Kumpulan Cerita Silat

05/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 06

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:01 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 06
Oleh Liang Yu Sheng

Hati Coh Ciau-lam gemas sekali, diam-diam ia mengatur pernafasannya dan ia mengumpulkan tenaga dalam dan berusaha menembus jalan darah yang tertutuk tadi.

Nyo Hun-cong memang agak ceroboh, ia hanya tahu Coh Ciau-lam waktu masih di Thian-san tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan tutukan hiat-to, tak tersangka dalam beberapa tahun belakangan ini kungfu Coh Ciau-lam sudah mengalami banayk kemajuan, walaupun belum dapat menandinginya, namun untuk mengumpulkan tenaga dalam dan melancarkan hiat-to yang tertutuk sudah bukan soal baginya.

Kira-kira lewat satu jam, tenaganya sudah merata di seluruh badan, ia girang sekali, ketika hendak mulai bergerak, tiba-tiba ia mendengar Nyo Hun-cong memanggil namanya sambil membalik tubuh.

Keruan Coh Ciau-lam kaget sekali.

Akan tetapi setelah membalikkan badan Nyo Hun-cong tertidur lagi, ternyata ia hanya mengigau saja.

Hui-ang-kin melototi Coh Ciau-lam.

“Di dalam mimpi saja Suhengmu masih ingat padamu, tetapi kau justru tidak mau menuju ke jalan yang benar, ” kata Hui-ang-kin dengan gemas.

Coh Ciau-lam tidak bersuara, diam-diam dia berpikir, “Mengapa aku begitu cerobah telah melupakan Suheng, untung aku belum bertindak, kalau tidak, meski dapat merobohkan Hui-ang-kin, sekali dia berteriak, Suheng pasti akan terbangun, walaupun aku bisa lari keluar dari kubu kuno ini juga pasti akan tertangkap kembali.”

Saat ini tenaganya sudah pulih dari tutukan tadi, namun ia sengaja berpura-pura seperti tak bisa bergerak leluasa.

“Hui-ang-kin, berilah aku sedikit air,” mohonnya dengan suara lirih.

Akan tetapi Hui-ang-kin tidak menggubrisnya.

Coh Ciau-lam memanggil lagi, sekali ini sengaja dengan keras, “Bisa kumati kehausan, berilah aku sedikit air?!”

“Kau memang pantas mampus, kau jahanam, memangnya sengaja bikin ribut buat bangunkan Suhengmu,” Hui-ang-kin mendamprat, berbareng cambuknya menyabet.

Coh Ciau-lam berpura-pura berusaha menghindari cambukan Hui-ang-kin, “Aduh!!!” ia berteriak dan tiarap diatas tanah, pada kesempatan ini diam-diam ia mengeluarkan satu bungkusan kecil dari sakunya.

Sedikitpun Hui-ang-kin tidak memperhatikan lagak pura-pura orang, cambuknya menyambar pula, “Tar-tar”, suaranya menggema di angkasa.

“Kau pura-pura mampus, ayo, lekas bangun!” dampratnya lagi.

Mendengar keributan itu, Nyo Hun-cong betul-betul terbangun, ia kucek-kucek matanya yang masih sepat.

“Hui-ang-kin, apa yang terjadi ?” tanyanya.

“Tiada apa-apa, tidurlah kau!”, jawab Hui-ang-kin.

Akan tetapi Coh Ciau-lam berteriak lagi, “Suheng, aku minta sedikit air.”

“Hui-ang-kin, bolehlah kau beri sedikit air padanya!” kata Hun-cong.

Hui-ang-kin melototkan matanya lagi, ia mengacungkan kantong air dengan kurang ikhlas.

“Baiklah, melihat suhengmu, ku beri kau minum!” katanya.

Coh Ciau-lam berlagak sulit bergerak, dengan siku ia mengempit kantongan air dan menundukkan kepala untuk minum beberapa teguk, tetapi tangan kanannya diam-diam meremas dan menjentik, isi bungkusan kecil tadi lantas tersenitl masuk ke dalam kantongan air.

Kini Nyo Hun-cong sudah mendusin betul, rasa kantuk sudah agak hilang, ia bangun kemudian duduk.

“Hui-ang-kin, kini gilaranku yang jaga” katanya kemudian.

“Masih belum ada pukul tiga”, ujar Hui-ang-kin.

“Aku tidak dapat tidur lagi, apa gunanya dua orang bersama menjaga dia,” ujar Nyo Hun-cong.

Hui-ang-kin tidak dapat menolak lagi, katanya, “Baiklah, tapi kau perlu hati-hati sedikit!”

Ia mengeluarkan sepotong mantel, ia gunakan sebagai kasur dan tidur diatasnya.

“Sungguh seorang nona yang polos hati”, pikir Nyo Hun-cong dalam hati.

Lewat sejenak, di atas lantai sana sudah ada suara menggeros perlahan.

Nyo Hun-cong berkata dengan suara tertahan, “Coh Ciau-lam, apa kau tidak letih? Kau bolehlah tidur.”

“Setelah mendengarkan petuah Suheng tadi, maka kini aku sedangf berpikir, ” sahut Coh Ciau-lam dengan suara perlahan pula.

Nyo Hun-cong merasa girang dan lega. “Baiklah kau boleh berpikir baik-baik”, katanya lagi.

Coh Ciau-lam menundukkan kepala dan memejamkan mata mirip pendeta yang sedang bersemedi.

Diam-diam Nyo Hun-cong menghela nafas dan merasa bersyukur.

Lewat sebentar, Nyo Hun-cong sendiri merasa haus, ia copot tutup kantong air dan minum beberapa teguk air.

Diam-diam, Coh Ciau-lam memasang mata dan mengintip, lewat sebentar kemudian, mendadak Nyo Hun-cong merasa pandangan matanya berubah gelap dan badan sempoyongan hendak roboh.

Tiba-tiba Coh Ciau-lam berteriak, “Ayom ambruk!”

Segera pula ia melompat bangun dan secepat kilat menyamabr pedang ‘Yu-liong-kiam’ yang tergantung di tembok.

Nyo Hun-cong tidak menduga akan terjadi begini, waktu ia berusaha membentangkan matanya, tiba-tiba pedang Coh Ciau-lam telah menusuk dekat dadanya.

Ternyata isi bungkusan kecil tadi adalah obat bius, pada akhir dinasti Beng (Ming), larangan berlayar sudah mulai di buka, sehingga banyak obat-obatan luar negeri yang masuk, dan adalah obat tidur yang paling disukai pula oleh para pejabat-pejabat tinggi militer.

Setelah Coh Ciau-lam takluk pada kerajaan Boan, berkali-kali ia telah berjasa, maka Ili Ciangkun (Panglima kota Ili) Nilan Siu-Kiat menilai Coh Ciau-lam terlah berjuang mati-matian dan ingin memikatnya, maka telah menghadiahkan kepadanya beberapa bungkus obat bius tersebut dan memberi tahu cara pemakaiannya, “Ini adalah obat tidur, jika kau terluka oleh anak panah atau senjata lain yang beracun, dan perlu dioperasi untuk membuang racunnya, maka inilah obat bius yang paling mujarab, sedikitpun kau tidak akan merasa kesakitan.”

Waktu itu Coh Ciau-lam menjawab dengan tertawa, “Meski aku tidak segagah san setabah Kwan Kong, akan tetapi kalau betul-betul perlu operasi tulang dan menyembuhkan racun, ku yakin sedikitpun aku takkan berkerut kening menahan sakit.”

“Untuk persediaan saja kukira tiada jeleknya, baiklah kaubawa satu – dua bungkus, ” kata Nilan Siu-kiat.

Setelah tahu cara memakainya, ia percaya obat semacam ini begitu masuk mulut, hasilnya akan lebih lihai daripada obat tidur ‘Bong-han-yo’ yang biasa digunakan orang di kalangan Kang-Aow, maka diam-diam ia bergirang dan ingat baik-baik khasiat obat bius ini.

Begitu ketika Nyo Hun-cong mendadak merasa matanya menjadi gelap dan setengah tak sadar, kagetnya sungguh tidak kepalang.

Ia memiliki lwe-kang ( tenaga dalam) yang tinggi dan sudah sering kali berhadapan dengan musuh tangguh, kini ia diperdayai oleh Coh Ciau-lam, lekas ia menenangkan semangat dan menghimpun tenaga, tetapi baru saja ia dapat melihat dengan jelas, tiba-tiba pedang Coh Ciau-lam yaitu ‘Yu-liong-kiam’ sudah menusuk ke ulu hatinya.

Nyo Hun-cong menggertak keras dan meloncat ke atas, kedua telapak tangannya berputar balik, telapak tangak kiri segera membelah ke ‘Hua-kai-hiat’ Coh Ciau-lam dan telapak tangan kanan terangkat terus hendak merebut pedang lawan.

Coh Ciau-lam tidak mengira bahwa sang Suheng setelah minum obat bius masih tetap begitu perkasa, keruan ia menjadi gugup.

Dengan langkah ‘Pan-liong-hiau-poh’ (naga melingkar langkah), ia hindarkan serangan musuh dan segera mencari jalan hendak angkat kaki alias kabur.

Namun, meski pandangan Nyo Hun-cong masih belum jelas benar, ia paksa membangun semangat, ia mendengarkan suara angin dan membedakan tempat musuh, sedikit bergeser ia dengan cepat sudah dapat menutup jalan pergi Coh Ciau-lam, kedua tangannya naik turun menyerang, dengan nekat ia menemput pedang Coh Ciau-lam.

Sebenarnya Coh Ciau-lam sendiri belum pernah mencoba obat bius itu tadi, ia mengira mungkin obatnya tidak manjur, diam-diam ia mengeluh, “Celaka, sekali ini kalau aku tertawan, Suheng pasti takkan memberi ampun lagi padaku.”

Dengan sekejap saja kedua orang sudah saling menyerang dengan gerakan yang berbahaya dan jurus-jurus serangan maut.

Hui-ang-kin belum lama tertidur, ketika ia mendengar ada suara ribut-ribut segera ia terbangun dan menoncat berdiri, ia lihat Nyo Hun-cong dan Coh Ciau-lam sedang bertarung dengan seru sekali, ia terkejut dan segera menyambar cambuk dan mencaut pedangnya.

“Bangsat, ternyata kau berani hendak kabur,” ia mendamprat dan menerjang maju, cambuk di ayunkan dan menyabet Coh Ciau-lam dengan gemas.

Keruan Coh Ciau-lam mandi keringat dingin, dalam hati ia membatin, untuk melawan sang Suheng saja ia tidak sanggup menandingi, apalagi kini ditambah dengan Hui-ang-kin mana mampu dirinya melawan mereka berdua.

Diam-diam dia menghela nafas, pikirnya, “Tidak tersangka aku Coh Ciau-lam yang berusia masih begini muda, mungkin kini harus mati di tempat ini.”

Kalau Hui-ang-kin tidak ikut bertempur masih agak mendingan, tetapi begitu ia ikut maju malahan membuat repot Nyo Hun-cong. Masalahnya obat tidur sudah mulai bekerja, mata Nyo Hun-cong sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi, ia hanya terus berusaha memusatkan pikiran dan membedakan suara untuk balas menyerang.

Suara cambuk Hui-ang-kin berbunyi “Tar-tar” masih gampang dikenali, tetapi gerak tusukan dan tebasan dengan pedang, bunyi suara yang timbul dari pedangnya serupa dengan pedang pusaka Coh Ciau-lam, yakni ‘Yu-liong-kiam’.

Sementara itu Coh Ciau-lam yang harus menghindari serangan sang Suheng terlah terkena sekali pecutan Hui-ang-kin, gadis ini girang sekali, mendadak ia merangsek maju dan menusuk, pedangnya menyambar lewat samping Nyo Hun-cong, tiba-tiba Nyo Hun-cong membentak, badannya berputar dan dua jarinya menangkap ke bawah, tahu-tahu pedang Hui-ang-kin kena direbutnya.

“Apakah artinya ini ?” teriak Hui-ang-kin dengan kaget dan bingung.

Coh Ciau-lam pun tidak mengerti dan merasa heran, ia sangka karena Suhengnya mengingat kebaikan mereka dulu dan sengaja menolongnya sekali lagi, tentu saja hatinya merasa girang tidak kepalang, cepat ia membalik tubuh dan terus berlari keluar dari kubu kuno itu.

Hui-ang-kin sangat gusar, ketika hendak mendamprat Nyo Hun-cong, sekonyong-konyong Nyo Hun-cong sendiri roboh diatas tanah.

“Hui-ang-kin, aku telah kena diperdaya olehnya!” begitulah Nyo Hun-cong berseru.

Hui-ang-kin kaget sekali, cepat ia periksa keadaan orang, namun Nyo Hun-cong sudah tidak sadarkan diri lagi. Ia pun tidak mengetahui Nyo Hun-cong diperdaya orang dengan cara apa, ia mengira tentu kena senjata rahasia beracun, tetapi setelah ia periksa bolak balik keadaan Nyo Hun-cong, pakaiannya terlihat tidak sobek, kulit daging pun tidak terluka, ia menjadi heran.

Sementara itu Abu pun sudah bangun dari tidurnya, ia pun terheran-heran melihat keadaan berubah begitu.

Karena haus, maka Abu mencabut tutup kantong air dan minum juga beberapa teguk.

Hui-ang-kin dapat melihat Abu sudah bangun, ketika ia hendak membentak, mendadak ia lihat orang sudah roboh ke tanah lagi.

Hatinya menjadi bimbang, ia menduga kantong air itu pasti sudah diberi racum oleh Coh Ciau-lam, tanpa pikir lagi ia menusuk dengan pedangnya, kantong air segera pecah, air mengalir keluar dan dengan cepat sudah kering terisap pasir kuning.

Hui-ang-kin coba meraba dulu dada Nyo Hun-cong dan kemudian dada Abu, detak jantung mereka masih terasa bergerak seperti biasa, air muka mereka pun tidak kelihatan ada perubahan, mereka hanya tidur nyenyak dan mendengkur pula.

Hui-ang-kin menjadi lega, kemudian dengan memegang cambuk dan menghunus pedang ia berjaga disamping kedua orang itu.

Penjagaan begitu ternyata terus berlangsung hingga esok harinya, bahkan sampai lohor baru Nyo Hun-cong perlahan kelihatan sadar.

“Coh Ciau-lam, si jahanam itu sudah pergi bukan?”, begitulah pertanyaannya yang pertama setelah mendusin.

Hui-ang-kin manggut-manggut.

“Memalukan,” teriak Nyo Hun-cong sambil melompat bangun. Ia coba menggerak-gerakkan otot tulangnya, terasa seperti biasa saja maka ia pun menjadi lega.

“Jahanam ini sungguh sangat licik dan licin, entah sejak kapan ia menaruh obat tidur ke dalam kantong air,” katanya kemudian. “Ah, ini semua gara-gara kecerobohanku, tidak kusangka ia dapat melancarkan sendiri hiat-to yang kututuk.”

Sementara itu Hui-ang-kin sedang berpikir, “Aku lebih-lebih ceroboh lagi daripadamu.” Kemudian ia berucap pula, “Waktu dia minum air, barangkali itulah waktu ia telah menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan obat tidur. Kita berdua memang sama-sama ceroboh, masing-masing tidak perlu menyesali siapapun juga, kuyakin ia pun tidak akan bisa lari jauh.”

Habis berkata begitu, ia tertawa tergelak-gelak.

Lewat sebentar, Abu pun telah mendusin, ia melihat Hui-ang-kin bersama Nyo Hun-cong sedang bercakap dengan gembira, timbul perasaan cemburunya, benci dan juga merasa takut.

“Hui-ang-kin, kaulepaskan aku pergi sajalah,” begitu ia memohon.

“Mengapa harus kulepaskan ?” kata Hui-ang-kin. “Jika kau memang tidka bersalah, kembali ke perkampungan kita aoa yang kau takutkan lagi?”

“Hui-ang-kin,” ucap Abu lagi dengan suara perlahan. “Setidak-tidaknya kita juga pernah saling mencintai, jika kau mempunyai kekasih lain, biarlah kupergi saja, di mana pun aku berada tetap aku akan menyanyi untukmu dan berdoa kepada Tuhan agar melindungimu.”

Mendengar ucapan begitu, Hui-ang-kin menjadi gusar, pecutnya segera menyapu.

“Ngaco belo!”, bentaknya. “Kau anggap orang macam apakah diriku ini, setelah kembali nanti jika benar kau tidak berdosa, tentu akan minta maaf kepadamu, akan tetapi karena kelakuanmu yang rendah dan kotor itu, tidak mungkin aku bisa suka lagi kepadamu. Sebaliknya jika betul kau yang mencelakai, sehingga ayahku menemui ajalnya, hmmn, aku sendiri yang akan menyembelihmu! Jika kini kau hendak lari, itu berarti kau mencari mampus, setiap saat bisa kucincang badanmu!”

Mendengar ancaman Hui-ang-kin ini, muka Abu menjadi pucat ketakutan, tubuh bergemaran, mana berani dia bersuara lagi.

Kemudian Hui-ang-kin menggiring Abu naik ke atas kudanya dan berkata pada Nyo Hun-cong, “Marilah kau pun ikut ke tempat kami sana, bangsa kami tentu akan menyambutmu dengan gembira.”

“Baiklah, ” jawab Nyo Hun-cong sambil mencemplak ke atas kudanya dan berjalan bersama dengan mereka.

Kuda mereka dilarikan dengan sangat cepat, setelah lewat dua hari, pada hari ketiga mereka telah melewati ‘Tiat-bun-kwan’ di wilayah Sinkiang selatan, terliahtlah deretan lereng gunung yang tinggi, di tengah bukit barisan itu terbelah dan mengalir sebuah sungai besar diantara celah gunung itu.

“Itulah sungai Merak dari Sinkiang selatan yang tersohor,” kata Hui-ang-kin.

Muka Abu pucat pasi demi mendengar tertampaknya sungai itu, ia mengeluarkan seruling dan membawakan lagi lagu-lagu yang sedih.

Semula Hui-ang-kin hanya berkerut alis, akhirnya ia menghela nafas juga dan berkata, “Nyanyilah, ya nyanyilah! Biarlah kau menyanyi terus seharian sesudah itu tidakahj akan kudengarkan lagi lagumu!”

“Hui-ang-kin, tidakkah kau sangat menyukai laguku, kau tidak mau mendengarkan laguku lagi selamanya?” tanya Abu dengan setengah meratap.

Cambuk Hui-ang-kin bergerak lagi, tetapi tidak memukulnya, hanya di gerak-gerakkan saja.

“Kau suka menyanyi boleh kau menyanyi sepuasmu, banyak bicara apa lagi, nanti aku pukul kau,” ancam Hui-ang-kin.

Selewatnya ‘Tiat-bun-kwan’, di depan adalah padang rumput yang luas, sungai Merak mengalir melingkar diantara padang rumput, di kejauhan sana puncak gunung kelihatan jelas penuh dengan salju, warna langit berubah beraneka coraknya, di kedua tepi sungai pohon melambai-lambai, pemandangan alam yang indah tenteram penuh mengandung suasana kebahagiaan.

“Sudah hampir sampai, ” seru Hui-ang-kin sambil mengacungkan cambuknya.

Dari jauh sudah kelihatan asap mengepul, sampai di sini suara nyanyian Abu tiba-tiba berhenti, mukanya bertambah pucat lagi.

Mereka berkuda dengan cepat, tidak lama kemudian, terlihat perkemahan berderet berdiri di sana.

Beramai-ramai rakyat gembala keluar menyambut, kaum wanita dan anak-anak berlari-lari di lapangan luas sana sambil menari dan tertawa riang.

Mereka berteriak-teriak memanggil-manggil, “Hamaya (nama asli Hui-ang-kin) kita sudah kembali!”

Dalam pada itu serombongan pemuda segera bernyanyi dengan alat musiknya.

Kita punya pahlawan wanita -.. Hamaya,
Namanya tersohor di padang rumput,
Kanak-kanak meihat dia bergelak tertawa,
Musuh melihat dia lari ketakutan!
Sapu tangan putih bersulam bunga mawar,
Melambaikan sapu tangan, menyanyikan Hamaya kita,
Pemuda – pemuda di padang rumput semua tahu dia,
Hura, lihatlah dia telah datang bersama kudanya.

“Hui-ang-kin, suara nyanyian orang banyak ini jauh lebih kuat dan lebih enak di dengar daripada nyanyian seorang!” ujar Nyo Hun-cong perlahan.

Mata Hui-ang-kin mengembeng basah, ia terharu, “Aku mengerti!” sahutnya kemudian dengan perlahan pula.

Kemudian mereka melompat turun dari kuda, segera Hui-ang-kin menggiring Abu dan membawa Nyo Hun-cong masuk diantara rombongan orang yang memapaknya itu.

Abu agak gemetaran, tetapi ia tahan sebiasanya seperti tidak terjadi sesuatu.

Kemudian dari dalam tenda paling akhir keluarlah tiga orang tua, rambut mereka berwarna putih perak, begitu melihat kedatangan Hui-ang-kin mereka segera membungkukkan badan memberi hormat kepadanya.

Segera Hui-ang-kin berlutut dan menangis di hadapan orang-orang tua itu.

“Aku terlambat!” ratapnya sedih.

Seorang tua itu membangunkan dia dan bertanya, “Abu telah kau tangkap kembali, tetapi siapakah dia ini ?”

“Dia adalah Nyo Hun-cong, Nyo-taihiap!” jawab Hui-ang-kin.

Orang-orang di samping segera bersorak lagi, para pemuda lantas berduyun-duyun maju.

Ketiga orang tua tadi membungkuk lagi memberi hormat, Nyo Hun-cong tahu ketiga orang ini adalah pada Kiai atau pemimpin agama bangsa mereka, maka cepat dia membalas hormat orang.

“Nyo-taihiap sudi datang kemari, sungguh baik sekali,” kata mereka.

Para Kiai itu menyilakan Hui-ang-kin masuk ke dalam perkemahan, Abu diikat di luar, sedang Nyo Hun-cong di bawa pergi membersihkan badan dan mengaso.

Menjadi tamu di padang rumput, jika tuan rumah menyilakan tamunya mencuci badan atau mandi, itu adalah suatu kehormatan besar bagi si tamu.

Waktu senja, matahari sudah terbenam diganti dengan rembulan muda yang baru terbit perlahan.

Setelah makan malam, di dataran rumput di luar perkemahan telah dinyalakan api unggun, kaum wanita dan para pemuda suku bangsa Lopuh mulai memainkan alat musik dan mengitari api unggun sambil bernyayi menari dengan gembira.

“Nyo-taihiap, malam ini kami bersembahyang untuk Danu-loenghiong,” demikian seorang Kiai masuk ke kemah dan memanggilnya.

“Bolehkah aku minta segenggam hio, aku hendak menghormati Danu-loenghiong!” kata Nyo Hun-cong sambil melompat keluar.

“Tunggulah sebentar setelah Hamaya sembahyang,” kata Kiai itu.

Nyo Hun-cong ikut keluar dari perkemahan, ia lihat Hui-ang-kin dan Abu sudah berdiri di lapangan rumput, Hui-ang-kin mengenakan baju putih seluruhnya, sedangkan wajah Abu putih pucat seperti mayat, suasana nampak sangat khidmat.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: