sadar juga. Sampai akhirnya dia melihat sepasang kaki manusia di depannya, baru dia mendongakkan wajahnya. Melihat yang datang Ci Siong tojin, dia menjadi tertegun.

“Ciangbunjin ….” sapanya.

Wajah Ci Siong tojin pucat sekali.

“Mengapa duduk seorang diri di tempat ini? Masuklah ke dalam dan ikut bersenang-senang dengan yang lainnya,” kata orang tua itu.

Wan Fei-yang menggeleng-gelengkan kepalanya sambit tertawa getir.

“Biar aku duduk di sini saja.” Tiba-tiba dia bertanya, “Ciangbunjin … mengapa kau hanya sebentar di dalam sana?”

Belum sempat Ci Siong tojin menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba wajahnya berubah hebat. Tubuhnya gemetar dan kakinya limbung. Dengan cepat dia menggenggam batang pohon yang ada di samping. Keningnya basah oleh keringat. Melihat keadaan itu, Wan Fei-yang cepat-cepat berdiri.

Bibir Ci Siong tojin tampak bergetar. Akhirnya dia tidak dapat mempertahankan dirinya. Segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Wan Fei-yang terkejut sekali. Dia segera membalikkan tubuhnya bermaksud mencari pertolongan, tapi Ci Siong tojin mencegahnya. “Jangan mengacaukan suasana. Papah aku ke kamar,” katanya.

Rupanya sejak di dalam ruangan makan dia sudah merasa tubuhnya kurang sehat maka dia cepat-cepat keluar.

*****

Setelah berbaring di tempat tidur dan mengatur napasnya sejenak, wajah Ci Siong tojin tampak lebih lumayan. Tapi masih agak pucat dan lemah. Wan Fei-yang terus menemani di samping.

“Kau boleh keluar sekarang,” akhirnya Ci Siong tojin membuka suara.

Wan Fei-yang mengundurkan diri. Baru saja dia melangkahkan kakinya ke arah kanan dan membelok, Fu Giok-su muncul dari arah kiri. Karena arah mereka berlawanan, maka mereka tidak sempat bertemu muka.

Fu Giok-su mengetuk pintu kamar dua kali. Tidak terdengar sahutan. Dia mengetuk lagi tiga kali. Kali ini baru terdengar suara Ci Siong tojin.

“Masuklah.”

Fu Giok-su mendorong pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam. Ci Siong tojin sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Melihat yang datang Fu Giok-su, dia agak terpana. “Mengapa kau tidak di ruangan sana menemani saudara-saudaramu?” tanyanya.

“Tecu melihat suhu meninggalkan ruang makan padahal hidangan masih belum dikeluarkan semua. Dan wajah suhu tampak agak pucat, maka Tecu sengaja datang menjenguk sebentar.”

“Oh!” Ci Siong tojin menarik napas panjang.

Dengan perasaan heran Fu Giok-su menatap Ci Siong tojin. “Mengapa suhu menghela napas?”

“Suhu mengkhawatirkan keadaan Bu-tong-pai yang tidak memiliki generasi penerus yang dapat diandalkan,” wajah Ci Siong tojin kelam sekali.

“Tecu tidak merasa demikian.”

“Sejak cosu Tio Sam-hong mendirikan partai Bu-tong-pai selalu ada generasi yang dapat diandalkan. Hanya generasi ini ….” kembali Ci Siong menarik napas panjang.

Fu Giok-su semakin bingung.

“Lihat beberapa orang suhengmu … kalau tidak otaknya yang kurang encer, pendirian mereka yang kurang tegas. Pokoknya tidak dapat diandalkan.”

“Suhu, menurut pandangan Tecu, beberapa suheng mempunyai modal yang cukup. Mengapa suhu malah menganggap …?”

“Kau belum lama bergaul dengan mereka. Umpamanya Toa-suhengmu Pek Ciok, orangnya terlalu lembut dan hatinya kurang keji. Ji-suheng malah pemarah dan mudah terpengaruh orang lain. Sam-suheng, Kim Ciok terlalu kaku dan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Su-suheng juga lembut, kurang berwibawa. Go-suheng, Yo Hong sering meremehkan lawan. Pokoknya ereka tidak ada yang sesuai dengan minat,” mata Ci Siang tojin beralih kepada Fu Giok-su. “Hanya kau seorang, aku selalu menaruh harapan yang tinggi padamu. Bakatmu lebih tinggi daripada lima orang suhengmu yang lain. Kau juga merupakan orang pilihan. Seandainya kau yang mempelajari Tian-can-kiat, mungkin kau akan berhasil dan kelak dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti serta mengangkat nama Bu-tong-pai.”

Mendengar kata-kata itu, diam-diam Fu Giok-su merasa senang. Tapi rupanya kata-kata Ci Siong tojin masih ada kelanjutannya ….

“Sayang sekali kau sudah menjalin cinta kasih dan bertunangan dengan Lun Wan-ji. Kau tidak bisa menjabat sebagai Ciangbunjin lagi. Sedangkan Tian-can-kiat turun temurun hanya diwariskan kepada Ciangbunjin saja.”

Fu Giok-su terpana. Hatinya segera tertekan. Keringat dingin menetes di keningnya.

“Lalu, mengapa Yan-supek boleh mempelajarinya?” tanyanya penasaran.

“Kau tidak tahu, sebetulnya Ciangbunjin generasi ini memang suhengku itu. Setelah menjabat beberapa tahun, dia merasa jenuh dan menyerahkan kedudukannya kepadaku. Oleh karena itu dia boleh mempelajari Tian-can-kiat.”

“Kalau begitu, Tecu bersedia membatalkan pernikahan.”

Kali ini, gantian Ci Siong tojin yang tertegun. “Bagaimana pendirianmu demikian mudah berubah?” katanya kurang senang.

Fu Giok-su menundukkan kepalanya. “Tecu sudah menjadi murid Bu-tong, bagaimana pun harus mementingkan Bu-tong-pai daripada diri sendiri.”

Ci Siong tojin terharu sekali. Dia tidak dapat mengatakan apa-apa.

“Lagi pula dendam keluarga Tecu belum terlepas, seharusnya tidak boleh memikirkan urusan asmara terlebih dahulu!” nada suara Fu Giok-su semakin bersemangat.

“Giok-su, ternyata aku tidak salah menilai orang. Kalau saja seluruh murid Bu-tong mempunyai pandangan yang sama, tentu nama perguruan kita akan cemerlang dan tidak takut terhadap siapa pun.” Ci Siong tojin menarik napas panjang. “Tapi, apabila demikian, tentu tidak adil bagi Lun Wan-ji.”

Fu Giok-su juga ikut-ikutan menarik napas panjang.

“Hal ini aku harus pikirkan baik-baik. Kau juga kembali ke kamarmu dan pikirkan sekali lagi,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

Fu Giok-su mundur satu langkah. Setelah menjura dalam-dalam, dia baru mengundurkan diri. Perasaan hatinya tegang dan kacau.

*****

Bulan lima tanggal empat belas. Hari itu merupakan hari kedua setelah pengumuman pertunangan antara Lun Wan-ji dengan Fu Giok-su. Juga merupakan hari terpenting bagi Bu-tong-pai.

Setelah sembahyang pagi, Ci Siong tojin mengumpulkan seluruh murid Bu-tong-pai di dalam ruangan pendopo. Dia mengatakan sudah mengambil keputusan untuk menyatakan siapa Ciangbunjin generasi mendatang. Semua orang menduga salah satu dari Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Yo Hong dan kemungkinan terakhir pasti Fu Giok-su.

Kalau yang disebut nama Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Giok Ciok atau Yo Hong, mereka tidak akan begitu heran. Tapi ketika nama Fu Giok-su yang disebut, seluruh murid Bu-tong terpana. Gi-song dan Cang-song langsung protes.

“Fu Giok-su adalah murid preman, lagi pula dia sudah mengikat diri dan akan menikah. Meskipun kau mengatakan namanya jatuh pada urutan ketiga, mana ada hak untuk menjadi Ciangbunjin?”

Ci Siong tojin tidak memberi jawaban. Dia hanya memanggil Fu Giok-su untuk menyatakan sendiri isi hatinya.

“Demi Bu-tong-pai dan dendam darah sekeluarga, kalau memang berniat menjadi Ciangbunjin generasi akan datang, Tecu terpaksa membatalkan pernikahan, lalu menyucikan diri masuk agama To.”

Karena Fu Giok-su berkata demikian, Gi-song dan Cang-song terpaksa menyetujui. Tapi sampai mereka semua meninggalkan ruangan pendopo, kedua tianglo itu masih merasa tidak puas. Fu Giok-su sendiri seperti orang mabuk, pikirannya kacau. Kenyataannya hati kecil anak muda itu memang benar-benar mulai menyukai Lun Wan-ji. Kejadian sudah sampai taraf begini, dia semakin tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

*****

Terhadap keputusan yang diambil Fu Giok-su, makhluk tua itu pun sama tidak senang. Baru mendengar setengah dari kisah cucunya saja, dia sudah berteriak-teriak marah, “Si tua bangka Yan Cong-tian itu tidak bersedia mengajarkan Tian-can-kiat kepadamu?”

“Seandainya dia bersedia mengajarkan, juga percuma. Bu-tong-pai mempunyai sebuah peraturan, hanya Ciangbunjin yang boleh mempelajari ilmu itu.”

“Kalau kau berniat menjadi Ciangbunjin mudah sekali. Bu-tong-liok-kiat secara diam-diam aku ajarkan kepadamu. Dengan ilmu yang kau miliki sekarang, siapa lagi yang sanggup menandingimu?”

“Tapi tadi pagi Suhu sudah mengumumkan. Aku hanya berada di deretan ketiga. Salah satu dari tiga orang pilihannya. Kalau Pek Ciok dan Cia Peng mati, aku baru boleh menerima jabatan itu.”

Makhluk tua itu langsung terbahak-babak.

“Kalau begitu, bunuh saja mereka!”

Fu Giok-su bagai tersadar dari mimpi, matanya menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal.

“Cepat pergi! Cepat pergi!” kata orang tua itu menyarankan.

“Yaya, urusan ini tidak bisa dilakukan secara spontan.”

“Kenapa?”

“Karena kita belum berhasil menyelidiki asal-usul Wan Fei-yang, kita masih belum tahu siapa yang mengajarkan ilmu silat kepadanya.” Fu Giok-su merenung sejenak. “Sebelum lingkaran misteri ini belum terungkapkan, kita jangan mengambil tindakan sembrono. Lagi pula kaki Yaya belum sembuh seluruhnya.”

“Sebetulnya bagaimana hasil penyelidikan orang-orang kita?” Makhluk tua itu menekan hawa amarahnya, namun kesabarannya hampir habis.

“Besok tanggal lima belas, Sun-ji akan turun gunung. Siapa tahu sudah ada kabar berita untuk kita,” kata Fu Giok-su tenang-tenang aja.

Makhluk tua itu mendengus dingin beberapa kali. Namun dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

*****

Bulan lima tanggal lima belas. Tengah hari sudah lewat, matahari tidak seberapa terik. Manusia tanpa wajah dengan dandanan seperti biasanya melangkah di sebuah jalan kecil di luar kota.

Kira-kira sepuluh depa di belakangnya, mengikuti belasan anggota Bu-ti-bun. Mereka menyamar menjadi orang biasa. Sama sekali tidak mencolok. Lagi pula mereka menguntit dengan cara bergantian.

Manusia tanpa wajah tampaknya tidak menyadari hal itu. Dia terus melangkah ke depan dan menuju ke sebuah kuil yang sudah tua.

*****

Kuil itu sudah lama tidak terpakai. Keadaannya sudah parah sekali. Debu-debu tebal terlihat di mana-mana. Atapnya sudah hampir roboh, demikian pula tembok dan lantainya. Di halaman luar penuh ditumbuhi rumput-rumput liar dan ilalang yang tinggi.

Manusia tanpa wajah itu melewati rumput-rumput tersebut dan melangkah ke dalam. Sarang laba-laba menutupi pemandangan. Keadaan di dalam lebih parah lagi. Jendela-jendela tidak ada yang utuh.

Manusia tanpa wajah itu berhenti di ruangan depan. Baru saja dia mengedarkan pandangannya, terdengar kibasan lengan baju. Seseorang melayang turun dari atap genting yang sudah kolong. Manusia tanpa wajah sama sekali tidak bergerak. Dia menjura dalam-dalam.

“Kongcu ….” sapanya.

Orang itu memang Fu Giok-su. Wajahnya menyiratkan perasaannya yang kurang senang. “Hari ini aku datang terlambat,” katanya dingin.

Manusia tanpa wajah itu menggelengkan kepalanya. “Orang-orang Bu-ti-bun tersebar di mana-mana. Tidak mudah melepaskan diri dari pengintaian mereka,” sahutnya.

“Apakah kau berhasil melepaskan diri?”

Manusia tanpa wajah menggelengkan kepalanya sekali lagi.

“Belum!”

“Empat belas orang mengikuti kau sampai ke tempat ini. Tahukah kau?”

“Akhirnya aku mengambil keputusan untuk berbuat demikian.”

“Oh?” Fu Giok-su merasa heran.

“Aku memang sengaja memancing mereka kemari. Biar kongcu coba Bu-tong-liok-kiat dan lihat bagaimana kemajuannya.” Manusia tanpa wajah itu tertawa kering. “Lagi pula tempat ini tidak bisa digunakan lagi lain kali. Dibuang begitu saja kan sayang.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: