Kumpulan Cerita Silat

10/12/2007

Harimau Kumala Putih: Bab 02

Filed under: Gu Long, Harimau Kumala Putih — Tags: — ceritasilat @ 10:24 pm

Harimau Kumala Putih
Oleh Gu Long
Bab 02

SEMUA perjuangannya ternyata memang tidak sia-sia, semua ketekunan dan usahanya tidak terbuang dengan percuma.

Bagaimanapun juga, kini ia sudah masuk ke dalam keluarga Tio, ia sudah menjadi orangnya keluarga Tio.

Itu semua bukan berarti ia sudah bersiap sedia menjadi seorang nyunya besar yang congkak.

°’Tidak! Ia tidak mau menjadi manusia sema­cam itu, dia malah sudah bertekad dikemudian hari akan menjadi seorang menantu yang baik ba­gi keluarga Tio, agar Tio Bu ki selamanya tak a­kan menyesal karena memperistri dirinya …….

Tio Bu-ki itu ganteng, sebat, pintar, meski wa­taknya agak jelek, toh dia adalah seorang pemuda yang sangat baik.

Bagi pemuda seganteng dia, sebaik dia, sudah barang tentu banyak gadis yang terpikat kepada­nya, banyak pula yang jatuh cinta kepadanya.

Dia pun tahu, dahulu pernah romantis pernah royal, dalam soal percintaan.

Bahkan diapun tahu dia mempunyai seorang gadis simpanan yang bernama Hiang-hiang

Tapi ia sudah memutuskan bahwa semua kejadian yang sudah lewat akan dilupakan dengan begitu saja, sebab diapun percaya sejak kini ia dapat dilupakan, ia dapat dikuasahinya.

Ia pun dapat melihat kalau dia adalah seorang pemuda yang jujur, lain kali dia pasti dapat pula menjadi seorang suami yang jujur.

Bisa kawin dengan seorang suami baik itu siapa kah yang tidak puas? Apalagi yang diharapkannya seorang gadis biasa?

Walaupun demikian, ia sedikit agak tegang apa lagi, terbayang malam nanti malam pertamanya setelah perkawinan …..membayangkan pembaringan yang begitu besar, mereka akan berduaan …. jantung nya akan berdebar, pikirnya akan merah ….. seper­ti juga sekarang, jantungnya berdebar keras …..

Sesungguhnya ia bukan benar-benar kuatir, setiap gadis akan mengalami peristiwa malam pertama, apa yang musti dikuatirkan?

Hanya satu hal yang ia betul-betul kuatirkan, sejak pagi tadi Tio Bu-ki telah keluar rumah, hingga sekarang dia belum kembali.

Kini hari sudah mulai malam, upacara perkawinan segera akan dilangsungkan.

Ia bukan cuma kuatir, hatinya mulai gelisah. Untung pada saat itu jerit kegirangan dari Cian­-cian sudah kedengaran.

“Bu ki telah pulang!”

Tio Cian-cian adalah adalah adiknya Tio Bu­ ki.

Seperti juga kakaknya, dia adalah seorang gadis yang lincah, pintar dan cantik.

Bukan saja dia tersohor sebagai gadis rupawan, diapun seorang pendekar wanita yang punya nama dalam dunia persilatan.

Sejak masih kecil ia sudah mulai belajar pedang, banyak jago lihay dari Tay-hong-tong yang keok ditangannya malah kakaknya juga pernah dia ka­lahkan.

Tentu saja dia tahu kalau kakaknya sengaja mengalah, meski begitu dia toh sangat gembira.

Tahun ini dia berusia tujuh belas tahun, masa berkembangnya gadis remaja.

Bagi dirinya, kehidupan manusia ibaratnya arak wangi yang manis dan segar, arak wangi yang menunggu orang untuk mencicipinya.

Tapi diapun mempunyai rahasia hati.

Yaa, siapa bilang seorang gadis berusia tujuh belas tidak mempunyai rahasia hati?

xxxxxxxxxx

SEBETULNYA ia tidak selalu hidup dengan hati yang riang gembira. hingga pada suatu senja.

Hari itu musim semi, ia duduk seorang diri di kebun belakang sambil menikmati keindahan bunga serta langit nan biru.

Tiba-tiba ia merasa kesepian.

Pada umumnya hanya ada satu cara untuk me­lenyapkan kesepian yang dialami gadis remaja …..

yaitu dicintai dan diperhatikan oleh yang dicintainya.

Tapi ia belum berhasil menemukan pria seper­ti ini.

Sebab ia selalu beranggapan didunia ini hanya ada dua orang laki-laki sejati, mereka adalah ayahnya dan kakaknya.

Sedang laki-laki lain tak pernah ia pandang sebelah matapun.

Seandainya dia masih mempunyai ibu, isi hatinya dapat dia ungkapkan kepada ibunya, sayang ibunya sudah lama meninggal dunia.

Ia memang rapat hubungannya dengan ayahnya toh itupun masih terdapat suatu perbedaan suatu jarak pemisah yang tak mungkin bagi mereka un­tuk berhubungan lebih rapat. Hanya ada seorang yang bisa berhubungan akrab, dia adalah kakaknya.

Tapi sekarang kakaknya hampir menikah, ia pasti akan kesepian kembali.

Kesepian. Kesepian suatu kejadian yang mengerikan!

Sejak pagi Bu ki telah pergi, hingga kini ia be­lum juga kembali tentu saja dia yang paling kuatir.

Sebab hanya dia yang tahu ke mana pemuda itu pergi.

Di antara mereka berdua selamanya tak pernah ada rahasia apa-apa.

“Aku hendak membayar hutang, dan aku harus pergi, tapi ada sementara hutang yang belum ten­tu bisa kubayar, maka jika sampai malam nanti aku belum juga kembali, itu berarti kemungkinan besar aku tak akan kembali untuk selamanya”

Ia tidak berusaha untuk menghalanginya, dia­pun tidak mencoba untuk menasehatinya. Karena dia paling memahami watak kakaknya, ia tahu dia adalah seorang laki-laki sejati, bila ia sudah mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu pekerjaan, maka jangan harap niatnya bisa dicegah, apalagi dinasehati.

Justru karena itu dia selalu bangga, ia selalu merasa kagum oleh kehebatan kakaknya itu.

xxxxxxx

SEJAK senja menjelang tiba, ia sudah menunggu dan berdiri diluar pintu kebun sambil menantikan ke datangannya.

Kini hari sudah mulai gelap, tapi ia belum nampak juga, hatinya mulai gelisah, perasaannya mulai cemas ………

Pada saat itulah ia saksikan seseorang melari­kan kudanya seperti orang kesetanan, dengan kecepatan paling tinggi ia menerjang masuk ke lo­rong samping dibelakang kebun.

Sekalipun ia belum melihat jelas bagaimanakah rupa wajah orang itu, tapi dia tahu siapakah orang itu.

Hanya Bu-ki yang akan segila ini, hanya Bu ki yang bisa melarikan kudanya seperti orang kesetanan.

Ia melompat bangun dan bersorak kegirangan “Bu ki telah pulang!” Bu ki sedang tukar pakaian.

Tiada waktu baginya, untuk membersihkan ba­dan lagi, ia mulai tukar pakaian dan mengenakan pakaian pengantinnya.

Badannya masih basah oleh keringat busuk, se­pasang kakinya bukan saja linu, sakitnya bukan kepalang, malah kulit kakinya sudah lecet kena tali kuda.

Ia pulang dengan menunggang seekor kuda jem­polan yang bisa lari cepat, walaupun begitu seka­rang kuda itu sudah roboh terkulai.

Masih untung kuda itu baru roboh sekarang coba di tengah jalan tadi …..

Sekarang dia baru merasa, untuk menjadi seo­rang pengantin, bukan suatu pekerjaan yang amat gampang.

Sejak berganti pakaian pengantin ia sudah me­rasakan kesulitan.

Dulu tak pernah ia sangka kalau pakaian pengantin adalah pakaian yang paling repot untuk dikenakan, jauh lebih repot daripada seorang nona cilik mengenakan baju bonekanya.

Untung dia masih bisa bersabar, sebab dia tahu sepanjang hidup paling banyak sekali menga­laminya.

xxxxxxx

TIGA orang sedang membantunya mengenakan pakaian.

Sebetulnya tiga orang perempuan yang akan membantunya, tapi ia bersikeras minta dibantu seorang lelaki.

Meski begitu, dalam ruangan masih ada seorang gadis.

Walaupun dalam pandangannya gadis itu tak bisa terhitung sebagai gadis namun dalam pandangan pria lain, dia adalah seorang gadis yang betul-betul cantik, seorang gadis yang benar-­benar berperawakan aduhai, kecuali wataknya se­dikit jelek, hampir boleh dibilang dia adalah ga­dis di tengah gadis.

xxxxxxxxxx

CIAN-CIAN duduk di sudut ruangan, tepatnya diatas lantai sambil menyaksikan ia tukar pakaian.

Sekalipun dalam ruangan tersedia delapan ratus kursi, dia tak akan duduk di kursi-kursi itu, sebab dia lebih suka duduk di atas lantai.

Dia paling suka duduk di lantai.

Pakaian akan kotor? Perduli amat! Orang lain mengatakan ia tak pantas duduk di lantai, ia tak ambil perduli.

Disinilah letak perbedaannya dengan Wi Hong-­nio.

Selamanya dia hanya akan melakukan pekerjaan yang dia senangi.

Melihat perbuatan adiknya itu, Bu-ki cuma bi­sa menggeleng sambil mengeluh: “Coba lihat caramu duduk, bagaimana mungkin orang akan memperistri gadis macam kau?”

“Hmm..! Perduli amat” Cian-cian selalu mendengus dengan gemas, “Buat apa kau urusi aku bakal kawin atau tidak? Yang pasti aku toh tak akan kawin denganmu!”

Bu-ki tertawa getir. Yaa, kecuali tertawa getir, apalagi yang dapat dia lakukan?

Dengan perasaan tidak puas Cian-cian kembali berkata: “Bayangkan saja laki-laki macam kaupun dapat mempunyai bini, kenapa aku tak laku kawin?”

“Tapi kau seorang perempuan” bantah Bu-ki sedikit banyak kau harus mempunyai potongan sebagai seorang perempuan!”

Cian-cian menyibirkan bibirnya.

“Kalau perempuan, lantas harus seperti apa? Seperti Hiang-hiang mu itu.’

Menyinggung soal Hiang-hiang, Bu ki tak dapat berbicara lagi.

Sekali berhasil dengan ucapanya Cian-cian mendesak lebih lanjut.

“Apakah dia sungguh amat harum? Sampai di mana harumnya?”

Rupanya gadis itu mempunyai minat yang sa­ngat besar terhadap persoalan itu, terpaksa Bu-ki harus mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

“Banyakkah yang datang pada hari ini?” demi­kian ia bertanya.

“Ehmm, banyak sekali!”

“Siapa saja yang datang?”

“Yang semestinya datang pada tidak datang, yang semestinya tidak datang telah berdatangan”

Dengan ujung matanya Bu-ki mengerling sekejap adiknya, kemudian ia berseru: “Aku tahu, putranya Toa toaya pasti tidak da­tang’

“Dari mana kau bisa tahu?” tanya Cian-cian ke­heranan.

Sengaja Bu ki memperlihatkan sekulum senyuman yang misterius.

“Sebab dia semestinya harus datang”

Merah padam air muka Cian-cian karena jengah.

Toa toaya adalah orang nomor satu yang paling berkuasa dalam perkumpulan Tay-hong-tong, orang persilatan mengenalinya sebagai seorang tokoh yang amat cerdas, Sugong Siau-hong namanya.

Ia mempunyai seorang putra yang bernama Sugong Ki.

Perhatian Sugong Ki terhadap Tio Cian-cian boleh dibilang sudah bukan merupakan rahasia la­gi bagi setiap orang.

Bu-ki sangat bangga, Sekarang ia berhasil juga untuk membungkamkam adiknya yang cerewet ini, meski hanya untuk sementara waktu. Sa­yang dia lupa. dia lupa kalau dia sendiripun mempunyai rahasia yang sudah bukan merupakan ra­hasia lagi.

Cian-cian memutar biji matanya, lalu secara ti­ba-tiba menghela napas.

“Aaaai …. sayang, sungguh amat sayang!”

“Apanya yang sayang?” tanya Bu-ki keheranan, “Sayang ada seorang yang tidak datang”

“Siapa?”

“Seseorang yang sebenarnya harus datang!”

“Siapakah orang itu?”

“Lian-lian yang patut dikasihani!”

“Apa urusannya denganku? Jangankan berbicara, bertemu muka saja belum pernah”

“Oleh karena kau belum pernah bertemu mu­ka dengannya, maka aku baru merasa sayang!”

Ia mengerling sekejap wajah kakaknya, lalu me­nambahkan.

“Bukankah kau selalu ingin bertemu dengan­nya serta menyaksikan bagaimanakah potongan wajahnya?”

8u-ki tak bisa menyangkal.

Pada hakekatnya dia memang selalu ingin berte­mu dengan Lian-lian yang patut dikasihani, dia ingin tahu bagaimanakah potongan wajahnya dan bagaimanakah potougan badannya. Hal ini juga bukan merupakan rahasia lagi !

xxxxxxxxxx

LIAN-LIAN yang patut dikasihani adalah putri tunggal dari Sam toaya mereka, Sangkoan Jin!

Ia bernama Lian-lian, lengkapnya Sangkoan Li­an-lian.

Setiap orang tahu kalau dia adalah seorang ga­dis brilian, seorang gadis yang cantik pula.

Tapi belum pernah ada orang yang pernah ber­jumpa dengannya.

Mengapa begini? Sebab semenjak kecil dia sudah dikirim ayahnya ke bukit Hong-san, ada o­rang bilang ia sedang belajar ilmu.

“Ilmu silat dari Biau-hi Suthay yang berdiam di kuil Biau-hi-coan bukit Hong-san, paling cocok untuk anak perempuan”

Sementara orang memang berpendapat demi­kian.

Tapi ada pula sebagian orang yang berkata bah­wa ia pergi untuk merawat penyakitnya yang akut..

“Sejak dilahirkan ia sudah mengidap suatu penyakit aneh, seperti juga ibunya, kalau tidak be­ristirahat dan hidup dengan perasaan tenang, umur dua puluh pun sukar dilampaui”

Tapi apakah yang menyebabkan dia pergi?

Tak seorangpun yang tahu, selamanya tak ada yang tahu, selamanya tak ada yang berani menanyakan persoalan ini kepada Sangkoan Jin.

Sangkong Jin, bukan seorang yang mudah didekati, lebih-lebih tentang masalah putrinya.

Kematian dari istrinya dan kepergian dari putrinya merupakan dua masalah yang pantangan bagi­nya untuk ditanyakan.

Bila Sangkoan Jin telah menetapkannya sebagai pantangan, maa siapa berani menyinggung soal itu berarti dia hanya ingin mencari penyakit buat di­ri sendiri.

Baik dia manusia biasa maupun manusia yang telah dikenalnya.

Konon, pemilik Tay-hong-tong yakni Im loyacu juga mengetahui watak anehnya ini.

xxxxxxxxx

MENYINGGUNG soal Lian-lian, mau tak mau Bu-ki harus mengalihkan kembali pokok pembica­raannya.

“Hari ini apakah si tua sudah minum obat?” ia bertanya.

Masalah tersebut, selamanya merupakan masa­lah yang paling mereka perhatikan, sebab “Si tua” yang dimaksud tak lain adalah ayah mereka.

Sebutan “Si tua” sama sekali tidak mengan­dung maksud kurang hormat, panggilan itu hanya merupakan pertanda bahwa antara ayah dan anak bertiga sebenarnya mempunyai hubungan yang sa­ngat akrab, hubungan yang luar biasa yang tak a­kan dipahami siapapun.

Dalam pandangan orang lain, mungkin ayah mereka adalah seorang manusia yang menakutkan, sebagian besar jago persilatan pasti akan merasa kagum, hormat dan bila menyinggung nama Kim Liong-kiam (pedang naga emas) Tio kian.

Tapi dalam pandangan kedua orang itu, bukan saja ia adalah ayah mereka yang tercinta, diapun sekaligus merupakan ibu mereka yang tersayang.

Tio hujin sudah lama meninggal dunia, Tio-Ki­an lah yang memelihara mereka hingga menjadi dewasa.

Bila musim dingin telah tiba, bila salju turun dengan derasnya, dia akan bangun dari tidur untuk menyelimuti anak-anaknya.

Bila musim semi tiba, di kala angin berhembus sepoi, dia pula yang menemani putra putrinya untuk bermain layang layang di kebun.

Demi pendidikan serta memelihara putra-putra­nya ini, jago yang pernah malang melintang dalam dunia persilatan dengan pedang saktinya, serta pernah membantu sahabat karibnya Im Hui-yang untuk mendirikan Tay-hong tong ini banyak mengalami perubahan, terutama dalam perubahan soal tabiat …….

Walaupun belakangan ini wataknya berubah menjadi jauh lebih baik, namun tubuhnya justru bertambah lemah, ia berubah menjadi gampang lelah gampang kehabisan tenaga.

Bila urusan penting dalam tubuh Tay-hong-tong telah diselesaikan sering kali seorang diri ia duduk dalam kamar bacanya, ia tak mampu berkata-kata karena kelelahan, bahkan kadangkala sekujur ba­dannya mengejang keras, mengejang penuh penderitaan.

Lambat laun putra-putrinya mengetahui juga penderitaannya itu, mereka yakin kalau ayah mereka telah mengidap suatu penyakit yang sangat aneh.

Walaupun dengan bersusah payah putra-putrinya berhasil juga memaksanya untuk memeriksakan diri pada seorang tabib, tapi si tua yang keras ke­pala seringkali tak mau minum obat.

Seringkali dia baru berkata begini: “Hanya anak perempuan yang setiap malam minum obat, apakah kalian sudah menganggap di­riku sebagai perempuan?”

Meskipun jalan pikiran seperti ini sama sekali tak benar, tapi asal ia bersikeras mengatakan be­nar, siapa lagi yang dapat merubah pendapatnya itu?”

Cian-cian menghela napas ringan katanya: “Diam-diam, obat jatahnya untuk hari ini telah dituang ke dalam selokan.”

Mendengar itu Bu ki tertawa getir.

“Aku sungguh tak habis mengerti, kenapa ia selalu saja berbuat seperti anak kecil? Hanya anak kecil yang takut minum obat”

”Konon orang yang telah menginjak usia tua, seringkali wataknya tak berbeda jauh dengan anak kecil”

“Aku dengar Liok lopek dari Hoa-san juga khusus datang kemari, walaupun orang lain tak dapat menebak penyakit apa yang dideritanya, tapi da­lam pemeriksaan Liok lopek, masih ada penyakit apa yang tak dapat disembuhkan olehnya?”

Yang dimaksud Liok lopek adalah Hoa-San-gi-­in (Tabib pertapa dari Hoa-san) Liok Thong, bu­kan saja dia terhitung seorang jago pedang yang lihay, orang itu terhitung pula seorang tabib kenamaan dalam dunia persilatan.

“Setelah bersantap siang tengah hari tadi, Liok lopek telah memeriksa penyakit si tua” Cian-cian menerangkan.

Setelah berpikir sebentar ujarnya, lagi: “Malah mereka berdua menutup diri dalam kamar dan berbicara lama sekali!”

“Apa yang mereka katakan setelah keluar dari kamar?”

“Setelah keluar dari kamar, si tua tampak gem­bira sekali, bahkan khusus menyiapkan meja perjamuan dan mengundang Sam toaya untuk berpes­ta di kebun belakang”

Sam toaya yang dimaksud adalah salah seorang pentolan dalam perkumpulan Tay-hong-tong, dia adalah Tiat-kiam-kim-jin (manusia emas pedang baja) Sangkoan Jin yang sehari belum tentu mengu­capkan sepotong kata.

Kalau manusia emas, mungkin suatu ketika ma­sih bisa berbicara, maka untuk memaksa Sam toaya ini buka suara, jauh akan lebih sukar daripada menyuruh manusia emas berbicara.

“Hari ini dia menemani pula si tua minum arak!” kata Cian-cian lebih lanjut, baru sekarang aku tahu, terutama dia mempunyai takaran minum yang menandingimu”

Bu-ki tertawa lebar.

“Waaah… kalau begitu, penyakit yang diderita si tua tentu jauh lebih baikan”

“Tapi justru Liok lopek yang menunjukkan perasaan murung, dia tampak murung dan selain ke­sal, sampai minum arakpun tak ada”

Sepasang alis mata Tio Bu-ki kembali berkerut.

Pada saat itulah dari luar jendela berkumandang suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa, lalu seorang bertanya dari luar: “Apakah Toa-sauya berada di sini?’°

Baik Bu-ki maupun Cian-cian segera mengenali suara tersebut sebagai suaranya Lo ciang.

Sudah puluhan tahun Lo-ciang berdiam dalam gedung keluarga Tio, sejak sebagai seorang kacung bukunya Tio-Kian, kini dia sudah menjadi congkoannya perkampungan Ho-hong-san-ceng. Semula dia mempunyai sepasang kaki yang kuat, malah juara bermain “Kiancu” (sejenis permainan yang terbuat dari bulu ayam), tapi belakangan ini kaki­nya terserang rematik, untuk berjalan saja susah apalagi bermain “kiancu”

Walaupun demikian, dalam pandangannya sejak dulu, sekarang maupun nanti Tio Kian tetap ada­lah “Toa sauya nya”‘

xxxxxxxxx

MALAH panggilan itu tak pernah berubah, Cian-cian melompat bangun dari tanah, membuka daun jendela dan terlihat Lo Ciang yang sela­lu tenang, kini tampak agak gelisah meski napas­nya sudah tidak tersengkal lagi.

Tak tahan lagi dia bertanya: “Hei, apa gerangan yang telah terjadi? mengapa kau tampak begitu gelisah?”

Sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah jawab lo-Ciang.

“Sugong toaya telah datang darikotaPo-ting dan sekarang sedang menanti di ruang tengah untuk bertemu dengan toa sauya, tapi toa sauya ti­dak diketahui kemana perginya”

“Sudah kau cari?”

“Aku telah mencarinya kesana kemari, bukan saja toa-sauya tidak kutemukan, Sangkoan sam-ya pun ikut lenyap tak berbekas”

Mendengar kabar tersebut, Cian-cian ikut sedi­kit gelisah.

Sudah hampir empat puluh tahun lamanya lo­-Ciang mengikuti ayahnya, boleh dibilang semua tempat semua ruangan yang ada dalam perkam­pungan Ho-hong-san-ceng diketahui olehnya.

Kalau manusia seperti lo-Ciang pun tak dapat menemukan siapa lagi yang bisa menemukan?

“Aku bisa menemukannya!” tiba-tiba Bu-ki menyela.

“Masa kau tahu dia ada di mana?” lo-ciang se­perti kurang percaya.

Tio Bu-ki tertawa lebar.

“Tempat itu hanya aku seorang yang tahu, bi­ar kucarikan untukmu!” demikian katanya.

Pemuda itu tak ambil perduli apakah dia sudah berganti pakaian pengantin atau tidak, sekali melompat tubuhnya sudah menerjang ke muka.

Memandang bayangan punggungnya, lo-Ciang hanya bisa gelengkan kepalanya sambil menghela napas.

“Aaaaai.. tabiat siau-sauya persis dengan tabiat toa sauya dimasa mudanya dulu!”

Walaupun ia menghela napas, toh sinar matanya adalah sinar mata kagum bercampur girang.

Selama hidupnya, toa sauya tak pernah melaku­kan perbuatan yang merugikan orang lain, dan sekarang ia mendapat balasan untuk kebaikannya itu ……..

Bayangkan saja, siapa yang tidak berbahagia menyaksikan putranya tumbuh menjadi dewasa, men­dapat istri dan melahirkan anak, siapakah orang di dunia ini yang tak ingin menimang cucu?

Lo-ciang hanya berharap siau sauyanya ini bisa cepat-cepat menemukan toa sauya, lalu upacara perkawinan dilangsungkan dan sepasang pe­ngantin masuk ke kamar.

Bila ucapan telah selesai, diapun bisa menemui rekan-rekannya untuk minum arak sampai puas.

Cian-cian kelihatan sedikit tak puas, dengan hati mendongkol ia berseru: “Aku tidak percaya kalau ditempat ini terda­pat suatu tempat yang tidak kuketahui.

“Aaai … ada sementara tempat memang tidak seharusnya kita ketahui …..sela lo-Ciang.

“Kenapa?”

“Sebab tempat pasti merupakan tempat rahasia di mana toa sauya biasanya menyelesaikan urusan perkumpulan, sauya selalu pandai memisahkan antara tugas umum dan kepentingan pribadi, ten­tu saja tempat rahasia semacam itu tak boleh kita ketahui”

“Lantas, kenapa Bu-ki bisa tahu?”

“Siau sauya adalah ahli waris dari toa sauya setelah toa sauya mengundurkan diri lain hari, dia­lah yang akan meneruskan karier serta perjuangan toa-sauya, sebab itu sudah sepantasnya kalau siau­ sauya ikut mengetahui segala sesuatu”

“Apa yang dia andalkan sehingga cuma dia seorang yang boleh tahu?” teriak Cian-cian tidak puas, “masa aku bukan anak kandung ayah?”

“Oooh…. sudah barang tentu kau adalah anak kandung toa sauya! Cuma, hagaimanapun juga kau toh seorang perempuan”

“Kalau perempuan lantas kenapa?”

“Kalau perempuan, maka cepat atau lambat kau bakal kawin, setelah kawin maka kau adalah orangnya keluarga lain”

Apa yang diucapkan memang ucapan yang sejujurnya, ia memang selalu berbicara jujur.

Cian-cian ingin mendebat namun tak tahu ba­gaimana harus mendebatnya, terpaksa dia cuma bisa melotot sekejap kearahnya dengan gemas.

“Aku justru sengaja tak mau kawin, akan ku­lihat, apa yang bisa kau perbuat” teriaknya.

Lo-Ciang tertawa.

“Aku bisa apa? Tentu saja aku tak bisa apa-apa” sambil picingkan matanya ia tertawa, lanjutnya: “Justru yang kukuatirkan, setelah sampai waktunya, mau tak mau kau harus menerima pinangan orang lain dan menikah”‘

Tay-hong-tong adalah suatu organisasi yang besar dengan peraturan yang ketat, bukan saja pengaruhnya meliputi seluruh dataran Tionggoan bahkan merembes pula hingga jauh keluar perbatasan.

Keberhasilan Tay-hong-tong seperti apa yang di saksikan pada saat ini, kecuali disebabkan karena ambisi serta kewibiwaan Liang-kian-hong-sin (ang­in sakti menggulung naga) Im Hui Yang yang maha hebat. Hal ini disebabkan pula oleh perjuangan tiga serangkai yang berani menentang segala kesulitan yang dihadapinya.

Ketiga serangkai tersebut tak lain adalah, Sugong Siau-hong, Tio Kian serta Sangkoan Jin.

Merekalah yang memperjuangkan Tay-hong-tong dengan keringat dan darah, maka sudah sewajarnya kalau mereka juga yang menikmati kemena­ngan serta kemuliaan.

Sejak Im Hui-yang, Im-loyacu menutup diri selama lima tahun untuk melatih sejenis ilmu pedang yang tiada taranya di dunia ini, tanggung jawab Tay-hong-tong secara otomatis terjatuh di pundak mereka bertiga,

Pada hakekatnya mareka adalah saudara sehidup-semati, bukan saja menanggulangi bersama semua kesulitan yang dihadapi, merekapun dapat menikmati bersama semua kebahagiaan yang ber­hasil diraih.

Oleh karena itu tak timbul perselisihan dianta­ra mereka untuk saling menggeser dan menjegal untuk memperebutkan kekuasaan serta kedudukan paling tinggi, semua perhatian dan kekuatan me­reka hanya ditujukan keluar: Menolong mereka yang lemah dan menentang kaum penindas.

Tentu saja ketiga orang itu mempunyai watak serta tabiat yang berbeda, sehingga otomatis terwujudlah tiga tipe manusia yang berbeda.

xxxxxxxxxx

USIA Sugong Siau-hong paling tua, tapi tabiatnya paling lembut dan ramah, dia tersohor sebagai seorang jago yang berotak “brilian”.

Sepanjang hidupnya ia enggan ribut dengan o­rang, dia pun enggan melakukan perbuatan yang mengakibatkan mengalirnya darah.

Sebab menurut pendapatnya, segala persoalan dapat diselesaikan dengan mengandalkan kecerda­san otak, tak usah menggunakan golok atau keke­rasanpun urusan bisa diselesaikan sama baiknya.

Karena wataknya ini, banyak orang persilatan yang secara diam-diam memberi julukan kepadanya, mereka memanggilnya sebagai Sugong popo, si nenek Sugong!

Anak murid perkumpulan Tay-hong-tong memang menaruh hormat kepadanya, tapi bukan be­rarti mereka benar-benar puas dengan kebijaksa­naan pemimpinnya.

Pemuda-pemuda yang berdarah panas ini beranggapan bahwa cara kerja pemimpinnya ini terlalu berpura-pura.

Mereka menghendaki suatu tindakan yang tegas dan keras, karena dengan begitu kobaran sema­ngat mereka yang menyala-nyala baru bisa terlampiaskan keluar.

Sayang apa yang mereka harapkan tinggal ha­rapan, Sugong Siau-hong sudah mempunyai prinsip dalam perlawanannya terhadap Pek-lek-tong, yakni: Bila orang lain tidak mengganggu aku, akupun tak akan mengganggu orang lain.

Apabila keadaan tidak terlalu memaksa, mere­ka tak akan turun tangan secara gegabah!

Barang siapa diantara murid-murid Tay-hong ­tong berani memasuki wilayah kekuasaan Pek-lek tong, dia bakal dihukum mati!

Sangkoan Jin adalah seorang manusia emas yang tak pernah mengucapkan sepatah katapun walau menghadapi kejadian seperti apapun juga.

Sekalipun para pengikut setianya yang sudah banyak tahun mengiringi di sisinya, belum tentu setahun mendengar suara perkataanya.

Dia selalu bernaggapan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk merahasiakan kepentingan pribadinya, ia tak perkenankan siapapun juga untuk menanyakan masalah pribadinya.

Ruangan tidurnya selalu dijaga dengan ketat, siapapun tak berani mendekati tempat itu secara gegabah.

Seperti juga Tio Kian, istrinya sudah lama meninggal. Putrinya yang cuma satu-satunya itu sudah dikirim ke tempat yang amat jauh.

Sekarang, bukan saja ia tak punya sanak, teman akrabpun cuma satu dua orang.

Keangkuhannya, keanehannya serta kekerasan hatinya sudah diketahui siapapun, pada hakekatnya tak seorangpun yang dapat mendekatinya.

Oleh karena itulah di antara ketiga orang pemipin tersebut, Tio Kian yang paling banyak penggemarnya.

Semasa mudanya Tio Kian tersohor karena kebesaran jiwanya serta sifat kependekarannya yang suka menolong kaum lemah dan menentang kaum penindas.

Sekalupun tabiatnya sekarang sudah jauh lebih lembut dan kalem, toh ia masih terhitung seorang jago yang berjiwa terbuka.

Asal kau adalah sahabat karibnya, sekalipun kepala harus dipenggal dan diberikan kepadamu tak nanti dia akan kerutkan dahi.

Manusia seperti inilah merupakan tipe manusia yang paling dihormati oleh orang muda.

Dan hari ini putra tunggalnya melangsungkan perkawinan, sudah barang tentu semuanya berdatangan untuk ikut minum secawan arak eegirangan.

Malah Im loyacu yang sedang menutup diri dipuncak bukit Cing siu san pun mengutus seorang untuk menyampaikan hadiah khusus.

Semua orang menunggu dengan tak sabar, semua orang ingin cepat cepat menyaksikan pengantin lelaki yang ganteng serta pengantin perempuan yang cantik jelita lagi lembut itu.

Ketika Bu ki mnculkan diri, semua orang mengerumuni dirinya.

Sekalipun ia tak sampai melangkah untuk ke ruang tengah, tapi di kebun belakangpun orang di mana mana penuh sesak dengan lautan manusia.

Ketika semua orang menyaksikan pengantin laki-laki lari kesana kemari dengan “baju kebesar­an”nya sebelum upacara dimulai, semua orang merasa kaget, heran dan gembira, tak seorangpun yang menganggap perbuatannya itu melanggar adat ke­sopanan.

Putra Tio Kian memang sudah tersohor karena kebebasannya dari segala ikatan adat, dia adalah seorang pemuda yang berbuat bebas menuruti suara hati sendiri.

Dengan susah payah akhirnya Bu ki berhasil ju­ga melepaskan diri dari kepungan orang banyak, sesudah menembusi hutan bunga tho dikebun be­lakang, dengan melewati sebuah jalan kecil yang berliku-liku akhirnya sampailah dia dalam sebuab halaman kecil yang penuh ditumbuhi bambu.

xxxxxxxxxx

ANGIN berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun bambu, suasana di situ hening dan sepi suara ge­lak tertawa manusia diruang depan sama sekati tak terdengar disini.

Dalam halaman kecil itu semuanya terdapatlimabuah bilik, tiga buah bilik lebar dan dua bilik tersembunyi, disinilah biasanya pemilik perkampungan Ho-hong-san-ceng membaca buku.

Tentu saja lo-Ciang mengetahui tempat ini dan sudah barang tentu telah mencari pula di sana.

Tapi dia tidak menemukan toa-sauya nya, sebab orangnya memang tak ada disana, dari depan sampai belakang ruangan tak seorang manusiapun yang kelihatan.

Walau begitu, Bu- ki tidak kecewa, sebab ia tahu ditempat ini masih ada rahasianya.

Dan rahasia tersebut hanya dia seorang yang tahu.

Kamar baca Tio Kian yang sebenarnya terletak di ruang paling belakang, sekeliling ruangan pe­nuh dengan rak buku yang tinggi, barang siapa masuk ke situ ibarat seseorang yang masuk ke ko­ta buku.

Tapi di sanapun tak ada orang.

Dengan langkah lebar Bu-ki masuk ke dalam ru­angan, setelah yakin kalau di sana tak ada orang bukan saja tidak gelisah malah sebaliknya justru ia merasakan lega hati.

Sebab ia tahu di belakang rak buku sebelah kiri masih terdapat sebuah ruang rahasia, di situlah a­yahnya mengatur segala sesuatu urusan Tay-hong-­tong yang bersifat rahasia.

Ia percaya ayahnya pasti berada di sana, bahkan kemungkinan besar sedang merundingkan suatu masalah besar dengan Sangkoan sam-ya.

Ia tak langsung masuk, diambilnya sebuah pemberat kertas yang terbuat dari tembaga dan diketukkan perlahan pada rak nomor tiga dari rak buku tersebut.

Tiga kali sudah dia mengetuk rak tersebut, na­mun tiada suara jawaban yang kedengaran.

Sekarang hatinya baru gelisah, sekuat tenaga dia mendorong rak buku itu ke samping, lalu badannya menerobos masuk lewat celah-celah yang terbuka.

Ayahnya memang berada dalam ruang rahasia itu malah dia mengenakan jubah panjang bersulamkan naga indah, jubah indah yang khusus disiapkan untuk merayakan hati perkawinan putranya, dan huncwe kemala hijau kesayangan masih berada pula dalam genggamannya.

Cuma ia tergeletak di tanah, tergeletak di ta­nah tanpa batok kepala!

Bu ki berlutut d itanah, ia tidak meraung-raung tidak pula melelehkan air mata.

Dalam kelopak matanya tiada air mata, yang a­da hanya darah!

Segulung angin berhembus lewat dari luar ruangan dan menyingkapkan kalender di atas meja se­akan-akan ada tangan tak berwujud yang memba­liknya, secara kebetulan kalender itu menunjukkan: Bulan tiga tanggal dua puluh tujuh, rejeki be­sar, cocok untuk mengadakan perkawinan.

ooooo0ooooo

SIAPAKAH PEMBUNUHNYA ?

KIM-LIONG KIAM-KHEK (jago pedang naga emas) Tio Kian, orang kedua dari Tay-hong­tong ternyata kehilangan batok kepalanya secara misterius di hari perkawinan putra kesayangannya.

Sudah barang tentu peristiwa ini menghebohkan segenap dunia persilatan.

Sekalipun tidak kenal atau belum pernah berte­mu dengan Tio kian, paling sedikit mereka per­nah mendengar nama besarnya.

Dia punya teman, tentu saja punya musuh. Tapi baik itu temannya atau musuhnya, mereka rata-rata merasa kaget bercampur tercengang oleh pe­ristiwa tersebut.

Mereka yang agak mengetahui jelas duduknya peristiwa itu mendadak menjadi pusat perhatian orang, di mana saja mereka berada, semua orang memusatkan perhatiannya kepada mereka, dan orang-­orang itu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan: Siapakah pembunuhnya?

Tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu. Tak seorangpun berani mengadakan penilaian sendiri. Sebab bila ada yang salah berbicara, kemungkinan be­sar mereka akan kehilangan pula batok kepalanya di tengah malam buta.

Oleh karena itu berbagai reaksi, berbagai per­tanyaan berkecamuk di hati setiap orang.

“Benarkah Tio Kian telah mati? Benarkah dia mati lantaran kepalanya dipenggal orang?”

“Benar! Memang itulah kejadiaannya”

“Kapan peristiawa itu berlangsung?”

“Bulan tiga tanggal dua puluh tujuh, tepat di saat putranya hendak melangsungkan perkawinan”

“Konon hari itu adalah hari baik paling baik untuk menyelenggarakan usaha apapun?”

“Benar, hari itu memang hari yang paling baik untuk melakukan pekerjaan apapun”

“Untuk mencari menantu sudah tentu harus memilih hari baik, masa membunuh orang pun harus mencari hari baik juga?”

“Hari itu adalah hari baik untuk melakukan pekerjaan apapun, baik menyelenggarakan perkawinan ataupun membunuh orang”

“Makanya si pernbunuh itu hingga sekarang be­lum juga ketahuan”

“Aku rasa bukan pekerjaan yang gampang untuk menemukan pembunuh tersebut”

“Tapi sedikit banyak pihak keluarga Tiokansudah mempunyai titik terang bukan?”

“Agaknya memang begitu.”

—–

Maka bermunculanlah berbagai lapisan manusia yang membantu keluarga Tio untuk melacaki je­jak pembunuh tersebut.

“Tio Kian terbunuh di mana?” demikian pertanyaan itu berkumandang di antara kumpulan manu­sia.

“Katanya mati di perkampungan Ho-hong-san­ceng”

“Tapi yang hadir diperkampungan Ho-hong san-ceng waktu itu tentu banyak sekali, kenapa tak seorangpun yang menyaksikan peristiwa pem­bunuhan tersebut?”

Sebab dia mati di ruang rahasia”

“Begitu rahasiakah ruang rahasianya itu?”

“Tentu saja rahasia sekali, bahkan aku dengar putrinya sendiri juga tidak tahu”

“Lantas siapa yang tahu?”

“Konon kecuali dia sendiri yang pernah masuk ruang rahasia itu, hanya tiga orang yang tahu” .

“Siapakah ketiga orang itu?”

“Sugong Siau-hong, Samkoan Jin serta putranya”

“Apakah hanya salah satu di antara ketiga orang itu yang ada kemungkinan untuk membunuhnya?”

“Aku rasa sulit untuk menemukan orang keempat”

“Kenapa?”

“Tio Kian bukan manusia sembarangan, sebelum berusia dua puluh tahun ia sudah mulai mengembara dalam dunia persilatan dengan mengandalkan sebilah pedang”

“Aku juga pernah mendengar, sebelum usia tujuh belas, ia telah membunuh Tiang-an hou (hari­mau Tiang-an) di kota Tiang-an”

“Yaa, betul!” sambung yang lain, “Dalam tiga tahun kemudian bahkan ia telah membinasakan juga Kwan tiong-jit-hiong (tujuh orang gagah dari Kwan-tiong). Huang-ho-su-ciu (empat ular sakti dari sungai kuning), malah mengalahkan Siau Tojin serta Tiu Tiong-hiong yang merupa­kan jago pedang waktu itu”

“Tak aneh kalau namanya amat tersohor sebelum berusia dua puluh tahun” pekik jago lain.

“Konon sebelum berusia tiga puluh tahun, ia telah membantu Im Hui-yang mendirikan Tay-hong tong, bayangkan saja, manusia tangguh semacam ini mana mungkin dipenggal kepalanya secara gampang.

“Aku merasa tidak habis mengerti”

“Seharusnya kau mengerti, orang yang bisa me­menggal kepalanya pastilah seseorang yang sangat dikenal olehnya, sebab itu dia tidak bersikap waspada terhadap orang tersebut”

“Wah, kalau betul begitu, ilmu silat yang dimiliki orang itu tentu lihai sekali, dan caranya turun tangan pun sangat cepat”

“Betul, konon pada waktu itu si tabib pertapa dari Hoa-san juga hadir di situ, malah dialah yang memeriksa jenasah Tio jiya”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia yakin kalau alat senjata yang digunakan untuk membunuh Tio jiya adalah sebilah pedang, bahkan dalam sekali tebasan ia berhasil mengutungi batok kepala Tio jiya”

Dan kebetulan Sugong Siau-hong dan Sangkoan Jin adalah jago-jago lihay yang menggunakan pe­dang”

“Yaa, mereka semua adalah jago silat kelas satu dalam dunia persilatan !”

“Putra Tio jiya apakah pemuda yang bernama Tio Bu-ki itu?”

“Benar dialah orangnya!”

“Sudah barang tentu bukan dia pembunuhnya?”

“Tentu saja bukan”

“Kalau begitu, menurut pendapatmu pembunuhnya adalah Sangkoan Jin? ataukah Sugong Siau-hong?”

“Aku tidak tahu!”

“Coba terka-lah!”

“Aku tidak berani menerka”

Perdebatan dan pembicaraan tersebut adalah pembicaraan bebas yang kedengaran di kalangan umum.

Di tengah malam buta, baik di kaki lima, di tepi jalan maupun dalam warung makan yang memakai merek mentereng, masih kedengaran banyak orang yang membicarakan peristiwa itu.

“Konon orang yang paling mencurigakan adalah Sugong Siau-hong!” demikian mereka berkata.

“Kenapa?”

“Sebab dia adalah orang terakhir yang tiba di perkampungan Ho-hong-san-ceng. Ia baru tiba pa­da malam bulan tiga tanggal dua puluh tujuh”

“Kenapa dia yang dicurigai?” bantah yang lain, “justru orang terakhir yang datang seharusnya malah tak pantas dicurigai”.

“Yaa, kalau cuma begitu memang tak pantas dicurigai, tapi menurut hasil penyelidikan yang ke­mudian diadakan, katanya pada tanggal dua puluh lima ia sudah meninggal kota Po-teng”

“Jadi semestinya tanggal dua puluh enam ia sudah sampai di perkampungan Ho-hong-san-ceng?’°

“Yaa, paling lambat pun sore itu harus sudah tiba”

“Lalu sejak sore tanggal dua puluh enam sam­pai malam tanggal dua puluh tujuh dia telah ke mana?’°

“Tak seorangpun yang tahu”

“Maka orang lantas menduga bahwa dialah yang paling mencurigakan?”

“Begitulah!”

“Tapi aku dengar sejak sore hari tanggal dua puluh tujuh, hanya Sangkoan Jin seorang yang menemani Tio jiya hingga berlangsungnya peristiwa tersebut”

“Karena itu Sangkoan jin juga seseorang yang patut dicurigai”

“Sekarang, di manakah orang itu?”

“Hingga kini mereka berdua masih tetap tinggal di perkampungan Ho-hong-san-ceng”

“Yaa, betul! Siapa berani berangkat dulu, dia­lah yang pantas dicurigai sebagai pembunuhnya tentu saja apapun di antara mereka tak ada yang berani berangkat meninggalkan tempat itu”

“Padahal mereka mau pergi atau tidak juga sama saja.’

“Kenapa?”

“Karena mereka berdua adalah saudara sehidup-semati dari Tio jiya, tiada alasan buat mereka untuk melakukan pembunuhun keji tersebut bila ti­dak menemukan bukti-bukti yang kuat, siapakah yang berani mencurigai kedua orang itu?”

“Dan sekarang, apakah mereka menemukan bukti-buktinya?”

“Belum”

Hari ini sudah tanggal empat bulan empat, pe­ringatan hari ke tujuh sejak kematian sudah lewat.

Malam sudah menjelang tiba, suasana sangat hening.

Sejak Tio Bu-ki menemukan jenasah ayahnya hingga kini, tujuh hari lewat tanpa terasa.

—–

SELAMA tujuh hari ini, Bu-ki tidak pernah menangis, setitik air matapun tak pernah meleleh ke luar, membasahi pipinya.

Ia tidak minum, tentu saja tidak pula makan.

Bibir sudah mengering dan retak-retak, bahkan seluruh kulit badannya, ikut kering dan pecah-pecah.

Matanya cekung ke dalam wajahnya yang semula merah segar telah berubah menjadi sepucat kertas.

Bukan begitu saja, badannya sudah kaku dan tak berkutik.

Tampangnya tersebut mengerikan sekali semua orang takut kepadanya, bahkan Cian-cian juga takut.

Tapi tak seorang manusiapun yang mampu menghibur hatinya.

Pada hakekatnya ia seperti patung, apapun sua­ra pembicaraan manusia ia tidak mendengar, apa­pun yang berada dihadapannya dia tidak melihat.

Tentu saja yang paling menderita adalah Wi­-Hong-nio, ia menangis sepanjang hari, tapi seka­rang air matanya telah mengering.

Selama tujuh hari ini, setiap orang jarang ber­bicara, setiap orang berusaha mencari, mencari je­jak dari pembunuh tersebut.

Tapi mereka gagal untuk menemukannya.

Setiap jengkal tanah di sekitar perkampungan Ho hong-san-ceng telah mereka geledah, tapi se­mua usahanya itu cuma sia-sia belaka. Mereka tidak berhasil melacaki jejak sang pembunuh tersebut.

Siapapun tak berani mencurigai Sangkoan Jin, lebih-lebih mencurigai Sugong Siau-hong, tapi kecuali kedua orang itu tiada orang lain yang dapat mereka curigai lagi.

Seandainya pembunuh itu adalah orang lain maka pembunuh tersebut tentu dapat datang tanpa wujud pergi tanpa bayangan, seakan-akan setan iblis yang mengerikan.

—–

WALAUPUN semua orang jarang berbicara, sedikit banyak mereka toh berbicara juga.

Lain halnya dengan Sangkoan Jin, boleh dibi­lang dia sama sekali tidak bersuara.

Iapun tidak memberikan alibinya, ia tidak menerangkan di manakah dia minta penjelasan kepadanya.

Akhirnya orang lain baru tahu kalau waktu itu rupanya dia sudah mabok oleh Cian congkoan ia dibaringkan dalam kamar tamu. Kamarnya terletak nomor lima dalam halaman yang terpisah, dia maupun pengikutnya semua berada di sana.

Orang yang bertugas mengatur segala kebutuhan mereka adalah Tio Piau.

Tio Piau, bukan saja seorang pembantu tua da­ri keluarga Tio, dia masih terhitung famili jauh­nya Tio jiya.

Tio Piau telah memberikan kesaksiannya pada tanggal dua puluh tujuh bulan tiga, sejak magrib Sangkoan sam-ya terus tidur didalam kamar nya.

Sekalipun sewaktu sadar dari maboknya ia tidak menimbulkan suara apa-apa, tapi setelab mabok, ia tidur sambil mendengkur, banyak orang mendengar suara dengkurannya itu.

xxxxxxx

KEBANYAKAN orang persilatan beranggapan keberhasilan Sugong Siau-hong untuk mencapai kedudukannya seperti hari ini bukan lantaran ilmu silatnya yang hebat melainkan karena imamnya yang tebal.

Tenaga dalamnya maupun ilmu pedang Sip ci hui-kiamnya belum sampai mencapai puncak kesempurnaan, tapi soal ketebalan imam, soal kesabaran dan tahan uji dia adalah nomor satu didunia.

Dia tahu banyak sekali jago Ho-hong san-ceng yang mencurigai dirinya, sebab pada tanggal dua puluh enam bulan tiga, seharusnya dia sudah ha­rus sampai di sana.

Walau begitu, ia sedikitpun tidak menunjukkan perasaan tak tenang, apalagi memberi sanggahan ataupun penerangan.

Ia berangkat lebih awal dari tanggal yang sebe­narnya, hal ini disebabkan karena persoalan lain.

Tapi soal itu adalah suatu rahasia besar, ia ti­dak akan membiarkan orang lain tahu.

Selama beberapa hari ini dia masih tetap te­nang dan bersikap wajar seperti ini. Seseorang harus tetap mempertahankan ketenangannya dengan demikian urusan jadi tak sampai kalut.

Walau berada dalam keadaan seperti apapun, dia tak akan lupa untuk melakukan apa yang harus dilakukan.

Ia berusaha keras untuk mengaturkan upacara, penguburan bagi jenasah Tio Kian, lalu menase­hati anak murid Tay-hong-tong agar selalu bersi­kap tenang, ia percaya cepat atau lambat duduk­nya persoalan pasti akan menjadi jelas.

Terlepas dari apa yang dikatakan orang lain, siapapun mengakui bahwa dia memang memiliki daya ketenangan yang luar biasa.

Sebab itu, Tay-hong-tong selamanya tak bisa kehilangan dia.

Setelah upacara peringatan “hari ketujuh” lewat, sisa anggota Tay-hong-tong yang masih tertinggalpun telah kembali ke posnya masing-masing.

Sekalipun Tio Kian adalah batu tonggak bagi Tay-hong-tong, namun Tay-hong-tong tak dapat roboh dan hancur hanya lantaran kehilangan sebuah tongkat saja.

Yaa, jika pondasinya sudah kuat dan kokoh sekalipun kehilangan sebuah tongkatnya, hal ini tak menyebabkan bangunan menjadi roboh, walau ditiup oleh angin sekencang apapun.

Sugong Siau-hong berhasil membuat anak muridnya akan memahami persoalan ini, dia berharap semua orang dapat merubah kesedihan menjadi kekuatan yang besar.

Yang masih tertinggal dalam ruangan waktu itu kecuali orang-orang dari keluarga Tio, hanya sedikit saja orang luar.

Tiba-tiba Sangkoan Jin bangkit seraya, berkata: “Ouyang sedang menunggu aku!”

Habis mengucapkan kata-kata tersebut, dia ber­lalu dengan langkah lebar …….

Empat kata itu terlampau singkat, kecuali su­gong Siau-hong, yang lain boleh dibilang tak ada yang mengerti.

Sekalipun begitu asal satu orang bisa memaha­mi, hal ini sudah lebih dari cukup.

Yaa, memang begitulah watak Sangkoan Jin, kalau dengan empat katapun bisa menjelaskan mak­sudnya maka tak akan dia gunakan kata kelima.

Ketika melihat Sangkoan Jin pergi, tak tahan lagi Cian-cian segera berseru: “Apakah dia akan pergi dengan begitu saja?”

“Yaa, bagaimanapun juga dia harus pergi!” ja­wab Sugong Siau-hong.

“Kenapa?”

“Sebab dia sudah mempunyai janji dengan Ouyang untuk berjumpa”.

“Siapakah Ouyang itu?”

“Dia adalah Ouyang Peng-an”

Ouyang Peng-an, adalah congpiautau dari dela­pan belas perusahaan ekspedisi di daratan Tiong­goan, mereka telah berencana untuk membentuk perserikatan dengan pihak Tay-hong-tong.

Sudah barang tentu apa yang hendak dirundingkan antara Ouyang Peng-an dengan Sangkoan Jin adalah suatu persoalan yang amat penting.

Cian-cian tidak bertanya lagi. Secara lamat-la­mat ia sudah mendengar tentang persoalan itu.

Tay-hong-tong memang membutuhkan perseku­tuan yang tangguh untuk memupuk kekuatan.

Sejak mereka mengetahui kalau Pek-lek-tong telah mengikat hubungan berbesan dengan keluarga Tong dari Suzhuan, merekapun berharap bisa memperoleh persekutuan pula.

Senjata rahasia bahan peledak dari Pek-lek-tong sudah cukup menakutkan siapapun, sekarang bila ditambah pula dengan senjata rahasia dari kelu­arga Tong yang telah berusia seratus enam puluh tahun, keadaan tersebut ibaratnya harimau tum­buh sayap.

Persoalan inilah yang selalu menjadi ganjalan di hati Sugong Siau hong, ia selalu berharap agar Ouyang Peng-an jangan membatalkan rencana se­mulanya karena peristiwa tersebut.

Suara derap kaki kuda secara lamat-lamat kedengaran berkumandang di luar sana, rupanya Sangkoan Jin beserta anak buahnya telah meninggal­kan perkampungan Ho-hong-san-ceng.

Ketika suara derap kuda itu makin menjauh, suasana dalam ruang tengah kembali diliputi keheningan.

Bu-ki masih berlutut di depan meja abu ayahnya tanpa bergerak barang sedikitpun, bibir­nya yang kering sudah pecah dan berdarah.

Saat itulah Sugong Siau-hong berkata: “Aku rasa semua persoalan di sini telah dapat diatasi, satu dua hari lagi aku harus pergi meninggalkan tempat ini”

Tentu saja, cepat atau lambat dia memang ha­rus pergi.

Im Hui-yang masih berada dalam masa pertapaan, sedang Tio-Kian telah tewas secara tiba-liba, Tay-hong-tong lebih-lebih tak boleh kekurangan dirinya.

Cian-cian tundukkan kepalanya, ia seperti hen­dak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan.

Diapun tak berani bicara sembarangan, dia ta­hu sepatah kata saja salah berbicara bisa mengakibatkan hancurnya keluarga mereka.

Namun pada hakekatnya dia sedikit merasa takut. Ayahnya telah tewas, dan kakaknya berubah menjadi begini, dia merasa bagaimanapun juga perkampungan Ho-hong-san ceng harus dipertahankan.

Beban dan tanggung jawab yang amat berat ini tak bisa dibantah lagi sudah terjatuh di atas pundaknya.

Lalu apa yang dilakukan?

Sugong Siau-hong memandang sekejap kearahnya, seakan-akan dia dapat menebak suara hatinya.

“Aku tahu bahwa kau adalah seorang gadis yang berhati teguh” demikian katanya dengan lembut, justru yang kami kuatirkan adalah dia”

Tentu saja orang yang paling dikuatirkan ada­lah Bu ki.

Setiap orang menguatirkan Bu-ki, semua orang berharap dia bisa bangkit berdiri dan membu­sungkan dadanya.

Tapi siapapun tidak tahu, sampai kapankah pe­muda itu baru bangkit berdiri dan membusungkan dadanya.

Di tengah keheningan yang mencekam ruang tengah, tiba-tiba berkumandang suara langkah kaki yang berat dan mantap, tak usah berpalingpun Cian-cian tahu bahwa orang itu adalah lo-Ciang.

Napasnya tersengkal-sengkal baru mukanya me­rah membara, dia lari masuk dengan tergesa-gesa, di tangannya membawa sebuah cawan arak.

Apakah dia mabok karena arak.

Tidak….

Dalam cawan arak itu bukan berisi arak, melainkan selapis debu yang tebal.

Dengan napas tersengkal teriak lo.Ciang.

“Benda ini kudapatkan dari dalam kamar yang ditempati Sangkoan samya”

Kemudian setelah berhenti sebentar, ia mene­rangkan lebih lanjut: “Setelah Sangkoan samya pergi, aku lantas membawa orang untuk membersihkan kamar itu”

Yang dimaksudkan melakukan pembersihan tentu saja hanya suatu alasan belaka!

Sangkoan Jin termasuk orang yang dicurigai, cuma selama orangnya masih berada di sana, tak seorang manusiapun berani menggeledah kamarnya.

“Apa yang sebenarnya kau temukan itu?” tanya Sugong Siau-hong.

“Aku justru mohon toaya sudi memeriksanya sendiri”

Dalam cawan arak hanya terdapat separuh ca­wan bubuk berwarna kuning, bubuk itu seperti tanah lumpur yang baru diambil dari atas tanah.

Cuma anehnya, lumpur kuning itu menyiarkan sejenis bau harum yang aneh sekali.

Dengan sepasang jari tangannya Sugong Siau-hbong mengambil sedikit bubuk kuning itu, diremas-remas dengan jari tangannya, lalu dicium

Tiba-tiba paras mukanya menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali …….

Lo-ciang kembali berkata: “Lo-Tan yang mengurusi pesta perjamuan adalah seorang ahli dalam perciuman, aku telah me­nyuruh dia mencium cawan tersebut katanya campu­ran tersebut bukan saja terdiri dari batu gamping terdapat juga wangi Wang-can dan tanduk naga”

Pelan- pelan Sugong Siau-hong mengangguk..

Mau tak mau dia harus mengakui juga atas ketajaman penciuman dari lo-Tan tersebut, diantara tanah liat memang terdapat wangi-wangian, tanduk naga dan batu gamping.

“Semua benda ini kudapatkan dari dasar meja yang berada dikamar Sangkoan samya, aku berha­sil mendapatkannya setelah mengorek dengan me­makai pisau belati”

Biji matanya seakan-akan melompat ke luar tanganpun agak gemetar, lanjutnya: “Bukan di tanah saja terdapat benda itu.

Di antara celah-celah mejapun ada, aku ….. aku menjadi tak habis mengerti, buat apa Sangkoan samya membutuhkan benda-benda seperti itu?”

Bahkan suaranya kedengaran agak gemetar, sebab dia tahu apa gunanya benda-benda itu.

Wangi-wangian dan tanduk naga adalah bahan pengawet yang mahal harganya, bukan saja dipakai sebagai obat, dapat pula digunakan sebagai pencegah pembusukan.

Dan batu gamping adalah bahan umum yang digunakan untuk menjaga keringnya suatu benda, sebab bahan itu anti kelembaban.

Lalu benda apa yang dimiliki Sangkoan Jin da­lam kamarnya sehingga ia membutuhkan bahan­-bahan seperti itu untuk mencegah kelembaban dan pembusukan?

Dalam peti mati Tio-Kian terdapat pula ben­da-benda tersebut, dan ketiga macam bahan itu digunakan untuk menjaga keringnya suasana dan utuhnya mayat tersebut.

Walau begitu, batok kepalanya tak berada di dalam peti mati.

Lalu di tangan siapakah batok kepala itu?

Benarkah orang itu membutuhkan juga ketiga macam bahan tersebut guna menyimpan batok kepa­la yang diperolehnya?

Bila semua persoalan itu di sangkut pautkan antara yang satu dengan yang lainnya, maka akan muncullah suatu persoalan yang sangat mengeri­kan.

Benarkah Sangkoan Jin, menyimpan bahan-ba­han tersebut karena dia membutuhkannya untuk menyimpan batok kepala Tio Kian?

Mungkinkah dialah pembunuh Tio Kian?

Hingga kini belum ada orang yang berani, bahkan berbicarapun tidak berani.

Namun paras muka Cian-cian telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur badan­nya mulai gemetar malah.

Bukan dia saja, bahkan paras muka Sugong-Si­au hong pun ikut berubah hebat.

Sekuat tenaga ia berusaha mempertahankan ketenangan hatinya, dengan suara berat ia berta­nya: “Hari itu, siapakah yang melihat Sangkoan sam ya tidur di dalam kamarnya?”

“Tio Piau”

“Bawa orang itu kemari!”

“Sudah kukirim orang untuk memanggilnya ke­mari”

Dia sudah mengutus dua belas orang, dua belas orang itu adalah jagoan paling baik dalam gedung keluarga Tio.

Dan sekarang mereka sudah datang menghadap. “Di manakah Tio Piau?” lo-ciang segera menegur

“Di luar!”

“Suruh dia masuk!”

“Ia sudah tak mampu untuk masuk sendiri!” “Kalau begitu gotong dia kedalam”

Dengan sebuah daun pintu, empat orang menggotong masuk Tio Piau kedalam ruangan, sekali­pun lo-Ciang adalah rekan sejawatnya, namun se­karang hampir saja ia tidak kenali kembali orang itu sebagai Tio Piau.

Sekujur badannya sudah berubah hitam dan membengkak lagi, mukanya besar membengkak dan berwarna hitam pula, panca indranya sudah sama se­kali berubah.

Sewaktu di gotong masuk dia masih tere­ngah, tapi sesudah bertemu dengan Sugong Siau­-hong, nyawanya segera putus.

Siapa yang membunuhnya?” tanya Sugong Siau­-hong kemudian dengan wajah berubah.

“Entahlah, di dadanya terkena sebatang senjata rahasia tadi sepertinya tidak mengapa, tak tahu­nya dalam waktu singkat dia telah berubah menjadi begini rupa!”

Diatas wajah para jagoan yang menggotongnya masuk itu masih tertera jelas rasa ngeri dan takut yang amat tebal.

Walaupun dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan perubahan yang menakutkan itu, toh mereka masih belum mempercayainya.

“Ambil sebilah pisau!” perintah Sugong Siau­-hong dengan suara berat.

Seseorang mencabut pisau belatinya dari balik lars sepatu.

Dengan ujung pilau Siau-hong merobek pakaian dibagian dada yang dikenakan Tio Piau, tampak­lah sebatang senjata rahasia berbentuk duri yang kecil sekali menancap didada sebelah kirinya, se­kalipun sekitar mulut luka tiada darah, namun su­dah berubah menjadi hitam dan membusuk lagi …..

“Oooh ….., betapa kejinya senjata rahasia beracun ini!” pekik lo Ciang sambil menghembuskan na­pas panjang.

Sugong Siau hong memeriksa sekejap ujung pisaunya, ujung pisau itu cuma terkena sedikit nanah beracun disekitar mulut luka, tapi sekarang pisau tersebut telah berubah menjadi hitam perak.

Paras mukanya berubah makin serius.

Dalam kolong langit dewasa ini, hanya sema­cam senjata rahasia yang membawa racun keji itu.

Cian-cian menggigit bibirnya darah nampak meleleh dari luka-luka bibir, bisiknya agak gemetar: “Bu …..bukankah benda itu adalah duri beracun dari keluarga Tong di Siok-tiong?”

Pelan-pelan Sugong Siau-hong mengangguk.

“Benar! Jawabnya sepatah demi sepatah kata, benda ini memang senjata rahasia dari keluarga Tong, duri beracun yang membunuh korban sete­lah terkena darah!”

Paras muka semua orang berubah hebat.

Semua orang sudah tahu, hubungan antara keluarga Tong di Siok tiong dengan Pek-lek-tong adalah hubungan berbesan. Dan sekarang, jago lihai dari keluarga Tong telah menyusup kedalam perkampungan Ho-hong-san ceng.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang mengerikan!

Salah seorang jago muda yang ikut menggotong Tio Piau itu seperti hendak mengucapkan sesuatu namun ia tak berani sembarangan berbicara, takut kesalahan.

Sugong Siau-hong telah memperhatikan sikapnya itu, dengan cepat dia berseru: “Apa yang hendak kau katakan?”

Jago muda itu sedikit rada sangsi, tapi akhirnya ia berkata juga: “Ada suatu persoalan, siaujin tak tahu harus dikatakan ataukah tidak!”

“Katakan! Apa persoalan itu?”

Jago muda itu kembali tampak seperti sangsi, setengah harian kemudian ia baru memberanikan diri untuk berkata: “Di antara pengiring yang dibawa Sangkoan sam-ya, tampaknya ada seorang memang berasal dari wilayah Suzhuan sana!”

“Darimana kau bisa tahu?” tanya Sugong Siau-hong dengan perasaan agak tergetar.

“Sebab itu siaujiu juga berasal dari daerah Suzhuan. Siaujin dapat pula dialek Suzhuan sana.

Tanpa sengaja kemarin hamba mendengar orang itu sedang berbicara dengan dialek Suzhuannya dalam kamar Sangkoan samya .!”

Ia berpikir sebentar, lalu katanya lagi: “Selain itu orang Suzhuan sangat mengagumi kehebatan Cukat-Beng, di hari-hari biasa mereka gemar mengenakan kain putih sebagai pengikat kepala, siaujin saksikan sewaktu hendak tidur orang i­tu selalu mengenakan ikat kepala warna putih di kepalanya. Aku sebetulnya ingin berbicara dengannya memakai dialek Suzhuan, siapa tahu dia bersikeras tidak mengakui kalau dirinya orang Suzhuan bahkan sampai akhirnya hampir saja aku ribut dengan orang itu”

“Yaa betul!” Lo-ciang menimbrung pula, diantara pengiring yang dibawa Sangkoan samya kali ini memang terdapat seseorang yang belum pernah ku jumpai sebelumnya sebetulnya aku ingin bertanya sejak kapan menjadi pengikutnya Sangkoan samya, tapi akupun cukup memahami watak Sangkoan Samya, maka pertanyaan tersebut tak berani kuajukan……

Dan sekarang, tentu saja perkataan atau pertanyaan apapun tak perlu diajukan lagi.

Semua bukti, semua kenyataan yang tertera dihadapan mereka sudah lebih dari cukup untuk menerangkan siapakah pembunuh yang sebenarnya, siapakah pembunuh keji yang telah membinasakan Tio Kian.

Rupanya Sangkoan Jin telah menyuap Tio Piau agar memberikan kesaksian palsu baginya, kemudi­an ia takut Tio Piau tidak pegang janji, maka ia memerintahkan pengiringnya yang berasal dari Suzhuan itu untuk membunuh Tio Piau.

Tetapi… bukankah anak murid keluarga Tong dari wilayah Suzhuan selamanya congkak dan tinggi hati, mengapa ia bersedia menjadi pengiringnya Sangkoan Jin?

Itu berarti di balik kesemuanya itu sebetulnya masih terselip suatu rencana besar yang mengerikar, mungkinkah Sangkoan Jin telah bersekongkol dengan keluarga Tong dan Pek lek-tong?”

“Apakah tindakannya membunuh Tio Kian a­dalah demi untuk membaiki mereka?”

Persoalan-persoalan tersebut bukan saja tak berani diutarakan keluar, bahkan mereka tak berani memikirkanya.

Sugong Siau-hong mengepal kencang-kencang tangannya, peluh dingin telah membasahi tubuhnya.

Pada saat itulah Tio Bu ki yang selama ini ber­lutut terus di tanah, tiba-tiba melompat bangun dan menerjang keluar.

Sebenarnya sekujur badan Tio Bu-ki telah ka­ku, semua persendian tulangnya seakan-akan sudah hampir rontok.

Anehnya, perasaannya waktu itu justru jauh le­bih tajam dan reaksinya pun semakin sensitip, suara yang bagaimana lirih pun seakan-akan merupa­kan guntur yang membelah bumi.

Dalam pendengarannya, semua pembicaraan o­rang-orang tersebut seperti jeritan keras di sisi teli­nganya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: