Kumpulan Cerita Silat

17/12/2007

Darah Ksatria: Bab 05. Gadis Bernama Toa-hoan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:59 pm

Darah Ksatria
Bab 05. Gadis Bernama Toa-hoan
Oleh Gu Long

Ranting kering terbakar sangat cepat, dan api unggun pun semakin redup. Ma Ji-liong ingin menjaga ketenangannya, tapi pikiran di benaknya tidak mau menurut. Tubuhnya makin dingin dan akan segera membeku. Api unggun akan padam, tapi dia tetap tidak tahu kapan totokan di tubuhnya akan terbuka.

Dan sekarang adalah saat yang paling dingin di malam hari. Jika terus begini, mungkin dia akan mati beku di sini. Dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Kemungkinan dirinya sendiri akan mengalami nasib seperti ini sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.. Memang tidak seorang pun yang bisa meramalkan masa depan, tidak seorang pun juga yang tahu tentang takdirnya. Inilah permainan nasib!

Ma Ji-liong menghela napas dalam-dalam, baru sekarang dia menyadari bahwa sifatnya yang angkuh sudah lenyap. Saat itulah, mendadak gadis tadi mengangkat kepalanya dari mantel bulu rubah itu. Jalan darah Ma Ji-liong masih tertotok, tapi jalan darah gadis itu tidak. Dengan sepasang matanya yang seperti mata tikus, sekian lamanya dia melirik ke sana ke mari seperti tikus yang sedang mengawasi keadaan sekelilingnya. Lalu dia menghela napas yang panjang sekali dan berkata, “Siapa yang menyangka kalau orang gemuk itu tiba-tiba akan pergi dan kau ternyata masih hidup.”

Itu memang kejadian yang tak terduga! Tak seorang pun yang bisa membayangkan kalau Peng Thian-pa tiba-tiba akan melepaskan Ma Ji-liong dan melarikan diri seperti kelinci yang terkena panah, kabur ke dalam hutan rimba.

Si nona bangkit berdiri, sambil mengenakan mantel bulu Ma Ji-liong. Sambil tersenyum dia berkata, “Bulu mantel ini lumayan. Rasanya enteng, halus dan hangat. Ukurannya pun pas.”

Untunglah Ma Ji-liong masih bisa bicara.

Dia tak tahan lagi dan berkata, “Sayangnya mantel itu milikku.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berkata, “Bukan milikmu. Bukan kepunyaanmu lagi.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

“Karena kau sudah memberikannya pada orang gemuk tadi, yang kemudian memberinya padaku,” gadis itu menerangkan.

Lalu dia menambahkan sambil tersenyum riang, “Jadi mantel ini sekarang milikku.”

Ma Ji-liong tidak mau berdebat. Dia bukan orang yang kikir, dan tentu saja dia tidak perduli dengan urusan seperti itu. Tapi dia benar-benar sangat kedinginan. Maka, tak tahan lagi dia pun bertanya, “Bisakah kau menyalakan api unggun itu?”

“Kenapa aku harus menyalakannya? Aku kan tidak kedinginan,” jawab gadis itu.

Sambil tersenyum pahit, Ma Ji-liong berkata, “Kau tidak, tapi aku ya.”

“Aku tidak kedinginan. Kenapa kau bisa kedinginan?” gadis itu berkata.

Ma Ji-liong tertegun. Gadis ini benar-benar gila, begitu gilanya sehingga dia bahkan tak bisa menangis biarpun dia ingin. Dia pun tidak bisa tertawa. Mendadak perutnya terasa kosong. Itulah nasibnya sendiri.

Tapi gadis itu melanjutkan lagi, “Orang muda harus tahan terhadap kesulitan dan kerja keras. Apa salahnya kedinginan sedikit? Kau masih muda. Jika kau tidak bisa menahan sedikit penderitaan, bagaimana kau bisa melakukan sesuatu yang besar di kemudian hari?”

Ma Ji-liong menutup mulutnya. Akhirnya dia sadar bahwa menjelaskan sesuatu kepada orang seperti ini bukan saja sia-sia belaka, tapi juga merupakan perbuatan yang bodoh. Bila seorang laki-laki bertemu dengan perempuan seperti ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menutup mata dan mulutnya.

Tiba-tiba gadis itu berpaling dan bergumam, “Apakah langit sudah cerah? Aku akan pergi melihat.” Dia bicara pada dirinya sendiri sambil melangkah keluar pintu. Tapi tiba-tiba dia menjerit keras-keras dan berlari masuk kembali, seolah-olah sebatang anak panah sudah menancap di bokongnya.

Ma Ji-liong sebenarnya tidak ingin memperdulikannya lagi. Tapi, walaupun gadis ini tidak menyenangkan, tapi dia cukup baik padanya.

Gadis itu bukan hanya mengatakan bahwa dia orang yang baik, tadi dia bahkan berani mempertaruhkan nyawanya untuk menghalangi Peng Thian-pa agar dia bisa lari. Asal dia masih hidup, dia harus hidup dengan kesadaran yang jernih, harus mampu membedakan antara terima kasih dan dendam.

Maka Ma Ji-liong tidak punya pilihan lain kecuali bertanya, “Ada apa?”

“Di luar…. ada seseorang di luar,” gadis itu berkata dengan ketakutan.

Hawa amat dingin, bumi serasa membeku, dan malam pun sudah larut. Bagaimana mungkin ada orang di luar kuil yang rusak dan terpencil ini?

Kembali Ma Ji-liong bertanya dengan terpaksa, “Siapa?”

“Orang gemuk yang tadi,” jawab gadis itu.

Mimik muka Ma Ji-liong pun berubah. Dia lalu berkata, “Dia belum pergi?”

Gadis itu menjawab, “Belum.”

Dia belum pergi, tapi kenapa dia tidak masuk?

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang dia lakukan di luar sana?”

Gadis itu menjawab, “Siapa yang tahu apa yang sedang diperbuatnya? Dia berbaring sendirian di sana, seperti sedang tidur.”

Anehnya, dia masih bisa berkata lagi, “Orang gemuk memang selalu suka tidur.”

Tapi tak perduli betapa pun gemuknya seseorang, atau betapa sukanya dia tidur, tidak mungkin dia tidur di atas salju.

Ma Ji-liong berkata, “Mungkin kau salah lihat.”

Gadis itu berkata, “Tentu saja tidak. Aku bukan hanya bisa melihat jauh, pandangan mataku juga sangat baik.”

Dari kejauhan matanya memang tidak terlihat buruk, setidaknya masih lebih baik sedikit daripada mata seekor tikus.

“Bisakah kau pergi keluar dan memeriksa lagi?” Ma Ji-liong meminta.

“Kenapa kau tidak pergi sendiri?” gadis itu bertanya.

Gadis itu memandangnya dan tiba-tiba dia tertawa. Lalu dia berkata, “Aku paham. Kau sama sepertiku. Tadi kau ditendang oleh orang gemuk itu, sekarang kau tidak bisa bergerak.”

Ma Ji-liong tidak berkata apa-apa.

Secara tidak terduga gadis itu kemudian berkata, “Baik, aku akan memeriksa keluar untukmu. Paling tidak kau sudah bersikap baik padaku.”

Tapi, baru saja keluar, dia sudah menjerit dan berlari masuk kembali ke dalam kuil, tampaknya dia bahkan lebih ketakutan daripada tadi.

“Dia tidak ada di sana?” Ma Ji-liong bertanya.

Napas gadis itu terengah-engah. Setelah tenang, dia lalu berkata, “Dia… dia ada di sana. Tapi dia tidak akan pergi lagi.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Karena dia sudah mati!”

Bagaimana Peng Thian-pa bisa mati? Tadi dia masih segar bugar. Selain itu dia pun sehat, tanpa penyakit atau merasa sakit, agaknya dia bahkan lebih sehat daripada orang lain.

“Apakah dia benar-benar sudah mati?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Mati ya mati, benar-benar mati, mati sungguhan.”

“Apakah kau tahu kenapa dia tiba-tiba mati?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu berkata, “Tentu saja aku tahu.”

Tubuhnya tampak menggigil, “Tak perduli siapa pun, aku tentu saja tahu bahwa tidak mungkin bisa hidup setelah tenggorokannya digorok orang!”

Ma Ji-liong makin terkejut. Ilmu golok Peng Thian-pa berada di deretan terbaik dan paling termasyur di dalam Bulim. Bagaimana seseorang bisa menggorok lehernya? Siapa yang melakukannya? Apakah ada orang di dunia ini yang memiliki ilmu golok yang lebih cepat dan lebih ternama? Dan kenapa orang itu menggorok tenggorokannya?

Cuma ada satu penjelasan. Peng Thian-pa bukan penjahat sebenarnya. Masih ada orang lain di balik persoalan ini, yang memberikan perintah kepadanya. Dan orang ini telah membunuhnya untuk melenyapkan saksi. Siapakah orang ini? Setelah membunuh Peng Thian-pa, kenapa dia tidak masuk untuk menghabisi Ma Ji-liong?

Kecuali ‘orang ini’, tidak ada orang lain yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ma Ji-liong akhirnya tahu bahwa persekongkolan ini bahkan lebih rumit dan lebih menakutkan daripada yang semula dia perkirakan.

Gadis itu tiba-tiba berkata, “Ini tidak bagus.”

“Apanya?” Ma Ji-liong bertanya.

“Kita tidak boleh tinggal di sini,” gadis itu menerangkan.

Ma Ji-liong setuju dengannya. Mereka tentu saja tak boleh tinggal lagi di sini. Sayangnya dia tidak bisa berjalan.

Mendadak gadis itu berkata, “Aku seorang perempuan.”

“Aku tahu,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu berkata, “Semua pahlawan adalah laki-laki. Laki-laki sejati juga laki-laki. Jadi…”

“Jadi apa?” Ma Ji-liong bertanya.

“Aku bukan seorang laki-laki sejati, juga bukan seorang pahlawan,” ia berkata sambil menghela napas.

“Jadi, walaupun kau tidak bisa berjalan, aku tetap harus pergi,” dia menambahkan.

Demi dia, Ma Ji-liong berhenti di tempat ini, membuat api unggun, dan mendapat masalah.

Sekarang dia berkata bahwa dia harus pergi begitu saja, seorang diri.

Anehnya, Ma Ji-liong hanya menjawab, “Kau memang harus pergi.”

Tapi gadis itu menambahkan pula, “Tapi aku tidak bisa berjalan kaki. Aku membutuhkan kudamu.”

Ma Ji-liong malah berkata, “Boleh, silakan bawa.”

Gadis itu akhirnya merasa bahwa orang ini sedikit ganjil. Sesungguhnya dia tetap seorang manusia juga. Tak dapat menahan helaan napasnya, dia berkata, “Kau benar-benar orang yang baik. Sayangnya…..”

Ma Ji-liong bertanya, “Sayangnya… apa?”

“Sayangnya orang baik selalu mati muda,” kata gadis itu.

Dan dia pun benar-benar pergi. Dia mengenakan mantel bulu Ma Ji-liong, naik ke atas punggung kuda putih Ma Ji-liong dan pergi. Api unggun sudah padam. Dia pun tidak menambahkan kayu api lagi untuk pemuda itu. Apa yang dilakukan gadis itu benar-benar sadis, lebih sadis daripada yang pernah diperbuat oleh Coat-taysu.

Malam yang dingin dan sepi. Sebelum bunyi derap kaki kuda menghilang di kejauhan, bersama dengan hembusan angin dingin, terdengar bunyi langkah kaki yang amat ringan dan cepat. Itulah langkah kaki dua orang manusia, yang kemudian berhenti tepat di luar kuil rusak itu.

“Di sini ada mayat,” terdengar sebuah suara berkata. “Mayat Peng Thian-pa.”

“Masih bisakah kita menyelamatkannya?”

“Luka ini mematikan. Bahkan dewa pun tak akan sanggup menghidupkannya kembali.”

Hati Ma Ji-liong serasa karam. Mendengar suara-suara itu, dia tahu bahwa dua orang yang datang itu adalah Coat-taysu dan Pang Tio-hoan. Mereka baru saja menemukan mayat Peng Thian-pa. Jika mereka menemukan dia di sini, mereka tentu tidak akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan lagi. Tapi tidak seorang pun menyangka kalau mereka malah tidak jadi masuk ke dalam kuil. Ini terjadi karena mereka tadi sempat melihat kepergian kuda putihnya itu.

“Itulah kuda Naga Putih dari Thian-ma-tong.”

Mereka juga melihat seseorang yang mengenakan mantel bulu di atas punggung kuda itu.

“Inilah serangan golok yang mematikan. Dia membunuh dan kemudian pergi. Benar-benar tangan yang keji! Benar-benar orang yang jahat!”

“Dia tidak akan lolos.”

“Tapi Peng Thian-pa…..”

“Peng Thian-pa akan menunggu di sini. Ma Ji-liong tidak. Maka, ayo kita kejar dia!”

Baru saja terdengar kata-kata itu, bunyi langkah kaki dan lengan baju yang berkepak di udara pun kemudian terdengar menghilang di kejauhan. Mereka mengira penunggang kuda bermantel bulu rubah itu adalah Ma Ji-liong, tanpa menyadari bahwa masih ada seseorang lagi di dalam kuil rusak itu.

Jika gadis itu tidak pergi, atau jika di sana masih ada api unggun, atau jika kuda putih itu pun ada di sana, apa yang akan terjadi sekarang? Tadinya Ma Ji-liong tentu saja tidak memikirkan semua itu. Tiba-tiba dia menyadari bahwa gadis itu bukan saja tidak sadis, tapi juga amat baik hati dan misterius. Ia juga menyadari bahwa gadis itu bukan seorang perempuan yang sulit dan semaunya sendiri seperti kelihatannya tadi. Dia mungkin malah lebih cerdik daripada orang lain.

Tak perduli betapa dingin atau betapa panjangnya malam di musim dingin, fajar tetap akan selalu datang. Tidak perduli betapa hebatnya ilmu totokan seseorang, jalan darah yang tertotok akhirnya tentu akan terbuka.

Sekarang fajar sudah mulai merekah. Darah dan hawa pun sudah mengalir menembus jalan darah yang tertotok itu.

Peng Thian-pa tentu saja tidak menggunakan ilmu totokan yang berat. Dia tidak bermaksud menotok jalan darah Ma Ji-liong untuk waktu yang sangat lama, karena dia menyangka pemuda itu akan segera mati. Siapa yang menduga kalau saat ini Ma Ji-liong masih hidup, tapi dia sendiri sudah berubah menjadi mayat yang dingin dan kaku. Golok itu menggorok tenggorokannya sebelah kiri, mulai dari depan hingga ke belakang, memutuskan semua jalan darah utama di lehernya.

Inilah serangan golok yang amat mematikan. Orang ini adalah jago golok nomor satu di dalam Bulim. Agaknya tidak seorang pun yang bisa mengelakkan serangan goloknya. Dan tentu saja tidak ada serangan golok yang tidak bisa ditangkis olehnya. Tapi golok ini telah mengambil nyawanya.

Mimpi pun dia tidak menyangka kalau orang itu akan berbalik melawannya, atau golok itu akan menggorok tenggorokannya. Ini terjadi karena orang itu adalah temannya – teman akrabnya – teman yang setia dan dipercayainya. Mereka sudah merencanakan semua ini bersama-sama. Dia tidak menyangka kalau orang itu akan membungkamnya setelah segalanya berhasil. Siapakah orang itu? Ma Ji-liong tidak bisa menebak. Dia juga tidak punya petunjuk sama sekali. Benar-benar tidak ada orang yang tahu jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertanyaan yang lebih gampang adalah – setelah rencana mereka sukses, apa yang akan terjadi? Apakah akibatnya? Siapa yang akan mendapat keuntungan?

Tentu orang ini membuat rencana tersebut untuk keuntungannya sendiri. Setelah rencana dilaksanakan, Ma Ji-liong akan menjadi kambing hitamnya. Keluarga dan teman-teman Toh Ceng-lian, Sim Ang-yap dan Khu Hong-seng akan memburu Ma Ji-liong.

Jika mereka tidak berhasil menemukan Ma Ji-liong, mereka tentu akan mencarinya ke Thian-ma-tong. Dan jika mereka berhasil membunuh Ma Ji-liong, Thian-ma-tong akan membalas dendam. Dan akhirnya persoalan ini akan menjadi dendam keluarga, dendam antara Thian-ma-tong dan keluarga Toh, Sim dan Khu.

Permusuhan di antara keluarga-keluarga ternama ini akan menyebabkan kehancuran bersama. Bila ikan dan kepiting bertarung, yang untung adalah sang nelayan. Siapakah si nelayan ini?

Di bawah naungan langit yang tak berawan, jejak kaki kuda di atas salju terlihat dengan jelas sehingga mirip seperti seseorang yang sudah memberi petunjuk untuk diikuti orang lain. Apakah mereka sudah berhasil menyusul gadis itu?

Ma Ji-liong tidak bisa membayangkan mimik muka “entah tertawa entah menangis” di wajah kedua orang itu bila mereka tahu orang macam apa gadis itu. Dia tiba-tiba merasa bahwa gadis yang sangat kasar, amat buruk rupa dan aneh luar biasa itu benar-benar menarik.

Inilah pertama kalinya dia merasa gadis itu sangat menarik.

Tapi dia tidak berhutang apa-apa pada gadis itu, dan dia mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi. Perempuan itu pergi ke arah timur. Dia tentu saja akan pergi ke barat. Sekarang dia merasa amat kedinginan dan kelaparan. Dia tahu bahwa di sebelah barat sana ada sebuah kota besar dengan losmen yang sangat bagus. Di losmen itu kamar-kamarnya selalu tertata rapi dan bersih, dengan seprai yang selalu diganti dengan yang baru dan perapian yang hangat! Di dapurnya selalu tersedia daging kambing rebus yang sangat lezat dan kue biji wijen yang harum dan lembut. Dan itulah yang dia butuhkan sekarang ini.

Kota itu adalah kota yang ramai dan sibuk dengan jalan raya yang bersih dan rapi. Pelayan losmen sedang menunggu di depan pintu, berusaha menarik perhatian calon pelanggan. Ketika hendak berjalan masuk ke dalam losmen, Ma Ji-liong tiba-tiba teringat bahwa dia tidak punya uang, bahkan tidak untuk sepotong kue biji wijen, maka ia pun tidak berani masuk. Pelayan losmen itu pun tidak berusaha mengundangnya. Dalam cuaca yang amat dingin seperti ini, orang ini bahkan tidak punya secarik bulu pun di tubuhnya. Dia pasti bukan calon pelanggan yang baik.

Mendapat perlakuan yang dingin dari orang lain, mulutnya pun terasa getir. Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong menerima perlakuan seperti ini. Akhirnya dia menyadari bahwa orang-orang jauh lebih menghargai uang daripada dia. Karena itu, meskipun kedinginan, kelaparan dan kelelahan, dia lalu menegakkan tubuhnya dan terus bergerak dengan langkah-langkah yang lebar.

Walaupun dia tidak tahu ke mana dia akan pergi, tapi kakinya tidak pernah berhenti. Tiba-tiba dia melihat seekor kuda putih. Dia mengenali kuda ini, dan agaknya kuda itu pun mengenalinya.

Kuda itu mengangkat kakinya dan meringkik pelan. Itulah kuda naganya sendiri.

Kuda itu terikat di bawah emperan sebuah rumah makan. Tiba-tiba seseorang tampak menjulurkan kepalanya dari jendela rumah makan itu dan memberi isyarat kepadanya.

Yang membuatnya terkejut, orang itu ternyata gadis buruk rupa yang sadis, misterius dan menarik itu. Jelas dia pergi ke arah timur. Kenapa tiba-tiba dia muncul di kota sebelah barat ini?

Dengan suara yang keras, gadis itu berseru, “Ayo naik. Ayo naik, cepat.”

Ma Ji-liong merasa bimbang. Tapi gadis itu mendesak lagi, “Kau mau bergabung denganku di sini, atau aku harus menjemputmu ke sana?”

Ma Ji-liong hanya bisa tersenyum dipaksa. Dia berkata, “Aku datang. Aku akan datang sendiri.”

Rumah makan itu luas dan hangat, penuh dengan aroma daging kambing rebus, ikan goreng dan kue biji wijen.

Seorang diri dia duduk di sebuah meja yang bisa ditempati delapan orang, dan di atas meja sudah tersedia begitu banyak makanan dan arak yang bahkan tidak mungkin bisa dihabiskan oleh delapan orang sekaligus. Dia masih memakai mantel bulu Ma Ji-liong.

Si nona memandangnya dan berkata, “Duduklah. Duduklah, cepat.”

Ma Ji-liong hanya bisa duduk.

Kembali dia memerintahkan, “Makanlah. Makanlah, cepat.”

Dan Ma Ji-liong pun makan. Dia tidak mau gadis itu mendesak-desaknya, juga tidak mau perempuan itu menyuapkan daging kambing ke mulutnya. Agaknya dia bukan tipe perempuan yang akan membiarkan orang lain melakukan sendiri apa yang dia mau.

Melihat Ma Ji-liong sudah menelan sepotong kecil daging kambing rebus, matanya berkedip-kedip dengan berseri. Tapi kemudian dia memasang muka serius dan berkata, “Orang muda harus dapat menahan rasa lapar, dan mereka pun harus bisa makan. Jika kau tidak menghabiskan semangkok daging kambing rebus ini, tak perduli apa pun yang kau katakan, aku tidak mau mendengarkannya.”

Ma Ji-liong benar-benar menghabiskan semangkok besar daging kambing rebus itu dan dua potong kue biji wijen.

Gadis itu menuangkan semangkok besar arak untuknya dan menyerahkannya padanya. Dia berkata, “Kau sudah makan. Sekarang kau boleh minum. Minumlah, cepat.”

“Aku tidak mau minum,” Ma Ji-liong menggelengkan kepalanya.

Gadis itu berkata, “Kau ingin aku menjepit hidungmu dan menuangkan arak ini ke dalam mulutmu?”

Ma Ji-liong tidak memperdulikannya. Dia benar-benar tidak percaya kalau seorang gadis akan berani menjepit hidungnya di depan umum. Tapi dia keliru. Gadis itu benar-benar menjepit hidungnya dengan jari tangannya.

Walaupun wajahnya buruk dan aneh, tapi tangannya indah, halus dan mulus.

Tangan yang lembut dan lemas. Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong menyadari bahwa ada sesuatu yang indah di tubuh gadis ini. Dia pun menghabiskan semangkok arak itu.

Dia tidak pernah menyentuh setetes pun arak sejak dia bermabuk-mabukan selama tiga hari di rumah makan Tin-cu-hong. Dia sudah memutuskan untuk berhenti minum. Tapi, tak perduli apa pun yang sudah diputuskan seseorang, setelah mengalami serentetan peristiwa buruk dan seorang gadis menjepit hidungnya di depan umum seperti ini, keputusan seseorang bisa saja goyah.

Gadis itu akhirnya tertawa dan berkata, “Sekarang kau baru tampak hidup. Jika seorang laki-laki tidak berani minum arak, maka dia bukan seorang laki-laki sejati.”

Dia menuangkan semangkok lagi dan berkata, “Tapi jangan khawatir. Tidak ada racun di dalam arak ini. Aku pasti tidak ingin meracunimu sampai mati.”

Sekarang setelah Ma Ji-liong minum lagi setelah berpantang sekian lama, dia pun minum dengan riang gembira. Siapa pun orangnya, jika mereka menjadi dia, mereka pun tentu ingin mabuk. Sesudah minum tiga mangkok, tubuhnya mulai mengendur. Akhirnya ia bertanya, “Sekarang, boleh aku bicara?”

Gadis itu berkata dengan dingin, “Jika itu hal yang baik, bicaralah. Jika cuma omong kosong, diam sajalah.”

“Bagaimana kau bisa tiba di sini?” Ma Ji-liong bertanya.

“Aku merasa suka, maka aku datang,” gadis itu menjawab.

“Tapi tadinya kau menuju ke timur, bukan?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Tiba-tiba aku ingin pergi ke barat.”

“Apakah kau sedang memata-mataiku?” Ma Ji-liong melanjutkan.

“Apakah kau kira kau begitu tampannya sehingga setiap gadis harus memata-mataimu?” gadis itu membalas.

Sambil menyeringai, tiba-tiba dia berkata, “Aku toh bukan ibu Toh Ceng-lian, juga bukan ibu Sim Ang-yap. Aku pun bukan nenek-moyangnya hwesio bau itu. Kenapa aku harus memata-mataimu?”

Mimik muka Ma Ji-liong segera berubah. Dia bertanya, “Apakah kau juga tahu tentang hal itu?”

Gadis itu cuma menyahut, “Hmmm.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Ma Ji-liong bertanya.

“Hmmm,” jawab gadis itu.

Ma Ji-liong bertanya pula, “Apakah kau bertemu dengan Pang Tio-hoan dan Coat-taysu? Apakah mereka yang memberitahukan semua itu padamu?”

Gadis itu tidak bersuara lagi. Pelan-pelan dia menuangkan semangkok arak lagi untuknya, semangkok besar arak.

Sambil menghela napas, Ma Ji-liong berkata, “Apakah kau selalu minum dengan mangkok yang besar?”

“Ya,” akhirnya gadis itu menjawab.

Ma Ji-liong bertanya, “Mengapa begitu?”

Gadis itu berkata, “Cuma Siau-hoan yang minum dengan mangkok kecil (siau hoan). Aku bukan Siau-hoan.”

Siau-hoan? Ma Ji-liong merasa seperti pernah mendengar nama ini sebelumnya. Dia tadi mendengarnya dari Khu Hong-seng, yang mengatakan bahwa kekasihnya bernama Siau-hoan. Dan potongan giok di kantungnya itu diberikan kepadanya oleh Siau-hoan itu.

Ma Ji-liong tidak bisa menahan diri. Dia bertanya lagi, “Apakah kau juga kenal Siau-hoan?”

Gadis itu berkata dengan dingin, “Kau terlalu banyak bertanya.”

“Tapi kau tidak menjawab satu pun,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu berkata, “Itu karena kau terus mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan, dan kau tidak menanyakan apa yang seharusnya kau tanyakan.”

“Lalu apa yang seharusnya kutanyakan?” Ma Ji-liong berkata.

Gadis itu menjawab, “Kau sudah mencicipi makananku. Kau sudah meminum arakku. Setidaknya kau seharusnya sudah menanyakan namaku!”

“Siapa namamu?” Ma Ji-liong bertanya.

Dia berkata, “Siau-hoan selalu minum dengan mangkok kecil (siau hoan). Aku minum dengan mangkok besar (toa hoan). Jadi apa namaku?”

“Namamu Toa-hoan?” Ma Ji-liong berkata.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: