Kumpulan Cerita Silat

09/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 10

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 10
Oleh Liang Yu Sheng

ôMereka mengatakan sendiri sebagai murid Hung-lui-kiam Ce Cin-kun dari Kwan-gwa, dan datang kemari hendak mencari harta karun, mereka sungguh ganas sekali,ö jawab Asta.

Nyo Hun-cong teringat pernah mendengar dari Suhunya, bahwa empat puluh tahun yang lalu, Ce Cin-kin dari Kwan-gwa pernah mengelilingi daerah Sinkiang dan naik ke Thian-san untuk mencari dia.

Dikatakan lagi bahwa Ce Cin-kun ini di Kwan-gwa masih terhitung golongan yang baik, ilmu silatnya pu mempunyai keistimewaan tersendiri, mengingat sama-sama dari kalangna persilatan, Hui-bing Siansu telah buka pintu menemuinya.

Lalu kedua orang telah berdiskusi mengenai ilmu pedang di puncak Thian-san, tetapi Ce Cin-kun tidak mau dipandang lebih muda, lagaknya sedikit sombong.

Karena tiada persesuaian paham, kemudian mereka pun bubar.

ôKarena itu,ö pikir Hun-cong. ôGuru kedua orang ini dengan Suhuku sendiri pernah bertemu walaupun tidak sama suku bangsanya, tetapi jika mereka tidak membantu tentara Boan memusuhi kita, agaknya tidaklah menjadi soal membiarkan mereka pergi.ö

Berpikir begitu, ia lalu membentak lagi, ôKalian berdiri baik-baik disitu, jangan berani mencoba sembarang bergerakm tunggu aku jelaskan persoalnnya dan nanti aku biarkan kalian pergi.ö

Sambil berkata begitu, ia memungut satu batu dan hanya perlahan diremasnya batu itu hingga hancur menjadi kerikil, waktu itu justru sedang terbang lewat serombongan burung. Hun-cong mengayunkan tangannya, seketika burung terbang itu jatuh bergelimpangan terkena sambitan batu.

ôJika kamu tak mendengar kata-kataku, itulah contohnya,ö ancam Nyo Hun-cong.

Melihat kemahiran orang meremas batu, Khu Tong-lok telah berpikir, ôKeahlian semacam ini meski suhu sendiri juga bisa, tetapi belum tentu matang sampai begini.ö

Sudah tentu ia menjadi kuncup nyalinya, mana berani membantah lagi.

Nyo Hun-cong menarik diri Asta ke samping, ia tanya lagi bagaimana keadaan mereka setelah berpisah selama ini.

Maka barulah ia mengetahui bahwa waktu terjadi angin ribut di padang pasir, Asta lantas menggali tanah dan mendekam untuk menghindari serangan angin yang berlangsung beberapa lama, setelah angin topan itu berhenti barulah ia menyingkirkan pasir yang menguruk diatas tubuhnya dan bangun untuk memeriksa keadaan sekitarnya.

Tetapi kawan seperjalanan mereka yang seluruhnya berjumlah delapan orang, kecuali Nyo Hun-cong dan Mokhidi sudah tidak diketemukan, kelima orang lainnya dan empat ekor unta sudah tertanam hidup-hidup oleh gundukan pasir, waktu semuanya di gali keluar, mereka sidah tak bernyawa lagi.

Asta menangis sedih, ia kubur secara sederhana kawan-kawannya yang sudah meninggal itu. Masih beruntung, kantongan air dan rangsum keringnya tidak pecah teruruk.

Asta menggendong kedua kantong air dan sekantong rangsum sera mengiris sepotong daging unta, lalu berjalan lagi menuju selatan.

Tetapi padang pasir setelah terjadi angin ribut, keadaan dan bentuknya sudah berubah semua, apalagi tidak mempunyai pedoman, pada hakikatnya tidak dapat membedakan arah dan jurusan lagi.

Setelah berjalan beberapa hari, Asta masih belum dapat melintasi padang pasir itu, sementara air dan rangsumnya sudah habis setengahnya.

Pada waktu senja, Asta memeriksa bekas telapak kaki sendiri diatas padang pasir, tetapi semakin dilihat makin menakutkan, ia jadi mengkirik sendiri.

Tiba-tiba di padang pasir ia menemukan lagi bekas-bekas kaki orang lain, tidak terasa ia girang sekali, lekas ia kejar mengikuti bekas kaki itu.

Akhirnya ia melihat di atas suatu gundukan pasir tergeletak seorang tua, lengannya terluka dan masih belum sembuh, Asta menyuapi dia dengan ar dan rangsum, tak lama kemudian orang tua itu baru dapat berbicara,

Menurut keterangannya, ia telah bertemu musuh di padang pasir, setelah terluka ia berlari sekuatnya, tetapi tidak diduga telah bertemu angin badai seperti yang dialami Asta, meski sudah dapat melewatkan bahaya serangan angin itu, tetap tidak di temukan jalan keluar dari padang pasir.

Tenaga orang tua itu sudah ahabis dan tak bersemangat lagi, walaupun setelah minum air keadaannya sedikit baik, tetapi Ia sendiri menduga pasti takkan bsa keluar dari padang pasir, maka ia lalu menyuruh Asta tak usah mengurusnya lagi dan boleh mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Namun Asta sudah biasa dengan wataknya yang suka menolong, bukan saja ia tidak meninggalkannya, malah ia tetap melayani orang tua itu. Orang tua itu sangat berterimakasih padanya, dengan suara terputus-putus ia berbicara dengan Asta, Asta pun tidak berbohong, ia menceritakan asal usul yang sebenarnya.

Setelah orang tua itu mengetahui Asta adalah pahlawan yang melawan pasukan Boan, ia menghela nafas lega.

ôAku adalah bangsa Uigur,ö tuturnya. ôTentara Boan memasuki daerah sini, sedikitpun aku belum menyumbangkan tenagaku, sungguh aku harus merasa malu.ö

ôTetapi kau dan aku walaupun berlainan tujuan, bagaimana pun kita sama-sama menginginkan rakyat yang berada di padang rumput sini bisa hidup sejahtera dan melewatkan hari-harinya dengan aman, percayakah kau pada kata-kataku ini ?ö tanyanya.

Asta manggut-manggut.

Maka orang tua itu lantas berkata terus terang, ôSelama hidup aku mengembara di padang rumput, perlunya adalah hendak mencari satu tempat penyimpanan harta, tidak, tidak, mungkin malah beberapa puluh atau beberapa ratus tempat. Jika harta itu dapat diketemukan, rakyat di padang rumput pasti akan mendapatkan faedahnya. Belakangan ini aku telah menemukan satu tempat penyimpanan harta besar, asalkan lewat daerah selatan dan gua Merak, tentu bisa tiba ditempat itu.ö

ôHabis berkata begitu, ia seklai lagi memandang Asta dengan penuh kepercayaan.

ôAku tahu, aku sudah bakal mati, sekarang juga aku serahkan peta wasiatku padamu!ö

Habis berkata ia mengeluarkan sepotong kulit domba, di atasnya tergambar peta, malahan juga ada tulisannya.

Bercerita sampai disini, segera Asta mengeluarkan kulit domba tersebut dan diperlihatkan pada Nyo Hun-cong.

Apa yang Hun-cong lihat pada kulit domba itui adalah beberapa tulisan, :Jika mendapatkan æsumber air hitamÆ, seluruh dataran padang rumput pasti akan bercahaya.ö

ôApakah artinya ini ?ö tanya Nyo Hun-cong dengan penuh keheranan.

ôAkupun tidak mengerti,ö kata Asta.

Hun-cong memeriksa lagipeta itu, diatas kulit itu terlihat gambar padang rumput dengan satu gunung yang tinggi, di tengah gunung tergambar jalan raya yang berliku-liku, di tengah puncak gunung yang mengitari terdapat suatu tanah datar, diatas tanah datar itu terlukis banyak tanda-tanda.

ôApa yang terlukis ini diatas ini, apakah bukan gunung yang sekarang kita injak ini ?ö kata Nyo Hun-cong dengan heran.

ôYa, betul, jika tidak, bagaimana aku bisa sampai disini,ö sahut Asta.

ôCara bagaimana kau bisa bertemu dengan orang itu?ö tanya Nyo Hun-cong,

ôSetelah orang tua itu menyerahkan peta kepadaku, kakinya berkelojot sekali dan kemudian meninggal, ô tutur Asta lagi. :Aku telah menguburnya di padang pasir, pikiranku segera penuh dengan pertanyaan , siapakah orang tua ini? Barang atau harta apakah yang dia cari selama hidupnya? Hal ini kupikirkan semalam suntuk.ö

ôEsok harinya, ketika aku sedang bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dua orang ini telah datang , begitu sampai, mereka tanya kepadaku apakah melihat orang tua itu, aku telah menceritakan menurut apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka malah melolos senjata dan megancamku agar menyerahkan pet aini. Nyo-taihiap, kau tentu tahu, watakku yang tidak suka pada kekerasan, apalagi perkataan orang tua itu sebelum meninggal begitu serius, bahkan dikatakanya ada sangkut pautnya dengan kepentingan rakyat padang rumput, keruan saja tidak begitu gampang aku mau menyerahkan peta itu kepada mereka.

ôAkhirnya aku lawan mereka, tetapi kepandaianku kedua orang ini ternyata boleh juga, Nyo-taihiap, tadi kau sudah menyaksikan sendiri, aku memang bukan tandingan mereka, tetapi, mereka tidak punya air, juga kurang rangsum, aku mengetahui kelemahan mereka, aku lantas mengancam jika beranui mendesak aku lagi, akan kupecahkan kantong air dan membuang rangsum, biar kita mampus bersama.ö

ôSetelah mereka berpikir, lantas berkata, ôYa, sudahlah, kamu tahu jalan disini, kaubawa air dan rangsum, maka biarlah kami membawa kau keluar danri padang psair ini, sebaliknya kau harus beri air dan rangsum pada kami.ö Akupun menyatakan setuju, dan setelah berjalan tiga hari, akhirnya kami tiba diluar padang pasir, di depan lantas tertampak ada gunung ini. Kala itulah, mereka segera mengganas lagi dan memaksa aku menyerahkan peta pada mereja dan terus mengejar sampai di atas gunung ini.ö

Baiklah, mari kita kembali melihat kesana!ö kata Nuyo Hun-cong setelah penuturan Asta selesai.

Dengan menggiring Khu Tong-lok dan Liu Se-giam, mereka berlima mendaki dari kaki gunung, ternyata betul di atas gunung dan di bawah apitan puncak-puncak gunung terdapat tanah datar, ditengah tanah datar tesebut terdapat satu telaga kecil, tetapi telaga penuh dengan bunga dan banyak pepohona, pemandangannya agak indah.

ôTempat ini, dulu kami sering datang bermain disini dan mandi di telaga, apakah harta besar itu tersimpan di sini ?ö kata Hui Ang-kin.

Segera ia memburu maju dengan kudanya menuju pinggiran telaga, tetapi mendadak ia berteriak, ôAuuh!ö

Hun-cong kaget, lekas ia menyusul ke sana, ia liat air telaga berwarna hitam mengkilap, ermukaan air seperti tertutup selapis minyak.

Nyo Hun-cong berkerut kening melihat keadaan ini.

ôKenapa air ini begitu kotor, bagaimana kau bisa mandi disini ?ö katanya.

ôDulu mana bisa keadaannya yang seperti ini, dulu airnya bening sapai terlihat dasarnya, terang dan segar bahkan di tengah telaga masih ada bunga teratainya!ö Hui Ang-kin menerangkan.

Nyo Hun-cong coba mengelilingi pinggiran telaga, tetapi ia merasa tanah di situ tempuk dan lunak.

Selagi ia heran, tiba-tiba tidak jauh di tepi telaga, dia permukaan tanah mendadak menyembur keluar satu pancuran air hitam, Nyo Hun-cong dan yang lain menjadi tercengang, mereka tidak mengerti æbarang anehÆ apakah pancuran air hitam itu ?

ôApakah ini yang dikatakan bisa memberikan cahaya di padang rumput atau æsumber air hitamÆ yang dimaksudkan itu?ö pikir Nyo Hun-cong.

Di daerah Sinkiang, memang kaya dengan tambang minyak, hanya saja beberapa ratus tahun yang lalu, orang masih belum mengerti bagaimana cara menggali dan mengolahnya, sehigga kekayaan alam yang begitu besar masih terpendam di bawah tanah.

Orang tua itu sejak kesil terlahir di daerah padang pasir dan telah mengelilingi seluruh Sinkiang, lima puluh tahun yang lalu ketika dengan tidak sengaja ia menemukan pancuran inyak asli yang menyembur dari bawah tanah, hal mana telah membuatnya heran sekali.

Kalau itu adalah musim rontok, cuaca cukup dingin, ia menyalakan api untuk menghangatkan badannya, letikan api telah menjilat minyak asli tadi, maka segera berkobarlah, pancuran minyak itu hanya sedikit yang mengalir keluar ke atas permukaan, maka sekejap saja sudah terbakar habis.

Orang itu bernama Adatoh, juga pandai ilmu silat dan punya cita-cita yang besar, maka segera ia bersumpah hendak mencari æsumber air hitamÆ itu di seluruh Sinkiang.

Setelah ia mencari berpuluh tahun, pernah juga ia menemukan beberapa tempat yag sedikit sekali mengandung minyak dan dapat mancur keluar sendiri.

Pada masa itu, tentu ia tidak paham tentang apa yang dinamakan pengeboran dan mengolah minyak, ia hanya berpikir, ôJika bisa menemukan æsumber air hitamÆ yang besar, di padang rumput pasti akan terang bersinar.ö Yang dimaksudkan terang bersinar adalah masa yang jaya.

Setelah berpengalaman beberapa puluh tahun mencari æsumber air hitamÆ, dengan perlahan ia sudah dapat membedakan tempat-tempat yang dapat menghasilkan minyak, karena tanah poasirnya terlainan sekali.

Ia menemukan tempat dataran di gunung Mahsal tadi, agaknya minyak disini sama seperti tempat yang mengandung minyak lainnya. Dalam kegirangannya, ia telah melukiskan petanya dan bermaksud kembali mencari suku bangsanya untuk datang menggali dan mengetahui apakah di bawah tanah sini ada æsumber air hitamÆ yang dia cari itu.

Tetapi ia tidak menduga sesampainya di padang pasir, ia telah bertemu dengan musuhnya dan terluka berat, malahan juga tidak menemukan jalan keluar dan akhirnya binasa di tengah gurun.

Taksiran Adatoh memang tidak salah, tanah didataran ini memang kaya kandungan minyaknya, hanya lapisan minyaknya terlalu dalam di bawah permukaan, maka tak sampai menyembur keluar.

Tidak terduga sebulan yang lalu, di padang pasir telah terjadi angin badai, seperti yang telah di alamani Nyo Hun-cong itulah, di gunung Mahsal ini telah terjadi gempa bumi pula, tanahnya menjadi retak, minyak asli perlahan-lahan juga merembes keluar, maka telaga kecil yang airnya bening terangpun segera menjadi hitam kehijauan.

Sementara itu, Nyo Hun-cong dan Hui Ang-kin sedang terkesima melihat æsumber air hitamÆ itu, mereka tidak memperhatikan Khu Tong-lok dan Liu Se-giam, kedua orang ini menggunakan kesempatan itu untuk mundur beberapa tundak kemudian Khu Tong-lok memebri tanda dengan matanya kepada Liu Se-giam, ia lantas mengeluarkan batu apinya dari kantong, sekali menggosok geretan apinya secepat kilat segera dilemparkan ke tengah telaga.

ôApa yang kau perbuat?ö bentak Nyo Hun-cong dengan kaget.

Selagi tubuhnya bergerak hendak balik menangkap mereka, mendadak suara letusan segera terdengar dan menyembur keluarlah satu tiang api, sekejap saja seluruh permukaan telaga berubah menjadi lautan api, dengan cepat pula api menjalar ke tepi.

ôCelaka!ö keluh Nyo Hun-cong.

Dengan satu tangan ia mengangkat Asta, tubuhnya lantas melompat pergi jauh, baru saja ia bisa berdiri tegak, asap tebal dan api sudah menjulang tinggi.

Salam lepulan asap yang tebal, Hui Ang-kin ikut berlari keluar, hanya karena terlambat satu tindak saja, kaki, tangan dan dadanya telah terbkar oleh api.

Lekas Nyo Hun-cong memberi pertolongan dan tidak dapat mengawasi algi Khu Tong-lok dan Lie Se-giam.

Kedua orang ini menggunakan kesempatan itu untuk kabur.

Di saku Nyo Hun-cong selalu tersedia æPik-ling-tanÆ, semacam pil yang terbuat dari bunga teratai salju dari Thian-san, pil ini dapat menyembuhkan segala luka dalam dan menghilangkan racun api.

Lekas ia keluarkan pil tersebut dan diminumkan pada Hui Ang-kin. ôBeratkah lukamu?ö tanyanya.

Hui Ang-kin kelihatan meringis menahan sakitnya, jawabnya, ô Tidak apa, istirahat sebentar saja tentu juga sudah baikkan.ö

Baju sebelah atas Hui Ang-kin telah robek terbakar, kulitnya yang putih bersih terlihat jelas.

Nyo Hun-cong tidak berani melihat terus, kemudian ia melepaskan bajunya sendiri dan diselimutkan pada Hui Ang-kin.

Nyo Hun-cong menyaksikan api berkobar bergolak di tengah telaga, ia menghela nafas, ôIni betul-betul telah æterang bersinarÆö.

Sementara itu Hui Ang-kin yang remah di tanah melihat seluruh udara penuh dengan asap tebal yang berbau sangit.

Tiba-tiba Hui Ang-kin melompat bangun, teriaknya, ôCelaka, celaka!ö

Habis berteriak begitu, ôAduuhh!ö ia menjerit kesakitan lagi dan jatuh kembali.

Nyo Hun-cong tidak perdulikan rasa kikuk lagi, lekas ia membangunkan gadis ini.

ôKenapa?ö tanyanya.

ôAku tidak apa-apa, yang ku kuatirkan adalah suku bangsaku,ö kata Hui-ang-kin.

ôTempat bangsamu berkumpul, dari sini sedikitnya ada ratusan li, bagaimana api bisa membakar mereka ?ö ujar Nyo Hun-cong.

ôKau sudah bertempur sekian tahun, masakah masih belum tahu?ö kata Hui-ang-kin, ôTentara Boan di padang rumput banyak mendirikan ôHoan-hwe-taiö (panggung api), dengan menggunakan api sebagai tanda berkumpulnya pasukan, sedangkan kami suku-suku di selatan, jika keadaan genting segera membakar kotoran kuda, penggembala yang melihat asap memenuhi angkasa segera akan memburu datang.ö

ôAsap kotoran kuda yang terbakar baunya sangat busuk, rakyat gembala tahu hal itu. Kini kaulihat, api yang menjulang tinggi ini membawa bau busuk pula, aku kuatir pasukan Boan dan orang-orang kita bisa memburu datang kesini berbarengandan bila kedua belah pihak bertemu, tentu pertempuran besar-besaran tak dapat di hindarkan lagi. Maka kita lebih baik lekas kembali saja, lekas!ö kata Hui-ang-kin akhirnya.

ôOmonganmu memang betul, mengapa aku bisa menjadi begini goblok!Æ sahut Nyo Hun-cong sambil mengetok kepalanya sendiri.

Sebenarnya bukan dia tidak mengerti, hanya ia hendak mengobati luka bakar Huni-ang-kin, maka ia tidak ingat akan hal tersebut.

Ia telah memeriksa luka Hui-ang-kin, ternyata bukan luka parah, tetapi sementara tidak dapat menggunakan ilmu mengentengkan tubuh.

Setelah bingung sejenak, lalu ia berkata, ôBiarlah aku menggendongmu saja.ö

Hui-ang-kin sama sekali tidak merasa kikuk, ia merangkul leher Nyo Hun-cong dan membiarkan pemuda ini menggendongnnya keluar dari tempat itu.

Menggendong orang luka dipunggungnya, Nyo Hun-cong tidak berani berlari seperti waktu datangnya dengan cara balapan memburu kambing, dengan sendirinya kecepatannya menjadi berkurang banyak, dengan begitu saja ia masih harus sering berhenti menanti Asta yang ikut di belakangnya.

Setelah berlari tidak begitu lama, cuaca sudah terang, tiba-tiba dari jauh terlihat debu mengepul seperti ada pasukan besar yang mendatangi.

Nyo Hun-cong kembali memberikan satu pil æPik-ling-tanÆ pada Hui-ang-kin.

ôAku akan mulai berlari dengan cepat, kau berhati-hatilah!ö katanya sambil tangan yang lain menarik tubuh Asta dan segera berlari secepat terbang.

Lewat setengah jam, kira-kira sudah berlari hingga tujuh atau delapan puluh li, di belakang mereka tiba-tiba terdengar suara kelenengan kuda, lebih dari separuh penunggang kuda ternyata telah datang, panah mereka berseliweran menyambar.

Nyo Hun-cong terpaksa menurunkan Hui-ang-kin lebih dahulu, ia berpesan pada Asta, ôKau jaga dia, aku akan menggempur mundur serdadu-serdadu yang mengejar ini.ö

Selesai berkata Nyo Hun-cong segera melayang pergi, kedua tangannya memapak panah-panah yang berseliweran itu. Oa tangkap panah-panah itu dan segera disambitkan kembali, dengan begitu, sebentar saja oa telah dapat melukai beberapa orang.ö

Penunggang kuda yang lain segera mengurung, namun Hun-cong telah menggunakan kecepatan tubuhnya, ia naik turun, pedang pusakanya menusuk dan telapak tangan memotong, lebih dari sepuluh orang musuh tidak beberapa lama sudah bersih terbunuh.

Dengan suara tertawa panjang, Nyo Hun-cong merebut busur panah dan dua kantong anak panah serta dua ekor kuda, dengan langkah lebar ia berjalan kembali ke tempat Hui-ang-kin berada.

Tetapi, beberapa penunggung kuda ini ternyata adalah regu penyelidik bagi pasukan induk, setelah Hun-cong bertempur dengan mereka, pasukan perintis musuh sudah mengepung lagi.

Terpaksa Nyo Hun-cong bersama Asta membawa Hui-ang-kin berlindung di belakang sebuah bukit pasir, bila serdadu Boan ada yang mendekat segera mereka panah.

Panahnya ternyata tidak pernah luput, beberapa penunggang kuda yang hendak menerjang naik semua tewas terpanah.

Serdadu Boan terpaksa hanya nelihat dari jauh dan memanah mereka sangat ngawur. Mereka semua mana mempunya tenaga sebesar Nyo Hun-cong, panahnya kebanyakan tidak sampai pada sasarannya, andaikan ada yang bisa sampai pun kekuatannya sudah lemah. Nyo Hun-cong dan Asta kadang menyampuk panah itu dan balas memanah lagi.

Setelah pasukan perintis tiba, seterusnya tentu pasukan induk.

Nyo Hun-cong lihat beruntun telah tiba beberapa pasukan besar yang mendatangi dari jauh, setelah dekat segera mereka menerjangm melihat gelagatnya bagaimanapun tidak mungkin Hun-cong bisa meloloskan diri.

Sementara itu di belakang terdengar pula bunyi tambur perang yang gemuruh, seperti kedua belah pihak sedang saling mengejar.

Dalam keadaan yang genting itu, dari samping sana tiba-tiba telah menerjang datang empat orang penunggang kuda dengan cepat.

Berturut-turut Nyo Hun-cong melepaskan dua anak panah dengan maksud memanah orang yang mengepalai, tetapi orang itu ilmu menunggang kudanya ternyata sangat mahir, dengan memiringkan tubuhnya ke samping dan menerobos lewat di bawah perut kuda, segera ia telah balik kembali di atas perut kuda.

Kedua panah yang dilepaskan ternyata luput semua.

ôOrang sendiri!ö seru Hui-ang-kin tiba-tiba.

Waktu Nyo Hun-cong menegas, barulah ia mengenali mereka itu adalah empat jago dari suku Sinjia yang semalam bertanding dengan Hui-ang-kin.

Cepat laksana angin keempat penunggang kuda itu segera sudah menerjang datang.

ôKami sudah terkurung oleh musuh, kalian lekas ikut bersama kami menerobos keluar!ö teriak mereka.

Salah seorang dari keempat jago itu segera menarik Hui-ang-kin ke atas kudanya dan segera menerjang keluar kesana lagi.

Nyo Hun-cong dan Asta cepat melompat naik ke kuda yang tadi mereka rebut dan segera ikut menerjang, tetapi mereka terlanjur sudah terpotong pula oleh tentara Boan.

Hun-cong lihat keempat penunggang kuda itu sudah berkumpul kembali dengan suku mereka yang berjumlah dua ratus orang lebih. Walaupun di belakang ada yang mengejar, tapi ada banyak harapan untuk bisa lolos, maka ia bersama Asta segera melakukan perlawanan dan bertempur mati-matian.

Tidak seberapa lama, Asta terluka dan lantas tertawan oleh tentara Boan.

Hun-cong sendiri pun tidak urung terluka di pundaknya.

Sesaat kemudian ia mendengar suara jeritan ngeri korban pertempuran di sana-sini, agaknya kepala-kepala suku sudah datang dengan bala bantuannya.

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: