Kumpulan Cerita Silat

06/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 07

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 07
Oleh Liang Yu Sheng

Malam di padang rumput di waktu musim panas, udara terang dan tenang, langit penuh dengan bintang-bintang yang gemeredepan seperti batu permata tersunting di layar beludru biru yang luas, puncak gunung penuh salju menegak di kejauhan dengan megahnya, berdiri di antara angkasa malam yang berwarna biru tua bagai intan berkilauan.

Di padang rumput, para pahlawan bangsa Lopuh sedang mengitari api unggun dan memutari pahlawan wanita mereka, Hui-ang-kin alias Hamaya, juga mengitari si pengkhianat, Abu.

Di atas padang rumput sudah di bangun sebuah panggung yang tinggi, di atas panggung dipasang tiga pot besar yang tingginya lebih dari tiga kaki, ketiga Kiai berlutut di muka pot tadi sedang bersembahyang dengan khidmat, di bawah panggung suasana sepi senyap, keadaan nampak sangat sungguh-sungguh dan angker.

Nyo Hun-cong coba melirik Hui-ang-kin, kelihatan nona ini menundukkan kepalanya, matanya mengkilap basah mengembeng air mata.

Nyo Hun-cong ikut pilu, ia merasa sayang di malam yang serba indah di padang rumput ini ternyata dipertontonkan adegan yang memilukan.

Setelah ketiga Kiai tadi sembahyang, dengan tenang kemudian mereka berdiri dan Hui-ang-kin segera menggiring Abu ke atas panggung.

“Abu, dimuka Danu-loenghiong, tahukah kau akan dosamu?” Kiai yang tertua mulai bertanya.

Muka Abu pucat serupa mayat, ia bungkam dan tak berani bersuara.

Kiai tadi segera memberi tanda dan memanggil, “Bawa kemari itu tawanan serdadu Boan!”

Maka dua pahlawan bangsa Lopuh lantas menggusur seorang tawanan ke atas panggung.

“Kau bicara terus terang saja, kami tentu tidak akan menyiksamu!” kata Kiai tadi kepada si tawanan dengan suara yang ramah.

Karena itu, tawanan itu lantas membalikkan tubuh menghadap ke arah orang banyak di bawah panggung.

“Aku adalah pengawal perwira Abaku dari pasukan Boan,” ia mulai penuturannya, “Bulan yang lalu waktu terjadi pertempuran di padang rumput Aksu, dalam pertempuran sengit yang berlangsung tiga hari tiga malam itu, kerugian di pihak kami sangat besar, karena takut pihak kalian masih akan datang pula bala bantuan, komandan pasukan kami sebenarnya bersedia akan mundur pada esok harinya.”

“Namun pada malam itu,” katanya melanjutkan,” Penyelidik kami datang memberi laporan, katanya telah diperoleh hubungan dengan bantuan dari dalam pasukan musuh sambil menyerahkan sepotong belahan bambu yang di atasnya tergambar peta, malahan terukir pula huruf-huruf, ‘kemah ketiga, bantuan sukar datang’, komandan kami bertanya, ‘Dapatkah orang itu dipercaya?’ dan di jawab oleh penyelidik bahwa boleh dipercaya penuh karena Coh Ciau-lam yang menjamin. Komandan kami memahami dan malam kedua segera menyergap di tengah malam. Kemudian baru kutahu bahwa di perkemahan ketiga berdiam kepala suku kalian, kami menyerbu ke dalam kemah, di sana ternyata Danu-loenghiong hanya di jaga beberapa pengawal saja. Tetapi dia bertempur dengan gagah berani, semula kami bermaksud menangkapnya hidup-hidup, tapi beruntun dia membunuh beberapa orang kami, ia sendiripun berlumuran darah dan terluka parah, komandan kami melihat dia terluka berat dan masih bertempur dengan gigih, komandan sendiri lantas maju mengepung, tidak terduga denan sekali geraman keras, sekonyong-konyong Danu menerjang keluar dan membunuh lagi beberapa kawan kami. Golok komandan sempat menusuk dadanya dan senjatanya pun terpukul lepas oleh kami. Tidak tersangka dia masih menubruk maju dan merangkul komandan kami dan sukar untuk di lepas, para pengawal kami menghujani dia dengan bacokan dan setelah menyeretnya sekian lama baru dapat terlepas, ternyata komandan kami sudah mati tercekik! Cepat kami membawa mayat komandan dan mundur keluar kemah, kami bermaksud memberi tahu pada wakil komandan, tak terduga begitu keluar kemah, kami segera bertemu dengan para pahlawanmu yang mati-matian menerjang datang hendak menolonh Danu-loenghiong, dari seluruh pasukan hanya aku saja yang tertawan karena terluka, yang lain-lain sudah mati semua dalam pertempuran.”

Begitu tawanan itu selesai dengan ceritanya, seketika di bawah panggung bergema pekik ramai suara tangisan sedu-sedan.

Kiai tertua mengangkat tangannya dan kemudian berkata, “Insya Allah nama Danu dapat kita jadikan lambang kejayaan bagi bangsa Lopuh kita, darahnya mengalir untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak kita, beliau betul-betul tidak malu di sebut anak Allah, ia tidak malu di hormati sebagai bapak kita. Namanya pasti akan hidup untuk selama-lamanya.”

“Hidup! Danu-loenghiong,” begitulah sambutan dari bawah panggung dengan suara gemuruh.

Darah Nyo Hun-cong terbakar panas, ia pikir, “Kalau ada ayah yang begitu perkasa, tidaklah heran jika mempunyai anak gadis yang gagah berani pula!”

Setelah Kiai berdoa dan memuji, suasanapun tenang, ia berkata lagi kepada si tawanan, “Barang-barang peninggalan komandanmu seperti belahan bambu itu apakah termasuk diantara yang masih kau simpan?’

Tawanan itu mengangguk dan mengeluarkan belahan bambu yang dimaksud dari sakunya dan menyerahkannya pada Kiai.

“Hamaya kau boleh periksa sendiri!” kata Kiai sambil menyerahkan belahan bambu itu pada Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin menerima barang itu, ia memeriksanya dengan teliti, air mukanya mendadak berubah.

Huruf yang terukir di atas belahan bambu itu ia kenal betul sebagai huruf tulisan Abu sendiri.

Walaupun sepanjang perjalanan pulang telah banyak timbul kecurigaan terhadap Abu, tapi sekali waktu timbul harapannya bahwa mungkin hal itu hanya fitnah belaka, perasaan ini terlalu halus, bagaimanapun Abu adalah orang yang pernah dia cintai, sesungguhnya tidak pernah ia bayangkan pemuda biduan ini adalah lelaki yang berjiwa rendah dan kotor.

Kiai tertua melihat tangan Hui-ang-kin bergemetaran memegang belahan bambu itu, ia mendekati nona itu.

“Hamaya, bangsa kita sedang memandang padamu, coba katakanlah apa yang harus kita perbuat sekarang?” tanyanya dengan serius.

Alis Hui-ang-kin tiba-tiba menegak, ia menghadap kedepan suku bangsanya dan menggerakkan belahan bambu yang dipegangnya dan berseru, “ Bukti nyata berada di sini, yang memperdayai hingga menyebabkan kematian ayahku adalah Abu ini!”

Ia memutar badan lagi, belahan bambu itu dilemparkan ke depan Abu sambil membentak, “Berani kau menyangkal bahwa ini bukan ukiranmu?”

“Ya, memang betul aku yang mengukir,” Abu mengaku dengan suara keder.

“Ikat dia, aku ingin mengorek hatinya untuk sesaji sembahyang!” teriak Hui-ang-kin denan tertawa seram.

Suasana di bawah panggung itu seketika menjadi sunyi sepi.

Selain ketiga Kiai, sebelumnya tiada orang lain yang tahu banwa Abu adalah mata-mata musuh, Abu adalah biduan pujaan dan kesayangan para nona di padang rumput, siapapun tidak dapat menduga, suara nyanyian orang yang begitu merdu ternyata mempunyai jiwa yang begitu kotor.

Para pemuda semua tahu bahwa Abu adalah kekasih dari Hui-ang-kin, kinmi selain ikut merasa pilu untuk Hui-ang-kin, juga mereka ingin tahu dan keheran-heranan memandang diri nona ini.

Sementara itu Hui-ang-kin telah mencabut pedang pendeknya, ia berlutut di hadapan layon abu jenasah ayahnya dan berkata dengan menangis, “O, ayah! Anakmu kini akan membalaskan dendammu!”

Di bawah pandangan orang banyak, mendadak Hui-ang-kin melompta bangun dan mengusap air matanya, pedangnya gemerdep di tengah malam gelap, setindak demi setindak ia berjalan mendekati Abu.

“Hui-ang-kin, dapatkan kau perkenankan aku bicara sedikit saja,” tiba-tiba Abu berseru.

“Jika kau merasa penasaran, tentu kau boleh membela diri!”, kata Kiai.

Hui-ang-kin bertindak maju lagi, ia membalik pedangnya dan lantas berhenti.

“Bicaralah!” bentaknya.

Di luar dugaan, Abu malah tertawa tergelak-gelak seperti orang gila.

“Hui-ang-kin, mana cambukmu?” tanyanya tiba-tiba dengan lantang. “Aku tidak ingin membantah, Danu-loenghiong memang gugur karena perbuatanku, itu memang kesalahanku, akan tetapi, Hui-ang-kin apakah kau sendiri tidak ada kesalahan ? Aku, Abu, dianggap orang sebagai kekasihmu, tetapi kau selalu menakut-nakuti aku dengan cambukmu, tidak peduli soal besar atau kecil, semua harus kuturuti perintahmu, dalam hal apa aku masih merupakan kekasihmu lagi, namum lebih mirip budakmu yang rendah saja! Sebaliknya kau seperti majikanku yang maha tinggi dan maha kuasa!”

“Pada waktu kau mengutarakan rasa cintamu padaku, juga kauanggap aku seperti seorang anak kecil yang tidak mengerti sesuatu? ‘Abu, menurutlah perintahku!’, ‘Abu, buatlah begini dan jangan berbuat begitu!’, ‘Abu, kau berada di sampingku, tak perlu merasa takut!’.”

“Coba lihat, dimana kau pandang aku sederajat denganmu? Aku seperti tidak mempunyai kepintaran apa-apa, segalanya berkat perlindunganmu, juga para pemuda mengira aku ini seperti orang yang mendadak naik keatas karena kau sudi menginginkan diriku!”

“Dalam nyanyian rakyat kita, biasanya kita umpamakan lelaki sebagai matahari, dan wanita sebagai rembulan, tetapi di antara kita, engkaulah yang laksana matahari dan aku hanya sebutir bintang kecil yang bersinar guram saja. Seakan-akan kalau bisa memancarkan sedikit cahaya, itupun berkat dirimu.”

“Kau memang boleh bangga menjadi pahlawan padang rumput kita, kemanapun dan sampai dimanapun, para pemuda seperti ingin mengerumuni rembulan dan mengitarimu. Sebaliknya, apakah aku sendiri tidak boleh memiliki kebanggaan sedikitpun ? Apakah suara nyanyianku jika sedang berkumandang di angkasa padang rumput tak dapat menarik perhatian dan sorot mata kekaguman para nona muda?”

“Hui-ang-kin, kau adalah pahlawan wanita, akan tetapi aku tidak tahan lagi, pada waktu itulah Coh Ciau-lam dengan diam-diam telah datang menemui aku, ia membujukku membantu dia untuk menangkap Danu-loenghiong, kemudian memaksa bangsa Lopuh, supaya takluk pada kerajaan Boan, katanya, ‘Setelah beberapa tahun bertempur sudah letih semuanya lebih baik menurut pada pasukan Boan dan melewatkan hari-hari yang tenteram, diantara sukumu ini yang berkeras perang adalah ayah-ank Danu, jika yang tua dapat ditangkap, yang muda tentu tak berani berbuat sesukanya.”

“Perang atau tidak, itulah aku tidak peduli, tetapi memang sengaja membuat marah Hui-ang-kin, aku hendak berbuat sesuatu yang menggemparkan orang, agar pada suatu ketika ia akan datang menyembah dan memohon padaku juga. Kini aku sudah tahu kesalahanku, Hui-ang-kin, tetapi aku tidak akan memohon pengampunanmu, kau boleh belah dadaku, keluarkanlah hati dari orang yang pernah kau cintai,” demikian Abu mengakhiri ucapannya.

Tangan Hui-ang-kin mendadak gemetaran, ia benci dan gemas sekali kepada Abu, cintanya pada Abu kini telah ludes sama sekali, ia bukannya tidak tega mengangkat tangannya buat membunuh dia, bukan! Tetapi perkataan Abu yang terakhir tadi sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

Tangan Hui-ang-kin mendadak gemetaran, ia benci dan gemas sekali pada Abu, cintanya pada Abu kini sudah ludes sama sekali, ia bukannya tidak tega mengangkat tangannya buat membunuh dia, bukan! Tetapi perkataan Abu yang terakhir tadi sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.

Tidak sedikit biasanya nona muda yang mengagumi suara nyanyian Abu, demi mendengar perkataannya menjelang kematiannya tadi, tiba-tiba mereka merasa walaupun dosa orang ini patut di hukum mati, tapi rasanya harus dikasihani juga.

Bahkan ada nona-nona yang menundukkan kepalanya dan tidak berani memandang ke atas panggung.

Nyo Hun-cong yang ikut berdiri di atas panggung, dengan jelas dapat melihat pedang Hui-ang-kin sedikit gemetar, ia dapat melihatnya pula letak kebaikan dan kelemahan watak Hui-ang-kin.

Ini adalah suatu persoalan rumit yang perlu dibicarakan dengan Hui-ang-kin secara baik-baik, demikian pikir Nyo Hun-cong.

Sementara itu para pemuda saling berteriak-teriak dengan marah, banyak yang ingin naik ke atas panggung untung menghajar Abu, syukur Kiai segera mengacungkan ke dua tangannya untuk mencegah, dengan perlahan dia berseru, “Demi kejayaan bangsa kita, jika kamu diminta menyerahkan kambing dan sapi piaraanmu, kamu berkata ambillah sekalian kuda betinaku! Jika guna kebahagiaan bangsa kita, dan menghendaki kamu pergi berperang, kamu berkata ikutkanlah anakku yang baru dewasa! Jika kamu berbuat sesuatu untuk kita semua dan merasa penasaran, janganlah kamu membantah, tetapi selesaikanlah lebih dahulu pekerjaan itu! Ini adalah salah satu ajaran dalam kitab suci kita dan telah tersebar ratusan tahun di padang rumput dan sudah kita ketahui bersama, bukankah begitu?” akhirnya dia bertanya.

Abu menundukkan kepala, sedang Kiai berbicara makin cepat dan semakin bersemangat, ia menyambung lagi, “Kita bangfsa Lopuh semua paham arti sabda Nabi tadi, demi Allah dan demi pihak yang benar untuk kebahagiaan bangsa kita semua, segala apapun kita bersedia menyerahkannya, bukankah begitu, Abu ? Kini, tentara Boan dan Kwan-gwa telah menjajah ke Kwan-lwe dan malahan terus menyerbu ke daerah Sinkiang kita, kuda perang mereka berlari sesukanya di padang rumput, serdadu mereka mengejar kalifah kita dan merampok kekayaan kita, mereka ingin menghancurkan kita, kaum penggembala kita di padang rumput tunduk seperti domba jinak untuk menjadi budak mereka. Memang, kecuali kalau kita salam sekali tak bertulang, jika sebaliknya tentu tiada seorangpun yang sudi berbuat begitu!”

“Abu, bangsa kita sedang melawan keganasan dan sedang mengalirkan darah, mereka berbuat untuk kejayaan bangsa Lopuh, apa yang dimiliki semua sudah dipersembahkan. Tetapi kau, hanya sedikit kesukaran sudah tak tahan, bahkan kau malah berlomba kebanggaan dengan orang yang kau cintai!”

“Apa yang dapat dibanggakan? Memperdayai pahlawan tua kita yang sangat kita hormati itu? Membunuh saudara-saudara sebangsa dan menjadi anjing musuh? Hmm, ini adalah perbuatan yang paling kotor dari budak yang tidak tahu diri, sungguh memalukan kau masih berani mencela Hui-ang-kin!”

“Hui-ang-kin, ayahmu yang sudah disurga sedang memandang kau, bangsamu di bawah panggung sedang melihat kau, kini kau adalah pewaris dari kepala suku kita, kau boleh bertindak menurut pikiranmu.”

“Hui-ang-kin, apakah yang hendak kauperbuat ?” tanya Kiai mengakhiri pidatonya.

“Bawa arak kemari!” teriak Hui-ang-kin segera dengan suara lantang.

Maka seorang pemuda segera datang membawakan satu cawan berisi setengah cawan arak.

Dengan tangan kiri Hui-ang-kin memegang cawan itu, tangan kanan dengan pedangnya secepat kilat segera menusuk ke dada Abu, dalam sekejap darah Abu muncrat keluar, Hui-ang-kin menadah dengan cawan dan segera terisi satu cawan penuh satu cawan arak bercampur darah.

Ketika pedang dicabut, ujung pedang Hui-ang-kin sudah menancap dan mengait keluar sepotong hati manusia yang masih berlumuran darah. Menyusul di antara suara tertawanya yang panjang dan seram, kakinya melayang, kontan mayat Abu terpental ke belakang panggung.

Hui-ang-kin menjinjing pedangnya, dengan cawan yang berisi arak darak dia membalik dan berjalan perlahan-lahan menuju tempat abu jenazah ayahnya, ketiga Kiai ikut di belakangnya, arak darah disiramkan dan hati Abu tertancap di atas panggung di muka meja abu, dan Hui-ang-kin pun menangis dengan tersedu-sedu.

“Oh, ayah! Kini kau boleh memejamkan mata dengan tenang!” ia meratap.

Suasana di padang rumput sunyi senyap, semua orang yang hadir disitu menundukkan kepalanya, mengheningkan cipta.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang ramai disusul dengan suara derapan telapak kaki kuda yang semakin mendekat, dari jurusan timur telah menerobos datang sepasukan orang berkuda yang dikepalai seorang pembawa sebuah panji lebar.

Segera terdengar penjaga bangsa Lopuh berteriak, “Kepala suku bangsa Tahsan datang!”

Tidak lama kemudian dari sebelah barat sana datang pula serombongan orang, penjaga melaporkan lagi, “Wakil serikat lima kelompok suku Sahji datang!”

Begitulah berturut-turut tidak sampai setengah jam ternyata telah datang berkumpul tiga kepala suku dan empar belas pasukan dari kelompok suku lainnya.

Mereka berbaris rata berjajar dekat panggung tinggi itu.

Melihat keadaan yang tiba-tiba ini, air muka ketiga Kiai yang berada diatas panggung berubah hebat.

Angin malam di padang rumput bertiup semilir, api unggun di bawah panggung waktu itu sedang berkobar dengan hebat, Hui-ang-kin dengan menjinjing pedangnya maju ke muka panggung, tetapi ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

“Hamaya, lebih dulu meminta para paman naik ke atas panggung untuk sembahyang,” ujar Kiai dengan suara tenang.

Hui-ang-kin membuang arak darah yang segera kering dihisap pasir.

“Para paman dan sahabat-sahabat, “ katanya kemudian. “Terima kasih, kalian telah datang dari tempat jauh, walaupun ayahku sudah meninggal, tetapi ia seperti masih hidup, darahnya sudah menetes di atas padang rumput, tetapi darah musuh dan pengkhianat telah menetes pula di atas padang rumput. Melihat kamu sekalian datang secara berduyun-duyun, aku yakin jika darah kita akan mengalir bagaikan sungai. Jika padang rumput mengubur kita seorang, pasti musuh akan terkubur sepuluh orang.

“Abu ayahku masih berada di atas panggung ini, arwah ayahku tetap di atas kamu sekalian, ia sedang mendengarkan perkataan kamu sekalian, kini silakan kalian naik kemari!” ia mengakhiri pidato sambutannya.

“Hui-ang-kin yang hebat!” dalam hati Nyo Hun-cong memuji. “Rombongan orang-orang ini gelagatnya tidak hanya hendak sembahyang, jika mereka benar-benar ada maksud tertentu, perkataan Hui-ang-kin tadi sungguh bisa membuat malu mereka, menghadap abu Danu-loenghiong, siapapun harus bersumpah setia, kukira dapat memompa semangat dalam pertempuran melawan musuh.”

Betul saja para kepala dan wakil-wakil suku lantas berbaris naik keatas panggung, Hui-ang-kin melambaikan tangannya kepada Nyo Hun-cong, dengan tenang Hun-cong lantas mengikut di belakang mereka, dengan rasa curiga semua orang memandang kepadanya, tetapi tiada yang berani buka suara.

Begitulah satu persatu mereka menuangkan arak darah di depan abu Danu-loenghiong, paling belakang bergilir sampai Nyo Hun-cong, kepala suku Tahsan tiba-tiba bertanya, “Siapakah dia ?”

“Ia adalah Nyo Hun-cong, Nyo-taihiap!” jawab Hui-ang-kin.

Semua orang terkejut begitu mendengar nama pendekat itu disebutkan.

“Ia mewakili orang-orang Kazak atau bangsa Lopuh?” tanya pula kepala suku Tahsan itu.

“Aku adalah orang Han,” sahut Nyo Hun-cong dengan ketus. “Aku pun adalah kawan seperjuangan bangsa Kazak dan sahabat Hamaya! Aku tidak mewakili siapa pun juga, siapa yang melawan pasukan Boan, akulah kawannya begitu pula sebaliknya.”

Dengan kata-kata yang bersemangat ini, kepala suku dan wakil-wakil suku itu semua berteriak, “Bagus!”

Dengan tenang kemudian kepala suku Tahsan bertanya kepada ketiga Kiai, “Danu-loenghiong kini sudah meninggal, bukankah anak gadisnya yang akan menggantikan kedudukannya ?’

“Apakah kau anggap kami punya Hamaya kurang cakap ?” Kiai itu berbalik bertanya.

“Hui-ang-kin, pahlawan wanita yang tersohor di seluruh Sinkiang selatan, siapa berani bilang dia kurang cakap!” ujar kepala suku Tahsan dengan sungguh-sungguh, “Tetapi kau jangan lupa, pahlawan tua Danu bukan saja kepala sukumu, tetapi juga adalah ketua serikat kita.”

“Kami datang menyembah pahlawan tua Danu, kami justru ingin pada malam ini menetapkan siapakah yang pantas menjadi ketua serikat yang baru,” sambung wakil dari suku Sahji. “Kami bukannya tidak mengagumi nona Hui-ang-kin, tetapi menurut peraturan kita harus diadakan pertandingan, baru bisa menentukan siapa-siapa yang akan menjadi ketua batu kita.”

“Memang, usiaku masih terlalu muda, tentang ketua serikat itu aku sekali-kali tak berani menginginkan, aku tidak berani ikut berlomba, jika ada yang terpilih, akulah yang pertama-tama tunduk padanya!” sahut Hui-ang-kin dengan cepat dan merendah.

“Tidak, itu tidak boleh,” seru kepala suku Sahmal sambil tertawa, “Pahlawan wanita Hui-ang-kin dan pejuang-pejuang dari suku Lopuh mana boleh tidak ikut berlomba? Kami bukannya hendak berebut menjadi ketua serikat, tetapi tujuan kami adalah untuk memilih seorang ketua yang betul-betul dapat kami puji dan bisa memimpin kita melawan musuh!”

“Kiranya demikian,” pikir Hun-cong dalam hati dengan lega, “Cukup hanya orang yang sanggup melawan tentara Boan saja sudah dapat di pilih.”

Maka ia lantas menyeletuk, “Hamaya, musuh sedang menanti, siapapun tak usah merendah diri, berbuatlah menurut peraturan kalian yang sudah ada.”

Hui-ang-kin memandang Nyo Hun-cong, lalu memanggukkan kepala tanda menyanggupinya.

Pertandingan segera dimulai, walaupun bukan pertandingan mengadu jiwa, tetapi cukup menggetarkan hati.

Babak pertama adalah gulat, jago dari suku Sahmal telah dibanting roboh oleh jago dari suku Sahji, yang tersebut belakangan ini kemudian terbanting pula oleh jago suku Lopuh hingga copot dua giginya.

Jago suku Tahsan kemudian mengalahkan lagi jago dari Lopuh, Hui-ang-kin adalah wanita, kurang pantas untuk ikut bergulat, maka ia tidak turut, sampai akhirnya sudah tiada jago yang berani maju bertanding lagi, ketika jago suku Tahsan akan dianggap sebagai juara, tiba-tiban Nyo Hun-cong tampil ke muka diantara orang banyak.

“Harap akupun boleh di ikut sertakan, jika menang boleh anggap saja kemenangan bagi nona Hamaya!” katay Hun-cong.

Dengan suara perlahan, Hui-ang-kin mengucapkan terima kasih.

Jago suku Tahsan tadi bernama Akat, ia adalah jago gulat dari seluruh daerah selatan Sinkiang.

“Hmm, bagaimana bisa tahu kamu yang akan menang?” jengeknya dengan gusar.

Segera ia mendekati Nyo Hun-cong.

“Nyo-taihiap harap memberi beberapa pelajaran,” kata Hui-ang-kin.

Nyo Hun-cong tersenyum, kedua tangannya diluruskan ke lututnya, “Silakan!”, katanya.

Cara bergulat disana adalah empat tangan yang bersikapan diantara badan masing-masing, selamanya tiada cara kedua tangan diturunkan dan kaki berdiri tegak.

Karenanya Akat menjadi heran dengan sikap Nyo Hun-cong ini.

“Cara begini bagaimana bisa terhitung bergulat,” katanya.

“Kau boleh mengeluarkan tenaga sesukamu, kalau aku terbanting roboh, boleh menganggap aku yang kalah, “ kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Akat menjadi gusarm dengan kedua kaki sedikit menekuk dan kedua lutut menyanggah kuat, kedua tangannya segera berusaha mengangkat badan Nyo Hun-cong dan hendak dibantingnya.

“Pergi!” , bentak Nyo Hun Cong.

Advertisements

1 Comment »

  1. Tolong di perbanyak yaaaa…..
    pidato tentang pahlawan nya karena itu bermutu untuk saya dan teman2 sebagai pelajar

    Comment by aManDa yoNa n. — 14/11/2008 @ 1:18 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: