Kumpulan Cerita Silat

15/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (05)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — Tags: — ceritasilat @ 12:11 am

Ilmu Ulat Sutera (05)
Oleh Huang Ying

Air sungai beriak-riak. Kabut belum membuyar. Daerah di seberang sungai tidak terlihat. Namun airnya dapat terlihat jelas. Ci Siong tojin dan Fu Giok-su berdiri berendengan. Mata mereka menatap di kejauhan. Sinar mata Fu Giok-su menatap arah yang mereka lalui tadi. Ci Siong tojin menatap aliran yang seakan tidak terbatas.

Angin dingin melambaikan rambut Ci Siong tojin. Matanya berkedip satu kali. “Hari sudah terang,” katanya lirih.

“Mengapa mereka masih belum menyusul?” tukas Fu Giok-su tanpa sadar.

“Apakah kau menjanjikan keluargamu untuk bertemu di tempat ini?” tanya Ci Siong tojin.

“Aku mengatakan bahwa mereka harus menunggu aku di tempat peristirahatan dekat tepi sungai. Dalam jarak dua puluh li dari sini memang hanya ada satu tempat peristirahatan ini saja,” sahut Fu Giok-su sambil mengedarkan pandangannya dengan gelisah.

Sayup-sayup terdengar suara roda kereta. Namun datangnya dari arah yang berlawanan.

*****

Suara kereta semakin dekat. Akhirnya terlihat serombongan kereta membawa peti mati dalam jumlah banyak melintas di samping mereka. Puluhan laki-laki dengan bertelanjang dada dan kening berkeringat mendorong kereta-kereta tersebut. Sedangkan di bagian tengah berjalan seorang laki-laki bertubuh gemuk dan bertampang pengusaha. Dia memberi perintah kepada para laki-laki bertelanjang dada itu agar mendorong kereta berisi peti mati itu lebih cepat.

Fu Giok-su dan Ci Siong tojin saling melirik. Terlihat segurat kekecewaan pada sinar mata tosu tua tersebut. Fu Giok-su tidak dapat menahan diri lagi, dia segera maju ke depan menghampiri laki-laki bertubuh gemuk tersebut.

“Maaf, Laopan … mengapa begitu banyak peti mati?”

“Apa perlu ditanyakan lagi? Tentu saja karena yang mati juga banyak,” sahut laki-laki itu dengan wajah berseri-seri.

Fu Giok-su segera menjadi panik, namun dia berusaha untuk tidak terlihat. “Apakah pemerintah sedang menjalankan hukuman kepada para penjahat?” tanyanya kembali.

“Bukan. Rasanya urusan balas dendam pribadi. Di dalam kota kecil situ ada sebuah keluarga yang dibunuh bersih dalam satu malam. Justru pihak gubernur yang membereskan mayat-mayat mereka. Aku yang jadi korban, pagi ini juga aku sudah harus sampai di kota itu,” sahut laki-laki itu menjelaskan.

Ci Siong yang mendengarkan perkataan laki-laki tersebut menjadi semakin tidak tenang. Dia cepat-cepat menghampiri.

“Keluarga siapa yang mengalami kejadian demikian tragis?” tanya Fu Giok-su cemas.

“Kalau tidak salah, keluarga Fu. Dulu orang tua mereka juga prajurit istana. Mungkin karena terlalu banyak dosa, jadi mendapat karma seperti sekarang ini, kata laki-laki itu sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia tersenyum lebar, “Tapi aku justru beruntung. Belum pernah selama hidupku mendapat pesanan peti mati sebanyak ini. Sampai kehabisan stok dan meminjam dari teman seusaha yang lain.” Selesai berkata, dia segera mempercepat langkah menuju anak buahnya.

Wajah Fu Giok-su pucat pasi. Dia berdiri termangu-mangu. Kedua tangannya terkepal, air mata mulai mengembang. Tubuhnya terhuyung-huyung. Ci Siong tojin cepat-cepat memegangi bahunya. Fu Giok-su berusaha memberontak dan melangkah.

“Kau mau ke mana?” hardik Ci Siong tojin.

“Aku akan kembali dan mengadu nyawa dengan orang-orang Bu-ti-bun” sahut Fu Giok-su. Dia menggertakkan giginya erat-erat dan langsung menerjang ke depan.

Ci Siong tojin menariknya kuat-kuat. Akhirnya langkah kaki Fu Giok-su terhenti juga.

“Kalau kau kembali ke sana sama saja kau mengantar kematian,” kata Ci Siong tojin menasihati.

“Aku tidak takut mati” teriak Fu Giok-su.

Wajah Ci Siong tojin semakin serius.

“Tapi dengan kematianmu ini, turunan keluarga Fu pun habis sampai di sini, dendam sedalam lautan ini, siapa yang akan membalasnya?”

Fu Giok-su bagai tersambar petir. Kesadarannya tergugah oleh kata-kata Ci Siong tojin. Tanpa kuasa lagi dia terjatuh dan berlutut di atas tanah.

“Tenangkanlah dirimu, pikirkanlah baik-baik,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

“Aku ….” dengan air mata berlinang Fu Giok-su menengadahkan wajahnya menatap langit. Kemudian dia menoleh kembali kepada Ci Siong tojin. Dengan panik dia bertanya, “Locianpwe … apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Ci Siong tojin memandangi Fu Giok-su lekat-lekat. “Ikutlah aku ke Bu-tong-san. Nanti baru kita pikirkan perlahan,” katanya sepatah demi sepatah.

Fu Giok-su tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Sejenak kemudian dia baru berdiri. Angin dingin masih bertiup. Akhirnya kedua orang itu kembali melangkahkan kaki. Dengan wajah kelam mereka berjalan.

*****

Senja hari hampir menyelesaikan tugasnya. Dingin mulai merayap. Di dalam pendopo asap hio mengepul. Semuanya membisu. Suasana hening mencekam. Hanya Ci Siong tojin seorang yang berlutut di depan meja sembahyang. Mimik wajah maupun suaranya demikian pilu.

“Pertarungan di atas Kuan-jit-hong … tecu benar-benar tidak berguna, tecu kembali mengalami kekalahan di tangan Tok-ku Bu-ti. Hari ini tecu menghadap Cousu untuk menerima hukuman yang berlaku di partai kita,” Suaranya demikian lirih, tidak terdengar dari luar pendopo. Namun, justru suara Gi-song dan Cang-song dapat tertangkap jelas oleh para murid yang berkumpul di luar pendopo tersebut.

Kata-kata yang diucapkan Gi-song maupun Cang-song tentu bukan kata-kata yang enak didengar.

“Kali ini cahaya Bu-tong-pai benar-benar dibuatnya,” kata Gi-song.

“Apa tidak? Ini merupakan kekalahannya yang ketiga kali,” sambung Cang-song.

“Tampaknya luka yang dia dapatkan tidak ringan. Nanti kalau kita membuat obat, takarannya terpaksa dua kali lipat,” kata Gi-song sambil tertawa dingin.

Sebagian murid Bu-tong-pai yang mendengar percakapan itu menunjukkan wajah sedih. Ada pula yang menundukkan kepala dan menarik napas panjang. Tentu ada juga yang diam-diam merasa gembira. Siapa pun dapat melihat, bahwa di dalam Bu-tong-pai sendiri memang mulai terpecah belah.

Tiga kali berturut-turut Tok-ku Bu-ti mengalahkan Ci Siong tojin. Apakah dia akan kembali seperti sebelumnya, yaitu tetap tidak akan melepaskan Bu-tong-pai begitu saja? Siapa pun tidak berani memastikan hal ini. Yang pasti Bu-ti-bun semakin naik daun. Persis seperti semboyannya yang mengatakan bahwa Bu-ti-bun ibarat matahari yang bersinar di tengah hari.

*****

Terdengar suara gemuruh. Sebuah batu berbentuk persegi hancur seketika di tengah udara. Pecahannya menghampar ke mana-mana. Suara kibasan batang bambu tertutup oleh gemuruh tadi.

Ci Siong tojin berdiri di antara hutan bambu. Lengan bajunya berkibar-kibar tertiup angin. Mimik wajahnya menunjukkan perasaan gembira yang tidak tersangka. Di antara embusan pecahan batu-batu, terlihat orang tua yang dipanggil sebagai suheng oleh Ci Siong tojin. Sehari sebelum berangkat memenuhi perjanjian dengan Tok-ku Bu-ti, dia menghadap Yan Cong-tian. Laki-laki itu masih seperti orang yang berpenyakit dan duduk menyandar di atas tempat tidurnya yang terbuat dari batu. Tiba-tiba suhengnya berubah menjadi gesit dan sehat. Tentu saja Ci Siong tojin senang melihat keadaan ini.

Hanya dengan satu kali pukulan, dia sanggup membuat meja yang berbahan batu itu hancur lebur menjadi ribuan pecahan kecil-kecil. Hal ini membuktikan bahwa lwekang (tenaga dalam) yang dimiliki suhengnya bahkan sudah jauh di atasnya. Tubuh Yan Cong-tian mendarat di tanah, rambutnya yang putih dan terurai beterbangan. Matanya memandang Ci Siong tojin.

“Tenaga pukulanku ini … apakah dapat ditandingi oleh Mit-kip-mo-kang Tok-ku Bu-ti yang sudah mencapai tingkat delapan itu?” tanyanya.

“Rasanya tenaga suheng masih menang setengah tingkat,” sahut Ci Siong tojin.

“Kalau begitu, Tok-ku Bu-ti masih bukan tandinganku,” kata Yan Cong-tian sambil tertawa terbahak-bahak.

Bagaimanapun juga, dia merupakan satu-satunya orang yang masih disegani oleh Tok-ku Bu-ti. Juga karena adanya Yan Cong-tian di Bu-tong-san, maka sampai hari ini Tok-ku Bu-ti masih belum mengambil tindakan apa-apa. Meskipun dia berhasil mengalahkan Ci Siong tojin sebanyak tiga kali.

Kalau melihat tenaga pukulan Yan Cong-tian kali ini, tidak heran apabila Tok-ku Bu-ti masih berpikir panjang untuk menyerang Bu-tong-pai.

Yan Cong-tian masih tertawa senang, “Bagaimana kalau kau lihat lagi pukulanku yang satu ini?” Dia menarik napas dalam-dalam, urat-urat di tangannya mulai menonjol. Wajahnya merah padam. Kemudian tiba-tiba berubah menjadi kehijauan. Tubuhnya gemetaran.

Melihat keadaan itu, Ci Siong tojin segera merasakan ada yang tidak beres. Tergesa-gesa dia mendekati Yan Cong-tian dan memandangnya dari atas ke bawah.

“Suheng, apa yang terjadi?” tanyanya cemas.

Keringat mengalir deras dari kening Yan Cong-tian. “Benar-benar menyebalkan!” teriaknya marah. Dia membalikkan tubuh dan menghambur ke rumah batunya.

Ci Siong tojin cepat-cepat menyusul dan memapahnya, tapi tangannya dikibaskan oleh Yan Cong-tian. Pada saat itu, Ci Siong tojin dapat merasakan bahwa tenaga dari tolakan suhengnya tidak berbeda dengan orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat. Bukan saja dia tidak berhasil melepaskan tangan Ci Siong tojin, tapi malah dirinya yang terdorong.

*****

Keadaan di dalam rumah itu masih remang-remang. Dengan terhuyung-huyung Yan Cong-tian berhasil juga mencapai tempat tidur. Dia langsung menjatuhkan diri dan diam seribu bahasa. Ci Siong tojin menyusul di belakangnya. Belum sempat kakinya melangkah ke dalam, terdengar Yan Cong-tian marah-marah.

“Kau sudah menyaksikan sendiri, entah di mana letak kesalahannya, tenagaku kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak ada!” Ketegangannya perlahan mulai mereda, “Aku sungguh tidak mengerti. Dulunya tidak begini. Sejak melatih Tian-can-sin-kang, aku segera merasakan kelainan ini.”

Suara Yan Cong-tian lebih mirip ratapan. Melihat keadaan tersebut, untuk sesaat Ci Siong tojin tidak tahu bagaimana harus menghibur hati suhengnya.

“Tian-can-kiat kali ini benar-benar terasa seperti senjata makan tuan. Kalau sejak semula tahu begini jadinya, lebih baik aku tidak melatih ilmu ini,” kata Yan Cong-tian sambil tertawa getir.

“Apakah benar-benar Thian murka kepada Bu-tong?” sahut Ci Siong tojin tanpa sadar. Darahnya menggelegak. Wajahnya berubah dan akhirnya dia terbatuk-batuk.

Yan Cong-tian memperhatikan Ci Siong tojin dengan seksama. “Tampaknya lukamu tidak ringan.”

Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.

“Paling tidak separo dari urat nadi dalam tubuhku ini sudah terhajar putus. Tenaga dalamku tinggal empat bagian,” tanpa dapat menahan diri lagi, dia menarik napas panjang.

“Apa gunanya sedikit-sedikit menarik napas?” kata Yan Cong-tian dengan nada tidak senang.

Ci Siong tojin diam termenung, Yan Cong-tian juga tidak tahu apa yang harus dikatakan. Setelah sekian lama, Ci Siong baru tersadar dari lamunannya.

“Dalam dua tahun ini, kecuali ada mukjizat atau keajaiban yang terjadi, kalau tidak tenagaku paling-paling dapat pulih menjadi tujuh bagian saja. Kalau dilihat dari keadaan sekarang, satu-satunya jalan hanyalah memilih beberapa murid berbakat dan ajarkan mereka Bu-tong-liok-kiat (enam jurus ampuh Bu-tong). Mereka harus berlatih keras. Setahun kemudian, apabila mereka dapat mencapai hasil yang memuaskan, ditambah lagi dengan Wan ji maka kita dapat membentuk barisan Pat-tou-jit-sing-ceng. Aku berharap cara ini dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti. Seandainya tidak juga, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi,” katanya.

Yan Cong-tian merenung sejenak.

“Bagus … akal bagus!” akhirnya dia setuju dengan rencana tersebut.

“Tapi …. Bu-tong-liok-kiat biasanya hanya boleh diwariskan kepada Ciangbunjin saja.”

“Urusan sudah sampai sedemikian rupa, bagaimana kita bisa berpikir yang lainnya lagi?” tukas Yan Cong-tian.

“Kalau suheng memang tidak keberatan, kita putuskan demikian saja,” kata Ci Siong tojin.

Terdengar suara langkah kaki dari luar rumah. Ci Siong tojin mengerutkan keningnya erat-erat. Yan Cong-tian malah seperti tidak mendengarnya. Sekali ketukan pintu terdengar. Dengan kemalas-malasan Yan Cong-tian menyahut, “Masuk!”

Sebuah suara mengiakan dan pintu didorong dari luar. Tangan orang itu membawa baki makanan. Dia adalah Wan Fei-yang. Ci Siong tojin terpana melihatnya. Anak muda itu sendiri tidak menduga Ci Siong tojin ada di sana.

“Ciangbunjin,” sapanya.

Ci Siong tojin menyahut datar.

“Tecu tidak tahu Ciangbunjin ada di sini. Sekarang juga tecu akan membawakan lagi nasi dan hidangan untuk Ciangbunjin,” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

“Tidak usah …” sahut Ci Siong tojin sambil mengibaskan tangannya.

Wan Fei-yang terpaksa mengundurkan diri. Sampai di luar pintu, dia mendengar ucapan Yan Cong-tian.

“Pembawaan anak ini boleh juga.”

Tanpa sadar Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya dan berdiri memasang telinga.

*****

Tidak terdengar suara Ci Siong tojin memberi reaksi atas ucapan Yan Cong-tian tadi. “Mengapa kau tidak menerimanya sebagai murid?” tanya Yan Cong-tian kembali.

“Justru karena riwayatnya ada masalah,” sahut Ci Siong tojin.

“Masalah apa?” tanya Yan Cong-tian. “Dia mengikuti she (marga) ibunya. Sedangkan yang mana ayahnya atau siapa orangnya dia sendiri tidak tahu.” Ci Siong tojin menghela napas panjang, “Tentu suheng tidak lupa kejadian dua puluh tahun yang lalu.”

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.

“Sejak kejadian itu, suhu telah memutuskan bahwa Bu-tong-pai hanya menerima orang yang riwayatnya bersih sebagai murid,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

“Tidak salah. Tapi sekarang kita kekurangan tenaga. Lagi pula, bocah ini sudah tinggal di Bu-tong-san sekian tahun, selama ini tidak terlihat sesuatu yang menghawatirkan. Begini saja, bagaimana kalau aku yang bertanggung jawab,” sahut Yan Cong-tian.

“Rasanya Gi-song dan Cang-song tidak akan setuju dengan usul ini,” kata Ci Siong tojin seakan kepada dirinya sendiri.

“Kedua orang yang usil itu … hm …. tidak usah kau pedulikan mereka. Seandainya mereka tidak senang, biar mereka mencari aku,” kata Yan Cong-tian sambil mendengus dingin.

“Biar aku pikirkan lagi baik-baik …”

Wan Fei-yang yang berada di luar dan mendengarkan percakapan ini, tentu saja merasa senang sekali. Dia langsung berlari menuju luar hutan. Setelah berada di luar hutan bambu, tanpa dapat menahan diri lagi dia berteriak kesenangan. Langkah kakinya dipercepat.

*****

Angin bertiup sejuk, udara di atas Bu-tong-san hari ini sangat dingin. Para murid Bu-tong-pai sama sekali tidak mempedulikan keadaan cuaca. Mereka malah menjadi kemalas-malasan karena udara yang sejuk itu.

Demikian juga Wan-ji. Ketika Wan Fei-yang melihatnya, dia sedang berjalan mondar-mandir di taman bunga. Dari jauh Wan Fei-yang sudah melihatnya, dia segera berlari-lari mendekati. Ketika jaraknya tidak seberapa jauh lagi, Wan-ji baru merasakan kehadirannya. Melihat cara jalan dan mimik wajah Wan Fei-yang yang berseri-seri, dia menjadi heran.

“Wan-ji kouwnio ….” panggil Wan Fei-yang sambil menambah kecepatan kakinya.

Mendengar panggilan itu, Wan-ji menghentikan langkah kakinya. Wan Fei-yang melesat ke samping gadis itu.

“Aku ingin memberitahukan sebuah kabar baik. Ciangbunjin telah bersedia menerima aku sebagai murid,” katanya tergesa-gesa.

Wan-ji terpana mendengar keterangan tersebut.

“Oh?”

“Benar!” kata Wan Fei-yang dengan penuh semangat. Wan-ji semakin terpana ketika pemuda itu menarik tangannya. Sejenak kemudian dia baru tersadar dan mengibaskan tangan Wan Fei-yang.

Pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan sikapnya. “Mungkin besok akan disiarkan,” katanya kemudian.

Mendengar keterangan tersebut, Wan-ji ikut senang. “Lain kali kau tidak akan menerima hinaan lagi dari para suheng,” sahutnya.

Kepala Wan Fei-yang manggut berkali-kali. Pada saat itu juga, Pek Ciok mengiringi Fu Giok-su datang dari pintu samping. Mereka menghampiri Wan-ji. Tampang Fu Giok-su kuyu sekali. Sedangkan Pek Ciok yang masih menyedihkan kekalahan Ci Siong tojin juga tidak berbeda.

Melihat Wan Fei-yang, Pek Ciok menghentikan langkah kakinya.

“Siau Fei (Fei cilik) aku mencarimu ke mana-mana. Tidak tahunya kau ada di sini,” katanya.

Dengan penuh semangat Wan Fei-yang mendekatinya. “Toa-suheng, ada urusan apa kau mencariku?” tanyanya.

Pek Ciok menoleh kepada Fu Giok-su. “Ini adalah Fu-kongcu, tentu kau sudah tahu,” katanya.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

“Kami pernah bertemu satu kali ketika Ciangbunjin baru pulang,” sahutnya.

“Cepat kau bereskan kamar yang ada di luar taman, biar Fu-kongcu dapat beristirahat segera,” perintah Pek Ciok kemudian.

“Ini soal kecil …” Wan Fei-yang memalingkan wajahnya, “Fu-kongcu, mari.”

“Merepotkan saudara ….”

Mata Wan-ji bertemu pandang dengan Fu Giok-su, tanpa sadar wajahnya menjadi merah padam. Kepalanya tertunduk.

“Jangan sungkan,” sahut Wan Fei-Yang tanpa memperhatikan keadaan kedua orang itu. Dia mengiringi Fu Giok-su sebagai pendamping.

Setelah berjalan beberapa langkah, Wan Fei-yang seperti teringat sesuatu. Dia menolehkan kepalanya dan berkata kepada Wan-ji, “Sungguh-sungguh! Aku tidak bohong!”

Maksud ucapannya itu ditujukan kepada Wan-ji, Pek Ciok salah tangkap. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Wan Fei-yang.

“Apanya yang sungguh-sungguh?” tanyanya bingung.

“Tidak … tidak apa-apa,” Wan Fei-yang tersenyum sekali kepada Wan-ji lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Wan-ji membalas senyuman itu. Senyumannya demikian indah laksana bunga-bunga yang bermekaran. Fu Giok-su terpesona. Akhirnya dia meneruskan langkahnya kembali.

Pek Ciok dan Wan-ji memandangi kepergian mereka. Pek Ciok yang melihat Wan-ji saling tersenyum dengan Wan Fei-yang dengan muka berseri-seri menjadi heran. “Sumoay, mengapa Siau Fei demikian gembira?” tanyanya tanpa sadar.

“Dia bilang susiok akan mengangkatnya sebagai murid.”

“Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengatakan hal yang sama,” Pek Ciok tertawa dingin. “Aku rasa dia terlalu ambisius ingin belajar silat sehingga keblinger.”

“Sebetulnya dia anak yang baik,” kata Wan-ji dengan nada kasihan.

Pek Ciok mau tak mau mengakui. Matanya memandang Wan Fei-yang yang melangkah di kejauhan. Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.

*****

Setelah membereskan kamar, Wan Fei-yang juga menyeduh seteko teh. Baru saja dia mengambilkan sebuah cawan, Fu Giok-su sudah mengulurkan tangan menerimanya. “Biar aku sendiri saja,” katanya.

“Sama saja,” sahut Wan Fei-yang sambil menuangkan teh ke dalam cawan.

“Terima kasih,” kata Fu Giok-su sopan. Wajahnya masih bermuram durja.

Wan Fei-yang merasa pemuda ini agak cocok dengan dirinya, maka dari itu, dia berani banyak bicara dengannya. “Kali ini, untung suhu mendapat bantuanmu,” katanya.

Fu Giok-su tertawa getir, tampaknya dia sedang banyak pikiran. Wan Fei-yang segera menghiburnya, “Orang yang mati tidak bisa hidup kembali. Jangan sampai kesedihan membuatmu berubah. Pokoknya, kami orang-orang Bu-tong-pai akan membalaskan dendammu.”

Fu Giok-su masih tertawa getir.

“Ilmu silat Bu-tong-pai merupakan ilmu nomor satu di kolong langit. Sebuah partai seperti Bu-ti-bun saja tidak akan dipandang sebelah mata oleh kami. Harap kau jangan khawatir,” kata Wan Fei-yang sok tahu.

Fu Giok-su memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih. “Maksud baik Wan-heng hanya dapat siaute simpan dalam hati,” sahutnya.

“Kau panggil aku Siau Fei saja.”

“Mana boleh?” Tiba-tiba Fu Giok-su mengalihkan pokok pembicaraan, “Oh ya, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Bu-tong-san. Mengenai peraturan-peraturan yang ada, aku masih buta. Harap Wan-heng bersedia menegur apabila ada kesalahan.”

“Mulai lagi …” Wan Fei-yang merenung sejenak, “Peraturan khusus sih tidak ada. Hanya para suheng senang sekali bercanda. Jangan masukkan dalam hati.” Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. Pandangannya menerobos lewat jendela di taman, “Satu hal lagi yang hampir aku lupakan. Gunung bagian belakang itu adalah daerah terlarang, jangan sekali-kali pergi ke sana.”

“Hm ….” tanpa sadar mata Fu Giok-su mengerling ke arah yang ditunjuk Wan Fei-yang.

“Aku tinggal di ruangan belakang sana,” jari Wan Fei-yang menunjuk ke arah timur. “Kalau ada perlu apa-apa, kau boleh berteriak saja. Aku pasti akan mendengarnya dan langsung datang ke mari.”

Fu Giok-su menganggukkan kepalanya. Wan Fei-yang segera mohon diri. Setelah Wan Fei-yang meninggalkan tempat itu, Fu GiokSu masih berdiri termangu-mangu. Pandangan matanya tidak bergeser dari gunung belakang yang ditunjuk Wan Fei-yang tadi.

Apa yang sedang dipikirkannya? Tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri tentunya. Sedangkan malam semakin mendekat.

*****

Pada hari kedua, ketika Wan Fei-yang bangun dan mendorong pintu kamarnya, dia bagaikan orang yang lain. Pakaiannya baru, sepatunya baru, bahkan rambutnya juga disisir rapi sekali. Di antara gelungannya terdapat sebuah pita yang baru pula.

Ini juga merupakan pakaian baru satu-satunya yang dia miliki. Selama ini dia menyimpannya baik-baik dalam sebuah kotak, baru hari ini semua itu dikeluarkannya. Sejak pagi buta tadi, sudah ada kabar bahwa Ci Siong tojin meminta semua murid Bu-tong berkumpul di ruangan pendopo.

Dalam pikiran Wan Fei-yang, tidak ada urusan lebih besar lagi daripada menerimanya sebagai murid dan akan disiarkan hari ini, selain memilih murid-murid berbakat untuk mempelajari Bu-tong-liok-kiat.

Dia berjalan menuju pendopo itu dengan dada dibusungkan, tampaknya dia sangat bergaya. Bertemu dengan para murid Bu-tong lainnya, dia tidak lagi menghindarkan diri, tapi menyapa mereka satu per satu. Berita ini sudah tersebar. Melihat keadaannya pagi ini, yang lainnya menjadi setengah yakin setengah tidak.

Sampai di ruangan pendopo yang luas, gaya Wan Fei-yang semakin meyakinkan. Rasa bangganya semakin menonjol. Melihat di belakangnya datang beberapa saudara seperguruannya, dia segera mempersilakan mereka, “Cu-wi suheng, silakan.”

Beberapa orang itu kelihatannya sedang memikirkan keadaan mereka sendiri.

“Silakan … kau saja yang duluan,” kata salah satu dari mereka tanpa memperhatikan siapa orangnya yang menyapa.

Wan Fei-yang merasa semakin bangga mendengar jawaban orang itu. “Jangan sungkan, silakan,” sahutnya.

Yang lainnya segera merasa lucu melihat gayanya.

“Hari ini adalah hari istimewa bagimu, kau saja yang masuk duluan,” sahut salah satu orang entah dengan maksud tulus atau menyindir.

Yang lainnya ikut mengalah dan mempersilakan Wan Fei-yang dengan sikap sungkan. Melihat para suheng itu demikian menghargainya hari ini, hatinya senang sekali. Dia tidak menolak lagi. Kakinya melangkah lebar ke dalam ruangan pendopo.

Di dalam ruangan tersebut, para murid Bu-tong sudah banyak juga yang berkumpul. Tapi wajah mereka tampak agak muram. Gi-song dan Cang-song memandang ke sekitar. Mereka mulai kehabisan sabar. Fu Giok-su juga ada di antara kumpulan murid Bu-tong lainnya. Melihat pemuda itu, Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Fu Giok-su juga menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Senyumnya agak dipaksakan. Kelihatannya perasaan anak muda itu masih digelayuti kesedihan. Lun Wan-ji juga sudah hadir. Dia berdiri di sudut ruangan yang jaraknya tidak seberapa jauh. Wan Fei-yang tadinya bermaksud menghampiri, tapi setelah berpikir sejenak dia membatalkannya. Dia bertemu pandang dengan gadis itu lalu saling mengembangkan senyuman. Hampir semua mata murid Bu-tong-pai beralih kepada Wan Fei-yang, dada anak muda itu semakin dibusungkan saja.

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan. Semua orang terdiam. Tidak lama kemudian, tampak Pek Ciok mengiringi Ci Siong tojin masuk ke dalam ruangan. Setiap orang segera membungkuk hormat. Ci Siong tojin meneruskan langkah kakinya dan duduk di atas kursi. Dia mengibaskan tangannya.

Pek Ciok mengundurkan diri ke samping. Sinar mata Ci Siong tojin beredar pada setiap orang dalam ruangan tersebut. Kepalanya setengah tertunduk, wajahnya pucat pasi. Kentara sekali bahwa tubuhnya sama sekali tidak sehat. Sejenak kemudian baru dia berbicara.

“Keadaan bu-lim di Tionggoan selama ini damai tanpa masalah. Namun sejak berdirinya Bu-ti-bun, kedamaian dan ketenteraman tidak ada lagi. Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun selalu mempunyai pendirian yang berbeda dan sudah menjadi musuh bebuyutan selama ratusan tahun. Juga merupakan partai pertama yang dianggap menghalangi Bu-ti-bun dan ingin mereka lenyapkan.”

Mendengar sampai di sini, sebagian besar paras murid Bu-tong-pai mulai berubah. Ci Siong tojin masih mengedarkan pandangannya. Sejenak kemudian dia meneruskan kembali, “Tanggal sembilan bulan sembilan yang lalu, Punco kembali memenuhi perjanjian dan mengalami kekalahan. Tok-ku Bu-ti mengeluarkan ucapan, apabila dalam jangka dua tahun partai kita tidak ada yang sanggup mengalahkannya, maka dia akan membumihanguskan Bu-tong-san.”

Gi-song tidak dapat menahan diri lagi. “Kalau begitu kita …” tukasnya.

Ci Siong tojin tidak mempedulikannya, dia masih meneruskan perkataannya.

“Ilmu Mit-kip-mo-kang Tok-ku Bu-ti sudah dilatih sampai tingkat delapan. Untuk saat sekarang ini, masih belum ada orang dari partai kita yang dapat menandinginya. Oleh karena itu, Punco kemarin telah merundingkan masalah ini dengan Yan-suheng. Kami memutuskan untuk memilih enam orang yang berbakat, masing-masing mempelajari satu macam ilmu andalan Bu-tong-pai. Setelah itu berlatih keras dan bekerja sama dengan kompak untuk menghadapi musuh di kemudian hari.”

Setiap orang yang ada dalam ruangan itu segera memasang telinganya dan mempertajam mata memperhatikan.

“Enam orang ini harus berlatih segiat mungkin. Hari ini tahun depan, Punco akan menguji mereka satu per satu. Siapa yang ilmunya paling tinggi, akan terpilih menjadi Ciangbunjin generasi kesembilan belas.”

Gi-song dan Cang-song semakin saling melirik dengan pandangan dingin. Mereka tidak berkata apa-apa. Yang lainnya semakin menaruh perhatian atas perkataan Ci Siong tojin. Fu Giok-su masih berdiri dengan mata menerawang. Seakan tidak terlalu menaruh perhatian atas apa Yang menjadi pokok pembicaraan Ci Siong tojin. Sementara itu Wan Fei-yang semakin membusungkan dada. Tanpa sadar dia merapikan pakaiannya berkali-kali.

Wajah Ci Siong tojin semakin kelam. “Pek Ciok!” panggilnya. Meskipun suaranya sangat lemah namun mengandung kemantapan yang sulit dilukiskan.

Pek Ciok segera maju dan berlutut di depan kaki Ci Siong tojin.

*****

“Mewarisi Liong-gi-kiam,” ujar Ci Siong tojin sepatah demi sepatah.

“Cia Peng … mewarisi Pik-leng-ciang (telapak tenaga kilat)”

“Yo Hong … mewarisi senjata rahasia Fei-hun-cong (terjangan awan terbang)”

“Giok Ciok … mewarisi Suang-kiat-kun (tongkat ganda)”

“Kim Ciok … mewarisi Kui-sua-to (golok pembuka gunung)”

Setiap orang yang namanya dipanggil langsung berlutut di hadapan kaki Ci Siong tojin. Wajah Gi-song dan Cang-song semakin lama semakin tidak sedap dipandang. Hati Wan Fei-yang semakin tegang saja.

Sekali lagi Ci Siong tojin mengedarkan pandangannya. Dia memperhatikan mereka satu per satu dengan tatapan menyelidik.

“Orang keenam agak istimewa. Punco sudah mempertimbangkan cukup lama. Dia bukan murid Bu-tong-pai. Karena hatinya lurus dan baik dan mempunyai hubungan yang dalam dengan Punco, ditambah lagi rasa hormatnya yang tinggi, maka Punco mengambil keputusan untuk mengambil dia sebagai murid penutup dan mewariskan Sou-hou-cang (senjata pengunci tenggorokan)”

Begitu ucapan Ci Siong tojin selesai, pandangan setiap orang beralih kepada Wan Fei-yang. Pada saat itu, Wan Fei-yang merasakan tenggorokannya kering kerontang, paniknya setengah mati. Dadanya masih membusung, menantikan pengumuman dari Ci Siong tojin. Tanpa sadar dia mengerling ke arah Lun Wan-ji.

“Fu Giok-su!” suara Ci Siong tojin seakan menggelegar dalam ruangan.

Wan Fei-yang malah merasa seperti ada seember air dingin menyirami kepalanya. Murid-murid Bu-tong-pai yang berdiri di belakangnya memperdengarkan suara tawa dingin. Fu Giok-su tenang sekali. Dia melangkahkan kakinya setelah menyahut satu kali dan berlutut di depan kaki Ci Siong tojin.

Wan Fei-yang memutar kakinya menuju ke luar ruangan. Dadanya disurutkan kembali, kepalanya tertunduk. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasa begitu malu. Suara Ci Siong tojin yang masih berkumandang bagaikan anak panah yang menusuki hatinya.

“Punco mewariskan Sou-hou-cang kepadamu, harap kau menerimanya dengan sepenuh hati. Jangan mengecewakan Punco, juga jangan sampai membuat harapan Punco tergantung di atas langit.”

Sekarang kata-kata yang diucapkan oleh Ci Siong tojin, tidak syak lagi hanya ditujukan, kepada Fu Giok-su. Wan Fei-yang bermaksud segera meninggalkan ruangan pendopo tersebut, tapi kakinya seperti terpaku, sulit sekali digerakkan.

“Kecuali keenam orang ini, murid-murid lainnya sudah boleh meninggalkan tempat ini,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

Semua orang mengiakan dan berjalan keluar. Generasi yang lebih muda memandang Pek Ciok dan lima orang lainnya dengan tatapan kagum. Wajah Gi-song dan Cang-song semakin tidak enak dilihat.

Sampai di luar pendopo, Gi-song tidak dapat menahan dirinya lagi. Dia mengomel panjang lebar.

“Semua yang terpilih merupakan murid-muridnya, murid kita satu pun tidak ada yang terpilih.”

Cang-song menganggukkan kepalanya.

“Memang benar … apa-apaan itu tadi? Kurang ajar … benar-benar kurang ajar!” gerutunya.

“Bagaimana pun kita harus minta keadilan darinya,” mulut Gi-song berkata demikian, tapi langkah kakinya semakin jauh meninggalkan ruangan pendopo.

Wan Fei-yang menyelinap di antara orang banyak. Kepalanya tertunduk dan wajahnya merah padam. Melihat Lun Wan-ji, semakin malu dan salah tingkah. Setelah keluar dari halaman pendopo, dia berlari secepatnya. Meninggalkan kerumunan yang masih ramai membicarakan kejadian tadi.

*****

Malam semakin larut, angin semakin dingin.

Di tanah lapang yang terpencil Wan Fei-yang menggerakkan senjatanya seperti orang kalap. Dia berlatih terus tanpa kenal lelah. Matanya menyorotkan kemarahan. Senjatanya yang berbentuk capitan bergerak telengas dan keji.

“Crep!”, senjata itu menancap pada sebatang pohon besar, “krek!”, pohon itu patah seketika.

Hawa amarah Wan Fei-yang seperti sudah terlampiaskan, dia mencabut senjatanya dan meletakkan di tanah.

“Suhu, sebetulnya ilmu yang bagaimana Bu-tong-liok-kiat tersebut?” tanyanya.

Manusia berpakaian hitam berdiri di samping sambil memeluk kedua tangannya.

“Untuk apa kau menanyakan hal ini?”

“Aku hanya ingin tahu, apakah ilmu yang aku pelajari sekarang setaraf dengan ilmu Bu-tong-liok-kiat?” kata Wan Fei-yang tanpa berpikir panjang.

“Lagi-lagi kau berpikir yang bukan-bukan.”

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya, “Ci Siong tojin itu, aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia begitu membenci aku?”

Manusia berpakaian hitam itu tidak memberikan reaksi apa-apa.

“Selama ini aku selalu mengira Gi-song dan Cang-song dua orang tua bangka itu yang selalu mencari gara-gara denganku. Tidak tahunya Ci Siong tojin juga.”

“Hm ….”

“Kemarin aku mengantarkan makanan untuk Yan Cong-tian. Aku mendengar dengan jelas, Yan Cong-tian sendiri mengatakan bahwa aku anak yang baik, layak diterima sebagai murid. Malah dia bersedia melunakkan hati Gi-song dan Cang-song. Dia menasihati Ci Siong tojin. Siapa kira orang tua itu malah memilih Fu Giok-su!” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

Manusia berpakaian hitam itu masih berdiam diri.

“Aku sama sekali tidak membenci Fu Giok-su, hanya tidak puas dengan tindakan Ci Siong tojin!” Wan Fei-yang masih menggerutu panjang lebar.

“Kau tidak perlu sakit hati. Ilmu yang aku ajarkan sama sekali tidak di bawah Bu-tong-liok-kiat. Yang penting kau harus giat berlatih. Suatu hari pasti dapat menonjolkan diri di dunia kangouw,” gumam manusia berpakaian hitam tersebut.

Wan Fei-yang memandangi manusia berpakaian hitam itu lekat-lekat. Akhirnya dia dapat mengendalikan perasaannya. Gurunya itu juga tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya dikibaskan. Wan Fei-yang menggertakkan giginya erat-erat. Sekali lagi senjatanya yang berbentuk capitan diluncurkan. Suaranya menderu-deru.

*****

Pada hari yang sama, di atas meja pada kantor pusat Bu-ti-bun tergeletak tiga helai panji telapak darah. Mereka mendapatkannya dari tiga tempat yang berbeda. Pertama di rumah sepasang suami istri yang tua, kedua di tempat praktik tabib Mok dan yang terakhir dari rumah makan dan penginapan Cui-sian-lou.

Seorang anak buah Bu-ti-bun mengambil ketiga helai panji itu dan memanteknya di atas dinding sebelah kiri. Di dalam ruangan terdapat empat orang Hu-hoat dari Bu-ti-bun, lima orang tongcu. Mata mereka semua menatap ke arah tiga helai panji yang terpantek di atas dinding. Wajah mereka kelam sekali.

Tiba-tiba Kongsun Hong menggebrak meja dan berdiri dari kursinya.

“Entah orang dari golongan mana yang telah menelan nyali harimau sehingga berani memalsukan telapak tangan darah dari Bu-ti-bun kita!” teriaknya marah.

Tok-ku Bu-ti telah menyebarkan panji telapak darah dan memberi amanat bahwa siapa pun tidak boleh mengganggu Ci Siong tojin. Tentu mereka tidak berani membangkang perintah tersebut.

Tapi Ci Siong tojin sama sekali tidak tahu adanya perintah itu. Ketika berita tersebar sampai di telinga anggota-anggota Bu-ti-bun, mereka segera turun tangan menyelidiki. Mereka sama sekali tidak berhasil menemukan orang yang mencurigakan. Hanya tiga helai panji tersebut yang mereka dapatkan.

Seluruh anggota Bu-ti-bun terkejut mengetahui adanya kejadian semacam ini. Sejak berdirinya Bu-ti-bun, baru pertama kali mereka menghadapi masalah seperti ini. Tok-ku Hong bahkan lebih marah daripada Kongsun Hong.

“Pasti musuh besar Bu-tong-pai telah memperhitungkan segalanya dan melemparkan kesalahan kepada pihak kita. Orang itu memang cerdik sekali. Dia menggunakan akal memancing ikan di air keruh,” katanya.

Kongsun Hong menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Menunjukkan ekor menyembunyikan kepala. Siapa diri mereka pun tidak berani diberitahukan umum. Orang semacam ini juga tidak mungkin mempunyai kepandaian seberapa tinggi!” sahutnya dengan wajah merah padam.

“Biar bagaimana, kita harus menyelidiki masalah ini sampai tuntas. Kita harus menemukan orang yang memalsukan telapak darah tersebut,” kata Tok-ku Hong dengan nada dingin dan datar.

“Tentu saja!”

Cian-bin-hud, salah satu dari empat orang Hu-hoat Bu-ti-bun segera membuka suara, “Apakah kita harus melaporkan masalah ini kepada Buncu?”

Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. “Suhu sedang menutup diri melatih ilmu, kita tidak boleh mengejutkannya.”

Tok-ku Hong mendengus dingin. “Takut apa? Kau tidak pergi, aku yang ke sana!” katanya.

Kongsun Hong segera mencegahnya, “Sumoay … urusan tetek-bengek semacam ini ….”

“Urusan tetek-bengek?” mata Tok-ku Hong mendelik lebar-lebar kepada Kongsun Hong. “Ada orang yang memalsukan telapak darah Bu-ti-bun kau katakan urusan kecil?”

Kongsun Hong tertawa sumbang, “Sumoay, biar aku turun gunung untuk menyelidiki urusan ini. Kalau tidak ada hasilnya, baru kita rundingkan kembali, bagaimana?”

Mata Tok-ku Hong mengerling sekilas, “Aku juga ikut!”

Kongsun Hong terpana, wajahnya berubah pucat. Keempat orang Hu-hoat saling melirik sekilas. Belum sempat mereka menyatakan apa-apa, Tok-ku Hong sudah berteriak kembali, “Kalau kau boleh pergi, mengapa aku tidak?”

Kongsun Hong semakin terpana. Melihat suhengnya yang diam saja, Tok-ku Hong semakin merajuk. “Kalau kau tidak mengizinkan aku ikut, lain kali jangan menemui aku lagi!” ancamnya garang.

Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dengan maksud meninggalkan tempat itu. Kongsun Hong menjadi panik seketika. “Sumoay …!” panggilnya gugup.

“Ada apa?” tanya Tok-ku Hong tanpa memalingkan kepalanya.

“Kalau kau memang hendak ikut, boleh saja. Tapi sepanjang perjalanan kau harus menurut kata-kataku. Jangan berbuat sekehendak hati sehingga menimbulkan masalah baru,” kata Kongsun Hong.

Tok-ku Hong merenung sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Dia sudah lama menunggu kesempatan seperti ini. Tok-ku Bu-ti tidak pernah mengizinkan dia merantau seorang diri.

*****

Dunia luar bagi Tok-ku Hong merupakan sesuatu yang baru dan aneh. Oleh karena itu, mereka sama sekali tidak tergesa-gesa dalam melakukan perjalanan. Kongsun Hong tidak berani mengatakan apa-apa. Meskipun dia sangat garang, tapi terhadap Tok-ku Hong, dia selalu menurut. Persis seperti seekor domba.

Hari cerah sekali, angin bertiup sepoi-sepoi. Ini merupakan hari kelima, mereka sudah sampai di dusun sebelah timur. Jalanan ramai sekali, rupanya ada yang sedang mengadakan hajatan.

Pengantin pria duduk di atas kuda, di belakangnya terdapat sebuah tandu yang indah. Di antara sorak para penduduk, dia menjalankan kudanya dengan wajah berseri-seri menuju luar kota.

Di kiri kanan jalan banyak penduduk sedang menyaksikan keramaian. Beberapa laki-laki berpakaian hitam juga berkerumun di antara orang banyak. Mereka mulai mendekati tandu yang indah itu. Kerumunan orang-orang yang menghalangi mereka mulai terdorong. Ada beberapa yang merasa tersinggung, namun ketika melihat orang-orang itu, mereka malah menjadi ketakutan. Sebagian besar mengalah dan memberi jalan kepada mereka.

Sejak tadi pengantin pria itu masih belum merasakan apa-apa. Ketika dia mengetahuinya, wajahnya segera berubah hebat. Laki-laki berpakaian hitam yang mungkin bertindak sebagai kepala rombongan pendatang itu menyeruak di antara orang banyak dan akhirnya mengadang di depan pengantin pria tersebut, Dia memperhatikan sang pengantin pria dari atas kepala sampai ujung kaki.

“Coba kalian lihat, jelek sekali pengantin pria ini!” katanya.

Laki-laki berpakaian hitam yang ada di belakangnya segera tertawa terbahak-bahak.

“Bagi laki-laki yang penting kantongnya, jelek sedikit kan tidak apa-apa. Lain kalau perempuan,” kata salah satunya.

“Coba kalian terka, apakah pengantin perempuan ini cantik atau tidak?” kata orang yang pertama.

“Kalau cantik, masa dia bersedia menikah dengan laki-laki sejelek itu?” sahut yang lainnya.

“Kalau menurut aku, justru sangat cantik. Bukankah pepatah ada yang mengatakan bahwa rembulan selalu menantikan burung pungguk?” oceh yang pertama sembarangan.

“Mana ada pepatah seperti itu? Lebih baik kita lihat saja sendiri,” sahut rekannya menganjurkan.

Laki-laki berpakaian hitam yang lain segera menyetujuinya. Mereka mendorong para dayang yang mengawal di depan tandu dan menyingkapkan tirainya. Pengantin pria tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pengantin perempuan di dalam tandu sudah menjerit ketakutan. Laki-laki berpakaian hitam tadi tertawa terbahak-bahak. Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan amarah dalam hati.

“Apa yang kau katakan memang benar. Hanya perempuan sejelek ini yang bersedia menikah dengan si burung pungguk!” kata laki-laki berpakaian hitam yang menjadi pemimpin.

Masih tertawa terbahak-bahak mereka segera meninggalkan tandu dan berjalan di tempat semula. Para penonton segera menghindar dan bubar, ke rumah masing-masing. Hanya Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berdua yang masih tegak di tempat semula.

Tok-ku Hong memandangi laki-laki berpakaian hitam itu dengan tatapan dingin. Kongsun Hong tentu tahu bagaimana adat Tok-ku Hong. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi dia sama sekali tidak menasihati Tok-ku Hong untuk pergi dari situ.

Beberapa laki-laki berpakaian hitam tersebut memandangi Tok-ku Hong lekat-lekat. “Lihat … yang ini jauh lebih cantik!” kata sang pemimpin.

“Kalau dia bersedia menjadi pengantinku, aku bersedia umurku berkurang tiga puluh tahun,” sambung rekannya.

“Kalau boleh mengecupnya saja aku sudah puas,” kata seorang lainnya. Dia segera menghampiri Tok-ku Hong. Siapa sangka gadis itu mengangkat kakinya dan menendang orang itu sampai terpelanting di atas tanah.

Teman-temannya yang lain masih belum menyadari kehebatan Tok-ku Hong. Mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat temannya jatuh terpelanting. Laki-laki itu malah marah-marah, “Budak cilik! Kau berani membokong toaya ini?” Tangannya bergerak. Sebatang golok sudah berada dalam genggamannya.

Tok-ku Hong tertawa dingin. Kongsun Hong maju dua langkah dan mengadang di depan sumoaynya. Pada saat itu, laki-laki berpakaian hitam yang lain baru merasakan bahwa sepasang laki-laki dan perempuan ini bukan orang biasa. Mereka segera mengurung Kongsun Hong dan Tok-ku Hong.

Di pinggang masing-masing orang itu terselip sebatang golok panjang. Salah satunya mengibaskan tangan kepada Kongsun Hong. “Sobat! Di sini tidak ada urusanmu!” katanya.

Belum sempat Kongsun Hong menyahut, seorang lainnya sudah menukas, “Lihat yang jelas sebelum bertindak!” Dia mengeluarkan sebuah simbol dari balik pakaiannya.

Di atas simbol yang terbuat dari logam itu tertera dua buah huruf “Bu-ti”.

“Kami adalah orang-orang Bu-ti-bun. Kalau kau memang pintar, cepat tinggalkan gadis ini sebelum terlambat!” kata orang itu selanjutnya.

Sinar mata Kongsun Hong beralih ke arah logam yang ada di tangan orang itu. Wajahnya berubah kelam. “Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!” serunya.

Orang itu terpana. “Rupanya orang sendiri,” katanya.

“Jangan percaya begitu saja. Suruh tunjukkan dulu lambang kepercayaan mereka!” seru yang lainnya.

Kongsun Hong segera mengeluarkan sebuah giok yang terselip di pinggangnya. Dia menunjukkan tanda itu kepada orang-orang berpakaian hitam. Batu giok itu bagus sekali, di atasnya juga tertera dua huruf, malah di dasarnya terlihat ukiran seekor macan tutul.

Para laki-laki berpakaian hitam yang melihat giok itu langsung saling mengadu pandang. Wajah mereka pucat pasi. Tanpa banyak cakap lagi mereka segera menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah.

“Cayhe sekalian memang buta melek. Tidak tahu kehadiran Tongcu yang mulia, malah berani .…”

Kongsun Hong menyimpan kembali batu gioknya. “Kalian adalah anggota cabang ketiga belas?” tanyanya dingin.

“Betul ….” suara pemimpin laki-laki berpakaian hitam itu serak. “Harap Tongcu bersedia memaafkan dosa kami.”

“Kau tahu salah?”

“Ampun, Tongcu ….” laki-laki itu langsung membenturkan jidatnya ke atas tanah.

“Baik,” Kongsun Hong mengibaskan tangannya. “Kalian boleh kembali sekarang. Malam nanti aku akan berkunjung ke kantor cabang tiga belas.”

“Tongcu ….”

Kongsun Hong memalingkan wajahnya. Tok-ku Hong tertawa dingin. Dia tidak mempedulikan orang-orang itu dan langsung meneruskan langkahnya. Mata-mata laki-laki berpakaian hitam itu mengantar kepergian dua orang itu. Keringat dingin mulai menetes. Wajah mereka pucat seperti selembar kertas.

“Apa yang harus kita lakukan?”

Pemimpin mereka tertawa sumbang tanpa menyahut.

*****

Rumah makan yang mewah, hidangan yang lezat. Hawa amarah Tok-ku Hong sudah lenyap. Dengan perasaan gembira dia menikmati semuanya.

“Hidangan di rumah makan ini boleh juga, sayangnya agak padat.”

Tidak jauh di sebelah kanan mereka terdapat dua orang laki-laki berusia setengah baya sedang duduk bercengkerama dengan dua orang wanita yang terus tertawa terkekeh-kekeh. Pasti bukan orang baik-baik. Dua orang laki-laki setengah baya itu tidak hentinya mengucapkan kata-kata kotor yang tidak enak didengar. Kedua wanita itu sama sekali tidak mengambil hati, bahkan ikut mendengarkan dengan penuh perhatian. Tamu-tamu yang lainnya juga berbincang dengan rekannya masing-masing.

Satu-satunya yang tidak terseret dalam arus mereka hanya Kongsun Hong serta Tok-ku Hong berdua. Kongsun Hong berusaha menyenangkan hati sumoaynya. Sekian lama Tok-ku Hong baru menyahut sepatah kata. Dia tidak begitu mempedulikan Kongsun Hong. Laki-laki itu akhirnya tidak berani banyak bicara. Dia takut Tok-ku Hong menjadi tidak senang.

Otaknya terus bekerja. Matanya mengerling ke sekitar. Dia berharap dapat menemukan bahan pembicaraan yang menarik. Dengan demikian hati Tok-ku Hong akan menjadi gembira. Oleh karena itu ketika dua orang bocah cilik masuk ke dalam ruangan rumah makan tersebut, perhatian Kongsun Hong segera terpusat pada mereka.

Kedua bocah itu sangat tampan, pakaian mereka mewah. Yang satu membawa pedang, yang satunya lagi membawa harpa. Mereka menuju tempat duduk di samping jendela. Harpa dan pedang diletakkan di atas meja. Salah seorang segera melepaskan bungkusan dari bahu dan membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak yang indah. Bocah yang lainnya segera membentangkan sehelai kain putih. Dia membersihkan meja dengan kain tersebut. Seorang pelayan menghampiri mereka. Melihat apa yang dilakukan kedua bocah tersebut, dia berdiri termangu-mangu.

Kongsun Hong juga merasa heran. Dia tidak lupa memberitahukan Tok-ku Hong. “Sumoay, lihat kedua bocah itu,” katanya.

Perhatian para tamu yang segera tertarik pada kedua bocah yang sama. Sedangkan kedua bocah itu seperti menganggap mereka semua tidak ada. Mereka membersihkan meja itu sampai mengkilap. Lalu menghamparkan sehelai taplak kursi yang terbuat dari kain wol di atas bangku rumah makan tersebut. Kemudian mereka berdiri tegak di samping meja itu.

Para tamu semakin penasaran dibuatnya. Tepat pada saat itu juga, seorang pemuda berpakaian putih masuk ke dalam rumah makan. Tampangnya tampan dan anggun, pakaiannya mewah. Sinar matanya angkuh. Tanpa mempedulikan sekitarnya, dia menghampiri meja di mana kedua bocah berdiri. Kemudian dia duduk di atas taplak kain wol tersebut.

Sorot matanya tidak jahat, hanya acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Dia seolah memandang sebelah mata kepada orang lain. Melihat gaya pemuda ini, pemilik rumah makan segera menghampiri dengan tergopoh-gopoh. Dia mengibaskan tangan agar pelayannya mengundurkan diri. Dia bermaksud melayani sendiri. “Kongcu ….” sapanya.

Pemuda berpakaian putih meliriknya sekilas, sama sekali tidak mempedulikannya. Bocah sebelah kanannya segera maju dan memberi perintah, “Bawakan beberapa macam hidangan yang paling terkenal dari rumah makan ini.”

“Ingat! Harus yang bersih!” sambung bocah yang satunya.

Pemilik rumah makan itu terpana sejenak, kemudian dia memalingkan wajahnya memanggil salah seorang pelayan, “Cepat sediakan cawan dan mangkok sekalian sumpitnya.”

“Tidak usah!” kata bocah yang pertama.

“Kami membawa sendiri!” lanjut bocah yang lainnya sambil membuka kotak yang dibawanya tadi. Dia mengeluarkan mangkuk, sumpit dan cawan yang terbuat dari perak. Kemudian dia juga mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membersihkan peralatan tersebut satu per satu.

Pemilik rumah makan itu agak kurang senang, tapi tidak berani memperlihatkannya dan segera mengundurkan diri. Sedangkan dua laki-laki setengah baya yang duduk bersama dua orang wanita yang bertampang genit segera mencibirkan bibirnya.

“Sungguh besar lagaknya,” kata salah seorang dari kedua laki-laki tersebut.

Perempuan yang duduk di sampingnya malah tertawa terkekeh-kekeh. “Kau tidak senang melihatnya?” sindirnya.

“Hanya banci saja yang banyak lagak seperti itu,” kata laki-laki tersebut.

“Peduli amat dia banci atau bukan. Yang penting uangnya banyak dan lagipula wajahnya tampan. Mengapa kau tidak meniru perbuatannya?” dengan genit perempuan itu mengerling ke arah pemuda berpakaian putih tersebut.

Laki-laki setengah baya itu marah sekali mendengar ucapan perempuan tadi. “Mengapa aku harus menirunya? Aku yang memberimu uang atau dia?” teriaknya.

Perempuan itu malah tertawa terbahak-bahak. Laki-laki lainnya segera menengahi pertengkaran mereka.

“Untuk apa kau marah-marah? Kalau kau mau membuat wajahnya menjadi jelek, kan mudah sekali.”

Tentu saja laki-laki yang sedang marah itu mengerti apa yang dimaksudkan rekannya.

“Bagus! Pokoknya aku memang tidak suka melihat orang semacam itu,” sahutnya.

Kedua orang itu segera berdiri dalam waktu yang bersamaan. Mereka berjalan menghampiri pemuda berpakaian putih. Sedangkan pemuda itu sejak tadi tampaknya tidak peduli keadaan di sekeliling mereka. Tiba-tiba dia berseru, “Jit Po!”

Bocah yang berdiri di sebelah kanannya segera menyahut dan mengadang kedua laki-laki setengah baya tersebut. “Kongcu kami mempersilakan kalian meninggalkan tempat ini,” katanya.

Wajah kedua laki-laki itu berubah hebat, jelas mereka sangat tersinggung. Yang satunya segera tertawa dingin. “Apakah ini sebuah perintah?” tanyanya sinis.

Yang satunya lagi tak mau kalah gertak, dia menuding hidungnya sendiri, “Tahukah kau siapa kami?”

Jit Po tidak mempedulikan. Pemuda berpakaian putih berseru sekali lagi, “Liok An!”

Bocah yang satunya lagi cepat-cepat maju ke depan. “Sekarang kalian harus menggelinding dari sini,” katanya.

Kedua laki-laki itu marah sekali, sambil menggeram kedua orang itu mencekal Jit Po dan Liok An. Bagaimana pun mereka pernah berlatih keras dalam ilmu silat. Begitu tinjunya meluncur, suaranya menggetarkan.

Jit Po dan Liok An seakan memandang sebelah mata, wajah mereka tenang-tenang saja. Gerakan tubuh mereka sangat lincah. Begitu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki tersebut, mereka langsung menerjang dengan jurus burung hong mengembangkan sayap. Telapak tangan mereka menghantam bagian pundak kedua laki-laki itu.

Meskipun usia mereka masih sangat muda, namun baik ilmu, tenaga dalam ataupun cara menghadapi lawan sudah termasuk lumayan. Tangan kiri menangkis dengan lincah, telapak tangan kanan dengan telak mengenai bahu kedua laki-laki tadi.

Rupanya tahun ini benar-benar merupakan tahun yang sial bagi kedua laki-laki setengah baya itu. Sekali bergebrak sudah luput dari sasaran. Hal ini disebabkan karena pertama terlalu memandang ringan lawan. Kedua, memang mereka ada sedikit mabuk.

Jit Po menundukkan tubuhnya dan laki-laki yang menjadi lawannya terlongong-longong ketika bocah itu menyeruak lewat selangkangannya. Belum lagi dia sadar apa yang hendak dilakukan bocah tersebut, tubuhnya sudah terangkat dan terlempar jauh. Liok An tidak mau kalah, sebelah kakinya diangkat dan menyepak lawannya keluar.

Kedua laki-laki yang melihat bahwa Jit Po dan Liok An saja sudah begitu lihai, mana berani macam-macam lagi. Sambil menggelinding dan setengah merangkak, mereka cepat-cepat kabur dari tempat itu. Liok An dan Jit Po juga tidak mengejar. Setelah merapikan pakaian mereka dengan mengibas-ngibasnya, mereka kembali di samping kiri dan kanan pemuda berpakaian putih itu.

Mata setiap orang terpusat pada ketiga majikan dan pelayan tersebut. Suara kejutan sudah reda. Sedangkan kedua wanita yang menemani laki-laki yang sudah kabur itu saling mengerling sekilas kemudian bangkit menghampiri meja pemuda itu. Di wajah keduanya terpasang senyuman genit.

Belum lagi langkah mereka sempat mendekati pemuda itu, Jit Po sudah berteriak nyaring, “Tahan!”

Kedua wanita itu terpana sejenak, kemudian mereka tersenyum simpul. “Anak baik … siapakah nama Kongcumu yang tampan itu?” tanya salah satu dari kedua wanita tersebut.

Sedangkan rekannya yang lain menggunakan kesempatan itu menerobos mendekati pemuda berpakaian putih.

“Enyah!” bentak pemuda itu sambil tertawa dingin. Lengan bajunya dikibaskan, terdengar suara menderu-deru, segulung angin kencang menerpa. Rasa terkejut wanita itu masih belum sirna, tubuhnya sudah terdorong. Sambil terjatuh terpontang-panting, kibasan lengan baju pemuda itu mengantarnya balik ke tempat semula.

Perempuan yang satunya melihat keadaan itu dengan mata panik. Tidak menunggu Jit Po turun tangan, dia mengembangkan sebuah senyuman yang dipaksakan, lalu cepat-cepat kembali ke sisi temannya.

Pemuda berpakaian putih itu tidak melirik sama sekali, hanya tertawa dingin. “Perempuan yang berani mendekati laki-laki tanpa malu-malu pasti bukan perempuan baik-baik,” sindirnya.

Apa yang dikatakannya memang tidak salah, kedua wanita itu memang pelacur adanya. Tapi Tok-ku Hong yang mendengarkan kata-katanya, langsung merasa marah. Dadanya panas sekali seakan hampir meledak. Pada saat itu, pemuda berpakaian putih dan kedua pelayannya sedang membayar makanannya dan bersiap meninggalkan tempat itu.

Sinar mata Tok-ku Hong mengedar, sumpit di tangannya melayang cepat. Pada dasarnya dia memang seorang ahli melempar golok terbang. Kecuali Kongsun Hong, rasanya tidak ada lagi yang tahu apa yang diperbuatnya. Sumpit itu meluncur ke arah meja kedua pelacur tadi. Sebuah teko teh tersenggol dan melayang ke arah pemuda berpakaian putih.

Namun, punggung pemuda itu seperti mempunyai indera penglihatan saja. Tubuhnya menggeser sedikit, tangan kanannya terangkat dan menyambut teko itu dengan mudah. Para tamu sempat terpana sesaat, kemudian meledaklah tawa mereka.

Tampaknya pemuda berpakaian putih itu baru sadar bahwa yang disambutnya tadi adalah sebuah teko. Lengan bajunya terciprat basah oleh air yang tumpah. Wajahnya berubah hebat. Jit Po cepat-cepat menghampiri dan mengambil teko dari tangan tuan mudanya. Rasa marah Tok-ku Hong akhirnya surut juga. Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari rumah makan tersebut, dia masih sempat mendengar suara tawa tamu yang belum sirna.

Tok-ku Hong sendiri ikut tertawa. Kongsun Hong yang menatapnya dari samping dan melihat sumoaynya demikian gembira, hatinya jadi berbunga-bunga. Namun semakin diperhatikan, dia menjadi terpesona. Senyum Tok-ku Hong demikian indah dan menawan.

*****

Malam berbintang, rembulan bercahaya.

Malam semakin larut, angin semakin kencang. Rumput-rumput liar menari-nari. Padang rumput yang sehari-harinya memang sudah sunyi semakin mencekam di malam hari. Ibarat sebuah kota hantu layaknya.

Meskipun jaraknya dengan kota tadi hanya setengah li, tapi penduduk sekitar menganggapnya sebagai tempat yang angker. Daerah pemakaman yang sudah tidak terurus juga berada di sekitar tempat ini. Terlihat sebuah rumah yang sudah mulai hancur. Perasaan semakin tegang. Tidak heran kalau para penduduk menganggapnya sebagai pemukiman setan gentayangan.

Di depan halaman rumah ada sebuah paviliun kecil. Menurut cerita penduduk, tadinya ada seorang tukang kayu yang tinggal di sana. Karena sering diganggu oleh hantu-hantu, maka orang itu sudah kabur ketakutan. Malah ada yang mengatakan bahwa tukang kayu yang sudah pindah itu menderita sakit berkepanjangan, setiap hari dia merintih dan meratap. Sejak kejadian itu, rumah tersebut selalu kosong. Apa lagi setelah terjadi beberapa peristiwa yang aneh, orang-orang semakin ketakutan. Siang hari pun tidak ada yang berani menginjak daerah tersebut.

Kongsun Hong dan Tok-ku Hong justru berada di depan pintu rumah tersebut malam ini. Angin bertiup kencang. Tanpa sadar hati Tok-ku Hong agak tegang. Tapi di luarnya dia tidak menunjukkan apa-apa. Kongsun Hong sendiri tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya. Dia meneruskan langkah kakinya sampai di depan pintu. “Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!” serunya tiba-tiba.

“Krek!”, pintu dibuka. Dua orang laki-laki berpakaian putih menyembulkan kepalanya. Wajah mereka pucat pasi bagai mayat hidup. Segulungan angin dingin tiba-tiba menerpa. Tubuh Tok-ku Hong gemetar dibuatnya.

Kedua laki-laki berpakaian putih itu segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. “Selamat datang kami ucapkan kepada Toa-siocia (nona besar) dan Kongsun-tongcu,” kata mereka serentak.

Kongsun Hong mengibaskan tangannya.

“Antar jalan!”

Kedua manusia berpakaian putih itu membalikkan tubuh dan masuk ke dalam. Cahaya lampu memijar. Lentera telah dinyalakan, sinarnya remang-remang. Manusianya sendiri seperti setan gentayangan yang melayang menuju ke dalam.

Setelah melewati halaman depan, tampak sebuah pintu besar yang telah terbuka. Di kiri kanannya masing-masing berdiri seorang laki-laki berpakaian putih dan membungkuk menyambut. Di belakang pintu terdapat sebuah koridor panjang. Di sebelah kiri berdiri tegak tiga orang manusia berpakaian hitam, sedangkan di sebelah kanan terdapat empat manusia berpakaian hitam juga.

Tujuh manusia berpakaian hitam itulah yang membuat gara-gara di siang harinya. Mereka bahkan berani mengganggu Tok-ku Hong. Kalau dilihat keadaan tujuh orang itu agak aneh. Setelah diperhatikan, ternyata mereka bukan berdiri tegak tapi disandarkan ke tembok di belakangnya. Mata mereka terbelalak, semuanya pasti sudah tidak sadarkan diri.

Tok-ku Hong yang melihat keadaan itu, memperdengarkan suara tertawa dingin. Kakinya terus melangkah ke dalam. Di ujung koridor merupakan sebuah ruangan yang besar. Sebelum Tok-ku Hong dan Kongsun Hong sampai di ruangan tersebut, pintu gerbangnya memang telah terbuka. Seorang laki-laki berusia setengah baya melangkah keluar. Pakaiannya mewah sekali.

“Tancu (kepala cabang) cabang tiga belas, Tong Piau menghadap Toa-siocia dan Kongsun-tongcu. Harap maafkan kami yang tidak menyambut dari jauh.”

Kongsun Hong mengibaskan tangannya. Dengan Tok-ku Hong mengiringi di samping, dia melangkah ke dalam ruangan. Sejak masuk dari halaman depan di mana-mana terlihat tembok yang pecah-pecah dan tinggal sepotong. Tidak terlihat bahwa tempat itu berpenghuni. Tapi begitu masuk ke dalam ruangan ini, segalanya tampak jauh berbeda.

*****

Ruangan ini sangat mewah. Lentera-lentera bercahaya terang. Ratusan anggota Bu-ti-bun terbagi dalam dua barisan. Melihat kedatangan Kongsun Hong dan nona besarnya, mereka segera menjatuhkan diri berlutut.

Di tengah ruangan telah disediakan dua buah kursi besar yang ditutupi dengan kulit binatang. Tong Piau mempersilakan kedua orang itu duduk. Dia sendiri berdiri di samping mereka.

Mata Tok-ku Hong beredar lalu berhenti pada wajah Tong Piau. “Apakah saudara-saudara kita yang bertempat di sekitar sini berada di bawah pengawasanmu?” tiba-tiba dia bertanya.

“Ajaran budak kurang becus, anak buah budak berani mati menyalahi Toa-siocia,” sahut Tong Piau gugup.

“Oh, ternyata kau sendiri menyadarinya?” Tok-ku Hong mendengus dingin.

Kening Tong Piau mulai dibasahi oleh keringat dingin, “Orang-orang yang membuat gara-gara telah dihukum sesuai peraturan. Harap Toa-siocia jangan marah lagi.”

Tok-ku Hong hanya tertawa dingin.

“Mengenai orang-orang yang memalsukan Bu-ti-bun … apakah kau sudah mendapat kabar?” tukas Kongsun Hong.

Tong Piau agak lega juga karena pokok pembicaraan dialihkan.

“Budak telah memerintahkan seluruh anggota kita untuk menyelidiki secepatnya. Namun sampai saat ini masih belum ada hasil yang menggembirakan.”

Wajah Kongsun Hong berubah serius.

“Apakah kalian sudah menerima panji telapak darah dari kantor pusat yang disebarkan pada pertengahan bulan sembilan?” tanyanya kembali.

Hati Tong Piau menjadi tegang kembali mendengar pertanyaan itu. “Kami sudah menerimanya.”

“Apa bunyi perintah itu?”

Mulut Tong Piau melongo, sepatah kata pun tidak terucap olehnya.

“Bilang!” bentak Kongsun Hong.

“Dalam waktu dua tahun, tidak boleh ada anggota Bu-ti-bun yang membuat keributan di luar. Siapa yang melanggarnya, mati!” sahut Tong Piau setelah memberanikan diri.

“Kalau perintah itu telah kalian terima, mengapa cabang tiga belas tidak mengurus anak buahnya baik-baik?” tanya Kongsun Hong sekali lagi.

Keringat Tong Piau menetes bagai air hujan. “Mungkin karena biasanya budak terlalu memberi kebebasan kepada mereka. Harap Tongcu membuka hati dan melapangkan jiwa.”

Kongsun Hong memalingkan wajahnya. “Apa bunyi peraturan nomor sembilan belas dari perguruan kita?” tanyanya.

“Siapa … yang … melanggar … te … lapak … darah … mati ….” wajah Tong Piau pucat pasi, suaranya tersendat-sendat.

“Nomor dua puluh satu?”

“Berani … menghina atasan … mati.”

“Nomor dua puluh empat?”

Tubuh Tong Piau semakin menggigil. Dia tidak sanggup menjawab lagi.

“Membiarkan anak buah melanggar perintah, hukuman apa yang harus diberikan?”

Tubuh Tong Piau semakin gemetar. Kongsun Hong menggebrak meja.

“Hukuman apa harus di terima orang ini?” bentaknya keras.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: