Kumpulan Cerita Silat

08/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 09

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 09
Oleh Liang Yu Sheng

ôHamaya, ô ia memulai, ô Pemuda-pemudi yang di padang rumput semua memujimu, kepandaianmu juga memang tidak ada bandingannya dikalangan wanita dan boleh disebut gagah perkasa, tetapi apakah juga sudah terpikir olehmu pujaan-pujaan semacam itu juga bisa menimbulkan angin pasir yang berbalik bisa menguburmu ?ö

ôItu bukan aku yang menyuruh mereka menyanyikan lagu pujaan begitu, jika kau tidak suka mendengarnya, aku dapat melarang mereka menyanyikannya, kata Hui-ang-kin.

Nyo Hun-cong bergelak tertawa karena jawabannya.

ôHui-ang-kin, ô katanya, ôKau tidak paham maksudku, aku sangat suka dengan lagu-lagu itu, karena aku suka melihat rakyat gembala mempunyai pahlawan pujaannya, mereka bersatu padu di bawah orang pujaannya tentu bisa menimbulkan tenaga persatuan yang besar, dan kau, Hui-ang-kin, juga pantas dibuat pujaan lagu mereka!ö

ôTetapi bukan ini yang kumaksudkan, maksudku adalah apakah engkau sudah pernah memikirkan bahwa lagu-lagu pujaan ini juga bisa membawa bibit bahaya bagimu, Hui-ang-kin, masih ingatkah kau perkataan Abu sebelum binasa ?ö

Hui-ang-kin melepaskan tangannya yang di pegang orang, ia memandang Hun-cong dengan penuh tanda tanya.

ôNyo tai-hiap, apakah kau anggap perkataan Abu itu memang betul ?ö tanyanya.

ôHui-ang-kin,ö kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh pula, ôKematian Abu memang sudah sepantasnya, tetapi apa yang ia katakan padamu, adalah bagian berharga untuk kau pikirkan, ia adalah kekasihmu, mengapa ia sampai berkhianat dan malahan balik memihak musuh?ö

ôItu adalah karena jiwanya yang rendah!ö sahut Hui-ang-kin dengan muka merah padam.

ôItu memang betul, jiwanya memang rendah dan busukö, kata Hun-cong, ôTetapi ia bisa berkhianat sedikitnya ada sangkut pautnya dengan dirimu.ö

ôMaksudmu aku pun bersalah ?ö tanya Hui-ang-kin.

Nyo Hun-cong memegang erat-erat lagi tangan Hui-ang-kin.

ôBetul,ö katanya, ô Kau pun bersalah, Hui-ang-kin! Aku berkenalan denganmu memang belum lama, tetapi dalam beberapa hari ini aku telah dapat memahami bahwa semua orang memuja dirimu, semua mengatakan kau adalah pahlawan wanita, namamu tersohor di padang rumput, aku merasa dalam hatimu telah tumbuh semacam perasaan, perasaan ini adalah perasaan bangga dalam hati!ö

ôKaukatakan aku bangga diri!ö tanya Hui-ang-kin dengan nada kurang senang, ôKau bisa tanya pada bangsaku, aku terhadap mereka bukankah sangat ramah ? Anak kecil sekalipun suka bersahabat denganku!ö

Nyo Hun-cong tertawa demi mendengar keterangan ini.

ôNah karena rasa kebanggaanmu tidak kelihatan di lahir, maka sampai kau sendiri pun tidak merasakannya, ô katanya kemudian.

ôKebanggan dalam hati, sering-sering hanya melihat orang yang paling dekat dengan dirimu, ô ia melanjutkan, ôAbu pernah dekat denganmu, maka ia merasakan benar rasa kebanggaan pada dirimu, kau tidak pernah memandang dia sederajat denganmu, bukankah begitu, Hui-ang-kin?ö

ôUrusan Abu masih soal kecil, jika kau masih terus merasa kebanggaan pada dirimu tumbuh dalam hatimu, bahkan berkembang biak, maka Hui-ang-kin, benih itu pasti akan meracuni jiwamu!ö

ôHui-ang-kin, coba kau berterusteranglah padaku, di kala kau mendengar suara orang yang memujamu, bagaimana perasaanmu ? Apakah menimbulkan kegirangan pada dirimu ? Apakah menimbulkan kewaspadaanmu ? Aku menerka, kau tentu sangat girang, andaikan lahirmu mengatakan tidak senang, tetapi di dalam hatimu kau tentu tetap girang, tidakkah begitu, Hui-ang-kin?ö Hun-cong mengakhiri perkataannya.

ôMemang betul, Nyo tai-hiap, begitulah sesungguhnya,ö Hui-ang-kin memanggutkan kepalanya, kemudian katanya, ôAku tidak membohongimu, memang sebenarnya adalah begitu.ö

Setelah ia mengulangi perkataannya tadi, ia lantas diam saja, ia menggandeng tangan Nyo Hun-cong, dan perlahan-lahan berjalan di atas padang rumput, lama dan lama sekali baru ia seperti tersadar dari mimpinya.

ôNyo tai-hiap, aku berterimakasih padamu,ö katanya lagi sambil menghela nafas.

Mendengar itu Nyo Hun-cong merasa ganjalan hatinya segera hilang, ia mendongak ke atas, bulan ternyata sudah lewat di tengah langit dan mendoyong ke barat.

Ia merasakan Hui-ang-kin juga seperti rembulan yang bersih tanpa noda lagi. Dengan girang ia bersiul-siul, Hui-ang-kin pun terharu oleh rasa girangnya, kemudian ia pun menyanyikan lagu gembira yang paling merdu di padang rumput dengan suara lirih.

ôPersoalan pokok sudah beres, kini bolehlah kita main sepuasnya,ö kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Justru pada saat itu sedang berlari lewat disana seekor kambing dengan cepat seperti kaget oleh suara orang.

Hui-ang-kin tertawa riang melihat kambing itu.

ôMari kita memburunya, kita boleh pula berlomba Ginkang (ilmu meringankan tubuh), tetapi kau jangan mengatakan aku sombong atau bangga,ö ajaknya sambil menuding kambing itu.

ôIni tidak ada sangkut pautnya dengan kebanggaan, baiklah kau mengejar lebih dahulu!ö jawab Hun-cong.

Baru selesai perkataanya, sekonyong-konyong Hui-ang-kin sudah mengejar kesana bagaikan terbang., mirip pula segulungan bayangan putih yang bergulung-gulung di padang rumput.

ôIlmu meringankan tubuh yang bagus!ö puji Nyo Hun-cong.

Segera ia pun melangkah dan mengudak dengan cepat pula.

Kalau Hui-ang-kin berlari dengan cepat, maka Nyo Hun-cong pun mengejar dengan kencang, tidak lama mereka sudah melampaui kambing tadi, tapi semangat mereka masih penuh, maka mereka masih terus berlari berkejar-kejaran dengan cepat laksana angin kencang.

Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh, larinya makin lama makin cepat, karena Nyo Hun-cong membiarkan Hui-ang-kin lebih dulu, selalu ia pertahankan beberapa puluh tindak di belakangnya.

ôDapatkah kau mengejarku?ö tanya Hui-ang-kin sambil berlari.

ôLihat saja!ö sahut Hun-cong.

Ia segera mengumpulkan tenaganya dan menggunakan ilmu berlari cepat æPat-poh-kan-sianÆ atau delapan langkat memburu tonggeret, beberapa kali naik turun ia sudah berhasil mendahului di muka Hui-ang-kin. Lalu segera pula ia membalik badan dan mengadang dengan kedua tangannya.

ôHui-ang-kin, ilmu larimu sungguh bagus sekali, meski aku berhasil mengejarmu, tapi dahiku pun sudah berkeringat!ö ujarnya.

ôAku tidak suka kau berpura-pura merendah lebih baik kau berterus terang bilang aku yang menang,ö kata Hui-ang-kin dengan tertawa.

Setelah kedua orang itu tertawa sebentar, mendadak Hui-ang-kin berkata lagi,ö Lihat entah kita sudah lari berapa jauh, gunung yang ada dimuka sana bernama gunung Mahsal, pemandangannya bagus sekali, bangsaku sering berburu dan bermain kesana, berjalan mulai dari perkampungan kami, mereka sedikitnya harus berjalan satu hari penuh.ö

Karena sedang gembira, lantas Hun-cong mengajak ke pegunungan itu.

ôBaiklah, mari kita coba main kesana!ö serunya.

ôBaiklah, kita boleh bermain sampai pagi hari baru kembali, ô sahut Hui-ang-kin setuju.

Habis berkata segera ia mendahului lagi berlari ke depan.

Tetapi baru saja mereka sampai di kaki gunung, tiba-tiba Hui-ang-kin berpaling dan berkata, ôDengarkan, disana seperti ada suara orang.ö

ôKita coba memanjat pohon besar itu,ö kata Hun-cong pula.

Berbareng mereka lantas meloncat ke atas sebuah pohon besar di samping, sebentar saja mereka sudah berada di pucuk pohon.

Mereka memandang ke bawah sana, terlihat di dataran yang miring di lereng gunung sana ada dua orang sedang bertarung sengit, yang satu berdandan seperti orang Kazak, dan memakai pedang, sedang yang lain berdandan seorang Boan-ciu, tangan kiri memegang golok dan tangan kanan menggunakan pedang, gerakannya aneh.

Nyo Hun-cong hampir berteriak setelah melihat dengan jelas.

Ternyata yang memakai pedang panjang itu adalah Asta, dia ini adalah pejuang bangsa Kazak dan juga adalah adik angkat Nyo Hun-cong. Sebagaimana diketahui, sebulan yang lalu ketika sedang menyeberangi gurun pasir yang luas, mereka telah terpencar karena serangan angin topan yang hebat.

Adapun orang yang bendandan macam orang Boan-ciu itu, Nyo Hun-cong sendiri tidak kenal padanya.

Di bawah sinar rembulan, mereka berdua sedang bertarung seru dan ramai.

Orang itu tangan kirinya memakai golok dan tangan kanan menggunakan pedang, ternyata gerakannya sangat ruwet dan aneh, walaupun Asta adalah pejuang yang tersohor, tetapi masih tidka bisa menandinginya, ia terdesak mundur, apalagi di kaki gunung sana masih ada seorang lagi berperawakan tinggi besar, tangannya mengayunkan tombak, persis menutup jalan mundur Asta.

ôKini kau mau menyerahkan petamu atau tidak!ö teriak orang tadi sambil mendahului menghantam.

ôHmm, kau hendak merebut secara kekerasan, tidak nanti aku memberikan, ô sahut Asta dengan gusar.

Orang berpakaian Boan-ciu itu tertawa menyindir, segera goloknya membacok dan pedangnya berbareng menusuk, beruntun ia memberi pukulan yang luar biasa. Asta jadi kerepotan, ia menangkis dengan pedang panjangnya, tetapi dia lantas berteriak kaget, ternyata pedangnya telah digaet lepas oleh senjata musuh.

Dengan cepat Asta melompat pergi dan berebut jalan hendak lari, namun satu tusukan tombak segera menancap dia lagi.

Rupanya orang yang berdandan seperti Kijin dari Boan-ciu tadi bernama Khu Tong-lok, dia adalah murid ketiga dari golongan Tiang-pek-san, æHong-lui-kiamÆ Ce Cin-kun.

Yang menggunakan tombak panjang itu bernama Liu Se-giam, adalah adik seperguruannya yang nomor lima.

Ce Cin-kun adalah jago silat kelas satu dari Kwan-gwa (daerah sebelah utara tembok besar), ilmu silatnya mempunyai keistimewaan tersendiri, gerakannya tidak sama dengan ilmu silat yang ada di daerah Kwan-lwe (daerah selatan tembok besar).

Khu Tong-lok adalah muridnya yang terpandai, dengan tangan kanan kiri dia bisa menggunakan golok dan pedang berbareng dengan gerakan û gerakan aneh, Nyo Hun-cong sendiripun merasa heran melihat gerak tipu serangan orang tersebut.

Karena ia hendak melihat jelas cara orang bergerak, maka sementara ia masih belum segera turun tangan.

Sementara itu, begitu tombak Liu Se-giam ditusukkan, keburu Khu Tong-lok lantas berteriak, ôSute, biarkanlah dia hidup!ö

Tetapi belum habis perkataaannya, sekonyong-konyong ada suara angin menyambar dari atas kepala, satu bayangan orang serupa burung besar telah menyambar, belum sempat ia lihat dengan jelas, sudah terdengar jeritan Liu Se-giam, tombaknya ternyata sudah direbut orang yang baru datang tiba-tiba ini.

Kiranya Nyo Hun-cong baru saja menggunakan ilmu ginkangnya, æEng-kek-tiang-gongÆ atau burung elang menyerang dari angkasa, satu tangannya merebut senjata musuh, tangan yang lain menarik Asta ke sampingnya.

ôKalian kenapa mengerubuti kawanku, hayo, lekas bilang, kalau ada alasannya aku lantas melepaskan kalian, jika tidak beralasan, hmmm, maka harus diberi sedikit tanda jasa padamu, ô bentak Nyo Hun-cong.

Dan selagi Khu Tong-lok hendak menjawab, tiba-tiba dari atas pohon terdengar pula suara tertawa nyaring, menyusul kelihatan selendang merah melambai-lambai, segera melayang turun pula Hui-ang-kin seperti burung dari atas langit.

ôHui-ang-kin, Hui-ang-kin!ö teriak Liu Se-giam.

ôFui, kau juga kenal aku?ö Hui-ang-kin menjengek.

Segera pula ia mencabut cambuk dan meloloskan pedangnya.

ôTernyata kau juga dapat mempergunakan dua macam senjata berbarengan, baiklah, kita boleh coba-coba,ö tantangnya pada Khu Tong-lok.

ôHamaya, jangan dulu, coba dengarkan apa yang akan mereka katakan,ö Hun-cong mencegah.

Lalu ia menarik Asta untuk diperkenalkan pada Hui-ang-kin.

Girang Asta tidak kepalang, ia merangkul Nyo Hun-cong sambil melompat-lompat dan memanggil berulang-ulang, kemudian ia bertanya, ôBagaimana kau bisa menyelamatkan diri? Dan bagaimana bisa berkenalan dengan pahlawan wanita Hui-ang-kin ?ö

Dalam pada itu, sejak Khu Tong-lok keluar dari pintu perguruannya, jarang ia menemui tandingan, tadi Nyo Hun-cong telah unjuk dua kali gerakan dan membikin dia terkejut sekali, tetapi ia masih mengira dengan golok dan pedangnya tidak akan kalah pada lawannya.

Kini ia melihat lawannya bertiga sedang berbicara dengan asyiknya seakan-akan tidak pandang sebelah mata pada dirinya, keruan ia menjadi gusar sekali.

ôAsta!ö ia berteriak, ôAku tidak takut kalian telah mendapat bantuan, kalian bertiga maju semuapun aku tidak keder, petamu tetap harus kau serahkan padaku!ö

Hui-ang-kin menjadi sengit, ia mengayunkan cambuknya hendak maju, tetapi ia telah ditahan oleh Nyo Hun-cong.

ôPeta apa ?ö tanya Nyo Hun-cong kepada Asta, ôApa milik mereka ?ö

ôCeritanya terlalu panjang, ô jawab Asta. ôSama sekali aku tidak mengharapkan barang berharga, tetapi peta itu berasal bukanlah milik mereka, datang-datang mereka lantas ingin merebut, sudah tentu aku jengkel, maka lebih-lebih tidak akan kuberikan!ö

Mendengar penuturan begitu, Nyo Hun-cong segera berseru, ôCukup, aku pergi membereskan mereka, Hui-ang-kin, Asta, kalian tidak boleh ikut membantu.ö

Hui-ang-kin merengut kurang senang, sebaliknya Asta tersenyum simpul melihat kakak angkatnya maju memapak musuh.

Dalam pada itu Nyo Hun-cong telah melompat maju.

ôBaiklah, kamu dua orang ini tidak terima bukan? Nah, boleh terjang saja padaku semua.ö

ôKita boleh satu lawan satu, dan coba adu senjata, kau beritahukan dulu namamu!ö kata Khu Tong-lok.

Nyo Hun-cong tertawa tergelak.

Mana kamu berharga sampai aku menggunakan senjata dan beritahu namaku, Hmm, coba terimalah ini!ö katanya sambil tangan kanannya memegang tombak yang direbut tadi, lalu di timpukkan kembali ke arah Liu Se-giam.

Melihat angin tajam menyambar, mana berani Liu Se-giam menyambut senjatanya sendiri itu, ia berkelit ke kiri, tombak itu menancap masuk ke dalam batu. Hingga api batu muncrat ke sana û sini.

Setelah Liu Se-giam mengerahkan seluruh tenaganya, baru bisa ia mencabut keluar tombak itu, tetapi mukanya sidah hijau pucat.

Kemudian nampak Hun-cong sengaja menjengek, ôKamu berdua dengan senjata boleh maju menghantam aku yang bertangan kosong ini, apa kamu masih tidak berani ? Hmm, sungguh sampah yang tak berguna!ö

Khu Tong-lok melihat kembali Nyo Hun-cong telah menunjukkan satu gerakan æLi-Kong Sia-cioÆ atau Li Kong memanah batu, melempar tombak sampai amblas ke dalam batu, hatinya sudah keder, tetapi setelah dia berpikir lagi, dirinya punya æHong-lui-to-kiamÆ selama ini telah menjaga Kwan-gwa, orang ini sekalipun lihai, tengan tangan kosong masa aku harus takut padanya.ö

Ia tidak kenal siapa Nyo Hun-cong, setapi sutenya kenal pada Hui-ang-kin dan meneriakkan namanya tadi, nama Hui-ang-kin yang tersohor ia pun sudah mendengar.

Karena itu pikirnya, ôOrang ini hendak menempur kami dengan tangan kosong, bagaimanapun aku tak akan bisa kalah padanya, hanya Hui-ang-kin yang namanya sudah lama dikenal sebagauii pahlawan wanita nomor sati didaerah selatan ini, jika ia turun tangan, mungkin ia sama kuatnya dengan aku, seddangkan Suteku kepandaiannya lebih lemah, melawan orang ini mungkin kalah kuat.ö

Selagi ia merenung, tiba-tiba Hun-cong telah membentak lagi, ôBagaimana, jika kamu tidak berani maju, maka kamu harus minta maaf pada adikku ini!ö

Mata Khu Tong-lok berputar, lalu ia berkata, ôBaiklah, kita berjanji dulu, kita bertarung terang-terangan, orang di samping tidak boleh menyergap dengan senjata gelap, jika hendak membokong, kita boleh janji pakai cara lain saja?ö

ôKau cerewet apalagi ,ö gertak Hun-cong, ôKawanku pasti tidak akan ikut campur tangan, sebaliknya kalian boleh maju semua supaya aku hemat tenaga!ö

Mendadak Khu Tong-lok menusuk dengan goloknya saking gemasnya.

ôIni adalah kau yang janji sendiri, kalau mampus jangan kau salahkan aku, ô katanya.

Tetapi tangan kiri Hun-cong telah menyampuk dan menekan, dengan perlahan ia menyentil batang golok musuh, sedangkan dtangan kanan, menggunakan gerakan lihat dari Kim-na-jiu, yaitu æKim-tiau-jiau-thoÆ atau elang emas mencengkram kelinci, mendadak ia hendak merebut pedang Khu Tong-lok di tangan kanan, tetapi Khu Tong-lok telah menarik goloknya, tangan kanan dengan pedangnya melancarkan jurus æSeng-liong-in-hongÆ atau menunggang nada memancing burung Hong, dengan satu gerakan tetapi tiga macam serangan, ia menusuk tenggorokkan dan membacok kedua pundak orang, ia menyerang dan juga berjaga dengan susah payah baru bisa mengehindari serangan Nyo Hun-cong dengan jurus Kim-na-jiu tadi.

ôSe-giam lekas !ö ia berteriak pada sutenya, ôIa hendak mencoba kekuatan kita berdua,
mengapa kau masih tinggal diam disitu!:ö

Sebenarnya Liu Se-giam sudah merasa jeri, tetapi di bentak oleh Suhengnya, terpaksa dia maju dengan tombaknya dan menyerang dari samping.

Gerakan Hong-lui-to-kiam dari Khu Tong-lok memang aneh sekali, tetapi Liu Se-giam pun tidak lemah. Golok, pedang, dan tombak, dua orang tiga macam senjata, dengan kencang sekali mereka mengerubut Nyo Hun-cong.

Asta yang menonton di pinggir sampai hatinya berdebar-debar dan berkeringat dingin, tetapi Hui-ang-kin malah dengan tenang dan tersenyum berbisik padanya, ôKau punya kakak angkat sudah akan menang!ö

Ternyata Thian-san-kiam-hoat adalah kumpulan dari berbagai intisari cabang ilmu silat yang di ciptakan oleh Hui-bing Siansu, sedang terhadap Hong-lui-kiam-hoat, walaupun Nyo Hun-cong belum pernah menyaksikan sebentar tadi ia sudah dapat meraba caranya.

Gerakan Khu Tong-lok walaupun aneh, tetapi tidak terlepas dari cara satu menyerang, satu menjaga, yakni dengan dasar kerjasama, jika menyerang dengan goloknya, pedangnya di tarik untuk menjaga, cara bertempur begini memang cermat sekali.

Setelah Hun-cong memahami cara musuh, telapak tangan segera berubah dan tiap-tiap gerakannya mendahului musuh menyerang terlebih dahulu, pedang lawan belum menusuk, ia sudah berkelit menarik tangannya, lawan menarik senjata ia lantas lekas menubruk menabrak lagi.

Dengan begitu sesudah lewat beberapa gerakan, cara permainan Khu Tong-lok sudah menjadi kalut.

Nyo Hun-cong bersiul panjang, telapak tangan berubah lagi, dengan wapat ia mencecar Khu Tong-lok, telapak tangan kirinya malang membabat dan tegak membelah, gerakannya pun serupa golok dan pedang, sedang jari tangan kanannya keras seperti besi bersambaran diantara senjata musuh hendak menutuk jalan darah lawannya.

Walaupun Hun-cong bertangan kosong, tetapi ia seperti memakai dua senjata, keruan Khu Tong-lok terdesak hingga kalang kabut.

Liu Se-giam yang melihat Suhengnya berulang menghadapi bahaya, walaupun hatinya jeri, terpaksa ia harus menolong dengan mati-matian, ia memutar tombaknya menyerang dari sisi lain dan menusuk pundak orang.

Tetapi Nyo Hun-cong tanpa membalik kepalanya, mendadak ia membalik tangannya membetot dan membentak, ôPergi!ö Tombak musuh ternyata sudah di rampas oleh Hun-cong dan Liu Se-giam pun terpental dua-tiga depa jauhnya.

Lekas Khu Tong-lok melompat keluar dari kalangan pertempuran.

ôSudah cukup,ö ia berteriak, ôAku bukan tandinganmu, peta wasiat pun aku tidak kehendaki lagi. Sobat, bolehkah aku mengetahui namamu ?ö

ôBaik, kini boleh kuberitahukan padamu, aku pun tak takut kalian menuntut balas,ö kata Nyo Hun-cong bergelak tawa.

ôDia saja kamu tidak mengenalnya, mana boleh disebut lagi jago darimana?ö kata Asta di samping dengan menyindir. ôKamu dengarkan yang jelas, ia adalah Nyo Hun-cong, Nyo Tai-hiap!ö

Khu Tong-lok bergidik, pikirnya, ôPantas ia begini lihai, dendam ini agaknya selama hidup tak mungkin bisa di balas lagi.ö

Maka ia merasa masgul, ia menarik Liu Se-giam dan hendak pergi.

ôNanti dulu!ö bentak Nyo Hun-cong tiba-tiba. ôSiapakah mereka itu ?ö ia berbalik tanya pada Asta.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: