Kumpulan Cerita Silat

14/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (03)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — ceritasilat @ 12:09 am

Ilmu Ulat Sutera (03)
Oleh Huang Ying

“Tutup mulut!” bentak Ci Siong tojin.

“Aku hanya berpikir demi kebaikan Bu-tong-pai ….”

Tidak tampak senyuman lagi yang menghiasi bibir Ci Siong tojin. “Aku hanya mengerti satu hal,” katanya sinis.

“Apa itu?” tanya Wan Fei-yang kebingungan.

“Apa pun yang akan terjadi pada Bu-tong-pai, tidak perlu kau khawatirkan,” Ci Siong tojin mengucapkannya sepatah demi sepatah. “Kau hanya seorang bawahan di Bu-tong-pai.”

Wan Fei-yang terpana mendengar ucapan itu. Tampangnya sungguh mengenaskan. Dia seakan baru ditonjok perutnya oleh Ci Siong tojin. Dia sama sekali tidak menduga orang tua itu bisa mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Namun mau tidak mau dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Ci Siong tojin memang beralasan.

“Di sini tidak ada urusanmu lagi!” kata Ci Siong tojin masih dengan nada sinis seperti tadi. “Keluar!”

Wan Fei-yang merasa dadanya hampir meledak. Dia mendengus dan menghambur keluar dari tempat itu. Namun baru saja dia berlari beberapa langkah, dia merasa tindakannya itu kurang sopan. Oleh karena itu dia kembali lagi dan menjura di depan pintu.

“Suhu, tecu mengundurkan diri,” katanya.

Setelah itu dia melanjutkan langkahnya dengan perlahan. Ci Siong tojin memandangi bayangan punggung Wan Fei-yang yang semakin menjauh. Di ujung bibirnya terhias senyuman. Senyuman getir. Kemudian dia kembali lagi termenung seperti sebelumnya.

*****

Malam sudah larut.

Wan Fei-yang membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang-layang. Dia tidak bisa tidur sama sekali. Namun matanya tetap terpejam. Setiap kali dia membuka matanya, bayangan para suheng yang sedang mengolok-oloknya segera bermunculan. Ia seakan mendengar kembali sindiran-sindiran mereka yang menyakitkan.

Tanpa sadar dia menutup kepala dengan sepasang tangannya. Tubuhnya mengkeret seperti orang yang kedinginan. Kamarnya sangat kecil. Dan tempat tidurnya yang terbuat dari papan tentu tidak enak dan membuatnya semakin sulit pulas dalam mimpi. Sebetulnya Wan Fei-yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Namun apa yang dialaminya hari ini memang terlalu banyak. Hinaan yang diterimanya juga tidak kurang banyak.

Kamar itu tidak mempunyai penerangan. Sinar rembulan yang menyorot dari celah-celah jendela terasa sedingin air es. Angin bertiup semilir. Membawa suara kentungan dari kejauhan. Dua kali!

*****

“Kentungan kedua!” kata Wan Fei-yang dalam hatinya. Dia seperti seekor kelinci yang kena panah. Tiba-tiba dia meloncat dari atas tempat tidur.

Begitu tubuhnya membalik dia langsung meloncat dengan sigap. Hanya dalam waktu beberapa detik dia sudah memakai sepatunya. Kemudian sekali lagi dia berkelebat, bayangan tubuhnya sudah berada di luar kamar. Tiba-tiba saja gerakannya menjadi lincah.

Di luar jendela tidak ada orang. Sepanjang koridor sepi mencekam. Pada saat seperti ini, kebanyakan orang sedang pulas dalam mimpi. Dengan seksama Wan Fei-yang melirik ke kiri dan kanan. Dia berkelebat secepat kilat. Sebentar saja dia sudah sampai di pintu depan. Perlahan didorongnya pintu tersebut. Setelah yakin tidak ada orang di sekitar tempat itu, dia segera menyelinap keluar dan menutup kembali pintu tersebut.

Kemudian Wan Fei-yang melintasi taman dan menuju bagian belakang gunung. Kamarnya memang terpencil. Tidak ada kamar lain di sekitar itu. Di bagian ujung taman terdapat hutan pohon Siong. Setelah melalui hutan kecil itu, sampailah dia di bukit yang tidak pernah diinjak murid Bu tong lainnya.

Di sana tidak ada jalan setapak. Bagi Wan Fei-yang hal itu sama sekali tidak menjadi masalah. Dia berjalan di atas batu-batu karang yang berilalang. Langkah kakinya demikian ringan dan cepat. Akhirnya dia sampai pada sebuah padang rumput yang tidak terurus.

Wan Fei-yang menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya mencelat dan meluncur secepat anak panah. Kedua kakinya seakan tidak berpijak pada tanah. Gerakan tubuhnya seperti melayang di atas padang rumput tersebut. Dalam generasi muda Bu-tong-pai, dapat dikatakan Yo Hong mempunyai ginkang paling tinggi. Tapi seandainya dia ada di sana saat itu, tentu dia akan terkejut setengah mati. Dia pasti terpaksa harus mengakui bahwa dalam generasi muda, yang menguasai ginkang paling tinggi bukanlah dirinya, namun Wan Fei-yang!

*****

Dari mana Wan Fei-yang mempelajari ginkang setinggi ini?

Angin bertiup semakin kencang. Wan Fei-yang seakan mempunyai sayap di tubuhnya. Gerakannya seperti terbang saja. Setelah melintasi padang tersebut, dia sampai pada jalanan gunung yang terpencil. Langkahnya tidak berhenti. Dia terus berlari melewati sebuah hutan lagi. Akhirnya dia menghentikan gerakannya di sebuah tanah kosong.

Tanah kosong itu cukup luas. Ada tiga batang pohon di bagian utara. Juga terdapat beberapa buah balok kayu yang berserakan. Kalau dibilang terpencil, tempat itu memang cukup terpencil dan seakan mengandung misteri yang dalam.

Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya di tempat itu. Kemudian dia bersiul panjang. Kakinya tiba-tiba menutul, dia melayang ke atas sebatang pohon dan berpegangan pada sebuah ranting, kemudian dia berjungkir balik tiga kali di udara dan turun kembali ke tanah persis di tengah tanah kosong tersebut.

Kepalan tangannya diasongkan ke depan. Kakinya yang sebelah kiri terangkat. Kemudian dengan gaya seekor bangau dia berputaran. Gerakan tubuhnya sama sekali tidak kikuk. Bahkan mengejutkan. Apabila dikatakan dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat, maka yang dimaksudkan tentu Wan Fei-yang yang setiap hari menerima hinaan dari para suhengnya. Siapa yang akan percaya kalau Wan Fei-yang yang sekarang merupakan orang yang sama?

*****

Rembulan tepat di tengah angkasa.

Di bawah sinar rembulan yang mencekam, kepalan tangan Wan Fei-yang seakan berubah menjadi ribuan. Suara angin menderu-deru. Lengan bajunya berkibaran. Dia berlatih dengan pikiran terpusat penuh. Ketika gerakannya terhenti, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat. Segala penderitaan, rasa sedih dan kecewa seperti menguap bersama keringatnya yang mengucur deras.

Akhirnya dia duduk di atas tanah. Dengan sekuat tenaga dia menarik napas dan mengembuskannya. Deru napasnya begitu keras dan memancar sampai kejauhan serta menyusup di telinga seseorang.

Orang itu bertubuh tinggi kurus. Pakaiannya hitam pekat. Kepalanya juga ditutupi sehelai kain hitam. Hanya sepasang matanya yang kelihatan. Sekarang mata itu sedang memperhatikan Wan Fei-yang, dia juga melangkahkan kakinya menuju tempat di mana anak muda itu berada.

Tiba-tiba tubuhnya bergerak, sama sekali tidak menerbitkan suara. Manusia yang mengenakan pakaian hitam itu seperti roh halus layaknya. Bukankah saat seperti ini juga memang merupakan saat yang tepat di mana roh halus berkeliaran?

*****

Wan Fei-yang duduk membelakangi orang tersebut. Dia terus menarik napas dan sama sekali, tidak sadar akan kehadiran orang tersebut. Ketika dia tersadar, kepalanya segera menoleh, jarak orang itu tinggal tujuh depa dengannya. Dia memandang dengan termangu-mangu. Setelah beberapa saat dia baru menarik napas kembali. “Suhu rupanya.”

Ilmu silatnya yang demikian tinggi, tidak usah diragukan lagi, pasti hasil didikan manusia berpakaian hitam ini. Sekarang manusia berpakaian hitam itu sedang memandangnya lekat-lekat.

“Apakah kau lelah sekali?” suaranya tidak berbeda dengan gerakan tubuhnya, seakan bukan suatu yang nyata.

“Tidak … aku tidak lelah,” sahut Wan Fei-yang sambil menggelengkan kepalanya.

“Dari jauh aku sudah mendengar suara napasmu. Lagi pula seandainya kau tidak lelah, mengapa sampai aku berada sedemikian dekat, kau masih tidak menyadari?”

Wan Fei-yang tidak tahu bagaimana harus menyahut.

“Seandainya yang datang tadi adalah musuhmu, maka biarpun kau mempunyai sepuluh lembar nyawa, semuanya tentu sudah melayang saat ini,” kata manusia berpakaian hitam selanjutnya.

Meskipun kata-kata yang diucapkannya seperti sedang menggurui Wan Fei-yang, namun nada suaranya tetap datar dan tidak mengesankan apa-apa.

“Aku ….” untuk sesaat Wan Fei-yang menjadi gugup.

Manusia berpakaian hitam itu mengerling ke arah Wan Fei-yang sekilas, “Apakah kau menerima hinaan lagi?”

“Siapa lagi kalau bukan para murid Bu-tong-pai. “Mereka selalu menganggap aku sebagai semacam permainan yang menyenangkan,” kata Wan Fei-yang. Hawa amarahnya mulai meluap, “Pada suatu hari nanti, aku akan menunjukkan kelihaianku.”

Manusia berpakaian hitam itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

“Aku benar-benar tidak mengerti!” Wan Fei-yang makin kesal mengingat semua yang dialaminya. “Apa maksud tua bangka Ci Siong itu sebetulnya? Mengapa dia tidak bersedia menerima aku sebagai murid?”

Manusia berpakaian hitam itu hanya memandanginya tanpa mengucapkan apa-apa.

“Dia tahu aku selalu dihina, tapi dia tidak pernah menanggapi persoalan ini!” gerutu Wan Fei-yang kembali.

“Mungkin dia masih belum tahu,” akhirnya manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan pendapatnya.

“Huh! Tidak menerima ya sudah … lagi pula kalau dilihat dari ilmu yang dikuasai oleh para murid Bu-tong, tampaknya tidak ada yang perlu dibanggakan. Pokoknya biasa-biasa saja. Begitu aku mengerahkan sedikit tenaga, mereka bakal terjatuh pontang-panting…!” berkata sampai di situ, Wan Fei-yang baru merasa dia sudah kelepasan. Kata-katanya terhenti, dengan pandangan takut-takut dia menatap manusia berpakaian hitam itu. “Aku hanya ingin melepaskan diri dari cengkeraman mereka, tidak satu jurus pun yang aku perlihatkan,” Wan Fei-yang menjelaskan.

“Aku hanya berharap kau akan memenuhi syarat yang aku ajukan. Sebelum berhasil mempelajari ilmu Bu-tong-pai, kau sama sekali tidak boleh menunjukkan bahwa kau mengerti ilmu silat,” kata manusia berpakaian hitam.

“Tecu selalu mengingatnya setiap saat,” walaupun bibirnya berkata demikian, namun hatinya tercekat. Kalau saja Wan-ji tidak datang pada saat yang tepat, dia pasti tidak dapat menahan diri lagi dan bocorlah rahasianya selama ini.

“Tidak mengerti ilmu silat lalu berpura-pura seakan mengerti sudah merupakan hal yang sulit, tapi mengerti ilmu silat lalu berpura-pura tidak mengerti sama sekali lebih sulit lagi,” kata manusia berpakaian hitam dengan suara datar. “Tapi kau sudah berjanji kepadaku, aku harap kau akan mematuhinya.”

“Beberapa kali hampir saja aku tidak dapat menahan diri. Rasanya ingin aku meninju mereka sampai babak belur. Justru karena mengingat perjanjian antara aku dengan Suhu maka terpaksa aku menahan sekuatnya dan menelan semua hinaan itu,” kata Wan Fei-yang.

“Seandainya rahasiamu sampai bocor oada saat kau belum sempat mempelajari ilmu Bu-tong-pai, mereka pasti akan menanyaimu panjang lebar. Dari mana kau bisa memperoleh ilmu silat setinggi itu. Seringan-ringannya kau diusir dari Bu-tong-pai, seberat-beratnya mereka akan memutuskan urat nadimu dan kau akan menjadi orang cacat untuk selamanya.”

Mimik wajah Wan Fei-yang berubah hebat.

“Kau tentu tahu bahwa aku bukan menakut-nakuti dirimu,” lanjut manusia berpakaian hitam itu.

Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya.

“Dengan berdasarkan ilmu yang kau miliki saat ini, untuk melarikan diri saja dari Bu-tong-pai, tentu tidak jadi masalah. Hanya saja kau jangan berharap mendapatkan sejurus saja ilmu silat dariku untuk selamanya,” kata manusia berpakaian hitam. Dia mendongakkan wajahnya dan menarik napas dalam-dalam.

Wan Fei-yang menjatuhkan diri berlutut di tanah. Matanya menyorotkan kesedihan. Namun dia tidak berani mengatakan apa-apa.

“Apakah kau masih merasa lelah?” tanya manusia berpakaian hitam itu.

“Tidak ….” Wan Fei-yang meloncat bangun dan berjungkir balik dua kali di udara.

“Bagus sekali!” kata manusia berpakaian hitam. Tubuhnya berkelebat ke arah hutan dan sekejap saja dia sudah kembali lagi. Dia membawa setangkup kayu bakar juga sebuah pentungan.

“Sambut!” teriaknya nyaring. Dia melemparkan pentungan itu kepada Wan Fei-yang. Dalam waktu yang bersamaan, dia mengeluarkan sebuah korek api dari balik pakaiannya. Secepat kilat dia menyatakan kayu bakar yang diambilnya tadi dan dilemparkan ke arah Wan Fei-yang satu per satu. Nyala api berpijaran seketika.

Wan Fei-yang kelabakan. Dia tidak bersiap-siap sama sekali. Tapi dia mengerti, Suhunya memang sengaja. Dengan demikian dia dapat meningkatkan kewaspadaannya apabila diserang secara tiba-tiba oleh pihak musuh. Dengan cepat dia menenangkan hatinya dan memukul kayu-kayu bakar yang sedang mengarah kepadanya.

Bukan sembarang memukul. Dia harus menunggu sampai setiap batang kayu bakar itu hampir mencapai tanah baru memukulnya agar terpental kembali di udara. Bayangan tubuh Wan Fei-yang diselimuti cahaya api yang menyala. Gerakannya begitu cepat sehingga susah ditangkap mata biasa.

Tampaknya apa yang dilakukan Wan Fei-yang sangat sederhana. Tapi bagi orang biasa hanya melihat cahaya api yang memenuhi udara saja sudah merasa kepalanya tujuh keliling, apa lagi menunggu kayu bakar itu hampir mencapai tanah baru memukulnya agar terpental kembali. Bukan saja memerlukan ketajaman mata untuk melakukannya, tapi gerakan juga harus gesit dan tidak boleh lambat sama sekali,

Meskipun Wan Fei-yang sanggup melakukannya, namun tampaknya dia agak kewalahan juga. Perlahan gerakannya mulai kacau. Sebatang kayu bakar hampir mencapai tanah, tergesa-gesa Wan Fei-yang mengejarnya. Tapi baru saja dia mengulurkan pentungan untuk memukul kayu bakar tersebut, kayu bakar lainnya sudah menyusul tiba. Sebatang kayu bakar pertama jatuh ke tanah. Disusul yang lain. Tiga batang sudah. Siapa nyana gerakannya makin kacau dan pikirannya makin tidak terpusat, maka konsentrasinya semakin buyar dan semakin banyak kayu bakar yang luput dari sasaran.

Manusia berpakaian hitam itu menarik napas panjang. Tubuhnya berkelebat. Empat puluh sembilan batang kayu bakar sudah berada di pelukannya kembali. Semua api yang tadi masih menyala sudah padam seketika. Dapat dibayangkan tingginya ilmu yang dikuasai orang itu.

Dia mengambil pentungan dari tangan Wan Fei-yang dan menyalakan kembali kayu-kayu bakar tadi. Tangannya bergerak cepat. Satu batang dinyalakan, pentungan pun segera menyambut. Sampai semua kayu bakar sudah menyala dan melayang di angkasa, gerakannya semakin cepat dan setiap kayu bakar yang kena pukulannya jatuh di tengah tanah kosong dan membentuk barisan yang rapi.

Wan Fei-yang memandang dengan terkesima. Beberapa tahun belakangan ini, setiap kentungan kedua tiap malam, dia selalu datang ke tempat ini dan berlatih dengan giat. Dia tidak peduli meskipun hujan lebat atau angin kencang. Manusia berpakaian hitam itu kadang-kadang muncul, kadang-kadang tidak. Dia selalu mengenakan sehelai kain penutup muka. Sampai sekarang Wan Fei-yang sama sekali belum pernah melihat wajahnya.

Dia memang tidak tahu bagaimana bentuk wajah manusia berpakaian hitam itu. Dia juga tidak tahu asal-usulnya dan tidak tahu mengapa dia bersedia mengajarkan ilmu silat kepadanya Namun dia tahu bahwa manusia berpakaian hitam itu mengajarkan segenap ilmunya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.

Waktu pada malam hari singkat sekali. Penderitaan Wan Fei-yang dapat dibayangkan. Namun dia menahan semua penderitaan itu. Tujuannya naik ke Bu-tong-san adalah untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi, agar suatu hari nanti dia mendapat nama di dunia kangouw. Tapi karena asal-usulnya, dia tidak pernah mendapat kesempatan dan selalu menjadi bawahan.

Selamna beberapa tahun terakhir ini, dia tidak pernah diajarkan setengah jurus pun ilmu Bu-tong-pai, malah dia bertemu dengan manusia berpakaian hitam yang mengajarkannya bermacam-macam ilmu. Namun sampai sekarang dia tidak tahu aliran perguruan mana ilmu yang dipelajarinya selama ini. Manusia berpakaian hitam itu juga tidak pernah menjelaskannya.

Oleh karena itu, Wan Fei-yang selalu mempunyai pikiran, meskipun ilmu silat manusia berpakaian hitam itu sangat tinggi, tapi belum tentu dari aliran lurus. Oleh sebab itu juga, sampai sekarang dia masih menaruh harapan besar untuk mempelajari ilmu Bu-tong-pai.

Nama Bu-tong-pai sudah menggetarkan dunia kangouw. Bu-tong-san sendiri terkenal sebagai tempat yang suci dan penuh wibawa. Tidak sembarang orang berani naik ke atas Bu-tong-san tanpa seizin Ciangbunjinnya. Perguruan tersebut termasuk di antara sembilan partai besar di dunia kangouw. Sejarahnya sudah ratusan tahun. Nama mereka tidak kalah dengan Siau-lim-pai. Apa lagi sekarang Siau-lim-pai sedang mengalami masa suram, maka Bu-tong-pai menjadi lebih menonjol dibandingkan delapan partai lainnya. Itulah sebabnya Bu-ti-bun selalu mengincar Bu-tong-pai sebagai sasaran pertamanya.

Tapi, siapa yang menyangka bahwa di Bu-tong-san yang terkenal angker dan disegani ternyata bersembunyi seorang manusia berpakaian hitam yang ilmunya demikian tinggi?

*****

Gerakan manusia berpakaian hitam itu sudah berhenti. Dia berdiri dengan tenang dan memandang Wan Fei-yang dengan sorot matanya yang tajam. Anak muda itu tidak tahu harus berbuat apa. Dia mengakui bahwa dirinya belum sanggup melakukan seperti apa yang ditunjukkan suhunya tadi.

Manusia berpakaian hitam itu membuang pentungannya ke atas tanah. Matanya masih memandang Wan Fei-yang lekat-lekat, “Ilmu apa pun yang kau pelajari, tetap harus dengan latihan keras baru bisa berhasil. Perhatianmu sama sekali tidak boleh berpencar. Terutama pikiranmu,” katanya.

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya. Dia diam seribu bahasa.

“Ikut aku!” ajak manusia berpakaian hitam tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah hutan tadi.

Wan Fei-yang terpaksa mengikuti dari belakang.

Setelah melewati hutan tersebut. Mereka sampai di sebuah air terjun yang deras. Percikan air yang disinari cahaya rembulan membuat butiran-butiran seperti permata yang berkilauan. Di bawah air terjun ada sebuah batu besar yang licin karena diterpa air yang deras sepanjang jaman. Batu itu kokoh dan bagai tertanam mati di sana.

Manusia berpakaian hitam itu menunjuk ke arah batu besar tersebut. “Duduk di sana!” katanya.

Wan Fei-yang melongo mendengar perintah manusia berpakaian hitam itu.

“Duduk di atas batu itu!” perintahnya sekali lagi.

Wan Fei-yang tertawa getir. “Apakah aku harus seperti batu itu yang dapat menahan terjangan air terjun yang deras?” tanyanya.

“Memang demikian maksudku. Kau harus berlatih sampai sekokoh batu itu. Sama sekali bergeming oleh terjangan air terjun yang deras,” sahut gurunya.

Wan Fei-yang terpaksa menguatkan hatinya dan berjalan ke arah air terjun. Suara air yang jatuh dari atas bergemuruh. Apa lagi di malam yang sunyi dan mencekam seperti itu. Begitu mendekat, suara gemuruh itu memekakkan telinga seketika. Wan Fei-yang maju lagi beberapa langkah. Telinganya tidak mendengar apa-apa lagi selain gemuruh air yang jatuh. Ketika air terjun yang deras itu menerpa kepalanya, dia merasa matanya berkunang-kunang dan hampir saja jatuh tidak sadarkan diri.

Tapi dia memang tidak pingsan. Kakinya perlahan menginjak ke atas batu tersebut. Namun baru saja dia berusaha naik ke atasnya, tubuhnya terempas kembali oleh terjangan air yang deras.

Batu itu telah diterpa air sepanjang jaman. Licinnya jangan dikatakan lagi. Di bawahnya terdapat sebuah sungai yang menampung jatuhnya air dari atas. Sejenak kemudian Wan Fei-yang bangkit kembali. Dia terpaksa muncul tenggelam beberapa kali sebelum berhasil. Namun dia sempat meneguk air beberapa kali.

Sinar mata manusia berpakaian hitam itu semakin dingin. “Naik lagi!” katanya sinis.

Wan Fei-yang menggertakkan giginya. Sekali lagi dia berusaha naik ke atas batu tersebut, namun terempas kembali oleh terjangan air terjun.

“Pusatkan perhatian. Kumpulkan hawa murni di perut. Alirkan tenaga sinkang ke arah telapak tangan lalu naik ke atas batu itu,” kata manusia berpakaian hitam memberi petunjuk.

Meskipun air terjun itu menerbitkan suara yang bergemuruh, namun kata-kata manusia berpakaian hitam tersebut dapat ditangkap jelas oleh telinga Wan Fei-yang. Dia mendengarkan dengan seksama. Otaknya berputar cepat menyimak arti ucapan itu. Masih ada sedikit yang tidak dimengertinya. Baru saja dia ingin bertanya, tubuh manusia berpakaian hitam itu sudah bergerak. Dalam waktu singkat bayangannya sudah menghilang dari pandangan mata.

Wan Fei-yang termangu-mangu memandang kepergian suhunya. Setelah sekian lama, akhirnya dia tersadar. Dia menyelamkan seluruh tubuh dan kepalanya ke dalam air. Ketika muncul kembali, tampangnya menjadi serius. Dia berenang kembali mendekati batu besar tadi.

Kali ini dia tidak tergesa-gesa. Bahkan dia sangat tenang. Perhatiannya dipusatkan. Hawa murni dikumpulkan di daerah pusar. Tenaga sinkang dialirkan pada kedua telapak tangan. Sekali menyentak, dia naik ke atas batu itu. Tubuhnya sempat terhuyung-huyung namun tidak terempas kembali seperti tadi. Kedua telapak kakinya diberatkan memasang kuda-kuda lalu duduk bersila. Wan Fei-yang mendapatkan keajaiban. Dia berhasil duduk di atas batu itu.

*****

Beberapa hari telah berlalu. Lonceng di Bu-tong-san berbunyi. Suaranya saling susul-menyusul. Getarannya berkumandang ke mana-mana. Kabut yang menutupi kuil-kuil di gunung itu bagai buyar seketika olehnya.

Dengan diiringi oleh bunyi lonceng yang tidak putus-putus itu, Ci Siong tojin duduk d tengah pendopo dengan sebuah mahkota berbentuk topi emas di kepalanya. Sejak Tio Sam-hong mendirikan Bu-tong-pai, peraturan untuk mengadakan upacara sembahyang seperti itu sudah ada.

Ci Siong tojin menyembah satu kali. Setelah itu dia menyembah lagi sebanyak tiga kali lalu bangkit kembali. Seorang Hu-hoat yang berada di sebelah kiri mengeluarkan sebatang pedang pusaka ke hadapan Ciangbunjin tersebut. Seorang Hu-hoat-tianglo yang ada di sebelah kanan mengasongkan sebuah baki dalam waktu yang bersamaan. Di atasnya terdapat cap bertuliskan kuning keemasan dan sepasang gelang emas.

Di samping pendopo tersebut ada sebuah kolam air yang jernih. Bau hio wangi memenuhi ruangan tersebut. Ci Siong tojin menepuk sepasang tangannya pada pakaiannya agar sisa debu hio yang digenggamnya tadi hilang. Dia menerima pedang pusaka itu dengan penuh hormat. Upacara itu sederhana namun khidmat.

Setelah menerima pedang pusaka tersebut, Ci Siong tojin mengambil cap yang diasongkan tadi dan dia mencap sehelai kertas yang berisikan semacam pemberitahuan bahwa dia mengangkat Pek Ciok sebagai penggantinya untuk sementara. Sedangkan sepasang gelang emas itu dimasukannya ke dalam saku pakaian.

Akhirnya dia melangkah keluar dari ruangan pendopo tersebut. Semua anak murid Bu-tong-pai berkumpul di pendopo. Mereka memencarkan diri menjadi dua bagian. Tidak terlihat kecemasan yang terpancar di wajah mereka. Ci Siong tojin duduk di atas sebuah kursi batu di luar pendopo. Dua orang tosu setengah baya berdiri di kedua sisinya. Mereka adalah murid-murid pendahulu Ci Siong tojin. Yang satunya bernama Bok Ciok, sedangkan saudaranya bergelar Ti Ciok. Mereka juga yang akan mengiringi kepergian Ci Siong tojin dan bertugas melayani sepanjang jalan.

Bok Ciok menyandang sebuah bungkusan di bahunya. Ci Siong tojin memang tidak mau membawa orang banyak. Dia merasa kedua orang ini saja sudah cukup. Lonceng masih berbunyi, ketiga orang itu melewati barisan para murid Bu tong. Wajah mereka tenang sekali. Angin bertiup perlahan, membawa kesejukan yang menggigil.

*****

Wan Fei-yang tidak ikut meramaikan suasana di pendopo itu. Ketika lonceng berbunyi, dia sudah menyibukkan diri di kandang babi.

Dari bukit di mana dia bekerja, dia dapat melihat batu-batu tangga yang menuruni bawah gunung. Dia juga melihat ketika Ci Siong dan kedua muridnya meninggalkan Bu-tong-san.

Angin mulai kencang. Rambutnya awut-awutan. Wan Fei-yang memanjangkan lehernya memandang ke bawah. Dalam hatinya diam-diam dia berdoa. Biarpun selama ini Ci Siong tojin selalu membuat hatinya sedih, namun pada saat seperti ini dia masih mendoakan keselamatan orang tua itu. Dia sendiri merasa heran. Tak perlu diragukan lagi, sebetulnya dia memang orang yang baik hati.

*****

Para murid Bu-tong-pai berkumpul di kaki gunung untuk mengantarkan kepergian Ci Siong tojin. Kuda-kuda sudah disiapkan. Ketika orang itu naik ke atas kuda dan memulai perjalanan.

Pagi sudah merayap sedikit demi sedikit, tapi tidak terlihat matahari bersinar. Awan kelabu menutupi langit. Apakah ini suatu pertanda buruk?

*****

Senja hari.

Tembok kota sudah terlihat di kejauhan. Ci Siong malah menghentikan kudanya di tepi jalan. Kuda yang mereka naiki sekarang bukan kuda yang sama ketika mereka meninggalkan Bu-tong-san. Selama tujuh belas hari perjalanan, mereka sudah tiga kali ganti tunggangan.

Bok Ciok dan Ti Ciok mengikuti Ci Siong tojin dari belakang. Melihat Suhunya berhenti, mereka segera menghampiri.

“Suhu, kota tidak seberapa jauh lagi,” kelanjutan kata-kata Ti Ciok tidak sulit dimengerti.

“Kota itu sudah termasuk wilayah Bu-ti-bun Kalau kita ingin tenang, maka lebih baik tidak masuk ke kota itu,” sahut Ci Siong tojin.

To Ciok menganggukkan kepalanya.

“Lebih baik kita menumpang satu malam di rumah penduduk sini. Mungkin mereka bersedia menerima kita,” kata Ci Siong tojin seraya turun dari kudanya.

Bok Ciok dan Ti Ciok segera mengikuti tindakannya. Ti Ciok mempercepat langkahnya mendahului Ci Siong tojin. Dia mengulurkan tangan dan mengetuk sebuah rumah penduduk yang terdapat di samping jalanan itu.

Tidak lama kemudian pintu rumah tersebut dibuka. Dari dalam muncul seorang nenek tua. Begitu tuanya sehingga giginya hanya tinggal dua saja. Wajahnya lembut, senyumannya juga ramah. Dia agak tertegun melihat kehadiran ketiga orang itu.

“Totiang bertiga ….”

Ci Siong tojin merangkapkan sepasang telapak tangannya dan menyebut nama Budha.

“Lo-jin-ke (orang tua), Pinto bertiga ingin menumpang satu malam. Apakah kedatangan kami ini mengganggu?”

“Totiang terlalu banyak peradatan, Lo-pocu (nenek tua) tidak berani menerimanya. Mari masuk,” ajaknya sambil melebarkan pintu rumah dan mempersilakan ketiga orang itu masuk. “Hanya kami sepasang suami istri tua yang tinggal di sini. Sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadiran para totiang.”

“Kalau demikian, kami terpaksa merepotkan,” sahut Ci Siong tojin sambil tersenyum lebar.

“Jangan sungkan,” nenek tua itu melangkah ke arah kamar tidur di sebelah kanan. “Harap para totiang duduk di ruang tamu. Aku akan menyuruh Tang-ke (panggilan untuk suami) menyiapkan sedikit hidangan.” Dia merandek sejenak, “Kuda para totiang biar ditambatkan dekat sumur saja.”

Ci Siong menolehkan kepalanya kepada Bok Ciok dan Ti Ciok.

“Ti Ciok, kau jaga kuda-kuda. Bok Ciok, coba kau lihat apa yang dapat kau lakukan untuk membantu lo-jin-ke tersebut,” katanya memerintahkan.

Ti Ciok dan Bok Ciok mengiakan. Ti Ciok segera keluar rumah menuju sumur tua. Sedangkan Bok Ciok langsung masuk ke dalam dapur.

Sumur tua terdapat di halaman rumah. Dapur terletak di sebelah kiri. Apabila membelok ke kanan, maka di sana terdapat sebuah ruang duduk. Di kiri kanannya masing-masing terdapat sebuah kamar. Kamar-kamar semacam itu memang biasanya disewakan untuk pelancong-pelancong yang kemalaman.

*****

Di dalam kamar sebelah kiri, seorang kakek baru beranjak dari tempat tidurnya. Melihat wajah sang nenek yang berseri-seri, dia merasa heran.

“Siapa yang datang?” tanyanya ingin tahu.

“Tiga orang totiang yang sedang mengadakan perjalanan,” sahut istrinya.

“Orang asing?” tanya kakek itu kembali.

“Aku belum pernah melihat mereka.”

“Lebih baik kita laporkan saja. Beberapa waktu yang lalu, utusan Bu-ti-bun sudah menurunkan perintah. Kalau melihat orang asing, kita harus melapor ke kantor pusat,” kata kakek tersebut.

“Sudahlah … kau tua bangka ini …. Buat apa mondar-mandir? Mereka hanya tiga orang totiang yang, mengadakan perjalanan, sama sekali tidak tampak seperti orang dunia kangouw lainnya. Lebih baik hemat sedikit tenagamu itu. Layani para tamu …. Sarang kita ini sudah lama tidak kedatangan tamu,” sahut nenek itu mengomel.

Kakek tua itu tersenyum lebar, “Siapa tahu ketiga totiang itu bisa melihat nasib. Mungkin mereka bisa mengatakan kapan kita akan mendapat rezeki besar,” sahutnya.

“Otakmu selalu memikirkan bagaimana caranya untuk kaya. Bagi orang seusiamu, kesempatan untuk mendapatkan rezeki besar sudah hampir tidak ada. Jangan berpikir yang bukan-bukan lagi. Cepat bereskan kamar sebelah sana,” kata istrinya.

“Baiklah….”

Suara pembicaraan mereka tidak terlalu keras, tapi Bok Ciok yang berada di luar kamar dapat mendengarnya dengan jelas. Dia segera kembali ke Ci Siong tojin.

“Suhu, orang-orang di rumah ini merupakan kaki tangan Bu-ti-bun, katanya melaporkan.

“Mengapa heran?” sahut Ci Siong tojin sambil membentangkan kedua tangannya, “Malam ini kita pasti tidak bisa tidur tenang.”

Bok Ciok tertegun mendengar perkataan orang tua itu.

“Tecu yakin mereka tidak akan melaporkannya.”

“Sayangnya, kita sudah berada di bawah pengawasan orang Bu-ti-bun,” kata Ci Siong tojin sambil menarik napas sekali lagi.

Bok Ciok masih tidak mengerti. Ci Siong menolehkan kepalanya ke arah pintu depan. Tiba-tiba dari luar terdengar tiga kali ketukan.

“Ti Ciok … buka pintu!” perintah Ci Siong tojin.

*****

Pintu segera dibuka, empat orang laki-laki berpakaian merah berdiri di depan pintu. Ketika melihat Ti Ciok, mereka langsung mengajukan pertanyaan, “Apakah Ci Siong tojin ada di tempat?”

“Pinto ada di sini,” sahut Ci Siong tojin sambil melangkah keluar.

Kedua suami istri tua itu mendengar suara percakapan. Mereka segera ikut keluar. Melihat kehadiran keempat orang laki-laki berpakaian merah tersebut, wajah mereka berubah hebat. Ci Siong tojin menoleh kepada kedua orang itu.

“Pinto sungguh menyesal telah mengejutkan kedua orang tua,” katanya.

Kakek dan nenek itu tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Tamu agung telah datang dari jauh, maafkan kami terlambat menyambut. Harap jangan disimpan dalam hati,” kata salah seorang laki-laki berpakaian merah tersebut.

“Tidak perlu banyak adat,” sahut Ci Siong tojin sambil tampil ke depan. Bok Ciok dan Ti Ciok mengawal di kedua sisinya.

“Kota Cui Hun Ceng di depan sana memiliki sebuah penginapan bernama Go Hok Kek-can. Kami sudah menyiapkan berbagai hidangan yang lezat untuk para totiang. Kami juga sudah menyediakan tiga buah kamar. Anggota Bu-ti-bun cabang Cui Hun Ceng berjumlah seratus tujuh puluh dua orang sudah berkumpul di depan kota menyambut kedatangan para totiang,” kata laki-laki berpakaian merah yang tadi.

Ci Siong tojin tertawa datar.

“Pinto bertiga tentu tidak enak membiarkan mereka menunggu begitu lama. Ti Ciok, siapkan semuanya.”

Ti Ciok mengiakan. Dia segera menarik kuda-kuda mereka ke depan rumah. Keempat laki-laki berpakaian merah juga menunggangi kuda masing-masing. Dua orang berada di depan sebagai penunjuk jalan. Malam sudah menjelang.

*****

Belum lagi memasuki kota, lampu-lampu sudah terlihat. Dua baris lentera di sepanjang jalan terlihat seperti dua ekor ular panjang. Malam semakin larut, lentera semakin terang. Barisan lentera memanjang dari tembok kota sampai penginapan Go Hok Kek-can. Seratus tujuh puluh dua anggota Bu-ti-bun berdiri memanjang di kiri kanan jalan. Di pinggang mereka terselip sebatang golok baja. Tangan kanan memegang sebuah lentera. Dada mereka dibusungkan. Berdiri tegak tanpa bergerak ataupun berbicara.

Di bawah sinar rembulan pakaian mereka yang berwarna merah seperti segumpal darah. Mata mereka pun ikut berwarna merah karena pantulan sinar lentera. Bumi dan langit mencekam, jalan panjang membisu.

“Suhu … lihat!” kata Ti Ciok sambil menunjuk ke arah barisan orang-orang yang membawa lentera.

“Sungguh besar lagak Bu-ti-bun, semua kegagahan yang ditampilkan ini sudah pasti memang sengaja dipamerkan kepada Bu-tong-pai!” tukas Bok Ciok.

“Suatu hari apabila Bu-ti mengunjungi Bu-tong, kita harus tunjukkan penyambutan yang lebih meriah. Biar mereka mengerti bahwa Bu-tong-pai selamanya tidak kalah dengan Bu-ti-bun,” sahut Ti Ciok.

Ci Siong tojin hanya tertawa datar mendengar perkataan kedua muridnya.

*****

Mereka melintasi jalan panjang. Derap kaki kuda yang berbunyi “Tik tak, tik tak” memecahkan kesunyian malam.

“Trang!”, seratus tujuh puluh dua anggota Bu-ti-bun menghunus golok mereka serentak. Mulut mereka mengeluarkan suara teriakan nyaring. Sinar golok seperti salju. Pakaian mereka yang merah ibarat lempengan besi. Suara teriakan mereka seperti guntur yang menggelegar memecah angkasa.

Sinar lentera bergerak-gerak. Untuk sesaat suasana bagaikan langit runtuh ke bumi. Wajah Bok Ciok dan Ti Ciok berubah hebat. Sedangkan Ci Siong tojin tenang saja. Seakan tidak ada apa-apa sama sekali.

Golok terhunus, sekali diputarkan kemudian masuk kembali ke dalam sarungnya. Gerakan dan teriakan mereka sangat teratur. Pasti sudah melalui latihan yang cukup lama. Apakah ini termasuk acara penyambutan atau hanya sekadar memamerkan kekuatan? Tentu hanya orang Bu-ti-bun sendiri yang paling jelas.

Ci Siong tojin merangkapkan sepasang telapak tangannya di depan dada.

“Bu-liang-sou-hud!” ujarnya. Suaranya begitu tenang, demikian juga mimik wajahnya.

*****

Malam belum terlalu larut. Lentera masih menyala.

Kamar itu bersih sekali. Lentera bersinar terang. Ci Siong duduk seorang diri di sisi lentera. Tangannya menggenggam belahan giok bergambar burung Hong. Tentu saja burung Hong itu hanya berupa ukiran. Tidak mungkin keluar dari belahan giok itu dan menembus langit biru.

Mata Ci Siong menatap belahan giok itu lekat-lekat. Perasaannya malah seperti melihat burung Hong tersebut terbang di angkasa. Mimik wajahnya aneh sekali. Sepertinya sedang memikirkan suatu rencana. Entah berapa lama sudah berlalu. Akhirnya dia berdiri dan berjalan menuju jendela.

Tirai jendela setengah terangkat. Dia dapat melihat jalanan di bawah jendela tersebut. Beberapa anak murid Bu-ti-bun mondar-mandir di bawah. Mereka mungkin diperintahkan untuk menjaga ketat.

Kemunculan Ci Siong tojin di depan jendela segera menarik perhatian mereka. Para penjaga itu mendongakkan wajahnya serentak dan memandang ke arahnya. Ci Siong tojin menurunkan tirai jendela. Dia berjalan kembali ke sisi meja dan memadamkan lentera. Kemudian tubuhnya berkelebat dan menyelinap ke tepi jendela satunya.

Di luar jendela yang satu ini adalah taman belakang penginapan. Di sana juga terdapat murid-murid Bu-ti-bun yang sedang berjaga. Ci Siong tojin memperhitungkan jarak yang akan diambilnya. Tubuhnya melesat seperti segumpal asap melintasi taman belakang tersebut. Dia hinggap di atas sebatang pohon kui yang merapat di dinding. Tidak ada seorang pun yang tahu perbuatannya itu.

Bunga-bunga yang bermekaran membawa keharuman semerbak. Sekali lagi Ci Siong tojin melesat. Gerakan tubuhnya membuyarkan keharuman bunga di kegelapan malam.

*****

Malam semakin larut. Rembulan masih memancar dengan bangga. Sinarnya seperti air yang mengalir. Kesejukan yang dibawanya juga ibarat malam di mana musim salju hampir tiba.

Gerakan tubuh Ci Siong semakin cepat. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun dia mendarat di dinding seberang yang tinggi. Tembok itu hampir mencapai empat cang. Di bawah sinar rembulan malah tampak hampir mencapai langit.

Ci Siong tojin menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya melesat seringan kapas. Meskipun ginkangnya sangat tinggi, namun mustahil mencapai dinding tersebut dengan satu kali loncatan.

Sekali menutul dia sudah meloncat setinggi tiga cang. Sebelum berat tubuh membawanya turun kembali, kakinya cepat menapak tembok dan mencelat lagi ke atasnya. Dengan demikian dia berhasil mencapai tembok atas dinding tersebut. Ilmu yang digunakannya merupakan salah satu dari pusaka Bu-tong-pai yaitu Te-hun-cong (mendaki tangga awan).

*****

Di balik tembok tersebut ditanam banyak pohon dan bunga-bunga. Pemandangannya sangat indah. Di sudut sebelah kiri ada sebuah kolam yang jernih. Air dalam kolam itu datar bagai cermin. Halaman di sekitar sunyi mencekam.

Di samping kolam terdapat sebuah bangunan dua tingkat. Di lantai atas terlihat penerangan masih menyala. Kertas jendela memperlihatkan bayangan karena pancaran sinar lentera. Terlihat bayangan seorang wanita yang sedang termenung.

Wanita itu berambut panjang dan mengenakan pakaian suatu daerah tertentu yang bagian bahunya terbuka. Bayangan wanita itu terpantul dari kertas jendela bagaikan sebuah lukisan. Kertas jendela seputih salju. Bayangan hitam menyendiri. Pemandangan itu membawa keindahan tersendiri. Indah tapi mengenaskan.

*****

Setelah berhasil naik ke atas dinding tinggi itu, Ci Siong tojin langsung dapat melihat bayangan wanita yang indah dan tampak kesepian itu. Dia seperti ikut merasakan kesepian hati wanita tersebut. Tiba-tiba dia menarik napas panjang.

Sambil menarik napas, tubuhnya berkelebat mendekati tepi jendela itu. Cahaya rembulan menyinari bayangan tubuhnya yang laksana kelelawar terbang melintasi malam. Wanita di dalam loteng itu masih tidak menyadari kehadirannya. Bayangan itu sama sekali bergeming dari tempatnya.

Ci Siong tojin mengeluarkan dua buah uang logam dari balik pakaiannya. Matanya menatap bayangan yang terpantul dari jendela tersebut lekat-lekat. Tanpa sadar sepasang tangannya gemetar. Apa gerangan yang membuat tokoh besar itu demikian gugup?

*****

Akhirnya Ci Siong tojin berhasil mengendalikan perasaannya. Tangannya tidak gemetar lagi. Dia melemparkan uang koin itu di angkasa dan keduanya saling berbenturan dan menimbulkan bunyi “ting!”. Bayangan di jendela itu bergerak mundur kemudian maju kembali dan mengangkat tangannya sejenak.

Ci Siong memperhatikan semua gerak-gerik wanita itu. Perasaannya agak tergugah.

Sebuah suara yang lembut terpancar dari balik jendela tersebut, “Kau sudah datang?”

“Betul, aku sudah datang,” sahut Ci Siong tojin kemudian menarik napas sekali lagi.

“Aku mengira kau sudah melupakan tempat ini,” kata wanita tersebut.

“Mana mungkin?”

“Tapi, sampai malam ini kau baru datang kembali.”

“Aku yakin kau tahu alasannya.”

“Aku justru terlalu mengerti,” kemudian terdengar suara tawa yang dingin dan datar.

Ci Siong tojin menundukkan kepalanya. Sulit menjelaskan perasaannya saat itu. “Aku tahu … selama ini aku terlalu banyak salah padamu,” katanya.

“Apakah kedatanganmu malam ini hanya untuk mengucapkan kata-kata ini?” tanya wanita itu sendu.

Ci Siong tojin tidak menyahut.

“Banyak hal yang aku ketahui,” kata wanita itu melanjutkan. Dia kembali menarik napas panjang.

“Setelah tanggal sembilan bulan sembilan, pasti ada sesuatu keputusan.”

“Berapa bagian keyakinan yang kau miliki?” tanya wanita itu.

“Sepuluh bagian,” sahut Ci Siong tojin dengan penuh keyakinan.

“Lalu bagaimana?” tanya wanita itu kembali. “Apakah kau akan meninggalkan Bu-tong-pai dan melepaskan jabatanmu sebagai Ciangbunjin partai itu?”

“Aku memang berniat melepaskannya,” sahut Ci Siong tojin sambil menganggukkan kepalanya.

“Lalu?”

“Aku tidak pernah lupa apa yang pernah kujanjikan kepadamu.”

“Benarkah kau tidak pernah melupakannya?”

“Setiap saat selalu teringat dalam hati.”

Tiba-tiba wanita itu tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu sungguh mengenaskan. Ci Siong tojin termangu-mangu menatap bayangannya.

“Sayang sekali ….” suara tawa itu terhenti seketika.

“Apanya yang harus disayangkan?”

“Masih ada satu hal yang kau lupakan,” kata wanita itu.

“Apa?”

“Kau lupa sudah berapa tahun aku menunggumu.”

Sekali lagi Ci Siong tojin tertegun.

“Sudahlah,” wanita itu kembali menarik napas dalam-dalam. “Aku toh sudah bersiap melupakan segalanya.”

“Kau ….”

“Kita sudah sama-sama tua. Buat apa kita demikian serius?”

Ci Siong tojin langsung terdiam mendengar ucapan itu.

“Meskipun kau mengatakan bahwa keyakinanmu sampai mencapai sepuluh bagian, sebetulnya dalam pertarungan ini kau sendiri belum seyakin itu.”

Mata Ci Siong tojin bersinar tajam, “Bagaimana kau dapat berkata begitu?”

“Kalau kau memang pasti yakin akan memenangkan pertarungan, untuk apa kau datang ke sini lebih dahulu?”

Ci Siong tojin tidak sanggup menyahut.

“Biar bagaimana pun, aku tetap berharap kau dapat kembali ke Bu-tong-san dengan selamat.”

“Selama beberapa tahun ini, bagaimana kehidupanmu?” tiba-tiba Ci Siong tojin mengajukan pertanyaan.

“Baik.”

“Bolehkah aku masuk ke dalam kamarmu?” tanya Ci Siong tojin dengan suara lirih.

“Apakah kau mempunyai demikian banyak perkataan yang ingin kau utarakan?”

“Banyak sekali.”

“Lebih baik tidak usah dikatakan lagi.”

“Apakah … kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku?” tanya Ci Siong tojin penasaran.

“Daripada bertemu namun menyakitkan, maka lebih baik tidak.”

“Mengapa tidak biarkan kita saling bertemu?”

“Mengapa tidak dibiarkan saja seperti ini?”

Ci Siong tojin terdiam.

“Kau sudah boleh pergi,” kata wanita itu masih dengan nada datar dan dingin.

Ci Siong tojin termenung sekian lama. Wanita itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Bayangannya tetap bergeming.

*****

Rembulan dingin membisu. Malam mencekam semakin sunyi.

Malam semakin larut. Rembulan mulai bergeser ke barat. Saat menjelang fajar adalah saat paling gelap dan pekat. Kabut mulai bertebaran di taman tersebut. Pakaian Ci Siong tojin mulai basah oleh tetesan embun. Dia menatap bayangan di kertas jendela itu. Meskipun banyak perkataan yang ingin diutarakan, namun tenggorokannya bagai tercekat.

“Aku akan pergi,” akhirnya dia hanya dapat mengucapkan sepatah kata saja.

“Sejak tadi kau memang sudah harus pergi.”

“Aku yakin akan kembali secepatnya.”

Wanita itu berdiam diri mendengar perkataannya.

“Bagaimana keadaan anak itu?” tanya Ci Siong tojin.

Bayangan tubuh wanita itu bergetar. Suaranya juga agak gemetar.

“Dia bukan anak kecil lagi, tapi keadaannya baik-baik saja.”

Ci Siong tojin menarik napas panjang. “Apakah aku benar-benar tidak boleh melihatnya?

“Kau tentu tahu jelas bagaimana pendirianku selama ini.”

Sekali lagi Ci Siong tojin menarik napas panjang. Tubuhnya berkelebat melintasi kolam jernih. Lengan bajunya berkibaran.

Bayangan di atas loteng tetap tidak bergerak.

Ci Siong tojin meloncat ke atas tembok tinggi. Kepalanya ditolehkan. Jendela masih tertutup rapat. Bayangan itu masih saja terpaku di tempatnya. Akhirnya dia tahu bahwa harapannya sudah pupus. Suara tarikan napasnya menghilang di balik tembok yang tinggi.

Tepat pada saat itu juga, seseorang muncul dari balik rumpunan bunga yang lebat di tepi kolam. Dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Seluruh pakaiannya sudah basah kuyup oleh tetesan embun. Dia berdiri tegak di depan rumpun bunga-bunga yang lebat dan tampaknya sudah cukup lama dia berada di tempat tersebut.

Ternyata Ci Siong tojin sama sekali tidak menyadari kehadirannya sejak tadi. Ilmu silat yang dimiliki orang ini pasti hebat sekali. Kesabarannya dalam menahan perasaan juga menakutkan!

*****

Tanggal sembilan bulan sembilan.

Matahari belum terbit …

Thai san tinggi menjulang …

Tung-gi berada di sisinva ….

*****

Di tengah bukit terdapat daerah yang luas. Untuk naik ke atas bukit tersebut, paling tidak harus menaiki undakan sebanyak enam ribu tujuh ratus tangga batu. Dari kejauhan pemandangan di tempat tersebut sangat indah. Anak tangga yang tinggi itu laksana jalan menuju surga.

Di antara awan-awan putih terlihat sebuah tembok merah. Juga terdapat sebuah pintu besar berwarna kuning. Itulah Lan-tian-bun (pintu langit selatan) yang sangat terkenal. Setelah melewati pintu tersebut kita bisa melihat Giok-hong-teng, karena jaraknya sudah dekat sekali.

*****

Matahari masih belum terbit. Angin bertiup semilir. Seluruh bukit itu diselimuti hawa dingin. Di bawah sebatang pohon siong berdiri tegak seseorang. Bahunya menyandang sebuah kotak persegi panjang. Di atas bukit itu hanya ada dia seorang. Ci Siong tojin dari Bu-tong-pai!

*****

Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang. Lengan baju dan pakaian Ci Siong tojin berkibaran. Jenggotnya yang panjang juga melambai-lambai. Tampaknya sebentar lagi dia akan melayang tertiup angin, namun rupanya tidak. Dia tetap berdiri tegak seperti sebuah arca.

Matanya yang setengah terpejam tiba-tiba terbuka. Burung-burung beterbangan dari bawah bukit dengan keadaan panik. Jumlahnya beribu-ribu memenuhi angkasa. Pada saat itu, udara dingin membuyar. Di atas sebuah batu berjarak sepuluh depa dari tempatnya telah berdiri tegak seseorang. Burung-burung masih beterbangan dengan panik. Orang itu membalikkan tubuhnya. Dia adalah Tok-ku Bu-ti!

*****

Dua pasang mata yang bersinar tajam laksana pedang saling bertemu. Ci Siong tojin tidak bergerak, Tok-ku Bu-ti juga berdiri bergeming. Pada saat itu juga, mata dan tubuh kedua orang itu seakan telah membeku menjadi es batu. Sepasang mata Ci Siong tojin dan mata Tok-ku Bu-ti tetap bersinar tajam. Mereka tentu sedang mengukur kekuatan masing-masing melalui pandangan tersebut. Keduanya tidak ada yang saling mengalah.

Awan bergerak di langit di bagian timur. Segaris sinar berwarna keemasan mulai muncul. Sinar yang indah itu perlahan berubah menjadi bulatan. Kemudian berubah menjadi bola api. Bulat dan merah. Bola api itu bergerak perlahan melintasi awan putih dan bukit yang menghijau.

Bola api itu bangkit dengan kemalas-malasan. Warnanya semakin lama semakin terang. Merahnya seperti batu manau. Bulatan yang belum jelas semakin kentara. Menembusi awan putih dan meninggalkan tepian laut. Naik ke atas langit dan memancarkan cahayanya dengan gagah.

Menikmati matahari terbit di atas Thai-san merupakan pemandangan yang demikian memikat hati. Ci Siong tojin dan Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak tergerak oleh keindahan tersebut. Angin masih bertiup. Lengan baju mereka melambai-lambai.

Di bawah cahaya sinar mentari, tongkat berkepala naga di tangan kiri Tok-ku Bu-ti seperti benda hidup. Wajahnya menghadap ke timur. Mata dan mentari sama-sama bercahaya. Kelopak matanya bergerak sekilas. Demikian juga ujung bibirnya. Akhirnya dia mengucapkan sepatah kata, “Sepuluh tahun telah berlalu ….”

“Hm ….” Ci Siong tojin menyahut datar. Sepasang mata dan tubuhnya yang bagaikan es tadi nampaknya mulai mencair.

“Sungguh tidak disangka, sepuluh tahun kemudian, hari ini … pendekar yang namanya masih menonjol di bu-lim masih juga kita berdua.” Tok-ku Bu-ti menarik napas panjang. “Setelah hari ini berlalu, aku yakin diriku masih kesepian.”

“Aku juga mempunyai perasaan yang sama,” kata Ci Siong tojin. Dia juga ikut-ikutan menarik napas panjang. “Di tempat yang tinggi, hawa dingin selalu berkuasa. Apabila sudah mencapai taraf tertentu, aku yakin setiap manusia pasti akan merasakan hal yang sama.”

“Tidak peduli bagaimana, dendam permusuhan antara Bu-ti-bun dan Bu-tong-pai, hari ini harus ada keputusannya.” Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti mengajukan pertanyaan, “Ci Siong, apakah urusan Bu-tong-pai telah kau selesaikan sebelum berangkat kemari:”

“Belum …”

“Tidak apa-apa. Masih ada aku yang akan mengurus segalanya.”

“Bu-tong-pai telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Tanpa Ci Siong, partai itu tetap akan cemerlang,” kata-kata Ci Siong tojin masih begitu datar dan dingin. “Berbeda dengan Bu-ti-bun. Bila Tok-ku-heng sudah tiada, mungkin perguruan kalian tidak akan bertahan lama.”

Tok-ku Bu-ti tertegun sejenak. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak, “Bagus … tidak disangka sepuluh tahun kita tidak berjumpa, lidah to-heng semakin tajam saja. Namun, entah bagaimana dengan ilmu silatnya?”

Penampilan Ci Siong tojin tetap sedemikian tenangnya. Apabila Tok-ku-heng memang ingin tahu, bukankah caranya mudah saja?”

Mata Tok-ku Bu-ti bersinar semakin tajam, “Waktunya memang sudah tepat,” sahutnya dingin.

“Wajah Tok-ku-heng berhadapan ke timur, punggung di sebelah barat. Tepat menghadapi cahaya mentari. Lebih baik pindah ke tempat lain,” kata Ci Siong tojin menyarankan.

“Sekarang angin barat sedang bertiup. Wajahku menghadap ke timur. Dengan demikian aku mengikuti arah angin. Sama sekali tidak terasa dirugikan.”

“Kalau kau dan aku sama-sama tidak merasa keberatan, baiklah ….” Ci Siong tojin merandek sejenak. “Silakan!” tangannya bergerak. Kotak persegi panjang yang ada di bahunya segera terlempar dan melayang jauh. Akhirnya tepat menyangkut di atas sebatang ranting pohon siong yang patah.

“Brak!”, kotak kayu itu terbuka. Dasarnya dialasi selembar kulit kerbau. Sedangkan di atasnya terdapat empat macam senjata. Toya, golok, pedang dan semacam senjata lagi yang kedua ujungnya terbuat dari kayu namun disambungkan dengan rantai di tengahnya.

Tok-ku Bu-ti mengentakkan tongkat kepala naganya ke atas batu di mana dia berdiri. Batu itu hancur seketika. Kerikil dan pasir berhamburan di udara. Tiba-tiba tubuhnya berputar menjadi bayangan dan mencelat. Tampaknya dia seakan-akan sedang melayang-layang di udara.

Ci Siong tojin bergerak cepat. Tangan kanannya menggenggam senjata sepasang kayu yang disambung dengan rantai tadi. Sedangkan tangan kirinya menggenggam toya. Dalam sekali gerakan, senjatanya yang pertama terulur dan menjadi kaku. Tubuhnya juga mencelat di udara. Tongkat Tok-ku Bu-ti bertemu dengan senjatanya dan mengeluarkan suara keras. “Trang!!!” Keduanya mendarat kembali ke tanah. Senjata Ci Siong tojin berputaran dan membentuk bayangan. Tiba-tiba bayangan itu tidak berputar lagi namun meluncur lurus ke arah tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Tongkat berkepala naga Tok-ku Bu-ti dikibaskan. Tepat menangkis datangnya serangan Ci Siong tojin. Namun sebelum tongkat itu sampai, Ci Siong tojin sudah menarik senjatanya kembali lalu secepat kilat diluncurkan lagi ke depan. Senjata itu ibarat seekor ular yang bergerak-gerak menuju mangsanya. Sasarannya masih juga tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti tiba-tiba berubah. Jarak senjata Ci Siong tojin yang tinggal setengah cun itu luput juga dari tenggorokannya. Tiga puluh enam kali serangan berturut-turut dari Ci Siong tojin berhasil dihindarinya. Ci Siong tojin berteriak nyaring menggelegar membuat suasana pagi jadi mencekam. Toyanya diluncurkan ke arah bola mata Tok-ku Bu-ti, sedangkan senjata yang satunya tetap mengarah tenggorokan.

“Ting! Ting! Ting!”, tujuh belas kali suara benturan senjata berdenting. Setiap kali dia menyerang, senjatanya selalu berbenturan dengan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti. Meskipun gerakan tangan Ci Siong tojin amat cepat, namun tangkisan Tok-ku Bu-ti lebih cepat lagi.

Serangan masih belum berhenti. Selama ini Tok-ku Bu-ti tampaknya hanya bertahan. Tiba-tiba tubuhnya bergerak. Sebuah jurus “Sin-liong-pa-bwe” dikerahkan. Seperti nama jurusnya sendiri yang berarti naga sakti menggoyangkan ekor. Tubuh Tok-ku Bu-ti hampir tidak dapat ditangkap oleh mata. Tongkat kepala naganya berbalik menyerang. Kibasannya menghalangi gerakan kaki Ci Siong tojin.

Kaki kiri Ci Siong tojin disentakkan. Tubuhnya mencelat tinggi di udara. Toyanya diputar lalu dihunjamkan ke bawah. Mengarah kepala Tok-ku Bu-ti. Lawannya segera mengangkat tongkat kepala naga dan kakinya bergerak mundur. Ci Siong tojin berjungkir balik tiga kali. Baru saja kakinya mencapai tanah, senjatanya yang satu lagi langsung meluncur ke tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Tongkat kepala naga segera dikibaskan. Berbarengan dengan itu, mulut Tok-ku Bu-ti mengeluarkan teriakan keras. Senjata Ci Siong tojin yang masih meluncur kembali berbenturan dengan tongkat kepala naga tersebut. “Trang!” Keduanya mengambil ancang-ancang sekali lagi. Senjata Ci Siong tojin meluncur cepat. Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah siap-siap menyambutnya. Mulut naga di atas tongkatnya menggigit senjata Ci Siong tojin seketika. Tosu itu agak terkejut. Kakinva cepat-cepat mundur tiga langkah. Namun Tok-ku Bu-ti tak memberinya kesempatan.

Ci Siong tojin mundur lagi. Dia menggunakan gerakan Te-hun-cong untuk menghadapi lawannya. Dengan bantuan jurus itu, dia dapat menanggulangi kesulitannya tadi. Kedua senjatanya kembali menyerang Tok-ku Bu-ti.

“Bagus!” seru Tok-ku Bu-ti melihat kelincahan lawannya. Tubuhnya berkelebat. Senjata Ci Siong tojin lewat di samping lehernya, kemudian membentur gunung-gunung yang ada di belakangnya.

“Prak!”, batu itu terbelah menjadi dua. Sekali lagi tubuh Ci Siong tojin mencelat ke udara. “Hati-hati senjata rahasia!” katanya memperingatkan. Tiba-tiba tubuhnya tertutup oleh titik putih yang berjumlah banyak.

Tujuh macam senjata rahasia dilancarkan dalam waktu yang bersamaan. Masing-masing berjumlah sembilan batang. Tangan kirinya membentang, tangan kanan mengibas. Enam puluh tiga batang senjata rahasia segera meluncur mengarah seluruh tubuh Tok-ku Bu-ti.

Terdengar suara menggelegar di angkasa, menggetarkan hati siapa pun yang sempat mendengarnya. Gerakan tubuh Ci Siong tojin masih belum berhenti. Dia berjungkir balik lagi sebanyak tiga kali. Seratus delapan puluh sembilan batang senjata rahasia diluncurkan dalam waktu yang bersamaan.

Gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti sendiri ibarat seekor naga yang dikurung titik hujan yang deras. Sekali lagi dia berteriak, tubuhnya berputar. Telapak tangannya menghantam keras. Terdengar suara menggelegar. Cahaya merah memenuhi tempat itu. Berpijaran bagai bunga api. Dua ratus lima puluh dua batang senjata rahasia yang dilancarkan Ci Siong tojin terpental sejauh tiga depa.

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak, “Ci Siong, kau sama sekali tidak menyangka aku menguasai jurus yang satu ini, bukan?” tanyanya dengan nada angkuh.

Ci Siong tojin tidak menyahut. Tubuhnya mendarat ke atas tanah. Tangannya kembali terulur. Dengan cepat dia sudah meraih kembali toya yang diletakkannya di tanah tadi. Toya itu sebenarnya berukuran pendek. Namun dengan memencet sebuah alat yang ada di atasnya, toya itu akan menjadi panjang. Tak usah diragukan lagi bahwa senjata itu merupakan benda pusaka yang tiada duanya. Ci Siong segera menggerakkan senjatanya. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah bertarung sebanyak seratus delapan puluh jurus. Masih belum terlihat siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan. Namun, justru pada jurus keseratus delapan puluh itulah, toya Ci Siong tojin dihantam oleh tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sehingga putus menjadi dua.

Ci Siong tojin sempat terkesima sejenak. Kemudian dia tersadar dan cepat-cepat mengambil golok yang ada dalam kotak persegi tadi. Kui-soa-to (golok pembuka gunung) merupakan ilmu yang hebat dan keji dari Bu-tong-pai. Seluruhnya berjumlah empat puluh sembilan jurus. Setiap jurus memiliki tiga belas perubahan.

Golok dan tubuh Ci Siong tojin bergerak serentak. Dia menyerang berturut-turut. Gerakannya begitu cepat, sehingga bukan saja goloknya tidak terlihat. Bahkan bayangan tubuhnya tertutup sinar golok tersebut. Tok-ku Bu-ti terdesak mundur sebanyak sepuluh langkah. Meskipun demikian, tongkat kepala naganya masih menangkis dengan cekatan. Malah akhirnya mulut naga itu kembali menggigit ujung golok.

“Krek!”, golok itu segera terputus ujungnya. Ci Siong tojin melemparkan golok tersebut dan mengambil pedangnya. Liong-gi-kiam segera dilancarkan. Segaris sinar pedang ibarat pelangi di senja hari meluncur ke arah Tok-ku Bu-ti.

Sejak tadi penampilan Tok-ku Bu-ti tenang-tenang saja. Melihat serangan pedang tersebut, barulah mimik wajahnya menjadi kelam. Dia tahu Ci Siong tojin sudah mengerahkan ilmu andalannya. Pertarungan mereka sebelumnya ibarat pemanasan saja. Gerakan kaki Ci Siong tojin mengikuti langkah pat-kwa. Pedangnya bergerak mengikuti im dan yang. Perlahan namun membawa kewibawaan yang sulit dilukiskan. Setiap pedangnya bergerak, selalu ada ratusan titik putih mengiringinya.

Gerakan pedang di tangan Ci Siong tojin dari lambat berubah cepat. Sebatang pedang laksana berubah menjadi ribuan batang. Lalu membias lingkaran sinar putih yang terang. Dalam waktu sesaat, tiga puluh delapan kali serangan telah dilancarkan oleh Ci Siong tojin. Tok-ku Bu-ti menyambutnya dengan baik. Meskipun demikian, keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi kening kedua orang itu.

Sinar pedang yang berkumpul membuyar menjadi sinar terang bagaikan lentera yang dinyalakan. Kadang-kadang terlihat sebaris sinar yang lebih terang berkelebat. Persis seperti petir yang menyambar. Sinar mata Tok-ku Bu-ti semakin tajam. Dari jarak yang jauh dia sudah dapat merasakan percikan nyeri yang ditimbulkan oleh hawa pedang tersebut. Namun Tok-ku Bu-ti bukanlah tokoh nomor satu kalau demikian saja sudah kelabakan. Tongkat kepala naganya memang terpaksa dilepas oleh tangannya. Tongkat itu melayang di udara kemudian menancap di dalam tanah.

Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti menggelindingkan badannya di atas tanah. Sinar pedang mulai menyurut. Tok-ku Bu-ti mengambil posisi setengah berjongkok. Tangannya menghantam ke atas. Sinar merah sekali lagi memenuhi angkasa. Lalu terlihatlah sesuatu yang mengejutkan. Warna kulit tubuh Tok-ku Bu-ti ikut berubah menjadi merah. Seakan-akan ada darah yang mengalir lewat celah-celah pori-porinya. Wajahnya juga mengalami perubahan. Tok-ku Bu-ti seperti berubah menjadi orang lain. Apa yang terlihat bukan wajah laki-laki itu sebelumnya. Ikat rambutnya terlepas dan rambutnya melambai-lambai oleh embusan angin.

Ci Siong tojin mengikuti perubahan itu dengan perasaan tegang. Wajahnya pucat pasi, “Mit-kip-mo-kang tingkat delapan!” katanya seperti memperingatkan dirinya sendiri.

“Tidak salah!” sahut Tok-ku Bu-ti. Sepasang telapak tangannya yang semerah darah segera diluncurkan ke depan. Pedang di tangan Ci Siong tojin tidak dapat dipertahankan lagi dan lepas seketika.

*****

Sekali lagi Tok-ku Bu-ti mengangkat telapak tangannya. Pedang Ci Siong tojin yang terjatuh di tanah seperti ditarik oleh magnet yang tidak terlihat dan dengan kecepatan tinggi menancap ke arah batu di belakang tubuh Tok-ku Bu-ti.

Ci Siong tojin melancarkan sebuah serangan dengan kedua belah telapak tangannya. Tok-ku Bu-ti juga tidak kalah cepat. Sepasang telapak tangan segera terulur menyambut datangnya serangan itu.

“Blam!”, Tok-ku Bu-ti terdesak mundur tiga langkah. Namun tubuh Ci Siong tojin malah terpental dan melayang beberapa depa.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: