Kumpulan Cerita Silat

13/12/2007

Ilmu Ulat Sutera (02)

Filed under: Ilmu Ulat Sutera — ceritasilat @ 12:10 am

Ilmu Ulat Sutera (02)
Oleh Huang Ying

“Bu-tong-pai juga mempunyai peraturan yang tidak boleh dilanggar!” kata Pek Ciok tak mau kalah.

“Bagaimana kalau aku tetap hendak membawa pedang ini naik ke atas?” tantang Kongsun Hong.

“Berarti kau sengaja mencari masalah dengan seluruh murid Bu-tong-pai,” sahut Pek Ciok.

“Selama tiga ratus tahun terakhir, Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun memang tidak pernah akur,” Kongsun Hong tertawa lebar. “Perintah Suhu setinggi langit. Hadiah tetap hadiah diantarkan sedangkan pedang tetap tidak boleh ditinggal,” katanya.

“Kalau Sicu tetap bersikeras, Pinto tidak dapat mengatakan apa-apa lagi,” Pek Ciok menepuk tangannya dua kali. “Siapkan barisan!”

Tujuh orang tosu keluar dari kerumunan tersebut. Gerakan tubuh mereka berubah-ubah. Mereka mengelilingi Kongsun Hong.

Mata laki-laki itu bersinar tajam, “Apakah ini yang disebut Bu-tong Pat Tou jit-sing (tujuh bintang bertaburan di delapan penjuru)?”

“Betul!” sahut Pek Ciok sambil mundur beberapa langkah.

Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, “Maaf … Po-kiam (pedang pusaka) tidak bermata,” katanya.

“Sicu harap berhati-hati!” kata Pek Ciok. Wajahnya berubah sedingin es.

Selesai berkata, dia berteriak nyaring. Pedang ketujuh tosu tadi terhunus seketika. Barisan mereka sangat teratur. Dengan melihat cara mereka menggerakkan pedangnya saja, kita segera tahu bahwa mereka telah berlatih dalam waktu yang cukup lama dan sudah matang permainannya.

Kongsun Hong menatap seksama dengan pandangannya yang dingin. Tubuhnya menyatu dengan pedang. Tangan kanan ketujuh tosu tadi menggenggam pedang, sedang tangan kiri mereka menjalankan jurus-jurus ampuh. Mata mereka semua tertuju pada wajah Kongsun Hong.

Sinar mata mereka tajam sekali. Hal ini membuktikan bahwa Tai Yang-kiat mereka telah dilatih sampai dalam. Lwekang mereka juga tinggi sekali. Hal ini sudah dapat dipastikan.

Kongsun Hong mengedarkan pandangannya. Dia mendengus dingin. Pedangnya digetarkan, “sreettt”, suaranya mendengung-dengung. Tubuh ketujuh tosu tadi bergerak serentak. Pedang juga diulurkan dalam waktu yang bersamaan. Bahu-membahu menghadap ke kanan. Tosu yang berada di tengah berteriak, “Bo liang Sou hud (kasih Buddha tiada batas)!”

“Jit-sing-kiam (pedang tujuh bintang) selalu digerakkan oleh tujuh orang. Jangan dikira kami mencari keuntungan. Melawan musuh yang banyak pun kami selalu bertujuh!” sahut Tosu yang lainnya.

“Nama Jit-sing-kiam telah menggetarkan dunia kangouw. Aku Kongsun Hong sudah lama ingin berkenalan. Tidak usah ragu-ragu,” kata Kongsun Hong langsung menggerakkan tubuhnya dan menyerang.

Ketujuh Tosu tadi segera bersiap siaga. Bu-ti-bun juga merupakan partai yang mempunyai nama besar. Sebagai murid tertua dari Buncu partai tersebut, Kongsun Hong tentu dapat diandalkan. Dan dia pula yang dipilih oleh suhunya sebagai utusan ke Bu-tong-san.

Kibaran lengan baju menimbulkan suara deruan angin. Kaki mereka maju beberapa langkah dan mengurung Kongsun Hong di tengah. Murid tertua Bu-ti-bun itu hanya merasakan hawa pedang yang semakin menebal. Bayangan manusia di depan matanya berkelebat. Dia seakan melihat satu orang menjadi tujuh orang.

Dengan teriakan keras dia menggetarkan pedangnya. Sinar dingin beterbangan. Tusukannya berubah menjadi berpuluh-puluh titik. “Pat-fang-hong-ho” (hujan angin di delapan penjuru). Gerakan yang dimainkannya persis seperti nama jurus itu sendiri. “Trang! ting! trang! ting!”, tujuh kali suara benturan senjata terdengar. Tujuh orang tosu itu masing-masing telah menerima satu kali serangan Kongsun Hong. Serangan pedang laki-laki itu sendiri yang tertuju ke arah tenggara luput mengenai sasarannya.

Tubuhnya tegak kembali. Baru saja dia memutar ke arah selatan, dua orang tosu sudah mengadang dari kiri dan kanan. Pedang mereka bersilangan bagai sebuah gunting besar mengarah kepadanya. Kongsun Hong mengibaskan pedangnya membentuk lingkaran. Dia menyambut serangan pedang lawan.

Tubuh mereka sama tergetar. Baru saja kaki Kongsun Hong mundur beberapa langkah, serangan tosu yang lain sudah tiba. Terpaksa dia mengangkat pedangnya menangkis. Kakinya kembali surut beberapa langkah. Dia sudah berada di tempatnya semula. Kedua tosu yang tadi menyerangnya tidak mengejar. Mereka memperbaiki posisi dan bergabung dengan lima rekannya yang lain.

Kongsun Hong masih memandangi mereka dengan sinar matanya yang dingin.

“Jit-sing-kiam ternyata bukan nama kosong,” katanya tenang.

Ketujuh orang tosu tadi masih mengambil sikap menunggu. Sedangkan Kongsun Hong juga menyilangkan tangannya di dada dan bersiap-siap membuka serangan. Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang lantang, “Ciangbunjin menurunkan perintah. Tamu harap diantar ke atas gunung. Tidak boleh dihalangi!”

Suara pertama berkumandang dari jauh. Suara kedua menyusul, dan suara ketiga terdengar jaraknya sudah dekat sekali.

“Berhenti!” teriak Pek Ciok kepada ketujuh tosu tadi.

Tubuh mereka berkelebat. Pedang masing-masing telah dimasukkan kembali ke sarungnya. Pek Ciok menganggukkan kepala kepada Kongsun Hong.

“Sicu … silakan!”

“Tidak diteruskan?” tanya Kongsun Hong dengan tertawa dingin. Pedangnya sendiri diturunkan kembali.

“Ciangbunjin telah menurunkan amanat. Kami tidak berani membantah,” sahut Pek Ciok menahan kejengkelan hatinya.

Kongsun Hong memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. “Bila ada kesempatan, aku masih ingin berkenalan lebih lanjut dengan Jit-sing-kiam kalian,” katanya.

Tujuh tosu tadi tidak mengatakan apa-apa. Pek Ciok juga berdiam diri. Dia hanya melangkah ke depan sebagai penunjuk jalan. Kongsun Hong juga tidak menyindir lebih lanjut. Dia mengikuti di belakang Pek Ciok. Para murid Bu-tong yang lain juga mengikuti tindakan mereka. Sekali lagi terdengar suara lonceng berbunyi. Kumandangnya sayup-sayup mengalun ke bawah gunung.

*****

Senja hari. Lentera-lentera telah dinyalakan. Asap hio wangi bergumpal-gumpal membuat suasana yang memang sudah mencekam menjadi lebih angker. Di tengah ruangan yang menghadap pintu keluar, terdapat sebuah meja pemujaan. Di bagian kiri kanannya, masing-masing berdiri dua orang tosu. Usianya pasti sudah memasuki kepala tujuh. Rambut dan jenggotnya sudah memutih. Mereka adalah keempat Hu-Hoat-tianglo (semacam penasihat hukum).

Di sudut ruangan berdiri Gi-song dan Cang-song. Enam orang itu tidak ada satu pun yang bersuara. Apabila Gi-Song tidak mengucapkan apa-apa, Cang-song pun seperti tiba-tiba menjadi bisu. Tampang mereka semua serius sekali.

Di dalam ruangan pendopo tersebut hanya terdapat enam orang ini. Sedangkan di luar berkumpul banyak sekali murid-murid Bu-tong-pai. Mereka berpencar menjadi dua bagian. Ada yang berbaris di sebelah kiri. dan ada pula yang menjaga di sebelah kanan. Meskipun begitu banyak orang yang berkumpul, tapi tidak terdengar sedikit suara pun. Hal ini membuktikan betapa gentingnya suasana. Mulut mereka tertutup rapat-rapat.

Kongsun Hong berjalan melewati barisan orang-orang ramai. Mata setiap orang terpusat kepadanya. Melihat keadaan itu, tampaknya apabila ada perintah ketua, maka Kongsun Hong akan dikeroyok secara ramai-ramai. Namun laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan kegentaran sedikit pun. Wajahnya tidak berubah. Dengan tenang dia melangkah, dadanya membusung, seakan berada di kandang sendiri.

Pek Ciok masih berjalan di muka. Penampilannya tidak berbeda dengan tosu lainnya. Wajahnya berbentuk persegi. Dahinya tinggi dan bercahaya. Seperti sebuah batu yang digosok sampai licin. Dia mengantar Kongsun Hong sampai di depan pintu pendopo. Tangannya dikembangkan.

“Silakan!” katanya.

“Apakah Ci Siong menunggu aku di dalam ruangan ini?” tanya Kongsun Hong dengan keangkuhan yang tidak berubah.

Wajah Pek Ciok rada berubah mendengar kata-katanya. “Silakan!” ujarnya sekali lagi

Kongsun Hong mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak. Dia melangkah ke dalam ruangan dengan tenang. Di dalam masih berdiri enam orang yang sama. Kursi kebesaran yang berada di depan meja pemujaan masih kosong. Begitu melihat kehadiran Kongsun Hong, dua belas mata dari enam orang itu menyorot tajam.

Kongsun Hong seperti tidak merasakan apa-apa. Matanya menatap ke arah kursi tinggi yang masih kosong itu.

“Di mana Ci Siong?” tanyanya sinis.

“Bo-liang-sou-hud (kasih Buddha tiada batasnya)!” ujar keempat Hu-Hoat-tianglo.

Gi-song mendelik matanya lebar-lebar. “Kurang ajar!” bentaknya dengan suara berat.

Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak sekali lagi.

“Tamu sudah masuk ke dalam ruangan. Tuan rumah masih belum keluar menyambut. Siapa yang lebih kurang ajar dan tidak tahu sopan santun?” katanya tenang.

Cang-song mengernyitkan keningnya, matanya juga mendelik. “Kau anggap apa Ciangbunjin kami? Beliau bersedia menerimamu, sudah boleh dikatakan bahwa rezekimu sedang terang,” sindirnya tajam.

Kembali Kongsun Hong tertawa tergelak-gelak. Suaranya bergema di seluruh ruangan. Getarannya membuat abu dari hio yang sedang dinyalakan berhamburan ke mana-mana. Wajah Ci-song menampilkan kemurkaan. Begitu pula Cang-song. Sedangkan keempat Hu-Hoat-tianglo sekali lagi menyebut, “Bo-liang-sou-hud!”

Suara tawa yang bergema tadi ternyata surut dan tertekan oleh sebutan “Bo-liang-sou-hud” itu. Kongsun Hong rada terkejut mengetahui dalamnya lwekang keempat Hu-Hoat-tianglo tersebut.

Tepat pada saat itu, dari luar pendopo terdengar kumandang suara yang lain, “Ciangbunjin tiba …!”

Dua orang tosu cilik yang berteriak segera muncul dan berpencar di kiri dan kanan. Kemudian terdengar suara langkah kaki. Yang terdengar adalah suara langkah kaki dua orang, tapi ternyata yang muncul berjumlah tiga.

Yang berjalan di muka adalah seorang laki-laki yang gagah. Dia memakai pakaian tosu berwarna kuning gading. Langkah kakinya demikian ringan menampilkan kesan seakan tidak menginjak tanah. Alisnya lebih panjang dari matanya sendiri. Bahkan rada menjuntai ke bawah. Hidungnya tegak. Wajahnya yang dihiasi dengan jenggot tebal sangat sesuai dan enak dipandang. Rambut dan jenggotnya sudah berwarna abu-abu keputihan. Ada sedikit keriput di sekitar matanya. Usianya paling tidak di atas lima puluh lima tahun, atau mungkin hampir enam puluh, namun sedikit pun tidak mengesankan ketuaan. Di belakangnya mengiringi dua orang tosu cilik. Yang sebelah kiri memegang tasbih, sedangkan yang sebelah kanan memegang sebatang pedang panjang. Pedang tersebut bagus sekali. Dapat dipastikan bahwa bukan sembarang pedang, melainkan pedang pusaka.

Keempat orang Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song segera merangkapkan sepasang tangan mereka dan menjura dengan hormat. Meskipun baru kali ini bertemu, tapi dengan melihat keadaan yang berlangsung. Kongsun Hong segera dapat menduga bahwa yang datang adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai generasi sekarang, Ci Siong tojin!

Ci Siong tojin langsung duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan kedua orang tosu cilik yang mengiringi di belakang memencarkan diri dan berdiri di kedua sisi. Kongsun Hong menatap Ci Siong yang duduk di atas kursi tersebut. Bibirnya mengembangkan sekulum senyum dingin.

“Kau yang bernama Ci Siong?” tanyanya.

Keempat Hu-Hoat-tianglo mengerutkan kening mereka. Gi-song tidak dapat menahan emosinya lagi.

“Penjahat bernyali besar!” bentaknya nyaring.

Ci Siong tojin mengangkat tangan kanannya dan mencegah Gi-song berkata lebih lanjut. “Jangan membuat keributan,” Dia menoleh kembali kepada Kongsun Hong, “Pinto memang Ci Siong adanya. Lai-su (tamu) …?”

“Kongsun Hong!”

“Murid pertama Bu-ti-bun?”

“Kita belum pernah berjumpa.”

“Belum,” sahut Ci Siong tojin.

“Tapi kau bisa tahu siapa aku. Tampaknya hanya desas-desus tidak benar bahwa Bu-tong-pai menutup diri terhadap urusan dunia luar, kenyataannya tidak demikian,” sindir Kongsun Hong.

“Bu-tong dan Bu-ti merupakan musuh bebuyutan sejak jaman dahulu,” kata Ci Siong sambil tertawa datar. “Meskipun Bu-tong ingin melepaskan diri, tapi rasanya tidak begitu mudah.”

“Sebetulnya masalah ini sederhana sekali. Asal Bu-tong-pai bersedia bertekuk lutut di bawah panji Bu-ti-bun, semuanya dapat diselesaikan dengan mudah,” sahut Kongsun Hong.

“Lebih sederhana lagi kalau Bu-ti-bun yang mengundurkan dari dunia kangouw,” kata Ci Siong tojin pula.

“Omong kosong!” Kongsun Hong mengibaskan tangan kanannya. “Kedudukan Bu-ti-bun di dunia kangouw sekarang ibarat matahari yang bersinar terik. Bagaimana bisa dibandingkan dengan Bu-tong-pai yang selalu bersembunyi di liang kura-kura?”

Wajah Ci Siong tojin tidak berubah sama sekali.

“Apakah Tok-ku Bu-ti menyuruh kau kemari untuk mengatakan semua ini?” tanyanya tenang.

Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. Dia menyodorkan kotak kain ke hadapan Ci Siong tojin. “Pertarungan yang tidak berkesudahan kembali mencapai sepuluh tahun.”

Mata Ci Siong tojin setengah terpejam.

“Dua puluh tahun yang lalu, ketika pertarungan di gua harimau, kau kalah di bawah ilmu Suhu!” suara Kongsun Hong meninggi, seakan dia ingin seluruh murid Bu-tong-pai mendengar jelas apa yang dikatakannya. “Sepuluh tahun yang lalu di Yen Tang, kembali kau mengalami kekalahan. Mengenai hal ini, aku yakin kau tidak akan melupakannya.”

“Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun mengadakan perjanjian untuk bertarung setiap sepuluh tahun sekali. Dengan hari ini, jaraknya masih ada tiga bulan,” sahut Ci Siong tojin.

“Tapi sampai sekarang, Bu-tong-pai belum mengambil tindakan apa-apa,” kata Kongsun Hong.

“Setahu pinto, kesabaran Bu-ti selamanya tinggi sekali.”

“Persoalannya adalah Bu-tong-pai yang seakan menutup diri terhadap dunia luar. Suhu rada curiga, apakah Bu-tong-pai masih berani mengadakan pertarungan sekali lagi,” Kongsun Hong merandek sejenak. “Oleh karena itu, Suhu memerintahkan aku ….”

“Menyampaikan kata-kata ini?” tanya Ci Siong tojin.

“Masih ada dua macam benda yang harus kusampaikan,” sahut Kongsun Hong sambil mengambil amplop merah yang terletak di atas kotak kain tadi. “Surat tantangan!” baru saja ucapannya selesai, dia melayangkan amplop tersebut ke arah Ci Siong. Amplop tadi meluncur kencang bagaikan sebatang pedang yang tajam.

Ci Siong sama sekali tidak panik. Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut kedatangan amplop tadi. “Crep”, amplop itu terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Ternyata tidak malu menyandang jabatan sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai,” kata Kongsun Hong.

Ci Siong tojin mengulurkan tangannya dan menyobek kertas amplop tersebut. Di dalamnya tertera dua baris huruf dengan tinta emas.

“Sebelum matahari terbit, tanggal sembilan bulan sembilan …. Tung-gi Kuan-jit-hong (pegunungan Kuan-jit) Giok Hong-teng (bukit Giok Hong).”

“Pada tanggal sembilan bulan sembilan, Suhu pasti hadir di Tung-gi. Sedangkan engkau sendiri, boleh datang, boleh juga tidak,” kata Kongsun Hong.

Ci Siong tojin hanya berdehem.

“Selain surat tantangan, masih ada sebuah kotak yang disiapkan oleh Suhu,” Kongsun Hong melanjutkan kata-katanya.

Mata setiap orang tertumpu pada kotak kain tersebut. Kongsun Hong mengulurkan tangannya dan membuka kotak itu. Isinya ternyata sehelai pakaian dalam seperti penutup dada (oto) yang biasa dipakai perempuan-perempuan jaman itu.

Keempat Hu-Hoat-tianglo yang biasanya mempunyai kesabaran tinggi tiba-tiba menjadi marah. Mata Gi-song membelalak seakan hampir lepas dari pelupuknya. Cang-song menggertakkan gerahamnya keras-keras. Kedua tinjunya terkepal. Seakan sebuah bom waktu yang siap meledak setiap saat.

Meskipun biasanya Ci Siong tojin pandai mengendalikan emosinya, tapi sekarang tak urung dia marah juga. Sepasang alisnya bertaut. Matanya menyorot tajam. Sinar matanya bagaikan sepasang pedang yang baru diasah.

Mata Kongsun Hong bertemu dengan mata Ci Siong tojin. Tanpa sadar tubuhnya bergetar. Namun penampilan dan cara bicaranya tetap tidak berubah.

“Kalau kau memang tidak berani datang, maka jangan kepalang tanggung. Bubarkan Bu-tong-pai dan pakailah pemberian suhu ini lalu mengundurkan diri dari dunia kangouw untuk selamanya!”

“Tutup mulut!” bentak Gi-song marah.

Cang-song segera menghambur ke depan beberapa langkah, “Suheng … bocah ini benar-benar kurang ajar. Kita tidak boleh membiarkan …!” tukasnya.

Ci Siong tojin mengibaskan tangannya agar Cang-song tidak berkata lebih lanjut. Dia menatap tajam ke arah Kongsun Hong, “Surat tantangan sudah kami terima. Mengenai oto perempuan itu … harap Anda membawanya kembali.”

Kongsun Hong tertawa dingin.

“Lebih baik kau pikirkan dulu matang-matang,” katanya.

“Kalau menurut pendapat pinto, pasti bukan Bu-ti yang mempunyai ide semacam ini,” kata Ci Siong tojin datar.

“Apa maksudmu?”

“Bu-ti mempunyai nama besar. Selamanya dia seperti awan yang bergerak secara terang-terangan. Jiwanya cukup gagah. Tidak mungkin dia mengusulkan lelucon anak-anak kemarin sore seperti ini,” sahut Ci Siong tojin.

Kongsun Hong tertegun. Beberapa saat kemudian dia baru tersadar, “Baik, mendengar pujianmu itu aku akan membawa oto ini kembali. Apabila pada saat perjanjian aku tidak melihat kehadiranmu, aku akan membawa oto ini kembali ke sini.”

Dia menutup kembali kotak kain tersebut dan kemudian berdiri. Dia bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut. Wajah keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song berubah pucat.

Wajah Ci Siong tojin sendiri berubah kelam. “Tahan!” bentaknya nyaring.

Kongsun Hong baru berjalan tiga langkah. Mendengar bentakan itu, tanpa sadar dia berdiri terpaku. “Aku hanya menjalankan perintah Suhu. Sekarang tugasku sudah selesai …” katanya tanpa menolehkan kepala.

“Datang sesuka hatimu, pergi seenak perutmu, kau anggap apa tempat Bu-tong-pai ini?” tanya Ci Siong tojin dengan nada berwibawa.

“Bu-tong-san toh tidak lebih dari sebuah gunung,” sahut Kongsun Hong angkuh.

“Biarpun Bu-ti yang datang sendiri, dia juga tidak akan bertingkah demikian tidak sopan di Bu-tong-san!” kata Ci Siong angker.

“Suhu mungkin akan bertindak jauh lebih tidak sopan,” sahut Kongsun Hong sambil membalikkan tubuhnya.

Jari tangan keempat orang tianglo sudah menggenggam pedang masing-masing. Bola mata Kongsun Hong mengerling sekilas.

“Mau bergebrak? Hah! Kalian boleh maju sekaligus. Meskipun laksaan pedang menembus tubuhku dan Kongsun Hong terkapar mandi darah, jangan harap aku membuka mulut memohon pengampunan,” katanya sinis.

“Sebagai utusan negara, tidak ada yang boleh saling melukai,” sahut Ci Siong masih dengan nada sedingin tadi.

“Lalu apa yang kalian inginkan?” tanya Kongsun Hong.

“Ketika masuk ke daerah Bu-tong, kau tidak bersedia meninggalkan senjata. Malah kau tetap naik membawa pedangmu,” kata Ci Siong tojin.

“Betul, pedangku masih terselip di pinggang,” kata Kongsun Hong sambil menepuk pedangnya dengan perasaan bangga.

“Melepas senjata sebelum naik ke atas gunung merupakan peraturan yang ditetapkan oleh Cosu kami. Selama ratusan tahun belum pernah ada orang yang berani melanggarnya” sahut Ci Siong tojin.

“Maka aku boleh berbangga sebagai orang pertama yang melanggar peraturan tersebut,” kata Kongsun Hong angkuh.

“Oleh karena itu, meskipun kau mewakili Bu-ti-bun, mewakili Tok-ku Bu-ti, aku hanya menyambutmu di ruang pendopo ini.”

“Siapa yang peduli peraturan Bu-tong-pai!” kata Kongsun Hong. Wajahnya tetap datar, “Kau menyuruh aku berhenti, hanya untuk mendengarkan kata-katamu ini?”

“Pinto masih ingin melepaskan pedangmu dengan tanganku sendiri!” sahut Ci Siong tojin tegas.

“Oh?” Kongsun Hong menggenggam pedangnya erat-erat. “Peraturan adalah benda mati, sedangkan manusia adalah benda hidup. Seorang manusia yang hidup, apabila menjadi orang mati karena sebuah peraturan, bukankah merupakan hal yang menggelikan?”

“Hati-hati! Aku akan merebut pedangmu sekarang!” kata Ci Siong tojin tenang.

“Pedang tajam tidak berperasaan, manusia biasa bisa kesalahan tangan. Lebih baik kau orang tua yang harus lebih waspada!” “Cring!”, Kongsun Hong menghunus pedangnya.

Tubuh Ci Siong tojin melesat dari atas kursi. Dia menerjang ke arah Kongsun Hong. Kedua kakinya masih tertekuk. Tubuh Kongsun Hong juga bergerak, pedangnya diluncurkan ke depan.

Pedangnya meluncur bagai bintang jatuh, sasarannya bagian bawah perut tosu itu. Seandainya Ci Siong tojin masih menerjang ke arahnya, dapat dipastikan sebentar lagi bagian bawah perutnya akan tertusuk oleh pedang Kongsun Hong.

Tepat pada saat itu tubuh Ci Siong tojin tiba-tiba berjungkir balik. Sekarang kepalanya yang ada di bawah, sedangkan kakinya di atas, kedua telapak tangannya menumpu di atas tanah. Pedang Kongsun Hong meluncur tiga cun dari bagian kepalanya dan luput dari sasaran. Dia menarik pedangnya kembali, gerakannya tetap mengikuti kelebatan tubuh Ci Siong tojin. Sekaligus dilancarkan tiga belas kali serangan.

Pedangnya sangat cepat, gerakan tubuh Ci Siong tojin lebih cepat lagi. Kembali serangannya luput. Tahu-tahu tosu itu sudah berada di belakang tubuhnya. Ternyata pancaindera Kongsun Hong cukup peka, dia menyabetkan pedangnya ke belakang.

Jari tengah Ci Siong tojin tajam bagaikan pedang. Ditotoknya pergelangan tangan kanan Kongsun Hong. Laki-laki itu merasa tangannya kesemutan dan pedang pun terlepas dari tangan.

“Ting!”, jari tengah Ci Siong beralih ke badan pedang dan menotok sekali lagi. Tiba-tiba pedang itu seakan bersayap dan melayang ke atas menjauhi Kongsun Hong. Laki-laki itu merasakan bagian pinggangnya tersentuh sesuatu. Matanya segera mengerling, sarung pedang sudah berpindah tangan.

Gerakan tubuh Ci Siong tojin masih belum berhenti. Dia berputar di tengah udara mengulurkan sarung pedang tersebut. Kakinya menutul dan sarung pedang di tangannya diangkat untuk menyambut pedang yang sedang menukik tadi.

“Crep!”, sedikit pun tidak meleset. Pedang Kongsun Hong masuk kembali ke sarungnya tanpa melenceng sedikit pun. Ci Siong tojin kembali menyentakkan tubuhnya dan melayang kembali di atas kursi yang didudukinya. Napasnya masih tetap teratur. Wajahnya tidak berubah, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Gerakan tubuhnya yang lincah, kakinya yang mantap, perhitungannya yang matang, semua membuktikan betapa tinggi ilmu yang dikuasainya. Kongsun Hong memandang dengan mata terbelalak dun mulut terbuka. Saat itu, dia baru merasakan keringat dingin telah membasahi keningnya. Dia sama sekali tidak menduga bahwa ilmu silat Ci Siong telah mencapai taraf demikian tinggi.

Seandainya pihak lawan memang bermaksud mengambil nyawanya, tentu semudah membalikkan telapak tangan. Ketika Ci Siong tojin menyentuh pinggangnya untuk mengambil sarung pedang, paling tidak dia sudah mati tiga kali. Ternyata bukan hanya dia yang terkejut, keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song juga terpana. Mereka tidak pernah menyangka suheng mereka berilmu demikian tinggi.

“Ambil kembali!” bentak Ci Siong sambil melemparkan pedang tadi ke arah Kongsun Hong.

Dengan panik Kongsun Hong mengulurkan tangannya menyambut. Tenaga yang dipantulkan oleh pedang itu membuat kakinya mundur beberapa langkah. Wajahnya bukan saja pucat pasi tapi berubah kehijauan. Dia mendelik kepada Ci Siong tojin.

“Bagus! Paling tidak Kongsun Hong sudah merasakan kelihaian ilmu Ciangbunjin dari Bu-tong-pai!”

Ci Siong tojin mengibaskan tangannya, “Kau boleh pergi sekarang,” katanya.

Kongsun Hong baru menyadari kesalahannya. Justru karena dia terlalu memandang remeh pihak lawan sehingga dia menerima akibat yang demikian mengenaskan. Namun, mau tak mau dia terpaksa harus mengakui bahwa ilmu silat Ci Siong tojin memang jauh di atasnya.

Mata Kongsun Hong masih mendelik ke arah Ci Siong tojin. Setelah tertegun beberapa saat dia baru menarik napas panjang.

“Ilmu manusia she Kongsun memang tidak dapat menandingi orang, tidak ada yang dapat kukatakan lagi. Tentang pedang ini ….” Dia mengangkat tangannya dan menimpuk dengan tenaga penuh. Pedang itu menancap di dinding sebelah kiri, sarung pedang tersebut melesak ke dalam dinding. Ternyata pedang yang ada di dalam sarung tersebut tidak tergetar olehnya. “Biar kutinggalkan pedang ini di Bu-tong-pai. Suatu hari, aku, Kongsun Hong akan datang lagi untuk mengambil pedang tersebut.”

Kongsun Hong melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut. Dia tidak menoleh sama sekali. Keluar dari ruangan tersebut, langkah kakinya dipercepat. Ci Siong tojin juga tidak menghalangi. Dia memandangi punggung Kongsun Hong sampai menghilang. Keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song masih duduk terpaku di tempatnya.

*****

Bagian belakang gunung lebih sepi dari bagian depannya.

Bagian belakang gunung tersebut adalah daerah terlarang Bu-tong-pai. Sebuah jalan tapak yang dipenuhi batu-batu berwarna putih memanjang dari bagian depan gunung tersebut Di ujungnya terdapat hutan bambu.

Angin bertiup semilir, menembusi celah-celah batang bambu. Ci Siong tojin berjalan melintasi batu-batu putih tadi. Langkahnya goyah seperti batang bambu yang tertiup angin. Di dalam hutan bambu juga terdapat jalan setapak. Setelah berjalan beberapa langkah, tampak sebuah tembok pendek melintang di hadapan. Di tengahnya terdapat sebuah pintu berbentuk rembulan yang bundar. Di atasnya ada sebaris tulisan, “daerah terlarang, siapa yang masuk akan mendapat kematian”.

Ci Siong tojin menghentikan langkah kakinya di depan pintu itu. Dia melirik tulisan itu sekilas. Akhirnya dia melangkah ke dalam. Di bawah tembok pendek itu masih terdapat banyak batang-batang bambu. Setelah berjalan beberapa depa terlihat sebuah rumah tembok berukuran kecil.

Rumah itu letaknya demikian terpencil. Pintunya juga tertutup rapat. Undakan di depannya berwarna kehijauan. Bukan warna aslinya tapi karena terlalu lama tidak dibersihkan sehingga berlumut. Ci Siong melangkah perlahan menuju pintu rumah batu tersebut.

Kesunyian menyelimuti hutan bambu itu. Sayup-sayup terdengar kicauan burung. Ci Siong mendongakkan wajahnya menatap langit. Dia menaiki undakan batu dan mengetuk pintu rumah tadi sebanyak tiga kali.

“Masuk!” terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara itu tidak terlalu keras namun jelas sekali.

Ci Siong tojin mengulurkan tangannya dan mendorong pintu rumah batu tersebut. Serangkum hawa yang membuat perasaan tidak enak terpancar dari dalam rumah itu. Ci Siong tojin melangkahkan kakinya ke dalam. Dia seakan tidak merasakan apa-apa.

*****

Keadaan di dalam rumah itu remang-remang. Meskipun di bagian sudut terdapat dua buah jendela namun ada sebaris batu bata berlubang kecil-kecil menghalangi cahaya yang memancar ke dalam. Udara dapat menerobos lewat celah jendela tersebut.

Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu. Di atasnya duduk bersila seorang laki-laki berusia lanjut. Rambut dan jenggot orang itu sudah putih semua. Entah sudah berapa lama dia tidak mencukur rambut dan jenggotnya. Pakaiannya yang berwarna abu-abu juga kotor sekali.

Wajahnya kurus, begitu juga tubuhnya. Tetapi terlihat tulang belulangnya sangat besar. Lain sekali dari manusia biasa. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok. Seluruh tubuhnya membawa kesan seakan dia malas bergerak. Ada juga sebagian dari dirinya yang memberi kesan seperti penyakitan.

Ci Siong tojin memutar tubuhnya dan merapatkan pintu batu itu kembali. Kemudian dia menghadap orang tua tersebut dan membungkuk dengan hormat.

Orang tua itu memicingkan sebelah matanya dan tersenyum, “Kau rupanya ….”

“Ci Siong menghadap Suheng!”

“Antara saudara seperguruan sendiri mengapa harus sungkan? Duduklah,” kata orang tua itu mempersilakan.

Ci Siong tojin duduk di ujung tempat tidur.

“Tadi aku mengira-ngira siapa yang datang. Langkah kakimu sedemikian ringan. Sampai di depan pintu, baru telingaku mendengarnya.”

Ci Siong tojin menggelengkan kepalanya.

“Harap Suheng jangan mentertawakan.”

Mata orang itu menatap wajah Ci Siong tojin lekat-lekat, “Rona wajahmu tidak sedap dipandang. Apakah terjadi sesuatu di atas gunung?” tanyanya serius.

“Tadi Bu-ti mengutus muridnya mengantarkan surat tantangan,” sahut Ci Siong tojin dengan kepala tertunduk.

“Tok-ku Bu-ti dari Bu-ti-bun?”

“Betul,” nada suara Ci Siong tojin menjadi berat. “Bu-tong dan Bu-ti selamanya seperti air dengan api. Beberapa kali pertarungan selalu Bu-tong yang mengirimkan surat tantangan. Kecuali kali ini.”

Orang tua itu merenung sejenak.

“Apakah kau khawatir ada maksud tertentu yang terkandung di balik semua ini?”

“Pribadi Tok-ku Bu-ti sangat angkuh. Aku yakin dia tidak akan menggunakan akal licik untuk meraih kemenangan. Sedangkan dua puluh tahun terakhir, aku sudah pernah kalah dua kali di tangannya. Seandainya dia memang mengandung maksud tertentu, pasti tidak akan menunggu sampai hari ini,” kata Ci Siong tojin.

“Hal ini menjelaskan bahwa dia mempunyai keyakinan besar dalam pertarungan kali ini.”

“Selain itu pasti masih ada rencana lainnya,” Ci Siong tojin menarik napas panjang. “Beberapa tahun terakhir ini, Bu-ti mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mengumpulkan jago-jago bayaran. Dia sedang melebarkan sayapnya dengan tenaga bantuan berjumlah besar.”

“Apakah tidak ada orang lain yang menghalanginya?”

“Tidak ada. Siau-lim-pai sedang mengalami masa suram. Go-bi-pai tidak menelurkan seorang murid pun yang dapat diandalkan. Sembilan partai besar hanya tinggal namanya saja.”

“Mereka hanya menyaksikan tanpa berbuat apa-apa?”

“Bu-ti sendiri tentunya mengerti. Pertarungan kali ini kemungkinan besar merupakan pembuka jalan untuk menguasai bu-lim.”

“Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?”

“Dia tidak akan menggunakan akal licik untuk meraih kemenangan. justru dia ingin meraih kemenangan dengan cara sejati agar dunia takluk kepadanya.”

“Tujuanmu mencariku?”

“Aku ingin mengetahui lebih jelas ilmu Mit-kip-mo-kang (rahasia ilmu iblis) yang dilatih oleh Tok-ku Bu-ti,” sahut Ci Siong tojin.

“Tentunya kau sendiri telah berlatih keras selama sepuluh tahun belakangan ini. Aku percaya kau juga mendapat kemajuan yang tidak sedikit,” kata orang tua itu.

“Kalau Bu-ti yang sekarang sama dengan Bu-ti yang dulu, aku tentu mempunyai keyakinan diri,” Ci Siong tojin kembali menarik napas panjang. “Sepuluh tahun telah berlalu, sekarang ilmu Bu-ti tentu juga mendapat kemajuan pesat.”

“Ketika kau mengalami kekalahan sepuluh tahun yang lalu, kita sudah pernah membahas masalah ini bersama-sama.”

“Pada saat itu, Suheng yakin Mit-kip-mo-kang yang dipelajari Tok-ku Bu-ti sudah mencapai tingkat kelima. Sekarang sepuluh tahun sudah berlalu, kemungkinan dia sudah mencapai tingkat enam atau tujuh, delapan.”

Tiba-tiba orang tua itu tertawa lebar, “Belum pernah ada orang yang mempelajari ilmu Mit-kip-mo-kang mencapai taraf tingkat tujuh,” katanya.

“Oh?” Ci Siong rada curiga mendengar keterangan tersebut.

“Tentu kau tahu Sia Ho Tiang Cong. Dia adalah guru Tok-ku Bu-ti. Kecerdasannya melebihi manusia umumnya. Pada usia tujuh tahun dia mulai berlatih ilmu Mit-kip-mo-kang. Masuk usia empat belas tahun, dia sudah hampir tiada tandingannya di dunia kangouw. Dalam usia sembilan belas tahun saja dia sudah mencapai tingkat keenam ilmu Mit-kip-mo-kang. Namun meninggal ketika berusia delapan puluh, ilmunya sama sekali tidak mendapatkan kemajuan lagi. Dia tetap berada di tingkat enam.”

“Sedangkan pada usia empat puluh tahunan, Bu-ti baru mencapai tingkat lima,” gumam Ci Siong tojin.

“Oleh karena itu, aku yakin Bu-ti sekarang paling banter baru mencapai tingkat enam seperti suhunya.”

“Sampai di mana kehebatan Mit-kip-mo-kang tingkat enam itu?” tanya Ci Siong tojin penasaran.

“Maksud kedatanganmu adalah untuk mengetahui hal ini bukan?”

Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya. “Terima!” teriak orang tua itu. Dia melemparkan sebilah pedang tua yang berada di atas tembok tempat tidur.

Ci Siong tojin mengulurkan tangannya menerima pedang tersebut.

“Hunus pedangmu!” perintah orang tua itu sekali lagi.

Ci Siong tojin mencabut pedang tersebut dari sarungnya. Serangkum hawa dingin segera menyebar di dalam ruangan. Sinar mata orang tua itu tertuju pada pedang di tangan sutenya. “Tenaga dalam dipusatkan pada Yang. Hidupkan Liang-gi ….”

Pedang di tangan Ci Siong tojin diasongkan ke depan. Tubuhnya memutar. Pedang dan tubuh bergerak serentak. Suara angin berderu-deru karena sabetan pedang tersebut. Tubuh Ci Siong tojin seakan menyatu dengan pedang di tangannya.

Sekali berkelebat dia memainkan tiga puluh enam jurus. Tubuhnya melayang di udara. Dalam waktu sekejap dia telah menggerakkan pedangnya sebanyak tujuh puluh dua kali. Pedangnya telah berubah menjadi bayangan. Tubuh Ci Siong sendiri bagaikan gasing yang berputar-putar. Keduanya seakan berubah menjadi gumpalan kabut yang tebal.

Lengan baju orang tua itu berkibar-kibar terempas deruan angin yang ditimbulkan oleh pedang di tangan Ci Siong tojin. Matanya menatap tajam. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Telapak tangan kanannya tiba-tiba dikembangkan. Lengan bajunya bagai sebilah golok tajam mengincar diri Ci Siong.

Siapa pun tidak sangka manusia yang tubuhnya sekurus itu bisa mempunyai tenaga yang begitu kuat. Lengan bajunya tegak lurus bagaikan lempengan besi. Suara yang diterbitkannya tidak kalah keras dengan deruan pedang tadi. Gerakan Ci Siong tojin masih belum berhenti. Lengan baju yang mengandung kekuatan itu hilang tertutup oleh bayangan pedang.

Melihat keadaan ini, orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Ci Siong menarik pedangnya kembali. Dia berdiri tegak. Dalam waktu sekejap tadi dia benar-benar memusatkan perhatian pada permainan pedangnya. Sekarang hatinya bimbang lagi mengingat lawan yang harus dihadapinya. Orang tua itu masih tertawa terbahak-bahak. Ci Siong tojin mengangkat pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarung. Dia menghampiri tempat tidur batu tersebut.

“Suheng ….”

“Bagus!” tawa orang itu akhirnya berhenti juga. “Selama sepuluh tahun ini, meskipun kau tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu kau sudah berlatih dengan keras. Menurut sepengetahuanku, orang yang berhasil melatih Liong-gi-kiam sampai taraf ini hanya engkau seorang,” katanya dengan nada puas.

Ci Siong merasa jengah mendengar pujian itu. Belum lagi dia sempat menyahut apa-apa, orang tua itu sudah melanjutkan kembali, “Seandainya Mit-kip-mo-kang Bu-ti benar-benar sudah mencapai tingkat tujuh, kau pun tidak usah khawatir lagi.”

Ci Siong tojin tampaknya kurang percaya mendengar keterangan tersebut.

“Bagaimana pribadi suhengmu ini, tentunya kau mengetahui dengan jelas. Sedangkan sekarang toh bukan saat yang tepat untuk main-main,” kata orang tua tersebut. Dia tahu apa yang dipikirkan sutenya.

Ci Siong tojin terpaksa menganggukkan kepalanya.

“Apabila ilmu Mit-kip-mo-kang Bu-ti masih tetap hanya mencapai tingkat enam, maka kau akan mudah meraih kemenangan dari pertarungan yang akan datang. Namun apabila dia berhasil mencapai tingkat tujuh, kecuali kau ceroboh, maka rasanya juga tidak akan menjadi persoalan.”

“Siaute pasti akan berhati-hati,” kata Ci Siong tojin.

“Sebetulnya memang kau orang yang penuh waspada.”

“Pertarungan antara Siaute dan Bu-ti kali ini adalah untuk yang ketiga kalinya.”

“Pikiran tentang kekalahan yang terus menghantuimu harus dilenyapkan. Apabila bertarung dengan musuh tangguh, kita harus mempunyai perhitungan yang matang. Bukan hanya mengandalkan ilmu yang tinggi saja. Kecermatan, keteguhan, keyakinan juga harus diutamakan. Bahkan tempat dan waktu pun mempunyai pengaruh yang kuat. Apabila kau dihantui kekalahanmu yang lalu sebelum bertanding, berarti kau sudah kalah satu langkah. Kau harus mengerti rumus ini!” kata orang tua itu dengan nada tinggi.

Tanpa sadar, keringat dingin menetes di kening Ci Siong.

“Tenangkan dirimu dalam menghadapi pertarungan kali ini!”

Akhirnya Ci Siong menarik napas panjang, “Baiklah ….”

Bagaimana perangai orang tua itu, tentu dia jelas sekali. Dan sekarang memang saat yang tepat untuk berguyon. Oleh karena itu, hatinya menjadi jauh lebih tenang. Namun ketika dia meninggalkan rumah batu tersebut, dia merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya. Perasaan murung yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mungkin juga hal ini disebabkan karena dia sudah dua kali mengalami kekalahan di tangan Bu-ti.

*****

Senja hari ….

Matahari mulai tenggelam. Angin bertiup membawa kesejukan. Semilirnya membawa riak-riak kecil di atas permukaan kolam.

Di tempat yang bernama Tian Cu Hong ini terdapat sebuah kolam alam. Tidak terlalu besar, namun di tengahnya dibangun sebuah bangunan yang disambung dengan jembatan batu. Bangunan yang dimaksud di sini bukan tempat tinggal, tapi sejenis pesanggrahan atau tempat berteduh.

Ci Siong tojin sering datang ke tempat ini. Kadang-kadang dia menemui murid-muridnya di tempat tersebut. Ada kalanya dia menjamu tamu yang merupakan kenalan dekat di tengah kolam tersebut juga. Banyak sekali persoalan pelik yang dapat diselesaikan dengan baik di tempat peristirahatan itu.

*****

Setelah meninggalkan rumah batu tadi, Ci Siong melangkahkan kakinya ke Tian Cu Hong. Di tengah perjalanan dia memberi perintah kepada muridnya. Oleh karena itu, baru saja dia duduk sejenak di tengah kolam tersebut, Gi-song, Cang-song dan keempat Hu-Hoat-tianglo sudah menyusul tiba. Juga kelima orang muridnya yang patut dibanggakan, yakni Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Giok Ciok, Yo Hong.

Pek Ciok masih seperti biasa. Dia jarang tersenyum dan mimik wajahnya selalu serius. Cia Peng melangkah dengan dada membusung. Di bawah sinar mentari yang mulai pudar, warna kulitnya tampak kecokelatan. Gerakan kakinya mantap sekali seperti seekor kuda. Bahkan perangainya pun ada beberapa bagian yang mirip binatang tersebut. Sedangkan Giok Ciok merupakan murid yang paling dekat dengan Ci Siong tojin.

Yo Hong mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus. Begitu kurusnya sehingga orang mengira apabila ada angin yang bertiup kencang maka dia akan tertiup roboh. Namun di antara kelima murid Ci Siong tojin, ginkangnya pula yang paling tinggi. Sedangkan Kim Ciok mungkin berasal dari satu daerah dengan Pek Ciok. Wajahnya juga selalu terlihat kaku dan serius.

*****

Gi-song dan Cang-song melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah peristirahatan itu. Ci Siong menarik napas panjang. Matanya menatap kedua orang itu secara bergantian.

Tampaknya kedua orang itu mempunyai banyak perkataan yang ingin disampaikan, namun kesempatan masih belum ada.

“Dua hari lagi Punco (cara Ciangbunjin menyebut dirinya sendiri) akan berangkat ke Kuan Jit Hong,” dia merandek sejenak. “Kepergian Punco kali ini mungkin makan waktu paling sedikit dua bulan. Berkumpulnya kalian di tempat ini adalah untuk merundingkan masalah ini. Maksud Punco persoalan Bu-tong-pai ketika Punco tidak ada.”

Gi-song dan Cang-song saling melirik sekilas.

“Siaute merasa bagaimana pun harus ada orang yang mewakili Suheng menangani persoalan Bu-tong-pai.” kata Gi-song memberi saran.

“Tidak salah. Di Bu-tong sama sekali tidak boleh tidak ada pemimpin. Kita memang harus mencari seseorang sebagai wakil Ciangbunjin,” lanjut Cang-song tidak mau kalah.

Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.

“Liong-wi sute (kedua adik seperguruan) anggap siapa yang paling sesuai menggantikan Punco sementara?”

Hati Gi-song dan Cang-song menjadi tegang seketika.

“Tentu saja seseorang yang baik kedudukan maupun usianya sudah cukup tinggi,” tukas Gi-song cepat-cepat.

“Siaute malah menganggap lebih baik memilih seseorang yang usianya agak muda. Untuk menangani persoalan yang begitu banyak, orang yang berusia lanjut tentu akan kepusingan,” lanjut Cang-song tidak mau kalah cepat.

“Jahe tua baru pedas rasanya,” kata Gi-song.

“Yang muda lebih bersemangat!” sahut Cang-song.

“Yang lebih tua!”

“Muda!” kedua orang itu jadi berdebat karena tidak mau saling mengalah. Ci Siong tersenyum melihat kedua orang itu.

“Liong-wi sute tidak perlu bertengkar. Kata-kata keduanya sama beralasan. Baik pengalaman dan semangat sama-sama penting sekali. Pek Ciok selamanya mempunyai pikiran seperti orang tua. Dia masih muda dan kuat. Pengalamannya juga lumayan. Rasanya dia paling sesuai ditunjuk sebagai pengganti Punco, bukan?”

“Pek Ciok?” Gi-song dan Cang-song kelepasan mulut. Keduanya tertegun mendengar orang itu yang terpilih.

“Mungkin pengalamannya belum terlalu banyak. Tapi dengan adanya Liong-wi sute yang mengawasi, rasanya tidak ada masalah lagi,” kata Ci Siong tojin.

“Suheng ….” Gi-song dan Cang-song memanggil serentak.

Sekali lagi Ci Siong tojin tersenyum.

“Punco benar-benar tidak tahu siapa lagi yang paling sesuai untuk tugas ini,” dia mengibaskan tangannya. “Tidak ada persoalan lain lagi. Kalian boleh keluar sekarang.”

Pek Ciok dan saudara seperguruannya yang lain melangkah masuk ke dalam rumah peristirahatan itu. Dengan wajah merah padam Gi-song dan Cang-song mengundurkan diri.

*****

Setelah melewati jembatan, Gi-song benar-benar tidak dapat menahan dirinya lagi.

“Terang-terangan dia sudah merencanakan semuanya. Sengaja pura-pura ingin merundingkannya lagi dengan kita,” dia menggerutu panjang lebar.

“Tua bangka yang licik!” Cang-song ikut mengomel.

“Gara-gara kau juga. Mengapa ingin bersaing denganku menggantikan Ciangbunjin? Kalau tidak, dia tidak mungkin memilih Pek Ciok!” bentak Gi-song.

“Mengapa bukan kau saja yang mengalah?” teriak Cang-song.

Pertengkaran keduanya kembali menjadi seru.

*****

Sore hampir berakhir. Matahari yang mulai tenggelam berwarna kemerahan. Benar-benar suatu pemandangan yang menyenangkan.

Wan Fei-yang berjalan di bawah sinar matahari yang mulai redup. Perasaannya sama sekali tidak senang. Dia baru saja kembali dari tugasnya membersihkan kandang babi dan mengurus makanan mereka. Tubuhnya letih sekali. Dia berjalan dengan kepala tertunduk. Langkahnya tidak tergesa-gesa.

Yang benar-benar letih sebetulnya bukan tubuhnya tapi hatinya. Begitu letihnya sehingga sulit dilukiskan dengan kata-kata. Keletihan itu bagaikan racun yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Meskipun pikirannya kacau, tapi dia tidak lupa jalan menuju kamarnya sendiri. Seperti sudah hafal di luar kepala dia memutar ke bagian belakang pendopo.

Baru saja kakinya menginjak halaman depan, beberapa orang sudah menghadang di depannya. Mereka adalah para suheng yang menggunakan dirinya sebagai sasaran hidup untuk berlatih senjata rahasia.

Ketika dia menyadari, kepalanya sudah membentur dada seseorang yang menghadang di tengah. Otomatis langkah kakinya terhenti. Orang itu segera memijit hidungnya keras-keras.

“Bau sekali!” teriaknya.

Wan Fei-yang berdiri tertegun.

“Dari mana saja kau? Mengapa badanmu bau seperti ini?” tanya yang lainnya.

Wan Fei-yang tidak ingin melayani mereka lama-lama.

“Kandang babi,” sahutnya singkat.

“Aku kira kau terjatuh ke dalam comberan,” sindir yang lain.

Wan Fei-yang mendengus dingin.

“Bagaimana rasanya kandang babi itu? Nyaman?” tanya yang lain.

Wan Fei-yang malas melayani mereka. Dia memutari tubuh orang yang menghalanginya dan bermaksud ke kamar. Namun orang itu sengaja mundur beberapa langkah dan menghadang di depannya kembali.

“Kau belum menjawab pertanyaan itu,” katanya.

“Kalau memang mau tahu, mudah sekali. Kau toh tahu di mana letak kandang babi. Coba saja diam di sana barang setengah harian!” sahut Wan Fei-yang mendongkol.

“Eh?” mata orang itu melirik ke arah rekan-rekannya. “Coba kalian lihat, Wan-toaya begitu bangga kembali dari kandang babi,” katanya.

Beberapa orang lainnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Tubuhnya begitu bau. Kalau kita biarkan dia masuk ke dalam, siapa yang tahan?” sindir yang lainnya.

“Kalau kita tidak mengizinkan dia masuk, Suhu pasti akan mengatakan bahwa kita menghinanya lagi. Apa kira-kira yang harus kita lakukan?” tanya yang lainnya.

“Berbuat baik jangan kepalang tanggung, buka saja bajunya yang bau itu!” rekan yang lain memberi saran.

Saudara seperguruan yang lain segera bersorak menyetujui. Mereka maju bersama. Ada yang mengerumuni dari kiri kanan, ada juga dari depan dan belakang. Beberapa orang di antaranya menarik sepasang tangan Wan Fei-yang. Sebagian lagi memegangi perutnya. Tentu masih tersisa satu orang yang membuka bajunya.

Wan Fei-yang benar-benar tidak dapat mengendalikan emosinya lagi. Hawa amarah terasa bergemuruh di dadanya dan tiba-tiba meledak. Dia berteriak sekuatnya. Tenaganya dikerahkan. Orang-orang yang memeluk dan menariknya terpental seketika. Mereka jatuh di atas tanah dan saling bertindihan.

“Bocah busuk! Ternyata kau mempunyai tenaga kerbau!” bentak seseorang yang berusaha merangkak bangkit dengan susah payah. Pantatnya sakit sekali. Rekannya yang terjatuh dengan kepala membentur tanah lebih runyam lagi. Di keningnya terlihat benjolan sebesar telur ayam.

Wan Fei-yang memandangi mereka dengan mata mendelik. Hawa amarahnya belum sirna juga.

“Meskipun dia mempunyai tenaga sakti alamiah, tetap bukan tandingan kita!” kata seseorang yang sudah berhasil berdiri tegak. “Mari kita hajar dia habis-habisan. Biar dia tahu kelihaian kita!”

Sarannya segera mendapat sambutan hangat. Mereka beramai-ramai bersiap mengeroyokinya.

“Ada apa?” terdengar sebuah suara dari halaman depan.

Suara seorang gadis. Di dalam Bu-tong-pai hanya ada seorang gadis. Dia adalah Lun Wan-ji. Orang yang melangkah masuk dengan tergesa-gesa dan mengajukan pertanyaan sudah dapat dipastikan dia adanya. Matanya mengedar sekilas kemudian mendelik ke arah rombongan murid-murid seperguruannya.

Tentu saja dia mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka pasti sedang mempermainkan Wan Fei-yang. Sedangkan orang-orang yang bersiap-siap mengeroyoki pemuda itu menjadi tertegun melihat kehadiran Wan-ji.

“Kenapa?” Wan-ji berdiri dengan berkacak pinggang, “Lagi-lagi kalian mengolok-olok Wan Fei-yang?” tanyanya ketus.

“Sumoay … dia … dia ….”

“Apa yang ingin kau katakan? Dia yang mengolok-olok kalian?” mata Wan-ji mendelik kepada orang tersebut. “Tidak tahu malu! Jumlah kalian begitu banyak, sedangkan dia hanya sendirian. Lagi pula dia tidak bisa ilmu silat. Apakah dia sanggup mempermainkan kalian? Aku ingin bertanya kepada susiok!”

Orang itu terpana. Wajah mereka menyiratkan kepanikan.

“Sumoay, urusan cakar ayam seperti ini lebih baik jangan merepotkan Suhu orang tua.”

“Apa lagi perasaan Suhu sedang tidak enak,” tukas yang lainnya cepat-cepat.

“Betul. Kami toh hanya main-main. Mengapa Sumoay menanggapinya dengan serius?” kata yang lainnya ikut memberi saran.

Menghadapi Sumoay yang satu ini, mereka memang menaruh rasa hormat yang dalam. Wan-ji menatap mereka satu per satu. Dia menghampiri Wan Fei-yang dan memandanginya dengan seksama.

“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau terluka?” tanyanya dengan penuh perhatian.

Wan Fei-yang membalas tatapan gadis itu dengan rasa terima kasih. “Aku tidak ….” gumamnya dengan suara tak jelas.

“Tentang kejadian ini ….”

“Aku juga ikut bersalah. Lebih baik jangan diungkit lagi,” sahut Wan Fei-yang.

“Kau tidak usah takut terhadap mereka,” kata Wan-ji.

Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya. Wan-ji mengalihkan pandangannya ke arah saudara-saudara seperguruan yang lain.

“Mengapa kalian masih belum pergi juga? Apakah kalian ingin menunggu kesempatan untuk mengolok-oloknya lagi?” bentak gadis itu.

Wajah orang-orang itu merah-padam. Mereka saling melirik sekilas lalu memencarkan diri meninggalkan tempat itu. Mata Wan-ji mengikuti kepergian mereka. Akhirnya ia menarik napas panjang.

“Mengapa mereka selalu mengolok-olok dirimu?” katanya seakan kepada dirinya sendiri.

Wan Fei-yang tertawa getir, “Aku juga tidak tahu kenapa.”

“Mungkin karena kau memang sasaran yang empuk untuk mereka olok-olokan.”

Tiba-tiba Wan-ji memijit hidungnya, “Mengapa kau begitu bau?”

Sekali lagi Wan Fei-yang tertawa getir, “Siapa suruh aku mendapat tugas mengurusi babi-babi itu sepanjang hari!”

Wan-ji memijit hidungnya sekali lagi, “Pekerjaan semacam ini seharusnya tidak dilimpahkan kepadamu,” katanya.

“Hm ….” Wan Fei-yang tidak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba Wan-ji seakan ingat sesuatu, “Aku harus pergi sekarang!” katanya.

“Hm ….” Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya.

“Kalau mereka masih mengolok-olok dirimu, beritahu aku,” baru saja ucapannya selesai, tubuh gadis itu berkelebat. Gerakannya seperti seekor walet menuju ke arah datangnya tadi.

Wan Fei-yang bermaksud memanggilnya, tapi tenggorokannya seperti tercekat. Kata-kata yang sudah siap dilontarkan ditelannya kembali. Dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu.

Dia termenung beberapa saat, kemudian mengendus pakaiannya sendiri.

“Tidak salah, pekerjaan semacam ini seharusnya bukan tugasku. Aku datang ke Bu-tong-san untuk belajar ilmu silat, bukan mengurusi kandang babi yang baunya memuakkan!” katanya kepada diri sendiri.

“Aku harus menemui Ciangbunjin dan minta penjelasan darinya,” pikirnya dalam hati. Langkah kakinya dipercepat. Dia menuju ke arah tempat tinggal Ci Siong tojin. Saat itu malam mulai menjelang.

*****

Hari belum terlalu gelap. Namun penerangan di kamar sudah dinyalakan.

Ci Siong tojin berdiri membelakangi cahaya lentera. Dia terpaku di jendela sebelah barat. Di depan jendela ada beberapa pohon yang rimbun. Daun-daunnya berterbangan tertiup angin barat. Suasana mencekam.

Meskipun malam belum terlalu larut, namun rembulan sudah mulai bersinar. Ci Siong menatap ke arah kejauhan. Dia seperti tenggelam dalam lamunannya. Kedua tangannya menggenggam kepingan batu giok.

Batu giok itu hanya setengah keping. Batu aslinya bundar, tapi sekarang bagai rembulan yang tertutup awan dan terbelah persis di bagian tengah. Belahannya begitu rapi. Sungguh sebuah batu giok yang sangat bagus buatannya. Cahaya lampu membuat batu itu semakin jernih dan bening. Bahkan guratan urat di dalamnya terlihat jelas. Di bagian luarnya terukir seekor burung hong. Bagian sayapnya hanya terlihat sebelah, tentu yang sebelahnya lagi berada di kepingan yang lain. Ukiran itu begitu hidup. Sayapnya yang terbentang seakan seekor burung yang sedang terbang di angkasa.

Ci Siong tojin meraba permukaan giok itu dengan lembut. Tindakannya seperti mengandung arti yang dalam. Tampaknya apa yang menggelayuti pikirannya saat itu ada hubungannya dengan belahan giok tersebut.

*****

Akhirnya Wan Fei-yang datang juga ke tempat tinggal Ci Siong tojin. Melihat keadaannya dia seakan ingin menerjang ke dalam rumah itu. Namun belum lagi mencapai depan pintu, kakinya sudah terasa lemas. Sesampainya di depan pintu, dia malah tidak sanggup menggerakkan kakinya lagi.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya begitu takut. Sedangkan hawa amarahnya entah melayang ke mana. Dengan gelisah dia berjalan mondar-mandir di depan koridor panjang. Semakin banyak waktu yang berlalu, semakin dalam rasa takutnya.

Tepat pada saat itu, seorang tosu cilik berjalan menghampiri dengan sebuah baki di tangan. Di atas baki itu terdapat beberapa mangkuk dan sepasang sumpit. Juga ada dua macam hidangan yang tertutup atasnya.

Mata Wan Fei-yang segera bersinar. Dia mendapatkan ide yang cemerlang. Dengan cepat dia menyambut kedatangan tosu tadi.

“Tiang Ceng koko ….” sapanya dengan memamerkan seulas senyuman.

Tosu cilik yang bernama Tiang Ceng itu menatap ke arah Wan Fei-yang, “Oh … kau ….”

Jari Wan Fei-yang menunjukkan ke arah baki yang dipegang oleh tosu cilik itu, “Hidangan untuk makan malam Suhu?” tanyanya.

“Sudah tahu masih tanya!” sahut Tiang Ceng pura-pura marah.

Wan Fei-yang tersipu-sipu.

“Hei! Jangan menghalangi jalanku,” kata Tiang Ceng kembali.

“Aku ….”

“Ada apa?”

“Baki ini ….”

“Mau mencuri makan? Kau benar-benar sudah tidak sayang nyawamu lagi,” kata Tiang Ceng sambil mendelikkan matanya.

“Kau jangan salah paham. Aku hanya ingin membantumu mengantarkan makanan ini ke dalam,” sahut Wan Fei-yang menjelaskan.

Tiang Ceng memandanginya lekat-lekat, tiba-tiba dia mengedipkan sebelah matanya, “Apakah kau ingin mengatakan sesuatu kepada Suhu, tapi kau tidak berani masuk ke dalam?”

“Sebetulnya memang begitu maksudku,” tanpa sadar Wan Fei-yang memuji, “Apa yang dikatakan Suhu memang tidak salah. Dalam generasi muda yang paling cerdas memang engkau.”

“Tidak usah menjilat,” kata Tiang Ceng,

Meskipun demikian dia termakan ocehan Wan Fei-yang. Disodorkannya baki tersebut kepadanya.

Wan Fei-yang menerimanya dengan gembira, tapi Tiang Ceng menariknya kembali, “Katakan dulu! Kebusukan apa yang ingin kau katakan pada Suhu?” tanyanya.

“Aku tidak akan mengatakan kebusukan apa pun.”

“Eh? Lalu apa yang ingin kau katakan kepada Suhu?” tanya Tiang Ceng penasaran. Wan Fei-yang tertegun, dia tidak menjawab pertanyaan itu.

“Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku tidak akan mengizinkan kau membawa baki ini!” ancam Tiang Ceng.

“Aku hanya ingin bertanya kepada Suhu …. Mengapa aku selalu menjadi sasaran olok-olok para suheng?” sahut Wan Fei-yang dengan tampang sedih.

Tiang Ceng memandang Wan Fei-yang lekat-lekat. Dia menggelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang, “Kau memang patut dikasihani. Baiklah, aku akan membantumu kali ini.”

Sekali lagi Wan Fei-yang mengulurkan tangannya menerima baki tersebut.

“Hati-hati kalau bicara, jangan menyusahkan aku,” kata Tiang Ceng selanjutnya.

“Jangan khawatir. Kau tentu bisa menilai bahwa aku bukan manusia semacam itu,” kata Wan Fei-yang sambil menatap ke arah baki di tangannya dengan wajah berseri.

“Tampaknya sifatmu memang tidak demikian. Jangan lupa yang kulakukan untukmu sekarang.”

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya berkali-kali, “Tentu … tentu,” sahutnya beruntun.

“Aih … sebetulnya semua juga hanya omong kosong,” kata Tiang Ceng dengan gaya seperti orang tua. “Apa sih yang disebut balas budi segala? Lagi pula, kau tidak menimbulkan kesulitan untukku, aku malah boleh mengucapkan Bo-liang-sou-hud. Mengharapkan balas budi darimu sih tidak mungkin terjadi.”

Wan Fei-yang tertawa getir, “Aku masuk sekarang,” dia membalikkan tubuhnya. Dengan membawa baki di tangannya, langkahnya berubah menjadi mantap.

Tiang Ceng tidak kepalang tanggung membantunya. Dia mendekati pintu tempat tinggal Ci Siong tojin dan mengetuknya tiga kali.

“Pintu tidak dikunci!” terdengar sahutan dari dalam.

Tiang Ceng mendorong pintu tersebut perlahan. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata. Wan Fei-yang segera menyelinap ke dalam.

*****

Ci Siong tojin masih berdiri di depan jendela sebelah barat. Dia seakan tahu siapa yang masuk. Tanpa menolehkan kepala dia menuding ke arah meja.

“Taruh saja di situ,” katanya.

Wan Fei-yang meletakkan baki di atas meja kemudian berdiri termangu-mangu di samping.

Pendengaran Ci Siong tojin sangat tajam, dia tahu orang yang mengantarkan hidangan tersebut masih ada di dalam kamarnya. Keningnya berkerut, “Kau sudah boleh keluar,” katanya.

“Ciangbunjin ….” akhirnya Wan Fei-yang memberanikan diri memanggil.

Ci Siong tojin membalikkan tubuhnya. Matanya memandang Wan Fei-yang lekat-lekat. Tampaknya dia merasa di luar dugaan melihat anak muda tersebut.

“Kau?”

“Tecu menghadap Ciangbunjin,” kata Wan Fei-yang sambil menjura dalam-dalam.

“Mana Tiang Ceng?”

“Dia sedang kurang sehat, jadi aku ….”

“Tadi aku melihat dia segar bugar. Fei-yang, generasi muda belajar hal yang berguna, jangan belajar berdusta. Itu bukan hal yang baik dan terpuji,” tukas Ci Siong tojin dengan suara lembut.

“Tecu tahu salah,” sahut Wan Fei-yang dengan wajah merah padam.

“Seandainya ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku, masuk saja. Tidak usah cari alasan. Apa lagi meminta bantuan Tiang Ceng.”

“Lain kali tecu tidak berani lagi.”

“Oh ya … sebetulnya apa yang ingin kau katakan?”

“Tecu … tecu …”

“Kalau mau bicara, bicara saja, mengapa ragu-ragu?”

Wan Fei-yang menggertakkan giginya.

“Suhu, aku benar-benar tidak tahan lagi,” katanya setelah mengumpulkan segenap keberanian.

“Dalam hal apa?”

“Misalnya saja latihan senjata rahasia …. Mengapa selalu harus aku yang menjadi perisai pemegang papan mereka?” Wan Fei-yang mengangkat kedua tangannya. “Ini masih belum seberapa, senjata rahasia yang mereka lemparkan bukan ditujukan kepada papan tersebut tetapi diarahkan pada tubuhku. Seandainya aku tidak mengadakan persiapan terlebih dahulu, mungkin sejak lama aku sudah tidak bernyawa lagi.”

“Bukankah kau masih hidup dengan baik-baik?”

“Kebetulan saja nasibku masih baik. Tapi nasib seseorang toh tidak mungkin selamanya baik,” sahut Wan Fei-yang.

“Maksudmu ….”

“Harus memperlakukan setiap orang dengan adil, jangan berat sebelah,” sahut Wan Fei-yang mulai berani.

“Dalam Bu-tong-pai, keadilan memang harus dijunjung tinggi,” kata Ci Siong tojin tersenyum.

“Namun, selain aku tidak ada orang lain yang menjadi sasaran hidup.”

“Mungkin Cia Peng akan mengerti. Kau harus membicarakan hal ini kepadanya.”

“Tidak …. Pagi ini aku justru mengeluh kepadanya. Memang aku tidak perlu menjadi sasaran hidup lagi, tapi aku malah disuruh menggantikan Lopek di bukit sana untuk mengurusi babi-babi,” gerutu Wan Fei-yang.

“Kau jangan mengira bahwa kehidupan sekarang sangat menderita. Sebetulnya apa yang kau lakukan sekarang, pernah dilakukan oleh para suhengmu. Tapi mereka tidak secerewet engkau,” kata Ci Siong tojin.

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

“Ciangbunjin tidak mengerti. Aku sudah kenyang menghadapi olok-olok mereka.”

“Aku mengerti semuanya,” kata Ci Siong tojin dengan lembut.

Wan Fei-yang tertegun mendengar perkataan Ci Siong tojin.

“Manusia yang jiwanya lapang tidak takut dihina, sebelum berhasil jangan takut menghadapi kesusahan,” kata Ci Siong tojin selanjutnya.

“Tecu yang bodoh tidak paham,” sahut Wan Fei-yang.

“Dengan kata lain, apa yang kau alami sekarang merupakan ujian mental dan langkah dasar mempelajari ilmu Bu-tong-pai. Misalnya jadi sasaran hidup, itu merupakan latihan untuk perubahan gerakan manusia.”

“Lalu mengurus, memberi makan dan memandikan babi termasuk latihan apa?” tanya Wan Fei-yang tidak puas.

Ci Siong tojin tersenyum tanpa menyahut.

“Mereka memanggilku anak haram, latihan apa yang memerlukan hinaan semacam itu? Tolong Ciangbunjin jelaskan.”

Bibir Ci Siong tojin masih terlihat seulas senyuman, namun tampaknya kali ini senyuman itu terlalu dipaksakan.

“Aku akan menasihati mereka agar hati-hati kalau bicara,” katanya.

“Aku rasa kau orang tua harus lebih memperhatikan segalanya lebih teliti. Mereka toh bukan anak kecil lagi.”

“Justru karena mereka bukan anak kecil lagi, maka mereka tentu mengerti peraturan yang ditentukan Bu-tong-pai. Mereka tidak berani melanggarnya begitu saja.”

“Tidak berani melanggarnya? Ciangbunjin, dalam hal ini kau tidak sejelas aku. Misalnya saja kedua tianglo dari Cik-hoat-tong. Di luarnya mereka manis-manis, dalam hati mereka tidak menuruti peraturan. Seandainya terjadi sesuatu pada Suhu, Bu-tong-pai pasti akan hancur lebur di tangan mereka ….”

Advertisements

2 Comments »

  1. halo saya pengge,ar cerita silat enak banget low kt bisa menjadi pemain

    Comment by sumaria — 02/05/2009 @ 12:56 am

  2. Pemain? Kan kita sudah menjadi pemain di rimba kehidupan.

    Comment by ceritasilat — 17/05/2009 @ 7:38 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: