Kumpulan Cerita Silat

14/12/2007

Maling Romantis (02)

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 11:56 pm

Maling Romantis (02)
Oleh Gu Long

Kontributor: ansari

Tatkala itu Coh Liu-hiang sudah menurunkan jangkar, sehingga perahu mereka berlabuh di tengah lautan. Tanpa sungkan Coh Liu-hiang gegares semua hidangan yang telah disiapkan untuk dirinya. Belum habis sepotong burung dara panggang, betul juga terapung datang sesosok mayat.

Mayat ini mengenakan jubah pendek berwarna merah legam, panjangnya sampai ke lutut, usianya baru empat puluhan, jenggot pendek terpelihara di bawah dagunya, namun ujung matanya belum memperlihatkan kerut-kerut kulit muka. Telapak tangan kirinya halus, telapak tangan kanan sebaliknya begitu kasar dan jelek sekali, otot-otot tulangnya menonjol keluar, hampir satu kali lipat lebih besar daripada telapak tangan kirinya. Waktu telapak tangannya dipentang, warnanya mirip dengan jubah yang dipakai.

Mata Li Ang-siu yang bening terbelalak membundar, katanya kaget, “Orang ini adalah Sat-jiu-suseng (Pelajar Bertangan Pembunuh) Sebun Jian.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Sebun Jian membunuh Cou Yu-cin, namun dia terbunuh pula oleh orang lain.”

“Tapi siapa pula yang membunuhnya?” tanya Li Ang-siu seperti menggumam. Habis bicara matanya menjelajahi keadaan tubuh orang, terlihat luka berlubang di tenggorokan Sebun Jian, darah sudah tersapu bersih oleh air laut, kulit dagingnya berwarna abu-abu merekah membesar. Li Ang-siu menarik nafas, katanya, “Luka tusukan pedang.”

Coh Liu-hiang mengiyakan sambil manggut-manggut.

“Lebar luka pedang ini cuma satu dim lebih, di dalam Bulim cuma Hay-lam dan Lao-san dua aliran besar ilmu pedang yang biasa menggunakan pedang setipis dan sesempit seperti ini.”

“Tidak salah,” kata Coh Liu-hiang mengiyakan.

“Hay-lam dan Lao-san, dua partai ini berjarak tidak jauh dari sini, tetapi ilmu pedang Lao-san hanya diajarkan pada murid-murid tosu yang beragama, mengutamakan welas asih dan berjiwa luhur, jadi Sebun Jian mati tertembus pedang murid Hay-lam-kiam-khek yang ganas dan telengas, benar-benar peristiwa yang aneh dan membingungkan.”

“Aneh?” Coh Liu-hiang mengerutkan kening.

“Rasanya Hay-lam-pay tiada dendam dan tidak ada permusuhan dengan Cu-soa-bun, malah boleh dibilang punya hubungan yang cukup erat. Delapan tahun yang lalu, Cu-soa-bun diserbu dan dikepung oleh Bin-lam-chit-kiam, dari tempat ribuan li Hay-lam mengirim anak buah memberi bantuan, sekarang tokoh kosen Hay-lam-pay membunuh Tianglo Cu-soa-bun, sungguh membingungkan dan tak bisa dimengerti.”

Coh Liu-hiang menghela nafas, “Tanpa sebab Cou Yu-cin mampus di tangan Sebun Jian, sebaliknya Sebun Jian terbunuh pula oleh murid Hay-lam-pay, sebetulnya rahasia apa yang terselip dalam peristiwa ini?”

Li Ang-siu tertawa manis, katanya, “Memangnya kau hendak turut campur urusan orang lain?”

“Bukankah tadi kau bilang aku terlalu malas? Akan kuselesaikan persoalan ini supaya kau bisa membuktikan apakah aku malas atau seorang cerdik pandai.”

“Kukira peristiwa ini berlatar-belakang dan berbuntut luas dan panjang, lagi pula amat berbahaya. Yong-cici sedang sakit, menurut hematku, lebih baik kita tidak melibatkan diri dalam peristiwa ini.”

“Segala persoalan yang berbahaya selalu mendorong hasratku untuk menyelesaikannya. Semakin menyangkut rahasia yang lebih rahasia, pasti nilai benda yang tersangkut-paut pun amat mahal, memangnya aku hanya berpeluk tangan saja melihat peristiwa ini?”

“Aku tahu kalau kau tidak berhasil membongkar rahasia ini, pasti kau tidak bisa tidur nyenyak, sejak dilahirkan kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tukang mengurus persoalan orang lain,” Tiba-tiba tawanya semakin lebar, katanya pula, “Tapi persoalan ini tiada berujung pangkal, seumpama menggagap jarum di laut. Sampai detik ini, tidak ada satu pun sumber penyelidikan, kau hendak mencampuri urusan ini, kurasa kau tak akan bisa turun tangan.”

“Coba kau tunggu saja, sumber penyelidikanku lambat-laun akan semakin banyak,” Setelah meneguk arak, Coh Liu-hiang mulai menggerogoti paha ayam dan makan-minum dengan lahapnya di atas geladak.

“Aku kagum melihat seleramu. Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa makan dengan lahapnya.”

Tanpa terasa kakinya bergeser ke pinggir, tangannya bersandar pada pagar besi, pandangan matanya mengawasi permukaan laut di kejauhan sana.

Dilihatnya sesosok mayat lain terapung di permukaan, seperti terbawa oleh arus ke arah sini. Ternyata mayat ini adalah seorang Tosu berjubah hijau dengan wajah yang dipenuhi jambang. Tangan-kakinya telah dingin kaku, tetapi jari-jarinya masih menggenggam sepotong pedang buntung, badan pedang yang sempit panjang masih memancarkan cahaya dingin, rambut kepalanya awut-awutan menutupi separoh wajah, batok kepalanya terbelah dua. Sungguh mengenaskan kematian orang ini, sampai Li Ang-siu memalingkan muka tak tega melihat keadaannya yang mengerikan.

“Ternyata betul murid Hay-lam-pay.”

“Kau…. kau kenal dia?”

“Ya, orang ini adalah Ling-ciu-cu, salah seorang dari Hay-lam-sam-kiam (Tiga Pedang dari Hay-lam-pay), keganasan ilmu pedangnya di dalam Bulim hanya ada beberapa orang saja yang bisa menandingi.”

“Sekali tusuk melubangi tenggorokan orang, tidak nyana batok kepala sendiri pun terbelah menjadi dua oleh bacokan orang,” Sepintas ia berpaling melihat sebentar, lalu katanya pula, “Dilihat dari keadaannya, waktu bacokan orang itu meluncur tiba, dia tidak mampu berkelit lagi, terpaksa ia mengangkat pedang menangkis, tidak dinyana, bukan saja orang itu mampu membacok putus pedangnya, kekuatannya yang hebat masih kuasa membelah batok kepalanya pula. Hay-lam-cui-kiam kabarnya terbuat dari gemblengan besi dingin dari dasar lautan, orang itu mampu membacok pedangnya hingga putus, ai….. pedang yang tajam! Pedang yang berat!”

“Dari mana kau tahu kalau lawannya itu menggunakan pedang?”

“Tokoh silat kenamaan yang menggunakan golok di Bulim zaman ini, siapa yang mampu mendesak Ling-ciu-cu hingga tidak mampu mengegos lagi… tiada jurus ilmu pedang Hay-lam-kiam-pay yang tidak menggunakan kekerasan, kalau dia tidak terdesak dan terpaksa, mana mungkin ia mengangkat pedang untuk menangkis bacokan golok musuh yang mengarah batok kepalanya?”

“Benar,” Coh Liu-hiang manggut-manggut. “Perubahan ilmu golok memang tak selincah dan serumit ilmu pedang umumnya. Bagi orang yang bergaman golok, jika hendak mendesak lawan yang bersenjatakan pedang hingga tidak mampu berkelit lagi, memang sesukar memanjat ke langit,” ia tertawa lebar, katanya lebih lanjut, “Tapi kau melupakan seseorang.”

Biji mata Li Ang-siu bersinar, katanya tertawa, “Kalau yang kau maksud Bu-ing-sin-to (Golok Sakti Tanpa Bayangan) Ca Bok-hap, dugaanmu salah besar.”

“Mengapa salah?”

“Ca Bok-hap sebagai tokoh nomor satu dalam ilmu golok, kecepatan ilmu goloknya tiada wujud, tidak kelihatan bayangannya. Waktu ia membacok, mungkin Ling-ciu-cu belum sempat tahu dari arah mana sambaran golok itu datang, terpaksa ia mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun Toa-hong-to merupakan salah satu senjata pusaka dari tiga belas senjata sejati di kolong langit, rasanya cukup berlebihan untuk membacok Hay-lam-cui-kiam.”

“Nah, uraianku kan sudah cocok dengan keadaan?”

“Tapi kau jangan lupa, Ca Bok-hap malang-melintang tiga puluhan tahun di padang pasir, julukannya ‘Soa-mu-ci-ong’ (Raja Padang Pasir), untuk apa dia jauh-jauh meluruk ke sini?”

“Kau bilang tidak mungkin, sebaliknya aku berpendapat kemungkinan besar ya.”

“Kau ingin bertaruh denganku?”

“Aku tidak mau bertaruh denganmu, karena jelas kau akan kalah.”

“Boleh kalian bertaruh, siapa kalah harus mencuci mangkuk-piring selama setengah bulan,” tiba-tiba terdengar suara menyeletuk dari ruang bawah.

“Setan cilik, memang kau biasa mengambil keuntungan dari kekalahan orang lain,” semprot Li Ang-siu.

Coh Liu-hiang terlongong sambil bertopang dagu di pinggir geladak, seolah-olah ia tidak mendengar percakapan mereka.

“Apa yang sedang kau tunggu?” tanya Li Ang-siu mendekati. “Apa kau sedang menunggu Ca Bok-hap?”

“Mungkin….”

“Sia-sia saja, Raja Padang Pasir takkan datang, seumpama kemari, tiada seorang pun yang mampu membunuh dia.”

“Cou Yu-cin jarang bergaul dengan Sebun Jian, kenapa Cou Yu-cin dibunuhnya? Ling-ciu-cu tiada dendam permusuhan dengan Sebun Jian, mengapa Sebun Jian dibunuh? Ca Bok-hap dan Ling-ciu-cu, yang seorang tinggal di ujung laut, yang lain tinggal di ujung langit, jelas tiada hubungan antara satu dengan lainnya, kenapa pula Ling-ciu-cu sampai dibunuh olehnya?” Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya lebih lanjut, “Itu menandakan banyak persoalan dalam peristiwa ini, semuanya belum bisa ditentukan.”

Kini sudah lewat lohor, sejak pertama kali menemukan mayat, kira-kira sudah dua jam berselang, di atas geladak terbaring tiga sosok mayat manusia, ternyata mayat keempat sudah terapung mendatangi terbawa arus.

Kalau ketiga mayat terdahulu terapung dan naik-turun mengikuti alunan gelombang, mayat yang ini justru seperti kantong kulit yang berisi hawa padat, seluruh badannya terapung di permukaan air. Menghadapi tiga mayat seram terdahulu, Li Ang-siu masih berani melirik dua tiga kali, tapi begitu melihat mayat yang ini, meski hanya sekilas saja, seluruh badannya terasa menggigil dan mengkirik bulu kuduknya, serta tak berani melihatnya lagi.

Awalnya badan mayat ini entah gemuk atau kurus, Coh Liu-hiang sendiri tidak bisa membedakan, yang terang mayat ini sekarang sudah melembung besar seperti diisi air, malah sebagian anggota badannya sudah mulai membusuk. Berapa usia mayat ini, tua atau muda, Coh Liu-hiang juga sukar menebak, karena rambut dan alis serta bulu badannya sudah sama rontok dan mengelupas kulitnya. Demikian pula biji matanya mencotot keluar hampir pecah, seluruh kulitnya sudah berubah warna abu-abu gelap, sehingga membuat orang mual dan ngeri, menyentuh dengan jari pun Coh Liu-hiang merasa enggan.

“Racun yang hebat sekali,” ujar Li Ang-siu. “Biar kuminta Yong-ci naik memeriksanya, sebetulnya racun macam apakah ini?”

“Racun ini, Yong-yong pun tak akan mengenalnya,” kata Coh Liu-hiang.

“Kau membual lagi, meski ilmu silatmu cukup hebat, namun dalam hal Am-gi, belum tentu kau lebih unggul dari Thiam-ji, bicara soal menyamar dan merias serta kepandaian menggunakan racun, kau bukan apa-apa dibanding Yong-ci.”

“Tapi orang ini mati bukan lantaran terkena racun saja.”

“Bukan racun, memangnya gula?”

“Boleh juga dianggap gula…. air gula.”

Li Ang-siu melengak, serunya heran, “Air gula?”

“Itulah hasil ramuan Sin-cui-kiong yang dibanggakan, di kalangan kangouw dinamakan Thian-it-sin-cui, sementara murid-murid Sin-cui-kiong menamakannya Jiong-cui.”

“Memangnya Thian-it-sin-cui jauh lebih hebat dan lebih beracun daripada segala macam racun yang ada di kolong langit ini?”

“Sudah tentu, kabarnya bobot setitik Thian-it-sin-cui sama dengan tiga ratus gantang air biasa, orang biasa cukup minum setetes saja, kontan jiwanya akan melayang karena seluruh badannya akan meledak,” kata Coh Liu-hiang menghela nafas, lalu menambahkan, “Thian-it-sin-cui tidak berbau tidak berwarna, sukar dicoba dan sukar diketahui kelainannya, maka si raja padang pasir pun tak terhindar dari bokongannya.”

“Jadi… orang ini adalah Ca Bok-hap?”

“Ehm!” Coh Liu-hiang manggut-manggut.

“Badannya sudah berubah sedemikian rupa, dari mana kau bisa mengenalinya?”

“Pakaian yang dikenakannya meski baju biasa, namun kakinya mengenakan sepatu kulit domba yang tinggi, terang dia adalah seorang penggembala. Kulit badannya putih halus, sebaliknya kulit muka kasar, itu karena dia biasa mondar-mandir di padang pasir, di pinggangnya tergantung gelang baja peranti untuk menggantung golok, namun golok dan sarungnya sudah hilang, menandakan bahwa senjata yang dia bawa adalah golok pusaka, maka sudah diambil oleh orang yang mengincarnya.”

“Dari beberapa petunjuk yang ada ini, aku yakin orang ini pasti si raja padang pasir Bu-ing-sin-to Ca Bok-hap adanya,” kata Coh Liu-hiang lebih lanjut.

“Kulihat kau memang cocok menjadi opas, setiap persoalan pembunuhan yang kau usut tentu lebih sempurna dan lihai daripada si Elang Gundul yang tersohor sebagai opas nomor wahid di seluruh jagad ini.”

“Masih ada lagi,” kata Coh Liu-hiang tertawa. “Di atas badannya tergantung sebuah lencana perak, di atas lencana ini terukir seekor onta bersayap. Kalau aku tidak bisa menebak bahwa orang ini adalah si raja padang pasir, tentulah aku ini seorang yang sudah pikun.”

Kembali Li Ang-siu cekikikan geli, katanya, “Kau memang seorang cerdik yang hebat.” Tetapi segera sirna seri tawanya, katanya pula dengan mengerut kening, “Soal apa yang menggerakkan hati si raja padang pasir dan murid-murid Sin-cui-kiong? Terang persoalan ini pasti tidak kecil artinya, kini si raja padang pasir sudah ajal, jelas…..”

Coh Liu-hiang segera menukas, “Kau hendak membujuk aku agar berpeluk tangan saja, bukan?”

“Aku tidak ingin membujukmu, cuma kuharap kau jauh lebih berhati-hati.”

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi segumpal awan yang melintas, katanya tertawa, “Kabarnya murid-murid Sin-cui-kiong adalah dara ayu jelita yang jarang dicari bandingannya, entah bagaimana kalau dibandingkan dengan ketiga nona kami?”

Li Ang-siu tertawa getir sambil menggeleng kepala, “Apa kau tidak bisa bicara yang benar?”

Satu jam sudah berlalu, suasana lautan tetap hening lelap, tiada pertanda sesuatu gerakan apa pun.

“Kurasa kau tidak perlu menanti pula,” ujar Li Ang-siu.

“Kalau tidak ada mayat yang lain, maka persoalan ini berhenti pada utusan dari Sin-cui-kiong. Kalau orang-orang ini memperebutkan benda mestika, maka benda pusaka itu sudah pasti jatuh ke tangan utusan Sin-cui-kiong.”

“Kalau ada mayat lainnya pula?”

“Perduli apa, berapa pun banyaknya mayat manusia, cukup kita perhatikan dan sadari mayat terakhir terbunuh oleh siapa, maka sumber penyelidikan sudah berada di tangan kita.”

“Kau yakin tokoh-tokoh kosen ini mati karena memperebutkan benda pusaka?”

“Manusia mampus lantaran harta benda, setidaknya orang-orang ini tetap manusia.”

Li Ang-siu melepaskan pandangan ke arah nan jauh, katanya perlahan, “Benda pusaka yang menarik, sampai tokoh-tokoh kosen seperti mereka pun ikut berebut, maka barang ini tentu amat berharga dan mengejutkan,” Lama-kelamaan ia menjadi tertarik oleh persoalan ini, terbukti dari sorot matanya yang bercahaya.

Song Thiam-ji yang berada di ruang bawah mendadak bersuara pula, “Kalian tidak tahu kalau Yong-yong punya seorang bibi misan yang berada di Sin-cui-kiong?”

“Oh, Yong-yong punya seorang bibi misan yang menjadi murid Sin-cui-kiong? Dua hari ini apakah kesehatannya sudah lebih baik? Apa masih mengalirkan air liur?”

“Kau ingin dia naik ke atas?” tanya Li Ang-siu.

“Sudahlah, orang demam pilek lebih baik tiduran saja.”

Terdengar seorang menyahut dengan suara lembut, “Tidak menjadi soal, sakitku memang sudah sembuh, mendengar kata-katamu, aku….”

Terdengar Song Thiam-ji berseru pula, “Yong-ci jangan kena tipu, dia sudah tahu kau datang, maka sengaja dia mengeluarkan kata-kata prihatin padamu.”

Suara lembut itu menjawab, “Seumpama dia memang berkata begitu, asal dia suka mengatakan, aku sudah senang.” Sesosok bayangan semampai dengan langkah kaki gemulai seenteng asap melenggok muncul dari tangga kayu dari ruang bawah.

Gadis ini mengenakan jubah panjang yang longgar dan lemas, kepanjangan sampai terseret di atas geladak dan menutupi seluruh kakinya, cahaya matahari yang benderang menyinari rambut panjangnya yang terurai mayang, biji matanya bening, membayangkan senyum manisnya nan lembut, selintas pandang seolah bidadari dari kahyangan.

“Yong-ci, ” seru Li Ang-siu membanting kaki, “Angin begini besar, buat apa kau naik ke sini? Awas nanti kau jatuh sakit lagi dan tidak bisa bangun, kongcu kita yang romantis bisa marah pada kami.”

“Di atas sini panas dan gerah, siapa yang tahan menyekap diri di ruang bawah, lagipula aku pun ingin melihat apakah benar murid Sin-cui-kiong bakal datang.” Tangannya membawa seperangkat kimono yang lembut halus, dengan perlahan ia melampirkannya ke atas badan Coh Liu-hiang, lalu katanya lembut, “Cuaca mulai dingin, awas nanti kau pun terkena demam.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Kau selalu memperhatikan orang lain, sebaliknya tidak prihatin terhadap dirimu sendiri…. asal kau memperhatikan dirimu, masa kau bisa sakit.”

Li Ang-siu mencibirkan bibir, lalu katanya, “Memangnya kami yang tidak pernah sakit, tidak pernah memperhatikan kesehatanmu.”

So Yong-yong menepuk kedua pipinya, katanya tertawa, “Terlalu banyak bermakan hati, kau bisa cepat bertambah tua.”

Li Ang-siu memeluknya, katanya cekikikan, “Aku ini memang kutu busuk yang suka cemburu dan makan hati, Yong-ci, mengapa kau tetap baik pada diriku?” Tubuh So Yong-yong yang semampai dan lemah dipeluknya dan diangkat ke atas.

Pada saat itulah mayat kelima terapung tiba.

***

Kalau dinilai secara keseluruhan, mayat ini sudah bukan mayat yang lengkap lagi, karena anggota badan sebelah kiri terbelah dari pundak, seluruh lengan kirinya sudah hilang. Untung mukanya masih dalam bentuk lengkap, jadi masih jelas kelihatan wajahnya yang jelita, pembunuh yang telengas itu agaknya tak tega merusak raut wajahnya yang cantik.

Badannya mengenakan pakaian dari kain sari panjang, pakaian tanpa potongan dan model, karena begitu saja dari atas ke bawah sari halus itu membelit badannya, di tengah pinggangnya mengenakan sabuk tali sutera warna perak, kedua kakinya yang indah mengenakan sepatu dari bahan yang sama seperti sabuk peraknya.

Pakaian sari yang tinggal separoh itu berlepotan darah, jika tidak mengenakan sabuk tali perak, tentu kain sari halus yang melilit tubuh itu sudah hanyut terbawa gelombang laut, meski demikian badannya sudah hampir telanjang.

Lekas So Yong-yong memalingkan muka, matanya yang elok sudah berlinang air mata.

Li Ang-siu pun memejamkan mata, katanya, “Yong-ci, menurutmu apakah dia murid Sin-cui-kiong?”

So Yong-yong manggut-manggut tanpa bersuara.

“Perempuan secantik ini siapa tega membunuhnya?” ujar Coh Liu-hiang gegetun.

“Orang yang bertangan keji ini pun sudah ajal,” kata Li Ang-siu.

“Maksudmu Ca Bok-hap?”

“Sudah tentu Ca Bok-hap, kecuali dia, siapa pula yang mampu melancarkan serangan golok sedemikian cepat?”

“Ehm!” kembali Coh Liu-hiang memanggut.

“Setelah tahu dirinya terkena racun, menggunakan sisa tenaga yang masih ada, dia membacok lawan, hatinya dirundung kebencian yang meluap, maka bacokannya itu menghasilkan akibat yang mengerikan, keji dan berat.”

“Semua uraianmu itu memang masuk akal,” ujar Coh Liu-hiang.

“Kini sumber penyelidikan yang kita tunggu sudah putus, kita pun tak perlu bersusah-payah lagi.”

“Memang tiada perkara lagi?”

“Semua orang yang bersangkutan sudah mati, masih ada perkara lain?”

“Kau yakin dia mati di tangan Ca Bok-hap?”

“Memangnya bukan?”

“Jangan kau lupa, setelah Ca Bok-hap mati, Toa-hong-to mungkin jatuh ke tangan orang lain. Dengan menggunakan Toa-hong-to, orang itu bisa membunuh dia supaya orang lain menyangka persoalan ini sudah tamat sampai di sini.”

“Ah, benar juga fikiranmu.”

“Kalau dia ingin orang berpendapat demikian, maka peristiwa ini sudah tentu belum berakhir. Menurut pendapatku, persoalan ini justru baru dimulai.”

“Kalau begitu, mengapa dia tak melenyapkan saja mayat-mayat ini, supaya orang tak mampu membedakan dan mengenali mayat-mayat ini, mana mungkin mengusut persoalan ini pula?”

“Orang-orang ini adalah tokon kosen ternama di kangouw, boleh dikata adalah pimpinan tertinggi cabang persilatan. Jika mereka mendadak menghilang bersama, anak murid atau anggota perguruan mereka masa tidak menyelidiki dan mencari jejak mereka?”

“Oleh karena itu…. ” So Yong-yong mengerut kening.

“Oleh karena itu dia harus bertindak sesuai rencana, supaya orang lain menyangka kelima orang ini saling bunuh, sehingga anak murid dan anggota perguruan sendiri pun kehilangan sasaran untuk menuntut balas, apa pula yang harus mereka selidiki?”

Li Ang-siu menghela nafas, katanya, “Tapi pasti tak terfikir olehnya di dunia ini masih ada orang yang senang mencampuri urusan orang lain.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Kukira dia memang tak pernah memikirkan hal itu.”

“Tapi siapakah si dia itu? Kemungkinan setiap orang adalah si dia itu… sekarang sumber yang ada pun sudah terputus, kau hendak menyelidiki, bukankah berarti menggagap jarum di lautan?”

“Tidak salah,” ujar Coh Liu-hiang. Tiba-tiba badannya mencelat tinggi terus terjun ke laut.

“Apa yang hendak kau lakukan?” teriak Li Ang-siu.

“Mengambil jarum,” sahut Coh Liu-hiang sebelum badannya masuk ke air, seperti seekor ikan raksasa, tahu-tahu badannya sudah hilang ditelan air laut. Permukaan laut ditimpa sinar matahari keemasan, sama sekali tidak menimbulkan percikan sedikit pun.

“Yong-ci, kau…,” seru Li Ang-siu sambil membanting kaki. “Mengapa kau membiarkannya?”

“Di dunia ini siapa yang mampu mencegah setiap kehendaknya?” sahut So Yong-yong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: