Kumpulan Cerita Silat

15/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (06)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:11 am

Ilmu Ulat Sutera (06)
Oleh Huang Ying

“Mati ….” Tong Piau panik sekali. Dia segera menjatuhkan diri berlutut dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai. “Budak tahu salah, harap Tongcu membuka hati lebar-lebar ….”

“Selama sepuluh tahun ini, kau pernah menyapu daerah utara sampai bersih. Meraih kemenangan dalam pertarungan sebanyak tiga puluh enam kali. Membela perguruan mati hidup. Jasamu juga tidak sedikit. Namun tahun terakhir ini, kau sudah tidak mempedulikan baktimu kepada Bu-ti-bun. Lebih banyak berfoya-foya. Memanjakan anak buah. llmu silatmu tidak mengalami kemajuan. Tapi kali ini sungguh keterlaluan. Melihat jasamu pada tahun-tahun yang lalu, aku mengampunimu sekali lagi,” kata Kongsun Hong dingin.

“Terima kasih, Tongcu,” wajah Tong Piau berseri-seri seketika. Dia langsung berdiri tegak.

“Hukuman mati dibatalkan, hukuman hidup tetap berlaku,” kata Kongsun Hong kembali.

Tong Piau langsung menjatuhkan diri berlutut kembali.

“Mana bagian Cik-hoat?” tanya Kongsun Hong.

Dua laki-laki berpakaian putih keluar dari barisan dengan tergopoh-gopoh. Wajah mereka menunjukkan ketakutan yang dalam. Mereka juga menjatuhkan diri berlutut di samping majikannya. Kongsun Hong melirik sinis.

“Putuskan telapak tangan sebelah kiri!” perintahnya.

“Baik,” sahut salah satu dari kedua orang bagian Cik-hoat itu.

Dia segera mengambil seutas tali dan mengikat pergelangan tangan Tong Piau. Laki-laki itu memejamkan mata tidak berani melihat. Cik-hoat itu segera menarik sekuat tenaga. Tubuh Tong Piau ikut tertarik dan melayang di udara. Laki-laki berpakaian putih yang satunya segera mengeluarkan sebilah pisau dan sekali gerak, pergelangan tangan Tong Piau sudah terbacok putus.

Tubuh Tong Piau mendarat ke lantai, dari pergelangan tangannya mengalir darah deras sekali. Rasa sakitnya jangan dikatakan lagi. Namun dia tetap berusaha menjatuhkan diri berlutut di depan Kongsun Hong.

“Terima kasih atas kebaikan Tongcu yang tidak menjatuhkan hukuman mati,” katanya terputus-putus.

Melihat keadaan itu, Tok-ku Hong merasa tidak sampai hati. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kongsun Hong masih tenang seperti semula.

“Cepat mundur!” bentaknya.

Tong Piau baru berani merobek lengan bajunya dan membungkus lukanya itu. Dua orang laki-laki berpakaian putih segera menghampiri dan memapahnya dari kiri dan kanan. Mereka membawanya masuk ke dalam. Sisa anggota Bu-ti-bun yang masih berada dalam ruangan melihat kejadian itu dengan hati gentar. Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara.

“Hu-tancu (wakil kepala cabang)!” panggil Kongsun Hong dengan suara lantang.

“Cu Bong di sini,” sahut seorang laki-laki bertubuh tegap sembari berjalan keluar dari barisan anggota Bu-ti-bun. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kongsun Hong.

“Perintahkan dua orang untuk membawa Tong Piau ke kantor pusat, rrusan di sini sementara ini kau yang tangani. Tunggu perintah dari kantor pusat!” kata Kongsun Hong.

“Baik!”

“Mulai sekarang, perhatikan setiap orang yang keluar masuk kota ini. Apabila terlihat hal yang mencurigakan, segera lapor pada kantor pusat!” kata Kongsun Hong.

“Baik!” Cu Bong membenturkan kepalanya sekali lagi.

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benak Tok-ku Hong. “Ada seseorang yang patut dicurigai. Dia berada di Sing Long Kek-can (penginapan Sing Long),” katanya.

“Orang itu ….”

“Dia mengenakan pakaian putih. Tampaknya dari perguruan yang cukup terkemuka. Ada dua bocah yang melayaninya. Masing-masing membawa sebuah harpa dan pedang,” tukas Kongsun Hong. “Kalian selidiki asal-usulnya!”

“Baik!” Cu Bong tentunya tidak berani membantah.

Orang yang dimaksudkan Tok-ku Hong adalah pemuda berpakaian putih itu. Mungkin hawa amarahnya masih belum lenyap semua. Tapi … pemuda berpakaian putih itu memang mencurigakan.

*****

Pada saat itu, pemuda berpakaian putih sedang duduk di dalam kamar penginapan. Di sampingnya hanya ada salah satu dari bocah pelayannya, Jit Po!

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Liok An masuk ke dalam bersama seorang laki-laki setengah baya menggeser ke samping.

Sinar mata pemuda itu beralih ke arah wajah Sao-laopan. Pandangannya dingin menusuk. “Bagus sekali,” katanya.

“Entah apa yang dapat aku bantu?” tanya laki-laki itu gugup.

“Aku ingin mencari sedikit berita darimu,” kata sang pemuda.

“Kalau aku memang tahu, pasti aku akan memberitahukan dengan senang hati.”

“Kemana perginya Go-bi Suang-siu (Sepasang gadis cantik dari Go-bi)?” tanya pemuda itu.

“Apa?” tampaknya Sao-laopan tidak mengerti sama sekali.

“Mereka adalah dua orang gadis yang menginap di sini pada bulan enam tanggal tujuh. Yang satu she Ting dan yang satunya lagi she Sun.”

Sao-laopan seakan teringat sesuatu. Wajahnya mulai berubah.

“Sejak menginap di Sing Long Kek-can ini, mereka tidak pernah terlihat lagi. Aku ingin tahu di mana sekarang mereka berada,” kata pemuda tersebut

Dengan susah payah Sao-laopan menelan ludahnya.

“Aku… aku….”

“Kau adalah pemilik penginapan ini, mana mungkin tidak tahu?”

“Aku tidak bisa mengatakannya,” kata Sao-laopan panik. Keringat mulai membasahi keningnya.

“Mengapa?”

“Kalau aku mengatakannya dan mereka tahu … mereka pasti akan membunuh aku.”

Pemuda itu tertawa dingin. Liok An dan Jit Po segera menghampiri laki-laki itu. Tangan masing-masing mencekal sebilah pedang pendek. Mereka mengancam leher Sao-laopan dari dua arah.

“Kalau kau tidak segera mengatakannya, maka kau akan mati saat ini juga!” kata pemuda itu ketus.

Wajah Sao-laopan berubah hebat. Liok An dan Jit Po mendorongnya ke tembok. Hawa dingin yang memantul dari kedua belah pedang pendek itu terasa di lehernya. “Aku … aku akan berbicara …” katanya panik.

“Bagaimana keadaan mereka?”

“Mereka sudah mati.”

Wajah pemuda itu berubah sesaat. Sejenak kemudian dia tenang kembali.

“Bagaimana matinya?”

Sao-laopan terlihat salah tingkah, “Di tangan orang-orang Bu-ti-bun. Mereka memperkosa dulu baru membunuh.”

Wajah pemuda itu kelam sekali. Sao-laopan menarik napas panjang.

“Menurut cerita orang-orang, mereka yang lebih dulu menyalahi anggota Bu-ti-bun. Melihat kematian mereka yang demikian tragis, aku benar-benar tidak sampai hati. Tapi aku tidak berani berkata apa-apa. Terpaksa aku menguburkan mereka di taman belakang secara diam-diam. Malah peti mati mereka, aku juga yang membelikan.”

“Bawa aku ke sana!” kata pemuda itu sambil mengibaskan lengan bajunya.

Jit Po dan Liok An segera mengendurkan pisau mereka.

*****

Di taman belakang terdapat segerombolan semak-semak dan bunga- bunga. Bila semak-semak itu dikuakkan, maka terlihatlah dua buah kuburan. Pemuda berpakaian putih itu berdiri tegak di depannya. Sedikit suara pun tidak terdengar. Liok An dan Jit Po terlihat sedih.

Sao-laopan berdiri di samping mereka. Tangannya menumpu pada bahu seorang pelayan. Mengingat tragisnya kematian kedua gadis itu, perasaannya ikut terharu. Tiba-tiba terdengar suara bising dari arah luar taman. Puluhan manusia berpakaian hitam menyerbu masuk.

“Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!” seru orang yang bertindak sebagai pemimpin.

Di belakang terlihat seorang manusia berpakaian hitam memanjat lewat tembok.

“Anggota Bu-ti-bun ada urusan di sini, harap orang yang tidak berkepentingan segera menyingkir!” teriaknya lantang.

Mendengar teriakan itu, Sao-laopan dan pelayannya segera menyingkir dan mencari jalan keluar. Tapi pemimpin yang berteriak pertama-tama segera mengadangnya.

“Sao-laopan!”

“Ada … ada apa?”

“Apakah di penginapanmu ini ada seorang pemuda berpakaian putih ….” Kata-katanya belum selesai dia sudah melihat anak muda itu beserta Liok An dan Jit Po yang berdiri di depan kuburan. “Rupanya kalian ada di sini. Bagus!”

“Memang bagus sekali!” sahut pemuda berpakaian putih dingin sinis.

“Hei! Siapa kau? Ada keperluan apa kau datang ke tempat ini? Cepat katakan!” tanya manusia berpakaian hitam itu keras.

“Aku she Kuan … Kuan Tiong-liu,” sahut pemuda berpakaian putih itu tenang. “Kedatangan kami ke sini adalah untuk membunuh kalian!” Ucapannya selesai, tangannya diulurkan, “Pedang!”

Jit Po cepat-cepat menyodorkan pedang kepada tuan mudanya. Kuan Tiong-liu menyambut pedang itu dengan keyakinan penuh.

“Satu pun jangan dibiarkan lolos!” perintahnya.

Liok An dan Jit Po saling lirik sekilas. Pedang pendek telah dihunus, tubuh keduanya segera mencelat dan menerjang ke depan. Manusia berpakaian hitam yang menjadi pemimpin meloncat mundur beberapa langkah.

“Hati-hati!” pesannya kepada anggota Bu-ti-bun yang lain.

Kuan Tiong-liu berteriak lantang, tubuh dan pedangnya berubah menjadi segurat garis panjang, bayangan seperti pelangi meluncur ke depan. Manusia berpakaian hitam segera menghunus goloknya. Dia mundur dengan kalang kabut. Belum lagi goloknya sempat diangkat, dadanya sudah tertusuk pedang.

Matanya mendelik lebar, mulutnya mengeluarkan jeritan ngeri. Seakan masih tidak percaya bahwa apa yang dialaminya sekarang adalah kenyataan. Kuan Tiong-liu segera menarik pedangnya kembali. Darah segar mengucur deras dari dada manusia berpakaian hitam itu. Sao-laopan yang melihat keadaan itu, segera jatuh tidak sadarkan diri.

Kaki pelayan yang sedang memapahnya juga lemas seketika. Bersama dengan majikannya, mereka jatuh terkulai di atas tanah. Pedang Kuan Tiong-liu yang tadi dicabut segera menikam sekali lagi. Kembali seorang manusia berpakaian hitam roboh bermandikan darah. Tanpa membuang waktu, pedang yang tercabut kembali diputarkan. Dua orang manusia berpakaian hitam tertebas sekaligus menjadi dua belah.

Pokoknya, setiap kali pedangnya bergerak, selalu ada korban yang jatuh. Mana pernah manusia berpakaian hitam itu melihat jurus pedang yang demikian cepat dan keji. Mereka menjerit lantang dan berlarian kalang kabut. Seorang manusia berpakaian hitam yang tadi berdiri di atas tembok paling cepat mengambil langkah seribu. Mana tahu baru sempat lari berapa langkah, punggungnya sudah terbacok dari belakang. Tangannya masih berusaha mencapai tembok, namun setelah berkelojotan berapa kali, tubuhnya melorot ke bawah dan melayanglah nyawanya.

Kembali Kuan Tiong-liu menggerakkan pedangnya. Satu kali ke arah kanan dan satu kali lagi ke arah kiri. Dua manusia berpakaian hitam itu tidak sempat menghindar, mereka segera berubah menjadi mayat.

Ilmu yang dimiliki pihak lawan sebenarnya terpaut terlalu jauh. Untuk menghadapi dua orang bocah seperti Liok An dan Jit Po saja mereka tidak sanggup, apa lagi menghadapi Kuan Tiong-liu.

Liok An dan Jit Po mengadang pintu keluar. Setiap manusia berpakaian hitam yang berniat melarikan diri, pasti menjadi korban pedang pendek mereka. Empat belas orang menerjang serentak, tidak sampai sepeminuman teh mereka semua menggeletak di tanah dengan jantung yang sudah berhenti berdetak. Tinggal seorang manusia berpakaian hitam yang mencoba menerobos halangan mereka. Melihat kematian teman-temannya, kakinya menjadi lemas, pedang di tangannya terlepas, dan tubuhnya menggeser lalu menyandar pada tembok taman.

Pedang Kuan Tiong-liu tidak menikamnya. Dia hanya menggunakannya untuk mengancam manusia berpakaian hitam tersebut.

“Di mana markas kalian?” tanyanya garang.

Tenggorokan itu mengeluarkan bunyi “krok! krok!”, tampaknya setiap waktu akan semaput, tapi kenyataannya tidak.

“Di … di ….” suaranya tersendat-sendat dan gugup.

“Antarkan kami ke sana!” kata Kuan Tiong-liu.

Manusia berpakaian hitam itu menganggukkan kepalanya berulang kali. Liok An dan Jit Po segera maju ke depan dan mencekal manusia berpakaian hitam itu dari arah kiri dan kanan. Kuan Tiong-liu mengangkat pedangnya. Di bawah cahaya rembulan, darah menetes setitik demi setitik terlihat jelas.

Sinar rembulan yang pucat, warna darah semerah api membara. Dari mata Kuan Tiong-liu juga terlihat hawa panas yang berkobar- kobar.

*****

Malam semakin larut. Lentera pada cabang tiga belas Bu-ti-bun bersinar terang. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong sudah pergi. Hu-tancu Cu Bong sedang menikmati arak bersama beberapa selir kesayangannya. Dia sudah menunggu begitu lama. Beberapa tahun sudah, sampai hari ini dia baru berhasil menguasai sepenuhnya cabang Bu-ti-bun ini. Biar bagaimanapun, ini merupakan hal yang menyenangkan.

Dia tidak berani ayal. Setelah Kongsun Hong dan Tok-ku Hong meninggalkan tempat itu, dia segera menyuruh beberapa anak buahnya menyelidiki ke Sing Long Kek-can. Kemudian dia memesan semeja hidangan dan arak mahal. Pada saat itu, dia sudah agak mabuk. Oleh karena itu, suara pertarungan dan jeritan di depan halaman juga tidak jelas terdengar olehnya. Orang-orang lainnya justru merasa ada yang kurang beres.

“Cu-Laotoa, tampaknya di luar ada yang berkelahi,” kata salah seorang temannya.

Cu Bong langsung menggebrak meja dengan marah.

“Siapa yang begitu berani? Seret ke dalam biar aku beri pelajaran!”

Baru saja perkataannya selesai, terdengar suara “brak!” yang keras. Pintu besar ruangan itu hancur berantakan. Kuan Tiong-liu berdiri tegak di depan pintu. Perasaan mabuk Cu Bong lenyap seketika karena terkejut.

“Siapa?” bentaknya lantang.

“Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pai,” suara dan tubuh Kuan Tiong-liu sampai dalam waktu yang bersamaan. Pedangnya menyorotkan sinar yang menusuk mata.

Cu Bong terkejut sekali. Tubuhnya segera berdiri tegak. “Cret! cret!”, matanya membelalak melihat dua orang anak buahnya mandi darah karena tikaman pedang Kuan Tiong-liu.

“Ambil golok!” teriaknya lantang.

Biasanya dia tidak pernah meninggalkan goloknya. Tapi sebagai seorang Tancu, rasanya kurang berwibawa kalau tidak ada orang yang memegangi golok baginya. Siapa tahu orang yang memegangi goloknya kurang kuat minum arak, sekarang sudah menggeletak mabuk di kursi samping. Meskipun masih ada tersisa sedikit kesadarannya namun mulutnya susah mengeluarkan sepatah kata pun. Cu Bong berteriak sekali lagi. Orang itu bangkit dengan susah payah dan akhirnya dapat juga mengeluarkan suara.

“Goloknya di sini,” katanya sambil menyodorkan golok kepada Cu Bong.

Cu Bong panik sekali. Dia segera mengulurkan tangannya untuk menyambut golok tersebut. Belum sempat mencapai goloknya, orang yang memegangi golok itu sudah roboh bersimbah darah, golok pun terjatuh di atas tanah.

Cu Bong semakin tegang. Dia membungkukkan tubuhnya memungut golok itu. Sekali lagi terlihat sinar pedang berkelebat. Anak rambut di jidatnya terpapas putus. Sanggul rambutnya terlepas. Kuan Tiong-liu tidak memberinya kesempatan, pedangnya terus mengincar Cu Bong.

Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Cu Bong. Mabuknya sudah lenyap entah ke mana. Dengan kalang kabut dia berusaha menggapai senjatanya. Akhirnya berhasil juga dia mendapatkan sebatang golok, namun sayang sekali, tangannya baru saja sempat meraih golok tersebut, pedang Kuan Tiong-liu sudah sampai di hadapannya. Dengan panik dia berusaha menghindar, tapi tidak keburu lagi. Pedang itu menebas dari keningnya ke bawah dagu.

Para anggota Bu-ti-bun yang melihat kematian Cu Bong menjadi kalang kabut. Mereka berusaha melarikan diri secepatnya. Liok An dan Jit Po sudah menunggu di depan pintu. Sedangkan di tempat itu hanya ada satu jalan keluar yaitu harus melewati tempat Liok An dan Jit Po berada.

Meskipun usia kedua bocah itu masih muda belia, namun sabetan pedang mereka sama sekali tidak dapat dipandang ringan. Setiap musuh yang ada di hadapan mereka, roboh dalam sekejap mata. Demikian juga pedang Kuan Tiong-liu, gerakan pedangnya seperti sedang membelah semangka dan memotong sayuran saja. Sikapnya tenang sekali. Pakaiannya yang putih sudah penuh dengan bercak-bercak darah.

Darah berhamburan di angkasa bagai bunga-bunga yang rontok di musimnya. Namun bagi orang-orang Bu-ti-bun, bagaikan sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan.

*****

Air hangat yang mengepulkan asap. Tong kayu yang berukuran besar. Tubuh Kuan Tiong-liu berendam di dalam tong kayu berisi air hangat itu. Dia merasakan kesegaran yang tidak terkira.

Pakaiannya yang penuh bunga-bunga darah saat itu tergantung di hadapannya. Kuan Tiong-liu menatap pakaiannya dengan terpesona. Kemudian dia menarik napas panjang.

“Darah yang indah!” gumamnya seorang diri.

Liok An dan Jit Po berdiri di sudut ruangan dan melayani keperluannya. Mereka sama sekali tidak mengerti di mana letak keindahan darah yang dimaksudkan.

“Tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada membunuh orang,” ucapan Kuan Tiong-liu seperti sedang menghafal ayat suci.

Jit Po dan Liok An saling melirik. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa. Kuan Tiong-liu malah tertawa terbahak-bahak.

*****

Sao-laopan sekarang malah tidak bisa tertawa lagi. Di taman belakang berserakan demikian banyak mayat anggota Bu-ti-bun, dia benar-benar tidak berani membayangkan akibatnya. Dia panik setengah mati. Ketika pelayannya datang dan mencarinya, dia sedang bersembunyi di kolong tempat tidur.

Pelayan itu tergagap-gagap. Sao-laopan benar-benar kehabisan sabar melihatnya. Akhirnya dia menuju taman belakang bersama pelayan itu. Setelah tahu apa yang telah terjadi, dia semaput sekali lagi. Di depan kuburan Go-bi Suang-siu, terpasang beberapa batang lilin. Juga ada beberapa batok kepala manusia sebagai sesajen! Darah masih menetes dari kepala-kepala itu.

*****

Tok-ku Hong dan Kongsun Hong saat itu sedang mengendarai kuda di sebuah jalan kecil berjarak sepuluh li dari kota. Angin sepoi-sepoi, matahari bersinar lembut. Tok-ku Hong sama sekali sudah melupakan kejadian kemarin malam. Wajahnya berseri-seri, kudanya dilarikan secepat kilat.

Melihat keceriaan Tok-ku Hong, Kongsun Hong merasa sangat gembira. Langit bagai tak berbatas, awan putih beriak-riak. Tiba-tiba terdengar suara keliningan. Seekor merpati putih terbang melintas. Mendengar suara itu, Kongsun Hong segera mendongakkan kepalanya.

“Merpati pos perguruan kita!” katanya tanpa sadar.

Baru saja ucapannya selesai, sekali lagi terdengar suara keliningan. Kembali seekor merpati melintas di angkasa. Kongsun Hong mengerutkan keningnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah peluit dari balik pakaian dan meniupnya dua kali. Burung merpati tadi segera membelok lalu menukik ke arahnya. Dengan sigap Kongsun Hong menyambutnya.

“Pasti telah terjadi sesuatu,” gumamnya seorang diri.

Ada sebuah tabung kecil di kaki burung merpati itu. Kongsun Hong melepaskan burung tersebut dan mengeluarkan sehelai kertas kecil dari dalamnya. Selesai membaca, wajahnya berubah hebat.

“Hei! Sebetulnya apa yang telah terjadi?” tanya Tok-ku Hong panik.

“Cabang tiga belas hancur lebur. Hu-tancu dan segenap anak buah Bu-ti-bun mati semuanya,” sahut Kongsun Hong.

“Apa?” Wajah Tok-ku Hong juga berubah pucat.

“Cepat kita kembali dan melihatnya sendiri,” kata Kongsun Hong sambil membelokkan kudanya dan melarikannya dengan kencang.

Debu beterbangan. Kedua ekor kuda dilarikan seperti kesetanan.

*****

“Siapa yang melakukannya?” ketika Kongsun Hong mengajukan pertanyaan itu, dia dan Tok-ku Hong sudah berada dalam kamar penginapan Sing Long Kek-can.

Kongsun Hong melayang telapak tangannya dan menampar pipi Sao-laopan. Tubuh pemilik penginapan itu bergetar kencang. Dengan susah payah dia berhasil mengucapkan sepatah kata.

“Dia bernama Kuan Tiong-liu.”

“Kuan Tiong-liu?” Kongsun Hong mengerutkan keningnya. “Bagaimana rupanya?”

“Masih sangat muda. Pakaiannya putih. Dia membawa dua orang bocah yang kalau tidak salah bernama Jit Po dan Liok … apa ya?”

“Apakah namanya Jit Po dan Liok An?”

“Betul.”

“Apakah orang ini mempunyai kebiasaan menggunakan mangkuk dan sumpitnya sendiri setiap makan?”

“Betul,” tampaknya setiap waktu Sao-laopan akan semaput.

“Rupanya dia lagi,” kata Tok-ku Hong sambil menggertakkan giginya.

“Ke mana orang itu sekarang?” tanya Kongsun Hong kembali.

“Kalau tidak salah dia pergi melalui hutan,” sahut Sao-laopan.

“Kalau melalui hutan, tempat satu-satunya yang berada di jurusan itu hanyalah Bu-tong-san. Apakah orang ini juga murid Bu-tong-pai?” kata Kongsun Hong agak heran.

“Kalaupun bukan, tujuannya pasti Bu-tong-san,” sahut Tok-ku Hong.

Kongsun Hong merenung sejenak, “Bukankah Suhu telah memerintahkan Han-ciang Tiau-siu mengintai gerak-gerik Bu-tong-pai di sekitar ini?”

“Memang betul.”

“Kita harus mengirim surat lewat merpati pos segera, suruh Han-ciang Tiau-siu mengadang orang itu.”

“Betul!” Tok-ku Hong setuju dengan usul itu. Dia segera menghambur keluar kamar. Kongsun Hong mengikuti di belakangnya. Baru beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya dan mendelik ke arah Sao-laopan.

“Sao-laopan … Kami percaya apa yang kau katakan. Tapi apabila ada setengah kata saja kau berdusta, maka ….”

“Kau akan merasakan seperti apa yang terjadi pada teko itu!” teriak Tok-ku Hong sambil menolehkan kepalanya. Tangannya mengebas, “sret!”, sebilah golok liu-yap-to meluncur ke arah teko teh yang ada di samping Sao-laopan.

Sinar dingin berkelebat, teko teh pecah menjadi dua bagian. Pisau itu masih meluncur terus dan menancap di atas tempat tidur. Sao-laopan terkejut sekali. Setelah terhuyung-huyung sejenak, dia semaput kembali.

*****

Air sungai mengalir jernih. Tengah hari sudah lewat, namun senja belum menjelang.

Seorang pengail bertopi pandan duduk di atas sebuah batu di tepi sungai. Dia hanya seorang diri dan tampak sedang terkantuk-kantuk. Batang kailnya berwarna hijau kehitaman, sedangkan tali pancingnya agak kasar dari yang biasa. Bambu dan tali pancing itu bergerak-gerak berkilauan disoroti sinar matahari.

Tidak terlihat seekor ikan pun. Sinar mata pengail itu tertumpu pada batang bambu di tangannya. Sulit menduga apakah dia sedang merasa kecewa atau tidak. Tangannya yang menggenggam batang bambu masih demikian mantap.

Sehelai daun terbawa aliran air sungai. Kuan Tiong-liu berdiri di ujung perahu seorang diri. Tampaknya dia sedang menikmati keindahan pemandangan pada kedua tepian sungai. Jit Po dan Liok An duduk di dalam perahu. Tampaknya mereka tidak terbiasa naik perahu. Di bagian buritan ada seorang nelayan. Tangannya juga memegang sebatang bambu sebagai alat untuk memancing.

Perahu melintas. Pengail tua tadi menggerakkan batang bambunya. Dia menariknya kencang-kencang. Tali pancing terungkit dari dalam air, “byar!” kailnya tersangkut di bagian ujung perahu.

Perahu yang sedang melintas mengikuti arus air itu berhenti seketika. Pengail tua itu mengerahkan tenaganya. Sekali tali pancing ditariknya, perahu tersebut tertarik olehnya. Lalu perlahan mendekati tepian sungai. Rupanya yang dipancing oleh pengail tadi bukan ikan tapi manusia.

Nelayan yang berada di buritan terkejut sekali. Jit Po dan Liok An memalingkan wajahnya memandang Kuan Tiong-liu. Anak muda itu seperti tidak merasakan apa-apa. Dia juga menatap ke arah pengail tua tersebut.

Perahu semakin dekat ke tepian sungai. Tiba-tiba tubuh Kuan Tiong-liu melesat di udara dan mendarat di samping pengail tua itu. Penampilannya sangat tenang, bahkan di wajahnya terlihat sekulum senyuman. Liok An dan Jit Po segera mengikuti gerakan tuan mudanya. Mereka mendarat di samping Kuan Tiong-liu. Senyuman anak muda itu semakin lebar.

Nelayan tua di atas perahu segera menyurutkan badannya. Sedangkan pengail di tepi sungai sama sekali tidak mempedulikan mereka. Tali pancingnya ditarik kembali. Dia membalikkan tubuhnya perlahan.

“Merepotkan kau orang tua,” kata Kuan Tiong-liu setengah bergumam.

Pengail tua itu tampak terpana.

“Oh? Apakah kau tahu siapa aku?”

“Orang yang menggunakan pancingan sebagai senjata siapa lagi kalau bukan Siang-ciang Hi-ing?”

“Termasuk makhluk apa Siang-ciang Hi-ing itu? Orang yang menggunakan pancingan sebagai senjata, memangnya cuma dia saja?” sahut pengail tua itu sambil mendengus dingin.

“Sebetulnya masih ada satu lagi Han-ciang Tiau-siu,” kata Kuan Tiong-liu dengan nada dingin. “Tapi dengan kedudukan seperti orang tua itu, mana mungkin dia sudi duduk di tepi sungai menunggu aku?”

“Bocah busuk! Lidahmu tajam sekali!” pengail tua itu melepaskan topi pandannya. Terlihat rambutnya yang sudah memutih. Wajahnya sudah keriput semua. “Aku memang Han-ciang Tiau-siu,” katanya.

“Ternyata memang kau orang tua!” Kuan Tiong-liu pura-pura terkejut. “Harap maafkan boanpwe yang tidak tahu aturan. Entah apa yang kau inginkan orang tua?”

“Kuan Tiong-liu!” teriak Han-ciang Tiau-siu. “Kau menghancurkan cabang tiga belas Bu-ti-bun kami. Dan kau juga membunuh anggota-anggotanya. Lohu hari ini akan menjernihkan utang piutang ini.”

“Apakah Lojinke (orang tua) juga merupakan anggota Bu-ti-bun?” tanya Kuan Tiong-liu bersandiwara.

“Tidak salah! Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong.”

“Boanpwe ingin bertanya kepada Lojinke, entah apa kedudukanmu di Bu-ti-bun?”

“Hu-hoat!”

“Boanpwe semakin tidak mengerti,” kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa dingin. “Locianpwe pernah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun. Dengan kedudukan locianpwe, mengapa sudi menurunkan derajat menjadi hu-hoat orang?”

“Jangan banyak bicara!” sahut Han-ciang Tiau-siu dengan wajah garang.

“Setelah membunuh anak buah Bu-ti-bun, kau orang tua segera menampilkan diri. Apabila boanpwe membunuh engkau, apakah Tok-ku Bu-ti akan mencariku untuk membalaskan dendam bagimu?” tanya Kuan Tiong-liu sinis.

“Besar sekali mulutmu. Tidak heran kau berani membunuh anak buah Bu-ti-bun,” kata Han-ciang Tiau-siu marah.

“Jangan kata baru anak buah, hu-hoatnya juga aku berani bunuh!”

Han-ciang Tiau-siu malah tertawa terbahak-bahak.

“Bagus! Hari ini aku orang tua harus memberi pelajaran kepadamu!” batang bambunya segera diangkat ke atas.

Jit Po juga mengeluarkan pedang pendeknya. Han-ciang Tiau-siu menutul kakinya dan melayang sejauh tiga depa di mana terdapat sebuah tanah kosong.

“Ke sini!” katanya.

Kuan Tiong-liu menghunus pedangnya. Pergelangan tangan digetarkan. Sekali loncat dia juga sudah berada di tanah kosong itu dan berdiri berhadapan dengan Han-ciang Tiau-siu.

“Silakan!” katanya.

Han-ciang Tiau-siu berteriak lantang, pancingannya segera digerakkan dan mengincar tiga urat darah mematikan Kuan Tiong-liu. Pancingan tersebut merupakan senjata di luar senjata. Orang yang menggunakan senjata semacam ini harus mempunyai tenaga dalam yang kuat.

Kuan Tiong-liu juga sadar bahwa pengail tua ini pernah menggetarkan dunia kangouw dua puluh tahun yang silam. Ilmu silatnya tinggi sekali. Dia tidak berani memandang ringan. Tubuhnya meleset dengan ringan. Pedangnya yang bergerak cepat menangkis datangnya pancingan Han-ciang Tiau-siu. Kemudian dia balas menyerang.

Belum lagi pedangnya sempat mencapai sasaran, pancingan Han-ciang Tiau-siu kembali meluncur di samping kepalanya. Kemudian tali pancing ditarik kembali dan dilontarkan ke arah dada Kuan Tiong-liu.

Kuan Tiong-liu menggeser sedikit tubuhnya dan membiarkan pancing itu lewat. “Ting!”, pedangnya digerakkan dan menebas batang bambu di tangan Han-ciang Tiau-siu. Orang tua itu memutar tubuhnya, persis seekor ikan yang berenang dengan gesit. Tali pancingnya bergerak mengarah tenggorokan Kuan Tiong-liu. Pemuda itu berhasil menghindar, namun kembali pancingan sudah melayang kembali dan mengancam tujuh buah jalan darahnya.

Pemuda itu menutulkan kakinya ke tanah dan melayang di udara. Serangan pancingan itu luput semuanya. Sikap Kuan Tiong-liu sangat tenang. Mungkin hal ini pula yang membuat Han-ciang Tiau-siu semakin kesal.

“Hari ini Lohu akan membuat kau menjadi umpan ikan!” teriaknya keras. Sekali lagi bambu di tangannya digetarkan.

Sampai saat itu Kuan Tiong-liu masih belum banyak melakukan serangan. Dia hanya bergeser dan berputaran menghindari ancaman senjata Han-ciang Tiau-siu. Seratus dua puluh tujuh jurus sudah berlalu. Kuan Tiong-liu tidak ingin main-main lagi. Sudah cukup baginya untuk menjajaki ilmu yang dimiliki Han-ciang Tiau-siu.

Kakinya bergerak cepat, pedang berkelebat. Tubuhnya berubah menjadi bayangan. Han-ciang Tiau-siu tidak mengira anak semuda itu sudah mempunyai kepandaian demikian tinggi. Dia bersikap hati-hati. Tapi Kuan Tiong-liu bukanlah Kuan Tiong-liu kalau dia mau memberi kesempatan kepada musuhnya. Pedangnya seakan menari-nari di udara. Han-ciang Tiau-siu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas menyerang. Dia sudah terdesak mundur beberapa langkah. Sedangkan pedang Kuan Tiong-liu masih merandek terus. Tampaknya sekarang pemuda itu yang mempunyai posisi di atas angin.

Han-ciang Tiau-siu berhasil menghindarkan diri. Kali ini dia sempat menggerakkan pancingannya, namun malang, pedang Kuan Tiong-liu yang secepat kilat sudah berada di depan mata. Sedangkan Han-ciang Tiau-siu terjatuh ke dalam sungai.

Gerakan pedang Kuan Tiong-liu berhenti. Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak. Tidak lama kemudian, terlihat Han-ciang Tiau-siu menyembulkan kepalanya dari dalam air. Tubuhnya melesat dan berjungkir balik beberapa kali. Akhirnya dia berhasil mencapai seberang sungai.

Sekali lagi Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak. “Sungguh banyak orang aneh di dunia ini. Seorang Hu-hoat Bu-ti-bun saja tidak malu berbuat demikian, aku harap murid Bu-tong-pai tidak akan membuat aku kecewa,” katanya.

Ternyata dia memang benar-benar hendak menuju Bu-tong-san. Sebetulnya apa yang diinginkan Kuan Tiong-liu? Apakah dia bermaksud mengadu kepandaian dengan murid Bu-tong-pai?

*****

Matahari belum tenggelam. Keenam murid Bu-tong-pai yaitu Pek Ciok, Kim Ciok, Giok Ciok, Cia Peng, Yo Hong dan Fu Giok-su masih berlatih dengan giat. Mereka berdiri di atas sebuah batu. Keenam orang tersebut membentuk lingkaran. Hanya ada sebuah celah di bagian dalam dan di depannya Ci Siong tojin berdiri.

Ci Siong tojin masih belum sehat, wajahnya masih terlihat pucat. Sejenak kemudian dia berjalan menuju sebatang kayu tinggi dan duduk di sana. Dia memperhatikan murid-muridnya berlatih. Setelah cukup puas, dia pindah ke atas sebuah batu berbentuk pat-kwa. Batu itu dapat berputar segala arah. Asalkan Ci Siong tojin menumpu tangannya ke samping dan mengentak. Dengan demikian, dia dapat memperhatikan muridnya satu per satu dan melihat kemajuan latihan mereka. Wajahnya tidak kelam. Tampaknya dia cukup puas dengan hasil yang dicapai keenam muridnya itu.

Keringat sudah membasahi tubuh keenam orang itu. Tapi mereka tidak bermaksud berhenti berlatih. Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong setia kepada Bu-tong-pai, sedangkan Fu Giok-su memikul beban dendam keluarganya. Suara teriakan lantang terus terdengar. Kumandangnya mengaung sampai ruangan depan.

*****

Wan Fei-yang melewati tempat latihan itu. Mendengar suara teriakan, langkah kakinya segera diperingan. Dia seperti terpesona. Tanpa sadar langkah kakinya semakin mendekati tempat keenam orang itu berlatih.

Dua orang murid Bu-tong menjaga di luar. Wan Fei-yang yang melihat mereka, segera menyadari apa yang akan terjadi apabila dia meneruskan langkahnya. Namun dia tetap nekat. Dia menghampiri kedua murid Bu tong yang sedang menjaga itu. Tiba-tiba salah satunya mengadang di depan Wan Fei-yang, “Berhenti!”

“Untuk apa kau datang ke tempat ini?” tanya yang satunya lagi.

“Mengantarkan minuman untuk para suheng yang sedang berlatih.” Hal ini memang benar. “Suheng berdua menjaga di sini sekian lama, tentu kalian juga sudah lelah dan haus.”

“Oleh karena itu, jangan lupakan bagian kami,” sahut salah satunya.

“Tentu saja ….” sahut Wan Fei-yang sambil meletakkan teko teh dan beberapa cawan di lantai. Dia menuangkan secawan teh untuk masing-masing orang itu.

Warna teh sangat pekat, harumnya semerbak. Sekali lihat saja, kedua murid Bu-tong itu segera tahu bahwa teh yang disuguhkan diseduh dari daun teh yang baik. Apa lagi setelah menghirup wanginya. Kerongkongan mereka semakin kering saja rasanya.

“Harum sekali,” kata salah satu orang itu tanpa sadar.

“Ini adalah teh Lung-cing sebelum musim hujan. Para suhu biasanya menyuguhkan tamu dengan teh sejenis ini,” kata Wan Fei sembari mengangkat kembali bakinya dari lantai.

“Tidak heran …” setelah meminum tanpa sadar kedua murid Bu-tong itu menghirupnya dalam-dalam. “Teh Lung-cing sebelum musim hujan memang paling bagus. Dapat menghilangkan dahaga dan menurunkan demam badan. Lain dengan teh umumnya,” kata salah satu penjaga tersebut.

Wan Fei-yang tidak ingin kehilangan kesempatan baik. “Suheng berdua silakan menikmati perlahan-lahan. Aku akan mengantarkan teh ini ke dalam,” sahutnya buru-buru.

“Baik!” kata penjaga itu sambil terus memuji tiada hentinya.

Wan Fei-yang membawa baki berjalan ke depan. Mereka sama sekali tidak mempedulikannya. Hatinya gembira sekali. Belum sempat dia mendorong pintu ruangan itu, salah seorang murid Bu-tong sudah berdiri dan memalingkan wajahnya.

“Berdiri di tempat!” bentaknya.

Wan Fei-yang terpana. Orang itu mengulurkan tangannya dan mencengkeram, leher baju anak muda itu. “Mau ngintip? Tidak begitu mudah!”

Penjaga yang satunya segera menghampiri. “Kau bermaksud menyuap kami dengan secangkir teh Lung-cing sebelum musim hujan? Kau kira kami tidak tahu apa maksudmu?” bentaknya marah.

“Kelihatannya kau cukup jujur, siapa tahu hatimu demikian licik. Sayang sekali kau bertemu dengan kami.”

“Jangan mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Kami yang akan membawa teh ini ke dalam. Kau kembali dan teruskan pekerjaanmu.”

Kedua orang itu saling sahut-menyahut mengatasinya. Kemudian salah seorang penjaga itu mengambil baki dari tangan Wan Fei-yang. Sedangkan rekannya yang lain mencengkeram leher baju anak muda itu dan melemparkannya keluar dari tempat tersebut.

*****

Air kolam sangat jernih. Memandangi bayangan sendiri di dalam kolam, perasaan Wan Fei yang sangat tertekan. Dia benar-benar tidak mengerti. Mengapa Ci Siong tojin tampaknya begitu sentimen kepadanya.

Angin malam membawa keharuman dedaunan dari pegunungan. Di dalam kolam yang jernih terlihat seekor ikan lele sedang berenang ke tepian. Mata Wan Fei-yang mengedar. Tiba-tiba dia mengembangkan sebuah senyum. Tidak ada orang di sekitarnya. Dia mengulurkan tangan secepat kilat dan menangkap ikan lele itu.

“Wan-ji, aku berhasil menangkap seekor ikan lele!” teriaknya tanpa sadar kemudian menghambur keluar.

Lun Wan-ji tidak berada di sekitar situ, tentu saja dia tidak dapat mendengarkan teriakannya. Kenyataannya malah dia tidak tahu bagaimana perasaan Wan Fei-yang kepadanya.

*****

Malam mulai larut.

Di taman bunga sunyi tiada seorang pun. Sepasang tangan Wan Fei-yang memegang sebuah panci kecil. Dia berjalan melalui tembok pembatas taman. Tujuannya kamar Lun Wan-ji. Langkah kakinya dibuat seringan mungkin. Dia mondar-mandir di depan pintu kamar. Beberapa kali dia mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu. Namun entah kenapa, dia membatalkannya lagi.

Kalau melihat tampangnya, kelihatan sekali dia gugup. Tangannya yang sudah terangkat ditarik kembali, kemudian diangkat lagi lalu ditarik kembali. Entah kemana hilangnya keberanian dalam hati anak muda itu.

Akhirnya dia mendapat akal. Perlahan dia meletakkan panci kecil itu di atas tanah. Dan dia merasa perbuatannya itu sudah tepat. Dia menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia membalikkan tubuh dengan maksud meninggalkan tempat itu.

Namun begitu dia membalikkan tubuhnya, dia melihat seseorang. Mata Wan Fei-yang membelalak, mulutnya terbuka lebar. Orang itu adalah Lun Wan-ji. Dia berdiri di gerombolan bunga yang ada di dekatnya. Wan Fei-yang malah tidak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di situ.

Dengan perasaan heran dia menatap Wan Fei-yang. “Untuk apa kau menaruh panci kecil di depan pintu kamarku?” tanyanya.

Wajah Wan Fei Yan merah padam. Untung saja pada saat itu bulan tak menampakkan seluruh dirinya sehingga remang-remang dan Wan-ji pasti tidak akan memperhatikan.

“Aku … aku dengar kau sedang kurang sehat. Tidak mau makan nasi. Maka aku memasakkan sedikit bubur untukmu ….” sahut Wan Fei-yang salah tingkah.

“Kau sungguh baik.”

Hati Wan Fei-yang senang sekali mendengar pujian itu. “Wan-ji kouwnio, mumpung masih hangat ….”

Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Tolong bawakan ke dalam ya ….” katanya sambil mendorong pintu kamar.

“Baik,” sahut Wan Fei-yang sambil mengangkat panci berisi bubur itu dan membawanya masuk ke dalam kemudian meletakkannya di atas meja.

“Oh ya … mengapa tadi tingkahmu aneh sekali. Aku lihat kau sudah beberapa kali mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu tapi tidak jadi,” tiba-tiba Wan-ji bertanya.

Wajah Wan Fei-yang merah padam, “Aku … aku sebetulnya malu bertemu lagi denganmu.”

“Oh?”

“Sebelumnya aku mengatakan bahwa Ciangbunjin akan menerima aku sebagai murid. Ternyata … ternyata tidak. Kau pasti mengira aku berdusta lagi.”

“Siau Fei … bagaimana sifatmu aku sangat paham. Kalau memang mau disalahkan, salahkan nasibmu yang buruk,” sahut Wan-ji menghibur.

Mendengar kata-kata itu, perasaan tertekan Wan Fei-yang menjadi lenyap seketika. Lun Wan-ji membuka tutup panci berisi bubur itu.

“Begini banyak? Aku sendirian bagaimana mungkin menghabisikannya. Kau juga makan sedikit ya,” kata gadis itu sambil tersenyum manis.

“Aku ….”

“Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak ….”

“Aku makan … aku makan.” sahut Wan Fei-yang panik. Dia cepat-cepat menyendokkan semangkuk penuh untuk Lun Wan-ji.

Lu Wan-ji menerimanya dan mencoba satu sendok. Tanpa sadar dia memuji, “Enak sekali.” Kepalanya manggut-manggut, “Rasanya manis lagi.”

“Tentu saja. Aku memasaknya dengan mencampurkan seekor ikan lele.”

“Benar?” Lu Wan-ji tersenyum. “Merepotkan kau saja,” katanya.

Melihat kegembiraan Lun Wan-ji, hati Wan Fei-yang senang bukan kepalang.

*****

Sambil bercakap-cakap dan tertawa, akhirnya bubur sepanci itu habis juga. Tadinya Wan Fei-yang menganggap terlalu banyak, sekarang malah merasa kekurangan. Dia berharap dapat agak lama bersama gadis itu. Maka ketika dia membereskan panci dan mangkuk kotor, dia sengaja bekerja lambat-lambat.

Malam semakin larut. “Cring!”, tiba-tiba semilir angin mengumandangkan sebuah suara. Kedengarannya begitu dekat, namun sepertinya juga sangat jauh. Itu adalah suara harpa. Mendengar dentingan itu, hati Lun Wan-ji semakin gembira. Sebetulnya dia senang membantu Wan Fei-yang membereskan perabotan makan mereka, wajahnya tersenyum terus. Sekarang senyuman semakin lebar, namun gerakan tangannya juga menjadi cepat. Wan Fei-yang malah tidak memperhatikan.

“Taruh saja di situ. Nanti aku yang mencucinya,” kata Wan-ji.

“Tidak usah … tidak usah .…” baru saja dia menumpukkan perabotan itu menjadi satu Wan-ji sudah menghambur keluar.

Wan Fei-yang terpaksa mengikutinya Suara dentingan harpa masih terus berbunyi, Wan-ji keluar dari kamarnya karena tertarik oleh suara harpa tersebut. Pikirannya seperti melayang-layang. “Kalau begitu aku tidak mengantarmu lagi,” kata gadis itu selanjutnya,

“Tidak usah …” sahut Wan Fei-yang gugup. Dia masih ingin meneruskan kata-katanya, tapi Wan-ji sudah mempercepat langkahnya ke depan.

Arah yang diambilnya menuju taman depa Apa yang membuatnya demikian tergesa-gesa? Wan Fei-yang masih merasa heran ketika melihat sesuatu terjatuh dari pinggang Wan-ji. Dia cepat-cepat memanggil gadis itu, “Wan-ji kouwnio ….”

“Lain kali kita ngobrol lagi panjang lebar,” sahutnya tergesa-gesa. Sekali berkelebat, tubuhnya menghilang di tikungan.

Mendengar ucapannya, kembali Wan Fei-yang terpana. Akhirnya dia mempercepat langkahnya. Sebuah dompet kain bersulam indah tergeletak di atas lantai. Tidak diragukan lagi kalau benda itu milik Wan-ji. Gadis itu selalu membawanya ke mana saja, bagaikan harta kesayangan. Biasanya dia sangat memperhatikan dompet ini. Mengapa sekarang begitu mudah terjatuh dari sakunya?

Apakah dia sengaja meninggalkannya untukku? Wan Fei-yang membungkukkan tubuhnya mengambil dompet kain tersebut. Dia memandanginya dengan termangu-mangu.

*****

Suara harpa berasal dari bawah sebatang pohon siong tua. Bintang rembulan bersinar redup. Pohon siong berdiri tegak. Giok-su yang duduk dibawah pohon siong dengan wajah termenung, tampak semakin tampan memikat.

Sebuah harpa bersenar lima tergeletak di atas sebuah batu di hadapannya. Kedua jari tangannya bergerak gemulai. Laksana tenggelam dalam alunan harpanya sendiri. Wan-ji melangkah mendekati dengan mengendap-endap. Dia tidak ingin menimbulkan sedikit suara pun yang akan mengejutkan anak muda tersebut.

Namun Giok-su telah mengetahui kehadirannya. Tangannya masih memainkan harpa.

“Sumoay … kau rupanya ….”

Wan-ji tersenyum manis. “Suheng … teruskan saja permainanmu,” sahutnya.

Giok-su membalas senyumnya. Suara dentingan harpa masih terus berlanjut. Wan-ji duduk di atas sebuah batu yang terdapat di samping anak muda itu. Dia mendengarkan dengan segenap perhatian. Sekejap saja dia sudah terlena oleh buaian alunan harpa tersebut.

Ditilik dari keadaannya, dia pasti bukan untuk pertama kali mendengar Fu Giok-su memetik harpa. Lagi pula dia juga tentu senang sekali mendengarkannya. Mata Giok-su menatap ke arah Wan-ji. Sepasang jari tangan tetap menari-nari di atas alat musik tersebut. Iramanya tidak sumbang sama sekali. Tentu sudah lama dia mempelajari ilmu yang satu ini.

Irama harpa itu ibarat air sungai yang mengalir, segala perasaan seakan hanyut bersamanya. Sambil memetik harpa, pikiran Giok-su semakin melayang-layang. Wan-ji tidak merasakannya.

Giok-su tersenyum simpul, “Sumoay … bagaimana menurutmu irama yang aku mainkan ini?”

“Bagus sekali,” sahut Wan-ji bagai tersadar dari mimpi.

“Aku gembira kau menyukainya.”

“Kenapa? Apakah kau sengaja memetiknya untukku?”

Giok-su tersenyum tanpa menyahut. Wajah Wan-ji merah padam. “Suheng, kau Bun-bu-coan-cai (pendidikan dan ilmu silat dikuasai dengan baik). Benar-benar mengagumkan,” katanya.

“Lagi-lagi kau berkata demikian,” sahut Giok-su tersipu-sipu.

“Betul kok …. Suheng, kapan kau akan mengajarkan aku memetik harpa?” tanya Wan-ji selanjutnya.

“Kau benar-benar mau mempelajarinya?”

“Aku serius. Katakan … kapan kau mau mengajarkan aku?”

“Bagaimana kalau sekarang saja?”

Wan-ji tidak mau kehilangan kesempatan baik, dia segera menganggukkan kepalanya dan menghampiri Giok-su. Anak muda itu berdiri dan membiarkan Wan-ji duduk di hadapan batu di mana harpa itu tergeletak. Sepasang jari tangannya menekan di atas senar.

“Beginikah caranya?”

Giok-su menggelengkan kepalanya. Jarinya menyentuh senar perlahan, “Perhatikan baik-baik.”

Jarak antara kedua orang itu sedemikian dekat. Giok-su bisa mencium bau harum yang terpancar dari tubuh Wan-ji. Jarinya menyentil, “tring!”, denting suara harpa menggetarkan sanubarinya.

Wan-ji belum paham juga. Jarinya mengikuti gerakan Giok-su, namun nadanya demikian rendah dan tidak enak didengar. Dua pasang mata saling pandang. Wajah Wan-ji menampakkan rona memerah. Kepalanya tertunduk malu.

“Mengapa aku tidak bisa memainkannya seperti engkau?”

“Karena gerakanmu salah. Meskipun jari kirimu sudah betul, tetapi tenaga sentilan jari kanan kurang tepat. Seharusnya begini …” perlahan Giok-su mengulurkan tangannya menyentuh jari Wan-ji lembut.

Wan-ji membiarkannya. Dia tidak melepaskan tangan anak muda itu. Wajahnya merah padam. Giok-su memang tidak dapat melihatnya namun dia merasakan tangan Wan-ji bergetar terus.

Sekali lagi terdengar suara “cring!”. Akhirnya nada suara yang terdengar persis seperti yang dimainkan Giok-su sebelumnya.

“Betul kan?”

Lu Wan-ji tidak mengucapkan sepatah kata pun.

*****

Penerangan di dalam kamar redup sekali. Tangan Wan Fei-yang masih menggenggam dompet kain itu. Dia duduk termenung di sisi tempat tidur. Masih terbayang di pelupuk matanya ketika dia menikmati bubur ikan bersama Wan-ji.

Bibirnya tersenyum. Begitu lugunya sehingga mirip orang bodoh. Entah berapa waktu sudah berlalu, akhirnya dia tersadar dari lamunannya. Dia mengedarkan pandangannya lalu meloncat dari tempat tidur. Dia sibuk mencari-cari, akhirnya dia berhasil menemukan secarik kertas dan sekotak tinta. Dia duduk termenung di samping meja.

Alisnya berkerut. Lama sekali dia baru tersenyum-senyum. Dia mulai menggosok-gosok tempat tintanya. Kemudian mulai menulis. Jangan lihat tampangnya ketolol-tololan, ternyata tulisannya boleh juga.

*****

Lentera semakin redup. Di atas lantai berserakan puluhan carik kertas yang telah terpuntel-puntel. Wan Fei-yang menulis lagi beberapa huruf, dia membacanya sekilas. Akhirnya dia meremas kertas itu dan membuangnya lagi ke atas lantai. Dia melakukannya berulang kali. Kenyataannya, menulis surat bukanlah bakat anak muda itu. Namun setelah mencoba lagi beberapa kali, dia berhasil juga menyelesaikan sepucuk surat.

Wan Fei-yang mengibas-ngibaskan surat di tangannya agar tinta tulisannya cepat kering. Setelah itu dia membaca sekali lagi, kemudian melipatnya baik-baik. Dia memandangi dompet kain yang harum itu, kemudian matanya beralih kembali pada surat di tangannya. Ia harus mengambil keputusan. Dimasukkannya lipatan surat tersebut ke dalam dompet kain tadi, lalu dia kembali duduk dengan termangu-mangu.

Sinar matanya menerawang. Bibirnya tersenyum. Tangannya menggenggam dompet kain tersebut erat-erat. Lalu dia memantapkan hatinya dan keluar dari kamar. Baru berjalan beberapa langkah, dia berhenti lagi. Tangannya mendekap dada. Terdengar suara Tik! Tak! Tik! Tak! Detak jantung yang berdebaran. Dia berdiri merenung sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamar. Dari kotak kayu di kolong tempat tidur, dia mengeluarkan sebotol arak. Dia teguk arak itu dengan pikiran kacau. Setelah beberapa teguk, wajahnya mulai merah. Pakaiannya juga ikut basah terciprat arak yang berceceran. Dia tidak peduli akan semua itu. Entah karena semangatnya terpancing atau karena pengaruh arak itu sendiri, akhirnya dia meletakkan botol arak di atas meja dan menghambur keluar dari kamarnya.

*****

Dengan penuh semangat dia berlari menuju kamar Wan-ji. Langkahnya berhenti di depan pintu. Matanya celingukan seperti maling. Di dalam taman itu hanya ada Wan Fei-yang seorang. Perlu diketahui bahwa rumah jaman dahulu berbeda dengan jaman sekarang, di setiap bagian terdapat taman yang indah. Biasanya di samping taman-taman itu terdapat beberapa kamar tidur atau ruang tamu.

Wan Fei-yang menggertakkan giginya. Dia mengeluarkan dompet kain dari balik pakaiannya kemudian menghambur ke kamar Wan-ji. Namun sampai undakan batu, dia melambatkan kembali langkah kakinya.

Dari dalam kamar terlihat penerangan. Wan Fei-yang mondar-mandir di depan kamar. Sejenak kemudian dia menuruni undakan batu kembali. Mulutnya membuka. Perkataan yang sudah di ujung lidah ditarik kembali. Melihat tampangnya, tampaknya lebih gugup daripada ketika mengantarkan bubur tadi. Karena yang dibawanya sekarang adalah sepucuk surat.

Dia berjalan memutari taman tersebut dengan harapan seperti sebelumnya, Wan-ji berdiri di belakangnya dan menegur. Dengan demikian dia tidak menemukan kesulitan memberikan surat itu kepada sang gadis. Dia berjalan berputaran, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki. Asalnya dari belakang ….

Langkah kaki terhenti. Wan Fei-yang pura-pura tidak tahu. Dia menunggu sampai suara langkah kaki semakin mendekat baru menolehkan kepalanya ….

“Wan ….”

Baru sepatah kata itu keluar dari mulutnya, wajah Wan Fei-yang segera tertegun. Sepasang tangannya buru-buru diselinapkan ke belakang. Orang yang datang itu bukan Wan-ji melainkan Gi-song.

Hidung tosu itu sedang bergerak mengendus-endus. Wan Fei-yang tertawa sumbang. Sepasang tangannya masih bersembunyi di belakang punggung.

“Apa yang sedang kau lakukan?” akhirnya Gi-song mengajukan pertanyaan.

“Tidak apa-apa … aku sedang … menikmati indahnya rembulan.”

“Kurang ajar! Hari ini tanggal satu, mana ada rembulan yang dapat dinikmati?” bentak Gi-song marah.

Wan Fei-yang terpana. Dia mendongakkan wajahnya. Di atas langit bulan hanya menyembulkan kepalanya sedikit. Bintang-bintang justru bertaburan. Sekali lagi hidung Gi-song bergerak- gerak.

“Kau baru minum arak?”

“Aku … aku ….”

“Apa yang kau sembunyikan di belakang tubuhmu?”

Wajah Wan Fei-yang panik sekali, “Aku … aku ti … dak menyembunyikan apa-apa!”

“Kemarikan!” bentak Gi-song sambil mengulurkan telapak tangannya. Sinar matanya laksana kilat.

Dengan terpaksa Wan Fei-yang menyerahkan dompet kain tersebut.

“Dompet kain?” Gi-song juga melihat surat yang terselip di dalamnya. “Apa lagi ini?” bentaknya sambil mengeluarkan surat tersebut.

Wajah Wan Fei-yang semakin ketakutan.

“Tengah malam buta, mulut bau arak, tangan memegang dompet perempuan. Tingkah laku mencurigakan. Hm … pasti kau melakukan perbuatan yang memalukan!” bentak Gi-song kembali.

“Aku … tidak ….” begitu paniknya Wan Fei-yang sampai tergagap-gagap.

“Tidak …?” Gi-song mengangkat dompet di tangannya. “Dari mana dompet ini?”

Wan Fei-yang menjadi serba salah, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Tepat pada saat itu, Giok-su mengiringi Wan-ji berjalan ke arah mereka. Melihat kedua orang itu, mereka mempercepat langkahnya.

Wan Fei-yang semakin panik melihat kehadiran Wan-ji. Gi-song memalingkan wajah ke arah gadis itu. Wan-ji memperlihatkan tampang heran.

“Susiok … mengapa dompetku bisa ada di tanganmu?” tanyanya.

“Ini kepunyaanmu?” Gi-song terpana sejenak. Kemudian dia menuding kepada Wan Fei-yang, “Mengenai persoalan ini, kau harus bertanya kepada bocah itu. Aku mendapatkannya dari dia.”

Wan-ji tertegun. Dia memandang ke arah Wan Fei-yang. Anak muda itu hanya tertawa getir.

“Di dalamnya ada sepucuk surat,” kata Gi-song selanjutnya. Dia mengeluarkan surat tersebut dan mengibas-ngibaskannya.

“Surat itu bukan kepunyaanku,” sahut Wan-ji.

“Lalu siapa punya?” tanya Gi-song sambil membuka surat itu. “Di bawahnya tercantum nama ‘Wan Fei-yang’” Matanya mendelik kepada anak muda itu. Wan Fei-yang hampir semaput dibuatnya.

“Giok-su … coba lihat apa yang tertulis di dalamnya,” kata Gi-song sambil menyerahkan surat tersebut kepada Giok-su.

Giok-su menerima surat itu dengan enggan, “Wan-ji-moay …” Baru membaca tiga huruf, alisnya langsung berkerut.

Gi-song juga tertegun. “Teruskan!” bentaknya.

“Sehari tidak bertemu bagaikan tiga musim dingin ….”

Wan-ji tidak mengerti apa yang dimaksudkan. Wajah Wan Fei-yang sudah merah seperti kepiting direbus.

“Giok-su, apa sebetulnya yang kau baca? Apakah kau tidak salah baca?”

“Tecu hanya membaca apa yang tertulis dalam surat ini.”

Gi-song merebut surat itu dari tangan Giok-su. Dia menyerahkannya kembali kepada Wan Fei-yang, “Kau saja yang baca!”

Wan Fei-yang terpaksa menerima surat itu. Dia berdiri dengan tubuh gemetar. Mulutnya terkatup rapat-rapat.

“Baca!” bentak Gi-song sekali lagi.

Wan Fei-yang menenangkan hatinya. Akhirnya dia mulai membaca. “Wan-ji-moay … sehari tidak bertemu seakan berpisah tiga kali musim semi.”

Tiba-tiba Gi-song tertawa terbahak-bahak, “Oh … rupanya surat cinta.”

Wan-ji yang berdiri di samping mulai marah. Matanya mendelik ke arah Wan Fei-yang. Tanpa berpikir panjang lagi dia menghambur masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sekuat-kuatnya.

Dengan wajah ketakutan Wan Fei-yang menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Giok-su segera menengahi. “Wan-heng … malam sudah larut, lebih baik kau kembali ke kamar dan beristirahat,” katanya.

Tentu saja Wan Fei-yang mengerti Giok-su sedang membantunya. Dia menganggukkan kepala lalu membalikkan tubuh dengan maksud meninggalkan tempat itu. Siapa tahu Gi-song segera mengadangnya. “Kau tidak boleh pergi begitu saja!” bentaknya garang.

“Tianglo …” hati Wan Fei-yang menjadi tegang kembali.

Giok-su segera menghampiri ….

“Susiok … masalah ini ….”

Gi-song tertawa dingin.

“Serahkan kepada Ciangbun-suheng. Lihat bagaimana dia menyelesaikannya.”

Mendengar kata-katanya, Wan Fei-yang semakin panik. Keringat sebesar kacang kedelai menetes di keningnya.

*****

Cahaya lentera remang-remang. Wajah Ci Siong tojin yang pucat menyiratkan rona merah, tampaknya sedang marah. Melihat keadaan itu, Giok-su tidak berani bersuara. Gi-song malah memperlihatkan rasa senang melihat penderitaan orang lain.

“Suheng, kali ini kau harus memberi pelajaran sepantasnya kepada orangmu itu,” sindirnya.

Ci Siong tojin malah menjadi tenang. Matanya menatap Wan Fei-yang lekat-lekat.

“Fei-yang, tanpa mengatakan berani berbuat adalah perbuatan maling. Kau sudah melanggar peraturan Bu-tong kita. Bagaimanapun kau harus menerima hukuman yang berat,” katanya tegas.

Kepala Wan Fei-yang tertunduk dalam-dalam.

“Mulai besok kau harus memikul air selama satu tahun,” kata Ci Siong tojin kembali.

“Terima kasih, Ciangbunjin,” Wan Fei-yang senang mendengar keputusan itu.

“Jangan gembira dulu. Yang Punco maksudkan adalah memikul air dari bawah gunung sampai atas sini,” kata Ci Siong tojin.

Tampang Wan Fei-yang berubah ketolol-tololan. Dari bawah gunung ke atas sini, dia tentu sudah dapat membayangkannya. Tanpa membawa apa-apa sudah pasti seluruh tubuh akan basah oleh keringat. Apa lagi mengangkut dua gentong air.

“Ada lagi …” wajah Ci Siong tojin sangat serius. “Sambil mengangkat dua gentong air, kau harus menghafal peraturan Bu-tong-pai, agar kelak bila akan berbuat kesalahan, kau akan mengingatnya kembali.”

Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya.

“Ada lagi …” tampaknya kata-kata Ci Siong tojin masih belum selesai juga.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Wan Fei-yang, “Ciangbunjin, harap kau orang tua melapangkan jiwa.”

Ci Siong tojin mengibaskan surat di tangannya. Dia tidak mempedulikan perkataan Wan Fei-yang. “Melihat banyaknya huruf yang salah kau tulis. Bu-tong-pai benar-benar malu sekali.”

Kepala Wan Fei-yang tertunduk semakin rendah.

“Giok-su … Suhu minta kau mengajarnya membaca dan menulis setiap hari. Bagaimana pendapatmu?” tanya Ci Siong tojin.

Giok-su segera maju ke depan dan membungkukkan tubuhnya, “Sudah lama tecu mempunyai niat yang sama, tapi ….”

“Tapi apa?”

“Tecu tidak berani lancang sebelum ada perintah dari suhu.”

“Maksudmu … dia belum tentu mau menerima maksud baikmu itu?”

“Bukan begitu. Fei-yang-heng jujur dan cerdas. Tapi kalau Suhu menghukumnya mengangkat air sepanjang tahun, sore harinya pasti dia sudah sangat lelah. Mana ada semangat untuk belajar lagi?” sahut Giok-su.

“Jadi maksudmu ….”

“Harap Suhu mengurangi masa hukumannya.”

“Apa yang kau katakan memang beralasan,” kata Ci Siong tojin setelah merenung sejenak. “Suhu akan bermurah hati sedikit. Hukuman mengangkat air dikurangi menjadi satu bulan saja.”

“Terima kasih, Suhu!” sahut Giok-su sambil menyenggol lengan Wan Fei-yang.

“Terima kasih Ciangbunjin,” kata Wan Fei-yang cepat-cepat. Tidak lupa dia menambahkan sepatah, “Terima kasih Fu-suheng.”

Gi-song mendengus dingin.

“Keluar!” bentak Ci Siong tojin sambil meremas surat di tangannya. Hancuran kertas segera membuyar dari tangannya dan beterbangan kemana-mana.

*****

Angin bertiup membuyarkan kabut yang tebal. Juga melambai- lambaikan rambut Kuan Tiong-liu. Jit Po dan Liok An masing-masing memegang harpa dan pedang mengiringi tuan mudanya dengan ketat.

Mereka sudah berada di kaki gunung Bu-tong-san. Memandang ke atas, gunung itu diselimuti kabut yang tebal dan melayang-layang. Seperti bukan suatu tempat yang nyata.

“Banyak pepatah yang mengatakan tentang keindahan pemandangan di suatu tempat. Bu-tong-san pernah diibaratkan sebagai tempat bersemayam para dewa. tampaknya memang tempat yang tepat untuk dikunjungi,” kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa datar.

Liok An maju ke depan dan memandang di kejauhan.

“Kongcu, di depan ada beberapa jalan kecil. Entah yang mana yang harus kita tempuh untuk mencapai Bu-tong-san?” tanyanya.

“Bukankah dengan bertanya kita akan segera tahu?” sahut Kuan Tiong-liu.

“Tanya siapa?” tanya Liok An mengedarkan pandangannya.

Kuan Tiong-liu juga menengok ke sekitar daerah itu. Kebetulan Wan Fei-yang mendatangi dari arah depan sambil menggotong dua gentong air. Sembari berjalan, mulutnya tidak henti menghafal.

“Peraturan Bu-tong-pai. Nomor satu, menghormati guru dan agama. Kedua, berlatih ilmu dengan giat. Ketiga, tidak boleh menghina yang lemah ….”

Dia sendiri tidak tahu berapa kali sudah dia mengulangi kalimat yang sama. Kata-katanya mulai kacau. Liok An mempercepat langkahnya menghampiri. Wan Fei-yang tampak tidak menyadari kehadirannya. Liok An terus mengejar. Akhirnya dia berhasil mendahului Wan Fei-yang. Dia mengadang di depan anak muda itu. Wan Fei-yang tertegun, kemudian dia bergeser ke samping dan meneruskan langkahnya.

“Hei! Kau … aku sedang bertanya … jalanan mana yang harus kutempuh untuk mencapai Bu-tong-san?” teriak Liok An.

Wan Fei-yang tidak mempedulikannya. Dia meneruskan hafalannya.

“Kesatu ….” suaranya mulai serak. Liok An tidak dapat mendengar dengan jelas.

Wan Fei-yang melanjutkan kembali hafalannya. “Kedua ….”

Liok An menjadi bingung. “Hei … sebetulnya jalan yang kesatu atau yang kedua?” teriaknya kesal.

“Ketiga ….”

Liok An tertegun sejenak, kemudian berpaling kepada tuan mudanya, “Kongcu, dia bilang jalanan ketiga yang harus kita tempuh untuk naik ke Bu-tong-san.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: