Kumpulan Cerita Silat

16/12/2007

Maling Romantis (04)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 11:58 pm

Maling Romantis (04)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Terkulum senyuman sinis dan jahat di ujung mulut gadis itu, namun Coh Liu-hiang tidak memberi kesempatan orang untuk bicara, dia menggenggam tangannya dan menariknya, lalu katanya, “Nona Leng, bila kau ingin mencari jawaban atas teka-teki ini, kau harus percaya padaku,” kedengaran suaranya lemah lembut penuh kasih sayang dan jujur pula, namun sorot matanya jauh lebih berdaya tarik daripada nada suaranya yang mampu menundukkan kekerasan hati orang.

Akhirnya gadis itu tertawa lebar, ujarnya, “Aku bukan she Leng.”

“Kalau begitu aku memanggil kau siapa?” bersinar sorot mata Coh Liu-hiang.

Tiba-tiba gadis itu menarik muka, katanya dingin, “Kau boleh memanggilku nona Leng saja.”

“Lebih dulu aku hendak menyelidiki Thian-it-sin-cui itu, barang itu tidak bisa mendatangkan kekayaan, juga tidak bisa menambah kepandaian ilmu silat berlipat ganda, mengapa harus mencurinya?”

“Pertanyaan ini seharusnya ditujukan padamu lebih dulu.”

“Hanya satu kegunaan Thian-it-sin-cui, yaitu untuk mencelakai jiwa orang, malah membunuh tanpa disadari dan tanpa diketahui oleh si korban. Sedemikian rupa dia berdaya upaya, mencurahkan segala tenaga, mengerahkan segala daya fikir dan akal untuk mencuri Thian-it-sin-cui, jelas punya satu tujuan.”

“Satu pun sudah cukup.”

“Nah, dapat kita simpulkan bahwa orang yang hendak dicelakai oleh si ‘dia’ adalah orang yang tidak gampang dibunuh hanya dengan menggunakan racun, dengan kata lain orang yang hendak dibunuh oleh si ‘dia’ adalah orang yang tidak mampu dibunuhnya dengan menggunakan kepandaian atau kekuatan sendiri.”

Perempuan itu manggut-manggut, katanya, “Benar, kalau tidak, dia tak akan berani menyerempet bahaya mencuri Thian-it-sin-cui.”

“Tetapi kalau benar dia berhasil mencuri Sin-cui dari Sin-cui-kiong, masih ada berapa orang yang tidak mampu dibunuhnya? Untuk bisa berhasil mencuri ‘air sakti’ dari Sin-cui-kiong, si ‘dia’ harus mempunyai kepandaian setingkat aku,” Coh Liu-hiang tersenyum, lalu ia berkata pula, “Karena itu dapat disimpulkan bahwa si ‘dia’ berhasil mencuri ‘air sakti’ dari Sin-cui-kiong karena ada orang yang telah membantunya secara diam-diam.”

“Siapa orang yang kau maksud?” jengek si gadis dingin.

Coh Liu-hiang menatapnya bulat-bulat, katanya,”Setelah ‘air sakti’ itu hilang, adakah orang hilang dari istana kalian?”

“Jadi kau maksud anak murid istana kami yang membantunya mencuri air sakti tersebut, setelah air itu tercuri, ia sendiri pun harus segera menyelamatkan diri, begitu?”

“Memangnya tidak mungkin terjadi hal seperti itu?”

“Sudah tentu mungkin, sayang sekali selama puluhan tahun ini tidak ada seorang pun anak murid Sin-cui-kiong kami yang hilang atau melarikan diri.”

“Sejak kehilangan ‘air sakti’ itu, apakah tidak terjadi suatu peristiwa di istana kalian? Umpamanya ada yang bunuh diri….”

Seketika berubah sikap gadis itu, serunya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

Bersinar sorot mata Coh Liu-hiang, katanya keras, “Jadi ada yang bunuh diri, benar tidak? Mengapa dia harus bunuh diri?”

“Persoalan istana kami, mengapa perlu kau tahu?” bentak perempuan itu dengan beringas.

Coh Liu-hiang menggenggam tangan perempuan itu, katanya perlahan, “Nona Leng, tolong kau ceritakan secara jujur tentang peristiwa itu, peristiwa itu adalah kunci persoalan ini, maukah… maukah kau percaya padaku?”

Gadis itu menarik tangannya serta pelan-pelan memalingkan mukanya, sekian lama dia menepekur diam, akhirnya dia berkata dengan perlahan, “Dia adalah gadis yang rupawan dan cantik jelita, serta romantis pula, usianya pun paling muda, sekarang…. sekarang dia sudah meninggal, aku tak bisa singgung dirinya lagi.”

“Mengapa dia bunuh diri? Apakah karena hamil dan dia merasa malu?”

Gadis itu tidak menjawab, tapi tangannya menggenggam kencang bajunya, terang hatinya bergolak diliputi rasa haru dan pedih serta penasaran.

“Jelas sudah kalau begitu,” ujar Coh Liu-hiang. “Terang si ‘dia’ sudah melanggar kesuciannya, di bawah ancaman dan bujuk rayu akhirnya dia berhasil mencuri Thian-it-sin-cui, namun si ‘dia’ tidak menepati janji membawanya pergi untuk dijadikan isteri, maka dia memilih jalan pendek.”

“Tutup mulutmu!” bentak si gadis dengan badan gemetar.

“Sejak dahulu kala, gadis yang romantis senantiasa mengalami nasib yang mengenaskan……… daripada kau bersedih, lebih baik kau berusaha menemukan si ‘dia’, membalas dendam bagi si korban.”

Sigap sekali gadis itu membalikkan tubuh, tanyanya, “Cara bagaimana mencari si ‘dia’?”

“Sebelum ajal, apakah ada pesan darinya?”

Berlinang air mata perempuan itu, katanya dengan haru, “Dia hanya berkata…. dia berdosa terhadap orok dalam kandungannya.”

“Sampai keadaan demikian, dia masih tidak sudi menyebut nama si ‘dia’, seolah-olah dia khawatir kalau orang lain mencelakai si ‘dia’. Ilmu iblis apakah yang dimiliki orang itu, sehingga seorang gadis muda bisa kepincut mati-matian kepadanya?”

“Selama ini tidak pernah dia menyinggung si ‘dia’, hakikatnya dia tidak pernah menyebut-nyebut tentang seorang laki-laki, sungguh mimpi pun tidak pernah kami duga bisa terjadi peristiwa seperti ini.”

“Apakah dia tidak mempunyai teman laki-laki?”

“Sejak dilahirkan, sepanjang hidupnya dia tidak pernah kenal dengan laki-laki.”

“Aneh… mengapa hari ini terjadi beberapa peristiwa aneh. Empat orang yang satu dengan lainnya tidak saling kenal meninggal dalam waktu bersamaan di satu tempat pula! Air sakti Sin-cui-kiong secara misterius dicuri orang. Seorang gadis suci pingitan yang selama hidupnya tidak pernah bicara dengan lelaki, tiba-tiba diketahui hamil. Selintas pandang, ketiga peristiwa aneh ini satu dengan yang lainnya tiada berhubungan sama sekali, namun justru saling berkaitan erat.” Coh Liu-hiang mengangkat kepalanya, gumamnya, “Siapa yang bisa menjelaskan persoalan aneh seperti ini?”

“Kau sendiri!” seru gadis itu.

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya, “Aku….”

Gadis itu menatapnya dengan tajam, katanya bengis, “Demi kau sendiri, kau harus berusaha membongkar rahasia ini.”

“Tapi dari mana aku harus bertindak? Boleh dikata aku tidak mempunyai sumber penyelidikan sama sekali.”

“Sumbernya pasti ada, dan kau sendiri pula yang harus menemukannya.” kata si gadis, kembali ia membalikkan badan membelakangi Coh Liu-hiang, lanjutnya dengan tandas, “Kuberi kau tempo satu bulan, bila kau tidak berhasil menemukannya, Sin-cui-kiong akan mencarimu.”

“Mengapa kau membalikkan badan? Memangnya bila kau berhadapan denganku, tidak mampu mengucapkan kata-kata yang tidak tahu aturan ini?”

Gadis itu tidak menghiraukan kata-katanya, dia beranjak mendekati buritan kapal. Di bagian belakang kapal yang gelap, tampak ada sebuah sampan kecil yang bisa bergerak cepat dan laju. Dengan enteng dia melayang turun, sekejap mata sampan kecil itu sudah meluncur pergi ditelan kegelapan malam.

Coh Liu-hiang bertopang dagu di dek kapal, dengan berdiam diri ia mengawasi bayangan orang pergi. Sinar bintang tampak redup, sampan kecil itu terombang-ambing digoyang alunan ombak, sari panjang di atas tubuhnya tertiup angin melambai-lambai, seolah-olah dewi kahyangan yang sedang menari di tengah lautan. Tiba-tiba ia memalingkan muka dengan mengunjuk tawa berseri yang manis, serunya, “Aku bernama Kiong Lam-yan!”

***

Coh Liu-hiang menjulurkan kedua kakinya, dengan nyaman ia rebah di atas kursi malasnya, matanya memandang pusaran arak yang berada di dalam cawannya, lalu ia menggumam, “Memang dia amat cantik, terutama senyum tawanya, lebih cemerlang dari sinar bintang yang berkerlap-kerlip di angkasa, dan akhirnya lenyap ditelan kegelapan.”

“Sebulan lagi kau tidak akan merasa dia cantik, terutama bila ujung pedangnya mengancam tenggorokanmu,” demikian goda Li Ang-siu dengan tawar.

“Dia tidak menggunakan pedang,” ujar Coh Liu-hiang.

Berkedip-kedip mata Li Ang-siu, “Memangnya dia menggunakan pisau sayur?”

Tak tahan lagi Coh Liu-hiang tertawa geli, katanya sungguh-sungguh, “Yang dia gunakan adalah mangkuk sayur.”

“Mangkuk sayur?”

“Kalau tidak pakai mangkuk, bagaimana dia bisa menadahi cukamu yang tumpah dari gucimu yang terbalik?”

Song Thiam-ji cekikikan, katanya, “Jangan kau menyalahi dia, bahwasanya dia jauh lebih lihai daripada Kiong Lam-yan!”

“Oh!” Coh Liu-hiang berseru heran.

Song Thiam-ji menekuk pinggang, katanya dengan geli, “Kiong Lam-yan paling hanya murid Sin-cui-kiong, tetapi nona Li Ang-siu kita ini sebaliknya adalah Ciangbunjin Sin-cui-kiong.”

Li Ang-siu memburu maju, dampratnya sambil mengertak gigi, “Setan cilik, kau ingin mampus!” Sambil terkekeh geli, Song Thiam-ji berlari, terus saja ia berkaok-kaok, “Yong-ci, tolong! Lihai benar Ciangbunjin dari Sin-cui-kiong!” Begitulah mereka kejar-mengejar dengan bersenda-gurau.

Sambil tersenyum simpul So Yong-yong mengawasi Coh Liu-hiang, katanya lembut, “Sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Sampai detik ini tidak ada sumber penyelidikan yang dapat kutemukan. Tetapi aku tahu bahwa si ‘dia’ pasti adalah seorang laki-laki tampan, kalau tidak mana mungkin gadis pingitan itu bisa kepincut padanya?”

“Belum tentu semua gadis menyukai laki-laki tampan.”

“Menurut pandanganmu, orang macam apakah sebenarnya si ‘dia’ itu?”

“Pasti dia adalah laki-laki yang pandai bicara, sangat pintar, pandai menarik perhatian seorang gadis serta romantis. Gadis remaja yang beranjak dewasa, selamanya takkan kuasa melawan laki-laki seperti ini.”

“Laki-laki semacam ini memangnya bisa masuk ke Sin-cui-kiong?”

“Laki-laki seperti ini bila sudah masuk ke Sin-cui-kiong, mungkin tidak bisa keluar dengan hidup. Di dunia ini, laki-laki yang bisa keluar dari Sin-cui-kiong dengan hidup mungkin hanya ada beberapa orang saja.”

“Oleh karena itu terpaksa aku memohon bantuanmu untuk melakukan sesuatu.”

“Maksudmu hendak mengutus aku ke Sin-cui-kiong?”

“Aku… aku hanya menguatirkan kesehatanmu.”

“Jadi kau anggap aku sedemikian lemah, tak tahan dihembus angin?”

“Entah bisa tidak kau menemukan bibi misanmu, tanyakan biasanya laki-laki macam apa yang diperbolehkan keluar-masuk di Sin-cui-kiong. Tanyakan juga gadis macam apa pula yang bunuh diri itu. Lebih baik kalau bisa menemukan barang-barang peninggalan gadis itu. Kalau dia ada meninggalkan buku atau surat, itu lebih baik.”

“Begitu terang tanah, segera aku berangkat.”

“Cuma kau….”

Dengan aleman So Yong-yong mendekap mulut orang dengan jari-jarinya yang runcing halus, katanya tertawa, “Apa yang ingin kau kemukakan, aku sudah tahu. Setelah aku pergi, bagaimana dengan dirimu?”

“Tujuh hari kemudian akan kutunggu kau di Hong-ih-ting di pesisir Tay-bing-ouw di Kilam.”

“Kilam? Bukankah di sana pusat Cu-soa-bun?”

“Hay-lam-pay dan Chit-sing-pang terlalu jauh dari sini, sebaliknya Ca Bok-hap datang dari daerah luar perbatasan yang jauh di ujung langit. Aku mengharap dari anak murid Cu-soa-bun aku bisa memperoleh kabar yang kuperlukan.”

“Tapi kau harus hati-hati, kalau mereka tahu…..”

“Walau mereka membenciku, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap diriku,” Tiba-tiba Coh Liu-hiang membentangkan telapak tangannya, entah sejak kapan tahu-tahu tangannya sudah menggenggam sebotol porselen kecil. Begitu sumbat dibuka, segera terendus semacam bau wangi yang terasa aneh memenuhi ruangan besar itu.

Segera Coh Liu-hiang tarik suara dan bersenandung, “Malam hari maling sakti meninggalkan bau wangi, entah di manakah sukmamu gentayangan…”

“Jadi kau ingin supaya aku meninggalkan bau wangi ini di mana-mana?”

“Betul! Sepanjang jalan kau tinggalkan sedikit bau ini, supaya orang susah meraba jejakku ada di mana, takkan terduga pula oleh mereka, aku sebenarnya sudah berada di Kilam.”

“Tapi kau… kali ini kau akan muncul sebagai duplikat siapa?”

“Anggota Cu-soa-bun kebanyakan adalah hartawan besar. Jika aku ingin mendapat kepercayaan dari mereka, maka aku harus menyamar sebagai orang perlente yang lebih royal membuang uang daripada mereka.” Sambil menggeliat malas ia pun bangkit, lalu mendorong lemari yang penuh padat untuk menyimpan botol-botol arak ke samping, ternyata di belakang lemari minuman itu terdapat sebuah pintu kecil yang sempit.

***

Di belakang pintu sempit rahasia itu terdapat sebuah ruang segi enam yang berbentuk aneh. Enam dinding sekelilingnya terpasang kaca yang terang, cukup dengan menyalakan sebuah lentera saja sudah dapat menerangi sepuluh kali lipat keadaan kamar kecil itu.

Sepanjang dinding kaca itu dikelilingi pula oleh lemari-lemari pendek yang terbuat dari kayu, di sana terdapat ratusan laci kecil, di setiap laci tercantum nomor yang berbeda, tak ubahnya dengan laci di toko obat.

So Yong-yong menggelendot di pinggir pintu, katanya tertawa, “Yang kau inginkan mungkin nomor enam puluh tiga atau nomor seratus tiga belas.”

Coh Liu-hiang menarik laci nomor enam puluh tiga, di dalamnya tersimpan seperangkat jubah dan celana ketat yang terbuat dari sutera halus warna biru tua, kelihatannya setengah baru, di samping itu terdapat pula sepasang sandal kain, sebuah kantong kecil warna hitam terbuat dari kulit ikan cucut, serta sejilid buku tipis.

Coh Liu-hiang mengerutkan keningnya, tanyanya, “Apakah benar nomornya?”

“Mungkin tidak salah.”

“Tapi dinilai dari pakaian ini, bukan baju yang sering dipakai orang kaya.”

“Pedagang besar yang bermukim di Kilam hanya ada dua orang saja. Yang seorang adalah cukong besar pemilik bank di Sansay, cukong yang memakai pakaian seperti ini, boleh dianggap cukup berlebihan.”

“Oh, iya, aku lupa, barang perak milik orang Sansay kebanyakan digodok dulu dalam obat, ada kalanya aku merasa heran, mereka menyimpan uang sebanyak itu, entah apa tujuannya.”

Lalu ia pun membalik lembaran buku tipis itu, di halaman pertama bertuliskan:

Nama: Ma Pek-ban
Pekerjaan: Direktur bank Su-khong Sansay
Usia: Empat puluh
Kesukaan: Tidak ada
Ciri-ciri: Setiap kali melewati tempat berair pasti akan melepaskan sandal, waktu hujan selalu berusaha menggunakan payung milik orang lain, badannya membawa bau seperti sudah lama tak pernah mandi

Belum selesai membaca, lekas Coh Liu-hiang menutup buku itu terus dikembalikan ke dalam laci, katanya sambil menghela nafas, “Kalau kau ingin aku menyamar sebagai orang ini, lebih baik aku mati saja.”

“Kau sendiri yang menyuruhku menulis dan mencatat bahan-bahan itu di dalam buku, pengemis jorok pun kau pernah menyamarnya, mengapa sekarang kau tidak mau…..”

“Lebih baik menjadi pengemis daripada menjadi cukong macam dia itu.”

“Kalau begitu, coba kau buka laci nomor seratus tiga belas.”

Coh Liu-hiang membuka laci nomor seratus tiga belas, di dalamnya tersimpan seperangkat pakaian indah dan mentereng terbuat dari bahan yang mahal, sepasang sepatu kulit yang mengkilap, kecuali itu terdapat pula dua butir bola besi yang mengeluarkan suara gemerincing bila ditimang-timang di telapak tangan, sebuah golok melengkung yang dihiasi batu jamrud, sebuah kantong kecil yang terbuat dari kulit ikan cucut hitam serta sejilid buku tipis pula.

Setelah itu So Yong-yong berkata, “Yang sering pulang pergi ke Kilam, selain cukong besar pemilik bank, orang yang paling royal adalah pemilik perkebunan di daerah luar perbatasan Tiang-pek-san, yaitu ketua Jay-sam-pang yang berdagang kolesom.”

“Kedengarannya dia jauh lebih menarik.”

Kembali Coh Liu-hiang membalik halaman buku tipis itu, tertulis di situ:

Nama: Thio Siau-lim
Pekerjaan: Pedagang obat kolesom Koan-gwa
Usia: Tiga puluh enam
Kesukaan: Arak, berjudi dan main perempuan

Belum selesai membaca, Coh Liu-hiang sudah menutup buku itu, katanya sambil tersenyum, “Menarik, sungguh amat menarik sekali.”

“Aku tahu, tentu cukup memenuhi seleramu. Tapi kau tetap harus membawa pula peti itu, aku sudah menyiapkan nomor tiga, tujuh, dua puluh delapan dan empat puluh di dalam peti itu.”

“Kalau begitu, sejak hari ini aku akan menyamar sebagai Thio Siau-lim selama beberapa hari.” Di tengah gelak tawanya, ia pun membuka kantong kulit itu, lalu mengeluarkan sebuah kedok muka yang halus dan tipis.

***

‘Kwi-gi-tong’, tiga huruf emas bergaya tandas seperti naga melingkar atau burung hong menari, tampak berkilauan di bawah penerangan sinar pelita.

Di sanalah pusat perjudian terbesar di seluruh kota Kilam.

Tatkala itu pelita baru saja dipasang, suasana Kwi-gi-tong amat ramai dan hiruk-pikuk. Sebuah ruangan besar penuh sesak, diliputi oleh bau arak dan asap tembakau yang mengepul menyesakkan nafas, terendus pula bau pupur dan gincu di atas tubuh para perempuan, bau keringat busuk di atas badan para lelaki…. kepala setiap hadirin pun hampir semuanya basah oleh butiran keringat yang kemilau tersorot oleh sinar pelita.

Ada yang berseri tertawa riang, namun ada pula yang lesu dan patah semangat, ada yang bersikap tenang, ada pula yang tegang mengepal tinju dan gemetar seluruh badannya.

Di ruangan paling depan terdapat dua meja Paykiu, dua meja judi dadu, dua meja Capjiki. Tingkatan orang yang bertaruh di sini pun paling acak-acakan, kaya miskin tiada perbedaan, asal ada uang boleh bertaruh. Suara hiruk-pikuk di sini pun paling ramai. Di setiap meja berdiri seorang laki-laki berseragam hitam dan berikat pinggang kain merah, setiap yang menarik taruhan, dia harus menyetor sepuluh persen padanya.

Ruangan tengah rada sepi dan tenang, di sini hanya terdapat tiga meja, orangnya pun lebih sedikit, tiga meja penuh dengan orang-orang gemuk bertubuh gendut, terang mereka adalah hartawan-hartawan besar yang getol berjudi. Uang perak bertumpuk-tumpuk di atas meja di hadapan setiap orang, di pinggir meja tersedia hidangan dan makanan, tak ketinggalan pula rokok. Puluhan gadis ayu yang berpakaian mewah dengan perhiasan memenuhi seluruh badan tampak mondar-mandir sambil jual senyuman manis, seperti kupu-kupu yang mengelilingi sekuntum bunga, di sana melorot uang perak, di sini menjumput dua keping uang emas.

Para penjudi itu tidak menghiraukan perbuatan mereka, maklum apa artinya uang kecil itu, maka yang kalah semakin cepat kantong uangnya kosong, yang menang sebaliknya kantong uangnya tidak terlihat padat. Uang perak atau emas sama mengalir ke kantong baju gadis-gadis itu melalui jari-jari mereka mereka yang penuh dihiasi cincin berkilauan, akhirnya bertumpuk di kas sang majikan pemilik rumah judi itu. Perjudian di sana memang dibuka dan diusahakan oleh fihak Cu-soa-bun.

Rumah di bagian belakang, pintunya tertutup kerai lebar, di dalam rumah itu terdapat tujuh atau delapan penjudi, namun gadis-gadis yang melayani di sini pun paling banyak, ada yang menghidangkan makanan, ada yang menuangkan arak, namun ada pula yang menggelendot dalam pelukan orang. Sebutir demi sebutir mereka mengupaskan kwaci terus dijejalkan ke mulut penjudi-penjudi yang dermawan itu, jari-jari mereka laksana duri mawar, kerlingan matanya tajam semanis madu.

Seorang pemuda bermuka pucat mengenakan jubah panjang hijau pupus tampak berdiri di pinggir meja sambil tersenyum simpul, tak henti-hentinya ia menepuk pundak salah seorang tamu, katanya, “Hari ini nasibmu kurang mujur, pergi bawalah Cu-ji ke kamar untuk bermalas-malasan saja.”

Namun yang diajak bicara selalu menjawab sambil tertawa lebar, “Buat apa terburu-buru, belum lagi lima laksa tail!”

Maka tangan si pemuda pun ditarik, sambil tersenyum senang ia mengelus-elus jenggotnya yang baru tumbuh, tangan yang ia gunakan selalu tangan kiri, tangan kanan selalu disembunyikan di balik lengan baju.

Pemuda ini bukan lain adalah pengurus tertinggi Kwi-gi-tong, tak lain adalah murid Ciangbunjin Cu-soa-bun, Sat-jin-giok-lan Han-bin-beng-siang (Membunuh tanpa mimik wajah berubah) Leng Chiu-hun.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: