Kumpulan Cerita Silat

20/11/2007

Hina Kelana: Bab 70. Kakek Aneh di Dalam Penjara

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:27 pm

Hina Kelana
Bab 70. Kakek Aneh di Dalam Penjara
Oleh Jin Yong

Terpikir demikian segera macam-macam kesangsiannya tadi lantas lenyap, tapi ketika tangannya merasakan benda kecil keras yang terbungkus dalam gulungan kertas itu segera terpikir lagi olehnya, ôTampaknya Hiang-toako sudah mengetahui aku akan bertanding pedang dengan wanita itu. Lantaran dia sendiri tidak boleh ikut terpaksa aku akan disuruh menyampaikan benda atau surat ini. Kukira di balik ini tentu ada urusan percintaan. Meski Hiang-toako adalah saudara angkatku, tapi keempat chengcu sangat baik hati padaku, jika aku menyampaikan benda ini rasanya berdosa kepada para chengcu itu. Lalu bagaimana baiknya ini? Usia Hiang-toako dan para chengcu itu sudah 50-60 tahun, tentunya wanita itu pun tidak muda lagi, andaikan ada urusan percintaan juga peristiwa pada puluhan tahun berselang andaikan aku menyampaikan surat ini rasanya juga takkan merusak nama baik wanita itu.ö

Sementara ia menimbang-nimbang, tahu-tahu mereka sudah melangkah masuk ke ruang dalam. Di ruangan hanya terhadap sebuah meja dan sebuah tempat tidur, sangat sederhana sekali keadaan kamar itu. Kelambu tempat tidur pun tampak sudah kekuning-kuningan, sudah tua. Di atas meja tertaruh kecapi pendek, warnanya hitam mulus seperti buatan dari besi.
(more…)

Advertisements

Hina Kelana: Bab 69. Penjara di Bawah Danau

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 10:26 pm

Hina Kelana
Bab 69. Penjara di Bawah Danau
Oleh Jin Yong

Hendaknya maklum bahwa “pedang tak berwujud” yang dipancarkan dengan suara kecapi itu adalah semacam ilmu silat yang mahatinggi, kalau ilmu ini sampai digunakan, maka lawannya pasti seorang ahli silat yang hebat, betapa tinggi tenaga dalamnya tidak perlu dikatakan lagi, tenaga dalam lawan, semakin terasa pula reaksinya terhadap suara kecapi. Tapi sama sekali tak terduga bahwa sama sekali Lenghou Tiong tidak mempunyai tenaga dalam sehingga “pedang tak berwujud” itu pun kehilangan daya gunanya.

Setelah mengalami kekalahan mestinya Ui Ciong-kong merasa putus asa. Kemudian demi mengetahui sebab musabab kekalahannya itu bukan lantaran kepandaian yang kurang sakti, tapi karena lawan yang sama sekali tidak mempan akan pengaruh suara kecapinya itu, maka Ui Ciong-kong menjadi kegirangan luar biasa. Tangan Lenghou Tiong dipegangnya erat-erat, katanya dengan tertawa, “Sobat baik, sobat bagus! Tapi mengapa kau beri tahukan rahasiamu kepadaku?”
(more…)

Hina Kelana: Bab 68. Suara Kecapi Membentuk Ilmu Pedang Tak Berwujud

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:26 pm

Hina Kelana
Bab 68. Suara Kecapi Membentuk Ilmu Pedang Tak Berwujud
Oleh Jin Yong

Sudah belasan cawan Lenghou Tiong saling minum bersama Tan-jing-sing barulah kemudian Hek-pek-cu muncul kembali.

“Hong-heng, Toako kami mengundang engkau,” kata Hek-pek-cu. “Tong-heng silakan saja minum-minum di sini.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 67. Ilmu Pedang Lenghou Tiong Tiada Tandingannya

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:25 pm

Hina Kelana
Bab 67. Ilmu Pedang Lenghou Tiong Tiada Tandingannya
Oleh Jin Yong

Setelah melangkah mundur segera Tan-jing-sing melangkah maju pula sehingga tetap berhadapan dengan Lenghou Tiong dalam jarak yang sama. Menyusul Lenghou Tiong menusuk lagi, sekali ini yang diarah adalah pundak kiri, caranya tetap seperti tadi, geyat-geyot tak teratur, seperti sungguh-sungguh, seperti main-main.

Segera Tan-jing-sing angkat pedang hendak menangkis, tapi belum lagi kedua pedang beradu segera ia menyadari iga kanan sendiri terlubang, jika lawan terus menyerang ke situ tentu sukar tertolong, jadi tangkisannya ini sekali-kali tidak boleh dilakukan, pada detik terakhir itulah ia ganti haluan, sekali tutul kedua kakinya kembali ia melompat mundur dua meter lebih jauhnya.
(more…)

Hina Kelana: Bab 66. Kecapi – Catur – Tulis – Lukis

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:24 pm

Hina Kelana
Bab 66. Kecapi – Catur – Tulis – Lukis
Oleh Jin Yong

Tanpa bicara Hiang Bun-thian terus mendekati meja batu itu, ia ambil satu biji hitam dan ditaruh pada titik 6-3 (menurut hitungan garis), lalu menaruh satu biji putih pada titik 9-3, menyusul pada titik 6-5 ditaruhnya satu biji hitam, dan pada titik 9-5 ditaruhnya pula satu biji putih, dan begitu seterusnya tanpa berhenti sehingga mencapai biji ke-66 dan pertarungan kedua pihak semakin sengit.

Hek-pek-cu menyaksikan permainan itu sehingga keringatnya bercucuran. Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, kalau melihat Hian-thian-ci-nya yang dalam waktu singkat saja telah mengubah air membeku menjadi es, betapa tinggi lwekangnya dapatlah dibayangkan. Sebaliknya permainan catur hanya urusan kecil saja, tapi toh begini menarik perhatiannya sehingga dia sampai berkeringat. Hal ini menandakan betapa Hek-pek-cu tergila-gila pada permainan catur demikian. Rupanya Hiang Bun-thian justru mengetahui kegemarannya itu, maka serangannya juga ditujukan kepada kelemahannya ini pula.
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.