Kumpulan Cerita Silat

16/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (08)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:13 am

Ilmu Ulat Sutera (08)
Oleh Huang Ying

Matahari timbul di ufuk timur. Cahayanya menyinari dari puncak pegunungan. Tujuh orang tosu itu kini sudah berganti posisi, bergerak terus tanpa henti. Sinar matahari menyoroti pedang mereka. Cahayanya berkilauan.

Tok-ku Hong dan Kongsun Hong merasakan bayangan manusia dan pedang berkelebatan. Mereka tidak dapat lagi melihat jelas posisi ketujuh orang tosu tersebut, mata mulai berkunang-kunang.

Tepat pada saat itu, dari atas sebatang pohon berjarak tiga depa muncul Wan Fei-yang yang mengenakan pakaian hitam dan menutu[I wajahnya dengan kain hitam pula. Sepasang matanya yang tersembul memperlihatkan ketegangan hatinya. Dadanya berdebar-debaar, tangan menggenggam pedang erat-erat menonjolkan urat berwarna kehijauan.

Pek Ciok yang berada di luar barisan tersebut juga tegang sekali. Dia menarik napas dalam-dalam. Dan tiba-tiba berseru, “Yin-ho-lim-heng (sungai jernih meneguk kebencian)!”

Tujuh orang tosu itu bergerak cepat, tujuh batang pedang diputar ke atas. Tampak tujuh gulungan cahaya memijar.

“Hati-hati!” teriak Kongsun Hong. Jit-guat-lun tergenggam di kedua tangan dan mengadang di depan Tok-ku Hong.

Wan Fei-yang segera menghunus pedangnya. Tubuhnya melesat ke depan. Tepat pada saat itu pula terdengar bentakan yang memekakkan telinga, “Berhenti!”

Tanpa sadar Wan Fei-yang menghentikan gerakan kakinya. Tujuh orang tosu itu juga berhenti bergerak. Cahaya pedang perlahan memudar. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong saling pandang sekilas. Wajah mereka menyiratkan perasaan tidak mengerti.

Orang lainnya juga sama. Serentak mereka menolehkan kepala. Ci Siong tojin berdiri di atas sebuah batu besar. Angin yang bertiup melambai-lambaikan lengan bajunya. Tubuhnya bagai akan terbang tertiup angin.

“Bubarkan barisan. Lepaskan mereka yang datang dan biarkan mereka turun gunung!” bentaknya menggelegar memekakkan telinga.

Wajah setiap orang menampilkan perasaan kebingungan. Wan Fei-yang hampir tidak dapat menahan dirinya dan ingin berteriak sekeras mungkin. Cang-song langsung mengelus jenggotnya sendiri.

“Biarkan mereka turun gunung?” tanyanya penasaran.

“Melepaskan harimau pulang ke kandang, kelak pasti menimbulkan masalah!” teriak Gi-song kesal.

Wajah Ci Siong tojin sedingin es. Dia mengibaskan lengan bajunya. Sekali melesat, tubuhnya hilang dari pandangan mata bagaikan para dewa di kayangan. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong tidak ingin membuang waktu. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menerobos keluar dari barisan Jit-sing-kiam-ceng. Tujuh orang tosu tersebut hanya memandangi mereka dengan mata mendelik.

Kongsun Hong menarik tangan Tok-ku Hong dan menyeretnya meninggalkan tempat itu. “Cepat pergi!” katanya.

Para murid Bu-tong yang berkumpul di luar barisan semuanya tidak puas melihat keadaan itu, namun mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa. Mereka terpaksa memberi jalan kepada kedua orang itu.

Gi-song dan Cang-song hampir muntah darah karena jengkelnya. “Mari kita naik ke atas dan minta penjelasan!” teriaknya mengajak.

Dia mendahului mereka melesat ke atas. Sedangkan para murid Bu-tong lainnya terpaksa mengikuti di belakang.

*****

Suara lonceng berbunyi.

Di dalam ruangan pendopo sunyi mencekam. Yang terdengar hanya kumandang suara lonceng. Selain itu tidak terdengar lagi suara lainnya. Seluruh murid Bu-tong berkumpul di dalam ruangan tersebut. Sinar mata mereka terpusat pada Ci Siong tojin yang duduk di tengah ruangan.

Ci Siong tojin tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Matanya setengah terpejam. Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Ci Siong tojin membuka matanya. Gi-song tidak dapat menahan kedongkolan hatinya.

“Ciangbun-suheng, kedua murid Bu-ti-bun sudah pasti akan mati dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng, mengapa kau malah membubarkan barisan itu dan melepaskan mereka?” tanyanya penasaran.

“Dengan berbuat demikian dan tersebar di luaran, teman-teman di dunia kangouw pasti akan menganggap kita bernyali kecil dan takut urusan. Kelak meskipun orang-orang Bu-ti-bun tidak datang menyerang kita, partai lainnya mungkin akan naik ke Bu-tong dan mencari masalah dengan kita,” sambung Cang-song.

“Seandainya kali ini suheng tidak mempunyai alasan yang tepat, para murid Bu-tong pasti tidak mau mengerti,” kata Gi-song sengaja membakar-bakar.

“Betul!” lanjut Cang-song sok serius.

Sinar mata Ci Siong tojin bercahaya bagai kilat. Dia menatap tajam kepada Gi-song dan Cang-song.

“Kali ini, toh tidak ada anak murid kita yang mati. Kita sudah memberikan pelajaran yang pahit kepada kedua bocah itu. Sudahlah… tidak usah diperpanjang lagi,” sahutnya.

Gi-song mendengus dingin, “Datang seenaknya, pergi sesukanya. Kelak mana ada orang lagi yang akan menghargai Bu-tong-pai kami?

“Orang menghargai Bu-tong-pai bukan hanya karena ilmu silat kita, tapi juga pribadi kita yang bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan,” sahut Ci Siong tojin tenang.

Cang-song tertawa dingin, “Aku justru menganggap musuh akan melihat kelemahan kita.”

Gi-song menganggukkan kepalanya.

“Suheng, sejak kau menjadi Ciangbunjin, Bu-tong-pai tampaknya semakin lemah kian hari,” katanya.

“Kalau menurut liong-wi sute, apa yang seharusnya kita lakukan?” tanya Ci Siong tojin dengan wajah tidak berubah meskipun disindir secara terang-terangan.

“Seharusnya membiarkan kedua orang itu terbunuh di dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng,” kata Gi-song.

“Memang seharusnya begitu.” sahut Cang-song menyetujui.

“Keenam muridku belum sempurna ilmunya Apabila Tok-ku Bu-ti marah karena kematian putri dan muridnya lalu langsung menyerang dalam waktu dekat, coba liong-wi sute katakan bagaimana kita harus menghadapinya?” tanya Ci Siong tojin kembali.

Gi-song dan Cang-song tertegun.

“Kalau kita tidak dapat menahan diri dalam masalah kecil, maka masalah besar akan timbul.” Ci Siong menarik napas panjang. Tiba-tiba matanya mengedar, “Kemana perginya Kuan Tiong-liu?”

“Apakah suhu ingin tecu mencarinya untuk menanyakan letak duduk persoalan yang sebenarnya?” tanya Fu Giok-su.

Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya. Yo Hong yang berada di sudut ruangan segera berdiri. “Tidak perlu dicari lagi. Tadi aku melihat dia membawa dua pelayannya turun gunung dengan tergesa-gesa,” katanya menjelaskan.

Cang-song mendengus dingin, “Pergi tanpa pamit, orang ini benar-benar tidak tahu sopan santun!”

Sebuah ingatan melintas di benak Gi-song. “Mungkinkah dia turun gunung mengejar kedua murid Bu-ti-bun itu?” katanya dengan suara lirih.

Mata Cang-song bercahaya seketika. “Bisa jadi ….” gumamnya.

“Kedua orang itu sudah terkurung demikian lama di dalam barisan. Dan mereka juga sudah terluka. Pasti bukan tandingan bocah she Kuan itu.”

“Tidak salah!” suara Cang-song semakin rendah sehingga menyerupai bisikan. “Ci Siong tua bangka itu pasti sudah memperhitungkan segalanya.”

“Hm … benar-benar siasat melempar batu sembunyi tangan yang hebat.”

“Jangan dikira musang tua ini tidak lihai,” kata Cang-song sambil melirik sekilas kepada Ci Siong tojin. Sebelah tangannya menutup di samping bibir agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.

Ci Siong tojin tidak mempedulikan mereka sama sekali. Dia hanya tertawa datar.

*****

Angin bertiup kencang. Dua ekor kuda yang gagah melangkah perlahan di sebuah jalan kecil. Tok-ku Hong berusaha mempertahankan diri, dia tidak kuat lagi melarikan kudanya cepat-cepat.

Kongsun Hong mengendarai kudanya di belakang Tok-ku Hong, tanpa sadar kepalanya berulang kali menoleh ke sekitarnya. Rasanya tidak ada orang yang mengejar. Setelah melalui jalan kecil tadi, Tok-ku Hong baru bisa bernapas lega. Pinggangnya diluruskan, dia menggigit bibir sendiri.

“Pada suatu hari nanti, aku akan mencuci Bu-tong-san dengan darah,” gerutunya.

Kongsun Hong menjalankan kudanya perlahan. “Dendam ini pasti harus dibalas. Lain kali apabila kita datang lagi ke Bu-tong-san jangan beri ampun. Ketemu satu bunuh satu. Kita gunakan api dan bakar habis seluruh Bu-tong!” sahutnya dengan amarah yang meluap di dada.

Tok-ku Hong mendengus dingin. Dia mengedarkan pandangannya, “Heran … mengapa tidak terlihat adanya orang kita yang menyambut?”

Kongsun Hong tertawa datar, “Apakah kau lupa, kau sendiri yang menyuruh mereka menunggu di tepi sungai?”

Tok-ku Hong mendengus sekali lagi

*****

Setelah melintasi padang rumput, di kejauhan sudah tampak air sungai yang beriak-riak. Sebuah perahu besar berlabuh di tepi sungai dan ditambatkan pada sebatang pohon besar. Kongsun Hong menjalankan kudanya menuju ke tempat itu.

Dia segera mengenali bahwa yang terlihat di sana memang perahu Bu-ti-bun. Tapi anehnya tidak ada yang berjaga-jaga. Juga tidak ada orang yang menyambut mereka. Kuda dilarikan ke tepi sungai. Mata Kongsun Hong mengedar sekelilingnya. Tanpa sadar dia tertegun.

Tok-ku Hong melarikan kudanya menyusul. Wajahnya merah padam karena marah. “Mereka benar-benar mencari mati. Satu orang pun tidak ada yang menjaga di sini!” gerutunya.

Wajah Kongsun Hong malah sedingin es. Tiba-tiba dia menuding, “Sumoay … lihat!”

Tok-ku Hong juga sudah melihat. Seorang anggota Bu-ti-bun tertelungkup di dalam sungai. Tubuhnya terombang-ambing oleh gerakan air dan membentur badan perahu.

Kongsun Hong segera turun dari kudanya dan menghambur ke sana. Sebuah titian kayu sudah terpasang sebagai landasan dari daratan untuk naik ke atas perahu. Sekarang terlihat beberapa mayat bergeletak di atas titian kayu tersebut. Darah masih menetes. Air di bawah titian kayu telah berubah warna menjadi merah.

Di atas perahu tergantung beberapa sosok mayat. Tanpa ragu lagi, mereka adalah anggota Bu-ti-bun. Perasaan Kongsun Hong tergetar. Dia meloncat naik ke atas titian kayu. Tepat pada saat itu, terdengar suara harpa.

Suara itu berasal dari sebuah hutan kecil di ujung sungai. Di depan hutan itu sendiri tidak terlihat satu orang pun.

Kongsun Hong cepat-cepat mundur ke samping Tok-ku Hong.

“Siapa yang membunuh orang-orang dari Bu-ti-bun kita?” tanyanya marah.

Tidak ada yang menyahut. Suara harpa masih terus terdengar. Nadanya mengandung hawa pembunuhan yang tebal. Kongsun Hong celingak-celinguk. Tok-ku Hong perlahan turun dari kudanya. Dia mendengus dingin. Sepasang goloknya disiapkan di tangan.

“Hati-hati,” kata Kongsun Hong memperingatkan. Dia melindungi Tok-ku Hong dari depan.

Suara harpa semakin cepat.

“Cepat gelinding keluar!” bentak Tok-ku Hong sinis.

Suara harpa meninggi satu kali, lalu berhenti. Dua orang bocah cilik, satu membawa harpa dan satunya lagi membawa pedang melangkah keluar dari dalam hutan. Mereka adalah Jit Po dan Liok An. Kuan Tiong-liu menampakkan diri di belakang. Kedua belah tangannya dipeluk di depan dada. Sikapnya angkuh sekali. Dia menatap angkasa seakan tidak ada orang lain di tempat itu.

“Kau rupanya!” kata Kongsun Hong terkesiap.

“Tidak salah!” sahut Kuan Tiong-liu dengan wajah tetap mendongak ke atas.

“Sejak semula aku sudah menduga tentu semua ini hasil perbuatanmu,” kata Kongsun Hong sambil bersiap diri dengan sepasang Jit-guat-lun di tangannya.

“Bukankah kalian datang untuk menagih utang? Sekarang kita sudah jauh dari Bu-tong-san, utang piutang kita sudah dapat dihitung dengan tenang,” sahut Kuan Tiong-liu tenang.

Tok-ku Hong tertawa dingin.

“Menggunakan kesempatan ketika orang terluka, itukah tindakan yang dilakukan partai jurus dan ternama?”

“Untuk menghadapi manusia-manusia iblis seperti kalian, buat apa harus mematuhi peraturan dunia bu-lim?” sinar mata Kuan Tiong-liu menatap Tok-ku Hong lekat-lekat.

“Enak sekali kedengarannya.”

“Apa pun yang kalian katakan ….” Kuan Tiong-liu merandek sejenak, “hari ini, bagaimana pun aku tidak akan melepaskan kalian.”

Tok-ku Hong menggetarkan kedua bilah goloknya. “Kuan Tiong-liu, jangan dikira kau bisa meraih keuntungan besar hanya karena kami sedang terluka,” sahutnya sinis.

“Kalian boleh maju bersama,” Kuan Tiong-liu mengulurkan tangannya. “Pedang!” perintahnya kepada pelayannya.

Jit Po segera menyerahkan pedang ke tangan anak muda itu. Tok-ku Hong mendengus dingin.

“Untuk menghadapimu, aku seorang saja sudah cukup!?” katanya.

Baru saja tubuhnya bergerak, Kongsun Hong sudah mendahului dan melindungi di depannya. Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Tubuhnya melesat bagaikan terbang di angkasa, kemudian berjungkir balik dan mendarat di hadapan Kongsun Hong.

Jit-guat-lun di tangan Kongsun Hong segera dibenturkan oleh pemiliknya, “trang!”, terdengar suara sangat nyaring. Dia langsung menerjang ke arah Kuan Tiong-liu. Dengan gesit pemuda itu menggeserkan tubuhnya. Pedangnya yang panjang menyapu ke kiri dan kanan. Sembilan belas kali sabetan dilancarkannya sekaligus. Kongsun Hong terdesak mundur sepuluh langkah.

“Lebih baik kalian maju bersama!” katanya.

Dengan marah Tok-ku Hong tidak memikirkan gengsi lagi. Dia menerjang ke depan. Tangannya masing-masing menggenggam sebilah golok. Kongsun Hong takut terjadi apa-apa pada Tok-ku Hong. Jit-guat-lunnya menyerang Kuan Tiong-liu dengan kalap.

Seandainya mereka tidak terluka, dengan bergabung mereka pasti bisa mengalahkan Kuan Tiong-liu. Tapi keadaan mereka sekarang justru bertolak belakang. Luka yang mereka derita tidak ringan dan sangat lelah karena telah terkurung dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng selama sehari semalam. Keadaan mereka sekarang sudah kembang kempis.

Oleh karena itu, meskipun hanya dengan seorang diri, Kuan Tiong-liu dapat menghadapi kedua orang lawannya dengan tenang. Pedangnya bagai menari-nari, bayangan tubuh bagai kupu-kupu. Melayang ke kiri dan ke kanan. Tangan masih membalas serangan!

Belum sampai seratus jurus dia sudah berhasil mendesak Tok-ku Hong berdua sampai tidak dapat melancarkan serangan dan hanya bertahan saja. Pedangnya bergerak, jurus yang digunakan adalah Si-yang-sie-cao. Cia Peng saja tidak sanggup menerima jurus tersebut, apa lagi Tok-ku Hong yang sedang terluka parah. Melihat keadaan itu, Kongsun Hong panik sekali, tanpa memikirkan akibatnya dia segera menerjang ke depan.

“Crep!”, pedang Kuan Tiong-liu menusuk bahu Kongsun Hong sedalam tiga cun. Anak muda itu meraung murka, namun rasa sakit hampir tak tertahankan. Jit-goat-lun di tangan kanan terlepas jatuh, Jit-goat-lun di tangan kiri segera melancarkan sebuah serangan, tapi kecepatannya sudah jauh berkurang. Dengan seenaknya Kuan Tiong-liu berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut. Telapak tangan anak muda itu bergerak secepat kilat. Dada Kongsun Hong terpukul telak, ia terdesak mundur beberapa langkah kemudian muntah darah.

Kuan Tiong-liu tidak berhenti sampai di situ saja. Pedangnya masih berkelebat mengarah tenggorokan Tok-ku Hong. Dengan panik gadis itu menggerakkan kedua bilah goloknya berputaran. Namun biar bagaimana dia berusaha, pedang Kuan Tiong-liu tetap mengejarnya ketat. Sekali lagi pedang meluncur bagai kilat mengancam tenggorokan Tok-ku Hong!

Kongsun Hong berniat menolong, namun tidak keburu lagi. Tok-ku Hong juga tampaknya tidak akan berhasil menghindarkan diri lagi. Keadaannya mengenaskan sekali. Rambutnya sudah acak-acakan. Pakaiannya kotor tidak karuan. Dia hanya dapat memejamkan mata menunggu kematian.

“Trang!”, benturan senjata terdengar memekakkan telinga. Sebatang pedang menangkis serangan Kuan Tiong-liu.

“Srettt!”, pedang pemuda itu terdorong ke samping. Dengan terkejut Kuan Tiong-liu menolehkan kepalanya. Dilihatnya seorang manusia berpakaian hitam dengan wajah tertutup berdiri di sana. Dia pernah melihat Wan Fei-yang, tapi mana pernah dia membayangkan bahwa manusia berpakaian hitam itu Wan Fei-yang adanya.

Hanya sepasang mata yang tersembul dari balik kain hitam tersebut. Mata itu menyorotkan sinar kemarahan yang sulit dilukiskan dan mendelik ke arah Kuang Tiong-liu. Pemuda berpakaian putih itu marah sekali. Dia memperhatikan Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki.

“Siapa kau?” tanyanya garang.

Wan Fei-yang hampir saja menyebut namanya sendiri. Namun untung dia cepat tersadar dan membatalkannya. Dia sama sekali tidak menyahut.

“Katakan!” bentak Kuan Tiong-liu sekali lagi.

“Bu-beng-siau-cut (prajurit tanpa nama)! Aku katakan juga kau tidak kenal,” sahutnya dengan pada suara dibuat-buat.

“Menampakkan ekor menyembunyikan kepala, rasanya kau juga bukan manusia baik-baik!” kata Kuan Tiong-liu kemudian.

“Paling tidak aku tidak pernah menggunakan kesempatan ketika orang terluka untuk menyerang,” sahut Wan Fei-yang.

Kuan Tiong-liu semakin marah, pedangnya bergerak bagai kilat meluncur cepat ke arah Wan Fei-yang. Dengan mudah pemuda itu berhasil menghindarinya! Sementara itu Tok-ku Hong dan Kongsun Hong yang melihat keadaan itu menjadi terheran-heran. Mereka tidak habis pikir siapa orangnya yang akan membantu mereka dalam keadaan seperti ini.

“Apakah orang itu anggota Bu-ti-bun kita?” tanya Tok-ku Hong dengan suara rendah.

“Rasanya bukan” sahut Kongsun Hong setelah memperhatikan sejenak. “Lagi pula, kalau dia memang anggota Bu-ti-bun, buat apa di menutupi wajahnya?”

“Lalu, siapa dia?” tanya Tok-ku Hong dengan alis berkerut.

“Kalau bukan orang yang kita kenal, dia pasti orang yang dikenal Kuan Tiong-liu. Itulah sebabnya dia takut dikenali sehingga menutupi wajahnya dengan kain hitam,” sahut Kongsun Hong.

“Lalu, mengapa dia harus menolong kita?”

Tok-ku Hong masih tidak habis pikir.

Kongsun Hong juga tidak tahu, maka dia hanya dapat menggelengkan kepala. Pada saat itu, pertarungan antara Wan Fei-yang dengan Kuan Tiong-liu semakin seru. Mereka sudah bergebrak sebanyak seratus jurus lebih. Pada mulanya Wan Fei-yang masih agak gugup. Selama hidupnya dia belum pernah benar-benar bertarung dengan seseorang, namun lambat laun dia mulai bisa menguasai dirinya. Gerakannya semakin mantap dan tenang, tangan juga semakin cepat.

Setelah menyambut tiga puluh enam kali serangan Kuan Tiong-liu, akhirnya dia terdesak ke tepi sungai. Dengan kemarahan yang meluap Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Gerakannya berubah. Dia mulai menggunakan jurus Si-yang-sie-cao andalannya. Wan Fei-yang cepat-cepat menggeser kakinya. Ternyata jurus yang digunakan adalah Tian-liong-kia-ka, lalu tangannya memainkan Cao-yang-sut. Melihat gerakan itu, wajah Kuan Tiong-liu berubah hebat. Pedang di tangannya digerakkan, sebuah jurus Kim-ciau-si-yi langsung dikerahkan. Telapak tangan Wan Fei-yang ditarik kembali. Jari tengah dan telunjuknya langsung meluncur ke depan dan menotok pergelangan tangan Kuan Tiong-liu.

Kuan Tiong-liu menjerit lantang. Pedang di tangan kanannya terlepas. Namun kakinya segera menutul, dengan gesit tangan kirinya menyambut pedang yang masih meluncur di udara. Setelah berhasil, secepat kilat dia menyabet ke arah wajah Wan Fei-yang!

“Bret!”, kain penutup wajah Wan Fei-yang tersayat koyak. Di keningnya terdapat segaris luka kecil bekas tebasan pedang Kuan Tiong-liu. Pedang pemuda itu sendiri masih terus diluncurkan menyerang ke arah tenggorokan Kuan Tiong-liu.

Pemuda murid Go-bi-pai itu terkesiap. Gerakannya terhenti. Wajahnya berubah hebat. Dia mendelikkan matanya lebar-lebar.

“Kau rupanya!”

Pedang Wan Fei-yang tidak lagi menusuk tenggorokan anak muda itu. Dia memang hanya berniat menghentikan pertarungan antara Kuan Tiong-liu dengan kedua murid Bu-ti-bun. Sekarang kain penutupnya sudah terlepas. Wajahnya berubah pucat. Sejenak kemudian dia tertawa getir.

“Memang aku,” sahutnya sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung.

Seluruh tubuh Kuan Tiong-liu bergetar saking marahnya. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. “Bu-tong-san memang tempat bersarangnya naga dan harimau. Tidak tersangka hari ini, aku Kuan Tiong-liu terjungkal di tangan seorang Bu-beng-siau-cut!” katanya.

Wan Fei-yang ikut tersenyum, “Hal ini hanya kebetulan saja.”

Kuan Tiong-liu mendengus dingin. “Anggap saja aku sedang sial!” Tiba-tiba dia menggerakkan pedangnya dengan maksud menggorok lehernya sendiri.

Untung saja gerakan Wan Fei-yang cukup cepat. Dia segera merebut pedang di tangan Kuan Tiong-liu.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Kuan Tiong-liu marah.

Wan Fei-yang mengembangkan kedua tangannya, “Tidak apa-apa.”

“Apa urusanmu dengan mati hidupku?” bentak Kuan Tiong-liu kesal.

“Mana bisa tidak ada hubungannya. Selama ini aku belum pernah membunuh orang. Andai kata kau mati begitu saja, bagaimana aku bisa hidup tenang kelak?” sahut Wan Fei-yang sembarangan.

“Sebetulnya, kau pernah belajar pedang bukan?” tanya Kuan Tiong-liu marah. “Tentu pernah ….”

“Kalau begitu, kau tentu mengerti bagaimana menderitanya perasaanku sekarang.”

Wan Fei-yang tertegun, “Apa yang kau derita? Kau kan tidak terluka?” Dia mengusap luka kecil di keningnya. “Malah aku yang menderita,” katanya.

Hampir saja Kuan Tiong-liu jatuh pingsan karena jengkel.

“Cukup … kau memang sudah mengalahkan aku, tidak perlu mengucapkan kata-kata yang menghibur.”

Wan Fei-yang tidak mengerti apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu. Dia menatap anak muda itu lekat-lekat. “Aku sering mendengar orang mengatakan bahwa kalah menang dalam suatu pertarungan adalah hal yang umum. Mengapa pikiranmu begitu sempit?” tanyanya heran.

Akhirnya Kuang Tiong-liu dapat merasakan kalau Wan Fei-yang bukan sedang mengejeknya.

“Usiamu juga masih sangat muda. Belum tujuh atau delapan puluh tahun. Asal kau berlatih dengan giat, siapa tahu kelak kau akan berhasil mengalahkan aku,” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

Kuan Tiong-liu menggertakkan giginya erat-erat, “Baik … aku pasti akan berlatih dengan giat. Tapi, kau harus berhati-hati kelak.”

“Terima kasih,” sahut Wan Fei-yang lugu. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Kuan Tiong-liu yang sebenarnya.

“Kelak, apabila aku datang kembali mencarimu dan engkau tidak ada atau pendek usia, maka aku akan lebih menderita daripada sekarang,” kata Kuan Tiong-liu kembali.

Tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah dia kembali lagi untuk mengambil pedangnya yang ketinggalan. Kemudian dia melesat dan naik ke atas sebatang pohon.

“Jit Po, Liok An, mari kita pergi!” teriaknya. Pada saat itu, jarak mereka agak berjauhan dengan orang lainnya. Tanpa sadar mereka bertarung terus sehingga tubuh mereka bergeser sampai tepian sungai bagian hulu.

“Cara bicara orang ini aneh sekali,” gumam Wan Fei-yang seorang diri. Suara langkah kaki terdengar mendatangi. Wan Fei-yang cepat-cepat memungut kain hitam tadi dan menutup wajahnya kembali.

Orang yang mendatangi ternyata Kongsun Hong dan Tok-ku Hong. Tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung. Tampaknya tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Kongsun Hong menjura dalam-dalam kepada Wan Fei-yang.

“Sobat, terima kasih atas pertolonganmu,” katanya.

Kesan Wan Fei-yang kepada kedua orang ini memang kurang bagus. “Tidak perlu berterima kasih. Apa yang aku lakukan bukan kehendakku sendiri,” sahutnya datar.

“Kalau begitu ….”

“Buat apa bertanya banyak-banyak?”

“Aku masih belum tahu nama besar tuan,” kata Kongsun Hong menahan sabar.

“Apakah kau tidak bisa kurangi pembicaraanmu?”

“Sobat ….”

“Jangan memanggilku demikian mesra. Aku tidak akan bersobat dengan manusia sepertimu!” kata-kata Wan Fei-yang sama sekali tidak sungkan-sungkan.

Tanpa sadar Kongsun Hong mendengus dingin. Dan pada saat itu juga, terdengar suara.

“Bruk!”, Tok-ku Hong yang berada di belakangnya jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Wan Fei-yang menghampiri dengan tergesa-gesa. Dia memeriksa gadis itu sejenak. Kemudian dia menarik napas panjang.

“Rupanya keluar darah terlalu banyak.” Dia menoleh kepada Kongsun Hong. “Kemari kau!” teriaknya.

Sejak tadi Kongsun Hong memang berniat menghampiri, tapi kakinya sulit digerakkan. Sebetulnya luka yang dideritanya malah lebih parah daripada Tok-ku Hong, hanya saja tenaga dalamnya lebih tinggi, dia masih dapat memaksakan diri untuk bertahan. Mendengar panggilan Wan Fei-yang dia menyeret kakinya dengan susah payah untuk mendekati Tok-ku Hong.

Wan Fei-yang tidak sabar melihat kelambatannya. Dia menarik lengan baju Kongsun Hong dan merobeknya, lalu diikatnya luka Tok-ku Hong. Mulutnya malah menggerutu, “Sumoay sendiri saja tidak becus melindungi. Buat apa jadi suheng!”

Dada Kongsun Hong terasa hampir meledak. Langkah kakinya terhuyung-huyung. Segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya segera terkulai di atas tanah. Dia juga jatuh pingsan seketika.

*****

Tengah hari, sebuah kereta bergerak perlahan di atas jalanan bebatuan.

Kongsun Hong sudah sadar. Dia duduk di sebelah kanan dalam kereta. Tok-ku Hong di sebelah kiri. Gadis itu masih pingsan. Sambil mendorong kereta, Wan Fei-yang bersenandung kecil. Tampangnya sungguh menyedihkan.

Kongsun Hong malah panik sekali. Tanpa sadar dia berteriak, “Sobat … apakah kau tidak bisa mendorongnya lebih cepat?”

Senandung Wan Fei-yang berhenti seketika. Matanya mendelik ke arah Kongsun Hong. “Kalau mau cepat, doronglah sendiri!” sahutnya acuh tak acuh.

Kongsun Hong menahan sabar sebisanya, “Aku hanya mengkhawatirkan luka yang diderita sumoayku.”

“Apa yang harus dikhawatirkan?” tanya Wan Fei-yang seenaknya. Dia kembali bersenandung.

Di kejauhan sana tembok kota sudah terlihat. Beberapa puluh depa di ujung sana terlihat serombongan manusia berpakaian hitam keluar dari balik pepohonan. Mereka menyongsong kedatangan kereta Kongsun Hong. Yang paling depan memakai ikat kepala berwarna merah. Wan Fei-yang terpana melihat rang-orang itu. Kongsun Hong malah kegirangan.

“Bagus sekali! Orang yang menyambut kami sudah datang,” katanya tanpa sadar.

Wan Fei-yang mendengus dingin. Dia menghentikan keretanya seketika. Rombongan manusia berpakaian hitam itu sudah sampai di hadapan Wan Fei-yang. Melihat keadaan Kongsun Hong dan Tok-ku Hong, mereka merasa sesuatu terjadi luar dugaan. Namun mereka tidak berani bertanya apa-apa. Laki-laki yang memakai ikat kepala berwarna merah segera menjura dalam-dalam. “Hiongcu cabang kedelapan, Ciang Ping menghadap Kongsun-tongcu dan Toa-siocia, katanya.

Belum lagi Kongsun Hong menyahut, Wan Fei-yang yang sudah berpindah ke belakang segera menukas, “Kebetulan orang-orang kalian sudah menyambut, aku mau pergi.”

Begitu mengatakan hendak pergi, dia benar-benar melangkah meninggalkan tempat itu.

“Harap tunggu sebentar!” panggil Kongsun Hong gugup.

Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh, “Ada apa?”

“Bolehkah sobat mengatakan nama besarmu?”

“Untuk apa kau ingin mengetahuinya?”

“Kalau tidak tahu, bagaimana kelak aku bisa mencari sobat.”

“Oh … kau ingin membalas budi ….” Wan Fei-yang menggoyang-goyangkan tangannya. “Ada pepatah yang mengatakan bantuan yang tulus tidak mengharapkan pembalasan budi.”

“Budi menyelamatkan jiwa, bagaimana pun harus dibalas,” kata Kongsun Hong serius “Tapi, meskipun sobat tidak menghargai aku, budi ini tetap harus kubalas.”

Wan Fei-yang terpana.

“Kalau begitu, aku semakin tidak bisa mengatakannya!” Tubuhnya melesat. Dalam sekejap mata menghilang dari pandangan.

Kongsun Hong memandangi kepergian penolongnya dengan tatapan dingin. Dia juga tidak memanggilnya kembali.

*****

Warna kemerahan mulai tenggelam di ufuk barat. Senja hari hampir berlalu. Keringat membasahi tubuh Wan Fei-yang. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit. Dia agak terkejut.

“Celaka! Sudah hampir malam. Aku harus mengambil jalan kecil melintas kembali ke Bu-tong-san,” gumamnya.

Dia membelok ke sebuah jalan kecil. Tubuhnya berkelebat laksana terbang.

*****

Matahari sudah tenggelam secara keseluruhan. Malam pun tiba. Ruang makan di Bu-tong-san kalang kabut. Tidak ada Wan Fei-yang, tidak ada yang menanakkan nasi untuk mereka. Perut mereka sudah keroncongan dan menimbulkan bunyi keriyuk … keriyuk ….

“Sudah sehari penuh … kemana perginya si Wan Fei-yang itu?”

“Mungkinkah karena sudah tidak tahan dipermainkan oleh kita, maka sekarang dia kabur dari Bu-tong-san?”

Advertisements

4 Comments »

  1. Kenapa nomor 8 ga nyambung ama yang nomor 9.. asa salah..

    Coba dehh dicek lagi.. kayanya ada yang hilang satu chapter..

    Comment by Saladinxc — 06/10/2008 @ 3:55 pm

  2. Benar nggak nyambung.

    Comment by Jonet Suratno — 04/06/2010 @ 4:01 pm

  3. itu emang gak nyambung, sepertinya kelompatan 1 buku.
    sebagian ceritanya ada disini
    http://www.sacred-magick.com/v/Cersil/ulat_sutera.pdf

    Comment by rx — 28/06/2010 @ 11:49 am

  4. Iya memang gak nyambung, harusnya ada cerita si Wan Fei-yang pura2 sakit.

    Comment by Hairuddin Thaif — 04/11/2011 @ 2:36 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: