Kumpulan Cerita Silat

09/12/2007

Harimau Kumala Putih: Bab 01

Filed under: Gu Long, Harimau Kumala Putih — Tags: — ceritasilat @ 10:19 pm

Harimau Kumala Putih
Oleh Gu Long
Bab 01

BULAN tiga tanggal dua puluh tujuh, hari baik.

Hari ini cocok untuk melakukan pekerjaan apapun!

Tio Bu-ki berbaring di atas pembaringan.

Setelah menempuh perjalanan sejauh tiga ratus li tanpa berhenti, begitu turun dari kudanya, ia langsung masuk kamar dan menjatuhkan diri di­atas pembaringan.

Yaa, pembaringan yang empuk, lembut dan ha­rum ….

Pembaringan ini milik Hiang-hiang, Hiang-hi­ang adalah nama seorang gadis, seorang gadis yang halus, lembut dan harum ….. setiap kali bertemu dengan Tio Bu-ki, sekulum senyuman yang lebih manis dari gula akan menghiasi bibirnya.

Cahaya matahari mencorong masuk lewat ce­lah jendela, hari ini udara cerah, angin berhem­bus lewat membawa bau harum bunga yang semerbak.

Agak termangu Tio Bu-ki memandang langit nan biru diluar jendela, akhirnya ia menghembuskan napas panjang seraya bergumam: “Ooh, hari ini memang hari baik!”

Hiang-hiang tidak tertawa, ia menyambung de­ngan nada hambar: “Aaah, betul! Hari ini memang hari baik, hari baik untuk membunuh orang !”

“Kau ingin membunuh orang?” Tio Bu-ki me­megang dagunya dan mengangkat wajahnya.

“Yaa, aku ingin membunuh orang”

“Siapa yang ingin kau bunuh?”

“Kau”

Tio Bu ki tidak dibuat terkejut, dia malah tertawa, tertawa lebar dengan penuh kehangatan.

“Sebenarnya aku sungguh-sungguh ingin membu­nuhmu” kata Hiang-hiang sambil menggigit bibir, “tapi setelah kupikir kembali, apalagi setelah kau datang menjengukku, niat itu terpaksa kuurung­kan”

“Kau tahu kalau aku akan datang?”

“Tentu saja, hari ini kan hari baik Tio kongcu, hari baik untuk melangsungkan perkawinan”

Matanya yang jeli mulai berkaca-kaca, lanjut­nya: “Akupun tahu hari ini Tio kongcu datang ha­nya ingin memberitahukan kepadaku, bahwa sejak hari ini hubungan kita putus sampai disini, walaupun lain waktu masih sempat bertemu, kita harus saling menganggap asing, kita tak boleh saling menyapa lagi”

Tio Bu-ki tak dapat menyangkal, diapun sedi­kit merasa sedih.

“Aku membawa sebuah hadiah untukmu” bisiknya.

Sambil mengeluarkan seuntai mutiara ia me­nambabkan: “Aku pernah menyanggupi permintaanmu, dan sampai sekarang aku belum melupakannya”

Seuntai mutiara yang bening dan bercahaya ta­jam, seperti butiran air mata seorang gadis suci.

Hiang-hiang menerima hadiah itu, membelainya penuh kasih sayang, lalu bergumam: “Aku tahu, suatu ketika kau pasti membawa­kan benda ini untukku, sebab kau adalah seorang laki-laki yang pegang janji, selalu dan sepanjang masa”

Air mata tak sampai meleleh keluar, tapi ta­ngannya sudab gemeter keras, seluruh tubuhnya hampir saja ikut menggetar keras …..

Tiba-tiba melompat bangun mencampakkan untaian mutiara tersebut ke wajah Tio Bu ki, lalu bereriak penuh emosi: “Kau anggap aku sudi menerima untaian mutiara busuk ini? Kau anggap aku sudi menerima telur busuk kecil macam kau?”

Untung mutiara tersebut tak sampai mengena di wajah Tio Bu ki, benda itu melayang keluar dari jendela dan jatuh ke halaman depan sana.

Tio Bi- ki kembali tertawa.

“Masih mendingan kalau cuma telur busuk ke­cil” katanya, sebab sedikit banyak toh ada kebaikannya juga!”

“Kebaikan apa? Katakan!” Hiang-hiang mencak-mencak semakin marah.

“Jelek-jelek toh telur busuk kecil lebih mendi­ngan daripada telur busuk tua, apalagi dibandingkan telur busuk mampus!”

Dia ingin membuat Hiang hiang tertawa ingin menyaksikan gadis itu terpingkal karena geli.

Memang, diantara mereka tiada ikatan ataupun hubungan menurut hukum, tapi perpisahan memang cukup memedihkan hati siapapun …..

Ia selalu berharap, dikala perpisahan itu terja­di, mereka masih dapat tertawa atau paling tidak tersenyum sedikit saja.

Tapi Hiang-biang tidak tertawa, atau tepatnya sebelum senyuman sempat menghiasi bibirnya, untaian mutiara yang terlempar keluar jendela itu telah melayang kembali.

“Craaat….!” sebatang anak panah sepanjang ti­ga depa enam inci menyambar masuk keruangan dan memantek mutiara itu di atas tiang.

Batang anak panah itu berwarna perak, bulu peraknya masih bergerak keras ketika sebatang pa­nah yang lebih pendek kembali menyambar masuk dan membelah anak panah yang pertama menjadi dua bagian.

Hiang-hiang tertegun, belum pernah ia saksikan permainan panah selihai ini, belum pernah ia jumpai seseorang yang sanggup memanah setepat ini…

Senyuman yang menghiasi bibir Tio Bu-ki seketika berubah menjadi senyuman getir, dia menghela napas.

“Oooh…. para penagih hutang telah datang!”

“Mau apa mereka kemari?” tanya Hiang-hiang dengan paras muka berubah.

“Si penagih hutang tentu saja datang untuk menagih hutang, apakah kau tidak tahu kalau hari ini adalah hari baik pula untuk menagih hutang?”

Tempatnya didepan sebuah loteng kecil, waktunya musim semi yang cerah.

Bunga beraneka warna tumbuh dengan suburnya disekeliling loteng kecil, ada yang berwarna me­rah, ada yang berwarna hijau dan ada pula yang berwarna kuning telur.

Dua orang manusia berbaju hitam berdiri di tengah bebungahan yang indah, mereka adalah se­orang pria dan seorang wanita, seorang masih muda dan seorang sudah lanjut usia.

Yang muda adalah seorang laki-laki kekar setinggi delapan depa, sedang yang tua adalah seo­rang nenek bungkuk, meski bungkuk dia memiliki sepasang mata yang tajam, setajam bintang fajar dipagi hari.

Kedua orang itu sama-sama menggembol busur, busur emas dengan sarung kulit hitam, yang satu panjang dan yang lain pendek.

Waktu itu Hiang-hiang berdiri ditepi jendela diatas loteng kecil, menyaksikan dua orang itu, dia lantas bertanya keheranan: “Siapakah mereka berdua?”

“Hek popo dengan putranya!” jawab Bu-ki­

“Manusia macam apakah Hek popo itu.!”

“Seorang jago silat yang saaggup membidik sepasang mata lalat dari jarak sepuluh kaki dengan anak panahnya!”

“Oooh, begitu hebat kah nenek bungkuk itu ……,” keluh Hiang-hiang dengan paras berubah.

“Meski putranya tidak sejitu ibunya, namun dia memiliki tenaga dalam yang maha dahsyat, bila dia sedang gembira setiap saat anak panahnya dapat menembusi dada dua orang yang berdiri beriring”

Ia menghela napas lalu menambahkan: “Kim-kiong-gin-ciam (busur emas panah perak) Cu-bu-siang-hui (ibu anak terbang bersama), siapa yang bertemu dengan mereka siapa pula yang ke­timpa sial”

“Tapi justru kau telah berhutang kepada mereka!”, Tio Bu ki tertawa getir.

“Memang selamanya aku selalu sial!”

“Kau hutang apa dengan mereka?”

“Hutang dua orang manusia!”

“Hutang dua manusia? Apakah maksudmu? Tentu saja Hiang-hiang tidak akan mengerti.

“Suatu ketika, aku pulang dari minum arak di telaga Beng-ou, di malam sepi kusaksikan ada dua orang nona kecil sedang melarikan diri dikejar o­leh putranya, salah seorang nona kecil itu sudah terbidik panahnya dan berteriak minta tolong!

Ia menghela napas, terusnya: “Tentu aku lantas turun tangan untuk membe­ri bantuan setelah menyaksikan seorang laki-laki mengejar dua orang nona kecil, kubantu mereka menahan pengejaran tersebut dan memberi kesem­patan sang nona untuk menyelamatkan diri”

“Lantas?”

“Sesudah kejadian itu, aku baru tahu kalau dua orang nona cilik yang kutolong sebenarnya bukan nona cilik”

“Kalau bukan nona cilik lantas apa? tanya Hiang-hiang semakin tidak mengerti.

“Rupanya mereka adalah orang laki-laki yang menyaru sebagai nona cilik!”

Hiang-hiang tertegun, ia berdiri bodoh.

Pelan-pelan Tio Bu-ki menarik napas tuturnya: “Rupanya dalam dunia persilatan terdapan organisasi yang bernama It-oh-hong (sarang tawon) perkumpulan itu adalah perkumpulan orang-orang jai-hoa-coat (penjahat pemetik bunga), untuk memperlancar usaha mereka seringkali anggotanya menyaru sebagai nona-nona cilik”

“Kalau begitu, kedua orang nona yang kau tolong juga penjahat-penjahat pemetik bunga?”

Sambil tertawa getir Tio Bu-Ki mengangguk.

“Untung mereka ibu dan anak tidak menuduh aku sebagai komplotan Jay-hoa- cat, coba kalau tidak, wah rusak nama baikku!”

“Meskipun begitu, tentu saja mereka tak akan membebaskan kau dengan begitu saja bukan?

“Benar, mereka memberi batas waktu tiga bulan kepa­daku, dalam waktu yang disediakan itu aku harus dapat menangkap kembali kedua orang Jay-hoa-cat tersebut dan diserahkan kepada mereka”

“Dan kini balas waktunya sudah habis?’

“Belum! Cuma sudah hampir ……

“Sudah berhasil kau tangkap kembali ke dua orang itu?”

“Belum!”

Hiang-hiang mencoba menatap wajahnya, lalu sambil gelengkan kepalanya ia menghela napas.

“Aku lihat tampaknya didunia ini masih terdapat sejenis orang yang suka menangkap kutu un­tuk dilepaskan kembali diatas rambut sendiri, mengapa kau adalah manusia semacam itu?”

“Mendingan kalau cuma satu dua ekor kutu rambut saja!”

“Lalu masih ada apa lagi dirambutmu?”

“Agaknya masih ada lima atau enam ekor ka­lajengking serta tujuh atau delapan ekor ular beracun!”

Hiang-hiang tidak bertanya lagi, dia terbisu untuk beberapa saat, saking kagetnya dia berubah seperti orang bodoh …..

Sekarang, ia telah melihat bebarapa ekor ular beracun yang betul-betul masih hidup.

Ular beracun itu berada dalam sebuah karung goni, kepalanya terjulur keluar dari sebuah lu­bang dan lidahnya yang merah menyapa kelihatan pula seperti jilatan api.

Karung goni tadi kebetulan berada dipunggung seseorang.

Dia adalah seorang manusia yang aneh bentuknya, bukan saja hidungnya tinggal separuh, telinganya juga tidak utuh, daun telinganya su­dah terkoyak-koyak hingga tidak berujud lagi, sepasang matanya merah membara seperti jilatan li­dah dari ular berbisa itu.

Dengan tampang sejelek itu justru dia menge­nakan baju lebar yang berwarna-warni, ini semua menciptakan suatu kemisteriusan, suatu keanehan yang membuat hati mereka bergidik.

Seekor ular beracun merambat naik diatas ba­hunya dan melilit pada tengkuknya, lalu dengan lidah yang merah membara menjilati pipinya.

Tapi dia seperti tidak merasa, kalau pipinya di jilati ular.

Hiang-hiang yang melihatnya justru merasa mual, saking mualnya hampir saja semua isi perutnya tumpah keluar.

“Orang itu juga penagih hutangmu?” ia berbisik.

“Ehmm ….!”

“Kau hutang apa dengannya?”

“Lima ekor ular!” Tio Bu-ki seperti merasa mulutnya menjadi pahit. “Lima ekor ular yang pa­ling beracun”

Mendengar keterangan tersebut Hiang-hiang se­dikit tidak puas, katanya: “Kau menolong dua orang Jay-hoa-cat, itulah kesalahanmu. Tapi ular berbisa seperti itu, sekali­pun dibunuh beberapa ekor lagi juga tak menga­pa, kenapa kau harus mengembalikan kepadanya?”

“Sebab dia adalah Tok Pousat (dewa racun)!”

“Tok pousat?”

“Meskipun seluruh badannya penuh dengan racun, tapi hatinya lembut dan penuh welas kasih sewelas hati Pousat”

“Mana ada pousat melihara ular?”

“Kalau orang lain memelihara ular untuk men­celakai orang, dia memelihara dengan niat untuk menolong manusia”

Ia tahu, Hiang-hiang tentu tidak mengerti, maka ia menjelaskan lebih jauh: “Dari liur racun yang berada di mulut ular dicampur dengan darah segera akan terbuat serum anti racun ular yang hebat, dan ia selalu menggunakan cara tersebut untuk menolong orang”

“Kelima ekor ular racun macam apa yang kau bunuh? tanya Hiang-hiang lagi.

“Limaekor ulat beracun itu semuanya termasuk jenis yang langka, untuk memperolehnya dia harus menjelajahi bukit yang curam dan mema­suki hutan yang lebat disepanjang perbatasan selama tiga tahun, itupun setelah bersusah payah kelimajenis ular tadi baru berhasil ditangkapnya bersama”

“Setelah ditangkap lalu apa gunanya?”

“Dengan campuran air liur dari kelima jenis ular beracun itu dapat dibuat semacam serum yang luar biasa hebatnya, serum tersebut dapat memu­nahkan segala jenis racun, tapi hanya liur beracun yang dimuntahkan sendiri dari ular-ular yang hidup yang bisa dipakai untuk membuat obat itu”

“Aku dengar orang bilang, bisa ular baru akan keluar bila binatang itu sedang menggigit orang?”

“‘Benar!”

“Lantas untuk mendapatkan bisa dari kelima jenis ular beracun itu, apakah dia membiarkan u­lar-ular tadi mematuk orang lain?”

“Tidak dia mempunyai cara lain”

“Siapa yang akan digigitkan ular-ular tersebut?” tanya Hiang-hiaug makin keheranan.

“‘Dia sendiri!”‘

Hiang-hiang tertegun, ia berdiri bodoh.

“Dan waktu kutemui dirinya, kusaksikan kelima ekor ular beracun itu sedang menggigit tubuhnya sendiri” Bu ki menerangkan.

“‘Apa yang kau lakukan waktu itu?”

Tio Bu ki tertawa getir.

“Terkalah, apa yang kulakukan jika menemui keadaan seperti ini? Tanpa berpikir untuk kedua kalinya, kucabut pedangku dan kubacok mampus kelima jenis ular beracun itu, setiap ekor ular ku­cincang menjadi tujuh delapan potong”

Sekarang Hiang-hiang ikut tertawa getir.

“Rupanya ilmu pedangmu sudah memperoleh kemajuan yang pesat”

“Tapi dalam peristiwa ini, kembali aku telah berbuat kesalahan besar. “keluh pemuda itu”.

Suasana dalam kebun sangat hening, rupanya baik Hek Popo maupun Tok pousat adalah orang-orang yang pandai mengendalikan perasaan.

“Tok-tok!” mendadak dari kejauhan berkuman­dang suara kentongan, suara itu seperti datang dari jauh, seperti juga berasal dari sisi telinga me­reka ……

Ketika mendengar suara itu, paras muka Hek popo maupun Tok pousat kelihatan sedikit beru­bah.

“Eeeh……. coba kau dengar, bukankah itu sua­ra kentongan?” bisik Hiang-hiang keheranan.

“Yaa, betul!”

“Aku tidak salah mendengar bukan?”

“Tidak, kau tidak salah!”

“Tapi….. sekarangkanmasih pagi hari, kenapa kentongan dibunyikan? Jangan- jangan orang itu sudah sinting?”

“Tidak, dia tidak sinting, sebab kapan dia ingin membunyikan kentongan, pada waktu itulah ken­tongan dibunyikan”

Kenapa?”

Sebab kentongan yaug dia bunyikan berbeda dengan kentongan orang lain, yang diberitakan bu­kan soal waktu”

“Lalu kentongan apa yang diwartakan?”

“Kentongan pencabut nyawa!”

“Apa? kentongan pencabut nyawa?”

“Benar, bila kentongan sudah dibunyikan tiga kali, itu berarti ada orang akan kehilangan nyawa”

Wajah Tio Bu-ki terlintas pula suatu perubaban aneh, kembali ia berkata: “Toh-mia-keng-bu (tukang kentongan pencabut nyawa) Liu Sam-keng, tiga kali kentongan dibu­nyikan nyawa manusia akan terbang melayang”

Kembali suara kentongan, kali ini suaranya berasal dari tempat yang lebih dekat.

Walapun kentongan tersebut tak ubahannya de­ngan suara kentongan yang sangat aneh.

“Coba kau dengar, berapa kentongan yang dia bunyikan?” tanya Hiang-hiang tidak tenang.

“Dua kentongan lebih satu ketukan!”

Tanpa sadar menggigil sekujur badan Hiang-hi­ang karena ngeri, bisiknya: “Kalau ….bukankah kentongan ketiga anak sege­ra tiba”

“Benar begitu dua kentongan lebih satu ketukan lewat kentongan ketiga segera akan tiba”

“Apakah dia pun penagih hutang?”

“Bukan penagih hutang saja, dia adalah seorang penagih yang amat gigih!”

“Kau hutang apa dengannya?”

“Hutang sebuah bacokan!”

“Berapa orang penagih hutang lagi yang akan datang?”

“Penagih-penagih hutang yang paling besar, ha­nya mereka tiga orang!”

“Jadi mereka sudah tahu kalau hari ini kau a­kan datang kemari?”

“Tapi mereka toh sudah datang kemari?”

“Tentu saja, sebab akulah yang mengundang mereka datang”

“Kau yang mengundang mereka datang?'” ham­pir saja Hiang-hiang menjerit saking kagetnya, “mengapa kau undang kemari semua penagih-penagih hutangmu itu?”

“Sebab barang siapa merasa berhutang, cepat atau lambat hutang itu harus dibayar”

Tiba-tiba pemuda itu tertawa, tambahnya: “Masa kau tidak merasa, hari ini toh hari pa­ling baik untuk menagih hutang?”

‘Kentongan pencabut nyawa kembali berbunyi.

“Tok, tok, tik!” Masih dua kentongan lebih satu ketukan, sampai kapan kentongan ketiga baru akan dibunyikan?

Kecuali si tukang kentongan penjabut nyawa rasanya tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu.

Pelan-pelan Liu-Sam-keng muncul dari balik bebungahan yang rindang, ia mengenakan baju hijau kaos kaki putih, sepatu rumput dan mempunyai seraut wajah yang pucat.

Sebenarnya didalam kebun bunga tiada manusia semacam ini, tapi sekarang justru muncul seorang manusia seperti itu.

Dia membawa sebuah gembrengan kecil, sebuah alat pemukul, sebuah bambu kentongan, ditambah lagi sebuah tongkat pendek berwarna putih.

Beginilah alat senjata yang dipakai Tukang ken­tong pencabut nyawa untuk merenggut nyawa orang?

Bagi orang sepanjang tahun tidak melihat sinar matahari, mukanya selalu memang pucat, dan hal ini tidak aneh.

Tapi yang aneh justru adalah sepasang matanya!

Sepasang matanya putih pula warnanya, suatu warna putih kepucat-pucatan yang aneh, tidak nampak biji matanya, tidak nampak pula manik mata­nya ….

Mungkinkah tukang kentongan pencabut nyawa Liu Sam-keng yang menggetarkan perasaan orang adalah seorang buta?

Diluar kebun bunga merupakan sebuah jalan yang sempit.

Jalan kecil itu berliku-liku, sebagai alas jalan adalah batu-batu kerikil putih sebesar telur itik.

Hek Popo dengan putranya berdiri dalam semak ditepi jalanan sempit tersebut.

Tentu saja orang buta tak mungkin bisa meli­hat mereka!

Tapi anehnya, ketika Liu Sim-keng lewat disini mereka, tiba-tiba ia berhenti lalu berpaling.

“Hek popo, balk-baikkah selama ini?” sapanya sama sekali Hek popo memandang kearahnya dengan pandangan dingin, lalu jawabnya hambar: “Berkat doa restu Liu siangseng, kami janda dan anak yatim yangmalangtak sampai mati dibuat mendongkol orang lain”

Liu Sam-keng menengadah memandang ke angkasa, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, lama- lama sekali, dia baru menghela napas panjang.

“Perpisahan kita kalau dihitung sudah lebih dari tiga belas tahun, waktu memang berlalu dengan cepatnya”

“Setiap hari tentu ada kentongan ketiga, kesana kentongan ketiga, kemari kentongan ketiga, siapa bilang waktu tidak berlalu dengan cepatnya?” kata Hek- popo lagi.

Pelan pelan Liu Sam-keng mengangguk diatas wajahnya yang pucat tidak nampak pancaran emosi mukanya tetap dingin, kaku ……

“Aaaai….betul juga perkataanmu, apalagi dalam sehari bukan hanya ada sekali kentongan ketiga ke mari kentongan ketiga, ada pula yang sudah mampus, aaai betul juga siapa yang bilang waktu tidak lewat dengan cepatnya?”

Seolah-olah sedang bsrgumam diri, dengan tongkat putihnya sebagai petunjuk jalan, pelan-pelan dia maju kedepan.

Ketika tiba kedepan Tok pousat, kembali ia berhenti.

Ia tidak membuka suara, Tok pousat pun tidak membuka suara, tapi dua ekor ular beracun yang berada didalam karung telah menyusup keluar secepat kilat, Waktu muncul sedikitpun tidak menimbulkan suara.

Sebagai orang buta tentu saja ia tak dapat melihat, biasanya ia menggantungkan diri pada suara, tapi kini ular-ular tersebut menyergap tanpa suara, bayangkan sendiri apakah orang buta seper­ti itu bisa mendengarnya?”

Tetapi, baru saja kedua ekor ular itu mendeka­ti tubuhnya, ia telah menggerakkan tongkat pendeknya untuk memukul, yang dipukul tepat bagi­an tujuh inci yang paling lemah bagi kedua ekor ular beracun itu …….

Bagaikan dua utas tali rami, dua ekor ular ter­sebut rontok ke tanah, tergeletak di bumi dan tak berkutik lagi.

Saat itulah Liu Sam-keng kembali menghela napas.

“Aaai….. apakah aku telah membinasakan lagi dua ekor ular beracunmu?”

“Hmm…!” Tok Pousat hanya mendengus.

“Apakah kau menuntut kepadaku untuk meng­gantinya?”

“Kau anggap mampu untuk membayar ganti ruginya?”

Liu Sam-keng tertawa ewa.

“Aku tahu, kedua ekor ular itu cuma jenis Tiok yap cing “dan seekor Hoan jam tau, kalau kau ingin ganti rugi, setiap saat aku dapat menangkapkan tujuh sampai delapan puluh ekor bagimu”

Dengan nada agak kaget Tok pousat meman­dang kearahnya, meski wajahnya berubah, suaranya tetap dingin dan hambar.

“Tak usah repot-repot, aku masih mampu un­tuk menangkap sendiri”

“Kalau memang kau tidak membutuhkan ganti rugi, aku hendak menasehatimu dengan beberapa patah kata.’

“Katakan!”

“Kau mengorbankan badanmu untuk makanan ular, dengan darah dan daging tubuhmu, kau mendapatkan bisa ular mereka, sekalipun setiap saat racun ular bisa diserap keluar pada saatnya, namun sedikit banyak tentu masih ada sisa racun yang masih tertinggal dalam darahmu”

Dia menghela napas kembali ujarnya: “Aku tahu kau memiliki ilmu rahasia pencabut bisa dari badan warisan Thian-tok Cuncu, tapi belum tentu kepandaian tersebut selalu manjur untukmu……”

Tok pousat hanya membungkam, dia tidak me­ngakui, pun tidak menyangkal …….

“Sekarang sisa racun yang tertinggal ditubuhmu sudah mencapai seratus tiga jenis” kata Liu-Sam-keng lagi.

“Kau dapat melihatnya?”‘ bisik Tok Pousat kaget.

Setelah berhenti sejenak, terusnya dengan kecewa: “Meski begitu, aku tahu dengan pasti, jika dalam darahmu tercampur lagi dengan lima jenis racun ular, maka dari seorang Pousat kau akan be­rubah menjadi sesosok mayat hidup”

xxxxx

Tio Bu-ki sudah turun dari loteng, ia berdiri di bawah sinar sang surya dan mengawasi tukang kentongan pencabut nyawa tanpa berkedip.

Dalam hati kecilnya ia sedang bertanya pada diri sendiri!

Benarkah dia adalah orang buta sungguhan? A­tau mungkin cuma pura-pura buta?

Ia tidak tahu.

Yaa, tentu saja ia tak tahu, kecuali Liu Sam keng pribadi, siapa yang akan tahu?

xxxxx xxxxx

Sebagai alas jalan kecil itu adalah batu bulat berwarna putih ketika tongkat pendek membentur di atas batu terdengarlah suara dentingan yang aneh.

Suara itu pasti bukan suara bambu yang membentur batu, juga bukan suara emas atau baja menutup batu.

Terbuat dari apakah tongkat pendek itu?

Tio Bu-ki tidak mampu menebaknya.

Ketika ia mengadah, Liu Sam-keng sudah ada dihadapan matanya.

Setelah saling berhadapan muka, Tio Bu-ki baru yakin kalau Liu Sam-keng benar-benar buta sebab biji matanya mati, biji mata yang tak dapat ber­gerak-gerak.

Seseorang yang normal, seseorang yang dapat melihat tak mungkin bisa ditirukan’

“Hei, kau sedang memperhatikan biji mataku!” tiba-tiba Liu Sam-keng menegur.

Tio Bu-ki terperanjat, hampir saja ia menjerit tertahan.

Walaupun orang ini tidak dapat melihat, tampaknya dia seperti memiliki sepasang mata yang aneh sepasang mata yang misterius yang tersimpan di se­tiap bagian tubuhnya, sehingga semua perbuatan orang, semua tingkah laku orang tak akan mampu mengelabuhinya.

“Kau tak perlu memperhatikan lagi dengan sek­sama” kembali Liu Sam-keng berkata.

Pada hakekatnya, Tio Bu-ki sangat ingin mem­perhatikan sepasang mata lawan dengan lebih sek­sama.

Tiba tiba Liu Sam-keng berkata lagi: “Baiklah, kalau kau masih belum percaya, ambil dan periksalah sendiri ….!”

Dia mengorek keluar biji matanya itu dengan jari tangan, sekarang kelopak matanya kosong seperti sebuah gua yang mengerikan.

Biji matanya berwarna kelabu, entah terbuat dari kaca atau batu kali, benda tersebut menggelinding tiada hentinya di tangan, seperti sebuah benda hidup.

Sekalipun dengan jelas kau tahu bahwa biji mata itu palsu, toh akan terperanjat juga setelah menyaksikan kejadian tersebut.

“Sekarang, sudah kau lihat dengan jelas?” tegur Liu-Sam-keng lagi.

“Sudah!” akhirnya Tio Bu ki menghembus-kan napas panjang.

“Lebih baik perhatikan lebih seksama lagi, se­bab inilah pengorbanan yang harus kubayar untuk kesalahan yang pernah kulakukan”

Selintas perasaan sedih, perasaan murung dan kesal tiba-tiba menghiasi wajahnya yang pucat pelan-pelan dia berkata lebih lanjut: “Dua puluh tahun berselang, aku telah salah melihat orang, meskipun sepasang mataku dikorek orang, aku tidak menyesal ataupun mengucapkan kesalahan, kata mengeluh, sebab prinsipku barang siapa telah melakukan dia harus membayar mahal kesalahan yang telah dilakukan itu, baik orang lain maupun diri sendiri.

“Aku mengerti!”

“Menurut pendapatmu, apakah perbuatan teman­mu itu adalah perbuatan salah?”

Yaa, memang salah!”

Pantaskah dia membayar mahal untuk kesalahan yang telah dilakukan itu?”

Dia memang pantas! untuk kedua kalinya Tio Bu-ki mengangguk.

“Sekalipun kubacok badannya dengan golok pantaskah dia cuma membungkam tanpa mengeluh?”

Yaa, pantas!”

Dan sekarang bersedia kau menerima bacokanku untuk mewakili dirinya?”

“Aku bersedia!”

Mengapa?”

Tio Bu-ki menghela napas panjang.

“Sebab dia adalah sahabatku, dan lagi sudah terluka parah, dia tak akan mampu untuk menerima bacokanmu lagi”

“Tahukah kau berapa beratnya bacokanku ini?” desak Liu Sam-keng lebih jauh.

“Enteng atau berat semua sama saja!”

“Dan kau tidak menyesal?”

“Selama hidup, kata menyesal tak pernah kukenal dalam kamus hidupku”

Pelan-pelan Liu Sam keng masukan kembali biji matanya ke dalam kelopak mata, sepasang biji mata yang kelabu seolah-olah sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip.

Apa yang bisa dilihat oleh sepasang biji mata palsu?

“Mulai sekarang, setiap waktu setiap saat kau boleh turun tangan atas diriku” kata Tio Bu-ki.

“Baik!”

Sebenarnya tongkat pendek itu sudah dikempit dibawah ketiaknya, tapi sekali membalik tangannya tahu-tahu ia sudah mencabut keluar sebilah pisau.

Rupanya dibalik tongkat pendek itu tersimpan sebilah pisau, sebilah pisau yang tajamnya luar biasa.

Tio Bu-ki busungkan dadanya, ia sudah berte­kad menerima bacokan itu, walau tengkuknya yang dibacok, dia tak akan gentar.

“Eeeh….tunggu sebentar!” tiba-tiba Tok Pousat berseru.

“Tunggu apa?” tanya Liu Sam-keng.

“Penagihnya bukan cuma kau seorang, paling sedikit sepantasnya kalau kau beri kesempatan kepadanya untuk membereskan dahulu hutangnya dengan orang lain”

“Hutang kepada orang cepat atau lambat me­mang harus dibayar, siapa lebih duluan siapa belakangan toh sama saja’, Tio Bu-ki mengomentari

“Apakah kau sudah bersiap sedia untuk membayar semua hutangmu pada hari ini juga?” tanya Tok Pousat.

“Kalau tidak begitu, buat apa ku undang kalian semua?”

“Kalau bukan, lantas aku ini siapa?”

“Yaa, karena aku hanya kenal dengan seorang Tio Bu-ki” suara Tok Pousat kedengaran sangat berat.

Boleh dibilang segenap jago persilatan mengeta­hui perkumpulan macam apakah Tay-hong-tong itu.

Tay-hong-tong bukan cuma suatu perkumpulan biasa, organisasi mereka amat besar dan ketat, pengaruhnya meliputi pelbagai wilayah didaratan Tionggoan.

Cita-cita mereka hanya satu, yakni: “MENO­LONG KAUM LEMAH MEMBERANTAS KAUM PENINDAS”

Sebab itu bukan saja mereka disegani orang, semua orangpun menaruh hormat kepada mereka.

Kedengarar Tok-Pousat sedang berkata: “Tongcu dari Tay-hong-tong memang Im-hui-­yang, Im loyacu! Tapi pada hakekatnya yang menjalankan roda pemerintahan adalah Tio Kian, Su gong siau hong dan Sangkoan Jin tiga orang, aku tahu Tio Bu ki yang kumaksudkan adalah Tio­ Bu ki putra Tio-Kian”

“Aaaai ….. tak kusangka kau telah menyelidiki seluk beluk perkumpulan kami sejelas ini’ keluh Tio Bu-ki sambil menghela napas.

“Bila kau adalah Tio Bu-ki yang kumaksudkan hari ini tidak seharusnya berada di sini”

“Lantas, semestinya aku berada di mana?”

“Dalam ruang penganten gedung di keluarga Tio dan menanti datangnya para tetamu yang menyampaikan selamat”

Ditatapnya Tio Bu ki tanpa berkedip, lalu pelan-pelan ujarnya lebih lanjut: “Aku tahu Sugong Siau-hong maupun Sangkoan Jin akan datang pula ke sana, dengan hadirnya ­mereka semua, siapakah didunia ini yang berani mendatangi engkau untuk menagih hutang?”

“Aku pribadi yang berhutang, sudah sepantas­nya kalau aku pula yang membayar, persoalan ini tak ada hubungannya dengan Tay-hong-tong, tak ada pula hubungannya dengan ayahku” ujar Si ­Tio Bu ki dengan gagah.

“Bila kau adalah Tio Bu ki yang tulen, maka hari ini adalah hari baik untuk perkawinanmu!”

“Benar!”

“Hari baik untuk perkawinan, biasanya bukan hari baik untuk membayar hutang”

“Tapi setelah lewat hari ini, aku adalah sese­orang yang lain, sebab aku telah mempunyai ke­luarga, mempunyai istri, diriku sudah tak akan se­bebas diriku yang dulu!”

Tiba-tiba matanya memancarkan sinar yang te­rang, tambahnya: “Istriku adalah teman hidupku sepanjang masa aku akan saling menghormati dengannya, aku tak ingin membuat ia kecewa seorang laki-laki yang suka menunggak hutang”

“Ooah…. jadi karena itu semua pertikaian dan semua hutang-hutang akan kau bayar lunas sebelum ia kawin denganmu?”

“Benar!”

Tiba-tiba Hek Popo menghela napas panjang “Aku rasa ia pasti seorang gadis yang lembut seorang gadis yang cantik dan betul-betul hok-ki” bisiknya.

“Aku bisa kawin dengannya bukan dia yang hok ki, justru inilah rejeki buat diriku”

“Oleh sebab itu kau menginginkan agar ia bisa mengawini seorang laki-laki yang benar-henar bersih dan gagah?”

“Betul. Asal seorang bisa hidup tanpa pernah melakukan dosa atau kesalahan yang menyalahi naluri sendiri, sekalipun dia kehilangan sebuah kaki atau kutung sebuah lengannya, juga tak menjadi soal’

Karena itu walau kau gagal menemukan kemba­li kedua orang jay-hoa-cat tersebut, kau toh da­tang juga untuk memenuhi janji ?”

“Benar!”

Pelan-pelan Hek popo maju menghampiri-nya, kemudian bertanya dengan hambar: “Dengan apa kau hendak membayar hutangmu kepadaku? dengan tanganmu atau kakimu?”

Sorot matanya memancarkan cahaya berkilat, bahkan jauh lebih tajam dari golok ditangan Liu Sam-keng.

Tio Bu-ki tidak berusaha menghindari tatapan itu, dia malah balik bertanya: “Apa pula yang kau tuntut atas diriku?”

Hek popo tidak langsung menjawab, ia berpaling ke arah Tok pousat dan bertanya lagi: “Apa yang kau tuntut dirinya?”

Tok pousat termenung sejenak, lalu menjawab: “Tak terhitung jumlah jenis ular berbisa yang ada didunia ini, tapi yang paling beracun hanya ada sembilan jenis”

Tentu saja kau akan lebih jelas dalam soal tersebut dari padaku, aku segan untuk memikirnya” tukas Hek Popo.

Tok pousat tidak menanggapi ucapan itu, dia berkata lebih jauh: “Ia sudah berhutang, lima ekor ular beracun dariku, tiga diantaranya malah terhitung dalam jenis ular paling beracun yang langka didunia ini, kecuali aku mungkin hanya dua tiga orang saja didunia ini yang sanggup menangkap ketiga jenis ular beracun itu dalam keadaan hidup”

“Siapakah kedua orang itu?” kembali Hek po­po bertanya.

“Kau tak perlu tahu siapakah mereka, pokok­nya yang pasti dia bukan Tio Bu-ki!”

“Karena itu kau yakin kalau dia tak akan mam­pu mengganti ular ular racunmu yang telah ter­bunuh itu?”

“Aku memang bukan datang untuk menagih hutang!”

“Lantas mau apa kau kemari?”

“Membalas budi?”

“Membalas budi?” “Betul seperti apa yang dikatakan Liu sian seng, racun yang berada dalam darahku memang sudah mencapai titik kejenuhan”

“Apakah sebelumaya kau tak tahu tentang hal ini?” tanya Hek popo sambil menatap tajam wa­jahnya.

Tok Pousat menghela napas panjang.

“Aaaai…. dikala kurasakan hal ini, kelima ekor ular itu sudah terlanjur melekat ditubuhku, mau diurungkan juga tak sempat lagi”

“Apakah Tio Bu-ki yang menyelamatkan jiwa mu?”

“Benar, seandainya kelima ekor ular itu tidak dibunuhnya tanpa sengaja, mungkin sekarang aku telah menjadi sesosok mayat hidup”

“Perduli dia bermaksud atau tidak bermaksud, yang pasti jiwamukansudah diselamatkan?”

“Benar!”

“Sebab itu bukan saja ia tidak berhutang apa-apa kepadamu, sebaliknya kaulah yang telah ber­hutang nyawa kepadanya”

“Benar!”

“Aku pikir selembar nyawa Tok pousat bukan­lah selembar nyawa yang tidak berharga, lalu apa rencanamu untuk membayar hutang budi itu?”

“Aku bisa mewakilinya untuk membayar hu­tangnya kepada mu!”

“Kau hendak menangkap kembali dua orang jay-hoa-cat yang ditolongnya itu?”

“Bahkan akupun bersedia untuk membayar rentenya”

“Membayar rentenya? Rente apa?’

“Sekaligus dengan satu sarang tawonnya!”

“Masa kau mampu?”

Tok Pousat tertawa.

“Ah, racunku bukan hanya bisa menolong orang saja, untuk merenggut nyawa orangpun bukan su­atu pekerjaan yang sulit”

Hek popo tertawa pula.

“Dengan racun melawan racun, menggunakan racun ularmu untuk menghadapi sesarang tawon beracun, memang cara ini merupakan suatu cara terbaik”

“Jadi kau mengabulkan?” Tok Pousat menegaskan.

“Kenapa aku musti menampik?” Hek popo balik bertanya.

Tok Pousat berpaling ke arah Tio Bu ki lalu tersenyum.

“Kalau begitu kita sudah impas, siapapun tidak ada yang berhutang kepada yang lain” katanya

Tio-Bu-ki tidak berbicara lagi walau sepatah katapun.

Dalam keadaan dan suasana seperti ini, apa lagi yang mampu dia ucapkan?

“Bukankah sekarang aku tidak lagi berbutang apa-apa kepadamu?” tanya Tok pousat lagi.

“Sejak dulu sampai sekarang kau memang tak pernah berhutang kepadaku …..” jawab sang pemu­da.

“Kalau begitu kau harus menyanggupi sebuah permintaanku!”

“Apa yang kau minta?”

“Hari ini adalah hari perkawinanmu, hari baik untukmu, maka kau harus mengundang aku untuk minum secawan arak kegirangan”

“Masa cuma secawan?” Tio Bu-ki tertawa, “kalau pingin minum, paling sedikit harus menghabiskanlimapuluh cawan”‘

“Tidak, kau tidak boleh minum” tiba-tiba Liu Sam- keng menukas.

“Kenapa!”

“Sebab kau sudah terluka’

“Aku terluka? Terluka di bagian mana?” pekik Tio Bu-ki tercengang.

“Di mana golokku mampir di tubuhmu, di sanalah letak luka-luka itu!” jiwaban dari Liu Sam keng ini cukup menggidikkan.

Golok masih berada digenggamannya, itulah golok yang tipis bersinar dan sangat tajam.

Pantulan sinar golok memancar diwajah Liu ­Sam-keng yang pucat? muka yang hambar tanpa emosi.

Siapapun juga meski dia orang bodoh segera a­kan tahu dia bukan seorang laki-laki yang gampang terpengaruh oleh keadaan, apalagi mengampuni seseorang yang berhutang kepadanya.

Sudah menjadi wataknya, kalau kau merasa berhutang satu bacokan maka dia akan membalas dengan satu bacokan pula. Jangan harap kau dapat menghindarinya dan diapun tak akan menampik pemberianmu.

Persoalan apapun juga jangan harap bisa meru­bah jalan pikirannya apalagi keputusan telah diambil.

xxxxx xxxx

Kentongan pencabut nyawa kembali berkuman­dang.

“Tok, tok, tok!”

Tiga kentongan! Yaa, tiga kentongan!

Ketiga kentongan tersebur dibunyikan dengan ujung golok yang tajam ………

Tangan Tio Bu-ki sudah basah, basah oleh keringat dingin.

Dia bukan tidak merasa takut namun sekalipun takutnya setengah mati tak nanti dia akan mengambil langkah seribu.

Liu Sam-keng memandangnya dengan dingin lalu menegur dengan senyum paling menggidikkan hati: “Bacokan ini harus kujatuhkan di bagian yang mana?

“Aaaai, apakah aku masih mempunyai hak untuk menentukan pilihan sendiri?” bisik Tio Bu-ki sambil menghela napas: “Tidak ada!”

Cahaya golok berkelebat lewat, sesosok tubuh ikut terkapar di tanah.

Bacokan itu bersarang telak diatas tekukannya bukan bacokan yang terlampau berat.

Namun ujung golok yang tipis dan tajam itu telah memenggal kutung urat nadi besar dibelakang tengkuk disebelah kirinya, darah telah memancar kemana-mana, hampir mencapai seluas satu kaki malah.

Darahdarah … yaa, itulah darah yang pucat kehijau hijauan.

Aneh! Kenapa darah itu pucat kehijau-hijauan?

Apakah didalam darah terlampau banyak racunnya?

Dalam darah Tio Bu-ki tiada racunnya! Bacokan itu juga tidak mengena ditubuhnya.

Ketika sinar golok berkelebat lewat, ia sudah bersedia menerimanya dengan hati yang pasrah ta­pi kilatan cahaya golok itu telah mampir diteng­kuk sebelah kiri Tok pousat.

Tok pousat tidak menghindar, bukan dia tak mau menghindar, hanya sewaktu niat untuk menghindar menyusup ke dalam benaknya keadaan sudah terlambat.

Mimpipun tak pernah ia sangka bacokan tersebut akan mampir di tengkuk kirinya.

Hek popo dan putranya juga tidak menduga, lebih-lebih Tio Bu-ki yang telah siap menerima bacokan tersebut.

Dengan mata terbelalak lebar, dengan pandangan yang amat jelas mereka saksikan Tok pousat terkapar ditanah, mereka menyasikkan pula darah berwarna pupus kehijau-hijauan meleleh dari ujung golok dan menetes ke atas tanah.

Sekalipun semua adegan mereka saksikan dengan jelas, meskipun semua peristiwa mereka ikuti de­ngan mata kepala sendiri, namun mereka masih tak paham, mereka tak tahu apa gerangan yang telah terjadi.

“Apakah tidak kau sadari bahwa bacokanmu salah sasaran?” bisik Tio Bu-ki tak tahan.

“Selama hidup hanya sekali aku melakukan kesalahan!” jawab Liu Sam-keng tegas.

Tentu saja kesalahan tersebut bukan dilakukan sekarang ini.

Sebab semenjak biji matanya dicukil orang, ia tak pernah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.

“Tapi yang hutang sebuah bacokan adalah aku, bukan dia!” sela Tio Bu-ki lagi.

“Meskipun kau yang berhutang sebuah bacokan dariku, toh sudah kau sanggupi sendiri, aku bebas membacokkan golokku ke bagian manapun!”

“Yaa, tapi tidak seharusnya kau serangkan ba­cokan tersebut diatas tubuhnya”

“Bacokan ini sudab sewajarnya kalau dibacokan diatas tubuhnya”

“Kenapa?”

“Karena hari ini kau tak boleh mati dan tidak pantas mati! Yang pantas mati bukan kau melain­kan dia!”

Tubuh Tok pousat yang tergeletak ditanah sudah tak berkutik lagi, ular-ular beracun yang berada dalam karung goni dipunggungnya masih bergerak malah.

Seekor ular beracun merambat keluar dari ka­rung, menyusup ke permukaan tanah dan mendekati genangan darah, dengan mulutnya yang berbisa ia nenghisap darah itu, darah yang berbisa.

“Bukankah dipunggungnya ia menggembol ka­rung goni?” Liu Sim-keng telah bertanya lagi.

“Benar!” Tio Bu-ki membenarkan.

“Apa isi karung goni itu?”

“Tentu saja ular!”

“Berapa ekor jumlahnya?’.

“Kecuali dua ekor yang sudah mampus, masih ada tujuh ekor ular hidup!”

“Apakah ketujuh ekor ular tersebut sudah me­rangkak keluar semua dari karung goni itu?”

“Yaa, sudah!”

“Tapi aku yakin karung itu belum kosong!”

Betul! Karung goni itu belum kosong.

Tok pousat roboh tertelungkup ditanah, karung goni itu berada dipunggungnya tampak tersembul keatas, meski semua ular berbisa telah merangkak keluar.

“Kenapa tidak kau buka karung goni itu dan memeriksa apa gerangan isi yang masih tertinggal itu?” kata Liu Sam-keng lagi.

Biar aku yang periksa!” ‘sela Hek popo cepat.

Dengan busur emasnya dia mencukil karung goni itu, belasan biji kelereng sebesar buah jeruk segera menggelinding keluar dan terjatuh diatas genangan darah.

Dimana kelereng-kelereng itu bergelindingan, disana pula kawanan ular beracun itu kabur ter­birit-birit.

Sebenarnya Tio Bu-ki masih keheranan, dia tahu Tok pousat mempunyai kepandaian menaklukkan ular yang sangat lihay, dia adalah georang pawang ular yang boleh diandalkan, tapi anehnya kenapa kawanan ular beracun yang berada di karungnya masih kelabakan seperti tak tenang?

Sekarang, Tio Bu-ki baru tahu mengapa bisa de­mikian.

Tertu saja ular-ular beracun itu tak tenang, pasti ular tersebut membentur benda-benda seperti kelereng itu, sebab ular dengan kelereng itu ibarat­nya manusia bertemu dengan ular berbisa.

Dengan busur emasnya kembali Hek popo men­cukil sebutir kelereng dari atas genangan darah.

Ia tidak berkata apa -apa dan tak perlu mengatakan apa-apa, sebab antara ibu dan anak berdua seperti mempunyai suatu kontak batin yang hebat, sekalipun tidak berkata apa-apa namun kedua belah pihak lama-sama dapat memahami maksud lawannya.

Begitulah, ketika ia mencukil bulatan besi itu ke atas, putranya segera membidikkan anak panahnya kedepan.

“Creeeet…!”‘ sebatang anak panah menyambar ke arah bulatan besi itu dan menghajarnya te­lak.

Benda tersebut segera hancur berkeping-keping, bau harum campuran antara apotas dan belerang segera tersebar di mana mana.

“Coba kalian perhatikan, bau apakah ini?” ka­ta Liu Sam keng kemudian.

Hek popo masih berpikir, tapi Tio Bu ki telah menjawab dengan cepat: “Aaaah… itu kan pek lek!”

Pek lek adalah suaragunturyang bisa mengge­tarkan selurub bumi, serentetan cahaya kilat.

Pek lek tidak harum pun tidak berbau, kau da­pat membayangkan, dapat melihat tapi tak dapat tercium.

Tapi aneh, kenapa Tio Bu Ki dapat menciumnya? Sebab Pek Lek yang dimaksudkan bukan kilat dan guntur yang menggelegar diangkasa. Pek lek yang dia maksudkan adalah sejenis senjata rahasia yang maha dahsyat.

“Yaa, itulah sejenis senjata rahasia yang dapat merenggut nyawa manusia secara mudah, sejenis senjata rahasia yang dapat merontokan nyali siapapun.

Hek popo adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, pengalamannya sangat luas. Sejak berusia enam belas tahun ia sudah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kini usianya telah mencapai enam puluh satu.

Sepanjang hidupnya, ia pernah kawin tiga kali. Suami suaminya kebanyakan adalah ahli dalam melepaskan senjjata rahasia, dan ia sendiri termasuk juga diantara tiga puluh orang ahli senjata rahasia yang paling tersohor dalam dunia persilatan dewasa itu…busur dan anak panah termasuk juga sejenis senjata rahasia. Walaupun demikian, ia tidak begitu paham tentang jenis senjata rahasia ini, malah jauh dibawah pengetahuan Tio Bu Ki.

Hal ini tak aneh, sebab Pek lek tong adalah sejenis senjata rahasia yang berdiri manunggal. Nama Pek lek tong cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan. Ketenaran ini sebagian besar disebabkan mereka memiliki jenis senjata rahasia tersebut.

Pemilik Pek lek cu tong yang bernama Liu Ceng thian bisa menduduki urutan kedua diantara tiga puluh ahli senjata rahasia didunia, hal inipun disebabkan karena dia memiliki senjata rahasia itu.

Tentang segala sesuatu yang bersangkutan dengan senjata rahasia tersebut, tetap anak muridTayhong tong mengetahuinya dengan jelas sejak masih kanak kanak mereka sudah mendapat petunjuk tentang hal ini.

Sebab Tay hong tong dan Pek lek tong adalah musuh buyutan yang sudah bermusuhan turun temurun.

Hingga kini kedua belah pihak masih dapat bertahan, ini semua disebabkan karena kedua belah pihak sama sama telah menjajaki kekuatan lawan. Kedua belah pihak tahu kekuatan yang dimiliki musuh hingga tak berani bergerak secara sembarangan.

Mengikuti hancuran bahan peledak, panah perak tadi melesat ke samping dan…”Creeet!” menancap diatas tiang loteng, bulu bulunya yang berwarna perak bergetar keras.

Dengan membawa perasaan kagum Hek popo melirik sekejap kearah putranya kemudian baru berpaling seraya bertanya: “Inilah yang dinamakan Pek-lek?”

“Tak mungkin salah!” jawab Tio Bu-ki.

Ia yakin seyakin-yakinnya kalau ucapan tersebut tak salah.

“Tapi, mengapa tiada kedahsyatan pek-lek seperti yang digembar gemborkan orang? Hek popo ke­heranan.

“Sebab diatas tanah terdapat genangan darah beracun” sela Liu Sam keng.

Pelan-pelan ia membukukan badan, dijepitnya sebutir Pek-lek-cu yang menggelinding ke sisi kakinya dengan japitan dua jari.

Walaupun dia tidak melihat ia dapat mendengar.

Ia dapat mendengar suara angin menggoyangkan daun dan ranting, ia mendengar suara pek-lek-cu yang menggelinding keluar diapun mendengar suara busur serta anak panah yang menyambar bukan begitu saja, setiap suara yang timbul dari daerah seluas tiga puluh kaki disekelilingnya tak akan lolos dari telinganya

Pek-lek-cu itu kelihatan begitu segar dan kering seperti buah yang baru dipetik dari atas pohon.

Liu Sam-keng menyentil dengan ujung jarinya ..

“Sreeet!” secepat sambaran petir Pek-lek cu itu meluncur ke depan.

Sentilan jarinya ibarat sebuah busur berpegas tinggi yang dapat melontarkan tiga ratus biji ba­tu sekaligus, benda peledak itu terlempar sejauh puluban kaki, melewati kebun bunga yang lebar dan membentur diatas batu gunung gunungan disu­dut halamansana.

“Blaaaamm!” suatu ledakan dahsyat yang menggelepar di udara, batu dan pasir beterbangan di­ angkasa membuat pemandangan menjadi kabur.

Paras muka Hek popo berubah hebat, akhirnya ia menyaksikan juga kedahsyatan Pek-lek-cu, sekarang ia membuktikan sendiri bahwa Pek-lek-cu a­dalah benda yang amat menakutkan, jauh lebih menakutkan dari apa yang pernah didengar sebelum­nya.

Segulung angin berhembus lewat membawa

Segulung angin berhembus lewat membawa bau apotas dan belirang, seakan akan tertawa juga bau harum bunga yang sangat aneh.

Tidak lazim dalam Pek lek cu terdapat pula harum bunga yang demikian aneh…

“Eeeeh…coba diperhatikan, aneh benar! Bau harum apa ini” bisik Tio Bu Ki keheranan.

“Kenapa tidak kau hampiri tempat ledakan itu untuk memeriksa sendiri…?” Li sam keng balik bertanya.

Tio Bu Ki tak perlu kesanauntuk memeriksa sendiri, sebab paras mukanya telah berubah hebat.

Segumpal serbuk halus tersebar luas di atas kumpulan bunga Bo tan yang sedang mekar, tiba tiba bunga Bo tan yang segar itu menjadi layu, lalu rontok ke tanah dan berubah menjadi hitam pekat.

“Haaa! Hian khi pek tok! ( seratus racun hawa harum)” pekik Ti oBu ki amat terkejut.

Sedikitpun tak salah, rupanya dalam bahan peledak tersebut telah dicampuri bubuk racun yang menyiarkan bau harum. Apabila darah beracun yang menggenangi tanah tidak memunahkan dulu racun yang terkandung dalam beahan peledak tersebut, sebaran racun keji dari ledakan tadi sudah cukup untuk merenggut nyawa kita semua” demkian kata Li sam keng.

Kendatipun kali ini ledakan tersebut terjadi pada suatu wilayah sejauh tiga puluh kaki dari mereka berada, walaupun arah angin tidak berhembus ke arah mereka, namun beberapa orang it toh merasakan juga kepalanya menjadi pening, perut menjadi mual dan seperti mau tumpah.

“Jangan lupa!” kembali Liu sam keng berkata,” racun dari Tok pousat bukan hanya bisa menolong orang, racun itu dapat pula diapaki untuk merenggut nyawa manusia!”

Tentu saja sekantong bahan peledak berisi bubuk beracun itu disediakan untuk menghadapi para tamu yang akan datang minum arak ekgirangan dari perkawinan Tio Bu Ki.

Orang orang yand dapat diundang Tio Kian untuk mendatangi perkampungan Ho hong san ceng, sudah barang tentu adalah inti kekuatan dariTayhong ton.

Cukup sepercik kilatan api sudahlebih dari cukup untuk meledakkan tiga empat biji Pek lek cu itu, sudah barang tentu seluruh ruang tengah perkampungan Ho hong san ceng akan bermandikan cahaya lampu pada hari ini, tentu banyak pula lampu serta cahaya lilin yang ikut menyemarakkan suasana.

Andaikata Tok pousat sampai ikut menyusup kedalam ruangan, cukup ia meletakan sebuah lampu lentera disisi dua tiga biji Pek-lek cu bila suhu panas yang dipancarkan oleh lentera itu cukup melelehkan lapisan lilin diluar benda itu bayangkan sendiri apa akibatnya bila dua-tiga biji bahan peledak itu meledak bersama?

Terbayang sampai ke situ hampir saja seluruh pakaian yang dikenakan Tio Bu-ki basah kuyup oleh keringat dingin.

“Tentu tak pernah kau sangka bukan jika Tok pousat telah menggabungkan diri dengan pihak Pek lek-tong?” tanya Liu Sam-keng.

Memang Tio Bu-ki memang tak pernah menyangka sampai ke situ.

“Dan kau, tentunya tak akan menyangka bukan kalau mereka berani turun tangan sekeji ini terhadap orang-orang dalam perkampungan Ho-hong-san­ceng kata Liu Sam-keng lebih lanjut.

Yaa, mereka berani berbuat demikian, pada hakekatnya sama artinya dengan suatu tanta­ngan perang terbuka kepada pihak Tay-hong-tong.

Bila pertempuran sampai berkobar, pertempur­an itu pasti merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup mereka, kesengitan dan kedahsyatannya hampir tak terbayangkan oleh Tio Bu-ki.

“Sekalipun usaha mereka untuk melakukan sa­botase mengalami kegagalan, kerugian yang mere­ka derita paling cuma Tok Pousat seorang” kata Liu Sam-keng. “dia bukan tulang punggung Pek­-lek-tong, bahkan mungkin mereka tak pernah memperhatikan soal mati hidupnya di hati”

Sebaliknya jika peristiwa ini sampai berhasil mereka lakukan, maka kemungkinan besar segenap inti kekuatan dari Tay-hong-tong akan hancur dan musnah.

Tio Bu-ki mengepal sepasang tangannya kencang-­kencang, katanya dengan suara keras: “Padahal rencana itu berhasil atau tidak, akibatnya adalah sama saja.”

“Kenapa?”

“Sebab bila mereka sampai berani berbuat demi­kan, itu berarti mereka sudah berencana untuk melangsungkan pertempuran terbuka dengan kami..”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang le­bib emosi dan nada yang lebih berat dia lanjutkan.

“Beribu-ribu anggota Tay-hong-tong kami tidak akan jeri atau mundur karena takut!”

Dalam perkumpulan Tay-hong-tong cuma ada pahlawan yang berani bertempur sampai mati, tak pernah ada kurcaci yang penakut dan bernyali seperti tikus.

Hampir saja dia seperti melihat anak murid Tay-hong-tong sedang melangsungkan pertarungan sengit di antara dentuman-dentuman keras yang menggetarkan sukma.

Di antara sekian banyak orang, ada para cianwpe yang dihormati, ada pula sahabat-sahabat karibnya.

Setiap saat mungkin mereka akan mati bersamanya, menderita bersamanya……

Ia sendiripun telah bersiap sedia untuk berbuat demikian.

Mungkin saja mereka tidak memiliki keyakinan untuk menang, tapi bila pertempuran telah berkobar, siapa lagi yang akan memperdulikan ma­ti hidup menang atau kalah?

Ia percaya anggotaTayhong tong pasti dapat berbuat demikian ….

Tiba tiba Liu Sam keng tertawa.

Untuk pertama kalinya dia tertawa, dengan terkejut Tio-Bu-ki memandang ke arahnya, dia tak habis mengerti kenapa dia bisa tertawa.

“Aku sedang mentertawakan kau!” Liu Sam­ keng menerangkan.

“Mentertawakan aku!, Kenapa mentertawakan aku?”

“Sebab kembali kau berbuat salah!”

Ia tidak memberi kesempatan kepada Tio Bu-ki untuk buka suara, kembali ujarnya: “Kini Tok pousat telah mati, Ho-hong-san-ceng juga aman tenteram tak kekurangan sesuatu apa­pun, maka peristiwa ini pada hakekatnya seperti tak pernah terjadi, pihak Pek-lek-tong hanya be­rani mengutus manusia semacam Tok pousat un­tuk menjalankan misinya, ini disebabkan mereka pribadi tak berani bergerak secara gegabah, seka­lipun ada orang menanyakan persoalan ini kepa­da mereka, belum tentu mereka akan mengakui kalau peristiwa ini adalah ide mereka”

“Sudah tiga puluh tahun lamanya Tay-hong tong ber hadap-hadapan dengan mereka sebagai musuh bebuyutan, dan keadaan ini mungkin akan berlangsung dua tiga puluh tahun lagi, bahkan mungkin saja di kemudian hari permusuhan ini akan beru­bah menjadi persahabatan. Apa gunanya kau musti berpikir terlalu panjang?”

“Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Kau harus lebih banyak memikirkan pengantinmu yang cantik lagi lembut itu, kau harus memikirkan juga sahabat-sahabat baik kalian yang khusus datang ke Ho-hong-san-ceng untuk minum arak kegiranganmu”

Mencorong sinar terang dari mata Tio Bu-ki, bagaimanapun juga dia masih sangat muda.

Sebenarnya dia termasuk seorang pemuda yang berperasaan panas, gampang marahnya tapi gampang pula menjadi gembira,

“Oleh karena itu sekarang kau harus menung­gang kuda yang paling cepat untuk pulang ke ru­mah” kata Liu Sam-keng lebih lanjut “gantilah baju pengantinmu dan langsungkan upacara perkawinanmu di ruang perkawinan.!”

Tapi aku …..

“Kini kau tidak lagi berhutang kepadaku, demikian pula dengan Hek popo, kalau kau tidak cepat berangkat, kalau masih ingin membiarkan pengan­tinmu gelisah, jangan salahkan kalau aku menja­di marah”

“Dan aku pasti akan lebih marah!” Hek popo menambahkan.

Tio Bu-ki memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula ke arah Liu Sam keng, tiba-ti­ba ia merasa didunia ini seakan-akan penuh deng­an orang baik, dimanapun juga dia dapat bertemu dengan orang baik.

“Yaa, bagaimanapun juga dunia ini penuh de­ngan kehangatan, bagaimanapun juga kehidupan adalah suatu keindahan yang indah, suatu kejadian yang menyenangkan.

Dia tertawa kembali ….. ia gembira kembali ….. Bencana rupanya masih jauh dirinya, masa de­pan yang penuh kehangatan, penuh kasih sayang seakan-akan sudah terbentang lebar dihadapan matanya.

Ia melompat bangun dan berteriak: “Baik, sekarang juga aku berangkat!”

“Oya, masih ada satu hal yang perlu kau ingat baik-baik!” Liu Sam keng kembali memperi­ngatkan.

“Soal apa?”

“Kau harus ingat baik-baik, jangan sampai diloloh orang hingga menjadi mabok!”

Sekulum senyum tersungging di ujung bibirnya.

“Ketahuilah seorang pengantin perempuan tak akan suka menerima seorang suami yang sudah mabok kepayang pada malam pertamanya”

“Benar sekali perkataan itu” Hek popo menambahkan, tiba-tiba mukanya yang tua reyot seakan-akan menjadi muda kembali, aku masih teringat sewaktu menjadi pengantin dulu, saking gemasnya aku telah menendang suamiku yang mabok hebat ke dalam kolong pembaringan, bahkan paling sedikit selama tiga hari aku segan bercakap-cakap dengannya”

Selapis warna merah menghiasi pipirnya sambil tertawa ringan ia menambahkan: “Untungnya ada perbuatan yang cepat berlangsung juga sekalipun tanpa berbicara”

Liu Sam-keng terbahak-bahak mendengar per­kataan ini.

Tio Bu-ki percaya, sepanjang hidupnya kemungkinan besar belum pernah ia tertawa terbahak-bahak sekeras ini.

Tentu saja Tio Bu-ki juga tertawa.

“Akan kuingat selalu, bila ada orang meloloh diriku dengan arak, maka aku……..”

“Apa yang hendak kau lakukan?” sela Hek popo.

Jawab Tio Bu ki sambil mengerdipkan matanya.

“Aku bersiap-siap untuk bersembunyi di kolong ranjang lebih dulu, sebabkan
lebih enak masuk sendiri ke kolong ranjang dari pada ditendang o­rang lain, betul tidak?”

Hek Popo tergelak-gelak.

Haaahhh..haaahhh..haaahhh…..suatu idee yang sangat bagus!”

xxxxx

HUTANG telah terbayar lunas, persoalan telah menjadi beres dan lagi kini masih tengah hari, itu berarti masih ada waktu untuk pulang keru­mah.

Perasaan Tie Bu ki ketika itu sungguh bebas, riang dan gembira ……

Satu hal yang membuat dia sangat gembira a­dalah Hiang-hiang! Nona cantik itu bukan saja tidak menghalangi kepergiannya, dia malah me­nuntun kudanya dan menunggu di depan pintu. Kemurungan dan kesedihan memang masih nam­pak jelas dimatanya, tapi paling sedikit air mata nya sudah mengering.

Dia menundukkan kepalanya dan berkata de­ngan lirih: “Kau bersikeras akan pergi tinggalkan tempat ini, aku tahu, menahan kau ditempat inipun tak ada gunanya, toh sekalipun ingin menahan juga tak akan berhasil”

“Terima kasih!” sahut Tio Bu-ki.

Perasaannya benar-benar merasa berterimakasih, bertemakasih atas kesudiannya untuk memahami dia lebjh-lebih untuk kebesaran jiwanya untuk memaklumi keadaan sekarang.

Bagaimanapun juga sedikit banyak ia tetap merasa berdosa kepadanya merasa telah berbuat salah kepadanya.

Tiba-tiba Hiang-hiang menengadah lalu memandang tajam wajahnya.

“Walaupun demikian” begitu katanya, aku tetap yakin, suatu saat, entah kapan kau pasti akan datang kemari dan menjenguk aku lagi”

Tio Bu-ki menghela napas panjang.

“Aku tak mungkin, akan kemari lagi, bisiknya lembut.

“Mengapa?”

“Sebab datang kemari hanya akan menambah kemurungan serta kekesalan dalam hari kita masing-masing, apa gunanya aku datang kemari lagi?

Setiap orang, setiap manusia, dikala dia masih muda tentu pernah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan.

Pemuda mamakah yang tidak romantis? Pemuda manakah yang tidak haus akan bercinta?

Namun sekali sudah memutuskan, ia harus menjadi su­ami yang baik, seorang suami teladan.

Dan apa yang telah diputuskan harus dilaksanakan sebaik-baiknya, walau dengan pengorbanan.

“Tapi, aku tidak percaya” kata Hiang-hiang lagi sambil menggigit bibir.

“Kau tidak percaya?”

“Aku tidak percaya kalau kau tak akan melihat perempuan lain, aku tak percaya selama kau akan berbuat demikian”

“Kecuali orang buta atau manusia munafik, se­orang laki-laki yang normal akan selalu tertarik untuk melihat perempuan cantik, siapapun tak akan terkecuali termasuk pula diriku.

Tapi, aku hanya melihat saja, yaa …..cuma ter­batas pada melihat saja. lain tidak!”

Hiang-hiang~ belum mau menyerah dengan be­gitu saja kembali dia berkata: “Aku tidak percaya hanya mengandalkan dia seorang, maka selamanya kau dapat dikekang, kau dapat dikendalikan olehnya!”‘

“Mungkin dia memang tak dapat mengendali­kan aku, dia tak dapat pula mengekang kebebas­anku, tapi aku yakin dikemudian hari pasti ada seseorang akan membantunya untuk mengekang diriku”

“Masa orang itu dapat mengekang kebebasan­mu?”

“Dia pasti dapat! Sebab hanya dia yang mampu mengekang diriku!”

“Siapakah dia?”

“Aku sendiri!”

ooooo0ooooo

WI HONG-NIO DAN TI0 CIAN-CIAN

WI HONG-NIO duduk didepan toilet, memandang bayangan sendiri di atas cermin, diam-diam ia merasa puas, puas sekali terhadap di­ri sendiri.

Ia memang seorang gadis yang amat can-tik, terutama hari ini, kelihatan begitu semarak, begitu mentereng dan begitu cantik..

Dihari-hari biasa jarang sekali ia kenakan pakaian sementereng ini, wajahnya jarang pula memakai bedak, apalagi gincu.

Selamanya ia pandai mengekang diri, pandai mengatur diri.

la tahu hanya seorang perempuan yang pandai mengatur diri yang pantas untuk menjadi menan­tunya keluarga Tio.

Sejak ia bertemu untuk pertama kalinya denganTio Bu-ki,iasudah mengambil keputusan untuk menjadi menantunya keluarga Tio.

Dan sejak hari itu pula ia telah menetapkan tar­get bagi dirinya, suatu target kemampuan yang harus dicapainya dalam waktu singkat.

Maka dia mulai belajar membuat masak-memasak, belajar pula bagaimana cara mengatur rumah tangga,

Sayur yang dimasaknya sekarang boleh dibandingkan dengan hasil masakan dari koki terkenal mana pun yang ada didunia ini.

Pakaian yang ia buat dapat dikenakan oleh si­apapun dengan pas tanpa keluhan, siapapun akan merasa enak semakin baju jahitannya.

Sekalipun seorang tukang kritik, mau tak mau harus mengakui bahwa dia memang seorang istri yang handal.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: