Kumpulan Cerita Silat

07/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 08

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 08
Oleh Liang Yu Sheng

Tidak terlihat ia berkelit atau gerakan tangannya, Akat ternyata sudah terpental beberapa kaki jauhnya.

Semua orang saling pandang dengan heran dengan kejadian itu. Sementara itu sesudah Akat menggelindingkan badannya, segera ia bangun lagi, ia kuatkan kuta-kudanya dengan kedua tangan memegang pundak Nyo Hun-cong, tangan kiri mendorong. Tangan kanan kelima jarinya seperti kaitan menarik kebawah, ini adalah satu gerakan dalam ilmu gulat yang dinamakan ‘Thui-jong-bong-gwat’, membuka jendela memandang rembulan.

“Pergi!” bentak Nyo Hun-cong pula.

Ternyata dia tidak jatuh, sebaliknya tubuh Akat yang tinggi besar telah terpental lagi dan jatuh terlentang.

Karena kagetnya, Akat lalu berteriak, “Ilmu siluman, ilmu siluman!”

Hui-ang-kin yang ilmu silatnya cukup dalam, melihat Nyo Hun-cong dengan tidak bergerak sedikitpun telah membanting roboh lawannya, tanpa terasa mulutnya memuji, “Sungguh ilmu ‘Tiap-ie-sip-pat-tiat’ (Menempel baju jatuh delapan belas kali) yang luar biasa!”

Ilmu ini kalau bukan ahli tenaga dalam yang telah mahir betul, tidak akan mudah mempelajarinya.

Teori ‘Tiap-ie-sip-pat-tiat’ adalah sama dengan ‘Thay-tek-kun’ yang mengutamakan ‘pinjam tenaga memukul balik tenaga lawan,’ dengan menggunakan tenaga yang musuh keluarkan untuk memukul musuh sendiri, hanya ‘Tiap-ie-sip-pat-tiat’ masih harus mahir dalam mengumpulkan nafas untuk berbalik memukul musuh, dibandingkan ‘pinjam tenaga memukul balik tenaga lawan’ adalah lebih sukar lagi.

Walaupun Akat pandai bergulat, tetapi ia tidak paham ilmu semacam ini sehingga ia masih belum mau mengaku kalah.

“Jika kau tidak menggunakan ilmu siluman, tetapi pakai kepandaian gulat menurut peraturan biasa dan aku terbanting roboh, segera aku akan mengaku kalah,” teriaknya penasaran.

Kepala suku Tahsan adalah seorang ahli tenaga dalam, maka ia tahu ilmu Nyo Hun-cong yang asli.

“Kau tidak mengerti ilmu ini, jangan sembarangan mengoceh, ” ia mengomel sambil tertawa.

Ia tahu diri sendiri bukan tandingan Nyo Hun-cong, maka ia tidak berani maju bertanding, hanya hendak mengakui kekalahan Akat dan menyuruhnya mundur teratur. Tetapi ternyata Akat masih berdiri tegak dihadapan Nyo Hun-cong dan tidak ambil peduli kata-kata orang lain.

Nyo Hun-cong mengerti lawan masih penasaran dan belum mau takluk, segera kedia kakinya agak dilengkungkan dan kedua tangannya diulurkan sambil berkata, “Ayo, marilah mulai lagi!”

Akat segera menubruk maju dan membetot tangan Nyo Hun-cong, yang disebut belakangan ini menarik tangannya ke bawah dan ujung kakinya sedikit mengait, Akat yang sudah mengeluarkan tenaga sepenuhnya sukar untuk berhenti lagi dan karena keseimbangan badannya berkurang, segera ia jatuh tersungkur oleh gaetan kaki Nyo Hun-cong tadi.

“Bagus,” kata Akat setelah bangun dan mengacungkan jempolnya, “Inilah baru namanya bergulat, kini aku mengaku kalah!”

Sedang Nyo Hun-cong akan mundur, dari rombongan orang Tahsan telah tampil kembali seorang yang bertenaga besar bernama Takad.

“Nyo-taihiap, marilah kita coba-coba kepalan saja,” tantangnya.

Orang ini tingginya enam kaki lebih, kedua lengan dengan ototnya menonjol di sana-sini, waktu tangan terulur bahka bersuara berkeretekan.

Tiba-tiba Hui-ang-kin maju ke tengah.

“Nyo-taihiap adalah tamu kita, tidak baik kalau terus merecoki dia, biarlah aku yang coba-coba kepalanmu,” ujarnya.

Hui-ang-kin yang berpotongan lemah lembut dan kecil langsing, kalau di bandingkan dengan raksasa itu sangat menyolok sekali.

Sementara itu Nyo Hun-cong telah mundur dengan tersenyum.

“Hamaya,” kata Takad, “Ilmu pedangmu tersohor di seluruh daerah selatan, tetapi beradu kaki dan tangan tidak boleh dibuat gegabah, dengan satu kepalan aku sanggup memukul mati seekor unta, jika sampai menukai dirimu nanti, itulah kurang enak rasanya, ” setelah berkata begitu ia memukul dengan satu kepalannya pada satu pohon kecil, segera pohon itu ambruk roboh.

Hui-ang-kin hanya meliriknya dan anggap seperti tidak terjadi apa-apa, ia hanya tersenyum.

“Pohon adalah benda yang tidak bergerak, mana bisa dibandingakan dengan orang yang bisa bergerak,” katanya. “Kau boleh mengeluarkan pukulanmu, kalau aku mati terpukul, bangsaku juga tidak akan menyalahkan kau.”

Takad berpikir, umpama orang bisa berputar-putar, cukup terkena angin kepalaku saja sudah bisa dirobohkan, andaikan aku tidak bisa mengenai dirinya, diapun takkan bisa memukul aku, jika dia hanya main berkelit, itu sudah terhitung aku yang menang.

Begitu berpikir, mendadak ia memukul, Hui-ang-kin berkelit dengan tenang dan segera sudah berada di belakangnya, telapak tangan segera memukul dan mengenai punggung lawannya.

Kekuatan yang dipergunakan Hui-ang-kin adalah kekuatan ahli tenaga dalam, keruan Takad kesakitan dan berteriak-teriak.

Tetapi ia pun tidak lemah, tangannya membalik lantas menyambar, tangan yang sebesar kipas itu mencengkeram Hui-ang-kin, tetapi Hui-ang-kin keburu berkelit, ia lantas mengulurkan tangannya dengan perlahan mendorong pundak orang, karena itu Takad segera tergopoh-gopoh mundur beberaoa tindak kebelakang.

Menyusul kemudian dengan suara geram, ia melompat maju menubruk dan memukul dengan kedua kepalan berbareng seperti dua martil besi yang tidak dapat di tahan. Hui-ang-kin sedikit mengegos dan berbareng mengulurkan tangan menarik tangan lawannya.

Pukulan Takad tadi, kekuatannya tidak kurang dari ribuan kati kerasnya, kini di tarik sekaligus oleh Hui-ang-kin, seketika ia kehilangan keseimbangan badannya, segera ia merasa seperti melayang di udara dan terbang menuju kesana.

Syukur Nyo Hun-cong dengan cepat menggunakan ilmu mengentengkan tubuhm seperti anak panah terlepas dari busurnya memburu dan memegang orang, setelah di letakkan turun, seluruh pdang rumput sudah bergemuruh dengan tepuk tangan memuji.

Takad ternyata adalah seorang laki-laki yang lugu, lebih dahulu ia menghaturkan terima kasih kepada Nyo Hun-cong yang telah menolong dia, kemudian ia menjura pada Hui-ang-kin.

“Nona mempunya kepandaian, aku Takad kini betul-betul takluk!” katanya.

Hui-ang-kin hanya tersenyum.

Menyusul dari suku Sinjah keluar empat penunggang kuda yang gagah, ilmu menunggang kuda mereka harus dipuji, setelah mengitari tanah rumput sana, mereka tiba-tiba berhenti dan bertanya, “Kami hendak meminta pelajaran ilmu menunggang kuda dari jago-jago Lopuh, dan juga kepandaian menggunakan cambuk.”

“Lekas bawa sini kuda putihku!” perintah Hui-ang-kin segera.

Keempat penunggang kuda itu tidak menduga bahwa Hui-ang-kin sendiri yang menerima tantangan mereka,

“Nona Hui-ang-kin, apakah aku juga yang akan berlomba ? Kalau begitu boleh pilih lagi tiga orang kawan lainnya,” kata mereka sambil berbareng.

Sementara kawan Hui-ang-kin telah menuntun keluar seekor kuda putih, Hui-ang-kin meyemplak naik ke atas kudanya dan melolos cambuknya yang diayunkan hingga segera terdengar suara seperti suara petasan.

“Biarlah aku seorang diri menerima pengajaran kepandaian dalam menunggang kuda dan ilmu cambuk dari kalian berempat,” sahutnya kemudian.

Habis berkata, kedua kakinya mengempit kencang kuda yang segera berlari layaknya terbang di antara daratan rumput itu.

“Bagus”, teriak keempat penunggang kuda tadi.

Mereka segera menerjang berbareng menyusul Hui-ang-kin, setelah dekat tiba-tiba mereka membagi ke samping dan dari muka belakang hendak mencegat, empat cambuk panjang segera disabetkan ke arah Hui-ang-kin dan kelihatannya hampir mengenai badan gadis itu.

Karena kejadian ini, para wanita suku Lopuh sama berteriak kaget. Tetapi tahu-tahu Hui-ang-kin yang tadinya kelihatan di atas punggung kuda telah lenyap, ternyata ia sejak tadi sudah bersembunyi di bawah perut kudanya.

Kuda putihnya yang terkena satu pecutan mendadak menerjang ke muka, penunggang kuda yang di depan menarik kudanya hendak menghindari supaya kuda putih lewat di sampingnya.

Namun cepat sekali Hui-ang-kin tahu-tahu sudah putar balik kembali di punggung kudanya dan cambuk panjangnya sudah bekerja, penunggang kuda tadi melihat saja belum jelas sudah terlempar jatuh dari kudanya.

Hui-ang-kin tidak tinggal diam lagi, pecutnya menyabet balik telah memaksa jatuh pula seorang penunggang yang lain.

Tinggal dua orang yang lain seketika menjadi kalang kabut, mereka mencoba menghindar tetapi tidak seberapa lama satu persatu sudah di sapu jatuh oleh Hui-ang-kin.

Kepala suku Tahsan sudah tidak tahan lagi, ia cepat berlari keluar dan menghadang di muka kuda Hui-ang-kin.

“Apakah nona sudah letih ?” tanyanya.

Hui-ang-kin melompat turun dari kudanya, ia memberi hormat.

“Jika paman sudi memberi pelajaran, mana aku berani menolak,” sahutnya merendah.

Kepala suku Tahsan ini bernama Pahla, ia memahami ‘Thian-liong-cio-hwat’ dari Tibet, ia terhitung salah satu ahli tenaga dalam.

“Aku ingin belajar Cio-hoat dari nona,” katanya.

“Kalau begitu, silakan mulai menyerang,” jawab Hui-ang-kin.

Secepat angin Pahla segera membuka serangan, kedua lengan dijulurkan keluar, telapak tangan kanannya yang baru dijulurkan tadi sampai di tengah jalan telah dia tarik kembali dan diganti menjadi kepalan yang memukul dada Hui-ang-kin.

Tapi gerakan Hui-ang-kin sangat gesit dan cepat, tiba -tiba ia membalikkan badannya dan dengan satu dorongan tangannya telah memusnahkan serangan lawan, kedua telapak tangannya perlahan di tepukkan mematahkan serangan lawan, menyusul kedua telapak tangannya perlahan di tepukkan pula. Dengan begitu pundak lawan sudah terkena satu pukulan.

Cepat Pahla mengkerutkan badan dan menarik tangannya, telapak tangannya menebas ke bawah hendak memotong urat nadi Hui-ang-kin, gerakan ini cepat sekali seperti letikan api, serangan ini adalah pukulan paling lihai dari ‘Thian-liong-cio-hwat’, bergaya menahan dan berbaik menyerang.

Tidak disangka, Hui-ang-kin hanya berputar dengan perlahan, badannya tahu-tahu sudah melayang pergi bagaikan sedang menari.

Pikiran Nyo Hun-cong tergerak oleh gaya tubuh Hui-ang-kin, ia pikir, “Cara seperti ini sudah pernah kulihat, entah di mana?”

Setelah berpikir dan mengingat lagi ia teringat dulu sewaktu dirinya baru tiga tahun belajar silat di Thian-san waktu itu Coh Ciau-lam belum lama naik gunung. Suhu minta dirinya mewakili memberi pelajaran Cio-hwat atau ilmu pukulan denan telapak tangan kepada Coh Ciau-lam. Pada suatu hari, kaka beradik seperguruan sedang saling belajar, tiba-tiba datang seorang nenek.

“Cio-hwat yang bagus”, kata nenek itu sambil menyuruh kedua kakak beradik itu berbareng mencoba menyerang padanya, ia sendiri hanya melayang di sana sini, sebentar saja dirinya sudah terkena beberapa kali serangan telapak tangan nenek itu, beruntung orang tidak memukul dengan sungguh-sungguh, maka ia tidak merasa sakit.

Kala itu, tahu-tahu Suhunya pun muncul.

“Pek-thay-po, kenapa kau akali anak-anak,” tanya Suhu dengan tertawa.

“Hui-bing, kau selalu tidak mau bertanding denganku, aku mengira Thian-san-cio-hwat tiada lawannya di kolong langit ini, tidak tahunya hanya begini saja,” kata nenek itu dengan muka menghina.

Belakangan Suhu dipaksa bertanding dengan dia, kedua anak tersebut waktu itu menyaksikan pertandingan ramai itu sampai berkunang-kunang, sampai bayangannya saja tidak dapat di bedakan.

Pada suatu saat, tiba-tiba nenek itu keluar dari kalangan dan terus mengeluyur pergi dengan diam-diam tanpa di ketahui alasannya.

“Mengapa perempuan tua ini begitu suka mengunggulkan diri,” sesal Suhunya.

Karena heran kakak beradik seperguruan ini berulang kali telah bertanya, akhirnya diketahui bahwa tadi Suhu telah memenangkan satu pukulan.

Begitulah maka demi Nyo Hun-cong melihat Hui-ang-kin mempunyai pukulan serupa itusegera ia teringat pada nenek tua itu, tidak usah melihat terus dia sudah tahu Hui-ang-kin pasti bakal menang.

Dan betul juga, tidak lama kemudian mendadak terdengar teriakan Pahla, ia telah terlempar dua tiga depa kesana.

Syukur Hui-ang-kin memburu cepat, ia melayang ke muda secepat anak panah, tangannya sudah memegang tungkak kaki Pahla, dengan paksa di tarik kembali.

Tadi sewaktu Pahla bertanding dengan Hui-ang-kin, ia mempunyai ‘Thian-liong-cio-hwat’ yang mempunyai seratus dua puluh enam pukulan yang sudah dikeluarkan lebih dari separohnya, akan tetapi belum dapat menyenggol sedikitpun tubuh Hui-ang-kin, bahkan kain bajunya saja tidak mampu menyenggol, ia menjadi keder dan gugup, dengan segera ia menggunakan tiga pukulan yang paling lihai dari ‘Thian-liong-cio-hwat’.

Pukulan pertama ‘Oh-liong-ka-thiau’ atau naga hitam membelit tiang, dua telapak tangannya satu memuntir dan yang satu membelit menubruk ke tubuh Hui-ang-kin, tetapi Hui-ang-kin telah mengegos dan melayang pergi lagi.

“Bagus!” seru Pahla sambil badan mendekam terus melompat maju, pukulan keduanya ‘Siang-liong-jut-hai’ atau sepasang naga keluar dari lautan, dua telapak tangannya berbareng menggempur bagian belakang Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin kembali berkelit dan memutar tubuhnya.

Tetapi kedua tangan Pahla yang memukul sampai di tengah jalan, mendadak berubah menjadi kepalan, pukulan yang ketiga ‘Ting-san-gia-houw’ atau naik gunung menunggang macan, kepalan kiri menangkis dan kepalan tangan kanan mendadak memukul keras.

Gerakan ini begitu cepat dan luar biasa, ia mengira Hui-ang-kin pasti tidak terluput dari pukulan ini, tidak terduga Hui-ang-kin telah menaikkan kedua tangannya dan segera menahan kedua bahu lawan, berbareng terdengar ia membentak “Pergi!” Tubuh Pahla yang besar bagai kerbau segera terlempar pergi.

Orang banyak sama menjerit, Pahla sendiri pun semangatnya seperti sudah terbang.

Tidak tahunya gerakan Hui-ang-kin ternyata begitu cepat, sudah melemparkan tubuh orang masih dapat menariknya kembali.

Setelah Pahla dapat berdiri tegak, ia mengusap keringatnya dan terus menjura.

“Kepandaian nona sungguh sangat luar biasa sekali, aku dan bangsaku dengan sungguh-sungguh mengangkat nona sebagai ketua serikat kita yang baru!” katanya kemudian dengan serius.

Maka terdengar di seluruh padang rumput suara sorak sorai yang bergemuruh, kepala dan wakil dari suku Sahji, Sahmal, dan Sinja semua berkerumun datang memberi selamat kepada Hui-ang-kin.

Berturut-turut Hui-ang-kin memenangkan tiga kali pertandingan, mengalahkan orang kuat dari daerah selatan, dengan cambuknya merobohkan empat orang penunggang kuda yang terpandai dan mengalahkan Pahla dengan telapak tangannya, tiap kemenangan menunjukkan keahliannya yang berlainan, keruan saja tiga bangsa dan empat belas kelompok suku tiada seorangpun yang tak kagum dan takut, juga mereka bersyukur bisa mendapatkan seorang pemimpin serikat yang perkasa.

Ketika Hui-ang-kin hendak menolak pengangkatan ini, tapi mana bisa dia menolak lagi, segera ia disongsong naik ke atas panggung, Nyo Hun-cong pun ikut naik ke atas.

Dengan perlahan ia berbisik di telinga Hui-ang-kin, “Hui-ang-kin, terimalah pengangkatan mereka untuk menjadi ‘Beng-cu’ (ketua perserikatan).”

Hui-ang-kin memandang ke sekelilingnya, lalu ia pun berkata perlahan, “Nyo-taihiap, tetapi engkau harus tetap tinggal di daerah selatan sini!”

Sementara para kepala suku itupun mengerumuni Nyo Hun-cong juga.

“Betul, Nyo-taihiap kau tadi pertandingan mewakili suku Lopuh, kau juga harus membantu Beng-cu kami yang baru.” kata mereka.

“Siapa saja yang melawan tentara Boan, aku senantiasa siap membantunya,” sahut Nyo Hun-cong dengan tertawa. “Nona Hamaya kini adalah tulang punggung pertahanan di daerah selatan sini, jika aku tinggal disini aku akan membantu di bawah perintahnya.”

Mendengar perkataan Nyo Hun-cong itu, semua orang kembali bersorak lagi.

Hui-ang-kin lalu membayangkan ayahnya lagi dan bersama para kepala dan wakil suku bangsa, mereka bersumpah setia dengan darah, Hui-ang-kin sendiri kini berlaku sebagai ketua serikat atau Beng-cu.

Dengan begitu, suasana padang rumput segera berubah menjadi riang gembira, pemuda-pemudi mengitari api unggun mulai menyanyikan lagi lagu yang memuja nama Hui-ang-kin atau si Si Selendang Merah.

Sejenak saja terdengar suara, “Kita punya pahlawan wanita -.. Hamaya, namanya yang tersohor di padang rumput, -..” bergema di angkasa luas.

Kiai-kiai dari suku Lopuh melihat semua orang dalam keadaan riang sekali, merekapun merasa senang. Maka mereka lantas menyatakan sepanjang malam ini mereka boleh bersuka ria sepuasnya untuk merayakan terpilihnya Hui-ang-kin sebagai Beng-cu atau ketua serikat dari suku-suku bangsa, dan memperbolehkan pemuda-pemudi bermain ‘domba nakal’.

Yang dinamakan permainan ‘domba nakal’ ialah suatu gabungan dari ‘ilmu menunggang kuda’ dan mengejar kekasih, pemuda-pemudi menaiki kuda dan berkejar-kejaran di padang rumput luas, pemuda di di muka dan pemudi mengejar di belakangnya.

Jika pemudanya terkejar oleh pemudinya, maka ia harus menerima pecutan cambuk dari pemudi sesukanya.

Kelihatannya si pemudi memperoleh kemurahan, akan tetapi tidak gampang bagi pemuda-pemuda yang menginginkan pecutan pemudi, sebab pemudinya tidak sembarangan mengejar dan memecuti pemudanya kalau bukan pemuda yang menjadi pacarnya.

Waktu itu Nyo Hun-cong sudah turun di bawah panggung dan bercampur diantara mereka, ia pun bernyanyi dan menari bersama dengan mereka.

Sementara itu pasangan pemuda-pemudi yang menunggang kuda berkejaran di padang luas asyik dengan permainan ‘domba nakal’, sesaat suara pecut terdengar di sana-sini, seluruh tanah padang rumput penuh dengan suasana yang riang gembira.

Nyo Hun-cong ikut merasakan kegembiraan itu, tiba-tiba orang-orang di kedua sampingnya pada minggir, ternyata Hui-ang-kin tidak diketahui entah sejak kapan turun dari panggung dan telah mendekatinya.

“Nyo tai-hiap, kau tidak bermain ‘domba nakal’ juga?” tanyanya dengan tersenyum.

Hati Nyo Hun-cong berdebar.

“Tidak, aku tidak pandai menunggang kuda dan tidak tahu cara-caranya,” jawabnya dengan cepat.

“Kau tak usah gugup, aku tidak bermaksud memecutmu,” kata Hui-ang-kin lagi dengan tersenyum pula, “Mereka orang muda bermain ‘domba nakal’ buat berlatih ilmu menunggang kuda. Aku paling suka suasana malam di padang rumput, maukah kau menemani aku pergi berjalan-jalan ?”

Mendengar itu, muka Nyo Hun-cong menjadi merah merasa dirinya terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan.

Ketika ia hendak menjawab, ia lihat pemuda-pemudi disekitarnya sedang memandangnya dengan tersenyum kagum, ia menjadi rikuh.

“Kalau begitu baiklah, kita pergi berjalan-jalan, tetapi tidak usah menunggang kuda, dengan langkah kita kiranya tak kalah dengan kuda mereka,” ujarnya.

Ia masih mencoba menghindari permainan ‘domba nakal’ dengan Hui-ang-kin.

Angin malam di padang rumput sayup-sayup membawa bau-bauan rumput wangi, bintang-bintang berkelap-kelip seperti pelita yang sedang menari.

Kedua orang itu berjalan terus, makin lama makin jauh, tidak terasa jauh dari suasana ramai dan sampai di padang luas, di belakang mereka suara nyanyian yang memuja Hui-ang-kin sayup-sayup masih terdengar.

Hui-ang-kin tersenyum simpul, agaknya seperti senang sekali.

Tiba-tiba Nyo Hun-cong teringat oleh perkataan Abu tadi, perlahan-lahan ia menarik tangan Hui-ang-kin.

“Hamaya, selamat dan berbahagialah, kau telah diangkat menjadi Beng-cu mereka,” katanya pada Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin menjadi tercengang.

“Apa? Kau juga begini sungkan padaku, kepandaianku masih jauh dibandingkan kau!” sahutnya kemudian.

Nyo Hun-cong tersenyum.

Tiba-tiba ia berkata lagi, “Hui-ang-kin, kalau betul kau tidak suka cara-cara yang terlalu kaku, baiklah aku hendak bicara terus terang padamu, apa kau akan menyesali diriku?”

Mata Hui-ang-kin bersinar, agaknya ia terheran-heran.

“Nyo tai-hiap, jika aku ada kesalahan yang letaknya aku tidak tahum bicaralah terus terang, ” katanya.

Nyo Hun-cong berpikir sejenak habis itu baru ia berkata lagi di bawah pandangan Hui-ang-kin yang tajam.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: