Kumpulan Cerita Silat

16/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (07)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:13 am

Ilmu Ulat Sutera (07)
Oleh Huang Ying

Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya. Langkah kakinya dipercepat. Pada saat itu Wan Fei-yang seakan tersadar dari lamunannya, segera ia menyusul dan berteriak, “Yang betul jalanan yang kedua.”

Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Liok An di sebelah sana malah mencak-mencak karena kesal. “Tadi kau bilang yang ketiga!” bentaknya lantang.

“Aku ….” Wan Fei-yang menjadi serba salah.

“Di hadapan kami kau berani main-main!” bentak Liok An garang. Kakinya terangkat, segentong air yang dipikul Wan Fei-yang terbalik dan tumpah.

Kuan Tiong-liu segera mencegahnya, “Liok An!”

“Kongcu ….”

Wan Fei-yang mengira Kuan Tiong-liu akan menghajar Liok An, siapa tahu anak muda itu malah berkata, “Bagaimana biasanya aku mendidikmu. Jaga kedudukanmu sendiri, buat apa mencari gara-gara dengan seorang pelayan?”

Mendengar ucapannya, Wan Fei-yang terpaku di tempat.

*****

Di samping pedupaan, duduk Ci Siong tojin. Wajahnya semakin kuyu dan tampak tua beberapa tahun. Pek Ciok mengundang Kuan Tiong-liu masuk ke ruangan pendopo. Setelah itu dia mengundurkan diri ke sudut kiri.

Kuan Tiong-liu yang melihat keadaan Ci Siong tojin, tanpa sadar tertawa dingin. Rasa angkuhnya terbangkit kembali, namun dia tetap menjura di hadapan orang tua itu.

“Murid Go-bi-pai, Kuan Tiong-liu, mendapat perintah dari suhu untuk menanyakan kesehatan Locianpwe ….”

Mata Ci Siong tojin setengah terpejam. Tiba-tiba dia tersenyum, “Pinto terakhir bertemu dengan It-im-toheng ketika membahas agama di Ui-san. Sampai sekarang sudah ada dua puluh tahun. Entah bagaimana kabar gurumu sekarang?”

“Suhu dalam keadaan sehat-sehat saja,” sahut Kuan Tiong-liu.

“Entah ada keperluan penting apa sehingga It-im-toheng meminta keponakan jauh-jauh bertandang ke Bu-tong-san?” tanya Ci Siong tojin.

“Suhu mendengar locianpwe mengadakan pertarungan dengan Tok-ku Bu-ti dari Bu-ti-bun, akibatnya orang jahat itu berhasil membokong Locianpwe sehingga terluka parah. Boanpwe diutus mengantarkan Kiu-coan-kim-tan (obat mujarab golongan Go-bi-pai), mudah-mudahan ada manfaatnya ….”

“Pinto sama sekali tidak dibokong oleh Tok-ku Bu-ti. Pertarungan di atas Giok-hong-teng adalah pertarungan sejati,” tukas Ci Siong tojin.

“Oh?” Kuan Tiong-liu seakan kurang percaya dengan keterangan tersebut. “Kalau begitu ilmu silat Tok-ku Bu-ti benar-benar tidak bisa dipandang ringan.”

“Hm ….” sahut Ci Siong tojin datar.

“Tugas boanpwe membasmi iblis ini beserta begundalnya, rasanya tidak mudah juga,” gumam Kuan Tiong-liu.

Ci Siong tojin tersenyum dingin. Pek Ciok mengerutkan keningnya. Kuan Tiong-liu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik pakaiannya.

“Kiu-coan-kim-tan dari Go-bi-pai merupakan obat mujarab yang didambakan ribuan orang di dunia kangouw. Pinto tidak sanggup menerimanya,” kata Ci Siong tojin ketika melihat kotak tersebut.

“Sebelum boanpwe turun gunung, Suhu telah berpesan berulang kali, bahwa boanpwe harus menyerahkan obat ini ke tangan Locianpwe, apabila sekarang Locianpwe sampai menolaknya, bagaimana boanpwe dapat kembali ke Go-bi-san dan melaporkan kejadian ini?

“Kalau memang demikian, daripada menyalahi, kan lebih baik menurut. Harap keponakan bersedia menyampaikan rasa terima kasih Pinto yang sebesar-besarnya kepada Itim-toheng,” Ci Siong tojin berpaling kepada Pek Ciok. “Pek Ciok…” panggilnya.

Pek Ciok mengiakan lalu maju untuk menerima kotak kecil tersebut. Kuan Tiong-li menyerahkannya sambil tersenyum lebar.

“Boanpwe masih ada beberapa patah perkataan, rasanya seperti tercekat di tenggorokan apabila tidak dikeluarkan. Namun apabila Boanpwe mengatakannya, boanpwe takut dikira menghina,” katanya.

“Bu-tong dan Go-bi selama ini bagaikan jari-jari tangan, apabila keponakan memang ada masalah dalam hati, katakan saja,” sahut Ci Siong tojin.

“Setiap kali ada pertandingan pedang di dunia bu-lim, kebanyakan orang selalu memuji-muji kehebatan Liong-gi-kiam sebagai ilmu pedang nomor satu di dunia,” mata Kuan Tiong-liu melirik Ci Siong tojin sekilas. “Selama sepuluh tahun ini, boanpwe giat berlatih Lok-jit-kiam-hoat (ilmu pedang matahari tenggelam) dari Go-bi-pai. Boanpwe merasa ilmu itu sudah cukup sempurna dan tidak ada kelemahannya. Oleh karena itu, boanpwe selalu berharap akan mendapatkan kesempatan mengunjungi Bu-tong-san dan meminta sedikit pelajaran untuk melihat di mana letak kehebatan Liong-gi-kiam. Kebetulan boanpwe sekarang berada di Bu-tong-san ….”

“Setiap ilmu pedang pasti ada kekurangan maupun kelebihannya, tergantung dari orangnya sendiri,” tukas Ci Siong tojin.

“Boanpwe malah menganggap kiam-hoat yang hebat lebih banyak kelebihan daripada kekurangannya,” kata Kuan Tiong-liu.

“Lok-jit-kiam-hoat yang dipelajari It-im-toheng merupakan warisan langsung dari Tok-pit-sinni, merupakan pusaka tersendiri bagi dunia persilatan, juga merupakan kiam-sut yang diincar berbagai kalangan. Dalam keadaan biasa pun, Pinto merasa bukan tandingannya, apa lagi sekarang badan Pinto sedang terluka parah,” sahut Ci Siong tojin merendahkan diri.

“Locianpwe ….”

Pek Ciok segera maju ke depan dan menjura, “Suhu sudah mengatakannya dengan jelas, Kuan-sicu ….”

Kuan Tiong-liu mengerling Pek Ciok sekilas, “Sejak dulu ada pepatah, Guru yang pandai menghasilkan murid yang menonjol. Bu-tong mempunyai demikian banyak murid, boanpwe yakin di antaranya pasti ada yang menonjol. Kalau Locianpwe tidak keberatan, bagaimana kalau boanpwe meminta salah satu murid memberi sedikit pelajaran mengenai Liong-gi-kiam?”

Pek Ciok tidak dapat menahan dirinya lagi, hawa amarah mulai menyelinap dalam hatinya. Segera ia tampil ke depan, tapi dicegah oleh Ci Siong tojin.

“Jangan berlaku tidak sopan terhadap tamu,” katanya. Kemudian dia berpaling kepada Kuan Tiong-liu, “Alasan utama orang belajar ilmu silat adalah untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Apabila untuk sekadar mencari kemenangan, mudah sekali hati kita terpengaruh iblis.”

“Tapi ….”

“Pek Ciok ….” panggil Ci Siong tojin. “Layani tamu baik- baik.” Dia berpaling kembali kepada Kuan Tiong-liu. “Di atas Bu-tong-san, banyak sekali tempat yang pemandangannya indah. Keponakan sudah datang dari jauh, tinggallah di sini beberapa hari. Biar Pinto dapat menjadi tuan rumah yang baik.”

“Baik,” sahut Kuan Tiong-liu sambil tertawa dingin

*****

Pemandangan Bu-tong-san memang sangat indah, namun Kuan Tiong-liu sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menikmatinya. Tujuannya datang ke Bu-tong-san, memang bukan untuk menikmati pemandangan.

Liok An dan Jit Po dapat merasakan bahwa hati tuan mudanya sedang kesal. Mereka tidak berani bersuara, hanya mengikuti di belakangnya.

Setelah melewati jembatan, Kuan Tiong-liu menghentikan langkah kakinya.

“Liok An, Jit Po!” panggilnya. Kedua tangannya dikacakkan di pinggang. Kepalanya tidak menoleh sama sekali.

“Kongcu ….”

“Coba kalian perhatikan … apa beda pemandangan antara Bu-tong-san dan Go-bi-san?” tanyanya.

Liok An dan Jit Po saling melirik sekilas.

“Bu-tong-san lebih tinggi dari Go-bin-san, hawanya lebih dingin. Kalau dilihat dari bawah, kelihatannya angker dan berwibawa. Kalau dilihat dari atas, terlihat jurang dan tebing yang terjal. Namun suasananya tidak sehangat Go-bi-san. Tempat kita itu lebih rendah, hawa tidak begitu dingin tapi selalu sejuk menyegarkan,” sahut Jit Po.

Kuan Tiong-liu tertawa puas. Tepat pada saat itu, terdengar suara menyahut dari belakang mereka, “Tapi justru murid Go-bi-pai sendiri yang kurang hangat dan sama sekali tidak membawa kesejukan.”

Tampak Kim Ciok, Giok Ciok, Cia Peng, Yo Hong dan Fu Giok-su mendatangi dari arah pohon-pohon yang lebat. Mendengar ucapan itu, Kuan Tiong-liu tenang-tenang saja. Dadanya masih dibusungkan. Seakan memandang sebelah mata kepada mereka.

Cia Peng menunggu sejenak. “Kau yang bernama Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pai?” bentaknya keras.

“Tidak salah!” sahut Kuan Tiong-liu tanpa menolehkan kepalanya.

Cia Peng tertawa dingin.

“Tadi ada orang yang mengatakan bahwa Lok-jit-kiam-hoat dari Go-bi-pai merupakan ilmu pedang terhebat di dunia ini. Kalau tidak menyaksikannya sendiri, rasanya kami akan menyesal seumur hidup!”

“Sayang sekali pedangku harus ditinggal di kaki gunung,” sahut Kuan Tiong-liu tetap membelakangi.

“Aku akan memerintahkan seorang saudara kami untuk mengambilkannya,” kata Yo Hong.

Perlahan Kuan Tiong-liu membalikkan tubuhnya. “Tidak perlu. Ilmu pedang Go-bi-pai terkenal keji dan telengas. Apa lagi senjata tidak bermata. Lebih baik kita membatasinya dengan saling menutul saja,” sahutnya.

Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Sekali loncat setinggi beberapa depa. Gerakannya cepat dan pergelangan tangannya memutar, sebatang ranting pohon sudah berada dalam genggamannya, “Aku menggunakan ranting pohon ini saja sebagai senjata!”

Cia Peng marah sekali. “Ranting pohon?” makinya penasaran.

“Hah! Menggunakan ranting pohon sebagai senjata sudah umum, buat apa harus diherankan?” kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Oh ya … apakah Kuan-heng tidak merasa terlalu menyombongkan diri?” tanya Fu Giok-su,

Mata Kuan Tiong-liu mengedar. “Ranting pohon di tanganku ini tidak kalah dengan sebatang pedang, harap Cia-heng hati-hati,” katanya.

Cia Peng mendengus dingin. Tubuhnya melesat. Telapak tangannya yang satu mengepal dan satu lagi mengambang. Dia meluncur ke arah Kuan Tiong-liu. Ranting pohon di tangan anak muda itu digetarkan. Gerakan yang digunakannya ternyata memang ilmu pedang. Malah kekejiannya tidak kalah dengan sebatang pedang.

Cia Peng berteriak lantang. Dia membalas serangan tersebut dengan serangan pula. Suara yang ditimbulkan telapak tangannya menggelegar di angkasa, memekakkan telinga orang yang mendengarnya. Kuan Tiong-liu sama sekali tidak tampak khawatir. Tubuhnya berkelebat. Enam hantaman telapak Cia Peng berhasil dihindarkannya. Pedangnya belas menyerang sebanyak sepuluh kali berturut-turut. Tentu saja pedang yang dimaksudkan di sini adalah ranting pohon tadi. Kenyataannya memang ranting pohon itu tidak kalah tajam dari sebatang pedang. Sekali digerakkan oleh Kuan Tiong-liu, lengan baju Cia Peng terkoyak seketika. Dalam keseluruhannya dia hanya menyerang sebanyak dua belas kali. Sedangkan Cia Peng sudah menghantam telapak tangannya sebanyak tiga puluh enam kali.

Wajah Cia Peng kelam sekali. Kedua tangannya membentuk kepala ular dan menyodok ke arah Kuan Tiong-liu. Sekali lagi ranting pohon di tangan anak muda itu digerakkan.

“Si-yang-sie-cao!” (matahari bersinar cerah) merupakan salah satu jurus Lok-jit-kiam-hoat!” teriak Kuan Tiong-liu. Jurus itu mempunyai tujuh perubahan. Dia menerjang ke arah Cia Peng. Murid Bu-tong itu berusaha menghindar dengan jurus ‘Tian-liong-kia-ka’ (naga langit menggerakkan kakinya), namun terlambat. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya sakit sekali.

Ternyata pada saat itu, ranting pohon di tangan Kuan Tiong-liu telah menyabet bahu sebelah kanan Cia Peng. Wajah anak muda itu berubah hebat. Kakinya terdesak mundur beberapa langkah.

Kuan Tiong-liu menarik kembali ranting pohonnya. “Cia-heng, kau sudah kalah,” katanya.

Wajah Cia Peng dari merah padam berubah menjadi pucat. Dia menggertakkan giginya erat-erat. Fu Giok-su yang berdiri di sampingnya segera tampil ke depan.

“Cayhe Fu Giok-su ingin mencoba beberapa jurus ilmu pedang Kuan-heng!”

“Aku saja,” tukas Yo Hong tidak mau kalah. Kim Ciok dan Giok Ciok juga saling berebutan.

Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak.

Bagus … semuanya saja sekaligus, biar menghemat tenaga!” serunya angkuh.

Ucapannya ibarat minyak yang disiramkan ke api. Semua murid Bu-tong yang ada di tempat itu marah sekali. Tampaknya setiap waktu pertarungan akan terjadi. Tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Berhenti!”

Pek Ciok melayang turun di tengah mereka.

“Toa-suheng …!”

“Suhu menunggu di ruangan pendopo. Ada persoalan yang ingin dirundingkan. Kuan-heng, silakan ….” katanya tenang.

Kuan Tiong-liu tersenyum lebar. Ranting pohon di tangannya dilemparkan ke tanah. Liok An dan Jit Po mengiringi dari kiri dan kanan. Bersama-sama mereka menuju ruangan pendopo.

Wajah Cia Peng dan rekan-rekannya masih menyiratkan kemarahan. Mereka segera mempercepat langkah kaki mendahului.

*****

Meja hidangan sudah disiapkan di ruangan pendopo. Meskipun makanan yang dihidangkan hanya terdiri dari sayur mayur, namun arak yang disajikan merupakan arak yang baik.

Ci Siong tojin sebagai tuan rumah duduk di tengah. Pek Ciok berdiri di sampingnya melayani. Gi-song dan Cang-song duduk di kiri kanannya. Di sudut duduk enam murid Ci Siong tojin.

Kuan Tiong-liu duduk berseberangan dengan tempat berdirinya Pek Ciok. Liok An dan Jit Po berdiri di kedua sisinya. Mata Kuan Tiong-liu menyiratkan perasaan meremehkan. Ci Siong tojin menunggu sampai Kuan Tiong-liu duduk di tempatnya.

“Cia Peng …!”

“Tecu di sini ….” sahut Cia Peng dengan kepala tertunduk. Hatinya masih kesal. Sedangkan saudaranya yang lain merasa hati mereka berdebaran.

“Siapa yang mengajarkan engkau demikian tidak tahu sopan santun?” tanya Ci Siong tojin penuh wibawa.

“Karena luapan emosi, tecu telah menyalahi tamu agung. Tecu bersedia menerima hukuman,” sahut Cia Peng setengah terpaksa.

“Kalau begitu, cepat minta maaf kepada Kuan-heng!” perintah Ci Siong tojin.

“Suhu ….”

“Cepat ke sana!” wajah Ci Siong tojin garang sekali.

Dengan menahan kekesalannya, Cia Peng terpaksa berjalan menghampiri Kuan Tiong-liu. “Cia Peng bertindak tidak sopan. Menyalahi Kuan-heng, harap dimaafkan,” katanya dengan kepala tertunduk.

“Tidak apa-apa,” Kuan Tiong-liu berdiri dan balas menjura. Dia tersenyum kepada Ci Siong tojin, “Benar-benar sebuah partai yang lurus dan adil.”

Tersirat kemarahan di wajah orang-orang yang hadir. Bocah ini benar-benar kurang ajar, pikir mereka dalam hati. Tapi Ci Siong tojin tidak menampakkan apa-apa pada wajahnya. Penampilannya sangat tenang.

“Menurut cerita murid-murid Bu-tong, Cia Peng dikalahkan dengan jurus ‘Si-yang-sie-cao’, hal ini membuktikan bahwa Lok-jit-kiam-hoat telah dikuasai dengan baik oleh keponakan. Benar-benar kabar yang menggembirakan.”

Kuan Tiong-liu tersenyum lebar.

“Kalau dibilang menguasai dengan baik, boanpwe belum berani menerimanya. Tapi memang tidak jauh lagi. ‘Si-yang-sie-cao’ terdiri dari tujuh jurus yang mempunyai tujuh perubahan. Boanpwe sudah menguasai seluruhnya,” sahut Kuan Tiong-liu angkuh.

Ci Siong tojin ikut tertawa lebar.

“Membalas dengan ‘Tian-liong-kia-ka’ memang boleh juga, tapi menggunakan jurus ‘Giok-li-cuang-siu’ (wanita cantik berganti pakaian) salah sekali. Kemenangan yang dicapai keponakan boleh dibilang adalah kesalahan Cia Peng sendiri.”

“Kalau tidak menggunakan ‘Giok-li-cuang-siu’, lalu jurus apa lagi yang harus digunakan?” tanya Kuan Tiong-liu dengan alis berkerut.

“Seharusnya menggunakan ‘Cao-yang-sut’ untuk menotok pergelangan tangan keponakan,” sahut Ci Siong tojin.

“Kalau begitu, boanpwe akan menggunakan jurus ‘Kim-ciau-si-yi’ (burung emas kembali ke barat) untuk menyabet bagian pinggangnya,” kata Kuan Tiong-liu.

“Kegunaan jurus ‘Cao-yang-sut’ (memanggil matahari) memang untuk menghadapi ‘Kim-ciau-si-yi’ dari keponakan,” sahut Ci Siong tojin tenang

“Oh?” Kuan Tiong-liu memperdengarkan suara tertawa dingin. Wajahnya tampak mulai tegang.

“Pada saat itu, pergelangan tangan tinggal memutar, telapak tangan ditarik kembali, jari telunjuk dan tengah diluncurkan untuk menotok urat nadi lengan keponakan maka pedang akan terlepas. Bagaimana?”

“Pergelangan tangan memutar, telapak ditarik, telunjuk dan jari tengah dikerahkan …” keringat mulai membasahi kening Kuan Tiong-liu. “Ini ….”

“Pada saat itu, ranting pohon di tangan keponakan terpaksa harus dilepaskan, bukan?”

“Tidak mungkin. Sekaligus memutar pergelangan tangan sambil menarik kembali telapak, tidak sempat lagi mengerahkan telunjuk dan jari tengah untuk menotok,” kata Kuan Tiong-liu kurang percaya.

“Apakah keponakan ingin mencobanya?” tanya Ci Siong tojin.

Kuan Tiong-liu menjawab pertanyaan itu dengan gerakan. Dia langsung berdiri. Tubuhnya berkelebat melayang di udara dan mendarat di tengah ruangan. Ci Siong tojin tersenyum simpul. Perlahan dia berdiri dan berjalan ke depan. Kuan Tiong-liu menunggu sampai tosu tua itu berdiri berhadapan dengannya.

“Maaf,” katanya. Tiga jari tangan kirinya setengah dibengkokkan, sedangkan dua jari tangan kanannya lurus ke depan seperti sebatang pedang.

“Silakan,” sahut Ci Siong tojin.

“Si-yang-sie-cao!” teriak Kuan Tiong-liu. Kedua jari telunjuk dan tengahnya meluncur lurus bagai sebatang pedang.

Ci Siong tojin menggunakan langkah Tian-liong-kia-ka, disusul dengan Cao-yang-sut yang langsung dikerahkan. Tangannya berubah dalam sekejap mata. Kuan Tiong-liu agak panik, cepat ia mengubah gerakannya menjadi Kim-ciau-si-yi.

“Telapak ditarik, telunjuk dan jari tengah menyerang, hati-hati pergelangan tangan!” seru Ci Siong tojin. Ucapannya selesai, jari tangannya dengan telak berhasil menotok pergelangan tangan Kuan Tiong-liu.

Anak muda itu tertegun. Tiba-tiba pergelangan tangannya terasa kesemutan. Melihat kejadian itu, orang-orang yang ada dalam ruangan segera bersorak. Wajah Kuan Tiang Liu merah padam.

Ci Siong tojin memeluk kedua tangannya dan tersenyum.

“Dua belas tahun yang lalu, Pinto dan It-im-toheng pernah bertemu satu kali di Ui-san untuk membahas ilmu pedang. Kami juga sempat disulitkan oleh perubahan jurus ini. Pada saat itu, It-im-toheng malah menggunakan jurus ‘Lok-sia-ho-ku-ing-ci-fei’ (pelangi turun dan elang terbang ke udara) untuk membalas serangan. Sedangkan Pinto menyambutnya dengan Cao-yang-sut.”

Wajah Kuan Tiong-liu berubah kelam.

“Lok-sia-ho-ku-ing-ci-fei adalah tiga jurus terakhir dalam Lok-jit-kiam-sut.”

“Tidak salah! Tampaknya keponakan belum sempat mempelajarinya?”

“Betul,” sahut Kuan Tiong-liu dengan keringat membasahi keningnya.

“Di luar gunung masih ada gunung lainnya, memandang ringan lawan malah merugikan diri sendiri, harap keponakan ingat baik-baik,” kata Ci Siong tojin menasihati.

“Sungguh mengagumkan!” sahut Kuan Tiong-liu. Sejenak kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Hanya … sayang sekali ….”

Ci Siong tojin terpana mendengar ucapannya yang terakhir.

“Yang boanpwe kagumkan adalah ilmu pedang Bu-tong-pai ternyata benar-benar nomor satu di dunia ini. Yang disayangkan ….” Kuan Tiong-liu merandek sejenak. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan. “Anak murid Bu-tong-pai justru belum bisa menerapkan pelajaran ini baik-baik. Kalau ditilik dari keadaan sekarang, boanpwe khawatir kelak tidak ada murid yang dapat menonjolkan nama Bu-tong-pai.

Seluruh murid Bu-tong terpana mendengar ucapannya. Wajah Ci Siong tojin berubah kelam. Seakan isi hatinya tertebak telak oleh anak muda itu. Dia menarik napas panjang, Kuan Tiong-liu melangkah lambat-lambat ke tempat duduknya. Dia menuangkan arak ke cawan.

*****

Senja hari. Awan tebal berarak. Angin ber tiup kencang. Tiba- tiba hujan turun memba sahi seluruh pegunungan.

Pekerjaan Wan Fei-yang rampung. Dia segera membersihkan diri lalu menghambur ke kamar Fu Giok-su. Pada saat seperti ini, biasanya Fu Giok-su berada di dalam kamar dan menunggu kedatangannya serta mengajarkan Wan Fei-yang membaca dan menulis. Tapi ketika dia mendorong pintu kamar anak muda itu, ternyata Fu Giok-su tidak ada di dalam.

Kemana perginya Fu Giok-su?

Wan Fei-yang masih merasa heran ketika telinganya menangkap suara “tring!”, rupanya dia sedang memetik harpa di taman sebelah sana. Pikirannya tergerak, Wan Fei-yang segera membalikkan tubuhnya menuju asal suara harpa tersebut.

Akhirnya dia melihat Fu Giok-su, tapi yang memetik harpa malah Lun Wan-ji. Kedua orang itu duduk berdampingan di bawah pohon. Suara mereka berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan.

Wan Fei-yang melihat semuanya dengan jelas, entah bagaimana perasaan hatinya. Dia mengambil keputusan untuk kembali secara diam-diam. Tapi Fu Giok-su sudah melihatnya. Anak muda itu segera bangkit dari duduknya, “Wan-heng ….”

“Fu-toako ….” Wan Fei-yang terpaksa menghentikan langkah kakinya.

Lun Wan-ji juga berdiri. Melihat Wan Fei-yang, wajahnya kaku membesi. “Tidak perlu memikul air lagi?” sindirnya.

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya. “Sudah selesai …. Aku datang untuk belajar membaca dengan Fu-toako,” sahutnya lirih.

Lun Wan-ji membalikkan tubuhnya ke arah Fu Giok-su. “Aku sungguh tidak mengerti. Mengapa kau harus meminta pengampunan untuknya? Kalau aku yang jadi engkau, maka aku akan meminta Suhu menghukumnya lebih berat lagi. Paling tidak memikul air selama sepuluh tahun,” katanya.

Wan Fei-yang tertawa getir. “Wan-ji, kau ….”

“Jangan memanggil aku …. Aku benci kepadamu!” teriak Lun Wan-ji.

“Me … mengapa?” Wan Fei-yang benar-benar keheranan.

“Siapa suruh kau menulis namaku saja tidak becus!” teriak Lun Wan-ji sambil membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.

Kedua orang itu segera mengejar. Setelah saling melirik sekilas, keduanya berhenti serentak. Wan Fei-yang tertawa sumbang, “Fu-toako … lebih baik kalian teruskan saja latihannya.”

Belum Lagi Fu Giok-su menyahut, tiba-tiba petir menyambar. Suaranya memekakkan telinga. Petir menyambar sekali lagi. Terdengar suara jeritan yang menyeramkan. Entah suara jeritan makhluk apa yang terdengar tadi. Pokoknya, tidak mirip jeritan manusia. Laksana dunia sebentar lagi akan kiamat. Dan angin pun menyurut ketakutan.

Fu Giok-su terkejut sekali. “Siapa yang datang?” tanyanya.

Wan Fei-yang malah tenang sekali. “Itu hanya suara yang berkumandang dari telaga dingin. Tidak apa-apa,” sahutnya.

“Telaga dingin?” tanya Fu Giok-su tidak mengerti.

“Fu-toako … apakah kau tidak tahu kalau di belakang gunung ini ada daerah terlarang di mana ada sebuah telaga dingin di sana?”

“Tidak tahu ….” Fu Giok-su tambah penasaran. “Sebetulnya ada apa di sana?

“Di belakang gunung ada sebuah telaga dingin. Airnya laksana es dinginnya. Di sana terkurung seseorang, kami menyebutnya makhluk aneh.”

“Makhluk aneh?”

“Kalau tidak salah, dia sudah terkurung di sana selama sepuluh tahun lebih. Boleh dibilang dia sedang menjalani hukuman karena mencuri ilmu silat Bu-tong-pai. Kakinya terikat rantai dan terendam di dalam air telaga itu.”

Fu Giok-su tertegun. Tanpa sengaja Wan Fei-yang meliriknya sekilas. “Apakah kau mendengar apa yang aku katakan?”

Fu Giok-su tersadar dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.

“Masa tidak dengar? Coba teruskan ….”

“Setiap kali turun hujan, air telaga itu akan meluap. Sebagian tubuhnya terendam air. Mungkin karena tidak tahan oleh dinginnya air dalam telaga dan jiwa yang sudah lama tertekan, maka setiap kali ada petir menyambar, dia akan menjerit histeris,” kata Wan Fei-yang melanjutkan ceritanya.

“Tentu menderita sekali terendam dalam air yang begitu dingin sepanjang tahun,” sahut Fu Giok-su seperti kepada dirinya sendiri.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

“Ciangbunjin pernah berpesan, siapa pun tidak boleh mendekati telaga dingin itu. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman berat, kecuali aku tentunya.”

“Eh?” Fu Giok-su tampak kurang percaya. Wan Fei-yang tertawa geli.

“Kalau aku tidak mengantarkan makanan untuknya, pasti sejak lama dia sudah mati.”

“Rupanya kau hanya menjalankan tugas.”

“Sepuluh hari sekali. Karena hawa di tempat itu sangat dingin, maka makanan tidak akan menjadi basi,” kata Wan Fei-yang.

Mata Fu Giok-su beralih ke tempat itu. Tiba-tiba dia tampak terpana, “Di sana ada orang.”

Wan Fei-yang menolehkan kepalanya mengikuti pandangan Fu Giok-su. Ternyata dia juga melihat bayangan putih melintas lewat.

“Rasanya anak muda yang bernama Kuan Tiong-liu. Mungkinkah dia juga mendengar jeritan histeris tadi dan sekarang bermaksud mencari tahu?”

Kening Fu Giok-su berkerut mendengar perkataannya, “Kalau begitu kita harus mencegahnya.”

Wan Fei-yang tidak menunda waktu. Dia segera berlari ke arah bayangan yang terlihat tadi. Fu Giok-su segera menyusul di belakang.

*****

Bayangan putih tadi memang Kuan Tiong-liu adanya. Tubuhnya meloncat beberapa kali, akhirnya dia berhenti di depan rumpunan bunga sekitar belakang gunung.

“Terang-terangan dari sini asalnya, coba aku lihat ke depan sana,” katanya dalam hati.

Baru saja dia bermaksud melangkahkan kakinya, Fu Giok-su melayang di belakangnya, dan mencegah, “Kuan-heng, harap berhenti dulu!”

Kuan Tiong-liu melirik Fu Giok-su sekilas, “Ada apa?”

“Tempat ini adalah daerah terlarang,” kata Fu Giok-su.

“Daerah terlarang?”

“Anak murid Bu-tong sendiri tidak boleh menginjak tempat ini, harap Kuan-heng kembali segera.”

Kuan Tiong-liu mendelik ke arah Fu Giok-su. Tampaknya hawa amarah anak muda itu akan meledak setiap waktu. Namun akhirnya dia dapat juga menahan diri. Bibirnya menyunggingkan senyuman datar. “Bu-tong-pai terkenal sebagai partai lurus dan terbuka. Tidak tahunya ada demikian banyak rahasia yang harus ditutupi,” sindirnya tajam.

“Harap Kuan-heng segera kembali,” kata Fu Giok-su berusaha setenang mungkin.

Kuan Tiong-liu mendengus sinis.

“Barang siapa yang memasuki daerah terlarang, langsung dibunuh tanpa perlu banyak tanya. Ini merupakan perintah suhu. Aku tidak ingin terjadi kesalahan,” kata Fu Giok-su selanjutnya.

Kuan Tiong-liu masih tidak bersuara. Pada saat itu, Wan Fei-yang yang tertinggal di belakang menyusul tiba. Melihat Kuan Tiong-liu, dia berdiri terpaku. Anak muda itu hanya meliriknya sekilas. Tiba-tiba petir menyambar lagi. Suara jeritan aneh kembali berkumandang. Kuan Tiong-liu mendengus dingin lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.

*****

Malam semakin larut, hujan semakin lebat.

Petir masih menyambar. Suara geledek menggelegar. Dunia seakan terbalik karenanya.

Wan Fei-yang belajar membaca dan menulis dengan giat di bawah cahaya lentera.

*****

Di dalam kamar tamu sebelah barat, Kuan Tiong-liu duduk dengan mata terpejam. Tampaknya dia sedang beristirahat agar semangatnya pulih kembali. Suara geledek bergemuruh. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan jendela. Perlahan dia membuka jendela tersebut. Hujan membasahi seluruh tanah dan bunga-bunga

*****

Fu Giok-su berbaring di atas tempat tidur. Matanya terbuka menatap langit-langit. Kemudian beralih ke jendela. Hujan seakan segan berhenti. Lewat cahaya petir yang menyambar, terlihat jelas wajahnya yang resah dan gelisah.

Sekali petir menyambar melintasi gunung sebelah belakang Bu-tong-san. Sebuah bayangan berkelebat di bawah hujan lebat. Dia melintasi jalan kecil di belakang gunung tersebut. Ketika kilat menyambar, dia menyurutkan tubuhnya ke balik sebatang pohon besar. Setelah petir reda, dia baru melesat lagi menuju di mana telaga dingin berada!

*****

Pada saat yang sama, di luar Bu-tong-san, kira-kira sejauh jarak sepuluh li. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong berlari tanpa henti di bawah curahan air hujan.

*****

Pagi menjulang ….

Hujan sudah reda. Di dalam sebuah ruangan rahasia yang terdapat di balik pendopo, Pek Ciok sedang meminumkan Kiu-coan-kim-tan kepada Ci Siong tojin. Tosu tua itu menelannya sekaligus.

“Kiu-coan-kim-tan dari Go-bi-pai tidak dapat digolongkan dengan obat-obatan biasa. Pasti ada gunanya bagi kesembuhan luka dalamku,” katanya.

“Betul, Suhu,” sahut Pek Ciok sambil mengundurkan diri ke samping.

“Selama aku menutup diri untuk menyembuhkan luka. Semua urusan Bu-tong kuserahkan kepadamu.”

“Harap Suhu jangan khawatir.”

“Mengenai kedua susiokmu Gi-song dan Cang-song, mereka adalah manusia-manusia berhati sempit. Mereka pasti tidak puas terhadapmu.” Nada suara Ci Siong tojin menjadi berat, “Tapi kau jangan terlalu mengalah. Apabila ada hal yang kurang beres, kau harus berani menantang.

“Tecu mengerti,” sahut Pek Ciok dengan kepala tertunduk.

“Keluarlah,” kata Ci Siong sambil mengulapkan tangannya.

Pek Ciok mengundurkan diri. Sampai di depan pintu dia berpesan kepada empat orang tosu yang baru datang.

“Selama Suhu menutup diri menyembuhkan luka, kalian harus menungguinya. Jangan teledor. Setiap kali menjaga dua orang saja, bergantian siang dan malam. Jangan sekali-kali meninggalkan tempat ini.”

Empat orang tosu itu mengiakan sambil merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam.

*****

Menjelang tengah hari, dahan dan daun pohon-pohon baru tersiram oleh air hujan. Tampak lebih segar. Tanah masih belum kering. Beberapa lembar daun masih menggenang air. Pek Ciok memutar satu kali di depan ruang rahasia di mana Ci Siong tojin sedang menutup diri. Dia bermaksud menuju ruang pendopo. Namun belum lagi dia sampai ke tempat tujuannya, terdengar kumandang suara lonceng.

“Toa-suheng, suara lonceng ini …?” tanya salah satu murid yang kebetulan ada di dekatnya dengan wajah keheranan.

“Hm … suara lonceng tanda bahaya. Berarti ada orang yang menerjang ke atas gunung. Mari kita tinjau ke kaki guntung,” sahut Pek Ciok langsung berkelebat mendahului.

Baru mencapai ruangan pendopo, terlihat salah seorang murid Bu-tong lari mendatangi dengan napas tersengal-sengal. Begitu melihat Pek Ciok, langkah kakinya dipercepat.

“Toa-suheng …!” teriaknya.

“Siapa yang menerjang ke atas gunung?

“Orang-orang Bu-ti-bun,” sahut murid itu panik. “Mereka masih berada di bawah. Salah satunya yang pernah datang mengantarkan surat tantangan, Kongsun Hong, murid Tok-ku Bu-ti sendiri. Sedangkan yang satunya lagi mengaku sebagai putri Tok-ku Bu-ti, Tok-ku Hong.”

Pek Ciok mengerutkan keningnya. “Hanya dua orang?” tanyanya.

“Betul, dua orang.”

“Entah apa maksud kedatangannya kali ini? “Gi-song susiok sudah mengutus orang mengadangnya di bawah.”

Kening Pek Ciok semakin mengerut. Tepat pada saat itu, Fu Giok-su, Cia Peng, Yo Hong, Kim Ciok dan Giok Ciok juga sudah berdatangan.

“Perlukah kita memberitahu suhu masalah ini?” tanya Fu Giok-su panik.

“Suhu sedang menutup diri menyembuhkan luka. Kalau tidak terlalu genting, jangan mengganggu dia orang tua.” Pek Ciok mengedarkan matanya, “Cuwi sute, mari kita ke sana!”

Semua mengangguk mengiakan. Beramai-ramai mereka mengikuti Pek Ciok yang sudah melesat pergi.

*****

Di bawah cahaya matahari, batu besar tempat menyimpan pedang bagi para tamu yang akan mengunjungi Bu-tong-pai masih berdiri tegak. Namun di bawahnya telah tergeletak beberapa murid partai itu sendiri. Terlihat luka di bahu orang-orang itu. Senjata mereka pun terlepas dari tangan masing-masing dan berserakan di sekitarnya.

Kongsun Hong dan Tok-ku Hong terus menerjang ke depan. Tok-ku Hong menggunakan dua bilah golok sebagai senjata. Sedangkan Kongsun Hong telah mengganti senjatanya dengan Jit-goat-lun (senjata yang bentuknya seperti roda namun bergerigi dan selalu terdiri dari sepasang). Tujuh orang tosu mengadang di depan mereka. Semuanya tidak bergerak. Gi-song membawa belasan muridnya menyusul tiba. Dari jauh dia sudah berteriak, “Siapa orangnya yang demikian berani mencoba menerobos ke atas gunung?”

Sinar mata Tok-ku Hong berputaran, “Suheng, siapa dia?”

“Gi-song dari Bu-tong-pai,” sahut Gi-song sendiri. Dia langsung maju ke depan. Melihat Kongsun Hong, dia tertawa terbahak-bahak, “Lagi-lagi engkau. Ada apa? Apakah kau tidak memiliki pedang yang lain sehingga datang ke Bu-tong-san untuk mengambil pedangmu?”

Kongsun Hong marah sekali.

“Masih ada hubungan apa kau dengan Ci Siong tojin?” tanya Tok-ku Hong.

“Ciangbun-suheng sedang menutup diri. Ada urusan apa-apa yang bersangkutan dengan Bu-tong-pai akulah yang bertanggung jawab,” sahut Gi-song sesumbar.

Kongsun Hong mengangkat Jit-goat-lun-nya,

“Kalau begitu, biar kubunuh dulu dirimu!”

Gi-song terkejut sekali.

“Kau adalah pecundang Ciangbun-suhengku, aku tidak akan bergebrak denganmu!” sahutnya panik. Dia merandek sejenak, kemudian lagi, “Suruh perempuan itu kemari untuk menerima kematian!”

Tok-ku Hong marah sekali, sepasang goloknya digetarkan. Setelah berteriak lantang, dia menikam ke depan. Kedua bilah goloknya meluncur secepat kilat, menimbulkan bayangan bagai rangkaian bunga. Gi-song terkejut sekali. Pedangnya segera dihunus. Dia melancarkan sebuah serangan. Sekali bergerak, jurus yang dimainkannya langsung berubah-ubah.

“Ting! Ting! Tang! Tang!”, senjata kedua orang itu beradu. Tubuh Tok-ku Hong mengikuti gerakan goloknya, sedangkan goloknya sendiri bertindak sebagai perisai. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Gi-song menyambut beberapa jurus sekaligus. Tanpa sadar hatinya bergetar. Setelah menyambut lagi beberapa jurus, dia mulai mempunyai perhitungan. Meskipun ilmu silatnya tidak dapat menandingi Ci Siong tojin, tapi dia mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas. Begitu melihat keadaannya yang tidak menguntungkan, dia segera memikirkan jalan keluar.

Gi-song menerima lagi tiga kali serangan Tok-ku Hong, kemudian dia mencelat mundur sejauh tiga langkah, lalu berseru, “Berhenti!”

Tok-ku Hong terpana. Sejenak kemudian dia tertawa dingin.

“Hm! Tidak berani bertarung lagi?” sindirnya tajam.

“Memangnya apa kedudukan pinto … siapa yang sudi bertarung dengan kaum wanita?” sahut Gi-song tenang.

“Paling tidak wanita yang satu ini sanggup mengalahkanmu!” bentak Tok-ku Hong sambil menerjang ke depan.

Gi-song mundur lagi tiga langkah. Tok-ku Hong mengejar ketat. Para murid Gi-song segera maju ke depan mengadang. Kongsun Hong sudah bersiap-siap sejak tadi. Tubuhnya segera mencelat, sepasang Jit-goat ditanganny bergerak. Dia menghalau pedang-pedang yang mencoba menghalangi Tok-ku Hong.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara menggelegar. “Tahan!”

Seiring dengan suara itu, tubuh Pek Ciok mendarat di tengah arena. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Tok-ku Hong dan Kongsun Hong lekat-lekat. “Liong-wi sicu, ada urusan kita bicarakan baik-baik!”

Kongsun Hong melirik Pek Ciok sekilas. Dia tertawa dingin. “Kita jumpa lagi,” katanya datar.

“Rupanya Kongsun-heng.”

“Aku juga tidak lupa. Kau adalah Pek Ciok. Murid pertama Ci Siong tojin!”

“Maksud Sicu menerobos gunung kali ini …?”

“Meminta orang kepada Bu-tong-pai!” sahut Kongsun Hong sambil mengulurkan tangannya.

“Siapa?” tanya Pek Ciok merasa di luar dugaan.

“Kuan Tiong-liu!”

Jawaban itu semakin di luar dugaan Pek Ciok. Tepat pada saat itu, Kuan Tiong-liu diiringi Liok An dan Jit Po melangkah keluar dari rumpunan pohon.

“Siapa yang menginginkan aku?” tanyanya lantang.

Sinar mata Kongsun Hong mengedar, “Teryata memang engkau …!”

“Hai! Apakah kau benar-benar Kuan Tiong-liu yang satu itu?” bentak Tok-ku Hong meminta penegasan.

“Tidak salah!” Kuan Tiong-liu tertawa dingin. “Entah apa maksud kalia mencariku?”

“Aku ingin bertanya kepadamu. Mengapa kau harus membunuh semua anggota cabang tiga belas Bu-ti-bun?”

“Asal mula persoalan ini, Liong-wi pasti tahu jelas,” sahut Kuan Tiong-liu sambil menengadahkan wajahnya ke atas.

Tok-ku Hong menoleh kepada Kongsun Hong. “Suheng …”

“Aku hanya menginginkan utang darah bayar darah dari cabang tiga belas kalian.”

“Membunuh habis-habisan. Apakah kau tidak merasa cara turun tanganmu itu terlalu keji?”

“Tidak perlu ragu kalau yang dibunuh itu komplotan iblis,” sahut Kuan Tiong-liu senang.

“Utang piutang ini, Bu-ti-bun akan memperhitungkannya sampai tuntas!” kata Kongsun Hong sambil menuding Kuan Tiong-liu dengan sepasang Jit-goat-lun di tangannya.

“Seorang yang berbuat, seorang yang bertanggung jawab, kalian jangan menimbulkan kesulitan bagi orang-orang Bu-tong-pai!” sahut Kuan Tiong-liu dengan gaya angkuh.

Kongsun Hong menatap Kuan Tiong-liu lekat-lekat, “Baik! Aku lihat kau juga termasuk seorang laki-laki sejati. Kau sendiri yang memutuskan!”

Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak, “Hanya mengandalkan kalian berdua berani bergebrak dengan aku?”

Kongsun Hong dan Tok-ku Hong marah sekali.

“Sebentar lagi aku akan meringkus kalian berdua. Setelah itu baru mencari Tok-ku Bu-ti untuk menjelaskan masalahnya,” kata Kuan Tiong-liu kembali.

“Kurang ajar!” bentak Tok-ku Hong. Tangannya masing-masing menggenggam sebilah golok. Dia segera menerjang ke depan.

Pek Ciok segera membentangkan tangannya menghalangi.

“Tunggu dulu!” Dia menghadap kepada Kuan Tiong-liu. “Sicu sekarang adalah tamu agung Bu-tong-pai, sekarang pun masih berada di wilayah Bu-tong-san. Masalah ini harus diselesaikan oleh Bu-tong-pai,” katanya.

Pek Ciok beralih kepada Kongsun Hong dan Tok-ku Hong. Wajah dan suaranya sangat berwibawa, “Kalian berani mengacau di Bu-tong-san. Apakah kalian mengira Bu-tong-pai sudah tidak ada orang lagi?”

Tok-ku Hong tertawa dingin. “Ci Siong tojin terluka parah di tangan ayahku, sampai sekarang tentu belum sembuh. Masih ada siapa lagi di Bu-tong-pai yang dapat diandalkan?” tanyanya sinis.

“Masih ada kami!” sahut Pek Ciok garang.

“Kalian?” Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak, “Siapa yang tidak memandang sebelah mata kepada kalian?”

Para murid Bu-tong menyorotkan sinar kemarahan di mata mereka. Wajah Pek Ciok sendiri tetap tidak berubah. Dengan tenang dia membalikkan tubuhnya. “Siapkan barisan pedang!” perintahnya.

Tujuh orang tosu segera mengiakan. Mereka membentuk barisan Jit-sing-kiam-ceng.

“Jit-sing-kiam-ceng … sudah lama aku memang ingin mengenalnya,” kata Kongsun Hong sambil mengerlingkan matanya.

“Pada saat itu, Ciangbun-suheng menurunkan perintah. Anggap saja kau sedang beruntung,” tukas Gi-song masih sok seperti biasanya,

Kongsun Hong tetap tertawa lebar menanggapi kata-kata itu. Gi-song ikut tertawa. “Kalau kalian bisa menerobos keluar dari Jit-sing-kiam-ceng, kami akan menyerahkan orang yang kau hendaki,” katanya kemudian.

“Apakah kau berhak memberikan keputusan?” sinar mata Kongsun Hong semakin dingin.

Gi-song menepuk dadanya sendiri. Pek Ciok segera menghampirinya.

“Susiok …”

“Selamanya tidak ada orang yang sanggup menerobos Jit-sing-kiam-ceng. Apa yang kau takuti? Setujui saja perjanjian itu!” tukas Gi-song yakin.

Kongsun Hong mengalihkan matanya kepada Tok-ku Hong.

“Baik! Mari kita pecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng dari Bu-tong-pai ini,” kata Tok-ku Hong.

“Bagaimana kalau kalian tidak berhasil menerobosnya?” tanya Gi-song.

“Kami akan menarik kembali permintaan kami,” sahut Tok-ku Hong.

“Sumoay … jangan memandang ringan mereka,” kata Kongsun Hong dengan suara berbisik.

Tok-ku Hong tergetar juga hatinya, namun dia tidak memperlihatkannya sama sekali. “Apa sih kehebatan ketujuh orang tosu ini?” sahutnya sambil menggetarkan kedua pergelangan tangannya. Sepasang goloknya berputaran bagai rangkaian bunga.

Tubuh tujuh orang tosu itu bergerak serentak. Mereka membentuk lingkaran dan mengurung Kongsun Hong di tengah. “Trang! Trang! Trang”, tujuh batang pedang telah dihunus. Sinar dingin memencar. Kongsun Hong berteriak lantang. Jit-goat-lun berputar. Dia mendahului ke depan menerjang. Terdengar suara angin menderu yang diterbitkan ketujuh batang pedang tadi.

Cahaya Jit-goat-lun bagai salju beterbangan, berkombinasi dengan sinar pedang. Suara benturan senjata saling susul-menyusul. Jit-goat-lun memang merupakan senjata langka. Hanya perguruan tertentu yang menurunkan ilmu silat dengan menggunakan senjata jenis ini. Pedang dan golok biasanya mudah terkait senjata ini. Namun meskipun Kongsun Hong sudah berusaha beberapa kali, tujuh batang pedang yang dimainkan para tosu Bu-tong-pai itu sama sekali tidak berhasil terkait oleh gerigi senjatanya.

Tujuh orang tosu itu bergantian menerima serangan Jit-goat-lun Kongsun Hong, kemudian beralih menyambut serangan golok Tok-ku Hong. Golok dan Jit-goat-lun berhenti, pedang tujuh orang tosu itu juga berhenti. Golok dan jit-goat-lun menyerang, pedang mereka bergantian menyambut. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong mengerahkan berbagai jurus andalan mereka. Beberapa kali berturut-turut mereka menerjang, tapi tetap saja terkurung di dalam barisan.

Bayangan tubuh kedua orang itu saling berkelebat. Tok-ku Hong merasa penasaran. “Bagaimana bisa begini? Di depan mata terang-terangan hanya tampak satu orang, tapi dalam sekejap mata ada tujuh batang pedang yang menghalanginya,” katanya heran.

“Jit-sing-kiam-ceng ini merupakan ilmu pusaka Bu-tong-pai. Kalau begitu mudah dipecahkan, mana mungkin namanya begitu terkenal?” sahut Kongsun Hong gugup.

“Aku tidak percaya barisan ini dapat mengurung kita,” Mata Tok-ku Hong bersinar tajam. “Suheng, kita berpencar dari belakang dan depan lalu membuka jalan darah untuk menerjang keluar,” katanya.

Kongsun Hong menganggukkan kepalanya. Tubuh mereka segera bergerak, satu di depan dan satu lagi di belakang. Mereka menerjang dengan kalap. Jit-goat-lun diputar sekuat tenaga, golok Tok-ku Hong menari-nari.

“Trang! Trang!”, suara benturan senjata memekakkan telinga. Cahaya berpijar, berkelebat-kelebat menutupi tubuh mereka, kemudian memudar kembali.

Ternyata Kongsun Hong dan Tok-ku Hong terdesak mundur dan kembali ke tempatnya semula. Tubuh ketujuh tosu itu masih berputaran. “Bu-liang-sou-hud!” puji mereka serentak.

Tok-ku Hong mendengus kesal. Wajah Kongsun Hong berubah menghijau. Tubuh tujuh orang tosu setengah baya itu berputar sekali lagi kemudian memancar, namun tetap membentur lingkaran. Tujuh batang pedang tegak lurus di depan dada.

Kongsun Hong dan Tok-ku Hong tidak bergerak. Mereka masih mencari akal untuk menerobos barisan itu. Tujuh orang tosu juga tidak menyerang. Hawa pedang semakin menebal.

*****

Di dalam ruang rahasia….

Asap pedupaan mengepul. Suasananya demikian tenang. Obat Kiu-coan-kim-tan mulai bereaksi. Ci Siong tojin duduk bersila di atas tempat tidur. Dia sudah masuk dalam keadaan lupa diri.

Meski ada apa pun yang terjadi di luar ruang rahasia tersebut, dia sama sekali tidak tahu lagi. Kenyataannya, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu, kecuali jiwanya sudah terancam bahaya, kalau tidak dia pasti tidak menyadarinya.

Pintu ruangan rahasia iiu setebal tiga cun. Apabila hendak mendobrak pintu tersebut, tentu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak khawatir.

*****

Pedang berkelebat tanpa henti. Berhasil melepaskan diri dari perangkap pedang yang pertama, perangkap kedua sudah di depan mata. Kendala berupa pedang itu susul menyusul bergantian mengurung Kongsun Hong dan Tok-ku Hong.

Meskipun mereka mulai menyadari apabila berdiri tidak bergerak, pedang-pedang tidak akan melukai mereka. Namun mereka tetap tidak berhasil menerobos barisan tersebut. Para murid Bu-tong-pai sudah berkumpul di tempat itu. Mereka menonton dari luar barisan. Hati mereka tegang sekali. Cang-songlah yang paling khawatir. Melihat kedua orang lawan berhasil menghindari setiap gerakan pedang, hatinya semakin kebat-kebit.

Tiba-tiba dia melihat Lun Wan-ji yang berdiri di ujung. Pikirannya segera tergerak. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri gadis itu, “Wan-ji …”

Lun Wan-ji menatapnya dengan heran. “Ada apa?” tanyanya.

“Kedua orang Bu-ti-bun itu tampaknya berilmu tinggi. Kalau diteruskan, mungkin mereka akan berhasil menerobos barisan Jit-sing-kiam-ceng,” kata Cang-song panik.

“Kata Gi-song susiok tidak mungkin,” sahut Lun Wan-ji.

“Dia tahu apa?” Cang-song mengecilkan suaranya. “Aku rasa sebaiknya kau undang suhumu ke sini.”

“Ini ….” Lun Wan-ji tampaknya keberatan.

“Paling tidak kau harus melaporkan keadaan di sini, lihat bagaimana reaksinya nanti,” kata Cang-song kembali.

“Boleh juga,” sahut Lun Wan-ji setelah berpikir sejenak. Kemudian dia ngeloyor pergi.

*****

Ternyata Yan Cong-tian sama sekali tidak kelihatan panik. Dia menunggu Lun Wan-ji menyelesaikan ceritanya.

“Kau tidak perlu khawatir. Jit-sing-kiam-ceng terdiri dari empat puluh sembilan jurus. Dua puluh delapan jurus sebenarnya hanya tipuan berupa serangan ataupun tangkisan, sedangkan dua puluh satu jurus lainnya baru mematikan,” katanya menjelaskan.

“Tapi sekarang .-”

“Mereka pasti tidak akan berhasil menerobosnya,” kata Yan Cong-tian yakin. “Dulu guru dari Tok-ku Bu-ti, Sia-hou-tian-cong pernah terkurung dalam barisan yang sama. Setelah tiga hari tiga malam, baru menerjang keluar dengan paksa. Yang datang sekarang hanya dua orang murid Tok-ku Bu-ti, bagaimana mungkin mereka bisa memecahkan barisan ini?”

Lun Wan-ji tampaknya masih ragu-ragu.

“Apakah ucapan gurumu sendiri sudah tidak kau percayai lagi?” tanya Yan Cong-tian kurang senang.

“Tecu tidak berani,” Lun Wan-ji memang tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

“Urusan kecil semacam ini saja, buat apa kalang kabut,” Yan Cong-tian mengulapkan tangannya. “Lebih baik kau kembali ke sana untuk menonton keramaian,” katanya.

Lun Wan-ji hanya dapat menganggukkan kepalanya.

*****

Pada saat itu, keadaan barisan Jit-sing-kiam-ceng memang sedang seru-serunya. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berusaha menerjang belasan kali, namun mereka tetap terkurung di dalamnya.

Akhirnya mereka berhenti menerjang. Setidaknya pengalaman Kongsun Heng di dalam dunia kangouw sudah cukup luas.

“Sumoay, tampaknya mereka sengaja menguras habis tenaga kita,” katanya.

Tok-ku Hong tidak menyahut.

“Lebih baik kita berhenti dulu. Perhatikan baik-baik perubahan gerakan mereka, nanti kita pikirkan akal lain untuk menerjang keluar,” lanjut Kongsun Hong.

Tok-ku Hong mengangguk tanpa menyahut. Tujuh orang tosu itu juga berhenti bergerak. Pedang tegak lurus di depan tiada mereka.

*****

Malam semakin kelam. Para murid Bu-tong sudah menyalakan api unggun. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong masih terkurung di dalam barisan. Mereka menerjang lalu berhenti. Setelah itu menerjang kembali. Sampai sekarang sudah merupakan yang ketujuh kalinya.

Tapi bagaimanapun, mereka tetap tidak berhasil menemukan kelemahan barisan tersebut. Juga tetap tidak berhasil menerobos keluar. Pakaian Kongsun Hong sudah basah kuyup oleh keringat. Dia duduk di tengah barisan, Tok-ku Hong duduk membelakanginya. Posisi mereka berlawanan. Rambut gadis itu sudah berantakan.

Tujuh orang tosu ikut duduk. Posisi mereka masih sama seperti tadi. Membentuk lingkaran. Pedang tergeletak di pangkuan. Mata mereka menatap kedua orang lawan lekat-lekat. Angin masih bertiup. Api unggun menari-nari. Sembilan orang itu duduk tanpa bergerak sedikit pun.

*****

Cahaya api tidak dapat mencapai pepohonan di atas gunung. Namun dari ketinggian di atas sana, barisan Jit-sing-kiam-ceng malah terlihat jelas. Di antara dedaunan yang lebat, tersembul kepala seseorang. Ternyata dia adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai, Ci Siong tojin adanya.

Kening tosu tua itu terpaut ketat. Tampaknya ada sesuatu yang dipikirkan olehnya. Sebetulnya dia dapat terang-terangan berdiri di depan barisan dan memberi petunjuk kepada para muridnya. Namun dia justru bersembunyi di antara dedaunan yang lebat di atas sebatang pohon. Sebetulnya apa yang terlintas di benaknya saat ini?

*****

Tanpa dapat menahan diri lagi, akhirnya Tok-ku Hong bangkit berdiri. Di wajahnya masih tersirat keangkuhan hatinya. Kongsun Hong segera ikut berdiri.

“Sumoay ….” panggilnya.

“Suheng, aku tetap tidak percaya kita tidak sanggup memecahkan barisan ini,” katanya kesal.

“Lebih baik kita menghemat tenaga. Barisan Jit-sing-kiam-ceng ini mempunyai perubahan yang tidak terduga. Kita sama sekali tidak dapat melihat titik kelemahannya,” sahut Kongsun Hong menasihati.

“Maksudmu ….”

“Tidak perlu mencari tahu titik kelemahannya. Pergunakan segala cara untuk menerobos barisan ini dan meninggalkan Bu-tong-san untuk sementara,” kata Kongsun Hong lirih.

“Boleh juga,” Tok-ku Hong setuju. Sepasang goloknya segera digerakkan.

Tujuh batang pedang menimbulkan cahaya serentak. Tujuh orang tosu sudah berdiri tegak. Mereka menunggu kedua orang itu mulai menyerang. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berteriak nyaring. Bersama-sama mereka menerjang. Tapi kaki mereka baru maju tiga langkah, serta merta terdesak mundur kembali. Merek membalikkan tubuh dan menyerang arah yang berlawanan.

Tujuh orang tosu itu tenang-tenang saja. Pedang bergerak serentak, hawa dingin menerpa lalu meluncur ke depan. Tok-ku Hong tidak sempat menghindar. Sebuah pedang berkelebat menyayat pahanya. Dengan marah dia terus menyerang. Tidak peduli rasa sakit yang mulai terasa. Kongsun Hong dengan Jit-goat-lunnya mengadang di depan dengan gugup. Suara benturan senjata langsung berkumandang. Kedua orang itu terdesak lagi. Tok-ku Hong semakin penasaran. Wajah Kongsun Hong semakin kelam. Dia nekat mengadang di depan Tok-ku Hong.

“Sumoay … kita tidak boleh menguras tenaga lagi,” katanya.

Tok-ku Hong mendengus dingin.

“Kalau begini terus, rasanya kita tidak kuat sampai hari terang.”

“Memangnya kenapa kalau hari sudah terang?”

Kongsun Hong hanya tertawa getir. Gi-song yang berada di luar barisan menggunakan kesempatan itu untuk menyindirnya, “Kongsun Tongcu, mengapa tidak menyerang lagi?”

Kongsun Hong mendelik kepadanya dengan sorot kemarahan.

“Tok-ku Siocia, mengapa masih belum berhasil juga memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng kami?”

Tok-ku Hong menggertakkan giginya dengan benci, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kalian terlalu banyak berbuat kejahatan. Jit-sing-kiam-ceng adalah alat untuk menghukum mati kalian,” kata Gi-song selanjutnya.

“Namun kalian boleh berlega hati menuju perjalanan neraka. Murid Bu-tong pasti akan mengadakan upacara sembahyang yang meriah,” sambung Cang-song tak mau kalah.

Para murid Bu-tong segera tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu. Mata Tok-ku Hong beredar. Wajahnya kaku sekali.

“Kalian juga tidak perlu terlalu bangga. Kalau malam ini aku, Tok-ku Hong mati oleh barisan Jit-sing-kiam-ceng, ayahku pasti akan membawa seluruh anak buahnya naik ke atas Bu-tong-san. Pada saat itu kalian juga belum tentu dapat hidup lebih lama,” sahutnya.

Gi-song langsung tertegun. Tanpa sadar para murid Bu-tong juga mengusap keringat dingin yang membasahi di kening mereka seketika. Mereka semua terdiam dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

“Kedua orang ini, yang satu adalah putri tunggal Tok-ku Bu-ti, sedangkan yang satunya adalah murid kesayangannya. Seandainya mereka mati di sini, Tok-ku Bu-ti pasti tidak mau menyudahinya begitu saja,” kata Gi-song dengan suara lirih.

“Siapa tahu belum sampai batas waktu dua tahun, dia akan membumihanguskan Bu-tong-pai,” sahut Cang-song.

Gi-song menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Cepat suruh mereka berhenti,” kata Cang-song kembali.

Gi-song tertawa getir.

“Kau telah melupakan sesuatu, barisan Jit-sing-kiam-ceng ini tidak boleh dihentikan lagi setelah lewat tujuh jurus. Kalau tidak, kedua pihak sama-sama celaka.”

“Ini … sudah pasti ada yang mati.”

“Maksudmu … mereka?”

“Maksudku … pihak kita.”

*****

“Apa akibatnya kalau kedua orang Bu-ti-bun itu mati oleh Jit-sing-kiam-ceng?” yang mengajukan pertanyaan ini justru manusia berpakaian hitam.

Di hadapannya berdiri Wan Fei-yang. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Dia baru selesai berlatih. Di sekitar mereka sepi sekali. Cahaya api di tengah pegunungan tidak akan memancar sampai tempat ini. Suara mereka yang ada di sana pun tidak mungkin terdengar sampai di sini.

Jaraknya terlalu jauh. Dan Wan Fei-yang merasa heran mengapa suhunya tiba-tiba bertanya demikian. “Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun adalah musuh bebuyutan. Pihak mana pun ada yang mati, sebetulnya tidak banyak pengaruh. Namun kedudukan kedua orang ini tidak dapat disamakan. Seandainya mereka mati di dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng, Tok-ku Bu-ti pasti akan membalas dendam habis-habisan,” sahutnya.

“Tidak salah!” kata manusia berpakaian hitam tenang. “Kemungkinan besar Tok-ku Bu-ti akan memajukan tanggal perjanjiannya.”

“Para murid Bu-tong-pai juga mempunyai pikiran yang sama,” sahut Wan Fei-yang.

“Kalau ditilik dari keadaan Bu-tong-pai sekarang ini, kekuatannya masih belum dapat menandingi Bu-ti-bun. Apalagi anggota Bu-ti-bun begitu banyak. Bisa jadi Bu-tong disapu bersih dan tidak bisa berdiri lagi.”

Kening Wan Fei-yang berkerut erat-erat. “Sayang sekali ilmu silatku belum cukup tinggi, lagi pula aku tidak bisa menampilkan muka di depan mereka,” sahutnya.

Manusia berpakaian hitam hanya memandangi Wan Fei-yang lekat- lekat.

“Bagaimana pun aku ini dibesarkan di Bu-tong-san, begitu ada masalah, masa aku hanya berdiam diri. Hatiku sungguh tidak tenang, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kadang-kadang aku merasa aku benar-benar tidak berguna,” kata Wan Fei-yang kembali.

“Siapa bilang?” Nada suara manusia berpakaian hitam berubah menjadi berat. “Fei-yang, sebetulnya ini merupakan kesempatan bagus bagimu untuk membantu Bu-tong-pai.”

“Eh?” Wajah Wan Fei-yang menyiratkan perasaan heran.

“Kalau kau pandai menutup diri lalu memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng, maka kedua orang itu bisa keluar dan sama artinya kau sudah menolong Bu-tong-pai.”

“Mengapa aku harus menolong orang-orang Bu-ti-bun?” desak Wan Fei-yang.

“Kalau tidak ingin jatuh korban, satu-satunya jalan hanya demikian,” kata manusia berpakaian hitam itu tenang.

“Tidak salah ….”

“Lagi pula, ini merupakan kesempatan bagimu untuk menguji ilmu silatmu sendiri.”

Mendengar ucapan itu, semangat Wan Fei-yang terbangkit seketika. “Baik, aku pergi!”

“Ingat! Melihat ilmu kedua orang Bu-ti-bun itu, sampai jurus empat puluh mereka pasti akan mati dengan tubuh hancur oleh barisan Jit-sing-kiam-ceng, maka kau harus mencegah jangan sampai hal itu terjadi. Tepat sebelum jurus keempat puluh dilancarkan, kau sudah harus bergerak. Dan kau juga harus mengantarkan kedua orang Bu-ti-bun itu meninggalkan Bu-tong-san,” kata si manusia berpakaian hitam menjelaskan.

“Ini ….”

“Mereka sudah terluka. Kita tidak yakin kalau tidak ada orang yang akan menggunakan kesempatan tersebut mencelakai mereka. Kita harus menjaga segala kemungkinan.”

“Betul juga ….” Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Sekarang … aku akan mengajarkan caranya memecahkan barisan Jit-sing-kiam-cengl”

Dengan pandangan penasaran Wan Fei-yang menatap manusia berpakaian hitam. Pengetahuan gurunya ini sungguh luas. Benar-benar di luar dugaannya. Manusia berpakaian hitam itu sama sekali tidak mempedulikan tatapan Wan Fei-yang itu. Dengan sembarangan dia memungut tujuh butir batu kerikil berwarna putih dan dua butir batu berwarna hitam. Dia menyusunnya di atas selembar kain. Kedudukannya persis barisan Jit-sing-kiam-ceng. Kedua butir batu hitam tadi terkurung di tengah.

“Jit-sing-kiam-ceng juga disebut Tian-cik-kiam-ceng (barisan pedang penggetar langit). Sebetulnya barisan ini diciptakan menurut posisi bintang tujuh di langit. Dan kemudian dikombinasikan dengan perubahan im dan yang.”

Mata Wan Fei-yang memperhatikan batu-batu itu dengan seksama.

“Ketujuh bintang ini sebenarnya mempunyai nama masing-masing. Setiap titiknya mempunyai fungsi dan tugas tersendiri. Kita tidak boleh terkecoh olehnya. Pusatkan perhatian pada yang tengah. Karena posisi inilah yang paling penting dan mematikan.”

Wan Fei-yang semakin kagum kepada gurunya. Dia tidak berani ayal dan berpikir pada hal yang lain.

“Seluruhnya berjumlah empat puluh sembilan jurus. Banyak yang menyangka bahwa mulai jurus ketujuh, barisan ini tidak bisa dihentikan lagi. Sebetulnya bukan demikian, asal kita tahu cara kerjanya. Malah mulai jurus kedua puluh satulah barisan itu baru benar-benar membahayakan ….” sambil menjelaskan, manusia berpakaian hitam itu menggerakkan batu-batu di atas kain itu. Tampaknya dia paham sekali mengenai barisan Jit-sing-kiam-ceng ini.

Siapa sebetulnya dia? Mengapa dia harus bersembunyi di Bu-tong-san? Apakah dia juga bertujuan mencuri ilmu Bu-tong-pai seperti makhluk aneh yang terkurung dalam telaga dingin?

*****

Cahaya keemasan mulai muncul, ayam jantan sudah berkokok. Wan Fei-yang mengenakan setelan pakaian berwarna hitam dan menggunakan sehelai kain untuk menutupi wajahnya. Yang tersembul hanya sepasang matanya saja.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebatang pedang dari kolong tempat tidur dan berkelebat melalui jendela. Di luar tidak ada orang, dia memperhatikan sejenak, kemudian melayang pergi dengan tergesa-gesa.

*****

Bumi mulai dihiasi cahaya terang. Meskipun api unggun belum padam, namun sinarnya sudah tidak kentara lagi. Tidak ada yang mempedulikan api unggun tersebut. Mata mereka semua terpusat pada barisan Jit-sing-kiam-ceng.

Tok-ku Hong dan Kongsun Hong masih terkurung di dalam barisan. Tampang mereka sudah tidak karuan. Mereka pasti sudah lelah sekali. Demikian juga ketujuh orang tosu tersebut. Ketujuh orang tosu itu sudah terluka, namun luka yang diderita Tok-ku Hong dan Kongsun Hong jauh lebih parah.

Seandainya bertarung satu lawan satu, tidak ada seorang pun dari tosu itu yang dapat mengalahkan salah satu dari kedua murid Bu-ti-bun tersebut. Dan apabila mereka mengeroyok Tok-ku Hong dan Kongsun Hong bertujuh sekaligus tanpa membentuk barisan Jit-sing-kiam-ceng, mereka juga bukan tandingan kedua orang Bu-ti-bun itu.

Namun begitu membentuk Jit-sing-kiam-ceng, tenaga tujuh orang tosu itu segera tergabung. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong bukan lagi tandingan mereka. Bahkan mereka berdua juga tidak berhasil menemukan titik kelemahan barisan itu. Oleh karenanya, mereka tetap terkurung sampai saat ini. Sedangkan pengepungan barisan Jit-sing-kiam-ceng semakin lama semakin hebat.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: